Tuntutan yang Menghimpit Anak

Versi printer-friendly
Juni



Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orangtua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orangtua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orangtua pun membebani anak dengan tanggungjawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. Berikut akan dipaparkan beban yang kadang keliru diembankan pada anak.

  1. Tuntutan sebagai anak sulung.
    Cukup banyak orangtua yang menuntut anak tertua untuk memikul tanggungjawab besar. Misalnya, ada orangtua yang melimpahkan anak sulung untuk menjaga dan mengurus adik-adiknya pada usia yang relatif muda. Memang adakalanya orangtua terlalu sibuk atau memunyai anak terlalu banyak sehingga tidak lagi dapat memberi pengawasan dan perhatian kepada semua anak. Terpaksa orangtua menuntut anak sulung untuk menolong orangtua. Masalahnya adalah, bila hal ini dilakukan di kala anak sulung masih berusia belia, tuntutan ini akan membebaninya secara berlebihan. Tugas mengawasi serta mengurus adik sudah tentu akan menyita waktunya sendiri. Ketika ia ingin bermain—sebagaimana layaknya anak seusianya—ia terpaksa menjaga dan mengurus adiknya. Alhasil ia cenderung kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi miliknya. Sebagaimana kita ketahui kehilangan masa kanak-kanak berakibat negatif pada pertumbuhan anak. Ia cenderung matang terlalu dini dalam hal tanggung jawab namun miskin pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
  2. Tuntutan sebagai anak perempuan.
    Masih banyak orangtua yang memerlakukan anak perempuan sebagai setengah pembantu rumah tangga. Misalkan sehabis makan, anak laki-laki dibiarkan pergi tetapi anak perempuan diwajibkan untuk membawa piring ke dapur dan mencucinya. Ketika anak laki bermain di luar, anak perempuan disuruh untuk membantu ibu memasak. Tatkala anak laki pergi bersama teman untuk menonton, anak perempuan diminta orang tua untuk menjaga rumah. Semua perlakuan ini keluar dari pandangan bahwa tempat bagi anak perempuan adalah di dalam rumah. Itu sebabnya anak perempuan dianggap tidak perlu pergi bermain keluar. Terpenting adalah menyiapkan anak perempuan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang cakap. Sudah tentu ada waktu dan tempat bagi anak perempuan belajar keterampilan mengurus rumah. Namun, ada pula waktu dan tempat bagi anak laki untuk belajar keterampilan mengurus rumah. Tuntutan yang berlebih pada anak perempuan berpotensi memasungnya menjadi anak yang tidak berinisiatif dan sukar menikmati hidup. Ia pun cenderung bermasalah dengan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya.

  3. Tuntutan sebagai anak kesayangan.
    Sebagai anak kesayangan, seorang anak dituntut untuk senantiasa mengerti perasaan orangtua. Ia pun dituntut untuk menjadi anak yang bersikap dan berbuat baik kepada orangtua. Jika ada pertentangan antara orangtua dan anak lainnya, anak kesayangan merasa berkewajiban untuk membela orangtua—tidak peduli siapa yang salah. Singkat kata, anak kesayangan menerima beban untuk mengasihi orangtua lebih daripada anak-anak lainnya. Ia pun dituntut untuk mengabaikan kelemahan orangtua dan hanya memfokuskan pada kelebihan. Akibatnya anak kesayangan sering kali susah mengembangkan obyektivitas dalam hidupnya. Kesetiaannya bukan terletak pada APA yang benar tetapi pada SIAPA yang dianggapnya benar. Dengan kata lain, benar atau salah menjadi relatif serta bergantung pada siapa yang disukainya. Dampak lainnya adalah anak kesayangan tidak mempunyai kebebasan untuk menjadi diri apa adanya. Ia harus menjadi anak sesuai kehendak orangtua walaupun itu bertentangan dengan karunia dan isi hati yang sesungguhnya.
  4. Tuntutan sebagai anak terpandai.
    Kadang kita berpikir bahwa beban terberat dipikul oleh anak yang paling tidak pandai. Pada kenyataannya anak terpandai dalam keluarga tidak kalah menderita tekanan. Sebagai anak terpandai pada dasarnya ia diharapkan untuk tidak pernah gagal. Hasil yang dicapainya mesti senantiasa selaras dengan tuntutan orangtua. Bila orangtua tidak fleksibel, anak yang terpandai merasa lebih merupakan sapi perahan. Ia cenderung merasa bahwa ia hanya berharga bila ia dapat memuaskan harapan orangtuanya. Jika tidak, ia pun tidak merasa dirinya bernilai. Singkat kata, oleh karena itulah tuntutan dan perlakuan yang diterimanya, pada akhirnya ia pun memerlakukan dirinya sama dengan perlakuan orangtua terhadap dirinya. Ia hanya merasa bernilai bila ia sanggup mencapai tuntutan dirinya sendiri. Kegagalan dihapus dari kamus hidupnya, keberhasilan menjadi dewa yang disembahnya.
  5. Tuntutan sebagai anak rohani.
    Orangtua tentu senang melihat anak bertumbuh secara rohani. Misalnya anak gemar membaca Firman Tuhan dan rajin ke gereja. Masalah muncul tatkala orangtua menuntut anak untuk selalu bersikap dan berperilaku rohani, dalam pengertian tidak boleh marah atau merasa kecewa dan sebagainya. Sudah tentu tuntutan ini tidak realistik. Kendati ia rohani sebagai anak yang manusiawi ia pun dapat melakukan kesalahanl. Tugas orangtua seyogianya adalah menuntun anak untuk dapat menghadapi kegagalannya melakukan sesuatu seturut kehendak Tuhan. Orangtua mesti mengajarnya untuk datang meminta pengampunan dari Tuhan dan memberi pengampunan pada diri sendiri. Kesalahan orangtua adalah kadang orangtua malah memperalat kerohanian anak untuk kepentingan orangtua. Misalnya melarang anak untuk pergi studi ke kota lain dengan alasan sebagai anak yang berbakti kepada Tuhan tidak seharusnya ia pergi meninggalkan keluarga.


Dampak Keseluruhan

  • Kaku.
    Ada sebagian anak yang bertumbuh dengan kepribadian yang kaku. Ia sukar melihat interaksi dan hanya dapat melihat aksi-reaksi. Ia cepat marah dan tidak suka ketidakkonsistenan. Ia tidak mudah mengerti mengapa orang berbeda dari dirinya.
  • Perfeksionis.
    Ia menuntut kesempurnaan di atas segalanya. Ia tidak menoleransi kegagalan baik pada dirinya atau orang lain. Standar hidup dan karyanya sukar diturunkan karena ia tidak mudah berkompromi.
  • Menyalahkan.
    Oleh karena ia besar dengan tanggungjawab, jika ada kesalahan, orang tua kerap menyalahkannya. Untuk menghindar dari disalahkan, ia pun berusaha semaksimal mungkin untuk bertanggung jawab sebaik-baiknya. Masalahnya adalah, makin bertanggung jawab, makin sering dan mudah ia menyalahkan orang yang dianggapnya tidak bertanggungjawab sebagaimana dirinya. Inilah proses yang melestarikan pola menyalahkan.
  • Mudah cemas.
    Pada umumnya ia mudah tegang sebab hidup tidaklah bebas. Baginya hidup adalah kerja—sepenuhnya. Tidak ada ruang untuk beristirahat dan santai. Semua mata memandangnya sehingga ia harus selalu memerlihatkan perilaku dan diri terbaiknya. Jika ada kekurangan dan kesalahan, ia cepat menyalahkan diri dan merasa takut dihukum. Pada masa remaja dan dewasa hukuman terberat baginya adalah penolakan. Ia takut ditolak, itu sebabnya ia terus didesak oleh dirinya sendiri untuk selalu berprestasi.

Kesimpulan

Pada waktu Tuhan Yesus berusia 12 tahun, dalam kunjungan ke Yerusalem, Ia pergi meninggalkan orangtuanya dan masuk ke Bait Allah untuk mendengarkan dan berdialog dengan kaum alim ulama. Sewaktu Yusuf dan Maria menegur-Nya, Tuhan menjawab, "Mengapakah kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49). Kendati ayat ini membicarakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan bukan sebagai seorang anak manusia saja, tetapi pelajaran yang dapat ditarik juga relevan untuk pembahasan kita. Kendati anak adalah keturunan kita, misi utamanya adalah ia bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Tugas utama anak adalah menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan, bukan kita. Jadi, besarkanlah anak untuk bertumbuh berdasarkan arah yang ditetapkan Tuhan.


Ringkasan T286 A+B
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul lainnya di www.telaga.org




PERTANYAAN :

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus,
Saya seorang ibu dengan 2 anak laki-laki, usia 13 tahun dan 5 tahun.
Saya juga seorang karyawati swasta yang harus meninggalkan rumah mulai pk.07.00 – pk.16.00, hal ini sudah berjalan 14 tahun dan bukan karena saya seorang yang "maniak" kerja atau bosan dengan hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi karena tuntutan ekonomi keluarga.


Suami baru setahun ini menjadi guru PNS. Yang menjadi masalah dan sangat menekan hidup saya adalah perilaku anak pertama saya, yang dapat dikatakan "ndablek", kalau dinasihati tanggapannya cuek. Kalau saya bertanya tentang suatu hal, tidak tidak langsung menjawab, seolah-olah tidak mendengar, bila terpaksa dia menjawab dengan nada kasar (sudah tidak wajar sebagai seorang anak terhadap orangtua).
Saya mencoba untuk introspeksi diri agar bisa lebih sabar, telaten, perhatian dengan kebutuhannya, tetapi tetap saja. Terlebih sikapnya terhadap suami saya, malah seperti orang yang bertengkar.
Saya putus asa, frustrasi dan kecewa dengan keadaan yang hampir setiap hari terjadi. Saya selalu berdoa dan berserah pada Tuhan atas semua ini.
Pertanyaannya, apa yang harus saya lakukan?
Apakah pekerjaan saya juga salah satu penyebabnya?
Bagaimana seharusnya sebagai seorang istri dan ibu sesuai dengan Amsal 31:10-31?
Saya mengharapkan saran terhadap permasalahan yang saya hadapi ini.
Salam : Ibu In-in

JAWABAN :

Ibu In-in,
Anak Ibu tengah berada dalam fase remaja.
Pada masa remaja kebanyakan anak cenderung tidak suka ditegur atau diberitahu oleh orangtuanya.
Bukannya menerima, mereka malah melawan dan menyangkal kalau terbukti salah. Dalam menghadapi anak Ibu, prinsip yang mesti digunakan adalah prinsip Kasih – Tegas. Artinya, adakalanya dengan lembut Ibu memberitahukannya bahwa sikapnya tadi menyakitkan hati Ibu.
Komunikasikan kasih Ibu kepadanya sehingga ia tahu bahwa Ibu menyayanginya. Namun kadang Ibu harus bersikap tegas kepadanya. Sewaktu ia bersikap kurang ajar, silakan Ibu sampaikan teguran tegas kepadanya dan memintanya untuk minta maaf kepada Ibu.
Mudah-mudahan cara ini dapat bermanfaat. Tuhan memberkati !


Salam : Paul Gunadi

Acara "Meet & Match" yang diadakan pada hari Rabu, tanggal 26 Mei 2021 digagas oleh beberapa konselor, alumni STT SAAT (Catherine, Shelfie Tjong, Riris Delima, WellynMigang dan Sri Wahyuni). Acara ini diikuti oleh 102 peserta yang terdiri atas 32 pria dan 70 wanita dari berbagai wilayah di Indonesia serta beberapa peserta dari luar negeri.

Acara ini dipandu oleh Hendra dan Carolina Soputri sebagai MC, diawali dengan doa pembukaan oleh Hendra. Sesi Pembekalan disampaikan oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Santy dengan topik "Berusaha dan Berserah – Memahami Peran dan Tanggungjawab Kita dalam Menjalin Relasi". Pak Paul Gunadi mengatakan bahwa perjodohan adalah suatu misteri. Kita tidak selalu mengetahui jawabannya, namun kita dapat menyimpulkan bahwa perjodohan melibatkan setidaknya dua faktor, yaitu Kehendak Tuhan dan Usaha manusia. Peran dan tanggungjawab manusia adalah berdoa, bertumbuh, berkawan, berisiko.


Selanjutnya, Pak Paul Gunadi menjelaskan hambatan umum yang dihadapi dalam berelasi, yaitu : takut, bingung, ragu, tuntutan, meremehkan. Sedangkan faktor kepribadian yang memengaruhi relasi adalah tidak percaya diri, egois, kaku, bergantung dan dominan. Pak Paul Gunadi memberikan beberapa tips dalam memulai perkenalan, antara lain:

  • Berinisiatif bukan agresif
  • Otentik bukan bersandiwara
  • Terbuka bukan obral
  • Belajar bukan mengajari
  • Menjaga batas jangan melanggar batas.

Kemudian Pak Paul Gunadi menguraikan hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih pasangan, yaitu :

  1. Kerohanian dan Karakter
  2. Kecocokan kepribadian
  3. Karier dan panggilan hidup
  4. Wawasan berpikir
  5. Latar belakang dan pengaruh keluarga
  6. Kondisi keuangan

Bu Santy menambahkan bahwa lajang atau menikah adalah karunia dari Tuhan (I Kor.7:7, "Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu"). Waktu lajang bisa berbuat lebih banyak untuk Tuhan, sedangkan menikah waktu untuk melayani Tuhan lebih terbatas. Untuk para lajang perlu memegang karunia Tuhan pada masa mencari jodoh.

Dalam nasihat penutup, Pak Paul Gunadi mengingatkan kembali tentang :

  1. Berusaha.
    Firman Tuhan berkata, "Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi" (Amsal 12:11). Jadi kita harus mengerjakan bagian kita. Ingat, Abraham mengutus orang ke kampung halamannya yang begitu jauh untuk menemukan isteri buat Ishak.
  2. Berserah.
    Firman Tuhan berkata, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?" (Matius 6:25).

Ingat pada akhirnya, tujuan hidup bukan untuk menikah, melainkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama dan menggenapi rencana-Nya. Selama kita sudah mengasihi Tuhan dan sesama, kita telah memenuhi tujuan hidup.


Pada sesi tanya-jawab, salah seorang peserta menanyakan: "Pada masa pandemi, sulit sekali tatap muka secara langsung dan itu memengaruhi dalam memilih pasangan yang tepat, apalagi dengan berbagai macam perbedaan dan jarak. Bagaimana cara menyikapinya?" Pak Paul Gunadi menjawab, "Sebenarnya pandemi itu ada baiknya. Oleh karena tidak bisa bertemu, kita lebih menghambat lajunya perkembangan relasi kita karena lewat zoom. Kita dipaksa mengenal dia lewat pembicaraan. Jadi justru manfaatkan hadiah dari corona virus ini untuk mengenal pasangan dengan lebih baik dan dalam, tanpa campur tangan penampilan atau hal yang bersifat fisik, sehingga menggelapkan pertimbangan kita.


Dalam acara ini juga dibagikan sharing oleh pasangan Kak Sarjuno dan Kak Lortha melalui rekaman video. Mereka menceritakan pergumulan mereka untuk mendapatkan pasangan hidup, bertemu sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.


Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan keakraban. Peserta dibagi dalam 10 kelompok, masuk dalam "breakout room" atau ruang pertemuan dan dipandu oleh seorang fasilitator agar peserta bisa saling berkenalan. Ada 10 orang fasilitator yang terlibat yaitu para konselor alumni STT SAAT, yaitu Endah, Enny, Grasia, Hanny, Hendra, Kukuh, Nancy, Shelfie, Sudarmadjie dan Yosevin. Perkenalan dalam "breakout room" ini dilakukan sebanyak tiga kali, sehingga setiap peserta dapat mengenal lebih kurang 30 teman baru.


Acara diakhiri dengan ucapan terima kasih dan doa oleh Sri Wahyuni selaku Ketua Pusat Konseling Telaga Kehidupan. Akhir kata, sebuah relasi CINTA KASIH itu layaknya BENIH yang ditaburkan, dibutuhkan USAHA untuk MENYIRAM dan MERAWATNYA dengan baik. Lalu lihatlah apakah TUHAN membuatnya BERTUNAS ?


Charles Austin Miles adalah seorang apoteker lulusan dari Philadelphia College. Namun pada tahun 1892 ia meninggalkan kariernya dan beralih menjadi penulis lagu rohani. Hobinya adalah fotografi, sehingga ia memiliki ruang gelap untuk mencetak foto-foto dari kameranya. Sambil menunggu hasil pencetakan foto, ia sering membaca Alkitab dengan bantuan lampu khusus di ruang gelap tersebut.

Ia menuliskan salah satu pengalamannya di ruang gelap tersebut pada suatu hari di tahun 1912. Pada hari itu, ia tengah menunggu proses pencetakan foto dan ia berpaling kepada Alkitab seperti biasa. Kali itu, ia membuka Yohanes 20. Ia merasa seperti menyaksikan kejadian dalam perikop tersebut secara langsung. Ia seperti melihat dengan jelas Maria yang sedih datang ke kubur Yesus. Ia terkejut melihat kubur kosong, dan segera pergi. Tak lama, Yohanes masuk dan disusul oleh Petrus. Keduanya juga pergi setelah melihat kubur yang kosong. Maria kembali datang ke kubur. Miles melihat jelas kesedihan Maria yang menangis di luar kubur kosong. Tiba-tiba sebuah suara memanggil Maria. Maria menoleh ke arah suara, demikian juga dengan Miles. Maria kemudian berlutut dan berseru Rabuni!

Selesainya menyaksikan peristiwa tersebut, Miles kembali kepada proses pencetakan foto. Namun ia masih merasa bersemangat. Tangannya menggenggam Alkitabnya dengan erat, otot-ototnya tegang dan gemetar. Ia terus berpikir mengenai peristiwa yang terjadi dan menyimpulkan bahwa pertemuan dengan Kristus bukanlah sesuatu yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu saja, melainkan kehidupan orang Kristen haruslah sebuah persahabatan (companionship) dengan Yesus. Ia begitu terinspirasi dan dengan segera menuliskan syair dan melodi yang kemudian menjadi himne 'In the Garden'.

Berikut adalah lirik lagu tersebut menurut KRI 44:
  1. Ku masuk ke dalam taman, bertemu dengan Putra Allah;
    Kudengar suara yang lembut segar, Memanggilku berdoa.
    Refr.:
    Ku dengar merdu suara Tuhanku di tengah taman yang teduh
    Persekutuan tak terlukiskan, menghiburkan hatiku.
  2. Suara Tuhan sungguh merdu; Burungpun diam, tak bernyanyi;
    Lagu Ia b’ri, sungguh tak terp’ri; Hatiku t’rus memuji.
  3. Ku suka tetap serta-Nya; Siang malam dengan Tuhanku;
    Doaku mesra dalam kasih-Nya; Segar seg’nap jiwaku.

Bersyukur di Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, pada tahun 2021 ini LEMBAGA BINA KELUARGA KRISTEN (LBKK) telah berusia 31 tahun, disamping program radio TEgur sapa gembaLA keluarGA, Tuhan juga telah berkenan menghadirkan Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) di Sidoarjo dan Program BINA IMAN Telaga Kehidupan yang masih dirintis. Lima bulan telah kita lewati di tahun 2021 ini dan berikut ini ada beberapa pokok doa yang ingin kita doakan, yaitu :
  1. Bersyukur untuk sumbangan yang diterima 2x dalam bulan ini, yaitu dari NN di Tangerang sejumlah Rp 2.150.000,-. dan Rp 1.440.000,-.
  2. Bersyukur acara "Meet & Match" yang sudah kita doakan bisa terlaksana dengan baik, pada hari libur Waicak, tanggal 26 Mei 2021, pk.09.00 – pk.12.30 diikuti oleh 102 peserta, disamping panitia dan fasilitator.
  3. Bersyukur buku Telaga-7 yang berjudul "Mengapa Menikah?" yang sempat dipromosikan pada acara "Meet & Match", telah dipesan oleh beberapa peserta dan juga dari beberapa orang lainnya, jumlahnya 22 buku.
  4. Bersyukur untuk tambahan satu judul rekaman yaitu "Pentingnya Mengasuh Anak" dengan Bp. Paul Gunadi sebagai narasumber.
  5. Kita turut bersyukur untuk pernikahan Sdri. Ferra Gustiningrum Kristanti dengan Sdr. Andhung Pangestu Bhatara, yang diadakan pada hari Senin, 31 Mei 2021 di Banyuwangi. Sdri. Ferra pernah membantu membuat Katalog berdasarkan Kategori untuk Telaga.
  6. Doakan untuk pengeditan hasil rekaman Telaga oleh Sdri. Lois F.Kristanti, juga pembuatan transkrip, ringkasan dan abstrak.
  7. Tetap doakan untuk Bp. Heman Elia, salah seorang narasumber rekaman Telaga yang menjalani kemoterapi setiap hari dan masih bersemangat untuk tetap memberi satu mata kuliah secara online.
  8. Kita tetap doakan untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk seluruh masyarakat Indonesia dalam masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir.
  9. Bersyukur untuk sumbangan yang diterima dari donatur tetap di Malang dalam bulan ini, yaitu dari: 006 – Rp 300.000,- untuk 2 bulan
    011 – Rp 600.000,- untuk 4 bulan