Buah Sehat dari Pohon Sehat 2

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T582B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Orang tua perlu mengajarkan nilai dan prioritas kepada anak terutama lewat perbuatan, kemampuan berkomunikasi dengan anak juga merupakan hal yang penting disamping sosialisasi, pribadi yang sehat membuahkan berkat bukan saja untuk orang tua tetapi juga bagi sesama.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Nilai dan Prioritas

Orangtua juga perlu menanamkan nilai dan prioritas pada diri anak. Nilai mengacu kepada apa yang baik dan buruk serta apa yang benar dan salah, sedang prioritas merujuk kepada apa yang penting dan tidak penting. Khusus tentang nilai dan prioritas, anak menyerapnya bukan saja lewat perkataan atau pengajaran, tetapi juga dari perbuatan atau tingkah laku sehari-hari yang diperlihatkan orangtua. Jadi, bila pengajaran dan perbuatan orangtua tidak sepadan, maka ini akan menimbulkan kebingungan pada anak. Alhasil anak tidak tahu, manakah yang benar dan baik, manakah yang benar dan salah. Sayangnya kebanyakan anak pada akhirnya akan mengikuti perbuatan, bukan pengajaran orangtua.

Seyogianya orangtua menanamkan nilai dan prioritas pada anak melalui keduanya—pengajaran dan perbuatan—secara konsisten sehingga dari kecil anak belajar, bukan saja mengetahui tetapi juga menerapkan, apa yang baik dan benar, serta menjauh dari apa yang buruk dan salah. Sebagai contoh, anak belajar berterus terang, dan tidak berbohong; belajar meminta dan tidak merampas; belajar bekerja dulu baru bersenang-senang kemudian; belajar mengalah dan bukan mengalahkan; belajar bersuka dengan yang bersuka dan berduka dengan yang berduka; belajar berkorban dan bukan mengorbankan; belajar memberi bukan mengambil; dan belajar bersyukur bukan berkeluh kesah.

Mengajarkan apa yang baik dan buruk serta apa yang benar dan salah tidak sama dengan membenar-benarkan anak dan menyalah-nyalahkan anak. Orangtua perlu membela dan membenarkan anak bila memang anak menerima perlakuan tidak adil di mana ia dituduh dan disalahkan secara tidak semestinya. Namun, orangtua tidak boleh membela dan membenarkan anak secara membabi-buta. Iklim membela dan membenarkan anak tidak soal anak salah atau benar niscaya membuat anak, bukan saja tidak tahu mana baik dan mana buruk, mana benar dan mana salah, tetapi juga percaya bahwa ia sempurna, tidak pernah salah dan bahwa orang lainlah yang selalu salah.

Sebaliknya, orangtua juga tidak boleh menciptakan iklim menyalahkan anak secara membabi buta. Tidak soal siapa salah dan siapa benar, anak sendiri pasti disalahkan. Juga, jangan sampai orangtua hanya bisa menyalahkan anak tanpa pernah memerlihatkan kebaikan dan kelebihan anak. Perlakuan seperti ini bukan saja akan menghancurkan penilaian dan kepercayaan diri anak tetapi juga menciptakan spirit kritis di dalam diri anak. Pada akhirnya anak akan selalu bersikap kritis terhadap diri dan orang lain; ia akan sukar mengakui kebaikan dan kelebihan dirinya atau orang lain.

Ada begitu banyak pengajaran nilai dan prioritas yang perlu ditanamkan pada anak namun semua dapat disarikan ke dalam dua Perintah Agung sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Kita Yesus di Matius 22:37-39, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Dari kedua hukum ini orangtua dapat mengajarkan kepada anak bahwa orang lebih penting dari barang, usaha lebih penting dari hasil, kepuasan lebih penting dari kesenangan, dan bahwa Tuhan lebih penting dari segalanya.

Komunikasi dan Sosialisasi

Orangtua juga perlu menanamkan keterampilan berkomunikasi serta kenyamanan bersosialisasi kepada anak. Walau komunikasi dan sosialisasi adalah dua hal yang berbeda, tetapi ternyata kunci untuk mengembangkan keduanya adalah sama yaitu keberanian. Dengan kata lain anak hanya akan dapat berkomunikasi dan bersosialisasi bila ia memiliki keberanian untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Tanpa keberanian, ia tidak akan dapat berkomunikasi dan bersosialisasi. Untuk itu orangtua perlu menciptakan suasana aman—tanpa ancaman apalagi bahaya—di dalam rumah sehingga anak dapat mengembangkan keberanian, bukan saja untuk bersuara tetapi juga untuk menyatakan pendapat dan membagikan perasaannya, baik itu perasaan positif maupun negatif.

Keterampilan berkomunikasi berawal dari melihat dan mendengar interaksi positif antara orangtua. Sewaktu anak mendengar orangtua berkomunikasi, tanpa harus berakhir dengan pertengkaran, anak pun terdorong untuk menyerap cara orangtua berkomunikasi. Sebaliknya, jika anak sering melihat dan mendengar orangtua mengakhiri komunikasi dengan perselisihan, anak pun niscaya menyimpulkan bahwa komunikasi bukanlah sesuatu yang baik dan menyenangkan sebab ujungnya adalah konflik.

Keterampilan berkomunikasi dipupuk oleh interaksi antara orangtua dan anak. Sewaktu orangtua berbicara kepada anak, maka anak pun belajar berespons dan dari interaksi seperti inilah anak belajar berkomunikasi. Sudah tentu makin positif pengalaman anak berkomunikasi dengan orangtua, makin bersemangat anak berkomunikasi dengan orangtua, dan akhirnya dengan orang lain pula. Sebaliknya, makin buruk pengalaman berkomunikasi dengan orangtua, misalkan dimarahi, dipersalahkan, anak pun makin enggan berkomunikasi dengan orangtua, dan akhirnya dengan orang lain pula.

Selain dari itu keterampilan berkomunikasi, tidak bisa tidak, dipelajari dari keterampilan orangtua berkomunikasi. Makin terampil dan sehat orangtua berkomunikasi, makin terampil dan sehat anak berkomunikasi. Sebaliknya, makin tidak terampil dan tidak sehat orangtua berkomunikasi, makin tidak terampil dan tidak sehat anak belajar berkomunikasi. Sebagai contoh, bila belum apa-apa orangtua sudah tinggi suara dan marah, anak pun cenderung meniru atau sebaliknya, anak mengembangkan kecemasan dalam berkomunikasi. Dan, ini akan menghalangi anak belajar berkomunikasi dengan baik.

Orangtua juga perlu menanamkan kenyamanan bersosialisasi atau bergaul dengan teman sebaya pada diri anak. Adalah keliru bila orangtua beranggapan bahwa pergaulan dengan teman sebaya adalah buang waktu belaka. Pergaulan adalah bagian yang penting dalam pertumbuhan anak sebab dari pergaulanlah anak belajar berelasi secara mendalam dan kompleks dengan sesama. Dan dari pergaulanlah anak pun belajar begitu banyak keterampilan sosial, seperti bernegosiasi, berdamai, bersikap tegas, berkompromi, menjaga pertemanan, serta mencairkan ketegangan.

Pada akhirnya makin anak menguasai keterampilan bergaul, makin nyaman ia bergaul dengan sesama. Dan, ini membuatnya makin bertumbuh secara utuh. Singkat kata, sosialisasi adalah bagian yang sangat penting di dalam perkembangan jiwa anak. Tanpa sosialisasi, anak kerap bingung dan merasa cemas sewaktu berhadapan dengan teman sebaya. Selain itu, anak pun cenderung menutup serta memisahkan diri dari sesama sehingga akhirnya realitasnya makin bertaut jauh dari realitas di luar dirinya. Dan ini ditampakkan lewat pemikiran dan tindakannya yang ‘nyeleneh’, alias aneh, tidak wajar.

Singkat kata, dari sosialisasi anak belajar mengembangkan dan memperdalam pertemanan, dan dari sinilah tumbuh keakraban. Dan, pada akhirnya keakraban pun bertumbuh menjadi keintiman, modal besar pernikahan. Itu sebab penting bagi orangtua untuk memberi ruang dan waktu yang cukup kepada anak untuk menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dan tidak mengurungnya di rumah atau membebaninya dengan begitu banyak tugas serta aktivitas sehingga tidak memunyai waktu atau energi untuk bergaul dengan teman di luar. Jadi, seimbangkanlah keduanya.

Firman Tuhan di Amsal 27:18 mengingatkan, "Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati." Ibarat pohon ara dan tuan, anak pun perlu dipelihara dan dijaga. Sudah tentu memelihara dan menjaga jauh lebih sukar dan meletihkan ketimbang membiarkan dan melepaskan anak, atau malah menguasainya dan mengekangnya. Namun, pada akhirnya anak yang dipelihara dengan baik dan dijaga dengan hati-hati akan bertumbuh menjadi pribadi yang sehat, yang akan membuahkan berkat, bukan saja bagi orangtua, tetapi juga bagi sesama.