Ibu Winny Soenaryo, M. A.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Ibu Winny Soenaryo, M. A.
Abstrak:
ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) terdiri dari beberapa tipe, yaitu: tidak bisa konsentrasi, hiperaktif dan kombinasi antara keduanya. Bagian ini akan membahas faktor yang mempengaruhi, bagaimana kita mengidentifikasikan dan apa yang harus kita lakukan?
Transkrip Isi:
T 212 A
Lengkap
"Menangani Gangguan ADHD" bersama Pdt.Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo M.A.
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Kami akan berbincang-bincang dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. Beliau adalah seorang ahli terapis okupasi. Perbincangan kami kali ini tentang "Menangani Gangguan ADHD". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Selamat datang Ibu Winny, kami senang Ibu Winny bisa bersama kami. Ibu Winny adalah seorang terapis okupasi, mungkin sebelum kita memulai dengan menanyakan lebih banyak tentang gangguan AHD ini, Ibu mungkin bisa bercerita sedikit, sebetulnya apa yang Ibu lakukan dengan tugas Ibu sebagai terapis okupasi.
WS : Terapis okupasi ini adalah sesuatu yang baru dikenal oleh orang-orang terutama di Asia. Terapis okupasi itu bukan membantu seseorang mencari pekerjaan, tetapi kata-kata okupasi itu sebetunya ditujukan untuk melihat pengembangan orang itu dan melihat di mana mereka berada, dan okupasi mereka itu untuk apa.
Misalnya untuk anak-anak, okupasi mereka adalah bermain, bersekolah juga bersosialisasi dengan teman-teman. Kalau remaja, untuk membantu mereka yang sedang dalam kesulitan misalnya depresi, anxiety. Sebagai jembatan untuk membantu mereka menemukan sekolah yang tepat atau program yang tepat untuk mereka. Atau pun juga untuk orangtua, khususnya yang sudah pensiun, kebanyakan mengalami depresi karena mereka sudah tidak bekerja lagi sehingga mereka menjadi bingung. Mereka kehilangan satu pekerjaan yang membuat mereka depresi, akhirnya sebagai terapis okupasi, kita membantu mereka bagaimana supaya mereka bisa hidup dengan semangat lagi, dengan menggunakan aktifitas-aktifitas yang mereka pernah lakukan.
PG : Jadi okupasi di sini didefinisikan secara luas, yakni kegiatan atau aktifitas yang bermakna yang sesuai dengan usia atau perkembangan di mana seseorang berada. Dan dalam rangka inilah Ibujuga menolong anak-anak yang menderita gangguan ADHD.
Mungkin kalau Ibu tidak berkeberatan coba Ibu jelaskan singkatan dari apakah ADHD dan sebetulnya apa itu ADHD?
WS : ADHD singkatan dari Attention Defisit Hyperactive Disorder, dulu namanya banyak sekali, bisa hiperaktif, bisa ADD, tapi sekarang namanya ADHD. Ada beberapa macam atau tipe ADHD, yaitu adayang khusus hanya tidak bisa konsentrasi atau perhatiannya tidak lama atau hiperaktifnya atau juga kombinasi antara dua ini; tidak bisa konsentrasi dan juga hiperaktif.
PG : Ibu bisa jelaskan, apakah ini hanyalah lingkup lingkungan sehingga anak-anak mengembangkan ADHD atau memang ada penyebab-penyebab yang bersifat organik, yang bersifat biologis pada dirinya itu?
WS : Penemu ADHD (scientist) juga belum terlalu yakin kenapa ditemukan ADHD ini, tapi yang sekarang mereka tahu, genetik ada pengaruhnya, lingkungan pun juga ada pengaruhnya. Genetik ini biasaya menurun, kalau misalnya di dalam keluarga ada yang menderita ADHD, biasanya bisa menurun.
Di sana baru ketahuan bahwa ada faktor genetik yang terpengaruh ADHD ini. Juga lingkungan, sekarang ini mereka masih mencari tapi dikatakan ada pengaruh dari merkuri, mereka mengatakan merkuri bisa mempengaruhi ADHD dalam perkembangan otak mereka.
PG : Jadi memang ada kelainan pada struktur otaknya, namun kita belum pasti apakah penyebabnya yang menimbulkan kelainan pada otak anak yang ADHD ini. Yang pasti bukan 100% pengaruh lingkungan?
WS : Bukan, itu kombinasi antara genetik dan lingkungan, yang membuat mereka mempunyai otak yang berbeda dengan anak-anak normal karena ada abnormal di bagian depannya sehingga mereka sulit untk mengontrol diri.
PG : Ada ketidakbenaran atau ada yang tidak pas di bagian otak yang terletak di bagian depan. Apakah jumlah penderita ADHD itu sama antara anak laki dengan anak perempuan?
WS : Tidak sama, untuk anak laki perbandingan 1:6 atau 1:9, karena perbandingan ini biasanya anak laki-laki dilihat lebih nakal daripada anak perempuan. Banyak sekali anak perempuan yang khusunya di bagian yang tidak bisa konsentrasi itu tidak terdiagnosa karena mereka mungkin tidak bisa berkonsentrasi tapi mereka tidak hiperaktif.
GS : Pada umumnya banyak anak yang sulit untuk berkonsentrasi apalagi untuk jangka panjang. Tapi sebenarnya apa yang membedakan anak yang mengidap ADHD dengan anak yang normal?
WS : Ada beberapa kriteria ADHD yang bisa dilihat, misalnya tidak bisa konsentrasi itu harus bisa berlaku lebih dari satu atau 10 kali, dan juga dia mempunyai gejala itu harus sebelum umur 7 taun.
Selain itu mereka yang tidak bisa konsentrasi atau hiperaktif gejalanya itu harus lebih dari 6 bulan dan juga harus "multiple setting", jadi tidak hanya di sekolah saja tapi kita juga harus melihat mereka di rumah, di sekolah, di komunitas; jadi mereka harus memenuhi kriteria itu baru mereka bisa didiagnosa untuk ADHD.
GS : Biasanya anak yang menderita hiperaktif sementara orangtuanya tidak tanggap itu akan dilihatnya sebagai anak yang nakal begitu saja?
WS : Banyak sekali orangtua yang menyebutnya anak nakal, karena mereka lari ke mana-mana dan tidak bisa diam.
GS : Tapi apa yang membedakan supaya kita tahu bahwa ini tidak sekadar nakal, tidak sekadar tidak bisa konsentrasi, tapi memang mengidap ADHD?
WS : Symptom ADHD itu sangat impulsif, jadi mereka tidak hanya tidak bisa konsentrasi, lari-lari, impulsif, kadang mereka melakukan sesuatu yang berbahaya untuk diri mereka sendiri atau orang ain tanpa sadar.
Jadi anak yang hanya berlari-lari, hiperaktif, banyak energi belum tentu menderita ADHD. Jadi ADHD itu impulsif, bisa menggunakan suatu kekerasan.
GS : Kalau anak seperti itu disekolahkan di sekolah yang normal, sekolah-sekolah biasa pada umumnya, bukankah itu akan mengganggu teman di kelasnya bahkan di sekolahnya?
WS : Betul, banyak guru merasakan anak seperti itu bisa mengganggu sekali di kelas, karena mereka bukan hanya lari-lari di kelas tapi mereka juga bisa mengganggu teman-temannya di kelas yang seang belajar.
GS : Mereka bisa menangkap pelajaran dengan cepat atau lambat?
WS : Kadang kala mereka bisa tapi kebanyakan mereka kesulitan karena mereka tidak bisa konsentrasi.
GS : Berarti prestasinya di sekolah itu biasanya rendah begitu Bu?
WS : Ya, rendah, dan banyak sekali anak yang menderita ADHD dihubungkan dengan anak yang sulit belajar karena 30% dari anak ADHD itu bisa disebut mereka mempunyai kesulitan dalam belajar menuli, membaca atau dalam matematika.
PG : Bu Winny, banyak orangtua yang karena capek, jadinya kurang sabar. Anak ini kok nakal, tidak bisa diam, mengganggu kakaknya, adiknya dan sebagainya, akhirnya melampiaskan kemarahan pada i anak; memukulnya, anak sedikit berbuat kesalahan langsung dipukul.
Apa yang Ibu ingin katakan kepada orangtua kalau anaknya kebetulan menderita ADHD?
WS : Sebagai orangtua kita harus mengerti kondisi anak-anak itu berbeda. Ada yang ADHD hiperaktif; mungkin mereka ingin belajar tapi karena mereka tidak biasa menguasai diri, akhirnya mereka mmpunyai kesulitan.
Dan biasanya anak ADHD itu ada kecenderungan untuk mempunyai rasa menghargai diri yang sangat rendah. Akibat dimarahi orangtua, karena sekolahnya tidak baik, tidak disukai orang-orang. Saya akan katakan kepada orangtua, jangan sampai anak ADHD itu rasa menghargai dirinya rendah, karena kalau anak ADHD tidak diarahkan, mereka mungkin juga bisa menjadi anggota 'geng', jadi diarahkannya menjadi tidak baik.
PG : Tapi kalau orangtua berkata, "Aduh, anak saya itu luar biasa tidak bisa diam, mengganggu terus; saya beritahu tetap saja mengulangnya, bagaimana akhirnya saya tidak naik pitam, bagaimana ahirnya saya tidak memukulnya."
Kalau kasusnya seperti itu bagaimana Bu?
WS : Memang sulit bagi orangtua yang mempunyai anak menderita ADHD. Tapi saya juga mau memberitahukan kepada orangtua, mereka tidak usah menanganinya sendiri, mereka bisa minta tolong pada ahl-ahli profesi yang mungkin bisa membantu untuk menangani anak-anak seperti itu.
Misalnya melalui psikiater atau dokter yang mungkin bisa memberikan obat yang saat ini ditemukan sangat efektif untuk anak ADHD. Untuk menurunkan hiperaktifnya mereka bisa dibantu dengan obat. Atau juga dengan terapi tingkah laku, dimana mungkin anak ADHD sering impulsif, jadi anak menjadi kasar. Itu bisa dibantu dengan dukungan pendidikan, misalnya les tapi dukungan yang bersifat kejiwaan/psikologis, konseling, atau mungkin juga terapi-terapi yang bisa membantu mereka.
PG : Kalau Ibu bisa memberikan masukan yang spesifik, misalnya ada orangtua yang berkata, "Anak saya ini mengganggu adiknya terus, bagaimana Bu supaya anak itu bisa berhenti mengganggu". Terapi seperti apa yang Ibu akan ajarkan?
WS : Memang kalau di rumah susah ya, tapi kita bisa sarankan untuk menggunakan terapi tingkah laku, mengajarkan mereka dengan memberi reward. Jadi kita bisa memberikan kepada mereka pujian, mialkan di rumah waktu anak itu mengerjakan sesuatu yang baik dengan adik itu kita bisa langsung memberikan pujian, "o......bagus
sekali, mama senang kamu melakukan ini kepada adikmu." Jadi waktu anak itu mendengar pujian itu, dia bisa merasakan, 'o... kalau saya berbuat baik kepada adik saya, mama saya akan memberikan pujian kepada saya.' Tapi kalau jahil mamanya juga harus tegas mengatakan "Jangan !" Jadi anak bisa membedakan, kalau saya berbuat baik kepada adik, mama saya akan senang.
GS : Tadi Ibu katakan bahwa anak laki-laki mempunyai kecenderungan lebih besar menjadi penderita ADHD dibanding anak perempuan. Itu sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi atau hasil dari satu riset atau bagaimana?
WS : Hasil dari riset itu memang laki-laki lebih banyak tapi juga yang sering mengganggu di kelas itu lebih banyak laki-laki. Jadi kalau guru merasakan sesuatu yang tidak beres, yang ditunjuk ebanyakan anak laki-laki.
Karena kalau anak perempuan jarang yang berlari-lari dan mengganggu, mungkin ada tapi sedikit sekali.
GS : Faktor dari orangtua tidak ada pengaruhnya, misalkan keturunan atau genetik tidak ada pengaruhnya?
GS : Karena itu bisa diberikan obat-obatan tertentu pada penderita anak ADHD ini?
WS : Genetiknya itu dimaksudkan, kalau dalam keluarga ada yang menderita ADHD, itu bisa menurun kepada anaknya.
GS : Tapi biasanya orangtua sudah tidak menyadari bahwa dia dulu pernah menjadi penderita ADHD.
WS : Ya, mereka tidak sadar tapi sebetulnya itu bisa ada kemungkinan, mungkin bukan dari mamanya tapi dalam keluarganya mungkin ada sehingga faktor genetiknya menurun.
GS : Hiperaktif pada diri anak, apakah bisa disalurkan ke sesuatu tindakan yang produktif dan baik?
WS : Bisa, karena anak hiperaktif itu juga mempunyai satu sensor yang juga ada beberapa sensor yang mereka sangat butuhkan. Jadi ada baiknya mereka diijinkan bermain di luar. Di zaman sekaran ini, karena tidak mau repot anak-anak ditaruh di depan televisi, agar mereka diam tapi sebetulnya anak ADHD ini kalau ditaruh di depan televisi mereka bisa lebih impulsif lagi.
Jadi kalau boleh saya sarankan, orangtua bersama-sama pergi "outing" atau pergi bermain di luar saja karena itu akan lebih baik buat anak-anak, agar mereka juga bisa mengeluarkan energi yang terlalu banyak di dalam dirinya.
GS : Pengisitilahan ADHD ini menimbulkan kesan, terutama saya mempunyai kesan, orang yang tidak bisa konsentrasi atau anak yang sulit berkonsentrasi lalu menjadi anak yang hiperaktif, padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Ini dua kasus yang berbeda ?
WS : Bisa kasus yang berbeda. Jadi ada tiga tipe yaitu hanya tidak bisa berkonsentrasi, hanya hiperaktif, dan yang ketiga dua-duanya ada.
GS : Jadi ada anak yang hiperaktif tapi bisa berkonsentrasi.
PG : Ibu Winny, bagaimana menolong anak ADHD yang tidak bisa berkonsentrasi itu untuk meningkatkan daya konsentrasinya?
WS : Saya sebagai terapis okupasi, saya biasanya memberikan terapi yang namanya sensori integrasi. Jadi melihat mereka, sensorinya yang kurang dimana dan memberikan kepada mereka apa yang merea butuhkan supaya otaknya, sensorinya itu bisa seimbang, itu yang pertama.
Yang kedua, saya akan memberi kepada guru-guru atau orangtua itu satu strategi yang bisa digunakan di rumah maupun di sekolah untuk membantu mereka lebih bisa berkonsentrasi. Misalnya, dengan menggunakan stress ball, mereka bisa pencet-pencet, itu biasanya sangat membantu mereka untuk bisa lebih tenang. Bisa juga dengan memberi beban dalam tubuh mereka, karena dengan adanya beban ini, mereka akan terbantu untuk menjadi lebih tenang.
GS : Atau juga ada lagu-lagu yang tenang bisa membantu mereka, tapi kalau dia tidak bisa berkonsentrasi lama juga sulit ya Bu?
WS : Untuk lagu setiap anak juga unik, ada anak yang bisa belajar dengan adanya musik tapi ada anak juga yang bisa belajar tanpa musik. Jadi bisa dicoba dengan memakai musik yang menggunakan ltar belakang yang lembut.
PG : Kalau untuk di rumah, anak-anak ini disuruh belajar baru duduk 5 menit sudah lari ke sana-ke sini atau bergerak ke sana-ke sini seperti cacing kepanasan. Nah sebagai orangtua apa yang harus dilakukannya, apakah si orangtua perlu menunggui si anak di situ atau meninggalkan si anak supaya belajar sendiri atau apa ibu mempunyai cara yang paling baik?
WS : Mungkin kita bisa menggunakan strategi-strategi untuk anak itu, tergantung kondisi anak itu seperti apa. Misalnya kalau saya mempunyai anak yang ADHD, kalau misalnya anak itu hiperaktif sperti cacing kepanasan, saya akan mencoba mereka mengerjakan sesuatu yang berat.
Misalnya membantu untuk menyapu atau mendorong meja yang buat mereka itu adalah aktifitas yang berat supaya energi mereka bisa keluar. Setelah itu saya akan coba minta mereka untuk duduk, duduknya tidak harus di kursi bisa di bola, karena bola itu memberikan satu input untuk mereka bisa bergoyang sekaligus bisa duduk. Jadi saya akan mencoba beberapa strategi bagaimana mereka bisa mengeluarkan energi itu untuk mempersiapkan waktu belajarnya. Kalau mereka masih belum bisa berkonsentrasi terlalu lama, saya akan bagi, 15 menit sekali saya akan berikan istirahat 5 menit untuk mengerjakan sesuatu, terus balik lagi 15 menit.
PG : Jadi memang Ibu menganjurkan agar waktu belajar anak itu dipotong-potong dalam kepingan-kepingan yang lebih singkat. Tidak bisa misalkan anak itu disuruh duduk 1 jam nonstop atau 2 jam nostop, itu malah tidak produktif ya Bu.
WS : Malah tidak efektif untuk anak itu.
PG : Malah si anak resah dan akhirnya tidak bisa masuk, tidak bisa menghasilkan apa-apa.
GS : Kalau orangtua tidak mengenali bahwa anaknya mengidap ADHD, lalu dibiarkan saja. Setelah menjadi besar kira-kira akibatnya apa Bu?
WS : Ada riset membuktikan 60% anak yang ADHD itu akan terus, maksudnya besarnya akan ADHD juga tapi mungkin impulsifnya atau hiperaktifnya menurun.
GS : Dan itu dapat meresahkan masyarakat atau tidak?
WS : Ada yang meresahkan, ada yang tidak juga.
GS : Kita kesulitan melihatnya, apakah dulu latar belakangnya seperti itu pengidap ADHD atau dia seorang yang cenderung merusak sesuatu seperti itu, misalnya tabiatnya memang jelek. Bukankah kalau sudah dewasa membedakannya akan sulit?
WS : Memang ADHD itu tidak datang dengan diagnosa sendiri, jadi 60% ADHD itu disertai oleh kekacauan yang lainnya. Misalnya, "anxiety disorder" (kegalauan disertai rasa cemas), "oppositional dfiant disorder" (gangguan melawan dan membangkang).
Jadi jarang sekali ADHD datang hanya sendiri, ADHD datang dengan yang lainnya. Kalau memang tidak ditangani dengan baik dari kecil, besarnya mereka akan sulit untuk bisa bekerja. Ke mana-mana mereka tidak bisa konsentrasi, akhirnya mereka banyak sekali yang tidak sukses karena mereka tidak bisa mengerjakan apa-apa.
GS : Memang ada orang-orang tertentu yang sampai besar pun agak sulit berkonsentrasi. Tapi dia akan memilih pekerjaan yang tidak terlalu banyak menuntut konsentrasi, seperti tidak bekerja di bidang Akuntansi, yang membutuhkan konsentrasi tapi mungkin di bidang salesman atau apa yang bisa bepergian ke mana-mana. Tapi juga akan kesulitan berkomunikasi dengan pelanggan.
WS : Salah satu kesulitan ADHD adalah bersosialisasi juga. Jadi kita harus membantu untuk mengarahkan mereka sedini mungkin. Tapi juga ada orang yang tidak dapat intervensi tapi mereka akhirna juga bisa sukses, itu juga mungkin terjadi.
PG : Apakah ada kaitannya antara ADHD dengan agresifitas yang makin agresif atau mudah marah?
WS : Mungkin ada sebagian anak mempunyai itu, karena mereka tidak tahu bagaimana caranya, karena tadi saya sudah katakan sensori mereka kurang terorganisir, jadi mereka tidak tahu bagaimana-oututnya agresif, kasar.
Segala sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak bisa mengontrol; setelah mereka lakukan mereka baru sadar, 'kenapa saya begitu?'
PG : Sebagai orangtua apa yang bisa dilakukan kalau memang inilah faktanya anak ini ADHD dan kalau terganggu sedikit, akan meledak marah, memukul?
WS : Orangtua jangan putus asa dulu, memang sulit mempunyai anak seperti itu. Tapi orangtua bisa meminta bantuan orang lain juga, jadi orangtua bisa meminta saran kepada orangtua lainnya atau uga bantuan terapi bagaimana cara atau strategi strategi yang bisa membantu anak saya.
Khususnya untuk anak-anak yang agresif seperti itu, riset membuktikan kalau terapi tingkah laku itu sangat efektif untuk anak-anak yang sangat agresif. Karena di sana diajarkan untuk tidak melukai diri sendiri atau pun melukai orang lain dan melakukan hal-hal yang positif, diarahkan ke arah tingkah laku yang positif. Saya tahu itu akan sangat sulit sekali bagi orangtua untuk menerima anak-anaknya yang sangat agresif, jadi orangtua juga jangan putus asa karena banyak sekali bantuan di luar yang mungkin sekali bisa membantu orangtua.
PG : Apakah bijaksana kalau orangtua itu menanggapi kemarahan dan kekasaran si anak dengan kemarahan pula, dengan pemukulan kepada si anak?
GS : Itu biasanya orang jadi gampang terpancing emosinya melihat anak yang begitu agresif, tingkah lakunya merusak dan sebagainya. Nah bukankah orangtua akan mudah terpancing, ini bagaimana?
WS : Betul ya, khususnya kalau kita sudah ngomong beberapa kali kepada anak itu tapi anaknya tetap tidak mau mendengar tapi malah lebih kasar. Sulit sekali orangtua untuk mengontrol mereka. Tpi saya juga katakan, anak itu juga perlu kasih sayang.
Kasih sayang itu yang mungkin akan merubah anak itu; kalau menggunakan kekerasan anak itu juga akan tambah keras tapi kalau kita bisa menyayangi mereka, mereka mungkin akan merasakan berbeda. Karena mereka bukannya ingin melakukan sesuatu yang agresif tapi karena mereka tidak bisa mengontrol, maka keluarlah keagresifannya itu. Orangtua perlu mengerti bahwa anak itu tidak mau seperti itu. Jadi dengan kasih sayang akan membantu anaknya untuk lebih berkembang baik secara emosi maupun perilakunya.
GS : Biasanya anak-anak seperti itu apakah tidak kesulitan waktu mau tidur?
WS : Masalah tidur itu salah satu masalah yang banyak dihadapi oleh orangtua yang mempunyai anak ADHD, karena energinya terlalu banyak jadi mereka terus didorong oleh mesin. Hal itu bisa memina bantuan dari psikolog atau terapis karena mereka yang akan menganalisa aktifitas anak.
Jadi bagaimana kita bisa membantu untuk mengganti jadwal anak, sehingga anak bisa diatur supaya tidak terlalu banyak aktifitas di malam hari. Jadi dalam sehari bisa diatur supaya seimbang.
GS : Sehubungan dengan ini tentang menangani ADHD, apakah Pak Paul ingin menyampaikan sesuatu?
PG : Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada para orangtua yang anaknya menderita ADHD dan sudah sangat frustrasi, mungkin putus asa dan hendak menyerah. Saya akan bacakan Yohanes 9:1-3. WaktuYesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." Kadang kita menyalahkan satu sama lain karena kita kesal anak kita begini. "Mungkin karena kamu, kamu dulu juga ADHD, atau orangtuamu ADHD sehingga sekarang anak kita ADHD." Jadi orangtua mungkin terjebak ke dalam tuding-menuding, saling menyalahkan. Atau mungkin menyalahkan diri juga, mungkin karena dosa saya di masa lampau, sekarang anak saya harus menanggungnya. Berhentilah berpikir seperti itu, firman Tuhan berkata: Tapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Yakinlah bahwa ada pekerjaan Allah yang tengah dinyatakan di dalam anak kita. Tugas kita pertama, berdoalah bagi anak kita setiap hari. Nomor dua, berdoalah bagi kita juga agar Tuhan memberikan hikmat, kesabaran, dan cinta kasih untuk membesarkan anak-anak yang Tuhan telah titipkan ini kepada kita. Dan ketiga, tetap berharaplah bahwa Tuhan akan memakai anak ini untuk menggenapi pekerjaan Tuhan di dunia.
GS : Terima kasih Pak Paul, terima kasih Ibu Winny untuk kebersamaan Ibu dengan kami. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menangani Gangguan ADHD". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
T 212 A "Menangani Gangguan ADHD" oleh Ibu Winny Soenaryo M.A.
ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) terdiri dari beberapa tipe, yaitu:
Tidak bisa konsentrasi (daya memperhatikannya yang terganggu)
Hiperaktif
Kombinasi antara keduanya; tidak bisa konsentrasi dan juga hiperaktif
Ada dua faktor yang mempengaruhi:
Faktor lingkungan
Faktor genetik
Yang menyebabkan anak mengalami ADHD ini adalah karena mereka tidak dapat mencegah respons yang impulsif atau ada yang tidak pas di bagian otak yang terletak di bagian depan.
Bagaimana kita mengidentifikasikan bahwa seorang anak menderita ADHD :
Tidak bisa konsentrasi, hal itu terjadi sering dibandingkan dengan anak-anak lain pada tahap perkembangan yang sama.
Gejalanya harus nampak sebelum anak berumur 7 tahun
Gejalanya nampak minimal dalam jangka waktu 6 bulan
Untuk membedakan supaya kita tahu bahwa seorang anak mengidap ADHD adalah gejala ADHD itu sangat impulsif, mereka tidak hanya tidak bisa konsentrasi, lari-lari, kadang mereka melakukan sesuatu yang berbahaya untuk diri mereka sendiri atau orang lain tanpa disadari.
Anak yang menderita ADHD mempunyai kecenderungan self-esteem (penghargaan diri) yang sangat rendah. Ini bisa diakibatkan karena dimarahi orangtua, karena sekolahnya tidak baik, tidak disukai orang-orang.
Orangtua bisa membawa anak ini pada para ahli yang bisa membantu untuk menangani anak-anak seperti ini. Misalnya ke psikiater (dokter ahli jiwa) atau dokter yang bisa memberikan obat yang saat ini diketemukan sangat efektif untuk anak ADHD. Untuk menurunkan hiperaktifnya mereka bisa dibantu dengan obat atau juga dengan terapi tingkah laku.
Yohanes 9:1-3, " Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."
Yakinlah bahwa ada pekerjaan Allah yang tengah dinyatakan di dalam anak kita. Tugas kita yang pertama adalah berdoa bagi anak kita setiap hari. Kedua, berdoalah bagi kita juga agar Tuhan memberikan hikmat, kesabaran, dan cinta kasih untuk membesarkan anak-anak yang Tuhan telah titipkan kepada kita. Ketiga, tetap berharaplah bahwa Tuhan akan memakai anak ini untuk menggenapi pekerjaan Tuhan di dunia.
T 212 B "Memahami Autisme" oleh Ibu Winny Soenaryo M.A.
Bagi banyak orangtua, diagnosa autisme merupakan diagnosa yang sangat menakutkan. Ibaratnya seperti dokter berkata bahwa anak kita itu menderita kanker, begitu menakutkan. Autisme dulu didiagnosa salah sebagai keterbelakangan mental atau schizophrenia. Maka sebelum ada kata autisme, mereka disebut "childhood schizophrenia".
Pada awalnya diketemukan bahwa anak-anak autisme mempunyai otak yang lebih kecil daripada anak-anak normal. Yang membuat orangtua merasa takut adalah karena sampai sekarang belum ada satu penyembuhan yang pasti untuk anak yang menderita autisme. Namun kita bisa membantu anak itu semaksimal mungkin.
Ciri-ciri anak autis adalah sbb:
Kesulitan untuk berinteraksi sosial
Kesulitan berkomunikasi
Mempunyai kelakuan yang sangat kaku
Keterlambatan dalam bergaul atau motoriknya
Mereka senang berada dalam dunianya sendiri
Ada dua tipe autis, yaitu
Regresif, yaitu terlambat diketahui. Pada waktu bayi, mereka normal tapi setelah 2 atau 3 tahun baru diketahui bahwa anak terkena autis.
Sudah bisa dilihat mulai usia 3,4,6 bulan
Yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah :
Memasukkan mereka ke sekolah yang mempunyai penanganan khusus untuk anak autis.
Kita mengarahkan perhatian mereka yang cenderung terfokus
Menggunakan terapi misalnya terapi okupasi atau terapi tingkah laku.
Mazmur 100:2,3 berkata, "Beribadahkah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Ibu Winny Soenaryo, M. A.
Abstrak:
Pada awalnya ditemukan bahwa anak-anak autisme mempunyai otak yang lebih kecil daripada anak-anak normal. Yang membuat orangtua merasa takut adalah karena sampai sekarang belum ada satu penyembuhan yang pasti untuk anak yang menderita autisme. Apakah ciri-ciri anak autis dan apa yang harus dilakukan oleh orang tuanya?
Transkrip Isi:
"Memahami Autisme" bersama Pdt.Dr. Paul Gunadi & Ibu Winny Soenaryo M.A.
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Kami akan berbincang-bincang dengan Ibu Winny Soenaryo M.A. Beliau adalah seorang ahli terapis okupasi Perbincangan kami kali ini tentang "Memahami Autisme". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Selamat bergabung dengan kami Ibu Winny, Ibu Winny bisa datang dan memberikan atau membagikan ilmu kepada kami semua. Topik autisme adalah topik yang sekarang sedang menghangat, dan bai banyak orangtua diagnosis autisme merupakan diagnosis yang sangat menakutkan.
Ibaratnya seperti dokter berkata bahwa anak kita itu menderita kanker, begitu menakutkan. Itu sebabnya kami mengundang Ibu Winny datang untuk memberikan kepada kita semua tentang sebetulnya apa itu autisme. Mungkin Ibu dapat menjelaskannya kepada para pendengar?
WS : Autisme dulunya sebelum ada diagnosa autisme disebut salah diagnosa atau kadang juga disebut schizophrenia karena banyak sekali sifatnya itu mirip dengan schizophrenia. Maka dulu sebelm ada kata autisme, mereka disebut "childhood schizophrenia".
Dan sampai sekarang penyebab autisme belum diketahui, tapi banyak riset membuktikan mungkin ada hubungannya dengan genetik atau mungkin juga ada hubungannya dengan pengaruh lingkungan. Yang sudah diketemukan untuk anak-anak autisme yang paling awal adalah otak mereka. Mungkin waktu kecil, anak autisme berbeda dengan anak-anak lainnya, yaitu otak mereka lebih kecil daripada anak-anak normal.
PG : Jadi memang ada kelainan pada otak itu sendiri, meskipun juga ada pengaruh lingkungan namun yang jelas secara biologis ada perbedaannya. Tadi Ibu Winny mengatakan bahwa sesungguhnya dimasa lampau gangguan autisme itu disangka orang adalah gangguan schizophrenia atau gangguan cacat mental, tapi akhir-akhir ini dengan berkembangnya diagnosis yang lebih tepat akhirnya dipisahkan menjadi diagnosis tersendiri.
Dengan kata lain Ibu ingin mengatakan bahwa mungkin sekali autisme itu sebetulnya dari dulu sudah ada tapi belum dikenali. Jadi sekaranglah baru dikenali sebagai sebuah gangguan. Ibu bisa jelaskan mengapa begitu menakutkan diagnosis autisme ini, jikalau anak kita itu dikatakan autistik?
WS : Mungkin yang membuat orangtua menakutkan itu karena sampai sekarang belum ada satu penyembuhan yang pasti tentang anak autisme. Kita bisa membantu anak itu semaksimal mungkin, namun beum diketemukan bagaimana cara penyembuhannya atau ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit autisme ini.
PG : Bisa Ibu jelaskan ciri-cirinya anak-anak yang terkena autisme?
WS : Diagnosa anak-anak autisme itu kalau di psikologi itu ada DSM 4 dan ada kriterianya untuk disebut autis. Mereka kesulitan untuk interaksi sosial, kesulitan berkomunikasi, dan mereka mepunyai kelakuan sangat kaku dan juga mungkin ada keterlambatan dalam bergaul atau motoriknya, mereka suka berada dalam dunianya sendiri.
Ciri-ciri seperti ini yang biasanya kita lihat pada anak autis.
GS : Ibu Winny, bukankah orangtua ingin mengetahui sedini mungkin anaknya itu terkena autis atau tidak. Kira-kira pada usia berapa kita bisa langsung mengenali bahwa anak saya ini ternyata mengidap autis?
WS : Sekarang ini diketemukan ada dua tipe autis, mungkin yang dari kecil kita sudah bisa lihat mulai usia 3 bulan, 4 bulan, 6 bulan karena waktu kita ajak bermain, mereka tidak bisa bermain Tapi ada juga yang tidak bisa tertawa paling lambat sampai usia lebih dari 2 tahun, jadi baru ketahuan kalau anak itu autis setelah usia 3 tahunan.
GS : Itu kenapa bisa lama tidak ketahuan, apakah karena tingkat autismenya itu tidak terlalu parah atau bagaimana?
WS : Tidak juga. Memang tingkatan autis berbeda-beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Sekarang ditemukan ada 2 tipe, yang pertama regresif yaitu terlambat diketahui. Pada waktu bayi,mereka normal tapi setelah 2 tahun baru diketahui bahwa anak ini terkena autis.
PG : Saya pernah membaca satu kasus, ternyata autis itu bisa muncul agak terlambat. Jadi rupanya tidak selalu perkembangannya sama, dari kecil akhirnya makin hari makin terlihat nyata. Perah saya membaca satu kasus dimana anak itu relatif sehat, bertumbuh sama seperti anak-anak lain, sampai usia sekitar 3, 4 tahun tiba-tiba mengalami kemunduran.
Tidak lagi mau bermain, mengurung diri, main sendiri, apakah hal-hal seperti itu juga memang cukup umum?
WS : Ya, ada yang seperti itu juga. Tadi saya sudah katakan ada tipe regresif yaitu baru usia 3, 4 tahun baru ketahuan kalau anak menderita autis, tapi sebelumnya mereka normal.
PG : Jadi ini mungkin akan sangat menakutkan orangtua, sebab awalnya orangtua beranggapan anaknya sehat, tidak ada apa-apa, tahu-tahu sudah umur 3,4 tahun mengalami kemunduran, tidak mau beraul, mereka pasti akan sangat shock.
Bu Winny bisa jelaskan dengan lebih mendetail, tadi Ibu Winny berkata ada kesulitan anak autisme ini dalam bergaul atau bersosialisasi, separah apakah kesulitan mereka itu?
WS : Kesulitan dalam bersosialisasi ini adalah salah satu yang paling problematik bagi anak autis. Spektrum autisme bermacam-macam, tapi yang sulit untuk bersosialisasi atau berinteraksi saah satu "major distinct"nya membuat mereka menjadi autis.
Jadi kesulitan mereka itu bukan hanya masalah berteman, tapi juga sulit komunikasi dengan teman sebayanya atau mungkin dengan orangtuanya. Dengan orangtua kadang-kadang lebih mudah tapi buat mereka susah. Juga kesulitan untuk bertatapan mata dengan mata; biasanya pada waktu mereka diajak ngobrol, mereka biasanya hanya melihat mulutnya atau melihat ke kanan dan ke kiri. Buat mereka sangat sulit untuk memandang waktu diajak ngobrol, dan mereka lebih merasa nyaman kalau mereka itu sendirian, bermain sendiri.
GS : Sejauh mana pengaruhnya terhadap intelektual anak?
WS : Memang sebagian anak autis mempunyai intelektual yang terganggu, dengan IQ-nya juga bermacam-macam. Seperti asperger itu intelektualnya sangat tinggi atau IQ-nya sangat tinggi tapi merka kesulitan untuk berinteraksi.
Ada juga anak autis yang intelektualnya di tengah-tengah atau yang di bawah tapi mereka mempunyai kesamaan yaitu sulit bersosialisasi.
GS : Sebenarnya dari segi kecerdasan tidak terlalu berpengaruh, artinya dia bisa mengikuti di sekolah-sekolah yang normal?
WS : Sebagian bisa, tapi ada juga yang tidak bisa.
GS : Kalau seandainya dia tidak bisa mengikuti di sekolah yang normal, apa yang orangtua harus lakukan?
WS : Orangtua bisa memasukkan ke sekolah yang khusus, yang mungkin juga ada penanganan yang khusus dari sekolah tersebut, dimana gurunya bisa lebih fokus ke anak itu. Karena perhatiannya yag lebih terfokus, anak lebih bisa diarahkan.
Atau orangtua juga bisa mendapatkan terapi-terapi yang bisa membantu anaknya lebih berkembang. Yang bisa membantu anak tersebut untuk sekarang ini adalah terapi okupasi atau terapi bicara, terapi tingkah laku yang juga sedang populer untuk anak autis.
GS : Terapi okupasi itu kira-kira seperti apa?
WS : Kalau kita menangani autis bisa bermacam-macam, kita bisa memulai dengan membantu mereka untuk bersosialisasi; membantu mereka bagaimana pertama-tama kita bersama dengan mereka yang akhrnya pelan-pelan menjadi dua orang.
Kita juga bisa menggunakan terapi sensori integrasi. Mungkin banyak orang telah mendengarnya, karena pada anak autis ditemukan sensor dalam otak mereka tidak seimbang. Jadi kadang-kadang mereka kekurangan suatu sensori sehingga mereka mengeluarkan perilaku yang tidak diinginkan oleh orangtua atau orang-orang disekitarnya.
PG : Maksudnya apa Bu, mereka mengeluarkan perilaku yang tidak diinginkan, seperti apa?
WS : Seperti loncat-loncat, memukul diri mereka sendiri atau kepalanya dibenturkan ke tembok atau mereka mencubit atau memukul orang. Karena mereka memerlukan input-input tertentu; misalnyamereka menabrakkan kepala ke tembok, mereka mungkin memerlukan satu sensor yang membuat mereka bisa tenang.
Jadi dengan mereka menabrakkan kepalanya, mereka merasakan ada satu input yang sangat kuat.
PG : Dengan kata lain, kalau istilah awamnya memang sistem indra mereka itu "kortsluit" atau tidak berfungsi dengan semestinya, sehingga kalau orang lain sedang merasa stres, dia hanya memerukan duduk menenangkan diri atau dia curhat; anak-anak yang autistik tidak bisa melakukan hal seperti itu, malah harus membenturkan kepalanya ke tembok, sebab dengan dia membenturkan kepalanya ke tembok buat dia itu adalah salah satu cara untuk menenangkan diri.
Apakah seperti itu Ibu Winny?
WS : Jadi ada kompensasinya, mereka tidak tahu cara yang amannya bagaimana akhirnya mereka melakukan sesuatu yang buat kita itu tidak aman, tapi sebetulnya mereka sedang kompensasi bagaimanacaranya.
Maka itu bagaimana kita sebagai terapis okupasi membantu mereka untuk menyalurkan sensori-sensori itu secara aman.
PG : Kalau tidak, memang bisa juga membahayakan jiwa mereka. Saya mendengar anak-anak yang autistik sering kali melakukan perilaku-perilaku yang berulang atau yang kaku, bisa berikan contoh seperti apakah itu?
WS : Misalnya seperti mau membariskan sesuatu, misalnya mereka melihat sepatu berserakan di mana-mana, mereka akan bariskan sepatu itu dengan rapi. Misalnya mereka menyukai makanan tertentu kalau diberikan makanan yang lain mereka tidak mau.
Atau makanan yang sama dengan paket yang lain pun mereka juga tidak mau, pokoknya mereka hanya mau makanan-makanan seperti itu dan dengan paket seperti itu. Kekakuan itu disebabkan ada masalah di dalam otaknya yaitu ketidakadanya sinkronisasi, jadi di dalam otak mereka kerja masing-masing.
GS : Kalau orangtua memiliki anak yang mengalami autis, apa yang Ibu bisa sarankan kepada orangtua tentang hal-hal apa yang bisa dilakukan?
WS : Kepada orangtua, saya akan sarankan sayangilah mereka dengan memberikan perhatian kepada anaknya. Memang kadang-kadang sulit untuk orangtua menyayangi anak yang seperti itu. "kok anaksaya berbeda dengan anak yang lain."
Tapi sebetulnya anak autis itu mempunyai perasaan juga, jadi perasaan mereka sangat kuat. Jadi mereka akan tahu kalau orangtuanya ingin menyayangi. Saya kadang melihat, dengan perhatian yang orangtua berikan kepada anak itu biasanya baiknya juga akan lebih cepat. Dengan dibantu juga di rumah, mungkin bisa dengan dikasih PR untuk apa yang mereka harus lakukan sesuai dengan kebutuhan anak itu.
GS : Dan itu biasanya di bawah bimbingan terapisnya?
WS : Ya, dibawah pengawasan terapisnya juga.
GS : Sekarang kalau dengan saudara-saudaranya, bagaimana orangtua harus bersikap supaya saudara-saudaranya juga tidak canggung menghadapi kakaknya atau adiknya yang autis?
WS : Sebagai orangtua memang sulit kalau mempunyai anak yang autis, karena itu akan menjadi salah satu dinamika dalam keluarga. Ada baiknya kalau misalnya kakak atau adiknya yang bisa mengeti tentang kondisi saudaranya, orangtuanya bisa memberitahukan, bisa juga diajak main sambil kita menjelaskannya bahwa kita harus bermain bersama-sama; itu satu peran dalam terapi okupasi yaitu kita mengajak kakak atau adiknya untuk bermain bersama.
Kita temukan kalau kakaknya sendiri bisa membantu dalam bermain itu adalah 'the best teacher' (guru yang paling baik) bagi saudaranya ini. Sementara orangtua bermain dengan anak-anaknya, kakaknya juga bisa mengerti bagaimana kondisi adiknya.
PG : Jadi sebagai orangtua kita harus justru mendorong anak-anak yang lain untuk bermain dengan anak yang autis. Meskipun mungkin sekali ada kecenderungan kakak-adiknya mau menghindar dari ia.
WS : Mungkin merasa aneh mempunyai adik seperti itu, "Saya tidak mau main dengan dia." Tapi orangtua harus menjelaskan, bahwa kita dilahirkan unik.
PG : Dari pihak orangtua, apakah wajar kalau orangtua bereaksi dengan misalnya merasa malu karena anaknya menderita autisme, akhirnya menyembunyikan anaknya. Apakah Ibu melihat itu sebagai tindakan yang wajar atau apakah yang Ibu akan katakan kepada orangtua yang merasa malu seperti itu?
WS : Memang orangtua banyak yang malu kalau anaknya seperti itu, tapi saya akan tekankan bahwa setiap anak itu unik, dan Tuhan mempunyai rencana tersendiri bagi setiap anak yang dilahirkan. Mungkin kita tidak menyadari kalau anak itu dipakai Tuhan untuk pekerjaan tertentu.
Saya juga mempunyai teman yang dulunya autis, dan sekarang dia menjadi seorang hamba Tuhan. Jadi saya melihat Tuhan bisa memakai setiap anak-anakNya yang mungkin orangtua tidak pernah tahu. Jadi saya akan sarankan kepada orangtua untuk tidak menyembunyikan anaknya, biarkan anak itu berkembang sebagaimana anak itu bisa berkembang.
PG : Jadi Ibu cukup optimistik bahwa anak-anak autistik kalau ditangani dengan tepat pada usia yang dini, maka kesempatannya berubah atau sembuh itu cukup besar Bu?
WS : Mungkin sembuh total tidak, tapi akan lebih baik buat mereka. Jadi dari kecil mereka bisa diarahkan ke tempat dimana mereka bisa lebih berkembang, akan lebih baik. Kita sebagai mediatr untuk membantu mereka.
PG : Kalau Ibu bisa berikan satu atau dua langkah pendekatan, yang Ibu akan lakukan kepada anak autistik konkretnya apa Bu yang Ibu akan fokuskan?
WS : Yang saya akan fokuskan yaitu komunikasi.
PG : Itu artinya Ibu mengajarkan untuk berbicara atau apa?
WS : Komunikasi bisa bermacam-macam, karena anak autis sulit sekali untuk verbalnya, tapi saya akan memakai suatu strategi bagaimana anak itu bisa berkomunikasi dengan orangtua. Bisa memaka visual strategi, dengan gambar atau dengan tanda supaya orangtua juga tahu sebenarnya apa yang dikehendaki oleh anak ini.
Jadi relasi itu ditumbuhkan melalui komunikasi.
PG : Dengan kata lain Ibu mau meluaskan cara-cara komunikasi si anak, karena memang Ibu mengakui adanya masalah dalam komunikasi verbal.
GS : Di dalam penanganannya biasanya kepada anak itu diberikan obat-obatan tertentu atau tidak?
WS : Anak autis kadang-kadang diberikan obat, tetapi jarang sekali. Dokter kadang memberikan obat mungkin pada ADHD supaya tidak terlalu aktif. Tapi sekarang ini yang mungkin dikatakan palng berguna bagi anak autis adalah approach (pendekatan), disamping segala macam terapi juga bisa membantu anak itu.
GS : Kalau pengobatannya dilakukan secara intensif, biasanya membutuhkan waktu berapa lama?
WS : Itu tergantung masing-masing anak. Saya juga tidak bisa katakan berapa lama terapi harus dilakukan supaya lebih baik, karena ada beberapa anak yang mungkin cepat tapi ada sebagian anakyang sudah lama melakukan terapi tapi masih kelihatan lambat.
GS : Yang paling lama yang Ibu pernah ketahui sampai berapa lama?
WS : Yang pernah saya tangani umur 12 tahun.
GS : Dan dia mulai membaik setelah umur berapa?
WS : Karena dia mulainya juga terlambat, jadi kira-kira 4 atau 5 tahun kemudian.
GS : Apakah ada olahraga-olahraga tertentu yang harus dihindari oleh anak autis ini?
WS : Sebaliknya saya akan menganjurkan untuk anak-anak ini lebih diijinkan main di luar daripada mereka diam di rumah. Karena mereka mempunyai sensori yang kurang seimbang, jadi ada baiknyamereka ikut hiking (gerak jalan), berenang, naik kuda.
Hal ini baik untuk anak-anak yang menderita autis.
GS : Yang menguras tenaganya ya Bu?
WS : Ya, kalau bisa libatkan mereka pada aktifitas-aktifitas yang ada orang lainnya juga, itu akan bisa membantu mereka belajar berinteraksi dengan orang lain.
GS : Dan selama itu orangtua perlu melakukan pendampingan khusus atau tidak?
WS : Tergantung situasi anaknya, mungkin pertama-tama perlu didampingi tapi lama-kelamaan kalau anak sudah terbiasa kita bisa lepaskan pelan-pelan.
GS : Apakah ada anak autis yang suka merusak?
GS : Apa biasanya yang dirusak, barang-barang di rumah begitu?
WS : Ya, mereka bisa melempar barang atau memecahkan sesuatu. Maka dibutuhkan suatu terapi tingkah laku, dimana kita perlu membuat struktur untuk anak itu supaya dia bisa belajar dengan perlaku-perilaku yang baik untuk mereka.
PG : Kalau makanan bagaimana Bu, perlu tidak ada diet tertentu?
WS : Memang sekarang banyak sekali dibicarakan tentang diet, khususnya diet gluten. Tapi sekarang belum ada bukti yang pasti kalau dengan diet itu anak akan sembuh. Memang kita harus perhaikan sekali dengan alergi mereka; kalau memang mereka alergi dengan susu khususnya dengan pencernaan mereka kita harus perhatikan.
Kita juga harus berhati-hati mengikutkan mereka dalam program diet seperti itu karena banyak sekali anak yang sudah diikutkan diet seperti itu, ditemukan kurang gizi. Kalau di Amerika mereka tidak terlalu menganjurkan, diet itu terlalu lama, boleh dicoba tapi mungkin selama dua minggu kalau ada efeknya jangan diteruskan. Karena anak juga memerlukan nutrisi-nutrisi tertentu dari susu atau makanan-makanan lainnya.
GS : Apakah memang Ibu lihat akhir-akhir ini banyak anak yang menderita autis dibandingkan dahulu atau sama saja; hanya kita yang baru tahu sekarang atau bagaimana?
WS : Mungkin dulu kita tidak tahu kalau anak itu menderita autis, karena diagnosanya salah atau orangtua pikir anaknya terlambat, jadi tidak terlalu diperhatikan. Tapi sekarang orang lebih emperhatikan gejala-gejalanya dan orang lebih banyak belajar, orang lebih tahu banyak jadi diagnosanya pun banyak yang autis.
GS : Ada orangtua yang menggabungkan diri dengan sesama orangtua yang mempunyai anak menderita autis, nah ini seberapa jauh efektifitasnya?
WS : Itu sangat efektif, saya akan menganjurkan kalau bisa ada "parent support group", dimana orangtua bisa saling membangun satu dengan yang lain. Kadang mereka mempunyai satu kesamaan memunyai anak seperti itu sehingga mereka merasa ada temannya.
GS : Dan mereka bisa berbagi pengalaman menghadapi anak-anak mereka.
GS : Pak Paul, mengenai anak autis apakah Pak Paul ingin menyampaikan sesuatu?
PG : Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada orangtua. Saya mencoba memahami perasaan orangtua kalau anak didiagnosis dengan autisme. Mungkin orangtua selain yang tadi Ibu Winny sudah singgng merasa malu, akan juga merasa bersalah.
Mungkin bertanya-tanya, "apakah dosa kami, apakah yang kami lakukan, Tuhan kok memberikan ini kepada kami." Ini yang ingin saya bagikan, firman Tuhan di Mazmur 100 berkata, "Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah kepada-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." Saya ingin menggarisbawahi firman Tuhan yang berkata DIALAH YANG MENJADIKAN KITA, DAN PUNYA DIALAH KITA. Anak autis adalah ciptaan Tuhan, dan anak autis adalah kepunyaan Tuhan, kita hanyalah orangtua yang dititipkan oleh Tuhan untuk membesarkannya. Jadi pandanglah anak itu sebagai kepunyaan Tuhan, Tuhan yang menciptakan, Tuhan yang memiliki; kita diminta Tuhan membesarkannya sebaik mungkin. Dengan sikap seperti inilah kita bisa terus bersyukur kepada Tuhan dan tidak menyesali atau bahkan menyalahkan diri, kita masih bisa memuji Tuhan yang telah mempercayakan kita dengan ciptaan-Nya yang mulia ini.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Ibu Winny kami mengucapkan banyak terima kasih Ibu mau bersama kami. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Winny Soenaryo, M.A. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memahami Autisme". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat
telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di
www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Bagi banyak orangtua, diagnosa autisme merupakan diagnosa yang sangat menakutkan. Ibaratnya seperti dokter berkata bahwa anak kita itu menderita kanker, begitu menakutkan. Autisme dulu didiagnosa salah sebagai keterbelakangan mental atau schizophrenia. Maka sebelum ada kata autisme, mereka disebut "childhood schizophrenia".
Pada awalnya diketemukan bahwa anak-anak autisme mempunyai otak yang lebih kecil daripada anak-anak normal. Yang membuat orangtua merasa takut adalah karena sampai sekarang belum ada satu penyembuhan yang pasti untuk anak yang menderita autisme. Namun kita bisa membantu anak itu semaksimal mungkin.
Ciri-ciri anak autis adalah sbb:
o Kesulitan untuk berinteraksi sosial
o Kesulitan berkomunikasi
o Mempunyai kelakuan yang sangat kaku
o Keterlambatan dalam bergaul atau motoriknya
o Mereka senang berada dalam dunianya sendiri
Ada dua tipe autis, yaitu
o Regresif, yaitu terlambat diketahui. Pada waktu bayi, mereka normal tapi setelah 2 atau 3 tahun baru diketahui bahwa anak terkena autis.
o Sudah bisa dilihat mulai usia 3,4,6 bulan
Yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah :
o Memasukkan mereka ke sekolah yang mempunyai penanganan khusus untuk anak autis.
o Kita mengarahkan perhatian mereka yang cenderung terfokus.
o Menggunakan terapi misalnya terapi okupasi atau terapi tingkah laku.
Mazmur 100:2,3 berkata, "Beribadahkah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." Anak autis adalah ciptaan Tuhan, kepunyaan Tuhan. Orangtua hanya dititipi untuk memelihara dan membesarkannya. Dengan cara demikian orangtua bisa bersyukur, tidak menyesali atau menyalahkan diri.