dr. Yanti & Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dr. Yanti & Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Kasih adalah suatu hal yang utama dan sangat penting yang harus dimiliki bagi setiap orang yang sedang merawat orang sakit.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan kali ini dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami berbahagia sekali didampingi juga oleh Dr. Yanti yang juga akan menjadi nara sumber. Di dalam perbincangan kami yang kali ini akan mengambil tema bagaimana merawat orang yang sakit. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Bu Yanti, kami senang sekali Ibu bersama-sama dengan kami pada acara TELAGA pada kali ini, dan kami mendengar bahwa Ibu walaupun secara tidak langsung, tetapi pernah mengalami bagaimana suka dukanya, mungkin banyak dukanya di dalam merawat orang tua yang sedang sakit, dalam hal ini ayah dari Ibu Yanti sendiri. Mungkin Bu Yanti bisa secara umum terlebih dahulu menjelaskan kepada kami tentang hal ini.
YT : Ya pengalaman saya pada waktu itu, saya masih belum menjadi dokter, masih SMA. Ayah saya sakit stroke. Mula-mula strokenya itu cuma lumpuh separuh, masih bisa bicara, merawat dirinya sediri.
Tapi waktu terus berlanjut sampai bertahun-tahun kira-kira 12 tahun. Jadi penyakitnya makin progresif, mula-mula cuma lumpuh sebelah, masih bisa makan sendiri, jalan, masih bisa semuanya. Tapi lama-lama kena serangan ulang akhirnya lumpuh kiri kanan, jadi dia makan susah ya seperti dipaksa masuk, karena otot lidahnya itu sudah kaku. Itu pseudobulber, jadi kiri kanan lumpuhnya. Jalan harus dipapah, mula-mula mungkin bisa, lama-lama lumpuhnya itu bukan lemas tapi kaku. Itu berat sekali, harus yang sudah mengerti betul.
GS : Sehari-hari siapa yang merawat?
GS : Ada perawat yang mendampingi?
YT : Papa saya tidak mau dengan orang lain kecuali dengan mama saya. Mula-mula makan masih bisa, lama-lama tidak bisa makan sendiri. Buang air besar harus dikorek, karena sudah lumpuh saraf semakin hari semakin begitu.
Jadi mungkin mama saya itu sulit sekali, belum lagi ditambah emosinya, orang yang sakit stroke itu terganggu keseimbangan emosinya lalu otaknya. Pikirannya tidak logis seperti orang yang normal, jadi waktu mengalaminya berat sekali.
GS : Dan mungkin dalam hal ini apakah Bu Yanti pernah mendengar keluhan dari mama yang terus-menerus mendampingi itu?
YT : Pasti, kalau setiap datang ke sana terus mama mengeluh, sudah dirawat sekian lama tapi marah-marah, membanting-banting, sepertinya tidak berterimakasih. Jadi pengorbanannya itu sia-sia egitu kata mama.
Padahal saya juga mengerti, karena papa saya itu tidak bisa seperti orang normal karena dia sudah terganggu otaknya, secara emosinya dia juga merasa terbatas. Kalau misalnya mau sesuatu, dalam 1, 2 menit harus sudah ada. Sedangkan mama masih mengerjakan hal yang lain, jadi itulah yang menjadi pertentangan.
(1 ) VS : Kalau menurut pengalaman Bu Yanti melihat mama, apa yang membuat mama bisa bertahan, kalau tidak salah papa 12 tahun sakitnya?
YT : Ya dia bilang katanya kalau bukan Tuhan yang menguatkan, saya mungkin tidak sanggup. Apalagi mungkin dulu dilatarbelakangi keluarga mama yang mungkin sedikit kurang harmonis, jadi kadan-kadang suka muncul kenapa saya harus menanggungnya begitu.
Ya saya memberikan kekuatan, mungkin Tuhan mempunyai suatu rencana untuk dia, supaya dia belajar lebih banyak, jadi itu yang menguatkan dia. Kalau bukan itu mungkin dia sudah putus asa, menggunakan suster saja, padahal papa saya tidak mau sama sekali sama suster. Jadi walaupun sudah marah-marah begitu, misalnya lempar-lempar, saya yang menenangkan lagi, agar dia mau kembali merawat papa.
VS : Waktu Bu Yanti kuliah, apakah satu kota dengan papa?
YT : Tidak, tapi saya sering ke sana.
VS : Sering ke situ, jadi pernahkah mama merasa marah terhadap papa?
YT : Sering, kalau misalnya papa sedang marah-marah, mama juga emosi, sudah dirawat baik-baik kok dia masih marah-marah sama mama. Saya mengatakan, sudah ya jangan dibalas, tinggal pergi duu supaya emosinya agak reda.
Karena biar bagaimanapun dia sakit secara otaknya, emosinya itu sakit, tidak bisa seimbang lagi untuk mengerem. Misalnya untuk mengambil apapun motoriknya, sensoriknya semuanya sudah tidak seimbang. Ya saya mengingatkan mama, kalau sudah begitu, menjauh dulu nanti emosi papa reda bisa kembali diajak bicara lagi.
VS : Jadi kalau mama sadar bahwa ini orang sakit, ia bisa merawat dengan baik, walaupun kadang-kadang emosinya juga terpancing sendiri.
IR : Tapi Ibu dari Ibu Yanti ini juga mungkin mendapat dukungan dari keluarga, anak-anak atau orang yang serumah ?
YT : Ya kebetulan semua ada di luar kota, ada cuma satu kakak saya yang juga sibuk.
IR : Jadi mama merawatnya sendiri?
GS : Sebenarnya dalam hal ini, Bu Yanti sekarang yang sudah bergelar dokter ya, sebenarnya yang paling tepat untuk merawat orang yang sakit dan membutuhkan waktu lama, itu dari pihak keluarga atau kita serahkan pada perawat?
YT : Harus dua-duanya ya, karena biar bagaimanapun yang merawat harus terlibat jauh, sudah lelah fisik, emosi. Jadi mungkin tidak bisa bertahan. Tapi kalau misalnya pekerjaan yang bisa dikerakan oleh perawat, dikerjakan perawat apa salahnya, jadi ada yang membantu.
GS : Tapi ikatan emosional itu masih lebih dekat misalnya dengan istri tadi atau dengan anak-anaknya daripada dengan perawatnya. Atau mungkin ada alasan yang lain kenapa papanya Bu Yanti ini menolak untuk dirawat oleh seorang perawat?
YT : Ya karena, mungkin orang tua saya tinggalnya bukan di kota besar, dan dia mungkin sungkan juga dirawat misalnya dimandikan. Padahal seharusnya tidak harus begitu, perawat bisa membantu al yang lain.
Mungkin lebih baik perawatnya laki-laki. Jadi kalau berdua mungkin lebih enak walaupun tidak sepenuhnya diserahkan ke perawat tetapi tetap didampingi.
GS : Bu Yanti orang yang mendampingi itu harus tahu sedikit banyak apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya dan sebagainya, mungkin Bu Yanti bisa jelaskan tentang hal itu.
YT : Kalau mama saya sudah lama, sudah belasan tahun jadi sudah tahu. Dokter yang merawat papa itu sudah memberitahu misalnya kalau gejalanya ini obatnya ini, sudah bertahun-tahun obatnya saa, jadi sudah hafal.
GS : Mengenai makanannya bagaimana?
YT : Waktu pertama serangan stroke, oleh dokter diberi selang. Selang yang masuk ke hidung itu sonde tapi dilatih. Papa saya sebetulnya tidak bisa mengunyah, tapi dia bisa menelan. Jadi makaannya harus masuk ke ujung-ujung, mama yang memasukkan, saya juga tidak bisa.
Dia sudah terlatih karena itu dilakukan setiap hari. Seperti orang yang tenggelam begitu tersedak, kalau orang lain mungkin bisa masuk ke saluran pernafasan. Saya tidak tega kalau melihatnya sementara ia makan.
GS : Ya memang saya dengar banyak keluhan seperti itu, keluarga yang tadi ikatan emosionalnya dekat malah tidak tega, makanya diserahkan ke perawat atau bagaimana. Tapi dalam hal makan itu tidak ada pantangan-pantangan tertentu atau menurut petunjuk dokter bagaimana?
YT : Dulu waktu masih serangan pertama dipantang ini tidak boleh, tapi sesudah lanjut terus dokter memberi saran, menurut prognosa dokter. Dokter memberikan prognosa akhirnya prognosanya berpa lama dia hidup ya sudah biasa saja, boleh makan apa saja.
Tapi waktu pertama-tama dia diet, dia marah-marah karena menginginkan yang dia mau sehingga tekanan darahnya naik. Jadi harus kita beri sedikit, asal mencoba saja.
GS : Tadi Bu Yanti katakan bahwa saudara-saudaranya Bu Yanti banyak di luar kota dan sibuk. Kalau mereka datang, biasanya apa yang mereka lakukan?
YT : Ya berbincang-bincang juga sama mama, memberi kekuatan. Papa juga cerita, mengaduh tentang keluh kesahnya. Ya papa cerita macam-macam.
GS : Papa masih bisa cerita ?
YT : Waktu pertama-tama dia bisa, lama-lama dia lumpuh, saya pikir bagaimana cara komunikasinya. Saya membuatkan abjad a, b, c, d, biar tangan yang satu masih bisa bergerak, jadi bisa komuniasi.
Kalau tidak bisa komunikasi membingungkan juga.
GS : Jadi bisa menunjuk huruf-huruf itu lalu yang mendengarkan itu mengeja dari situ ya. Dan mungkin komunikasi seperti itu, bisa menolong untuk si sakit itu, Bu Vivian?
VS : Saya kira menolong sekali.
GS : Menolong sekali, dia bisa menyampaikan keluhan, biasanya apa yang disampaikan, Bu Yanti?
YT : Ya karena dia usianya sudah makin lanjut, untuk miring saja harus dimiringkan, mama tidak bisa berada terlalu jauh. Sebentar jauh dipanggil lagi. "Thek, thek" itu cara memanggilnya.
(2 ) GS : Mengenai pasien yang stroke dan sebagainya ya Bu Yanti, itu memang membutuhkan waktu yang lama untuk dia, walaupun tidak sembuh total, tapi agak membaik itu bagaimana?
YT : Ya kalau itu stroke waktu awalnya cuma ringan, misalkan tekanan darahnya dijaga kemudian makannya diet, dia tidak stress, seharusnya bisa. Itu tergantung si pasien sendiri punya kedisilinan, kalau dia tidak disiplin sulit atau pola hidupnya yang sibuk, seperti papa saya sibuk, susah apalagi karakternya keras.
(3 ) GS : Biasanya aktif lalu tiba-tiba dia harus meninggalkan aktifitasnya itu. Kalau saya tidak keliru orang tua Bu Yanti juga seorang beriman kepada Tuhan Yesus ya. Pengaruhnya terhadap imannya bagaimana sementara dia sakit?
YT : Sebetulnya sebelum dia kena stroke, orang tua saya sama sekali bukan Kristen, dia tidak suka kalau anak-anaknya ke gereja. Saya dulu waktu kecil tidak boleh ke gereja tapi kita sembuny-sembunyi ke gereja.
Dengan pengalaman sakitnya membawa orang tua saya ini justru lebih dekat dengan Tuhan, dia bisa kenal Tuhan Yesus waktu mengalami sakit, mengalami kesulitan dalam keluarga.
GS : Ya, tentu ada orang yang memberitakan.
YT : Dulu saya waktu kecil polos, saya beritakan Injil, malah dimarahi, diusir-usir. Tapi keluarga dari pihak papa saya sebetulnya yang lain sudah Kristen, diulang-ulang tapi keputusannya teap dia pribadi, karena itu diberitakan Injil, sudah lama waktu dia belum stroke.
Tapi waktu dia mengalami bagaimana dia membutuhkan Tuhan, bagaimana dia cuma butuh pertolongan yang satu-satunya itu dari Tuhan, itu yang membawa dia kenal Kristus sampai meninggalnya.
VS : Ya, orang yang sakit kalau saya ingat sendiri mama saya sendiri sakit kanker lama sekali, akhirnya meninggal setelah 13 tahun menderita sakit kanker. Jadi saya melihat sendiri bagaimanaperjuangan mama saya, saya sempat merawatnya.
Waktu itu kalau Bu Yanti mengatakan bagaimana untuk merawat orang sakit, bagaimana kita yang merawat ini bisa mempunyai kesabaran yang luar biasa, bagaimana kita bisa menumbuhkan kesabaran dalam merawat orang sakit. Saya kira waktu saya bayangkan sendiri ketika mama saya sakit, kesabaran itu berperan sangat penting.
GS : Kesabaran yang betul-betul teruji, bagaimana Bu Yanti?
YT : Ya menurut saya sebetulnya kalau si sakit itu emosi, harusnya kita tidak boleh emosi kita harus di atas dia. Kalau kita memikirkan apa yang dia lakukan pasti perang ya. Emosi sama, kenaa dia tidak tahu berterima kasih, marah-marah.
Tapi kalau kita melihat dia emosi, kita keluar dulu saja, begitu reda kita baru masuk lagi, tapi kalau kita di situ meladeni terus, akan terjadi gesekan yang keras.
VS : Jadi ada waktunya merawat dengan sungguh-sungguh, tapi ada waktunya istirahat juga. Itu saya melihat waktu saya merawat ibu saya, jadi kita bergantian antara anak, ibu juga dirawat di rmah sakit.
Sering-sering di rumah sakit jadi ada suster, ada anak, jadi kalau kita bersama orang yang sakit itu sungguh-sungguh 100 % untuk merawat. Tapi juga ada waktunya keluar sebentar untuk "bernafas" sedikit misalnya.
GS : Ya memang kalau terus-menerus saya rasa tidak ada orang yang tahan ya Bu Vivian, karena yang saya rasakan dulu itu bukan cuma lelah secara fisik, tapi lebih-lebih ketegangan, batinnya yang tegang, apalagi kalau dirawat di rumah sakit atau tidak serumah dengan kita. Setiap kali ada telepon malam-malam itu pikirannya sudah yang tidak-tidak. Kita memikirkan tambah parah sakitnya atau bahkan mungkin meninggal atau apa begitu. Itu yang membuat kita tegang, bisa bertahun-tahun. Tapi saya tahu seseorang itu bisa beradaptasi dengan kondisi seperti itu, kalau kita sudah menjalanii mungkin satu tahun kita sudah lebih kuat, apa begitu Bu Vivian?
VS : Setelah lebih lama kita melakukan, saya kira itu sebagai suatu rutinitas. Jadi seperti dulu saya rutinitas pulang sekolah, langsung yang saya lakukan makan siang, sepanjang hari di ruma sakit, terus mulai pulang sekolah itu sampai malam.
GS : Pola hidup kita terbentuk seperti itu.
VS : Terpola di situ, saya belajar di situ. Kadang-kadang kita bergantian menginap di rumah sakit untuk menjaga mama. Paginya berangkat dari rumah sakit, jadi rumah sakit itu rumah kedua waku itu.
YT : Masalahnya kalau menunggu saja masih bisa, tapi kalau dia tidak bisa melakukan segalanya sendiri misalnya buang air besar. Itu yang sulit ya, bertahun-tahun orang lain tidak mungkin melkukannya kecuali istrinya sendiri.
Apalagi kalau misalnya, saraf untuk buang air besarnya kurang baik, jadi harus tiap kali bukan di tahun pertama justru tidak apa-apa, justru makin tahun makin terasa beratnya. Kalau orang tua saya pada tahun pertama masih ringan, lama-lama makin berat, makin berat, tambah berat.
VS : Dan biasanya orang sakit minta dirawat orang yang dicintai, seperti ibu saya dulu tidak mau dengan perawat, minta anaknya yang membantu, untuk urusan buang air besar itu segala.
(4 ) GS : Ya makanya, dalam hal ini kalau ada beberapa orang saudara, saya rasa kekompakan di antara saudara itu penting sekali. Karena kalau tidak, maka akan menjadi beban lagi buat saudara-saudara yang lain. Tapi Bu Yanti bagaimana menghadapi orang luar yang memberikan saran-saran pengobatan, yang menurut kita tidak cocok?
YT : Maksudnya saran-saran yang seperti apa?
GS : Misalnya disuruh pengobatan alternatiflah atau lainnya, yang kita rasa tidak cocok.
YT : Pengobatan alternatif itu boleh-boleh saja, misalnya tusuk jarum, mungkin karena ilmu di RRC lebih maju.
GS : Tidak berbau mistik misalnya.
YT : Itu kembali ke imannya, saya memberikan pengertian pada orang tua saya bahwa, kalau misalnya sakit, kadang-kadang bukan semua sakit. Ya kalau yang kharismatik dengan mujizatnya bisa semuh.
Kadang-kadang Tuhan mengizinkan ini terjadi, walaupun tidak harus sembuh sempurna, jadi diingatkan pada iman saja. Untuk apa kesembuhan kalau menggadaikan iman.
(5 ) VS : Bagaimana Bu Yanti bisa menumbuhkan kasih dalam merawat, merawat bukan sekedar melakukan tugas tapi dalam merawat itu ada kasihnya. Orang sakit butuh dikasihi, kita bisa mengsihi dalam melakukan, dan dengan kasih kita dia tentu bisa meringankan beban sakitnya.
YT : Ya itu kembali persekutuan kita dengan Tuhan, kalau kita sendiri kosong, kita tidak bisa mengasihi orang lain. Kalau kita senantiasa diisi kasih, kita bisa mengasihi, jadi dukungan dariorang luar mungkin yang penting karena iman memberikan kekuatan supaya senantiasa penuh.
Kalau sendiri mungkin tidak akan bisa, jadi didukung orang-orang luar. Di lingkungan orang tua saya juga ada yang mendoakan setiap berapa hari sekali, belajar Alkitab supaya imannya tumbuh.
GS : Tanggapan papanya Bu Yanti bagaimana kalau dikunjungi?
YT : Ya dia senang, kadang-kadang kita berikan kaset-kaset rohani yang menghibur, yang memberi kekuatan. Jadi papa ada kegiatan, mendengarkan kaset itu.
GS : Karena ada beberapa orang yang sakit, yang saya tahu Bu Vivian tidak senang kalau dikunjungi, kenapa itu Ibu Vivian?
VS : Ya mungkin dia dalam taraf marah waktu itu, mungkin tidak bisa menerima keadaannya yang sakit.
GS : Jadi dia malah merasa terganggu kalau orang-orang menjenguknya. Ya tapi pada umumnya orang sakit senang dikunjungi.
VS : Saya kira biasanya, terutama orang yang mengerti keadaannya dan yang mendukung.
GS : Bu Yanti, tadi dikatakan papa sakit selama 12 tahun, tapi akhirnya Tuhan mempunyai kehendak yang lebih baik dengan memanggil pulang papa dari Bu Yanti. Setelah peristiwa itu bagaimana suasana keluarga Ibu?
YT : Sebetulnya sudah lama saya mengingatkan kepada orang tua saya, supaya dipersiapkan karena suatu saat pasti papa dipanggil, jadi kita mempersiapkan papa juga. Kalau Tuhan panggil, jadi dpersiapkan juga, diingatkan mungkin mama yang lebih dekat yang tiap hari selalu mengingatkan.
Jadi waktu dipanggilnya juga waktu tidur, kaget juga padahal kita sudah berdoa, tapi waktu dipanggil ya kaget juga. Tapi sesudah itu, juga ada segi baiknya, mama sudah punya waktu untuk dirinya sendiri, kalau dulu seluruh waktu untuk papa, misalnya waktu untuk pelayanan, untuk apapun harus lihat waktu, harus cepat pulang. Tapi sekarang dia sudah konsentrasi penuh dengan pelayanan; namanya suami ya tetap sedih karena kadang-kadang masih mengingatnya. Karena sudah lama dipersiapkan untuk itu, jadi tidak terlalu berat, kemudian ada kesibukan lain.
VS : Kalau untuk orang yang bisa berkomunikasi, persiapannya bisa dua belah pihak ya, jadi kita mempersiapkan yang akan meninggal, yang akan meninggal juga mempersiapkan yang ditinggal. Jadiitu maksudnya seperti ibu saya yang sakit lama sekali dia mempersiapkan anak-anaknya, satu-satu kamu harus begini, begini.
Karena dia masih bisa berkomunikasi meskipun sakit parah, jadi yang ditinggal juga bisa siap bagaimana kita menghadapi kenyataan ini, jadi ada komunikasi dari dua belah pihak.
(6 ) GS : Ya memang persiapan-persiapan seperti itu penting sekali Bu. Tapi kadang-kadang orang itu terpaku dengan masalahnya yaitu menghadapi si sakit yang kadang-kadang permintaannya aneh-aneh ya Bu. Di dalam menghadapi orang yang stroke, kalau tadi Ibu katakan pikirannya juga sudah mulai tidak normal seperti ketika dia sehat, bagaimana kita membedakan permintaannya itu normal dan di luar normal?
YT : Misalnya dia baru minta supermi, belum berapa menit dia sudah minta yang lain. Dia kerjanya cuma duduk, berpikir, ingin apa dia menyuruh lagi, itu tidak mungkin. Baru keluar pintu sebetar sudah disuruh lagi.
GS : Mana yang lebih dulu dipenuhi permintaannya?
YT : Diberi pengertian ya walaupun nanti ada gesekan, ini satu dulu dikerjakan. Tetap ada gesekan juga karena itu dikerjakan sendiri, makanya sebetulnya kalau ada perawat mungkin lebih enak.
GS : Dan juga kadang-kadang orang yang sakit itu jam tidurnya tidak teratur, di saat kita mau tidur, dia malah minta dijaga.
YT : Misalnya dia mau buang air kecil atau apa, panggil-panggil, kita harus bangun.
GS : Ya mungkin kalau anak-anak agak sulit untuk mendampingi terus-menerus, karena masing-masing bekerja dan sebagainya, kalau ada istri atau sebaliknya ada suami mungkin masih ada yang merawat. Tapi bagaimana kalau seandainya cuma sendirian, Bu Vivian?
VS : Seperti tadi sudah dikatakan harus ada perawat, itu dilakukan perawat. Juga anak-anak ini harus bergantian, jadi meskipun semua ada kesibukan, seperti saya dulu masih sekolah tiap hari tpi semua anak itu bergantian, jadi termasuk juga suami atau istrinya, jadi semua ikut campur.
Karena ini adalah tanggung jawab seluruh keluarga.
GS : Satu hal yang mungkin bisa kita lihat di sana bahwa menghadapi orang yang sakit seperti ini, kasih yang sering kita bicarakan, yang kita sering alami itu perlu dibagikan kepada orang yang sakit. Dan juga kepada orang-orang yang disekelilingnya karena semua itu pasti peka semua kalau sudah begitu. Anak-anak juga seperti itu, tapi kita harus menyadari bahwa yang sakit ini harus lebih mendapat prioritas untuk merasakan kasih Tuhan itu melalui kita. Dan saya sangat percaya bahwa segala sesuatu akan bekerja bersama-sama mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan tentang bagaimana merawat anggota keluarga yang sedang sakit di dalam sebuah acara yang kami beri nama TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami di studio dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo, Ibu Dr. Yanti dan saya sendiri Gunawan Santoso dan Ibu Idayanti Raharjo mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian Anda sekalian dan apabila Anda mempunyai saran-saran serta pertanyaan-pertanyaan tentang masalah ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Kami percaya acara ini bisa menjadi berkat bagi kita sekalian. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami berempat mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
PERTANYAAN KASET T 35A
Apakah yang membuat seorang istri bisa bertahan selama 12 tahun dalam menghadapi atau merawat orang yang sedang sakit stroke?
Bagaimana memungkinkan keadaan yang lebih baik, meski tidak sembuh secara total?
Dalam menghadapi sakit yang seperti ini, apakah berpengaruh terhadap imannya?
Bagaimana menyikapi saran pengobatan yang tidak cocok dengan kita misalnya pengobatan alternatif?
Bagaimana cara agar bisa menumbuhkan kasih ketika merawat orang yang sedang sakit?
Dengan cara apa kita bisa mengetahui bahwa permintaan seorang yang sakit itu normal atau tidak normal?
Ringkasan Isi:
Berikut ini adalah pengalaman merawat orang sakit yang diceritakan oleh Dokter Yanti:
Pada waktu saya masih SMA, ayah saya mengalami stroke. Mula-mula stroke itu mengakibatkan ayah lumpuh separuh badan, dia masih bisa bicara dan bisa merawat dirinya sendiri. Papa orangnya sibuk dan karakternya keras, sehingga sulit baginya untuk pulih maka penyakitnya pun makin progresif. Ia terkena stroke berulang kali sehingga akhirnya lumpuh kiri kanan atau pseudobulber. Makan pun jadi susah, seperti dipaksa masuk karena otot lidahnya sudah kaku. Jalan pun harus dipapah, lama-lama lumpuhnya bukan lemas tapi kaku, bagi orang yang memapahnya ini menjadi berat sekali. Mama sendirilah yang sehari-hari merawatnya, karena papa justru tidak mau sama orang lain. Mula-mula makan masih bisa, tapi lama-lama tidak bisa makan. Buang air besar harus dikorek karena saraf pengontrol pembuangannya sudah lumpuh. Kadang-kadang tidurnya juga tidak teratur, saat kita mau tidur dia malah terjaga. Waktu kita sudah tidur dan dia mau buang air atau apa panggil-panggil dan kita harus bangun.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merawat orang sakit:
Yang paling tepat dan seharusnya merawat orang yang sakit seperti itu adalah pihak keluarga dan perawat.
Pengalaman Ibu Vivian:
Mama saya sakit kanker lama sekali, setelah 13 tahun menderita sakit akhirnya ia meninggal. Jadi saya melihat sendiri bagaimana perjuangan mama dan saya sempat merawat juga. Jadi ada waktunya merawat dengan sungguh-sungguh, tapi ada juga waktunya istirahat. Biasanya orang sakit minta dirawat orang yang dicintai, seperti ibu saya dulu, tidak mau dengan perawat, ia minta anaknya yang membantu di RS termasuk urusan buang air segala. Dalam hal ini saya rasa kekompakan di antara saudara itu penting sekali, karena ini 'kan tanggung jawab seluruh keluarga. Kalau tidak itu menjadi beban lagi bagi saudara-saudara yang lain. Kami sebagai anak-anak bergantian merawat mama di situ, jadi disana sering-sering ada suster dan ada anak.
Kalau kita bersama orang yang sakit harus sungguh-sungguh 100% merawat, tapi juga ada waktunya keluar sebentar, ya…untuk bernafas sedikitlah. Bila si sakit itu emosi seharusnya kita yang merawat tidak boleh emosi, keluar dulu dari kamarnya dan kalau emosi sudah reda baru kita masuk lagi. Jika kita selalu memikirkan apa yang dia lakukan, kok tidak tahu terima kasih, marah-marah. Dan kita ladeni pasti akan terjadi "perang", karena sama-sama emosi sehingga terjadi gesekan yang keras.
Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus tahu apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.
Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang sakit.
Untuk bisa menumbuhkan kasih dalam merawat orang sakit, kita harus merawat bukan sekedar melakukan tugas. Jadi dalam merawat itu harus ada kasih.
Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Untuk mereka yang bisa berkomunikasi persiapannya bisa dua belah pihak, jadi kita mempersiapkan yang meninggal, yang meninggal juga mempersiapkan yang ditinggal. Satu hal penting yang bisa kita lihat dari pengalaman merawat orang sakit ini, adalah kasih. Kasih yang sering kita alami perlu dibagikan kepada orang sakit. Dan juga kepada orang-orang yang disekelilingnya, karena dalam keadaan demikian semua pasti menjadi lebih peka. Kita harus menyadari bahwa yang sakit ini perlu mendapat prioritas yang lebih untuk merasakan kasih Tuhan melalui kita.
Dan saya sangat percaya bahwa segala sesuatu akan bekerja sama mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dr. Yanti & Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Bagi orang yang akan meninggal dunia itu saat yang paling sulit karena dia akan meninggalkan dunia ini sendirian, jadi dia sebenarnya membutuhkan orang-orang yang paling berarti yang dapat mendampinginya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Dan telah hadir juga di studio bersama kami Dr. Yanti, Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang bagaimana mendampingi atau merawat anggota keluarga kita yang sakit parah dan bahkan menjelang ajal. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Dr. Yanti, ada beberapa pasien yang mungkin menjadi anggota dari keluarga kita, orang yang kita kasihi, kemudian dokter menyatakan sudah tidak ada harapan. Yang ingin saya tanyakan bagaimana seorang dokter itu bisa tahu bahwa pasien itu harapannya tipis atau tidak ada harapan, Bu?
YT : Ya misalnya kanker, kanker ada yang menyebut harapannya cuma 5 tahun hidup, kalau tidak ada harapan berarti sebelum 5 tahun dia akan meninggal. Karena dilihat dari penyebarannya sudah smpai ke paru-paru, atau mungkin sudah sampai ke pencernaan akan mengganggu seluruh fungsi tubuh, tidak ada harapan lagi kalau sampai batas akhir stadiumnya.
(1 ) GS : Sebenarnya apa tujuannya, dokter mengatakan kepada keluarga bahwa pasien itu tidak ada harapan?
YT : Misalnya sakit ginjal, menurut saya kalau dia harus cuci darah terus-menerus, tetapi tetap tidak menyembuhkan. Sebetulnya cuci darah itu untuk menunggu transplantasi, kalau cuma dicuci,dicuci sampai kapan, seluruh kekayaan habis tidak akan sembuh.
Jadi kita memberitahu kepada keluarga bahwa sebetulnya harapannya itu tipis untuk sembuh karena harus tranplantasi atau mungkin karena kanker ini mungkin sudah stadium terakhir sudah tidak bisa ke mana-mana. Jadi sudah tidak bisa dioperasi, sudah tidak ada harapan. Jadi mempersiapkan keluarga dan orang yang sakit itu mungkin karena nanti kalau tidak diberitahu tiba-tiba meninggal, pasien dan keluarganya bertanya ke pada dokter kenapa dokter tidak memberitahu, mungkin ada hal-hal yang harus dibereskan atau yang lainnya.
IR : Jadi sebenarnya dokter tidak perlu menutupi, kalau keadaan pasiennya itu memang sudah tidak dapat ditolong.
YT : Ya biasanya begitu. Saya biasanya kalau mendiagnosa kelihatannya tidak ada harapan, saya tetap memberitahu.
GS : Lalu apa biasanya reaksi keluarganya ?
YT : Ya mungkin pertama bingung, dia bingung mungkin tidak percaya pada saya, dia akan bertanya lagi pada dokter lain atau mungkin berobat ke yang lain. Tapi kita berusaha menjelaskan sedetal mungkin dari hasil pemeriksaan, ini dengan bahasa yang awam supaya ia mengerti.
GS : Tapi di satu sisi ada keluarga-keluarga yang memang tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu, masa suami saya atau istri saya itu harus pergi secepat itu.
YT : Ya memang siapa yang merasa kuat kalau misalnya tiba-tiba serangan jantung atau apa, tapi kalau kenyataannya seperti itu kita harus bisa memberikan penjelasan secara kedokteran, secara lmiahnya, yang terjadi itu seperti ini.
VS : Waktu Ibu Yanti menjelaskan, pada pasien sendiri atau pada keluarganya?
YT : Pada keluarga biasanya, kadang-kadang keluarganya ada yang tidak mau saya memberi tahu pasien dulu.
VS : Kalau menurut Ibu Yanti sendiri bagaimana, apakah pasiennya harus tahu?
YT : Harusnya ya, karena dia yang mempunyai tubuh, tapi kode etik di Indonesia itu seharusnya pasien dulu yang tahu. Tapi di sini kebanyakan keluarganya yang minta agar tidak memberitahu pad pasien.
VS : Apa betul pasien tidak diberitahu tapi bisa merasakan, karena tubuhnya makin lama makin lemah ?
YT : Mungkin ya, tapi tidak mungkin menduga secepat itu misalnya sakit kanker, kadang-kadang dipikir sakit biasa, tidak terasa tahu-tahu sudah menyebar sampai ke mana-mana. Kalau sakitnya seerti jantung, dia sudah bertahap mengalaminya, jadi dia sudah tahu.
Tapi kalau tiba-tiba diagnosa misalnya leukimia, ini bisa mengagetkannya .
VS : Kalau keluarga menolak memberi tahu pada pasien, apa saran Bu Yanti sebagai seorang dokter?
YT : Saya menyarankan supaya diberitahu, waktunya kapan tapi tetap harus diberitahu karena yang mempunyai tubuh adalah pasien. Dengan pendekatan yang baik, kita persiapkan, setelah dia siap,baru diberitahu.
(2 ) GS : Kalau pasien itu marah setelah mendengarnya, karena tidak siap dan tidak disiapkan, tanggapan dokter biasanya apa?
YT : Marah terhadap siapa?
GS : Marah terhadap dokter yang memberitahu, dia biasanya menyatakan dokter tidak mampu dan lain-lain.
YT : Itu biasa tidak apa-apa, kalau merasa lebih baik cross-check pada dokter lain ya saya persilakan, tapi dari pemeriksaan tidak bisa dikelabui. Misalnya saya dokter umum, saya anjurkan taya kepada dokter yang lebih ahli.
Nanti dokter ahlinya mengembalikan kepada saya, tinggal saya memberitahu hasilnya dari ahli-ahli yang sudah memeriksa itu kepada pasiennya.
GS : Bu Vivian, menghadapi pasien yang sudah dinyatakan tidak ada harapan oleh dokter. Sebagai keluarga dekat misalnya anak, suami atau istri, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan?
VS : Yang terpenting, kalau bisa kita menerima keadaan itu. Kalau kita menerima keadaan itu lalu sikap kita akan berubah.
GS : Jadi tidak menambah permasalahan, ya Bu?
YT : Sikap menerimanya memang yang sulit.
GS : Tadi sudah disepakati itu sulit ya, tetapi harus ditumbuhkan, menumbuhkannya bagaimana Bu Vivian?
VS : Ya mungkin harus sungguh-sungguh yakin dulu hasil pemeriksaan itu, memang betul mungkin dia akan cross-check ke dokter lain, kalau sudah betul harus mau menerima kenyataannya.
GS : Tapi memang kita itu agak sulit di sini, seperti tadi harus cuci darah, padahal sudah pasti tidak bisa tranplantasi. Kalau kita sebagai keluarga tidak mengupayakan cuci darah, nanti orang luar mengatakan, kita itu tidak mau mengobati orang sakit. Bagaimana menghadapi ini, seperti dilematis?
YT : Ya memang dilematis sebetulnya, kalau cuci darah cuma untuk memperpanjang hidup dan orangnya menderita sekali sebetulnya. Kalau pendapat saya, siapkan saja pasiennya dan keluarganya, jagan terlalu mendengar orang lain bicara.
Tapi kalau misalnya si pasien dan keluarganya sudah bisa ada komunikasi, bisa siapkan baik-baik, mungkin bisa menghadapinya ya. Kita tidak bisa, ya sudahlah tidak perlu cuci darah, itu keputusan keluarga tetap untuk memberitahu. Sebetulnya dengan ini pun tidak akan menyelamatkan, cuma untuk memperpanjang.
GS : Ada juga pasien yang sebaliknya, setelah tahu dia tidak ada harapan, dia juga melarang keluarganya untuk membawa dia ke dokter atau berobat, buat apa mengobati itu sia-sia, bagaimana Bu kalau ada tanggapan pasien seperti itu?
YT : Kalau saya misalnya ada pasien yang menolak untuk di operasi itu hak pasien, kita tidak boleh memaksa, karena dia yang mempunyai tubuh. Kita tidak boleh memaksakan suatu tindakan di lua persetujuan pasien.
Jadi kalau memang dia tidak mau kita tidak berhak memaksa, keluarganya pun seharusnya tidak boleh, itu hak pribadi dia. Itu menurut saya.
GS : Apakah Bu Vivian ada tanggapan?
VS : Ya memang itu pilihan dia, tapi saya kira obat itu untuk meringankan sedikit rasa sakit terutama kalau kanker.
YT : Kalau itu pasiennya pasti mau, karena sakit. Tapi sebetulnya, obat itu tidak meringankan tapi harus di makan, kadang-kadang pasien suka menolak. Tidak ada gunanya kalau obat yang untuk enstillen/menahan sakit pasti itu pasien mau, tidak mungkin tidak mau, tapi kalau cuma supplemen itu kadang-kadang ya tetap tidak mau.
Tapi kadang-kadang ada juga yang memang harus diberi pasiennya tidak mau juga. Ya kalau begitu, seharusnya diberi tapi pasiennya tidak mau.
Kalau misalnya pasien tidak mau itu haknya pasien, dan keluarganya, kecuali keluarga bisa membujuk misalnya pemberian transfusi, kadang-kadang ada yang tidak boleh masuk darah atau apa. Padahal gawat harus masuk transfusi, kalau tidak dia meninggal, terserah kalau misalnya tidak mau, kita tidak bisa memaksakan itu sulit. Itu kadang-kadang tidak logis, tapi menurut kepercayaan transfusi itu tidak boleh.
GS : Untuk penyakit-penyakit yang tergolong berat ya Bu Vivian, apakah kita dari pihak keluarga mendampingi pasien ini untuk sepanjang waktu?
VS : Saya kira, kalau kita bisa mendampingi, kalau 24 jam sehari mungkin sulit ya, tapi paling tidak ada orang yang di sekitar situ, jadi dia tidak merasa sendiri. Justru orang yang sakit teminal seperti itu, dia merasakan harus ada orang yang mendampingi, pendampingan itu yang penting.
Dulu saya mengingat mama saya sendiri, kalau kami pulang sekolah itu agak terlambat, kok lama sekali. Dia membutuhkan pendampingan dari orang yang terutama dia kasihi, orang yang paling berarti, jadi tidak membutuhkan orang-orang lain yang tidak begitu berarti bagi hidupnya. Tapi dia membutuhkan orang yang paling berarti yaitu keluarga yang mendampingi terutama pada saat-saat terakhir.
(3 ) GS : Biasanya penyakit seperti itu makin lama makin parah, itu yang secara fisik bisa kita lihat. Dalam hal ini tadinya pasien itu masih bisa bicara, bisa berkomunikasi, lama-lama dia tidak mau berkomunikasi, bukan tidak bisa tapi enggan berkomunikasi, merasa sudah tidak ada gunanya lagi. Bagaimana kita bisa menolong orang-orang yang selain fisiknya memang sakit, mentalnya juga jatuh?
VS : Orang yang seperti itu, kalau dia ini orang Kristen kita tetap bisa mendoakan dengan buka suara, tetap bisa pegang tangannya, kita menyanyi untuk dia, membacakan firman Tuhan. Jadi dia asih merasakan bahwa kita ini masih memperhatikan, mungkin dengan begitu dia akan dibangkitkan kembali.
YT : Mungkin juga konsep dia ya, pemahamannya misalnya, tidak ada gunanya hidup, mati saja. Tapi kalau konsep tentang kematian itu jelas mungkin dia tidak akan merasa seperti itu, karena say punya pengalaman, teman saya sendiri sama-sama kedokteran, diagnosa kanker nasofaring ya dia tahu prognosanya berapa lama.
Apa yang dia lakukan, dia marah walaupun dia sebetulnya orang Kristen yang baik, rajin, aktifis segala macam, cuma itu konsep yang salah, dia tidak bisa menerima, kenapa ini terjadi pada saya. Akhirnya dia apatis.
GS : Memang dalam kondisi seperti itu seseorang bisa melupakan segala sesuatu yang dia pelajari, dia ketahui, Bu Vivian.
VS : Tapi justru akhir-akhir kehidupannya, justru dia lebih sadar ke mana tujuannya. Jadi waktu itulah kita bisa bicara dengan baik-baik, bukan berkhotbah tapi berkomunikasi, cerita-cerita utuk mempersiapkan dia mau ke mana setelah ini.
GS : Mungkin yang dibutuhkan adalah perhatian yang besar.
VS : Dan juga mungkin disiapkan, sebetulnya ini waktunya sudah singkat jadi bagaimana kamu mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Pencipta. Tadi saya ceritakan mama saya sudah sakit 13 tahun api dia sungguh-sungguh mempersiapkan diri 2 minggu sebelum meninggal.
Dia masih mempunyai harapan akan hidup, masih semangat hidup meskipun stadiumnya sudah sangat lanjut. Tapi 2 minggu sebelumnya itu ada orang yang mengingatkan, Bu kamu harus siap untuk mengakhiri kehidupan ini, barulah dia sungguh-sungguh sadar, ternyata saya tidak bisa lagi untuk hidup, jadi dipersiapkan. Dia orang Kristen yang baik, bagaimana kita ini mau bertemu Tuhan.
GS : Ya, apa itu yang dilakukan mamanya Bu Vivian?
VS : Tentunya sebagai orang Kristen dia mengakui segala kesalahan yang pernah diperbuat, baik sengaja maupun tidak sengaja, membereskan kehidupannya dengan Tuhan, membereskan dengan sesama trutama membereskan ke semua anaknya.
Jadi satu-satu anaknya dipanggil, diberi pesan-pesan. Jadi ketika pesan-pesan terakhir itu diberi kesempatan. Dan kesempatan dia juga untuk menangis, saya ini tidak bisa berjumpa lagi dengan kamu semua. Keluarga di situ menangis bersama dia. Jadi itulah satu kesempatan untuk dia, ada orang yang memperhatikan dia.
GS : Berarti dia sadar terus sampai meninggalnya?
VS : Ya, hanya beberapa jam sebelum meninggal baru tidak sadar.
GS : Mungkin yang sulit lagi menghadapi keluarga yang koma, mungkin Bu Yanti bisa bantu. Kita maunya berkomunikasi dengan dia tapi komanya itu lama sekali. Ada orang yang koma bisa sampai setahun, itu bagaimana Bu?
YT : Sebetulnya kalau dia belum meninggal ya, mungkin kita bisa membisikkan, berbicara mungkin dia dengar.
GS : Masih bereaksi, dari kelopak matanya itu kelihatan masih bergerak dan sebagainya.
YT : Biasanya kalau koma tidak bergerak, cuma reaksi pupil cahayanya masih bagus, itu belum meninggal. Tapi kalau sudah meninggal berarti percuma dipasang alat bantu karena dulu pengalaman sya waktu masih baru-baru lulus itu saya kerja di ICU menolong orang.
Ceritanya kecelakaan kemudian saya pasang alat-alat bantu semua di resussitasi semua jalan tapi ternyata meninggal, saya kena marah, kamu ini meninggal di tolong. Seharusnya kematian otak walaupun jantung dipacu, diberi obat, semuanya jalan karena dia masih 18 tahun. Tapi sekarang bingung bagaimana, mau sampai kapan seperti itu. Padahal itu sudah meninggal harusnya, jadi kalau misalnya diagnosa dokternya sudah meninggal ya seharusnya sudah. Kecuali kalau belum begitu, ada dokter ahlinya nanti konsultasi bagaimana begitu.
(4 ) GS : Ada satu hal lagi yang masih kontroversi, orang yang sudah dinyatakan tidak ada harapan, lalu ada keluarganya yang memutuskan tidak perlu ditolong atau yang lainnya, kalau perlu diberikan suntikan supaya cepat meninggal. Bagaimana kalau ada yang begitu?
YT : Itu euthanasia, tidak boleh itu.
GS : Itu yang sulit ya Bu?
YT : Ya itu tidak mau, euthanasia kalau di sini banyak yang begitu.
GS : Di sini itu di Indonesia maksudnya?
YT : Ya, soalnya hukumnya belum jelas, pernah satu kali ada pasien, nyata-nyata dia itu, Dr. Sara mendiagnosa paralyses yaitu pernafasan tapi mungkin karena firal dia itu dalam dua minggu hausnya sudah bagus, jadi pakai resusitasi diberi kantilator.
Tapi kalau itu dicabut dia tidak bisa nafas. Lalu keluarganya minta dicabut saja. Saya katakan, Bu ini harus ditunggu dua minggu, tidak mau, cabut sekarang, ya itu dilema ya, seharusnya tidak boleh tapi di Indonesia belum tahu. Jadi kita tidak bisa melarang, kalau saya yang jadi dokter jaga, saya tidak mau. Saya menyuruh ibu itu mencabutnya sendiri jangan perawatnya, tapi itu pergantian jaga terus, akhirnya dia cabut.
GS : Ya memang biasanya kalau di sini, itu alasan-alasan ekonomi yang dijadikan dasar, biayanya besar, tanggungannya masih banyak, jadi lalu diputuskan seperti itu. Tapi itu tetap bertentangan dengan hukum Tuhan saya rasa. Kita tidak berhak mencabut nyawa seseorang. Tapi memang serba dilematik ya, Bu Vivian, yang saya katakan di tengah-tengah kita banyak membutuhkan biaya untuk yang hidup, nah ini menghadapi orang yang kita kasihi sedang menderita sakit yang parah sekali, yang sudah dinyatakan tidak ada harapan Bu, itu bagaimana?
VS : Kalau saya masih mengingat, Tuhan ini Tuhan yang hidup meskipun dokter mengatakan tidak ada harapan, kita bersandar pada Tuhan, jadi mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipu membutuhkan biaya yang banyak untuk orang yang kita kasihi.
Jadi menurut dokter yang terbaik dan kita bersandar penuh pada Tuhan. Karena saya juga pernah melihat dokter mengatakan ini tidak ada harapan, tapi Tuhan menyatakan mujizat.
GS : Mujizat itu masih tetap ada sampai sekarang, itu yang kita percayai. Tetapi ada juga masalah lain Bu, yang seringkali dihadapi oleh keluarga-keluarga pasien yang berat seperti ini, di mana tentu ada kebosanan ya Bu , mendampingi pasien yang tidak bisa diajak komunikasi, sakitnya makin lama makin parah. Sehingga kalau tadinya kita bisa tiap hari melawat, kalau ini kebetulan dirawat di rumah sakit, lama-lama dua hari sekali, tiga hari sekali itu bagaimana Bu, mengatasi kejenuhan, kebosanan?
VS : Itu saya kira tergantung hubungannya dengan si pasien, kalau hubungannya dekat saya kira tidak akan kebosanan, tidak akan jenuh. Justru pasien tambah sakit, kita ingin mendampingi, itu ang saya alami sendiri dengan ibu saya, dia tambah sakit saya tambah ingin lama di rumah sakit itu.
Dulu kalau menjenguk berapa jam, sekarang menjadi sepanjang siang, sepanjang malam. Jadi kalau kita mempunyai hubungan dekat tentu tidak akan jenuh.
IR : Bu Vivian kalau si penderita sakit ya, seringkali tidak mau dikunjungi oleh teman atau yang lain, mengapa Bu? Apa ada teknik-teknik tertentu bagaimana kita menghibur orang sakit?
VS : Teman yang menghibur orang sakit?
IR : Ya.
VS : Saya kira kalau kita sebagai orang yang mengunjungi itu harus tahu dirilah, tahu diri terutama dalam hal waktu. Jangan terlalu lama dan juga kalau kita di sana sebagai pengganti keluarga. Sering saya lakukan itu dulu, menggantikan anggota keluarga lain yang sudah lelah, supaya tidak jenuh yaitu,"coba Ibu pergi ke mana saya jagakan di sini berapa jam". Kalau semacam itu saya kira akan diterima .
GS : Tapi biasanya keluarga tidak mau digantikan oleh orang luar.
VS : Kalau orangnya dikenal baik, pasti mau.
GS : Seharusnya itu bentuk pelayanan yang baik sekali, apalagi kalau keluarganya itu keluarga kecil ya Bu, cuma punya anak dua atau satu mungkin. Untuk pasangan berat sekali.
VS : Malah keluarganya itu berterima kasih.
GS : Selama menggantikan, Bu Vivian biasanya melakukan apa terhadap pasien itu?
VS : Apa saja yang diminta, jadi kalau waktu itu harus disuap ya menyuap, kalau waktu itu saya pernah mendampingi, menggantikan orang itu dimana perlu membersihkan tubuhnya, waktu itu tubuhna kotor semua dengan kotorannya itu, saya ya harus melakukannya juga.
Jadi apa saja yang bisa dilakukan, ya mau siap segala macam.
GS : Apakah itu terbawa pengalaman Ibu mendampingi mamanya Bu Vivian?
VS : Ya saya kira itu karena dulu saya sejak kecil itu merawat mama saya jadi saya mau saja melakukan apa saja yang katanya orang jijik, saya mau.
GS : Sudah terlatih.
VS : Sudah terlatih dan karena saya menawarkan diri, jadi saya tahu apa resikonya saya mau.
GS : Menghadapi tadi ya kita kembali lagi ke pokok pembicaraan, kalau pasien sudah makin kritis keadaannya, biasanya keluarga akan dipanggil untuk hadir di sana. Sebenarnya apa pengaruhnya terhadap si pasien?
VS : Si pasien akan merasakan dia tidak sendiri, bagi orang yang akan meninggal itu yang paling sulit, dia akan meninggalkan dunia ini sendirian. Jadi kalau didampingi oleh orang-orang yang aling berarti dia akan mendapat dukungan, jadi dia tidak sendirian untuk menghadap Tuhan.
GS : Tapi sebaliknya ada orang yang sehat itu merasa takut, atau merasa tidak enak mendampingi orang yang akan meninggal, ia justru menjauh, apakah ini perlu dipaksakan atau bagaimana?
VS : Kalau dia takut, sebaiknya dengan anggota keluarga lain, jadi tidak sendirian.
GS : Supaya tidak sendirian ya.
VS : Tidak sendirian, mungkin kita panggil pendeta.
IR : Menghadapi saat-saat terakhir, kira-kira kata-kata apa yang tepat untuk kita katakan kepada pasien?
VS : Mungkin kata-kata yang tepat untuk pasien ialah dia akan meninggalkan dunia yang penuh kesengsaraan dan dia ini akan terlepas dari semua penderitaan, terutama pasien yang sudah sekian lma sakit dan juga jangan khawatir dengan keluarga-keluarga yang ditinggalkan, Tuhan akan mengatur.
GS : Apakah mungkin pasien yang sangat parah sakitnya itu masih mempunyai rasa khawatir terhadap keluarga yang akan ditinggalkan?
VS : Saya kira, dulu karena pengalaman saya dengan ibu saya sendiri sebelum dia meninggal itu, khawatir dengan anak-anaknya terutama anak-anaknya yang masih kecil. Saya itu anak bungsu, jadipaling khawatir tentang saya.
Ini siapa yang merawat, nanti siapa yang bisa membesarkan kamu.
GS : Jadi sebenarnya selain seorang dokter yang terus mendampingi perawat, saya rasa seorang psikolog juga penting untuk mendampingi orang-orang seperti ini.
VS : Kalau yang terutama saya kira adalah keluarga dan pendeta. Karena ini perjumpaan dengan Tuhan, orang yang bersama-sama berjalan bersama-sama melewati lembah ini supaya tidak sendirian.
(5 ) GS : Bu Yanti, sebenarnya bagaimana kita tahu bahwa pasien itu benar-benar sudah meninggal, kalau ini di rumah?
YT : Misalnya nadinya sudah tidak ada, atau pupilnya melebar biasanya, jadi kalau kita senter cahaya pupilnya akan mengecil. Tapi kalau sudah melebar berarti sudah meninggal, tidak ada refles cahaya lagi pupilnya.
GS : Dalam waktu yang singkat ini mungkin Bu Yanti bisa memberikan saran, apa yang bisa kita lakukan sebagai keluarga kalau ternyata pasien itu, anggota keluarga kita itu dinyatakan meninggal. Apa kita harus menghubungi dokter, atau yang lainnya?
YT : Ya kalau misalnya orang awam biasanya, belum yakin ia ini sudah meninggal atau belum. Biasanya diminta menghubungi dokter supaya diagnosa pastinya dia meninggal. Tapi kalau kita sudah ykin sekali ya sudah tidak perlu menghubungi dokter.
Seperti papa, saya itu tidak tahu meninggalnya karena waktu tidur, sudah jelas kalau meninggal jadi tidak perlu menghubungi dokter lagi.
GS : Tahunya itu kenapa tidak bangun-bangun.
YT : Sudah lembam, mayat sudah biru, tapi kalau baru kadang-kadang belum pasti ya, siapa tahu masihhidup atau bagaimana atau koma, ini cuma berhenti jantung sebentar. Tapi kalau refleks cahaanya, pupilnya sudah melebar berarti sudah meninggal.
GS : Mungkin di pihak keluarga harus bisa menerima kenyataan itu juga, ya Bu Vivian?
VS : Tapi membutuhkan waktu, itu proses.
GS : Memang ada waktu yang dibutuhkan, itu biasanya berapa lama Bu Vivian?
VS : Tergantung kedekatan orang itu dengan sang pasien, kalau orang itu lebih dekat, lebih lama itu untuk menerima kepergian orang yang dikasihi. Kalau dia itu hanya biasa-biasa saja, lebih ela, lebih cepat.
IR : Mungkin Bu Yanti pernah membisikkan kata-kata untuk pasien yang akan meninggal yang berkaitan dengan firman Tuhan. Mungkin ada firman Tuhan yang disampaikan ke pasien pada saat terakhir itu ?
YT : Ya, biasanya kalau pasien itu Kristen saya ingatkan kembali tentang Kristus yang mati disalib yang menebus dosa, supaya ingat. Ya tentang berita Injil, tentang Rumah Bapa, biasanya sayaingatkan itu.
Tapi sulit kalau bukan Kristen ya.
GS : Ya mungkin sebagai dokter yang dihadapi tidak yang Kristen saja. Tapi kalau ada keluarga yang mendampingi atau rohaniwan yang ada di sana bisa menolong itu. Jadi saya rasa kita semua juga suatu saat harus menghadapi kenyataan seperti itu, tapi bagi kita orang-orang yang beriman kita tahu ke mana kita pergi setelah kita meninggalkan dunia ini.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan tentang bagaimana mendampingi orang sakit yang menjelang ajal bersama Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Ibu Dr. Yanti di dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian Anda sekalian dan apabila Anda mempunyai saran-saran serta pertanyaan-pertanyaan tentang masalah ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Kami percaya acara ini bisa menjadi berkat bagi kita sekalian. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran- saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami berempat mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
PERTANYAAN KASET T35 B
Apa tujuan seorang dokter memberitahukan kepada keluarga pasien, bahwa pasiennya tidak ada harapan untuk sembuh?
Bagaimana sikap seorang dokter ketika menghadapi pasien yang marah karena suatu hasil diagnosa atau memberitahu kenyataan yang tidak bisa diterima oleh pasien?
Pertolongan apa yang dapat diberikan bagi pasien yang tidak hanya sakit secara fisik tapi mental juga?
Apa tanggapan terhadap keluarga yang meminta agar diberikan suntikan kepada pasien supaya cepat meninggal, dengan alasan sudah tidak ada harapan, tidak tega melihat orang yang dikasihi menderita sakit?
Bagaimana mengetahui bahwa pasien benar-benar sudah meninggal?
Ringkasan Isi:
Tujuan dokter memberitahukan pihak keluarga bahwa pasien sudah tidak ada harapan, adalah untuk mempersiapkan keluarga dan pasien itu. Karena kalau tidak diberitahu dan tiba-tiba meninggal, nanti dokter bisa disalahkan oleh keluarga. Dokter tidak perlu menutupi, kalau memang keadaan pasiennya sudah tidak bisa ditolong. Biasanya kalau saya mendiagnosa dan kelihatannya tidak ada harapan, saya tetap beri tahu.
Reaksi keluarga yang pertama biasanya bingung dan mungkin tidak percaya kepada saya. Mereka akan tanya lagi kepada dokter lain atau mungkin berobat ke yang lain. Tapi ya kita berusaha menjelaskan hasil pemeriksaan sedetail mungkin, dengan bahasa awam supaya ia dapat mengerti.
Tapi di satu sisi ada keluarga-keluarga yang memang tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu, mereka berpikir masa suami saya atau isteri saya itu harus pergi secepat itu? Tapi kalau kenyataannya seperti itu, kita harus bisa memberikan penjelasan secara kedokteran atau secara ilmiah. Menurut saya pasien juga harus diberi tahu juga, karena dia yang mempunyai tubuhnya. Dalam kode etik di Indonesia seharusnya pasien dulu yang berhak tahu, tapi pada kenyataan atau prakteknya keluarga yang minta agar si pasien jangan diberi tahu. Dalam kondisi seperti ini saya menyarankan agar pasien tetap harus diberitahu karena dialah yang memiliki tubuhnya sendiri. Tentu saja dengan memilih waktu yang tepat, setelah hati si pasien disiapkan, dan dengan pendekatan yang baik.
Sebagai keluarga yang dekat dengan pasien, entah sebagai suami, isteri atau anak, kita terlebih dahulu harus bisa menerima keadaan.
Mengenai obat, biasanya kalau untuk meringankan rasa sakit (penstillen) si pasien pasti mau.
Untuk penyakit yang tergolong berat, kalau bisa pihak keluarga mendampingi sepanjang waktu. Si sakit membutuhkan pendampingan terutama dari orang yang dia kasihi dan orang yang paling berarti, terutama pada saat-saat terakhir.
Beberapa cara untuk menolong orang yang menderita penyakit yang makin lama makin parah. Kalau dia orang Kristen, kita tetap bisa mendoakan dengan buka suara, bisa pegang tangannya, kita menyanyi untuk dia, dan membacakan firman Tuhan untuknya. Jadi dia masih merasakan bahwa kita ini masih memperhatikan, dengan begitu dia akan dibangkitkan kembali.
Kalau ada anggota keluarga yang koma, mungkin kita sulit menghadapinya. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang yang koma? Sebetulnya kalau dia belum berendit, kita bisa bisikan dan bicara sesuatu mungkin dia masih dengar dan masih bereaksi. Biasanya kalau koma pasien tidak bergerak, hanya reaksi pupil cahayanya masih bagus. Tapi kalau sudah berendit, dipasang alat bantu pun percuma. Kalau keadaan pasien sudah makin kritis, biasanya keluarga akan dipanggil untuk hadir, ini sangat berpengaruh pada dirinya. Karena si pasien akan merasakan dia tidak sendiri, bagi orang yang akan meninggal yang paling sulit itu dia akan meninggalkan dunia ini sendirian. Kalau menurut saya (Bu Vivian) kita harus mengingat, Tuhan ini Tuhan yang hidup, meskipun dokter mengatakan tidak ada harapan, kita tetap bersandar penuh pada Tuhan. Jadi mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan meskipun membutuhkan biaya yang banyak untuk merawat orang yang kita kasihi. Saya juga pernah melihat pasien yang oleh dokter dikatakan tidak ada harapan, tapi sembuh karena Tuhan menyatakan mujizat.
Kita bisa tahu bahwa pasien itu benar-benar sudah meninggal, misalnya dengan memeriksa nadinya sudah tidak ada, atau dari pupil matanya biasanya kalau sudah meninggal pasti melebar.
Biasanya kalau pasien akan meninggal dunia, saya (Dokter Yanti) akan mengingatkan kembali tentang Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa. Juga berita Injil tentang rumah Bapa di sorga.