Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereBlogs / admin's blog / Jangan Lanjutkan Pola Asuh Yang Salah

Jangan Lanjutkan Pola Asuh Yang Salah


By admin - Posted on 20 September 2010

Printer-friendly version

Oleh : Yusak Timothy, M.Th.

Marilah kita amati dan perhatikan, dalam tiga dasawarsa terakhir ini, hadir begitu banyak anak yang bermasalah ketika mereka tumbuh besar menjadi pemuda atau dewasa, ketika kita merunut kembali ke masa saat mereka masih kanak-kanak, hampir dapat dikatakan penyebab utama anak bermasalah adalah berawal pada orang tua yang menduplikasi pola asuh yang salah lalu menerapkan itu pada anak-anak mereka secara salah dan yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab tentunya.

Sebagai keluarga Kristen tidak sepatutnya menggunakan pola didik duniawi hingga meninggalkan kesan yang pahit bagi anak, bahkan menye-babkan anak membenci dan tidak menaruh respek pada orang tua yang menggunakan pola didik duniawi.

Bukankah raja Salomo berpesan dalam Amsalnya, boleh memukul anak namun jangan engkau menginginkan kematiannya atau menghindari ia dari kematian.

Amsal 23:13, "Janganlah tahankan pengajaran dari pada anakmu, jikalau engkau memukul akan dia, dengan rotan, maka tiada ia akan mati"

Amsal 23:14 "melainkan apabila engkau memukul akan dia, barangkali engkau melepaskan nyawanya dari pada neraka". (terjemahan lama dari Amsal 23:13-14)

"Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya". (Amsal 19:18).

Kematian tidak selalu memiliki arti menyebabkan anak mati secara fisik dan meninggalkan dunia ini, namun lebih mengarah pada arti kematian emosional, menyebabkan anak tidak mampu melakukan hal-hal yang seharusnya ia mampu melakukannya, bahkan kemampuan anak menjadi sangat terbatas di masa mudanya dan menyebabkan ia tak mampu menggapai cita-citanya sesuai yang ia impikan di masa kanak-kanak atau dengan lain perkataan, impian dan cita-citanya kandas, hanya karena ulah orang tua yang melakukan kekerasan emosional pada anak di masa kanak-kanak mereka yang tidak berdaya, baik dengan tindakan fisik terutama dengan kata-kata yang melecehkan kemampuan anak.

Walaupun dalam satu atau dua dasawarsa terakhir ini mulai ada beberapa gereja dan lembaga yang pimpinannya digerakkan untuk memerhatikan hal-hal tersebut dan memberikan pemulihan terhadap hal di atas, namun belum semua gereja terpanggil untuk melakukan pembenahan tersebut dalam arti untuk memberikan pemulihan pada keluarga yang bermasalah pada waktu yang sama.

Kita sering mendengar berita di televisi atau radio dan membaca di surat kabar atau tabloid yang menceritakan kasus seorang ayah atau ibu yang otoriter bersikap keras dan kejam. Orang tua yang melakukan tindak kekerasan memukuli atau menganiaya anaknya sehingga sekujur tubuhnya luka parah sehingga harus dirawat di Rumah Sakit. Dokter pun bahkan sulit menelusuri apakah cedera itu akibat dari kecelakaan atau penganiayaan/pukulan yang keras. Orang tua ini bahkan harus berurusan dengan polisi.

Ada pula seorang anak yang entah beberapa puluh tahun yang lalu pernah disakiti oleh orang tuanya, setelah ia menjadi dewasa ia merasa dendam lalu dengan parang ia membantai orang tuanya hingga menemui ajal mereka.

Seorang anak bernama David (nama samaran) semula hidup bahagia. Secara drastis kebahagiaan itu lenyap tanpa ada alasan yang cukup jelas dan dalam jangka waktu yang cukup panjang. David dianiaya dan mengalami penyiksaan dari ibunya. Ayahnya seakan tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Ini menyebabkan David benci kepada kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya laki-laki.

Setiap kali ibu menghantamku, rasanya seakan-akan ia sedang melampiaskan berangnya pada sebuah boneka rombeng. Di dalam, emosiku berpusat antara rasa takut dan rasa marah yang amat sangat. Di luar, aku adalah robot yang amat jarang mengungkapkan emosi kecuali kalau itu akan menyenangkan si perempuan jalang dan menguntungkan diriku Aku juga membenci Ayah. Ia tahu persis bahwa aku hidup dalam neraka, tetapi ia tak punya cukup keberanian untuk membebaskan aku dari neraka itu seperti yang berkali-kali ia janjikan pada tahun-tahun sebelumnya.1

Semua kejadian ini dilatar belakangi oleh berbagai penyebab. Bila orang tua pada masa kecilnya sering diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya, sering dipukuli, dimarahi dan dibesarkan dalam lingkungan yang tidak ada kasih, ketika dewasa menggunakan pola asuh yang sama. Apa yang dialaminya dari orang tuanya kembali diterapkan pada anaknya dan ternyata adalah pola asuh yang tidak benar. Selain hal tersebut di atas bisa juga orang tuanya sedang mengalami masalah lalu mendisiplin dan menghajar anak dengan luapan emosinya, bahkan mendisiplin anak dengan sikap yang salah dan bukan dengan sikap mendidik.

Ada pula orang tua yang melakukan kekerasan emosional pada anak, karena para orang tua yang pendidikannya tidak lebih tinggi dari para orang tua generasi berikutnya yang hidup di zaman modern ini, dari berbagai kesaksian yang ditayangkan di televisi tertentu, mereka menuturkan bahwa mereka memeroleh perlakuan kekerasan fisik juga kekerasan emosional.

Julianto Simanjuntak dalam wawancara dengan Tabloid Reformata mengatakan, banyak sistem keluarga bermasalah. Sistem pernikahan yang tidak berfungsi adalah persoalan utama yang dihadapi warga jemaat. Sepuluh tahun ke depan persoalan keluarga dan kesehatan mental akan meledak jumlahnya. Untuk mengantisipasi persoalan ini, saya setuju dengan Julianto Simanjuntak. Dia mengatakan, Indonesia membutuhkan konselor. Indonesia perlu psikiater dan psikolog. Ladang ini dibutuhkan orang banyak. Pemimpin dan aktifis gereja perlu dilatih konseling. Selain itu gereja perlu memberi dukungan kepada warga gereja untuk sekolah konseling atau menjadi psikolog.

Wahai para orang tua Kristen yang sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus, jangan lanjutkan pola asuh yang salah ke generasi berikutnya, berikanlah Kasih TUHAN yang tiada tara yang telah dianugerahkan pada para orang tua Kristen dan jadilah konselor yang baik bagi anak Anda. Amin.

  1. Dave Pelzer, Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002).
  2. Julianto Simanjuntak, Wawancara dengan Reformata, 02 September 2010
Blog yang bagus. Terima kasih sudah menulis.
Terima kasih. Gbu