Pdt. Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo, M.A.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo, M.A.
Abstrak:
Keingingan mengakhiri hidup, karena merasa hidup tidak ada gunanya itu adalah gejala yang serius yang dialami oleh penderita depresi yang berat. Jadi bagaiman kita harus menolong penderita depresi?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Kami akan berbincang-bincang dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. Beliau adalah seorang ahli terapis okupasi Perbincangan kami kali ini tentang "Menolong Penderita Depresi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah orang yang dilanda depresi, sebenarnya apakah itu?
PG : Istilah depresi sebetulnya adalah sebuah istilah klinis, sebuah istilah yang merujuk kepada sebuah penyakit. Tapi memang akhirnya istilah depresi itu digunakan cukup kendor atau cukup longar, jadi kalau kita merasa sebetulnya tidak depresi namun lagi agak sendu, kita langsung berkata, "O...saya
lagi depresi." Itu adalah istilah depresi dalam pengertian umum saja; yaitu perasaan yang lagi turun, lagi sendu. Namun sesungguhnya depresi itu sendiri sebuah penyakit. Salah satu cirinya adalah sendu, murung, namun kalau dilabelkan depresi mesti ada ciri-ciri lain yang lebih kuat. Misalkan keinginan untuk hidup itu berkurang, semangat untuk menghadapi tantangan hidup benar-benar merosot, pengharapan akan masa depan sirna-tidak bisa sama sekali melihat harapan. Dalam kasus depresi yang berat maka muncul gejala yang lebih serius, misalnya keinginan mengakhiri hidup karena merasa buat apa hidup, hidup tidak ada gunanya. Atau yang kedua, dalam depresi yang berat muncul delusi-delusi; mempunyai keyakinan bahwa ada orang yang sedang membicarakannya, ada orang yang mau mengancamnya, jadi orang ini dilanda ketakutan. Kadang-kadang dalam ketakutan itu dia ingin mengakhiri hidupnya; itu dalam depresi yang berat. Sebagian orang yang terkena depresi tidak terlalu berat dalam istilahnya disebut dysthymia. Dalam dysthymia atau gangguan yang tidak terlalu berat orang itu masih bisa bekerja, masih bisa bersosialisasi tapi kelihatan sekali wajahnya sudah murung, tidak ada semangat; hanya melanjutkan hidup, hanya bertahan hidup hari lepas hari tapi tidak ada lagi energi yang memotorinya, mendorongnya untuk mencapai sebuah target. Kira-kira itulah depresi.
GS : Apakah ada bedanya dengan stres Pak Paul?
PG : Stres sebetulnya adalah sebuah kondisi tertekan; kalau penekannya sendiri kita sebut stressor yaitu situasi atau kondisi yang menciptakan tekanan dalam diri kita. Kalau kita bilang, "Sayasedang tertekan, saya itu stres," artinya suatu kondisi atau situasi yang menimpa kita sehingga kita tertekan.
Tertekan itu sendiri bukanlah depresi tapi keadaan tertekan yang berkepanjangan, mudah sekali akhirnya membuat kita depresi. Karena pada akhirnya kita merasa seolah-olah hidup kita terhimpit, tidak bisa lagi kita bernafas dengan lega karena masalah terus datang menghimpit hidup kita. Lama-kelamaan kita memang bisa mengalami depresi kalau kita terus-menerus tertekan.
GS : Kalau kita sebagai anggota keluarga dan di dalam salah satu anggota keluarga itu mengalami depresi atau stres itu, apa yang bisa kita lakukan?
WS : Sebagai anggota keluarga kita juga harus mengerti, karena depresi kadang kala mengganggu orang yang sudah tua baik laki-laki maupun perempuan. Kita harus mengerti kondisi mereka seperti aa dan apa yang menyebabkan depresi itu.
Saya banyak mengalami pengalaman dengan banyak orangtua yang khususnya mengalami depresi; biasanya mereka tidak bekerja lagi, di rumah tidak mengerjakan apa-apa, sehingga itu membuat mereka merasa hidup mereka tidak berarti, itu juga bisa membuat mereka depresi. Dan kita sebagai anggota keluarga, bagaimana kita bisa membantu mereka yaitu dengan memberikan 'encouragement', memberikan kepada mereka kesempatan keluar atau beraktifitas dengan keluarga.
PG : Jadi memang penting Pak Gunawan, kita itu mengenali penyebab depresinya. Karena untuk bisa menolong penderita depresi pertama-tama kita memang harus mengerti penyebabnya. Depresi memang isa disebabkan oleh hal-hal yang bersifat eksternal.
Contoh, seseorang yang di-PHK kemudian mencari pekerjaan sampai berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun tidak mendapatkannya, bisa jadi dia akhirnya akan mengalami depresi. Penyebabnya jelas, sesuatu yang bersifat eksternal yang di luar dirinya. Mungkin nanti Ibu Winny bisa memberikan masukan apa yang bisa kita lakukan kepada penderita depresi akibat masalah eksternal ini. Tapi kadang-kadang depresi itu bukan disebabkan oleh masalah eksternal, namun masalah internal; masalah kejiwaan seseorang. Yaitu yang berkenaan bagaimanakah dia hidup. Ada orang-orang yang tidak bisa mengutarakan perkataannya, apa yang dialaminya selalu ditelannya; marah ditelan, sedih ditelan, melakukan sesuatu yang sebetulnya dia tidak suka tapi disuruh orang, tetap saja dia lakukan. Hal-hal itu akhirnya membuat dia seperti busa yang terus menyerap tekanan, tidak bisa mengeluarkannya akhirnya orang itu mengalami depresi. Kalau kasusnya seperti itu, untuk menolong dia keluar dari depresi memang yang akan kita coba ubah adalah kepribadiannya, cara dia hidup bahwa dia tidak bisa lagi seperti dulu; terus-menerus menerima, dia harus belajar mengeluarkan apa yang diterimanya sehingga perasaan-perasaan tersebut tidak mengendap masuk ke dalam dirinya. Tapi ada juga yang disebabkan oleh hal-hal yang lebih bersifat genetik, karena ada orang-orang yang memang membawa bakat atau kecenderungan untuk depresi. Misalnya, kalau salah satu orangtua kita mengalami depresi yang berat; memang ada kemungkinan potensi kita terkena itu lebih besar. Misalkan saya pernah membaca sebuah riset yang berkata, kalau kita dikandung oleh ibu yang tengah mengalami depresi-potensi kita terkena depresi akan meningkat. Nah dalam kasus seperti itu, artinya sejak lahir daya tampung terhadap stres kecil sehingga waktu kita mengalami stres, buat orang lain biasa, buat kita besar. Karena kita tidak sanggup menampungnya kita ambruk dan mengalami depresi. Jadi sebagai anggota keluarga atau anggota penolong, kita mesti pertama-tama memastikan dulu kira-kira penyebabnya apa, baru kita mencoba menolongnya keluar dari depresi itu.
GS : Apakah itu dimungkinkan kalau kita menanyakan kepada penderita depresi, sebenarnya penyebabnya apa kamu bersikap seperti ini?
PG : kadang-kadang mereka bisa menjawabnya karena mereka mengetahuinya, tapi kadang-kadang tidak. Ada anak-anak remaja yang misalnya mengalami depresi yang berat, waktu ditanya tidak bisa menybutnya, tidak bisa mengatakannya dengan jelas.
Dalam hal seperti itu kita mesti mengecek keluarganya, apakah ada hal-hal dalam keluarganya yang membuat dia akhirnya tertekan. Contoh klasik, misalnya kalau si anak dibesarkan di rumah dimana orangtua tidak berfungsi untuk menjadi orangtua bagi si anak. Mengapa orangtua tak berfungsi, karena mereka sendiri dilanda masalah; misalnya tidak rukun, cekcok atau mereka hidupnya sangat tertekan, susah. Jadi mereka benar-benar terpaksa hanya melihat yang di luar rumah, memfokuskan apa yang di luar rumah. Akhirnya anak-anak terbengkalai. Dalam kondisi seperti itu, si anak yang seharusnya menerima perhatian, kasih sayang, bimbingan dari orangtua namun tidak menerimanya, sudah tentu dia akan kekurangan gizi kasih sayang yang akhirnya membuat dia rentan terhadap depresi. Apa lagi dalam keluarga bermasalah, si anak didorong untuk memerankan sebagai peran penanggung masalah di rumah, menolong orangtua, menjadi anak yang super baik untuk menyelamatkan orangtuanya. Dalam kondisi seperti itu si anak memang rentan terhadap stres. Sejak muda dia harus memikul beban keluarganya, akhirnya masalah yang tidak terlalu berat muncul dia benar-benar ambruk. Mengalami depresi berat, tidak mau ke sekolah, tidak mau ketemu orang bahkan ada yang mau bunuh diri.
GS : Pengalaman Bu Winny bagaimana menangani anak remaja yang depresi seperti yang Pak Paul ceritakan?
WS : Memang anak-anak yang mengalami seperti itu, kita perlu membawanya ke konseling, karena dengan konseling kita akan lebih tahu mereka, bagaimana kondisi mereka sekarang dan apa yang harus kta perbuat dari konseling itu agar ada follow up-nya.
Jadi pertama-tama kita penting membawanya ke psikolog untuk diterapi atau dikonseling. Setelah kita tahu, baru kita bisa menentukan langkah berikutnya bagaimana.
GS : Ini masalahnya kalau disebabkan oleh genetik. Bukankah orangtua sendiri tidak menyadari bahwa anaknya depresi karena faktor genetik, jadi rasanya sulit mendorong orangtua ini untuk membawa anaknya ke psikolog atau psikiater. Nah ini bagaimana?
WS : Mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari guru atau saudara-saudara yang lain melihat bahwa ada perbedaan atau dia dengan anak yang lain. Jadi kita perlu kalau ada keluarga atau orangta yang melihat bahkan mungkin di gereja, kita melihat ada sesuatu yang berbeda mungkin kita bisa memberitahukan kepada orangtua.
PG : Dengan kata lain kita mencoba menyadarkan orangtua lewat bukti-butki yang lebih konkret Pak Gunawan. Memang bisa dimengerti, mereka akan sulit berkata, "anak saya mempunyai masalah karenagara-gara faktor genetik.
Bahwa salah satu dari kami atau orangtua kami mengalami depresi yang berat juga dan sekarang anak kami mengalami hal yang sama karena adanya faktor keturunan itu." Mereka akan sulit menerimanya, tapi pada akhirnya kita mesti menyodorkan bukti-bukti, masukan-masukan dari sekeliling, jadi bukan hanya kita tapi ada orang lain juga yang memberikan pengamatan yang sama. Mudah-mudahan dengan cara itu orangtua akan lebih bisa atau lebih siap menerima fakta. Sudah tentu kita akan mencoba menghibur hati orangtua, bahwa meskipun ada faktor keturunan, namun masih ada hal-hal yang bisa dilakukan. Tadi Ibu Winny sudah tekankan konseling itu salah satunya, sehingga si anak diajarkan untuk nantinya mengembangkan daya tampung stresnya. Karena biasanya itulah penyebab utamanya yang kita sebut dengan faktor keturunan, daya tampung stresnya itu lemah sehingga dia mudah sekali terkena stres, itu yang kita mau ajarkan kepadanya bagaimana mengatasi stres dengan cara yang sehat. Misalkan, mengajar dia untuk rekreasi, mengajar cerita sama orang, mengajar dia untuk meminta pendapat orang atau mengajar dia untuk bisa menahan stres dengan cara tidak mendengarkan apa yang orang katakan, dan jangan langsung menerimanya. Atau menjauhkan diri dari situasi tertentu, sehingga dia tidak harus berhadapan dengan situasi yang menekan itu. Atau yang lainnya lagi menerima siapa dirinya, keterbatasannya seperti apa, dan dia tidak bisa menuntut diri lebih daripada itu. Hal-hal seperti itulah yang kita mau ajarkan agar dia lebih dapat mengatasi stres dan daya tampung stresnya makin membesar.
GS : Memang pasien depresi ini tidak menampakkan gejala itu terus-menerus, hanya pada saat tertentu saja. Lalu orangtua berkesimpulan bahwa ini akan hilang sendiri, akan bisa diatasi sendiri sehingga mereka tidak merasa perlu untuk dikonsultasikan?
PG : Sering kali kita manusia berharap ada sebuah penyelesaian yang alamiah, yang kita itu tidak usah melakukan apa-apa dan masalah akan hilang dengan sendirinya. Sudah tentu kalau orangtua bependapat seperti itu dan menolak bantuan kita, kita tidak bisa berbuat banyak, Pak Gunawan.
Tapi saya kira pada akhirnya kalau mereka menyaksikan, anak mereka yang tadinya aktif mau pergi, keluar dengan teman tapi sekarang diam di rumah, tidak mau ke sekolah, tidak mau bergaul; bagaimana pun juga akhirnya si orangtua harus menghadapi fakta. Saya ada pertanyaan pada Ibu Winny, misalkan si anak itu dalam keadaan depresi, tidak mau ke sekolah, maunya di rumah, apakah ada yang orangtua perlu lakukan supaya praktisnya, supaya tetap meskipun dia di rumah, dia bisa mengerjakan sesuatu?
WS : Memang susah, kalau si anak maunya di rumah terus, tidak mau keluar rumah. Kita perlu memperhatikan mereka dalam sehari-harinya bagaimana, kadang karena mereka terlalu banyak di kamar akhrnya tambah depresi.
Jadi kalau orangtua bisa mengajak mereka keluar, mengajak mereka berekreasi seperti yang Pak Paul sudah bicarakan, bertemu dengan orang (karena orang depresi sulit untuk bertemu dengan orang). Salah satu yang bisa kita lakukan juga misalnya sebagai terapis okupasi, kita membuat satu group jadi group terapi untuk mereka bertemu dengan orang dengan kondisi yang sama. Jadi dengan group terapi, kita juga membantu mereka membicarakan strategi-strategi yang mereka bisa lakukan, atau juga role-play, jadi kita me-role play dalam situasi ini apa yang mereka bisa lakukan, dengan mengambil cara-cara atau aktifitas lain.
PG : Jadi kelompok itu kelompok yang sejenis, jadi anak-anak remaja juga bisa.
WS : Jadi mereka bisa melihat bahwa mereka tidak sendirian. Jadi mereka bisa melihat orang lain juga mengalami depresi dan situasi yang mirip dengan mereka dan mereka bisa sharing atau melakukn sesuatu dengan bersama-sama.
PG : Dalam kelompok itu Ibu memberikan gagasan diadakan role-play atau permainan peran. Jadi maksudnya menolong si anak yang depresi untuk membayangkan sebuah situasi yang riil kemudian ada stes, ada tekanan; nah bagaimana menghadapinya.
Melalui peragaan peran langsung, contoh konkret, si anak mudah-mudahan belajar.
WS : Jadinya kita bisa saling memikirkan; kalau dalam situasi apa, apa yang bisa kita lakukan dan mereka bisa saling sharingnya itu.
GS : Bagian yang tersulit itu adalah mengajak mereka keluar dari kamarnya. Karena kebanyakan mereka mengurung diri, jadi sulit sekali untuk memancing mereka keluar. Apakah ancaman akan menolong mereka untuk keluar, artinya ditunjukkan kalau kamu terus begini, risikonya ini, ini, jadi kita beberkan semua. Risikonya memang dia bisa keluar dari kamar atau makin parah.
PG : Saya kira ancaman kalau masih bisa digunakan, gunakan. Namun saya khawatirnya, kalau dia sudah mengalami depresi, dia tidak peduli lagi. Kita sebutkan, kalau kamu tidak ke sekolah nanti amu akan ketinggalan, kamu ketinggalan tidak bisa mengejar, nanti kamu tidak naik kelas dan sebagainya.
Anak-anak yang depresi berat biasanya tidak lagi pusing. Jadi betul sekali yang Pak Gunawan katakan, tugas terberat adalah membawa dia keluar dari kamar, membawa dia keluar rumah, bertemu dengan orang. Maka mudah-mudahan dalam kondisi rumah tangga yang seperti itu, si anak masih bisa dekat dengan salah seorang anggota keluarganya; bisa itu kakak, paman, kakek, atau siapa pun. Kita minta bantuan orang tersebut untuk mengajak anak itu keluar, sebab apa yang Ibu Winny tadi katakan tepat, kalau saja dia bisa keluar itu akan memberi dampak. Ada sebuah kelegaan yang bisa dialami si anak, apalagi misalkan kalau bersedia bertemu dengan teman-teman yang mempunyai masalah yang serupa dalam sebuah kelompok. Kalau sampai mau, saya bisa bayangkan dampaknya itu akan sangat positif, dia tidak merasa sendirian, "ada anak-anak lain yang seperti saya, o...saya pikir hanya saya yang seumur begini bisa mengalami depresi; tidak mau ketemu orang, maunya diam di kamar saja, saya aneh sendirian. Ternyata ada anak-anak lain yang seaneh saya." Itu akan bisa menolong.
GS : Pak Paul, seandainya anak atau orangtua yang sedang depresi ini tidak tertangani dengan baik pada saat-saat dia depresi, akibat yang paling buruk apa?
PG : Depresi kalau terus berkembang akan menjadi depresi berat, terus akhirnya melibatkan halusinasi, membayang-bayangkan, mendengar-dengar suara, melihat-lihat sesuatu yang tidak ada dan sebaginya; kalau itu terus berlanjut memang akhirnya depresi itu bergerak dari gangguan depresi masuk ke dalam gangguan psikosis yaitu gangguan-gangguan yang lebih serius yaitu ke schizophrenia.
Lama-kelamaan dunianya makin tidak bersentuhan dengan realitas. Dia makin hidup di dalam kesendiriannya karena memang tidak ada kontak lagi dengan orang luar, dia diam sendirian di kamar. Akhirnya dia membentuk sebuah dunia yang terpisah. Depresi berat kalau akhirnya tidak tertangani ya seringnya pindah ke schizophrenia.
GS : Ibu Winny, akhir-akhir ini ditengarai orang yang menderita gangguan jiwa tambah lama tambah banyak. Kita sebagai keluarga apa yang bisa kita lakukan?
WS : Keluarga harus mengerti kondisi mereka, mereka harus mengerti schizophrenia itu seperti apa, dan sebetulnya itu sulit bagi mereka untuk mengontrolnya. Misalnya schizophrenia mendengar suaa yang mereka tidak ingin dengar, tapi kebanyakan suara yang mereka dengar adalah suara negatif.
Jadi penanganannya mungkin orangtua lebih memberikan dia support, jangan mereka dibiarkan. Karena orang yang depresi atau schizophrenia, mereka lebih condong ingin sendiri. Jadi semuanya gelap, di rumahnya gelap, dan tidak mau makan, menjaga dirinya sendiri pun tidak mau, jadi bagaimana kita sebagai anggota keluarga bisa membantu mereka dalam hal-hal seperti itu. Mungkin di rumah memperhatikan mereka dengan memberi makanan dan sebagainya.
GS : Malah ada yang penanganannya dengan dipasung, beberapa waktu yang lalu kita membaca orang-orang yang mengalami seperti itu dipasung. Nah penanganan yang betul atau salah Pak?
PG : Salah ya, ini memang cara-cara penanganan yang dilakukan di Eropa pada abad-abad pertengahan. Gangguan seperti schizophrenia adalah gangguan yang paling sering salah dilabelkan kepada orag.
Misalkan dulu di abad-abad petengahan di Eropa, mereka mempunyai keyakinan kalau orang terkena gangguan schizophrenia maka itu disebabkan oleh adanya roh jahat. Maka ada yang misalnya kepalanya dilubangi, anggapannya dengan dilubangi maka roh jahat itu akan keluar. Sudah tentu kepala dilubangi menyebabkan orang meninggal dunia atau menderita penyakit yang lain. Schizophrenia memang sebuah gangguan yang susah sekali; pikirannya berbeda, hidup di dalam alam yang berbeda, diajak ngomong tidak nyambung, ngomong sendiri, tertawa sendiri; memang susah sekali tidak ada lagi kontak dengan kita. Sekali lagi mudah-mudahan ada orang di rumah, yang dekat dengan dia, sehingga meskipun dunianya sudah terpisah tapi kalau orang ini berbicara kepadanya dia masih bisa dengar, dia masih bisa memberi tanggapan. Kalau orang ini ada, orang inilah yang masih bisa masuk ke dalamnya memberitahu kamu harus mandi, kamu harus makan. Jadi hal-hal kecil yang tadi Ibu Winny sudah singgung, hal-hal yang rutin itu harus dilakukannya secara teratur. Misalnya sikat gigi, mandi, makan, karena kalau tidak mereka tidak akan melakukannya. Jadi benar benar kalau mereka tidak disuruh mereka benar-benar akan diam. Diam di kamar itu bisa 24 jam, malam pun tidak tidur seperti kalong; kadang-kadang dia nyanyi sendirian atau nangis sendirian, sudah tentu merawatnya akan sangat susah, sangat letih sekali. Mudah-mudahan ada yang bisa ngomong seperti itu kepadanya, setidak-tidaknya dia bisa makan teratur, tubuhnya sehat; kalau ada yang bisa ngomong sering-seringlah ngomong dengan dia, ajak dia bicara sehingga dia tetap diingatkan dengan dunia realitas di luar dirinya itu. Karena dia sendiri pun kelelahan, tadi yang Ibu Winny katakan, dia selalu mendengar suara, ada orang ngomong. Tidak bisa mematikan suara itu, seperti radio yang terus-menerus berbunyi di kepalanya. Kalau bisa kita ngomong dengan dia, dan langkah berikutnya memang harus ke psikiater, harus ada obat yang menolongnya untuk tidur, untuk rileks, kalau tidak-tidak bisa tertangani.
GS : Itu biasanya kapan seseorang yang menderita seperti itu harus dirawat di rumah sakit jiwa?
WS : Sebetulnya secepatnya akan lebih baik. Jadi mereka misalkan dirawat di rumah sakit, sebagai terapi okupasi kita juga bisa membantu mereka; memberikan kepada mereka aktifitas-aktifitas yan membuat mereka berarti.
Sehingga mereka merasa hidupnya berarti dengan mengerjakan aktifitas-aktifitas itu.
GS : Ada orang yang saya tahu setiap kali dia melahirkan dia kambuh sehingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ini apa Bu?
WS : Mungkin karena waktu melahirkan dia harus tinggal di rumah, harus tinggal berdua dengan bayinya sehingga dia merasakan sendiri, dan schizophrenia ini terjadi kalau seseorang itu hanya sendrian.
Suara-suara itu bisa muncul, tapi kalau dia bisa bersama dengan banyak orang biasanya suaranya bisa hilang. Jadi mungkin dia tidak ada interaksi dengan orang lain sehingga dia mungkin mulai mendengarkan suara-suaranya itu.
PG : Dengan kata lain Pak Gunawan, kalau sampai seseorang setelah melahirkan kambuh, halusinasi dan sebagainya, penyebabnya bukanlah melahirkan, penyebabnya memang dia sudah menderita gangguan tu sebelum dia melahirkan, namun dikambuhkan sewaktu dia melahirkan karena terputus dengan lingkungannya.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, mungkin ada firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Di Mazmur 138:6 firman Tuhan berkata, "Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina..." Orang yang depresi, orang yang schizophrenia, adalah orang yang terpuruk atau orang yang di bwah; orang yang merasakan dirinya juga terhina, keluarga juga merasa terhina.
Tapi firman Tuhan mengingatkan, meskipun Tuhan itu berada di tempat yang tinggi, namun dia melihat orang yang hina. Tuhan tetap melihat orang yang depresi, Tuhan tetap melihat orang yang schizophrenia. Di mata manusia mungkin mereka tidak berharga, tapi di mata Tuhan tetap berharga, itu sebabnya Tuhan melihat dan Tuhan akan terus menolong kita yang mau menolong orang-orang yang menderita gangguan-gangguan itu.
GS : Jadi masih tetap ada harapan buat orang-orang seperti ini. Terima kasih Pak Paul, terima kasih Ibu Winny. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menolong Penderita Depresi. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Depresi sebetulnya sebuah istilah klinis, yang merujuk pada sebuah penyakit. Tapi akhirnya istilah depresi itu digunakan cukup kendor atau cukup longgar, yaitu suatu perasaan yang sedang turun atau sendu.
Ciri-ciri penderita depresi, yaitu:
Keinginan untuk hidup berkurang,
Semangat untuk menghadapi tantangan hidup benar-benar merosot.
Pengharapan akan masa depan sirna
Dalam kasus depresi yang berat, muncul gejala yang lebih serius yaitu
Keingingan mengakhiri hidup, karena merasa hidup tidak ada gunanya.
Muncul delusi-delusi-mempunyai keyakinan bahwa ada orang yang sedang membicarakannya, ada orang yang mau mengancamnya. Intinya orang ini dilanda ketakutan.
Untuk menolong penderita depresi, kita harus mengenali penyebabnya
Disebabkan oleh hal-hal yang bersifat eksternal
Contoh, seseorang yang di-PHK
Disebabkan oleh hal-hal yang bersifat internal yaitu:
Masalah kejiwaan seseorang. Hal ini biasanya melanda orang-orang yang tidak bisa mengutarakan perkataannya, apa yang dialaminya selalu ditelannya. Hal-hal itu akhirnya membuat dia seperti busa yang terus menyerap tekanan, tidak bisa mengeluarkannya akhirnya orang itu mengalami depresi. Untuk menolongnya keluar dari depresi, yang akan kita coba ubah adalah kepribadiannya, cara dia hidup. Bahwa dia tidak bisa lagi seperti dulu, terus-menerus menerima, dia harus belajar mengeluarkan apa yang diterimanya sehingga perasaan-perasaan tersebut tidak mengendap masuk ke dalam dirinya.
Bersifat genetik-ada orang-orang yang membawa bakat atau kecenderungan untuk depresi. Dalam kasus seperti ini, artinya sejak lahir daya tampung terhadap stress kecil.
Depresi kalau berkembang menjadi depresi berat, akhirnya akan melibatkan halusinasi, kalau itu terus berlanjut akhirnya depresi itu bergerak dari gangguan depresi masuk ke dalam gangguan psikosis yaitu gangguan-gangguan yang lebih serius yaitu seperti schizophrenia.
Firman Tuhan berkata, "Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina…" (Mazmur 138:6)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo, M.A.
Abstrak:
Banyak guru atau orangtua mulai bertanya-tanya kenapa anaknya sulit belajar. Untuk mengetahuinya kita perlu mengerti beberapa tipe kesulitan belajar yaitu: Kesulitan dalam membaca (dyslexia), Kesulitan dalam menulis (dysgraphia), Kesulitan dalam aritmatika (dyscalcula).
Transkrip Isi:
T 213 B
Lengkap
"Menangani Anak Sulit Belajar" oleh Ibu Winny Soenaryo, M. A.
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali bersama Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi, kami akan berbincang-bincang dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. Seorang ahli terapis okupasi. Perbincangan kami kali ini tentang "Menangani Anak Sulit Belajar". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Selamat datang Ibu Winny, dan kami senang Ibu bisa bergabung dengan kami. Kami mempunyai banyak pertanyaan, terutama berkaitan dengan problem belajar dari anak-anak. Apakah Ibu Winny bisa memberikan kepada kami penjelasan tentang apa saja problem yang biasanya dihadapi oleh anak-anak dalam belajar?
WS : Sekarang ini banyak sekali di sekolah atau orangtua mulai bertanya-tanya, kenapa anak saya sulit belajar. Mungkin mereka menganggap anaknya bodoh atau mempunyai IQ yang rendah atau meman malas belajar.
Tapi sebetulnya ada beberapa tipe kesulitan belajar yang disebut "learning disability". Dan kesulitan belajar itu dapat dibagi dalam beberapa tipe kesulitan. Yang pertama, kesulitan dalam membaca (dyslexia), atau kesulitan dalam menulis (dysgraphia), kesulitan dalam aritmatika (dyscalcula) atau juga kesulitan untuk mengerti apa yang mereka baca.
PG : Jadi rupanya ada beberapa jenis, dan yang Ibu sudah sebut itu sudah tentu akan sangat-sangat mempengaruhi prestasi belajar seseorang di sekolah. Sebab bukankah membaca, memahami, menulis,menghitung, itu adalah bagian yang penting dalam sekolah.
Bisakah Ibu jelaskan, apa yang Ibu maksud dengan yang pertama tadi kesulitan membaca atau disleksia?
WS : Anak yang biasanya mempunyai kesulitan dalam membaca yaitu disleksia, kita bisa ketemukan guru atau orangtua sering mengatakan bahwa anak saya sulit dalam mengeja. Atau pada waktu didikte selalu salah, jadi waktu didikte B, menulisnya D atau P; ketika disuruh membaca, sering terbalik-balik.
Dan juga mereka sulit untuk melihat satu kata itu sebagai satu kata, misalnya waktu mereka melihat ibu, apa yang mereka lihat mungkin saja 'i-b-u' itu terpisah. Atau bisa juga mereka melihat 'i dan bu'. Jadi waktu mereka membaca, "i-bu," tidak bisa membaca dengan, "ibu" (satu kata).
GS : Ini kesulitannya atau masalahnya ada di bagian apa dari tubuh anak itu?
WS : Itu disebabkan dari otaknya, jadi otaknya ada masalah sehingga gangguan itu membuat mereka sulit untuk melihat suatu kata itu menjadi satu kata.
GS : Jadi semakin panjang suatu kata, makin sulit buat dia untuk membacanya?
GS : Bagaimana dengan mengejanya, per-suku kata, apakah tetap kesulitan?
WS : Buat mereka masih kesulitan untuk mengeja. Jadi misalnya kita meminta menulis 'bapak', mereka akan berpikir bagaimana 'bapak' itu, mengeja itu buat mereka sangat sulit.
GS : Biasanya ini harus melalui pengamatan yang cukup panjang sehingga kita bisa tahu anak ini memang mengalami kesulitan di dalam membaca. Langkah-langkah apa yang biasanya Ibu ambil?
WS : Biasanya yang mendiagnosa anak itu mempunyai "learning disability" (kesulitan belajar), bisa dibawa ke ahli ilmu jiwa atau psikiater anak yang bisa lebih mengerti dalam hal ini dan juga mugkin kita bisa mendapatkan laporan dari sekolah, khususnya guru-guru yang selalu bersama dengan anak, dan juga orangtua.
Jadi ketika orangtua merasa anaknya ada kesulitan dalam mengeja atau dalam membaca, bisa membawa anak itu ke ahli ilmu jiwa.
PG : Bahasa itu sebuah simbol, bahasa itu membuat makna, apakah masalahnya itu terletak pada ketidakmampuan si anak untuk menghubungkan bahasa yang adalah simbol dengan makna yang dilambangkannya itu?
WS : Jadi mereka mempunyai kesulitan kalau mereka membaca sesuatu mereka tidak bisa melihat itu sebagai (misalnya mereka melihat kata-katanya 'kursi') mereka tidak bisa melihat sebagai kursi atu membayangkan itu sebagai objek kursi.
PG : Jadi meskipun kita sudah memberitahukan si anak bahwa inilah kursi dan kita memberikan pengejaannya atau kata itu dalam bentuk tulisan 'kursi' tetap si anak itu mengalami kesulitan menghubungkan kata kursi itu dengan kursi itu sendiri?
WS : Betul, biar pun mereka diberi tahu itu kursi, mereka tahu kalau itu kursi.
PG : Jadi waktu mereka mendengar kata kursi, mereka bisa menunjuk itu kursi. Tapi waktu mereka melihat kata kursi yang tertulis, mereka tidak bisa mengaitkannya dengan kursi.
GS : Kalau itu mengenai huruf, bagaimana kalau mengenai angka. Misalnya ada angka 1, angka 2, apakah mereka juga kesulitan membacanya?
WS : Angka mungkin tidak terlalu rumit dibandingkan dengan huruf. Tapi mungkin ada anak yang juga kesulitan dengan angka-angka.
GS : Seperti angka 3 dan 8 itu hampir mirip, apa mereka juga kesulitan?
WS : Mungkin yang seperti itu mereka akan lebih baik, tapi kalau misalnya mereka melihat 12 dan 21, kadang-kadang bisa terbalik.
GS : Bagaimana dengan tanda baca, misalnya titik (.), koma (,), tanda seru (!), tanda tanya (?), apakah mereka juga kesulitan?
WS : Buat mereka tidak terlalu sulit, karena anak yang kesulitan membaca mungkin saja mereka lebih baik dengan yang abstrak seperti gambar-gambar.
GS : Kalau warna mungkin tidak menjadi masalah. Bagaimana kita bisa membantu anak-anak yang seperti ini; sebagai orangtua apa yang bisa kita lakukan, setelah misalnya dibawa ke psikiater atau terapis?
WS : Dari sana kita bisa menggunakan strategi-strategi lain selain menyuruh anak itu membaca dan mempelajari sesuatu. Misalnya dalam suatu ulangan, anak itu harus menghafal semua, mungkin kitabisa menggunakan strategi lain dengan kita membacakannya dan dicatat kemudian mereka bisa mendengarkannya.
Dengan cara seperti itu anak bisa mendengarkan apa yang mereka harus belajar. Atau mereka bisa menonton sesuatu dengan suara dan gambar, dengan visual seperti itu mungkin juga dapat membantu mereka.
GS : Tapi di sekolah, bukankah mereka tidak bisa mendapatkan fasilitas seperti itu?
WS : Mungkin kita bisa membicarakan dengan gurunya, "kalau anak saya ini mengalami kesulitan dalam membaca, apakah mungkin saya menaruh tape recorder di kelas agar bisa membantu." Atau juga mugkin mereka harus mencatat dari papan tulis, atau kita bisa meminjam catatan temannya, dan di rumah bisa pelan-pelan membantu anak itu.
GS : Tadi Ibu katakan anak juga bisa mengalami kesulitan di dalam komprehensifnya yang sangat terkait dengan membaca, nah ini bagaimana?
WS : Kesulitan dalam komprehensif itu mungkin terpisah dengan membaca, karena mungkin juga satu anak bisa membaca dengan baik tapi apa yang mereka baca belum tentu mereka bisa mengerti. Misalna seperti tadi yang kita bicarakan, kalau anak itu membaca kata ibu dan mereka melihatnya kata i dan bu.
Tapi kalau anak yang kesulitan komprehensif, mereka mungkin bisa membaca kata ibu, tapi kalau mereka disuruh berpikir apakah ibu, mungkin mereka akan sulit untuk mengerti.
PG : Apa yang bisa kita lakukan untuk menolong anak-anak ini?
WS : Untuk anak-anak yang susah "comprehension", biasanya kita bisa mencoba salah satunya dengan audio atau juga untuk yang lebih besar karena mereka harus membaca banyak paragraf yang panjang,jadi bisa dibagi.
Setiap kali mereka membaca satu kalimat, kita bisa bertanya kepada mereka, "Apa yang baru saja kamu baca?" Kalau abstrak, mereka tahu dan bisa menjawabnya tapi kalau lebih dalam dari itu mereka akan kesulitan. Jadi mungkin bisa kalimat-per kalimat, kita membantu mereka untuk mengerti.
PG : Tadi Ibu menekankan, kalau anak mengalami masalah dalam membaca atau dalam memahami, Ibu mencoba menolongnya dengan mengembangkan fungsi-fungsi yang lain, sehingga dia tidak lagi mendasarimasuknya informasi lewat bacaan saja.
Pertanyaan saya, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolongnya mengeja dengan lebih benar?
WS : Mengeja itu satu proses, jadi mungkin dalam otak kita sudah terbentuk sekian sehingga anak itu sulit untuk mengeja. Kita mungkin bisa membantu mereka mengeja dengan menghubungkannya denga gambar, karena mereka abstraknya lebih baik, jadi kita bisa menghubungkan gambar dan kata-kata itu.
Itu bisa menjadi salah satu strategi kita menolong mereka, tapi kalau kita bisa berulang-ulang membantu mereka mengeja, karena kita tahu kelemahan mereka di sana, itu akan bisa membantu mereka. Karena pengulangan itu juga akan membantu mereka.
PG : Jadi kalau seorang ibu di rumah ingin membantu anaknya yang mempunyai masalah dengan disleksia, si ibu itu memang mesti mempersiapkan diri. Misalkan dengan menggunting gambar-gambar, sehigga makin banyak gambar akan makin banyak contoh yang bisa digunakan olehnya untuk menolong si anak.
Dan memarahi si anak supaya bisa lebih baik menghafal atau lebih baik mengeja, mungkin Ibu tidak sarankan itu?
WS : Ya, karena anak itu mungkin juga ingin bisa membaca tapi karena ada masalah di otaknya sehingga dia mempunyai kesulitan. Kalau anak ini tambah dimarahi, mungkin akan trauma dengan kemarahn itu dan dia tidak mau belajar lagi.
Jadi sebaiknya kita mengembangkan apa yang positif buat anak ini, supaya bisa membantu anak dengan baik.
GS : Selain anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, tadi Ibu katakan ada anak yang kesulitan dalam hal menulis. Itu bagaimana?
WS : Anak yang sulit menulis, mereka mempunyai beberapa problem dalam menulis, misalkan mereka kesulitan bagaimana cara membentuk huruf A, sehingga mereka tidak dapat menulisnya memang mereka thu harus menulis huruf A tapi mereka kesulitan.
Atau juga bisa terbalik-balik antara huruf besar dan huruf kecil, jadi dalam satu kata, dua-duanya bisa dalam satu kata itu. Atau juga mereka ada masalah dengan jaraknya, jadi menulisnya semua dijadikan satu.
GS : Ini bukan berarti dia tidak bisa menulis dengan baik, artinya bentuk hurufnya jelek, bukan itu ya Bu?
WS : Hurufnya jelek mungkin, tapi anak yang kesulitan menulis itu lebih ke arah mereka tidak tahu bagaimana caranya menulis kata-kata itu.
GS : Dan ini hanya untuk huruf-huruf tertentu seperti tadi kesulitan membaca, Ibu katakan terbalik-balik dan sebagainya, atau apakah untuk semua huruf dia kesulitan untuk menulis?
WS : Ini lebih diarahkan pada kata-kata, huruf yang ada ABCD-nya.
GS : Jadi maksudnya bukan huruf yang berdiri sendiri, hanya menulis A dia tidak bisa tapi huruf B dia bisa. Bukan seperti itu?
WS : Tergantung anaknya, setiap anak berbeda. Mungkin mereka kesulitan untuk memformasikan kata-kata itu.
GS : Tetapi menulis angka dia tetap bisa?
WS : Kadang kala bisa, kadang kala tidak, itu juga tergantung pada anaknya.
GS : Berarti perlu diobservasi lagi, di bagian mana dia tidak bisa. Langkah apa yang biasanya Ibu lakukan untuk membantu anak yang kesulitan menulis?
WS : Biasanya saya akan membantu dengan menggunakan visual strategi. Misalnya, anak itu lupa bagaimana cara menulis huruf A, saya akan taruh di depan meja mereka contoh-contoh huruf dari A samai Z.
Jadi ketika anak itu melihat bagaimana menulis A, karena sudah ada contohnya mereka menjadi bisa. Begitu juga dengan angka, jadi mereka akan lebih gampang untuk menulis. Juga menggunakan strategi kalau mereka kesulitan dalam hal jarak antara satu kata dengan kata yang lain, kita bisa membantu mereka dengan berbicara antara satu kata dengan kata yang lain kita taruh jari.
PG : Apakah masalahnya juga seperti ini Bu, yaitu misalkan si anak harus mengeja atau melafalkan kata mobil, terus dia harus menuliskannya. Dia tidak menulis mobil tapi mobi, karena dia tidak isa mengaitkan suara L dalam bentuk tulisan L.
Apakah itu juga masalahnya?
WS : Anak yang sulit menulis mungkin mereka tahu, mungkin yang mengalami disleksia yang mengeja kurang atau hilang.
PG : Jadi kalau yang ini, pengurangan katanya terjadi dalam bentuk apa, bisa diberikan contoh?
WS : Misalnya mereka disuruh menulis mobil, mereka mungkin tahu menulis mobil itu m-o-b-i-l, tetapi disuruh menulis huruf m-nya kesulitan, jadi mereka berpikir dulu bagaimana saya menulis hurufm, menulis o, i atau l.
Jadi di dalam otak mereka tahu, tetapi mereka sulit untuk menulisnya.
PG : Jadi sebetulnya mereka mempunyai konsep itu di benaknya atau di otaknya, tapi waktu harus menuliskan tiba-tiba terjadi kemacetan. Meskipun mungkin saja kemarin dia baru saja menulis mobildan bisa menulis m, atau mungkin sejam yang lalu mereka masih bisa menulis huruf m tapi sejam kemudian tiba-tiba huruf m itu hilang dari catatan di otaknya.
GS : Seingat saya waktu saya kecil, kami disuruh menulis suatu huruf itu sampai berulang-ulang, satu lembar itu hanya menulis huruf O atau huruf A saja. Apakah cara seperti itu akan membantu anak-anak yang kesulitan dalam menulis?
WS : Itu bisa membantu, karena dengan berulang-ulang akan membantu anak untuk mengingat bagaimana caranya menulis.
GS : Saya juga pernah mengalami, sudah ada tulisannya di bawahnya kemudian ditutup dengan kertas yang agak tipis, dan waktu itu kami mengulang di atasnya; mencontoh persis seperti contoh yang ada di bawahnya.
WS : Itu juga bisa, mungkin itu salah satu hal yang bisa dilakukan di awal, tapi pelan-pelan kita juga harus melepaskan itu, dengan berulang-ulang akan membantu anak lebih mengerti bagaimana caa menulisnya atau bagaimana kata itu dibentuk.
GS : Memang itu sangat membantu karena kalau kita melihat sekarang itu agak banyak anak yang tulisannya cenderung jelek, karena di sekolah memang tidak diajarkan lagi bagaimana menulis dengan baik.
PG : Saya ingin bertanya, hal-hal yang tadi Ibu sebutkan itu berasal dari otak, apakah itu bisa diturunkan atau diwariskan. Misalnya kalau orangtuanya menderita disleksia, maka anaknya mempunyi kemungkinan yang lebih besar untuk menderita disleksia.
Apakah ada kaitannya?
WS : Itu mungkin bisa terjadi ada turunan, tapi bisa juga tidak, itu tergantung anaknya.
PG : Ada yang ketiga yang Ibu katakan masalah diskalkulia, bisa dijelaskan apa itu dyscalculia ?
WS : Diskalkulia itu kesulitan dalam aritmatika, yaitu matematika dalam berhitung. Buat anak seperti ini, berhitung itu sangat sulit. Misalnya ditanya yang gampang, 2+2, dalam otak atau benakmereka, mereka tidak bisa membayangkan 2+2 itu berapa.
Jadi kita harus membeberkan mereka gambar misalnya ada 4 apel, jadi 2 apel + 2 apel, dan mereka harus hitung 1,2,3,4, baru mereka bisa. Atau seperti anak yang sudah besar, mengenai uang. Mereka akan kesulitan, misalnya membeli sesuatu harganya 2.000 dan mereka ada uang 5.000, akhirnya mereka berikan 5.000 itu tapi mereka tidak tahu kembalinya harus berapa.
PG : Sekali lagi itu berkaitan dengan visualisasi, sebab bukankah angka itu simbol sama seperti bahasa. Jadi angka itu mencerminkan sebuah makna, dan rupanya waktu dia melihat angka, angka itutidak bisa menghasilkan gambar atau konsep di benaknya maka akhirnya dia tidak bisa membayangkan atau menghitungnya, sebab benar-benar terputus.
WS : Dan uniknya anak-anak yang mengalami kesulitan dalam aritmatika ini, dalam hal lain mereka bisa. Misalnya mereka dapat menulis dengan baik, membaca dengan baik tapi hanya dengan matematik ini yang sulit.
PG : Jadi ada keterputusan dalam hal memaknai angka itu, di dalam hal-hal yang lain mungkin saja tidak ada masalah.
GS : Bagaimana dengan soal-soal aritmatika itu diberikan dalam bentuk tulisan, jadi bukan dalam bentuk simbol-sombol angka tapi dalam bentuk kata-kata, apakah dia tetap kesulitan atau bagaimana?
WS : Biasanya mereka juga mempunyai kesulitan itu, yaitu mereka membaca, mereka bisa mengerti tapi karena harus menambah dan mengurang, mereka tetap kesulitan mengerjakan persoalan seperti itu.
GS : Itu terkait juga kalau kita berbicara tentang hari, tentang bulan, tentang umur dan sebagainya?
WS : Betul, mereka sulit untuk mengerti.
GS : Karena itu berhubungan dengan angka, juga dengan jarak dan sebagainya.
WS : Ya, mereka kesulitan dalam hal-hal seperti itu.
GS : Nah bagaimana cara Ibu menangani hal ini?
WS : Saya akan mencoba melakukannya lebih ke arah strategi visual, misalnya kalau dalam hal angka saya akan menggunakan gambar, mungkin dengan gambar-gambar akan lebih bisa dimengerti daripada ngka 1,2,3; mereka mungkin bisa tahu tapi kalau dengan gambar mereka bisa hitung 1,2,3.
Atau dengan menggunakan diagram, agar mereka bisa melihat dengan lebih jelas. Selanjutnya saya juga akan mengulang berkali-kali, karena dengan berulang-ulang akan membuat mereka lebih fasih lagi. Kalau angka ini abstrak, jadi 1+1 sudah pasti 2.
PG : Dengan kata lain, karena mereka tidak bisa menghadirkan gambar itu di benaknya, jadi Ibu membantunya dengan cara menghadirkan gambar itu di depan matanya. Jadi mengaitkan gambar itu denga angka itu sendiri sehingga akhirnya dia bisa mentransfer, memindahkan gambar yang di depan matanya itu ke dalam benaknya sendiri.
WS : Ya, mungkin juga waktu kita memberikan gambar, mereka juga kesulitan, tapi mungkin ini akan lebih membantu karena buat mereka gambar itu lebih berarti daripada angka-angka itu.
PG : Tapi apakah dalam pengalaman Ibu, metode-metode itu bisa membuahkan hasil, sebab saya terus terang khawatir juga kalau kesulitan dengan angka, kemudian mereka berbelanja, benar-benar dia bsa sangat salah dan dirugikan orang.
WS : Betul, karena di tipu pun anak itu tidak akan tahu. Tapi kita mungkin bisa memakai strategi-strategi lain yang bisa dilatih di rumah misalnya dengan permainan monopoli. Jadi anak itu diltih, "Kalau saya berikan ini, kembalinya berapa."
Atau kalau berbelanja, kita bisa membantu anak itu dengan menggunakan credit card, karena credit card sudah pasti jumlahnya, jadi anak itu tidak usah menghitung lagi kembaliannya berapa.
PG : Kalau misalnya kita memberikan kepadanya kalkulator, dia bisa atau tidak menggunakan kalkulator untuk menghitung?
WS : Bisa, itu salah satu strategi juga yang bisa digunakan oleh mereka.
PG : Jadi misalnya dia sudah mendengar harganya 5.000 dan uangnya 10.000, dia langsung menuliskan itu kemudian menguranginya, begitu Bu. Sebab dia bisa langsung melihatnya. (WS : ya)
GS : Menghadapi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar seperti ini, apa yang Ibu bisa berikan kepada khususnya para orangtua?
WS : Yang pertama-tama saya akan terus memberi semangat kepada orangtua jangan putus asa, karena anak itu mungkin kesulitan dalam satu hal, tapi mungkin mempunyai kemampuan yang bagus di tempatlain yang mungkin kita tidak tahu.
Jadi kita bisa kembangkan strong point mereka. Saya juga akan mendorong orangtua untuk menyayangi dan menghormati anak-anaknya karena mungkin mereka ingin sekali bisa belajar. Tapi dengan kondisi mereka, mereka sulit untuk belajar. Saya juga akan mendorong orangtua untuk meluangkan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya itu, karena dengan lebih banyak waktu yang diberikan, anak-anak akan merasa lebih senang karena merasa disayangi orangtua. Ada banyak juga anak yang mengalami sulit belajar itu IQ-nya rendah, jadi mereka menganggap saya bodoh. Jadi orangtua bisa memberi semangat kepada mereka bahwa mereka tidak bodoh, tapi mereka mempunyai kelebihan di tempat lain yang kita bisa kembangkan, dan itu akan lebih baik. Dan kalau memang orangtua tahu bahwa anaknya mengalami masalah pada hal-hal tertentu, mereka segera bisa mendapatkan intervensi yang lebih dini, juga intervensi yang khusus dengan kesulitan anak-anak. Mereka juga bisa bekerja sama dengan para ahli yang bisa membantu anak dalam bidang seperti itu.
GS : Intinya anak seperti ini membutuhkan banyak perhatian dan banyak kasih sayang. Apakah Pak Paul ingin menyampaikan sesuatu untuk melengkapi perbincangan kita ini?
PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 62:6, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Ayat 9, "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatmu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.
Memang gangguan -gangguan belajar seperti yang tadi dibahas oleh Ibu Winny, gangguan yang sudah tentu menyusahkan orangtua dan menyusahkan anak itu sendiri. Orangtua perlu bersabar, perlu tenang; firman Tuhan berkata, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang." Tenang dalam pengertian orangtua perlu percaya bahwa anak ini bukanlah sebuah kesalahan. Tuhan tidak memberikan anak yang salah kepada kita, Tuhan memberikan anak yang tepat untuk kita. Percayalah, karena Allah yang memberi Allah juga akan memeliharanya. Tugas kita adalah dengan sabar mencoba untuk membesarkan anak ini, kita harus meluangkan waktu untuknya. Jadi kalau kita sebagai orangtua memang sibuk, kita harus memberikan waktu untuk anak kita; mengurangi kegiatan di luar, mungkin juga harus mengurangi kegiatan kerja kita agar kita bisa memberi waktu untuk anak kita. Kalau si anak melihat kita belum apa-apa sudah tidak tenang, resah, maunya marah saja, dia tambah cemas; dalam keadaan cemas, sudah tentu masalahnya bukan membaik malah makin memburuk. Dan kepada saudara-saudara kita yang mempunyai masalah seperti ini, yang mungkin mendengarkan siaran ini, saya juga ingin mengingatkan bahwa Tuhan berkata, "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita." Curahkanlah isi hatimu kepada Tuhan, Dia melindungi, Dia mempunyai rencana atas hidup Saudara dan masalah ini tidak menghalangi Tuhan menggenapi rencana-Nya atas hidup Saudara.
GS : Terima kasih Pak Paul, terima kasih Ibu Winny untuk perbincangan dengan kami pada saat ini. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menangani Anak Sulit Belajar". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
T 213 B "Menangani Anak Sulit Belajar " oleh Ibu Winny Soenaryo M.A.
Banyak guru atau orangtua mulai bertanya-tanya kenapa anaknya sulit belajar. Anggapan yang sering kali muncul adalah anaknya bodoh atau mempunyai IQ yang rendah atau memang malas belajar. Tapi sebetulnya ada beberapa tipe kesulitan belajar yang disebut learning disability, yaitu:
Kesulitan dalam membaca (dyslexia)
Dengan cirri-ciri sebagai berikut:
Kemampuan mengeja buruk
Sulit membedakan huruf-sering salah ucap
Kurangnya daya tangkap mengenai pengucapan dalam kata-kata
Hal yang bisa dilakukan untuk menolong anak yang mengalami kesulitan membaca:
Menyampaikan pesan dengan menggunakan multisensory (mendengar, menyentuh, menulis dan berbicara).
Menggunakan strategi visual
Kesulitan dalam menulis (dysgraphia)
Sulit menulis
Ketidakkonsistenan, untuk menggabungkan huruf cetak dan cursive serta ukuran hurufnya
Kata-kata atau huruf-huruf yang tidak tuntas, pengurangan kata
Jarak yang tidak konsisten antar kata-kata dan huruf-huruf
Lamban atau butuh dorongan dalam menyalin/menulis
Hal yang bisa dilakukan untuk menolong anak yang mengalami kesulitan dalam menulis, yaitu:
Luangkan waktu lebih, dalam tugas menulis
Kalau kesulitan dalam jarak, kita bisa membantu mereka dengan menaruh jari di mulut antara satu kata dengan kata yang lain.
Kesulitan dalam aritmatika (dyscalcula)
Bagus dalam hal berbicara, membaca & menulis, tapi lamban untuk meningkatkan kemampuan berhitung dan memecahkan soal matematika
Memiliki memori yang baik untuk karya tulis/kata-kata tetapi kesulitan membaca angka atau mengintat/menghafal urutan angka.
Memiliki kesulitan untuk memegang uang
Memiliki kesulitan dalam memahami konsep yang berhubungan dengan waktu seperti hari, minggu dan bulan.
Kita bisa menolong mereka dengan cara sbb:
Gunakan diagram dan gambarkan konsep-konsep matematika
Gunakan kertas grafik
Latihan berulang-ulang
Mazmur 62:6 dan 9, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab daripada-Nyalah harapanku. …Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya, Allah ialah tempat perlindungan kita."
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo, M.A.
Abstrak:
Dalam bagian ini dibicarakan tentang penyakit stroke, parkinson dan alzheimer. Bagaimana kita harus menyikapi orang atau keluarga yang terkena penyakit tersebut.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Kami akan berbincang-bincang dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. Beliau adalah seorang ahli terapis okupasi. Perbincangan kami kali ini tentang "Stroke dan Gangguan Otak Lainnya". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, sebenarnya apa yang menyebabkan orang menderita stroke, yang akhir-akhir ini banyak dialami oleh keluarga-keluarga?
PG : Pada umumnya stroke itu disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Sudah tentu kalau menggumpalnya darah itu tidak terlalu banyak, pecahannya tidak terlalu besar berarti akibatnya jga lebih minimal tapi kalau misalkan menggumpalnya darah terlalu besar maka akibatnya juga akan lebih parah.
Misalnya kita mengalami stroke setengah badan (lumpuh), kita tidak bisa menggerakkan anggota tubuh bagian sebelah. Pada saat-saat seperti itu akan memerlukan banyak sekali perhatian dan perawatan, karena sudah tentu akan ada hal-hal yang biasa dia lakukan tidak bisa dilakukan lagi. Kalau stroke itu memang tidak terlalu berat, dengan fisioterapi pada akhirnya anggota tubuh itu bisa berfungsi kembali. Kalau memang akibat pecahnya pembuluh darah mengakibatkan gumpalan darah yang banyak di otak akibatnya biasanya permanen dan seseorang itu harus mengalami keterbatasan mungkin bisa sepanjang umurnya.
GS : Pecahnya pembuluh darah di otak itu disebabkan oleh apa Pak?
PG : Pada umumnya memang ada sejarah tekanan darah tinggi, ini memang sesuatu yang menjadi penyakit kita di zaman modern ini. Kita yang terlalu capek, kurang istirahat, kita yang makannya kurag hati-hati sehingga memakan banyak makanan yang berkadar kalori tinggi.
Atau kita yang menjalani kehidupan yang penuh tuntutan, kewajiban kita segunung, banyak hal yang harus kita kerjakan dalam jam yang sama dan harus selesai dalam hari yang sama dan sebagainya, semua faktor itu memang berperan besar terhadap kondisi tekanan darah kita. Apalagi ditambah dengan kita mempunyai warisan dari orangtua, salah satu orangtua kita penderita tekanan darah tinggi, itu faktor-faktor pencenderung yang menambah kemungkinan kita mempunyai tekanan darah yang tinggi. Atau misalkan dalam kondisi kita memang darah tinggi terus kita terjatuh dan akhirnya pembuluh darah pecah atau kalau kita tidak terjatuh memang akhirnya tekanan darah yang tinggi itu memecahkan pembuluh darah di otak sehingga akhirnya kita terkena stroke.
GS : Kalau pasangan kita atau orangtua kita mengalami stroke, apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota keluarga?
WS : Sekarang ini banyak orang terkena stroke, seperti Pak Paul bicarakan stroke bermacam-macam. Ada yang akibat pecahnya pembuluh darah itu efeknya sedikit atau ada yang banyak juga, tapi itu asti mengganggu aktifitas mereka sehari-hari atau mengganggu pekerjaan mereka.
Jadi apa yang bisa kita lakukan? Waktu pembuluh darah itu pecah yang seperti Pak Paul sebutkan setengah badan itu bisa lumpuh, dari mata sampai ke bawah bisa tidak kelihatan. Jadi kita juga perlu tahu mereka itu bagaimana, kelemahannya di mana dan fokusnya di sana. Misalnya mereka kesulitan pada matanya, mata yang sebelah tidak kelihatan, jadi kita bisa membantu mereka dengan visual sport, juga dengan training atau latihan dengan visualnya. Kalau dengan tangan, kita bisa dengan terapi okupasi kita menggunakan aktifitas yang bisa membantu mereka. Dengan misalnya dulunya mereka suka masak, kita bisa gunakan aktifitas itu untuk membantu mereka untuk menggunakan tangan mereka. Jadi latihan perlu, bagaimana kita menggunakan aktifitas yang bisa membuat mereka berarti, untuk bisa memulihkan mereka menggunakan tangannya. Kalau kakinya, selain dengan latihan untuk kaki misalnya dengan diangkat supaya ada gerakan pada kakinya, kita juga bisa melalui fisioterapi yang bisa mengajarkan mereka bagaimana berjalan.
GS : Biasanya pasien stroke ini agak manja, karena dia membutuhkan perhatian dan sebagainya. Tapi ada orang-orang yang memperlakukan pasien stroke ini seolah-olah dia tidak sakit. Jadi dipaksa untuk berdiri sendiri, untuk minum atau kegiatan lain, hal ini apakah menolong?
WS : Sebetulnya itu sangat menolong, jadi kalau ada seseorang yang mempunyai keinginan untuk mandiri itu akan memotivasi mereka untuk mereka bisa pulih lebih cepat. Sebaliknya kalau orang yanglebih senang dilayani, pulihnya akan lebih lama karena mereka merasa harus tergantung dengan orang lain, jadi mereka lebih senang dilayani.
GS : Memang ada beberapa orang yang senang tergantung pada orang lain. Selama dia merasa masih sehat kurang diperhatikan, sekarang sakit dia menuntut banyak perhatian.
PG : Saya yakin ada yang seperti itu, jadi dalam masa sakitnya dia memang mendapatkan sesuatu yang dirindukannya. Meskipun dia harus membayar cukup mahal karena sakit. Tapi saya kira lebih bayak orang yang sesungguhnya merasa frustrasi pada waktu harus dibatasi oleh stroke.
Salah satu yang membuat mereka frustrasi misalnya kemampuan verbal mereka sekarang terbatasi. Dulu mereka mau sesuatu, mereka bisa langsung memintanya; sekarang jarak antara mau sesuatu dan memintanya jaraknya panjang; tidak bisa langsung mengutarakan apa yang ingin dikatakannya. Atau dia tahu dan mau mengatakan sesuatu tapi kata itu tidak bisa muncul-muncul di kepalanya, tapi dia tahu kata itu ada, namun dia tidak bisa mengingatnya. Belum lagi nanti dengan nama, dia ketemu seseorang yang sebetulnya dia lihat setiap hari tapi waktu dia ingin panggil dia tidak bisa memanggil nama itu. Sebab jarak antara adanya nama di otaknya dan mengeluarkan kata itu dimulutnya menjadi terputus. Jadi dia akan mengalami rasa frustrasi yang tinggi, itu sebabnya kalau memang tidak ada kerja sama yang baik, atau kalau tidak ada perawatan yang lembut akhirnya penderita stroke cenderung marah. Itu salah satu emosinya dan nanti setelah marah menangis. Kenapa merasa sedih sebab penderita stroke tahu "saya sebetulnya bergantung, kalau tidak ada orang ini saya tidak bisa melakukan apa-apa, dia sudah berbaik hati mau menolong saya, tapi saya kok marah sama dia." Dia merasa bersalah, dia sedih, dia menangis atau tidak ada angin, tidak ada hujan dia akan depresi sekali; diam tidak ada semangat hidup. Kenapa, sebab dia merasa kasihan dengan dirinya, "kok saya sekarang seperti ini. Dulu saya bisa pergi, bisa jalan, bisa berbuat ini, berbuat itu, bisa menyediakan kebutuhan keluarga saya, sekarang saya sepertinya hanyalah membebani keluarga." Jadi salah satu dampak dari stroke adalah turun naiknya emosi dan ini memang susah untuk dimengerti oleh orang yang merawatnya. Mungkin mereka berkata, "kenapa kamu harus berkata begitu, 'kan kami di sini mengasihi kamu." Memang agak susah untuk mengerti itu, namun di lain pihak kita juga mesti sensitif meskipun kita capek, namun waktu merawat sebisanya kita tidak mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan bahwa kita sebetulnya sudah tidak suka merawat dia. Karena sebelum kita berkata apa-apa pun, dia sendiri sudah sangat sensitif; dia tahu dia adalah beban, daripada dia menjadi beban lebih baik dia tidak ada di dunia ini. Apalagi kalau dia harus melihat reaksi kita yang tidak suka, dia akan tambah merasa lebih tertekan.
GS : Tadi yang Pak Paul singgung tentang orang yang tahu tapi tidak bisa menyebut namanya dan sebagainya. Ini sebenarnya kenapa Pak Paul?
PG : Karena memang fungsi otak itu tidak lagi bisa bekerja seperti sedia kala. Begitu terjadi pendarahan, berarti pembuluh-pembuluh darah itu terputus. Memang kalau tubuh kita masih fit dan uia kita masih relatif lebih muda, pembuluh darah itu akan terbentuk kembali, sebab itulah yang dapat dilakukan oleh tubuh kita.
Waktu pembuluh darah yang halus itu putus-darah memang harus dialirkan terus-menerus nanti akan secara otomatis tubuh itu membentuk saluran yang baru atau pembuluh darah yang baru. Namun kalau yang pecah adalah pembuluh darah yang besar, tidak bisa lagi, karena terlalu besar; biasanya setelah pecah ya pecah, tapi kalau yang kecil-kecil memang masih bisa. Tapi kalau pun bisa untuk benar-benar kembali ke sedia kala itu sangat lama dan sangat sukar. Jadi akibatnya orang tersebut harus tetap mengalami gangguan. Karena pembuluh darah sudah pecah, darahnya memang kadang-kadang menggumpal di kepala atau di otak kita itu akan mengganggu kerja sel-sel di otak kita. Karena banyak hal diatur oleh otak, sel-sel otak kitalah yang saling menembak; transmiten-trasmiten, neuron-neuron itu saling menembak, menciptakan beberapa daya fungsi dalam tubuh kita. Waktu itu tidak lagi bisa bekerja optimal maka semuanya akan terganggu. Ingat sesuatu dan ingin ngomong, terus kita panggil tapi baru ingin ngomong kita lupa apa yang ingin kita omongkan. Padahal semenit yang lalu ingat, makanya memanggil seseorang untuk ngomong, tapi pas di depan matanya tidak ingat mau ngomong apa. Nah itu rasa frustrasi, makanya terus menumpuk maka penting sebagai perawat meskipun letih kita tetap bersikap positif, membangun, menguatkan, memberikan dorongan kepadanya sehingga dia lebih bersemangat untuk bisa mengembangkan dirinya.
GS : Kalau orang yang menderita parkinson itu apa Pak?
PG : Untuk hal ini Ibu Winny mungkin bisa jelaskan kepada kami, apa itu sebetulnya parkinson dan apa bedanya dengan alzheimer penyakit yang akhir-akhir ini istilahnya makin sering kita dengar.
WS : Kita sekarang memang sering mendengar penyakit tua, penyakit lupa atau parkinson, itu sebetulnya semua penyakitnya berasal dari otak, seperti stroke pembuluh darahnya di otak, alzheimer it penyakit dari otak degeneratif penyakit itu biasanya terjadi pada orangtua, karena semakin tua kemampuan otak semakin menurun.
Parkinson juga dari otak neuron transmitternya ada sesuatu unsur kimiawinya yang namanya dopamin, mereka kekurangan dopamin akhirnya mereka kena penyakit parkinson.
GS : Kalau stroke tadi kebanyakan karena tekanan darah tinggi, kalau parkinson ini penyebabnya yang umum apa?
WS : Yang umum sebetulnya penyebabnya juga dari otak, sistem syarafnya, kalau stroke itu pembuluh darahnya tapi kalau parkinson ini unsur kimiawinya yaitu kekurangan satu unsur kimiawi yang namnya dopamin.
GS : Itu karena faktor usia, biasanya mulai usia berapa orang rentan terhadap parkinson ini?
WS : Biasanya umur 50-an mulai terlihat. Dan juga parkinson ini dibagi dalam beberapa langkah jadi tidak langsung pada parkinson yang parah.
PG : Bisa Ibu Winny jelaskan pergerakan atau perkembangan penyakit parkinson itu?
WS : Biasanya parkinson itu dimulai dengan langkah yang tidak terlalu parah, biasanya dengan gerakan tangan saja. Jadi waktu diam, hanya tangannya saja yang gerak, itu biasanya tidak terlalu srius.
Biasanya langkah pertama dimulai dari satu tangan, langkah yang kedua mulai kelihatan kedua tangannya goyang dan kadang-kadang keseimbangannya terganggu; kadang mau duduk juga sulit. Langkah ketiga mungkin postur mereka kurang stabil, tubuhnya mulai membungkuk tapi fungsi kesehariannya belum terlalu terganggu. Waktu mereka harus masuk ke langkah keempat, kestabilan posturnya lebih parah lagi dan kali ini bisa jalan, tapi fungsinya mungkin sehari-hari dapat menjaga diri-sendiri, misalnya mandi, gosok gigi dan lain-lainnya itu terganggu. Mulai dari sini kita bisa melihat fungsi-fungsi dalam tubuhnya itu semua mulai terganggu. Dan akhirnya langkah yang kelima, waktu mereka sudah tidak bisa berjalan dan akhirnya menggunakan kursi roda atau mereka harus terus berbaring di ranjang.
GS : Karena bertahap seperti itu, ketika yang pertama sudah kelihatan misalnya tadi Ibu Winny katakan tangannya bergerak-gerak di luar kontrolnya, apakah masih bisa ditolong orang seperti itu?
WS : Mungkin kita akan sulit untuk mengontrol karena itu dari otak, mungkin mereka bisa minum obat untuk menaikkan unsur kimiawi (dopamin) ini. Tapi biasanya dengan terapi bisa membantu merekauntuk memodifikasi lingkungan atau mendidik yang menjaga mereka bagaimana membantu mereka dalam sehari-harinya.
PG : Dengan kata lain Pak Gunawan, sebetulnya tidak ada obatnya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ini. Tapi obat itu bisa memperlambat perkembangan penyakit itu, misalkan seorang tokoh yangkita tahu menderita penyakit parkinson namun tetap hidup adalah Billy Graham.
Meskipun dia sudah menderita itu cukup lama, jadi dengan pengobatan yang baik ternyata proses perkembangannya itu bisa diperlambat. Sehingga sampai tahun lalu pun Pdt. Billy Graham masih bisa berkhotbah, meskipun beliau berkhotbah tidak lebih dari 10 menit karena tidak bisa lagi berdiri dengan kuat sehingga harus duduk, itu pun hanya 10 menit, Jadi masih bisa diperlambat. Menjawab pertanyaan Pak Gunawan tentang penyebabnya akhirnya memang kita harus mengakui satu hal tentang penyakit. Banyak hal yang bisa kita jelaskan anatominya, prosesnya kenapa sampai begini dan begitu, apa yang terjadi di tubuh dan otak kita, kita bisa menjelaskannya. Tentang parkinson, level dopamin yang menurun dan sebagainya, tapi kalau ditanya kenapa sampai begitu, kita tidak bisa memberikan jawabannya. Penyakit-penyakit ini seperti itu juga. Kenapa ada orang yang sudah tua 91 tahun tetap berfungsi dengan sangat sehat, tajam pikirannya, tapi ada orang umur 52 tahun bisa terkena parkinson. Memang semuanya itu adalah sebuah misteri yang tidak bisa kita ketahui.
GS : Memang di samping itu gaya hidup seseorang itu juga akan menentukan masa tuanya Pak Paul?
PG : Betul sekali, jadi makin sehat kita hidup saat kita masih muda ya makin besar kemungkinan di hari tua kita akan menuai hari-hari tua yang juga lebih sehat.
GS : Jadi parkinson ini bukan sekadar pelupa?
PG : Bukan, sering kali kita mengaitkannya dengan lupa, tapi sebetulnya itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang dialami seorang penderita parkinson maupun alzheimer. Apakah begitu Ibu Winny?
WS : Parkinson mungkin terlihat dalam gerakannya. Orang parkinson dengan alzheimer berbeda ya, orang alzheimer biasanya pelupa karena mereka semakin tua otak mereka semakin degeneratif maka keupaannya semakin lama semakin menambah.
Mungkin parkinson bisa lupa tapi tidak separah dengan alzheimer. alzheimer ; makin lama makin lupa kalau parkinson tambah lama tambah masalah dengan tubuh mereka.
GS : Sebenarnya regenerasi otak ini bagaimana Pak Paul, kalau kulit misalnya terluka itu bisa sembuh walaupun ada bekasnya. Tapi kalau otak ini bagaimana?
PG : Otak itu mempunyai sel seperti anggota tubuh yang lainnya, dan sel itu terus-menerus reproduksi, mati-hidup, mati-hidup. Pada masa kita tua makin banyak yang tidak bisa lagi diproduksi. adi dengan matinya sel-sel otak itu makin juga berkurangnya kemampuan-kemampuan kita.
Itu adalah bagian dari hidup yang harus kita terima, kita tidak bisa mempertahankan diri di usia tua sama seperti di usia muda. Penyakit alzheimer disebut degeneratif artinya memang sebuah penyakit yang makin hari itu makin berat; makin membatasi, membatasi. Jadi akhirnya dalam kondisi orang tersebut yang makin hari makin melemah, dia tidak lagi bisa berfungsi. Berarti bukan hanya fungsi otaknya tapi pada akhirnya bukan saja anggota-anggota tubuhnya tidak bisa berfungsi seperti sedia kala tapi nantinya di dalam tubuhnya atau di dalam anggota organ-organ di dalam tubuhnya tidak lagi berfungsi seperti sedia kala karena terganggu semuanya. Karena semuanya sudah diatur oleh pusat syaraf di dalam otak kita, dan karena adanya gangguan itu semua nanti akan terpengaruh. Fungsi-fungsi kerja, organ-organ dalam tubuh kita pun tidak lagi bisa bekerja seperti biasa. Pada akhirnya kalau sudah terlalu parah akan meninggal dunia.
GS : Ada yang mengatakan memang lebih baik tidak bisa apa-apa seperti itu daripada stroke tapi masih bisa berjalan, ini bagi keluarga sebenarnya lebih merepotkan daripada orang yang tidak bisa apa-apa.
PG : Penyakit alzheimer dan parkinson bisa sangat meletihkan dan menyusahkan, dalam pengertian secara emosional susah. Karena nantinya dia bisa tidak mengenal kita lagi. Kalau penderita strok, masih tahu siapa kita, tapi untuk penyakit seperti alzheimer ini tidak tahu siapa kita.
Dia akan pikir bahwa kita itu temannya, atau dia akan ngomong kepada kita tentang kita. "Kamu tahu tidak saya mempunyai seorang anak namanya siapa, siapa," padahalnya anaknya adalah kita sendiri. Atau kadang-kadang dia menangis, dia cerita 'dulu waktu saya muda, saya begini, begini, padahalnya dia ngomong dengan kita sendiri. Itu yang sering kali memerihkan hati, bagaimanakah kita mendengarkan orang yang kita kasihi berbicara seperti ini, tidak tahu siapa kita. Kita sebut, "Saya si ini, saya ini anakmu, saya ini istrimu, nama saya siapa." Dia akan berkata, "Bukan, kamu bukan istri saya, istri saya namanya ini." Itu yang membuat masa merawat orang-orang yang terkena gangguan ini menjadi masa yang sangat menekan sekali. Sebab sekali lagi kita kehilangan orang itu, tubuhnya masih tubuh yang sama tapi di dalamnya itu sepertinya tidak ada lagi dia.
GS : Dalam hal ini memang bukan hanya membutuhkan pengorbanan perhatian, tapi biaya yang dibutuhkan juga sangat besar; keluarga harus berkoordinasi dengan yang lain, bagaimana mengatasi masalah biaya ini.
PG : Obat-obatnya sudah tentu sangat mahal, belum lagi perawatannya kalau kita nanti harus meminta bantuan seorang suster, itu akan sangat membebani keluarga. Mungkin Ibu Winny bisa memberikan kepada kami masukan yang singkat, apa yang tetap bisa keluarga lakukan untuk tetap mendayafungsikan penderita alzheimer dan parkinson ini?
WS : Khususnya untuk alzheimer itu memang banyak dengan lupanya. Tadi Pak Paul sudah jelaskan kita yang menjaganya bisa dilupakan. Apa yang masih bisa kita lakukan? Kita bisa menaruh foto disekitar ruangannya supaya mereka juga masih mengingat bahwa foto itu waktu masih bersama dengan dia.
Mereka mungkin sering melihat siapa kita tapi mereka lupa siapa diri kita, ada kemungkinan mereka bisa mengingat itu hanya orang yang selalu dekat dengan mereka. Jadi kita mungkin bisa mengingatkan mereka bahwa saya itu anaknya, saya itu cucunya, jadi memperlihatkan mereka foto-foto yang dulu atau sekarang. Mungkin tidak bisa ingat terlalu lama tapi bisa mengingatkan mereka. Atau juga sering lupa dalam rutinitas sehari-hari dan dengan demikian kita bisa membantunya dengan membuat schedul untuk mereka. Bisa melalui kata-kata atau melalui gambar, jadi misalnya pagi-pagi mereka lupa apa yang harus mereka lakukan, mereka bisa melihat gambar. Misalnya bangun tidur, harus ada gambar sikat gigi dulu, setelah itu mandi, terus makan; dan dengan menggunakan gambar-gambar seperti itu akan mengingatkan mereka bahwa mereka harus begini atau harus begitu. Seandainya orang yang menjaganya harus keluar, mereka juga bisa diingatkan seperti itu. Kita juga bisa membantu dalam situasi di rumah supaya aman, jangan sampai ada hal-hal tertentu yang membahayakan mereka. Jadi misalnya di kamar mandi ada pegangan untuk mereka mandi sehingga mereka tidak jatuh, atau modifikasi di rumah sehingga aman untuk mereka berjalan-jalan di sekitar rumah.
GS : Masalahnya sering kali, ada orang yang sudah makan, baru saja diberi makan lalu dia minta makan lagi. Jadi dia tidak merasa bahwa perutnya sudah kenyang, jadi walaupun ditolong dengan gambar, dia lupa, sehingga dia minta makan lagi.
WS : Ya itu memang sulit untuk kita ngomong, 'O....kamu sudah makan," tapi kalau memang seperti itu, kita bisa memberinya makanan yang lain. Misalnya buah-buahan, atau makanan kecil. Sekalipn mungkin kita sudah bilang bahwa dia sudah makan, kita bisa mengalihkan mereka ke arah aktifitas, tapi kalau memang mereka ingin sekali makan, kita berikan makanan kecil.
GS : Masalah yang sering kali dihadapi juga kalau mereka pemarah, karena sensitif sering kali marah-marah. Nah kita yang melayani lama-lama juga ada ambang batas yang merasa jenuh kemudian diserahkan saja kepada seorang perawat, tapi dia akhirnya merasa tidak diperhatikan.
WS : Memang sulit untuk seorang yang menjaga orang yang sudah tua, seperti mengurus anak kecil kembali. Tapi kita yang menjaga juga perlu kesabaran, karena situasi dan kondisi mereka juga tida terkontrol dari diri mereka sendiri.
Jadi kita perlu sabar, penuh kasih sayang menyayangi mereka; memang itu sulit karena kedua belah pihak pasti ada emosinya.
GS : Maka sampai pada kesimpulan orang mengatakan lebih baik orang ini tidak bisa apa-apa sama sekali dan dirawat daripada yang setengah-setengah seperti ini.
PG : Apalagi seperti parkinson, orang ini bisa melihat dirinya Pak Gunawan. Dia melihat tangannya gemetar, dia memegang gelas tidak bisa-jatuh, jadi dia pun merasa frustrasi. Dan pada akhirny memang sensitif karena merasa dirinya itu tidak lagi berharga, menjadi beban dan merasa orang sudah siap untuk menolaknya, menertawakannya.
Pernah sekali saya berhadapan dengan seseorang yang terkena parkinson yang sudah parah, karena memang sudah tidak bisa lagi buang air kemudian ditolong oleh anaknya; bukannya dia berkata terima kasih saya dibersihkan, malah dia berkata, "Kamu senang ya melihat saya seperti ini." Anaknya pasti sakit hati, masakan dia dituduh seperti itu oleh ayahnya sendiri. Tapi memang itulah yang dirasakan oleh si ayah yang sakit itu, dia sudah terhina, dia sudah tidak ada lagi harganya dan seakan-akan orang sedang menertawakan, dan mau menghinanya, itu sebabnya emosinya labil sekali dan bisa marah. Untuk itu Pak Gunawan, saya kira kita perlu kembali ke firman Tuhan, firman Tuhan di Mazmur 139:13 berkata, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu, oleh karena kejadianku ajaib, ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." Kita masih tetap bisa membacakan firman Tuhan kepada penderita parkinson, kepada penderita alzheimer. Ingatkan sekali lagi tentang firman Tuhan bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan, Tuhan yang membuat mereka, dan dalam kondisi ini mereka itu tetap ciptaan Tuhan yang tetap berharga, dan mata Tuhan tetap melihat mereka. Hal-hal itulah yang terus kita komunikasikan dan kita yakini firman Tuhan yang mereka dengar akan terus bisa berbicara ke hati mereka.
GS : Terima kasih Pak Paul, juga Ibu Winny banyak terima kasih. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. dan Bp.Pdt.Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Stroke dan Gangguan Otak Lainnya". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Umumnya stroke disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Kalau menggumpalnya darah tidak terlalu banyak, pecahan pembuluh darahnya pun tidak terlalu besar itu berarti akibatnya juga lebih minimal, tapi kalau menggumpalnya darah terlalu besar maka akibatnya juga akan lebih parah.
Misalnya kita mengalami stroke setengah badan (paralisis); pada saat seperti itu kita memerlukan banyak sekali perhatian dan perawatan, karena sudah tentu akan ada hal-hal yang biasa kita lakukan tidak bisa dilakukan lagi. Kalau stroke tidak terlalu berat, dapat dilakukan fisioterapi supaya anggota tubuh kita bisa berfungsi kembali. Tapi kalau akibat pecahnya pembuluh darah mengakibatkan gumpalan darah yang banyak di otak akibatnya biasanya akan permanen dan seseorang itu harus mengalami keterbatasan sepanjang umurnya.
Pecahnya pembuluh darah di otak disebabkan oleh:
Adanya sejarah tekanan darah tinggi-akibat kehidupan yang penuh tuntutan, banyak hal yang harus dikerjakan dalam jam yang sama dan harus selesai dalam hari yang sama dan sebagainya. Atau juga karena faktor genetik-ada salah satu orangtua kita penderita darah tinggi.
Dalam kondisi tekanan darah tinggi, kemudian terjatuh.
Firman Tuhan berkata, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu, oleh karena kejadianku ajaib, ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13)