Skip to main content

Tertawa dengan Anak

Abstrak

Relasi orangtua dan anak dibangun di atas kepingan-kepingan pengalaman hidup bersama. Kepingan yang indah dan positif akan menjadi fondasi kuat bagi pembentukan diri anak dan perekat bagi relasi orangtua - anak. Tertawa dengan anak merupakan upaya orangtua untuk membagi pengalaman hidup yang menyenangkan dengan anak.

Transkrip

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun Anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tertawa Dengan Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul ada yang mengatakan satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang bisa tertawa itu manusia, jadi kita dikaruniai sesuatu yang lebih dari yang lain. Tentu ini perlu dimanfaatkan khususnya dalam membina hubungan dengan anak, namun sejauh mana kita bisa melakukan hal itu karena sering kali juga ada kekuatiran orangtua kalau saya terlalu bersenda-gurau dengan anak saya, lalu wibawa saya menjadi merosot, begitu Pak Paul, itu bagaimana, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu akan ada waktunya untuk tertawa, ada waktunya untuk tidak tertawa. Ada waktunya kita serius dengan anak, pada waktu kita mendisiplin dia dan sebagainya, namun yang ingin saya tkankan adalah bahwa tertawa itu sesuatu yang sehat.

Alkitab juga menegaskan hal itu bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa yang tertawa dan itu berkhasiat pada tubuh kita, pada kesehatan kita. Tertawa juga adalah sesuatu yang menyenangkan sehingga waktu kita tertawa kita juga disenangkan oleh tertawa kita dan anak-anak yang melihat kita tertawa juga akan senang. Dengan kata lain, tertawa adalah bagian membangun kehidupan yang positif dengan anak. Jangan sampai anak tidak pernah melihat kita tertawa, mereka hanya melihat kita marah-marah. Penting sekali anak-anak melihat kita tertawa terbahak-bahak dengan mereka dan kita juga bersama-sama dengan mereka menertawakan sesuatu atau apa. Itu adalah intermezzo-intermezzo yang melegakan,meringankan dan juga membangun relasi ya. Relasi yang dibangun di atas suasana hati yang ceria, yang senang menjadi relasi yang enak untuk dilalui. Relasi seperti inilah yang kita ingin bangun dengan anak-anak kita.
GS : Ya tapi tentunya kita mesti punya alasan yang cukup ya Pak Paul untuk bisa tertawa bersama-sama. Ini kadang-kadang sebagai orangtua kurang bisa menemukan alasannya untuk tertawa. Kalau untuk marah banyak !! Tapi untuk tertawa kita seolah-olah kekeringan ide. Nah, Pak Paul bisa menyampaikan apa ?

PG : OK, saya akan memberikan beberapa masukan. Yang pertama adalah bagaimana kita orangtua ini bisa akhirnya membuat diri kita dan anak-anak kita tertawa. Sudah tentu tertawa tidak harus diartkan secara harafiah, yaitu benar-benar terbahak-bahak, tidak perlu namun kita bisa misalkan pertama memulai dengan menyediakan pengalaman yang menyenangkan hati anak.

Misalkan kita mengajak anak-anak pergi ke tempat wisata, ke kebun binatang dan bukan saja kita mengirim mereka ke sana, me"maket"kan mereka ke sana dan kemudian kita diam-diam. O, tidak, kita pun turut bermain bersama mereka, misalkan kita berenang bersama, kita gendong mereka waktu kita berenang, kita main air bersama dengan mereka atau kita lari-lari bersama mereka atau kita 'hiking' mendaki bersama-sama mereka. Jadi dengan kata lain, lakukanlah bersama-sama mereka, bukan hanya me"maket"kan mereka ke tempat wisata, kemudian kita sendiri diam-diam saja, o tidak. Jadi yang pertama marilah kita mulai dengan menyediakan pengalaman yang menyenangkan hati anak terlebih dahulu.
WL : Pak Paul, tapi banyak anak yang saya perhatikan, kurang menikmati bila diajak pergi oleh orangtuanya misalnya ke suatu tempat, karena beberapa waktu yang lalu yang anak alami tidak terlalu menyenangkan selama perjalanan, misalnya anaknya dimarahi terus, sedikit salah sedikit salah atau antara kedua orangtuanya, suami-istri cekcok dalam perjalanan atau tipe orangtuanya memang tegang, jadi memang perjalanan tersebut tidak menyenangkan.

PG : Sungguh disayangkan kalau itu yang harus terjadi, Bu Wulan dan memang itu sering terjadi, saya akui. Jadi dalam perjalanan, orangtua itu marah, misalkan anaknya menyanyi terlalu keras kemuian memukul-mukul kaca atau apa jadi akhirnya suasana rusak.

Jadi dengan perkataan lain, ini terpulang pada orangtua ya apakah mereka bisa menyenangkan hati mereka, lebih kendur jangan terlalu ketat jangan terlalu keras, apakah mereka bisa hidup seperti itu, karena kalau tidak bisa ya sudah tentu suasana tidak enak dan anak-anak tidak akan bisa menikmati. Dan waktu sampai di tempat tujuan mungkin mereka lebih senang orangtua tidak ikut main bersama mereka. Karena apa ? Karena mereka tidak mau bermain bersama-sama orang yang keras, yang tegang. yang baru saja memarahi mereka. Jadi saya ingin meminta orangtua untuk kreatif, ya Bu Wulan. Saya masih ingat waktu kami ke Surabaya dengan anak-anak, waktu itu masih kecil. Kami memang menyiapkan semuanya, misalkan kami melipat kursi belakang kemudian membawa kasur dan mereka bertiga duduk di kasur, main, membawa mainan mereka di situ. Perubahan kecil seperti itu saja membawa perubahan besar. Duduk di belakang dengan duduk di lantai di atas kasur dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya 2 jam itu ternyata sangat menyenangkan. Saya masih ingat sekali setiap kali kami mau ke Surabaya membawa anak-anak dan kami membawa kasur, wah mereka senang luar biasa. Bukan saja tempat tujuannya menjadi tempat yang menyenangkan, namun perjalanan itu sendiri menjadi perjalanan yang menyenangkan. Istri saya juga sering mengajak anak menyanyi-nyanyi, nah itu juga membangun suasana. Istri saya juga kadang-kadang meminta anak-anak bercerita dan lain-lain, nah hal-hal itulah yang saya kira menimbulkan gelak tertawa. Itu terjadi ketika anak-anak masih kecil. Anak-anak sudah besar ya sudah tentu tidak bisa lagi melakukan perjalanan seperti itu, namun misalkan di rumah sekarang ini anak saya dengan istri saya suka bergurau, tertawa-tertawa dan kami pun suka bergurau dengan mereka dan tertawa, nah itu membangun sebuah suasana yang menyenangkan. Itulah salah satu hal penting yang mesti kita lakukan yang dapat membuat anak kita dan kita tertawa bersama.
GS : Mungkin di dalam melakukan perjalanan kadang-kadang tidak perlu terlalu jauh. Jadi waktu saya dan istri saya ketika itu belum ada mobil, hanya sepeda motor. Ya kami pergi dengan sepeda motor, Pak Paul, di sekitar kota Malang ini. Yang saya tekankan adalah perubahan suasana saja, dari rumah dibawa ke pedesaan atau ke tepi sungai dan sebagainya, ya cuma itu.

PG : Betul sekali dan benar-benar Tuhan adil sehingga semua orangtua sebetulnya bisa menyediakan suasana menyenangkan bagi anaknya. Semua, yang kaya, yang tidak terlalu kaya, yang tidak punya ung pun bisa menyediakan tempat yang menyenangkan.

Tadi Pak Gunawan memberikan contoh yang sangat baik sekali, pergi bersama ke tempat yang dekat-dekat pun bisa menjadi perubahan suasana yang sangat menyenangkan buat anak-anak.
GS : Yang penting mereka tidak berulang-ulang ke tempat itu lagi. Masalahnya kita kadang-kadang kehabisan ide, begitu Pak Paul. Mau kemana lagi atau apa lagi yang harus disiapkan, karena harus ada kegiatan. Akhirnya kami kadang-kadang melibatkan mereka untuk perencanaannya. Kita ada waktu untuk pergi bersama-sama, apa yang kira-kira akan kita lakukan, itu setelah mereka agak besar, tapi setelah besar mereka tidak mau juga ikut. Sulit sekali mengajak mereka.

PG : Betul jadi waktunya memang terbatas, mungkin sampai anak-anak berusia 15, 16 tahun, setelah itu tidak mau lagi.

GS : Malah berbalik, Pak Paul. Itu menimbulkan suatu kesedihan atau tekanan buat kami orangtua. Kenapa yang dulunya biasa diajak senang-senang mau, lalu kita kehilangan rasa sukacita itu.

PG : Betul dan itu sesuatu yang harus kita terima. Betul sekali.

GS : Tapi selain bepergian bersama-sama, bukankah ada hal lain yang bisa membuat kita tertawa bersama keluarga?

PG : Yang lain adalah menghadiahkan sesuatu kepada anak kita. Menghadiahkan ini yang penting adalah unsur kejutannya, yakni menghadiahkan sesuatu yang tidak terduga dan pada waktu yang tidak trduga pula.

Jadi yang saya ingin tekankan jangan kita terikat pada sistim imbalan belaka, artinya mereka ujian bagus kita janjikan hadiah, bukan ! Itu boleh itu tidak salah, tapi janganlah kita terikat pada sistim imbalan seperti itu, jangan selalu mengaitkan hadiah dengan perbuatan baik mereka. Hadiah juga harus dikaitkan dengan cinta kasih kepada mereka, lepas dari perbuatan, diri merekalah yang kita kasihi. Begitu kita mengasihinya sehingga kita senang memberikan sesuatu kepada mereka. Sudah tentu ini tidak dilakukan seminggu sekali. Itu tidak sehat, apalagi memberikan mainan-mainan yang mahal kepada anak terlalu sering. Yang saya maksud adalah sekali-sekali, misalkan kita berikan sesuatu yang menyenangkannya. Kita belikan dia sesuatu mainan yang tidak terlalu mahal, kita hadiahkan. Lalu dia tanya, "Untuk apa ini ?" "Tidak untuk apa-apa, kami hanya ingin memberikan untuk kamu". Nah, apa dampaknya ? Sangat menyenangkan, itu membuat anak dalam hati tertawa senang, bersukacita, karena tidak ada angin tidak ada hujan, orangtua memberikan sesuatu kepada mereka dan hadiahnya pun tidak terduga. Unsur-unsur kejutan ini yang menambah semarak dalam rumah tangga kita.
WL : Pak Paul, bagi keluarga yang keuangannya agak minim mungkin agak sulit menerapkan saran yang tadi Pak Paul berikan.

PG : Tetap masih bisa, Bu Wulan. Misalkan ini ya, anak-anak pada waktu masih kecil senang sekali dengan buku tulis atau dengan buku-buku bacaan yang harganya cuma Rp. 5.000,-, nah itu pun bisa ibelikan atau belikan pinsil yang lucu, belikan setip (penghapus), belikan penggaris, banyak hal kecil yang bisa diberikan dengan harga yang relatif murah.

Yang penting unsur kejutannya, tidak ada angin tidak ada hujan, kita memberikannya, asalkan tidak terlalu sering ya. Kalau terlalu sering maknanya jadi hilang. Tapi kalau jarang-jarang kita belikan dan kita katakan, "Tidak ada apa-apa, Mama atau Papa hanya ingin belikan untuk kamu, menghadiahkan kamu". "Mengapa ?" "Tidak tidak ada apa-apa kami hanya mau menyatakan bahwa kami mengasihi kamu, kami senang kamu adalah anak kami". Nah, itulah bahan membuat anak sukacita, bahan untuk membuat anak-anak kita lebih bisa tertawa.
GS : Kami pernah mewariskan mainan yang dulu memang kami miliki, jadi istri saya mempunyai mainan yang disimpan, saya pun pernah membawa mainan yang dulu pernah saya gunakan lalu saya berikan pada mereka, mereka agak heran bahwa mainan itu masih ada dan boleh menjadi milik mereka.

PG : Nah itu ada unsur kejutannya, Pak Gunawan, sebab berapa banyak orangt