Dra.Indrawati T. & Ibu Aymee Ibrahim
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dra.Indrawati T. & Ibu Aymee Ibrahim
Abstrak:
Kisah nyata dua orang ibu yang beberapa tahun di tinggal suami karena dipanggil Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen selama ± 30 menit akan menemani saudara dalam acara perbincangan seputar kehidupan keluarga. Sebagaimana biasa telah hadir bersama kami Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Idajanti Raharjo. Kali ini acaranya agak istimewa karena telah hadir pula bersama-sama dengan kami Ibu Indrawati Tambayong dan Ibu Aymee yang akan berbagi pengalaman mereka dengan Anda semua. Jadi ikutilah perbincangan kami karena kami percaya acara Telaga ini pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua. Pak Paul silakan.
Lengkap
PG : Terima kasih Pak Gunawan dan Ibu Ida, hari ini adalah hari yang memang istimewa, karena di tengah-tengah kita hadir 2 orang ibu, ibu Indrawati dan ibu Aymee dan saat ini saya ingin mengucakan selamat datang kepada ibu Aymee dan ibu Indrawati.
Ibu Indrawati dan ibu Aymee adalah dua orang ibu yang menjanda karena beberapa tahun yang lalu Tuhan telah memanggil suami mereka. Dan kami mengundang mereka hadir di tengah-tengah kami pada hari ini agar kami dapat bercakap-cakap dengan mereka. Dan kami berharap apa yang kami percakapkan pada hari ini bisa membawa berkat pada banyak orang yang mungkin juga hidup menjanda. Dan kami hanya berharap bahwa ibu-ibu yang mendengarkan bisa juga mendapatkan kekuatan dari kesaksian mereka. Ibu Aymee dan Ibu Indrawati, Tuhan itu adalah Tuhan yang sangat menyayangi dan memperhatikan para janda, sebab Alkitab mencatat cukup banyak perkataan Tuhan yang sangat-sangat simpatik, sangat-sangat memperhatikan para janda, misalkan saya bisa membaca di kitab Yakobus 1:27 di sana Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini dengan jelas Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap para janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan. Saya ingin bertanya Ibu Indrawati, dapatkah Ibu menceritakan sedikit peristiwa seputar kematian suami Ibu yakni kapan itu terjadi dan apa yang terjadi pada saat itu?
IT : Baik, terima kasih untuk kesempatan ini. Suami saya dipanggil oleh Tuhan sekitar 2 tahun yang lalu dan pada waktu itu kami sekeluarga berlibur di Bali dan kami pergi ke benua untuk berekresi di tepi pantai.
Kemudian suami saya naik jet cycle ke tengah laut untuk bermain-main dengan keponakan saya dan memboncengnya. Dan kami sendiri juga bermain jet cycle
PG : Ibu dengan kedua anak Ibu ya?
IT : Ya tetapi ada sebuah speedboat yang datang kencang sekali, cepat sekali dan menabrak suami saya di tengah laut. Saya sendiri tidak melihatnya tapi teman saya yang bersama-sama dengan kami elihat kejadian itu.
PG : Di mana Ibu pada saat itu?
IT : Saya di tepi pantai menunggu dia karena sudah waktunya dia kembali, dan sudah dipanggil nomor dari jet cycle itu. Dan ketika mereka membawa dia kembali ke pantai saya baru percaya kalau it suami saya.
PG : Siapa yang memberi tahu Ibu bahwa terjadi kecelakaan di tengah laut itu?
IT : Teman saya yang ada di sebelah saya dia melihat sendiri bahwa ada sebuah jet cycle ditabrak oleh speedboat. Jadi dia bilang mudah-mudahan bukan Daniel yaitu suami saya. Tapi saya sudah kagt sekali, saya sudah menanti-nanti siapa ini yang diangkut ke pantai ternyata itu suami saya.
PG : Ibu masih ingat apa yang Ibu pikirkan atau rasakan tatkala teman Ibu berkata bahwa itu Daniel yang ditabrak oleh speedboat.
IT : Ya tentu saja saya terkejut, shock sekali dan badan saya mulai gemetar dan dingin, saking kagetnya.
PG : Percaya dan tidak percaya Bu ya?
IT : Ya percaya dan tidak percaya dan saya menunggu-nunggu siapa yang muncul nanti dan ternyata itu yang dibawa adalah suami saya yang ditidurkan tertelungkup. Jet ski yang membawa dia kembali.
PG : Ibu masih ingat apa yang Ibu lakukan tatkala tubuh Pak Daniel dibawa ke pantai?
IT : Ya saya masih ingat sekali waktu dia dibawa ke pantai, saya kira dia itu pingsan saja karena di mukanya juga tidak banyak berdarah mungkin sudah dihapus oleh air laut dan yang terlihat hana sedikit di pinggir bibirnya tetapi waktu saya membuka mulutnya saya melihat bahwa memang mulutnya itu hancur di dalamnya dan kepalanya agak miring sedikit, ke kiri sedikit berarti dia itu ditabrak dari sebelah kanan.
Tetapi dia itu memejamkan matanya terus dan seperti orang pingsan saja, jadi saya sama sekali tidak ada perasaan bahwa dia itu meninggal.
PG : Apakah Ibu berusaha memanggil Pak Daniel saat itu?
IT : Ya kami semua sekeluarga teriak-teriak, semua bilang tahan, tahan ya, tahan, tahan begitu dan kami tidak percaya sama sekali kalau dia itu meninggal seketika.
PG : Setelah itu apa yang dilakukan?
IT : Langsung dibawa ke rumah sakit yang terdekat. Saya ikut bersama-sama dengan mereka. Dan diberi pertolongan pertama tetapi saya melihat dadanya itu datar tidak ada nafas, tetapi saya masih idak percaya kalau dia itu meninggal sampai akhirnya dokter mengatakan ini orangnya sudah tidak ada lagi.
Tetapi saya tetap berpendapat bahwa dia itu masih hidup jadi saya berteriak-teriak terus kepada dokternya dan perawatnya di sana agar diberi oksigen terus dan ditekan dadanya dan kami semua melakukan hal yang sama untuk menolong dia. Dan akhirnya mereka sudah tidak mau, tidak mau menolong lagi berhenti untuk berusaha, saya masih berteriak-teriak sampai saya dibawa ke seperti kamar begitu untuk istirahat untuk dibaringkan, dan mereka bertanya kepada saya apakah perlu tubuh itu diotopsi, saya bilang jangan! Karena dia masih hidup, jadi jangan diapa-apakan dia masih hidup, usahakan terus sampai dia bangun, dia itu hanya pingsan saja.
PG : Jadi sampai kapan Ibu akhirnya menerima berita bahwa suami Ibu benar-benar telah tiada?
IT : Waktu di kamar darurat itu, dokter mengatakan ini orangnya sudah tidak ada.
PG : Kapan akhirnya Ibu bisa menerima dan mengakui bahwa suami Ibu telah tiada?
IR : Saya seperti orang yang shock dan kehilangan akal, jadi saya terus merasa dia itu masih hidup, sampai malam pun sampai malam sekali masih belum percaya kalau dia itu tidak ada. Dan Nyoman, Nyoman yaitu siswa SAAT pendeta di GKA Zion itu datang. Dia berkata: "Ibu, bapak sudah kami mandikan, sudah bersih, sudah rapi, apakah Ibu mau melihat atau apa?" Saya tidak tahu perasaan saya waktu itu, seperti orang yang tidak bisa berpikir lagi, jadi saya sendiri di antara hidup dan mati. Jadi saya tidak tahu perasaan saya waktu itu bagaimana dan waktu mereka meminta saya, "Maukah ke sana untuk melihat bapak sudah rapi," saya katakan ada apa dilihat 'kan dia cuma pingsan saja, saya disuruh berdiri juga tidak kuat, pada waktu itu saya berkata usahakan terus dan dia tidak mungkin meninggal, jangan diapa-apakan. Mungkin saya berharap dia itu masih bisa bangun lagi.
PG : Jadi apakah baru keesokan harinya Ibu benar-benar menyadari bahwa Pak Daniel sudah tidak ada?
IT : Ya dan menjelang hari subuh, saya mulai merasa karena anak saya yang paling kecil datang pada saya dia bilang: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga" (dia bilang bgitu) terus saya kaget sekali, apa benar? Berarti dia di sorga, berarti dia mati.
Terus saya berhenti menangis tapi kemudian saya sadar bahwa dia itu betul-betul mati dan saya menangis terus sepanjang malam itu.
PG : Semua ini masih terbayang dengan jelas ya Bu Indra?
IT : Masih, sewaktu-waktu bisa terbayang kembali di mana dan kapan saja
PG : Seperti baru terjadi kemarin ya Ibu Indrawati (IT : Ya, begitu mengejutkan). Bagi para pendengar saya perlu juga memberi data sedikit tentang ibu Indrawati, ibu Indrawati pada saat itu adaah dosen bahasa Inggris di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang dan suami ibu, Pak Daniel adalah seorang usahawan.
Ibu dan suami dua-dua adalah aktifis gereja (IT : anggota GKI ) di GKI Bromo Malang. Dan Ibu dengan suami juga melayani di Lembaga Bina Keluarga Kristen. Ya saya masih ingat sekali suami Ibu seorang yang sangat gagah, dulu kami pergi makan sama-sama ya Bu ya.
IT : Dia orang yang sangat mencintai Tuhan, orang yang baik dan benar, terhadap siapapun dia tidak takut, hanya takut pada Tuhan saja di dunia ini.
PG : Puji Tuhan, puji Tuhan terima kasih Ibu Indrawati, dan sekarang saya juga menanyakan hal yang sama kepada Ibu Aymee dan sedikit data, mungkin Ibu Aymee bisa menceritakan siapa Ibu Aymee dan juga siapa suami Ibu?
AY : Saya adalah seorang pelayan Tuhan juga yang melayani di bidang konseling, tapi saya mempunyai 5 orang anak. Sampai sekarang saya masih melayani Tuhan dan saya mau menceritakan tentang keadan suami saya yaitu di saat tahun '92 bulan Desember tepatnya tanggal 24 itu saat itu saya tidak menyangka kalau suami saya benar-benar dipanggil Tuhan, karena tanda-tandanya itu di saat tanggal 23 Desember, saya ingat sekali hari Rabu dia cuma mengalami capek ingin istirahat dan dia mengeluarkan keringat dingin.
Saat itu saya hanya mau dia istirahat kira-kira dia terlalu capek dalam hal pelayanan, suami saya juga seorang hamba Tuhan dan dia juga aktif melayani.
PG : Beliau juga seorang gembala sidang ya Bu ya?
AY : Ya gembala sidang di GISI saat itu.
PG : Gereja Injil Seutuhnya Bu ya (AY : Seutuh Indonesia di Malang). Itu terjadi secara tiba-tiba sekali Bu ya? (AY : Secara tibat-iba) dan diduga penyebabnya sakit apa Bu ya?
AY : Waktu itu dia merasa lemah badannya dan keluar keringat dingin, saya telepon ke kakak ipar saya untuk memberitahu bahwa Daniel, (nama suami saya juga Daniel, Daniel Ibrahim) sedang sakit aya minta supaya dia memanggilkan dokter.
Setelah dokter datang untuk memeriksa karena tidak biasanya seperti itu, di saat dokter datang, dokter cuma menyarankan untuk mencoba diperiksa, dibawa ke rumah sakit. Kemungkinan kena serangan jantung menurut Dr. Riadi.
PG : Saat itu dia sadar Bu ya?
AY : Sadar, sadar sepenuhnya cuma malam harinya itu dia tidak tidur, karena selama 2 bulan itu dia banyak pelayanan memang, banyak pelayanan di luar kota. Dan satu bulan penuh kita pelayanan dirumah sakit yaitu 3 rumah sakit pagi sore dan kita sebagai hamba Tuhan, pelayan Tuhan malam pun kita bawakan dalam doa.
Memang dia seorang pendoa ya, jadi setiap harinya dia minim berdoa 6 jam (PG : Waow....luar biasa Bu, luar biasa, bener-bener seorang yang berdoa Bu ya?) ya. Waktu kejadian itu yaitu tanggal 23 pagi itu karena saya setiap bangun pagi menanyakan dia "Apakah kamu bisa istirahat dengan baik? Apa kamu bisa tidur dengan enak malam harinya?" karena memang dia ini adalah suami yang baik ya, sehari-harinya itu dia memperhatikan istri dan anak, seringnya dia itu menunggui saya sampai saya tidur dulu, baru dia itu tidur. Jadi tiap bangun pagi saya menanyakan dengan keadaan dia ya, apakah tadi malam kamu tidur dengan nyenyak dan enak? Dan dia mengatakan: "Semalamam saya tidak tidur." Saya menanyakan kenapa? Dan dia bilang bahwa dia sedang doa, terus keterusan sampai pagi, saat itu saya bilang coba kamu saat ini istirahat ya. Saya suruh dia istirahat, saya pergi mandi tapi setelah saya masuk ke kamar saya, saya melihat dia itu duduk dan dia mengatakan: "Saya tidak tidur ah saya mau ke sekolahan untuk mengambil raport anak-anak." Jadi tanda itu di saat dia pulang dari sekolah mengambil raport anak-anak, dia memang berangkat naik becak ya dia bilang badan saya kok agak lemas, terus keluar keringat dingin. Nah saat itu dia bilang: "saya mau istirahat ya dan saya mengatakan coba periksa saja ke dokter kemudian saya telepon kakak ipar saya untuk memanggilkan dokter. Dokter datang menganjurkan supaya dia dibawa ke rumah sakit, kemungkinan terkena serangan jantung. Tapi setelah itu ± jam 10.00, jam 10.00 pagi saya bawa ke RKZ, di sana suster bertanya mau pakai dokter siapa, tapi saya tidak mengerti mesti pakai dokter siapa cuma saat itu mereka menyarankan pakai dokter jantung yaitu dr. Janggan. Waktu itu dokter lagi rapat tapi dia disarankan untuk periksa ICG, ternyata dari hasil pemeriksaan itu tidak ada masalah.
PG : Jadi hasil ICG-nya baik (AY : Tidak ada masalah, baik, pemeriksaan dari dokter juga baik) OK! Jadi bener-bener tidak dideteksi sama sekali ya?
AY : Tidak, dan dia memang merasa cuma kurang tidur, dia merasa lemas, dia merasakan saya bukan sakit jantung. Tetapi waktu dokter datang jam 03.00 sore untuk memeriksa hasil dia mengatakan baha tidak ada masalah dengan jantungnya, tapi coba difoto.
Hasil fotonya memang jantungnya agak bengkak karena dia ada flu dan batuk. Tidak ada penanganan khusus, cuma dia mau saya memuji Tuhan. Dia berkata doakan saya, kamu memuji Tuhan, saya memuji Tuhan dan dia doa. Di tengah malamnya saya melihat dia cuma sebentar-sebentar bangun minta minum (GS : Ini di rumah sakit Bu?) di rumah sakit, jam 10.00 masuk rumah sakit, tengah malam dia sebentar-sebentar bangun minta minum dan saya menanyakan kepada suster : "Suster kenapa kok suami saya sepertinya gelisah?" Dan dia datang untuk melihat ternyata obat yang diberikan itu belum diminum. Saya mengatakan kepada suami saya supaya obat yang diberikan dokter itu diminum, tapi dia mengatakan sebetulnya saya tidak sakit tapi saya ini kurang istirahat. Kalau saya tidur, besok saya bangun saya akan mendapatkan tubuh yang lebih sehat, nah itu kejadiannya, keesokan paginya kira-kira ± pagi jam 03.30 (setengah empat) itu saya mempunyai perasaan yang tidak enak, saya gelisah, saya suruh anak saya (saya dan anak saya menunggu di rumah sakit, saya suruh telepon ke kakak ipar saya untuk memanggilkan dokter, tapi suster mengatakan bahwa suami saya tidak apa-apa, "suami Ibu tidak apa-apa dia bisa tidur dengan enak, Ibu jangan gelisah, Ibu tidur saja." Saat itu saya memang menelepon kakak ipar saya, dia mengatakan bahwa tidak ada masalah biar pagi saja, kalau memang suamimu ada masalah pasti ada penanganan secara khusus.
PG : Dan Tuhan panggil dia saat itu ya Bu?
AY : Bukan, ± jam 09.00 pagi di saat saya mau istirahat, jadi semalaman saya memang tidak istirahat, saya menunggui dia, saya melihat dia tidur, cuma dia mengatakan kepada saya kamu istiraat saja, kamu nanti capek, saya tidak apa-apa.
Di saat pagi di waktu saya mau istirahat baru saya duduk, dia ini menghadap ke tembok, saya bangun saya tanya: "lho kamu kok menghadap ke sana ke tembok situ," waktu saya panggil dia kok diam saja, saya kira dia pingsan, tidak tahunya saat itu dia tidak ada. Waktu saya panggil dia, dia tidak menjawab, saya memang teriak kebetulan kamar dari suami saya itu sebelah dari kamar suster/juru rawat, mereka semua datang. Saya teriak-teriak minta tolong karena saya pikir suami saya ini pingsan, saya panggil kok diam saja. Dalam keadaan gelisah, panik, ada dokter yang masuk tapi bukan dokter yang menangani dia saya lupa dokter siapa, dokter itu mengatakan bahwa suami saya tidak ada, dan saya tidak percaya langsung saya teriak.
PG : Terus apa yang terjadi Bu setelah itu?
AY : Saat itu saya memang teriak ya, saya panggil Yesus tolong tapi rasanya Tuhan di mana Engkau, Tuhan kenapa tidak menjawab. Nah saat itu saya sangat terpukul, mungkin ya saya ditenangkan, tapa saya sadar menurut saudara-saudara saya saat itu karena saya terus teriak-teriak saya panik, maka suster memberi saya suatu injeksi supaya saya tenang.
IR : Ibu Aymee dan Ibu Indrawati, saat musibah itu datang menimpa ibu-ibu apakah di dalam hati ibu ada perasaan berontak kepada Tuhan dan apakah juga banyak pertanyaan-pertanyaan misalnya mengapa ini harus terjadi, mengapa Tuhan meninggalkan saya dan bagaimanakah kehidupan saya apakah memang keadaan demikian?
AY : Ya, itu yang saya alami, saya sangat berontak sekali karena dalam pelayanan saya, pengalaman pelayanan saya banyak mujizat terjadi khususnya pada akhir dari kehidupan suami saya pada 1 buln kita mendapatkan 5 mujizat.
Yaitu dokter yang mengatakan orang sakit kanker yang sudah parah, stroke, serangan jantung juga, itu dari 5 itu semuanya dijamah oleh Tuhan. Jadi saya melihat akan kuasa Tuhan nyata tapi kenapa kok suami saya dipanggil apalagi khususnya pada tahun itu juga tanggal 27 Maret di rumah Jl. Mentawai itu sekitar dekat Angkatan Laut mereka pun tahu itu terjadi yaitu tukang bangunan di rumah saya itu kena setrum dan betul-betul mati, tapi pada saat itu saya benar-benar berharap kepada Tuhan, saya percaya kuasa Tuhan itu sampai sekarang nyata, jadi saya minta kepada Tuhan, bahwa Tuhan sanggup memberikan kehidupan yang baru. Memang saya berontak di situ, tapi saat itu ada seorang hamba Tuhan yang menghibur saya entah kenapa yaitu Ibu Linda Bernard dia mengatakan bahwa rencana Tuhan itu yang terbaik bagi Ibu Aymee maupun bagi Daniel, tapi saat itu saya bilang "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik." Dia juga menjawab dan dia mendoakan bahwa supaya Tuhan sendiri yang memberikan jawaban kepada saya supaya saya bisa menerima keadaan ini.
IR : Bagaimana Bu Ing?
IT : Saya mempunyai perasaan yang sama yaitu berontak, dalam hati saya mengapa, mengapa, mengapa pertanyaan itu terus muncul tetapi kemudian setelah beberapa saat ya beberapa minggu telah berlau saya mulai berserah.
Dan dalam pikiran saya itu, saya hanya tahu dan percaya satu hal bahwa Tuhan pasti menolong. Dan pada waktu itu saya dan suami saya memang dalam hutang yang besar sekali dengan bank, anak saya selalu tanya terus tanya: "Mam, bagaimana ini hutang-hutang kami di bank?" Saya bilang: "Saya tidak tahu, tanya Tuhan." Tapi dalam hati saya, saya yakin satu hal dan keyakinan saya itu begitu besar, saya tahu kalau Tuhan memanggil Daniel pergi pasti Dia yang menggantikan tempatnya dan pasti Dia tolong. Karena di dalam Alkitab tertulis, "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali". Dan saya yakin dan percaya bahwa kalau memang saya dijadikan janda pasti Tuhan akan menolong.
GS : Terima kasih Ibu Indrawati dan Ibu Aymee.
Demikianlah tadi saudara pendengar yang kami kasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, kami telah persembahkan sebuah perbincangan yang sangat istimewa sekali pada saat ini. Kami percaya Anda tentu ingin mendengar kelanjutan dari siaran kami ini, karenanya apabila Anda berniat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami juga ucapkan banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Yakobus 1:27 , Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan.
Kisah nyata dua ibu yang ditinggal suami, karena dipanggil Tuhan.
Kesaksian Ibu Indrawati:
Mereka sekeluarga berlibur di Bali, pergi ke sebuah benua untuk berekreasi di tepi pantai. Suaminya naik zet cycle ke tengah laut untuk bermain dengan keponakannya, tiba-tiba sebuah speedboat datang dengan kencang sekali menabrak suaminya Bp. Daniel Tambayong di tengah laut. Ibu Indrawati sendiri tidak melihatnya karena dia berada di tepi pantai sedang menunggu.
Namun teman yang ada disampingnya dapat melihat bahwa ada sebuat zet cycle ditabrak oleh speedboat. Dia sangat berharap bahwa itu bukan Bp. Daniel, tetapi sesudah menanti beberapa saat ternyata itu memang suaminya. Dalam keadaan seperti itu, dia sangat terkejut dan shock sekali, di antara percaya dan tidak.
Saat tiba di pantai dia mengira bahwa suaminya hanya pingsan saja karena muka suaminya tidak banyak darah, hanya terlihat sedikit di sudut bibirnya. Tapi pada saat dia membuka mulut suaminya, mulut itu sudah hancur dan kepalanya agak miring sedikit ke kiri. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa suaminya sudah meninggal. Dan ketika di bawa ke rumah sakit terdekat, seorang dokter mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada lagi, yang dimaksud adalah meninggal. Ibu Indrawati tidak dapat menyadari bahwa suaminya sudah meninggal, sampai malam tiba pun Ibu belum dapat menyadarinya. Hingga menjelang subuh, anak bungsunya datang dan mengatakan: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga." Baru di situlah Ibu Indrawati benar-benar dapat menyadari kalau suaminya sudah meninggal.
Kesaksian Ibu Aymee:
Tepatnya 24 Desember 1992 suaminya dipanggil Tuhan diduga akibat serangan jantung. Pada awalnya terjadi pada Rabu 23 Desember, suaminya mengalami capek, ingin istirahat dan mengeluarkan keringat dingin. Saat itu suaminya hanya ingin istirahat karena kira-kira terlalu capek dalam pelayanan, karena suaminya seorang hamba Tuhan yang aktif melayani. Dan juga sekaligus seorang gembala sidang di GISI (Gereja Injil Seutuh di Indonesia) Malang. Suami ibu Aymee mendapat perawatan di rumah sakit, beberapa waktu berlalu dengan setia ibu Aymee menunggui suaminya. Waktu pagi jam 09.00 di saat ibu Aymee mau istirahat setelah sepanjang malam menunggu suaminya, dia melihat suaminya menghadap ke tembok, kemudian ibu Aymee bangun dan ber tanya kepada suaminya "Kenapa kok menghadap ke tembok?" Waktu ditanyadan dipanggil tidak menjawab dia mengira suaminya sedang pingsan, dia berteriak-teriak minta tolong ke perawat. Dalam keadaan panik dan gelisah ada seorang dokter yang masuk dan mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada. Suaminya sudah meninggal.
Dalam situasi seperti ini ada perasaan berontak yang timbul, lebih-lebih di akhir kehidupannya suami Ibu Aymee sedang dipakai Tuhan dalam pelayanan untuk menyatakan kuasa mujizatNya. Orang sakit kanker, stroke, serangan jantung dalam 5 peristiwa semuanya dijamah Tuhan. Ibu Aymee melihat kuasa Tuhan nyata tapi yang menjadi pertanyaan "kenapa kok suami saya dipanggil Tuhan." Ibu Aymee benar-benar berharap kuasa Tuhan dinyatakan dan memberikan suatu kehidupan yang baru. Dan pada akhirnya Ibu Aymee boleh disadarkan dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku, yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik."
Demikian juga dengan ibu Indrawati dia pun berontak. Pertanyaan mengapa dan mengapa itu terus-menerus muncul dalam kehidupannya. Tapi sebagai orang percaya dia pun akhirnya berserah kepada Tuhan, dia percaya Tuhan pasti menolong. Karena pada saat itu ibu Indrawati dan suami terlibat dalam hutang yang besar dengan Bank. Jadi dia hanya berharap pada pertolongan Tuhan, dan dia percaya seperti ditulis dalam Alkitab "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali."
Kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya.
Bagaimana ibu-ibu ini waktu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa yang ibu-ibu ini harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu benar-benar terjawab secara pribadi.
Tepatnya Kamis tanggal 24 suami ibu Aymee dipanggil Tuhan, rasa tidak percaya bahwa suaminya benar-benar dipanggil Tuhan itulah yang dirasakannya.
Pertanyaan mengapa dan mengapa Tuhan panggil suami saya akhirnya mendapatkan jawaban dari Tuhan secara khusus. Ketika Ibu Aymee mngungkapkan rasa percayanya kepada Tuhan, "Tuhan, saya percaya FirmanMu Ya dan Amin kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya." Dan Tuhan memberikan jawaban yang manis kepadanya: "Kalau memang engkau percaya FirmanKu Ya dan Amin, saat ini engkau mengetahui di mana tempat suamimu." Kemudian dia bertanya mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil? Dan Tuhan memberikan pengertian tentang bunga. Saat kapan engkau memotong bunga? (Dan dia bilang: Saat bagus-bagusnya). Demikian juga Aku memanggil setiap anakKu yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya. Ibu Indrawati pun mengalami hal yang sama, pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa itu senantiasa muncul dalam kehidupannya. Setelah waktu 2 bulan berlalu, dalam hati Tuhan mengetuk dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah, kalau Tuhan mau panggil keputusanNya itu tidak salah. Dia tidak berani mengatakan baik atau tidak baik baginya tetapi itu keputusan yang tidak salah datang daripada Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan.
Doa itu mengandung kuasa yang besar, dan melalui kuasa doa itu juga yang memberikan kekuatan kepadanya. Dalam waktu dua bulan itu dia mengalami mujizat Tuhan. Yaitu ketika suaminya meninggal dia dan suami sedang mempunyai hutang yang besar dengan bank, dan dia pun tidak tahu apa yang harus dia perbuat tanpa suami dengan 2 orang anak, dia harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang, itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi dalam hatinya yakin bahwa Tuhan pasti menolong, perasaan itu begitu kuat sehingga kalau anak-anaknya bertanya dia bisa berkata: "Tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong." Dengan peristiwa kematian suaminya Tuhan mempersatukan keluarga suami dan keluarga ibu Indrawati. Dan tanpa sepengetahuan ibu Indrawati antara kedua belah pihak keluarga bisa rembuk/musyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank. Kedua keluarga bersatu, mereka berpatungan dan dalam satu bulan semua hutang dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah yang menjadi jaminan. Puji Tuhan itu suatu mujizat Tuhan yang terjadi, akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.
Bagaimana mengatasi saat-saat kesepian:
Meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik. Melalui Mazmur 68:6 , bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Dra.Indrawati T. & Ibu Aymee Ibrahim
Abstrak:
Satu jawaban Tuhan yang diberikan kepada setiap anakNya yang dikasihi itu masing-masing berbeda.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, saya Gunawan Santosa bersama Ibu Idayanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga. Kembali telah hadir bersama kami Bp. Dr. Paul Gunadi, Ibu Idajanti Raharjo, Ibu Indrawati Tambayong dan Ibu Aymee yang akan berbincang-bincang dengan kami seputar kehidupan-kehidupan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya. Baiklah ikutilah perbincangan kami ini karena kami percaya acara Telaga ini pasti akan sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua.
Bp. Dr. Paul Gunadi akan mengawali perbincangan kita malam hari ini, silakan.
Lengkap
PG : Terima kasih Pak Gunawan dan Ibu Ida, sekarang memang adalah waktu yang sangat khusus sekali karena di tengah kita telah hadir 2 orang ibu yaitu ibu Indrawati dan Ibu Aymee. Dan bagi yang elah mengikuti acara Telaga pada kali yang terakhir mungkin masih mengingat bahwa kami telah mengundang ibu Indrawati dan ibu Aymee untuk mengisahkan musibah yang menimpa mereka tatkala mereka kehilangan suami yang mereka cintai.
Dan kami akan melanjutkan perbincangan dengan mereka pada hari ini, Ibu Indrawati dan Ibu Aymee sekali lagi selamat datang dan terima kasih sekali atas kesediaan Ibu-ibu untuk menuturkan kisah yang memang sangat dekat di hati tapi juga kami yakin kalau dipikir-pikir mungkin masih menimbulkan luka sebab bagaimanapun kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Sedikit data bagi para pendengar yang belum sempat mengikuti acara kami pada kali yang terakhir, ibu Indrawati adalah pada saat suaminya dipanggil Tuhan adalah seorang dosen bahasa Inggris di Seminari Alkitab Asia Tenggara dan ibu Aymee adalah istri dari Pdt. Daniel Ibrahim. Dan secara kebetulan suami ibu Indrawati juga bernama Daniel yaitu pak Daniel Tambayong, jadi kedua suami ibu-ibu ini bernama Daniel. Seperti yang di Alkitab Daniel adalah Daniel yang berani dan demikianlah suami para ibu, mereka berdua adalah hamba-hamba Tuhan seperti Daniel yang di Alkitab yang berani membela yang benar dan tidak mundur meskipun mendapatkan tekanan apapun. Suami ibu Indrawati pak Daniel Tambayong meninggal pada waktu sedang berekreasi di sebuah pantai di pulau Bali bersama dengan keluarga tatkala jet cycle yang dia kendarai ditabrak oleh sebuah speedboat dan Tuhan memanggilnya pada saat itu juga. Sedangkan suami dari ibu Aymee yakni Pdt. Daniel Ibrahim dipanggil Tuhan secara mendadak juga dan diduga akibat serangan jantung dan usia dari pak Daniel Tambayong 49 tahun, dan usia dari pak Daniel Ibrahim adalah 44 tahun, jadi saudara pendengar bisa merêka kedua ibu yang ada dihadapan kami adalah ibu yang masih muda. Dan waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka juga masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya. Sekarang saya akan kembali lagi menanyakan pertanyaan yang ditanyakan oleh ibu Ida pada kali yang terakhir yakni tentang bagaimana ibu-ibu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa itu yang ibu-ibu harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu sungguh-sungguh terjawab secara pribadi. Dan apakah ada jawaban yang umum, universal bagi semua orang yang mengalami peristiwa seperti ini.
AY : Saat itu saya mendapatkan jawaban dari Tuhan, karena saya berontak, saya bertanya terus kepada Tuhan, karena saya merasa bahwa dalam pelayanan saya waktu tanggal 27 Maret yaitu tentang tukng yang mati kena setrum dan ternyata dia bangkit kembali itu disaksikan oleh orang-orang di sekitar rumah yaitu saudara sepupu kita, juga masih banyak ada 15 tukang yang ada di rumah saya menyaksikan itu, tukang-tukang becak dan itu mujizat Tuhan terjadi dan pak Buari ini bener-bener dipulihkan.
Saat itu saya bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa Tuhan memanggil suami saya" sedangkan saat itu secara manusia dia sedang bagus-bagusnya melayani Tuhan, banyak mujizat terjadi karena itu kebesaran Tuhan juga, saya juga melihat dalam pelayanan, saya selalu menyertai dia untuk pelayanan ini, saya selalu bertanya kepada Tuhan: "Tuhan bahwa FirmanMu YA dan AMIN, kalau Engkau sanggup membangkitkan pak Buari saat itu saya juga menuntut supaya Tuhan bisa membangkitkan suami saya." Saat itu hari Jumat saya ingat suami saya dipanggil Tuhan hari Kamis tanggal 24, Jumatnya saya mengurung diri di kamar. Memang saya saat itu bingung apa betul suami saya ini benar-benar dipanggil Tuhan atau saya ini mimpi, saya bingung tadi yang di peti jenazah itu apa betul suami saya, saya mencoba mengulang untuk menyadarkan diri saya ternyata memang betul. Dan saya bertanya: "Tuhan, mengapa Tuhan memanggil suami saya", sedangkan dalam kehidupan kami, jemaat itu mengatakan bahwa kita itu bisa sebagai contoh, memang kehidupan kami ini saling mengasihi dan ada satu keharmonisan, kesehatian dalam melayani, dia juga suami yang baik mengasihi anak-anak&. Tapi waktu itu saya bener-bener mendapatkan jawaban dari Tuhan di saat saya bertanya Tuhan, saya masih membutuhkan suami saya. Nah FirmanMu YA dan AMIN kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya. Tapi saat itu jawaban yang diberikan Tuhan kepada saya, kalau memang engkau percaya FirmanKu YA dan AMIN, saat ini engkau mengetahui di mana tempat dari suamimu. Saat itu juga saya mengatakan: "Tuhan, mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil", Tuhan memberikan pengertian kepada saya yaitu tentang bunga, karena saya senang bunga. Dulu kalau saya menanam bunga, di saat bagus-bagusnya memang saya potong, saya taruh di vas bunga. Tuhan bertanya, pengertian itu bertanya kepada saya, saat kapan engkau memotong bunga, saya katakan saat bagus-bagusnya, demikian juga Aku memanggil setiap anak-Ku yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya Aku memanggil dia. Waktu itu akhir tahun Desember, dan itu mestinya ulang tahun dari ibu saya, biasanya yang menyiapkan semua adalah Daniel suami saya, dan dia berencana untuk membagikan Firman bagi saudara kita yang masih belum kenal Tuhan, saat itu saya masih bertanya pada Tuhan: "Tuhan, dalam hal ini saya masih belum mengerti," tapi Tuhan juga memberikan satu pengertian dan Tuhan bertanya: "Bila engkau berpesta, mau mengadakan satu pesta siapa yang kamu undang terlebih dahulu?" Ya memang saat itu saya ingat saudara yang terdekat, kita memberikan undangan dulu supaya mereka ada persiapan untuk hadir. Tetangga masih belum, jadi saya katakan tentu orang yang terdekat saya undang dulu, demikian juga halnya Tuhan, akan memanggil orang yang dekat dulu, bukan berarti yang lain itu tidak dekat kepada Tuhan, itu penghiburan dan satu kekuatan yang diberikan kepada saya saat itu.
PG : OK! Jadi pada kasus Ibu benar-benar Ibu harus bergumul mendapatkan jawaban pribadi dari Tuhan, tidak ada jawaban yang universal ya Bu di mana semua orang pasti sama jawabannya?
PG : Jadi setiap orang masing-masing berbeda, bagaimana dengan Ibu Indrawati?
IT : Saya tentu mengalami perasaan yang hampir sama dengan ibu Aymee yaitu saya berontak sekali dan setiap hari saya menangis. Dan sebenarnya saya itu sudah menangis dua bulan setiap hari nonstp.
Dan dalam hati saya pertanyaannya sama, mengapa, karena saya belum siap, mengapa Tuhan karena saya belum siap. Tetapi setelah dua bulan berlalu, Tuhan mengetuk hati saya dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah. Kalau memang Tuhan mau panggil itu adalah keputusanNya dan itu tidak salah. Saya tidak berani mengatakan baik atau tidak bagi saya tetapi keputusan itu tidak salah dan itu datang dari Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan. Jadi saya juga dalam kesempatan ini ingin bersaksi bahwa doa itu mengandung kuasa yang besar. Nah pada saat-saat saya berdukacita yang sedalam-dalamnya, teman-teman khususnya saudara-saudara seiman itu memberi saya dukungan yang luar biasa melalui doa. Dan saat itu saya juga bisa menyaksikan kuasa doa itu, jadi membuat saya makin hari semakin kuat. Dan jawaban itu jelas sekali diberikan kepada saya setelah 2 bulan, maka itu setelah 2 bulan saya berhenti menangis, bukan berarti saya tidak menangis lagi tetapi saya tidak menangis seperti sebelumnya. Dan satu hal yang saya yakini karena dalam dua bulan itu mujizat sudah terjadi yaitu seperti yang saya ceritakan pada kesempatan yang lalu, waktu suami saya meninggal, kami mempunyai hutang yang besar dengan bank dan saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, tanpa suami dengan dua anak dan saya harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang itu, sesuatu hal yang impossible bagi saya, tidak mungkin bisa. Tetapi dalam hati saya, saya yakin satu hal bahwa Tuhan pasti menolong, aneh sekali, perasaan itu begitu besar dan begitu meyakinkan sehingga anak-anak saya kalau bertanya kepada saya, saya bilang tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong, saya tahu pasti menolong. Nah saya ingin bersaksi, dengan kematiannya itu Tuhan memakai untuk mempersatukan keluarga dari suami saya, juga dari keluarga saya. Tanpa sepengetahuan saya, mereka dua keluarga itu bisa rembuk bersama-sama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank bagi saya. Jadi pada saat itu memang ekonomi Indonesia sudah sulit, untuk mendapatkan uang segitu banyak memang sulit sekali, tidak mudah. Tapi kedua keluarga itu bisa bersatu, mereka berpatungan dan dalam 1 bulan persis saya dibawa ke bank, hutang itu semua dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah saya sebagai jaminan, jadi puji Tuhan, itu kelihatan sekali mujizat sudah terjadi dalam 1 bulan, hanya dalam 1 bulan. Itu akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.
IR : Bu Ing dan Bu Aymee, mungkin bisa menceritakan lagi pergumulan hidup sendiri bagaimana mengatasi saat-saat kesepian, saat-saat yang paling sulit mungkin Ibu bisa share pada saat ini.
AY : Ya saya dikuatkan melalui Firman Tuhan, saya merenungkan dengan apa yang diberikan kepada saya yaitu tentang saudara seiman yang mengingatkan bahwa rencana Tuhan yang terbaik. Itu saya renngkan, saya pelajari dan memang itu suatu perjuangan, saya harus meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya, khususnya dalam Firman Tuhan juga di Mazmur 68:6 , bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda itu saya merasa terlindung, saya tetap mempercayai bahwa Firman Tuhan itu Ya dan Amin.
Saya berusaha, memang untuk saya memulihkan rasa kepercayaan saya, apa yang terbaik bagi saya itu adalah suatu perjuangan. Saya harus benar-benar mempercayai itu dan juga Firman Tuhan khususnya menghibur saya yaitu saya seolah-olah kehilangan suami ya, kalau memang itu benar kehilangan suami rasanya untuk melewati satu hari saya tidak mampu. Karena apa yang saya dapat itu memang yang diberikan suami saya, itu dalam pandangan saya itu lebih daripada orang lain, jadi betul-betul saya merasa kehilangan. Tapi janji Firman Tuhan yang tercatat di Yesaya 54:5 Dia menjadi suami bagi kita (PG: Maksudnya Tuhan ya) Tuhan itu 'kan dijanjikan jadi Tuhan yang menjadi suami bagi kita para janda. Sekalipun itu dijanjikan kepada bangsa Israel untuk pemulihan Sion itu juga berlaku dari para janda, nah di situ saya mempunyai satu ketenangan. Jadi saya percaya bahwa pengganti dari suami saya itu adalah Bapa di sorga yang memelihara anak-anak saya. Saya merasa itu lebih terjamin dalam kehidupan keluarga kita.
PG : OK! Terima kasih bagaimana dengan Ibu Indrawati?
IN : Ya untuk mengatasi kesepian, saya selalu kembali ke Firman Tuhan, selalu yang saya pikirkan itu adalah Firman Tuhan bahwa Tuhan Yesus adalah bujangan dan Dia bisa menjalankan kehidupanNya egitu murni dan begitu benar di hadapan orang, jadi Tuhan Yesus itu adalah contoh bagi saya, jadi saya terus memandang ke Tuhan Yesus itu yang memberi saya kekuatan yang lauar biasa.
Dan selalu kalau saya merasa kesepian, saya berlutut saya mengatakan kepada Tuhan terus-terang saya kesepian sekali dan sebagai seorang perempuan yang sudah menikah selama 22 tahun tentu juga ada kebutuhan badaniah dan pada saat-saat itu saya selalu bertekuk lutut saya berdoa kepada Tuhan, saya terus-terang mengatakan Tuhan saya kesepian, kesepian sekali dan saya susah dan saya merindukan suami saya. Nah kemudian saya nangis dan Tuhan menolong, selalu.
PG : Jadi tangisan itu adalah hal yang positif Bu ya untuk melepaskan ketegangan dan kesepian kita, apalagi waktu kita berdiam juga ya?
IN : Jadi saya membiarkan perasaan saya keluar dengan demikian setelah berdoa dan berserah itu saya merasa ada damai, ada sejahtera lagi.
GS : Ya saya merasakan tidak gampang juga Bu Indrawati dan Bu Aymee, tadi Bu Aymee katakan ketika suami meninggal ada 5 anak yang harus diasuh dan Bu Indrawati ada 2 anak putra remaja yang juga butuh pengasuhan. Yang kami ingin Bu Aymee dan Ibu Indrawati bagikan pada kami semua adalah bagaimana kesulitan atau suka dukanya mengasuh anak sendirian karena tidak ada lagi figur ayah di sana. Bagaimana Bu Aymee?
AY : Untuk mendidik anak, saya bersandar kepada Tuhan ya, karena dalam keterbatasan sebagai orang tua sekalipun masih ada ayah dan ibu, yang terbaik itu adalah pengawasan dari Bapa di sorga. Jai memang saya untuk membimbing anak-anak tidak mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun juga, bukan berarti saya lepas, lepas dari tanggung jawab tapi memang saya mau mereka beriman kepada Tuhan.
Saya mengucap syukur bahwa apa yang tidak pernah kita pikirkan itu terjadi, apa yang tertulis di 1 Korintus 2:9 itu benar-benar kita alami. Jadi Tuhan membimbing anak-anak saya, setiap anak diberikan satu keahlian, memang saya tidak membiasakan memberi uang saku bagi anak-anak saya, tapi anak-anak saya tanpa saya didik untuk bekerja tapi mereka bisa. Jadi dengan pemberian Tuhan yaitu mereka diberikan satu keahlian, anak saya yang paling besar mempunyai bakat untuk membuat kue demikian juga anak saya yang paling kecil, sedangkan anak saya yang nomor 2, 4 dan 3 itu kurang senang di bidang kue tapi mereka bisa dagang. Dan apa yang mereka kerjakan itu bukan mereka yang cari tapi ada saja yang memberi seperti jual arloji, pakaian, ada yang menawarkan.
GS : Jadi secara finansial bisa teratasi dengan itu, karena Tuhan membuka jalan.
AY : Bisa teratasi karena memang saya memberi waktu untuk Tuhan dan Tuhan pun melimpahkan berkat ya, jadi saya memang lebih banyak memberikan waktu dalam hal pelayanan, tapi dengan waktu saya yng sedikit masih menerima pesanan kue puding memang tidak seperti dulu.
Saya dulu menerima pesanan seperti wedding cake sekarang saya cuma terima lapis malang dan puding, tapi itu cukup bagi saya dengan pesanan-pesanan itu.
GS : Bagaimana dengan Bu Indrawati yang anaknya dua menjelang remaja yang tadi dikatakan ada yang masih kuliah dan sebagainya.
IN : Ya memang membesarkan anak itu tidak mudah apalagi sebagai seorang tua tunggal, jadi orang tua yang tunggal itu membutuhkan sebenarnya seorang partner untuk sharing khususnya di dalam mengsuh anak-anak.
Dan anak-anak saya dua-duanya sudah menginjak dewasa, jadi mereka itu mempunyai masalah juga dan pergumulan yang sebenarnya saya sendiri tidak bisa mengatasi. Tetapi saya hanya yakin dan percaya satu hal, kalau kami berdua saya dan suami saya sudah mendidik anak-anak sejak kecil di dalam Tuhan, maka waktu mereka menginjak dewasa kami tidak usah begitu khawatir lagi dan tetap saya meminta anak-anak saya pegang Firman Tuhan, memegang Firman Tuhan di dalam hidup mereka. Itu sebagai jaminan hidup, dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena kedua anak saya setelah ditinggal oleh ayahnya, justru mereka lebih dewasa di dalam iman dan saya mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan kalau Tuhan itu memang Tuhan yang hidup. Jadi saya berani menyaksikan bahwa Tuhan itu ikut bekerja di dalam setiap bidang kehidupan kami. Dan Tuhan begitu setia tidak pernah meninggalkan, bila Tuhan telah menunjukkan mujizat yang begitu besar dalam satu bulan setelah suami saya meninggal, pasti dalam hal-hal yang kecil itu Tuhan bisa mendukung dan memberi.
IR : Bu Ing dan Bu Aymee, mungkin bisa memberikan pesan untuk para janda-janda yang lain
AY : Yaitu kembali lagi sebagai seorang janda kita memang harus menanggulangi tentang alone yaitu kesepian. Kebutuhan biologi memang tidak bisa dihindari, tapi kembali bahwa kita mempunyai Alla yang Maha Kuasa dan itu dari pribadi kita sendiri apa yang harus kita mau ya saya serahkan semuanya itu kepada Tuhan dan ternyata saya tidak pernah, saya jujur kata setelah melalui ½ tahun dalam pergumulan, Tuhan berikan satu kekuatan khusus.
Ya saya selalu ingat dengan suami saya tapi saya tidak pernah kesepian, dan saya tidak merasakan kebutuhan dalam mendapatkan kasih dari suami, karena saya cukup mendapat kasih dari Allah Bapa yang menghibur dan memberikan kekuatan khusus baik bagi saya maupun bagi anak-anak saya yang sering saya tinggal.
PG : Jadi maksud Ibu meskipun sepi, tapi kesepian itu tidak menguasai Ibu ya, karena Tuhan yang mengisi kesepian itu.
AY : Betul, dan benar-benar memang tidak merasa kesepian
GS : Bagaimana kalau Bu Indrawati?
IN : Sebagai seorang janda yang sudah ditinggalkan suami saya 2 tahun, sekarang ini saya berpendapat bahwa bujangan atau kesendirian atau menikah itu tidak lebih baik satu daripada yang lain, dn saya yakin hal itu.
Yang penting adalah hidup di dalam rencana Tuhan, jika rencana Tuhan terhadap saya memang saya harus hidup sendirian saya menerima hal itu dengan rela. Karena mungkin dengan kesendirian saya, saya diberikan keleluasaan untuk melayani Tuhan untuk bekerja lebih leluasa, dan lebih luas lagi memancarkan kasih saya kepada sesama saya.
PG : OK! Terima kasih Bu Indrawati dan Ibu Aymee, saya teringat Firman Tuhan yang dicatat di kitab Ayub 3:25 , "Karena yang kutakutkan itulah yang menimpa aku dan yang kucemaska itulah yang mendatangi aku."
Namun kesimpulannya adalah tidak ada yang lebih besar dari Tuhan meskipun yang ditakutkan terjadi tapi toh bisa lewat karena Tuhan yang menyertai dan menolong kita semua. Tuhan memberkati Ibu Aymee dan Ibu Indrawati.
GS : Dan sekali lagi banyak terima kasih Bu Indrawati dan Ibu Aymee. Demikianlah tadi saudara pendengar yang kami kasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, kami telah persembahkan sebuah perbincangan yang sungguh sangat menarik dan istimewa sekali bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, bersama Ibu Indrawati Tambayong, Ibu Aymee, ibu Idajanti raharjo dan saya sendiri Gunawan Santoso. Apabila Anda berniat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami juga ucapkan banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Yakobus 1:27 , Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan.
Kisah nyata dua ibu yang ditinggal suami, karena dipanggil Tuhan.
Kesaksian Ibu Indrawati:
Mereka sekeluarga berlibur di Bali, pergi ke sebuah benua untuk berekreasi di tepi pantai. Suaminya naik zet cycle ke tengah laut untuk bermain dengan keponakannya, tiba-tiba sebuah speedboat datang dengan kencang sekali menabrak suaminya Bp. Daniel Tambayong di tengah laut. Ibu Indrawati sendiri tidak melihatnya karena dia berada di tepi pantai sedang menunggu.
Namun teman yang ada disampingnya dapat melihat bahwa ada sebuat zet cycle ditabrak oleh speedboat. Dia sangat berharap bahwa itu bukan Bp. Daniel, tetapi sesudah menanti beberapa saat ternyata itu memang suaminya. Dalam keadaan seperti itu, dia sangat terkejut dan shock sekali, di antara percaya dan tidak.
Saat tiba di pantai dia mengira bahwa suaminya hanya pingsan saja karena muka suaminya tidak banyak darah, hanya terlihat sedikit di sudut bibirnya. Tapi pada saat dia membuka mulut suaminya, mulut itu sudah hancur dan kepalanya agak miring sedikit ke kiri. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa suaminya sudah meninggal. Dan ketika di bawa ke rumah sakit terdekat, seorang dokter mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada lagi, yang dimaksud adalah meninggal. Ibu Indrawati tidak dapat menyadari bahwa suaminya sudah meninggal, sampai malam tiba pun Ibu belum dapat menyadarinya. Hingga menjelang subuh, anak bungsunya datang dan mengatakan: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga." Baru di situlah Ibu Indrawati benar-benar dapat menyadari kalau suaminya sudah meninggal.
Kesaksian Ibu Aymee:
Tepatnya 24 Desember 1992 suaminya dipanggil Tuhan diduga akibat serangan jantung. Pada awalnya terjadi pada Rabu 23 Desember, suaminya mengalami capek, ingin istirahat dan mengeluarkan keringat dingin. Saat itu suaminya hanya ingin istirahat karena kira-kira terlalu capek dalam pelayanan, karena suaminya seorang hamba Tuhan yang aktif melayani. Dan juga sekaligus seorang gembala sidang di GISI (Gereja Injil Seutuh di Indonesia) Malang. Suami ibu Aymee mendapat perawatan di rumah sakit, beberapa waktu berlalu dengan setia ibu Aymee menunggui suaminya. Waktu pagi jam 09.00 di saat ibu Aymee mau istirahat setelah sepanjang malam menunggu suaminya, dia melihat suaminya menghadap ke tembok, kemudian ibu Aymee bangun dan ber tanya kepada suaminya "Kenapa kok menghadap ke tembok?" Waktu ditanyadan dipanggil tidak menjawab dia mengira suaminya sedang pingsan, dia berteriak-teriak minta tolong ke perawat. Dalam keadaan panik dan gelisah ada seorang dokter yang masuk dan mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada. Suaminya sudah meninggal.
Dalam situasi seperti ini ada perasaan berontak yang timbul, lebih-lebih di akhir kehidupannya suami Ibu Aymee sedang dipakai Tuhan dalam pelayanan untuk menyatakan kuasa mujizatNya. Orang sakit kanker, stroke, serangan jantung dalam 5 peristiwa semuanya dijamah Tuhan. Ibu Aymee melihat kuasa Tuhan nyata tapi yang menjadi pertanyaan "kenapa kok suami saya dipanggil Tuhan." Ibu Aymee benar-benar berharap kuasa Tuhan dinyatakan dan memberikan suatu kehidupan yang baru. Dan pada akhirnya Ibu Aymee boleh disadarkan dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku, yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik."
Demikian juga dengan ibu Indrawati dia pun berontak. Pertanyaan mengapa dan mengapa itu terus-menerus muncul dalam kehidupannya. Tapi sebagai orang percaya dia pun akhirnya berserah kepada Tuhan, dia percaya Tuhan pasti menolong. Karena pada saat itu ibu Indrawati dan suami terlibat dalam hutang yang besar dengan Bank. Jadi dia hanya berharap pada pertolongan Tuhan, dan dia percaya seperti ditulis dalam Alkitab "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali."
Kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya.
Bagaimana ibu-ibu ini waktu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa yang ibu-ibu ini harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu benar-benar terjawab secara pribadi.
Tepatnya Kamis tanggal 24 suami ibu Aymee dipanggil Tuhan, rasa tidak percaya bahwa suaminya benar-benar dipanggil Tuhan itulah yang dirasakannya.
Pertanyaan mengapa dan mengapa Tuhan panggil suami saya akhirnya mendapatkan jawaban dari Tuhan secara khusus. Ketika Ibu Aymee mngungkapkan rasa percayanya kepada Tuhan, "Tuhan, saya percaya FirmanMu Ya dan Amin kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya." Dan Tuhan memberikan jawaban yang manis kepadanya: "Kalau memang engkau percaya FirmanKu Ya dan Amin, saat ini engkau mengetahui di mana tempat suamimu." Kemudian dia bertanya mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil? Dan Tuhan memberikan pengertian tentang bunga. Saat kapan engkau memotong bunga? (Dan dia bilang: Saat bagus-bagusnya). Demikian juga Aku memanggil setiap anakKu yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya. Ibu Indrawati pun mengalami hal yang sama, pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa itu senantiasa muncul dalam kehidupannya. Setelah waktu 2 bulan berlalu, dalam hati Tuhan mengetuk dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah, kalau Tuhan mau panggil keputusanNya itu tidak salah. Dia tidak berani mengatakan baik atau tidak baik baginya tetapi itu keputusan yang tidak salah datang daripada Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan.
Doa itu mengandung kuasa yang besar, dan melalui kuasa doa itu juga yang memberikan kekuatan kepadanya. Dalam waktu dua bulan itu dia mengalami mujizat Tuhan. Yaitu ketika suaminya meninggal dia dan suami sedang mempunyai hutang yang besar dengan bank, dan dia pun tidak tahu apa yang harus dia perbuat tanpa suami dengan 2 orang anak, dia harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang, itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi dalam hatinya yakin bahwa Tuhan pasti menolong, perasaan itu begitu kuat sehingga kalau anak-anaknya bertanya dia bisa berkata: "Tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong." Dengan peristiwa kematian suaminya Tuhan mempersatukan keluarga suami dan keluarga ibu Indrawati. Dan tanpa sepengetahuan ibu Indrawati antara kedua belah pihak keluarga bisa rembuk/musyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank. Kedua keluarga bersatu, mereka berpatungan dan dalam satu bulan semua hutang dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah yang menjadi jaminan. Puji Tuhan itu suatu mujizat Tuhan yang terjadi, akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.
Bagaimana mengatasi saat-saat kesepian:
Meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik. Melalui Mazmur 68:6 , bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda