Parakaleo
Submitted by TELAGA on Wed, 14/04/2004 - 12:00am.
Abstrak: Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah tofather. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.
Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah tofather. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.
Salah satu tugas ayah kristiani ialah "mengajarkannya (perintah Tuhan kepada anak-anakmu dengan membicarakannya......." (Ulangan 11:19). Dengan jelas Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan perintah Tuhan dengan cara membicarakannya. Apabila anda seperti saya, mungkin anda juga mengalami kesulitan membicarakan, apalagi mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak anda. Saya kira membicarakan dan mengajarkan bukanlah perkara yang terlalu sulit; yang terlebih sukar adalah membicarakan dan mengajarkan secara tepat dan pada waktu yang tepat sehingga dapat dicerna oleh anak kita. Ada satu peristiwa yang Tuhan berikan kepada istri dan saya di mana kami berkesempatan mengajarkan dan membicarakan Firman Tuhan kepada salah satu anak kami. Pelajaran yang kami sampaikan berasal dari Matius 7:12 dan wahana penyampaiannya, tak lain tak bukan, bola basket.
Submitted by TELAGA on Wed, 14/04/2004 - 12:00am.
Abstrak: Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah.
Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu' sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Submitted by TELAGA on Wed, 14/04/2004 - 12:00am.
Abstrak: Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.
Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudanya. Sesuatu terjadi pada diri saudara - ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Sarang yang kosong merupakan istilah yang melukiskan periode di mana orangtua akan tinggal sendiri lagi tanpa anak yang telah akil balig. Ibarat induk burung yang membesarkan anaknya dalam sarang, pada suatu ketika ia harus membiarkan anaknya terbang meninggalkan sarangan untuk selamanya.
Di dalam bukunya, 'Turning Hearts Toward Home' sebuah biografi tentang kehidupan dan pelayanan Dr. James DobsonùRolf Zettersten menuliskan perjumpaannya dengan Dr. Dobson di kantornya pada 1989. Dia menemukan Dr. Dobson sedang terduduk dengan mata merah dan pipi yang basah dengan air mata. Sehari sebelumnya, Dr. Dobson baru saja melepas putra bungsunya, Ryan, untuk pergi berkuliah ke tempat yang jauh, kepergian yang mengawali fase 'sarang yang kosong' di keluarga Dr. Dobson. Di dalam surat yang ditulisnya sendiri untuk melukiskan perasaan kehilangannya itu, Dr.
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Pernikahan merupakan suatu pengabdian; kita tidak bisa, tidak mungkin, dan tidak boleh mengabdi kepada dua tuan.
Ada satu fenomena baru yang sedang menggejala di kalangan orang Kristen, yakni, "beristrikan" lebih dari satu. Sudah tentu fenomena beristrikan lebih dari satu bukanlah sesuatu yang baru; yang baru adalah argumentasi para pria ini yang mengatakan bahwa Alkitab sendiri tidak pernah melarang kita untuk beristrikan lebih dari satu. Di bawah ini saya akan memaparkan argumentasi saya untuk menjawab masalah ini.
Memang benar Alkitab tidak secara eksplisit melarang suami menikah lagi dan Tuhan tidak memberikan teguran atau larangan secara langsung kepada hamba-hamba-Nya yang mempunyai istri lebih dari satu. Sebagaimana kita ketahui, Abraham, Yakub, Daud, dan Solomo beristrikan lebih dari satu. Pertanyaannya adalah, apakah Tuhan menghendaki mereka beristrikan lebih dari satu ataukah Tuhan membiarkan mereka beristrikan lebih dari satu.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui desain atau rencana Tuhan tentang pernikahan pada awalnya. Mari kita lihat Kejadian 2:24: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging." Pada pernikahan pertama ini, dengan jelas kita dapat melihat bahwa Tuhan mendesain pernikahan antara satu pria dan satu wanita. Sama sekali tidak tersirat adanya desain pernikahan ganda atau majemuk yakni beristrikan atau bersuamikan lebih dari satu.
Berikutnya, istilah "satu daging" merujuk kepada kesatuan yang sempurna dan tidak terpisahkan. Alkitab tidak menggunakan istilah "keduanya berpasangan" atau "keduanya berdampingan". Alkitab memakai istilah, "keduanya menjadi satu daging" ibarat sirup dan air yang telah larut bersama. Atau, jika kita tetap menggunakan konsep daging, kita dapat menyamakannya dengan daging seorang anak yang merupakan perpaduan darah dan daging ayah dan ibunya. Dapatkah kita memilah-milah daging anak dan mengatakan bahwa bagian daging ini dari ibunya dan bagian daging itu dari ayahnya? Jawabannya sudah tentu, tidak.
Konsep kesatuan ini diulang oleh Paulus di Efesus 5:28, "Siapa yang mengasihi istrinya, mengasihi dirinya sendiri". Mengapakah mengasihi istri identik dengan mengasihi diri sendiri? Tepat pada ayat yang sama, Paulus menjelaskan, "Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri". Dengan kata lain, suami dan istri telah menjadi suatu kesatuan yang sempurna sehingga keduanya telah larut dan melebur menjadi satu. Itu sebabnya Firman Allah menegaskan bahwa suami yang mengasihi istrinya sebenarnya mengasihi dirinya sendiri.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah mungkin kesatuan itu dipisahkan kembali dan dileburkan dengan perempuan lainnya? Kalau ada yang menjawab, mungkin, itu sama dengan mengatakan bahwa kita dapat memilah-milah daging seorang anak dan membedakan mana yang dari ayahnya dan mana yang dari ibunya. Saya kira jawabannya jelas, tidak mungkin! Itu sebabnya konsep pernikahan yang Tuhan tetapkan pada awalnya adalah antara satu pria dengan satu wanita. Tidak ada penjelasan atau keterangan tentang pernikahan berikutnya karena memang Tuhan tidak pernah mendesain atau merancang pernikahan selanjutnya. Beristrikan lebih dari satu berlawanan dengan konsep satu daging!
Selain di Kejadian 2, kita hanya dapat menemukan pembahasan spesifik mengenai pernikahan di Perjanjian baru yakni di Efesus 5:22-33, Kolose 3:18-19, 1 Petrus 3:1-7. Pada semua ayat ini, Tuhan selalu menyebut satu suami dan satu istri (bentuk tunggal); tidak ada satu ayat pun yang menyebut "istri-istri" (bentuk jamak). Jadi, pada setiap kesempatan, tatkala Alkitab membicarakan tentang pernikahan, Alkitab selalu konsisten yaitu pernikahan adalah antara satu pria dengan satu wanita.
Pertanyaan yang mungkin timbul adalah, mengapa para tokoh Alkitab itu mempunyai lebih dari satu istri? Jawabannya jelas, yakni pada mulanya Tuhan tidak menghendaki manusia beristrikan lebih dari satu, namun karena kekerasan hati manusia dan nafsu dagingnya, Tuhan membiarkan manusia beristrikan lebih dari satu!
Adakalanya manusia melanggar kehendak Tuhan, adakalanya manusia menyimpang dari kehendak Tuhan. beristrikan lebih dari satu masuk dalam kategori yang kedua, yakni manusia menyimpang dari kehendak Tuhan. baik melanggar maupun menyimpang, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu keduanya tidak berada dalam kehendak Tuhan.
Lepas dari kehendak Tuhan yang tersurat di Alkitab, sebenarnya Tuhan sudah memberikan pelita-Nya di dalam hati nurani kita sekalian. Itu sebabnya sejarah manusia memperlihatkan bahwa perjalanan pernikahan bukannya menuju ke arah beristrikan majemuk melainkan beristrikan tunggal. Pada masa lampau hak asasi wanita begitu tertindas sehingga wanita tidak berdaya menyuarakan pilihannya yaitu tidak ingin dimadu. Sekarang, tatkala hak asasi wanita mulai mendapat pengakuan, wanita dengan suara bulat berseru, "Kami tidak ingin dimadu!"
Dengan kata lain, pada mulanya wanita tidak pernah dan tidak akan mengizinkan suaminya beristrikan lebih dari satu. Namun dalam kondisi tertindas, wanita terpaksa menerima keputusan suaminya yang ingin beristrikan lebih dari satu. bukankah kita yang pria juga akan merasa sangat tidak bahagia jika anak perempuan kita dijadikan istri kedua atau menantu laki-laki kita ternyata mempunyai istri lain?
Firman Tuhan memerintahkan, "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginyaà" (Efesus 5:25) bagaimanakah Tuhan mengasihi jemaat-Nya? Pertama, Tuhan Yesus tidak menduakan jemaat-Nya dan kedua, Ia menyerahkan diri-Nya bagi jemaat. Implikasinya, suami tidak boleh menduakan istrinya dan suami harus menyerahkan dirinya kepada istrinya, bukan menyerahkan dirinya kepada wanita atu istri yang lain. Suami yang mengasihi istrinya tidak akan menikahi perempuan lain karena perbuatan itu sangat melukai hati istrinya. Sebagai pria, hati kita pun akan sama hancurnya bila istri kita berganti-ganti pelukan: malam ini dengan kita, besok dengan pria yang lain. Firman Tuhan berkata, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12)
Sebagai penutup, saya ingin mengutip dari Matius 6:24, "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. "Pernikahan merupakan suatu pengabdian; kita tidak bisa, tidak mungkin, dan tidak boleh mengabdi kepada dua tuan.
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Tidak menghiraukan bukan berarti mengabaikan pasangan kita secara pribadi. Tidak menghiraukan mengacu pada sikap tidak mengacuhkan perbuatan pasangan kita yang mengganggu. Dengan kata lain, walau tidak kita sukai, kita memilih untuk mendiamkan atau memasabodokan tindakannya itu. Dr. Dobson mengimbau agar kita tidak senantiasa mempersoalkan setiap perbuatan pasangan kita yang tidak kita senangi. Akan ada hal yang harus diselesaikan, namun ada yang untuk didiamkan atau ditoleransi saja.
Dr. James Dobson, seorang psikolog Kristen, pernah berkomentar bahwa dalam pernikahan, sekali-sekali kita perlu untuk tidak menghiraukan perbuatan pasangan kita. Ada banyak hikmat dalam komentar yang kedengarannya kurang simpatik tetapi mendarat ini. Setelah 16 tahun menikah, saya harus mengakui kebenaran saran Dr. Dobson itu.
Tidak menghiraukan bukan berarti mengabaikan pasangan kita secara pribadi. Tidak menghiraukan mengacu pada sikap tidak mengacuhkan perbuatan pasangan kita yang mengganggu. Dengan kata lain, walau tidak kita sukai, kita memilih untuk mendiamkan atau memasabodokan tindakannya itu. Dr. Dobson mengimbau agar kita tidak senantiasa mempersoalkan setiap perbuatan pasangan kita yang tidak kita senangi. Akan ada hal yang harus diselesaikan, namun ada yang untuk didiamkan atau ditoleransi saja.
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Mengerti atau berempati ialah turut menghayati perasaan yang sedang dirasakan oleh orang itu dan melihat motivasi atau pemikiran yang membelakangi tindakannya
Dalam rangka menurunkan kolesterol, akhir-akhir ini saya sering bersepeda: dari rumah ke pusat konseling Pastorium, terus ke SAAT, dan akhirnya pulang ke rumah. Gara-gara naik sepeda inilah saya lebih mengerti beberapa hal yang sebelumnya tidak saya pahami. Pertama, saya baru mengerti mengapa adakalanya sepeda motor, sepeda, dan becak berjalan di jalur yang berlawanan arah. Penyebabnya adalah kadang menyeberang atau memotong jalan merupakan suatu tugas yang susah; jadi, lebih mudah dan lebih aman bagi si pengendara sepeda atau becak untuk membelok jika ia tetap di jalur yang salah itu.
Saya juga baru mengerti bahwa meski jaraknya sama, namun ongkos naik becak tidak sama untuk semua orang. Perbedaannya terletak pada berat badan si penumpang dan ini saya ketahui sewaktu saya harus mengayuh sepeda yang dibebani bobot badan saya yang hampir satu kwintal itu. Lebih lanjut, saya pun sekarang sering dibuat kesal oleh kendaraan beroda empat yang berjalan “seenaknya” kekesalan yang sama saya rasakan terhadap kendaraan beroda dua tatkala saya sedang mengendarai kendaraan beroda empat. Ternyata, menukar tempat atau menempatkan diri pada posisi orang lain menyingkapkan banyak pemahaman yang sebelumnya tertutup dari pandangan saya.
Salah satu keterampilan mendasar dalam konseling adalah kemampuan untuk berempati. Berempati berarti mengerti perasaan, pemikiran, atau isi hati seseorang dengan mendalam. Berempati bukan sekadar memahami perkataan seseorang; ini bisa dilakukan oleh hampir semua orang. Berempati ialah turut menghayati perasaan yang sedang dirasakan oleh orang itu dan melihat motivasi atau pemikiran yang membelakangi tindakannya. Dengan kata lain, sama dengan pemahaman yang saya peroleh dari bersepeda, berempati sebenarnya merupakan tindakan menempatkan diri pada posisi atau keadaan orang lain—setidak-tidaknya secara mental. Jadi, orang yang tidak sudi menempatkan dirinya pada keadaan orang lain, adalah orang yang tidak dapat berempati.
Salah satu “bumbu” pernikahan—begitulah sering diucapkan oleh orang-orang tua dulu—ialah pertengkaran. Secara pribadi, saya tidak pernah menganggap—apalagi menikmati—pertengkaran sebagai “bumbu.” Pertengkaran, baik itu antara suami-istri atau relasi lainnya, lebih merupakan duri yang menyakitkan. Pertengkaran yang tak terselesaikan adalah resep yang jitu untuk menghancurkan hubungan antara dua insan. Jika saya boleh melukiskannya secara hiperbolik, satu pertengkaran berkapastas menghapuskan 10 kebaikan atau kemanisan yang telah dikecap bersama. Itulah sebabnya, saya mengalami kesukaran membayangkan pertengkaran sebagai “bumbu” makanan.
Seluas apa pun dampaknya dan setajam apa pun tusukannya, pertengkaran adalah sesuatu yang harus kita lalui jika kita tetap ingin terlibat dalam hubungan dengan sesama. Ada banyak cara untuk menyelesaikan pertengkaran dan semua itu bergantung pada faktor penyebabnya yang juga beragam, namun semua penyelesaian yang sehat biasanya dialasi terlebih dahulu oleh pengertian atau dalam istilah psikologisnya, empati. Menurut hemat saya, pertikaian mulai mendekati titik penyelesaiannya tatkala kedua belah pihak berhasil berempati dan mengomunikasikan empati kepada satu sama lain.
Menerima empati atau dimengerti merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berkaitan dengan kodrat kita sebagai makhluk sosial. Merasa dimengerti sudah cukup untuk membuat kita berhenti berteriak meminta pengertian dan cukup kuat untuk menyadarkan kita bahwa orang lain bukanlah diri kita. Jadi, berempati atau mengerti merupakan keterampilan atau mungkin lebih tepat lagi, keharusan, yang mesti kita miliki. Empati adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain sewaktu arus kemarahan melanda dan memisahkan kita. Tanpa empati, kita hanya bisa saling memandang dan tidak saling berpegangan tangan lagi.
Menumbuhkan empati bukan hal yang terlalu mudah. Ada yang mengaitkan empati dengan belas kasihan, artinya kita dapat berempati tatkala kita berbelas kasihan. Masalahnya dengan pemahaman empati yang seperti itu adalah, empati berhenti bekerja sewaktu belas kasihan lenyap dari permukaan hati. Empati bukan belas kasihan walau belas kasihan dapat memudahkan bertunasnya empati.
Empati juga sukar muncul sebab pada umumnya kita menuntut orang untuk mengerti kita terlebih dahulu dan nanti, jika kita masih mempunyai energi sisa, barulah kita mencoba mengerti orang lain. Empati sering kali keluar dengan tersendat karena kita ingin membenarkan diri dan enggan mengambil risiko untuk—mungkin saja—keliru. Bukankah dengan empati kita membuka peluang timbulnya kesadaran dan akhirnya pengakuan bahwa yang kita duga atau tuduhkan sebelumnya itu keliru? Empati sukar bersemi; sama sukarnya dengan menyangkal atau mengosongkan diri.
Empati hanya bisa kita miliki jika kita berhasil memenuhi syarat tuntutannya: bersedia mengosongkan diri. Empati lebih mudah bertumbuh apabila kita pernah mengalami yang dialami orang lain atau setidak-tidaknya, kita memiliki kesadaran bahwa kita mempunyai potensi yang sama untuk “jatuh” seperti orang lain. Itu sebabnya, Allah yang menyelamatkan haruslah Allah yang menjadi manusia, “bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15).
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Apa yang membedakan cinta pada masa berpacaran dan cinta pada masa sekarang? Pada masa berpacaran, saya mencintai istri saya karena dia menarik; sekarang, saya mencintainya karena dia berharga. Dulu saya tergila-gila padanya; sekarang, jika dia tidak di samping saya, rasanya saya seperti orang gila.
Akhirnya saya lulus juga! Kemarin istri saya baru saja memberikan sebuah kartu kepada saya yang melukiskan keadaan pernikahan kami belakangan ini. Dalam satu kata, ia merasa, bahagia. Saya juga!
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Rasa bersalah merupakan suara tuduhan dari dalam diri kita atas kegagalan menjadi atau melakukan sesuatu. Rasa bersalah bisa dimunculkan dari luar akibat tudingan dari telunjuk orang lain maupun dari dalam bahwa kita gagal mencapai standar yang kita tetapkan untuk diri sendiri. bak cemeti, rasa bersalah mencambuk kita sebagai hukuman atas kekurangan, kekeliruan, atau pelanggaran kita.
Sebenarnya, rasa bersalah bukanlah gangguan jiwa; rasa bersalah adalah salah satu bahan yang menghasilkan gangguan jiwa. Dari rasa bersalah yang berlebihan muncullah masalah-masalah neurotik seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, dan kecemasan. Mungkin bagi sebagian dari kita, rasa bersalah tidaklah sampai menciptakan gangguan neurotik tetapi bagi yang lainnya, rasa bersalah cukup mengganggu kehidupan kita. Kita merasa lumpuh, tidak berani bertindak, takut keliru, dan akhirnya tidak memaksimalkan potensi diri.
Submitted by TELAGA on Thu, 01/01/2004 - 12:00am.
Abstrak: Kematian adalah tragedi yang tidak pernah dapat dipersiapkan dengan sempurna. Di dalam kekurangsiapan itu dorongan untuk menghukum diri menjadi besar. Untuk menangkalnya, diperlukan dua sikap hidup. Pertama, perkecil ruang penyesalandan Kedua, jika penyesalan tetap ada dan waktu sudah berlalu, berubahlah!
Beberapa minggu terakhir ini saya telah menghadiri tiga upacara kematian. Memandang jenazah yang terbujur kaku tanpa ekspresi menghadirkan pelbagai reaksi dan perasaan dalam hati saya. Kematian baik yang diharapkan atau tidak—mengusik sesuatu dalam sanubari kita yang tidak mudah untuk dijabarkan. Pada umumnya kita berupaya mencerna peristiwa ini dengan mengatakan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan di dunia yang sepatutnyalah diterima tanpa keterkejutan. Namun, seringkali kenyataannya tidaklah demikian. Kematian tetap melahirkan reaksi-reaksi yang bermuara pada keterkejutan atau ketidaksiapan kita. Bagi sebagian kita, kematian adalah tragedi dan kita tidak pernah akan dan mau memasukkan tragedi sebagai bagian yang ramah dalam kehidupan kita.
|