Tujuan Hidup

Versi printer-friendly
Desember

Berita Telaga Edisi No. 98 /Tahun IX/ Desember 2012


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645 Email: telagatelaga.org Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Dewi K. Megawati Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon




Tujuan Hidup

Salah satu gejala depresi yang berat adalah hilangnya tujuan atau makna hidup. Kita tidak dapat lagi menatap hari depan sebab hari depan kelam tanpa arti. Alhasil harapan pun pupus. Mazmur 8 memberi pengertian yang jelas kepada kita akan tujuan keberadaan kita di bumi ini. Di dalam pemahaman yang jelas ini, hidup menjadi kokoh dan kita pun akan dapat melewatinya dengan penuh harapan.

Mazmur 8:7 mengungkapkan bahwa Tuhan menempatkan kita di bumi ini dan memberi kita kuasa atas segala ciptaan-Nya. Tuhan menjadikan kita penguasa di bumi dalam pengertian Ia memberi kita tanggung jawab penuh atas bumi beserta isinya. Lewat kecerdasan dan hikmat yang dikaruniakan Tuhan, kita mengatur dan mengelola bumi beserta segala isinya dengan sebaik-baiknya.

Wahyu 5:10 memberi kita pengertian yang lebih jelas lagi, “Dan Engkau (Kristus) telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah kita dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” Tuhan adalah Raja di atas segala raja. Ia telah menempatkan kita di bumi bak seorang Maha raja menempatkan salah seorang kepercayaan-Nya menjadi raja di wilayah kekuasaan-Nya.

Wahyu 5:10 juga memperjelas maksud keberadaan kita di bumi yaitu untuk menjadi imam bagi Allah. Fungsi imam sudah tentu adalah menjadi penghubung antara manusia dan Tuhan namun selain dari itu fungsi imam adalah menjadi wakil atau duta Tuhan. Jadi, Tuhan menempatkan kita di bumi agar kita menjadi duta atau utusan-Nya.

Sayangnya sejak dari awal, kita gagal melakukan tugas yang diembankan Tuhan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa sebab mereka tidak lagi bersedia menjadi raja di bawah Raja di atas segala raja. Dan, mereka pun tidak bersedia menjadi wakil Allah di bumi; sebaliknya, mereka memutuskan hubungan dengan Allah dan tidak mau menjadi duta siapa pun selain diri sendiri.

Kematian dan penebusan Kristus memungkinkan kita untuk kembali menjadi raja dan imam bagi Allah. Pada waktu Ia datang untuk kedua kalinya, itulah yang akan terjadi. Ia akan menyerahkan kembali bumi wilayah kekuasaan-Nya kepada kita untuk dikelola dengan sebaik-baiknya dan kita pun akan kembali menjadi duta Allah di bumi ini.

Berdasarkan pemahaman ini, maka setidaknya ada beberapa pelajaran praktis yang dapat kita tarik:

  1. Apa pun itu yang ditetapkan Tuhan bagi kita, terimalah dan jalanilah dengan penuh tanggung jawab. Tuhan menempatkan kita di dalam ruang kehidupan yang berbeda-beda. Tuhan pun memberi tanggung jawab yang berbeda-beda kepada kita. Namun satu hal yang dituntut-Nya adalah kesetiaan kita melakukan tugas dan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita lalai atau tidak setia karena tidak puas dengan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
  2. Apa pun itu yang ditetapkan Tuhan bagi kita, lakukanlah sebagai bentuk persembahan ibadah kita kepada-Nya. Kita mesti senantiasa mengait-kan semua yang kita terima dengan Dia yang telah memberikannya kepada kita. Jadi, lakukanlah semua untuk Tuhan dan lakukanlah semua sebagai bentuk hormat kepada-Nya. Akuilah bahwa semua datang dari Dia dan oleh karena itu semua mesti kembali kepada Dia pula.
  3. Terakhir, kita harus mengingat bahwa hidup bukanlah hak, melainkan pemberian Tuhan kepada kita. Kita tidak memunyai hak untuk hidup sebab kita tidak pernah mengusahakan untuk hadir di dunia ini. Kita ada di bumi oleh karena Tuhan membawa kita ke sini. Jadi, kehidupan bukanlah suatu imbalan atas kerja atau usaha kita. Kehidupan merupakan pemberian Tuhan semata. Dan, Tuhan menempatkan kita di bumi dengan tujuan yang jelas—menjadi raja dan imam bagi Allah. OIeh karena itu hidup hanya akan berarti bila kita hidup sesuai garis yang ditetapkan Tuhan bagi kita.

Oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

Audio dan transkrip bisa didapatkan melalui situs TELAGA dengan kode T319B



Mengenal Lebih Dekat

Bersyukur, pada bulan Nopember ini Tuhan mengizinkan Telaga untuk bekerjasama dengan radio baru di Yogyakarta. Radio GEMMA SATUNAMA AM, mengudara pada frekuensi 864 MHz. Radio ini adalah radio swasta yang memiliki program “mimbar agama“ mengetengahkan program-program dari 5 agama besar di Indonesia, dan program Telaga digunakan untuk mengisi salah satunya. Jangkauan siar dari radio ini adalah Bantul, sebagian Kulon Progo dan Gunung Kidul. Program TELAGA bisa didengarkan pada hari Sabtu pk. 10.00 WIB. Bagi Anda atau kerabat Anda yang tinggal atau sedang berwisata di Yogyakarta dan sekitarnya silakan menyimak program Telaga melalui radio ini.




Doakanlah

  1. Bersyukur untuk sumbangan yang diterima dari Bp. & Ibu Suriptono, Ph.D. sebesar Rp 2.500.000,-.

  2. Bersyukur Bp. Rudy Tedjalaksana telah menyelesaikan artikel yang diusulkan berjudul “Pemuda dan Panggilan Hidupnya”. Doakan untuk Sdri. Lortha yang masih menggarap 2 artikel lainnya.

  3. Bersyukur sepanjang tahun 2012 ada tambahan 6 radio yang menyiarkan program Telaga, doakan agar di tahun 2013 ada tambahan radio-radio lainnya.

  4. Doakan untuk Ev. Sindunata Kurniawan dan Bp. Hendra yang mengadakan rekaman 1 bulan 1x, agar topik yang dipilih benar-benar diperlukan oleh para pendengar dan pengunjung situs Telaga.

  5. Bersyukur untuk pimpinan, penyertaan dan berkat Tuhan yang dialami sepanjang tahun 2012; biarlah hal itu juga akan menyertai sepanjang tahun 2013.

  6. Bersyukur untuk penerimaan dana dari donatur tetap dalam bulan ini, yaitu dari :
    001 – Rp 100.000,-




Telaga Menjawab

Tanya?

Saya ingin bertanya mengenai apa yang harus saya lakukan. Saya sudah membaca ringkasan mengenai menghormati ortu dari percakapan antara Pak Paul dan Pak Gunawan. Saya sedang bergumul dengan ibu mertua saya. Sebenarnya dia baik. Beliau orang yang sangat pencemas, punya masa lalu mengalami depresi dan skizofrenia. Sudah 3 tahun sejak menikah tinggal bersama kami. Beliau sangat menyayangi anaknya yang kedua yaitu suami saya dibandingkan kakaknya. Ayah mertua saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Masalah yang saya hadapi adalah ibu mertua saya ini karena pencemas, selalu mengingatkan saya dan suami untuk hal-hal sepele seperti air mineral sudah dibeli atau belum, bekal sudah dibawa, beras sudah dibeli belum. Dan hal itu ditanya berkali-kali. Saya jadi ikut stres juga. Saya tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Mungkin suami terbiasa. Malahan saya jadi punya perasaan negatif terhadap mama mertua. Saya memang mandiri, jadi kalau saya diingatkan saya merasa seperti anak kecil. Saya memang memunyai pribadi yang dominan. Saya ingin bebas untuk tidak diingatkan atau diatur. Memang mertua tidak mengatur saya sih, cuma saya jadi merasa seperti itu. Saya tidak mau menyinggung perasaan mama mertua, jadi saya diam, kadang saya bilang “Iya Ma” tapi dengan nada agak kesal. Saya tahu tidak boleh seperti itu, saya berdoa minta kesabaran. Saya tidak nyaman dengan sikap mertua. Dengan tidak mengurangi sikap hormat kepadanya, apa yang harus saya lakukan? Terimakasih.

Jawab!!!

Saya amat menghargai apa yang Ibu perjuangkan untuk bertahan menghadapi mama mertua selama tiga tahun bersamanya. Memang apa yang Ibu amati ada benarnya, suami kelihatannya tidak masalah dengan perilaku mama yang amat perhatian… ya mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil. Berbeda halnya dengan Ibu. Akhirnya, kepedulian/perhatian mama mertua ditangkap sebagai suatu yang mengkanak-kanak-an ibu.

Kalau sudah demikian, apakah bisa Ibu melibatkan suami untuk berbicara ini kepada mamanya sendiri? Katakan dulu kepada suami bahwa saya menangkap kalau mama itu perhatian sekali dengan anak-anaknya, termasuk menantu. Tapi cara perhatiannya setiap hari ditanya ini dan itu membuat saya merasa seperti anak kecil. Bisakah kamu bantu saya untuk berbicara kepadanya bahwa cara perhatiannya dibuat dengan hal yang berbeda? Misal, kalau tadinya hampir setiap saat mama mertua selalu perhatian ini dan itu, maka mintalah beliau untuk mengatakan hal-hal seperti demikian sewaktu malam saja, jadi seperti rangkuman perhatiannya (bukan on the spot)

Jadi, intinya perhatian mama mertua tetap bisa dijalankan hanya saja dengan cara yang sedikit berbeda. Lebih jauh dari itu, Ibu tetap perlu menguatkan relasi suami-istri. Tetap luangkan waktu-waktu berdua untuk memelihara kualitas relasi suami-istri. Tuhan memberkati.




Judul Baru Telaga

T351A Topeng Laki-laki (I)
T351B Topeng Laki-laki (II)
T352A Tahun Pertama Pernikahan (I)
T352B Tahun Pertama Pernikahan (II)
T353A Topeng Perempuan (I)
T353B Topeng Perempuan (II)
T354A Keterampilan Untuk Mengampuni
T354B Keterampilan Untuk Memahami