"Disiplin yang Berlebihan" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Disiplin yang Berlebihan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Memang benar, seperti obat yang Pak Gunawan katakan. Disiplin itu perlu dan bukan sebuah pilihan, boleh ada atau tidak. Tapi memang perlu dan harus diberikan. Namun kita harus memberikanny dengan tepat dan jangan sampai berlebihan.
Baru-baru ini saya membaca di surat kabar tentang seorang bapak yang adalah seorang pengamen dan karena tidak ada yang menjaga anaknya di rumah kalau dia pergi mengamen, anak itu diikat jadi seperti mengikat hewan. Alasan dia mengikat anak ini adalah kalau anak ini tidak diikat biasanya anak ini akan mengais-ngais makanan di tong sampah. Itu adalah salah satu tanda bahwa kita ini tidak selalu mengerti bagaimana mendisiplin anak. Akhirnya adakalanya justru kita berlebihan dalam mendisiplin anak. Dalam kesempatan ini pertama-tama saya akan mencoba menguraikan kenapa kita mendisiplin anak sampai begitu berlebihan dan ternyata ada beberapa alasannya dan setelah itu mari kita mendisiplin anak dengan tepat. Yang pertama, mengapa kita itu mendisiplin anak secara berlebihan, misalkan kita ini belajar disiplin dari orang tua kita dan waktu orang tua mendisiplin kita, kita melihat bagaimana caranya. Adakalanya orang tua kita mendisiplin anak secara berlebihan dengan menggunakan standart yang kita gunakan sekarang dan akhirnya kita berkata, "Itu berlebihan". Saya masih ingat sewaktu kecil, teman saya bercerita kalau dia setiap kali berbuat nakal atau kesalahan, Papanya akan mengikat dia dengan rantai di pohon dan kemudian akan dipukuli dan terus akan diikat di pohon itu sampai berjam-jam dan kemudian dilepaskan. Itu adalah cara-cara mendisiplin yang memang berlebihan. Memang anak ini bertumbuh besar namun dia bertahan di dalam disiplin yang begitu keras dan misalkan dia berkata, "Karena disiplin itu akhirnya saya mengerti menggunakan waktu dengan benar, saya lebih mengerti untuk tidak menyusahkan orang tua atau melakukan pelanggaran". Anak-anak ini cenderung akan berkata bahwa disiplin yang seperti itu memang baik sehingga dia mencontohnya dan sebagainya, "Lihat buktinya, saya tidak apa-apa". Akhirnya dia melestarikan metode pendisiplinan berlebihan itu kepada anak-anaknya.PG : Betul sekali dan memang biasanya ada kecenderungan seperti itu, sebab saya merasa kalau saya dulu seperti ini, diperlakukan seperti ini dan saya tidak apa-apa, kalau anak lebih nakal lagi erarti harus ditambahkan kadarnya atau intensitasnya.
PG : Betul. Sebab seperti tadi yang sudah saya ceritakan tentang ada anak yang diikat seperti hewan, saya membayangkan dia akan buang air dan sebagainya di sana. Sedangkan anak ini masih berusi lima tahun, atau seperti orang yang saya kenal tadi yaitu dipukuli di pohon dan diikat, bagaimanakah perasaannya sebetulnya waktu dia harus diikat, dipukuli seperti itu, bagaimana dia bisa melihat kasih sayang ayahnya kepadanya.
Saya kira itu semua akan menimbulkan cedera-cedera dalam jiwa si anak.PG : Dalam banyak kasus memang seperti itu.
PG : Masalahnya adalah kalau pun kita tidak menyukai pola pendisiplinan yang keras itu pada akhirnya pola itu terserap ke dalam diri kita. Kalau kasus yang pertama sebetulnya kita tidak suka naun lama-lama kita bertahan jadi akhirnya kita katakan, "Itu baik bagi saya" dan akhirnya itulah yang kita terapkan kepada anak-anak kita.
Tapi dalam kasus yang kedua ini, sebetulnya kita tidak suka dan kita berkata, "tidak mau" namun kalaupun kita berkata "tidak mau untuk menggunakan disiplin ini" masalahnya adalah pola itu sudah terserap. Akhirnya kendati kita berupaya sekeras mungkin untuk tidak menerapkan pola tersebut, sewaktu-waktu kita dapat memunculkannya. Itu sebabnya ada orang tua yang sudah berusaha sekeras mungkin tidak mau mendisiplin anak-anaknya sekeras orang tuanya dulu mendisiplin dia, namun ada waktu ketika dia marah, kemarahannya itu bisa keluar keras sekali dan itu akan mengagetkan anak-anaknya dan berkata, "Papa dan Mama kenapa bisa seperti itu, biasanya tidak seperti itu", karena apa yang telah diserap oleh orang tua itu akhirnya bisa muncul kapan saja ketika dia dalam kondisi yang tidak begitu kuat, tidak begitu sehat untuk mengekang dirinya dengan baik.PG : Seringkali itu yang terjadi, jadi orang tua itu mengalami rasa lepas kendali, Pak Gunawan, dia sudah menegur, dia sudah memberikan peringatan, diancam tapi tetap anak itu melakukan kesalahn atau pelanggaran.
Jadi dalam ketidaktahuannya, ketidakmampuannya menguasai dirinya akhirnya keluarlah disiplin yang berlebihan itu, kita frustrasi sekali dan kita tahu dalam kondisi frustrasi memang kita lebih sulit untuk menguasai diri. Itu sebabnya yang keluar bukan lagi disiplin tapi amukan amarah karena frustrasi itu harus dikeluarkan. Waktu dikeluarkan atas nama disiplin yang sesungguhnya, sebetulnya yang keluar adalah amukan amarah dan itu sebetulnya yang destruktif dan menghancurkan jiwa si anak.PG : Dan memang ada anak-anak yang sengaja menantang orang tuanya, Pak Gunawan. Jadi bukan saja dia tidak melakukannya tapi dia memang tidak mau melakukannya dan memerlihatkan sikap tidak mau mlakukan di hadapan orang tua.
Jadi akhirnya emosi kita sebagai orang tua terpancing dan akhirnya meledak dan kita melihat anak kita itu kurang ajar dan terus membantah kita dan kita merasa sangat dilecehkan. Ini juga yang membuat terjadinya amuk amarah, bukan lagi pendisiplinan tapi merupakan luapan amukan yang sangat besar karena merasa kalau anak begitu berani menantangnya.PG : Kita harus mengakui bahwa kita tidak selalu tepat sasaran dalam meluapkan kemarahan kita, misalnya di dalam pekerjaan adakalanya kita marah ketika kita tidak mendapatkan penghargaan, kita iperlakukan buruk dan sebagainya, atau kita terlibat dalam konflik dengan pasangan kita.
Jadi semua kemarahan itu berputar-putar di dalam jantung kita, ketika kemarahan ingin keluar, hal itu bertepatan dengan anak melakukan pelanggaran. Kalau kita tidak hati-hati maka kita akan mudah sekali melampiaskan kemarahan itu kepada anak. Dan anak adalah korban yang empuk, karena anak belum bisa berbuat apa-apa untuk melindungi dirinya atau melawan kita dan sebagainya. Jadi sebagai anak, mereka masih bergantung kepada kita dan terpaksa mereka akan diam dan menerima semua itu, padahal kemarahan kita merupakan sebuah kemarahan terhadap mungkin sekali orang-orang di luar atau terhadap hidup ini dan sebagainya. Jadi hal ini yang harus kita jaga, sebab mudah sekali bagi kita melampiaskannya kepada anak karena sekali lagi anak itu belum bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima kemarahan kita.PG : Ada orang yang justru merasa rugi kalau dia tidak jadi marah, tapi sebetulnya kalau kemarahannya sudah reda, dia bisa memikirkan cara yang lebih tepat untuk bisa mendisiplinkan anak itu kaena memang harus kita akui, salah satu penyebab umum kenapa ada orang tua yang menggunakan disiplin dengan begitu keras ialah karena ketidaktahuannya akan cara-cara lain yang lebih efektif.
Jadi yang dia tahu hanyalah satu, yaitu memukul dan variasinya adalah memukul tidak terlalu keras, memukul sedikit lebih keras, memukul keras, memukul sangat keras. Jadi hanya pada daerah memukul saja dan dia tidak tahu cara-cara yang lain, misalnya cara bagaimana harus dengan suara tegas memberikan teguran kepada anak, cara untuk mencegah sebelum anak melakukan perbuatan yang melanggar itu atau cara untuk mengambil sesuatu yang disukainya, supaya dia tidak bisa melakukan apa yang dia ingin lakukan. Jadi ada beberapa cara-cara lain yang bisa digunakan. Dan memang ada orang yang tidak mengerti cara-cara lain dan hanya tahu memukul dan divariasikan kadarnya saja.PG : Seringkali anak akan memunculkan sikap marah yang lebih keras kepada kita, dan waktu kita melihat anak melampiaskan kemarahannya dengan begitu keras maka dapat kita duga bahwa inilah hasilya, benih yang telah kita tanam mulai bertumbuh dalam dirinya, benih apa ? Benih kemarahan, benih kekerasan, itu semua mulai bertumbuh makanya dia pun kalau marah seperti itu.
Jadi kalau dia marah, dia akan menendang, memukul benda atau barang, dia membanting barang itu, atau dia akan berteriak sekeras-kerasnya. Bisa jadi itu adalah benih-benih yang telah kita tanam