Cepat Tersinggung

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T459A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Salah satu masalah yang kerap muncul dalam relasi adalah ketersinggungan yakni reaksi sedikit-sedikit tersinggung. Tidak bisa tidak, sikap seperti ini akan dengan cepat dapat meruntuhkan persahabatan. Akhirnya orang takut bergaul dengan kita yang mudah tersinggung dan malah memilih menjauh dari kita. Berikut akan dibahas penyebab mengapa kita cepat tersinggung, dan bagaimanakah kita dapat lepas dari masalah ini.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Salah satu masalah yang kerap muncul dalam relasi adalah ketersinggungan yakni reaksi sedikit-sedikit tersinggung. Tidak bisa tidak, sikap seperti ini akan dengan cepat dapat meruntuhkan persahabatan. Akhirnya orang takut bergaul dengan kita yang mudah tersinggung dan malah memilih menjauh dari kita. Berikut akan dibahas penyebab mengapa kita cepat tersinggung, dan bagaimanakah kita dapat lepas dari masalah ini.

Penyebab: Pada dasarnya reaksi mudah tersinggung muncul dari sebuah sikap hidup yang terlalu personal. Maksudnya, kita meneropong segala sesuatu melalui lensa pribadi sehingga segala sesuatu dianggap berkaitan dengan diri kita. Ibarat lem penangkap lalat, kita terus menangkap bukan saja kritikan tetapi apa pun yang menyentuh diri kita. Apa pun yang terjadi atau yang dikatakan orang, kita tanggapi sebagai komentar atau bahkan celaan terhadap diri kita. Itu sebab kita cepat tersinggung dan akhirnya marah karena merasa diserang atau diperlakukan tidak selayaknya. Pada umumnya sikap hidup yang terlalu personal ini berasal dari penghargaan diri yang minim. Kita merasa tidak berharga dan di bawah orang sehingga cenderung melihat sesama seakan-akan berada di atas kita. Cara pandang melihat sesama sebagai orang yang berada di atas kita membuat kita peka dan cepat menyimpulkan bahwa pada dasarnya orang tidak menghargai kita, tidak memperlakukan kita setara, tidak adil kepada kita, dan cenderung menghina serta menolak kita.

Cara Mengatasinya :

  • Pertama, kita harus mengubah paradigma atau cara kita melihat hidup ini. Sesungguhnya cara pandang yang mudah tersinggung adalah cara pandang yang berpusat pada diri sendiri alias egosentrik. Segalanya dinilai atau disoroti melalui lensa pribadi. Nah, jika kita ingin lepas dari belenggu ketersinggungan, kita harus mengubah cara pandang ini. Kita mesti berhenti hidup secara egosentrik dan mengingatkan diri bahwa hidup tidak berputar di sekitar kita. Singkat kata, hidup bukan tentang diri kita dan bahwa kita bukanlah pertunjukan di atas panggung yang tengah ditonton orang.

  • Kedua, kita mesti mengubah cara kita memandang penilaian orang. Biasanya kita cepat tersinggung karena menginterprestasi bahwa penilaian orang terhadap kita adalah buruk. Kita harus mengingat bahwa sesungguhnya sebelum orang yang menilai diri kita, kita sudah terlebih dahulu menilai diri kita sendiri dan penilaiannya adalah buruk. Singkat kata, rapor merah yang kita terima sebenarnya bukan dari orang lain melainkan dari diri kita sendiri.

  • Ketiga, kita harus mengakui kelemahan diri kita dan menurunkan ego. Mungkin kita terkejut mendengar kata "ego" sebab selama ini kita beranggapan bahwa kita tidak sombong dan tidak punya masalah dengan ego. Sebaliknya, kita beranggapan justru orang lainlah yang sombong dan memunyai masalah dengan ego. Pada kenyataannya kita memunyai masalah dengan kesombongan dan ego. Itu sebab kita tidak rela terluka atau terhina sedikitpun. Nah, untuk menurunkan ego, kita harus berani mengakui bahwa memang kita memunyai masalah dengan ketersinggungan. Kita pun mesti berani untuk meminta maaf atas tindakan kita.

  • Keempat, kita mesti mengecek dan mengecek persepsi kita sebelum sampai pada kesimpulan. Caranya adalah, kita harus bertanya dan meminta pendapat orang lain. Ceritakan apa yang terjadi dan bertanyalah, apakah memang orang menghina kita secara sengaja ? Besar kemungkinan kita akan mendapati bahwa orang lain tidak melihatnya sama seperti kita. Jadi, rendahkanlah diri untuk meminta pandangan orang lain dan tidak bertindak sesuai pandangan sendiri.

  • Kelima, tidak bisa tidak, untuk pulih kita harus sembuh dari penyakit penghargaan diri yang buruk. Carilah seorang konselor dan mintalah bantuannya untuk menolong kita dari masalah penghargaan diri yang buruk ini. Mungkin kita mesti berdamai bukan saja dengan orang lain yang bersumbangsih besar terhadap masalah kita, tetapi juga dengan diri kita sendiri. Ya, pada akhirnya kita mesti menerima dan berdamai dengan diri sendiri sebab sesungguhnya kita tidak menerima dan tidak menyukai diri kita sendiri. Itu sebab kita memberi rapor merah.

Kesimpulan : Kita harus kembali kepada Tuhan, dalam pengertian, kembali kepada penilaiannya atas diri kita dan kembali kepada-Nya untuk mendapatkan pemulihan. Mazmur 77 adalah mazmur yang sarat dengan pertanyaan kepada Tuhan, mengapakah Tuhan meninggalkan pemazmur di dalam kesusahannya. Ya, di dalam kesusahan kita sering merasa sendirian, ditinggal sesama dan juga Tuhan, padahal Tuhan tidak meninggalkan kita dan belum tentu orang meninggalkan kita pula. Seperti inilah kita yang cepat tersinggung. Kita cepat menyimpulkan bahwa orang tidak menyukai kita dan Tuhan pun meninggalkan kita atau bersikap tidak adil kepada kita. Namun pemazmur tidak berhenti pada pemikiran pribadinya. Di ayat 12 ia berkata, "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala." Pemazmur memilih untuk tidak tenggelam di dalam kolam perasaan; ia memilih untuk melihat perbuatan dan kasih Tuhan secara obyektif. Sewaktu ia mengingat perbuatan Tuhan, sadarlah ia ternyata Tuhan tidak seperti yang ia bayangkan. Kita pun harus melihat Tuhan dan sesama secara jernih. Pemulihan dimulai pada saat kita datang kepada Tuhan dan memandang hidup dengan lensa Tuhan.