Skip to main content

Membantu Anak Mengelola Kemarahan

Abstrak

Seorang anak sangat membutuhkan penerimaan dari orangtua bahwa marah adalah bagian emosi manusia yang merupakan hal yang manusiawi. Dan hal yang bisa dimiliki oleh setiap orang.

Transkrip

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. Beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti menarik dan bermanfaat. Ibu Esther Tjahja akan mengulas tentang bagaimana membantu anak mengelola kemarahan. Perbincangan ini tentu akan sangat berguna bagi kita sekalian khususnya Anda yang punya anak-anak kecil yang perlu bantuan dalam hal ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Ibu Esther, seorang anak pasti bisa marah tetapi bagaimana sebenarnya cara mereka mengungkapkan atau mengekspresikan kemarahannya itu?

ET : Sebenarnya bukan hanya anak-anak, semua manusia pasti bisa marah, baik anak-anak, orang dewasa sampai orang tua bahkan bayi juga. Dan kemarahan itu sebenarnya dapat diekspresikan secaraaktif.

Misalnya secara verbal yaitu dengan kata-kata memaki, menghina orang, mengumpat bahkan juga dengan berteriak atau kalau tidak secara verbal dengan misalnya membanting barang, memukul sesuatu bahkan menendang, biasanya yang sering menjadi objek kemarahan adalah binatang-binatang piaraan, anjing ditendang, mobil ditendang. Kemarahan juga dapat diekspresikan dengan pasif, biasanya ditandai dengan sikap menarik diri, tidak suka bersama-sama dengan orang lain, lebih baik menyendiri, berdiam diri, jadi memang dengan sengaja tidak mau bertemu orang lain, dengan sengaja tidak mau berbicara dan satu ciri yang lain dari kemarahan yang pasif dapat diungkapkan dalam bentuk menangis, jadi diekspresikannya dengan air mata.
GS : Nah apakah seorang anak yang biasanya mengekspresikan kemarahan secara pasif, dia akan selalu mengekspresikannya dengan cara seperti itu atau keluar juga yang aktif?

ET : Kalau saya melihat biasanya ada pola yang lebih, istilahnya lebih permanen, lebih sering dalam bentuk seperti itu, kalau orang yang cenderung aktif biasanya dia akan selalu seperti itu.Kalau orang yang memang pola kemarahannya pasif, biasanya disuruh marah dengan mengeluarkan perkataan seperti misalnya memaki itu susah, biasanya semarah-marahnya akhirnya menangis.

Tapi kadang-kadang bisa kalau dalam situasi tertentu dengan cara yang sebaliknya, cuma biasanya lebih mayornya ya itu.

PG : Atau kadang kala juga ada pengaruh kepada siapakah dia marah. Saya memperhatikan di rumah, istri saya dibandingkan dengan saya. Saya ini bertaring jadi anak-anak lebih takut dengan saya kalau tidak ada saya, istri saya sering berkata anak ini tadi marah kepada saya, berani begini begitu kepada saya, tapi begitu saya pulang dan bicara dengan dia, dia tidak berani begitu kepada saya.

Dan istri saya pun melihat perbedaannya dan itu sering kali menjengkelkan dia, "mengapa dengan saya dia berani dengan kamu tidak berani". Kita sadari kadang-kadang manusia akan memilih sasaran yang lebih empuk sebagai tempat pengekspresiannya.

ET : Selain itu juga obyeknya, misalnya seperti dimarahi oleh guru, dimarahi oleh orang tua biasanya lain, adakalanya dengan orang tua berani menjawab tapi kalau dengan guru paling-paling haya berdiam diri karena kalau membalas berarti tidak naik kelas.

GS : Yang penting mungkin dia bisa menyalurkan kemarahannya, entah itu secara pasif atau aktif.

ET : Intinya diekspresikan cuma dengan cara bagaimana, memang kalau secara aktif ya aktif tetapi yang tepat secara pasif. Jadi intinya kadang-kadang orang mempermasalahkan tentang ekspresi krena takut kebablasan, tapi di sisi lain juga kebanyakan jadi makan dalam, memang ada dua sisi di sini.

(2) GS : Tapi sebenarnya yang penting adalah mengetahui penyebab kemarahan anak, Bu ?

ET : Ya betul sekali.

GS : Nah itu apa saja?

ET : Banyak hal yang bisa menyebabkan anak-anak marah, yang paling mendasar sering kali biasanya nampak pada anak-anak yang masih kecil, yang belum terlalu bisa mengkomunikasikan apa yang di mau.

Biasanya kalau mereka sedang sakit, badannya tidak enak juga tidak bisa mengatakan apa yang dia rasakan, bawaannya mau marah, rewel. Dan biasanya kalau anak sudah lebih besar dan ada rasa sakit juga bisa membuat seseorang marah, cuma biasanya kalau sudah lebih besar sakitnya bukan hanya sakit secara fisik, bisa jadi sakit hati, secara emosi terganggu dia bisa marah-marah, dan apa yang menyebabkan mereka bisa sakit hati atau secara emosi terganggu biasanya juga macam-macam seperti mungkin menghadapi orang tua yang tidak konsisten. Maksudnya, di satu hari dia melakukan sesuatu tidak diapa-apakan, keesokan harinya dia melakukan hal yang sama kena marah atau kadang-kadang dimarahinya hanya ditegur tetapi dengan kelakuan yang sama bisa dihukum dengan keras. Jadi orang tua yang seperti itu bisa membuat anak sakit hati.

PG : Berbicara tentang badan yang sakit Bu Esther, saya kira bukan hanya anak kecil saja kalau sedang sakit mau marah. Saya akui saya pun juga begitu (ET : Apalagi sakit gigi ya?) ya, tubuh tidak enak, kenapa emosi rasanya lebih mudah untuk meletup ya ?

ET : Jadi lebih sensitif rasanya, sepertinya syaraf-syaraf kita ini siap buat beraksi terhadap hal-hal yang tidak nyaman.

PG : Rasanya memang daya tahan kita menurun ya, sehingga kemampuan untuk mengontrol emosi menjadi lebih tipis, rupanya itu juga yang kita bawa dari kecil sampai sekarang.

ET : Apalagi kalau misalnya sakitnya juga tidak jelas di mana, biasanya membuat kita juga lebih emosional.

PG : Betul.

GS : Tadi pada awalnya Bu Esther sudah mengatakan bahwa semua orang bisa marah termasuk kita yang sudah dewasa dan menjadi orang tua. Nah anak-anak sering kali memperhatikan kalau kita marah, apakah itu berpengaruh pada pola kemarahan si anak?

ET : Ya itu bisa s