Dimanakah Tuhan Ketika Penderitaan Terjadi

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T570A
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.
Abstrak: 
Penderitaan adalah buah pilihan manusia pertama, dalam berbagai peristiwa Tuhan tidak selalu memberi keistimewaan pada anak-anak-Nya, Tuhan telah memberi jaminan kepastian masuk surga pada kita yang memercayakan diri pada Kristus, satu-satunya Tuhan dan Juruselamat.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

"Di Manakah Tuhan Ketika Penderitaan Terjadi?" Ungkapan ini berulang muncul ketika kita mengalami keterhilangan, musibah, bencana, kecelakaan dan kemalangan.

Tak jarang kita mulai mempersalahkan Tuhan sebagai Pribadi yang dikatakan mengasihi, namun begitu kejam membiarkan hal yang malang kita alami, terlebih ketika kita sudah hidup benar, saleh, rajin pelayanan, dan rajin memberi perpuluhan. Karena kecewa kepada Tuhan, maka kita pun mulai marah pada Tuhan, mengancam hingga marah dan memilih meninggalkan Tuhan.

"Sudah, nggak usah pusing soal gereja, soal pelayanan. Tidak ada lagi Tuhan-Tuhanan. Masa bodoh. urus urusan sendiri, toh Tuhan pun tidak ngurusi aku." Mungkin ini yang terlontar dalam amarah dan rasa kecewa kita kepada Tuhan.

Membahas tentang penderitaan, kebenarannya yang pertama yang perlu dipahami, penderitaan adalah buah pilihan manusia pertama.

Allah menciptakan manusia menurut gambar Allah. Salah satu sifat Allah adalah Allah memiliki kehendak bebas. Maka, manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki kehendak bebas pula yang ditandai lewat keberadaan pohon pengetahuan baik dan jahat. Tuhan mengizinkan manusia untuk makan semua buah dari pohon yang ada di Taman Eden. Hanya buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat saja yang dilarang Tuhan.

Namun, sayangnya manusia dalam kehendak bebasnya memilih untuk mengikuti bujuk rayu dan tipu daya Iblis dan memakan buah itu. Maka, sesuai pernyataan Tuhan di Kitab Kejadian pasal 3:14-19 kita bisa melihat rentetan kutuk dosa yang terjadi atas seluruh alam semesta raya di mana relasi antar ciptaan dan termasuk relasi antar manusia menjadi buruk dan bumi pun menjadi terkutuk. Penderitaan menjadi bagian mata kuliah pokok dalam kurikulum hidup manusia hingga berpuncak pada kematian fisik dan kematian kekal di neraka.

Dari sinilah rentetan penyakit dan wabah penyakit yang berujung kepada kematian massal berasal muasal. Dari penyakit kusta, penyakit pes atau sampar, tuberculosis atau TBC yang menular, HIV/AIDS yang sempat heboh sejak tahun 80-an hingga wabah flu burung, SARS, MERS, wabah global Covid-19 dan akan diikuti aneka wabah lainnya.

Kebenaran kedua berkenaan penderitaan, di dalam Injil Matius 5:45 Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Dari pernyataan ini kita dapat menarik pemahaman bahwa dalam berbagai peristiwa Tuhan tidak memberi keistimewaan kepada kita, orang-orang percaya, perlindungan dari musibah dan penderitaan.

Bahwa seakan yang jahat pasti kurus kering dan penuh kegagalan. Dan yang setia ikut Tuhan pasti gemuk berkelimpahan harta dan sukses bisnis, sukses karier dan menjadi penguasa dunia. Malahan bukankah sebaliknya yang kita saksikan dan mungkin alami? Itulah pergumulan Asaf dalam Mazmur 73:12-14, "Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah dan kena hukum setiap pagi "..

Keliru besar jika berkata, "Puji Tuhan, ini rezeki anak sholeh, rumah yang lain rusak berat karena banjir bandang, rumah orang-orang percaya tetap tegak berdiri dan utuh tak kekurangan apapun." Itu kasih karunia. Lantas, kalau demikian, apa gunanya menjadi orang percaya kalau kita pun mengalami penderitaan dan musibah yang sama dengan orang-orang belum percaya dan bahkan yang secara sengaja hidup melawan Tuhan?

Kebenaran ketiga berkenaan penderitaan, Tuhan telah memberi jaminan pasti masuk surga kepada kita yang telah mempercayakan diri kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, agar sepanjang hidup kita sejak kelahiran baru kita tersebut hingga kita bertemu dengan Tuhan di surga, menjalani kehidupan yang membuahkan kebaikan dan kemuliaan Allah, termasuk di tengah berbagai penderitaan dan musibah.

Firman Tuhan dalam Surat Efesus 2:10, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya". Sebagaimana Yesus hidup di dunia selama 33,5 tahun mengalami berbagai penderitaan untuk membawa keselamatan dan shalom kepada dunia yang tidak mengenal Allah, demikian setiap kita orang percaya dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus.

Kepastian keselamatan kekal masuk surga di dalam Kristus melandasi kita untuk berespons benar di tengah berbagai penderitaan dan musibah. Bukannya marah-marah, pahit dan meninggalkan Tuhan, malahan kita bisa berkata, "Tuhan, berat situasi penderitaan dan musibah yang sedang kualami ini. Namun, aku percaya, aku sedang diberi kesempatan untuk mengalami kehadiran, kuasa pemeliharaan dan pertolongan Tuhan dan aku diberi kesempatan untuk menjadi saksi Kristus di tengah situasi ini."

Justru karena Kristus dan jaminan pemeliharaan-Nya, kita memiliki alasan untuk bukan menggenggam tangan dan menutup mata terhadap orang lain, melainkan kita tetap menjadi berkat bagi sesama yang menderita bersama kita. Kita dipanggil mengikuti jejak anak kecil yang berani melangkah dengan iman menyerahkan 5 roti dan 2 ikan kepada Tuhan, untuk diberkati Tuhan, dan akhirnya sanggup mengenyangkan lebih dari 5000 orang.

Menjadi berkat di tengah berkelimpahan harta dan hidup senang itu lumrah, namun tetap menjadi berkat di tengah hidup yang serba terbatas dan mengalami musibah itu istimewa dan anak-anak Tuhan, orang-orang percaya, dipanggil untuk demikian.