Cinta Lama Bersemi Kembali

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T575A
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.
Abstrak: 
Kenangan lama yang terasa indah, godaan mengompori CLBK tergantung atas 3 hal, kesehatan pernikahan, kesehatan jiwa dan kesehatan iman, segitiga cinta ialah ketertarikan biologis, kedekatan emosional dan komitmen, hadapi masalah pernikahan bukan dengan menghindar apalagi melarikan diri.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

CLBK adalah singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali. Menjadi hal yang umum terjadi dari segala zaman dan di tengah dunia postmodern yang makin longgar dan permisif makin diterima sebagai gejala umum. Maka tak heran di Indonesia menjadi singkatan yang dikenal luas dan menjadi nama kafe, acara televisi dan ujaran pergaulan. CLBK berasal muasal dari ada kenangan lama yang terasa indah dan terbangkitkan. Secara alamiah kita suka merekam peristiwa yang indah dalam ingatan kita, termasuk kenangan romantika percintaan. Jadi sesungguhnya ini merupakan gejala manusiawi yang bisa spontan muncul, namun juga bisa dihambat muncul secara disengaja jika menghendakinya. CLBK muncul lewat bertemu dan berpandang mata lalu kilas balik muncul sekejap. Atau, lebih proses yang lebih lambat, bertemu berulang-ulang karena tugas sekolah, pekerjaan, reuni. Dari sekadar percakapan non-personal beralih ke personal lalu CLBK.

Jadi, kalau secara sengaja mau menghindar CLBK, maka sesungguhnya perlu memutus untuk bertemu berulang-ulang. Atau, kalau pun terpaksa wajib bertemu berulang-ulang karena tugas dan pekerjaan, maka menghindar percakapan personal.

Jadi ada pilihan: mau mengompori memperbesar percikan api atau memadamkan sama sekali.

Mengapa bicara memadamkan percikan api CLBK, apakah sedemikian burukkah?

Dua sisi sesungguhnya, bisa baik dan bisa buruk, bergantung konteks. Apakah salah satu atau keduanya sudah menikah ataukah keduanya lajang atau berstatus duda dan janda?

Kalau sudah berstatus menikah, sepatutnya memang memadamkan percikan api CLBK sejak dini. Ingat, kalau bermain-main api, awalnya memang menyenangkan, namun ujungnya pasti terbakar juga.

Godaan mengompori CLBK bergantung kepada tiga hal, yaitu Kesehatan Pernikahan, Kesehatan Jiwa dan Kesehatan Iman.

1.Kesehatan Pernikahan

Godaan mengompori CLBK muncul kalau pernikahan kita sedang kering, monoton atau bahkan penuh konflik. Kata orang, rumput tetangga lebih hijau. Kita ingin eskapis atau melarikan diri dari kepenatan dan kekeringan jiwa romantik kita dan mengisinya dengan buaian kisah-kisah dan memori seru nan romantik serta membuat hormon oksitosin yang memberi kenyamanan, ketenangan dan perasaan positif kita terstimulasi.

2.Kesehatan Jiwa

Berpikir panjang dan berpikir matang, Emosi yang terkelola

3.Kesehatan Iman

Internalisasi Allah dan Firman-Nya dalam diri kita

Apa yang terjadi ketika tetap mengompori CLBK?

Ketika kita membiarkan diri terbuai dengan berselancar di atas gelombang ombak CLBK, ujungnya pasti kitalah yang akan tergulung dipermainkan oleh ombak CLBK itu. Awalnya nikmat, ujungnya sengsara. Nikmat membawa sengsara. Yang ditandai dengan perselingkuhan, bahtera rumah tangga kandas, anak-anak rentan dengan gangguan jiwa dan permasalahan serupa sebagai imbasan tontonan menjadi tuntunan.

Kalau demikian, kenapa CLBK tetap begitu menggoda? CLBK itu bekerja berlandaskan hukum Cinta Romantik. Ada Segitiga Cinta yakni: ‘Passion’ (Ketertarikan Biologis), Intimacy (Kedekatan Emosional) dan Commitment (Keputusan Kognitif dan Psikomotorik untuk setia). Cinta Romantik hanya bekerja di landasan Passion dan Intimacy.

Sementara cinta yang matang bekerja di ketiga sisi segitiga tadi, termasuk sisi komitmen. Sisi komitmen merupakan produk perjalanan panjang ketika ‘passion’ dan ‘intimacy’ berbenturan dengan berbagai kesulitan dan realitas serta memilih tetap setia dan bertahan.

Sesungguhnya:

  1. Perasaan cinta bisa datang dan pergi.
  2. Perasaan cinta saja tak pernah mampu menjadi fondasi cinta yang matang dan relasi pernikahan yang kekal sampai maut memisahkan.

Hidup berumahtangga itu dinamis dan bergelombang. Ada saatnya lancar, ada saatnya tersendat. Ada saatnya berkelebihan, ada saatnya berkekurangan. Ada berbagai krisis kehidupan: musibah kecelakaan maupun bencana alam yang merenggut harta benda, kehilangan pekerjaan dan penghasilan, anggota keluarga mengalami sakit berat yang sulit disembuhkan ataupun membutuhkan biaya besar.

Pesan penting:

Hadapi masalah pernikahan dan rumah tangga dan bukannya menghindar apalagi melarikan diri.

Kidung Agung 2:7, "Kusumpahi kamu putri-putri Yerusalem demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang, jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya".

Cinta itu bukan sesuatu yang tidak bisa dikontrol.