Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereTanda-Tanda Orang Yang Meninggalkan Tuhan (II)

Tanda-Tanda Orang Yang Meninggalkan Tuhan (II)


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T307B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Sebagai manusia berdosa, kita selalu berkeinginan untuk menjauh dari Tuhan dan bahkan meninggalkan Tuhan, kita merasa tidak sanggup untuk dekat dengan Tuhan karena untuk dekat dengan-Nya kita harus rela menyalibkan diri sendiri. Apakah kita tengah ada di posisi meninggalkan Tuhan ? Saul dan Simson juga meninggalkan Tuhan dan dalam bagian ini akan diulas mengenai mereka dan mudah-mudahan melalui pengalaman mereka, kita tidak akan mengulang kesalahan yang telah mereka lakukan.
MP3: 
3.60 MB
Ringkasan
Isi: 

Di dalam Alkitab ada banyak contoh orang yang meninggalkan Tuhan, di antaranya adalah Simson dan Saul. Sungguh menyedihkan dan tragis hidup mereka akibat tindakan mereka meninggalkan Tuhan. Mengapakah sampai mereka meninggalkan Tuhan? Apakah tanda-tanda mereka mulai meninggalkan Tuhan? Berikut kita akan melihat apa yang terjadi di dalam hidup mereka agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

  • Mulai Melupakan Tuhan
    Di antara semua hakim yang memerintah Israel, Simson adalah yang paling perkasa. Tuhan menganugerahkan kepadanya kekuatan yang luar biasa sehingga dengan kekuatan itu ia sanggup membunuh seekor singa serta mengalahkan berlaksa musuh hanya dengan tengkorak keledai. Saul adalah raja pertama Israel yang berhasil menyatukan semua suku di bawah satu payung pemerintahan. Ia pun memimpin Israel melawan kekuasaan Bangsa Filistin dan akibat kemenangannya, Israel berdiri menjadi sebuah kerajaan yang diperhitungkan bangsa-bangsa di sekitarnya. Baik Simson maupun Saul pada awalnya menyadari bahwa kekuatan dan kemenangan ini berasal dari Tuhan, bukan dari diri mereka sendiri. Namun sayang, akhirnya mereka melupakan Tuhan. Salah satu tanda bahwa mereka melupakan Tuhan adalah mereka tidak lagi mencari Tuhan dan kehendak-Nya sebelum melakukan suatu hal. Semua dipikirkan dan diputuskan sendiri; Tuhan ditinggalkan di belakang. Salah satu tanda bahwa kita mulai meninggalkan Tuhan adalah kita mulai jarang mengingat Tuhan. Mungkin kita hanya mengingat Tuhan pada waktu kita beribadah di hari Minggu. Selain itu kita jarang mengingat nama Tuhan. Mungkin kita pun mulai melupakan bersekutu dengan Tuhan secara pribadi melalui doa pribadi dan saat teduh karena kita terlalu sibuk. Sebagai akibatnya dalam bertutur kata, dalam bertindak dan dalam memertimbangkan apa pun, kita melupakan Tuhan. Kita tidak lagi meminta kehendak Tuhan dan berdoa untuk memberi kesempatan kepada Tuhan untuk menjawab doa. Kita langsung mengambil keputusan dan mungkin baru datang kepada Tuhan bila masalah muncul. Firman Tuhan mengingatkan, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati." (Mazmur 119:2)

  • Membesarkan Diri
    Pada awalnya Saul bukanlah orang yang percaya diri. Sebaliknya, ia penuh keraguan dan sangat bergantung pada Samuel. Di awal pelayanan Simson menempatkan diri sebagai hamba Allah dan menyadari keterbatasannya. Namun sayang, tatkala keduanya menjadi tersohor, mereka berubah dan mengandalkan diri sendiri. Sebagai contoh, Saul berusaha untuk memertahankan takhtanya kendati Tuhan sudah tidak lagi menghendakinya. Ia terus membesarkan diri dan membanggakan apa yang telah diperbuatnya bagi Israel. Simson pun demikian. Ia begitu yakin bahwa kekuatannya tetap akan bersamanya kendati ia membocorkan rahasia kekuatannya kepada Delila. Karena kemurahan dan kebaikan-Nya, Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk mencicipi berkat-Nya yang melimpah. Mungkin kita mulai memetik keberhasilan demi keberhasilan. Sayangnya banyak anak Tuhan yang akhirnya membesarkan diri dan menganggap semua keberhasilan sebagai hasil keringatnya sendiri. Kita harus mengingat seruan Yohanes Pembaptis: "Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30)

  • Mendengarkan Manusia Lebih Daripada Tuhan
    Saul bukanlah seorang imam, jadi tidak seharusnyalah ia melakukan tugas imamat yakni memersembahkan korban namun itulah yang dilakukannya. Alasan yang diberikannya kepada Samuel adalah karena ia menerima tekanan dari orang di sekitarnya. Singkat kata, Saul lebih mendengarkan manusia ketimbang Tuhan. Demikian pula dengan Simson. Ia memilih mendengarkan rayuan Delila daripada menjaga rahasia kekuatannya. Salah satu tanda kita mulai menjauh dari Tuhan adalah kita lebih sering dan lebih menghargai pendapat manusia dibanding Tuhan. Kita makin jarang datang kepada Tuhan untuk merenungi dan mempelajari Firman-Nya. Kita pun makin jarang mencari nasihat dari anak-anak Tuhan atau hamba-hamba Tuhan sebab pada akhirnya kita tidak menghargai nasihat rohani. Firman Tuhan mengingatkan, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:5-6)

  • Berulang-kali Berdosa dan Tidak Bertobat
    Sewaktu Simson ingin menikah dengan gadis Filistin, sesungguhnya orang tuanya tidak setuju. Sayang, Simson tidak mendengarkan nasihat mereka; ia tetap melaksanakan niatnya.Begitu pula dengan Saul. Berkali-kali Samuel menegurnya, tetap ia memilih untuk tidak taat. Baik Simson maupun Saul, keduanya jatuh di dalam dosa yang sama berulang-kali namun keduanya tidak bertobat. Puji Tuhan pada akhir hidupnya Simson bertobat. Setelah ia ditangkap dan dibuat olok-olokan oleh bangsa Filistin, Simson datang kembali kepada Tuhan. Sebaliknya dengan Saul. Bahkan sampai di akhir hidupnya, ia tidak kembali kepada Tuhan. Hidupnya pun berakhir tragis. Tuhan memberi peringatan kepada kita, anak-anak-Nya, tatkala kita berdosa. Ia memberi peringatan lewat Firman-Nya secara langsung; Ia memberi peringatan lewat anak-anak-Nya yang lain atau bahkan orang lain sekalipun; dan kadang Ia memberi peringatan melalui situasi tertentu yang kita alami. Namun tidak selamanya Ia memberi peringatan; adakalanya Ia berhenti. Tuhan berhenti memberi peringatan tatkala Ia melihat bahwa kita terus mengeraskan hati dan menulikan telinga. Pada akhirnya Ia membiarkan kita memilih jalan sendiri dengan harapan, kejatuhan dan pukulan akibat dosa akhirnya menyadarkan kita untuk kembali mendengarkan Tuhan. Simson merasakan sakitnya Firman Tuhan mengingatkan, "Jadikanlah hatiku tahir ya Allah dam perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12)

  • Kehilangan Kekudusan Tuhan
    Simson adalah seorang anak yang dikuduskan atau dipisahkan secara khusus untuk menjadi hamba Tuhan. Itu sebabnya sejak lahir ia tidak memotong rambutnya sebagai tanda perjanjian antara dirinya dengan Tuhan dan sebagai tanda bahwa ia adalah seorang abdi Allah. Saul pun adalah seorang yang diurapi Tuhan. Lewat minyak yang dituangkan Samuel di atas kepalanya, Tuhan menetapkan Saul untuk menjadi abdi Allah. Namun sayang pada akhirnya keduanya tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan di dalam diri mereka. Simson menikah dengan perempuan Filistin, bangsa yang menindas umat Tuhan dan tidak menyembah kepada Tuhan Allah. Ia pun menjalani kehidupan moral yang tidak terpuji dan tidak menghiraukan kekudusan Tuhan pada dirinya. Begitu pula dengan Saul. Pada akhirnya ia lupa diri—ia membunuh para imam gara-gara mereka menolong Daud. Ia tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan. Salah satu pertanda bahwa kita mulai menjauh dari Tuhan adalah kita tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan. Kita mulai bersikap seenaknya terhadap perintah Tuhan; tatkala melanggarnya pun kita tidak merasakan apa-apa lagi. Kita pun mulai kehilangan hormat terhadap rumah Tuhan dan para hamba-Nya. Memang rumah Tuhan adalah benda belaka dan hamba Tuhan adalah orang yang berdosa pula namun keduanya telah ditetapkan sebagai lambang dari kehadiran Tuhan di muka bumi. Begitu kita mulai kehilangan kekudusan terhadap rumah dan hamba Tuhan, biasanya kita pun mulai kehilangan hormat terhadap kekudusan perintah Tuhan. Ketika kita kehilangan hormat terhadap kekudusan perintah Tuhan, kita pun kehilangan hormat terhadap kekudusan Tuhan itu sendiri. Firman Tuhan berkata, "Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan Tuhan, yang sama seperti Tuhan, di antara penghuni sorgawi? Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya." (Mazmur 89:7-8)