Skip to main content

Penderitaan dan Kesehatan Jiwa dan Rohani

Umur penderitaan sama tuanya dengan umur manusia di bumi. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa dan dihalau keluar dari Taman Firdaus, penderitaan telah datang dan terus bertahan sampai hari ini. Pada kesempatan ini kita akan melihat hubungan antara penderitaan dan kesehatan jiwa dan rohani, bukan untuk menghilangkannya melainkan untuk memahaminya. Satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa penderitaan bukanlah gejala atau tanda ketidaksehatan jiwa dan rohani. Adakalanya kita beranggapan bahwa jiwa dan roh yang sehat adalah jiwa dan roh yang bebas dari penderitaan. Kita berpendapat bahwa bila kita memunyai jiwa dan roh yang sehat maka kita akan senantiasa mampu menghadapi apa pun sehingga apa pun tidak akan membuat kita menderita. Pandangan ini keliru.

Walau ketidaksehatan jiwa dan rohani dapat menambah penderitaan, penderitaan itu sendiri bukan gejala atau tanda ketidaksehatan jiwa dan rohani. Ya, ketidaksehatan jiwa seperti berpikir negatif dan pola pikir "dunia pasti kiamat -- sudah tentu dapat memerburuk penderitaan, tetapi penderitaan itu sendiri bukanlah gejala atau tanda ketidaksehatan jiwa. Penderitaan adalah reaksi alamiah dan manusiawi menghadapi tekanan berat yang menindih kita, baik secara jiwani maupun rohani. Penderitaan adalah teriakan sakit dan tersiksanya kita. Kadang sebagai orang Kristen kita berpendapat bahwa seharusnya kita sanggup mengatasi segala permasalahan dalam hidup. Biasanya kita mendasari pandangan ini atas Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.- Berlandaskan ayat ini kita menyimpulkan bahwa seberat dan sesulit apa pun beban yang mesti kita hadapi, seyogianya kita tidak menderita sebab kekuatan Tuhan ada dan tersedia buat kita. Pertanyaannya adalah, bila pandangan ini benar, mengapakah Paulus, yang juga menulis Surat Filipi, berkata demikian di 2 Korintus 1:8, "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.- Bahkan, Paulus mengakui pada ayat berikutnya, begitu putus asanya sehingga dia merasa seakan-akan dia telah dijatuhi hukuman mati. Dengan kata lain, begitu berat dan besarnya penderitaan yang dialaminya sehingga dia merasa dia hampir mati.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa meski dia telah menerima kekuatan dari Kristus, Paulus tetap menderita. Kekuatan yang diberikan oleh Tuhan tidak membuatnya kebal terhadap tekanan hidup; dia terpengaruh dan bahkan terluka parah seperti hampir mati. Sekarang barulah dapat kita pahami maksud perkataannya di Filipi 4:13. Kenyataan bahwa kita dapat menanggung segala perkara atau persoalan hidup tidak berarti bahwa kita terlepas dari penderitaan menanggungnya. Kekuatan Tuhan memberi kita kesanggupan untuk menjalani penderitaan, bukan membebaskan kita dari penderitaan.

Jadi, bila kita menderita, ini bukanlah pertanda ketidaksehatan jiwa dan rohani. Jiwa yang sehat bukan berarti jiwa yang tidak dapat terluka dan roh yang sehat tidak berarti tidak akan pernah merasa letih dan jauh dari Tuhan. Kekuatan Tuhan di dalam Kristus memampukan kita menanggung penderitaan, bukan meringankan apalagi menghilangkannya. Jadi, terimalah penderitaan apa adanya—sebagai reaksi sakit dan terluka akibat beban besar dan berat.

Pertanyaan berikutnya adalah, apabila penderitaan bukanlah gejala atau tanda ketidaksehatan jiwa dan rohani, maka apakah fungsi atau sumbangsih penderitaan terhadap kesehatan jiwa dan rohani? Sudah tentu penderitaan dapat berpengaruh negatif atau buruk terhadap kesehatan jiwa dan rohani. Tidak bisa disangkal beban yang begitu besar dan berat dapat mematahkan tiang penyanggah jiwa dan membuat kita kehilangan fungsi rasional atau kewarasan. Kadang begitu terganggunya sehingga kita mengalami depresi berat dan kehilangan minat hidup, bahkan tergoda untuk mengakhiri hidup. Kita merasa terlalu letih. Adakalanya begitu berat dan besar beban yang ditanggung membuat kita merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dan tidak lagi peduli dengan kita. Dan ini membuat kita kecewa, bahkan marah, terhadap Tuhan; tidak jarang, ada yang akhirnya meninggalkan Tuhan. Dari sini dapat kita lihat bahwa penderitaan berpotensi merobek kesehatan jiwa dan rohani. Namun tidak mesti demikian; penderitaan juga dapat memberi sumbangsih positif terhadap kesehatan jiwa dan rohani. Tidak bisa disangkal bahwa penderitaan dapat memertebal daya tahan menghadapi rasa sakit dan menambah hikmat menghadapi persoalan hidup. Juga, penderitaan berpotensi memerkokoh tiang penyanggah jiwa, membuat kita lebih tahan dan kuat menghadapi badai kehidupan. Kita tidak lagi mudah cemas dan putus asa. Penderitaan juga dapat memerdalam iman kita pada Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh Paulus di 2 Korintus 1:9, "Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.- Sewaktu kita berserah dan bersandar di dalam ketidakberdayaan, kita pun dibawa naik ke tahapan iman yang lebih kokoh. Kita tidak lagi bergantung pada kemampuan sendiri; kita bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Ibarat palu dan pengikis di tangan pemahat, demikianlah penderitaan di tangan Tuhan—membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Yesus, Putra Tunggal Allah. Jadi, dalam menghadapi persoalan hidup, terimalah penderitaan sebagai reaksi yang wajar, bukan sebagai kesalahan yang tidak semestinya terjadi. Penderitaan adalah kemanusiaan, bukan kesalahan. Tidak perlu kita menghukum diri karena menderita. Kedua, dalam menghadapi persoalan hidup, bersabarlah. Kunci kekuatan dalam penderitaan bukanlah mencari solusi melainkan bertahan dan untuk itu kita perlu bersabar. Banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan, jadi, jangan tergesa mencari jalan keluar. Bersabarlah, dengan kata lain, tunggulah. Kita menunggu karena percaya bahwa Tuhan bersama kita dan Dia berada di dalam persoalan yang kita hadapi. Lebih tepatnya, segala persoalan berada di dalam kendali dan rencana-Nya. Di Roma 5:5 Paulus menegaskan, "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.- Kita dikasihi Tuhan; inilah dasar pengharapan.

Ringkasan T592B
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai "MASALAH HIDUP -- lainnya
di www.telaga.org

TELAGA MENJAWAB

PERTANYAAN :

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

  1. Pada awal tahun 2017, saya menyerahkan hidup saya untuk melayani Tuhan dengan mengikuti kegiatan di gereja dan masuk kedalam pelayanan pemuda wilayah saya, tetapi didalam perjalanannya saya mengalami kegagalan, misalnya kesibukan kuliah, molornya waktu kegiatan, kondisi kesehatan, anggota pelayanan atau jemaat yang datang sedikit dan masih banyak hal lagi yang sulit saya sebutkan. Bagaimana cara yang harus saya lakukan untuk dapat turut terlibat lagi dalam pelayanan yang ada?
  2. Saya sempat menjadi Badan Pengurus Pemuda Wilayah, awalnya Badan Pemuda Wilayah yang kami bentuk berjalan sangat baik, banyak yang hadir, tetapi lama-kelamaan entah mengapa tidak banyak lagi yang hadir. Ketua Pemuda kami mengalami masalah yang sulit ia hadapi, kami juga kehilangan sosok senior dalam pemuda yang bisa menjadi mentor dan pembimbing kami, sehingga kegiatan ibadah kami vakum selama beberapa bulan. Adapun teman-teman kami sulit untuk diajak bergabung, sehingga pemuda di wilayah kami betul-betul pasif dalam pelayanan, padahal di wilayah kami banyak potensi anak, pemuda dan orang tua dan menjadi wilayah yang cukup diperhitungkan pelayan di gereja kami dalam hal pengkaderan dan potensi jemaatnya. Yang ingin saya tanyakan, apa yang harus kami persiapkan selama kegiatan ibadah pemuda kami yang vakum agar periode berikut dapat dijalankan lagi kegiatan ibadahnya dan bagaimana cara kami untuk membangun serta memertahankan kegiatan ibadah jika sudah aktif kembali dan bagaimana cara yang harus kami lakukan untuk menarik lagi teman-teman kami yang tidak aktif lagi?
  3. Saya terkadang iri dengan teman-teman pemuda di wilayah lain, mereka dapat aktif dalam pelayanan di gereja dan di wilayah mereka, sedangkan saya dan teman-teman pemuda di wilayah saya begitu pasif, sehingga saya selalu bertanya-tanya mengapa TUHAN tidak memanggil kami untuk aktif di dalamnya. Saya sering mendapati bahwa mereka yang sering terlibat dalam pekerjaan TUHAN tidak dapat menunjukkan pikiran, perkataan dan perbuatan mereka tidak menunjukkan sifat KRISTUS, sehingga saya meremehkan mereka dan menganggap bahwa walaupun tidak terlibat pelayanan, saya harus bisa menunjukkan sifat dan ciri Kristus semampunya saya dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Saya menganggap bahwa TUHAN berkenan kepada orang seperti saya dibandingkan mereka dan saya sering menganggap bahwa mereka masuk kedalam pelayanan hanya agar ingin dikenal dan berpengaruh di gereja. Apakah semua pendapat dan anggapan saya benar? Bagaimana cara saya untuk bisa menyiapkan diri lagi sebelum TUHAN memanggil saya dalam pelayanan-Nya? Apakah yang harus saya lakukan agar sekalipun belum dapat melayani di gereja, saya dapat melayani orang lain dan memuliakan TUHAN? Apabila saya sudah terlibat dalam pelayanan, apa yang harus saya lakukan agar tetap konsisten melayani?

Terima kasih, mohon dijawab.

Salam: D.R.

JAWABAN :

Terima kasih Saudara D.R. atas pertanyaan-pertanyaannya, maaf baru sempat membalas.

Kami mengapresiasi dedikasi, pelayanan dan perhatian Saudara dalam pelayanan pemuda wilayah Saudara. Ketika di dalam perjalanannya Saudara ternyata mengalami beberapa kesulitan dengan hasil yang tidak sesuai dengan harapan, Saudara tampaknya mulai merasa letih, kecewa dan frustrasi dengan situasi ini. Namun kenyataan Saudara mengirimkan surat untuk menanyakan pergumulan ini, menunjukkan Saudara memiliki kepedulian dan perhatian pada gereja dan pelayanan pemuda di wilayah Saudara.

Dari penuturan Saudara, kami melihat ada dua kategori masalah besar yang terjadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan keadaan pribadi Saudara sebagai dampak dari pelayanan ini (baik secara langsung dan tidak langsung) dan masalah-masalah yang terjadi di dalam pelayanan itu sendiri. Berkaitan dengan masalah-masalah berkenaan pribadi Saudara, tampaknya Saudara perlu membuat perencanaan yang lebih dini, rapi dan teratur untuk pribadi Saudara. Menggunakan agenda atau ‘planner’ adalah salah satu hal praktis yang menolong. Saudara perlu menentukan skala prioritas antara penyelesaian tugas kuliah dan tugas pelayanan. Saudara juga perlu memerhatikan keseimbangan hidup supaya tidak mengorbankan kesehatan Saudara. Jika dikaitkan dengan pelayanan, hal yang perlu Saudara perhatikan adalah kesesuaian jadwal tanggungjawab tugas kuliah Saudara dengan jadwal kegiatan/pelayanan di gereja. Jangan sampai jadwal-jadwal tersebut saling tumpang tindih atau melebihi bobot kapasitas kemampuan Saudara menanggung beban.

Hal kedua yang kami amati dalam pergumulan diri Saudara (mohon maaf sebelumnya) yaitu tampaknya ada benih-benih tinggi hati yang mulai mengintip di pintu hati Saudara. Hal ini terlihat dari pengakuan Saudara bahwa Saudara sempat meremehkan mereka yang terlibat pelayanan namun pikiran, perkataan dan perbuatannya tidak menunjukkan sifat Kristus dan Saudara merasa diri Saudara lebih diperkenan Tuhan dibandingkan mereka. Sejujurnya kami sangat menghargai kejujuran dan keterbukaan Saudara mengungkapkan hal ini, namun dengan sangat berat hati kami harus mengoreksi sikap hati Saudara di sini. Sesungguhnya tidak ada seorang pun manusia yang berkenan di hadapan Tuhan, karena kita semua adalah manusia berdosa. Kalau kita boleh melayani Tuhan, itu semata-mata adalah anugerah Tuhan, bukan karena kebaikan atau kelayakan diri kita. Rekan-rekan Saudara memiliki kelemahan, kami memiliki kelemahan dan Saudara pun tentu memiliki kelemahan. Kita semua membutuhkan anugerah Tuhan yang melayakkan dan memerkenan kita untuk hidup bagi-Nya. Dengan kesadaran seperti ini, kita perlu senantiasa belajar rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama.

Kategori masalah kedua adalah berkaitan dengan pelayanan itu sendiri. Kami turut prihatin dan bersimpati dengan kondisi pelayanan kaum muda di wilayah Saudara yang mengalami banyak kesulitan. Dalam masa vakum seperti ini, hal yang tidak boleh berhenti dilakukan adalah terus berdoa memohon pimpinan pertolongan Tuhan. Bersamaan dengan itu, perlu dilakukan pendekatan pribadi-pribadi dan dikumpulkan kembali kader-kader atau figur-figur yang masih memiliki beban untuk mengaktifkan kembali pelayanan ini. Jika memungkinkan, tampaknya akan cukup baik jika ada saudara-saudara dari jemaat dewasa atau wilayah lain yang juga bersedia membantu. Jika sudah terkumpul sekelompok orang yang berkomitmen memulai kembali pelayanan ini, orang-orang ini perlu belajar berkomitmen dalam satu jangka waktu yang pasti, misalnya 1 – 2 tahun pelayanan. Artinya, selama masa komitmen tersebut, semuanya akan berusaha sungguh-sungguh untuk tetap melayani dan mengembangkan pelayanan ini, seberapa pun yang hadir, atau sesulit apa pun tantangan yang dihadapi.

Yang perlu Saudara dan rekan-rekan perhatikan dan persiapkan secara pribadi adalah kehidupan spiritualitas yang baik dan keseimbangan hidup yang sehat. Saudara perlu terus hidup berelasi dan bergaul karib dengan Tuhan. Ketika spiritualitas dan keseimbangan ini sudah terwujud, Saudara dapat tetap terus melayani seoptimal Saudara. Saudara dapat memulai dengan memberikan teladan tidak terlambat, disiplin dan sungguh-sungguh dalam melayani. Mengenai hasil pelayanan, apabila Saudara dan rekan-rekan sudah berupaya maksimal dan optimal, apa pun hasilnya (misalnya jemaat yang hadir masih juga sedikit), Saudara jangan berkecil hati. Tetap belajar menerima dengan ucapan syukur karena bagian kita hanya menanam dan menyiram, sedangkan pertumbuhan itu dalah bagian Tuhan, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Korintus 3:7, "Karena yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan-.

Tuhan Yesus memberkati !!

Salam: Hendra

 

MEMELUK YANG TERTOLAK

Belajar dari Kisah Punch

Oleh: Ev. Deby Johannis, S.Kom., M.Div. *)

Beberapa waktu ini netizen di media sosial dibuat tersentuh dengan kisah Punch, seekor bayi monyet Jepang (Macaca fuscata) berusia tujuh bulan. Punch adalah salah satu primata penghuni Kebun Binatang Ichikawa, Jepang, yang lahir pada 26 Juli 2025. Sesaat setelah lahir, dia ditolak oleh induknya hingga ditemukan telantar. Menyadari kondisi Punch, pihak kebun binatang kemudian melakukan berbagai cara, termasuk memberikan boneka orang utan berwarna oranye agar dia tetap merasakan kehangatan "induknya -- dan bertahan hidup. Kehadiran boneka ini akhirnya benar-benar menjadi "ibu pengganti -- yang setia dibawa Punch ke mana-mana, bahkan saat dia ditolak oleh kawanannya. Video Punch yang beredar di media sosial mendatangkan belas kasihan dari banyak orang, bahkan para penggemarnya meluncurkan tagar #Hang In There Punch.

Kisah bayi Punch di atas dapat menjadi cermin tentang realita penolakan yang tidak hanya terjadi di dunia hewan, tetapi juga dalam kehidupan manusia. Seperti halnya Punch, seorang anak manusia pun sesungguhnya membutuhkan pelukan kasih yang hangat serta penerimaan dari orang lain, terutama dari orang tua untuk dapat bertahan hidup. Namun realita masa kini justru menunjukkan banyak anak mengalami penolakan dari orang tua dan lingkungannya. Penolakan tersebut terwujud lewat penelantaran (fisik, emosional, pendidikan/medis) maupun perilaku kekerasan (fisik, emosional dan seksual). Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, terdapat sekitar 33.400 anak (usia 6-18 tahun) telantar di Indonesia. Survei lain, yakni Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 menunjukkan 1 dari 2 anak usia 13-17 tahun pernah mengalami setidaknya satu kekerasan sepanjang hidupnya.

Dampak dari penolakan sangat serius bagi perkembangan anak. Psikolog Jerman, Erik Erikson yang menelurkan teori perkembangan psikososial berpendapat bahwa selama masa bayi (0-18 bulan), anak-anak sepenuhnya bergantung pada pengasuh utama untuk mendapatkan dukungan. Jika kebutuhan mereka (makanan, rasa nyaman, kasih sayang) terpenuhi dengan baik, maka bayi akan mengembangkan rasa percaya bahwa dunia ini aman baginya. Namun bila itu tidak terpenuhi, maka bayi akan mengembangkan ketidakpercayaan yang menghasilkan kecemasan.

Masih terkait rasa aman, teori kelekatan John Bowlby menjelaskan bahwa bayi yang memiliki kelekatan yang aman (secure attachment) dengan pengasuh utama dalam 6 bulan pertama kehidupannya akan mampu berkembang secara sosial-emosional, percaya diri dan punya rasa aman untuk berelasi dengan orang lain. Namun bila secure attachment tidak terjadi, maka bayi akan tumbuh dengan insecure attachment yang mengakibatkan dia memiliki kecemasan tinggi, sulit percaya pada orang lain, emosi yang tidak stabil dan rendah diri. Dampak serius jangka panjang, bayi itu kemungkinan besar akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan menjalin hubungan sosial/asmara serta berpotensi menghindar atau agresif dalam relasi.

Dari sudut pandang iman Kristen, topik tentang penolakan yang dialami oleh anak-anak tidak secara gamblang dibahas. Namun ada teks-teks di mana kita dapat menyimpulkan bagaimana Allah peduli kepada mereka yang tertolak. Dalam Mazmur 27:10 (TB2) misalnya. Di sana dituliskan, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.- Selain itu, melalui Injil Matius 19:14, kita juga dapat membaca penerimaan Tuhan Yesus terhadap anak-anak. Di ayat itu tertulis bagaimana Ia menegur murid-murid yang menolak dan memarahi para orang tua saat mereka ingin membawa anak-anak kepada-Nya. Dia berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, jangan halang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti inilah yang empunya Kerajaan Sorga- (TB2). Meski budaya saat itu menganggap anak-anak sebagai warga kesekian yang bisa diremehkan, tetapi bagi Yesus, anak-anak juga adalah orang-orang yang layak berada di dekat-Nya, merasakan pelukan kasih-Nya, mendapatkan doa dan berkat-Nya.

Jika ilmu psikologi dan kekristenan sama-sama mendorong pentingnya penerimaan penuh kasih kepada anak-anak, lalu bagaimana kita dapat memberikan pelukan hangat dan penerimaan tanpa syarat bagi anak-anak yang mengalami penolakan? Saya mengusulkan beberapa hal:

  1. Izinkan mereka menghadapi penolakan. Dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, penolakan adalah realita yang tidak terhindarkan. Menolong anak-anak menerima dan berproses melalui pengalaman penolakan adalah hal yang sehat dan realistis. Namun kita perlu ingat bahwa mengizinkan di sini tidak berarti menyetujui penolakan. Bagaimana pun penolakan tetap adalah hal yang menyakitkan, terlebih bagi anak-anak.
  2. Bantu mereka meregulasi emosi dengan cara bertanya akan perasaan mereka ketika mengalami penolakan, mendengarkan dengan penuh empati, beri validasi atas perasaan mereka dan dorong mereka untuk menemukan pengharapan serta solusi yang sehat agar tidak putus asa. Kehadiran orang dewasa yang memeluk dengan kasih Yesus akan menghangatkan hati anak-anak yang tertolak.
  3. Jika memungkinkan, bangunlah komunikasi dengan orang tua atau wali anak yang lain sehingga mereka dapat mengerti dan melakukan solusi-solusi yang diperlukan sehingga anak yang merasa tertolak mengalami pemulihan.
  4. Jika kita sendiri adalah anak yang pernah mengalami penolakan di masa lalu, maka baik sekali untuk kita menjalani terapi konseling demi memproses luka, kemudian belajar menerima dan mengasihi si kecil dalam diri kita sehingga lebih sehat ke depannya.

Memeluk anak-anak yang tertolak oleh orang tua atau pun oleh lingkungannya dengan kasih dan penerimaan tanpa syarat akan mengobati luka atau trauma dan menolong mereka tumbuh dengan gambar diri yang lebih sehat. Harapannya suatu saat kelak mereka dapat menjadi the wounded healers yang juga menyembuhkan orang lain yang tertolak.

By the way, Punch, si bayi monyet yang sempat mengalami penolakan dari induk dan kawanannya, menurut berita terkini, telah mulai diterima oleh kawanannya. Meski terkadang masih memegang boneka oranye kesayangannya, Punch kini bisa beradaptasi dengan baik, mulai bermain dengan teman-temannya dan mendapatkan grooming dari monyet lain di kelompoknya. Yeayy... You are doing well, Punch.

"No matter how hard you try, people will reject you. But Jesus won’t.-

Rick Warren Daily Devotional

*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang berdomisili di Surabaya

POKOK DOA

(Maret 2026)

Tiga bulan pertama di tahun 2026 telah kita lewati. Permasalahan silih berganti yang kita alami, dampak dari peperangan yang terjadi di Timur Tengah, namun penyertaan TUHAN nyata dan tidak dapat kita ingkari. Beberapa pokok doa syukur dan permohonan adalah sebagai berikut :

  1. Bersyukur ada 4 radio yang telah dikirimi rekaman Telaga pada tahun 2025, yaitu T605A+B dan T606A+B.
  2. Bersyukur pada hari Kamis, 12 Maret 2026 telah diadakan rekaman pertama dalam tahun ini dengan Pdt. Dr. Paul Gunadi sebagai narasumber.
  3. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  4. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri agar dapat bekerjasama dengan baik.
  5. Bersyukur untuk pimpinan dan pertolongan Tuhan bagi pelayanan di Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo.
  6. Doakan untuk setiap klien yang Tuhan kirimkan, agar Tuhan menolong dan memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang dihadapi.
  7. Doakan untuk setiap konselor yang melayani di Telaga Kehidupan, kiranya Tuhan memberikan hikmat dan pimpinan-Nya dalam melayani.
  8. Doakan juga untuk kesatuan hati dalam tim pelayanan Telaga Kehidupan.
  9. Perjalanan Telaga Pengharapan di Jember telah memasuki tahun ke-4, sebuah perjalanan yang tidak terasa namun penuh dengan penyertaan Tuhan. Saat ini kami juga menyadari bahwa masa kontrak rumah Telaga Pengharapan akan berakhir pada tanggal 15 November 2026. Dengan penuh iman kami berdoa kiranya Tuhan Yesus mencukupkan setiap kebutuhan, baik untuk sewa rumah maupun untuk keberlangsungan operasional pelayanan ini.
  10. Doakan untuk Telaga Pengharapan yang mendapat kesempatan untuk melayani Komisi Remaja GWC GKT Jember dengan tema "Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu -- pada tanggal 11 April 2026. Kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada Ev. Sri Wahyuni dalam memersiapkan Firman Tuhan untuk melayani remaja GWC.

JUDUL – JUDUL REKAMAN TELAGA SEPUTAR MASALAH HIDUP

T 073 Sikap Mengalah di Tengah Dunia Yang Mementingkan Kemenangan / Sikap Lemah dan Pasif di Dalam Kekristenan
T 206 Pertolongan Bagi Korban Bencana/ Bimbingan Rohani bagi Korban Bencana
T 308 Hidup yang Dikuasai Nafsu (I + II)
T 401 Pencobaan di Tengah Kejayaan / Menghadapi Krisis
T 484 Memahami dan Mencegah Pemerkosaan / Pemulihan Korban Pemerkosaan
T 508 Apa yang Tuhan lakukan Tatkala Hal Buruk Menimpa Orang Baik? / Sewaktu yang Diharapkan Mengecewakan
T 570 Dimanakah Tuhan Ketika Penderitaan Terjadi/ Mengalami Tuhan di Tengah Penderitaan

Maret
Jenis Bahan