Skip to main content

Menjadi Sahabat Buat Anak

Abstrak

Setiap anak memerlukan seorang sahabat, terlebih bersahabat dengan orangtuanya. Dalam topik ini dikupas tentang bagaimana orangtua dapat menjadi sahabat buat anak.

Play Audio
Transkrip

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Pada hari ini kami bersama dengan Ibu Esther Tjahja seorang sarjana psikologi alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang saat ini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga sebagaimana biasanya juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi bersama-sama dengan kami akan berbincang-bincang mengenai suatu topik yaitu menjadi sahabat buat anak. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Ibu Esther, sebagai anak sering kali membutuhkan sahabat dan sering kali kita juga orang tua tidak bisa atau tidak terbiasa mungkin ya, menjadi sahabat bagi anak kita sendiri. Kita lebih mudah bersahabat dengan orang yang sebaya dengan kita, tetapi anak yang di rumah dan begitu dekat dengan kita kehilangan atau tidak mempunyai seorang sahabat. Tentunya akan lebih baik kalau orang tua bisa menjadi sahabat buat anak-anaknya. Tetapi masalahnya bagaimana atau dari mana kita itu sebagai orang tua memulainya, Bu Esther?

ET : Memulai untuk menjadi sahabat, yang pertama saya pikir sebagai orang tua tentunya orang tua harus terlebih dahulu mempunyai sikap yang benar terhadap anaknya. Siapa anak saya ini sesungguhya, maksudnya apakah anak itu hanya sebagai pelanjut keturunan atau marga saja supaya tidak sampai hilang.

Apalagi kalau itu hanya misalnya anak laki satu-satunya, atau justru ada sesuatu yang lebih dari sekadar penyambung keturunan.

PG : Nah saya berprinsip, Pak Gunawan, bahwa anak itu bukan penyambung keturunan semata, sebab misalkan kalau kita baca dari kitab Ulangan 11:18,19 dikatakan di sini: "Tetapi amu harus menaruh perkataan-Ku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu.

Kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau