Definisi perselingkuhan dan definisi perzinaan, perselingkuhan emosi, perselingkuhan fisik, perselingkuhan digital, selingkuh secara mikro, macam-macam pengkhianatan non-seksual, penyebab perselingkuhan menurut para ahli pernikahan dan menurut pandangan Kristen
Kata kunci: Definisi perselingkuhan dan definisi perzinaan, perselingkuhan emosi, perselingkuhan fisik, perselingkuhan digital, selingkuh secara mikro, macam-macam pengkhianatan non-seksual, penyebab perselingkuhan menurut para ahli pernikahan dan menurut pandangan Kristen
TELAGA 2025
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi dimana pun Anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Yosie, akan berbincang-bincang dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian A. Soesilo, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga dan perbincangan kami kali ini tentang "Perselingkuhan dan Perzinaan" bagian pertama. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Y: Shalom, Ibu.
VS: Shalom, Yosie.
Y: Wah, menarik sekali ya Bu, tema kita hari ini tentang "Perselingkuhan dan Perzinaan", nah Bu, meskipun ini tema yang sebetulnya sudah umum ya, tetapi mengapa ini tetap penting kita bicarakan dan kita angkat, Bu?
VS: Betul, ini memang sudah lama sekali orang mengerti, tahu apa perselingkuhan perzinaan, tapi penting karena ternyata dari hasil survei "Just Dating" yang diterbitkan kurang lebih setahun yang lalu, Juni 2024, cukup mengejutkan. Indonesia ini menempati posisi kedua di Asia dimana kurang lebih 40% responden, baik pria maupun wanita, mereka mengaku pernah berselingkuh dengan pasangannya. Ini menunjukkan tingkat perselingkuhan dan perzinaan di Indonesia cukup tinggi. Thailand merupakan negara tertinggi di Asia dengan 50% responden mengaku pernah selingkuh dari pasangannya. Taiwan dan Singapura urutan ketiga, 30%, Malaysia di urutan keempat, yaitu 20%. Selain itu yang lebih mengejutkan lagi hasil survei yang sama menunjukkan kaum wanita Indonesia ternyata lebih banyak berselingkuh dibandingkan kaum pria.
Y: Wow, mengejutkan ya, Bu.
VS: Ya, lha itu, namun beberapa sumber lain mengatakan perbandingan perselingkuhan antara pria dan wanita adalah 5: 2 dengan pria lebih dominan berselingkuh. Urutan kelompok usia yang paling banyak terjadi, orang menganggap usia-usia yang lain, ternyata yang paling banyak selingkuh adalah usia produktif yaitu usia antara 30 - 39 tahun, diikuti usia 19 - 29 tahun dan usia 40 – 49 tahun itu yang terakhir. Yang lain-lain tidak setinggi itu, dari hasil survei seperti itu, perselingkuhan dan perzinaan memang cukup penting kita bahas hari ini.
Y: Ternyata itu menjadi tragis, begitu ya Bu, sepertinya memprihatinkan, karena sepertinya kita negara Asia yang lebih tertutup, tetapi ternyata juga mengerikan. Apa definisi, pengertian tentang perzinaan atau perselingkuhan ini sebelum kita masuk lebih dalam, supaya menyamakan persepsi kita, Bu.
VS: Betul. Banyak orang menganggap perzinaan dan perselingkuhan itu sama. Kita sering dengar, "Oh, si A selingkuh", itu juga sudah berzina. Ternyata bila menurut definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, selingkuh itu antara lain artinya suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, suka menggelapkan uang, korup, suka menyeleweng, tapi zina atau perzinaan itu perbuatan seksual antara laki-laki dan perempuan yang bukan terikat hubungan pernikahan. Jadi bisa suami yang menikah dengan orang lain, akhirnya dia melakukan hubungan seksual dengan wanita yang bukan istrinya sendiri. Atau wanita yang terikat hubungan pernikahan dengan orang lain, melakukan hubungan seksual dengan suaminya orang lain yang bukan suaminya sendiri. Dari kedua definisi itu, kita melihat selingkuh dan zina itu lain, selingkuh artinya lebih luas, memang itu ada yang tersembunyi, rahasia, tapi tidak termasuk hubungan seksual. Kalau zina, itu khusus hubungan seksual di luar hubungan pernikahan. Itulah yang harus dibedakan.
Y: Karena seringkali kita kurang mengerti definisinya, menganggap sama ya Bu dan bahaya juga, karena dianggap sama bisa yang selingkuh mungkin belum sampai hubungan, bisa dianggap hubungan seks di luar pernikahan tadi. Sebetulnya, Bu apakah macam-macam atau jenis-jenis perselingkuhan, tadi dari definisi yang Ibu jelaskan?
VS: Sekarang ini ada pakar pernikahan yang kurang lebih 50 tahun lebih mengadakan riset tentang pernikahan. Ini namanya John dan Julie Gottman. Mereka mengatakan pernikahan ini yang bukan penyebabnya, tetapi macam-macam perselingkuhan itu, ketidaksetiaan dalam pernikahan itu dasar dari selingkuh. Jadi ada dua, yaitu "emotional affairs" atau perselingkuhan emosi, yang kedua adalah "physical affairs" yaitu perselingkuhan fisik. Kedua-duanya berakar pada jenjang menuju pengkhianatan, tetapi perselingkuhan emosi dianggap sebagai pengkhianatan yang lebih dasar. Maksudnya orang biasanya selingkuh secara emosi dulu, sebelum selingkuh secara fisik. Itulah perbedaan antara selingkuh dan zina. Jadi kalau saya mau jelaskan, Bu Yosie, tentang perselingkuhan emosi itu apa? Perselingkuhan emosi adalah perselingkuhan non-fisik, emosinya saja. Terjadi ketika seorang laki-laki atau perempuan, dia mulai secara emosi cerita-cerita, curhat, kejadian sehari-hari yang membuat dia emosinya tidak senang, ini itu, jadi orang ini diluar hubungan pernikahan. Jadi bisa cerita apa saja, isi hatinya dan termasuk kalau sudah beberapa saat bisa saling menggoda, mengutarakan rahasianya. Orang ini bukan pasangan sendiri, itu dasarnya begitu dan berdasarkan penelitian dari John Gottman dengan Caryl Rusbult dan Shirley Glass, ini orang-orang yang juga mengadakan riset tentang banyak pernikahan, curhat dengan orang lain, dimulai dengan menjauhi atau "turning away" dari pasangan sendiri. Jadi ini seharusnya curhat kepada pasangannya sendiri.
Y: Orang terdekat kita, ya Bu.
VS: Tapi ini "turning away", apa artinya ? Jadi salah satu pasangan itu biasanya ini dimulai dengan bertanya sesuatu, atau menawarkan sesuatu, "Ini lho, kita mau liburan, mau kemana ya, enaknya?" Ini yang dikatakan seandainya yang perempuan bertanya kepada suaminya. Suaminya diam, atau dia menjawab, "Apakah kamu tidak tahu bahwa saya sibuk?" Hal ini membuat akhirnya istrinya menjauh, karena mau baik-baik, tetapi ditolak, tidak ditanggapi. Berarti dia akhirnya membalas dengan cara, "Ya sudah", begitu dia "turning away" dia mau menjauh. Ini terjadi bukan sekali, kadang-kadang beberapa kali, begitu berulang-ulang, sehingga lalu si istri memikirkan, "Wah, suaminya tidak ada waktu untuk aku". Akhirnya dia lalu mencari ada orang bertemu entah di kantor, curhat-curhat, karena suaminya diajak bicara tidak bisa.
Y: Sudah tidak ‘nyambung’.
VS: Ini ‘nyambung’ dengan orang lain, cerita-cerita, curhat isi hatinya, akhirnya dia merasakan mulai perasaan negatif dengan pasangannya sendiri. Dia juga akhirnya mencoba menghindar dari pasangan sendiri, daripada dia merasa tidak diterima. Dia lebih mengeritik negatif, lalu dia merasa ditolak oleh pasangannya, lalu hubungannya kurang baik karena dijawab dengan negatif. Pihak yang merasa ditolak, misalnya istri, dia lalu berusaha menekan perasaannya dengan menghindar dan mencari orang lain siapa yang bisa mendengarkan. Tanpa disadari, lalu terjadilah hal-hal seperti ini, ada "jendela" rahasia. Jendela maksudnya bukan pintu rumah, tapi anggap saja rumah itu ada jendela. Di jendela itu dia bisa cerita-cerita dengan orang lain, curhat-curhat, suaminya tidak ada waktu. Dengan begitu, sementara dia membuka "jendela" dengan orang lain, dengan suaminya sendiri terjadi "tembok".
Y: "Turning away" tadi ya, Bu.
VS: "Turning away" karena suaminya berulang-ulang tidak mau memberi waktu, jadi ada "jendela" kecil, dengan suami sendiri pintunya tembok, tertutup. Dengan begitu, lalu terjadilah dia membanding-bandingkan, "Itu lihat, dia lebih baik".
Y: Lebih perhatian.
VS: Suami saya kok begini, itu membanding-bandingkan. Saya lebih senang dengan itu ya, karena lebih perhatian, yang ini tidak ada waktu untuk aku. Itu membanding-bandingkan. Lalu ini setelah itu mulai menuju jalan ketidaksetiaan dan menuju juga tidak setia secara fisik, akhirnya lebih dekat. Lalu tidak setia, menurut hasil riset Gottman, mulailah dengan perzinaan secara fisik, mulai tidak percaya lagi antara suami istri ini, karena ada pengkhianatan emosi tadi disambung dengan ini, disebut "physical affairs". Itulah yang emosi.
Y: Dan yang emosi ini seringkali dilanjutkan dengan yang fisik, yang tadi Ibu sempat singgung.
VS: Begitu karena sudah ada kedekatan, sudah ngobrol-ngobrol, lebih senang, waktunya lebih menyenangkan, ini tegang terus dengan suaminya. Dengan sendirinya lalu ia lebih mendekatkan diri pada orang lain, karena sudah dekat, lalu terjadi perselingkuhan fisik atau perzinaan. Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perselingkuhan tanpa fisik. Menurut Gottman, bisa perselingkuhan fisik, sebelumnya ada perselingkuhan emosi. Ini terjadi hubungan seksual, itulah perzinaan atau kontak fisik yang intim dengan orang lain yang bukan pasangannya sendiri.
Y: Begitu kronologisnya, perzinaan tidak mungkin tiba-tiba, tapi pasti didahului oleh hubungan emosi tadi. Bu, yang menarik adalah di zaman yang serba digital ini, seringkali orang tidak mungkin tidak berselingkuh secara fisik, tetapi berselingkuh lewat dunia internet, bagaimana menurut Bu Vivian?
VS: Ini pun para ahli mengatakan, di era serba digital ini ada yang disebut "cyber affairs", perselingkuhan digital. Ini segalanya melalui ‘online’, internet, lalu bisa melalui pesan WA, melalui ‘chat’ hal-hal yang mesum, yang tidak senonoh, bukan dengan suami istri sendiri, atau melalui ‘webcam’(kamera digital), jadi ini perselingkuhan bisa emosi bahkan bisa seksual atau kedua-duanya, sambil menonton hubungan seksual secara digital yang disebut "cyber affairs", meskipun tidak fisik, tapi lewat ini ditunjukkan fisiknya. Lalu juga ada namanya "micro cheating", yaitu perselingkuhan secara mikro. Istilah ini menggambarkan tingkah laku yang melanggar kepercayaan suami istri, ini yang diluar pernikahan. Melanggar misalnya saling menggoda, saling ada tingkah laku rahasia secara ‘online’, seharusnya dilakukan oleh suami istri.
Y: Ternyata perselingkuhan juga bisa merambah digital, ya Bu, tidak hanya perdagangan ataupun pendidikan.
VS: Betul, itu. Saya pernah jumpa dengan orang yang kelihatan suaminya tidak pernah kemana-mana, tiap hari hanya di rumah. Ternyata dia mengunci sendiri di kamar, ternyata ada selingkuh secara digital dengan orang lain. Istrinya tidak mengerti.
Y: Itu tantangan zaman modern. Sekarang bagaimana kita tidak hanya puas dengan yang kelihatan, tapi harus masuk lebih dalam. Apa lagi, Bu, jenis-jenis atau macam-macam pengkhianatan atau perselingkuhan?
VS: Kalau menurut John dan Julie Gottman, pengkhianatan lainnya yang secara non-seksual ada beberapa macam dan semuanya ini akan menghancurkan hubungan pernikahan. Ini komitmen bersyarat, maksudnya suami istri berkomitmen mau menikah, sekarang dibuat bersyarat, jadi kalau mau melakukan ini, baru saya mau komit (datang). Syaratnya kalau kita yang menikah, tanpa syarat. Menerima tanpa syarat, tapi ini sekarang ada syarat-syaratnya, kalau kamu melakukan ini, melakukan itu, saya baru mau komit. Yang lainnya, penipuan, merahasiakan sesuatu, untuk menyembunyikan, memanipulasi informasi dan juga emosi memanipulasi psikologis, seperti penipuan. Ini penipuan, bukan hanya uang, tapi penipuan bisa juga, oh kamu bukan orang yang saya cintai. Saya pernah konseling seorang, seluruh dunia tidak ada yang mencintai kamu, hanya saya satu-satunya. Istrinya dibegitukan, merendahkan jadi dia tiap hari dibegitukan. Itu penipuan. Lalu membentuk koalisi dengan melawan pasangannya, jadi koalisi bisa pasangannya dilawan dengan koalisi, entah suami dengan siapa, entah anaknya menyerang mamanya. Ini yang membuat situasi keluarga tidak bahagia. Kalau bertemu dengan merasa dingin, tidak ada ribut, sibuk dengan pekerjaan atau dia tidak hadir terlalu sibuk dengan yang lain-lain. Tidak mengurusi tentang hubungan pernikahannya ini. Bisa menjurus kesana, lalu tidak hormat pada pasangannya, tidak memerhatikan, tidak menghormati, mementingkan diri sendiri, lebih mengutamakan kepentinganku daripada kepentingan bersama.
Y: Betul, satu tim ya, Bu.
VS: Lalu juga mengingkari janji. Ini janji apa? Janji, oh ya, ya, ini itu, sampai janji pernikahannya pun diingkari.
Y: Pengkhianatan non-seksual ini juga sering terjadi, kelihatannya belum berselingkuh, tapi sebetulnya ada berbagai, seperti "iceberg" (gunung/gumpalan es), yang berbahaya bila kita terus lakukan, itu bisa memicu perselingkuhan. Itu sebabnya perlu disadari.
VS: Betul, itu bisa mendasari tentang perselingkuhan emosi tadi, kalau itu terjadi semuanya, bisa cari orang lain untuk curhat-curhat.
Y: Apakah itu juga menjadi penyebab, atau ada hal-hal lain yang lebih dalam, silakan Bu Vivian.
VS: Nah, ini kalau menurut beberapa ahli yang saya lihat dan juga dari Alkitab, ini ada beberapa penyebab perselingkuhan dan perzinaan. Saya melihat pertama dari pandangan para ahli pernikahan dulu, nanti saya akan melihat pandangan dari Alkitab. Sekarang kalau dari para ahli pernikahan, penyebab dari perselingkuhan atau perzinaan itu seringkali ada rentetan pengkhianatan dalam pernikahan. Itu terjadi berkali-kali, rentetan pengkhianatan itu yang menghasilkan sesuatu seperti spiral, jadi hubungan pernikahan ini merosot. Bukan terjadi begitu saja, orang baru menikah lalu selingkuh, lalu zina, tidak. Tapi ada rentetan lalu spiral turun, turun, turun, terjadilah perselingkuhan dan perzinaan. Rentetan pengkhianatan ini seringkali dipicu oleh (dalam bahasa Inggrisnya), "Four Horsemen of the Apocalypse", artinya ada empat penunggang kuda yang mengkiamatkan, mengakhiri.
Y: Ok, apa saja, Bu?
VS: Ada empat hal, itu suatu kritikan, yang pertama. Jadi entah ini suaminya atau istrinya, suka mengeritik. Apa saja dikritik, cara berpakaiannya, cara dandanannya, makanannya, cara mengurus apa pun dikritik terus.
Y: Itu menyakiti ya, Bu.
VS: Yang kedua adalah menghina. Orang yang dihina seperti tadi saya katakan, ini yang istri dikatakan suaminya, "Seluruh dunia tidak akan ada yang cinta kamu", itu ‘kan menghina. Juga menghina apa saja, termasuk, "Kamu ini anaknya siapa?"
Y: Keluarga, latar belakangnya.
VS: Statusmu ini, apa macam-macam. Lalu defensif, defensif ini berarti kalau ada orang kesalahan, tidak mau mengakui. Membenarkan diri sendiri, kamu yang bisa salah, begitu. Lalu yang keempat, penolakan, jadi menolak yang diajak, "Ayo, kita mau liburan kemana? Tidak mau. Jadi empat ini namanya, "Four Horsemen of the Apocalypse". Empat hal ini bisa membuat seperti naik kuda yang mengkiamatkan hubungan pernikahan ini. Ketika salah satu pasangan atau kedua-duanya meremehkan pasangannya, ada perasaan negatif dan lain sebagainya, lalu lebih mudah menjalin hubungan dengan orang lain, sehingga jalan menuju perselingkuhan itu lebih terbuka dengan serentetan pengkhianatan. Dengan berjalannya waktu, dia merasa kurang bergantung pada pasangannya sendiri, dia lebih bergantung pada orang lain yang tadi mau mendengarkan dan lain sebagainya, sehingga tidak mau komitmen mutlak pada istrinya atau suaminya yang sudah komitmen yang bersyarat, karena kalau komitmen ‘kan harus berkorban, berkorban waktu, berkorban mendengarkan, perhatian. Pasangannya diremehkan, tidak dihargai, tapi menghargai orang lain. Lha itu beberapa hal.
Y: Bagaimana dengan pandangan Kristen, Bu?
VS: Kalau pandangan Kristen, ini banyak. Pandangan Kristen ini perzinaan dan perselingkuhan, itu pandangan Kristen secara umum ini kadang disebut dosa. Dosa manusia yang lebih serakah dan tidak mau serakahnya bisa banyak, serakah keinginan pribadi, juga termasuk kegagalan menegakkan pernikahan yang suci. Bukan hal-hal yang diluar tadi itu. Yang paling utama itu dirinya sendiri. Menurut beberapa artikel dari "Christianity Today" menekankan bahwa perselingkuhan dimulai dari pilihan yang karena keinginan pribadi dan tidak memerhatikan janji pernikahan dan konsekwensinya. Alkitab mengajarkan perzinaan adalah pelanggaran yang serius melawan perintah Allah untuk setia, hal itu kurang digubris. Selain itu ada beberapa faktor yaitu karena godaan, ya ini orang tergoda dari sana sini, ini digoda dia tidak bisa, karena tidak memegang prinsip firman Tuhan. Temboknya tidak teguh, lalu masalah hubungan pernikahan ini ada masalah. Orang yang hubungan pribadinya tadi kurang baik, ya carilah bantuan konselor untuk dibereskan. Lalu karena keinginan pribadi, yaitu pribadi yang lebih serakah, tidak memerhatikan.
Y: "Self-centered", begitu ya Bu.
VS: Kurang menghargai, dia tidak tahu kewajiban secara Alkitab, secara Kristen itu bagaimana dan moralnya tidak diperhatikan. Begitulah!
Y: Baik, terima kasih banyak, Bu Vivian. Ternyata meskipun kita tahu tema perselingkuhan secara umum, kalau kita mau menggali lebih dalam ada banyak hal ya Bu, yang bisa kita pelajari, kita sadari dan ini bisa menjadikan kita bahan supaya kita mawas diri dan tidak jatuh di dalam dosa, Bu Vivian. Terima kasih banyak untuk penjelasan di bagian pertama ini, nanti kita akan melanjutkan di bagian kedua. Terima kasih banyak, Bu Vivian.
Para pendengar sekalian, terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian A. Soesilo dalam acara Telaga (TEgur sapa gembaLA keluarGA), kami baru saja berbincang-bincang tentang "Perselingkuhan dan Perzinaan" bagian pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 56 Malang atau Anda dapat mengirimkan email ke telaga@telaga.org; kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di https://www.telaga.org; saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Perselingkuhan dan Perzinaan bukanlah hal yang baru, sudah ada sejak zaman dahulu, namun kita akan membahasnya saat ini. Hasil survei yang dilakukan oleh Just Dating yang diterbitkan pada bulan Juni 2024 cukup mengejutkan. Indonesia menempati posisi kedua di Asia, dimana 40% responden, baik pria maupun wanita mengaku pernah berselingkuh dari pasangannya. Ini menunjukkan tingkat perselingkuhan dan perzinaan di Indonesia cukup tinggi. Selain itu, yang lebih mengejutkan lagi, hasil survei menunjukkan kaum wanita Indonesia ternyata lebih banyak berselingkuh dibandingkan kaum pria (32%). Namun beberapa sumber lain mengatakan perbandingan perselingkuhan antara pria dan wanita adalah 5: 2, dimana pria lebih dominan berselingkuh.
Urutan kelompok usia yang berselingkuh paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif, yaitu usia 30 – 39 tahun (32%), diikuti usia 19 – 29 tahun (28%) dan usia 40 – 49 tahun (24%). Dengan hasil survei seperti itu, perselingkuhan dan perzinaan memang cukup penting untuk dibahas saat ini.
(1)DEFINISI
Banyak orang menganggap selingkuh dan zina itu sama saja. Coba perhatikan definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Selingkuh/se-ling-kuh/
- Suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur, curang; serong.
- Suka menggelapkan uang; korup.
- Suka menyeleweng.
Zina/zi-na/
- Perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan).
- Perbuatan bersanggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikat perkawinan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya.
Dari kedua definisi itu jelas terlihat selingkuh dan zina itu tidak sama.
Selingkuh mengandung arti yang lebih luas dibandingkan zina. Zina diartikan khusus hubungan seksual di luar hubungan pernikahan. Dalam pembahasan hari ini, arti selingkuh yang dipilih, lebih cocok arti yang nomor 1 dan 3, yaitu seringkali dilakukan secara sembunyi, untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong. Dan nomor 3, suka menyeleweng. Memang perselingkuhan berhubungan dengan hubungan yang tersembunyi, serong, menyeleweng, seringkali berakhir dengan zina. Namun, perselingkuhan dan zina tidak sama.
(2)BERMACAM-MACAM PERSELINGKUHAN
John & Julie Gottman, sepasang suami istri yang telah 50 tahun lebih melakukan riset tentang pernikahan mengatakan, ketidaksetiaan dalam pernikahan itu pada dasarnya ada 2 macam, yaitu emotional affairs (perselingkuhan emosi) dan physical affairs (perselingkuhan fisik). Kedua-duanya berakar pada "jenjang menuju pengkhianatan", tetapi perselingkuhan emosi dianggap sebagai pengkhianatan yang lebih mendasar.
(a)Perselingkuhan emosi
Perselingkuhan emosi atau perselingkuhan non-fisik, terjadi ketika salah satu pasangan memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan orang lain di luar hubungan pernikahan. Hal ini seringkali dimulai dengan hubungan biasa, tidak bermaksud selingkuh. Dia ingin mengutarakan isi hati, curhat atau menggoda atau mengutarakan rahasia kepada orang lain yang bukan pasangannya sendiri. Berdasarkan hasil penelitian John Gottman dengan Caryl Rusbult, Shirley Glass curhat dengan orang lain dimulai dengan menjauh (turning away) dari pasangannya sendiri. Pasangan dapat mengajukan pertanyaan atau tawaran kepada pasangannya sendiri guna mendekatkan emosi yang ditanggapi dengan menjauh atau menentang, bukannya mendukung. Menjauh berarti mengabaikan atau disibukkan dengan hal lain, sementara menentang berarti membalas atau membalas dengan serangan balik.
Seiring berjalannya waktu, tawaran berulang kali gagal membuatnya yakin "kamu tidak ada waktu untukku". Kalau hal seperti ini terjadi berulang-ulang, kepercayaan yang diasosiasikan dengan pasangan mulai terkikis secara bertahap. Pasangan yang ditolak mulai mengantisipasi dirinya akan terus-menerus ditolak dan dia merasa tertekan, sehingga dia merasa tidak penting dan tidak diinginkan oleh pasangannya. Pandangan seperti itu diikuti dengan perasaan negatif dan berusaha menghindar (negativity and avoidance) dari pasangannya. Perlu diketahui orang dapat lebih mudah masuk kedalam perasaan negatif, tetapi sulit untuk keluar dari perasaan negatif. Ini dapat membuat pasangan yang ditolak itu terus-menerus berpikir negatif dan terjadilah argumen yang menegangkan dengan pasangannya. Pihak yang merasa ditolak lalu berusaha menekan perasaannya dengan menghindar dari pengungkapan diri kepada pasangannya sendiri dan dia curhat kepada orang lain yang mau mendengarkannya.
Tanpa disadari, terbentuklah hal-hal seperti di bawah ini:
- "Jendela" rahasia: seiring berjalannya waktu, keintiman emosi dengan orang baru yang diajak curhat terbentuk dan berkembang, sehingga terbentuk semacam "jendela" dengan orang baru itu. Sementara itu dengan pasangannya sendiri terbentuk "tembok", karena kebutuhan emosi orang yang melakukan selingkuh dipenuhi oleh orang baru, bukan oleh pasangannya sendiri.
- Membandingkan secara negatif: orang yang selingkuh mulai membandingkan pasangannya dengan orang lain, yaitu selingkuhannya. Dia melihat selingkuhannya lebih menggembirakan, lebih menarik, lebih penuh pengertian dan lebih menyenangkan.
- Jalan menuju ketidaksetiaan secara fisik: Hasil riset Gottman menyatakan kebanyakan perzinaan dimulai dengan perselingkuhan emosi. Erosi kepercayaan akibat pengkhianatan emosi ini seringkali sangat menghancurkan, meskipun pada waktu tidak pernah terjadi perzinaan.
(b)Perselingkuhan fisik atau perzinaan (physical affairs)
Ketidaksetiaan secara fisik terjadi ketika terjadi perzinaan, hubungan seksual dan kontak fisik secara intim dengan orang lain, selain pasangannya sendiri. Seringkali ini merupakan gejala dan isu mendasar dari hubungan dengan pasangannya sendiri, yaitu hancurnya keintiman emosi.
(c)Perselingkuhan digital
Di era yang serba digital ini, para ahli juga menyebutkan jenis perselingkuhan lainnya, yaitu:
• Perselingkuhan digital (Cyber – affairs). Hubungan ini dilakukan online melalui pesan WA, chat mesum, email atau webcam dan dapat secara emosi, seksual atau kedua-duanya.
• Selingkuh secara mikro (Micro – cheating). Istilah ini menggambarkan tingkah laku yang melanggar kepercayaan pasangan, misalnya menggoda atau tingkah laku rahasia secara online.
Pengkhianatan non-seksual
Selain perselingkuhan emosi dan perzinaan, Gottman juga menyebutkan beberapa pengkhianatan lainnya yang dapat menghancurkan hubungan pernikahan. Berbagai pengkhianatan kronis ini dapat mengikis fondasi pernikahan dengan melanggar kontrak kepercayaan dan hormat yang dibangun bersama. Contoh-contohnya dapat termasuk di bawah ini:
- Komitmen yang bersyarat
- Penipuan
- Membentuk koalisi melawan pasangannya
- Ketidakhadiran atau sikap dingin
- Tidak hormat
- Mementingkan diri sendiri
- Mengingkari janji
(3)PENYEBAB PERSELINGKUHAN dan PERZINAAN
Dilihat dari pandangan ahli pernikahan dan pandangan perspektif Kristen
(a)Pandangan dari para ahli pernikahan
Rentetan pengkhianatan
Selain yang sudah dipaparkan di atas, hasil penelitian Gottman menunjukkan perselingkuhan bukannya terjadi begitu saja, melainkan hasil dari spiral kemerosotan suatu hubungan yang utama. Rentetan pengkhianatan seringkali dipicu oleh "Four Horsemen of the Apocalypse" atau "Empat Penunggang Kuda Kiamat", yaitu kritikan, hinaan, defensif, penolakan yang menghancurkan keintiman dan menciptakan perasaan negatif dalam hubungan dengan pasangannya.
(b)Pandangan Kristen
Penyebab perselingkuhan dan perzinaan dari pandangan Kristen secara umum melihat akarnya dari dosa pribadi, keserakahan dan kegagalan menegakkan kesucian pernikahan, bukan faktor dari luar. Beberapa artikel dari Christianity Today menekankan bahwa perselingkuhan bermula dari pilihan yang didorong oleh keinginan pribadi dan tidak memerhatikan janji pernikahan dan konsekwensinya. Alkitab dengan jelas mengajarkan perzinaan adalah pelanggaran yang serius melawan perintah Allah untuk setia. Disamping hal-hal di atas, ada berbagai faktor yang juga dapat menyebabkan orang berselingkuh dan berzina. Namun ini semua bukan alasan untuk berselingkuh dan berzina:
• Godaan
Hubungan pernikahan yang tegang dan terisolasi dapat membuat orang lebih rentan dan lebih tertarik terhadap keramahan orang lain dan dukungan orang di luar pernikahan.
• Masalah hubungan pernikahan
Berbagai isu hubungan pernikahan dapat menjadi faktor perselingkuhan dan perzinaan. Namun itu semua bukanlah alasan untuk membenarkan orang melanggar janji pernikahan. Seharusnya orang yang mengalami masalah dalam hubungan pernikahan mencari bantuan dari konselor pernikahan untuk memecahkan masalah pernikahannya.
• Keinginan pribadi
Ajaran Kristen menekankan keinginan pribadi tidak boleh mengesampingkan kewajiban moral dan spiritualitas dari pernikahan.