Kata kunci: Hubungan iman dan kesehatan atau gangguan jiwa tidaklah sederhana, pertama sebagian dari gangguan jiwa disebabkan oleh faktor fisik, kedua tidak berarti kita kehilangan iman atau jauh dari Tuhan bila kita dilanda tekanan atau menderita gangguan jiwa, ketiga tanpa disadari kita masih memikul beban dan masalah keluarga yang memengaruhi kondisi mental kita, keempat bila masalah yang dihadapi teramat berat kita dapat ambruk dan mengalami tekanan jiwa
TELAGA 2025
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi dimana pun Anda berada. Kita bertemu kembali dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Necholas David, akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Iman dan Jiwa". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
ND: Pak Paul, banyak orang Kristen beranggapan bahwa iman yang kuat secara otomatis akan membebaskan seseorang dari gangguan jiwa. Kita cenderung mengaitkan kedalaman rohani dengan kestabilan mental. Seolah-olah orang yang dekat Tuhan itu tidak mungkin mengalami cemas, depresi atau tekanan batiniah, namun apakah sebetulnya kenyataannya sesederhana itu?
PG: Betul yang dikatakan Pak Necholas tadi, pada umumnya kita beranggapan bahwa bila kita hidup beriman pada Tuhan maka kita akan terhindar dari gangguan jiwa. Dengan kata lain, makin kita hidup rohani, makin kuat dan bertambah jauh kita dari gangguan jiwa. Memang kita dapat berkata, bahwa iman dan kekuatan rohani yang kita miliki dalam Kristus seharusnya memberi kita kekuatan untuk menghadapi apapun dalam hidup ini. Seyogyanya kita yang hidup berserah pada Tuhan, tidak mudah untuk dikuasai oleh kecemasan yang berpotensi untuk melumpuhkan kita secara mental, namun pada kenyataannya, Pak Necholas, hubungan antara iman atau kerohanian dan kesehatan atau gangguan jiwa tidaklah sesederhana itu. Jadi mari kita melihat hubungan antara keduanya dan menarik beberapa pelajaran guna memelihara kehidupan jiwa yang sehat.
ND: Wah, menarik sekali, Pak Paul, jika hubungan antara iman dan kesehatan jiwa itu ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Faktor apa saja yang sebenarnya dapat menyebabkan gangguan jiwa atau gangguan mental ini, sekalipun dia adalah orang beriman.
PG: Hal pertama yang perlu kita ketahui adalah sama seperti penyakit fisik, sebagian gangguan jiwa adalah dikarenakan oleh faktor fisik. Sebagai contoh, bila orang tua mengidap kanker maka kemungkinan kita mengidap kanker diperbesar. Bila orang tua mengidap diabetes, maka kemungkinan kita mengidap diabetes diperbesar. Sama dengan itu, bila orang tua mengidap gangguan jiwa seperti kecemasan dan depresi, kemungkinan kita mengidap kecemasan dan depresi juga diperbesar. Bukankah kita tidak akan berkata, bahwa kita mengidap kanker atau diabetes karena kurang beriman, sebab keduanya memang tidak berhubungan. Jadi janganlah cepat menyimpulkan, bahwa bila seseorang menderita depresi itu dikarenakan ia kurang beriman. Bisa jadi, itu pengaruh faktor bawaan semata.
ND: Disini Pak Paul membandingkan sakit fisik diabetes dan kanker dengan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. Saya menangkap maksud dari Pak Paul ini hal-hal tersebut adalah hal yang terjadi didalam tubuh kita, didalam fisik. Jadi sakit yang seperti diabetes dan kanker itu sama dengan sakit seperti cemas dan depresi. Begitu ya, Pak Paul?
PG: Jadi ada beberapa gangguan jiwa yang memang begitu besar pengaruh dari faktor bawaan. Dengan perkataan lain, bila orang tua kita mengidap gangguan jiwa tertentu, maka kemungkinan kita menderitanya lebih besar, tapi tidak berarti bahwa kalau orang tua kita mengidap gangguan jiwa maka pastilah kita akan mengidap gangguan jiwa. Sama seperti bila orang tua kita mengidap gangguan misalkan tekanan darah tinggi, tidak berarti kita juga akan terkena gangguan tekanan darah tinggi. Atau karena orang tua mengidap diabetes, maka pasti kita juga mengidap diabetes. Memang tidak seperti itu, bukan sesuatu yang pasti. Yang berikutnya juga adalah begini, gangguan jiwa bisa juga muncul disebabkan oleh faktor gaya hidup atau lingkungan. Sama seperti gangguan fisik, bukankah orang yang tidak memunyai garis keturunan diabetes, namun hidupnya tidak beraktifitas secara fisik, lebih banyak diam, kemudian tidak memerhatikan apa yang dimakannya, banyak mengkonsumsi karbohidrat atau gula dan sebagainya, sudah tentu akhirnya itu membuatnya bisa terkena diabetes. Sama dengan itu, kita juga bisa jadi tidak ada faktor keturunan menderita gangguan depresi misalkan, namun bila kita menghadapi tekanan dalam hidup yang begitu besar, maka karena kita manusia terbatas, misalnya saat itu memunyai dukungan yang cukup dari lingkungan, dari orang yang dekat dengan kita, kita ambruk, kita mengalami depresi. Jadi gangguan-gangguan kejiwaan dapat pula ditimbulkan oleh faktor-faktor yang bukan berasal dari dalam diri kita, tapi dari apa yang kita alami atau peristiwa yang kita hadapi. Poin saya adalah kita tidak bisa langsung mengecap kalau orang menderita gangguan jiwa, maka pastilah orang itu kurang rohani atau kurang beriman, sebab asumsinya kalau orang itu beriman atau rohani maka mustahil ia menderita gangguan jiwa. Ini anggapan yang menurut saya tidak tepat.
ND: Jadi kita harus menyadari bahwa gangguan jiwa kita bisa sebagian kita peroleh dari faktor hereditas atau keturunan dan juga sisi lain faktor gaya hidup atau lingkungan tempat kita berada.
PG: Betul sekali.
ND: Baik, Pak Paul, selain faktor fisik dan keturunan apakah tekanan mental itu juga berarti bahwa seseorang kehilangan imannya atau dia menjauh dari Tuhan?
PG: Ini membawa kita kepada poin kedua yang perlu kita ketahui, yaitu tidak berarti bahwa kita kehilangan iman atau jauh dari Tuhan bila kita dilanda tekanan atau menderita gangguan jiwa. Penderitaan mental bukanlah pertanda retaknya hubungan kita dengan Tuhan. Kenyataan bahwa kita tidak memunyai keinginan membaca Firman Tuhan tatkala tengah cemas atau depresi, tidaklah berarti bahwa hubungan kita dengan Tuhan sedang jauh atau Ia tidak memedulikan kita. Besar kemungkinan kita tidak berkeinginan membaca firman Tuhan, sebab kita tidak lagi memunyai minat untuk melakukan aktifitas yang biasa kita lakukan dikarenakan depresi. Jadi bukan saja kita tidak bersemangat membaca firman Tuhan, kita pun tidak bersemangat berolah raga, bertemu dengan teman, mengikuti berita dan sebagainya, karena memang depresi kita itu seolah-olah melumpuhkan kita secara mental. Karena itu maka semangat kita, motivasi, keinginan kita membaca firman, belajar firman juga ikut terpengaruh. Jadi kita mesti menyadari kenyataan ini, besar kemungkinan kita tidak memeroleh pelajaran rohani sewaktu membaca firman Tuhan, karena kita sulit berkonsentrasi akibat kecemasan yang tengah melanda kita, bukan karena Tuhan berhenti bersabda kepada kita, karena dosa yang tersembunyi pada diri kita. Ini kadang yang dipikirkan oleh orang, bahwa "Oh, saya tidak lagi mendapatkan firman Tuhan, tidak lagi mendapatkan pesan atau pelajaran waktu saya membaca firman". Seolah-olah Tuhan bisu, berarti Tuhan itu marah kepada saya, Tuhan telah meninggalkan saya, tidak peduli dengan saya, karena misalkan saya berdosa atau apa. Belum tentu, besar kemungkinan kita tidak memeroleh pelajaran apa-apa, karena memang kita sulit berkonsentrasi sedangkan untuk kita bisa benar-benar mencerna, kemudian menyerap pelajaran dari firman Tuhan diperlukan kondisi mental tertentu. Bila setengah lemah, cepat buyar konsentrasi kita, sudah tentu itu akan memengaruhi juga apakah kita bisa memetik pelajaran dari apa yang kita baca.
ND: Sulit juga ya, Pak Paul, bagi orang yang tengah depresi atau stres, dia tentunya memang merasakan bahwa jangan-jangan Tuhan tidak lagi berbicara dengan saya. Tuhan jauh dari saya, jadi kondisi ini membuat orang yang dalam tekanan atau gangguan mental itu kebingungan. Manakah yang menjadi penyebabnya, apakah itu betul Tuhan tidak lagi berbicara dengan dia, atau memang hal itu muncul karena pengaruh dari tekanan tersebut.
PG: Pokoknya kita berprinsip tangan Tuhan selalu terbuka menerima kita yang datang kepada-Nya, asalkan kita datang dengan juga keterbukaan melihat diri kita, mengakui dosa kita, menerima bahwa kita ini sedang dalam kondisi seperti ini dan kita mau minta Tuhan menolong kita, tangan Tuhan selalu terbuka untuk kita. Meskipun kita membaca firman, rasanya tidak ada yang masuk, rasanya susah sekali kita menangkap apa yang kita baca. Teruskan jangan berhenti, jangan berkata Tuhan tidak peduli, Tuhan bisu tidak mau lagi berkata-kata kepada saya, bukan, tidak apa-apa baca saja kemudian berdoa, nanti akan ada waktunya tiba, kita akan kembali bisa menerima dan memelajari firman Tuhan.
ND: Jadi kita perlu mengakui diri kita pada saat-saat seperti itu, bahwa memang ada saatnya kita merasa tidak mampu memahami firman Tuhan, kita merasa jauh dari Tuhan, itu adalah sesuatu yang wajar dan perlu kita terima.
PG: Betul, betul, jadi jangan tambahkan tekanan hidup kita ini kesusahan yang sedang kita alami dengan menyalahkan diri yang tidak perlu.
ND: Ya, Pak Paul, jika gangguan jiwa ini tidak selalu mencerminkan jauhnya hubungan kita dengan Tuhan, apakah juga ada faktor-faktor lain seperti emosional atau pengalaman kita di waktu yang lampau yang juga turut memengaruhi kondisi mental kita?
PG: Ini membawa kita pada poin ketiga yang perlu kita ketahui, yaitu tanpa kita sadari, Pak Necholas, kita seringkali masih memikul beban dan masalah keluarga sampai hari ini. Yang akhirnya memengaruhi kondisi mental kita, misalkan kita sulit untuk merasa bahagia karena pikiran dan hati kita terus digelayuti oleh masalah dan beban keluarga. Atau kita mengalami kesulitan membangun relasi dengan orang sebab kita takut dilukai dan ini membuat kita sukar percaya pada orang. Sebagaimana kita tahu, bila pikiran dan hati terus digelayuti beban dan masalah sehingga kita kehilangan bahagia dan kita tidak memunyai teman dekat, maka kita lebih rentan terhadap tekanan jiwa. Jadi kita juga mesti memang bukan saja melihat, tapi mulai membenahi masalah-masalah yang kita bawa dari masa lalu kita. Misalkan dari keluarga dimana kita dibesarkan, karena kalau tidak maka hal-hal itu akan nantinya terus memengaruhi kita dan juga membentuk gaya hidup kita yang kadang kurang sehat, yang akhirnya membuat kita lebih rentan terhadap tekanan hidup atau akhirnya jatuh kedalam gangguan jiwa.
ND: Namun orang yang mengalami tekanan mental seperti ini, seperti yang Pak Paul katakan, dia tidak menyadari bahwa dia juga memikul beban dari masa lalu, itu seolah-olah merasa stres tapi dia tidak tahu di alam bawah sadarnya sebetulnya masih ada beban. Bagaimana dia bisa mengatasi masalah tersebut, Pak Paul?
PG: Memang untuk bisa melihat kita memunyai beban-beban di masa lalu dan mengakuinya bahwa beban-beban itu masih menggelayuti kita dan memengaruhi kita, tidak mudah. Tidak mudahnya karena begini, kita mau sehat, kita tidak mau melihat diri kita tidak sehat, atau kurang fit, bahwa kita ini adalah bagian dari masalah masa lalu, kita adalah korban masa lalu. Hal-hal itu membuat kita enggan untuk menyambung diri kita hari ini dengan diri kita di hari kemarin. Atau maksud saya menyambung diri kita sekarang dan diri kita dahulu. Sebisanya kita mau menggunting, kita mau melepaskan diri, maka untuk mengakui bahwa hal itu masih mengganggu kita, kadang sulit. Yang membuat kita kadang juga sulit mengakui adalah karena kadang kita tidak mau mengakui, bahwa orang tua kita seperti itu. Atau bahwa kita benar-benar pernah mengalami hal yang buruk itu dan mungkin sekali menyakitkan dan memalukan. Jadi intinya adalah kita ingin mengubur, bukannya mau membangkitkan, mengeluarkan tulang belulang masa lalu kita, tapi kalau kita misalnya menyadari kok sering sekali kita ambruk secara mental, kok sering sekali kita sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit tersinggung, mengapa kita susah percaya kepada orang? Mengapa kita menuduh orang berniat buruk kepada kita? Ini adalah sebetulnya sinyal-sinyal dari masa lalu, sinyal-sinyal yang sebetulnya perlu kita tangkap dan kita terima, bahwa iya saya adalah bagian dari problem dulu yang belum selesai, maka saya harus selesaikan karena selama saya tidak mau menyelesaikannya maka semua ini akan terus menggelayuti saya dan memengaruhi hubungan saya dengan orang dan bagaimana saya memerlakukan orang atau menghadapi situasi tertentu.
ND: Jadi tentunya tidak boleh menyangkali ya, kita betul-betul harus mengakui bahwa memang kita memiliki persoalan ini.
PG: Betul, betul, jadi perlu keberanian melihat masa lalu dan terutama kerendahan hati, Pak Necholas, mengakui bahwa inilah hidup saya dulu itu dan saya seperti ini dan orang tua saya seperti itu, ya itu perlu keberanian dan kerendahan hati.
ND: Lalu Pak Paul, bagaimana bila bukan hanya faktor bawaan dan masa lalu, tetapi masalah yang sedang dihadapi ini terasa begitu berat. Dapatkah iman kita tetap bertahan dalam situasi yang sangat menekan seperti itu?
PG: Nah, ini membawa kita pada poin yang keempat dan terakhir. Sekuat-kuatnya kita bila masalah yang dihadapi teramat berat, maka tetap kita dapat ambruk dan mengalami tekanan jiwa. Misalkan, kematian orang yang kita kasihi atau kehilangan harta benda secara mendadak dapat menimbulkan tekanan besar, membuat kita kehilangan keseimbangan dan pegangan hidup. Contoh ya, yang kita bisa lihat di Alkitab. Nabi Yeremia dia bukanlah seorang yang lemah, tapi karena besarnya tekanan yang dihadapinya, dia merasa putus asa dan ingin mati. Coba dengarkan doa permohonannya kepada Tuhan Allah, "Mengapakah gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku berakhir dalam rasa malu?" (Yer. 20:18). Dia begitu menderita, tiap kali Tuhan memintanya bersuara menyampaikan firman Tuhan kepada para raja di Yehuda, bukan disambut, didengarkan, dihargai, dia disiksa, dipenjara, dibuang, dia menderita sekali. Jadi dia benar-benar dalam kondisi terjepit, dalam salah satu keluhannya dia seolah-olah berkata, kalau saya tidak sampaikan yang Tuhan katakan, saya juga salah dan saya juga merasa berdosa. Kalau saya sampaikan yang Tuhan ingin saya sampaikan, saya mendapatkan hukuman, saya mendapatkan pukulan dari orang. Itulah kondisi dia dan ini mungkin yang kita alami sekarang. Yang kita lakukan selalu salah, kalau kita tidak lakukan atau tidak kita perbuat juga salah, apapun juga yang kita perbuat salah dan malahan seperti bumerang memukul kita kembali. Nah, biasanya kalau kita dalam kondisi seperti itu, lama kelamaan kita tidak tahan, ya kita ambruk. Kita bisa saja akhirnya mengalami depresi. Jadi yang mau saya tekankan ini, sekuat-kuatnya kita, kita tetap dapat ambruk dan mengalami tekanan jiwa. Maka jangan ragu untuk mendapatkan atau memohon pertolongan.
ND: Bersyukur sekali Alkitab memberi contoh nabi Yeremia ini, seolah-olah dia mewakili perasaan banyak orang, sampai dia berkata, "Mengapa aku harus lahir di dunia ini ?". Seolah-olah dia ingin berkata, saya lebih baik mati saja, buat apa saya hidup?
PG: Betul, betul sekali. Dalam salah satu keluhannya dia juga berkata, "Terkutuklah orang yang berkata anak laki-laki telah lahir". Artinya orang yang membawa dia lahir, sebetulnya sebuah kemalangan, kelahirannya, keberadaannya di dalam dunia ini bukanlah hal yang baik untuk dia, hal yang buruk untuk dia karena hidupnya penuh dengan derita. Disini kita bisa melihat juga bahwa dia sebagai hamba Tuhan, sebagai orang yang menaati Tuhan, dia tidak bersalah apa-apa disini, namun dia menderita, dia susah hidupnya. Bukan karena dia tidak beriman, bukan karena dia berdosa, makanya dia mengalami pukulan emosi atau depresi yang begitu berat.
ND: Belajar dari Yeremia juga membuat kita tidak mudah menghakimi, ya Pak Paul. Karena kadang kita juga melihat ada orang, tokoh, rohaniwan atau aktivis di gereja yang melayani dengan sedemikian rupa, ternyata orang itu pun bisa ambruk sewaktu menghadapi tekanan tertentu.
PG: Betul sekali dan ini hanyalah menandakan seperti firman Tuhan berkata, kita bejana yang dibuat bukan dari besi, bukan perak, bukan tembaga. Kita bejana yang terbuat dari tanah liat, kita mudah retak, mudah hancur, sekuat-kuatnya kita, kita bisa retak, maka jangan malu untuk memohon pertolongan. Jangan malu datang kepada Tuhan, juga jangan malu datang kepada sesama kita untuk mendapatkan pertolongan.
ND: Pak Paul, dalam menghadapi tekanan besar seperti yang dialami oleh Yeremia ini, bagaimana seharusnya kita bisa memaknai iman dan hubungan kita dengan Tuhan ditengah penderitaan mental atau jiwa yang kita rasakan?
PG: Di tengah doa keluh kesahnya, Yeremia berseru, "Akan tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejarku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa" (Yer. 20:11). Yeremia tidak memisahkan iman dari tekanan jiwa yang dihadapinya, itu sebab ditengah penderitaannya, ia berdoa dan bersandar pada Tuhan. Dia tahu bahwa Tuhan menerima dirinya apa adanya. Yeremia tidak malu mengakui keputusasaannya, tapi ia pun tidak tenggelam didalam keputusasaan, dia tetap berseru memohon pertolongan Tuhan dan ia beriman bahwa Tuhan menyertainya serta tidak akan meninggalkannya. Inilah sikap yang benar, kita datang kepada Tuhan secara utuh membawa diri kita apa adanya dan memohon serta menunggu Tuhan datang menolong. Jangan sampai bahkan dihadapan Tuhan pun kita berlaga kuat, seolah-olah tidak butuh pertolongan-Nya, seolah-olah kita sanggup menghadapi apapun, jangan. Utuhlah datang kepada Tuhan, apa adanya jangan kita mengkotakkan diri kita, pokoknya kalau menghadap Tuhan atau berdiri di mimbar dalam pelayanan, kita mesti kuat, kita tidak boleh memerlihatkan kerentanan, kelemahan kita, persoalan kita, pergumulan kita, tidak, tidak. Hamba-hamba Tuhan, tokoh-tokoh Alkitab, mereka semua menggabungkan keberadaan diri mereka yang sedang jatuh di bawah dengan iman mereka. Dengan hubungan mereka dengan Tuhan, bahkan Yesus pun Tuhan dan Juruselamat kita, berdoa, bergumul didalam masa-masa yang begitu kritis dalam hidup-Nya di Getsemani, Dia datang kepada Bapa secara utuh. Inilah juga yang mesti kita lakukan.
ND: Indah sekali, Pak Paul, atas sharing hari ini. Kita tidak dipanggil untuk berpura-pura kuat, tetapi kita perlu bersandar kepada Tuhan dalam segala situasi. Dengan pengakuan yang tulus dan kepercayaan yang utuh, kita membuka ruang bagi kasih dan pemulihan Ilahi untuk bekerja didalam hidup kita.
Terima kasih banyak, Pak Paul, atas perbincangan kita pada kesempatan kali ini.
Para pendengar sekalian, terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (TEgur sapa gembaLA keluarGA), kami baru saja berbincang-bincang tentang "Iman dan Jiwa". Jika Anda berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami melalui surat ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat mengirimkan email ke telaga@telaga.org; kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di https://www.telaga.org; saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Pada umumnya kita beranggapan bahwa bila kita hidup beriman pada Tuhan, maka kita akan terhindar dari gangguan jiwa. Dengan kata lain, makin kita hidup rohani, makin kuat dan bertambah jauh kita dari gangguan jiwa. Memang kita dapat berkata bahwa iman dan kekuatan rohani yang kita miliki di dalam Kristus seharusnya memberi kita kekuatan untuk menghadapi apa pun dalam hidup ini. Seyogianya kita, yang hidup berserah pada Tuhan, tidak mudah untuk dikuasai oleh kecemasan yang berpotensi melumpuhkan kita secara mental. Namun pada kenyataannya hubungan antara iman atau kerohanian dan kesehatan atau gangguan jiwa tidaklah sesederhana itu. Jadi, marilah kita melihat hubungan antara keduanya dan menarik beberapa pelajaran guna memelihara kehidupan jiwani yang sehat.
Hal pertama yang perlu kita ketahui adalah sama seperti penyakit fisik, sebagian gangguan jiwa adalah dikarenakan oleh faktor fisik. Sebagai contoh, bila orang tua mengidap kanker maka kemungkinan kita mengidap kanker diperbesar. Bila orang tua mengidap diabetes, maka kemungkinan kita mengidap diabetes diperbesar. Sama dengan itu, bila orang tua mengidap gangguan jiwa seperti kecemasan dan depresi, kemungkinan kita mengidap kecemasan dan depresi juga diperbesar. Nah, bukankah kita TIDAK akan berkata bahwa kita mengidap kanker atau diabetes karena kurang beriman sebab keduanya memang tidak berhubungan? Jadi, janganlah cepat menyimpulkan bahwa bila seseorang menderita depresi, itu dikarenakan ia kurang beriman. Bisa jadi, itu pengaruh faktor bawaan semata.
Hal kedua yang perlu kita ketahui adalah tidak berarti bahwa kita kehilangan iman atau jauh dari Tuhan bila kita dilanda tekanan atau menderita gangguan jiwa. Penderitaan mental bukanlah pertanda retaknya hubungan kita dengan Tuhan. Kenyataan bahwa kita tidak memunyai keinginan membaca Firman Tuhan tatkala tengah cemas atau depresi tidaklah berarti bahwa hubungan kita dengan Tuhan jauh, atau Ia tidak memedulikan kita. Besar kemungkinan kita tidak berkeinginan membaca Firman Tuhan, sebab kita tidak lagi memunyai minat untuk melakukan aktivitas yang biasa kita lakukan dikarenakan depresi. Besar kemungkinan kita tidak memperoleh pelajaran rohani sewaktu membaca Firman Tuhan, karena kita sulit berkonsentrasi akibat kecemasan yang tengah melanda kita, bukan karena Tuhan berhenti bersabda kepada kita karena dosa yang tersembunyi pada diri kita.
Hal ketiga yang perlu kita ketahui adalah tanpa kita sadari, kita masih memikul beban dan masalah keluarga sampai hari ini, yang akhirnya memengaruhi kondisi mental kita. Misal, kita sulit untuk merasa bahagia karena pikiran dan hati terus digelayuti oleh masalah dan beban keluarga. Atau, kita mengalami kesulitan membangun relasi dengan orang sebab kita takut dilukai dan ini membuat kita sukar percaya pada orang. Sebagaimana kita ketahui, bila pikiran dan hati terus digelayuti beban dan masalah sehingga kita kehilangan bahagia dan kita tidak memunyai teman dekat, maka kita lebih rentan terhadap tekanan jiwa.
Hal keempat dan terakhir yang perlu kita ketahui adalah sekuat-kuatnya kita, bila masalah yang dihadapi teramat berat, maka tetap kita dapat ambruk dan mengalami tekanan jiwa. Kematian orang yang kita kasihi atau kehilangan harta benda secara mendadak dapat menimbulkan tekanan besar, membuat kita kehilangan keseimbangan dan pegangan hidup. Nabi Yeremia bukan seorang yang lemah, tetapi karena besarnya tekanan yang dihadapinya, ia merasa putus asa dan ingin mati. Coba dengarkan doa permohonannya kepada Tuhan Allah, "Mengapakah aku keluar dari kandungan untuk melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku berakhir dalam rasa malu?" (Yeremia 20:18).
Namun, di tengah doa keluh kesahnya, Yeremia berseru, "Akan tetapi Tuhan menyertai aku seperti pejuang yang gagah, sebab itu para pengejarku akan tersandung jatuh dan mereka tidak akan berhasil" (Yeremia 20:11). Yeremia tidak memisahkan iman dari tekanan jiwa yang dihadapinya; itu sebab di tengah penderitaannya, ia berdoa dan bersandar pada Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan menerima dirinya apa adanya. Yeremia tidak malu mengakui keputusasaannya, tetapi ia pun tidak tenggelam di dalam keputusasaan. Ia tetap berseru memohon pertolongan Tuhan dan ia beriman bahwa Tuhan menyertainya, serta tidak akan meninggalkannya. Inilah sikap yang benar. Kita datang kepada Tuhan secara utuh; membawa diri kita apa adanya; dan memohon serta menunggu Tuhan datang menolong.