Puasa Menurut Alkitab 1

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T591A
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.,M.Phil.
Abstrak: 
Puasa merupakan praktik hidup rohani yang baik untuk dihidupi, puasa total, puasa normal, berpantang, esensi puasa
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Puasa merupakan bentuk praktik hidup rohani yang baik untuk kita hidupi, namun untuk sebagian orang percaya tampak cukup asing. Tampak beberapa gereja jarang mensosialisasikan secara utuh menyeluruh dan praktis. Beberapa orang percaya mempraktikkan hanya pada hari-hari di Minggu Sengsara Kristus menjelang Ibadah Perayaan Paskah Minggu. Yakni memperingati hari-hari kehidupan Kristus menjelang penyaliban-Nya sampai mati hingga penguburan-Nya. Juga beberapa orang percaya cenderung terpaku pada satu bentuk puasa yang dirasa berat, yakni tidak makan dan tidak minum seharian, sebagaimana dipraktikkan penganut iman yang lain.

Padahal di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bertebaran kisah-kisah praktik puasa antara lain Musa, Daud, Elia, Daniel, Ester, Yesaya, Ezra, Nehemia, Rasul Paulus, dan Yesus sendiri. Para bapa Gereja dan pemimpin-pemimpin gereja era setelahnya seperti Martin Luther, John Calvin, John Wesley, Jonathan Edwards, George Muller, juga memiliki kebiasaan berpuasa.

Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memberi perintah langsung untuk berpuasa. Namun, Dia memberi teladan berpuasa selama 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya. Dalam Khotbah di Bukit di Matius pasal 6, Yesus membahas 3 hal dengan awalan: "Apabila engkau memberi sedekah ..." (ayat 2), "Apabila engkau berdoa ..." (ayat 5), "Apabila kamu berpuasa ..." (ayat 16). Rupanya Tuhan Yesus mengasumsikan memberi sedekah, berdoa dan berpuasa sebagai gaya hidup normal orang percaya. Yang diperlukan bukanlah memerintahkan, melainkan petunjuk cara melakukan dengan benar. Yakni, memberi sedekah, berdoa dan berpuasa dengan berfokus atau berpusat pada Bapa Sorgawi dan tidak untuk unjuk kehebatan agamawi di depan orang lain.

BENTUK PUASA

Ada beberapa bentuk puasa yang bisa kita jalani. Minimal ada tiga bentuk :

Pertama, puasa total. Tidak makan dan tidak minum sama sekali. Hanya disarankan bagi orang yang sehat dan itu pun maksimal tiga hari. Jika hendak lebih tiga hari, sangat bertanggungjawab jika telah berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter. Karena, dari sudut medis, orang masih bisa bertahan hidup tidak makan sekian hari asalkan tetap minum. Namun, jika sama sekali tidak makan dan minum melebihi tiga hari akan mengalami dehidrasi berat dan membahayakan kesehatannya. Di Alkitab tercatat paling tidak tiga orang melakukan puasa total. Yakni, Saulus saat mengalami krisis mata yang buta setelah penampakan Yesus dalam perjalanan bersama pasukan ke Damsyik (Kisah Para Rasul 9). Saulus diminta Tuhan untuk masuk ke kota Damsyik dan menunggu petunjuk Tuhan. Di tengah penantian dalam doa itulah Saulus berpuasa total dari hari ke hari. Rupanya setelah genap tiga hari puasa total, Saulus menerima mujizat mata dicelikkan lewat pelayanan Ananias yang diutus Tuhan.

Di tengah krisis genosida pembantaian kaum Yahudi di puri Susan dan krisis kematian Ester jika inisiatifnya menemui Raja Ahasyweros meminta bantuan tidak diperkenan sang raja, Ester memaklumkan puasa total tiga hari bagi seluruh kaum Yahudi, dayang-dayang dan dirinya (Ester 4). Imam Ezra di tengah dukacita perkabungan kesedihan mendalam mendengar dosa-dosa ketidaksetiaan perkawinan campur kaum Israel di Yerusalem, Imam Ezra mengaku dosa mewakili kaum Israel dan berpuasa total (Ezra 10).

Benang merahnya, puasa total dilakukan dalam waktu terbatas oleh kejutan tiba-tiba atau shock yang membuat nafsu makan-minum berkurang dan segala sesuatu dihentikan untuk sementara waktu.

Catatan Khusus

Perluasan dari puasa total, ada puasa supranatural, yakni tidak makan dan tidak minum 40 hari. Alkitab hanya mencatat dua tokoh yang melakukannya, yakni Musa saat menerima dua loh batu, 10 Hukum Allah di Gunung Sinai dan Elia saat melakukan perjalanan ke Gunung Sinai atau disebut juga Gunung Horeb. Puasa supranatural ini diprakarsai atau inisiatif Allah sendiri. Allah pulalah yang memberi kekuatan sehingga Musa dan Elia mampu. Jadi, ini bukan bentuk puasa yang serta-merta patut kita tiru.

Kedua, puasa normal. Puasa tidak makan namun tetap minum air bening. Ini puasa yang lebih disarankan karena tidak terlalu mengganggu kesehatan. Jenis puasa inilah yang dilakukan Tuhan Yesus selama 40 hari di padang gurun untuk mengawali pelayanannya secara publik selama 3,5 tahun hingga disalib di Bukit Golgota. Matius 4:2 menulis: "Dan setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus." Yesus lapar dan tidak haus.

Ketiga, berpantang. Di sini tetap makan dan minum, namun mengurangi kenikmatan makan. Misal, untuk konteks Indonesia hanya makan nasi putih dan minum air bening, jika misal biasanya makan dengan lauk, sayur dan daging. Di Jawa kita kenal dengan istilah puasa putihan.

Di Kitab Daniel diceritakan tentang Daniel dan kawan-kawan yang hanya makan sayur dan minum air serta berpantang makan daging, minum anggur dan santapan raja lainnya. Dengan makanan terbatas ini, Daniel dan kawan-kawan memperoleh kekuatan dan kesehatan tubuh. Di Kitab Daniel pasal 10, diceritakan Daniel berpantang tiga minggu terhadap kue-kue kering, daging, dan anggur. Allah memberinya penglihatan dan beban untuk didoakan sampai terwujud.

ESENSI PUASA

Puasa merupakan sebuah ekspresi jiwa kepada Tuhan. "Tuhan, aku sesungguhnya lapar akan makanan atau haus akan minuman. Namun, aku lebih lagi lapar dan haus akan Engkau dan pertolongan-Mu." Inilah jiwa dari berbagai bentuk puasa, termasuk bentuk puasa normal, puasa total dan berpantang yang tadi dibahas. Di sinilah letak kemerdekaan puasa menurut Alkitab, puasa kristiani, puasa di dalam nama Kristus. Bentuk sangat fleksibel. Yang terpenting adalah esensinya bahwa puasa yang kita lakukan merupakan upaya pengekspresian bahwa kita bersedia mengurangi kenikmatan lahiriah kita untuk sesaat lamanya demi menyatakan secara lahiriah bahwa kita lebih lagi membutuhkan kenikmatan surgawi bersama Tuhan. Jadi, jangan terjebak pada bentuk-bentuk puasa. Tidak ada bentuk puasa yang lebih rohani daripada yang lain. Malahan keliru dan salah alamat jika kita membangun kebanggaan pada bentuk puasa yang kita lakukan. "Ini lho aku biasa puasa total selama 12 jam, selama 3 hari berturut-turut."

Sebaliknya, tidak perlu berkecil hati jika kita berpuasa normal hanya setengah hari. Beberapa kali saya sarankan bagi orang-orang percaya yang ingin memulai kebiasaan berpuasa namun merasa berat, untuk memulai dari menunda jam makan 1-2 jam dari jam biasanya atau, jika bisa, langsung menghilangkan satu jam makan, dengan tetap minum air bening sehingga tetap bugar beraktivitas kerja dan tidak mengganggu kesehatan. Jadi, berupa puasa normal. Atau, bisa juga memulai puasa dengan bentuk berpantang, misal puasa putihan.

James Lee Beal yang menulis buku tentang "Petualangan Berpuasa" menyaksikan, orang yang melakukan puasa berbeda-beda dan menyesuaikan dengan keadaan dan keperluan, adalah orang yang secara rohani lebih seimbang. Mereka lebih peka terhadap Tuhan dan berusaha menyenangkan Tuhan daripada hanya menuruti pemikiran agamawi tertentu saja. Mereka telah memelajari nilai bersikap terbuka kepada Allah melalui puasa.

Matius 6:16-18, "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan diihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu".