Melepaskan Kebencian

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T594A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Membalas dendam keluar dari kebencian dan sebagai anak Tuhan kita tidak boleh memunyai apalagi menyimpan kebencian, membalas dendam tindakan pemuasan kemarahan bukan tindak keadilan, pada waktu kita disakiti atau dijahati, berdoa kepada Tuhan, mohon pengampunan bagi mereka yang telah berbuat jahat, introspeksi diri kita
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Salah satu ayat yang sering kita dengar namun sukar dilakukan adalah Roma 12:19, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firmanTuhan." Kebanyakan kita tidak membalas bukan karena kita mau taat kepada Tuhan, melainkan karena kita tidak bisa membalas—kita berada di pihak yang lemah dan tidak berdaya. Marilah kita melihat, mengapaTuhan melarang kita membalas dendam dan bagaimana kita dapat menaati FirmanTuhan ini.

Setidaknya ada dua alasan mengapa Tuhan melarang kita membalas dendam. Pertama adalah karena membalas dendam keluar dari KEBENCIAN dan sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh memunyai, apalagi menyimpan, kebencian. Perintah Tuhan Yesus di Matius 22:37-39 dengan jelas menyatakan, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Singkat kata, membenci adalah pelanggaran terhadap perintahTuhan dan merupakan kebalikan dari karakterTuhan yakni kasih.

Allah menyelamatkan kita dari dosa bukan saja supaya kita bebas dari hukuman dosa yaitu kematian, tetapi juga agar kita menjadi serupa seperti putra-Nya, Yesus Kristus. Tuhan ingin kita, makin hari, makin dipenuhi oleh kasih, yang adalah karakter utama Allah. Itu sebab, Ia melarang kita untuk membalas, sebab barangsiapa membalas, ia sudah diikat oleh kebencian. Dan barangsiapa diikat oleh kebencian sesungguhnya telah diikat oleh Iblis sendiri, yang karakter utamanya adalah kebencian.

Alasan kedua mengapa Tuhan melarang kita untuk membalas dendam adalah sebab membalas dendam adalah tindak pemuasan kemarahan, bukan tindak keadilan. Di dalam kemarahan, kita sulit menerapkan prinsip keadilan sebagaimana diperintahkan oleh Allah di Imamat 24:19-20, "Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya." Di dalam kemarahan, kita menuntut dua gigi ganti satu gigi.

Sewaktu anak-anak Yakub mendengar bahwa adik perempuan mereka, Dina, dinodai oleh Sikhem, seorang anak raja, mereka membalas dendam bukan dengan membunuh Sikhem saja, melainkan setiap laki-laki di wilayah itu sebelum akhirnya menjarah kambing domba, lembu sapi, keledai dan segala kekayaan penduduk. Tidak berhenti di situ, mereka pun menawan semua anak dan perempuan (Kejadian 34). Di sini dapat kita lihat, pembalasan dendam tidak pernah berhenti pada satu gigi.

Tuhan adalah Allah yang adil; di dalam keadilan Ia menghukum, bukan membalas dendam. Dan Ia adalah Allah yang mengetahui semua, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Penghakiman-Nya adil dan tidak bercacat. Itu sebab Ia melarang kita membalas dendam; Ia meminta kita melepaskan hak membalas dan menyerahkannya kepada Dia, Hakim yang Mulia dan Adil. Tuhan meminta kita untuk percaya pada keadilan-Nya—bahwa Ia tidak tinggal diam dan akan bertindak, sebagaimana dikatakan di 2 Tesalonika 1:6-7, "Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas." Kelegaan kita peroleh bukan dari pembalasan, tetapi dari Allah sewaktu kita menyerahkan dendam kita kepada-Nya.

Sekarang marilah kita lihat bagaimana kita dapat menaati perintahTuhan ini. Hal pertama yang mesti kita lakukan sewaktu dilukai atau dijahati adalah berdoa kepada Tuhan. Kita harus datang kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri atau orang lain. Kita mesti mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri atau orang lain. Dan di dalam doa, kita katakan betapa terluka dan marahnya kita akibat perbuatan orang terhadap kita. Dan, utarakan keinginan kita untuk membalasnya, untuk melihatnya menderita. Luapkanlah semua ini di dalam doa kepada Tuhan; Ia siap mendengarkan.

Di dalam kemarahannya terhadap orang yang menjahatinya, Daud berdoa, "Ya Allah, hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya, patahkanlah gigi geligi singa-singa muda, ya Tuhan!" (Mazmur 58:7).Sewaktu dihina oleh Nabal, Daud marah dan siap membalas dendam—membunuh bukan saja Nabal tetapi juga setiap laki-laki di dalam lingkungan Nabal (1 Samuel 25). Tuhan melarang Daud melaksanakan niatnya dengan cara mengutus Abigail, istri Nabal, untuk berbicara kepadanya. Daud taat dan mengurungkan niatnya, dan Tuhan membalaskan kejahatan Nabal dengan penghukuman yang keras yakni kematian. Tidak apa meluapkan kemarahan di dalam doa, selama kita tidak melampiaskannya kepada orang.

Langkah kedua yang dapat kita ambil untuk menaati perintah Tuhan ini adalah mendoakan orang yang telah berbuat jahat kepada kita. Sewaktu Stefanus, diakon pertama Gereja, dirajam, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia berdoa, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kisah Para Rasul 7:60). Di atas kayu salib, kata pertama yang keluar dari mulut Tuhan Kita Yesus adalah, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34). Dari kedua doa ini dapat kita lihat bahwa baik Stefanus maupun Yesus berdoa memohonkan pengampunan bagi mereka yang berbuat jahat kepada mereka. Jadi, berdoalah bagi orang yang berbuat jahat kepada kita agar mereka menyadari perbuatan mereka yang salah, supaya mereka bertobat, dan menerima pengampunanTuhan. Singkat kata, kita berdoa supaya yang baik turun atas mereka.

Mungkin ini adalah bagian tersulit; biasanya kita justru berharap dan menunggu supaya yang buruk menimpa orang yang jahat kepada kita. Tidak heran, Yunus tidak rela melihat Tuhan mengampuni orang di Niniwe. Ia ingin melihat mereka dihukum, bukan diampuni Tuhan. Itu sebab ia menjadi begitu marah ketika melihat orang Niniwe bertobat dan menerima pengampunan. Tuhan ingin Yunus memiliki hati Tuhan, hati yang berkata, "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:11).

Mungkin kita bertanya, bagaimanakah mungkin kita berdoa agar yang baik turun atas orang yang jahat kepada kita? Jawabnya adalah mungkin, asal mau. Tuhan memang tidak membuat kita secara ajaib mengampuni orang, seperti memprogram robot. Yang dilakukan-Nya adalah memberi kepada kita PIKIRAN untuk itu dan KEKUATAN untuk itu; yang tidak dilakukan-Nya adalah membuat kita MELAKUKANNYA. Tanggungjawab dan pilihan itu ada pada kita. Begitu kita katakan bahwa kita mau melepas kebencian dan menggantinya dengan pengampunan dan berkat, maka Ia akan menyuplai kekuatan kepada kita untuk melaksanakannya. Begitulah cara Tuhan bekerja.

Di dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya, tercantum permohonan berikut ini, "Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (Matius 6:12). Secara sengajaTuhan meminta agar kita memohon pengampunan atas dosa kita sendiri, sebelum kita menyebut perbuatan kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Lewat doa itu Tuhan mengingatkan bahwa kita adalah sama-sama orang bersalah dan berdosa, dan bahwa kitapun menerima pengampunan dari Tuhan. Tidak ada alasan bagi kita menyimpan kebencian dan menahan pengampunan; jadi, lepaskanlah kebencian dan hiduplah merdeka dalam anugerah.