Jangan Biarkan Lalang Memakan Tanaman 2

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T580B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Nilai moral dan gaya hidup yang berbeda, perlu ada pengakuan, ada permohonan, penyesuaian dan pertumbuhan dalam diri kita dan pasangan.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Nilai Moral dan Gaya Hidup yang Berbeda

Banyak konflik muncul dari perbedaan gaya hidup, termasuk di dalamnya GAYA BERSANTAI. Misalkan, ada yang senang menonton televisi, ada yang senang membaca buku; ada yang senang pergi ke pertokoan, ada yang senang ke alam terbuka; ada yang senang menghubungi teman atau saudara dan mengobrol panjang lebar dan ada yang tidur. Selain dari gaya bersantai, kita pun berbeda dalam GAYA BERPENAMPILAN. Ada yang senang berbusana baik dan bermerek, ada yang tidak suka barang mahal dan mewah, yang penting enak dipakai. Ada yang senang model modis, ada yang senang busana tradisional. Ada yang senang memunyai rumah besar, ada yang senang rumah kecil. Ada yang senang mobil baru, ada yang senang mobil bekas. Ada yang ingin dilihat kaya, ada yang ingin dilihat miskin. Selain dari gaya bersantai dan gaya berpenampilan, kita pun berbeda dalam GAYA BERPIKIR. Ada yang berpikir jauh, ada yang berpikir pendek. Ada yang berpikir dalam, ada yang berpikir dangkal. Ada yang berpikir rumit, ada yang berpikir sederhana. Ada yang berpikir teoretis, ada yang berpikir praktis. Selain dari gaya bersantai, gaya berpenampilan dan gaya berpikir, kita pun berbeda dalam GAYA BICARA. Ada yang bicara langsung, ada yang mutar-mutar. Ada yang fasih lidah, ada yang berat lidah. Ada yang bicara meledak-ledak, ada yang bicara tenang. Ada yang terbuka, ada yang tertutup. Selain dari perbedaan gaya hidup, adalagi yang kerap menjadi sumber problem dalam pernikahan yakni perbedaan NILAI MORAL. Ada yang takut Tuhan dan ada yang tidak takut Tuhan. Yang takut Tuhan akan berusaha hidup jujur meski oleh karena hidup jujur, hidup menjadi tidak mujur. Sebaliknya, yang tidak takut Tuhan akan menghalalkan segala cara untuk memeroleh yang diinginkannya. Ada pula yang mengasihiTuhan dan ada yang kurang mengasihiTuhan. Yang mengasihi Tuhan rela mengorbankan kepentingannya, sedang yang kurang mengasihi Tuhan, enggan berkorban buat sesama. Sebagaimana dapat kita bayangkan, ada begitu banyak problem yang dapat muncul dari watak yang buruk, tuntutan dan pengharapan yang tidak terpenuhi, serta nilai moral dan gaya hidup yang berbeda. Dan, sebagaimana telah ditandaskan, bila tidak diselesaikan, semua problem ini akan menjadi seperti lalang di kebun yang akhirnya memakan relasi pernikahan. Untuk dapat menyelesaikannya, kita mesti kembali ke akarnya. Berikut adalah beberapa langkah yang mesti ditempuh:

Pengakuan.Sebagai contoh kita mesti mengakui watak buruk yang ada pada diri kita. Selama kita bersikeras bahwa kita tidak memiliki watak buruk itu, kita tidak akan dapat menyelesaikannya. Kita pun mesti mengakui pengharapan yang kita bawa kedalam pernikahan sekaligus mengakui kesanggupan atau ketidaksanggupan kita untuk memenuhi pengharapan pasangan. Sungguhpun demikian kita harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan atau pengharapan pasangan. Juga, kita mesti mengakui nilai moral yang kita miliki dan gaya hidup yang kita dambakan. Sebab, nilai moral inilah yang sesungguhnya menjadi motor yang membuat kita melakukan apa yang kita lakukan. FirmanTuhan di Yakobus 5:16 berkata, "Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh." Pengakuan adalah langkah pertama yang mesti diambil; tanpa pengakuan kita tidak akan dapat maju ke tahap berikutnya.

Permohonan. Firman Tuhan menyuruh kita untuk saling mendoakan dan sudah tentu sebelum saling mendoakan, diperlukan bukan saja pengakuan tetapi juga permohonan untuk didoakan.Singkat kata, kita harus merendahkan diri meminta untuk didoakan dan ini berarti, kita pun harus berani meminta pertolongan pasangan bukan saja untuk mengerti kelemahan kita, tetapi juga membantu kita bertumbuh dan bebas dari hal-hal buruk yang selama ini mengikat kita.

Penyesuaian. Kita mesti melihat kenyataan dan hidup di dalam kenyataan; untuk dapat hidup di dalam kenyataan kita harus melakukan penyesuaian. Meski tidak suka, kadang kita harus menerima kondisi kehidupan dan keberadaan pasangan apa adanya. Kita pun mesti bersabar menunggu pasangan berubah dan bertumbuh, bukan saja berhari-hari tetapi juga bertahun-tahun. Selama masa itu, tidak bisa tidak, kita harus menyesuaikan diri dengan perbedaan dan keterbatasan itu. Ini tidak mudah sebab kita mesti melepaskan "kebahagiaan" yang kita dambakan dan anggap seharusnya sudah kita nikmati.

Pertumbuhan.Walau hidup tidak ideal dan tidak selalu kita bisa mencicipi apa yang kita rindukan dari pernikahan, kita tetap harus mengusahakan pertumbuhan, dan tidak membiarkan pernikahan berjalan apa adanya. Kita tidak boleh menyerah sebab bila itu yang terjadi, lalang akan mulai memakan tanaman. Sukacita—apalagi cinta—dalam pernikahan niscaya pudar. Saya mengerti bahwa godaan terbesar adalah membiarkan, karena pada akhirnya kita capek atau putus asa. Kita tidak boleh berhenti menerima—dan menyesuaikan diri—tetapi kita pun tidak boleh berhenti menyelesaikan masalah—menegur yang salah serta meminta yang baik dan sehat. Di dalam kerangka pertumbuhan inilah kita akan menjalani pernikahan yang dinamis, dalam pengertian kita diharapkan dan dituntut pertanggungjawaban untuk bertambah baik sehingga kita tidak terlena dan berbuat semaunya.

Firman Tuhan di 1 Korintus 10:12 mengingatkan, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" Kita tidak boleh terlena dan membiarkan pernikahan berkembang liar sebab bila itu yang kita lakukan, suatu hari kelak kita pasti akan menuai hasilnya. Kita pun tidak boleh berpikir bahwa kita sudah "baik" dan tidak perlu lagi memerbaiki diri; pasti masih ada bagian diri kita yang perlu bertumbuh. Terakhir, jangan cepat beranggapan bahwa pernikahan kita sudah teguh berdiri. Kita mesti menjaganya, sebab jika tidak, pernikahan kita akan jatuh dan pecah.