Skip to main content

Kekerasan Terhadap Anak 4

Abstrak
Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, tindak kekerasan terhadap anak terus mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Kekerasan terhadap anak diartikan sebagai perlakuan berulang berupa pengabaian maupun tindakan aktif yang membahayakan dan merusak anak-anak. Hal ini juga mencakup kegagalan orang tua dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab pengasuhan mereka. Diharapkan, dengan mengenal apasaja bentuk kekerasan terhadap anak, faktor-faktor penyebabnya, akibat yang ditimbulkan, serta mengetahui solusinya, orangtua dapat lebih bertanggungjawab dalam pengasuhan anak.
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK bekerja sama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Hendra, akan berbincang-bincang dengan Bp. Penginjil Sindunata Kurniawan, M.K., beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini tentang "Kekerasan Terhadap Anak" bagian keempat. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

H : Pak Sindu, dalam pembahasan kita yang terakhir, Bapak sempat menjelaskan sedikit tentang agresif pasif. Kenapa bisa terjadi fenomena agresif pasif seperti itu ?

SK : Anak yang menjadi korban kekerasan, ketika berada di dalam rumah, dia menjadi pribadi yang selalu kalah. Maka ketika di luar rumah, ada keinginan kuat, "Aku harus menang !" sedikit pun tidak boleh ada ruang untuk kalah. Menang atau mati. Mungkin itulah semboyan anak korban dari kekerasan. Kemudian dia bermuka dua, bermain intrik, menerkam dari belakang, itulah mekanismenya agar dia bisa bertahan hidup (survive, eksis) di tengah kekerasan dan penindasan orang tua. Jadi dia berusaha untuk 'survive' dan dia mendapati cara itu ampuh, maka terus-menerus diulangi, jadi kebiasaan, jadi pola hidup, jadi mekanisme hidup, jadi karakter dan jadi kepribadian. Disini kita bisa melihat rentetan yang sedemikian panjang dan sedemikian mencetak. Perlakuan orang tua memang mencetak anak kelak akan seperti apa, apakah anak yang memiliki rasa aman dan kepribadian yang sehat, atau sebaliknya, menjadi anak yang penuh curiga dan memiliki kepribadian yang buruk dan negatifistik.

H : Dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, Bapak banyak menjabarkan dampak kepada anak yang akhirnya menjadi agresif. Tapi pasti ada juga anak yang tidak agresif. Bagaimana dampaknya bagi anak yang tidak agresif ?

SK : Memang ada bentuk yang lain. Ada anak yang tidak agresif, baik agresif aktif maupun agresif pasif. Dalam hal ini konteksnya, sang anak ini semua yang ada pada dirinya direbut habis-habisan lewat kekerasan yang dia terima. Apa yang dia miliki termasuk apa yang perlu dimiliki untuk menjadi pribadi yang sehat seperti sudah dirampas lewat berbagai bentuk kekerasan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Maka anak ini tumbuh menjadi pribadi yang sama sekali tidak mampu menghargai dirinya sendiri, konsep dirinya negatif, gambar dirinya buruk dan yang paling parah, dia memiliki rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Tak heran anak ini menjadi anak yang pasif dan apatis terhadap kehidupan.

H : Kenapa dia bisa merasa sangat benci kepada dirinya sendiri ?

SK : Karena dia tidak punya sesuatu yang bisa dia banggakan. Bukan hanya itu, yang dia mengerti tentang dirinya adalah, "Aku ini sampah. Aku ini kuburan yang penuh dengan tulang belulang. Aku penuh dengan hal yang busuk." Kenapa ? Karena perlakuan fisik yang sedemikian mendera, membuat anak melihat dirinya sebagai sansak hidup, yang buruk. Bahkan ditambah dengan kata-kata orang tuanya, "Tahu tidak, Kamu itu anak yang tidak pernah diharapkan di rumah ini ! Kelahiranmu itu sebuah kecelakaan. Kamu lahir membawa malapetaka. Gara-gara kamu lahir, keluarga kami miskin. Coba lihat kakakmu sudah banyak. Kamu itu anak yang kelima, kamu lahir membuat beban kami bertambah banyak !" itu pun ditambah dengan, "Kamu tidak berprestasi." dan lain-lain. Kata-kata caci maki dan penolakan yang aktif ini membuat lama kelamaan anak akan meyakininya. "Oh iya ya, aku ini memang jelek. Aku memang sampah dan tidak berguna." Ingat ! Kata-kata orang tua itu ibaratnya seperti kata-kata Tuhan. Jadi kalau Tuhan bilang, "Jadilah terang !", maka terang itu jadi. Demikian, orang tua sebagai wakil Tuhan, diberi otoritas Tuhan, kuasa penciptaan. Dan yang diciptakan itu adalah pribadi anak. Maka tidak heran kalau orang tua disebut sebagai wakil Tuhan, itu berarti sebagian kuasa penciptaan dimiliki oleh orang tua. Maka lewat kata-kata itu, itu kata-kata nubuatan dan punya kuasa. Anak selalu akan menjadikan orang tua khususnya di masa tumbuh kembangnya, sebagai poros. Kata-kata orang tua adalah kata-kata yang sangat berkuasa dan anak-anak dapat sangat mempercayainya. Sehingga kata-kata sampah yang menghancurkan harga diri anak itu akhirnya juga akan menghancurkan anak tersebut. Dan akhirnya sebagaimana orang tua membenci anak itu, jadilah anak itu membenci dirinya sendiri. Ini berakibat hidupnya sekadar menggelinding, hidup sekadar hidup, hanya sekadar memenuhi harapan orang tuanya, sekalipun dia tidak akan bisa memenuhinya.

H : Kalau dia sedemikian membenci dirinya, bagaimana relasinya dengan orang lain, Pak ?

SK : Akhirnya relasinya dengan orang lain pun diwarnai dengan kebencian dan penolakan. Bukankah Tuhan Yesus pernah mengatakan yaitu dalam hukum kedua yang setara dengan hukum pertama, yaitu, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Jadi sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri, disitulah kita mempunyai modal kesanggupan untuk mengasihi orang lain. Sebaliknya ketika kita membenci diri kita sendiri, maka kita pun punya modal untuk menolak dan membenci orang lain. Memang orang yang membenci dirinya sendiri, dia juga tidak menyukai orang lain ! Ataupun ketika dia merasa sebenarnya butuh orang lain karena dia makhluk sosial, tapi karena dia membenci dirinya sendiri, tidak ada sesuatu yang menarik orang lain untuk mendekat bahkan berteman dengan dia. Kata-katanya negatif, wajahnya murung, hidupnya tidak ada terang yang ada kesuraman belaka, orang-orang pun secara alami enggan berteman dengan orang yang hidupnya suram, kata-katanya negatif dan tidak punya semangat hidup. Akhirnya ia akan merasa kesepian dan terasing. Demikian, Pak Hendra.

H : Apakah sikap membenci diri ini dapat menjerumuskannya kepada hal-hal yang mengarah pada perusakan diri atau kematian ?

SK : Iya, ini sebuah mata rantai yang tidak terputuskan. Karena dia membenci dirinya, tanpa sadar dia melakukan berbagai perilaku atau mengembangkan gaya hidup yang merusak dirinya. Dalam hal ini bisa berupa dia jatuh kepada kerentanan untuk merokok. Merokok itu 'kan merusak diri, memasukkan berbagai jenis racun kimiawi, diantaranya nikotin, untuk menghancurkan paru-paru dan tubuhnya. Rentan dengan minuman beralkohol, penyalahgunaan obat-obatan, men-tatoo atau menindik tubuhnya di sana-sini. Jadi merajah tubuh bukan sekadar seni. Tatoo itu sebuah seni, iya ! Tapi di sisi lain, tattoo itu bisa menjadi bentuk pelarian, mekanisme pelarian dari rasa sakit dalam batin seseorang. Semakin banyak rajahan, sayatan, tindikan, tusukan pada tubuhnya, itu seperti membuat anak yang terluka ini lega. Kenapa ? Karena bisa menyalurkan kebencian yang amat sangat dalam hatinya. Bahkan beberapa anak tumbuh menjadi pribadi yang suka menyulutkan rokok, membakar kulitnya dengan rokok yang menyala. Sakit, panas, luka bakar. Kemudian sengaja menyayat tubuhnya dengan silet, menghisap darah yang mengalir dari sayatan itu. Itu dilakukan karena dia sangat membenci dirinya dan dengan dia dia melukai dan meminum darahnya sendiri, itu seperti memberikan kelegaan sesaat.

H : Mengerikan sekali ! Tapi ini sulit dimengerti, bagaimana dia bisa merasa lega padahal dia sedang menyakiti dirinya ? Jadi dia lega tapi sakit. Bagaimana, Pak ?

SK : Ini memang kontradiktif tapi nyata. Karena dia tidak bisa mengekspresikan dengan baik, jadi ibaratnya dalam bahasa simbolik, seperti ada bola api yang panas dalam dirinya dan dia kepanasan, dia terbakar. Bagaimana agar dia tidak merasa panas ? Yang perlu dia lakukan bukankah mengeluarkan bola api panas itu. Karena dia tidak mengerti cara yang sehat untuk mengeluarkan bola api yang membakar tubuhnya, maka dia membuat luka-luka sayatan. Itu salah satu bentuk ekspresi yang tidak sehat dan sifatnya palsu untuk mengeluarkan panas api itu. Jadi dinamikanya bisa kita pahami demikian. Dia mencoba mengeluarkan panas bola api dalam tubuhnya itu, tapi karena tidak tahu cara yang sehat, maka dia menyayat-nyayat tubuhnya. Dengan adanya luka, bagian tubuh yang menganga dan darah yang keluar, itu seperti menyalurkan panas yang menyiksa tubuhnya.

H : Jadi rasa sakit yang dia ciptakan sebenarnya tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit yang terkurung di dalam dirinya ?

SK : Tepat, jadi sebenarnya dia sedang mengorek-ngorek lubang dalam dirinya lewat tubuhnya yang disayat dan dilukai itu supaya apa yang menyiksa di dalam tubuhnya itu dikeluarkan.

H : Apakah ini juga termasuk orang-orang yang suka melakukan kegiatan ekstrem yang menantang maut, ya Pak ?

SK : Ya. Memang beberapa anak korban kekerasan itu menjadi orang yang rawan untuk melakukan kekerasan. Di jalanan, kekerasan di luar, tanpa sadar salah satu itu bersifat ganda. Di satu sisi mengeluarkan energi kekerasan di dalam dirinya, dia lampiaskan kepada pihak luar. Tapi di sisi yang lain sebenarnya dia sedang menantang maut. Sedang membuka jalan yang lebih besar untuk menuju kematian. Karena bagi dirinya mati adalah keuntungan. Sayangnya bukan seperti Rasul Paulus yang "Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", disini konteks mati adalah keuntungan karena dia begitu menderita oleh karena kekerasan yang bertahun-tahun dia terima. Maka dia menjadi petinju, petarung, suka berkelahi, kebut-kebutan liar, itu sebagai ekspresi dia menantang maut dan dia ingin cepat mati.

H : Jadi konsepnya hidup bukan hidup bagi Kristus, tapi hidup adalah penderitaan dan mati adalah keuntungan ?

SK : Ya.

H : Apakah ada dampak dalam kehidupan seksualnya ?

SK : Ya, bagi anak korban kekerasan maka dia rawan menjadi budak seks. Baik itu seks yang bersifat normal maupun yang abnormal. Disini seks menjadi penawar sementara bagi rasa sakit hatinya yang membuat dia putus sementara dari rasa sakitnya. Memang sebenarnya seks dalam rancangan Tuhan bukanlah sebagai mekanisme atau alat pelarian, bukan juga obat sakit hati. Tetapi anak yang menjadi korban kekerasan itu bisa jadi tumbuh begitu obsesif dengan seks dan akhirnya masuk ke dalam kehidupan seks yang liar tak terkendali dan menjijikkan.

H : Tadi Bapak menyebutkan ada budak seks, baik seks normal maupun seks abnormal. Bedanya seperti apa, Pak ?

SK : Seks yang normal itu dilakukan dengan lawan jenis. Tapi yang tidak normal, dilakukan oleh sejenis, atau maaf, dilakukan dengan binatang. Ada seks yang tidak normal dalam konteks dilakukan dengan tindak kekerasan. Karena dia membenci dirinya dan suka melukai dirinya, maka ketika dia berhubungan seks, dia lebih suka berhubungan seks sambil disiksa dan disakiti sampai berdarah-darah. Jadi se