Ciri Pertumbuhan Dan Kekuatan Rohani 2

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T576B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Audio
MP3: 



Ringkasan

dpo. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Ciri pertumbuhan dan kekuatan rohani ketiga saya petik dari ayat 20, "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu." Berkaitan dengan bersyukur, kita dapat membagi orang kedalam tiga golongan. Golongan pertama adalah orang yang sama sekali tidak bisa bersyukur. Orang ini selalu menggerutu, selalu menyoroti kekurangan, selalu menyalahkan yang lain, dan tidak pernah puas. Golongan kedua adalah orang yang kadang bersyukur, kadang tidak bersyukur. Orang ini bersyukur bila memeroleh apa yang diinginkannya; sebaliknya, bila tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, orang ini tidak akan bersyukur. Golongan ketiga adalah orang yang bersyukur senantiasa atas segala sesuatu—baik atau buruk, menyenangkan atau menyusahkan, sesuai harapan atau tidak sesuai harapan. Firman Tuhan menjelaskan, Ia menghendaki kita menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas segala sesuatu. Mungkin kita berkata, mustahil kita dapat bersyukur atas segala sesuatu. Bagaimana mungkin kita bersyukur atas musibah yang menimpa kita? Kemalangan adalah kemalangan, buruk adalah buruk; jadi, bagaimanakah mungkin kita bersyukur atasnya? Benar, kita tidak bisa bersyukur atas peristiwa buruk yang menimpa kita, kecuali bila kita melakukannya, "dalam nama Tuhan Kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita." Dengan kata lain kita hanya dapat BERSYUKUR atas segala sesuatu jika kita MENERIMA segala sesuatu dari Allah dan Bapa kita di dalamTuhan Kita Yesus Kristus. Pernah di dalam suatu wawancara Pdt. Billy Graham ditanya, "Engkau adalah seorang hamba Tuhan yang setia melayani Tuhan, namun sekarang engkau menderita sakit. Mengapa Tuhan membiarkan engkau menderita sakit?" Sebagaimana kita ketahui di hari tuanya, almarhum Pdt. Billy Graham menderita sakit Parkinson dan hydrocephalus, di mana secara berkala ia harus menjalani bedah di kepala untuk mengeluarkan cairan dari otaknya. Saya masih ingat jawaban Pdt. Billy Graham, "Tuhan pasti memunyai maksud yang baik membiarkan saya menderita sakit." Tidak selalu kita dapat melihat maksud baik Tuhan pada saat kita mengalami musibah; mungkin sampai kita meninggalkan dunia ini, kita tidak dapat melihatnya. Namun maksud Tuhan selalu baik; rencana Tuhan selalu baik, sebab maksud dan rencana-Nya keluar dari hati yang baik. Tuhan tidak pernah bermaksud jahat dan tidak pernah merancang yang jahat karena Ia adalah Kebaikan pada puncak dan kesempurnaannya. Itu sebab, apa pun situasinya, kita tetap dapat bersyukur kepada Allah dan Bapa di dalamTuhan Kita Yesus, karena kita tahu dan percaya bahwa itu adalah pemberian Tuhan untuk menggenapi maksud dan rencana-Nya yang baik. Mungkin kita pernah melihat orang membangun rumah. Dari awal sampai akhir pembangunan tidak ada yang indah dan bersih; pembangunan rumah selalu kotor dan berdebu. Mulai dari pengecoran fondasi, penanaman kerangka besi, pembuatan dinding sampai pada atap, semua berlepotan dan tidak indah. Namun setelah semuanya selesai di cat dan dibersihkan, barulah kita melihat keindahan rumah itu. Demikian pula dengan pembangunan hidup kita; Tuhan harus menggunakan semen, pasir, besi, dan paku yang sama sekali tidak ada keindahannya. Sungguhpun demikian kita bersyukur sebab kita tahu dan percaya, bahwa pada akhirnya setelah pembangunan selesai, kita dapat melihat keindahannya. Maksud dan rencana Tuhan selalu baik dan indah sebab semua keluar dari hati-Nya yang baik dan indah. Orang yang bertumbuh dan kuat secara rohani adalah orang yang bersyukur senantiasa atas segala sesuatu. Orang ini tidak buta; orang ini dapat melihat kenyataan, sepahit apa pun. Namun orang ini tidak hanya melihat kenyataan di depan matanya; orang ini pun melihat kenyataan di depan mata Tuhan. Di depan mata Tuhan kenyataan yang buruk hanyalah bagian dari pembangunan maksud dan rencana-Nya yang baik dan indah. Makin kita bersyukur, makin kita bertumbuh dan makin kita bertambah kuat.

Ciri pertumbuhan dan kekuatan rohani keempat dan terakhir saya petik dari ayat 21, "rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain." Kata "rendahkanlah" dapat pula diterjemahkan "tunduklah." Tuhan meminta kita untuk menundukkan diri kepada yang lain. Betapa susahnya! Sesungguhnya kita berharap orang tunduk kepada kita, bukan kita tunduk kepada orang. Namun, inilah yang diperintahkan Tuhan dan inilah ciri pertumbuhan dan kekuatan rohani; makin tunduk, makin kita bertumbuh dan bertambah kuat secara rohani. Sebaliknya, makin tidak tunduk, makin kita tidak bertumbuh dan bertambah lemah. Sudah tentu dalam menghadapi dosa, kita teguh, tidak tunduk; namun di luar dosa, di dalam kancah pengambilan keputusan dan perbedaan pandangan, Tuhan meminta kita untuk tunduk atau mengalah. Saya mengaku, inilah salah satu kelemahan saya. Saya sukar tunduk sebab saya beranggapan bahwa saya benar dan bahwa pandangan saya lebih baik dari pada pandangan orang lain. Karena kelemahan ini, beberapa kali saya beradu pendapat dan keluar dari tempat pelayanan. Hanya atas kasih karunia Tuhan, akhirnya saya belajar untuk mengalah—untuk tunduk—dan tidak memertahankan pendapat. Selain dari menganggap diri benar, penyebab lain mengapa sukar untuk tunduk adalah karena kita beranggapan bahwa tunduk atau mengalah berarti kalah, dan kita tidak suka kalah; kita suka menang.Tidak usah kita melihat terlalu jauh, coba lihat diri kita dalam permainan. Bukankah kita ingin menang? Tidak ada orang yang ingin kalah, bahkan dalam permainan sekalipun! Itu sebab, untuk mengalah atau tunduk, kita mesti merelakan orang untuk"menang" dan kita "kalah." Saya tahu kita bisa berkata, orang yang mengalah adalah orang yang menang. Tapi dalam kenyataannya tidak demikian; mengalah tetap membuat kita merasa kalah, bukan menang. Jadi, untuk tunduk, kita harus membiarkan orang menang. Kita mengalah atau tunduk sebab kita tahu dan percaya bahwa ada Tuhan Allah yang Maha Kuasa. Ia tidak terbatasi; Ia sanggup meruntuhkan tembok setebal apa pun. Ketundukan kita tidak menghalangi rencana Tuhan; bahkan sering kali ketundukan kita justru membuka jalan bagi kehendak dan rencana-Nya untuk bergulir secara lebih cepat dan lancar. Tidak heran, Rasul Paulus melanjutkan, "rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus." Kata "takut" di sini bukanlah berarti ketakutan atau kengerian; kata takut di sini berarti "hormat." Dengan kata lain, kita tunduk kepada yang lain karena kita tunduk atau hormat kepada Kristus; kita yakin dan percaya bahwa semua berada di dalam kendali-Nya. Kita tidak perlu MEMERTAHANKAN diri; kita hanya perlu MENYERAHKAN diri. Sekarang kita paham, mengapa ketundukan atau kerelaan untuk merendahkan diri merupakan ciri pertumbuhan dan kekuatan rohani. Hanya orang yang berserah penuh pada kuasa dan kehendak Tuhan, yang dapat mengalah dan membiarkan orang lain menang. Kita tidak takut rencana kita yang "baik" terhalangi; kita tahu bahwa waktu dan cara-Nya adalah yang terbaik. Kita yakin bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merintangi rencana Tuhan. Tidak heran, orang yang rela menundukkan diri adalah orang yang kuat secara rohani; ia kuat karena ia beriman; ia tidak goyah dan selalu stabil. Mencari tahu apa yang berkenan kepada Tuhan. Berjalan di jalan kasih. Bersyukur senantiasa atas segala sesuatu. Tunduk dan mengalah kepada yang lain. Inilah keempat ciri pertumbuhan dan kekuatan rohani. Kata Yeremia 17:7-8, jika kita melakukannya, maka kita akan, "Diberkatilah orang yang mengandalkanTuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ketepi batang air, dan tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."