Ambarawa - Suara Kasih 107,7 MHz FM      Ba'a Rote - Swara Malole 106,7 MHz FM      Bajawa Flores - Pemulihan Kasih 96,5 MHz FM      Bandung - Maestro 92,5 MHz FM      Batam - Gema Bentara 107,00 MHz FM      Batu - Mensana 102,5 MHz FM      Blitar - Harmoni 107 MHz FM      Blora - Sion 107,7 MHz FM      Cirebon - Suara Gratia 95,9 MHz FM      Gianyar - Bali - Heartline 101,95 MHz FM      Jayapura Papua - Swaranusa Bahagia 1170 KHz AM      Jepara - Muria 107,9 MHz FM      Kediri - Syalom 107,2 MHz FM      Kertosono - Romansa 103,8 MHz FM      Kuala Kapuas - Bahtera Hayat 104 MHz FM      Kupang - Lizbeth 98,4 MHz FM      Kuta - Bali - Triatma 107.7 MHz FM      Lampung - Heartline 92,15 MHz FM      Madiun - Sahabat Kehidupan 107,6 MHz FM       Makassar Sulsel - Cristy 828 KHz FM      Malang - Solagracia 97,2 MHz FM       Mamase-Sulbar - Christy Mamase 90 KHz FM      Manado Sulut - Sumber Kasih 90,2 MHz FM      Manokwari Papua - Swara Kemenangan 101,0 MHz FM      Palangkaraya - Dian Mandiri Barigas 94,3 MHz FM      Palu - Madah Arta Swarga MARS 95,9 MHz FM      Pandaan - STAR 105,50 MHz FM      Pati - Philia 93,95 MHz FM      Samarinda - Heartline 98,8 MHz FM      Sangihe - Swara Kasih 1494 KHz AM      Semarang - Agape 107,5 MHz FM      Semarang - Keryxon 107,6 MHz FM      Sleman Yogya - Petra 105,7 MHz FM      Surabaya - Antariksa 774 KHz AM      Surakarta - Immanuel 91,30 MHz FM      Tarutung Sumut - Bonapit 90,1 MHz FM      Tasikmalaya - Nafiri 96,2 MHz FM FM      Temanggung - Shofar 107,7 MHz FM      Tentena - Langgadopi 101,2 MHz FM      Tobelo - Syallom 90,2 MHz      Tomohon - Kabar Baik 100,0 MHz      Tulungagung - Rajawali 99,8 MHz      Waingapu NTT - MAX 96,9 MHz FM      Waingapu NTT - Suara Pengharapan 90,30 MHz FM      Wamena Papua - Swara Lembah Baliem 1062 KHz AM     
TELAGA
Home | Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Berita TELAGA | Informasi Konseling & Radio | Order




Indeks Lengkap
Indeks Singkat
Artikel
Resensi Buku
Info Buku
Formulir Test
Pesan Kaset/CD
Mitra TELAGA

 Kategori Audio

 Orangtua-Anak
 Remaja/Pemuda
 Dewasa
 Suami-Istri
 Keluarga
 Pranikah/Pernikahan
 Perceraian/Perselingkuhan
 Pendidikan
 Karier/Pekerjaan
 Karakter/Kepribadian
 Pelayanan/Gereja
 Masalah Hidup
 Pengembangan Diri




Kembali Ringkasan | MP3

Membangun Konsep Diri Anak
Nomor Kaset : T173B

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Membangun Konsep Diri Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita berbicara tentang konsep diri secara umum dan dampak-dampaknya. Sekarang kita akan mencoba memfokuskan perhatian kita pada bagaimana membangun konsep diri anak. Nah di dalam hal ini apakah seorang anak membutuhkan konsep diri?

HE : Setiap anak mempunyai konsep diri, yang perlu kita lakukan adalah membangunnya sehingga konsep diri ini bisa terbangun dengan baik dan positif.

GS : Seperti apa yang baik dan positif itu?

HE : Ada beberapa ciri yang bisa kita lihat dan bisa kita kelompokkan ke dalam dua hal, yaitu yang pertama anak yang baik dan sehat, konsep dirinya biasanya ditunjukkan dalam tingkah lakunya yang relatif bebas dan gembira. Mereka merasa bebas dari rasa takut berlebihan atau perasaan sedih terus-menerus dan mereka juga relatif mudah mengendalikan kemarahan. Mereka mudah menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya dan dapat mengkomunikasikan diri dengan jelas. Mereka lebih disukai di dalam pergaulan, karena mereka tampil menyenangkan, mereka suka menolong dan lebih menyukai persahabatan.

ET : Jadi konsep diri dapat membuat anak tampil dengan lebih menyenangkan, apakah Pak Heman dapat menjelaskan hubungannya dari konsep diri yang sehat dan membuat anak lebih disukai?

HE : Biasanya anak yang sehat akan melihat dirinya secara positif, karena anak menilai dirinya pantas untuk dikasihi dan mendapat perhatian. Jadi dia tidak perlu bertingkah laku aneh atau membuat masalah untuk menarik perhatian orang lain. Karena mereka memandang diri positif, pada umumnya mereka juga memandang orang lain secara positif juga, sehingga mereka tidak perlu memusuhi, menyerang orang lain atau sebaliknya menarik diri dari orang lain. Sebaliknya anak yang memiliki konsep diri yang sehat juga banyak terdorong untuk memperhatikan dan menolong orang lain karena mereka merasa gembira dan menganggap diri mereka cukup beruntung.

GS : Dalam hal ini apakah anak tersebut yang mempunyai konsep diri yang begitu baik tidak kemudian menjauhkan diri dari teman-temannya yang lain yang dianggapnya tidak seperti dia?

HE : Kalau konsep diri mereka ini sehat dan baik, mereka justru suka dengan pergaulan, mereka senang memperhatikan orang lain. Karena fokus mereka bukan lagi pada dirinya dan merasa bahwa dirinya kurang dibandingkan dengan orang lain, jadi fokusnya lebih ke arah luar.

GS : Nah tentu semua orangtua berkeinginan mempunyai anak yang mempunyai konsep diri yang baik dan sehat, tetapi bagaimana atau apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membangun konsep diri seperti itu?

HE : Ada beberapa hal yang orangtua perlu perhatikan, yaitu yang pertama orangtua perlu menyatakan kasih dan perhatian yang cukup kepada anak. Kalau orangtua bisa menyatakan kasih, orangtua akan memperlihatkan bahwa anak ini memang layak untuk dikasihi dan ini membuat anak mempunyai konsep diri bahwa saya ini memang anak yang pantas untuk dikasihi. Dan hal yang kedua adalah kehadiran orangtua perlu cukup, di samping kehadiran orangtua juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Kehadiran dan komunikasi orangtua ini berfungsi untuk mengisi hidup anak sehingga anak merasa hidupnya terisi jadi tidak merasa hidupnya kosong. Anak juga memerlukan nasihat, arahan, dari orangtua sehingga mereka juga mengetahui siapa mereka sesungguhnya.

ET : Tampaknya kehadiran ini yang mungkin kurang disadari bahwa itu memang berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri anak?

HE : Ya betul, padahal ini penting, karena anak membentuk identitas dirinya jadi tahu mereka itu siapa berdasarkan identitas orangtuanya. Sering kali kalau kita bertanya kepada anak, maka anak akan mengatakan, "Saya anaknya........."(dia sebut nama papanya atau sebut nama mamanya) dan anak laki-laki biasanya suka kalau dikatakan dia mirip dengan papanya atau kalau anak perempuan mirip dengan mamanya. Karena ini memang dasar-dasar pembentukan konsep diri yang paling awal.

ET : Padahal sekarang kalau saya bayangkan khususnya di kota-kota besar orangtua yang dua-duanya sibuk kerja, tidak terlalu hadir dalam kehidupan anak. Mungkin cukup banyak juga yang tergantikan oleh televisi atau media-media yang ada.

HE : Ya, dan ini saya kira kita perlu khawatirkan.

GS : Apakah ada dampak buruk yang langsung nyata Pak?

HE : Misalnya yang langsung terlihat adalah kehilangan arah, dan kalau anak kehilangan arah kemudian dia tidak mempunyai konsep diri yang sehat, dia akan lebih mudah untuk dipengaruhi. Kalau pengaruh ini positif tidak apa-apa, tetapi kalau pengaruh ini dari teman-teman yang lebih nakal, anak-anak seperti ini mudah sekali menyimpang.

ET : Dan mungkin juga akhirnya gambaran diri itu lebih ingin seperti tokoh-tokoh yang ada di media-media itu. Bahwa orang yang cantik itu mungkin harus rambutnya panjang, rambutnya hitam, wajah seperti apa, penampilan seperti apa dan itu yang mempengaruhi mereka, Pak Heman?

HE : Betul, tepat sekali apalagi kalau misalnya anak laki-laki sering menonton film kekerasan, dan dia anggap itu jagoan dan dia mengidentifikasikan dirinya dengan jagoan itu, mungkin saja anak-anak ini menjadi agresif sekali.

GS : Selain kedua hal tadi Pak Heman, apakah ada hal lain atau faktor lain yang bisa mempengaruhi terbentuknya konsep diri pada anak?

HE : Hal lain yang juga penting adalah kalau kita ingin terbentuknya konsep diri yang positif, perlu orangtua menghargai anak-anaknya. Jadi anak memerlukan pujian serta pengukuhan atas apa yang baik yang telah mereka lakukan. Kalau misalnya orangtua tidak berkomentar waktu anak bertingkah laku baik, tetapi begitu mereka melakukan kesalahan orangtua mencela dan memarahi mereka, anak akan terus-menerus merasa mereka penuh kekurangan dan tidak layak. Konsep diri mereka menjadi buruk, dengan demikian mereka kadang-kadang harus berjuang seumur hidup hanya untuk membuktikan bahwa diri mereka cukup berharga.

ET : Saya menjadi ingat juga dengan teman-teman yang pada masa kecilnya pernah mendapatkan panggilan-panggilan tertentu sesuai dengan kondisi tubuhnya. Mungkin waktu kecilnya gendut, sampai dewasa walaupun sekarang kurus tetapi tetap dengan panggilan gendut. Nah hal-hal seperti itu apakah termasuk dalam penghargaan juga Pak Heman?

HE : Harusnya misalnya anak yang gendut dan sebagainya jangan diejek atau dicemooh, karena itu bisa menimbulkan suatu gambaran buruk di dalam konsep diri mereka. Kita mengarahkan ke hal-hal yang positif dan terutama adalah kita mengarahkan kepada sifat-sifat atau karakter baik mereka.

GS : Bagaimana dengan faktor keluarga, apakah keharmonisan keluarga atau sebaliknya ketidakharmonisan keluarga itu akan membentuk konsep diri anak, Pak?

HE : Ini tepat sekali bahwa keharmonisan keluarga cukup banyak mempengaruhi konsep diri anak. Kalau orangtua sering bertengkar dan rumah tangganya bermasalah, itu akan membuat anak merasa bahwa kehadiran merekalah yang membuat orangtuanya tidak harmonis. Memang ini tampaknya tidak logis, tapi sering kali ini yang diyakini anak. Jadi mereka sering merasa buruk meskipun sebetulnya pertengkaran orangtua bukan disebabkan oleh anak-anak dan di dalam beberapa keluarga anak-anak ini yang menjadi korban atau kambing hitam. Sebaliknya orangtua yang harmonis membuat anak merasa bangga dengan keluarga mereka. Dan keluarga mereka bisa menjadi sumber identitas diri mereka yang kokoh.

ET : Tadi Pak Heman menyebutkan tentang kasih, penghargaan, orangtua yang harmonis sebagai dasar untuk membangun konsep diri yang baik. Tapi kenyataannya anak-anak ini dengan sifat keberdosaan yang ada kadang-kadang juga memang butuh ditegur, dimarahi atau dihukum. Dalam hal ini bagaimana kita bisa melakukan atau menerapkan pendisiplinan ini tapi tanpa merusak konsep diri anak?

HE : Kalau arahan, teguran dan sanksi itu diberikan dengan porsi dan cara yang pas, maka berbagai cara seperti itu akan mempunyai dampak yang positif terhadap konsep diri anak. Jadi anak tahu arahnya, ada yang disebut konsep diri ideal, anak tahu apa yang dituju dan dia relatif cukup puas dengan dirinya tetapi dia tetap mempunyai semangat untuk memperbaiki dirinya mencapai target konsep diri yang ideal yang dia cita-citakan. Tetapi sebaliknya kalau misalnya porsinya itu berlebihan atau juga terlalu keras, itu akan berdampak negatif. Saya berikan contoh yang positif lebih dulu, misalnya anak TK mengambil mainan di sekolah dan dibawa pulang padahal itu milik sekolah, maka kalau kita memberikan nasihat bahwa ini yang namanya mencuri dan kita membimbing anak itu mengembalikan ke sekolah dan kalau anak ini sebelumnya sudah mendapatkan kasih yang cukup biasanya anak ini akan mau berkerja sama. Selain itu akan tumbuh kepercayaan diri sehingga dapat mendorong anak-anak lain untuk tidak melakukan pencurian yang serupa. Tetapi misalnya yang berlebihan adalah kalau kita menghukum anak padahal kita belum mengajarkan, belum memberikan nasihat, belum menegur tetapi tiba-tiba menghukum anak ini kemudian mungkin menelanjanginya, mengurungnya di kamar mandi sampai berjam-jam, ini kita akan merusak harga diri mereka karena anak-anak ini akan merasa dirinya dihina dan dipermalukan.

GS : Ada anak yang tidak mendapatkan perhatian tapi malah dicaci maki terus-menerus oleh orangtuanya, mungkin karena kehadirannya memang tidak diharapkan di tengah-tengah keluarga. Itu bagaimana pengaruhnya terhadap pembentukan konsep diri anak yang masih mudah ini?

HE : Ya, ini akan berdampak buruk sekali, anak ini akan terus memandang dirinya secara negatif dan mungkin saja dia terbawa ke dalam depresi. Kadang-kadang perasaan ingin bunuh diri awalnya dari sini, dia membenci dirinya bahkan ada juga yang membenci semua orang termasuk orangtuanya, ini sebaiknya tidak dilakukan.

GS : Pak Heman, memang di tengah-tengah kita sebagai orang dewasa banyak persaingan-persaingan yang bisa kita lihat. Tetapi kita juga bisa menyaksikan bahwa di tengah-tengah dunia anak sekarang ini sangat ketat atau sangat kuat, misalnya dengan barang-barang tertentu elektronik dsb, bukankah tidak semua orangtua itu mampu membelikan atau menyediakan apa yang diminta anak. Dalam hal ini apakah ada pengaruhnya juga?

HE : Ya ini cukup besar pengaruhnya, namun saya juga mengerti bahwa ini kondisi yang sulit yang sedang kita hadapi. Tetapi kita bisa menjadikan ini suatu tantangan di dalam konsep diri anak. Saya ingin mengutip gagasan dari Dr. James Dobson, dia adalah seorang psikolog terkemuka di Amerika yang antara lain menyatakan bahwa "konsep diri yang sehat itu dibangun di atas karakter yang baik." Artinya anak perlu diajarkan dari kecil bahwa yang membuat seseorang berharga di mata Allah adalah sifat kepribadiannya yang baik bukan kekayaan atau kecerdasannya. Ini harus dibangun dulu sebagai dasar sehingga anak mempunyai kebanggaan diri, setelah itu kita baru bisa mengarahkan kepada anak bahwa misalnya hal-hal yang lain kemewahan itu tidak penting, bukan merupakan hal yang nomor satu. Memang tidak mudah tetapi kita bisa membantu anak untuk menghadapinya.

ET : Apakah itu berarti kita tidak perlu memberikan kepada anak-anak barang-barang yang mungkin memudahkan anak sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada?

HE : Tentu tidak harus demikian, kalau misalnya perkembangan teknologi itu sungguh diperlukan untuk perkembangan keterampilan dan intelektual anak dan itu bisa kita usahakan, kenapa tidak. Tapi kalau itu sebagai dasar konsep diri anak maka itu akan menyimpang, jadi kalau akhirnya mereka harus bersaing dengan kemewahan ini akan menjadikan masalah karena persaingan itu tidak ada habisnya. Dan tidak semua kita mampu untuk mengusahakannya tetapi kita mendasarkan diri pada fungsi, jadi bukan kemewahannya. Kalau misalnya anak tidak perlu mempunyai HP, saat ini belum perlu, kita tidak perlu memberikannya kecuali kalau memang kita merasa anak ini memang sangat perlu, kita juga perlu memantau dia, dia ada di mana dan sebagainya. Nah berikan HP yang sewajarnya saja jangan yang terlalu mewah, kemudian kalau misalnya kita belum mampu mengusahakan seperti itu, kita juga harus memperkokoh konsep diri mereka, sehingga mereka juga bisa menghadapi rasa malu karena kalah di dalam persaingan dengan teman-temannya.

ET : Soalnya kadang-kadang saya melihat ada anak-anak tertentu yang merasa lebih baik saya tidak diberi HP daripada saya diberi HP tapi sudah ketinggalan zaman, begitu Pak?

HE : Ya, itu karena mereka mulai merasakan status sosial, gengsi dan sebagainya. Makanya kita harus mulai dari awal, anak itu diajarkan tentang firman Tuhan, bahwa kemiskinan atau kesederhanaan itu bukan sesuatu yang hina, bahwa justru Tuhan menyebut yang berbahagia adalah orang yang miskin di hadapan Allah. Karena mereka akan menjadi kaya, di dalam kerajaan sorga banyak orang miskin yang mempunyai status yang tinggi di hadapan Allah, ini perlu kita tanamkan sejak dini, sejak mereka belum mengetahui apakah itu persaingan, apakah itu gengsi dan sebagainya. Saya kira akan lebih mudah kalau sejak kecil mereka sudah mengenal Firman Tuhan dengan baik.

GS : Pak Heman, anak juga mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam hal intelektualnya. Kalau seorang anak yang tidak terlalu pandai kemudian dicemooh di kelasnya bahkan di tengah-tengah keluarganya, nah ini bagaimana orangtua itu bisa membantu supaya anak itu mempunyai konsep diri yang baik?

HE : Kalau orangtua ingin membantu anaknya mempunyai konsep diri yang baik maka yang perlu kita lakukan adalah yang pertama, jangan sampai kita memberi kesan kepada anak bahwa kita menganggap remeh atau kita menyetujui celaan-celaan terhadap mereka. Kemudian yang kedua kita perlu membangun karakter yang baik pada mereka dan itu yang kita jadikan sebagai salah satu patokan di dalam konsep diri mereka. Ketiga, kita juga memperhatikan keunggulan-keunggulan mereka, bukan saja menghargainya tetapi kita kembangkan sehingga mereka mempunyai kebanggaan juga meskipun mereka tidak perlu menjadi juara I, jago olahraga atau jago musik, melukis, tapi setidaknya mereka mempunyai pengalaman istimewa di dalam hal keunggulan ini. Dengan demikian kalau mereka mempunyai kebanggaan mereka tidak dengan mudah terseret ke sana dan ke sini.

ET : Masalahnya sistem pendidikan yang ada sering kali mengelompokkan anak cerdas atau tidak cerdas itu dari prestasi akademis. Kadang-kadang orangtua suka menanyakan anaknya ranking berapa, kamu ranking berapa, jadi itu membuat anak tertekan walaupun dia tahu dia punya kelebihan di bidang yang lain.

HE : Betul, jadi memang tidak mudah kita bisa membantu dengan memberikan contoh dari tokoh-tokoh cerita yang yang terkenal. Ada banyak tokoh terkenal misalnya seperti Thomas Alfa Edison atau Einstein, yang waktu kecilnya dianggap bodoh, dianggap lamban dan sebagainya bahkan Edison pernah dikeluarkan dari sekolah. Dengan cerita-cerita ini mereka dibantu untuk merasa lebih percaya diri, lebih mempunyai konsep diri yang positif. Karena pada akhirnya yang menentukan seseorang itu hidupnya memuaskan atau tidak kemudian apakah mereka cukup sukses di dalam hidup, itu bukan kecerdasan, itu bukan unsur utama, tetapi antara lain adalah konsep diri yang positif.

GS : Pak Heman, ada anak yang mudah sekali dipengaruhi oleh teman-temannya untuk melakukan hal-hal yang tak terpuji, apakah ini berkaitan dengan konsep diri anak yang buruk?

HE : Kalau anak mudah terseret dengan itu, mudah dipengaruhi berarti dia memang kurang teguh, dia cenderung mempunyai konsep diri yang buruk karena dia tidak mantap dengan dirinya dan karena itu dia perlu mengandalkan orang lain, jadi dia lebih menghargai pendapat orang lain daripada pendapatnya sendiri.

GS : Memang kadang-kadang di rumah kita sudah berusaha untuk membentuk konsep diri yang baik, tetapi anak makin besar makin bersosialisasi dan banyak bertemu dengan orang lain. Nah bagaimana supaya pengaruh yang negatif itu bisa dicegah?

HE : Kalau misalnya anak kita dihina atau diejek oleh anak lain, yang pertama-tama kita mesti memberi peluang kepada anak untuk menumpahkan uneg-unegnya. Kita tidak boleh mengabaikannya saja, "Ya........sudah tidak dihiraukan dan sebagainya," tetapi kita perlu terbuka dan menyatakan bahwa kita juga sedih mendengarkan ejekan itu, nah kalau kita membuka diri seperti itu anak akan lebih banyak bercerita dan menumpahkan perasaannya. Dan yang kedua setelah mereka menumpahkan perasaannya kita perlu memberi mereka kekuatan dan menghibur mereka. Kita bisa katakan misalnya semua nabi dan tokoh Alkitab yang baik-baik pun pernah diejek dan dipermalukan, demikian juga tokoh-tokoh dunia yang lain misalnya penemu atau presiden atau tokoh-tokoh hebat yang lain, itu semuanya pernah diejek orang.

ET : Pak Heman, kalau memang kita misalnya sebagai orangtua sudah menerapkan hal-hal yang pernah Pak Heman sampaikan tadi tentang membantu anak membentuk konsep diri yang positif, apakah ada peluang kalau anak-anak pada saat ini mempunyai konsep diri yang sehat tapi ternyata di kemudian hari di masa dewasanya menjadi orang yang mungkin terlibat dalam kriminal, menjadi pelaku kejahatan atau mungkin berubah menjadi orang yang tidak disukai lagi oleh orang-orang di sekitarnya?

HE : Ada saja peluang untuk itu karena konsep diri terus bertumbuh dan berubah seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup. Tetapi saya percaya kalau anak sudah mempunyai dasar konsep diri yang kokoh dan sehat, kemungkinan berubah ke arah yang buruk itu dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Jadi memang ada peluang tapi peluangnya lebih kecil.

GS : Pembentukan konsep diri anak ini sesuatu yang sangat penting bukan saja untuk keluarga tetapi juga untuk bangsa ini, dalam hal ini apa yang Pak Heman ingin sampaikan dari Firman Tuhan?

HE : Saya ingin kutib dari Mazmur 139:13-17, ini Mazmur Daud "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" Ini menggambarkan waktu kita belum lahir pun Tuhan sudah membentuk kita dengan begitu ajaib.

GS : Jadi ini sebuah doa yang indah sekali yang disampaikan oleh Daud dan tentunya akan menolong kita semua untuk bisa menaikkan pujian seperti ini. Terima kasih Pak Heman dan Ibu Ester untuk kesempatan perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membangun Konsep Diri Anak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.

Ke Atas

2002 - 2008 Tegur Sapa Gembala Keluarga (TELAGA)  |  E-mail: staf-telagatelaga.org