Skip to main content

Keluarga yang Kokoh

Artikel “Keluarga yang Kokoh” membahas kunci keberhasilan pernikahan berdasarkan prinsip berjalan di atas kekuatan, menunaikan kewajiban, fokus pada pertumbuhan, mengutamakan kebersamaan, dan mendasarkan pernikahan di atas fondasi iman Kristen. Pasangan-pasangan tersebut berusaha tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya, mempercayai pimpinan Tuhan, serta memandang pernikahan sebagai bagian dari rencana Tuhan yang lebih luas, dengan tujuan membangun keluarga yang kokoh berdasarkan ajaran Firman Tuhan dan saling menghormati.

  • Pernikahan
  • Keluarga
  • Kristen
  • Tuhan
  • Iman
  • Pertumbuhan
  • Keberadaan
  • Pasangan harus berjalan di atas kekuatan, bukan kelemahan masing-masing.
  • Pasangan harus menunaikan kewajiban masing-masing dengan usaha keras.
  • Pasangan harus menggunakan konflik sebagai titik balik pertumbuhan.
  • Pasangan harus memprioritaskan kebersamaan dan menjaganya dengan baik.
  • Pernikahan harus didasari iman Kristen dan tunduk pada Tuhan serta kehendak-Nya.

Play Audio

Berita Telaga
Edisi No. 25 /Tahun III/ Oktober 2006/


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl. Cimanuk 58 Malang 65122 Telp./Fax.:0341-493645 Email: telaga@indo.net.id
Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Lilik Suharmini
Account : BCA.KCP Galunggung no. 011-1658225


KELUARGA YANG KOKOH

Ada pasangan yang makin lama menikah, makin serasi dan bahagia. Apakah yang menjadi kiat keberhasilan pasangan ini? Berikut ini akan dipaparkan beberapa kuncinya.

  1. Mereka berjalan di atas kekuatan, bukan kelemahan masing-masing. Mereka tidak buta terhadap kelemahan pasangan namun itu bukanlah fokus utamanya. Mereka sadar bahwa penekanan pada kelemahan tidak berfaedah banyak; mereka maklum bahwa perubahan terjadi justru sewaktu mereka berhenti menyoroti kelemahan pasangan dan mulai memberi pengakuan pada kekuatannya.
  2. Mereka rajin menunaikan kewajiban masing-masing. Mereka menyadari bahwa pernikahan dibangun di atas alas kerajinan dan kerelaan untuk melakukan tanggung jawab masing-masing. Mereka tahu bahwa kemalasan akan merusak pernikahan sebab kemalasan adalah awal hilangnya respek. Mereka pun maklum bahwa hidup tidak mudah dan penuh tuntutan dan bahwa hanya dengan bekerjalah kita dapat memenuhi kebutuhan hidup. Itu sebabnya mereka berusaha keras untuk menunaikan peran dan tanggung jawab baik itu sebagai suami-istri maupun ayah-ibu.
  3. Mereka memfokuskan pada pertumbuhan. Mereka tidak lepas dari konflik atau krisis namun mereka menggunakan konflik sebagai titik balik pertumbuhan. Dengan kata lain mereka belajar dari konflik dan bertekad untuk tidak menyalahkan satu sama lain. Mereka memandang konflik lebih sebagai perbedaan, bukan masalah pada pribadi masing-masing. Pada faktanya memang kebanyakan konflik timbul dari perbedaan, bukan masalah pada kepribadian. Terpenting bagi mereka adalah mereka berhasil belajar untuk tidak mengulang konflik yang sama dan bertumbuh selangkah lebih dewasa sebelum konflik terjadi.
  4. Mereka mengutamakan kebersamaan. Bilamana memungkinkan mereka mencoba untuk menghabiskan waktu bersama dan melakukan kegiatan bersama-sama. Ingat, kebersamaan menciptakan persamaan. Mereka pun dapat membatasi diri dalam pergaulan ataupun pekerjaan dan pelayanan sehingga tetap dapat menjaga kebersamaan. Dengan kata lain mereka memprioritaskan kebersamaan dan berhasil menjaganya dengan baik.
  5. Mereka mendasari pernikahannya di atas fondasi yang kuat yakni Tuhan. Ada tiga hal yang termaktub dalam kategori ini.
    • Pertama, apa pun yang mereka rasakan atau pikirkan, mereka tetap tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, mereka takut akan Tuhan dan takut untuk berdosa. Jadi, kendati mereka bersitegang, mereka tetap patuh pada Tuhan dan berusaha keras untuk tidak melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak diperkenankan Tuhan.
    • Kedua, mereka mempercayai pimpinan Tuhan, bukan pertimbangan manusia belaka. Dalam membuat perencanaan hidup, mereka melibatkan Tuhan dan mencari kehendak-Nya, bukan selera pribadi. Jadi, mereka tidak terpaku pada apa yang baik bagi diri sendiri melainkan apa yang baik bagi Tuhan.
    • Ketiga, mereka melihat pernikahan sebagai bagian dari rencana Tuhan yang lebih luas. Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan ingin memakai mereka sebagai saluran berkat-Nya dan untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Firman Tuhan: Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan. (Amsal 12:11)
Oleh. Pdt. Paul Gunadi


MENGENAL LEBIH DEKAT

Radio ANTARIKSA AM di Surabaya yang mengudara pada frekwensi 774 adalah salah satu dari 5 radio yang bekerjasama dengan Telaga sejak tahun 1998. Radio ini berada di bawah Pengurus FKKI (Forum Komunikasi Kristiani Indonesia) yang ketika itu diketuai oleh Dr.med. Paul Tahalele DSB/T. Mulai tahun 2005 Radio Antariksa mengudara pada frekuensi 1278 AM dengan jangkauan siaran meliputi daerah Probolinggo, Tuban, Madura dan Pasuruan. Kini sudah bukan FKKI lagi yang menjadi Pengurus radio ini, tetapi Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) di Surabaya. TELAGA disiarkan setiap hari Senin pk.05.30.


KEUANGAN

Pemasukan Telaga bulan ini
Sumbangan dari Sdr. Andre sebesar Rp. 24.500,00
Hasil penjualan kaset, CD dan booklet Rp. 242.000,00
Total pemasukan sebesar Rp. 266.500,00
Pengeluaran TELAGA bulan ini Rp.4.854.129,00

DOAKANLAH

  1. Bersyukur 7 booklet telah dicetak dan diterbitkan oleh Metanoia Publishing. Bagi yang berminat bisa memperolehnya di Toko Buku Metanoia. Selanjutnya Perjanjian Penerbitan untuk 12 booklet akan ditandatangani dalam waktu dekat ini

  2. Tim rekaman yang akan menyelesaikan 3 kaset (6 judul) dalam bulan Nopember 2006 ini. Doakan untuk Bp. Heman Elia, Bp. Gunawan Santoso dan Bp. Jusuf N.T. selaku operator.