Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo & Pdt. Dr. Paul Gunadi
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dr. Vivian Andriani Soesilo & Pdt.Dr. Paul Gunadi
Abstrak:
Fantasi adalah hal yang normal terjadi pada diri anak-anak terutama pada anak yang masih balita. Tetapi anak juga harus ada keseimbangan antara bermain sendiri dalam fantasi dan bermain dengan anak-anak lain.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan kali ini dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana memahami fantasi anak. Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pertama-tama kami ucapkan terima kasih Bu Vivian, kami mau mencoba memperbincangkan tentang bagaimana kita bisa memahami fantasi anak. Tuhan itu sudah menciptakan kita juga anak-anak dengan begitu uniknya, sehingga ada daya fantasi di dalam diri anak itu. Kadang-kadang kita melihat anak berbicara sendiri di depan cermin, bicara dengan bonekanya dan sebagainya, itu sebenarnya tanda-tanda yang bagaimana, Bu Vivian?
VS : Untuk anak kecil terutama yang masih balita itu sesuatu yang normal dan memang mereka hidupnya, fantasinya, khayalannya sangat luas sekali. Dan mereka sering kali melakonkan, misalnya sya ini seorang ibu, saya ini seorang bapak, saya ini seorang guru.
Dia akan memakai pakaian seperti seorang pemadam kebakaran, seperti seorang polisi. Itu biasanya mereka senang sekali karena mereka akan belajar menjadi seseorang.
GS : Tapi ada orang tua yang mungkin karena di dalam kekurangmengertiannya takut dan melarang anak itu bicara sendiri. Mungkin nanti kebablasan jadi tidak waras. Sebenarnya bagaimana seharusnya kita menanggapi anak yang sedang berfantasi itu?
VS : Saya ingat waktu anak saya sendiri masih kecil, saya bermain dengan mereka. Mereka nanti pakai pakaian, saya seorang polisi ya saya bicara, "Kamu polisi ya" saya bicara kamu seperti seoang polisi ketika bermain.
(GS : Artinya Ibu kembangkan begitu?) ya, jadi itu ada waktunya tapi asalkan tidak terus menerus seperti itu. Jadi ada waktunya saya mengakui fantasi dia dan kita ini bermain bersama-sama.
(1 ) GS : Apakah anak itu bisa membedakan antara fantasi dan kenyataannya, Bu?
VS : Saya kira bisa (GS : Caranya Bu?) kalau sudah selesai tidak pakai pakaian seperti polisi lagi, ya dia jadi seorang anak lagi.
GS : Apakah ada suatu perbedaan yang jelas antara anak yang sedang berfantasi dan anak yang memang mengalami gangguan kejiwaan sejak kecil?
VS : Saya kira ada bedanya ya, Pak Paul?
PG : Untuk anak yang masih kecil sebetulnya akan sulit bagi kami untuk menentukan apakah ada gangguan jiwa, sebab pada masa kecil memang dunia fantasi dan dunia riil mereka itu masih berkesiambungan, masih sangat tumpang tindih.
Jadi memang sulit untuk memastikannya, biasanya gangguan jiwa itu mulai dapat dideteksi setelah anak itu menginjak usia remaja, tapi kalau anak itu misalkan super pendiam tidak bisa bergaul, mengurung diri saja, saya kira itu sudah merupakan tanda-tanda yang harus dicermati sebab anak kecil pada dasarnya bukanlah anak yang senang berdiam diri sendirian. Dia adalah anak yang memang senang untuk berhubungan dengan anak-anak lain dan bermain.
IR : Sebaliknya Pak Paul kalau anak remaja itu mengalami hiperaktif apa itu termasuk juga gangguan jiwa?
PG : Bukannya gangguan jiwa tapi memang sesuatu yang lain, jadi suatu kelainan sedikit memang itu termasuk dalam salah satu disorder atau gangguan, disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactivty Disorder) jadi disorder itu gangguan attensideficit yaitu kekurangmampuan untuk berkonsentrasi, hyperactivity adalah energi yang berkelebihan, jadi itu adalah masalah bagi sebagian anak-anak remaja dan statistik menunjukkan satu dari 20 anak mengidap masalah itu.
Gangguan ini mempunyai dua sisi yaitu yang kurang mampu berkonsentrasi dan energi yang berkelebihan. Ada anak-anak yang kelemahannya adalah konsentrasi, ada yang kelemahannya di energi yang berkelebihan tapi yang jenis berikutnya dua-duanya lemah yaitu kurang bisa konsentrasi dan energinya berlebihan. Untuk anak seperti ini memang diperlukan penanganan yang lebih khusus dan seringkali yang terjadi adalah para guru kurang bisa memahami anak-anak ini.
IR : Orang tua juga sering kali sulit mengatasi ya Pak Paul, bagaimana itu jalan keluarnya?
PG : Sangat melelahkan anak-anak yang hiperaktif itu, karena anak-anak tersebut menuntut perhatian nonstop dari orang tuanya. Yang paling penting adalah orang tua harus mulai bisa mengatur pnyaluran energinya, jadi jangan sampai anak ini kekurangan wadah untuk menyalurkan energi.
Saya akan anjurkan untuk mengajak anak itu berenang atau main basket supaya energinya bisa dikurangi, waktu tubuhnya agak lemas karena habis berolahraga sekitar sore, mungkin dia pulang mandi dengan air hangat. Dia mulai tenang baru kita minta dia untuk belajar. Kita harus realistik dengan belajar, memang sulit belajar untuk jangka waktu yang panjang, biasanya hanya untuk jangka waktu yang pendek saja. Jadi memang sangat melelahkan mempunyai anak seperti ini. Saya ingin memberikan sedikit komentar juga tentang fantasi yang tadi Pak Gunawan bicarakan. Fantasi adalah bagian kehidupan anak, sebagaimana tadi disebut oleh Ibu Vivian sesuatu yang tidak perlu kita takuti. Tapi anak harus mempunyai keseimbangan antara bermain sendiri dalam fantasinya dan bermain dengan anak-anak lain. Jangan sampai anak itu kekurangan salah satu di antaranya. Ada orang yang memang berbahagia karena anaknya itu sering main dengan anak-anak lain, tapi sebetulnya anak-anak sebaiknya bisa juga bermain sendiri, dia bisa menikmati waktunya sendiri, inilah sebetulnya awal dari kreatifitas. Karena dalam kesendiriannya dia harus menciptakan permainan dan harus melebarkan wawasannya, daya fantasi atau daya khayalnya, hal ini yang sehat. Tapi kalau hanya bermain sendiri dengan daya khayalnya dan kurang bermain dengan anak-anak lain, itu berbahaya. Kalau terus seperti itu sampai dia usia remaja fungsi sosialnya akan terganggu sekali dan itu merupakan bibit dari gangguan jiwa yang lainnya.
GS : Mengenai fantasi itu, ada satu kasus Pak Paul, beberapa kali bahkan itu yang ditakutkan oleh orang tua di mana anak-anak mereka yang masih kecil itu bermain dokter-dokteran. Itu berbahaya sekali ternyata efeknya, bisa terjadi percabulan dan sebagainya karena anak-anak ini jadi korban dari mereka yang lebih besar, dimana anak kecil yang berfantasi itu, dia tidak mengerti akibatnya. Apa memang bisa terjadi begitu Pak Paul?
PG : Sangat bisa, jadi anak-anak kecil itu datang ke dunia sebetulnya dengan tidak memiliki pagar mental yang memisahkan antara diri mereka dan diri orang lain. Itu sebabnya anak-anak kita sbut adalah anak-anak yang berada pada masa "impressionable" yaitu masa mudah dipengaruhi.
Artinya kita ini orang dewasa, waktu kita melihat film kita bisa membedakan antara film dan saya, ada pagar yang memisahkan kita dan objek itu, anak kecil tidak. Jadi apa yang dilihat, apa yang ditonton itu meresap masuk. Itu sebabnya anak-anak kecil percaya adanya Sinterklas, begitu mereka menginjak dewasa mereka tahu itu adalah tidak benar-benar. Kenapa anak kecil bisa percaya Sinterklas itu benar-benar Sinterklas, karena apa yang dilihat itulah kenyataan baginya. Maka langsung masuk ke dalamnya, oleh sebab itu jangan membiarkan anak-anak nonton film yang mengerikan, menakutkan, film horor karena film itu benar-benar masuk dalam dirinya. Tapi itu adalah masa di mana anak-anak sebetulnya mengembangkan kreatifitasnya dengan masuknya objek-objek dari luar ke dalam pikirannya, dia mengembangkan fantasinya, dan itu adalah bibit dari kreatifitas sebetulnya. Tapi perlahan-lahan dia juga akan mulai mengembangkan pagar yang membedakan antara yang dilihatnya dan dirinya, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh objek-objek dari luar dirinya. Contoh mengenai dokter-dokteran, kemungkinan memang mereka melihat dokter memeriksa badan mereka, harus membuka baju. Sekali lagi karena anak belum memiliki pagar mental, maka dia menganggap ini adalah hal yang benar, yang memang bisa dilakukan jadi mereka mulai memainkannya juga seperti dokter-dokteran. Tapi kalau bagi anak yang sudah menginjak remaja atau pra-remaja, kemungkinan besar ini bukan karena fantasinya tetapi karena rasa ingin tahunya akan tubuh lawan jenisnya, dimulailah permainan-permainan seperti itu. Dan saya setuju dengan Pak Gunawan efeknya memang bisa sangat merugikan anak kecil, di sinilah kita bisa melihat kasus-kasus yang disebut "bolestasi" yaitu pencemaran anak-anak di bawah umur. Ibu Vivian mungkin bisa memberikan komentar mengenai hal ini?
VS : Pencemaran anak, saya kira kalau fantasi anak itu diawasi orang tua maka jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi kalau permainan dokter-dokteran, biasanya anak saya duu itu bukan terhadap manusia tapi terhadap boneka.
GS : Anak melihat sulap, film silat dan sebagainya, itu dipikirnya bisa melakukan seperti itu sehingga ada yang makan silet dan sebagainya, akibatnya celaka bagi dia. Di sana seharusnya pendampingan orang tua penting sekali.
IR : Juga ada kasus yang menirukan Superman yang terbang, sungguh terjadi memang.
GS : Jadi daya fantasi itu memang luar biasa, padahal kita tahu bahwa melalui daya fantasi itu juga banyak hal baru yang bisa tercipta ya Pak Paul. Tetapi saya juga melihat, daya fantasi itu bisa bergeser. Jadi hanya untuk memenuhi keinginannya, anak itu rela berbohong kepada kita. Mungkin ada bohong yang memang betul-betul anak itu bohong tetapi ada yang dari daya fantasinya sendiri. Dia tidak sadar entah itu dia habis mimpi malamnya atau apa, lalu dia ceritakan seolah-olah itu sungguh-sungguh terjadi. Bagaimana kita menanggapinya kalau kita tahu sebenarnya itu sekadar fantasi, namun kalau dikatakan itu fantasi, dia kecewa. Apa kita harus menuruti anak dalam hidup fantasinya itu?
VS : Itu mungkin harus dilihat keadaannya, saya ingat dulu anak saya waktu kecil dia mengatakan ada sesuatu yang sangat menakutkan, di kamar itu ada sesuatu binatang yang besar, binatang yan menakutkan itu mungkin termasuk fantasi.
Waktu itu saya mengatakan apa benar, di mana coba tunjukkan kepada saya, coba perlihatkan di mana, ternyata tidak ada. Nah waktu itu saya tahu dia bukan berbohong, tapi suatu ketakutan karena daya fantasinya, dia baru melihat sesuatu.
(2 ) GS : Apakah fantasi itu bisa terbawa di dalam mimpi anak (VS : Bisa) sehingga malam hari tiba-tiba dia menangis atau lari ke kamar kita, apakah itu mempunyai dampak untuk masa depannya atau tidak?
VS : Itu tergantung bagaimana orang tua yang menangani.
PG : Biasanya berdampak juga ya Pak Gunawan, ini contoh pengalaman pribadi saya. Saya masih ingat, waktu saya masih kecil mau nonton film manusia yang bisa berubah menjadi laba-laba dan kemuian menyerang orang-orang.
Tangan-tangannya yang mula-mula dikeluarkan, tangannya itu tiba-tiba berbulu. Ceritanya itu masih saya ingat sampai sekarang. Padahal saya ketika itu masih berumur sekitar 6, 7 tahun, jadi bayangan itu begitu nyata pada saya dan sangat menakutkan. Dan saya masih ingat untuk waktu yang lama saya ini orang yang mudah takut dengan misalnya kegelapan, kesendirian. Kenapa saya suka mengingat? Dan saya harus mengatakan awalnya adalah karena film itu dan saya berharap orang tua saya dulu melarang saya menonton film itu. Tapi mereka juga tidak memahami hal ini, jadi membiarkan saya menonton film seperti itu di televisi. Jadi itu sangat merugikan saya, menakutkan sekali sebab sekali lagi bagi saya itu adalah hal yang sangat riil. Menyinggung tadi tentang fantasi dan berbohong Pak Gunawan, saya menggunakan dua istilah yang berbeda. Yang pertama adalah bohong di dalam mental itu adalah bohong yang berkaitan dengan pertumbuhan anak dan yang kedua adalah bohong moral, jadi memang berbohong untuk mendapatkan keinginannya dan sudah menyadari itu adalah bohong dan tidak boleh. Tapi yang pertama bohong di dalam mental yang tadi sudah disinggung oleh Pak Gunawan dan juga Ibu Vivian, yakni anak-anak kadang-kadang menceritakan hal-hal yang merupakan buah fantasinya saja, jadi ya untuk menghadapi cerita seperti itu saya kira ada baiknya kita mungkin meladeni, tapi seperti yang dilakukan oleh Ibu Vivian dia tidak langsung berkata "kamu jangan bohong", karena itu akan memadamkan rasa ingin tahu si anak dan daya fantasinya. Jadi saya kira tindakan yang sangat baik adalah mengikuti si anak, menanyakan di mana binatangnya dan waktu tidak ketemu ya sudah si anak pun juga puas. Tapi misalkan si anak berkata: "Papa atau mama percaya tidak saya bertemu dengan binatang itu tadi?" Saya kira respons yang lebih wajar adalah mengatakan: "Kalau kamu memang bertemu ya papa percaya, coba gambarkan seperti apa wajahnya". Supaya anak ini tidak berkepanjangan dalam berfantasi maka harus terus kita awasi. Kalau dia mulai terus-menerus berfantasi, tidak bisa sekolah, itu baru berbahaya. Tapi kalau dia masih bisa bersekolah dan dalam percakapan sehari-hari tetap bisa berkomunikasi dengan kita itu tidak apa-apa, itu bagian kecil dari kehidupan fantasinya. Berbohong moral biasa dilakukan oleh anak-anak yang sudah menginjak usia pra-remaja dan remaja, yaitu membohongi orang tua.
GS : Masih berkaitan dengan fantasi itu, saya melihat bahwa dongeng itu juga merangsang fantasi anak, ada binatang-binatang yang bisa berbicara dan sebagainya. Ada sebagian yang mengatakan bahwa dongeng itu baik untuk anak, tetapi ada juga yang tidak terlalu setuju dengan alam dongeng karena membiasakan anak hidup di dalam alam dongeng. Bagaimana menurut Ibu? Ini berkaitan erat dengan Sekolah Minggu.
VS : Kalau dulu saya masih ingat waktu anak-anak saya masih kecil saya bergabung di sekolah minggu, ada cerita Alkitab tapi ada dongeng-dongeng yang sesuai dengan umur mereka tentang binatan-binatang yang lucu, yang mereka bisa buat ini, itu.
Jadi semuanya saya gabung jadi satu sesuai dengan pertumbuhan mereka, tapi juga ada firman Tuhan.
GS : Kenapa harus dalam bentuk dongeng, kenapa tidak dalam bentuk yang nyata saja, Bu Vivian?
VS : Karena hal itu yang disenangi anak, itu sesuai dengan dunianya.
GS : Dunianya ya, tetapi bagaimana mereka bisa memahami ada binatang-binatang yang bisa berbicara sehingga ada yang mengkaitkan misalnya ular yang di Taman Eden, itu pun dongeng karena sama seperti cerita-cerita yang lain. Padahal itu berbeda sekali ya Bu, bagaimana itu bisa dijelaskan?
VS : Mungkin kita tekankan firman Tuhan itu sesuatu yang nyata. Nah ini sesuatu yang dongeng saja.
GS : Jadi sejak kecil mereka harus bisa membedakan ya.
PG : Saya kira penting juga agar kita tidak memasukkan terlalu banyak dongeng yang negatif terhadap anak-anak kita. Saya tahu dalam konteks budaya kita banyak dongeng mengenai kuntilanak mislnya, jadi hal-hal yang memang bersifat dongeng tapi menyeramkan.
Dan saya sudah bertemu beberapa kali di mana ada orang-orang yang sudah dewasa, luar biasa takut setan jadi meskipun anak Tuhan, percaya sama Tuhan Yesus tapi sangat takut setan. Ini bukan masalah rohani sebetulnya, jadi orang suka berkata masa sudah jadi anak Tuhan takut pada setan. Masalahnya bukan rohani tapi masalah kejiwaan yaitu apa yang sudah ditanamkan pada benak si anak pada usia yang sangat kecil itu benar-benar cenderung berdampak terlalu kuat dan negatif. Jadi harus juga membatasi dongeng-dongeng seperti itu. Kalau saya akan menghindarkan anak-anak untuk mendengarkan dongeng-dongeng seperti tadi itu.
GS : Ya memang kita bisa menghindarkan di rumah, tapi di sekolah kadang-kadang buku-buku di perpustakaan dan sebagainya itu terbaca oleh mereka atau melihat di televisi. Itu yang langsung tadi Pak Paul katakan tanpa pagar itu masuk semua ke dalam diri anak itu.
PG : Anak saya mendengar cerita dari temannya tentang 666, 666 itu ada di Kitab Wahyu yaitu orang yang menyeramkan dan semua akan dibunuh olehnya; setiap kali dia mendengar cerita itu dia mutah.
Begitu kuat reaksi ketakutannya dan temannya ini memang setingkat lebih tinggi dari dia dan rupanya hoby menceritakan dari Wahyu yang memang salah kaprah. Saya masih ingat untuk jangka waktu tertentu saya harus memberikan dia penjelasan-penjelasan, dia suka bertanya, "Betul, tidak Papa, memang ada tidak?" Saya harus menjelaskan, saya tunjukkan di Alkitab, saya jelaskan artinya tapi dia sering bertanya. Akhirnya saya beritahu dia bahwa temanmu itu memberitahukan hal yang salah dan kamu tidak usah mendengarkannya. Tapi karena rasa ingin tahunya dia mau juga mendengar, dan begitu dia mendengar saya diberitahu gurunya bahwa dia muntah. Saya dipanggil ke sekolah untuk membawa dia pulang, dipikir sakit ternyata ketakutan. Itu berlangsung selama 2,3 bulan, itu saya ingat, setelah itu saya jelaskan dan mulai tenang kembali. Jadi betul kata Pak Gunawan ya, di rumah kita bisa kendalikan, pisahkan atau bersihkan dongeng-dongeng seperti itu tadi, tapi di tempat lain di sekolah misalnya tidak bisa. Namun di situlah fungsi orang tua, orang tua memang harus dekat dengan anak, mengerti akan keadaan anak dan hadir dalam hidup nya, sehingga pada waktu ada masukan-masukan negatif seperti ini kita bisa langsung menanggapi dan menolongnya.
GS : Jadi ada satu sisi kita melihat bahwa fantasi itu penting bahkan perlu bagi anak, tetapi sebagai orang tua, kita juga harus mendampingi anak untuk bisa menerjemahkan fantasi itu, Bu? (VS : Ya betul) Mungkin Ibu mau menceritakan yang lain tentang fantasi anak ? Tidak dulu. Bagaimana Pak Paul apakah ada firman Tuhan yang Pak Paul mau sampaikan?
PG : Ini diambil dari Filipi 4 : 8 , "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didngar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."
Jadi kalau kita terapkan pada anak-anak ya Pak Gunawan dalam konteks fantasinya, saya kira sebagai ayah dan ibu Kristen kita perlu memasukkan yang bagus, yang layak dipuji, yang indah, yang sedap didengar, yang mulia, yang agung pada benak anak-anak kita. Karena ini adalah bahan-bahan yang akan membentuk si anak itu, jadi kalau kita menanamkan barang-barang yang kotor, yang muncul adalah diri yang tercemar, menanamkan yang bersih kita juga akan mendapatkan diri yang lebih murni. Jadi apa yang diserap oleh anak itu akan menjadi bagian kehidupannya. Firman Tuhan meminta kita melakukan hal yang sebetulnya tidak terlalu sulit, tapi kita bisa lakukan sebagai orang tua Kristen.
GS : Jadi menurut Bu Vivian peran guru Sekolah Minggu yang membimbing banyak anak itu seberapa jauh pentingnya dalam kehidupan bergereja? (VS : Untuk guru sekolah minggu?) ya, ya itu kan mengasuh anak-anak ini Bu walaupun cuma sesaat tapi rutin. Dan anak-anak yang mereka hadapi adalah anak-anak yang membutuhkan berfantasi, bagaimana?
VS : Saya kira sangat penting sekali karena mereka mungkin di rumah sama sekali tidak ada kesempatan untuk pendidikan rohani dan di sini guru Sekolah Minggu yang bisa membantu mereka.
GS : Membantu untuk yang tadi dibacakan Pak Paul di kitab Filipi, merangsang anak untuk berpikir yang baik. Tetapi yang kita perlihatkan buku-buku bacaan rohani untuk anak-anak, sekarang ada Alkitab untuk anak-anak itu baik, tetapi pada umumnya apakah sudah mencukupi, sudah memadai Bu Vivian?
VS : Saya kira kalau di Indonesia masih kurang, tapi saya lihat juga dulu pernah ada beberapa terbitan, beberapa ini dengan dongeng pakai binatang yang lucu-lucu.
GS : Ada tim panggung boneka ya, saya lihat di SAAT ada Bu (VS : Betul, betul ada). Tetapi yang kadang-kadang melihat itu guru-guru sekolah minggu, tim panggung boneka itu kebanyakan diperankan oleh para pemuda yang sebenarnya kurang memahami betul jiwa anak, bagaimana menurut Ibu?
VS : Saya kira tidak apa-apa, (GS : Tidak masalah ya Bu ya?) tidak ada masalah malah mereka justru (GS :Bisa komunikatif dengan anak) ya
GS : Daripada kita yang sudah tua-tua tentunya tidak diterima anak.
PG : Saya hanya ingin menggarisbawahi yang tadi dikatakan Ibu Vivian, yaitu ibu justru bermain dengan anak dalam dunia fantasinya, saya kira itulah tugas orang tua. Orang tua memang harus bekecimpung dalam dunia anak.
Walaupun dalam dunia fantasi orang tua berkecimpung, kalau ini sudah dibiasakan akan terus berlanjut sampai dia remaja dan dia menjadi anak-anak yang sudah dewasa. Kita akan masuk dan berkecimpung dalam kehidupannya, itu yang perlu kita garis bawahi.
GS : Karena memang sulit untuk menuntut anak itu berkecimpung dalam dunia kita yaitu kita dalam rangka membentuk keakraban, membina keakraban dengan mereka, kita sebentar-sebentar bermain dalam fantasi dengan anak-anak ya Bu?
GS : Mulai kecil dan itu butuh pengorbanan dari orang tua untuk menyediakan waktu, tenaganya, kreatifitasnya dan sebagainya.
VS : Betul tapi sebetulnya menyenangkan juga.
GS : Jadi para orang tua saya rasa akan mencoba itu, Ibu Ida mau menyampaikan sesuatu.
Ya jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang bagaimana memahami fantasi anak, daya fantasi anak dan kali ini kami berbincang-bincang dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dari studio kami berempat mengucapkan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Fantasi adalah bagian kehidupan anak dan tidak perlu kita takuti. Kita kadang-kadang melihat anak berbicara sendiri di depan cermin, berbicara dengan bonekanya, tapi itu sesuatu yang normal. Karena memang itulah hidupnya, fantasinya, khayalannya yang sangat luas.
Tetapi anak harus mempunyai keseimbangan antara bermain sendiri dalam fantasinya dan bermain dengan anak-anak lain. Ada orang yang memang berbahagia karena anaknya itu sering main dengan anak-anak lain, tapi sebetulnya anak-anak sebaiknya bisa juga bermain sendiri, dia bisa menikmati waktunya sendiri, inilah sebetulnya awal dari kreatifitas. Karena dalam kesendiriannya dia harus menciptakan permainan dan harus melebarkan wawasannya, daya fantasi atau daya khayalnya, ini yang sehat.
Tapi kalau hanya bermain sendiri dengan daya khayalnya dan kurang bermain dengan anak-anak lain, itu juga berbahaya. Kalau terus seperti itu sampai dia usia remaja fungsi sosialnya akan terganggu sekali dan itu merupakan bibit dari gangguan jiwa yang lainnya.
Filipi 4:8 , "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."
Sebagai ayah dan ibu Kristen, kita perlu memasukkan yang bagus, yang layak dipuji, yang indah, yang sedap didengar, yang mulia, yang agung pada benak anak-anak kita. Karena ini adalah bahan-bahan yang akan membentuk si anak.
Jadi kalau kita menanamkan yang kotor, yang muncul adalah diri yang tercemar, menanamkan yang bersih kita juga akan mendapatkan diri yang lebih murni.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dr. Vivian Andriani Soesilo & Pdt.Dr. Paul Gunadi
Abstrak:
Dalam materi ini dijelaskan bahwa anak yang membangkang tidak tergantung pada usia berapakah hal itu terjadi, akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah dalam hal ini orangtua yang perlu mengoreksi diri kenapa anak tidak mau menurut. Dan mengarahkan anak tanpa menghancurkannya. Namun sifat membangkang juga karena adanya sifat genetic atau bawaan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Dr. Andrian Soesilo dalam sebuah perbincangan tentang bagaimana mengatasi anak yang sering memberontak atau tidak menurut kepada orang tua. Mereka berdua adalah pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, selanjutnya dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pertama-tama Ibu Vivian, kami senang sekali Ibu Vivian bisa kembali berbincang-bincang pada kesempatan acara Telaga kali ini. Sering kali dikeluhkan oleh banyak orang tua khususnya orang tua yang baru menikah yang terkejut menghadapi anak yang membangkang. Jadi disuruh tidak mau dan suka melawan, apakah itu gejala umum pada setiap anak, Bu Vivian?
VS : Ini tergantung umurnya Pak, kalau umur 2 tahun itu memang ada istilah namanya 'teribotu' segalanya 'no, no, no' istilah bahasa Inggrisnya yang artinya tidak. Meskipun kadang-kadang dia idak bermaksud tidak, jadi memang tergantung umurnya.
Nanti kalau usia remaja, dia akan mencari identitas sendiri maka semuanya tidak menurut.
GS : Sebenarnya hanya sekadar sepatah kata yang mudah diucapkan oleh anak untuk mengatakan 'tidak' atau memang ada suatu alasan lain di dalam diri anak itu?
VS : Kalau anak tidak mau menurut orang tua, saya kira orang tua perlu menyelidiki diri sendiri dulu mengapa anak saya tidak mau menurut, seandainya itu memang yang terjadi setiap hari. Jadiapakah ada sesuatu di dalam diri orang tua yang membuat anak ini tidak mau menurut, mungkin cara memberikan perintah, cara dia berbicara, sikap orang tuanya, mungkin bukan dari anak itu sendiri tapi orang tuanya.
Jadi kalau memang anak itu selalu memberontak, orang tua mungkin bisa mencoba untuk melihat diri sendiri terlebih dahulu.
(1 ) GS : Orang tua mungkin berkata saya sudah mengajari anak saya dengan baik bahkan dipanggilkan baby sitter yang baik, yang bisa mengasuh dan sebagainya. Tapi kenyataannya anak memang bandel, itu suatu sifat dasar atau pengaruh lingkungan atau apa?
VS : Memang manusia ada sifat dasar, ada kebaikan dan kejahatan, tapi saya kira kalau anak ini membangkang terus, pasti ada sesuatu yang membuat dia memberontak. Kalau memang disediakan babysitter tentunya anak akan memberontak karena baby-sitter bukanlah orang yang sungguh-sungguh mencintai dia.
Yang dia inginkan adalah perhatian orang tuanya, jadi mungkin dikarenakan kasih orang tua yang digantikan oleh baby-sitter.
IR : Jadi tetap orang tua harus menyelidiki diri sendiri, mungkin ada kaitannya dengan orang tua.
PG : Atau kita juga bisa mencoba memahami masalah ini dari segi genetik. Dalam pengertian tidak semua anak dilahirkan sama. Jadi ada anak yang memang bawaannya penurut dan ada anak yang memag bawaannya keras.
Anak-anak yang memang bawaannya keras, cenderung tidak mudah menurut, jadi bawaannya adalah justru untuk membangkang. Istilah yang kita gunakan adalah anak-anak yang senantiasa mengetes atau menguji otoritas kita. Memang kalau ditanya kenapa ada anak yang seperti begini, karena memang kepribadiannya berbeda. Kalau anak yang kepribadiannya lebih penurut, kita tidak perlu berbicara keras dia sudah akan melakukan yang kita minta, tapi untuk anak-anak yang berkemauan keras 'strong willed' maka kita tidak cukup misalnya meminta dia melakukan sesuatu, adakalanya harus menaikkan suara atau mengancamnya dengan hukuman, baru dia mengerjakan yang kita minta. Jadi senantiasa pengujian otoritas itu akan mewarnai rumah tangga kita dengan anak tersebut. Kita juga harus menyadari ini adalah bagian yang alamiah.
(2 ) GS : Pak Paul, kalau tadi dikatakan dalam diri anak yang suka membangkang itu ada sesuatu yang positif, tadi Pak Paul katakan 'strong willed', kemauan yang kuat. Saya jadi bingung, sampai sejauh mana kita bisa mentolerir kekerasan anak ini, jadi kebandelannya sampai di mana. Kalau kita melarang dia terus-menerus, bisa mematikan rasa kemauan dia yang baik. Lalu sebaiknya bagaimana, Pak Paul?
PG : Dalam membesarkan anak yang berkemauan keras ('strong willed') ini prinsipnya adalah bagaimana kita mengarahkan tanpa menghancurkannya. Jadi perlu suatu keseimbangan antara dua kubu, du sikap yang mengarahkan tapi tidak menghancurkan.
Saya kira yang sering terjadi adalah kita menghancurkan anak yang keras karena kita merasa ditantang olehnya jadi kita rasanya marah, terpancing emosi kita. Lalu kita keraskan sikap kita, kita marahi, kita pukul dia. Respons dari si anak biasanya bukannya tunduk tapi dia akan mencoba membangkang lagi dalam hal lain dan kesempatan yang lain. Jadi dia akan selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa melawan kita lagi. Anak-anak yang berkemauan keras ini sulit sekali ditundukkan, jadi tujuan kita sebagai orang tua bukannya mau menundukkan dia tapi mau mengarahkan dia, caranya adalah dengan memberikan penjelasan kepada anak itu. Biasanya penjelasan yang masuk akal, yang logis dan konsisten lebih efektif untuk mengarahkan anak-anak yang keras kepala ini.
VS : Kalau menurut saya, anak yang membangkang memang harus dengan cara yang seperti Pak Paul katakan tadi. Ada anak yang memang keras seperti tembok, kalau kita keras maka akan terjadi sepeti kita melempar bola dia akan memantul, tidak bisa dengan cara yang seperti itu.
Jadi mungkin cara yang bisa kita lakukan adalah berbicara lembut dengan dia, itu mungkin yang bisa kita lakukan.
IR : Mungkinkah, ini ada kesaksian seseorang yang mengatakan bahwa cara mendidik anak itu memang berbeda satu dengan yang lain, tapi ada yang memang harus dikeras baru menurut? Jadi dengan kekerasan itu baru menurut tapi dengan lemah lembut mereka mengabaikannya.
PG : Saya kira kita perlu membereskan juga definisi keras di sini. Menurut saya keras tidak selalu berarti menggunakan pukulan, keras berarti bagi saya ketegasan. Anak-anak saya di rumah serng sekali mengeluh akan suara saya sewaktu saya marah.
Saya jarang sekali memukul mereka, tapi memang suara saya yang bariton waktu saya mulai mengeraskannya mereka tidak suka. Mereka sering berkata: "Kenapa sih papa suaranya begitu keras membuat kami takut." Terus-terang dalam hati saya senang, sebab berarti suara saya sudah cukup untuk membuat mereka takut. Jadi keras adalah tegas, bagaimana menurut Ibu Vivian sendiri?
VS : Saya setuju dengan itu, saya tidak setuju keras dengan pemukulan.
GS : Ya, tapi adakalanya memang juga harus dipukul ya?
VS : Ya kalau memang tidak ada jalan yang lain.
GS : Tapi ada yang pernah kami jumpai, di rumah anak ini kelihatan baik sekali, diberitahu menurut sama ayahnya, ibunya. Tapi gurunya yang di sekolah itu justru sering memberikan masukan, keluhan kepada orang tuanya. Anakmu ini tidak bisa diatur di sekolah, suka mengganggu temannya, kalau diberitahu gurunya melawan dsb. Kenapa anak itu bisa hidup di dalam dua dunia yang berbeda, Bu?
VS : Mungkin di rumah itu karena ada sosok ayah atau ibu yang keras sekali terhadap dia, jadi dia sudah takut sekali dan kalau dia di luar jadi bebas dan bisa berbuat apa saja, karena mungkn di rumah terlalu ditekan, jadi dia keluarkan di sisi yang lain.
GS : Atau mungkin kalau ketemu guru yang sama kerasnya dengan orang tuanya, lalu dia jadi penurut?
VS : Belum tentu, mungkin di rumah ada sanksinya yang lebih besar kalau dia tidak mau menurut sama orang tuanya.
GS : Dalam hal ini untuk mengatasi hal seperti itu bagaimana Bu, apa orang tua perlu konsultasi dengan guru atau anaknya yang dipindahkan ke sekolah lain atau bagaimana?
VS : Mungkin kalau keadaan seperti itu orang tua sebetulnya sebelum terjadi, dia tahu siapa teman-teman pergaulannya anak ini, mungkin pengaruh teman-temannya. Bagaimana anak ini di kelas, mngkin dia tidak cocok dengan sekolah itu, jadi orang tua perlu dekat dengan anak, supaya mengerti dan mengenal anak, sehingga ada komunikasi di dalam keluarga itu.
Jadi kalau ada semacam itu tentunya orang tua sudah tahu kalau ada masalah-masalah dan tidak perlu terjadi seperti itu, saya kira bila ada perhatian kepada anak-anak, maka mereka akan terbuka kalau ada masalah.
IR : Bagaimana cara memisahkan anak jika bergaul dengan teman-teman yang nakal. Seringkali kalau kita menghendaki supaya mereka menjauh sulit sekali itu?
PG : Anak-anak cenderung memilih teman yang sesuai dengan seleranya. Jadi anak-anak yang aktif, yang suka bergerak lari dan sebagainya cenderung memilih teman yang sejenis. Atau anak yang pediam, yang halus, cenderung memilih teman yang juga halus dan pendiam.
Anak yang suka berpikir dan suka main video game cenderung memilih teman yang juga menyenangi video game. Jadi sebetulnya pertimbangan yang sehat dalam diri anak, dia mulai menunjukkan kesukaannya dan ini yang menjadikan ciri khasnya sebagai suatu pribadi yang unik. Tapi masalahnya adalah seperti tadi Ibu Ida katakan, adakalanya teman itu membawa dia ke perilaku yang nakal, yang memberontak, membangkang dan sebagainya. Tidak bisa disangkal pengaruh teman kuat, jadi kalau misalkan teman-temannya itu mulai berani menjawab si guru. Si anak ini akan melihat perilaku tersebut dan terpengaruh sehingga mendapatkan keberanian untuk melakukan hal yang sama. Temannya cerita kepada dia bahwa mereka berhasil melawan ibu mereka sewaktu ibu mereka meminta mereka pulang dan mereka masih mau main. Hal-hal seperti itu kadang kala diceritakan di antara teman dan menjadi amunisi buat si anak yang akhirnya ikut berperilaku seperti itu. Sekarang apa yang harus kita lakukan kalau anak kita relatif masih kecil umur 9-10 tahun dan mulai mencontoh perilaku teman-temannya. Saya kira ada waktu, ada tempatnya untuk kita bertindak keras dalam pengertian tegas dan kita mulai berkata bahwa engkau tidak seperti ini dulu, apakah mungkin engkau dipengaruhi oleh teman-temanmu. Kalau dia bilang tidak dan sebagainya ya kita tanya orang tua teman-temannya. Dan orang tua teman-teman misalkan mengkonfirmasi betul, anak-anaknya di rumah mulai membangkang dan sebagainya. Kita bisa menyimpulkan kemungkinan anak kita tertular, saya kira ada baiknya agar kita menegaskan kepada dia, "Engkau boleh main dengan teman-temanmu tapi saya tidak akan menoleransi tindakanmu yang seperti ini." Jadi kita akan tegaskan begitu. Sulit untuk melarangnya bermain, karena di sekolah dia akan bertemu dan dia akan tetap memilih teman yang ini sebab dia sudah cocok dengan yang pendiam dan halus misalnya. Jadi saya kira dia tetap akan bermain dengan teman-temannya, tapi kita bisa mengurangi tindakan membangkangnya itu di rumah dengan sikap yang lebih tegas. Dan adakalanya seperti tadi kata Pak Gunawan kita perlu untuk memukulnya, tapi memukul yang baik adalah hanya di bagian pantat saja, tidak boleh menjambak atau menggampar anak seperti itu.
IR : Pemukulan itu hanya dilakukan bagi anak-anak yang umurnya masih di bawah remaja ya, Pak Paul?
PG : Mungkin saya mau tanya Ibu Vivian, anak saya memasuki masa remaja, belum remaja benar-benar, kalau Ibu Vivian apa yang dilakukan?
VS : Untuk anak saya memang tidak bisa dipukul, apalagi anak saya dua-duanya laki-laki, jadi yang saya lakukan ialah mengurangi, dalam bahasa Inggrisnya 'privilege'. Mereka itu kalau seandaiya bisa bermain video game, biasanya berapa jam sehari, mereka tidak bisa pergi ke rumah temannya bermain tiap hari; mengurangi jam nonton TV itulah yang bisa saya lakukan, jadi membatasi.
GS : Karena itu ada sanksi yang Ibu terapkan di sana. Tapi kalau dari pembicaraan kita tadi, kita tahu bahwa pembangkangan anak itu tidak 100% kesalahan anak ya Bu, jadi kita orang tua ini harus jujur mengakui bahwa kita punya andil sehingga anak kita membangkang. Menurut pengalaman Ibu Vivian di dalam konseling dan terapi, Ibu lakukan kepada dua belah pihak atau hanya kepada salah satu pihak?
VS : Biasanya saya lakukan pada orang tua dulu, karena orang tua harus berubah sebelum anaknya. Bagaimanapun juga anak itu dipengaruhi oleh orang tuanya.
GS : Dan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki orang tua ini ?
VS : Ya tergantung dia terbuka atau tidak.
(3 ) GS : Menurut Bu Vivian bentuk-bentuk pembangkangan itu seperti apa yang seringkali Ibu amati?
VS : Yang tidak mau menurut orang tua ya, kalau diperintah tidak mau menurut, tidak boleh pergi tetap pergi. Mungkin untuk anak yang remaja, satu kegiatan yang tidak boleh tetap dia lakukan,atau mungkin kalau tetap tidak boleh, dia berani melarikan diri dari rumah.
Saya pernah mengenal satu teman yang membangkang berani melarikan diri. (GS : Cuma mengancam atau memang betul-betul dia lakukan?) betul-betul keluar beberapa hari dan dia tidur di rumah temannya yang mau menerima dia, jadi itu bentuk pembangkangan. Mungkin Pak Paul ada contoh yang lain?
PG : Saya sendiri bisa mengingat diri saya waktu masih SMP, orang tua saya melarang saya pergi keluar karena siang hari itu saya harus belajar, bukan hari Sabtu atau Minggu, tapi saya sudah erlanjur berjanji dengan teman saya untuk keluar kami nonton.
Mama saya mengunci pintu dengan gembok dan saya tidak bisa keluar lagi. Dan saya masih ingat pintu pagar kami itu mungkin dua kali tingginya saya waktu saya masih SMP dan diatasnya ada kawat berduri. Saya memanjat dari bawah sampai ke atas, sampai keluar dari pagar kaki saya lecet-lecet. Padahal waktu itu saya sudah tidak bisa nonton lagi karena sudah terlambat, jadi saya hanya tunggu di depan gang seolah-olah saya nonton, saya baru kembali pulang. Tujuan saya hanya satu, membuktikan kepada mama saya bahwa mama tidak bisa menguasai saya, jadi itulah yang saya lakukan. Jadi kalau saya pikir-pikir kenapa saya begitu dulu, sekali lagi waktu itu saya sudah remaja, ini tema yang umum bagi remaja yaitu kami merasa bahwa orang tua tidak mengerti kami. Saya sebetulnya rela saja untuk tidak menonton tapi saya sudah terlanjur berjanji. Mungkin saat itu kalau misalkan mama saya bisa berkomunikasi dengan saya dan berkata: "Ya, ya kamu sudah janji nanti malu tidak menepatinya. Mama mengerti perasaanmu, tapi bagaimana ini hari biasa, lebih baik kamu jangan nonton." Mungkin kalau saya mendengar tanggapan seperti itu dari mama, saya akan menurut. Tapi begitu saya diberi instruksi tanpa meminta penjelasan, saya berkata saya mau nonton mama langsung mengatakan: "Tidak! Ini hari biasa kamu harus belajar di rumah." Wah saya tidak bisa mendengar kata tidak, jadi saya tidak peduli saya salah atau saya benar. Siapa salah, saya tidak peduli. Begitu dengar kata tidak, saya harus melawan. Jadi saya kira pendekatannya memang akan berbeda-beda pada anak-anak ya. Untuk anak-anak yang mirip dengan saya itu memang sulit sekali mendengar kata tidak, tidak itu adalah suatu tantangan yang harus ditaklukkan; jadi memang lebih baik diberikan penjelasan yang seperti itu maka kami akan lebih tanggap.
GS : Saya pernah melihat suatu bentuk pembangkangan Bu Vivian, saya tidak tahu apakah itu bentuk pembangkangan juga, di mana kelihatannya anak itu pasif. Jadi misalnya saja tadi tidak boleh keluar ya, dia tidak keluar terus, disuruh keluar pun dia tidak keluar tetap di rumah saja, 'kan sudah diberitahu tidak keluar begitu. Tapi dia menginterpretasikan seperti itu, kelihatannya menurut, tetapi saya melihatnya itu suatu pembangkangan, bagaimana Bu Vivian?
GS : Pemberontakan juga, dia mau menunjukkan juga bentuk perlawanan seperti itu. Jadi saya rasa memang banyak bentuk-bentuk pembangkangan yang bisa dialami oleh keluarga-keluarga, baik keluarga muda maupun yang sudah mempunyai anak-anak remaja. Tetapi yang ingin kembali saya tanyakan, apakah ada batas waktu tertentu di mana anak itu dengan sendirinya menyadari akan sifatnya yang kurang baik, Bu Vivian?
VS : Batas waktunya tidak setiap orang sama, mungkin kalau anak sudah hampir lulus SMA, waktu lulus SMA mungkin lebih bisa mengerti atau usia SMA. Saya kira kalau usia universitas begitu, Pak Paul?
PG : Biasanya ya, kalau sudah meningkat usia yang lebih dewasa saya kira energi kita itu mulai bisa terkontrol dengan lebih baik. Dalam kasus saya, saya melihat saya mulai tidak membangkang ewaktu saya SMA.
Dan alasannya sebetulnya sederhana sekali yaitu saya mulai sibuk di gereja, jadi kesibukan di gereja itu menyerap energi saya. Saya bukan sebetulnya bertobat, sadar saya itu salah, tetap saja sebetulnya hubungan dengan mama saya atau papa saya renggang dan sering berkelahi. Tapi begitu saya menginjak SMA, saya tiba-tiba mendapatkan penyaluran. Saya sering main drama, menyanyi di vokal group dan sebagainya sehingga tiba-tiba energi saya sekarang terserap di luar, ada pengalihan dan itu mengurangi sekali ketegangan antara orang tua dengan saya. Waktu SMP saya belum banyak terlibat di gereja, saya sadar kira-kira waktu saya berumur 20-an tahun ke atas. Jadi kadangkala memang kita tidak bisa mengharapkan anak kita sadar, namun yang bisa kita lakukan adalah mengalihkan energinya itu ke hal-hal yang lebih baik.
GS : Jadi kalau pada dasarnya memang pembangkangan juga ada segi positifnya seperti tadi di awal pembicaraan kita, tentu "strong willed" itu yang kita harus tumbuhkembangkan dalam diri setiap anak ya, Bu Vivian. Pak Paul mungkin ada ayat firman Tuhan yang Pak Paul bisa sampaikan sehubungan dengan perbincangan kita ini?
PG : Saya ingin membacakan Roma 12:4 , "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga ita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus."
Saudara-saudara, saya melihat ayat ini sebagai perefleksian bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak menjemukan, yang kreatif. Jadi Dia menciptakan manusia berdasarkan keunikannya masing-masing dan masing-masing mempunyai tempat dalam tubuh Kristus. Jadi anak yang keras kepala sebetulnya mempunyai tempat dalam tubuh Kristus. Salah satu murid Tuhan Yesus yang keras kepala sebetulnya adalah rasul Paulus, Tuhan memakai dia dengan luar biasa, tapi ada yang berhati lembut juga seperti Yohanes. Jadi masing-masing memang tidak sama, kita jangan merasa sial betul karena saya mempunyai anak yang membangkang, ini adalah pemberian Tuhan dan pasti ada tempatnya nanti dalam pekerjaan Tuhan.
GS : Saya rasa itu memang perlu dihayati betul, Pak Paul, untuk kita bisa bersyukur mempunyai anak yang membangkang, tetapi kita melihat ada sesuatu yang baik yang Tuhan Allah mau berikan kepada kita. Tentu kita bisa saling melengkapi. Jadi baiklah Bu Vivian banyak terima kasih juga Ibu bisa hadir di dalam acara tegur sapa ini sehingga melengkapi perbincangan kita pada saat ini. Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang bagaimana menghadapi anak-anak yang membangkang. Perbincangan kali ini juga disertai dengan ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Melalui kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih untuk surat-surat yang sudah Anda tujukan kepada kami. Namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda masih sangat kami nantikan. Dari studio kami mengucapkan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Yang sering kali banyak dikeluhkan oleh orang tua adalah menghadapi anaknya yang membangkang. Orang tua perlu menyelidiki diri sendiri dulu mengapa anak saya tidak mau menurut, kalau memang itu terjadi setiap hari. Mungkin saja ada sesuatu di dalam diri orang tua yang membuat anak tidak mau menurut. Mungkin cara memberikan perintah, cara orang tua berbicara, sikap orang tua, jadi kalau anak selalu memberontak, orang tua mungkin bisa mencoba untuk melihat diri sendiri terlebih dahulu.
Atau bisa juga kita memahami masalah ini dari segi genetik. Dalam pengertian tidak semua anak dilahirkan sama, jadi ada anak yang bawaannya memang penurut dan ada anak yang bawaannya keras. Anak-anak yang bawaannya keras cenderung untuk membangkang. Istilah yang kita gunakan adalah anak-anak yang senantiasa mengetes atau menguji otoritas kita sebagai orang tua.
Dalam membesarkan anak yang berkemauan keras (strong willed) prinsipnya adalah bagaimana kita mengarahkan tanpa menghancurkannya. Artinya perlu suatu keseimbangan antara sikap yang mengarahkan tapi tidak menghancurkan. Dengan memberikan penjelasan yang masuk akal, yang logis dan konsisten lebih efektif untuk mengarahkan anak-anak yang keras kepala ini.
Roma 12:4 , "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus."
Ayat ini sebagai perefleksian bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak menjemukan, Tuhan yang kreatif. Jadi Dia menciptakan manusia berdasarkan keunikannya masing-masing dan masing-masing mempunyai tempat dalam tubuh Kristus. Jadi anak yang keras kepala sebetulnya mempunyai tempat dalam tubuh Kristus.
Salah satu murid Tuhan Yesus yang keras kepala sebetulnya adalah rasul Paulus, Tuhan memakai dia dengan luar biasa, tapi ada yang berhati lembut juga seperti Yohanes. Jadi masing-masing memang tidak sama, kita jangan merasa sial betul karena saya mempunyai anak yang membangkang, ini adalah pemberian Tuhan dan pasti ada tempatnya nanti dalam pekerjaan Tuhan.