Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Saya, Gunawan Santoso, dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu yaitu tentang "Pribadi yang Sehat Adalah Kunci Relasi yang Sehat" bagian yang kedua. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, karena ini merupakan bagian yang kedua dari tema "Pribadi yang Sehat Adalah Kunci Relasi yang Sehat" mungkin bisa dijelaskan secara sepintas tentang apa yang kita perbincangan tentang kesempatan yang lampau.
PG : Kita mesti memersiapkan keharmonisan pernikahan bukan pada waktu kita mau menikah tetapi justru jauh hari sebelumnya, yaitu pada waktu kita masih muda. Nah, kita perlu memfokuskan diri supaya bisa membangun pribadi yang sehat. Ada beberapa yang telah kita bahas. Yang pertama adalah kita mesti mengenal diri dan menghargai diri dengan sepatutnya, ini adalah modal pernikahan yang penting. Yang kedua adalah kita juga mesti dapat menerima masa lalu sebagai bagian integral hidup kita. Tapi tidak lagi terikat oleh masa lalu. Orang yang terus diikat oleh masa lalu sulit untuk bisa membangun pernikahan yang sehat. Ketiga, tangguh menanggung kesusahan dan kreatif mencari jalan keluar. Kalau kita ini terlalu lemah dan tidak bisa menanggung kesusahan maka itu akan menjadi duri dalam pernikahan kita. Atau kita sulit menemukan jalan keluar, kita tidak kreatif. Itu juga nanti bisa menyulitkan kita dalam pernikahan. Dan yang keempat, dapat melihat orang secara tepat sekaligus menerima kelemahan orang dan menghargai kekuatan orang. Kita tahu betapa pentingnya kita ini dapat melihat pasangan apa adanya, mengetahui dan menerima kekurangannya, serta menghargai kelebihannya. Nah, ini adalah modal yang penting dan baik untuk membangun pernikahan yang harmonis dan sehat.
GS : Iya. Jadi setelah membicarakan 4 faktor itu tadi Pak Paul, maka faktor yang kelima apa ?
PG : Memikul tanggungjawab atas keputusan yang diambil dan tidak melepaskan orang dari tanggungjawabnya. Kecenderungan kita adalah hanya memikul tanggungjawab atas keputusan yang membuahkan hasil dan mendengar pengakuan bahwa keputusan yang kita ambil ternyata baik. Bila sebaliknya yang terjadi, keputusan yang kita ambil justru terbukti salah, biasanya kita berusaha mengelak. Pribadi yang sehat adalah pribadi yang memikul tanggungjawab atas keputusan yang diambil; baik atau buruk, benar atau salah, berhasil atau gagal. Kita menyadari bahwa kita bukanlah orang yang sempurna. Kita tidak bisa memastikan hasil akhir dari suatu keputusan. Kita hanya bisa melakukan bagian kita yaitu mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang dan tidak dengan tergesa-gesa. Nah, pribadi yang tidak sehat akan mengalami kesulitan membangun pernikahan yang harmonis dan sehat sebab kecenderungannya adalah melepaskan tanggungjawab. Suatu keputusan yang dibuat terbukti keliru. Bukan hanya melepaskan tapi tanggungjawab pasangan pun disalahkan. Walaupun tidak ada kesalahan, mereka akan mencari-cari kesalahan supaya mereka tidak merasa bersalah dan bebas dari tanggungjawab. Sebab itu penting bagi kita untuk sejak muda membiasakan diri untuk memikul tanggungjawab atas keputusan yang diambil, walau takut salah dan takut disalahkan terimalah dan akuilah.
GS : Iya. Keputusan itu biasanya kalau sudah menikah sebaiknya memang diambil bersama-sama. Mereka berunding mengambil suatu keputusan, Pak Paul. Tetapi juga tidak jarang terpaksa harus diambil oleh salah satu pihak. Kalau keputusan itu benar maka tidak ada masalah apa-apa tapi masalahnya kalau sudah salah, lalu bagaimana, Pak Paul?
PG : Nah, misalkan ini cukup sering kita dengar, seorang suami misalnya memutuskan untuk memulai sebuah usaha dan karena tidak ada jalan lain maka akhirnya harus meminjam uang dari bank. Misalkan istri sudah memberikan peringatan "Hati-hati. Rasanya kamu terlalu berani mengambil keputusan ini." Tetapi suami berkata, "Kita mesti berani mengambil resiko." Jadi akhirnya ambil uang dari bank untuk memulai usaha. Dan benar saja akhirnya usaha itu gagal. Utang sudah menumpuk dan harus dibayar tapi penghasilan tidak ada karena usaha itu merugi dan harus ditutup atau dijual. Nah, sebaiknya dalam kasus seperti ini, si suami berkata terus terang bahwa saya ini salah. Dan sebaiknya juga meminta maaf kepada si istri, "Saya tidak mendengarkan kamu. Saya ingin meminta maaf." Ini adalah karakter yang baik, yang seharusnya. Tapi saya juga tahu bahwa kebanyakan orang susah untuk berkata, "Saya salah." Dia akan salahkan ini, orang ini, atau apalah sehingga tidak mau mengaku bahwa sebetulnya yang salah saya dan seharusnya saya sudah mendengarkan masukanmu dulu.
GS : Iya. Yang dikhawatirkan itu memang akibat dari kesalahan yang dia perbuat sewaktu mengambil keputusan itu, Pak Paul. Jadi pasangan itu terkadang diajak untuk menanggung akibatnya ini akan juga malas.
PG : Dan kalau hanya sekali, Pak Gunawan, mungkin masih bisa ditanggung. Namun, Pak Gunawan juga mungkin tahu, ada orang-orang yang mengulangi perbuatannya berkali-kali. Akhirnya ada keluarga yang harus pindah, jual rumah, kontrak rumah lagi kemudian jual rumah lalu kontrak lagi berkali-kali gara-gara keputusan yang salah yang diambil oleh si kepala keluarga itu.
GS : Iya. Jadi kalau sudah begitu mestinya pasangannya mengambil alih, Pak Paul?
PG : Seharusnya seperti itu. Tapi memang hidup tidak ideal jadi banyak orang yang akhirnya merasa, "Sudah biarkan saja. Tanggung saja." Meskipun si istri dan anak-anak harus menderita karenanya.
GS : Iya. Jadi bagaimana, Pak Paul?
PG : Salah satu atau bagian yang lain tentang mengambil keputusan dan memikul tanggungjawab ialah kita pun tidak boleh melepaskan orang dari tanggungjawabnya. Maksud saya bukanlah mengejar dan memaksa orang untuk bertanggungjawab. Maksud saya adalah tidak mengambil alih tanggung jawab orang agar mereka belajar bertanggungjawab. Nah, ada di antara kita yang terbiasa bertanggungjawab karena sejak kecil diserahkan tanggungjawab yang besar. Akhirnya kita cenderung mengambil alih tanggungjawab apalagi jika kita melihat orang yang diserahkan tanggungjawab tersebut tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Nah, sudah tentu ada kalanya itu yang mesti kita lakukan tapi sebaiknya itu tidak selalu dilakukan. Pernikahan didirikan di atas dua kaki. Sebaik-baiknya satu kaki, suatu saat pasti pincang dan jatuh. Pernikahan yang harmonis harus didasari atas sumbangsih dan kerjasama dari kedua belah pihak. Masing-masing memiliki tanggung jawabnya secara pribadi dan keduanya memunyai tanggung jawab secara berpasangan. Maksud saya ada keputusan yang diambil secara pribadi, ada keputusan yang diambil bersama. Ada tugas yang mesti dikerjakan sendiri dan ada tugas yang dikerjakan bersama. Jadi inilah yang mesti kita lakukan. Berani memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil dan tidak melepaskan orang dari tanggung jawabnya.
GS : Iya. Jadi bukan mengambil alih tanggungjawab, tapi kita mau menolong orang atau pasangan kita yang salah mengambil keputusan. Dan kalau kita sudah melihat akibatnya ini akan buruk dampaknya bagi keluarga maka kita harus cepat-cepat turun tangan, Pak Paul.
PG : Betul. Tugas kita ialah harus memberitahu pasangan bahwa ini keliru atau merasa "Saya tidak damai. Hati-hati." Kalau bisa memang kita juga mengamankan diri jangan sampai nanti kalau misalnya perkiraan pasangan kita meleset dan kita semua ini runtuh, maka kalau bisa kita memang juga harus mengamankan supaya kalau ada apa-apa dengan dia hidup kita masih bisa berlanjut.
GS : Iya. Paling tidak itu bisa meminimalisir kerugian yang akan terjadi, Pak Paul.
PG : Betul.
GS : Faktor yang keenam apa, Pak Paul?
PG : Faktor keenam yang merupakan ciri pribadi yang sehat adalah memikirkan kepentingan orang sama seringnya dengan memikirkan kepentingan sendiri. Pernikahan tidaklah melenyapkan kepentingan pribadi. Pernikahan hanyalah mengharuskan kita untuk memikirkan kepentingan pribadi sama seringnya dengan memikirkan kepentingan pasangan. Singkat kata, bukan saja kita memikirkan kesenangan sendiri kita pun mesti memikirkan kesenangan pasangan. Dan ini harus dimulai sejak dini. Masalahnya adalah ada orang yang egois, Pak Gunawan. Mereka tidak memikirkan kepentingan orang, mereka hanya memikirkan kepentingan sendiri. Bila kepentingan orang lain kebetulan seiring dengan kepentingan sendiri, maka barulah mereka akan melakukannya. Inilah salah satu penyebab mengapa tidak selalu mudah mengenali sifat egois. Kita terkelabui sebab kita melihat mereka "baik hati" padahal mereka melakukan semua kebaikan itu karena kebetulan kebaikan itu juga memenuhi kebutuhan mereka. Kita baru sadar bahwa mereka tidaklah sebaik itu. Sewaktu mereka dipanggil untuk melakukan sesuatu buat orang lain yang tidak berkaitan dengan kepentingan pribadinya atau justru mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Disitulah baru kita dapat melihat apakah seseorang egois atau tidak. Jadi memang ibarat air dan minyak, Pak Gunawan, keegoisan dan keharmonisan dalam pernikahan tidak dapat bercampur. Itu sebab kita mesti mengikis sifat egois sejak awal bila kita menginginkan pernikahan yang sehat dan harmonis. Kita harus mendisiplin diri melakukan sesuatu buat orang tanpa pamrih dan belajar mengorbankan kepentingan pr