Skip to main content

Pendidikan Seks Dalam Keluarga Membingkai Seks Secara Tepat

PENDIDIKAN SEKS DALAM KELUARGA
MEMBINGKAI SEKS SECARA TEPAT

Seks sebetulnya hal yang paling banyak memenuhi pikiran anak-anak remaja. Namun hal ini justru enggan untuk dibicarakan. Pendidikan seks bukanlah sebagai suatu pendidikan formal. Seks kita ajarkan secara berkelanjutan, bertahap dan informal kepada anak-anak kita. Seks di sini bukan saja yang berkaitan dengan moralitas meskipun itu adalah bagian yang penting yang harus kita bicarakan pada anak kita. Tetapi orang tua juga perlu membicarakan aspek fisik atau aspek seksual dari seks itu, jadi anak-anak memunyai gambaran yang jelas tentang apa itu yang dimaksud dengan seks dan tentang kapan seks itu boleh dinikmati dan siapa yang boleh menikmatinya. Bagi remaja, hal seksual itu bukan saja menjadi hal yang bersifat kognitif, bersifat rasional yang harus dia ketahui, tapi hal itu benar-benar mulai memengaruhi kehidupan dia secara menyeluruh. Dan keinginan-keinginan untuk dekat dengan seseorang secara fisik itu mulai ada pada anak-anak remaja, jadi kita sebagai orang tua harus secara proaktif mengambil inisiatif.

Kenapa di rumah kita perlu mengajarkan seks secara keseluruhan? Sebab seks bukan saja perkara fisik atau anatomis tapi seks menyangkut emosi, menyangkut yang terutama kerohanian, sebab seks itu adalah salah satu perbuatan fisik yang disoroti Tuhan dan diatur oleh Tuhan secara langsung, maksudnya diikat oleh kaidah rohani.

Dunia cenderung mengajarkan seks adalah sebatas masalah fisik, pemuasan kebutuhan fisik dan kalaupun dikaitkan dengan yang lebih bersifat rohani dunia cenderung memberikan gambaran bahwa :

  1. Seks adalah untuk orang yang saling menyukai, saling mencintai. Dengan kata lain, seks itu makin hari makin dilepaskan dari beberapa cengkeraman yang seharusnya mengatur dan melindungi seks ini. Yaitu seks makin hari makin dilepaskan dari lembaga pernikahan.
  2. Seks makin hari makin dilepaskan dari lembaga komitmen.

Peran orang tua terbesar adalah menekankan bahwa seks bukanlah semata-mata masalah kebutuhan fisik atau masalah saling mencintai. Jauh lebih agung dan lebih berat dari itu ada masalah komitmen, adalah masalah institusi pernikahan yang diakui masyarakat dan yang paling penting adalah diatur oleh Tuhan sendiri. Sewaktu tidak dilaksanakan sesuai dengan kehendak Tuhan itu menjadi dosa.

Dampak jika orang tua tidak mengajarkan pendidikan seks kepada anak sebagai berikut:
Anak akan mendapatkan informasi dari teman-temannya, dari buku, dari film dan kemungkinan besar mereka tidak mendapatkan gambar menyeluruh mengenai seks itu. Dan bahwa penekanannya seks pada sesuatu yang nikmat belaka tidak ada lagi bobot moral, bobot pernikahan dan komitmen di dalamnya.

Untuk dapat mengoperasikan produk barang baru secara tepat, kita harus membaca buku petunjuk yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memproduksi barang tersebut. Jika kita tidak mengikuti petunjuk pemakaiannya, maka besar kemungkinan kita akan mengalami masalah. Demikian pulalah dengan seks. Oleh karena kita manusia—dan termasuk seks—adalah ciptaan Tuhan, maka kita harus melihat dan memakai seks sesuai dengan Buku Petunjuk Tuhan, yaitu Alkitab Firman Tuhan. Sebagai orang tua kita mesti mengajarkan tentang seks kepada anak secara tepat supaya setelah dewasa ia pun dapat hidup seturut dengan petunjuk Tuhan.

Hal pertama yang kita perlu ajarkan kepada anak adalah bahwa seks itu MULIA dan KUDUS. Mulia, dalam pengertian seks bukan hanya aktivitas fisik untuk memenuhi kebutuhan fisik, seperti makan dan minum. Lebih dari sekadar pemenuh kebutuhan, seks adalah sarana yang digunakan Tuhan untuk meneruskan proses penciptaan manusia. Kita tahu bahwa penciptaan adalah tindakan Tuhan yang mulia untuk melahirkan karya yang mulia pula—sesuai dengan gambar Allah sendiri. Dalam artian inilah, seks merupakan sesuatu yang mulia.

Seks adalah kudus dalam pengertian, Tuhan memisahkan seks dari perbuatan lainnya dan menempatkannya di dalam naungan pernikahan. Sebagaimana pernikahan adalah kudus—dalam pengertian, pernikahan merupakan relasi yang eksklusif—maka seks pun kudus dalam pengertian yang sama. Kita tidak menikah dengan siapa pun yang kita jumpai; demikian pulalah kita tidak berhubungan seks dengan siapa pun yang kita sukai.

Pandangan atau konsep bahwa seks adalah mulia dan kudus bertolak belakang dengan gagasan yang bertebaran di dunia. Kita perlu menyadarkan anak bahwa besar kemungkinan ia akan dibombardir dengan pelbagai pandangan tentang seks, yang pada intinya mengatakan bahwa seks adalah aktivitas fisik belaka, sama seperti makan dan minum, atau bahwa seks adalah buat orang yang telah saling suka. Oleh karena adanya pertentangan ini maka ia—dan kita semua yang ingin menaati Tuhan—akan harus bergumul melawan gempuran dari luar.

Hal kedua yang kita perlu tanamkan kepada anak adalah bahwa seks berbobot sangat BERAT. Saya menyadari bahwa semua dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Tuhan namun pada kenyataannya dosa tidak memunyai bobot dampak yang sama. Itu sebabnya dampak dosa perkosaan tidak sama dengan dampak dosa pencurian—korban perkosaan acap kali harus mengalami trauma berat yang berkepanjangan. Itu juga sebabnya mengapa dampak dosa perzinahan tidak sama dengan dampak dosa dusta lainnya. Dan, itu pun sebab orang yang berpacaran kemudian putus namun sudah terlibat hubungan seksual akan mengalami dampak emosional yang jauh berbeda dari orang yang putus pacaran tanpa hubungan seksual.

Hal ketiga yang seyogianya kita ajarkan kepada anak adalah bahwa seks bukanlah tujuan melainkan HASIL dari tujuan yang telah dicapai. Di dunia ia akan mendengar gagasan bahwa seks adalah tujuan—tujuan dari berpacaran. Bagi sebagian orang, seks bahkan telah menjadi tujuan hidup itu sendiri—pikirannya terisi hanya oleh seks dan tidak ada yang terlebih penting daripada seks.

Seks dimaksudkan Tuhan untuk menjadi hasil dan perayaan dari suatu kemenangan. Itu sebabnya dalam konteks pernikahan, seks menjadi wujud puncak dan perayaan kasih itu sendiri. Seks bukanlah kendaraan yang membawa kita kepada kasih—sebagaimana didengungkan oleh orang di dunia. Seks juga tidak membawa kita kepada komitmen; sebaliknya, komitmen membawa kita kepada seks. Itu sebab Tuhan menghendaki seks dilakukan dalam pernikahan, karena di dalam pernikahanlah terdapat komitmen yang terdalam. Di dunia mungkin ia akan mendengar celoteh teman yang mengajarkan bahwa seks akan membuat pria itu atau wanita itu mengasihinya dan berkomitmen kepadanya. Itulah dusta yang disebarkan iblis.

Firman Tuhan mengajarkan di 1 Korintus 7:4, "Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya; demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya." Inilah bentuk penyerahan, kepercayaan dan komitmen terdalam di antara manusia. Tidak ada penyerahan, kepercayaan dan komitmen sedalam ini di antara semua ikatan di dunia. Nah, di dalam penyerahan, kepercayaan dan komitmen terdalam inilah seks berada dengan aman. Inilah rencana Tuhan mengaruniakan seks kepada kita.

Ringkasan T397A+B
Oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul "Pendidikan" lainnya di www.telaga.org

TELAGA MENJAWAB

PERTANYAAN :

Syalom,
Saya N.A. dari Manokwari, Papua Barat. Saya mau ‘share’ sekaligus mau minta saran dan solusi tentang keberadaan saya saat ini, saya dikenal orang-orang di sekitar bahwa saya wanita baik-baik, sering pelayanan juga. Namun akhirnya saya jatuh dalam dosa, dimana saya juga tidak menyangka dengan mudahnya saya goyah dan pada akhirnya jatuh dalam dosa. Awalnya bermula dari saya bekerja di perusahaan yang sekarang, saya kenal dengan pria ini yang adalah pimpinan saya. Kami pun saling menyukai dan pada akhirnya kami pun berpacaran. Singkat cerita, saya dan dia setelah beberapa bulan berpacaran akhirnya kami jatuh kedalam dosa itu. Dia juga sosok orang yang dikenal baik di sekitarnya, sering pelayanan juga, namun entah kenapa kami bisa jatuh juga. Dan pada akhirnya TUHAN pun menegur kami dengan cara-Nya, ada sesuatu hal yang terjadi dan pada akhirnya kami pun berdua sadar apa yang kami lakukan sudah kelewatan batas. Setiap kali kami beribadah, kami merasa tidak layak di hadapan TUHAN. Apa solusinya agar kami terbebas dari rasa bersalah kami kepada TUHAN serta keluarga dan orang-orang di sekitar kami dan supaya kami merasa bahwa kami layak di hadapan TUHAN? Terima kasih.

Salam : N.A.

JAWABAN :

Saudari N.A., pertama, terima kasih atas keterbukaan dan kepercayaan Saudari kepada kami. Salah satu godaan terbesar yang paling sulit dilawan adalah godaan seksual. Alasannya adalah karena godaan ini sangat terkait dengan kebutuhan dan gejolak biologis yang kita semua miliki. Jadi, kalau semua godaan lain bersumber dari luar daging, godaan seksual berasal dari dalam daging. Itu sebab, sangat tidak mudah untuk mengatasinya. Oleh sebab itu, Firman Tuhan menasihati, untuk menghadapinya, langkah terbaik adalah menghindar alias tidak berhadapan dengan godaan itu. Sebagai contoh, sewaktu Yusuf digoda oleh istri Potifar, ia langsung lari (Kej. 39:11-12). Paulus mengasihi Timotius untuk lari dari nafsu muda (2 Timotius 2:22).

Ada dua saran yang dapat kami berikan. Pertama, buatlah komitmen untuk hanya bertemu dengan pacar di tempat terbuka. Jadi, tidak lagi bertemu di tempat tertutup. Kedua, bicaralah kepada seseorang yang rohani dan dapat dipercayai menjaga rahasia. Jadikanlah orang itu tempat untuk melaporkan pertanggungjawaban Saudari N.A. Jika kita tahu, bahwa kita harus melaporkan perbuatan kita, biasanya kita akan berusaha lebih keras untuk tidak berbuat.

Kami yakin, Saudari N.A. pasti sudah datang kepada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya, jadi, sekarang terimalah pengampunan-Nya. Ia sudah mati untuk semua dosa kita, tanpa kecuali.

Salam: Paul Gunadi

Surat Syukur

MENANG MESKI TAK SEMPURNA

Oleh: Anita Sieria, S.Sos, M.Th. *)

Perbincangan dengan seseorang yang saya temui sore itu, membuat saya mengingat kembali bahwa kemenangan tersedia bagi orang percaya, meski kita tidak sempurna. Ia berkata, "Bu, bukannya kita itu terdiri dari tubuh, jiwa dan roh ya? Saya ingin agar hidup saya lebih seimbang dan pulih dalam ketiga hal itu." Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "Tapi, Bu, bukannya kita tidak akan bisa sempurna juga, ya?"

Pergumulan dalam pertanyaannya juga tampak dalam kehidupan saya beberapa waktu belakangan. Ada banyak hal yang harus saya selesaikan berurutan, bahkan secara bersamaan dalam jangka waktu yang singkat. Tugas dan panggilan sebagai ibu rumah tangga, sebagai seorang konselor, juga sebagai seorang mahasiswi program doktoral di bidang konseling klinis yang tentu sepaket dengan banyak tugas dan berbagai laporan.

Hal pertama yang saya pastikan tentu adalah anak-anak dan suami. Saya perlu memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan melakukan berbagai pekerjaan rumah. Masalahnya, tugas dan tanggung jawab di rumah tidak pernah ada habisnya. Setiap hari ada bahan-bahan makanan yang perlu dibeli dan diolah agar makanan tersedia, debu-debu yang perlu dibersihkan, baju kotor yang menanti di cucian, anak-anak yang perlu diantar ke sana - ke mari dan masih banyak lagi.

Waktu 24 jam terasa cepat berlalu dan tidak cukup untuk mengerjakan berbagai tanggungjawab. Tidak jarang saya mesti mengorbankan jam tidur untuk menyelesaikan tugas kuliah dan pelayanan. Kelelahan dan kekhawatiran menjadi teman keseharian. Rasanya tidak mungkin saya bisa menuntaskan semua. Kadang saya lupa menyiapkan ini dan itu untuk anak-anak, atau bahkan lupa menanak nasi ketika lauk-nya telah siap. Rasa bersalah muncul seketika. Aduh, betapa kacaunya! Kenyataannya, seorang konselor pada dasarnya manusia biasa yang banyak kekurangan.

Namun, ketika menilik kembali, saya melihat hal-hal baik di tengah peliknya kehidupan ini. Saya bersyukur suami masih membantu mengerjakan berbagai tugas di rumah dan dengan anak-anak, meski ia pun memiliki kesibukan pekerjaan. Saya bersyukur anak-anak masih makan dengan lahap dan cukup setiap hari. Saya bersyukur ada hari-hari di mana saya justru belajar dari anak-anak. Saya bersyukur ada orang tua lain tempat berbagi dan saling menyemangati.

Saya bersyukur tugas dan tanggungjawab satu persatu terselesaikan. Setiap menyelesaikan satu tugas, saya dapat menarik napas lega, meski tidak sempurna atau tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Walau waktu enggan melambat dan tubuh menuntut rehat, saya bersyukur masih bisa berjuang sampai akhir. Setiap selesai melayani dalam sesi konseling, saya bersyukur ada seorang demi seorang lagi yang Tuhan percayakan untuk saya raih dan saya tolong. Saya bersyukur Tuhan menaruh belas kasih itu di dalam hati saya, memberikan sukacita-Nya dalam melayani dan memampukan saya dalam anugerah-Nya.

Mungkin tulisan ini lebih cocok disebut sebuah surat syukur, tentang betapa baiknya Tuhan, betapa nyata kasih setia-Nya dan bahwa hidup ini hanya oleh karena anugerah-Nya. Setiap kemenangan kecil adalah bukti kasih karunia-Nya yang selalu baru bagi anak-anak-Nya. Memang hidup kita tidak sempurna. Namun, sebagai orang percaya, kita menang di dalam Dia. Sebab kita memunyai Allah yang sempurna, yang ada di pihak kita dan yang selalu menuntun hidup kita.

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." – Roma 8:37

*) Konselor Telaga Kehidupan

POKOK DOA

Mei 2026

Lima bulan telah kita lewati di tahun 2026. Permasalahan silih berganti yang dialami masyarakat di berbagai tempat, baik cuaca, perekonomian, keamanan dan dampak dari peperangan yang terjadi di Timur Tengah, namun penyertaan dan pimpinan TUHAN nyata dan tidak dapat kita ingkari. Beberapa pokok doa syukur dan permohonan adalah sebagai berikut :

  1. Bersyukur pada Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), tanggal 2 Mei 2026 Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) telah berusia 36 tahun. Kita juga memeringati Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2026 dan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) pada tanggal 29 Mei 2026.
  2. Bersyukur Ibu Ester Tjahya, pimpinan Pastorium di Malang telah menyelesaikan studinya di Filipina dan mendapat gelar Ph.D. in Clinical Christian Counseling pada tanggal 24 Mei 2026. Biarlah apa yang telah dicapai sungguh-sungguh dapat menjadi pertolongan dan berkat bagi orang-orang yang dilayani.
  3. Bersyukur Radio Suara Sion Perdana (RASSINDA) di Karanganyar, Solo telah dikirimi rekaman Telaga lanjutan pada tanggal 4 Mei 2026 dan YTWR/Askara di Kota Wisata Batu telah dikirimi rekaman Telaga lanjutan pada tanggal 11 Mei 2026.
  4. Doakan agar pengiriman rekaman Telaga tahun 2025 ke Radio Karina FM di Pematangsiantar dan Radio Bethany AM di Medan dapat diterima dengan baik.
  5. Doakan agar bila Tuhan kehendaki, ada tambahan rekaman Telaga dalam triwulan ke-3 tahun 2026 ini.
  6. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  7. TUHAN sudah memanggil pulang ke Rumah Bapa, drs. Psi. Robin Adhi Wijaya pada tanggal 19 Mei 2026 yang lalu. Beliau pernah menjadi pembicara Ceramah Pembinaan Keluarga (CPK) VII pada tanggal 8 Agustus 1992 dengan tema "MENGERTI dan DIMENGERTI", biarlah kita doakan agar istri, anak dan menantu serta cucu-cucu yang ditinggalkan mendapat penghiburan dan kekuatan dari Tuhan.
  8. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri yang jumlahnya cukup banyak dapat bekerjasama dengan baik.
  9. Bersyukur Ibu Fransiska, sekretaris Telaga Kehidupan telah menyelesaikan program CCS (Certificate in Counseling Skill) di Life Spring Counseling Center, Jakarta.
  10. Bersyukur untuk penyertaan Tuhan bagi para konselor di Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo.
  11. Doakan untuk setiap klien yang Tuhan kirimkan di Telaga Kehidupan, kiranya Tuhan menolong setiap mereka dalam permasalahan yang dialami.
  12. Doakan untuk setiap pelayanan di Telaga Kehidupan, biarlah Tuhan terus menuntun dan memimpin.
  13. Bersyukur karena Telaga Pengharapan dapat turut mengambil bagian dalam pelayanan bersama tim misi GBI Mojopahit di Lembaga Pemasyarakatan kls.IIA Jember yang telah terlaksana pada tanggal 30 Mei 2026. Kiranya seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan menjadi berkat, penguatan dan sumber pengharapan bagi para warga binaan di Lapas Jember.
  14. Sekolah Kristen Aletheia akan mengadakan acara kelulusan bagi para siswa-siswi kelas 6 SD yang turut dihadiri oleh para orang tua pada tanggal 15 Juni 2026. Ev.Sri Wahyuni, konselor Telaga Pengharapan mendapat kesempatan untuk menyampaikan materi dengan tema "Berakar di dalam Kristus, Siap Melangkah ke Masa Depan". Mari doakan agar Tuhan memberikan hikmat dan penyertaan bagi tim guru yang memersiapkan acara serta bagi Ev. Sri Wahyuni dalam menyampaikan materi. Kiranya Tuhan memakai acara ini untuk memerlengkapi para orang tua agar semakin berperan aktif dalam mendampingi pertumbuhan iman dan perkembangan anak-anak mereka.
  15. Komisi Remaja GKT Jember akan mengadakan retreat pada tanggal 23-26 Juni 2026 di Dira Glamping dengan tema "Reset Your Heart". Dalam kesempatan ini, Ev. Sri Wahyuni dipercaya untuk membawakan dua sesi pembinaan bagi para peserta remaja. Doakan untuk seluruh panitia dalam memersiapkan acara, para pembicara yang akan menyampaikan materi serta setiap remaja yang mengikuti retreat ini. Kiranya Tuhan menolong seluruh proses persiapan, memberi kelancaran dan kesatuan hati dalam pelayanan serta memakai momen retreat ini sebagai kesempatan bagi para remaja untuk mengalami pemulihan, pembaharuan hati dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

Bersyukur untuk donasi yang diterima dalam bulan Mei 2026, yaitu dari:
011 untuk 4 bulan sejumlah Rp 600.000,-

Mei
Jenis Bahan