Pranikah/Pernikahan
Submitted by admin on Thu, 20/05/2010 - 7:49am.
Abstrak:
Semua orang yang menikah berharap bahwa pernikahannya dapat berjalan langgeng sampai maut memisahkannya. Kita percaya tidak ada orang yang menikah dengan pemikiran bahwa suatu hari kelak ia akan menceraikan pasangannya. Persoalannya adalah, setelah menikah masalah mulai bermunculan sehingga perceraian pun menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan. Namun sebelum hal itu terjadi alangkah baiknya kalau kita memelajari dulu bagaimana cara memertahankan pernikahan, agar hal-hal yang berbau perceraian tidak ada di dalam keluarga kita.
Transkrip Isi:
[sampai_maut_memanggil_kita_2] =>
"Sampai Maut Memanggil Kita" (II) oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu yaitu tentang "Sampai Maut Memisahkan Kita". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, perbincangan kita kali ini melanjutkan perbincangan pada waktu yang lalu tentang "Sampai maut memisahkan kita". Supaya para pendengar kita bisa mengikuti perbincangan ini secara lebih utuh dan mungkin ada yang pada kesempatan lalu belum sempat mendengarkan, mungkin Pak Paul bisa menguraikan sejenak tentang apa yang telah kita perbincangkan pada kesempatan yang lalu.
PG : Kita telah memerbincangkan bagaimana memersiapkan pernikahan dengan sebaik-baiknya, menjalani awal pernikahan juga sebaik-baiknya supaya akhirnya di masa tua kita bisa memetik buah-buah mais di dalam pernikahan kita.
Dan saya mengulas bahwa yang terpenting kita harus menetapkan sistem prioritas yang benar dalam hidup kita dan keluarga kita. Ada tiga yang saya angkat yaitu kita harus mementingkan relasi dengan Tuhan, relasi dengan keluarga dan yang terakhir yang akan kita bahas adalah relasi dengan orang lain. Singkat kata di dalam hidup, di dalam pernikahan kita harus mengutamakan relasi di atas kepentingan lainnya yaitu relasi dengan Tuhan, keluarga dan yang terakhir barulah relasi dengan orang-orang lain. Kita pun telah membahas relasi dengan Tuhan adalah dengan cara hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan hanya giat dengan hal-hal yang kita sebut dengan pelayanan tapi justru kita harus menunjukkan kedekatan kita dengan Tuhan lewat ketaatan kita hari lepas hari di luar gereja. Kita juga membicarakan tentang kita harus tahu isi hati Tuhan dan Tuhan harus hidup di dalam diri kita. Firman Tuhan bukan hanya sebagai buku yang akan kita pelajari, tapi sebagai panduan dimana kita mau hidup di dalamnya, jadi itu yang harus kita tekankan. Tentang hubungan dengan keluarga, saya juga menekankan bahwa kita harus mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Jangan sampai orang di rumah kita berkata, "Papa atau Mama hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan kami". Jadi didalam pengambilan keputusan coba dengarkan apa yang mereka inginkan dan coba pertimbangkan sedapat-dapatnya kepentingan mereka juga dibela oleh kita. Dan kita juga harus belajar dari keluarga kita, jangan hanya melihat peranan kita sebagai orang yang mau mengajarkan atau mengarahkan baik kepada istri maupun anak-anak kita, dengarkanlah dari mereka pula sehingga mereka tahu kalau mereka penting dan begitu pentingnya sehingga mereka didengarkan oleh kita.
GS : Pak Paul, sekarang kita melanjutkan pada relasi yang berikutnya yaitu memelihara relasi dengan sesama. Mungkin ini bisa menjadi lebih mudah tapi bisa juga ini menjadi lebih sukar dibandingkan dengan relasi yang terdahulu, Pak Paul dan ini menurut Pak Paul bagaimana ?
PG : Memang tidak selalu lebih mudah dan bisa jadi akan lebih susah tapi ini adalah sebuah prinsip yang penting. Kita harus memprioritaskan relasi dengan orang lain di atas benda, materi atau hl-hal seperti itu.
Jadi secara konkretnya misalnya kita harus memerhatikan orang yang tertinggal dan bukan orang yang tertinggi, maksudnya tidak susah bagi kita dekat atau baik dengan orang yang tinggi. Tapi kita akan memerhatikan untung ruginya kalau dekat-dekat dengan orang yang tertinggal atau orang yang tidak memunyai kedudukan, orang yang tidak ada statusnya dalam masyarakat. Justru kita harus ingat bahwa Tuhan itu menekankan betapa pentingnya memerhatikan orang-orang yang tertinggal ini. Itu sebabnya di Matius 25, waktu Tuhan menggambarkan bagaimana Tuhan akan menghakimi kita semua, kemudian Dia akan bertanya apakah kita telah mengunjungi orang yang sakit, orang yang di penjara, memberikan baju kepada orang tidak memakai baju, memberi makan kepada orang yang kelaparan. Dengan kata lain, Tuhan memerhatikan orang-orang yang dalam kesusahan dan berkebutuhan. Bahkan Tuhan menyimpulkan dengan suatu prinsip yang luar biasa beratnya yaitu "apa yang kamu lakukan kepada yang terkecil atau yang terhina dari orang-orang ini maka inilah yang kau lakukan bagi Saya". Jadi Tuhan mementingkan orang yang tertinggal dan jangan sampai kita mementingkan prinsip dunia ini yaitu dekatlah dengan orang yang akan membawa keuntungan bagi kita dan tidak perlu dekat dengan orang yang tidak membawa keuntungan bagi kita. Jangan seperti itu! Waktu kita mendekat atau memerhatikan orang yang tertinggal, yang tidak diperhatikan oleh masyarakat, mereka akan menjadi sahabat sejati kita, nanti di hari tua mereka juga akan memerhatikan kita dan mereka yang akan menolong dan menjadi pendamping hidup kita pula. Dan orang inilah yang nanti akan berperan besar juga melestarikan keluarga atau pernikahan kita di hari tua.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan tetapi Dia sendiri memeragakan di dalam kehidupan-Nya di dunia ini sebagaimana Dia memerhatikan orang yang tertinggal ini. Tapi di dalam kehidupan kita sebagai keluarga, sebagai suami istri, prakteknya dalam memerhatikan orang-orang yang tertinggal ini seperti apa, Pak Paul ?
PG : Misalnya kita tahu bahwa ada di antara teman kita yang tidak terlalu diajak karena memunyai masalah tertentu. Misalkan teman kita itu sedang mengalami permasalahan keluarga, sehingga dia mlu ke gereja dan sebagainya maka ketika kita ingat dia kemudian kita telepon dia, mungkin kita mengajaknya datang ke rumah kita, mengunjungi dia atau kita keluar bersamanya.
Atau kita juga bisa menekankan kepada anak-anak misalkan mereka tahu ada teman mereka yang tidak populer, yang dikucilkan maka kita meminta anak kita justru untuk memerhatikan teman-teman yang seperti itu juga. Misalnya di jalan kita melihat seorang pengemis dan kita mau memberikan sedekah kepada pengemis atau kita mau menolong orang yang susah, yang dekat dengan rumah kita karena perlu modal untuk membuka warung dan sebagainya. Hal-hal seperti itulah yang sewaktu kita tanamkan di rumah, mereka akan melihat kalau kita mementingkan orang-orang yang tertinggal dan bukan orang yang tertinggi.
GS : Dampaknya untuk kita pada waktu lanjut usia apa, Pak Paul ?
PG : Orang-orang yang kita tolong ini, kita tidak tahu mereka akan menjadi apa. Tapi kalau pun mereka tidak menjadi apa-apa dan mereka tinggal dekat dengan kita dan masih satu kota dengan kita aka mereka yang akan mengingat jasa-jasa kita dan mereka akan memerhatikan kita, sehingga di hari tua mereka yang akan mengisi kehidupan kita, mereka mungkin akan datang, mereka akan ngobrol dengan kita, mereka mungkin mengajak kita.
Mungkin suatu hari kita yang akan membutuhkan sesuatu dan mereka yang akan mengulurkan tangan menolong kita dan sebagainya. Sudah tentu waktu mereka melakukan semua ini, kita tidak melakukan ini supaya nanti kita mendapatkan bantuan-bantuan mereka, tidak seperti itu ! Tapi bukankah mereka itu mau mencari dan membangun relasi yang sejati karena kalau kita pikir-pikir misalnya di antara ratusan teman kita seberapakah yang sungguh-sungguh teman sejati ? Bukankah kita mengukurnya waktu kita susah, apakah mereka memerhatikan kita, waktu kita memang sedang tertinggal apakah mereka menunggu kita ataukah dia adalah salah satu orang yang juga ikut-ikutan meninggalkan kita dan tidak lagi menghubungi kita, memberikan dukungan dan sebagainya. Saya perhatikan, orang yang tahu bahwa dia tidak ditinggalkan malah di tunggu waktu dia itu tertinggal, dia akan menjadi sahabat kita sebab dia menemukan persahabatan sejati dari diri kita kepadanya.
GS : Tapi biasanya kita membangun relasi dari orang lain itu dasarnya adalah untung dan rugi. Kalau kita tidak mau dekat dengan orang yang tinggi tapi dengan orang yang tertinggal maka tujuannya adalah untuk menguntungkan kita, Pak Paul ?
PG : Itu memang adalah sifat kita sebagai manusia yang berdosa, kita cenderung mementingkan diri kita, yang membawa keuntungan itulah yang akan kita dekati. Masalahnya adalah kalau kita terperagkap di dalam relasi yang seperti ini, kita akhirnya menjadi orang-orang yang hidup di atas prinsip untung dan rugi, kalau tidak ada untung tidak mau dekat-dekat.
Ketika kita hidup seperti itu, kita kehilangan esensi sebagai orang Kristen, menjadi seorang anak Tuhan, kita kehilangan esensi mengasihi sebab itulah esensi atau karakter Tuhan yang paling penting, Tuhan adalah kasih. Jadi Tuhan mengasihi kita dan tidak melihat-lihat kita ini siapa, Tuhan tidak berkata apa untungnya mengasihi kita ? Apa untungnya memberkati kita ? Tidak seperti itu, Dia memberkati karena Dia baik,jadi Dia memberkati kita. Dia mengasihi karena Dia baik, maka Dia mengasihi kita, jadi kita harus menjadi seperti Dia.
GS : Relasi ini terjalin karena kedekatan, katakan kita ini sebagai orang yang tertinggal. Ada orang yang tinggi dan kebetulan memerhatikan kita sehingga terjalinlah relasi itu antara kita yang tertinggal dengan orang yang tinggi ini. Jadi kita bukannya mencari keuntungan tapi memang jaringan relasi itu terjadi seperti itu.
PG : Seringkali itu yang terjadi. Jadi waktu orang yang di atas, yang tinggi itu menjangkau ke bawah, menolong yang tertinggal maka terjalinlah sebuah relasi. Dalam relasi seperti itu, tidak bia tidak rasa bersyukur itu kuat sekali dan nantinya, bukan saja mereka menjadi pengisi bagian dari hidup kita tapi terpenting juga adalah hati kita pun terjaga, hati kita pun terpengaruh baik kepada pasangan kita maupun anak-anak, atau pun sanak saudara, kita tidak menghitung-hitung apa yang menjadi untung dan ruginya.
Kalau kepada orang lain kita menerapkan untung dan rugi biasanya juga kita terapkan kepada keluarga, mungkin kita berharap-harap bahwa anak kita akan membawa keuntungan bagi kita, kalau anak kita tidak membawa keuntungan rasanya kita pun menjadi kecewa. Sebab mustahil bagi kita berkata, "Dengan orang lain saya hitung-hitung untung dan rugi tapi kalau dengan keluarga sendiri tidak". Hal itu saya ragukan. Mungkin tidak secara eksplisit tapi secara implisit kita itu sebetulnya mengharapkan bahwa anak-anak kita atau pasangan kita membawa keuntungan-keuntungan bagi kita dan kalau tidak maka kita akan kecewa. Standart nilai seperti itulah yang kita mau enyahkan karena kita tahu bahwa bukan itulah yang berkenan kepada Tuhan dan bukanlah modal yang diperlukan untuk menjadikan pernikahan kita yang berbuah di masa yang akan datang.
GS : Untuk memelihara relasi dengan sesama ini, hal lain apa yang harus kita perhatikan tentang sesama, Pak Paul ?
PG : Kita harus mengutamakan mengajak selain diajak, kadang-kadang kita itu pasif dan kita menunggu, kalau tidak diajak kita menjadi terluka, tersinggung karena tidak diperhatikan dan sebagainya. Pertanyaannya adalah apakah kita mengajak orang, apakah kita telah berinisiatif melibatkan orang, memasukkan orang di dalam lingkaran kehidupan kita. Jadi dengan kata lain, kita harus berusaha, berinisiatif untuk membawa orang masuk ke dalam lingkaran kehidupan kita, waktu kita mengunjungi orang maka kunjungilah, waktu kita mau berbuat baik kepadanya, maka berbuat baiklah dan jangan kita berpikir, "Terakhir siapa ya yang mengajak, karena dulu saya yang mengajak maka sekarang saya tidak mau mengajak lagi". Jangan seperti itu, kalau kita mau mengajak maka ajaklah dan jangan memikirkan kalau di masa lampau siapa yang lebih sering mengajak. Sekali lagi yang terlebih penting adalah hati kita pada akhirnya, kalau kita berpikir-pikir siapa yang mengajak terlebih dahulu, itu artinya kalau kita itu selalu memunyai kalkulator dalam persahabatan dan tidak ada persahabatan kalau memakai kalkulator, nanti takutnya dengan pasangan sendiri atau anak-anak juga sama yaitu kita menggunakan kalkulator, hitung-hitungan dengan mereka juga, jangan seperti itu. Ajak mereka untuk berbuat baik, tawarkan, bantulah, berinisiatiflah tanpa mengingat-ingat siapa dulu yang memulainya.
GS : Tapi dalam kondisi seperti sekarang ini, kalau kita mau mengajak orang lain pastilah akan berpikir apakah orang yang akan saya ajak ini tidak akan malah merugikan kita, dalam arti kata misalnya kita menjadi korban penipuan dan sebagainya. Artinya kita harus selektif di dalam mengajak orang ini.
PG : Sudah tentu benar, Pak Gunawan. Kita memang tidak boleh sembarangan, tapi kita harus tahu siapa teman itu yang harus kita ajak, yang kita jadikan teman, sudah tentu kita tidak akan bertema dengan orang yang akan merusakkan kita, misalnya memengaruhi kita melakukan hal-hal yang salah, mengajak kita untuk berdosa maka kita tidak akan mendekatinya karena firman Tuhan juga dengan jelas berkata, "Janganlah kita duduk bersama dengan orang-orang pencemooh" artinya orang yang mencemooh Tuhan dan mencemooh manusia, jangan seperti itu.
Tapi kita juga mau bersahabat dengan orang-orang yang takut akan Tuhan. Jadi sudah tentu kita harus perhatikan faktor itu pula.
GS : Pak Paul, selain kita menjalin relasi baik dengan Tuhan maupun dengan keluarga dan sesama apakah masih ada hal-hal lain yang harus kita perhatikan supaya masa tua kita di dalam hidup pernikahan ini juga menjadi lebih baik, Pak Paul ?
PG : Tapi yang saya singgung adalah benih-benih sehat yang harus kita tanamkan menjaga relasi dengan Tuhan, keluarga dan sesama kita. Sekarang kita mau lihat bahwa kita juga harus melindungi atu menjaga benih-benih itu dan jangan sampai benih-benih itu akhirnya termakan hama dan habis.
Ada beberapa yang harus kita lakukan untuk melindungi benih yang sehat itu. Pertama dan ini penting sekali yaitu kita harus menjaga hati, artinya tidak ada orang lain di hati kita dan kita harus melindungi pernikahan kita secara terencana, ini berarti kita harus mengambil tindakan tegas untuk melarang khayalan bergentayangan di wilayah dosa. Jangan kita membiarkan khayalan kita merambah ke mana-mana sampai ke wilayah dosa dan berbuat yang tidak-tidak, jangan seperti itu. Sebagai manusia saya mengerti kita dapat dan akan tertarik kepada orang lain yang mungkin saja lebih menawan dan lebih menarik dari pada pasangan sendiri namun kita harus mengingatkan diri akan komitmen pernikahan yang telah dibuat, kita telah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia kepada pasangan dan ini berarti bukan saja kita tidak mengkhianatinya secara fisik atau nyata, tapi kita juga tidak boleh mengkhianatinya secara batiniah. Singkat kata, kita harus tegas berkata bahwa di dalam hati kita tidak ada ruang tersisa untuk orang lain, komitmen itu harus kita buat. Pintu sudah kita kunci dan kita serahkan kunci itu kepada pasangan kita, sehingga tidak ada ruangan untuk orang lain masuk.
GS : Tetapi di dalam kenyataannya memang akhir-akhir ini kasus perselingkuhan itu cukup banyak terjadi, apakah dalam hal ini memang kedua belah pihak tidak saling menjaga hati karena untuk menjaga sendiri seringkali mengalami kesulitan. Akan lebih ringan kalau masing-masing itu saling menjaga.
PG : Hal itu memang baik sekali yakni kita harus saling bertanggung jawab atau mempertanggungjawabkan keberadaannya, perilakunya, itu adalah hal yang harus kita lakukan. Misalkan dalam rumah tagga saya, saya memberitahu istri saya yaitu silakan bertanya saya pergi dengan siapa, kapan saya pergi dan kapan saya pulang, mau mengetahui tentang hidup saya.
Jadi kita memberikan ijin kepada pasangan untuk memunyai akses penuh terhadap hidup kita. Jadi jangan sampai orang bertanya tentang keuangan, ini tidak boleh diketahui oleh pasangan, saya tadi pergi ke mana dan tidak boleh diketahui oleh pasangan. Kalau kita memang tidak ada niat jahat kenapa tidak memberitahu kepada pasangan, kalau memang niat kita baik dan kita mau terbuka seharusnya kita memberi akses penuh itu kepada pasangan untuk masuk ke dalam diri kita, jadi perlu pertanggungjawaban. Misalkan kita bepergian jauh, kita memberitahu kepada dia kalau kita hidup dengan baik dan kudus di hadapan Tuhan. Hal itu juga yang saya lakukan sewaktu bepergian jauh, saya memberitahu kepada istri dan anak-anak saya bahwa saya telah hidup kudus di hadapan Tuhan supaya mereka tahu bahwa inilah komitmen saya dan ini yang coba akan saya jaga dengan sebaik-baiknya.
GS : Dengan begitu pasangan kita atau anak-anak kita juga bisa terus membantu kita untuk memelihara hati ini.
PG : Betul sekali dengan kita tahu kalau kita bertanggungjawab kepada mereka dan mereka pun juga memerhatikan mereka. Hal ini akhirnya membuat kita untuk lebih berhati-hati dan tidak sembaranga hidup.
GS : Selain menjaga hati. Hal lain yang perlu diperhatikan apa, Pak Paul ?
PG : Kita juga harus menjaga batas artinya jangan biarkan ada orang yang melekat dengan kita. Salah satu penyebab kenapa akhirnya banyak orang jatuh ke dalam dosa perzinahan adalah dikarenakan egagalan kita menarik batas yang jelas sejak dini.
Maka dari awal berelasi dengan lawan jenis, kita harus menetapkan batas bahwa relasi ini hanya akan menjadi relasi pertemanan. Kita harus memutuskan untuk tidak menceritakan masalah pribadi apalagi masalah rumah tangga kepada rekan lawan jenis. Atau kita juga harus tegas menolak ajakan untuk pergi berdua atau dia menawarkan untuk mengantar kita pulang, atau kita memintanya untuk mengantarkan kita pulang. Maka kita harus berkata, "Kalau tidak maka tidak". Sudah tentu ada kasus pengecualian, orang yang telepon kita jam sepuluh malam karena mobilnya mogok dan sebagainya, maka kita harus bersedia membantunya dan bukannya saya mematok secara kaku dan memang ada pengecualian tapi intinya kita tidak mau memberikan ruang atau mengaburkan batas sehingga orang bisa dengan mudah berkata, "Saya bersama dengan kamu saja ya, karena sejalan", maka dengan tegas kita harus berkata, "Maaf saya tidak bisa, saya bukannya tidak mau mengantar dan bukannya saya jahat tapi memang saya mau menjaga relasi saya dengan istri saya atau dengan suami saya." Jadi kita harus menolak tegas dan kita harus menyadari bahwa interaksi pribadi yang dilakukan secara terus menerus, berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan ketertarikan pada akhirnya melahirkan hasrat atau nafsu untuk menyatukan diri dengan dia. Itu sebabnya dari awal kita harus bersikap tegas sehingga orang pun akan maklum dengan posisi kita. Jadi kendati pencobaan dapat datang kapan saja, namun satu fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah seringkali kita turut berandil memberi undangan kepada pencobaan untuk datang.
GS : Jadi sekalipun kita harus membangun relasi dengan sesama tapi tetap kita harus memerhatikan batas-batasnya supaya kita tidak akan merusak kehidupan rumah tangga kita, Pak Paul ?
PG : Betul sekali sebab kita harus jujur dengan diri kita. Kita ini kadang-kadang ahli menipu diri sendiri. Misalnya kita harus mengantar orang tua atau nenek, bisa jadi kita tidak akan bersemagat untuk mengantarnya pulang, tapi kenapa kita begitu semangat mengantar orang lain karena dia menarik, masih muda dan sebagainya.
Jadi justru kita harus sadari hati kita dan jangan kita membohongi diri sendiri dan berkata, "Tidak ada apa-apa hanya teman saja", jadi dari awal kita harus menarik batas yang jelas dan jangan sampai membiarkan orang lekat dengan kita.
GS : Kalau hal itu tidak kita hindari Pak Paul, pengaruhnya pada masa tua apa, Pak Paul ?
PG : Akhirnya kalau kita tidak menghindari, kalaupun tidak terjadi perzinahan dan pasangan kita tahu bahwa setiap hari pasangan kita berhubungan dengan si ini, saling telepon, saling SMS, misalan juga sering mengantarkan pulang atau pergi makan bersama-sama.
Maka pasangan akan merasa kalau rumah ini tidak hanya terdiri dari dua orang yaitu suami istri tapi ada tiga orang bahwa di mata pasangan kita, orang ketiga sudah menjadi orang yang penting. Dan biasanya itu akan menimbulkan luka, apalagi kalau dia sudah berkata dan meminta kepada kita, "Tolong jangan teruskan berhentilah pergi dengan dia dan sebagainya," tapi kita memaksa dan marah kemudian berkata, "Selama saya tidak berbuat apa-apa". Kita sudah meninggalkan luka yang dalam di dalam hati pasangan kita yang akan dibawanya sampai hari tua. Tapi kalau kita sudah tua dan ingin berbaik-baik dengan dia, luka hatinya sudah menganga dan menganga itu bisa berbelasan tahun. Jadi tiba-tiba kita menuntut dia untuk berbaik-baik dengan kita, itu tidak realistis sebab berbelasan tahun kita sudah menusukkan pisau di hatinya. Sekarang tiba-tiba kita berkata, "Sembuhlah engkau dan tidak harus ada luka di hatimu," itu tidak realistis. Itu sangat mencederai hati pasangan kita.
GS : Hal lain yang perlu dijaga apa, Pak Paul ?
PG : Kita harus menjaga impian, maksudnya jangan berlebihan dalam bermimpi, pernikahan pun harus dilindungi dari kehancuran yang bersifat ekonomi. Kadang kita terlalu ambisius ingin cepat kaya,sehingga gelap mata mengambil keputusan bisnis yang terlalu riskan, akhirnya ingin untung tapi malah buntung.
Masalahnya adalah sewaktu kita buntung, kita pun harus membuntungi anggota keluarga yang lain, semua menderita akibat keputusan yang keliru yang kita telah buat kendati ikatan pernikahan tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan ekonomi namun sebagai manusia kita terpengaruh olehnya, kesulitan ekonomi yang mendera cenderung menambah frekuensi pertengkaran karena dalam keadaan terjepit, kita mengalami lebih banyak stres apalagi bila kehancuran ekonomi tersebut disebabkan oleh ketidak hati-hatian pasangan mengelola keuangan keluarga.
GS : Pak Paul sudah menguraikan begitu banyak mengenai masa lanjut usia ini atau sampai maut memisahkan kita. Kesimpulan dari perbincangan kita yang terdahulu dan yang sekarang apa, Pak Paul ?
PG : Jika kita ingin sampai pada garis akhir dengan baik, maka kita harus memerhatikan pertandingan dengan sebaiknya. Pernikahan yang bertahan dengan baik tidaklah terjadi secara kebetulan tapidengan bersandar kepada firman Tuhan maka kita akan dapat menyelesaikan pernikahan sampai akhir dengan penuh sukacita, itulah kira-kira kesimpulannya.
GS : Jadi kalau ada orang yang menganggap bahwa hidup pernikahan ini nanti akan mengalir begitu saja tanpa kita mengusahakan sesuatu yang positif apakah hal ini bisa kita terima ?
PG : Tidak. Sekolah harus kita rencanakan, pekerjaan harus direncanakan dan kenapa pernikahan tidak harus direncanakan, jadi sama. Semua kalau ingin menghasilkan hasil yang baik, maka perlu perncanaan.
GS : Jadi ada orang yang diambang perceraian kemudian mengatakan, "Ini sudah kehendak Tuhan dan saya tidak lagi meneruskan pernikahan dengan dia". Pandangan seperti ini adalah pandangan yang naif sekali, Pak Paul ?
PG : Sangat naif dan dia menyalahgunakan nama Tuhan dan itu yang Tuhan larang "Jangan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia" dan contoh inilah kita memakai nama Tuhan dengan sia-sia.
GS : Pak Paul, apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan sebagai kesimpulan dari perbincangan kita kali ini ?
PG : Amsal 3:5-8 berkata, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. anganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu."
Kita mau pernikahan kita menjadi pernikahan yang sembuh dan segar, caranya tidak ada yang lain tapi kita harus percayakan kehidupan kita kepada Tuhan dan jangan bersandar kepada pengertian kita mengakui Tuhan dalam setiap perilaku kita dan hidup takut akan Tuhan serta menjauhkan diri dari kejahatan.
GS : Terima kasih Pak Paul, pasti perbincangan ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian untuk menjaga pernikahan kita sampai maut memisahkan kita. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sampai Maut Memisahkan kita" bagian yang kedua dan yang terakhir. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Firman Tuhan berkata, "Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia" (Matius 19:6). Saya kira semua orang yang menikah berharap bahwa pernikahannya dapat berjalan langgeng sampai maut memisahkannya. Saya percaya tidak ada orang yang menikah dengan pemikiran bahwa suatu hari kelak ia akan menceraikan pasangannya.
Persoalannya adalah, setelah menikah masalah mulai bermunculan sehingga perceraian pun menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.
Sekarang marilah kita melihat bagaimanakah membangun pernikahan yang dapat bukan saja bertahan tetapi terus berbuah sampai maut memisahkan kita. Kita akan memulai dengan melihat tahap pernikahan pada masa tua dan menyoroti tantangan yang harus dihadapi pada masa itu agar kita dapat mempersiapkan pernikahan kita mulai dari hari ini.
Dua Ciri Masa Tua
Menengok ke belakang, karena tidak lagi dapat memandang ke depan. Masa tua adalah masa menyelesaikan perjalanan hidup, bukan memulai sebuah perjalanan baru. Kita masuk ke masa tua membawa album kenangan, bukan buku dengan halaman kosong. Itu sebabnya pada masa tua kita cenderung mengingat apa yang telah terjadi.
Menuai apa yang telah ditabur. Pada masa tua kita menyadari bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu tidak dapat diperbarui atau diubah kembali berhubung kesempatan untuk itu pun sudah lenyap. Jadi, jika kita telah menanam pohon kehidupan yang sehat di dalam pernikahan, kita akan mencicipi buah yang manis. Sebaliknya, bila kita menanam pohon kehidupan yang tidak sehat dalam pernikahan, kita pun harus memakan buah yang pahit. Itu sebabnya kita harus menabur benih yang sehat agar dapat menuai buah yang manis untuk diri sendiri, BUKAN SAJA UNTUK ORANG LAIN.
Benih Sehat adalah MENETAPKAN PRIORITAS HIDUP SEJAK AWAL PERNIKAHAN, YAITU:
Memelihara relasi dengan Tuhan
Memelihara relasi dengan keluarga
Memelihara relasi dengan sesama
Dengan kata lain, kita mengutamakan RELASI di atas kepentingan lainnya.
Memelihara Relasi dengan Tuhan
Utamakan KEHENDAK Tuhan di atas KEGIATAN bagi Tuhan. Sejak awal kita harus mengerti bahwa kegiatan bagi Tuhan tidak sama dengan kehendak Tuhan. Walaupun giat bagi Tuhan adalah hal yang penting, namun terlebih penting adalah hidup dalam kehendak Tuhan. Tuhan melihat dan mencatat apa yang kita lakukan di luar gereja lebih dari apa yang kita perbuat di dalam gereja. Relasi dengan Tuhan terjaga tatkala kita menaati-Nya di dalam hidup kita.
Utamakan FIRMAN Tuhan di atas PENGETAHUAN tentang Tuhan. Kita pun harus meninggikan Firman Tuhan di atas pengetahuan tentang Tuhan. Sudah tentu adalah baik bila kita belajar tentang Tuhan tetapi terpenting bukanlah pengetahuan itu sendiri melainkan hati kita.
Memelihara Relasi dengan Keluarga
Utamakan apa yang baik buat SEMUA di atas apa yang baik untuk SENDIRI. Dalam pengambilan keputusan, kita mesti memikirkan kepentingan semua anggota keluarga. Memang memertimbangkan semua kepentingan tidak mudah dan biasanya memperlambat proses pengambilan keputusan namun upaya tersebut memperlihatkan komitmen kita untuk mengutamakan keluarga di atas kepentingan pribadi.
Utamakan untuk BELAJAR DARI keluarga di atas MENGAJARKAN KEPADA keluarga. Sebagai orang tua kita harus mengarahkan anak seperti seorang pendidik kepada anak didiknya. Namun kita pun perlu menyadari bahwa kita terbatas dan bahwa kita pun harus terbuka terhadap apa yang keluarga ingin ajarkan kepada kita. Demikian pula terhadap pasangan kita. Jangan sampai kita beranggapan bahwa kita selalu yang tahu dan yang berada di pihak yang benar. Tatkala kita membuka diri dan bersedia belajar, kita menunjukkan bahwa merekalah prioritas hidup kita.
Memelihara Relasi dengan Sesama
Perhatikan yang TERTINGGAL di atas yang TERTINGGI. Janganlah kita menjadi orang yang hanya memerhatikan dan berkawan dengan orang yang terhormat atau dengan orang yang dapat memberi kita keuntungan. Perhatikanlah orang di sekitar yang tertinggal dan terpinggirkan. Orang seperti merekalah yang akan menjadi sahabat sejati oleh karena mereka merasakan kasih sayang kita kepada mereka tatkala mereka berada di lembah kehidupan.
Utamakan MENGAJAK di atas DIAJAK. Dalam berteman, jangan bersikap pasif dan saling tunggu. Berinisiatiflah untuk bertemu dan menjalin relasi. Jangan menghitung-hitung untung-rugi dalam persahabatan. Relasi dibangun di atas inisiatif untuk memelihara pertemanan.
Selain menabur benih sehat, kita juga harus melindungi pohon nikah yang telah ditanam agar dapat bertumbuh dan berbuah. Berikut akan dipaparkan beberapa langkah yang dapat diambil :
MENJAGA HATI: Tidak ada yang lain. Kita harus melindungi pernikahan secara terencana. Ini berarti kita mesti mengambil tindakan tegas untuk melarang khayalan bergentayangan ke wilayah dosa. Sebagai manusia kita dapat dan akan tertarik kepada orang lain yang mungkin saja lebih menawan dan lebih baik daripada pasangan sendiri. Namun kita harus mengingatkan diri akan komitmen pernikahan yang telah dibuat. Singkat kata, kita mesti dengan tegas berkata bahwa di dalam hati kita, tidak ada ruang tersisa untuk orang lain.
MENJAGA BATAS: Tidak ada yang lekat. Salah satu penyebab mengapa akhirnya banyak orang jatuh ke dalam dosa perzinahan adalah dikarenakan kegagalan kita menarik batas yang jelas SEJAK DINI. Dari awal berelasi dengan lawan jenis kita harus menetapkan batas bahwa relasi ini hanya akan menjadi relasi pertemanan. Kita harus memutuskan untuk tidak menceritakan masalah pribadi-apalagi masalah rumah tangga-kepada rekan lawan jenis. Kita juga harus menolak dengan tegas ajakan untuk pergi berdua atau bahkan mengantarnya pulang. Kita mesti menyadari bahwa interaksi pribadi yang dilakukan terus menerus berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan ketertarikan pada akhirnya melahirkan hasrat atau nafsu untuk menyatukan diri dengannya. Kendati pencobaan dapat datang kapan saja, namun satu fakta yang tak dapat dipungkiri adalah sering kali kita turut berandil memberi undangan kepada pencobaan untuk datang.
MENJAGA IMPIAN: Tidak berlebihan. Pernikahan pun mesti dilindungi dari kehancuran yang bersikap ekonomi. Kadang kita terlalu berambisius dan ingin cepat kaya sehingga kita gelap mata dan mengambil keputusan bisnis yang terlalu riskan. Alhasil, ingin untung kita malah buntung. Semua menderita akibat keputusan keliru yang kita buat. Kendati ikatan pernikahan tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan ekonomi, namun sebagai manusia kita terpengaruh olehnya. Kesulitan ekonomi yang mendera cenderung menambah frekuensi pertengkaran karena dalam keadaan terjepit, kita mengalami lebih banyak stres.
Kesimpulan
Jika kita ingin sampai pada garis akhir dengan baik, kita harus merencanakan pertandingan dengan sebaik-baiknya. Itu sebabnya Firman Tuhan berikut ini haruslah menjadi pedoman hidup kita sekalian "PERCAYALAH kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada PENGERTIANMU sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, TAKUTLAH akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan akan menyembuhkan tubuhmu dan MENYEGARKAN tulang-tulangmu." Amsal 3:5-7
Submitted by admin on Thu, 20/05/2010 - 7:46am.
Abstrak:
Semua orang yang menikah berharap bahwa pernikahannya dapat berjalan langgeng sampai maut memisahkannya. Kita percaya tidak ada orang yang menikah dengan pemikiran bahwa suatu hari kelak ia akan menceraikan pasangannya. Persoalannya adalah, setelah menikah masalah mulai bermunculan sehingga perceraian pun menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan. Namun sebelum hal itu terjadi alangkah baiknya kalau kita memelajari dulu bagaimana cara memertahankan pernikahan, agar hal-hal yang berbau perceraian tidak ada di dalam keluarga kita.
Transkrip Isi:
[sampai_maut_memisahkan_kita_1] =>
"Sampai Maut Memisahkan Kita"( I ) oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sampai Maut Memisahkan Kita". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Dari judul perbincangan ini, tentu kita tahu Pak Paul bahwa kita akan membicarakan tentang hubungan pernikahan. Kalau kita melihat kenyataan kehidupan pernikahan, memang ada yang berumur panjang tapi tidak sedikit pula yang berumur pendek artinya terjadi perceraian dan sebagainya. Bagaimana dengan hal itu, Pak Paul ?
PG : Saya percaya sewaktu kita memasuki pernikahan, kita tidak pernah berpikir bahwa suatu hari kelak kita akan menceraikan pasangan kita. Saya percaya kita semua masuk ke pernikahan berharap prnikahan kita bisa terus berjalan langgeng sampai akhirnya.
Tapi dalam perjalanannya masalah sudah mulai berjamuran, perbedaan pendapat juga mulai mencuat akhirnya kita sering berpikir, "Tidak bisa lagi untuk meneruskan pernikahan ini". Pada saat itulah alternatif perceraian mulai kita pertimbangkan. Hal ini yang kita akan coba bahas supaya kita bisa menyiapkan diri sebaik-baiknya agar jangan sampai kita jatuh dan akhirnya harus bercerai. Kita mau belajar bagaimanakah menyiapkan pernikahan kita dari titik ini atau dari hari ini supaya bisa bertahan terus sampai di hari tua.
GS : Tapi dalam konsep pernikahan Kristen, perceraian adalah sesuatu yang tabu. Jadi bagaimana pun kondisinya tetap tidak boleh bercerai dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Kita memang memiliki target bukan saja memertahankan pernikahan, tapi tetap untuk bisa berbuah sebab kita semua menyadari bahwa ada pernikahan di sekitar kita yang memang bertahan sampai hri tua, tapi hanya bertahan saja dan sesungguhnya mereka tidak lagi berbuah, mereka tidak mencicipi buah-buah pernikahan mereka.
Dan kita tidak buta terhadap fakta bahwa ada orang yang menikah sampai tua, tapi tidak memiliki relasi antara satu dengan yang lain, tidak lagi memiliki kasih, tidak lagi memunyai kepedulian terhadap satu sama lain dan masing-masing hidup dalam dunianya sendiri-sendiri. Kita tidak mau hanya bertahan seperti itu, tapi kita mau menyiapkan pernikahan yang berbuah pula sampai tua.
GS : Tapi banyak orang yang mengira kalau kita itu sudah tua, hubungan kita dengan pasangan kita itu biasa-biasa saja dan hanya bertahan sampai salah satu meninggal lalu selesailah pernikahan itu. Konsep seperti itu bisa dibenarkan atau tidak, Pak Paul ?
PG : Konsep seperti itu keliru sebab semakin kita tinggal lama dengan pasangan kita dan menikmati keharmonisan, seyogianyalah perasaan kita itu makin mendalam, kita semakin susah untuk berpisahdengan dia karena dia benar-benar menjadi bagian dalam hidup kita dan dia bukan saja seolah-olah menumpang di hati kita, tapi benar-benar dia membuat rumah di dalam hati kita sehingga tidak bisa tidak kita dengan dia sudah menyatu.
Waktu misalkan dia tidak ada, pergi agak lama maka hidup kita akan mengalami goncangan dan kita akan kehilangan dia. Jadi seharusnya dengan berjalannya waktu kalau hubungan kita baik, memang hubungan itu akan mengakrabkan kita sehingga kita begitu menyatu dengan pasangan kita.
GS : Berarti ada beberapa kesamaan setelah pasangan itu memasuki usia lanjut, begitu Pak Paul ?
PG : Pada usia lanjut, memang akan memasuki tahap-tahap tertentu. Guna memersiapkan semuanya, Pak Gunawan coba kita lihat ciri yang pertama yang seringkali dihadapi oleh orang-orang yang tua yatu, pada masa tua mereka sering melihat ke belakang dan tidak bisa lagi memandang ke depan karena pada masa tua, hidup yang tersisa tidak sebanyak hidup yang telah dilewati.
Pada masa muda hidup yang tersisa masih lebih panjang dari pada hidup yang telah dilewati. Dengan kata lain, pada masa tua kita tidak lagi bisa memandang ke depan dan kita tidak bisa lagi memulai sebuah perjalanan yang baru dan kita hanyalah menyelesaikan perjalanan hidup yang telah kita lalui selama ini. Jadi dengan kata lain, pada masa tua kita hanya akan membawa album kenangan dan bukan buku dengan halaman kosong, itu sebabnya pada masa tua kita cenderung mengingat apa yang telah terjadi. Itu sebabnya di masa-masa kita lebih muda kita harus memastikan bahwa kita telah berusaha sekeras mungkin mengharmoniskan relasi kita, supaya di hari tua sewaktu kita menengok ke belakang, kita akan mengingat hal-hal yang telah kita perjuangkan bersama. Kita tidak akan selalu sukses dan berhasil menyelesaikan masalah-masalah kita, tapi setidak-tidaknya kita bisa menengok ke belakang dan berkata bahwa saya melihat suami saya benar-benar berusaha mengorbankan diri menyatukan pernikahan kita. Pasangan kita juga bisa berkata hal yang sama tentang diri kita. Itulah yang menjadi modal kenangan yang nanti akan terus memperkuat pernikahan kita sampai tua.
GS : Tapi juga hal-hal yang terjadi di dalam keluarga yang bisa mereka lampaui, maka itu juga akan membawa kenangan yang manis juga, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi kalau ada hal-hal yang berhasil dilewati bukankah itu justru akan menjadi buah-buah manis yang nantinya akan kita petik, waktu kita menengok ke belakang dan kita melihat "Wah kita telah melewati itu semua dan kita telah melewati hal ini dan kita berhasil".
Dengan kata lain, kita merasa senang karena kita telah melewati tantangan itu bersama-sama berduaan. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan pula pada masa tua adalah masa untuk kita menuai apa yang telah ditabur, pada masa tua kita menyadari bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa diperbaharui atau diubah berhubung kesempatan itu pun sudah lenyap. Jadi kita hanya akan menuai apa yang telah ditabur, kita memetik buah dari pohon yang ditanam. Itu sebabnya jika kita telah menanam pohon kehidupan yang sehat di dalam pernikahan maka kita pun akan mencicipi buah yang manis, sebaliknya jika kita menanam pohon kehidupan yang tidak sehat dalam pernikahan maka kita pun harus memakan buah yang pahit. Itu sebabnya di masa muda inilah kita harus menabur benih yang sehat agar pada akhirnya kita dapat menuai dan memetik buah yang manis untuk diri kita sendiri dan bukan hanya untuk orang lain. Saya tegaskan hal ini karena seringkali kita berpikir bahwa kita harus menjadi buah yang manis untuk orang, kesaksian indah tentang Kristus bagi orang lain, bukan hanya itu saja tapi ini juga untuk diri kita sendiri.
GS : Tapi perjalanan pernikahan itu panjang, Pak Paul. Jadi kita sulit untuk menaburkan buah-buah yang bagus-bagus saja, yang manis-manis saja tapi kenyataannya pasti ada hal-hal yang kurang menyenangkan yang akan terbawa sampai masa tua kita.
PG : Betul. Jadi yang harus kita usahakan adalah hal yang pahit-pahit itu harus ditekan seminimal mungkin, sehingga waktu kita menengok ke belakang tetap akan melihat lebih banyak kenangan-kenagan yang indah yang telah kita bangun bersama.
GS : Tetapi di dalam menengok ke belakang dan melihat ke depan Pak Paul, ada pasangan yang sudah lanjut usia bisa mengakhiri kehidupan dengan baik dan sebaik mungkin yang mereka bisa lakukan dan ini berarti mereka bisa melihat ke depan.
PG : Sudah tentu waktu di hari tua kita bisa memerbaiki relasi kita, maka kita harus melakukannya dan jangan sampai kita jatuh ke tahap pesimis, "Sudahlah memang harusnya begini." Itu adalah ha-hal yang harus dialami oleh orang tua "Sudahlah kita harus terima dan tidak ada gunanya, percuma saya sudah berusaha tapi tetap dia seperti ini dan ini memang sifatnya".
Kita memang harus mencoba tapi secara realistik saya mau menguraikan bahwa di masa tua kita memang hanya bisa menuai dan tidak banyak lagi yang bisa kita tanamkan di hari tua, susah sekali menanam hal yang baru meskipun kita harus berusaha tapi kita harus realistik berkata bahwa memang sudah susah untuk menanam benih-benih atau buah-buah yang baru itu.
GS : Yang menjadi lebih kompleks ialah karena di masa tua ketika kita masih berpasangan, ada anak-anak, ada menantu, ada cucu-cucu yang nantinya akan menimbulkan masalah baru bagi suami istri yang sudah lansia ini, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi kalau hubungan kita di masa tua tidak terlalu baik maka nanti kita akan diganggu dengan masalah anak, menantu, cucu, dan itu bisa menggoncang kembali pernikahan kita. Jai pada saat-saat seperti itu kita bisa melestarikan masalah ke anak-cucu kita, bahkan ada orang tua yang dengan sengaja mau membela anak-anaknya yang jelas-jelas salah.
Jadi misalkan si Papa membela si anak laki-laki dan si Mama tidak mau membelanya karena si Mama tahu kalau anaknya ini memang bermasalah. Jadi akhirnya ribut dan misalkan si Mama lebih simpati kepada menantu perempuan karena melihat dirinya sama seperti menantu perempuannya diperlakukan tidak baik oleh si suami dan sekarang menantunya diperlakukan buruk oleh putranya sendiri. Dengan kata lain rumah tangga itu terus terbelah. Dengan munculnya masalah baru antara anak menantu dan cucu, hubungan suami istri ini makin terbelah dan tidak pernah bersatu.
GS : Kalau kita mau menikmati buah-buah yang manis pada masa lanjut usia, hal-hal apa yang harus kita lakukan sedini mungkin Pak Paul, dalam hidup pernikahan kita ?
PG : Pak Gunawan, makin tua maka makin kita menyadari bahwa betapa pentingnya dari awal kita menetapkan prioritas, dengan adanya prioritas maka kita tahu apa yang penting dan apa yang tidak pening, apa yang harus didahulukan dan apa yang harus dikebelakangkan.
Saya kira terlalu banyak orang yang menjalani hidup tanpa sistem prioritas yang tepat atau yang baik. Saat ini saya ingin membagikan sebuah sistem prioritas yaitu kita harus memelihara relasi dengan Tuhan, yang kedua memelihara relasi dengan keluarga dan yang ketiga memelihara relasi dengan sesama. Dan inilah ketiga prioritas yang harus kita tekankan, jadi kalau kita intisarikan ketiganya sebetulnya hanya satu yaitu di dalam hidup ini kita harus mengutamakan relasi di atas kepentingan lainnya, pertama relasi dengan Tuhan, kedua relasi dengan keluarga dan yang ketiga relasi dengan orang-orang lain.
GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan relasi itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Kita harus menjalin hubungan yang baik dan akrab di mana bukan saja kita menikmatinya tapi pihak lain pun juga menyenangi relasi ini, berarti keduanya harus berusaha sekuat mungkin melakukn hal-hal yang menyenangkan satu sama lain, mengutamakan kepentingan satu sama lain di atas kepentingan pribadi.
GS : Tapi tadi Pak Paul katakan memelihara relasi dengan Tuhan, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Yang kita harus lakukan adalah kita harus mengutamakan kehendak Tuhan di atas kegiatan bagi Tuhan. Maksud saya seperti ini, sejak awal kita harus mengerti bahwa kegiatan bagi Tuhan tidak sma dengan kehendak Tuhan, seolah-olah seringkali kita ini berpikir bahwa makin kita sibuk bergereja melakukan tugas-tugas gerejawi atau pelayanan lainnya, maka itu sama dengan mengutamakan kehendak Tuhan, itu belum tentu.
Walaupun saya katakan ini, bergiat bagi Tuhan melakukan kegiatan pelayanan bagi Tuhan adalah hal yang penting tapi terlebih penting adalah hidup di dalam kehendak Tuhan. Tuhan melihat dan mencatat apa yang kita lakukan di luar gereja, lebih dari apa yang kita perbuat di dalam gereja. Jadi dengan kata lain, kita harus menaati-Nya di dalam hidup kita, bukan hanya di dalam gereja atau melakukan kegiatan gerejawi. Relasi dengan Tuhan hanya bisa terjaga jika kita menaati-Nya di dalam hidup kita.
GS : Ketaatan itu baru muncul kalau kita memahami apa yang dikehendaki oleh Tuhan, kehendak itu justru kita peroleh dengan melakukan kegiatan-kegiatan gereja itu.
PG : Sudah tentu itu betul, Pak Gunawan. Jadi relasi dengan Tuhan yang sehat seyogianyalah kita juga akan berusaha sekuat mungkin untuk melakukan hal-hal yang Tuhan minta, misalnya melayani Tuhn dan sebagainya di dalam gereja-Nya.
Tapi tetap harus ditekankan bahwa melakukan kegiatan-kegiatan itu tidak identik dengan memunyai hubungan yang akrab dan taat dengan Tuhan karena hampir semua orang bisa melakukan hal-hal seperti itu, hampir semua orang bisa melayani di paduan suara, hampir semua orang bisa menjadi pengambil kolekte, hampir semua orang juga bisa menjadi majelis jemaat. Semua bisa menjadi seperti itu dengan memelajari caranya kemudian kita bisa melakukannya, namun apakah di luar gereja hati kita taat kepada Dia, apakah di luar gereja kita bersedia meminta maaf, apakah di luar gereja kita memiliki kemurahan hati untuk menolong orang yang susah ? Apakah di luar gereja kita berbesar hati menerima kritikan dan tidak marah atau tersinggung ? Jadi hal-hal seperti itulah yang diutamakan dan bukan kegiatan bagi Tuhan, tapi kehendak Tuhan sendiri yang kita tinggikan.
GS : Tetapi itu menyangkut kedewasaan kepribadian seseorang atau karakter orang itu, Pak Paul, yang sesungguhnya agak sulit dilihat atau dinilai dari masing-masing orang. Ada orang yang memang sejak sebelum menikah banyak kegiatannya di gereja, apakah setelah dia menikah kemudian dia harus mengurangi kegiatan itu atau bahkan meninggalkan sama sekali kegiatan itu ?
PG : Tidak, Pak Gunawan. Jadi kalau kita sudah mengerti tanggung jawab kita sebagai orang Kristen dan kita berusaha menaati Tuhan di dalam hidup kita, sudah tentu pelayanan-pelayanan itu adalahpelayanan yang indah dan yang berkenan kepada Tuhan.
Tapi sekali lagi syaratnya adalah justru di luar rumah kita harus mengutamakan kehendak Tuhan dan menaati suruhan-suruhan-Nya, jadi itu yang harus kita tinggikan di atas kegiatan-kegiatan itu sendiri.
GS : Ada banyak orang yang masih kesulitan menemukan atau untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan dan apa yang bukan menjadi kehendak Tuhan, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita harus kembali kepada firman Tuhan, Pak Gunawan, bahwa di sanalah terdapat pengetahuan tentang Tuhan, apa yang Tuhan inginkan dari kita dan sebagainya. Namun saya harus teknkan lagi prinsip yang kedua yang berkaitan tentang itu yaitu untuk menjaga relasi dengan Tuhan, mengutamakan Tuhan karena kita harus mengutamakan firman Tuhan di atas pengetahuan akan Tuhan.
Kadang-kadang kita ingin tahu tentang sesuatu, belajar ini dan belajar itu, ikut pembinaan ini dan pembinaan itu, ikut Sekolah Alkitab Malam dan sebagainya. Waktu kita semakin tahu banyak maka kita berpikir kalau kita itu makin akrab dengan Tuhan, sebetulnya tidak. Yang membuat kita akrab adalah sewaktu firman Tuhan hidup di hati kita. Misalkan kita menggunakan perumpamaan suami istri, apa buktinya kita dekat dengan istri kita ? Waktu tidak ada istri kita di samping kita maka kita mengingat perkataannya, kita mengingat dirinya, waktu dia hadir di hati kita terus menerus barulah kita bisa mengklaim bahwa kita dekat dengan dia. Pengetahuan kita tentang istri kita itu tidak sama dengan kita dekat dengan istri kita. Hal itu sama halnya dengan Tuhan. Kita boleh mengklaim kalau kita tahu banyak tentang Tuhan, doktrin ini dan itu, tapi Dia tidak hadir di dalam diri kita, berarti Dia jauh dari kita. Yang harus kita utamakan adalah apakah hati kita dipenuhi oleh Tuhan dan apakah kita senantiasa memikirkan Dia, memikirkan apa yang menyenangkan hati-Nya.
GS : Selain kita harus memelihara relasi dengan Tuhan, langkah yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Kita pun harus memelihara relasi dengan keluarga. Jadi secara konkret kita harus mengutamakan kepentingan semua di atas kepentingan untuk diri sendiri. Jadi secara praktisnya, didalam pengmbilan keputusan kita harus memikirkan kepentingan semua anggota keluarga.
Jangan mengambil keputusan karena itu baik bagi diri sendiri. Jadi kita harus memertimbangkan kepentingan yang lain-lainnya juga. Memang mengutamakan kepentingan semua tidak mudah dan biasanya memperlambat proses pengambilan keputusan namun semua upaya untuk memertimbangkan kepentingan semua anggota keluarga kita memerlihatkan komitmen kita untuk mengutamakan keluarga di atas kepentingan pribadi. Waktu istri, waktu suami, waktu anak-anak melihat kalau kita mengutamakan kepentingan mereka, maka mereka tahu kalau kita mengutamakan kepentingan mereka dan relasi dengan mereka, mereka itu sangat yakin bahwa merekalah yang sangat penting dan bukan kepentingan-kepentingan lainnya.
GS : Tapi untuk menyelaraskan semua kepentingan orang yang berbeda-beda yaitu berbeda usia, gender, kepentingan, itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, Pak Paul ?
PG : Memang untuk mementingkan kepentingan semua memang tidak mudah, tapi harus ada usaha untuk melakukannya, harus ada usaha untuk memenuhi semuanya meskipun pada akhirnya kita tidak bisa memeuhi kepentingan semua dengan sama rata, mungkin ada yang harus berkorban tapi kalau kita bisa melakukan itu, maka mereka akan melihat kalau kita telah berusaha sekeras-kerasnya.
Saya berikan contoh, waktu saya bertemu dengan istri saya dan pertama kali saya berpacaran, saya katakan kepada istri saya,"Saya merasa kalau Tuhan memanggil saya untuk pulang kembali ke Indonesia, apakah kamu mau kembali bersama saya ?" dan dia berkata dia mau. Dari titik saya bertemu dengan dia, pacaran dengan dia dan sampai kami benar-benar mau pulang itu ada rentang waktu selama sepuluh tahun. Jadi dalam sepuluh tahun itu banyak hal yang telah terjadi, kami telah menancapkan akar dan tinggal dengan komunitas kami, bekerja dan sebagainya dan untuk pergi dari sana sangat susah. Jadi istri saya merasa berat untuk meninggalkan keluarganya, komunitasnya dan sebagainya untuk ikut saya pulang ke Indonesia. Saya berusaha meyakinkan istri saya untuk pulang tapi memang tidak mudah. Jadi selama dua tahun kami mengalami proses pengambilan keputusan itu. Satu titik sampai saya tidak bisa lagi dan istri saya rasanya juga tidak siap untuk pulang maka saya harus mengalah dan berkata, "Baiklah kalau begitu saya putuskan untuk tidak pulang ke Indonesia dan tinggal di sini saja," tapi setelah itu istri saya melihat perubahan dalam diri saya, saya kehilangan semangat, saya kehilangan tujuan hidup saya karena bertahun-tahun saya merasakan kalau ini adalah panggilan Tuhan dan saya telah menyiapkan hati dan diri saya untuk kepulangan itu. Waktu itu tidak terjadi maka saya kehilangan arah hidup saya dan istri saya melihat hal itu, hal ini tidak saya buat-buat karena ini adalah reaksi alamiah saya. Karena istri saya mengasihi saya dan dia melihat perubahan saya yang begitu drastik pula, kemudian kami mencoba setahun dulu, istri saya berkata, "kalau saya tidak betah nanti kita akan kembali ke Amerika" dan saya berkata, "Saya bersedia". Jadi akhirnya kami pulang ke Indonesia. Dan setelah satu tahun dia merasa nyaman kemudian kami teruskan. Jadi dengan kata lain, waktu saya diperhadapkan dengan keputusan yang seperti ini, saya memang mengorbankan diri saya tapi tidak berarti juga saya tidak berusaha meyakinkan istri saya tapi sampai titik terakhir saya berusaha mengorbankan diri saya dan waktu saya mengorbankan diri saya, justru istri saya yang maju satu langkah yang terus mengalah sampai saat ini.
GS : Memang intinya adalah harus ada yang berkorban supaya terjadi kesepakatan. Namun apakah ada hal lain yang bisa kita lakukan didalam memelihara relasi dengan keluarga, Pak Paul ?
PG : Satu lagi yaitu kita harus belajar dari keluarga, di atas mengajarkan kepada keluarga. Sebagai orang tua memang kita harus mengarahkan anak atau pasangan kita, bak seorang pendidik kepada nak didiknya namun kita juga harus menyadari bahwa kita terbatas dan kita pun harus terbuka terhadap apa yang keluarga ingin ajarkan kepada kita.
Demikian pula terhadap pasangan kita, jangan sampai kita beranggapan bahwa kita selalu tahu dan berada di pihak yang benar. Kita harus menyadari bahwa kita dapat belajar banyak dari tanggapan anggota keluarga, tatkala kita membuka diri, bersedia belajar maka kita menunjukkan kalau merekalah prioritas hidup kita, sehingga mereka tahu kalau kita mengutamakan relasi dengan keluarga di atas kepentingan lainnya.
GS : Belajar di sini mengenai apa misalnya, Pak Paul ?
PG : Banyak hal misalnya sebagai suami, kita harus mengasihi istri dengan lebih baik, memerhatikan anak-anak dengan lebih baik. Sebagai istri misalkan mengendalikan emosi kita dengan lebih baik menjadi orang tua yang lebih bijaksana kepada anak-anak kita.
Dan kita juga bisa terima dari anak-anak dan bukan hanya dari pasangan. Misalkan anak kita berkata kepada kita bahwa "Papa cepat sekali bereaksi dan tidak tanya dulu, tapi langsung menghukum saya dan sebagainya." Maka kita belajar bahwa sebelum saya menjatuhkan hukuman lebih baik saya tanya dulu baik-baik dan barulah menjatuhkan hukuman kepada anak saya. Jadi waktu kita menunjukkan kalau kita memang salah dan saya mau belajar karena komentar kamu itu juga baik dan saya terima. Kalau mereka diperlakukan seperti itu maka mereka tahu kalau mereka itu penting dan karena begitu pentingnya sehingga mereka didengarkan oleh kita dan hal itu akan dapat membangun keluarga kita.
GS : Kalau pelajaran itu, yang Pak Paul sampaikan tadi. Hal itu harus kita pelajari terus menerus sampai akhir hayat kita artinya kita tidak bisa berhenti belajar dengan berkata, "Saya sudah menguasai hal itu."
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi hal itu yang perlu dilihat oleh keluarga kita bahwa kita itu mementingkan kepentingan mereka. Beberapa waktu yang lalu saya dipanggil untuk mendoakan sebuahkeluarga, ada seorang ayah yang tengah terbaring di ICU, waktu saya masuk dan melihat istri dari si ayah itu dan anak-anaknya yang datang dari luar kota dan mengelilingi ranjang ayahnya dan kemudian saya berdoa, setelah satu jam kemudian si ayah itu dipanggil Tuhan.
Dari situ saya melihat satu hal yaitu di akhir hayat yang akan mengelilingi ranjang di mana kita akan menghembuskan nafas terakhir adalah keluarga kita dan bukan orang lain. Jadi seyogianyalah dari mereka kecil dan kita masih muda, kita tunjukkan kalau mereka penting bagi kita, kita tidak akan mengambil keputusan hanya untuk kepentingan kita dan kita juga mau mengutamakan mereka juga supaya mereka tahu kalau mereka itu penting dan kita pun mau membuka diri belajar dari mereka, kita tahu apa yang mereka sampaikan juga penting untuk kita dengarkan.
GS : Tapi hal itu harus ditanamkan sedini mungkin, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Rupanya kita masih punya satu pokok pembicaraan yang lain mengenai relasi ini tapi karena keterbatasan waktu maka kita akan bicarakan pada kesempatan yang lain. Jadi kita sangat berharap para pendengar kita bisa mengikuti perbincangan kita ini. Namun sebelum kita mengakhiri perbincangan kita mungkin ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Matius 19:6 berkata, "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia". Dari ayat ini kita belajar satu hal bahwa sewaktu Tuhan berkata "Tidak boleh diceraikan oleh manusa," berarti manusia harus berusaha sekeras mungkin menyatukan dirinya.
Jadi larangan ini bukan hanya sekadar larangan tapi sebuah perintah atau himbauan untuk kita terus menyatukan diri. Jadi bukan hanya kita berikan batas akhir tidak boleh bercerai, tapi di dalam teritori yang sama itulah kita harus membangun relasi kita sebaik mungkin, kita mengutamakan Tuhan dalam hidup kita dan mengutamakan keluarga kita sehingga pada akhirnya kita bisa memetik buah-buah pernikahan yang manis itu.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sampai Maut Memisahkan kita" bagian yang pertama, dan perbincangan ini akan kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Firman Tuhan berkata, "Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia" (Matius 19:6). Saya kira semua orang yang menikah berharap bahwa pernikahannya dapat berjalan langgeng sampai maut memisahkannya. Saya percaya tidak ada orang yang menikah dengan pemikiran bahwa suatu hari kelak ia akan menceraikan pasangannya.
Persoalannya adalah, setelah menikah masalah mulai bermunculan sehingga perceraian pun menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.
Sekarang marilah kita melihat bagaimanakah membangun pernikahan yang dapat bukan saja bertahan tetapi terus berbuah sampai maut memisahkan kita. Kita akan memulai dengan melihat tahap pernikahan pada masa tua dan menyoroti tantangan yang harus dihadapi pada masa itu agar kita dapat mempersiapkan pernikahan kita mulai dari hari ini.
Dua Ciri Masa Tua
Menengok ke belakang, karena tidak lagi dapat memandang ke depan. Masa tua adalah masa menyelesaikan perjalanan hidup, bukan memulai sebuah perjalanan baru. Kita masuk ke masa tua membawa album kenangan, bukan buku dengan halaman kosong. Itu sebabnya pada masa tua kita cenderung mengingat apa yang telah terjadi.
Menuai apa yang telah ditabur. Pada masa tua kita menyadari bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu tidak dapat diperbarui atau diubah kembali berhubung kesempatan untuk itu pun sudah lenyap. Jadi, jika kita telah menanam pohon kehidupan yang sehat di dalam pernikahan, kita akan mencicipi buah yang manis. Sebaliknya, bila kita menanam pohon kehidupan yang tidak sehat dalam pernikahan, kita pun harus memakan buah yang pahit. Itu sebabnya kita harus menabur benih yang sehat agar dapat menuai buah yang manis untuk diri sendiri, BUKAN SAJA UNTUK ORANG LAIN.
Benih Sehat adalah MENETAPKAN PRIORITAS HIDUP SEJAK AWAL PERNIKAHAN, YAITU:
Memelihara relasi dengan Tuhan
Memelihara relasi dengan keluarga
Memelihara relasi dengan sesama
Dengan kata lain, kita mengutamakan RELASI di atas kepentingan lainnya.
Memelihara Relasi dengan Tuhan
Utamakan KEHENDAK Tuhan di atas KEGIATAN bagi Tuhan. Sejak awal kita harus mengerti bahwa kegiatan bagi Tuhan tidak sama dengan kehendak Tuhan. Walaupun giat bagi Tuhan adalah hal yang penting, namun terlebih penting adalah hidup dalam kehendak Tuhan. Tuhan melihat dan mencatat apa yang kita lakukan di luar gereja lebih dari apa yang kita perbuat di dalam gereja. Relasi dengan Tuhan terjaga tatkala kita menaati-Nya di dalam hidup kita.
Utamakan FIRMAN Tuhan di atas PENGETAHUAN tentang Tuhan. Kita pun harus meninggikan Firman Tuhan di atas pengetahuan tentang Tuhan. Sudah tentu adalah baik bila kita belajar tentang Tuhan tetapi terpenting bukanlah pengetahuan itu sendiri melainkan hati kita.
Memelihara Relasi dengan Keluarga
Utamakan apa yang baik buat SEMUA di atas apa yang baik untuk SENDIRI. Dalam pengambilan keputusan, kita mesti memikirkan kepentingan semua anggota keluarga. Memang memertimbangkan semua kepentingan tidak mudah dan biasanya memperlambat proses pengambilan keputusan namun upaya tersebut memperlihatkan komitmen kita untuk mengutamakan keluarga di atas kepentingan pribadi.
Utamakan untuk BELAJAR DARI keluarga di atas MENGAJARKAN KEPADA keluarga. Sebagai orang tua kita harus mengarahkan anak seperti seorang pendidik kepada anak didiknya. Namun kita pun perlu menyadari bahwa kita terbatas dan bahwa kita pun harus terbuka terhadap apa yang keluarga ingin ajarkan kepada kita. Demikian pula terhadap pasangan kita. Jangan sampai kita beranggapan bahwa kita selalu yang tahu dan yang berada di pihak yang benar. Tatkala kita membuka diri dan bersedia belajar, kita menunjukkan bahwa merekalah prioritas hidup kita.
Memelihara Relasi dengan Sesama
Perhatikan yang TERTINGGAL di atas yang TERTINGGI. Janganlah kita menjadi orang yang hanya memerhatikan dan berkawan dengan orang yang terhormat atau dengan orang yang dapat memberi kita keuntungan. Perhatikanlah orang di sekitar yang tertinggal dan terpinggirkan. Orang seperti merekalah yang akan menjadi sahabat sejati oleh karena mereka merasakan kasih sayang kita kepada mereka tatkala mereka berada di lembah kehidupan.
Utamakan MENGAJAK di atas DIAJAK. Dalam berteman, jangan bersikap pasif dan saling tunggu. Berinisiatiflah untuk bertemu dan menjalin relasi. Jangan menghitung-hitung untung-rugi dalam persahabatan. Relasi dibangun di atas inisiatif untuk memelihara pertemanan.
Selain menabur benih sehat, kita juga harus melindungi pohon nikah yang telah ditanam agar dapat bertumbuh dan berbuah. Berikut akan dipaparkan beberapa langkah yang dapat diambil :
MENJAGA HATI: Tidak ada yang lain. Kita harus melindungi pernikahan secara terencana. Ini berarti kita mesti mengambil tindakan tegas untuk melarang khayalan bergentayangan ke wilayah dosa. Sebagai manusia kita dapat dan akan tertarik kepada orang lain yang mungkin saja lebih menawan dan lebih baik daripada pasangan sendiri. Namun kita harus mengingatkan diri akan komitmen pernikahan yang telah dibuat. Singkat kata, kita mesti dengan tegas berkata bahwa di dalam hati kita, tidak ada ruang tersisa untuk orang lain.
MENJAGA BATAS: Tidak ada yang lekat. Salah satu penyebab mengapa akhirnya banyak orang jatuh ke dalam dosa perzinahan adalah dikarenakan kegagalan kita menarik batas yang jelas SEJAK DINI. Dari awal berelasi dengan lawan jenis kita harus menetapkan batas bahwa relasi ini hanya akan menjadi relasi pertemanan. Kita harus memutuskan untuk tidak menceritakan masalah pribadi-apalagi masalah rumah tangga-kepada rekan lawan jenis. Kita juga harus menolak dengan tegas ajakan untuk pergi berdua atau bahkan mengantarnya pulang. Kita mesti menyadari bahwa interaksi pribadi yang dilakukan terus menerus berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan ketertarikan pada akhirnya melahirkan hasrat atau nafsu untuk menyatukan diri dengannya. Kendati pencobaan dapat datang kapan saja, namun satu fakta yang tak dapat dipungkiri adalah sering kali kita turut berandil memberi undangan kepada pencobaan untuk datang.
MENJAGA IMPIAN: Tidak berlebihan. Pernikahan pun mesti dilindungi dari kehancuran yang bersikap ekonomi. Kadang kita terlalu berambisius dan ingin cepat kaya sehingga kita gelap mata dan mengambil keputusan bisnis yang terlalu riskan. Alhasil, ingin untung kita malah buntung. Semua menderita akibat keputusan keliru yang kita buat. Kendati ikatan pernikahan tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan ekonomi, namun sebagai manusia kita terpengaruh olehnya. Kesulitan ekonomi yang mendera cenderung menambah frekuensi pertengkaran karena dalam keadaan terjepit, kita mengalami lebih banyak stres.
Kesimpulan
Jika kita ingin sampai pada garis akhir dengan baik, kita harus merencanakan pertandingan dengan sebaik-baiknya. Itu sebabnya Firman Tuhan berikut ini haruslah menjadi pedoman hidup kita sekalian "PERCAYALAH kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada PENGERTIANMU sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, TAKUTLAH akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan akan menyembuhkan tubuhmu dan MENYEGARKAN tulang-tulangmu." Amsal 3:5-7
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik atau dengan lebih tajam. Ada ketiga jenis kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta, di mana ketiganya akan dikaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini kami beri judul "Tahap Perkembangan Cinta dalam Pernikahan". Kami percaya perbincangan ini akan sangat menarik dan bermanfaat bagi Anda sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, di dalam bahasa Indonesia mungkin kita hanya mengenal kata cinta atau kasih yang sering kali kita gunakan sehari-hari tapi kalau tidak salah saya mendengar dalam bahasa Yunani itu ada beberapa istilah. Apa benar seperti itu, Pak Paul?
PG : Benar Pak Gunawan, jadi dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta. Kita akan bicarakan pada kesempatan ini yaitu 3 kata cinta itu, Pak Gunawan.
(2) GS : Itu kaitannya dengan cinta yang kita rasakan atau kita alami di dalam hubungan suami-istri bagaimana, Pak Paul?
PG : Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik dan lebih tajam, oleh karena itulah ketiga jenis kata yang digunakan ini dapat kita kaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga.Ada beberapa, yang pertama akan kita bahas adalah kasih eros, dari kata eros muncullah kata erotik.
Jadi kata eros itu sendiri sebetulnya adalah kasih yang didasari atas ketertarikan jasmaniah secara fisik.
ET : Sebenarnya kalau ketertarikan seperti itu dibenarkan atau tidak, Pak Paul?
PG : Tidak apa-apa sebetulnya, Bu Esther, jadi ketertarikan secara fisik adalah sesuatu yang alamiah bukan sesuatu yang salah dan Tuhan pun tidak memarahi kita karena kita tertarik kepada seseoang secara fisik.
Bahkan seorang hamba Tuhan yang lain bernama George McDowell menegaskan bahwa unsur eros adalah unsur yang juga penting dalam pernikahan. Dengan kata lain tanpa adanya unsur eros cinta itu juga akan kehilangan unsur "passion" ya, unsur "passion" itu kalau diterjemahkan bukannya nafsu tapi suatu ketertarikan atau pendambaan yang kuat. Mungkin juga suatu hasrat, keinginan untuk intim dan sebagainya, karena adanya ketertarikan secara fisik.
GS : Secara naluri memang manusia dibekali dengan itu ya, Pak?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi karena kita ini manusia yang mempunyai hormon-hormon memang sudah dibekali Tuhan untuk bisa menyukai orang karena ketertarikan secara fisik itu.
GS : Tetapi ada orang yang tertarik dengan sesama jenisnya, apakah itu tergolong di situ juga?
PG : Itu juga sama, jadi masuk dalam kategori eros yaitu ketertarikan secara jasmaniah. Pada esensinya, tahap ini adalah tahap awal dalam menjalin hubungan. Kita menyukai seseorang karena ada hl-hal tentang dirinya secara fisik yang kita sukai.
Dapat kita katakan dalam satu kalimat, cinta eros adalah cinta yang berkata: "Aku tertarik kepadamu sebab engkau memberikan sesuatu yang aku inginkan." Nah boleh juga saya gunakan istilah ini adalah cinta yang lebih ke arah saya sendiri secara pribadi, jadi cinta ini cinta searah. Namun arahnya adalah dari orang kepada kita karena orang memberikan sesuatu yang kita inginkan atau menyenangkan hati kita.
ET : Jadi fokusnya lebih kepada diri sendiri dulu Pak Paul, mungkin seperti keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini.
PG : Mungkin tidak melulu keuntungan tapi sesuatu yang menyenangkan hati secara jasmaniah, mungkin wajahnya, tubuhnya, penampakannya yang memang membuat kita senang, jadi benar-benar searah dar dia untuk kita.
Boleh juga kita gunakan istilah ini adalah cinta terpesona, benar-benar rasanya kita terpesona dengan penampakannya, kehadirannya.
ET : Mungkin dari situ muncul suatu istilah jatuh cinta pada pandangan pertama berarti tergolong eros juga ya, Pak Paul?
PG : Betul, cinta pada pandangan pertama pastilah cinta eros karena kita belum mengenal orang itu tapi kita sudah menyukainya, jadi yang kita sukai biasanya adalah yang kita lihat. Cinta eros ii adalah cinta yang bersifat sementara, karena kita tidak mungkin terpesona terus-menerus.
Sebagus apapun pasangan kita atau seindah apapun pasangan kita setelah kita hidup bersamanya untuk jangka yang panjang, magnet itu makin mengecil tidak bisa kita hindari. Kita bukannya akan kehilangan cinta, tapi rasa terpesona itu memang akan berkurang, ini yang kadang-kadang membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa saya sudah tidak lagi mencintainya. Ya kadang-kadang kita menggunakan istilah cinta ala Hollywood. Sebab para bintang Hollywood itu dikenal secara negatif sebagai orang-orang yang kawin cerai dengan begitu mudah, mencintai seseorang setahun, 2 tahun kemudian bercerai. Karena sebagian dari orang-orang ini berkata tidak ada lagi cinta semula itu, nah yang mereka maksud sebetulnya adalah unsur terpesonanya tidak ada lagi. Justru yang mau kita tekankan di sini adalah memang unsur terpesona itu bersifat sementara, jarang bisa terus berlangsung untuk waktu yang sangat lama karena kita akan terbiasa dengan pasangan kita. Pada kesempatan ini yang ingin kita bahas adalah cinta itu sebetulnya akan mengalami progresi, perubahan wujud, perkembangan atau pertumbuhan dan meninggalkan terpesona memasuki tahapan yang lain.
GS : Apa itu Pak Paul, jadi tahapan berikutnya setelah eros itu tadi mulai berkurang?
PG : Yang tahap berikutnya adalah tahap phileo, ini bahasa Yunani berarti kawan, persahabatan. Dari kata inilah muncul sebuah nama kota di Amerika Serikat Filadelfia itu. Phileo adalah kasih pesahabatan, jadi pada tahap ini relasi diikat oleh kecocokan, berbeda dengan eros di mana relasi diikat oleh ketertarikan.
Pada tahap phileo, relasi kita dengan pasangan diikat oleh kecocokan. Dengan kata lain kita bergerak meninggalkan eros yang bersifat jasmani masuk ke dalam relasi yang lebih bersifat non-jasmaniah, kecocokan sifatnya, karakteristiknya, kesamaan berpikir, bisa mengerti kita, kita bisa mengertinya. Kalau kita bilang kecocokan berarti memang ini timbal balik. Kalau tadi satu arah dari pasangan kepada kita, sekarang timbal balik kita ke dia dan dia ke kita, saling mengisi, saling cocok, saling menyegarkan. Kalau saya boleh intisarikan cinta phileo adalah cinta yang berkata aku senang bersamamu, sebab kita sepadan.
ET : Dan untuk urusan sepadan ini memang perlu waktu untuk bisa menguji kecocokan itu. Dengan kata lain, kalau orang-orang pada masa-masa eros sudah langsung mungkin buat komitmen sampai ke pernikahan, jangan-jangan nanti sampai pernikahan juga belum sampai sebenarnya ke tahap untuk phileo dan untuk kecocokan ini, Pak?
PG : Betul, nah Ibu Esther memunculkan suatu point yang bagus ya, orang-orang dulu itu menikah secara "paksa" karena ditentukan oleh orang tua mereka. Tidak pernah mengenal tapi orangsering berkata kenapa pernikahan mereka bisa langgeng sampai meninggal dunia, sekarang berkenalan lama tapi akhirnya bubar.
Nah bedanya adalah begini, dulu kemungkinan besar memang cinta itu tidak pernah sampai ke tahap phileo pada awal-awalnya karena belum kenal. Tapi ikatan sosial sangat kuat sehingga sanksi sosial sangatlah menyakitkan dan besar bagi mereka yang bercerai, karena itulah pasangan-pasangan ini dipaksa untuk tetap tinggal dalam ikatan nikah. Karena dipaksa mereka akhirnya memaksa diri untuk mengembangkan kasih itu mulai dari eros ke phileo. Sedangkan zaman sekarang bisa jadi yang tadi Ibu Esther katakan, masalahnya menjadi ketertarikan secara eros, secara erotis senang dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah langsung mengikatkan diri dalam pernikahan e....setelah menikah baru menyadari betapa banyaknya ketidakcocokan, phileo tidak pernah terbentuk di situ sehingga eros pudar. Kita hanya bisa terpesona untuk jangka waktu tertentu, tapi kalau tidak digantikan oleh phileo memang berbahaya sekali.
GS : Pernikahan itu dari dua pribadi yang menikah, katakan satu dari mereka itu sudah mencapai ke tahap phileo tetapi yang satunya itu masih di tahap eros, bagaimana Pak?
PG : Menjadi pincang, sebab bisa jadi yang satu tidak menemukan kecocokan pada yang lainnya. Atau yang menekankan aspek eros akan berkata engkau tidak terpesona lagi kepadaku, bisa jadi memang khirnya muncul kepincangan di sini.
Jadi seyogyanya memang setelah melewati fase pertama itu yang mungkin berlangsung secara singkat 2, 3 tahun ya, seyogyanyalah yang akan mengikat kedua pasangan suami-istri ini adalah kasih phileo, persahabatan. Dan sebetulnya phileo ini akan menempati porsi yang besar dalam pernikahan misalkan 2, 3 tahun pertama adalah porsi eros boleh dikata setelah itu bisa sampai 40 tahun yang akan mengikat kedua orang ini adalah phileo, persahabatan. Ya erosnya makin pudar, tapi yang mengikat adalah persahabatan, dia bisa mengerti saya, saya bisa mengerti dia, bahu-membahu, saling menolong, membesarkan anak dan sebagainya.
GS : Tapi sampai ke tahap phileo itu Pak Paul, apakah kasih eros itu sudah tidak ada lagi di dalam pasangan itu?
PG : Sewaktu saya di seminari saya masih ingat sekali ada seorang teman yang usianya sudah lanjut, tapi dia bersekolah kembali sebagai seorang pendeta. Dan dia memberikan satu komentar yang bags sekali sewaktu membicarakan hal seksual dalam pernikahan.
Dia memberikan suatu bahasa kiasan "Semakin tua, semakin mengecil ranjang pengantin kami". Jadi maksudnya adalah ketertarikan secara jasmaniah dan kebutuhan untuk pemenuhan hasrat seksual memang makin menyusut, sehingga harus ada yang menggantikannya dan seyogyanyalah yang menggantikan itu adalah persahabatan. Sudah tentu bagi yang berpacaran jangan berkata o...ini tumbuhnya nanti setelah menikah o.....tidak, justru aspek phileo ini sudah harus mulai dirintis sejak masih berpacaran. Dapatkah pasangan kita itu menjadi sahabat kita, bukan saja seseorang yang membuat kita tertarik terhadapnya, tapi seseorang yang menjadi teman kita, bisa kita ajak bicara, kalau berkomunikasi bisa mengena. Jangan sampai karena masih berpacaran tidak bisa berkomunikasi, sering bertengkar tapi eros begitu kuat, saling tertarik secara fisik akhirnya menikah. Nah pernikahan seperti itu umumnya tidak akan langgeng.
ET : Mungkin atau tidak pasangan itu mengawali relasi dengan phileo terlebih dahulu sebelum adanya eros, Pak Paul?
PG : Bisa jadi, tapi tidak bisa murni sebab bagaimanapun kita ini tertarik kepada seseorang biasanya pada hal-hal yang bersifat fisik terlebih dahulu. Kalau kita sudah tidak punya perasaan sukamelihat penampakannya, sukar bagi kita untuk dekat dengan dia, jadi bukannya tergila-gila dia itu seperti apa gantengnya dan cantiknya ya tidak harus begitu eros, tapi senang melihat penampakannya, penampilannya begitu.
GS : Perselingkuhan itu juga timbul dorongan, jadi terhadap istrinya mungkin dia sudah ke tahap phileo tetapi lalu timbul rangsangan lagi, desakan lagi tertarik pada orang lain. Nah itu bagaimana, Pak Paul?
PG : Inilah yang menjadi masalah besar Pak Gunawan, dan Pak Gunawan telah memunculkan pertanyaan yang sangat relevan. Bukankah ini yang sering kali dicari oleh sebagian orang yaitu setrum, setrm romantis, eros dan mereka berkata: "Hambar hubunganku dengan istriku atau hubunganku dengan suamiku."
Tapi sekarang setelah aku bertemu dengan si dia hidupku ini menjadi bersemarak, bergairah, bersemangat lagi, rasanya tidak ada hidup sebelumnya seperti sekarang hidupku kembali." Betul, eros itu memang mempunyai sifat memberikan energi, memompa energi, memberikan kita suatu kesenangan kembali untuk menikmati hidup tapi sekali lagi hal ini tidak akan permanen. Kalau kita boleh berbicara langsung kepada mereka yang pernah berselingkuh dan tanyakan apakah api selingkuh itu ada pada tahap pertama perkenalan mereka, dugaan saya tidak ada. Jadi mereka yang mencari setrum-setrum romantis ini memang cenderung akhirnya terjebak dalam konsep yang keliru o....tidak ada lagi hubungan cinta dengan istri saya, harus mencarinya di luar. Padahalnya dengan yang di luar pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama.
ET : Dapatkah kita mengatakan kalau orang-orang yang ingin mencari setrum baru itu besar kemungkinannya kwalitas phileonya ini memang mulai diragukan, jadi mungkin memang kedekatan persahabatan dengan pasangan ini rasanya perlu dievaluasi ya, Pak Paul?
PG : Sudah tentu itu bisa menjadi sumbang sih yang besar sekali, Bu Esther, jadi orang-orang ini memang sudah mempunyai masalah dalam pernikahan. Tapi saya tidak bisa menyangkali juga ada kasusdi mana hubungan nikahnya lumayan baik, namun orang-orang ini seolah-olah keranjingan dengan setrum-setrum romantis, setrum-setrum erotis ini sehingga akhirnya tetap mencari-cari yang di luar.
GS : Apa ada tahapan berikutnya?
PG : Ada yaitu tahap agape, inilah puncaknya dan sudah tentu tahapan ini tidak berarti hanya bisa ada di akhir pernikahan kita. Kasih agape adalah kasih searah sama seperti eros, namun bedanya rahnya itu terbalik.
Kalau eros arahnya dari dia kepadaku, kasih agape adalah arahnya dari aku kepada dia, kepada pasangan kita. Inilah kasih yang kita sebut kasih tanpa kondisi, sifat utamanya adalah memberi tanpa menghiraukan respons penerimanya. Jadi sungguh-sungguh kasih di sini hanya ingin memberikan tanpa menghiraukan apakah yang menerima kasih itu menunjukkan respons seperti yang kita inginkan. Kalaupun tidak memberikan respons seperti yang kita inginkan, cinta kita tetap kita berikan, jadi kita katakan agape itu tidak mementingkan diri sendiri. Agape hanya memikirkan dan berbuat sesuai dengan kepentingan si penerima kasih itu. Itu sebabnya penulis Alkitab menggunakan istilah agape untuk menggambarkan kasih Tuhan kepada manusia.
GS : Tapi manusiapun juga bisa melakukan sampai ke tingkat kasih agape itu, Pak?
PG : Bisa, karena sering kali bukan akibat pilihan kita, tapi akibat tempaan hidup dan akibat kuatnya dasar phileo. Jadi tanpa ada dasar phileo dapat saya katakan mustahil untuk menyempurnakan asih ini menjadi kasih agape.
Contohnya kita menghadapi badai kehidupan, diterjang oleh PHK misalnya atau kematian anak yang kita kasihi atau kehilangan rumah dan sebagainya. Namun suami-istri bahu-membahu menghadapi terjangan hidup yang begitu berat, saling menguatkan. Akhirnya apa yang terjadi misalkan kita adalah orangnya, kita akan benar-benar tersentuh dengan bantuan, cinta kasih, pengertian dari pasangan kita. Akibat dari semua itu adalah muncul kasih agape yaitu kasih yang ingin melindungi, memberikan dan menyayanginya. Meskipun akhirnya kita bertambah tua, tapi perasaan yang muncul bukannya justru mau menyingkirkan, tetapi menyayanginya sebagai sesuatu yang berharga, sebab dia berharga buat kita. Kita tidak lagi terpesona karena memang usia makin menanjak dan sebagainya, tapi kita merasakan dia adalah berharga buat kita, dia pernah begitu baik dan menolong kita sebagai sahabat.
ET : Kalau ternyata ini hanya sepihak saja bagaimana, Pak Paul?
PG : Itu bisa terjadi Bu Esther, yang satu tidak mempunyai kemampuan dan kematangan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki yaitu memberikan kasih agape, akhirnya pincang kalau seperti itu. Jadi trus-menerus cinta itu merupakan transaksi bagi mereka-mereka ini, aku memberikan engkau memberikan, aku berikan satu engkau berikan satu, ya susah.
Namun seharusnya melalui tempaan-tempaan hidup orang dibentuk Tuhan untuk memiliki kasih agape ini, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang tidak matang-matang, terus-menerus berhitungan seperti itu.
ET : Saya hanya membayangkan mungkin misalnya salah satu pihak memang benar-benar murni tanpa mengharapkan balasan tetapi pasangannya tidak tahu diri, malah mungkin mencari ke yang lain dan memerlakukan yang mengasihi dengan agape ini justru dengan perlakuan yang buruk ya.
PG : Itu yang kadang-kadang harus kita temui dalam hidup ini, di mana ada seseorang mengasihi pasangannya dengan kasih agape, memberikan tanpa kondisi sedangkan pasangannya tidak tahu diri, menalahgunakan kasih yang begitu besar.
Tapi dalam situasi seperti itu, kasih yang tetap ada adalah kasih agape sebab sungguh-sungguh dia tidak menerima apapun, tidak ada lagi yang dia bisa katakan inilah timbal baliknya dari yang saya berikan, tapi dia tetap mengasihi. Di sinilah cintanya menjadi seperti cinta Tuhan kepada manusia, meski kita berdosa tetap memberikan dirinya kepada kita.
GS : Tapi kalau tadi Pak Paul katakan eros itu tidak kekal, artinya bukan untuk jangka panjang apakah agape itu untuk jangka panjang, Pak Paul?
PG : Semakin cepat kita membentuk kasih agape, sebetulnya semakin memperkuat ikatan nikah kita. Tapi sekali lagi saya harus mengakui, Pak Gunawan, bahwa kita ini tidak bisa menciptakan kasih agpe dengan sendirinya.
Kita hanya bisa melewati situasi-situasi kehidupan dan taat kepada Tuhan melalui masalah-masalah yang kita hadapi dan tiba-tiba tanpa kita sadari kapan munculnya, cinta agape itu barulah mulai keluar. Tahunya dari mana kita mulai memiliki cinta agape? Nomor satu yang muncul dalam hati kita adalah perasaan tadi yang saya sebut sayang kepada pasangan kita, sayang bahwa dia itu berharga buat kita. Yang berikutnya kita benar-benar tahu tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk kita, tapi kita ingin memberikan diri kita kepadanya. Saya berikan satu contoh, Pak Gunawan dan Ibu Esther, saya pernah mendengar suatu kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang istrinya terkena penyakit sehingga lumpuh, harus diberikan makan, disuapi dan sebagainya tapi ke mana-mana dia bawa istrinya itu. Dan dia pernah berkata dalam bahasa Inggrisnya 'Biasanya istri itu dikatakan seperti tumbuh-tumbuhan, vegetable tapi dia berkata istri saya adalah tomat yang paling manis, jadi meskipun istrinya tidak bisa memberikan apapun untuk dia tapi tetap dia cintai. Nah itulah contoh kasih agape, yang kalau dia sendiri ciptakan saya rasa tidak mungkin. Tapi melewati peristiwa kehidupan itulah dia bisa memunculkannya.
GS : Jadi orang yang merasakan sentuhan kasih Allah dengan kasih agape, saya rasa akan menyalurkan kasih itu juga kepada pasangannya ya, Pak Paul. Tadi Pak Paul katakan di dalam Alkitab itu sering kali digunakan istilah agape, sebelum kita mengakhiri perbincangan kita mungkin ada bagian Alkitab yang bisa mendukung itu.
PG : Saya akan bacakan Markus 9:35 , "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Kasih agapediwujudnyatakan dalam bentuk yang nyata yaitu sebagai pelayan dan mendahulukan orang lain dan dengan rela kita ini yang terbelakang.
Dalam pernikahan kita harus ingat prinsip Tuhan, Tuhan pun datang untuk melayani dan mendahulukan yang dilayaninya yaitu kita manusia. Jadi hendaklah sebagai suami istri kita juga mewujudnyatakan cinta Tuhan dalam hidup kita, mendahulukan pasangan kita dan melayani dia. Dan kalau dua-dua bisa melakukan seperti itu, betapa indahnya pernikahan mereka.
GS : Kalau melihat sifat dari kasih agape itu bukan hanya ditujukan kepada pasangan kita, bisa ke anak, bisa ke keluarga lain, bisa ke orang lain yang bukan sanak keluarga kita. Apa betul seperti itu, Pak Paul?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi cinta yang memang kita sebarkan kepada semuanya.
GS : Terima kasih, Pak Paul dan Ibu Esther, untuk perbicangan kita saat ini dan saudara-saudara pendengar Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang suatu topik yaitu "Tahap Perkembangan Cinta dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kata kunci: perkembangan cinta
Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta. Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik dengan lebih tajam, oleh karena itulah ketiga jenis kata yang digunakan ini dapat kita kaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga. Ada beberapa yang kita akan bahas adalah:
Kasih Eros, dari kata eros muncullah kata erotik. Jadi kata eros itu sendiri berarti sebetulnya kasih yang didasari atas ketertarikan jasmaniah secara fisik. Juga saya gunakan istilah ini adalah cinta yang lebih ke arah saya sendiri secara pribadi, jadi cinta ini cinta searah, namun arahnya adalah dari orang kepada kita karena orang memberikan sesuatu yang kita inginkan atau menyenangkan hati kita. Boleh juga digunakan istilah cinta terpesona, benar-benar kita rasanya terpesona dengan penampakannya, kehadirannya. Unsur eros ini adalah unsur yang juga penting dalam pernikahan. Dengan kata lain tanpa adanya unsur eros cinta itu juga akan kehilangan unsur 'passion' yaitu suatu ketertarikan suatu pendambaan yang kuat. Suatu hasrat, keinginan untuk intim.
Tahap Phileo, dalam bahasa Yunani kata phileo berarti kawan, persahabatan. Phileo ini adalah kasih persahabatan jadi pada tahap ini relasi diikat oleh kecocokan, berbeda dengan eros di mana relasi diikat oleh ketertarikan. Dengan kata lain kita bergerak meninggalkan eros yang bersifat jasmani masuk ke dalam relasi yang lebih bersifat non-jasmaniah, kecocokan sifatnya, karateristiknya, kesamaan berpikir, bisa mengerti kita, kita bisa mengertinya. Kalau saya boleh intisarikan cinta phileo adalah cinta yang berkata: aku senang bersamamu, sebab kita sepadan. Phileo akan menempati porsi yang besar dalam pernikahan misalkan 2, 3 tahun pertama adalah porsi eros boleh dikata setelah sampai 40 tahun yang akan mengikat kedua orang ini adalah phileo, persahabatan.
Tahap Agape, inilah puncaknya dan sudah tentu tahapan ini tidak berarti hanya bisa ada di akhir pernikahan kita. Kasih agape, kasih searah sama seperti eros namun bedanya arahnya itu terbalik. Kalau eros arahnya dari dia kepadaku, kasih agape adalah arahnya dari aku kepada dia, kepada pasangan kita. Inilah kasih yang kita sebut kasih tanpa kondisi, sifat utamanya adalah memberi tanpa menghiraukan respons penerimanya.
Untuk mengetahui bahwa kita mulai memiliki cinta agape adalah:
Yang muncul dalam hati kita adalah perasaan tadi yang saya sebut sayang kepada pasangan kita, sayang bahwa dia itu berharga buat kita.
Kita benar-benar tahu tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk kita tapi toh kita ingin memberikan diri kita kepadanya.
Markus 9 : 35, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
Kasih agape diwujudnyatakan dalam bentuk yang nyata yaitu sebagai pelayan dan mendahulukan orang lain dan dengan rela kita ini yang terbelakang.
Dalam pernikahan kita mesti ingat prinsip Tuhan, Tuhan pun datang untuk melayani dan mendahulukan yang dilayaninya yaitu kita manusia. Jadi hendaklah sebagai suami-istri kita juga mewujudnyatakan cinta Tuhan dalam hidup kita, mendahulukan pasangan kita dan melayani dia.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Komitmen nikah adalah janji untuk melebur menjadi satu selamanya. Kehadiran anak merupakan wujud nyata dari peleburan dua menjadi satu ini. Jika anak adalah buah dari penyatuan jasmaniah antara suami dan istri, maka kasih adalah buah dari penyatuan rohaniah suami dan istri. Pernikahan adalah sebuah komitmen untuk mengharapkan diri yang terbaik sekaligus menerima diri yang terburuk.
Transkrip Isi:
T 208 B
Lengkap
"Komitmen Pernikahan" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Komitmen Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan komitmen pernikahan itu sebenarnya apa Pak Paul?
PG : Sebuah janji kesetiaan Pak Gunawan. Jadi kalau kita mau terjemahkan dengan lebih awam, komitmen adalah sebuah janji kesetiaan bahwa kita ini ada di sini dan akan terus berada di sini. Kia bukannya ada di sini untuk sementara tapi selama-lamanya, itu adalah janji kesetiaan, itu adalah komitmen pernikahan.
GS : Bedanya dengan janji-janji yang kita buat misalnya dalam relasi hubungan dagang, dalam kita menjadi anggota suatu club dan sebagainya apa Pak Paul?
PG : Sudah tentu yang paling membedakan adalah janji-janji itu diikat atas dasar kepentingan. Selama kepentingan masih terpenuhi maka ikatan itu akan selalu ada, begitu kepentingannya sudah tiak ada lagi atau begitu keuntungannya tidak ada lagi maka janji atau ikatan itu pun akan luntur.
Pernikahan tidak seperti itu; di dalam pernikahan, waktu kita berjanji untuk setia itu benar-benar kita akan berada di sini selamanya. Tidak peduli apakah kepentingannya masih ada atau tidak, tidak peduli apakah keuntungannya masih ada atau tidak; jadi memang sebuah janji untuk tetap berada di sini apa pun yang terjadi.
GS : Kapan biasanya komitmen pernikahan dilakukan?
PG : Sebetulnya komitmen pernikahan dimulai tatkala kita memulai pernikahan itu sendiri, yakni di hari kita berkata, "Saya akan mengambilmu sebagai istri, saya akan mengambilmu sebagai suami." Di titik itulah kita mulai menjalani komitmen atau janji nikah untuk selalu setia.
GS : Ya itu secara resmi dilakukan pada saat itu Pak Paul, tetapi sebenarnya sebelum itu sudah dilakukan penjajagan-penjajagan kemungkinan-kemungkinannya bahwa komitmen itu akan diambil seperti itu.
PG : Tepat sekali, sebelum kita mengucapkan janji atau ikrar untuk bersama-sama membina pernikahan ini, di dalam masa pacaran kita sedikit demi sedikit sudah mulai meningkatkan atau memperdalamjanji setia itu, bahwa kita akan selalu bersamamu.
Tapi tetap kalau kita belum diikat dalam pernikahan memang komitmen ini tidak sama. Pada akhirnya kalau kita menemukan ketidakcocokkan sebelum menikah, kita masih mempunyai kebebasan untuk berkata kita bukanlah pasangan yang cocok, tapi setelah kita menikah tidak lagi kita berpikir seperti itu. Kita sudah di sini dan kita akan selalu berada di sini, inilah komitmen nikah.
GS : Apakah itu ada dasar alkitabnya Pak Paul?
PG : Tuhan berkata di Kejadian 2:24, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Semulia apa pun tujan pernikahan kita, misalnya ada orang supaya kita lebih berkiprah dalam usaha, supaya kita lebih bisa memaksimalkan kinerja kita, bisa membina keluarga dan mempunyai anak-anak dan sebagainya; semulia apa pun tujuan pernikahan kita tetaplah yang menjadi dasar haruslah komitmen untuk melebur menjadi satu.
Ini adalah salah satu lagi yang membedakan komitmen nikah dengan komitmen lainnya. Komitmen lainnya misalnya dalam hal bekerja, bermitra, kita tidak meleburkan diri kita menjadi sebuah kesatuan. Kita mungkin meleburkan usaha agar menjadi suatu usaha yang sama, tapi kita tidak meleburkan pribadi. Namun dalam nikah, waktu kita berkomitmen untuk bersamanya kita berkomitmen untuk menjadi satu bahwa kita akan masuk ke dalam hidupnya dan dia akan masuk ke dalam hidup kita. Dan kita berdua akan membentuk sebuah pribadi yang baru, yang berbeda, jadi seyogianya setelah orang menikah setelah beberapa waktu memang dia tidak lagi menjadi sama seperti dulu. Kalau setelah menikah dia persis sama berarti memang pernikahan itu tidak berjalan dengan semestinya. Karena seyogianya pernikahan melebur dua pribadi menjadi satu sehingga dua-duanya menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang memang pas untuk keduanya. Kalau kita masih tetap memakai baju yang sama, diri yang sama setelah bertahun-tahun menikah; yang bisa kita simpulkan adalah pernikahan itu tidak membentuk kita menjadi sebuah pribadi yang baru.
GS : Pengertian keduanya menjadi satu daging, kenapa satu daging kenapa tidak satu roh atau satu jiwa?
PG : Memang di dalam firman Tuhan yang tadi kita sudah baca, konteksnya adalah sebuah persetubuhan jasmaniah, bahwa keduanya akan menjadi satu daging dalam pengertian secara jasmaniah. Namun sdah tentu waktu dikatakan di sini keduanya menjadi satu daging, dalam pengertian itu pula kita bisa memaknai ini adalah sebuah penyatuan dua manusia, bukan saja secara jasmaniah tapi yang terjadi secara jasmaniah melambangkan apa yang terjadi secara rohaniah, bahwa dua pribadi itu sungguh-sungguh menjadi satu.
Dilambangkan dalam bentuk nyatanya dengan sebuah persetubuhan. Makanya kalau kita kehilangan perspektif ini kita memang akan kehilangan makna pernikahan. Ada orang yang sebelum menikah sudah bersetubuh, mereka tidak mengerti bahwa persetubuhan hanyalah lambang dari penyatuan dua pribadi itu. Persetubuhan tidak menyatukan dua pribadi. Jadi seharusnya memang diawali dengan dua pribadi dilambangkan dengan penyatuan dua tubuh. Inilah yang Alkitab ajarkan kepada kita bahwa kita mesti menjadi satu dengan pasangan kita membentuk sebuah pribadi yang baru. Wujud nyata dari penyatuan ini yang secara jasmaniah adalah kehadiran anak. Anak menjadi wujud nyata peleburan dua manusia. Waktu kita melihat anak kita, bukankah kita sering berkata, ah......seperti saya, tapi kita lihat lagi ah.......seperti istri kita atau suami kita. Orang lain pun berkata hal yang sama, "aduh mirip sama papanya kemudian dipikir lagi, ah.......mirip sama mamanya." Kita tidak bisa lagi mengurai satu anak kecil menjadi dua, bahwa ini adalah papanya dan ini adalah mamanya. Anak merupakan wujud nyata peleburan itu yaitu dua pribadi menjadi satu. Kita tidak bisa menemukan partikel-partikel yang kita tandai dan kita katakan o...ini dari papa, ini dari mama; sangat mustahil sebab satu anak ini sudah menjadi satu pribadi, tapi pribadi yang terdiri dari dua manusia. Inilah komitmen pernikahan, komitmen menjadi satu. Bukan saja menghasilkan seorang anak; anak hanyalah sebuah bukti wujud nyata dari penyatuan itu tapi memang sebuah usaha yang terus-menerus untuk melebur diri menjadi satu. Ini adalah dasar komitmen pernikahan kristiani.
GS : Hasil dari peleburan suami dan istri, apakah sifat-sifat istri akan dimiliki suami dan sebaliknya?
PG : Pada akhirnya akan ada sifat pasangan yang akan kita serap, itu betul. Misalnya kita tadinya lebih impulsif, suka bertindak tanpa berpikir panjang; pasangan kita sabar, mempertimbangkan sgalanya dengan masak-masak sebelum melakukannya.
Lama-lama setelah kita menikah dengannya, kita belajar lebih sabar tidak impulsif lagi. Inilah yang akan terjadi, kita menyerap hal-hal yang dimiliki oleh pasangan kita. Atau yang lainnya lagi, waktu kita menyatu kita nantinya akan membentuk sebuah sifat yang dua-dua sebetulnya tidak ada, tapi sesuatu yang baru. Misalnya kita dulunya dua-dua tidak bisa berpikir positif, setelah kita menikah kita banyak melewati tantangan dalam hidup ini, kita bertumbuh bersama, kita saling belajar dari satu sama lain dan akhirnya dua-dua belajar mengembangkan sikap yang lebih positif. Karena kita tahu ini adalah sebuah sikap atau pandangan hidup yang baik. Jadi bisa kita ini mendapatkan masukan dari pasangan atau kita membentuk sesuatu yang baru. Seyogianya inilah yang terjadi di dalam pernikahan.
GS : Sebenarnya melalui pernikahan dua pribadi itu akan bertumbuh lebih dewasa daripada sebelum mereka menikah.
PG : Betul sekali, sebetulnya kita tidak sama seperti dulu waktu kita mengawali pernikahan ini, kita harus bertumbuh. Ada satu lagi yang ingin saya tambahkan yaitu untuk kita mampu melakukan smua peleburan ini, tidak bisa tidak diperlukan kasih; itu mutlak harus ada.
Sebab peleburan ini cukup menyakitkan; kita tidak mudah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi ciri khas kita atau menjadi bagian dari diri kita. Kita tidak begitu mudah menerima sesuatu yang bukan diri kita yaitu dari pasangan. Jadi proses peleburan ini memang kadang menyakitkan itu sebabnya diperlukan cinta kasih yang kuat antara dua individu ini. Cinta kasih itu benar-benar menjadi pelumas, sehingga proses peleburan ini bisa terjalin. Cinta kasih juga menjadi motivator, pendorong bahwa kita harus melebur diri supaya pernikahan kita ini makin hari makin baik. Indahnya adalah tatkala peleburan terjadi, peleburan itu pun membuahkan kasih. Sebab waktu kita melihat pasangan kita makin cocok dengan kita, makin pas dengan kita tidak bisa tidak perasaan yang muncul adalah perasaan sayang, senang, menikmati, enak. "Ya....ya...kok dia begini, dia mengerti saya, dia baik kepada saya, kalau kita bicara pas, tidak lagi harus berputar-putar yang akhirnya menabrak sini atau menabrak sana." Reaksi yang muncul biasanya cinta kasih, jadi kasih itu pendorong kita melebur, pelumas dalam peleburan, sekaligus buah dari peleburan itu sendiri. Buah yang akhirnya menjadi pendorong lagi, menjadi pelumas lagi dan membuahkan lagi, dan buah itu akan membuahkan lagi, jadi berputarlah proses itu. Maka itu kita lihat kalau dua orang ini sudah berkomitmen meleburkan diri dan benar-benar berusaha meleburkan sehingga mulai memetik buahnya, kita akan melihat pernikahan mereka makin hari bukan saja makin menyatu, makin harmonis, makin melebur tapi makin penuh kasih, makin hangat, makin benar-benar bercahaya. Kebalikannya juga betul, kalau dari awalnya tidak bisa melebur, tidak cocok-cocok, masing-masing mempertahankan diri akhirnya tidak terjadi peleburan lama-lama kasih yang tadinya ada tidak lagi kuat mendorong mereka melebur. Kasih yang sudah mengecil, berarti pelumas dalam peleburan itu juga makin sedikit akhirnya bukannya terjadi peleburan tetapi konflik. Dalam proses peleburan terjadi tabrakan, berkelahi, akhirnya tambah sedikit kasih; apakah akan muncul buah kasih? Tentu tidak ada, yang ada adalah buah kepahitan yang muncul; makin pahit makin tidak termotivasi untuk melebur, makin tidak ada pelumas dalam peleburan, makin tidak membuahkan kasih, makin membuahkan kepahitan; makin hari makin ditimbun oleh kepahitan.
GS : Tapi dalam kenyataannya, anak sebagai buah kasih itu tidak otomatis menunjukkan bahwa proses peleburan itu berjalan dengan baik. Artinya sekali pun mereka mempunyai anak bahkan beberapa orang anak, masalah peleburan ini terus menjadi suatu problem bagi keluarga ini.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, seyogianya anak merupakan wujud telah terjadinya peleburan atau sedang berlangsungnya peleburan dua pribadi dalam pernikahan, tapi kita tahu itu tidak selalu terjdi.
Ada orang-orang yang memang mempunyai anak, tapi tetap saja dua pribadi itu terus terpisah, tidak pernah benar-benar melebur. Namun kita tahu waktu Tuhan menyatukan di dalam pernikahan, Tuhan meminta kita untuk bersatu, untuk melebur. Jadi komitmen pernikahan tidak saja berkata, "aku ada di sini, maka aku akan selalu ada di sini." Komitmen pernikahan juga berkata, "aku ada di sini dan akan menyatu dengan engkau." Itu penting sekali kita pegang; aku ada di sini dan akan menyatu denganmu bukan saja aku di sini dan aku akan selalu berada di sini.
GS : Sering kali memang salah satu pihak menuntut pasangannya melebur kepada dirinya, artinya menjadi mirip seperti dia. Dia tidak mau kalau dia disuruh melebur ke pihak pasangannya.
PG : Itu sebabnya tadi saya katakan, kalau setelah beberapa waktu tetap saja orang ini sama tidak ada perubahan, berarti memang dia menuntut pasangannya untuk melebur menjadi seperti dirinya seentara dia tidak usah melebur masuk ke dalam diri pasangannya.
Berarti apa yang terjadi, peleburan ini gagal, peleburan tidak membuahkan hasil. Pernikahan seperti ini secara status masih bersatu tapi sebetulnya secara rohani tidak ada penyatuan sama sekali.
GS : Dalam hal komitmen ini memang tidak selamanya ada hal-hal yang baik yang kita terima, tapi ada juga hal-hal yang tidak baik yang kita terima, nah ini bagaimana Pak Paul?
PG : Komitmen pernikahan adalah juga sebuah komitmen untuk mengharapkan diri yang terbaik sekaligus menerima diri yang terburuk. Maksud saya begini, waktu kita menikah kita seharusnya menuntutdiri yang terbaik dari pasangan kita; sudah tentu.
Kita ingin kasih, kita ingin kesabaran, kita ingin keinginan untuk menyenangkan hati kita pula. Kita menginginkan pengendalian diri, tidak mudah waktu impulsif tidak berpikir panjang, melakukan sesuatu; itu semua yang kita inginkan. Berarti kita memang menginginkan diri yang terbaik, jadi kita pun mesti berusaha menjadi diri yang terbaik di dalam pernikahan, itu komitmen pernikahan. Tapi ada sisi satunya, kita pun mesti berkomitmen menyiapkan hati menerima diri yang terburuk, ini yang saya kira kita tidak pikirkan sebelum kita menikah. Kita berkomitmen menerima yang terbaik, mengharapkan yang terbaik itu tidak salah dan seharusnya. Kita pun berkomitmen menjadi diri yang terbaik, bagus dan seharusnya begitu. Tapi komitmen pernikahan juga komitmen menerima diri yang terburuk dari pasangan kita, ini berat sekali. Firman Tuhan berkata di Kejadian 2:25, mereka keduanya telanjang manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." Nah keduanya telanjang tapi tidak merasa malu, berarti dua-dua mau menerima; menerima yang terbaik dan menerima yang terburuk. Sekali lagi komitmen pernikahan adalah komitmen yang mengharapkan yang terbaik tapi juga siap menerima yang terburuk. Ini mesti kita pikirkan bahwa ada satu sisinya ini.
GS : Memang yang menjadi sulit itu kadang-kadang yang buruk-buruk itu disembunyikan sebelum pernikahan. Jadi komitmennya kita itu sebatas yang kita tahu, ternyata muncul hal-hal yang buruk di luar perkiraan kita.
PG : Saya membicarakan ini, saya menyadari banyak orang yang menderita karena pasangan melakukan hal-hal yang tidak baik dan sebagainya. namun tetap komitmen pernikahan adalah komitmen untuk mnerima diri yang terburuk dari pasangan.
Kadang-kadang kita tidak tahu, kita tidak menyadari kok ada sifat, tapi ya itulah sifatnya dan kita harus siap menerimanya. Tapi kalau dua-dua mengerjakan bagiannya, akan terjadi perubahan atau transformasi; apalagi dua-duanya di dalam Kristus kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan untuk berubah, karena yang satunya juga harus berkomitmen menjadi diri yang terbaik. Dia tidak boleh berkata, "Kamu harus menerima diri terburuk saya, ini 'kan komitmen pernikahan." Kita harus berusaha menjadi diri yang lebih baik pula. Jadi kalau saya boleh terjemahkan ke dalam bahasa yang lebih awam, komitmen pernikahan adalah aku di sini dan aku akan menjadi yang terbaik, sekaligus aku di sini dan akan menerimamu apa pun kondisimu. Jadi itulah komitmen pernikahan, apa yang terbaik kita harapkan, apa yang terburuk kita harus terima.
GS : Memang ada seorang istri yang mau berkomitmen di dalam pernikahannya walaupun dia tahu suaminya seorang pemarah, tetapi dia baru tahu setelah pernikahan itu bahwa suaminya bukan hanya pemarah, tapi juga pemabuk, suka memukul dengan tangan, menganiaya. Nah ini yang menjadi masalah, apakah saya mesti berkomitmen terus di dalam pernikahan ini kalau kenyataannya seperti itu?
PG : Komitmen pernikahan bukanlah komitmen satu orang, komitmen pernikahan komitmen dua orang. Sebab pernikahan itu bukannya solo tapi sebuah kesatuan dari dua. Berarti dua-dua mesti mempunya komitmen yang sama.
Kalau satu orang tidak memiliki komitmen seperti ini dan berkata, "Pokoknya saya seperti ini, saya mau mabuk, saya mau berjudi, saya mau habiskan uang saya, ya kamu harus terima saya." Berarti orang ini tidak memiliki komitmen pernikahan, dia tidak mengerti apa itu pernikahan. Nah dalam kasus seperti itu memang akan sangat sukar bagi yang satunya yang siap untuk berkomitmen, untuk hidup dengan orang yang seperti itu. Maka akhirnya dalam kasus-kasus seperti ini, tidak lagi bisa menahan, apalagi sudah dalam ancaman-ancaman adanya pemukulan, adanya kerugian-kerugian yang sangat besar seperti itu, saya kira masuk akal kenapa orang itu tidak tahan dan meninggalkannya dan kita tidak bisa memaksa dia untuk tetap tinggal di sana, kita pun kalau berada di sini akan sangat-sangat kesulitan. Jadi kondisi untuk menerima, kita pun harus berhati-hati. Lain misalkan kalau memang ada orang setelah menikah kemudian menderita penyakit harus dirawat dan sebagainya, kita benar-benar harus ada di sana, diri terburuk dari pasangan kita dalam kondisi sakit kita harus menerimanya. Tapi sekali lagi komitmen pernikahan adalah komitmen dua orang, jadi dua-dua mesti memberikan komitmen yang sama.
GS : Selain peran dari suami-istri, apa peran Allah di sana?
PG : Menariknya adalah komitmen pernikahan merupakan komitmen yang melibatkan Allah. Ingatlah bahwa mempelai wanita pertama diserahkan kepada Adam oleh Allah sendiri. Firman Tuhan di Kejadian2:22 berkata, dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunyalah seorang perempuan lalu dibawanya kepada manusia itu.
Tuhan mengambil rusuk Adam, menciptakan Hawa dan alkitab berkata dibawanyalah perempuan itu kepada Adam, kepada manusia itu. Jadi pernikahan bukanlah perbuatan yang melibatkan manusia dengan sesamanya saja, sebagai pihak yang menyerahkan istri kepada suaminya, Tuhan menempatkan diri sebagai pemersatu suami dan istri. Jadi seolah-olah kalau kita boleh gunakan ilustrasi ini, Tuhan membawa mempelai wanita dan menyerahkan tangan si mempelai wanita ke pria. Benar-benar kita melihat peranan Allah di sini, pernikahan pertama Adam dan Hawa, Allahlah yang membawa Hawa kepada Adam, Allahlah yang menyerahkan Hawa kepada Adam. Ini merupakan sebuah simbol Allah terlibat dalam pernikahan, Allah ingin tetap menyatukan kedua orang ini, maka firman Tuhan yang dikatakan Tuhan Yesus, "Karena itu apa yang telah dipersatukan tidak boleh diceraikan manusia. Matius 16:6. Kenapa, karena Allah terlibat. Jadi kita harus benar-benar menganggap, memperlakukan pernikahan sebagai sesuatu yang sangat serius.
GS : Jadi keterlibatan Allah itu bukan setelah pernikahan, tetapi sebelum pernikahan pun Allah sudah terlibat dalam pasangan ini Pak Paul?
PG : Betul, jadi selalu kita tidak bisa memisahkan unsur Tuhan di dalam pernikahan. Tuhan terlibat dan karena Tuhan terlibat kita harus melibatkan Tuhan. Kalau ada masalah datang kepada Tuhan ingat yang Tuhan pesan, lakukan yang Tuhan perintahkan.
Kalau saja dua orang menaati dan melakukan yang Tuhan perintahkan, dua orang ini bisa hidup bersama-sama dalam pernikahan. Tapi kalau yang satu tidak lagi menaati yang Tuhan perintahkan, sebaik apa pun relasi mereka dulu nantinya pasti akan bermasalah.
GS : Mungkin ini akan menjadi masalah besar bagi mereka yang berpasangan dengan orang yang tidak seiman, Pak Paul?
PG : Betul, karena yang satunya belum tentu akan setuju untuk tunduk pada apa yang Tuhan perintahkan itu.
GS : Tapi kalau sudah berkomitmen ya harus tetap dipertahankan karena itu sudah menjadi pilihan kita.
PG : Betul, kalau kita sudah memilih kita harus tetap setia pada komitmen atau pilihan itu.
GS: Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Saya percaya sekali perbincangan ini akan menolong banyak dari para pendengar kita. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Komitmen Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
T 208 B "Komitmen Pernikahan" oleh Pdt. Paul Gunadi
Di dalam dunia ada pelbagai ikatan perjanjian namun tidak ada satu pun yang mengikat seerat pernikahan. Berikut ini adalah penjelasannya.
Komitmen nikah bukanlah kesepakatan untuk mencapai satu tujuan tertentu; komitmen nikah adalah janji untuk melebur menjadi satu selamanya. Firman Tuhan menjelaskan, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kejadian 2:24) Semulia apa pun tujuan pernikahan kita, tetaplah yang menjadi dasar haruslah komitmen untuk melebur menjadi satu. Inilah sarana sekaligus tujuan pernikahan. Dengan kata lain, di dalam pernikahan kita akan dan seharusnya mengalami transformasi untuk menjadi pribadi yang berbeda-yang lebih baik-akibat hasil peleburan dengan pasangan.
Kehadiran anak merupakan wujud nyata dari peleburan dua menjadi satu ini. Tidak mungkin kita mengurai anak menjadi partikel-partikel yang teridentifikasi sebagai milik ayah dan ibu. Dengan kata lain, anak adalah wajah baru dari peleburan suami dan istri.
Jika anak adalah buah dari penyatuan jasmaniah antara suami dan istri, maka kasih adalah buah dari penyatuan rohaniah suami dan istri. Kasih adalah sarana sekaligus hasil dari penyatuan antara suami dan istri. Dengan kata lain, kasih adalah pelekat antara suami dan istri namun kasih adalah buah dari kesatuan suami dan istri pula. Jadi, pernikahan adalah sebuah komitmen yang keluar dari kasih sekaligus komitmen untuk mengasihi.
Pernikahan adalah sebuah komitmen untuk mengharapkan diri yang terbaik sekaligus menerima diri yang terburuk. Firman Tuhan menjelaskan kondisi pertama manusia pada saat pernikahan dimulai, "Mereka keduanya telanjang-manusia dan istrinya itu-tetapi mereka tidak merasa malu." (Kejadian 2:25) Kita mengharapkan yang terbaik dari pasangan namun mesti siap menerima yang terburuk darinya pula. Dengan kata lain, di dalam pernikahan kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi diri yang terbaik dan memperoleh jaminan penerimaan atas diri kita yang terburuk.
Komitmen pernikahan merupakan komitmen yang melibatkan Allah. Ingatlah, mempelai wanita pertama diserahkan kepada Adam oleh Allah sendiri. "Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunnyalah seorang perempuan lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. " (Kejadian 2:22) Pernikahan bukanlah perbuatan yang melibatkan manusia dengan sesamanya; sebagai pihak yang menyerahkan istri kepada suaminya, Tuhan menempatkan diri sebagai pemersatu suami dan istri. Itu sebabnya Tuhan Yesus menegaskan, "Karena itu apa yang telah dipersatukan, tidak boleh diceraikan manusia. " (Matius 19:6)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Setiap pasangan suami istri harus mengkondisikan tanggung jawab masing-masing. Harus sampai pada suatu kesepakatan apa itu yang menjadi tanggung jawab istri dan suami. Kewajiban itu seharusnya dilihat secara fleksibel. Dan tuntutan-tuntutan yang tidak terpenuhi cenderung menimbulkan kemarahan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah salah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di kota Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang seputar kehidupan suami-istri khususnya yang sering kali diwarnai dengan pandangan-pandangan yang keliru karena banyaknya pandangan yang beredar di tengah-tengah kita. Kami percaya bahwa acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, setiap pasangan suami-istri itu oleh Tuhan diberikan kewajiban atau tanggung jawab untuk menjalankan perannya atau fungsinya masing-masing Pak Paul. Kadang-kadang saya beranggapan bahwa kalau saya sebagai seorang suami atau seorang ayah sudah menjalankan peran dengan bekerja, memberi nafkah dan sebagainya, saya berharap sebenarnya istri saya juga melakukan fungsinya. Saya sering mengatakan kalau kita itu sudah melakukan fungsi masing-masing kehidupan rumah tangga ini menjadi beres. Karena sering kali terjadi gesekan atau bahkan konflik di sana, saya merasa sudah melakukan fungsi saya dan dia kok enak-enakan atau malah sebaliknya dia pun merasa sudah melakukan fungsinya sebagai seorang istri, seorang ibu dan dia menganggap saya belum melakukan kewajiban atau tanggung jawab saya. Nah, karena perbedaan pandangan seperti ini sering kali menimbulkan konflik Pak Paul, apakah pandangan seperti itu memang umum terjadi di kalangan suami-istri juga pasangan-pasangan Kristen atau bagaimana Pak?
PG : Ada dua aspek dari yang telah Pak Gunawan katakan, memang yang pertama adalah yang tadi Pak Gunawan sudah singgung yaitu adakalanya kita beranggapan bahwa kalau kita sudah menjalankan kwajiban kita, maka rumah tangga kita akan beres, dengan asumsi atau harapan pasangan kita juga akan melakukan bagiannya.
Tapi masalahnya adalah hal itu tidak selalu terjadi, kebanyakan waktu masing-masing menjalankan kewajibannya, rumah tangganya berjalan dengan baik. Tapi ada kasus di mana yang satu menjalankan kewajibannya dengan baik misalnya si istri menjalankan kewajiban sebagai istri yang baik mengurus rumah tangga, memperhatikan kebutuhan anak-anak, menjaga perasaan suami dan benar-benar mencoba memenuhi kebutuhan suami. Tapi di pihak lain suaminya tidak menjalankan kewajibannya misalnya si suami mau pulang malam, dia pulang malam; dia tidak mau pulang ya dia tidak pulang; dia tidak merasa berkewajiban memberitahu istrinya ke mana dia pergi dan sebagainya. Jadi itu yang ingin saya munculkan dalam mitos ini yaitu mitos atau keyakinan yang keliru, yang menganggap bahwa selama saya menjalankan kewajiban saya, pasti pasangan saya juga akan melakukan bagiannya. Tidak selalu begitu, sebab memang pada akhirnya tergantung pada komitmen masing-masing terhadap pernikahan itu, tatkala seorang suami tidak lagi mempunyai komitmen atau dedikasi atau perhatian terhadap pernikahannya dia tidak akan lagi menjalankan kewajibannya.
GS : Berarti pernikahan itu terancam keutuhannya?
PG : Sangat terancam, dan ini yang sering kali membuat frustrasi pihak yang menjalankan kewajibannya. Sebab dia pun sebagai manusia mengharapkan timbal balik dari si suami atau istri setelahdia melakukan kewajibannya dengan begitu sungguh-sungguh.
Tapi di pihak lain dia sudah bekerja begitu keras, dia sudah menjalankan kewajibannya secara sungguh-sungguh, tapi pihak yang satunya masa bodoh tidak mempedulikan dia dan sebagainya. Nah, itu keadaan yang sangat menimbulkan frustrasi yang tinggi.
GS : Tapi Pak Paul, kami sebagai pasangan suam-istri khususnya waktu baru menikah itu tidak dibekali bahwa suami itu tugasnya apa saja, kami paling-paling melihat orang tua kami, pasangan-pasangan yang lain o....itu yang dia lakukan, tapi secara jelas kita tidak pernah mendapatkan atau mungkin membicarakan dengan istri bahwa kewajibanmu itu ini, ini, ini, kewajiban saya ini, ini, tidak seperti itu Pak Paul?
PG : Betul, setiap pasangan suami-istri pada akhirnya harus memformulasi, harus (GS: Mengkondisikan tanggung jawabnya masing-masing) betul. Jadi mereka harus sampai pada suatu kesepakatan ap itu yang menjadi tanggung jawab istri dan tanggung jawab suami.
Sebab secara garis besar memang kita ini akan mengharapkan hal-hal yang lazim dilakukan oleh suami dan istri, sebab kita adalah bagian budaya di mana kita tinggal. Jadi secara garis besar, misalkan kita tahu suami diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, yang menyediakan kebutuhan finansial keluarga dan sebagainya. Dan istri adalah orang yang akan memelihara anak-anak dan memastikan rumah tangga itu bisa berjalan terus, namun selain dari garis besar seperti itu sudah tentu ada segudang masalah kecil-kecil lainnya yang harus juga didiskusikan dan akhirnya disetujui, sehingga ada pembagian peran atau tugas yang jelas. Saya tadi langsung berpikir memang adakalanya terjadi konflik dalam hal pembagian tugas ini, karena bisa jadi yang satu merasa ini tugasmu, yang pihak sana merasa tidak, ini tugasmu, sehingga akhirnya terjadilah kerancuan kewajiban di sini.
GS : Yang Alkitab sampaikan, suami itu kepala keluarga dan istri itu pendamping suami, itu secara prinsip saja Pak Paul?
PG : Betul, tapi penjabaran apa itu yang dilakukan sebagai seorang kepala tidak diberitahukan oleh Alkitab. Karena memang sangat bergantung pada konteks kehidupan.
(1 ) IR : Nah, mungkin ada faktor-faktor lain Pak Paul, yang bisa Pak Paul berikan supaya masing-masing ini bisa serasi Pak Paul?
PG : Saya kira yang seharusnya dilakukan adalah sebelum menikah memang kedua belah pihak harus mulai mengungkapkan harapan dan tuntutannya. Saya mengingat saran dari seorang pakar konseling ernikahan Norman Wright, waktu saya mengikuti ceramah beliau, beliau berkata sewaktu dia pertama kali berbicara dengan sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah, dalam konseling pranikah dia akan bertanya atau meminta kedua orang itu untuk mendaftarkan 50 hal yang dia tuntut dari pasangannya.
Nah, Norman Wright berkata sering kali mereka bingung, masa ada 50 hal yang saya akan tuntut dari pasangan saya? Tapi Norman Wright memberikan contoh misalnya kalau engkau makan siapa yang akan membawa piring ke meja, siapa yang akan mengambil piring dari meja, waktu engkau ingin minum kopi, siapa yang akan membuat kopi dan sebagainya hal-hal kecil seperti itu. Sampah sudah penuh siapa yang harus membuang sampah itu keluar, misalnya anak sakit siapa yang akan lebih bertanggung jawab untuk membawanya ke dokter dan sebagainya. Jadi Norman Wright mau membuat pernikahan itu menjadi sangat realistik sekali dan itulah yang disajikannya kepada dua orang yang akan melangsungkan pernikahan, agar mereka menyadari hal itu. Jadi menjawab pertanyaan Ibu Ida, seyogyanyalah dua orang yang belum menikah memang berbicara dengan terbuka apa itu yang diharapkannya dari pasangan, siapa yang akan berbuat ini, siapa yang akan melakukan itu dan sebagainya. Sebab sering kali kita mewariskan kebiasaan-kebiasaan dari rumah tangga kita sendiri. Misalkan ada seseorang yang misalnya dibesarkan oleh ayah yang sangat dominan, semua hal diatur oleh si ayah, si ibu itu boleh dikata tahunya hanya masak dan memberi makan anak tidak ada suatu keputusan pun yang didiskusikan dengan si ibu. Nah, kemungkinan si anak akan beranggapan itulah modal keluarga yang ideal baginya, setelah dia menikah dia tidak berkonsultasi dengan si istri sewaktu mengambil keputusan. Sebab dia merasa tidak seharusnya dan tidak perlu dia mengambil waktu bicara dengan istri mengenai soal itu, nah hal ini bisa saja nanti menimbulkan konflik dalam pernikahan.
IR : Jadi faktor komunikasi juga diperlukan Pak Paul?
PG : Betul, keterbukaan dan juga kejelian untuk bisa mengenali apa itu yang kita harapkan dari pasangan kita.
GS : Tapi harapan-harapan atau apa tadi yang Pak Paul ungkapkan misalnya mesti didaftar, itu 'kan bisa berubah Pak Paul oleh karena keadaan. Misalnya saja saat-saat seperti sekarang di mana banyak para suami yang kehilangan pekerjaannya, sehingga dia banyak waktu tinggal di rumah. Kewajiban-kewajiban yang tadinya diharapkan oleh si istri menjadi tidak terpenuhi, misalnya dalam hal mencari nafkah tidak terpenuhi tapi di sisi yang lain dia mempunyai banyak waktu untuk membantu istrinya, itu 'kan mesti diubah lagi.
PG : Betul, di situ dituntut kefleksibelan, kelenturan sikap, jadi kalau kedua belah pihak tidak fleksibel bisa patah. Misalnya si suami tidak fleksibel, dia tidak ada pekerjaan dan harus dim di rumah, nah dia merasa ini adalah suatu aib buatnya.
Dan misalkan kebetulan si istri masih bisa bekerja mencari nafkah, kalau si suami gagal melihat bahwa sekurang-kurangnya ini adalah peran yang harus diembannya sekarang, kalau dia tidak bisa menerima peran ini dia bisa mencelakakan dirinya, maksudnya dia bisa merasa frustrasi dan akhirnya di rumah sering uring-uringan sedangkan si istri sudah lelah sekali bekerja di luar dan juga mengurus rumah tangga, jadi di sini si suami juga diminta untuk fleksibel, di pihak lain si istri juga diminta untuk fleksibel dengan tuntutannya. Sekarang otomatis penghasilan mereka berkurang mungkin setengahnya atau lebih, nah di sini dipaksa si istri untuk tidak melihat si suami sebagai pemberi nafkah atau penyedia kebutuhan fisik bagi keluarganya. Dan di sini diminta agar si istri juga bisa fleksibel dalam konsepnya tentang seharusnya suami itu seperti apa. Jadi betul sekali apa yang Pak Gunawan katakan bahwa peranan-peranan dalam rumah tangga atau kewajiban-kewajiban itu seharusnyalah dilihat secara fleksibel karena memang bergantung besar pada kondisi.
(2 ) GS : Tapi prinsip yang Alkitab katakan tidak bisa kita ubah Pak Paul, seperti suami adalah kepala keluarga dan istri itu tetap pada peranannya seperti itu. Dan sering kali yang terjadi kalau salah satu pihak itu tidak "memenuhi" kewajibannya itu menimbulkan kemarahan, bisa marah kalau pasangan kita tidak melakukan perannya. Dan apakah kemarahan itu menghancurkan rumah tangga itu Pak Paul?
PG : Ini adalah salah satu mitos juga Pak Gunawan yaitu ada orang beranggapan bahwa kemarahan merupakan sesuatu yang tidak boleh ada dalam keluarga dan dianggap kemarahan itu seperti bom yan bisa menghancurkan rumah tangga.
Kenyataannya justru tidak, jadi kemarahan yang sepantasnya diekspresikan dan dibagikan justru adalah suatu channel atau suatu penyaluran komunikasi yang sangat baik. Karena pasangan kita akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal yang mengganggu kita dan karena mengganggunya terlalu berat diekspresikan dengan kemarahan, nah kemarahan itu sendiri tidak apa-apa dan kita harus siap menerima itu. Saya harus mengaku saya adalah salah seorang yang kurang begitu bisa mendengarkan kemarahan dan ini sering kali menjadi keluhan istri saya. Kadang kala istri saya merasa hidup dengan saya itu tidak bebas, dalam pengertian dia ingin menjadi manusia yang normal, dia ingin bisa marah dan dia ingin sekali-sekali saya bisa menoleransi kemarahannya. Nah, saya mencoba untuk bisa menoleransi kemarahan, namun saya harus akui memang saya bukanlah orang yang terlalu gampang untuk mendengarkan emosi yang tinggi. Kecenderungan saya adalah sewaktu mendengarkan emosi tinggi dalam bentuk kemarahan, saya seolah-olah seperti keong yang langsung menutup diri, menarik diri tidak lagi berkomunikasi dengan dia. Istri saya mencoba menyesuaikan diri sebisanya, dia bicara dengan saya dengan cara yang lemah lembut dan rasional. Dan 99%, 99 kali dari 100 dia berhasil melakukannya, tapi adakalanya dia juga berkata: "Saya kali ini tidak bisa menguasai diri saya, saya mau marah", dan saya akan bilang: "Ya silakan", dan dia akan marah, saya hanya dengarkan, saya sambuti, setelah itu ya sudah. Jadi memang kemarahan tidaklah harus kita takuti seperti itu, tapi di pihak lain juga saya tidak menganjurkan agar kita ini seenaknya saja memarahi pasangan kita, itu pun tidak benar.
GS : Jadi itu semacam kewajiban Pak Paul untuk pasangan, jadi kalau pasangan kita sedang marah kita wajib untuk mendengarkan kemarahannya. Daripada dia marah dengan orang lain, toh itu sesuatu yang harus dia keluarkan, kalau kendaraan bermotor mungkin kenal potnya membuang gas-gas yang tidak berguna. Tapi sejauh kita mendengarkan dan tidak menanggapi, tidak akan timbul pertengkaran yang lebih hebat.
PG : Dengan catatan bahwa memang ini adalah kemarahan dalam batas wajar, sebab saya juga menyadari ada orang yang memang hobynya marah. Dan ada orang yang selalu mau marah di rumah, sedikit al yang mengganggu dia, dia harus memberikan respons dengan kemarahan, sebab dia berharap orang itu harus hidup sesuai dengan kehendaknya, kalau tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya maka meletuslah kemarahannya.
Nah, untuk tipe yang seperti ini saya juga tidak berkata kepada pasangannya duduklah dan dengarkanlah dan terimalah caci makinya, saya rasa itu juga tidak benar.
GS : Jadi korban terus dia nanti.
IR : Jadi harus saling belajar untuk menerima keberadaan masing-masing Pak Paul?
GS : Dalam hal menerima tadi yang Pak Paul katakan, sampai sejauh mana sebenarnya kita itu bisa mentolerier kemarahan pasangan kita. Tadi Pak Paul mengatakan sebatas kemarahan itu wajar, tapi itu 'kan sesuatu yang agak sulit, dan itu relatif. Itu sebenarnya bagaimana Pak Paul kami harus menguraikannya?
PG : Saya kira kita bisa menyimpulkan apakah kita ini pemarah atau marah, jadi yang Tuhan larang dan Tuhan panggil itu dosa bukanlah marah tapi pemarah. Jadi orang yang pemarah adalah orang ang memang bawaannya marah, bahkan di kitab Amsal sendiri pun dikatakan janganlah bergaul dengan si pemarah, dengan orang yang maunya atau bawaannya marah, bertemperamen tinggi.
Sebab apa, sebab memang orang seperti ini dipanggil di Amsal adalah sebagai orang yang bodoh, orang yang tidak bijaksana. Dan Alkitab pun menekankan salah satu buah Roh Kudus atau salah satu aspek buah Roh Kudus adalah penguasaan diri. Jadi orang yang kalau mau marah tidak bisa mengendalikan diri dia mesti marah, dia memang tidak mempunyai buah Roh Kudus, penguasaan diri tersebut dan dia bisa kita kategorikan sebagai orang yang bodoh, orang yang tidak bijaksana. Jadi itu salah satu kriterianya, apakah orang itu pemarah atau tidak, otomatis orang yang pemarah akan berkata saya punya alasan kenapa saya marah, sebab engkau membuatku marah, tidak. Masalahnya adalah bukanlah orang membuat kita marah, masalahnya adalah kita memilih respons marah, setiap kali ada sesuatu yang mengganggu kita, kita itu memilih untuk merespons dengan kemarahan. Jadi dalam pengertian ini tanggung jawab kita, kitalah yang memilih marah seperti itu. Berikutnya adalah yang bisa saya gunakan sebagai kriteria adalah apakah sewaktu dia marah, dia hanya marah berkaitan dengan problemnya dan apakah kita bisa menyimpulkan apakah kemarahannya itu dikeluarkan sesuai dengan problemnya. Untuk hal sekecil itu apakah dia perlu memaki-maki sampai begitu kerasnya, misalnya itu yang bisa kita gunakan. Ada orang yang gara-gara anaknya tersandung dan kemudian memecahkan gelas, bisa marah dan memaki-maki si anak dengan begitu kasarnya, nah dalam hal seperti itu kita berkata tidak semestinya, itu sudah melewati batas kewajaran. Kriteria yang berikutnya adalah lamanya dia marah, kalau misalkan gara-gara satu hal dia bisa marah dan dia bisa berteriak-teriak, memaki-maki selama misalnya 10 menit, ¼ jam, atau ½ jam kita bisa simpulkan dia sudah melewati batas kewajaran. Sebab marah yang wajar adalah untuk hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, kalau mau marah, marahlah selama 5 menit sudah begitu. Kita pun di tempat pekerjaan kalau kita marah semau kita selama 30 menit, kalau bos mendengar lama-lama kita dipecat, di rumah saja kita tidak bisa dipecat, jadi kita lebih seenaknya.
GS : Bagaimana dengan hal menerima kemarahan pasangan kita tadi Pak Paul, apakah setelah kemarahannya mereda kita perlu membicarakannya atau tidak, tentunya hal ini kita lakukan kalau dia sudah mulai tenang, apakah kita perlu menanyakan apa sebetulnya yang menjadi masalah? Ini dalam rangka atau kita kaitkan dengan kewajiban kita untuk meningkatkan mutu hidup pernikahan kita.
PG : Setelah reda saya yakin baik sekali kita berbicara dengan dia dan kita sampaikan dampak perlakuannya kepada kita. Misalkan kita beritahu: "Waktu engkau memarahi saya seperti itu, saya mrasa seperti tidak ada artinya bagimu, saya ini merasa lebih mirip seperti pesuruhmu yang engkau bisa saja marahi seperti itu."
Jadi nomor satu kita sampaikan dampaknya pada diri kita, supaya dia menyadari bahwa kita ini bukanlah terbuat dari besi, yang dimarahi tapi tidak merasakan apa-apa. Berikutnya adalah yang kita bisa sampaikan setelah dia tenang adalah minta dia introspeksi, apakah kemarahanmu itu wajar, pada porsinya, apakah memang tepat targetnya, coba engkau pikirkan. Nah, kita jangan mengoreksi dia sebab ada kecenderungan kalau kita yang mengoreksi, dia tersinggung atau difensif, membela diri. Jadi kita hanya lontarkan agar dia bisa introspeksi, coba kamu pikirkan saja, terus sudah kita tinggalkan dia. Jadi kita tidak meminta dia mengoreksi pada saat itu juga, sebab biasanya dia akan membela diri dan nanti tidak ada hasilnya.
GS : Berarti kita tidak perlu mencari-cari sumber masalah supaya timbul kemarahan, tapi kalaupun kemarahan itu tidak bisa dihindari kita juga tidak perlu lari dari kenyataan itu Pak Paul, karena kemarahan itu sendiri tidak selamanya akan menghancurkan pernikahan.
PG : Dalam batas yang wajar tidak menghancurkan pernikahan, tapi kalau melewati batas kewajaran bisa menghancurkan pernikahan.
GS : Apakah ada ayat Alkitab yang berkaitan dengan hal ini yang ingin Pak Paul bacakan, sebelum kita mengakhiri perbicangan kita pada saat ini?
PG : Ada satu ayat yang saya ambil dari Galatia 6:2 , "Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Dan yang ke-empat adalah "Baiklah iap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka dia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."
Dari dua ayat ini saya bisa memetik suatu pelajaran yang indah dari firman Tuhan yaitu kalau kita mau menikah berarti kita harus siap memikul beban atau problem pasangan kita, jadi di satu pihak kita mesti siap untuk memikul beban atau problemnya dan yang jelas-jelas bukan problem kita, tapi problem dia. Tapi begitu dia menikah dengan kita, problemnya menjadi problem kita pula. Namun di pihak lain, jadi ini ekstrim satunya lagi adalah tiap orang juga harus menguji pekerjaannya sendiri, dalam pengertian kita mesti bisa siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Jangan kita ini bisanya hanya melihat pekerjaan orang lain atau kalau saya terjemahkan dalam hubungan keluarga, jangan sampai kita ini hanya bisa melihat orang lain atau istri atau suami kita saja, masing-masing harus melihat diri. Nah, saya kira berbahagialah pasangan yang bersedia memikul beban yang satunya dan juga bersedia melihat dirinya dan tidak hanya melihat diri orang lain.
GS : Ya itulah nasihat firman Tuhan yang saya rasa sangat tepat Pak Paul untuk perbincangan kita kali ini. Dan demikianlah tadi para pendengar, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Apabila Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk tanggapan berupa surat-surat yang sudah sampai pada alamat tersebut. Namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda kami masih sangat menantikannya. Dan dari studio kami mengucapkan selamat berjumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Masing-masing pasangan suami-istri oleh Tuhan sudah diberikan tanggung jawab atau kewajiban untuk menjalankan perannya atau fungsinya masing-masing. Namun seringkali terjadi perbedaan pandangan di dalam pelaksanaan peran itu sehingga banyak terjadi konflik.
Ada aspek yang melatarbelakanginya:
Adanya anggapan bahwa kalau kita sudah menjalankan kewajiban kita maka rumah tangga kita akan beres, dengan asumsi atau harapan pasangan kita juga akan melakukan bagiannya. Tapi masalahnya adalah hal itu tidak selalu terjadi, sebab memang pada akhirnya tergantung pada komitmen masing-masing pada pernikahan itu, tatkala seorang suami tidak lagi mempunyai komitmen atau dedikasi atau perhatian terhadap pernikahannya dia tidak akan lagi menjalankan kewajibannya.
Ada hal yang perlu kita lakukan untuk dapat menciptakan suasana yang baik antara suami dan istri yaitu:
Sebelum menikah memang kedua belah pihak mulai harus mengungkapkan harapan dan tuntutannya. Saran Norman Wright seorang pakar konseling pernikahan, kepada sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah dalam konseling pranikah, dia meminta kedua orang itu untuk mendaftarkan 50 hal yang dia tuntut dari pasangannya. Misalnya siapa yang akan membawa piring ke meja, waktu engkau mau minum kopi siapa yang akan membuat kopi dsb. Jadi Norman Wright mau membuat pernikahan itu menjadi sangat realistik sekali dan itulah yang disajikannya kepada 2 orang yang akan melangsungkan pernikahan, agar mereka menyadari hal itu.
Ada yang beranggapan bahwa kemarahan merupakan sesuatu yang tidak boleh ada dalam keluarga dan menganggap kemarahan itu seperti bom yang bisa menghancurkan rumah tangga. Kenyataannya justru tidak, jadi kemarahan yang sepantasnya ya diekspresikan dan dibagikan, justru ini suatu channel suatu/penyaluran yang sangat baik. Karena pasangan kita akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal yang mengganggu kita dan karena mengganggunya terlalu berat maka diekspresikan dengan kemarahan. Jadi kemarahan tidaklah harus kita takuti tapi di pihak lain tidak dianjurkan agar kita ini seenaknya saja memarahi pasangan kita.
Galatia 6:2 , "Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Ayat 4, Dan baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka dia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." Pelajaran Firman Tuhan yang bisa kita ambil adalah kalau kita mau menikah berarti kita harus siap memikul beban atau problem pasangan kita, jadi di satu pihak kita mesti siap untuk memikul bebannya, problemnya yang memang jelas-jelas bukan problem kita tapi problem dia.
Tapi begitu dia menikah dengan kita problemnya menjadi problem kita pula. Namun di pihak lain lagi adalah tiap orang juga harus menguji pekerjaannya sendiri, dalam pengertian kita mesti bisa juga mengintrospeksi siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Berbahagialah pasangan yang bersedia memikul beban yang satunya dan juga bersedia melihat dirinya dan tidak hanya melihat diri orang lain.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Setelah pernikahan berjalan 1,15,30 tahun, dikatakan di saat itulah disebut titik rawan pernikahan. Maka sebagai pasangan yang baru menikah harus mengetahui apa yang perlu ditanamkan untuk mengimbangi perbedaan-perbedaan. Karena tugas pernikahan adalah menyesuaikan diri agar kita bisa hidup bersama, hidup harmonis dengan pasangan kita.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S. Th., akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Titik Rawan Pernikahan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, dari topik perbincangan kita pada kesempatan ini tentang titik rawan pernikahan. Apa atau ada seberapa banyak titik rawan di dalam pernikahan itu atau maknanya apa Pak Paul?
PG : Begini Pak Gunawan, sudah tentu kita harus selalu berjaga-jaga, melindungi pernikahan kita, kita juga harus memupuk pernikahan kita karena seperti pohon atau tanaman yang tidak diberikan ppuk, tidak dirawat, tidak diberikan cukup matahari dan air lama-lama tanaman itu juga akan kering dan akhirnya mati.
Pernikahan itu seperti itu pula, kita harus senantiasa menjaganya. Tapi saya perhatikan sebetulnya ada masa-masa tertentu di mana pernikahan kita itu sebetulnya terlebih rawan dibandingkan masa-masa yang lainnya.
GS : Ya, maksudnya ada suatu rentang waktu tertentu atau setelah pernikahan itu berjalan sekian waktu lamanya pasangan ini akan menemui hidup pernikahan yang sulit begitu Pak Paul?
PG : Betul sekali. Ini memang saya bagi dalam tiga frase, tiga kurun waktu. Yang pertama adalah yang saya sebut usia pertama yaitu usia 1 tahun sampai 2 atau 3 tahun setelah kita menikah. Keduaadalah usia 15 tahunan setelah kita menikah.
Dan yang ketiga adalah usia 30 tahunan setelah kita menikah. Dengan kata lain yang saya panggil ini masa 1, 15, dan 30. Jadi 3 fase yang harus kita cermati agar jangan sampai kita mengalami masalah yang lebih besar pada fase-fase itu.
WL : Berdasarkan apa Pak Paul mengategorikan 3 fase ini angka 1 misalnya terus 15 dan 30. Nanti orang pikir ini angka keramat.
PG : Sudah tentu memang tidak ada dasar empirisnya dari pihak saya untuk mengatakan ketiga masa ini sebagai masa yang rawan. Tapi saya akan jelaskan mengapa saya mengatakan ketiga masa ini rawan. Yang pertama yang saya sebut tadi masa usia tahun pertama setelah kita menikah. Tahun-tahun pertama merupakan tahun yang rawan karena pada masa-masa ini kita belum cukup untuk mempunyai akar. Dengan kata lain fondasi pernikahan kita belum cukup kuat. Kita baru memulainya. Tapi di saat memang fondasi ini belum kuat kita dikejutkan dengan perbedaan-perbedaan yang kita temukan pada pasangan kita. Dengan kata lain penyesuaian diri ini mencapai puncaknya justru pada tahap awal ini. Benar-benar kita melihat kok berbeda, kok seperti ini. Meskipun sebelum menikah kita sudah menemukan bahwa kita tidak sama. Tapi setelah tidur serumah 24 jam sehari, akhirnya kita menemukan betapa tidak samanya kita. Jadi saya mengulang lagi yang pernah dikatakan oleh dekan atau mantan dekan psikologi. Fuller Seminary di Amerika. Archibald Hart yang mengatakan bahwa sebetulnya kita mengawali pernikahan kita di dalam perbedaan atau ketidakcocokan. Nah, tugas pernikahan adalah menyesuaikan diri agar kita bisa hidup bersama, hidup harmonis dengan pasangan kita. Dengan kata lain pada awal pernikahanlah kita benar-benar dihadapkan pada fakta-fakta bahwa kita itu tidak sama. Tapi pada saat yang bersamaan modal atau akar kita itu masih belum kuat kita baru memulai sehingga investasi emosional kita itu relatif masih kecil.
WL : Pak Paul, bukannya justru masa-masa awal pernikahan orang bilang itu masih masa bulan madu, masih semua manis, suami juga baik, istri juga baik. Tapi justru menurut penilaian Pak Paul ini masa rawan?
PG : Betul Bu Wulan. Memang betul tahun pertama itu merupakan tahun bulan madu tapi sebetulnya kalau kita perhatikan manisnya bulan madu itu tidak berlangsung selama setahun sebetulnya. Dalam bnak kita kadang-kadang kita berpikiran wah masih panjang setahun lebih.
Tapi bukankah kenyataannya bahwa kita sungguh-sungguh berada di puncak ikatan romantis itu. Mungkin hanya beberapa bulan saja. Setelah beberapa bulan sebetulnya kita mulai menuruni gunung emosi itu dan masuk ke lembah kenyataan hidup. Dan lembah kenyataan hidup adalah bahwa kita berbeda. Jadi betul adanya getaran-getaran, listrik-listrik emosional, cinta-cinta yang masih kuat, betul itu ada. Tapi sesunguhnya itu tidak berlangsung terlalu lama.
GS : Ya, tapi biasanya pada awal-awal tahun itu pasangan ini masih punya optimisme yang tinggi untuk bisa mempertahankan rumah tangga mereka Pak Paul, jadi sekalipun mereka tahu banyak perbedaan dan cekcok mereka akan tetap bertahan karena itu jarang kita melihat pasangan yang satu tahun lalu bercerai begitu Pak Paul?
PG : Betul sekali. Jadi yang saya maksud dengan satu itu memang tidak secara saklak berarti satu tahun, tetapi tahun-tahun pertama. Saya memang rentangkan antara satu hingga sekitar lima tahun.Betul sekali bahwa pada tahun pertama itu sewaktu kita menemukan perbedaan ikatan atau komitmen kita yang baru menikah itu masih segar, sehingga kita masih mempunyai tenaga untuk berkata ya pastilah kita bisa menyelesaikan masalah ini, perlu waktu yang lebih banyak, lebih panjang, dan sebagainya.
Namun kalau kita tidak berhasil menyesuaikan diri antara satu sama lain dan mulailah kita memasuki tahun kedua, tahun ketiga, apalagi tahun keempat dan tahun kelima biasanya tidak sampai tahun kelima pun frustrasi itu akan meninggi sekali. Karena memang kita tidak sesabar itu juga, secara alamiah kita itu ingin menyaksikan, memetik hasil, kita ingin melihat adanya penyelesaian atau perubahan. Kalau sudah tahun kedua tahun ketiga ribut hal yang sama terus-menerus, itu bisa mulailah mengecilkan api semangat kita bahwa ini akan selesai dengan segera akhirnya kita mulai disadarkan bahwa masalah-masalah ini tidak akan selesai dengan segera dan cukup banyak yang tidak selesai dengan segera. Kalau selesai dengan segera masih sedikit mungkin kita masih bisa bertahan, tapi kalau kita sadari kok banyak dan bertambah maka tahun kedua, tahun ketiga makin berat sekali beban yang kita pikul itu.
WL : Pak Paul, tadi Pak Paul menyebutkan bahwa masa ini banyak masa istilahnya kaget-kaget, terkejut oleh munculnya perbedaan-perbedaan. Perbedaan mungkin yang tidak terduga karena dia itu terkejut dan kalau terduga berarti 'kan tidak terkejut. Berarti saya pikir besar pengaruhnya pada masa sebelumnya pada masa pacaran, masa pengenalan, kualitas pengenalan satu sama lain itu besar sekali ya Pak Paul?
PG : Tepat sekali Bu Wulan. Kebanyakan kita ini pada masa berpacaran keinginan kita untuk memiliki pasangan kita itu besar. Oleh karena itu kita akan mengalami pertentangan antara menjadi diri endiri atau menjadi seperti yang diharapkan pasangan kita.
Nah biasanya pada masa berpacaran yang lebih kuat adalah menjadi seperti yang diharapkan pasangan kita. Itu yang lebih kuat. Karena kita masih menyimpan keinginan untuk memiliki pasangan kita itu. Jadi kita kompromi meskipun kita tidak setuju kita simpan kita tidak ungkapkan. Banyak hal-hal yang seperti itu atau kita berpikir ah mungkin nanti bisa selesai dengan sendirinya. Jadi ini kombinasi dari semua itu yang membawa kita ke dalam tahun pertama pernikahan yang akhirnya bisa memunculkan hal-hal yang tak terduga itu.
GS : Nah, kalau demikian apa yang harus dilakukan oleh pasangan yang masih baru menikah ini Pak Paul?
PG : Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah kita harus menanamkan lebih banyak investasi emosional. Karena apa, sudah tentu kita mencoba menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita, mengkomunikaikannya, membicarakannya, dan sebagainya.
Nah, sudah tentu kalau ini kita lakukan lebih banyak pada masa-masa awal berpacaran hasilnya akan kita petik setelah kita menikah. Kalau kita lebih berani menunjukkan siapa kita, menunjukkan pendapat kita yang mungkin berbeda dengan pasangan kita, justru kalau kita berani begitu pada masa berpacaran seyogyanya setelah berpacaran 2 tahun 3 tahun seharusnya perbedaan-perbedaan itu makin mengecil. Sehingga waktu kita memasuki pernikahan tugas mengharmoniskan tidaklah terlalu berat lagi. Tapi kalau misalkan memang kita tidak terlalu bekerja keras pada masa berpacaran, pada masa pernikahanlah kita bekerja keras menyesuaikan diri. Tapi ingatlah atau camkanlah bahwa tidak apa-apa jalani terus jangan putus asa, jangan mundur, terus jalani karena kalau dua-dua jujur, dua-dua terbuka berani menjadi diri sendiri juga berani untuk menyesuaikan diri demi pasangan, lama kelamaan kita makin menemukan titik temu. Jadi itu tugas pertama yang harus kita lalui. Namun yang kedua itu yang saya awali yang saya katakan adalah tanamkan investasi emosional artinya jangan sampai lalai melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Lakukan hal-hal bersama dengan pasangan kita. Tunjukkan cinta kasih lebih banyak meskipun minggu lalu mungkin kita baru bertengkar, jangan merasa aduh saya baru bertengkar, saya tidak mau mesra-mesraan. Jangan. Justru munculkan dan bagikan kemesraan itu. Lakukanlah hal-hal yang manis untuk pasangan kita. Karena itu yang akan menancapkan akar kita meskipun nanti kita akan ada pertengkaran tapi fondasi kita makin hari makin kuat.
GS : Ya, kalau titik rawan yang berikutnya yang Pak Paul tadi sebutkan pada usia ke 15 dari pernikahan itu sebenarnya apa tantangan yang dihadapi oleh pasangan suami istri itu?
PG : Nah, ini usia pernikahan ke 15 antara 15 tahun hingga 20 tahun adalah masa di mana anak-anak pada umumnya menginjak usia remaja. Ya mungkin usia 15 tahun atau 16 tahun, 17 tahun, mengapa kk saya katakan ini masa rawan.
Masa remaja kita tahu masa penuh pergolakan, anak-anak cenderung memberontak terhadap pengawasan orang tua. Nah, ada perbedaan yang besar antara membesarkan anak dan memadamkan pemberontakan anak. Itu dua hal yang tidak sama. Pada masa anak-anak kecil usia 7 sampai 8 tahun atau 9 tahun ya ada pemberontakan, tapi tidak bisa kita samakan dengan pemberontakan pada masa remaja. Sebab pada masa remaja anak-anak itu benar-benar menantang otoritas kita. Pada masa lebih kecil mungkin anak-anak itu tidak menaati perintah kita. Itu saja tidak turut perintah kita suruh mandi tidak mau mandi dan sebagainya. Tapi pada masa remaja mereka menantang otoritas kita sebagai orang tua. Maka tadi saya katakan ini masa yang kritis sebab tidak sama antara tugas membesarkan anak dan tugas memadamkan pemberontakan anak. Pada masa-masa ini kalau suami istri tidak kuat-kuat, tidak bisa menyesuaikan diri lagi dalam hal memadamkan pemberontakan anak, mereka rawan sekali mengalami perpecahan. Di sini ini perbedaan-perbedaan yang tadinya tidak terlihat memang karena tidak pernah mengalami masa ini bisa muncul dengan sangat jelas. Sebagai contoh ada orang yang dengan kekerasan memadamkan pemberontakan ada orang yang mencoba membujuk untuk memadamkan pemberontakan. Nah dua metode ini rawan sekali menimbulkan konflik di antara suami dan istri.
GS : Jadi itu masalahnya adalah orang tua terhadap anak pada mulanya itu Pak?
GS : Apakah kerawanan ini juga akan dialami oleh pasangan yang tidak dikaruniai anak misalnya?
PG : Pada usia-usia ini sebetulnya tidak. Karena memang mereka tidak mempunyai pemicunya. Kalau memang mereka berhasil menyelesaikan perbedaan mereka pada tahun-tahun pertama pernikahan seharusya memasuki ulang tahun ke 15 pernikahan mereka, mereka tidak harus menghadapi masalah seperti yang dihadapi oleh pasangan yang mempunyai anak-anak remaja.
WL : Saya sering mendengar Pak Paul, ada orang-orang bilang kalau punya anak itu justru mempererat pernikahan kita, jadi suami kita kalau mau selingkuh juga akan berpikir dua kali, terus kaitannya dengan penjelasan ini bagaimana Pak Paul?
PG : Sebetulnya yang Ibu Wulan katakan memang tepat bahwa anak itu mempererat relasi orang tua, itu betul sekali. Jadi di samping anak-anak memicu keluarnya lagi perbedaan antara orang tua tapidi saat yang bersamaan kehadiran anak-anak ini sudah cukup memberikan akar yang dalam pada pernikahan ini.
Jadi memang pada masa ini meskipun mereka rawan konflik tapi akar itu sudah tertancap dengan kuat. Sehingga pada akhirnya kalau saja mereka bisa bersabar, membicarakan cara yang lebih efektif, memadamkan pemberontakan si anak, seharusnya mereka bisa melewati fase ini. Dan tidak haruslah perbedaan ini memecah belah mereka.
GS : Ini biasanya pada usia yang ke 15 ini Pak Paul, karier dari si suami atau mungkin kalau istri bekerja mengambil suatu karier tertentu itu sudah mapan-mapannya Pak Paul, tadi Bu Wulan menyinggung masalah perselingkuhan. Pada usia-usia seperti ini justru saya melihat sering terjadi perselingkuhan di antara mereka.
PG : Sering kali memang perselingkuhan terjadi pada pasangan yang mencapai usia pernikahan yang ke 15. Jadi secara usia merekanya sendiri itu berusia 40 sampai 50 tahun. Usia di mana mereka sudh berada pada posisi mapan dalam karier mereka.
Jadi memang mereka apalagi pria di sini menjadi tokoh yang diidamkan oleh lawan jenis karena kemapanannya itu. Jadi ini juga salah satu bahaya yang harus diwaspadai oleh pasangan nikah.
GS : Ya, Pak Paul, kalau begitu pada pernikahan usia 15 ini tindakan apa yang bisa diambil oleh suami maupun istri?
PG : Pertama-tama memang suami-istri harus mulai mempersiapkan diri sebelumnya. Karena pada masa anak-anak kecil mereka bergantung kepada kita. Jadi kebergantungan anak kepada kita sebagai oran tua itu akan mengeratkan kita dengan anak dan sekaligus antara kita dengan pasangan kita.
Begitu anak menginjak usia remaja kebergantungan mereka berkurang dan sangat drastis berkurangnya. Karena bukan saja mereka tidak bergantung merekapun mulai menghalau kita kalau kita terlalu dekat-dekat mau tahu urusan mereka dan sebagainya. Berarti orang tua mulai kehilangan perannya di sini sebagai orang tua yang biasa mengasuh anak-anak. Dan itu berarti juga ikatan yang mengakrabkan mereka tiba-tiba mulai kendor sekarang. Meskipun akarnya ada dan sebagainya tadi yang telah kita bahas. Tapi tak bisa disangkal bahwa ikatan itu mulai kendor. Karena fungsi mereka juga mulai berkurang. Kalau dulu mereka bisa duduk bersama membicarakan manis-manisnya si anak sekarang membicarakan problem pemberontakan si anak ini. Jadi dalam pengertian ini orang tua harus mengantisipasi jauh hari sebelumnya bahwa anak-anak makin tidak bergantung kepada kita. Nah apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan diri kita. Nah sekali lagi mau anjurkan orang tua investasi emosional ini penting lakukan hal-hal yang baik, tunjukkan kasih sayang dan kemesraan satu sama lain bahkan pada masa-masa ini.
GS : Bagaimana dengan titik rawan yang ke 3 yang tadi Pak Paul katakan?
PG : Yang terakhir adalah kelanjutan dari masa remaja Pak Gunawan, yaitu masa di mana anak-anak kita itu sudah berkeluarga, akhirnya mereka benar-benar lepas dari kita dan kita sebagai orang tu 100% hidup berduaan kita diperhadapkan dengan satu sama lain.
Nah, biasanya karena kitapun telah mengalami perubahan-perubahan melewati fase waktu yang panjang nah pada usia agak tua yaitu 60-an dan sebagainya, tidak bisa tidak akhirnya kita juga mempunyai tuntutan yang berbeda pada pasangan kita. Kita mempunyai selera yang sedikit berbeda dari dulu 40 tahun yang lalu dan sebagainya. Nah artinya apa, kita dituntut lagi untuk menyesuaikan diri, tanggung jawab rumah tangga mesti dibagi baik-baik karena dua-dua lebih terfokus pada rumah sendiri tidak ada orang lain dan lebih melihat pasangan dengan sejelas-jelasnya. Karena tidak ada lagi anak-anak di rumah.
WL : Pak Paul, benar atau tidak yang orang-orang katakan, pada usia pernikahan seperti ini kami memang sudah seperti kakak adik begitu maksudnya relasinya sedikit saja dia bergerak saya sudah tahu apa yang dia lakukan. Sepertinya sudah mengenal dengan jelas tapi seperti yang Pak Paul jelaskan justru kan terbalik justru ini masa rawan?
PG : Rawan dalam pengertian memang masalah-masalah itu tidak terselesaikan dengan baik pada masa-masa sebelumnya. Tapi kalau semua terselesaikan dengan baik tentu akan ada penyesuaian tetap aka ada.
Namun pada masa-masa itu karena sudah banyak yang terselesaikan sedikit sekali yang harus kita selesaikan atau menyesuaikan diri. Biasanya yang paling umum adalah penyesuaian dalam hal tanggung jawab rumah tangga. Karena dua-dua sering di rumah sekarang. Jadi dua-dua mesti punya teritori dulu boleh dikata pagi sampai jam 5, jam 6 itu teritori rumah itu dikuasai oleh si istri sekarang si suami pulang lebih pagi atau bahkan tidak bekerja lagi sudah pensiun berarti teritori harus dibagi. Biasanya itu merupakan konflik yang utama. Tapi kalau yang sebelumnya terselesaikan seharusnya konflik itu tidak berlangsung lama hanya perlu penyesuaian mungkin ya beberapa bulan. Setelah itu mereka akan masuk lagi pada jalur pernikahan mereka.
GS : Ya, sering kali mereka menemui masalah itu apa yang harus mereka kerjakan gitu Pak Paul? Jadi si istri juga merasa risih ada suami yang terus di rumah dan suami pun mungkin mengalami sindrom kehilangan kekuasaan dan sebagainya.
PG : Betul, jadi pada masa-masa ini kalau tidak hati-hati kehadiran pasangan memang menjadi gangguan. Dulu sebelumnya kepulangan si suami dari kerja itu menjadi hal yang dirindukan, sekarang keadiran suami di rumah terus-menerus menjadi gangguan bagi si istri.
Sebaliknya demikian pula dengan si suami dulu jam 6, jam 7 malam dia terburu-buru ingin pulang karena merindukan rumahnya mau bertemu dengan istrinya tetapi setelah pensiun dia melihat istri dari pagi sampai malam itu bisa menjadi gangguan. Jadi tepat yang Pak Gunawan katakan. Jadi memang di sini diperlukan penyesuaian kembali. Melakukan apa bersama-sama sehingga kita bisa mengisi waktu. Jadi memang dua-dua harus berbicara dengan terbuka membicarakan hobi masing-masing. Kadang-kadang ada masalah di sini sebab tiba-tiba si suami menyadari hobinya istri sama sekali dia tidak sukai. Sebelumnya dia tidak begitu peduli karena dia sering di luar rumah. Sekarang dia baru sadar hobi istrinya dia tidak suka si istri juga tahu hobi suami dan dia tidak suka. Nah itu menjadi bahan-bahan konflik yang mereka harus pecahkan.
WL : Mereka berdua mungkin perlu kreatif untuk menciptakan kegiatan berdua bersama-sama yang disetujui dan disukai bersama-sama.
PG : Betul, dan memang tidak mungkin menyelaraskan semua sehingga semua bisa dilakukan bersama-sama. Tapi setidak-tidaknya dua-dua berani mengalah untuk bersedia melakukan hal-hal yang disenang oleh pasangannya dan sudah dilakukan.
Jadi bergantian untuk menyenangkan pasangannya.
GS : Ada sepasang suami-istri yang seperti itu Pak Paul, istrinya lebih memilih ditinggal di rumah anaknya yang kebetulan tinggal di luar kota. Suaminya ditinggalkan begitu saja. Nanti berapa bulan dia datang lagi. Cuma sebentar dia keluar lagi ke anaknya yang lain.
PG : Kemungkinan besar dalam kasus seperti itu Pak Gunawan memang pada dasarnya dari awalnya mereka tidak berhasil menyelaraskan perbedaan mereka. Jadi pada masa akhir pada masa tua itu perbedan itu benar-benar muncul pada puncak-puncaknya dan kelihatan semua dan sudah terlambat karena sudah berakar dan ini susah diapa-apakan.
Akhirnya banyak juga pasangan yang mengambil sikap seperti itu. Kita berdamai dengan satu syarat jangan terlalu sering bertemu.
GS : Pak Paul, untuk perbincangan ini apakah ada ayat firman Tuhan yang menguatkan kita semuanya.
PG : Saya akan bacakan doa Daud 1 Tawarikh 17:27 , Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab apa yag Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk selama-lamanya.
Saya kira ini harus menjadi doa semua pasangan Kristiani dari awal pernikahan meminta Tuhan untuk terus memberkati pernikahan kita. Sudah tentu kita hanya akan menerima berkat dari Tuhan dalam pernikahan kita kalau kitapun menaati yang Tuhan inginkan, jadi harus rendah hati ya rendah hati, harus minta maaf ya minta maaf harus mau belajar dari pasangannya dan sebagainya. Nah, kalau kita lakukan semua itu doa kita saya percaya akan Tuhan kabulkan. Tuhan akan melimpahkan berkatNya pada kita untuk selamanya.
GS : Tapi kalau kita melihat faktanya itu anak-anak Daud bermasalah di dalam hidup pernikahan mereka?
PG : Karena Daud memang tidak menaati Tuhan dengan sepenuh hati. Ada hal-hal yang dia lakukan yang sangat salah dalam kehidupan keluarganya. Dan itu yang menanamkan dendam pada diri anak-anakny dan sudah tentu Daud tidak lagi bisa mengawasi anak-anaknya dengan benar karena dia terlalu banyak mempunyai istri dan sebagainya.
GS : Tentu kita bersyukur bahwa hal-hal semacam itu dicatat dalam Alkitab sehingga kita bisa belajar dari pengalaman Daud dan keluarganya Pak Paul. Terima kasih untuk perbincangan kali ini juga Ibu Wulan terima kasih untuk kehadirannya pada perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Titik Rawan Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita harus melindungi dan memupuk pernikahan kita, karena seperti pohon atau tanaman yang tidak diberikan pupuk, tidak dirawat, tidak diberikan cukup matahari dan air, lama-lama tanaman itu juga akan kering dan akhirnya mati. Pernikahan seperti itu pula, kita harus senantiasa menjaganya.
Tiga fase atau kurun waktu dalam pernikahan yang harus kita cermati, supaya kita tidak mengalami masalah yang lebih besar pada fase-fase ini:
Usia 1 - 3 tahun setelah menikah, tahun-tahun pertama merupakan tahun yang rawan karena pada masa-masa ini kita belum cukup untuk mempunyai akar. Dengan kata lain fondasi pernikahan kita belum cukup kuat. Dan penyesuaian diri mencapai puncaknya justru pada tahap awal ini.
Yang perlu kita lakukan adalah menanamkan lebih banyak investasi emosional. Artinya jangan sampai lalai melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Lakukan hal-hal bersama dengan pasangan kita, tunjukkan cinta kasih lebih banyak.
Usia 15 - 20 tahun setelah menikah:
Masa di mana anak-anak pada umumnya menginjak usia remaja. Mengapa dikatakan pada usia ini rawan? Karena anak remaja dalam masa-masa pergolakan, mereka cenderung untuk memberontak dan menantang otoritas orang tua. Ini adalah masa yang kritis karena tidak sama antara tugas membesarkan anak dan tugas memadamkan pemberontakan anak. Kalau suami-istri tidak kuat, tidak bisa menyesuaikan diri dalam hal memadamkan pemberontakan anak, mereka rawan sekali mengalami perpecahan.
Masa di mana suami atau istri sudah mapan di dalam karier. Sehingga rawan sekali terhadap perselingkuhan.
Tindakan apa yang bisa dilakukan?
Suami-istri harus mulai mempersiapkan diri sebelumnya. Yaitu dengan investasi emosional, lakukan hal-hal yang baik, tunjukkan kasih sayang dan kemesraan satu sama lain pada masa-masa ini.
Usia 30 tahun setelah menikah, masa di mana anak-anak sudah berkeluarga dan akhirnya mereka benar-benar lepas dari kita. Dan kita sebagai orang tua 100% hidup berduaan, kita diperhadapkan dengan satu sama lain. Suami-istri dituntut lagi untuk menyesuaikan diri, tanggung jawab rumah tangga mesti dibagi baik-baik karena dua-dua lebih terfokus pada rumah sendiri, tidak ada orang lain dan lebih melihat pasangan dengan jelas.
1 Tawarikh 17:27 , "Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk semala-lamanya."
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami beberapa waktu yang lalu tentang "Model-model Pernikahan," dan kami juga akan membicarakan tentang "Faktor-faktor Penentu Keberhasilan di dalam Pernikahan". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang model-model pernikahan dan baru dua model waktu itu sempat kita perbincangkan, dan kita akan melanjutkan perbincangan itu pada kesempatan ini. Nah, supaya para pendengar bisa mengikuti seluruh pembicaraan ini bagaimana kalau Pak Paul bisa ulangi sejenak secara cepat yang pernah kita bicarakan beberapa waktu yang lalu.
PG : Bahan diskusi sebenarnya diambil dari sebuah buku yang berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan itu sukses atau gagal. Penulisnya adalah Dr. John Gartmand, nah dalm buku tersebut beliau memang memaparkan hasil temuannya berdasarkan riset yang telah beliau lakukan.
Ternyata bahwa suatu pernikahan itu tidak harus mengambil bentuk-bentuk yang spesifik untuk sukses, pernikahan itu bisa sukses meskipun mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda. Jadi dengan kata lain dia menemukan bahwa kepribadian orang itu tidak sama, cara hidupnya tidak sama. Nah, akhirnya ketidaksamaan itu membentuk suatu keunikan dalam pernikahan dan masing-masing keunikan tersebut bisa menjadi suatu relasi nikah yang kuat, meskipun masing-masing juga punya kelemahannya. Nah beliau memberikan sekurang-kurangnya 3 model pernikahan yang memang ditemukan cukup sukses untuk bisa terus dibawa. Yang pertama adalah model yang dia sebut model "validating". Model "validating" adalah model yang saling mengukuhkan. Jadi bagaimana pasangan ini kalau sedang berkonflik mencoba dengan kepala dingin duduk bersama, saling mendiskusikan problem, mendengarkan apa yang menjadi unek-unek pasangannya dan pada akhirnya bersama bernegosiasi, berkompromi untuk menemukan jalan tengah. Kelemahan dari model ini adalah model ini cenderung terlalu menekankan kebersamaan, jadi kalau si suami mulai mengembangkan kehidupan pribadinya, sedikit di luar si istri, si istri merasa terancam. Atau kebalikannya kalau si istri mulai sering pergi dengan teman-teman wanitanya, si suami merasa tidak aman karena berkata kita harus bersama-sama. Jadi yang penting adalah bagaimana bisa memberikan ruangan kepada pasangan untuk juga mengembangkan kehidupan pribadi. Model yang kedua adalah yang disebut "volatile" adalah model yang sebetulnya berarti tidak stabil, mudah naik turun. Pasangan ini kalau marah, marah, tapi kalau mesra luar biasa mesranya. Nah dalam menghadapi konflik mereka biasanya tidak saling mendengarkan, sebab masing-masing sibuk untuk membenarkan diri dan biasanya disertai dengan kemarahan. Namun pada akhirnya mereka berhasil membereskan konflik, ya memang saling marah, saling menuduh dan saling membenarkan, tapi akhirnya satu sama lain bisa mengerti apa yang diminta dan dituntut oleh pasangannya dan mencoba untuk melakukannya. Nah ini model yang kedua model yang memang bisa bertahan lama tapi juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya ialah kalau mereka marah dan kelewatan batas akan menghancurkan pasangannya karena mereka akan menjatuhkan pasangannya, nah itu model yang sudah kita bahas Pak Gunawan.
GS : Dan kalau dari kedua model itu saling bertolak belakang Pak Paul, tapi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya maka kali ini kita akan membahas model yang ketiga, apakah itu Pak Paul?
PG : Model ini disebut "avoidant", jadi model pasangan nikah ini cenderung menghindarkan diri dari pertengkaran itu kira-kira intinya. Nah model ini mempunyai ciri-ciri yang pertama adalah mdel ini menekankan falsafah setuju untuk tidak setuju.
Artinya mereka akan tidak setuju, mereka akan mengatakan saya tidak bisa menerima usulanmu atau apa tapi masing-masing akan berkata ya silakan engkau lakukan tidak apa-apa. Jadi daripada bertengkar mereka cenderung atau menyetujui meskipun mereka mengungkapkan baha mereka tidak setuju. Mereka juga cenderung mengecilkan keseriusan konflik dan menghindarkan pembicaraan yang akan berakhir dengan buntu. Artinya kalau mereka tahu bahwa yang akan mereka percakapkan ini berpotensi atau berkembang menjadi suatu pertengkaran mereka cenderung menghindarkannya, daripada bertengkar lebih baik tidak usah dibicarakan. Atau kalaupun dibicarakan mereka cenderung mengecilkan keseriusannya atau tuntutan mereka dan akan berkata misalnya kalau engkau tidak mau ya tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa engkau. Atau saya tidak setuju tapi ya terserah engkau lakukan itu atau tidak. Jadi mereka cenderung tidak mau mengatakan apa yang sebetulnya mengganggu mereka dan apa yang sungguh-sungguh mereka inginkan dari pasangannya. Jadi mereka akhirnya cenderung menitikberatkan pada persamaan, kalau ditanya mereka akan berkata ya kami bertengkar tapi tidak terlalu berat, ya kami mengakui kami tidak sama, kami ini berbeda tapi kami mempunyai banyak kesamaan yang lain, kami masih bisalah menoleransi satu sama lain jadi tidak apa-apa, pernikahan ini bisa terus bisa langgeng.
GS : Rupa-rupanya itu mengambil jalan tengah dari kedua model yang ekstrim tadi Pak Paul. Nah tetapi bukankah pertengkaran itu tak terhindarkan, saya rasa suatu saat walaupun memakai model ini pasti mereka akan mengalami konflik, Pak Paul. Nah kalau sampai itu terjadi apa yang mereka lakukan?
PG : Biasanya mereka akan memberikan kesempatan pada pasangannya untuk mengeluarkan unek-unek, mereka akan mencoba mendengarkan pula tapi bedanya dengan pasangan yang pertama yang kita sebut"validating", pasangan yang "avoidant" ini saling menghindarkan diri, tidak membiarkan diri mereka untuk terlibat secara emosional.
Jadi benar-benar jarak itu dijaga dan pembicaraan itu sangat bersifat rasional, tidak melibatkan perasaan. Kedua, mereka juga akan berupaya mengakui perbedaan, tapi tidak berupaya meyakinkan pasangan akan kebenaran pendapatnya. Jadi mereka akan berkata saya tidak sama dengan kamu, saya tidak melihatnya seperti itu, namun mereka akan berkata ya terserah engkau tidak mau setuju dengan saya ya terserah engkau, akupun tidak harus setuju dengan engkau. Jadi masing-masing tidak berupaya meyakinkan pasangan atau membujuk pasangan, nah akhirnya yang terjadi adalah memang tidak ada titik kompromi, mereka tidak akan saling bernegosiasi, mencari jalan tengah dengan kata lain problem itu tidak dipecahkan, diapakan jadinya, dikesampingkan begitu.
IR : Nah kira-kira apakah tindakan konkretnya, Pak Paul?
PG : Pada dasarnya pasangan yang "avoidant" ini, saling menghindarkan ini akan "menyelesaikan masalah dengan pola menghindar" atau meminimalkan problem. Jadi kalau ditanya berapa seringnya brtengkar, mereka akan berkata kami jarang bertengkar, mereka mencoba menghindarkan pertengkaran.
Dan yang kedua mereka itu akan menekankan pada apa yang disukai bukan pada apa yang tidak disukai. Jadi kalau sudah menikah bertahun-tahun akan ditanya apa yang engkau tidak sukai pada pasanganmu, dengan jujur mungkin mereka akan berkata tidak ada atau sedikit sekali. Karena apa, karena mereka mencoba untuk tidak mengingat yang tidak mereka sukai, yang hanya mereka sukai sajalah yang mereka akan ingat. Dan yang tidak disukai mereka akan terima, tidak suka caranya tidur, tidak suka gaya hidupnya kalau malam tidur jam dua pagi bangun jam 10 pagi misalnya, mereka tidak suka tapi mereka terima. Nah saya kira falsafah ini sering kita dengar dari orang tua dulu, yang baik-baiknya, yang jelek-jeleknya jangan dipikirkan. Tapi kita bisa melihat kakek-nenek, orang tua kita itu langgeng menikah berpuluhan tahun dengan model seperti ini.
IR : Tapi tidak menyelesaikan masalah, Pak Paul?
PG : Tepat, itu kelemahannya masalah akhirnya tidak diselesaikan.
GS : Dan masalah itu akan terus mengganggu Pak Paul?
PG : Betul, ini kelemahannya; jadi kelemahannya adalah masalah tadi tidak selesai dan bisa mengganggu terus. Kalau mereka berhasil menekannya baik tidak apa-apa, namun kalau tidak berhasil mnekannya akan menggerogoti mereka.
Nah pasangan pecah, meledak karena tidak bisa lagi ditahan, dua-dua tidak terlatih untuk memecahkan masalah, karena dua-dua tidak benar-benar belajar keterampilan untuk membereskan problem di antara mereka. Kecenderungannya selama ini adalah menghindari problem, nah jadi ditambah dengan kadar kebersamaan mereka itu memang tidak terlalu banyak bersama-sama seperti pasangan yang "volatile" sangat mesra itu. Jadi waktu ada problem besar menerpa resiko pernikahan hancur cukup besar.
GS : Mungkin mereka tidak akan saling mengenal Pak Paul, kalau mereka mau menghindari masalahnya itu, sebetulnya pasangan itu seperti apa, bukankah mereka tidak bisa tahu pasangan yang lain?
PG : Betul, jadi mungkin kita bisa simpulkan hubungan mereka baik, kuat, tapi mungkin tidak terlalu dalam, itu yang Pak Gunawan maksud ya. Karena dimensi-dimensi yang biasanya muncul akibat danya penyesuaian dari pertengkaran tidak ada, mereka akhirnya tidak pernah masuk ke dimensi-dimensi seperti itu.
GS : Tapi memang segi positifnya tidak saling menyakiti.
PG : Betul, dan saya kira anak-anak akan lumayan senang mempunyai orang tua seperti ini.
IR : Pada hal di dalam hati orang tuanya ada ganjalan, karena masalah itu tidak pernah terselesaikan.
PG : Betul, jadi tidak terselesaikan, tapi akhirnya mencoba menghibur diri dan berkata siapa sih yang sempurna, semua pasangan ada problemnya, ya dia lemah di sini, tapi dia kuat di sini, yasudah saya terima yang lemah itu.
GS : Kalau tadi kita sudah membicarakan 3 model pernikahan, atau mungkin bisa lebih tapi apakah ada satu keluarga itu murni mengikuti satu model, satu pola atau campuran?
PG : Ternyata yang ditemukan oleh Dr. John Gartmand ini memang tidak ada yang murni Pak Gunawan, jadi yang terjadi adalah masing-masing itu sebetulnya campuran dari beberapa model ini. Dalamsituasi tertentu kita cenderung menjadi "volatile" atau yang satu lagi menjadi "validating" dan sebagainya.
Namun pada umumnya ada satu yang menjadi ciri khas yang dominan.
GS : Yang sering kali diambil atau sikap yang sering kali diambil.
GS : Nah padahal masing-masing model itu mempunyai kelemahannya Pak Paul, bagaimana secara umum mereka itu mempertahankan pernikahannya?
PG : Nah dalam penemuan Dr. Gartmand ini ternyata yang penting bukan modelnya, jadi justru Dr. Gartmand ini menemukan model ini kreatif, tidak harus sama untuk setiap pasangan. Tapi yang terenting adalah harus ada perbandingan 5:1, antara situasi yang positif dibandingkan dengan situasi yang negatif.
Maksudnya kalau ada suatu pertengkaran harus diikuti dengan 5 kemesraan misalnya seperti itu, nah selama perbandingannya selalu 5:1 pernikahan ini akan langgeng dan kuat. Yang akan menjadi bahaya adalah kalau perbandingannya bergeser misalnya 5:3, 4:5, 5:6 yang bahaya adalah 5:6 atau 5:7. Yang positif 5 yang negatif bisa 7, 8 itu akan merusak pernikahan, jadi akhirnya disimpulkan oleh Dr. Gartmand modelnya tidak menjadi masalah, yang paling penting adalah perbandingan antara yang positif dan negatif itu.
GS : Berarti di sana ada faktor-faktor yang menentukan suatu pernikahan itu bisa berhasil atau berantakan?
GS : Nah untuk pasangan masing-masing model itu tadi 'kan ada contoh-contoh yang konkret, untuk faktor-faktornya apa saja Pak Paul?
PG : Misalnya pasangan yang "volatile", pasangan yang tidak stabil, pasangan yang penuh emosi itu, mereka memang cukup sering bertengkar, namun kalau cinta dan kemesraan mereka 5 kali lebih anyak dari pertengkaran, pernikahan mereka akan kuat.
Atau yang lainnya pasangan yang "validating" yang saling mengukuhkan, yang saling memberikan pengakuan, dengan kepala dingin dalam menghadapi problem memang tingkat ketegangannya sedang-sedang, tapi cinta dan kehangatan juga sangat tinggi. Mereka saling menekankan kebersamaan, harus sama-sama, meskipun mereka itu kadang-kadang berargumen, tidak setuju dan sebagainya, namun banyak kebersamaannya. Perbandingannya menurut Gartmand 5:1 mereka akan cukup jalan. Yang terakhir adalah pasangan yang menghindar, memang sepintas kurang menunjukkan kemesraan atau kedalaman hati. Tapi yang positifnya adalah sangat sedikit kritikan atau penghinaan, atau pelecehan, sehingga sekali lagi ada perbandingan 5:1 di situ.
GS : Cuma masalahnya Pak Paul faktor-faktor ini unaccountable, sulit untuk diukur dengan angka, bagaimana kita tahu ini sudah sampai 5 dan bagaimana 1?
PG : Mungkin yang bisa dijadikan tolok ukur adalah perasaan subyektif, kita sendiri harus bisa menghitung, misalnya begini kita bertanya kapan kita bertengkar, o ya saya bertengkar terakhir ali 2 minggu yang lalu.
Nah sekarang kapan kita bertengkar lagi, sekarang ini 2 minggu setelah yang terakhir, nah antara yang terakhir dan sekarang apakah ada hal-hal yang enak, yang mesra kebersamaan yang kita lakukan bersama. O....ya kami pergi ke sana, kami mendengarkan lagu bersama, kami saling berdoa bersama, kami pergi dengan anak-anak, dihitung-hitung, o....ya....ya ada 10 hal positif yang kami lakukan dalam 2 minggu ini. Jadi apa kesimpulannya, saya bertengkar hanya sekali dalam 2 minggu, tapi hal-hal yang positif mungkin ada 10 kali kami lakukan. Nah saya kira kalau kita pikirkan bisa dihitung sebetulnya.
GS : Dan itu harus disadari oleh kedua belah pihak, Pak Paul?
PG : Ya tepat sekali, harus disadari oleh kedua belah pihak.
GS : Nah mengenai perasaan-perasaan atau tindakannya bagaimana Pak Paul di antara mereka?
PG : Begini yang dimaksud dengan yang positif dan negatif Pak Gunawan, yang pertama adalah yang negatif apa itu tindakan yang negatif. Menarik sekali penemuan Dr. Gartmand ini ternyata yang imaksud dengan tindakan negatif bukan kemarahan melainkan mencela dan menghina itu adalah tindakan yang negatif.
Jadi sering kali kita berpikir kemarahan itu sangat negatif, ternyata tidak, kemarahan yang tidak disertai dengan celaan dan hinaan justru dampaknya tidak terlalu buruk. Yang juga negatif misalnya adalah membenarkan diri tidak mau mengalah, defensif dan akhirnya misalkan menarik diri, mengucilkan diri tidak mau kontak dengan pasangannya. Menolak untuk berbicara dengan pasangannya itu termasuk dalam tindakan yang negatif pula. Dan yang terakhir dari tindakan negatif, kesepian dan kesendirian. Jadi waktu pasangannya mendiamkan, kesepian, itu menjadi hal yang negatif buat pernikahan. Pasangannya mengabaikan tidak mempedulikannya lagi, dia di rumah sendirian, nah itu adalah hal-hal yang negatif.
GS : Mungkin yang kedua dan yang ketiga itu mungkin putusnya komunikasi, Pak Paul?
PG : Betul sekali, karena putusnya komunikasi akhirnya mereka tidak lagi bisa mengisi kehadiran.
GS : Jadi mereka sengaja memutuskan komunikasi itu. Nah sebaliknya kalau tindakan yang positif apa Pak Paul?
PG : Misalnya yang pertama adalah memperlihatkan ketertarikan pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita. Jadi ini tidak harus duduk atau berjalan tapi yang dimaksud oleh Gartmand adalah kit ini misalnya bertanya o....ya.....ya....begitu
ya, kenapa hampir terjadi seperti itu, atau menanyakan apa yang terjadi tadi sewaktu engkau pergi, bertemu dengan temanmu di kantor. Jadi kita menunjukkan ketertarikan, berminat pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita melirik dia, melihat wajahnya sewaktu dia bicara. Jangan membaca koran, dia bicara kita acuhkan, nah itu tidak sehat. Yang lainnya lagi adalah misalnya menunjukkan kemesraan, misalnya kita menyentuhnya, berpegangan tangan, bercerita tentang masa lalu yang indah, terus menunjukkan kebersamaan kita dengan pasangan, waktu menghadapi problem kita tidak menyalahkan pasangan. Tapi kita berkata ini problem kita berdua, ayo kita hadapi bersama, atau melakukan hal-hal yang simpatik. Nah ini beberapa contoh hal-hal yang kita bisa lakukan untuk pasangan kita yang akan berdampak positif baginya.
GS : Nah apakah yang terjadi, kalau memang dalam pertengkaran itu bisa disalahartikan jadi hal-hal positif ini harus dilakukan pada waktu mereka tidak bertengkar Pak Paul?
PG : Tepat, ini adalah hal-hal yang harus dilakukan secara rutin, secara teratur.
GS : Lalu bagaimana dengan perhatian yang bisa kita berikan Pak Paul?
PG : Misalkan kita menunjukkan perhatian dengan membelikan sesuatu yang disenangi oleh pasangan kita. Hal kecil misalkan dia senang dengan mainan, anak-anak perempuan biasanya suka hal-hal yng kecil, kita belikan.
Suami kita suka makanan tertentu itu juga bisa kita belikan, nah itu semua menunjukkan perhatian kita pada kebutuhan dia dan saya kira semua orang akan senang diperhatikan.
GS : Saya rasa itu menjadi kebutuhan.
IR : Dan juga di dalam menghargai pernikahan itu sendiri bagaimana, Pak Paul?
PG : Misalnya kita mengingat-ingat kebaikannya dia Bu Ida, bahwa dia adalah seorang istri yang telah mengabdi, berkorban untuk kita dan kita sampaikan pujian itu. Terus misalkan juga yang bia mencerminkan penghargaan kita adalah kita tidak sedikit-sedikit melawan, berdebat dengan dia, tidak setuju.
Ya hal-hal yang tidak principle setujuilah, jangan kita itu begitu tertarik untuk mengemukakan pandangan kita, saya mempunyai ide, saya juga. Yang tidak principle dengarkan dan setujui saja, ia-kan, nah itu salah satu bentuk penghargaan terhadap pasangan kita.
GS : Kadang-kadang bercanda itu juga bisa mengakrabkan kita Pak Paul?
PG : Bagus sekali, bercanda saya kira akan saling mendekatkan.
IR : Juga permintaan maaf ya, Pak Paul?
PG : Jadi kalau kita memang telah menyusahkannya atau melukainya, permintaan maaf itu sangat dibutuhkan.
GS : Kalau kita melihat tadi Pak Paul, sebenarnya ada banyak tindakan positif yang bisa dilakukan, dibandingkan yang negatif.
PG : Tepat sekali, dan sebetulnya kalau kita melihat-lihat tidak terlalu sukar ya, yang lain lagi misalnya adalah menerima dan menghormati pandangannya meskipun kita berbeda pandang. Atau kia mencoba memahami perasaannya, membagikan sukacita kita dengannya itu bukan hal-hal yang terlalu sulit.
GS : Cuma kita ini tidak terlatih.
PG : Betul mungkin tidak terbiasa. Sebetulnya hal yang sangat sederhana tapi memang kita tak terbiasa. Kadang-kadang dalam konseling pernikahan Pak Gunawan dan Ibu Ida, saya bertanya apakah apak atau Ibu mencintai pasangan Bapak? O....tentu,
masa menikah begini lama tidak mencintai, jawabannya seperti itu. Kadang-kadang saya langsung mencoba untuk mengakrabkan mereka dengan cara meminta masing-masing menyatakan bahwa mereka mencintai pasangannya. Nah yang menarik adalah ternyata tidak terlalu mudah bagi seseorang menyatakan aku menyayangimu. Sedangkan kita tahu pernikahan itu diikat dan didasari oleh cinta kasih, jadi kalau tidak ada itu, pernikahan akan sangat kering sekali. Tapi hal yang begitu mendasar ternyata sulit dilakukan padahal tidak susah berkata aku mengasihimu. Hal yang sangat sederhana.
IR : Jadi harus melatih diri ya Pak Paul?
PG : Betul, dan tidak bersembunyi dengan alasan memang saya tidak biasa kok, yang penting perbuatan saya. Saya kira banyak orang rindu mendengar perkataan tersebut, bukan saja melalui perbuaan.
GS : Dengan begitu banyak model tapi ternyata ada faktor-faktor yang Tuhan berikan kepada kita supaya pernikahan itu tetap utuh dan itu yang menjadi harapan Tuhan dan harapan kita semua tentunya. Nah apa yang Alkitab katakan Pak Paul, tentang hubungan ini.
PG : Firman Tuhan yang akan saya bacakan diambil dari Efesus 4:25-26 "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota. pabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah berikan kesempatan kepada Iblis."
Nah firman Tuhan memberikan kita beberapa petunjuk, yang pertama yang sangat jelas adalah Tuhan meminta kita untuk jujur, jangan berbohong. Jadi dalam pernikahan prinsip yang harus kita junjung tinggi adalah kejujuran dalam berkomunikasi, dalam hidup kita harus jujur. Dan yang kedua adalah sekali lagi Tuhan juga berikan ruangan adanya kemarahan dalam kehidupan manusia, tapi yang Tuhan tekankan adalah jangan sampai kemarahan ini berubah menjadi suatu dosa. Nah dosa dalam pengertian memang sesuatu yang akhirnya melewati batas kewajaran, melukai hati orang dan akhirnya menghancurkan hati atau diri pasangan kita. Sebab Tuhan memanggil kita satu sama lain bukan menghancurkan satu sama lain. Seiring dengan ini buku Dr. John Gartmand menyimpulkan bahwa ternyata yang merusakkan pernikahan bukan kemarahan, yang merusakkan pernikahan adalah penghinaan. Orang boleh marah tapi jangan menghina pasangan, jangan melecehkan pasangan, itu adalah satu unsur yang diidentifikasi oleh Dr. Gartmand yang sangat-sangat fatal. Nah saya kira firman Tuhan juga dengan jelas berkata hal yang sama, tapi jangan berdosa. Nah kalau saya boleh gabungkan, berdosa di sini sering kali menjadi racun dalam kemarahan kita. Yaitu kita menghancurkan, menghina orang lain, nah kemarahan itu saya kira menjadi kemarahan yang berdosa. Kebalikannya menurut Dr. Gartmand justru yang membangun pernikahan ialah kasih dan respek. Itu dua unsur yang paling kuat membangun pernikahan dan bagi kita orang kristen 2 hal ini bukanlah hal yang asing, Tuhan memanggil kita untuk saling menghargai dan perintah utama Tuhan adalah mengasihi satu sama lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
GS : Jadi cukup banyak prinsip-prinsip di dalam Alkitab yang diajarkan oleh Tuhan kita itu mempertahankan atau bahkan menumbuhkembangkan pernikahan ini.
GS : Para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan kami pada beberapa waktu yang lalu tentang beberapa point faktor penentu di dalam keberhasilan pernikahan. Dari studio kami mohon juga tanggapan saran serta pertanyaan-pertanyaan dari Anda yang bisa Anda alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik sekali, buku itu berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan bisa sukses atau gagal. Buku yang ditulis oleh John Gartmand ini memaparkan bahwa sebetulnya pernikahan itu sangat unik sekali, seperti baju yang kita pakai itu tidak bisa pas untuk semua orang. Baju itu bisa pas untuk saya tapi mungkin tidak pas untuk orang lain, nah demikian juga dengan pernikahan.
Ada 3 model pernikahan berdasarkan gaya menyelesaikan konflik, tiga model tersebut adalah:
Model pertama disebut "validating", pasangan yang "validating" adalah pasangan yang saling mengukuhkan, saling menguatkan satu sama lain.
Dalam proses menyelesaikan konflik sekurang-kurangnya ada 3 tahapan:
Tahap pengukuhn, mereka akan duduk bersama, memberikan kesempatan untuk pasangannya mengeluarkan unek-uneknya dan mereka saling mendengarkan.
Tahap pembujukan, masing-masing mencoba meyakinkan lawan bicaranya akan kebenaran pendapatnya. Dengan kata lain masing-masing membujuk pasangannya untuk bisa mengakui bahwa dia benar.
Tahap kompromi, masing-masing mencoba untuk mengalah atau menemukan titik temu atau jalan keluar dari masalah mereka.
Yang mereka lakukan secara konkret adalah:
Mereka senantiasa berupaya memelihara komunikasi, jadi kalau ada apa-apa yang mengganjal, mengganggu mereka tidak mencoba untuk membicarakannya.
Mereka berupaya untuk saling terbuka.
Mereka tetap berusaha mesra satu dengan yang lain.
Berupaya membagi waktunya dengan pasangan, mengerjakan aktivitas atau hobbynya secara bersama-sama. Dengan kata lain mereka mencoba untuk menjaga kebersamaan tersebut.
Kelemahan model ini adalah: Suami-istri cenderung mengorbankan minat pribadinya demi kebersamaan dengan pasanganya.
Model kedua adalah volatile berarti tidak stabil mudah naik turun. Pasangannya ini kalau marah, marah tapi kalau mesra luar biasa mesranya.
Ciri pasangan dalam kategori ini adalah:
Seringkali terjadi pertengkaran tapi mereka juga pasangan yang lumayan hangat dan saling mencintainya.
Tidak saling mendengarkan, dan tidak memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mengutarakan unek-uneknya.
Ada beberapa tindakan konkret yang tampak nyata dalam model ini yaitu:
Sangat menekankan kejujuran dan keterbukaan.
Mereka sarat dengan kemarahan, namun juga penuh dengan kemesraan.
Kelemahannya adalah kalau marah mereka langsung bicara apa yang mereka rasakan dan akan menjatuhkan pasangannya, kalau tidak hati-hati akhirnya melewati batas, mereka akan saling menghancurkan dengan kata-kata yang mereka lontarkan.
Model ketiga disebut "avoidant" yaitu pasangan nikah yang cenderung menghindarkan diri dari pertengkaran.
Cirinya adalah:
Menekankan falsafah setuju untuk tidak setuju. Artinya untuk menghindari pertengkaran mereka cenderung menyetujui meskipun mereka tidak setuju.
Berupaya mengakui perbedaan, tapi tidak berupaya meyakinkan pasangan akan kebenaran pendapatnya.
Tindakan konkret yang dilakukan pasangan ini adalah:
Yang pertama, saling menghindarkan. Mereka akan menyelesaikan masalah dengan pola menghindar atau meminimalkan problem.
Yang kedua mereka akan menekankan pada apa yang disukai bukan pada apa yang tidak disukai.
Kelemahan model ini adalah masalah akhirnya tidak diselesaikan dan itu akan mengganggu terus. Segi positifnya pasangan ini tidak saling menyakiti.
Contoh-contoh yang konkret untuk pasangan masing-masing model itu adalah sbb:
Pasangan yang "volatile", pasangan yang tidak stabil, pasangan yang penuh emosi, mereka memang cukup sering bertengkar, namun kalau cinta dan kemesraan mereka 5 kali lebih banyak dari pertengkaran, pernikahan mereka akan kuat.
Pasangan yang "validating" yang saling mengukuhkan, yang saling memberikan pengakuan, dengan kepala dingin dalam menghadapi problem memang tingkat ketegangannya sedang-sedang, tapi cinta dan kehangatan juga sangat tinggi.
Yang terakhir adalah pasangan "avoidant" yang menghindar memang sepintas kurang menunjukkan kemesraan atau kedalaman hati. Tapi yang positifnya adalah sangat sedikit kritikan atau penghinaan, atau pelecehan.
Tindakan atau hal-hal positif dan negatif menurut penemuan Dr. Gartman ternyata menarik sekali.
Tindakan yang negatif:
Ternyata yang dimaksud dengan tindakan negatif bukanlah kemarahan melainkan mencela dan menghina.
Membenarkan diri tidak mau mengalah, defensif dan akhirnya misalkan menarik diri, mengucilkan diri tidak mau kontak dengan pasangannya.
Menolak untuk berbicara dengan pasanganya.
Dan yang terakhir dari tindakan negatif, kesepian dan kesendirian.
Tindakan yang positif
Yang dimaksud dengan tindakan positif adalah:
Memperlihatkan ketertarikan pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita.
Menunjukkan kemesraan, misalnya kita menyentuhnya, berpegangan tangan, bercerita tentang masa lalu yang indah, terus menunjukkan kebersamaan kita dengan pasangan, waktu menghadapi problem kita tidak menyalahkan pasangan. Tapi kita berkata ini problem kita berdua, yuk kita hadapi bersama, atau melakukan hal-hal yang simpatik.
Perhatian bisa kita berikan misalnya dengan membelikan sesuatu yang disenangi oleh pasangan kita.
Juga di dalam menghargai pernikahan itu sendiri, misalnya kita mengingat-ingat kebaikannya dia. Bahwa dia adalah seorang istri yang telah mengabdi, berkorban untuk kita dan kita sampaikan pujian itu.
Tindakan yang mencerminkan penghargaan adalah, kita tidak sedikit-sedikit melawan, berdebat dengan dia, tidak setuju.
Kadang-kadang bercanda juga bisa mengakrabkan dan saling mendekatkan.
Kalau memang kita telah menyusahkannya atau melukainya, permintaan maaf itu sangat dibutuhkan.
Yang lain lagi misalnya adalah menerima dan menghormati pandangannya meskipun kita berbeda pandang.
Efesus 4:1 , "Sebab itu aku menasehatkan kamu, aku orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu." Jadi pada intinya lepas dari model pernikahan, siapa kita, dan apa kepribadian kita, kita dipanggil Tuhan hidup untuk sepadan dengan panggilan Tuhan itu. Jadi tetap tolok ukurnya adalah Tuhan apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan memang kehendaki itulah yang coba kita lakukan.
Efesus 4:25,26 "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah berikan kesempatan kepada Iblis."
Firman Tuhan memberikan kita beberapa petunjuk, yang sangat jelas:
Tuhan meminta kita untuk jujur, jangan berbohong.
Tuhan juga berikan ruangan adanya kemarahan dalam kehidupan manusia, tapi yang Tuhan tekankan adalah jangan sampai kemarahan ini berubah menjadi suatu dosa.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam pernikahan, bahkan dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah denyut pernikahan. Dan setiap orang tentu akan bertanya atau ingin melakukan bagaimana sebenarnya komunikasi yang baik dan benar itu, terutama komunikasi dengan pasangan kita.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan perbincangan kami kali ini akan kami beri judul "Komunikasi dalam Pernikahan". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Paul, masalah komunikasi dalam pernikahan memang cukup sering dibahas, tetapi karena ini menjadi suatu masalah yang sering kali timbul di dalam hubungan pernikahan khususnya suami-istri, maka saya rasa pada pendengar kita tentu juga ingin banyak tahu lebih banyak tentang komunikasi. Nah sebenarnya seberapa penting komunikasi itu di dalam hubungan pernikahan?
PG : Sangat penting sekali, Pak Gunawan, komunikasi saya sebut sebagai denyut pernikahan. Kita tahu bahwa dalam pernikahan yang bermasalah, komunikasi menjadi bermasalah, tapi kebalikannya jga bisa betul yakni komunikasi bermasalah melahirkan pernikahan yang bermasalah.
Jadi sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa komunikasi sangatlah penting, itu adalah denyut pernikahan kita.
GS : Dalam hal pengertian seperti yang tadi Pak Paul katakan, apakah komunikasi itu hanya kalau kita berbicara satu dengan yang lain atau kalau lagi bertengkar. Bertengkarpun bisa disebut komunikasi ya Pak, nah apakah hal-hal seperti itu yang dimaksudkan?
PG : Komunikasi terbagi dalam 2 jenis, yang pertama kita sebut komunikasi verbal yakni kata-kata yang kita ucapkan dan yang kedua komunikasi nonverbal. Yaitu bukan melalui kata-kata yang kit ucapkan tapi kita berkomunikasi melalui bahasa tubuh.
(ET : Contohnya bagaimana Pak Paul?), komunikasi nonverbal biasanya begini Bu Esther, kita menunjukkan mimik muka tidak suka sewaktu istri kita mengutarakan pendapatnya, kita belum mengatakan apa-apa lalu istri kita sudah melihat perubahan mimik wajah kita. Selagi kita berkata-kata menyampaikan pendapatnya, sebetulnya dia juga berusaha untuk menangkap reaksi kita. Nah waktu kita menunjukkan mimik wajah yang berubah itu, dia sudah mendapatkan jawabannya, misalnya jawabannya bagi dia adalah kita tidak suka dengan pendapatnya itu. Namun yang keluar dari mulut kita adalah "Ya silakan kalau kamu mau jalani", nah mungkin si suami misalkan kita yang menjadi suami berpikir dengan berkata seperti itu kita sudah berusaha mencapai titik netral, kita tidak menghalangi istri kita, kita juga tidak mendorong, kita hanya berkata silakan. Misalkan setelah kita berkata silakan kalau engkau ingin jalani, terjadilah reaksi yang keras dari istri kita dan dia berkata: "Kenapa kamu tidak suka kalau saya hendak melakukan ini dan itu, nah kita mungkin menjawab: "Saya tidak bilang tidak suka, saya bilang silakan kalau engkau ingin jalani," ; "Tapi tidak, saya memang tahu kalau kamu tidak suka." Yang terjadi adalah istri membaca bahasa tubuh kita. Bahasa tubuh kita sudah mengkomunikasikan ketidaksetujuan pada pendapatnya itu, meskipun yang muncul dari mulut kita akhirnya adalah silakan, tapi sudah terlanjur dibaca oleh istri kita adalah kita tidak setuju. Nah itu cukup memicu untuk terjadinya pertengkaran.
ET : Sepertinya bahasa nonverbal lebih besar pengaruhnya, lebih kuat memberi makna di dalam komunikasi ya, Pak Paul?
PG : Memang demikian, sebetulnya bahasa nonverbal jauh lebih berpengaruh, lebih mempunyai dampak dibandingkan bahasa verbal. Kita menafsir makna dari yang dikatakan oleh orang sebetulnya bukn berdasarkan ucapannya, kita lebih menafsir berdasarkan bahasa tubuhnya.
Bahasa tubuh bisa jadi, misalnya sikap secara langsung kita misalnya tidak melihat, kita tidak menoleh sewaktu suami kita sedang berbicara. Kita tidak begitu suka dengan yang dia katakan, kita hanya menoleh dan kita misalkan mengerjakan tugas kita yang lain, menyirami tanaman atau apa, nah suami kita kemudian marah misalnya berkata: "Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataan saya" misalkan si istri berkata: "Saya dengarkan," ; "Ya tapi kamu menyiram!" ; "Ya tapi saya dengarkan." Nah itulah yang biasanya menjadi pertengkaran di rumah kita, sekali lagi yang dibaca adalah bahasa tubuh dan ternyata memang bahasa tubuh itu luar biasa berpengaruhnya.
GS : Ya tetapi bisa saja orang itu salah membaca bahasa tubuh dari partnernya?
PG : Betul, jadi kadang-kadang memang muncul kesalahan, menafsir bahasa tubuh itu bisa terjadi. Tapi yang lebih sering terjadi, sebetulnya bahasa tubuh dan bahasa ucapan tidak sama, tidak klp.
Tadi yang saya sudah paparkan contohnya si suami berkata: "Ya silakan kalau kamu mau jalani," seolah-olah dia memberikan kebebasan mau pilih yang mana ya silakan. Tapi dengan bahasa tubuhnya menunjukkan dia tidak suka, terjadilah di sini ketidakklopan antara yang diucapkan dan bahasa tubuh yang ditunjukkan. Kita melihat dari contoh tadi, si istri mendasari kesimpulannya bukan atas bahasa ucapan tapi atas bahasa tubuh. Jadi memang yang sering kali menjadi masalah kalau tidak sinkron dan kalau tidak sinkron sering kali kita mendasari kesimpulan kita atas bahasa tubuh, bahasa ucapan kita kesampingkan.
GS : Ada yang lebih pandai lagi di dalam mengemukakan pendapatnya ini Pak Paul, sehingga kelihatannya sinkron antara kata-katanya dan bahasa tubuhnya. Tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya itu ada faktor yang bertentangan sebenarnya.
PG : Betul, ini salah satu masalah dalam komunikasi Pak Gunawan, ada orang yang misalkan sebagai contoh pasif dan sewaktu misalnya istrinya mengutarakan pandangan atau pendapat, bertanya: "Kmu setuju tidak?" dia menjawab: "Saya setuju" dan waktu dia menjawab saya setuju bahasa tubuhnya juga menunjukkan OK saya setuju.
Masalahnya adalah dia orang yang tidak bereaksi dengan cepat apalagi terhadap ketidaksetujuan, dia perlu waktu lebih lama untuk memikir ulang yang telah dia dengarkan tadi. Nah seminggu kemudian tiba-tiba dia marah, dia marah karena dia berkata kepada istrinya: "Kamu terlalu mendesak saya!" si istri terkejut: "Kapan saya mendesak kamu?" ; "Minggu lalu" ; "Minggu lalu apa yang terjadi?" ; "Ya waktu kamu mengutarakan pendapatmu, saya tidak setuju". Nah si istri marah dan berkata: "Kenapa engkau tidak bilang?" ; "Ya saya tidak bisa bilang, sebab kamu mendesak saya" nah itu juga sering terjadi Pak Gunawan, sinkron tapi kesinkronan yang tidak merefleksikan isi hati.
ET : Walaupun tampaknya secara natural kita sering kali lebih berusaha menutupi bahwa memang sebenarnya bahasa tubuh kita sudah berbicara dengan verbal, kita masih katakan: "O.....tidak sayatidak apa-apa atau OK saya setuju" dan ketika orang sudah menebak kita tetap menyangkali.
PG : Betul, jadi memang kalau kita sudah menyadari pentingnya kesinkronan bahasa tubuh dan bahasa ucapan, kita berusaha menyinkronkan untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin kita tunjukkan. ering kali kita begitu, Bu Esther.
(2 ) GS : Kalau begitu bagaimana komunikasi yang baik dan benar itu?
PG : Ada satu istilah yang ditemukan oleh para pakar komunikasi yaitu berkomunikasi secara asertif bahasa Inggrisnya "assertive" yang muncul dengan arti kata to assert, itu berarti menyataka pendapat.
Jadi asertif berarti mengutarakan isi hati dengan tepat dan tidak agresif, kira-kira itu definisi umumnya. Saya akan mencoba jabarkan, Pak Gunawan, kira-kira ada 5 hal tentang komunikasi asertif. Yang pertama, orang yang berkomunikasi secara asertif adalah orang yang mengutarakan perasaannya. Tadi dalam contoh-contoh yang telah kita bahas, kita sudah membahas bahwa orang atau pasangan kita menafsir tindakan kita, perbuatan kita, bahasa tubuh kita baru menyimpulkan artinya. Jadi kata-kata yang kita ucapkan itu dinomorduakan, nah apa yang ditafsir sewaktu bahasa tubuh itulah yang dilihat, yang ditangkap? Ternyata perasaan. Jadi dengan kata lain perasaan memegang peranan yang besar sekali dalam komunikasi. Karena lawan bicara kita akan ingin tahu perasaan kita saat kita mengutarakan pandangan atau pendapat kita. Kalau suami kita melihat kita memang sudah punya perasaan tidak suka dengan yang dia tuturkan, itu akan cenderung mewarnai komunikasinya. Jadi orang yang berkomunikasi dengan asertif, pertama-tama harus jelas dulu dengan perasaan hatinya dan itu yang dia komunikasikan kepada pasangannya. Ya misalkan dia berkata: "Saya tidak suka dengan tindakan itu atau saya tidak bahagia melihat ini atau saya kecewa sekali,". Jadi kita perlu mengenali dulu apa perasaan kita dan itu yang kita bagikan, sehingga pasangan kita jelas tahu apa yang ada dalam isi hati kita. Kalau misalkan kita merasa netral, kita juga bilang terus terang saya merasa netral tentang hal ini, namun saya ingin memaparkan pandangan saya tapi saya netral terus terang. Itulah perasaan kita dan itu yang ingin didengar oleh pasangan kita. Contoh lain lagi yang bisa kita lakukan adalah kita berkata: "Saya akan mengatakan yang saya katakan ini, tapi terus terang saya ini merasa susah sekali mengatakannya karena memang saya tidak suka mengatakan hal-hal seperti ini." Jadi pasangan kita tahu bahwa waktu kita mengatakan misalnya kritikan itu kita bukan sedang menikmati menyakiti hatinya, dan bahwa mengkritik adalah hal yang sulit buat kita.
GS : Tapi tidak semua orang itu bisa menerima keterusterangan kita Pak Paul, kalau masalah-masalah seperti itu misalnya kita sedang marah atau jengkel kita utarakan apa adanya, belum tentu pasangan bisa menerima.
PG : Sering kali ini perlu dilatih, Pak Gunawan, sebab memang kita ini tidak dikondisikan untuk mengutarakan pasangan kita dengan jelas. Kita menjadi orang yang sering kali bingung dengan peasaan kita, nah kalau kita saja sudah bingung dengan perasaan kita apalagi orang terhadap perasaan kita.
Saya berikan contoh yang klasik yang sering kali terjadi, Pak Gunawan. Seorang istri menunggu suaminya pulang, janji pulang jam 06.00 tidak pulang sampai jam 09.00, tapi tidak menelepon dulu. Begitu pulang jam 09.00 apa yang akan terlontar dari mulut si istri? Kemarahan: "Kenapa kamu tidak telepon, saya menunggu-nunggu khawatir," marah. Sebetulnya waktu 3 jam itu dia menantikan si suami yang dia rasakan apa, kecemasan, takut kalau-kalau suaminya mengalami kecelakaan, tapi begitu suaminya pulang yang muncul adalah perasaan marah. Nah sekali lagi di sini kita tahu memang kita kadang-kadang enggan mengatakan saya takut kehilangan kamu, malu bicara seperti itu, lebih nyaman langsung memaki-maki pasangan kita. Sekali lagi inilah yang akan menjadikan komunikasi kita itu bermasalah, kalau kita tidak jelas dengan perasaan kita. Kita bisa bayangkan betapa mulusnya komunikasi itu kalau si istri misalnya langsung berkata: "Tiga jam kamu tidak memberikan kabar kepada saya, saya menunggu dalam ketegangan dan ketakutan, saya khawatir kamu mengalami kecelakaan," itu bisa langsung diselesaikan.
ET : Tapi mungkin ini berkaitan dengan budaya tertentu mungkin, yang sepertinya mentabukan perasaan-perasaan negatif. Kalau memang merasa cemas, merasa marah ya jangan disampaikan begitu.
PG : Saya kira berpengaruh sekali, itu saya setuju. Budaya-budaya tertentu memang tidak mendorong orang untuk mengenali apalagi mengekspresikan perasaannya. Namun kalau kita melihat dari seg komunikasi yang sehat di mana kedua orang bisa berelasi dengan akrab dan tepat, tidak bisa disangkali mengutarakan perasaan adalah hal yang penting dalam komunikasi yang efektif.
PG : Selain perasaan, apa Pak Paul yang penting di dalam komunikasi?
PG : Menyampaikan permintaan atau harapan kita, hindarilah peluang pasangan kita mereka-reka maksud kita. Jadi tujuannya apa, maksudnya apa harus kita sampaikan dengan jelas. Kalau kita mengarapkan pasangan kita berubah dalam hal apa, kita sampaikan juga jangan bicara berputar-putar misalnya.
Kalau kita memang dengan tujuan tidak mau mengkritik dia secara kasar, kita cuma tidak tahu bagaimana memilih kata-katanya, kita sampaikan juga. "Mungkin yang ingin saya sampaikan ini tidak tepat, karena saya tidak tahu memilih kata-kata yang pas, jadi maaf kalau kata-kata saya terlampau menyakiti hati kamu." Nah tujuannya saya bukan untuk menyakiti kamu, ini yang saya ingin katakan baru kita bicara. Jadi waktu berbicara jelaskan juga tujuan kita. Sering kali masalah timbul dalam komunikasi karena pasangan kita harus mereka-reka maksudnya apa dia berbicara seperti ini, maksudnya mau menyakiti saya, maksudnya ingin merendahkan saya, maksudnya tidak menghargai saya. Nah yang ditangkap maksud-maksud itu belum tentu benar dan orang akan bereaksi sewaktu membaca maksud-maksud tersebut.
ET : Seperti halnya dengan perasaan, sepertinya memang si komunikatornya juga memang harus sungguh tahu apa yang dia maksudkan juga ya Pak Paul. Karena kadang-kadang orang juga asal ceplas-cplos kemudian baru, jadi yang kamu maksudkan seperti ini? "O.....tidak,
saya tidak bermaksud seperti itu." Ternyata memang dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan dengan komunikasi itu.
PG : Kadang-kadang atau sering kali itu yang terjadi, Bu Esther, jadi kita memang tidak begitu menyadari apa maksud kita. Karena sekali lagi kita juga tidak terbiasa berkomunikasi seperti in, jelas dengan maksud atau tujuan kita.
Tapi sekali lagi untuk membangun sesuatu yang baru dan yang sehat akan perlu waktu dan membiasakan diri. Saya kira meskipun susah namun bisa, jadi sebelum kita melancarkan kata-kata kita, kita harus jelas dulu tujuannya apa saya berbicara ini, sampaikan tujuan itu, terutama misalnya dalam menyampaikan kritikan atau saran atau teguran. Orang cenderung defensif, jadi sebelum kita sampaikan itu kita juga harus beritahu tujuan saya adalah ini.
ET : Yang lebih mudah dan yang sering terjadi adalah menyalahkan orang lain daripada mengakui ini maksud saya, selalu kamu memang begini, engkau memang begitu.
PG : Sering kali itu yang kita lakukan, jadi kita lebih nyaman melempar bola ke lapangannya dan menyalahkan dia.
GS : Ada unsur yang lain Pak Paul di dalam berkomunikasi?
PG : Yang lain adalah membagikan pengamatan kita, waktu kita berbicara apalagi dalam hubungan suami-istri ini kita jangan menuduh orang dengan cepat dan hindarkan penggunaan kata-kata kamu, amu begini, kamu begitu, jangan! Sebaiknya yang kita katakan saya merasa kecewa karena, nah karena ini jangan berkata karena kamu menyakiti saya! nah orang langsung bereaksi membela diri karena dituduh kamu menyakiti saya.
Lebih baik berkata saya kecewa karena tadi waktu saya bicara kamu langsung keluar, nah tindakan kamu keluar kamar begitu saja benar-benar membuat saya itu kehilangan muka. Jadi sekali lagi kita hanya mencoba memaparkan peristiwanya, faktanya secara objektif, kesampingkan kesimpulan, jangan tergesa-gesa menyimpulkan tindakan orang.
GS : Kadang-kadang di dalam komunikasi itu kita melihat bahwa pasangan kita itu agak ragu-ragu apa yang kita katakan itu ya Pak Paul, apakah bisa kita itu balik bertanya kamu itu mengerti yang saya katakan?
PG : Itu saya kira saran yang baik sekali Pak Gunawan, ini membawa kita ke butir berikutnya dalam komunikasi dengan asertif yaitu silakan atau bersedialah mengecek ulang pengamatan kita. Sebb yang kita katakan ini yang saya lihat tadi belum tentu yang memang dilakukan dengan sengaja oleh pasangan kita dan maksudnya dia melakukan itu mungkin sekali berbeda dari yang kita sudah duga.
Jadi sekali lagi bersedialah mengecek ulang, benar atau tidak yang saya katakan tadi, betul atau tidak yang tadi saya amati, betul atau tidak yang saya lihat. Biarkan pasangan kita memberikan masukan juga sebab belum tentu memang tepat.
ET : Tampaknya dalam hal ini memang kejujuran juga sangat penting Pak Paul, rasanya memang untuk menyampaikan pengamatan atau mengecek ulang ini kadang-kadang bisa terjadi kesalahan dan kalau ada rasa gengsi misalnya atau nanti dianggap tidak mengerti jadi akhirnya melenceng dari tujuan semula ya?
PG : Manusia tidak ingin dipersalahkan, Bu Esther, itu sifat dasar kita mulai dari Adam sampai kita, kita tidak membuat perbaikan dalam hal ini. Karena kita tidak suka dipersalahkan kalau kia sudah melihat bahwa kita akan dipersalahkan, dari awalnya kita akan membenarkan diri, itu yang sering kali terjadi.
Jadi betul yang Ibu Esther tadi katakan, kita memang tidak nyaman tanpa kejujuran.
GS : Ketidaknyamanan itulah yang justru kadang-kadang menimbulkan pertengkaran Pak Paul, bagaimana kita berusaha sebaik mungkin, menguasai diri di dalam kata-kata maupun di dalam bahasa tubuh waktu kita bertengkar?
PG : Salah satu prinsipnya adalah membawa kita ke butir yang terakhir dalam berkomunikasi asertif. Meskipun kita telah melakukan yang tadi kita bicarakan, tidak tertutup kemungkinan kita aka bertengkar.
Kalau sampai terjadi, jangan gunakan kata-kata yang kasar. Hindarkanlah pemakaian seperti itu, kata-kata seperti itu dan ini salah satu saran saya setelah pertengkaran apa yang harus kita lakukan? Nah, setelah pertengkaran jangan lupa untuk menyampaikan penghargaan. Kenapa? Begini sebabnya, orang memang berkata pertengkaran adalah bumbu tapi saya kira bumbu yang kebanyakan selalu membuat sakit perut, saya kira pertengkaran yang kebanyakan juga akan merusakkan pernikahan. Tapi meskipun pertengkaran tidak banyak, saya kira semua orang akan bisa setuju bahwa satu pertengkaran cukup berat untuk kita tanggung, satu pertengkaran itu seolah-olah mengikis kemesraan atau perasaan positif pada pasangan kita. Makanya kalau sering terjadi pertengkaran lama-lama perasaan mesra atau yang positif itu akhirnya punah. Jadi saya ingin agar kita memikirkan hal-hal yang baik, yang positif, kata-kata yang membangun atau menghargai untuk disampaikan setelah pertengkaran itu reda. Karena kita perlu menambal lubang-lubang yang telah kita ciptakan melalui pertengkaran itu.
ET : Rasanya yang lebih sering orang perhatikan point kedua yang Pak Paul sampaikan ini tentang menambalnya ya, tapi lupa bahwa sebenarnya lubangnya lebih dalam dari yang dia tambal. Karena da orang yang temperamental, kalau marah memaki-maki lalu sesudah itu dia meminta maaf, tetapi dia lupa bahwa makiannya tadi sebenarnya lebih menyakiti daripada permintaan maaf yang dia sampaikan.
PG : Dan lama-lama tidak dihiraukan lagi. Tapi permintaan maaf sebetulnya tidaklah identik dengan penghargaan. Permintaan maaf karena kita bersalah, sesuatu yang seharusnya dilakukan dan sebtulnya tidak ada nilai tambah.
Tapi mengucapkan kata-kata yang menghargai itu mempunyai nilai positif. Jadi misalkan setelah kita bertengkar kita diam bicara yang lainnya lalu kita sampaikan "Kamu tahu atau tidak yang saya hargai tentang kamu apa?" terus kita sebut: "Saya menghargai kamu karena kamu orangnya terbuka untuk belajar, meskipun tadi agak sulit kamu terima tapi waktu kamu sadari bahwa ini benar, kamu dengan siap mengakui bahwa itu benar dan menerima pendapat saya. Saya hargai sekali kamu jadi orang sangat terbuka untuk belajar." Nah sekali lagi itu tambalan, tapi memang betul kalau lubangnya terlalu besar nambalnya lebih susah.
GS : Sering kali memang di dalam pertengkaran yang diserang itu justru pribadinya yang membuat luka yang dalam, bukan masalahnya.
PG : Betul, dan kalau luka itu disebabkan oleh serangan terhadap pribadi, sembuhnyapun lebih lama.
GS : Nah dalam hal ini firman Tuhan berbicara apa, Pak Paul?
PG : Saya akan bacakan dari Efesus 4:29 "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yan mendengarnya, beroleh kasih karunia."
Kata-kata yang membangun, bukan kata-kata yang kotor itu adalah permintaan Tuhan pada kita semua. Kenapa kata-kata yang membangun? Karena firman Tuhan berkata orang yang mendengar beroleh kasih karunia. Jadi itu yang harus kita ingat, kita adalah pemberi kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita. Jangan sampai pasangan kita tidak menerima kasih karunia tapi kutukan-kutukan kita. Gunakan kata-kata membangun, hindarkan kata-kata kasar apalagi kotor.
GS : Ya mungkin ayat itu memang sudah sering dibaca, tetapi kini tiba saatnya kita mempraktekkan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari karena bagaimanapun juga tiap hari kita melakukan komunikasi dan khususnya terhadap pasangan kita. Tentunya kita berharap ada suatu komunikasi yang asertif seperti tadi yang Pak Paul katakan. Terima kasih banyak Pak Paul.
Saudara-saudara pendengar, demikianlah Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Komunikasi dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Komunikasi sangatlah penting, komunikasi itu saya sebut sebagai denyut pernikahan.
Komunikasi terbagi dalam 2 jenis:
Komunikasi verbal, yakni kata-kata yang kita ucapkan.
Komunikasi non-verbal, yaitu bukan melalui kata-kata yang kita ucapkan tapi kita berkomunikasi melalui bahasa tubuh kita. Contoh, kita menunjukkan mimik muka tidak suka sewaktu istri kita mengutarakan pendapatnya, kita belum mengatakan apa-apa terus istri kita sudah melihat perubahan mimik wajah kita. Bahasa non-verbal ini jauh lebih besar atau lebih kuat pengaruhnya di dalam memberi makna komunikasi. Ini lebih mempunyai dampak dibandingkan bahasa verbal. Kita menafsir makna dari yang dikatakan oleh orang sebetulnya bukan berdasarkan ucapannya, kita lebih menafsir berdasarkan bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh bisa jadi juga merupakan sikap secara langsung.
Ada satu istilah yang ditemukan oleh para ahli komunikasi yaitu berkomunikasi secara asertif. Bahasa Inggrisnya "assertive " yang muncul dengan arti kata "to assert " itu berarti menyatakan pendapat. Jadi asertif berarti utarakan isi hati dengan tepat dan tidak agresif.
Ada 5 hal tentang komunikasi asertif:
Orang yang berkomunikasi secara asertif adalah orang yang mengutarakan perasaannya. Perasaan memegang peranan yang besar sekali dalam komunikasi. Karena lawan bicara kita ingin tahu perasaan kita saat kita mengutarakan pandangan atau pendapat kita. Orang yang berkomunikasi dengan asertif pertama-tama harus jelas dulu dengan perasaan hatinya dan itu yang dia komunikasikan kepada pasangannya.
Sampaikan permintaan atau harapan kita dengan jelas. Dalam berkomunikasi hindarilah memberi peluang bagi pasangan kita untuk mereka-reka maksud kita, tujuan dan maksudnya harus kita sampaikan dengan jelas. Kalau kita mengharapkan pasangan kita berubah dalam hal tertentu, kita sampaikan dengan jelas, jangan ngomongnya mutar-mutar.
Bagikan pengamatan kita. Jadi waktu kita berbicara apalagi dalam hubungan suami-istri, jangan kita menuduh orang dengan cepat dan hindarkan penggunaan kata-kata kamu-kamu, kamu begini, kamu begitu, jangan! Sebaiknya adalah kita katakan saya merasa kecewa karena ini.......
Silakan atau bersedialah memeriksa ulang pengamatan kita. Yang kita katakan belum tentu dilakukan dengan sengaja oleh pasangan kita. Dan maksud dia melakukan itu mungkin sekali berbeda dari yang kita duga. Bersedialah memeriksa ulang, benar tidak yang saya katakan tadi, betul tidak yang tadi saya amati, betul tidak yang saya lihat.
Jangan gunakan kata-kata yang kasar. Berusahalah sebaik mungkin untuk menguasai diri di dalam kata-kata maupun di dalam bahasa tubuh. Meskipun kita telah melakukan semua yang tadi kita bicarakan, tidak tertutup kemungkinan kita akan bertengkar. Kalau sampai terjadi pertengkaran, jangan gunakan kata-kata yang kasar. Hindarkanlah pemakaian kata-kata seperti itu, dan salah satu saran saya yang harus kita lakukan setelah pertengkaran adalah jangan lupa untuk menyampaikan penghargaan.
Jika di dalam pertengkaran yang diserang justru pribadinya, bukan masalahnya, itu akan membuat luka yang dalam.
Efesus 4:29 , "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."
Pakailah kata-kata yang membangun, bukan kata-kata yang kotor. Ini adalah permintaan Tuhan pada kita semua. Supaya orang yang mendengarnya beroleh kasih karunia. Yang kita harus ingat, kita adalah pemberi kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Respek mutlak dibutuhkan untuk mendirikan dan mempertahankan pernikahan. Ada beberapa hal yang kita perlu ketahui tentang respek. Pertama, respek merupakan respons terhadap sesuatu yang kita lihat atau alami. Kedua, respek bersifat alamiah; artinya kita tidak dapat membuat diri kita respek terhadap seseorang jika memang kita tidak respek terhadapnya. Ketiga, pribadi atau sangat personal.
Transkrip Isi:
T 214 B
Lengkap
"Membangun Respek Dalam Pernikahan" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Membangun Respek Dalam Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang 'Membangun Kepercayaan dalam Pernikahan,' karena kepercayaan itu memang suatu unsur yang penting di dalam pernikahan. Tapi disamping kepercayaan, kita juga melihat bahwa respek atau penghargaan terhadap pasangan kita juga menempati suatu tempat yang penting juga dalam pernikahan. Hal-hal apa yang kita perbincangkan?
PG : Pada dasarnya kita menyadari bahwa pernikahan itu dibangun di atas 3 kaki, yaitu kasih, percaya dan respek. Nah biasanya kita itu memang hanya menyoroti satu aspek saja yaitu kasih. Namu saya ingin mengingatkan kepada para pendengar bahwa sebetulnya kasih itu sangat-sangat dipengaruhi oleh respek dan percaya.
Kita tidak mungkin bisa mempertahankan kasih kalau tidak lagi percaya kepada pasangan kita. Itu sebabnya kita membicarakan tentang bagaimana mempertahankan dan membangkitkan rasa percaya di dalam pernikahan. Namun kasih juga memerlukan respek, tanpa respek kita tidak bisa mengasihi orang. Jadi ibaratnya seperti bak dimana kita mengisinya dengan air. Kita sebut bak ini adalah bak kasih; kita mau mengisinya dengan air yaitu air kasih. Jangan sampai kita mengisi air kasih ke dalam bak, tetapi bak kita bocor, bocornya yaitu pada percaya dan respek. Kita melakukan apa pun untuk menunjukkan kita mengasihi, tapi kalau kita menghilangkan respek-pasangan tidak respek kepada kita, kalau kita menghilangkan kepercayaan-pasangan tidak bisa percaya kepada kita, maka air kasih yang baru saja kita isi itu akan habis lagi, habis lagi dan habis lagi. Dan ini yang sering terjadi di dalam pernikahan. Kadang-kadang orang frustrasi, "Saya mencoba mengasihinya, saya membelikannya ini, saya melakukan ini seperti yang dia minta, tapi dia kok masih begini terus dan sebagainya." Mungkin duduk masalahnya adalah kita mempunyai kebocoran, dan kebocorannya di wilayah kepercayaan dan respek.
GS : Atau salah satu dari keduanya itu yang bocor. Masalahnya sekarang bagaimana kita membangun respek itu di dalam pernikahan?
PG : Yang pertama, kita memahami tentang respek bahwa respek adalah sebuah respons terhadap sesuatu yang kita lihat atau kita alami. Contoh, saya kira kita semua pernah mendengar sosok Dr. Davd Livingstone, seorang dokter yang melayani dan memberikan hidupnya bagi orang-orang di Afrika.
Waktu kita mendengar kisah pelayanannya, pengorbanannya melayani orang di Afrika, tidak bisa tidak akan timbul rasa respek terhadapnya. Kita juga pernah mendengar nama Ibu Teresa, yang melayani kaum miskin di India; nah waktu kita mendengar pengorbanan, pelayanan ibu Teresa, tidak bisa tidak yang akan muncul dalam hati kita adalah respek. Kenapa seseorang bisa melakukan hal seperti itu, memeluk seseorang yang terkena kusta, membersihkan tubuhnya dari nanah yang muncul akibat kusta; bagaimanakah seseorang sanggup melakukan hal seperti itu. Yang muncul dalam hati kita adalah respek, jadi kita bisa katakan respek adalah reaksi dalam diri kita yang merupakan pengakuan bahwa orang itu jauh lebih baik daripada kita. Karena kita melihatnya lebih baik daripada kita, kita menempatkannya di atas diri kita. Dia mempunyai sesuatu yang baik, disitulah respek muncul. Jadi inilah kodrat atau sifat respek yang pertama yang perlu kita pahami, bahwa respek merupakan sebuah reaksi yang merupakan pengakuan terhadap sesuatu, terhadap orang yang mempunyai sesuatu yang begitu baik, yang mungkin saja kita tidak memilikinya.
GS : Berarti respek itu muncul di dalam diri kita ketika kita menghormati seseorang karena tindakan-tindakannya yang mulia itu, Pak Paul?
PG : Betul, dengan kata lain kalau memang kita tidak mempunyai tindakan-tindakan yang mulia, kita tidak bisa menuntut orang respek kepada kita. Sebab respek itu hanya ada jikalau kita melihat indakan-tindakan yang mulia tersebut.
GS : Tidak cukup hanya dengan kata-kata, 'kamu harus menghormati saya, kamu harus menghargai saya," tapi kita tidak berbuat apa-apa, Pak Paul?
PG : Betul sekali, itu sebabnya kita bisa simpulkan lagi hal kedua tentang respek. Respek itu memang alamiah sekali, maksudnya alamiah adalah kita tidak bisa membuat diri kita respek terhadap eseorang jikalau kita memang tidak respek kepadanya.
Kita tidak bisa mengada-ada, "O.....saya respek, saya respek," kecuali untuk basa-basi hanya untuk menyenangkannya, maka kita berbohong dan kita berkata, "Saya respek kepadamu." Sebetulnya respek memang tidak bisa diada-adakan, karena respek merupakan respons, dan kedua respek adalah respons yang alamiah. Kalau memang ada ya ada; kita melihat tindakannya yang mulia maka muncullah respek; kita tidak melihat apa yang baik, apa yang mulia pada dirinya maka tidak ada respek.
GS : Di dalam pernikahan, Pak Paul, apakah mungkin seseorang yang mulai menikah dengan respek atau rasa hormat yang cukup tinggi kepada pasangannya tetapi kemudian lama-kelamaan dia tidak respek lagi, atau sebaliknya tadinya dia tidak respek tapi kemudian mengenal pasangannya dengan lebih baik makin lama dia makin respek terhadap pasangannya?
PG : Seyogianya sebelum kita menikah kita cukup mengenal pasangan kita sehingga kita jelas mengenal kekurangan dan kelebihannya. Hal-hal yang baik pada dirinya dan hal-hal yang kurang baik pad dirinya.
Dan seyogianyalah di dalam masa berpacaran itu kita memang mengambil sebuah keputusan, saya akan menerima kelemahannya atau hal-hal yang kurang baik itu dan saya akan bisa menerimanya. Mengapa saya akan bisa menerimanya, sebab saya mempunyai cadangan respek yang kuat. Jadi sering kali kita memasuki pernikahan, kita tidak benar-benar memikirkan hal ini, setelah menikah baru sadar dan baru mulai menghitung-hitung. Seyogianya sebelum menikah kita menghitung hal ini, melihat kelebihan dan kekurangannya. Terus kita bertanya, bisa atau tidak kita menerima kekurangannya, hidup dengan kekurangannya itu. Biasanya kita hanya akan bisa menerima dan hidup dengan kekurangannya, bila kita mempunyai cadangan respek yang kuat atau yang cukup. Sering kali masalah muncul dalam pernikahan karena cadangan respek kita itu tipis, tidak banyak, kemudian kita disadarkan dengan kelemahan-kelemahan pasangan kita maka akan ambruk. Tapi kalau tadi Pak Gunawan bertanya, mungkin atau tidak seseorang yang tadinya mempunyai cadangan respek tinggi terus akhirnya menyusut? Mungkin. Kenapa, karena manusia bisa berubah. Bisa jadi awal-awal pernikahan, dia tidak berbuat apa-apa. Yang salah, yang tidak baik, yang tercela, tidak ada semua; semuanya baik dan semuanya mulia, namun akhirnya dia jatuh. Dia mulai melakukan hal-hal yang tidak terpuji, hal-hal yang tidak mulia, tidak bisa tidak itu akan menyusutkan respek kita kepadanya.
GS : Apakah respek itu bisa dibangun karena pengalaman masa lalunya, melihat bahwa istri itu mesti respek terhadap suaminya, jadi seolah-olah itu sesuatu yang digariskan seperti itu dan dia tinggal mengikuti saja, apakah ini bukan suatu respek yang semu?
PG : Ini pertanyaan yang baik Pak Gunawan, sudah tentu kalau kita mempunyai keyakinan bahwa seyogianyalah saya itu respek kepada suami saya, itu baik; sudah tentu suami pun juga harus respek keada istrinya.
Itu bukan respek yang semu, itu lebih merupakan suatu keputusan, keputusan untuk tidak melecehkan atau merendahkan pasangan kita. Boleh dan seharusnya kita mempunyai ketetapan hati seperti itu, kita tidak mau melecehkan atau merendahkan pasangan kita. Tapi apakah itu sebetulnya respek? Menurut saya bukan, itu satu sisinya dari respek yaitu tidak mau melecehkan atau merendahkan orang. Namun sesungguhnya itu bukanlah respek. Sebab tadi saya sudah jelaskan respek adalah sebuah reaksi yang berisikan pengakuan bahwa orang ini atau apa yang dilihatnya itu sesuatu yang terpuji, yang mulia dan yang baik. Kalau tidak ada itu, sebetulnya tidak ada respek. Tapi kita mesti bisa memilih tidak merendahkan atau melecehkan orang, tapi menurut saya ada bedanya dengan respek. Kisa masuk ke satu poin berikutnya yaitu kita memang tidak bisa mengada-adakan respek, maka sewaktu masih berpacaran seyogianyalah kita itu tidak menciptakan atau mengada-adakan respek. Kita mengukur relasi ini sehat atau tidak sehat, layak lanjut atau tidak, dari satu pertanyaan apakah saya respek kepadanya? Dan kalau ada, apakah tentang dirinya yang saya respek. Sebab respek merupakan reaksi terhadap yang mulia, yang terpuji yang kita lihat pada pasangan kita. Kesalahan yang sering kali kita perbuat adalah kita sudah suka dengan orangnya, sudah tertarik, baru memikirkan apa tentang dia yang membuat saya respek. Baru kita ciptakan daftar-daftar respek. Tidak bisa, kita tidak bisa menciptakan daftar respek; kita hanya mendapati atau tidak mendapati daftar respek itu.
GS : Jadi respek kita terhadap pasangan itu kadang-kadang bisa timbul dan kadang-kadang juga bisa berkurang, Pak Paul?
PG : Bergantung dari perbuatan-perbuatan pasangan kita. Jadi ini akhirnya menyadarkan kita bahwa kita masing-masing bertanggung jawab untuk mempertahankan respek pasangan terhadap kita, jangansampai kita bersifat kekanak-kanakan, hanya menuntut pasangan respek kepada kita.
Kita harus bertanya, alasannya apa pasangan respek kepada saya, apakah tentang saya yang mulia, yang layak dipuji, yang memang dilihat dan seharusnya diakui oleh pasangan saya. Kalau memang kita tidak bisa menemukan yang mulia dan layak dipuji, kita harus terima fakta bahwa dia pun akan sulit respek kepada kita.
GS : Ada orang yang mengatakan dia tidak mau banyak bercanda dengan pasangannya, karena dikhawatirkan kalau terlalu banyak bercanda nanti pasangannya tidak respek lagi terhadap dia. Apakah hal itu suatu kekhawatiran yang patut dipertanyakan lagi?
PG : Biasanya bercanda tidak sampai menimbulkan persepsi seperti itu dari pasangan, jadi seyogianyalah kita tidak usah takut untuk bercanda, untuk bisa humor dengan pasangan kita. Sudah tentu ita juga mesti menempatkan diri dengan pas dimana lingkungan kita berada.
Jangan kita itu melakukan hal-hal yang terlihat terlalu merendahkan martabat, menimbulkan kesan kita tidak beradab, tidak berbudaya, tidak berpendidikan dan sebagainya. Itu nanti akan mempengaruhi respek orang terhadap kita, kita perlu menjaganya. Jadi dalam bercanda pun sudah tentu baik, kita perlu melihat, mengatur canda kita, jangan sampai kelewatan, merendahkan diri dan sebagainya.
GS : Ada istri yang respek terhadap suaminya ketika suaminya itu mempunyai kedudukan di tempat kerjanya dan posisinya baik, penghasilannya besar. Tapi ketika terjadi PHK, si suami tidak lagi mempunyai penghasilan yang cukup bahkan penghasilannya tidak ada lagi, istri menjadi tidak respek kepada suami. Ini bagaimana Pak Paul?
PG : Itu sebabnya dasar respek seharusnya memang tidak boleh dilandasi oleh prestasi-prestasi seperti itu. Tidak boleh dilandasi atas materi atau benda-benda yang dihasilkan. Sebab respek yan didasari atas benda-benda atau prestasi seperti itu, sangatlah mudah goyah.
Sebab sesungguhnya respek seperti itu lebih merupakan alasan pribadi yaitu gara-gara kamu tinggi posisinya, saya juga bisa mencicipi kehidupan yang lebih baik. Tapi seyogianyalah respek itu didasari atas karakter; itu yang kekal, itu yang kokoh. Jadi apa pun kondisi kehidupan yang kita harus hadapi respek bertahan, karena respek didasari atas karakter orang tersebut.
GS : Apakah ada sifat dari respek yang lain, Pak Paul?
PG : Yang ketiga adalah respek itu bersifat sangat pribadi atau sangat personal. Memang kita bisa menciptakan kriterianya sendiri, tapi seyogianyalah kita sebagai anak Tuhan menggunakan standa Tuhan.
Saya akan bagikan 3 hal yaitu yang pertama saya bacakan dari I Tesalonika 4:3 dan 4, "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan." Jadi yang pertama, kriterianya yang harus kita tetapkan sebagai dasar respek adalah karakter kudus dan hormat. Bagaimanakah kita bisa respek terhadap pasangan yang tidak kudus, yang tidak terhormat. Sembarangan bergaul dengan lawan jenis, sembarangan akhirnya jatuh dalam dosa perzinahan. Meskipun dia minta ampun, dia menyesal dan sebagainya tapi kalau berulang lagi akan sulit bagi kita untuk mempunyai respek terhadapnya. Karena respek terkait dengan kekudusan. Waktu kita melihat sesuatu yang tidak kudus, tercemar, sulit bahkan hampir mustahil kita mengembangkan respek. Jadi sebagai suami atau sebagai istri, kalau kita menginginkan pasangan respek kepada kita, langkah pertama hiduplah kudus sesuai dengan firman Tuhan.
GS : Dalam hal ini apakah peran dari pasangan supaya pasangannya memenuhi apa yang firman Tuhan katakan ini?
PG : Agar bisa menjaga kekudusan dan kehormatan, kita mesti mencukupi kebutuhan pasangan kita. Kita harus menutup kemungkinan pasangan kita itu bisa berbuat hal-hal yang tidak kudus. Bukannyasaya berkata awasilah, ikutilah, pasanglah monitor dimana suami atau istrimu berada, tapi ciptakanlah, kerjakanlah rumah tangga kita sebaik mungkin.
Sehingga pasangan kita itu merasakan senang, bahagia, berada di rumah menikah dengan kita, kebutuhan-kebutuhannya pun dicukupi sehingga dia tidak mempunyai alasan untuk berbuat hal-hal yang tidak kudus di luar, itu yang bisa kita lakukan. Yang kedua adalah kita mesti bersama pasangan hidup dalam Tuhan, menekankan hidup takut akan Tuhan. Suami-istri yang hidup takut Tuhan, berdoa bersama, respek kepada Tuhan, otomatis juga akan lebih takut berbuat dosa sehingga lebih memungkinkan hidup dalam kekudusan.
GS : Memang kalau kita menyadari bahwa pasangan kita adalah pemberian dari Tuhan, kita akan menaruh respek yang cukup besar kepada pasangan karena kita percaya bahwa pasangan kita dari Tuhan. Kalau kita tidak respek kepada dia berarti kita tidak respek dengan Tuhan juga.
PG : Ini satu poin yang baik Pak Gunawan, jadi kita menghormati pemberinya yaitu Tuhan sendiri, Dialah yang menganugerahkan pasangan kita untuk kita.
GS : Adakah yang lain Pak Paul?
PG : Yang kedua saya ambil dari I Tesalonika 4:11 dan 12, "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperi yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka."
Rasul Paulus meminta jemaat di Tesalonika untuk hidup bertanggung jawab; rajin bekerja mencukupi kebutuhannya sendiri, tidak bergantung pada orang. Sudah tentu ada kasus kusus, dimana kita tidak bisa lagi bekerja, harus bergantung pada orang, itu dapat dimengerti. Tapi jangan sampai kita mengembangkan karakter malas dan tidak bertanggung jawab, sukar buat orang untuk respek kepada kita kalau kita tidak bertanggung jawab, malas; disuruh melakukan apa, tidak dikerjakan atau mengerjakan dengan seenaknya, atau maunya orang lain yang melakukannya untuk kita. Bagaimanakah pasangan bisa respek kepada kita kalau kita hidupnya seperti itu. Maka Paulus memberikan nasihat yang sangat praktis di sini yaitu hiduplah bertanggung jawab. Dengan adanya tanggung jawab pasangan pun akan dapat mengembangkan respek kepada kita.
GS : Apa maknanya Rasul Paulus mengatakan bahwa hidup tenang itu dianggap sebagai kehormatan?
PG : Maksudnya adalah jangan kita itu mencari-cari masalah, karena memang rupanya di jemaat Tesalonika pun ada orang-orang yang mencari-cari masalah akhirnya menimbulkan percekcokan. Jadi Pauls berkata hiduplah tenang, jangan mencari-cari masalah, jangan kita itu sedikit-sedikit mencari kekurangan-kekurangan orang, itu akan bisa menimbulkan masalah.
GS : Itu berarti orang yang bisa hidup tenang itu adalah orang yang terhormat?
PG : Ya, karena memang dia tidak mudah terprovokasi, tidak mudah bereaksi terhadap apa yang terjadi di luar dirinya.
GS : Dan kita lebih mudah respek terhadap orang-orang yang hidupnya tenang, tidak mencari-cari masalah daripada orang yang selalu menimbulkan masalah di tengah-tengah keluarga dan sebagainya. Karena memang ada beberapa orang yang suka menimbulkan masalah yang kita sebut "trouble maker". Ada saja masalah yang muncul gara-gara kehadiran orang itu, kalau hal ini menyangkut pasangan kita sendiri tentu akan repot. Nah bagaimana kita bisa menasihati pasangan supaya pasangan kita menjadi orang yang terhormat, karena ini juga yang kita kehendaki?
PG : Kita bisa misalkan dengan berkata, "Saya mengerti kamu itu jengkel karena ini, ini, tapi boleh tidak saya memberikan saran kepadamu apa yang bisa kamu lakukan untuk menolong orang itu. Seab kalau kamu hanya memarahi, mencelanya, orang itu tidak akan bisa berubah.
Ayo kita pikirkan cara positif bagaimana menolongnya." Jadi kita ajak pasangan kita tidak hanya melihat kekurangan tapi mulai memikirkan cara untuk menolong orang tersebut dalam kekurangannya, itulah yang kita tekankan kepada pasangan kita.
GS : Sebenarnya setiap orang itu mau dihargai, mau diberikan respek kepadanya, tetapi kadang-kadang juga tidak tahu caranya bagaimana orang bisa respek terhadap dia. Jadi antara lain yang bisa dilakukan adalah hidup tenang, tidak mencari atau menimbulkan masalah-masalah baru. Nah yang ketiga apa Pak Paul?
PG : Firman Tuhan di I Tesalonika 3:12 berkata, "Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperi kami jua mengasihi kamu."
Penuh kasih itu akan membangkitkan respek. Kita itu sulit respek kepada orang yang tidak mempunyai kasih, karena orang yang tidak mempunyai kasih adalah egois, memikirkan diri sendiri; orang yang tidak mempunyai kasih juga bisa kejam terhadap orang yang dalam penderitaan. Maka kalau kita ingin pasangan kita respek kepada kita, penuhilah hati kita dengan kasih. Kasih kepada keluarga sebagai langkah pertama, dan juga kasih kepada orang di luar rumah kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mengasihi keluarga sendiri, mementingkan urusan keluarga sendiri, masa bodoh dengan orang di luar. Nah kalau pasangan melihat kita seperti itu, dia pun akan sulit respek kepada kita karena respek didasari atas pengakuan bahwa orang ini terhormat, orang ini mempunyai sifat-sifat atau karakter-karakter yang mulia dan yang baik. Kalau kita hanya memikirkan keluarga sendiri tidak memikirkan orang lain, pasangan akan tidak respek. Kebalikannya juga sama, kalau kita hanya mengasihi orang di luar, mau menolong orang di luar sementara dengan keluarga tidak peduli, pasangan susah untuk respek kepada kita. Sebab dia melihat kita tidak mengasihi dia dan keluarga sendiri.
GS : Ini memang suatu panggilan yang praktis buat kita untuk memperagakan kasih yang kita terima dari Tuhan, tetapi memang memperagakan kasih di tengah-tengah keluarga ini jauh lebih sulit daripada di luar. Ini bagaimana Pak Paul?
PG : Kita sekali lagi harus taati firman Tuhan, firman Tuhan memang meminta kita untuk merawat, memenuhi kebutuhan keluarga kita. Sebab Tuhan berkata, kalau kita tidak memperhatikan keluarga kta sendiri itu lebih buruk dari orang yang tidak percaya atau orang yang tidak kenal Tuhan.
Jadi Tuhan meminta itu, perhatikan keluarga sendiri, itu yang Tuhan sudah berikan kepada kita, yang kita harus jaga baik-baik tapi juga tidak melalaikan orang lain.
GS : Dan saya melihat respek ini saling membangun. Kalau kita respek kepada pasangan kita, pasangan kita akan respek kepada kita dan sebaliknya ini akan terus-menerus bertumbuh.
PG : Betul sekali, jadi begitu benih respek mulai tertanam, itu makin hari makin banyak, makin berbuah, akhirnya relasi kita menjadi relasi yang benar-benar kuat karena respek akan mewarnai setap aspek kehidupan kita.
GS : Dan kalau itu dilihat oleh anak-anak kita, anak-anak juga akan respek terhadap kita karena kita sendiri respek terhadap pasangan.
PG : Betul sekali, dan ini nantinya yang menjadi modal untuk anak patuh kepada orangtua. Sebab salah satu alasan anak susah patuh kepada orangtua adalah anak tidak lagi respek kepada kita. Jai kalau orangtua hidup terpuji, saling respek, anak-anak pun akan lebih mudah patuh karena modal respek terhadap orangtuanya sudah ada.
GS : Mereka tidak respek karena melihat orangtuanya tidak saling respek, jadi sulit bagi mereka untuk memperagakan bagaimana melakukan respek karena mereka tidak mempunyai contoh. Jadi ini sesuatu yang sangat penting untuk kita perbincangkan dan ini akan menjadi banyak berkat bagi pendengar kita. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membangun Respek dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
T 214 B "Membangun Respek dalam Pernikahan" oleh Pdt. Paul Gunadi
Respek mutlak dibutuhkan untuk mendirikan dan mempertahankan pernikahan. Tanpa respek, pernikahan dengan cepat meluncur pada kondisi saling menghinda dan akhirnya menghancurkan. Ada beberapa hal yang kita perlu ketahui tentang respek. Pertama, respek merupakan respons terhadap sesuatu yang kita lihat atau alami. Sewaktu kita melihat sosok Dr. David Livingstone yang mempersembahkan hidupnya melayani orang di Afrika atau Ibu Theresa yang melayani kaum papa di India, tidak bisa tidak, kita merasakan adanya suatu reaksi tertentu dalam diri kita. Kita mengakui bahwa mereka jauh lebih baik daripada kita sehingga kita menempatkan mereka di atas diri kita. Reaksi yang muncul adalah respek.
Kedua, respek bersifat alamiah; artinya kita tidak dapat membuat diri kita respek terhadap seseorang jika memang kita tidak respek terhadapnya. Sebaliknya, bila kita memiliki respek terhadap seseorang, kita pun tidak dapat membohongi diri dan mengatakan bahwa kita tidak respek kepadanya.
Berdasarkan kedua hal di atas, maka dapat kita katakan bahwa respek mesti ada jauh sebelum kita memasuki pernikahan. Kita mesti "mendapati" respek, bukan menciptakannya. Kesalahan yang sering kita lakukan adalah karena kebutuhan yang besar, maka kita pun menciptakan respek guna membenarkan pilihan kita. Atau, karena terlalu tertarik secara jasmaniah, kita pun menciptakan daftar respek yang sebenarnya tidak ada.
Sifat ketiga dari respek adalah pribadi atau sangat personal. Sebagai anak Tuhan kita mesti menggunakan standar Tuhan sebagai dasar respek terhadap pasangan. Berikut ini dibagikan beberapa standar yang tercantum jelas di Firman-Nya.
q Kudus dan terhormat. "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup dalam pengudusan dan penghormatan." (1 Tesalonika 4:3-4)
q Bertanggung jawab. "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan seperti yang telah kami pesankan kepadamu sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." (1 Tesalonika 4:11-12)
q Penuh kasih. "Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang sama seperti kami juga mengasihi kamu." (1 Tesalonika 3:12)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Dalam materi ini kita diajak untuk mengetahui, mengerti dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan sebelum kita benar-benar masuk dalam pernikahan. Di antaranya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri untuk dapat hidup bersama dengan harmonis.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi, mereka adalah para pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang persiapan pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Ibu Vivian, kami mengenal Ibu sebagai seorang pakar di bidang konseling khususnya konseling pranikah. Dalam kesempatan berharga ini kami ingin tahu lebih banyak bagaimana sebenarnya persiapan pernikahan yang dibutuhkan oleh calon pasangan suami istri itu?
VS : Persiapan pernikahan bagi mereka ialah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena selama ini mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan dan sekarang akan hdup bersama-sama.
Jadi kita mempersiapkan bagaimana mereka nanti bisa secara harmonis hidup bersama-sama.
GS : Tapi pola itu sebenarnya dahulu tidak pernah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, mungkin 20 atau 30 tahun yang lalu. Tetapi sekarang kita mulai melihat ada kebutuhan itu, kalau ditanyakan kepada pasangan-pasangan mereka katakan itu perlu dan baik sekali, mengapa terjadi perubahan seperti itu?
VS : Kalau dilihat dahulu orang itu lebih menerima apa yang terjadi dalam keluarga, mereka terima apa adanya sekarang orang lebih kritis. Jadi kalau terjadi sesuatu mereka cenderung lebih beran berkonfrontasi dengan pasangannya sehingga lebih cepat terjadi perselisihan dan akhirnya terjadi banyak perceraian.
Oleh sebab itu kalau saya melihat keluarga, dahulu saya ingin berkecimpung dalam pranikah karena saya melihat banyak pasangan yang menikah beberapa tahun langsung nanti bercerai. (GS :Itu keluarga Kristen yang Ibu maksudkan, pasangan-pasangan kristen?) ya keluarga Kristen.
IR : Bagaimana sebaiknya diselenggarakan, apakah secara berkelompok atau berpasangan?
VS : Berpasangan, kalau secara kelompok itu kalau kita hanya mau memberikan informasi yang umum tentang apa dalam pernikahan itu, tetapi ada secara pribadi sepasang demi sepasang. Dan juga kala memang ada masalah yang tidak bisa diselesaikan pribadi lepas pribadi, satu orang-satu orang nanti bersama-sama lagi.
(2) GS : Berdasarkan pengalaman Ibu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh calon mempelai itu untuk bimbingan pranikah?
VS : Kalau bimbingan pranikah paling sedikit kalau menurut saya adalah ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan. Pertama kali adalah secara pribadi, pribadi maksudnya per-pasang lalu 5 kali secra kelompok, lalu 2 kali lagi secara pasangan.
Dan itu dilihat kalau memang masalahnya lebih banyak kita akan yang berpasang ini ditambah lagi.
GS : Tapi yang sering kali terjadi di gereja-gereja yang saya alami adalah orang kalau sudah memastikan tanggal pernikahannya, buru-buru ikut bimbingan pranikah, seolah-olah itu semacam katekisasi sebelum baptisan atau prasyarat sebelum mereka itu diteguhkan pernikahannya. Bagaimana kalau ada pandangan seperti itu?
VS : Oleh sebab itu di gereja seharusnya diberi pengumuman jauh sebelumnya. Siapa yang akan menikah, paling tidak 3 bulan sebelumnya sudah harus memberi tahu atau 4 bulan atau ½ tahun sebelumny, sehingga ada persiapan.
GS : Apakah bimbingan pranikah itu harus dilakukan oleh gereja?
VS : Saya kira kalau memang mau diteguhkan di gereja, gereja harus (GS : Harus melakukan itu ya) ya.
GS : Tetapi apakah badan-badan lain seperti Lembaga Bina Keluarga Kristen ini bisa melakukan?
VS : Bisa kalau ada tenaga yang kompeten, tapi paling tidak pendetanya tahu ini gereja apa yang diajarkan jadi mungkin pendetanya menambahkan sedikit-sedikit saja.
GS : Kalau membutuhkan waktu 1 tahun saya rasa memang agak sulit sekarang ini mempelai atau calon mempelai itu menentukan hari H-nya itu untuk menikah. Mereka biasanya memang agak dekat, kurang ½ tahun atau apa baru melakukan itu. Ada juga bimbingan pranikah yang diberikan kepada mereka yang bahkan berpacaran saja belum. jadi seberapa perlu gereja mengajarkan itu? misalnya saja pendidikan seks dan sebagainya.
VS : Kalau itu saya tidak mengatakan sebagai bimbingan pranikah itu adalah kita mengajarkan pergaulan, memang kita ajarkan mulai dari remaja sebelum mereka berpacaran supaya nanti tahu memilih acar yang cocok,.
Tapi bimbingan pranikah ini untuk orang yang akan menikah.
IR : Adakah keterkaitan masalah-masalah sebelum dan sesudah menikah Bu Vivian?
VS : Sebelum dan sesudah menikah biasanya kalau masalah belum diselesaikan sebelum menikah akan terbawa setelah menikah.
GS : Tetapi pandangan umum khususnya calon mempelai itu masalah yang belum terselesaikan pada waktu mereka berpacaran akan bisa diselesaikan setelah mereka menikah.
VS : Itu adalah pandangan yang salah, jadi bukannya tambah selesai tetapi tambah rumit.
GS : Misalnya sudah tahu pacarnya ini seorang yang pemarah atau pemabuk bahkan mungkin dikatakan nanti kalau sudah menikah sama saya, saya akan mencoba merubah dia. Apa betul begitu pengalaman Ibu?
VS : Kalau tidak diselesaikan bagaimana bisa berubah saya kira tidak, harus dibereskan sebelumnya.
GS : Jadi itu dilakukan sebelum mereka betul-betul memutuskan untuk menikah.
IR : Apakah perlu bagi pasangan yang masih baru menikah dapat bimbingan?
VS : Yang baru menikah, evaluasi biasanya ada. Jadi setelah menikah misalnya kalau saya, saya membimbing pasangan-pasangan ini mungkin setahun kemudian saya bertemu mereka kembali secara pribad, bagaimana apa yang terjadi, jadi evaluasi.
GS : Menurut pengalaman Pak Paul bagaimana menghadapi calon-calon mempelai yang sejak awal itu sudah bermasalah, tapi mereka tetap bertekad mau melangsungkan pernikahan? Bahkan mungkin permasalahan itu tidak disetujui orang tua dan sebagainya, konkret saja tidak disetujui misalnya?
PG : Kalau masalahnya hanyalah tidak disetujui orang tua dan tidak langsung berkaitan dengan hubungan mereka berdua, mungkin masih bisa tertangani dengan baik Pak Gunawan. Yang saya lebih cemasan adalah kalau memang mereka mempunyai masalah yang tidak terselesaikan dan terus muncul dalam masa pranikah.
Kemudian mereka menikah, kecenderungannya adalah sama seperti tadi yang disinggung Bu Vivian, masalah itu akan muncul lagi. Dan biasanya waktu muncul pada masa pernikahan muncul dalam intensitas yang lebih karena ada beberapa penyebab. Yang pertama adalah kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali. Sudah tentu akan timbul rasa bosan dan akhirnya berubah menjadi rasa muak dan lama-lama menjadi rasa masa bodoh, "Ya engkau memang tidak bisa diubah lagi, aku sudah membicarakan hal ini yang ke 10 kalinya dan engkau tetap mau melakukan apa yang engkau lakukan ya sudah, engkau mau berbuat apa aku tidak peduli lagi." Jadi biasanya kalau muncul di masa pernikahan dan sudah pernah ada di masa sebelum menikah, kecenderungannya memang muncul dalam intensitas yang lebih besar atau lebih serius. Kadang kala tadi Pak Gunawan juga sudah singgung, ada kalanya orang yang berpacaran mempunyai suatu harapan mujizat akan terjadi, yaitu setelah menikah tiba-tiba masalah akan terselesaikan. Kadang kala saya bertanya seperti ini kepada pasangan yang sedang menjalani konseling pranikah, mereka tidak cocok dan saya sudah tekankan itu kepada mereka tapi tetap mereka mau menikah. Saya suka menggunakan suatu ilustrasi. Saya suka katakan "Bayangkan engkau sekarang sudah menikah," saya ambil suatu kertas saya berkata: "Bayangkan ini adalah surat nikah engkau, sekarang saya tanya apa yang berubah dalam hubungan kamu berdua?" Dua-dua diam, sebab memang pernikahan adalah seperti itu sebetulnya, yaitu suatu hubungan yang sekarang disahkan tapi hubungan itu sendiri tetap sama, tidak ada yang berubah sebetulnya. Kalau sebelumnya tidak cocok, mempunyai masalah dengan kecemburuan misalnya itu akan menjadi masalah yang menyertai mereka. Tapi adakalanya memang muncul suatu harapan-harapan gaib, seolah-olah semua akan terselesaikan ya tidak. Dengan adanya kertas surat nikah ini apakah ada yang berubah dalam hubungan engkau berdua? Tidak ada persis sama, jadi itu yang saya kira kita ini sebagai orang yang lebih tua atau sebagai konselor pranikah perlu tekankan pada pasangan muda bahwa pernikahan tidak mempunyai atau mengandung solusi yang gaib, yang bisa menyelesaikan problem mereka.
GS : Tadi saya ambil contoh tidak disetujui orang tua karena masih banyak yang terjadi seperti itu dan setelah mereka menikah apalagi setelah mempunyai anak, lalu orang tuanya itu luluh hatinya mungkin sudah menerima. Karena itu yang saya katakan tadi ada masalah sebelum pernikahan kemudian setelah menikah selesai ternyata pernikahan seperti itu. Kalau kasusnya tidak disetujui orang tua, jadi bisa terjadi seperti itu Bu Vivian?
VS : Ya kalau tadi katakan setelah anak lahir lalu disetujui. Itu karena masalah tidak disetujui, tapi kalau masalah yang pribadi, masalah interaksi saya kira tidak akan selesai.
GS : Bahkan mungkin bisa lebih parah karena tidak cocok. Masalahnya sekarang pada saat pacaran tadi yang sebenarnya digunakan untuk saling mengenal. Menurut saran atau pendapat Bu Vivian, yang bisa digunakan oleh remaja kita itu atau pemuda kita yang akan menikah itu bagaimana menggunakan saat-saat pacaran itu?
VS : Saat pacaran adalah saat terbaik untuk mengenal calon pasangannya ini, jadi mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Jadi saat yang terbaik adalah mengenal orang ini pakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup.
GS : Contoh konkretnya dengan cara seperti apa Bu?
VS : Lebih banyak berkomunikasi.
GS : Ya kalau ngomong-ngomong masih pacaran bisa sampai lama, tapi masalahnya apa yang mereka omong kita tidak tahu.
VS : Biasanya omong-omong bukan untuk mengenal (GS :Membicarakan sesuatu di luar hubungan mereka) betul.
IR : Tapi sulitnya kalau mereka sudah tahu kalau mereka tidak cocok, tapi tetap pada pendiriannya untuk terus melanjutkan sampai ke pernikahan, apakah ada saran-saran untuk memberikan bekal bagi mereka yang tidak cocok?
VS : Biasanya dengan konseling pranikah. Jadi mereka itu diajak untuk membuka pandangannya mereka, membuka matanya.
GS : Memang sekarang yang banyak terjadi di dalam pembinaan pranikah itu adalah sifat pengajaran, sifat menambah ilmu pengetahuan mereka tentang persiapan-persiapan pernikahan. Tetapi latihan seperti latihan mendengarkan, latihan merasakan perasaan orang lain dan sebagainya itu jarang sekali dilakukan, Bu?
VS : Ya pengajaran memang perlu juga, tapi latihan dalam kelompok kami juga ada. Yang terpenting adalah penyesuaiannya orang dua ini, jadi apa yang selama ini saya selalu tekankan, selama ini ang jadi masalah kalian berdua itu apa? Dan biasanya kelihatan ini orang yang berdua ini duduk ini mereka kelihatan duduk ini dengan damai atau duduk dengan ada masalah bisa kelihatan.
Biasanya saya tanya masalah apa yang tidak beres dari kalian. Jadi itu yang dibereskan sebelum menikah.
GS : Apakah mungkin Ibu punya suatu contoh konkret dari satu calon pasangan suami istri yang tadinya itu memang tidak sepaham atau tidak cocok, lalu melalui bimbingan pranikah ini mereka bisa ditolong untuk menemukan masalahnya Bu?
VS : Ya ada (GS : Misalnya Bu) misalnya ada satu pasangan yang saya bimbing ini mereka kelihatannya tidak cocok karena yang perempuan ini memangnya pendidikannya lebih tinggi dan memang umurnyalebih tua dan dia ini memangnya lebih cepat mengambil keputusan.
Yang laki memangnya lebih lambat mengambil keputusan jadi mereka ini selalu bertengkar karena yang laki dia mengatakan meskipun saya ini umurnya lebih muda, saya ini saya harus jadi kepala keluarga, tetapi dalam kenyataan tidak bisa. Oleh sebab itu mereka bertengkar terus. Setelah konseling pranikah beberapa kali mereka memutuskan menunda dan membereskan, jadi yang perempuan belajar mengungkapkan pendapatnya yang baik itu bukan dengan mendikte suaminya, calon suaminya selalu dia dikte, ini yang membuat calon suaminya marah. Kita belajar bagaimana mengungkapkan pendapat dengan tidak mendikte akhirnya dia berubah, cara berkomunikasinya ini juga berubah menjadi bagaimana bisa menjadi kepala keluarga akhirnya setelah bisa selesai, mereka berubah.
GS : Bimbingan seperti itu tidak bisa dilakukan dalam bentuk kelas Bu?
VS : Itu yang pribadi (GS : harus pribadi ya) ya, jadi saya katakan kelas penting ada diskusi kelompok tetapi juga harus ada untuk pasangan secara pribadi, orang per orang, sepasang dan juga seara kelompok.
GS : Sekarang ini banyak sarana untuk saling mempertemukan seperti biro jodoh, menurut pandangan Ibu Vivian bagaimana kalau orang mengatakan menemukan jodohnya lewat kesempatan-kesempatan yang ada seperti itu. Jadi mereka biasanya tidak ada tindak lanjutnya, bagaimana menurut Ibu?
VS : Kalau itu adalah sesuatu yang tidak mudah, tahu orangnya lewat tulisan, gambaran tetapi menentukan pernikahan dengan cara itu, saya kira kurang bijaksana. Sebaiknya kita harus ketemu orangya, mengenal orangnya dulu.
GS : Tidak ada sistem kilat-kilatan?
(3) IR : Apakah ada Bu Vivian, faktor-faktor yang memperkuat pernikahan?
VS : Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan kalau saya melihat, mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut pada Tuhan, karena orang yang takut pada Tuhan bagaimanapun juga akan beusaha untuk memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan.
Itu fondasi yang terutama.
PG : Dalam pengalaman Bu Vivian, apakah ada problem-problem tertentu yang Ibu temukan pada masa konseling pranikah. Yang dapat Ibu gunakan sebagai indikator, apakah pernikahan ini akan berjalan baik atau tidak, apakah ada isu-isu atau masalah-masalah yang sangat krusial yang mereka harus bisa selesaikan dengan baik?
VS : Terutama masalah komunikasi, kalau dalam kelompok biasanya waktu pengajaran, saya biasanya mulai dengan pengajaran itu kalau yang bicara hanya dari dua orang, ini entah laki saja yang perepuan diam saja.
Ini saya kira sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu problemlah di komunikasinya. Atau yang perempuan bicara terus yang suaminya diam saja, itu saya melihat bahwa mereka tidak ada kebersamaan.
GS : Kalau memang yang laki pendiam misalnya, jadi sejak dari awalnya pendiam.
VS : Biasanya memang kalau kami diskusi tetapi saya selalu tanyakan satu kelompok lalu satu pasang. Pandangan kalian berdua apa, selalu yang menjawab ini perempuan saja atau yang laki saja. Inisesuatu yang tidak beres.
(GS: Indikasi yang perlu diwaspadai itu) ya itu harus diwaspadai. Dan juga mungkin dalam cara menjawab itu kelihatan ada kemarahan, satu pasang yang sekarang saya bimbing ini waktu menjawab kelihatan ada kemarahan, ini apa ini, tapi karena waktu itu kelompok saya tidak membicarakan apa-apa setelah kelompok selesai saya panggil. Saya melihat beberapa minggu ini ada kemarahan, ternyata ada yang terpendam lama sekali yaitu kemarahan karena cemburu pada calon istrinya ini.
GS : Bu Vivian, tadi Ibu katakan bisa dalam bentuk kelas jadi bersama-sama dan kelompok diajarkan, mungkin kami boleh tahu materi-materi apa yang biasanya disampaikan dalam bentuk kelas itu?
VS : Yang saya sampaikan itu materi terutama yaitu tentang pernikahan dari sudut pandang Kristen, itu mereka sebagai fondasinya (GS: Harus tahu itu) harus tahu tanggung jawabnya sebagai suami itri dari pandangan firman Tuhan.
Lalu yang saya tekankan juga tentang mereka mengenal diri mereka sendiri, jadi siapakah saya ini dan saya mau menikah ini adalah menurut pandangan Kristen seumur hidup, jadi saya harus hubungan dengan orang, pengenalan pribadi satu dengan yang lainnya. Lalu juga tentang komunikasi bagaimana berkomunikasi dengan baik, lalu juga materi yang lain adalah tentang kemarahan, bagaimanapun juga kita hidup bersama-sama ini tentu ada kemarahan lalu bagaimana menangani kemarahan. Hal yang lain adalah tentang komitmen apa mereka mau komitmen seumur hidup, yang lain lagi adalah tentang pendidikan seksual, anak, harapan-harapan dalam pernikahan karena biasanya waktu pacaran harapannya tinggi-tinggi, kenyataannya tidak tahu, kira-kira seperti itu.
GS : Di samping itu ada latihan-latihan yang tadi Ibu katakan dilakukan sepasang-sepasang atau sendiri-sendiri (VS :Betul). Kalau seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama ya Bu?
VS : Ya, saya katakan paling sedikit 6, 7 kali dan setiap kali itu ada 2 jam.
GS : Biasanya kalau dalam kelompok, pengalaman Ibu, apakah jumlahnya makin lama makin menyusut. Jadi misalnya saat pertama itu bisa sampai 10 pasang, sampai pada pelajaran terakhir tinggal 3 pasang, apa tidak terjadi seperti itu?
VS : Ada yang terjadi seperti itu memangnya kadang-kadang tidak datang. Tapi saya mengatakan kalau kamu tidak datang harus ditambah (GS: Mengikuti yang lain ya) mengikuti yang lain, jadi harus iselesaikan.
GS : Mungkin juga faktor dorongan dari orang tua itu penting untuk menganjurkan mereka ikut.
VS : Ya tapi mereka sendiri kalau saya evaluasi, mereka sendiri mengatakan banyak manfaatnya dan minta ditambah waktunya.
GS : Sebelum mereka memutuskan, mungkin dari bimbingan itu kelihatan bahwa mereka itu ternyata tidak cocok sehingga mereka harus memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih lanjut yaitu pernikahan.
VS : Selama ini saya belum pernah seperti itu, yang saya pernah mengalami yaitu yang tidak cocok tapi bisa ditunda sampai 3 kali. Dan waktu mereka ketiga kali ini apa saya harus tunda sekali lai, ditunda sekali lagi harus batal tetapi ternyata kami bersama-sama membereskan ternyata bisa selesai.
Apa ada pengalaman yang bisa disampaikan Pak Paul?
PG : Memang akhirnya ada 3 rekomendasi yang bisa kita berikan, yang pertama menyetujui silakan menikah seperti yang telah dibicarakan tanggalnya, yang kedua adalah menunda kalau kita rasakan meang mereka belum siap dan yang ketiga adalah meminta dibatalkan, itu mungkin sekali.
Ada pasangan yang sangat jelas memperlihatkan ketidakcocokan dan kalau diteruskan tidak akan bisa cocok, jadi tidak sehat sama sekali hubungan seperti ini. Adakalanya harus langsung kami katakan, "Kalian berdua sama sekali tidak cocok, jadi sebaiknya dibatalkan daripada ditunda 10 tahun, lebih baik bilang terus terang dibatalkan sekarang saja."
GS : Itu menyakitkan sekali Pak Paul, tapi masih lebih baik daripada kalau mereka melanjutkan pernikahan lalu putus di tengah jalan. Sehubungan dengan persiapan pernikahan ini, mungkin Pak Paul ada ayat firman Tuhan atau yang menegaskan bahwa bimbingan pranikah itu sesuatu yang perlu untuk mempersiapkan pasangan karena yang tadi kita lihat ini 'kan menjadi suatu perkembangan baru, yang dulu tidak dirasakan sebagai kebutuhan, sekarang dirasakan sebagai kebutuhan apakah memang seperti itu Pak Paul?
PG : Saya kira memang demikian Pak Gunawan, masyarakat atau kita semua makin hari makin menjadi masyarakat yang berpusat pada kenikmatan pribadi. Kita menikah supaya kita senang, bahagia. Suatukonsep bahwa pernikahan itu tidak selalu membawa kebahagiaan karena itu kita harus memikul beban satu sama lain.
Konsep ini perlu ditanamkan juga pada pasangan-pasangan yang mau menikah. Firman Tuhan yang langsung muncul dalam benak saya adalah Galatia 6:2 "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Jadi saya kira setiap orang yang ingin menikah, harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban, tapi pasangannya membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikul. Sebab dia tidak akan mendapatkan semua yang dia inginkan dan pasangannya itu tidak berkemampuan, tidak harus menyediakan semua kebahagiaan untuknya. Akan ada masalah yang dimiliki pasangannya yang mungkin sebelumnya tidak disadari. Dia harus siap semua itu dan memikulnya sebagai bebannya pula. Jadi konsep terhadap pernikahan dan harapan-harapan yang tersembunyi itu harus dimunculkan dalam konseling pranikah sehingga keduanya bisa menyadari apa yang sebetulnya diharapkan secara tersembunyi. Dan banyak di antara kita mengharapkan kebahagiaan itu, tapi kita yang sudah menikah bisa berkata pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan ada beban yang harus kita pikul.
GS : Ya memang saya rasa ayat itu tepat sekali dan kita perlu belajar dari ayat firman Tuhan tadi. Bu Vivian kalau seseorang itu sudah menjalani persiapan pranikah, apakah ada suatu jaminan bahwa pernikahan mereka itu tidak cocok atau bagaimana?
VS : Konseling pranikah ini hanya membekali mereka tetapi mereka harus bekerja keras untuk melaksanakan dalam pernikahan (GS : Dalam kondisi saling menolong Bu ya) ya jadi harus bekerja keras sumur hidupnya, ini hanya bekal saja.
GS : Tapi itu jauh lebih baik daripada mereka menjalani hidup pernikahan tanpa bekal. Jadi saya rasa khususnya bagi para pendengar yang belum memasuki jenjang pernikahan, apa yang kita bicarakan pada kesempatan ini sangat berguna dan Anda dapat menghubungi baik gereja maupun lembaga-lembaga lain yang bisa dipersiapkan sebelum memasuki dunia pernikahan.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar persiapan kehidupan pernikahan bersama Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Persiapan pernikahan yang diperlukan adalah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan, sekarang akan hidup bersama-sama. Bimbingan pranikah sangat diperlukan bagi pasangan muda untuk saat ini dan pelaksanaannya ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan.
Persoalan yang tidak terselesaikan dengan tuntas akan muncul lagi pada masa pernikahan, dan kecenderungannya persoalan itu muncul dalam intensitas yang lebih besar, bukan makin berkurang.
Hal ini disebabkan oleh:
Kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali.
Pacaran yang tepat yang perlu dilakukan oleh remaja atau pemuda kita adalah:
Saat pacaran yang terbaik adalah untuk mengenal calon pasangannya ini. Yaitu mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Apakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup?
Hal ini dapat dilakukan dengan banyak berkomunikasi.
Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan adalah:
Mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut kepada Tuhan, karena orang yang takut akan Tuhan bagaimanapun juga akan memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, itu fondasi yang terutama.
Materi yang biasa diberikan pada masa pranikah adalah:
Pernikahan dipandang dari sudut pandang Kristen.
Mengenali diri sendiri, siapakah saya ini. Saya mau tidak hubungan dengan orang lain, pengenalan pribadi satu dengan yang lain.
Komunikasi, bagaimana berkomunikasi dengan baik.
Kemarahan, tentang bagaimana menangani kemarahan.
Komitmen, apakah mereka mau komitmen untuk seumur hidup
Pendidikan seksual, juga tentang anak dan harapan-harapan dalam pernikahan.
Yang biasa dianjurkan atu rekomendasi yang diberikan setelah konseling pranikah adalah:
Menyetujui silakan menikah
Menunda, kalau memang mereka belum siap
Meminta dibatalkan, hal ini dilakukan kalau pasangan tersebut dengan jelas-jelas memperlihatkan ketidakcocokan yang sangat parah dan kalau diteruskan tidak akan cocok, bisa jadi tidak sehat sama sekali hubungan mereka itu.
Galatia 6:2 , "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."
Jadi setiap orang yang ingin menikah harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban dan pasangannya pun membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikulnya.