Skip to main content

Hidup dalam Kebohongan

Abstrak
Kebohongan pertama kita tidak pernah salah, kebohongan kedua kita tidak memunyai kepentingan pribadi, kebohongan ketiga kita tidak lebih buruk daripada orang lain, kita harus siap mengubah konsep diri, jujur terhadap diri sendiri.
Play Audio
Transkrip

oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

Kata kunci: Kebohongan pertama kita tidak pernah salah, kebohongan kedua kita tidak memunyai kepentingan pribadi, kebohongan ketiga kita tidak lebih buruk daripada orang lain, kita harus siap mengubah konsep diri, jujur terhadap diri sendiri.

TELAGA 2025

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi dimana pun Anda berada. Kita bertemu kembali dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Necholas David, akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup dalam Kebohongan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

ND: Pak Paul, kita sering menganggap bahwa kebohongan itu adalah sesuatu yang kita lakukan terhadap orang lain, kita menipu, kita memerdaya orang lain, tetapi di perbincangan kali ini yaitu "Hidup dalam Kebohongan", kita mau berbicara tentang satu jenis kebohongan yang justru lebih berbahaya. Begitu ya, Pak Paul?

PG: Ya, sebab ini adalah kebohongan yang kita katakan kepada diri kita sendiri, Pak Necholas. Ya memang pada umumnya, kita mengaitkan berbohong dengan berbohong kepada orang lain, tapi sebenarnya kita pun dapat berbohong kepada diri kita sendiri. Kita mendistorsi kenyataan supaya sesuai dengan kehendak kita. Didalam bukunya "The Body Keeps the Score", psikiater Bessel Van Der Kolk, seorang ahli dalam bidang trauma, mengutip perkataan salah seorang dosennya, nama dosennya adalah Elvin Semrad yang berujar demikian, "Sumber penderitaan kita yang terbesar berasal dari kebohongan yang kita katakan kepada diri kita sendiri". Jadi ini menarik sekali sebab bukan saja hal ini tidak baik, tapi ternyata menurut Elvin Semrad, ini adalah justru sumber penderitaan kita yang terbesar. Jadi berbohong terhadap diri sendiri ternyata adalah sesuatu yang sangat merugikan diri kita sendiri.

ND: Pak Paul, jika kita bisa berbohong terhadap diri kita sendiri. Sebetulnya dalam bentuk apa saja kebohongan itu biasanya muncul dalam kehidupan kita sehari-hari?

PG: Akan saya paparkan beberapa kebohongan yang biasa kita katakan kepada diri sendiri. Kebohongan pertama adalah kita tidak pernah salah. Mungkin kita tidak berkata seperti itu, namun dari sikap kita yang tidak mau mengakui kesalahan dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, sesungguhnya, kita telah berkata bahwa kita tidak pernah salah. Ini adalah kebohongan, sebab sebenarnya kita tahu kita salah, tapi kita tidak mau mengakuinya, begitu mulai mencium kenyataan bahwa kita salah, kita menampiknya dengan cara meyakinkan diri bahwa kita tidak salah, bukannya kita mengumpulkan bukti, kita malah menciptakan bukti untuk membela diri dan menyalahkan orang. Jadi kita tahu, bahwa yang benar adalah, yang baik adalah kita mengumpulkan bukti, melihatnya dan mengakui apapun bukti itu. Nah, kita yang membohongi diri dan beranggapan kita tidak pernah salah, kita menciptakan bukti, kita mengada-adakan bukti untuk membela diri dan akhirnya menyalahkan orang.

ND: Ini menarik ya, Pak Paul, kita sudah tahu kita salah, tetapi kita tidak mau untuk mengakuinya. Sebenarnya apa, Pak Paul, yang membuat kita begitu enggan untuk mengakui kesalahan, bahkan ketika kita benar-benar tahu bahwa kita ini salah.

PG: Kebanyakan kita yang sulit untuk mengakui kesalahan, dibesarkan dalam lingkungan yang tidak menoleransi kesalahan. Kita diwajibkan untuk baik dan sempurna. Manakala tidak mencapai standard kita akan kena marah atau menerima kritikan dan penolakan. Itu sebab kita berusaha hidup sesempurna mungkin dan supaya tidak kena marah atau kritikan, kita terus menujukan mata kepada orang tua atau siapa pun yang membebankan tuntutan itu pada diri kita. Jadi kita senantiasa harus melihat orang, karena mereka yang menuduh kita, mendakwa kita, menyalahkan kita. Jadi kita selalu harus berhati-hati, berjaga-jaga, mata kita akhirnya selalu tertuju pada orang, itu sebab kebanyakan kita yang tidak dapat mengakui kesalahan sulit melihat diri sendiri. Kita terbiasa melihat orang, tuntutan dan standardnya, akhirnya bukan saja kita melihat tuntutan dan standard orang, kita pun memerhatikan kekurangan dan kesalahan orang. Kita terus meyakinkan diri bahwa kita benar dan orang lain salah.

ND: Jadi ini ada faktor pola didikan dari keluarga, juga lingkungan yang tidak menoleransi kesalahan sedikit pun. Hal ini bisa terbawa ya, Pak Paul, sampai kita sudah dewasa?

PG: Sangat sangat kuat sekali pengaruhnya jadi kalau kita dibesarkan dalam lingkungan seperti ini, hampir dapat dipastikan setelah besar, kita akan menjadi seperti ini. Kita akan terus akhirnya melestarikan apa yang orang tua kita perbuat kepada kita, meskipun kita tidak suka dan kita adalah korban waktu kita dulu diperlakukan seperti itu, namun setelah kita dewasa kita menjadi orang tua kita terhadap orang lain. Kita mengeritik orang, kita mencari kesalahan orang, kita selalu mengawasi orang. Nah, ini sangat malang, sangat menyedihkan, tapi inilah kenyataannya.

ND: Sayang sekali, ya Pak Paul, kalau kita sudah menyadari bahwa kita memunyai bawaan dari pola didikan keluarga dan lingkungan seperti itu, langkah konkret apa yang dapat membantu kita menemukan kejujuran terhadap diri kita sendiri dalam menghadapi kelemahan kita?

PG: Ada dua langkah praktis untuk lepas dari jerat kebohongan bahwa kita tidak salah. Untuk dapat lepas dari jerat kebohongan kita mesti melihat dan mengakui kesalahan dan kelemahan kita. Jadi benar-benar mesti melihatnya, disiplin diri tidak melihat orang, tapi lihat diri sendiri dan coba lihat apa yang telah kita lakukan, akui, perlahan-lahan dengarkanlah masukan yang pernah kita terima dari orang tentang kesalahan dan kelemahan kita. Ingat yang orang katakan, orang yang sayang dengan kita, baik dengan kita, jangan buang kata-kata atau masukan yang mereka pernah katakan, terima, coba renungkan. Jadikan cermin, ini tidak mudah sebab reaksi alamiah yang keluar adalah menolak. Kita berkata bahwa kita tidak seperti itu. Nah, sewaktu kita berkata bahwa kita tidak seperti itu, bertanyalah, "Seperti apakah saya?" Apakah benar bahwa saya seperti yang saya bayangkan? Jadi waktu kita berkata bahwa kita tidak seperti itu, coba tanya kalau begitu, "Saya seperti apa?" Langkah lain yang dapat kita ambil adalah jangan langsung memberi respons terhadap komentar orang. Disiplinkan diri untuk tidak memberi sanggahan, sebaliknya berdiam dirilah dan teduhkanlah hati agar dapat introspeksi diri. Jadi langkah ini penting sekali. Mendisiplin diri untuk tidak memberi respons, ini susah sekali, sebab sudah benar-benar otomatis. Begitu mendengar sesuatu yang kita anggap kritikan mencela kita, sudah langsung mesin kita hidup, nyala, langsung mesin kita menembakkan peluru kepada orang lain. Disiplinkan diri untuk tidak berkata apa-apa, supaya nanti kita bisa melihat diri kita dengan lebih baik.

ND: Jadi bukan hanya tahu bahwa kita punya kelemahan dan kesalahan, tetapi sekarang ini mau mengakuinya. Jadi dimulai dari diri kita sendiri.

PG: Betul, ini langkah yang memang sulit sekali, tapi mesti kita lakukan, Pak Necholas. Mesti kita melihat diri kita dan langkah praktisnya adalah jangan menjawab, jangan memberi tanggapan, minta waktu untuk merenungkan, melihat dulu diri kita. Ini yang pertama.

ND: Ini sulit ya, karena kita harus menahan diri untuk tidak cepat-cepat membalas atau membela diri kita.

PG: Sangat-sangat sulit, karena sekali lagi latar belakang kita yang membuat kita takut disalahkan, menciptakan bukan saja benteng, tapi sebuah mesin yang langsung begitu mendapatkan yang kita sebut peluru atau tembakan dari luar, mesin itu langsung menembak kembali, jadi sudah otomatis sekali. Benar-benar untuk bisa menggunting, memutuskan mata rantai ini susah sekali.

ND: Pak Paul, jika ternyata saya begitu sulit untuk mengakui kesalahan diri saya sendiri, saya jadi bertanya-tanya apakah ada kebohongan lain yang juga sering saya lakukan tanpa sadar?

PG: Kebohongan kedua adalah kita berkata, kita tidak memunyai kepentingan pribadi. Seringkali kita meyakinkan orang dan diri sendiri bahwa kita bermaksud baik, bahwa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan orang lain. Pada kenyataannya, jarang sekali motivasi kita berbuat sesuatu murni demi kepentingan orang. Pada umumnya terselip di dalamnya kepentingan sendiri, namun kita malu mengakui bahwa kita memunyai kepentingan pribadi. Mengapa, sebab kita ingin dinilai baik, berbuat baik tanpa pamrih. Itu sebab kita meyakinkan diri dan berbohong, bahwa tidak ada kepentingan pribadi dibalik perbuatan kita.

ND: Mengapa kita begitu ingin terlihat baik dan tanpa pamrih di mata orang lain, bahkan jika itu berarti kita sebenarnya sedang membohongi diri kita sendiri?

PG: Kebanyakan kita yang membohongi diri dan berkata, bahwa kita tidak memunyai kepentingan apa pun, bukan saja ingin dinilai baik tapi juga takut atau enggan menanggung risiko. Agar dapat lepas tanggungjawab dan risiko, maka kita pun berbohong bahwa kita tidak memunyai kepentingan apa pun. Akibatnya jadi seperti belut, kita selalu mengelak dari tanggungjawab. Kita tidak bisa terus berlindung dan mencari aman di dalam hidup. Kita harus berani bersikap, jadi biarlah orang menolak atau tidak suka dengan diri kita, asalkan itu adalah diri kita yang sebenarnya, yang ditolak, daripada kita diterima atau disenangi orang, padahal itu bukanlah diri kita yang sesungguhnya. Jadi kita mesti berpikir seperti ini, tidak apa orang menolak kita, asalkan orang itu menolak memang diri kita yang sesungguhnya, daripada kita bersenang-senang orang menyukai kita, karena sesuatu yang dilihatnya pada diri kita, padahal itu bukan diri kita. Nah, untuk lepas dari kebohongan ini kita mesti rela menanggung risiko.

ND: Jadi menurut Pak Paul, kebohongan yang kedua ini, yaitu kita ini seringkali ingin dianggap murni, tulus, tetapi sebetulnya di balik itu dalam diri kita ada motivasi yang tidak baik.

PG: Atau misalkan motivasinya tidak buruk, tapi sesungguhnya untuk kepentingan sendiri. Nah, kita mesti mengakui bahwa kita memunyai kepentingan kita. Jangan sama sekali menyangkali, jangan membohongi diri dan berkata bahwa saya sebaik itu, saya tidak memunyai kepentingan sama sekali. Tidak, akui, jarang orang itu tidak memunyai kepentingan sendiri.

ND: Dan ini rasanya bisa sering terjadi dalam komunitas rohani seperti di persekutuan atau di gereja, begitu ya, Pak Paul?

PG: Lebih menyuburkan perilaku seperti ini, karena kita ini ‘kan tahu bahwa orang yang saleh, orang yang rohani seharusnya adalah orang tidak memunyai kepentingan pribadi. Sebetulnya tidak, tidak apa-apa, kita memunyai kepentingan pribadi itu bukan berarti kita berdosa, tidak. Yang membuat kita berdosa adalah kalau kita memunyai kepentingan yang tidak baik, yang berdosa, yang merugikan orang atau melawan perintah Tuhan. Selama tidak ada unsur-unsur itu, tidak apa-apa memunyai kepentingan pribadi, jadi jangan merasa kalau saya sendiri memunyai kepentingan pribadi maka saya tidak lagi murni. Tidak apa-apa.

ND: Misalnya kalau dalam pelayanan, kita boleh akui kalau kita melakukan sesuatu pelayanan memang karena kita ingin misalnya mengisi waktu, kemudian mendapat teman lebih banyak, mengenal rekan-rekan lain, jadi kita tidak perlu selalu menutupi diri dengan mengatakan, "Semua ini saya kerjakan untuk Tuhan, untuk kemuliaan nama Tuhan".

PG: Betul, betul, inilah yang terjadi sebetulnya pada Ananias dan Safira. Tuhan tidak memersoalkan jumlah persembahannya, dia mau memberikan sepenuhnya, mau memberikan 10%, 50%, tidak apa-apa, tapi karena mereka berdua ingin dinilai murni, baik, rohani, berani memberikan seluruh hasil penjualan tanah untuk kepentingan gereja, nah, Tuhan marah. Jadi tidak apa-apa mengakui bahwa saya punya kepentingan pribadi, saya perlu ini, saya mau simpan ini uang, saya hanya berikan separuhnya saja. Tidak apa-apa, yang penting adalah kita tidak membohongi diri. Ini yang Tuhan ingin kita lakukan, terbuka apa adanya.

ND: Pak Paul, kalau kita hidup didalam kepura-puraan dan terus menghindari tanggungjawab pribadi seperti itu, apakah juga ada konsekwensi jangka panjang yang mungkin kita bisa alami di masa yang akan datang?

PG: Ada dua masalah yang kerap timbul bila kita mengelak tanggungjawab. Pertama, kita sering terlibat didalam salah pengertian. Sering orang melabelkannya miskomunikasi, tapi sesungguhnya bukan miskomunikasi, tetapi salah pengertian. Karena tidak jelas dengan maksud kita, maka orang harus menduga-duga dan kadang dugaan itu keliru. Jadi karena kita tidak jelas, kita tidak mau mengakui kita punya kepentingan ini, akhirnya orang harus menduga-duga, salah menduga, salah mengerti. Kebanyakan orang-orang yang membohongi diri dengan berkata, "Saya tidak memunyai kepentingan pribadi", susah sekali menjalin relasi dengan orang yang sehat karena akhirnya konflik. Kedua, pada akhirnya orang tidak respek kepada kita yang tidak jelas dan enggan menanggung risiko. Maksudnya orang itu lebih respek kepada kita yang jelas dengan apa yang kita inginkan, yang tidak kita inginkan, dengan motif kita, orang lebih menghargai orang yang jelas. Orang yang tidak jelas, yang sepertinya bersembunyi, seperti belut kesana kesini, kebanyakan akan kehilangan respek. Pada umumnya orang tidak menghargai sikap kita yang lari dari tanggungjawab dan berbohong. Akhirnya apa yang terjadi? Makin hari makin kita terkucil dari pergaulan.

ND: Tapi ada juga, Pak Paul, orang yang memang lebih mudah mengungkapkan dirinya, membawa perasaannya keluar, tapi sebagian orang tidak mudah untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan atau pikirkan. Bagaimana orang yang demikian itu bisa terbuka sehingga orang lain tidak salah pengertian terhadap dirinya?

PG: Memang kita misalkan orang-orang yang ekstrovert akan lebih mudah mengeluarkan apa yang di hatinya daripada orang-orang yang introvert. Itu betul ya. Tapi sesungguhnya untuk bisa mengeluarkan kepentingan kita, mengakui bahwa kita memunyai motivasi ini, itu tidak perlu banyak kalimat, sebetulnya ini bisa kita ungkapkan dengan satu kalimat. Saya sebetulnya begini, atau sebetulnya saya juga mau ini. Itu hanya perlu satu kalimat, jadi sebetulnya tidak ada halangan siapapun bisa untuk mengeluarkan, mengakui motifnya, bahwa ini memang ada dalam dirinya daripada dia mengaburkannya apalagi menutupinya.

ND: Jadi lebih baik terbuka saja, apa yang menjadi maksud dia dalam melakukan sesuatu.

PG: Betul sekali, Pak Necholas. Sebab bukankah kita tahu kalau sampai akhirnya orang lain yang menangkap motif kita itu, bukankah ini memerkeruh masalah? Memerparah masalah. Sebab orang akan berkata, "Ternyata kamu itu ada maksud ini". "Ternyata kamu ada tujuan ini". Bukankah itu justru menjadi bumerang merugikan kita, merusak relasi kita dan orang akhirnya kehilangan kepercayaan terhadap kita. Jadi sekali lagi, terbukalah, jelaslah dengan motif kita.

ND: Pak Paul, kalau kita bisa menyembunyikan kepentingan pribadi dibalik tindakan yang baik, saya mulai bertanya-tanya, apakah mungkin juga ada cara lain saya menipu diri saya atau membohongi diri saya agar tetap merasa benar?

PG: Ini membawa kita kepada kebohongan yang ketiga yang seringkali kita lakukan kepada diri sendiri, yaitu kita berkata, "Kita tidak lebih buruk daripada orang lain". Kita berkata bahwa orang lain sama buruknya atau bahkan lebih buruk daripada kita. Bahwa orang melakukan perbuatan yang sama seperti yang kita perbuat. Walaupun pada kenyataannya memang ada orang yang lebih buruk daripada kita, betul ya, tapi tetap ini adalah sebuah kebohongan, sebab ini merupakan upaya membohongi diri, bahwa bukan saja kita tidak seburuk itu, tapi kita pun sama sekali tidak buruk. Salah satu hal tersulit yang harus kita lakukan bila kita berubah atau mau berubah adalah mengakui siapa diri kita sesungguhnya. Dengan kata lain, kita harus siap mengubah konsep diri kita. Kita tidaklah seindah gambar yang kita tayangkan di luar. Kebanyakan kita hanya berbuat sejauh mengubah perbuatan, tapi tidak mengubah pandangan diri. Nah, kita dapat mengubah perilaku tanpa mengubah konsep diri. Itu sebab untuk dapat berubah total, kita mesti berubah dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Tidak terlalu susah melakukan karena tekanan, karena tuntutan, ada risiko kalau tidak berubah, maka kita mengubah perilaku, tapi apakah benar kita telah mengubah konsep diri kita. Ini yang susah berubah, maka supaya benar-benar tuntas berubah, hanya ini yang mesti kita ubah pertama-tama, konsep diri kita, bahwa kita memang memunyai masalah ini, kita memang memunyai keburukan ini dan sebagainya.

ND: Kebohongan ketiga yang Pak Paul jelaskan itu berarti kita beranggapan bahwa yang saya lakukan memang buruk, tetapi orang lain juga melakukan yang sama, bahkan orang lain lebih buruk dari saya.

PG: Betul dan sebetulnya pada waktu kita berkata begitu, secara tidak langsung kita berkata bahwa "saya masih baik", itu, maka saya sebut ini kebohongan, karena kita menyangkali diri, bahwa sesungguhnya kita memang tidak sebaik itu, bahwa kita seburuk itu.

ND: Kalau kita masih baik artinya kita tidak perlu belajar untuk berubah.

PG: Betul sekali dan kalau pun mesti ada yang berubah, bukan saya tetapi orang lain karena orang lain yang lebih buruk. Jadi pada akhirnya saya tidak usah berubah.

ND: Pak Paul, mengapa ya perubahan sejati yang tadi Pak Paul jelaskan itu menuntut kita mengubah cara kita memandang diri kita sendiri, bukan hanya mengubah tindakan yang hanya di permukaan saja?

PG: Didalam Kejadian pasal 32 kita dapat membaca kisah perjalanan Yakub membawa keluarganya pulang dari pengembaraannya di Haran. Yakub dicekam ketakutan sebab ia harus menghadapi kakaknya Esau yang pernah mengancam membunuhnya. Ditengah ketakutan, Tuhan Allah mengutus malaikat-Nya dan bergumul dengan Yakub. Di akhir pergumulan Yakub dibuat timpang. Secara fisik Yakub melemah, namun secara iman Yakub menguat, karena ia disadarkan bahwa ia tidak dapat bersandar pada kemampuannya sendiri untuk dapat lepas dari kebohongan kita pun mesti melihat kekurangan diri dan menerima keterbatasan kita. Jadi waktu Yakub akhirnya jalan pun sudah timpang, dia tahu dia tidak bisa lagi mengelak dari Esau. Dia tidak bisa lagi melakukan apa pun, tidak lagi bisa menipu Esau atau memerdaya kakaknya, atau lari, tidak bisa lagi. Dia mesti hadapi, namun karena Tuhanlah yang telah mengutus malaikat-Nya bergumul dengan dia dan memberikan namanya yang baru, Israel, maka dia bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Didalam ketimpangan barulah Yakub bisa bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Jadi Yakub disitu diubahkan, bukan saja dari luar, tapi dari dalam. Mungkin sebelumnya dia masih memikir-mikirkan apa yang mesti saya perbuat waktu saya menghadap Esau, tapi setelah dia dibuat timpang oleh Malaikat Tuhan, dia mengubah dirinya. Dia tidak sanggup lagi, sekarang tambah tidak sanggup lagi, karena sudah menjadi orang yang timpang. Disitu barulah dia bersandar dan benar-benar berubah.

ND: Jadi dosa yang dari masa mudanya si Yakub, yaitu kebohongan itu, terus dia bawa sampai dia dewasa dan baru dia pulih, ketika dia betul-betul mengakui dan mampu mengubah dirinya dari dalam, bukan hanya tindakan di luar.

PG: Betul sekali, itulah yang terjadi, Pak Necholas. Jangan sampai kita dibuat timpang oleh Tuhan baru kita nanti berhenti membohongi diri. Itu jadi pelajaran yang juga kita mau terima.

ND: Kejujuran terhadap diri itu memang bukan hal yang mudah. Dia menuntut keberanian untuk mengakui kelemahan, menerima bahwa kita tidak selalu benar dan tidak selalu murni serta tidak selalu lebih baik dari orang lain. Namun justru didalam pengakuan itulah terletak awal dari pemulihan. Terima kasih banyak, Pak Paul atas perbincangan dan sharing ini.

Para pendengar sekalian, terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (TEgur sapa gembaLA keluarGA), kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup dalam Kebohongan". Jika Anda berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami melalui surat ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat mengirimkan email ke telaga@telaga.org; kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di https//:www.telaga.org; saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.

Ringkasan

Pada umumnya kita mengaitkan berbohong dengan berbohong kepada orang lain, tetapi sebenarnya kita pun dapat berbohong kepada diri kita sendiri. Kita mendistorsi kenyataan supaya sesuai dengan kehendak kita. Di dalam bukunya, The Body Keeps The Score, psikiater Bessel Van Der Kolk, seorang ahli dalam bidang trauma, mengutip perkataan salah seorang dosennya, Elvin Semrad, yang berujar demikian, "Sumber penderitaan kita yang terbesar berasal dari kebohongan yang kita katakan kepada diri kita sendiri." Berikut akan dipaparkan beberapa kebohongan yang biasa kita katakan kepada diri sendiri.

Kebohongan pertama adalah KITA TIDAK PERNAH SALAH. Mungkin kita tidak berkata seperti itu, namun dari sikap kita yang tidak mau mengakui kesalahan dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, sesungguhnya kita telah berkata bahwa kita tidak pernah salah. Ini adalah kebohongan sebab sebenarnya kita TAHU kita salah, tetapi kita tidak MAU mengakuinya. Begitu mulai mencium kenyataan bahwa kita salah, kita menampiknya dengan cara meyakinkan diri bahwa kita tidak salah. Bukannya kita MENGUMPULKAN bukti, kita malah MENCIPTAKAN bukti untuk membela diri dan menyalahkan orang. Kebanyakan kita yang sulit mengakui kesalahan dibesarkan dalam lingkungan yang tidak menoleransi kesalahan; kita diwajibkan baik dan sempurna. Manakala tidak mencapai standar, kita akan kena marah atau menerima kritikan dan penolakan. Itu sebab kita berusaha hidup sesempurna mungkin. Dan supaya tidak kena marah atau kritikan, kita terus menujukan mata pada orang tua atau siapa pun yang membebankan tuntutan itu pada diri kita. Itu sebab kebanyakan kita yang tidak dapat mengakui kesalahan sulit melihat diri sendiri; kita terbiasa melihat orang—tuntutan dan standarnya. Akhirnya bukan saja kita melihat tuntutan dan standar orang, kita pun memerhatikan kekurangan dan kesalahan orang. Kita terus meyakinkan diri bahwa kita benar dan orang lain salah. Berikut adalah dua langkah praktis untuk lepas dari jerat kebohongan bahwa kita tidak salah:

  • Untuk dapat lepas dari jerat kebohongan ini kita mesti melihat dan mengakui kesalahan dan kelemahan kita.
  • Perlahan-lahan dengarkanlah masukan yang pernah kita terima dari orang tentang kesalahan dan kelemahan kita. Ini tidak mudah sebab reaksi alamiah yang keluar adalah menolak; kita berkata bahwa kita tidak seperti itu. Nah, sewaktu kita berkata bahwa kita tidak seperti itu, bertanyalah, "Seperti apakah saya? Apakah benar bahwa saya seperti yang saya bayangkan?"
  • Langkah lain yang dapat kita ambil adalah jangan langsung memberi respons terhadap komentar orang. Disiplinkan diri untuk tidak memberi sanggahan. Sebaliknya, berdiam dirilah dan teduhkan hati agar dapat introspeksi diri.

Kebohongan kedua adalah KITA TIDAK MEMPUNYAI KEPENTINGAN PRIBADI. Sering kali kita meyakinkan orang—dan diri sendiri—bahwa kita bermaksud baik; bahwa yang kita lakukan adalah buat kebaikan orang lain. Pada kenyataannya jarang sekali motivasi kita berbuat sesuatu murni demi kepentingan orang; pada umumnya terselip di dalamnya kepentingan sendiri. Kita malu mengakui bahwa kita memunyai kepentingan pribadi sebab kita ingin dinilai baik—berbuat baik tanpa pamrih. Itu sebab kita meyakinkan diri—dan berbohong—bahwa tidak ada kepentingan pribadi di balik perbuatan kita. Kebanyakan kita yang membohongi diri dan berkata bahwa kita tidak punya kepentingan apa pun, bukan saja ingin dinilai baik, tetapi juga takut atau enggan menanggung risiko. Agar dapat lepas tanggung jawab dan risiko, kita pun berbohong bahwa kita tidak memunyai kepentingan apa pun. Seperti belut, kita selalu mengelak dari tanggung jawab. Kita tidak bisa terus berlindung dan mencari "aman" di dalam hidup; kita harus berani bersikap. Biarlah orang menolak atau tidak suka dengan diri kita asalkan itu adalah diri kita yang sebenarnya yang ditolak, daripada kita diterima atau disenangi orang padahal itu bukanlah diri kita yang riil.

Ada dua masalah yang kerap timbul bila kita mengelak tanggung jawab. Pertama, kita sering terlibat di dalam salah pengertian. Sering orang melabelkannya miskomunikasi, tetapi sesungguhnya bukan miskomunikasi, tetapi salah pengertian. Karena tidak jelas dengan maksud kita, maka orang harus menduga dan kadang dugaan itu keliru. Masalah kedua adalah pada akhirnya orang tidak respek kepada kita yang tidak jelas dan enggan menanggung risiko. Pada umumnya orang tidak menghargai sikap kita yang lari dari tanggung jawab dan berbohong. Alhasil, makin hari, makin kita terkucil dari pergaulan.

Kebohongan ketiga yang acap kita lakukan terhadap diri sendiri adalah KITA TIDAK LEBIH BURUK DARIPADA ORANG LAIN. Kita berkata bahwa orang lain sama buruknya atau bahkan lebih buruk daripada kita; bahwa orang melakukan perbuatan yang sama seperti yang kita perbuat. Walaupun pada kenyataannya memang ada orang yang lebih buruk dari kita, tetapi tetap ini adalah sebuah kebohongan sebab ini merupakan upaya membohongi diri bahwa, bukan saja kita tidak seburuk itu tetapi kita pun sama sekali tidak buruk.

Salah satu hal tersulit yang harus kita lakukan bila kita berubah adalah mengakui siapa diri kita sesungguhnya. Dengan kata lain, kita harus siap mengubah konsep diri; kita tidaklah seindah gambar yang kita tayangkan di luar. Kebanyakan kita hanya berbuat sejauh mengubah perbuatan dan tidak mengubah pandangan diri. Ya, kita dapat mengubah perilaku tanpa mengubah konsep diri. Itu sebab, untuk dapat berubah total, kita mesti berubah dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam.

Di dalam Kejadian 32 kita dapat membaca kisah perjalanan Yakub membawa keluarganya pulang dari pengembaraannya di Haran. Ia dicekam ketakutan sebab ia harus menghadapi kakaknya Esau yang pernah mengancam membunuhnya. Di tengah ketakutan, Tuhan Allah mengutus malaikat-Nya, dan bergumul dengan Yakub; di akhir pergumulan, Yakub dibuat timpang. Secara fisik Yakub melemah namun secara iman, menguat karena ia disadarkan bahwa ia tidak dapat bersandar pada kemampuannya sendiri. Untuk dapat lepas dari kebohongan, kita pun mesti melihat kekurangan diri dan menerima keterbatasan kita.

Nara Sumber
Jenis Bahan
Kategori
Kode Kaset