Teka Teki Akhir Zaman

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T574A
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.
Abstrak: 
Tiga tafsir utama akhir zaman yaitu Amillenialisme, Premillenialisme, Posmillenialisme, tidak ada yang mengetahui kapan akhir zaman hanya Allah Bapa saja, tugas kita fokus melakukan panggilan kita, setia dan hidup dalam pengharapan.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.

Latar Belakang

Cukup mudahnya muncul berbagai ramalan kapan kiamat dan ujungnya tidak terbukti serta menimbulkan keresahan. Dua terakhir yang heboh adalah 2003 dan 2012. Di 2003 sekitar 300 pengikut kelompok Pondok Nabi yang menunggu terangkat ke surga di sebuah gudang di Kabupaten Bandung 14 November 2003 percaya kiamat terjadi pada 10 November 2003. di Bale Endah pada 10 November 2003. Mereka berasal dari berbagai pulau Indonesia dan telah menjual seluruh harta milik dan menyerahkan kepada sang pendeta pemimpin Pondok Nabi. .

Pada tahun 2012, dunia dibuat gempar dengan adanya ramalan dari suku Maya Kuno yang mengatakan akan adanya kiamat pada 21 Desember 2012 karena siklus kalender 400 tahun akan berakhir pada tanggal itu.

Bagaimana memahami hal ini dari perspektif Alkitab?

Pertama, kita perlu memahami ada minimal 3 cara tafsir utama yakni: Amillenialisme (Amil), Premillenialisme (Premil), dan Posmillenialisme (Posmil). Frasa berulang adalah millenialisme berkenaan kerajaan 1000 tahun yang diambil dari Surat Wahyu 20:1-7.

Yang paling populer dan banyak diadopsi berbagai denominasi gereja, minimal di Indonesia adalah pandangan Premil. Premilenialisme memahami bahwa setelah kedatangan Yesus yang kedua kali, Ia akan memerintah di bumi selama seribu tahun sebelum penyempurnaan akhir karya pembebasan Allah dalam langit dan bumi baru. Para pemegang pandangan premilenialisme menerapkan hermeneutika yang relatif harafiah dalam menafsirkan kitab suci, khususnya mengenai apokaliptik.

Misal, angka 666, di dahi, 1000 dalam Surat Wahyu benar-benar angka 666, di dahi, 1000. Alkitab menjadi buku teka-teki untuk mencocok-cocokkan situasi kekinian yang berubah-ubah untuk menebak kapan kira-kira tahun kedatangan Yesus yang kedua kali.

Karena itu, pandangan Premil sangat populer di hampir semua denominasi gereja. Setiap tahun bisa dibawakan tema Akhir Zaman dengan data-data kekinian yang diperbarui dan segar untuk menyingkapkan teka-teki kapan datangnya akhir zaman. Suasana sensasional ini membuat adrenalin orang naik. Topik akhir zaman ini seakan mampu membuat orang-orang akan makin punya alasan untuk aktif ke gereja dan pelayanan agar siap untuk "rapture" atau mengalami pengangkatan saat Yesus muncul di awan-awan dan terbebaskan dari masa Tribulasi atau Kesengsaraan Besar selama 1000 tahun sebelum kiamat benar-benar datang.

Namun, sayangnya, ujung model penafsiran Premil ini bertentangan dengan kata Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 24:36, "Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri".

Matius 24:42, "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang".

Jadi ketika seseorang yang berkharisma maupun sekelompok orang meyakini Yesus akan datang pada tahun sekian dan tanggal sekian ditambah dengan bumbu pada tanggal sekian menurut NASA, Badan Antariksa Amerika Serikat, bahwa planet ini akan menubruk bumi, justru pada tahun itu dan tanggal itu Yesus tidak akan datang pada kedua kalinya. Lantas, bagaimana sebaiknya kita memahami kitab-kitab apokaliptik yang terdapat di kitab Daniel, Injil dan Surat Wahyu. Masing-masing perlu kita tafsir sesuai jenis genre atau kesusasteraannya serta konteks penulisannya saat itu. Misal sastra Surat Wahyu berjenis surat kirim, apokaliptik, dan nubuatan maka kita perlu membaca dan menafsirkan teks sesuai jenis sastranya. Surat Wahyu perlu kita tafsirkan secara simbolistik.

Rasul Yohanes dibuang di Pulau Patmos. Agar surat penggembalaannya untuk menguatkan jemaat-jemaat di masa penganiayaan Kekaisaran Romawi, bisa lolos pemeriksaaan tentara Romawi, maka Rasul Yohanes menulis dengan simbol-simbol yang hanya dimengerti pembaca Yahudi Kristen pada masa itu

Bagi orang Yahudi, angka 3 angka Tuhan. Angka 4 angka manusia. Angka sempurna Yahudi angka 7. Jadi angka 666 ketidaksempurnaan yang betul-betul sempurna. Iblis ingin meniru Allah, namun benar-benar meleset. Di dahi artinya seluruh cara berpikir kita tunduk pada AntiKristus. Di tangan artinya semua tindakan kita tunduk pada AntiKristus.

Seribu menggambarkan suatu masa yang genap dan yang jangkanya tidak dapat ditentukan. Jadi bukan kerajaan 1.000 tahun secara harfiah. Sesungguhnya zaman akhir sudah dimulai sejak kedatangan Yesus pertama kali dan akan berakhir dengan akhir zaman atau kiamat saat Yesus datang kedua kali. Kapan tibanya, bak pencuri datang. Tugas kita, waspadalah dan berjaga-jagalah. Jadilah lima gadis bijak yang menyiapkan minyak untuk menyambut mempelai pria sewaktu-waktu.