Rudi James Simanjuntak
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kuasa Tuhan membebaskan seseorang dari cengkeraman belenggu narkoba.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda untuk berbincang-bincang dengan Bp. Rudi James Simanjuntak yang juga seorang mahasiswa di sekolah Theologia di kota Malang, di STT Salem. Dan kami akan berbincang-bincang tentang kuasa Yesus yang membebaskan. Perbincangan kali ini akan membahas bagaimana Tuhan dengan kuasaNya membebaskan seseorang dari cengkeraman, dari belenggu narkoba. Dan kami percaya perbincangan ini tentu akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak James, kami senang sekali Bapak bisa bersama kami pada perbincangan Telaga kali ini. Dan kami mau belajar banyak tentunya dari pengalaman Pak James bagaimana kuasa Allah itu, Tuhan Yesus telah membebaskan Pak James dari belenggu yang secara manusia rasanya sulit untuk atau bahkan tidak mungkin seseorang bisa dibebaskan. Nah Pak James sebelum lebih lanjut bolehkah saya mengetahui apakah Pak James memang sejak kecil itu berada di lingkungan keluarga Kristen?
RJ : Betul Pak, kami sendiri dari keluarga etnis Batak, hijrah ke Jakarta tahun 1969, di situ saya berumur sekitar 2 tahun Pak. Kemudian sepanjang kehidupan saya dari mulai kecil sampai dengn remaja, sampai dengan SMP saya tinggal di Jakarta, di suatu perkampungan yang para ahli mengatakan itu penghunian kumuh Pak.
Jadi di situ tempat tinggal yang tidak idealis secara ekosistem dan kesehatan karena di situ banyak sekali penghuninya dan tingkat kompleksitas penghuninya sangat berbeda-beda. Di sini ada bermacam-macam profesi sampai dengan profesi-profesi yang tidak berkenan di hati Tuhan seperti pencuri, penjudi, pemabuk, di situlah saya tinggal dari pertama keluarga kami hijrah. Ya tentunya keluarga kami tidak mengharapkan kehidupan selamanya di situ, kemungkinan orang tua saya mempunyai suatu tujuan bahwa itu sebagai batu loncatan saja, tinggal pertama di daerah itu. Tapi dalam kenyataannya sampai sekarang keluarga saya masih tinggal di situ.
GS : Nah apakah di tempat itu pula Pak James berkenalan dengan narkoba ?
RJ : Betul sekali Pak, kalau boleh saya mulai cerita tentang awal perkenalan saya dengan narkoba, diawali dengan perkenalan saya dengan rokok. Saya sudah berkenalan dengan rokok sejak berkisr kelas 4 SD Pak, kelas 4 SD saya waktu itu sudah mencoba rokok dengan teman-teman sekampung terutama di masa-masa libur sekolah, kami sering sekali pergi kesana kemari.
Ada satu hal lagi yang juga mendukung, daerah kami itu tidak sehat dan tidak baik secara jasmani dan rohani, daerah saya itu dekat sekali dengan pasar, terminal dan stasiun kereta api, yaitu di daerah Manggarai. Jadi seperti kita ketahui daerah-daerah seperti itu banyak premannya ya Pak, baik di terminalnya, di pasarnya maupun di stasiun Manggarai itu. Dan itu berimbas kepada kehidupan remaja penduduk di sekitarnya.
PG : Kalau saya boleh tahu lebih lanjut Pak James ya, apakah Pak James pada saat-saat bertumbuh itu juga mendapatkan arahan dan didikan dari orang tua tentang Tuhan Yesus dan sebagainya ?
RJ : Memang dari kecil saya mengikuti sekolah minggu di gereja HKBP tetapi mengenai orang tua saya, mereka berangkat kerja itu dari jam 07.00 pagi dan pulang paling cepat itu jam 06.00 sore adang sampai jam 09.00
malam; jadi saya di rumah di tinggal bersama pembantu dan kakak. Jadi waktu itu ada kakak sepupu saya dari daerah datang ke Jakarta, selama di Jakarta tinggal di tempat saya. Itulah yang membimbing saya, ya boleh dikatakan bukan membimbing tetapi mengawasi saja karena kalau kita bicara soal pembimbingan itu ya lebih mengarah kepada pendidikan, tetapi ini cuma sekadar mengawasi kebutuhan-kebutuhan saya saja, untuk makan saya dan saudara-saudara saya. Saya sendiri sekeluarga ada 8 anak Pak, saya no.7, jadi ketika saya remaja kakak saya yang besar sudah ada yang kuliah di Malang, sudah ada yang kuliah di luar jadi saya cuma tinggal 4 orang di rumah. Empat orang yang tua itu kakak saya yang no.4, no.5, no.6, no.7 dan no. 8.
PG : Setelah rokok, Pak James, apalagi yang Pak James akhirnya pakai?
RJ : Kelas 5 SD saya mulai minum-minuman keras, minuman keras yang pertama saya minum waktu itu TKW, di Jakarta suatu merk TKW itu minuman untuk kalangan kelas bawah. Dan kalau saya membandigkan dengan kehidupan yang sekarang untuk mendapatkan minuman keras, dahulu kala zaman saya kelas 5 SD itu sangat mudah sekali dibanding dengan sekarang, karena memang sekarang ini sudah beberapa kali, penertiban tentang minuman keras.
Tetapi dahulu itu tidak ada sama sekali. Saya minum setiap hari Jum'at, sekolah kami SD itu ada kegiatan pramuka, jadi hari itu kami tidak sekolah. Secara akademis pagi masuk sekolah upacara pembukaan setelah upacara pembukaan jam 07.00 habis itu siswa bebas mengadakan kegiatan pramuka apa saja setelah itu jam 11.00 kumpul lagi untuk mengadakan upacara penutupan. Nah jadi pada kegiatan hari Jum'at itu tidak ada kegiatan akademis, di situlah kami mempunyai banyak waktu luang untuk keluar dari sekolah sebelum upacara penutupan, jadi kami jalan-jalan ke mana di sekitar sekolah. Nah di situ banyak hal yang kami lakukan, mulai dari merokok, mengkonsumsi minuman keras, itulah awalnya Pak.
PG : Dan setelah itu apa lagi yang Pak James gunakan?
RJ : Setelah itu kelas 6 SD saya lulus dari SD, ketika itu yang terjadi kelas 1 sampai kelas 5 masih melaksanakan pendidikan atau masih belajar, kami kelas 6 sudah selesai EBTA. Jadi ada janka waktu sekitar 2 bulan dari jarak EBTA sampai saya masuk ke SMP, saya libur terlebih dahulu daripada kelas 1 sampai kelas 5.
Nah waktu yang panjang itu kami atau saya banyak bermain dengan anak-anak di sekeliling kampung saya; nah di situ banyak yang kami lakukan dari mulai mencuri, merokok di rumah, karena terus terang kenakalan saya ini banyak saya awali di luar lingkungan rumah, karena saya merasa lebih aman dan tidak ada yang tahu. Nah waktu SD lulus saya mulai mencuri-curi melakukannya di sekeliling rumah dan di situ saya mulai diperkenalkan dengan ganja atau mariyuana dan kala itu saya masih ingat sekali bahwa satu amplopnya bisa saya konsumsi dengan membelinya seharga Rp. 500,-. Seharga Rp. 500,- itu untuk pemula seperti kami bisa dapat 3 linting, 3 linting itu kalau kita pakai bisa bertiga, berdua itu sudah dijamin mabuk semua untuk pemula. Jadi untuk Rp. 500,- dulu itu saya bisa pakai 5 orang, 6 orang.
GS : Nah sebenarnya pengalaman apa yang hendak Pak James cari dengan minum-minuman keras, lalu ganja dan sebagainya itu?
RJ : Memang kalau saya mengingat masa kecil saya waktu di SD saya ingin menguasai saja, rasanya di dalam pergaulan sesama teman di SD itu saya ingin lebih menonjol, lebih segalanya. Tetapi ntuk di lingkungan rumah ada satu hal yang saya catat dalam kehidupan saya bahwa dahulu kala itu saya dari daerah Sumatera adalah suatu etnis yang jarang atau minoritas di dalam kampung saya, nah di dalam hal ini saya perlu sekutu di dalam posisi saya ini waktu masih anak-anak kalau ada perselisihan antar anak kampung dengan saya, saya selalu menjadi musuh dan saya nggak punya sekutu.
Nah di dalam hal ini saya memerlukan sekutu, jadi saya bergaul dengan anak-anak yang nakal dengan suatu harapan kalau saya berselisih dengan anak yang lain mereka akan membantu saya, karena pada saat itu saya etnis yang tidak mayoritas, jadi saya betul-betul mencari pegangan untuk bisa hidup bebas bergaul, tanpa diganggu oleh orang lain. Dan itu salahnya saya, saya tidak mencari itu semua kepada keluarga, karena secara umum keluarga saya sendiri juga etnis minoritas di situ di sekeliling kampung saya, jadi saya berpikir saya tidak bisa bergantung sama mereka.
PG : Jadi Pak James menggunakan obat sebagai tiket untuk masuk ke dalam kelompok yang bisa melindungi Pak James.
RJ : Maksud saya Pak, bahwa pertamanya saya hanya ingin mencari sekutu saja, mencari sekutu supaya melindungi saya di dalam lingkungan saya karena saya minoritas. Tetapi di dalam pergaulan sya mencari sekutu ternyata sekutu saya pengguna narkoba, jadi bukan narkoba itu sendiri untuk melindungi saya tapi fokusnya pertama sekutu saya itu untuk bisa melindungi saya tapi ternyata kelanjutan dari langkah saya itu berefek bahwa teman-teman saya itu ternyata anak-anak yang nakal dan itu memang saya pilih karena saya pikir merekalah yang bisa nanti mengatasi masalah-masalah saya dengan teman-teman sebaya lainnya.
GS : Nah, apakah Pak James setelah menemukan ganja, menghisap ganja lalu hanya berhenti sampai di situ atau masih meningkat Pak James ?
RJ : Terus terang untuk pertama kali saya menggunakan ganja, seperti saya katakan itu bukan karena faktor saya mau atau saya tahu menikmatinya. Tetapi setelah saya masuk di dalam sekutu saya ternyata mereka melakukan dan saya pun harus melakukannya.
Dan saya merasakan tahap pertama saya memakai tidak ada kenikmatan sedikitpun, yang ada adalah rasa takut. Takut diketahui hukum karena memang pada saat itu saya juga mendengar bahwa itu akan ditangkap polisi, takut diketahui keluarga, takut diketahui orang-orang yang bisa mengadu kepada keluarga saya. Jadi untuk pertama kali memakai, tidak ada kenikmatan dan sebetulnya secara hati nurani saya juga banyak ketakutan tetapi saya sudah katakan saya kecemplung/masuk dalam kelompok itu dan kelompok itu melakukan, jadi saya kebanyakan melakukannya hanya untuk toleransi kepada kelompok, bukan karena saya ingin pakai.
GS : Lama-lama bisa dinikmati, Pak James?
RJ : Memang pertama belum bisa menikmati, setelah memakai yang kedua kalinya rasa takut itu berkurang, pakai selanjutnya berkurang dan setelah kenyataannya saya makin tidak ditangkap polisi,saya terus memakai, keluarga saya tidak tahu, lama-lama rasa takutnya berkurang terus saya tidak berusaha menikmati tetapi rasa nikmat itu timbul sendiri.
Saya bisa berpikir, mengkhayal, saya bisa menangkap suatu kenikmatan, saya bisa berkhayal dari situ. Dan resikonya tidak ada, nah dari situ saya mulai menikmati tanpa resiko, saya bisa berkhayal. Ya terus terang sebelum kehidupan saya yang sekarang ini sebelum pertobatan, saya berkhayal itu suatu keindahan buat hidup saya dulu. Jadi di dalam setiap suasana kalau saya ingin merasakan indahnya hidup ini saya harus berkhayal, memakai terus berkhayal dan itu paling mudah dan paling menyenangkan.
GS : Apakah Pak James pernah mengkonsumsi misalnya mariyuana atau LSD ?
RJ : LSD sendiri saya belum pernah pakai, tetapi saya pernah memakai sejenis jamur yang dikenal "magic mushroom". Dan saya waktu itu memakainya dengan seorang rekan dari Amerika. Ketika itu ia mensharingkan dia pernah memakai lexit atau reaksi lexit seperti itu cuma masalahnya lexit itu lebih kuat dari magic mushroom tapi inilah lexit ini rasanya seperti ini.
Jadi saya pikir mungkin kandungannya sama dan itu bukan hanya satu teman saja, beberapa teman dari Perancis, Amerika, Inggris karena di Sumatra dulu tempat saya tinggal juga banyak sekali magic mushroom dan saya mengkonsumsinya bersama mereka dan mereka yang pernah memakai mensharingkan beginilah reaksinya penuh halusinasi.
GS : Apakah itu dilakukan tiap-tiap hari atau 2 hari sekali atau bagaimana Pak?
RJ : Ketika saya tinggal di Sumatra, saya lakukan dalam seminggu itu hampir setiap hari minimal 4 hari atau 5 hari. Sampai saya dipanggil Mr. Mushroom karena memang sangat murah sekali dan mdah untuk mendapatkannya.
PG : Pak James selain dari mushroom, mariyuana yang adalah ganja apakah ada obat-obat lain yang Pak James juga konsumsi ?
RJ : Tahap kedua setelah mariyuana atau ganja saya mengkonsumsi obat, obat-obat daftar G. Jadi bagi saya pribadi, narkoba itu ada kelas-kelasnya, kalau di kampung mereka tidak mengenal obat-bat daftar G.
Mereka hanya mengenal ganja dengan minuman keras. Karena waktu itu obat-obatan daftar G termasuk permainan anak-anak 'the haves', di atas permainan anak-anak di kampung seperti saya. Jadi setelah di sekolah saya berjumpa dengan anak-anak, siapa saja yang lingkungannya lebih dari lingkungan saya di situ saya mulai mengenal obat-obatan daftar G. Saya pertama kenal namanya BK kemudian meningkat kelas 2 sampai kelas 3 SMP mulai kenal mogadon dari rogert dan selanjutnya setelah lepas dari SMP mulai kenal dengan rohipnol, lexotan, valium, etalium.
PG : Dan akhirnya apakah Pak James pernah menggunakan sabu-sabu, ekstasi dan sebagainya?
RJ : Mengenai obat Pak saya rasa belum selesai. Di kala saya memakai obat, saya lebih berani di dalam kehidupan saya, nah segi enaknya itu kalau kita memerlukan suatu kenekatan kita cenderun untuk memakai obat.
Tapi kalau kita ingin slow, berkhayal, ingin enjoy saya cenderung memilih pakai mariyuana atau ganja. Tapi misalnya kalau saya harus ke rumah cewek atau saya harus menghadapi kakak saya yang mau marah, saya harus menghadapi orang tua saya karena saya baru saja melakukan dosa, nah untuk mengaturnya saya minum tidak terlalu banyak. Tetapi untuk menaikkan mental saya dalam persidangan saya di depan keluarga saya pakai obat, sebab kalau pakai minuman baunya ketahuan, memang reaksinya sama-sama berani cuma obat itu tidak bau dan saya rasa lebih berani, terus perasaan kita diatur sedemikian rupa sehingga kita bisa bicara lebih meyakinkan terhadap diri sendiri.
PG : Apa dampak negatif dari obat pada kehidupan Pak James?
RJ : Pertama 'lost control' Pak, itu sering terjadi di dalam kehidupan saya ketika saya memakai obat. Saya dulu sering memakai ganja, saya ingin variasi karena kalau memakai ganja terlalu slw, seperti lama-lama saya ini mati lemas.
Saya ingin suatu variasi yang baru yang lebih bergairah hidup ini. Nah saya janji dalam diri saya, satu minggu ini saya mau memakai obat dulu untuk selingan hidup supaya jangan terlalu loyo, saya beli 3 plek istilah kita itu 3 plek, isinya 10, itu untuk satu minggu saya minum 2 setiap hari. Tapi dalam kenyataannya 2 sekarang saya minum saya bisa kontrol dan semuanya indah bagi saya, saya berbicara juga lancar perasaan enak. Besoknya 2 masih bisa tapi besoknya lagi hari ke 3, ke 4, 2 tidak bisa saya harus meningkatkannya untuk mendapatkan perasaan seperti yang kemarin, saya mulai minum 3, hari ini 3 feeling saya yang kemarin itu ketemu saya masih bisa kontrol dan saya bisa berbicara dengan asyik dan semuanya tidak ada masalah. Tapi hari berikutnya saya minum 3 feeling yang kemarin kok tidak saya temukan sepertinya kurang saya tambah lagi 5, 6, obat itu sudah mau habis, janji saya ini 3 plek habis saya sudah stop saya mau balik ke ganja, mau slow lagi. Tapi barang itu sudah mau habis tinggal 5 butir lagi e.....sudah mulai cari lagi. Jadi saya sudah lepas kontrol dan dari situ saya sudah tidak bisa lagi berhenti minum obat, nanti sampai suatu saat ada masalah karena memang setiap kali saya minum obat pasti ada masalah. Nah suatu saat ada masalah yang menghentikan saya dan nanti terulang lagi setelah stop saya sudah bertekad tidak mau pakai, obat-obat ini membuat lost control lebih baik 'cimeng' atau ganja ini yang bisa slow-slow saja. Memakai ganja, ganja, ganja terus nanti saya akan suntuk lagi dan tekad saya yang dulu sudah saya lupakan lagi. Memang ketika saya baru terkena masalah karena obat terus saya bertekad mau pakai ganja saja yang lebih slow lebih tidak ada masalah dan kita bisa enjoy. Ketika saya melihat teman-teman pakai obat saya betul-betul merendahkan dia, wah....kamu belum kena batunya nanti kalau sudah kena batunya minum obat kamu baru jera. Tapi kenyataannya setelah saya suntuk karena terus memakai ganja sepertinya darah kita ini tidak pernah bergolak lagi saya akan mencoba lagi dengan tekad lebih keras lagi kalau kali ini saya akan kontrol. Tapi dalam faktanya pasti terjadi seperti yang sudah-sudah dan itu sudah beberapa kali dalam hidup saya.
GS : Nah akhirnya bagaimana Pak James bisa melepaskan diri atau bagaimana pengalaman Pak James lepas dari ikatan seperti itu?
RJ : Saya memakai obat ketika saya remaja, setelah dewasa saya meningkat menjadi bandar ganja besar-besaran karena saya dari Jakarta pernah ke danau Toba, hidup di danau Toba di dunia pariwiata dan mempunyai relasi sampai dengan petani-petani yang digunungnya itu.
Jadi ketika saya tertangkap di danau Toba akhirnya saya ke Bali. Di Bali tekad saya sebetulnya mau mencari pekerjaan yang lain, tidak bandar narkoba lagi karena trauma di pukul aparat, tapi kenyataannya setelah Tuhan memberi berkat kehidupan di Bali, ada uang masuk lancar dan saya terseret lagi. Karena memang di sekeliling saya juga orang pemakai narkoba. Di Bali saya memakai ekstasi, sejak di danau Toba saya memakai ekstasi sabu-sabu dan hases, jadi di Bali saya betul-betul kalau istilah kami preman, nama saya itu sudah bau istilahnya nama saya sudah tercium semua lapisan aparat. Karena di Bali sendiri yang beroperasi yang mengurusi anak-anak narkoba, anak-anak jalanan itu bukan cuma polisi saja, tentara juga turut campur menertibkan. Jadi di polisi, di tentara saya sudah dicium dan dari situ saya keluar dari Bali ke Jawa. Tapi di Jawa ini saya membawa barang juga dari Bali, nah di Jawa ini akhirnya saya pulang ke Jakarta, pulang ke Jakarta saya mengenal obat lagi lexotan 12 dan akhirnya saya kacau di Jakarta. Suatu saat saya ingin enjoy di Malang karena dulu saya pernah SMA di Malang, saya berpikir bahwa saya dulu di Malang bisa menguasai medan karena memang dulu Malang sekitar tahun '84 masih belum besar. Image saya tentang Malang masih seperti dulu, saya berpikir kalau saya jadi preman terjun di Malang saya bisa menguasai medan, saya tahu Malang, saya tahu orang-orang yang sudah kompeten di dunia preman di Malang. Saya datang ke Malang dengan tujuan untuk bisa hidup sebagai preman yang lebih mapan dan lebih berkecukupan karena saya berpikir saya bisa menguasai medan di Malang. Tapi kenyataannya saya tinggal di suatu rumah, rumah ini adalah rumah tetangga saya di Jakarta dan saudara saya yang mempunyai rumah ini adalah jemaat dari satu gereja yaitu Gereja Eleos Malang dan dia di situ sering mengikuti kebaktian komisi pemuda di gereja Eleos Malang. Pada suatu hari dia mengajak saya untuk kebaktian di gereja bersamanya dan pada dasarnya saya memang Kristen, dari kecil saya juga sudah kenal Tuhan Yesus di sekolah minggu dan kalau selama ini saya tidak pernah ke gereja bukan berarti saya anti gereja. Akhirnya saya ikut kebaktian, sebelum saya mengikuti kebaktian, seperti saya katakan saya pergi ke Malang karena saya ada masalah dengan keluarga. Di situ setelah saya memakai obat lexotan 12 berlebihan saya mempunyai masalah dan masalah itu sampai ke masalah orang tua saya. Dan kalau saya ingat pada saat di Malang saya mengingat sekali bahwa saya itu sudah begitu merugikan keluarga khususnya orang tua saya, karena pada saat itu orang tua saya tinggal ibu saja, bapak sudah tidak ada. Jadi memang kalau dikatakan bertobat, belum, tetapi saya tidak seganas waktu masih di Jakarta terakhir waktu minum obat, saya di Malang berusaha menata diri untuk hidup lebih baik setelah reaksi obat yang sekian lama saya pakai secara kontinu itu reaksinya sudah agak menurun. Di Malang saya berusaha mengintrospeksi khususnya saya fokuskan ke orang tua saya dan ke keluarga saya yang begitu sudah saya rugikan selama ini. Nah hal ini ditunjang lagi dengan teman saya mengajak ke gereja, nah di situ saya seperti di dunia asing Pak, saya melihat pemuda-pemuda umur 20-21 paling tua itu umur 25 mereka melayani Tuhan ada yang mengambil kolekte, ada yang introitus, ada yang liturgi, ada yang terima tamu, ini pengalaman saya pribadi masuk gereja. Saya sepertinya dirangkul itu ya dari pertamanya saya sudah ada respek terhadap kebaktian ini; kedua, karena respek itu terus saya jadi terkesan dengan apa yang mereka perbuat, saya jadi peduli dengan apa yang mereka perbuat, saya perhatikan semua jadinya. Pada saat itu saya diberi kesempatan untuk bersaksi dan saya begitu tergerak untuk berdiri dan bersaksi. Saya bersaksi di situ bahwa saya betul-betul merasa orang yang tidak ada artinya sama sekali, selama hidup saya belum pernah mempunyai arti, mereka yang begitu muda sudah menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya berpikir, mereka tidak mengenal kepuasan dalam hidup mereka, mereka masih muda tapi mereka sudah bertekad mau menyerahkan diri pada Tuhan. Sementara saya yang sudah puas yang sudah merasakan semuanya belum juga mau untuk hidup buat Tuhan, saya berpikir saya harus merubah diri saya, saya mau hidup saya lebih berarti khususnya buat Tuhan. Pertamanya memang bukan firman Tuhan dasarnya, hanya saya berpikir hidup saya ini buat apa ? Saya waktu itu belum mengenal firman Tuhan, hidup saya ini buat apa, terakhirnya buat apa hidup saya ini. Nah kemudian setelah kebaktian itu saya langsung datang ke hamba Tuhan yang membawakan firman, saya katakan, tolong saya, saya mau bertobat. Tapi di dalam kenyataannya sepanjang kehidupan saya berbuat dosa itu saya sering mau bertobat, sering mau bertobat dan bertobat itu paling lama 2 bulan, 1 bulan. Secara pelan-pelan, perlahan demi perlahan saya akan kembali ke dunia saya dan batasannya itu saya tidak tahu. Saya terseret secara perlahan-lahan itu akan kembali lagi, saya bertanya kepada hamba Tuhan itu, mengapa saya bisa begitu dan kali ini saya ingin bertobat tidak seperti yang sebelum-sebelumnya saya ingin bertobat, untuk betul-betul bertobat tidak bisa kembali lagi. Nah hamba Tuhan itu memberikan kepada saya Firman Tuhan yaitu tentang kembalinya roh jahat, di situ saya digambarkan kalau saya bertobat hanya untuk motivasinya untuk memperbaiki diri dengan sekeliling saya, untuk orang tua, untuk keluarga itu adalah bukan pertobatan yang sesungguhnya dan saya akan bisa kembali lagi, karena apa? Kalau saya betul-betul mau bertobat saya harus mengisi pertobatan saya dengan Firman Tuhan sehingga iblis tidak akan pernah kembali ke dalam diri saya dan itulah pertobatan, hanya boleh terjadi atas pertolongan Tuhan dan harus diisi setiap hari dengan Firman Tuhan.
GS : Tentu suatu pengalaman yang sangat menarik Pak James dan para pendengar kita pasti akan penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana Tuhan itu membebaskan Pak James. Dan tentunya kita mengharapkan Pak James bisa melanjutkan pembicaraan ini pada kesempatan yang akan datang. Dan kami tentu saja mengharapkan saudara-saudara pecinta acara Telaga ini bisa mengikuti terus acara Telaga pada kesempatan yang akan datang. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran dan pertanyaan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Narkoba menjadi sesuatu yang sangat menguasai seseorang, narkoba menjadi makna atau arti hidupnya dan di luar narkoba benar-benar tidak ada lagi kebahagiaan atau makna hidup yang dicarinya. Dan yang mengatur hidupnya bukan lagi Tuhan, bukan lagi hati nurani, bukan lagi hukum dari Tuhan, tapi kehendak pribadi.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan tentang bahaya narkoba dan untuk itu telah hadir di studio bersama kami Bp. Rudi James Simanjuntak yang pada kesempatan yang lalu sudah menguraikan tentang pengalamannya bagaimana Tuhan membebaskan dia dari kuasa pengaruh narkoba ini. Perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang lalu dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak James, kami senang bisa melanjutkan perbincangan kita beberapa waktu yang lalu tentang bagaimana Tuhan membebaskan Pak James; tetapi supaya para pendengar kita yang baru kali ini mengikuti perbincangan ini bisa memahami latar belakang Pak James. Apakah Pak James secara singkat bisa menjelaskan kembali bagaimana Pak James bisa dibelenggu oleh kuasa narkoba itu.
RJ : Terima kasih Pak, seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya sebetulnya saya terbelenggu itu oleh karena saya memilih suatu kelompok anak-anak nakal untuk menjadi teman saya. Latar belakan saya memilih mereka karena saya perlu rasa aman di dalam saya bergaul dengan sesama sebaya saya, tetapi kelanjutan daripada itu setelah saya terjerumus di dalam kehidupan anak-anak nakal dan mencoba dengan memakai alat-alat narkoba atau mengkonsumsi narkoba.
Perkembangan selanjutnya bahwa saya mempunyai pemikiran yang sangat salah pada saat itu, bahwa saya punya persepsi kalau saya sudah memakai narkoba saya ini mempunyai kelebihan di antara teman-teman sebaya saya. Saya mungkin hidup saya lebih modern atau saya mungkin lebih "go international" dengan saya memakai narkoba. Ketika saya masih SMP saya mempunyai idola seperti Mike Jagger dan Genesis group-group band dari luar itu juga mempengaruhi saya bagaimana saya bisa sampai terjun untuk mengkonsumsi narkoba. Saya waktu itu berpersepsi bahwa kalau saya memakai narkoba saya itu sudah lebih dari teman-teman saya dan saya bisa menyombongkan diri dengan semua itu tapi sesungguhnya setelah saya menyadari sekarang, bahwa itu adalah suatu pikiran yang semu atau kebahagiaan yang semu atau kepuasan yang semu yang pada saat itu saya cari atau saya capai.
PG : Pak James menceritakan bahwa Pak James sudah memakai berjenis-jenis obat ya misalnya seperti mariyuana atau ganja juga bermacam-macam pil seperti BK dan sebagainya, memakai hases, memakai abu-sabu tapi dalam kehidupan Pak James yang dikuasai oleh narkoba itu selama bertahun-tahun memakai berjenis-jenis obat akhirnya Pak James bisa lepas.
Sesuatu yang secara manusiawi itu hampir mustahil, karena begitu sedikit orang yang berhasil lepas, banyak yang mencoba, banyak yang ingin lepas tetapi tidak bisa melepaskan diri. Pak James bisa tolong ceritakan pergumulan Pak James akhirnya bisa sungguh-sungguh lepas dari kuasa narkoba ini.
RJ : Betul sekali ya Pak, di kala saya masih menggunakan narkoba itu saya bukan tidak pernah berpikir untuk melepaskan diri. Kadang-kadang di saat saya tidak bisa tidur atau di saat saya jemu dngan kehidupan saya yang memang kotor, saya berpikir untuk bisa melepaskan diri dari semuanya ini.
Tetapi saya sendiri tidak bisa menemukan jalan cuma sebatas keinginan, kerinduan untuk bisa hidup normal seperti manusia-manusia lain. Karena pada saat itu saya sungguh-sungguh merasa hidup saya itu tidak normal lagi dan tidak layak seperti manusia-manusia biasanya. Dan saya merindukan untuk bisa hidup normal kembali tidak terikat dengan narkoba, tidak diperbudak narkoba dengan segala sesuatu kehidupan saya orientednya itu hanya pada narkoba. Baik itu materi hanya saya arahkan untuk narkoba, baik itu waktu saya, baik itu keinginan saya semua saya arahkan hanya untuk narkoba. Nah saya sesungguhnya ingin lepas dari semua itu karena walaupun bagaimana saya manusia pernah juga walaupun saya mengkonsumsi narkoba setiap hari saya pernah juga sadar, yang paling sering itu waktu bangun tidur. Ketika saya bangun tidur di situ kesuntukan menghinggapi saya, sebagai seorang yang diperbudak narkoba, yang diperbudak dengan kehidupan yang tidak teratur dan kacau ada kerinduan untuk hidup normal apalagi kalau kita melihat atau berhubungan dengan orang-orang lain yang mempunyai kehidupan lebih teratur. Seperti misalnya kalau kita melihat di TV ada orang-orang berhasil, atau di sekolah kita atau di lingkungan kita ada orang-orang yang berhasil atau keluarga teman kita kalau kita melihat hidup mereka normal. Di situ terselip walaupun cuma sedikit, kehidupan saya ini hancur sekali saya ingin normal kembali tapi jalannya saya tidak tahu bagaimana caranya. Dan selalu menjadi pertanyaan saya apakah saya bisa tidak memakai ganja? Apakah saya bisa hidup jujur, apakah saya bisa hidup teratur, itu selalu menghantui saya sampai suatu saat seperti yang sudah saya uraikan di depan pertemuan kita yang lalu. Bahwa saya ditangkap Tuhan di gereja setelah saya diberi contoh oleh Tuhan bagaimana sebagai manusia harus mengabdi kepada Tuhan dan melayani sesamanya atau beribadah kepada Tuhan. Di situ hati saya betul-betul tersentuh sampai saya menghampiri hamba Tuhan untuk minta pertolongan bagaimana supaya saya betul-betul, sungguh-sungguh bertobat dalam arti yang sesungguhnya. Dan akhirnya hamba Tuhan itu memberikan saya Firman Tuhan dan menerangkan Firman Tuhan itu secara gamblang bahwa pertobatan itu tidak boleh hanya di muka saja, tetapi pertobatan harus diikuti dengan pembacaan Firman Tuhan, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan melalui mengikuti Firman Tuhan. Dan dari situ pertobatan, di situ diberi suatu ayat di mana iblis yang sudah meninggalkan kita, yang sudah meninggalkan hati kita, ketika kita sudah commit mau bertobat tetapi ketika melihat lagi di dalam hati kita kosong tidak ada Yesus Kristusnya dan dia akan memanggil 7 iblis lagi untuk tinggal di dalam hati kita dan kita akan lebih jahat. Dan kesimpulan yang saya tangkap kalau saya mau bertobat saya harus betul-betul selamanya tidak boleh meninggalkan Tuhan, supaya iblis tidak bisa merenggut saya lagi. Dan kemudian dari situ saya bukannya langsung percaya atau langsung kuat iman saya, tapi tetap saya berpikir, saya meragukan apakah saya bisa seperti itu, bagaimana caranya saya bisa meninggalkan rokok, narkoba, minum-minuman keras dan kehidupan dunia lain yang tidak berkenan dengan Firman Tuhan, saya di situ masih ragu dan saya kembali konseling dengan hamba Tuhan itu saya pikir itu hanya idealisme bagi diri saya, saya tidak bisa melakukannya. Dan kembali hamba Tuhan itu memberikan Firman Tuhan kepada saya tentang bagaimana Tuhan memandang saya, Tuhan tidak memandang saya sebagai seseorang yang sudah kena narkoba. Tuhan tidak memandang saya sebagai orang yang sudah begitu kotor, sekotor-kotornya saya tapi Tuhan memandang saya sebagai hal yang berharga di mataNya dan Tuhan ingin saya kembali hidup sesuai dengan kehendakNya. Tuhan ingin mengangkat saya dari dosa yang sudah membelenggu saya sekian lama dan saya sendiri tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri. Hanya Tuhan yang bisa menolong, tidak ada lain, tidak dirimu, tidak lingkunganmu, tidak keluargamu, tidak orang tuamu, hanya Tuhan. Dan hamba Tuhan itu mengingatkan saya tentang Firman Tuhan itu. Tuhan juga menuntun saya, pada suatu hari ke suatu Sekolah Theologia di mana dalam acara ulang tahun gereja ada kegiatan pemuda melaksanakan olah raga dan olah raga itu dilaksanakan di suatu Sekolah Theologia, kita meminjam lapangan untuk acara-acara pemuda melaksanakan perlombaan dalam rangka ulang tahun gereja dan saya ikut di dalamnya. Kemudian dari situ Tuhan membuka hati saya, membuka jalan bagi saya bagaimana supaya saya sungguh-sungguh hidup setiap hari dengan Firman Tuhan, mengisi hidup saya dengan Firman Tuhan, mengisi hidup saya dengan melayani Tuhan, mengisi hidup saya setiap hari untuk berhubungan dengan Tuhan, bagaimana caranya saya bisa hidup sedemikian rupa dan saya berpikir ini Tuhan tunjukkan jalan bagi saya, dan dalam hati saya, saya bertekad saya ingin lebih mempertajam diri saya tentang Firman Tuhan, supaya saya boleh hidup melakukannya dan minta pertolongan dengan jalan saya dekat hidup dengan Tuhan. Dan pada saat itu saya pikir saya pribadi menganggap bahwa itu mungkin jalan Tuhan bagi saya.
GS : Nah, Pak James apakah Pak James serta merta atau seketika itu juga meninggalkan semua kebiasaan menggunakan narkoba itu?
RJ : Setelah saya mengikuti kegiatan gereja saya sudah melepas semua narkoba tetapi saya masih merokok. Tetapi satu hal yang menjadi ganjalan saya, sebelum saya bertobat saya membawa banyak ala-alat narkoba yaitu jenis obat lexotan 12 dan sejumlah ganja dan saya waktu itu mendropnya ke salah seorang teman saya di Sekolah Tinggi di Malang di Universitas Swasta di Malang dan dia harus setor ke saya.
Jadi ketika saya sudah bertobat setorannya itu belum lunas, jadi itu yang masih menjadi batu sandungan bagi saya bahwa memang saya sudah tidak menggunakan, tetapi saya masih punya barang itu. Dan dia mempunyai kewajiban untuk setor sejumlah uang kepada saya karena itu barang saya, dia mengedarkannya bagi saya. Tetapi kemudian setelah mengikuti acara di gereja itu, di Sekolah Tinggi Theologia dari situ saya tidak pernah menagih dia, dan dalam jangka waktu seminggu bisa berjumpa dua kali, tiga kali dia datang ke tempat saya tinggal, saya tidak pernah menagih lagi dan sampai sekarang juga saya tidak pernah menagih lagi dan barang itu juga tidak saya minta lagi. Jadi masih tinggal rokok saja waktu itu, merokok kemudian setelah saya bertekad saya mau melayani Tuhan, untuk itu saya harus membekali diri dan saya mau masuk ke Sekolah Tinggi Theologia dan saya memilih STT Salem, kebetulan memang Tuhan menunjukkan jalan ke situ. Setelah saya mengisi formulir, mengisi formulir tentang masuk STT Salem; di dalam formulir itu ada beberapa perjanjian dan terakhir dari perjanjian itu dikatakan bahwa semua perjanjian yang Anda lakukan di atas bukan perjanjian manusia dengan manusia, tetapi dengan Tuhan. Jadi setelah saya mengisi formulir itu saya melepaskan semua rokok, saya melepaskan semua yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan di situ baru total semuanya tidak dilakukan, rokok, narkoba tidak lagi.
GS : Setelah lepas dari semua itu apakah Pak James juga merasa gelisah atau lemas atau apa?
RJ : Ya inilah yang akan saya saksikan yang sebetulnya yang terutama sekali, ini beberapa kali saya saksikan di gereja maupun di perkumpulan-perkumpulan camp bahwa bagaimana saya bisa lepas, bgaimana karya Tuhan kepada saya.
Secara logika secara medis, sekian puluh tahun saya memakai narkoba dan selama ini kalau ada istilah barang putus kita tidak bisa dapat barang mungkin karena bandarnya yang digerebek polisi atau mungkin supply barang itu tidak ada atau mungkin juga uang kita yang tidak ada. Dalam kondisi barang putus kita tidak bisa untuk tidak memakai barang dalam jangka waktu 2 hari atau 1 hari saja, itu hidup akan kacau, saya tidak bisa berdamai dengan siapapun dan saya akan hidup meletup-letup dan saya tidak bisa mengerjakan apapun juga di dalam kehidupan saya. Dan saya hanya berpikir bagaimana untuk bisa menenangkan diri saya untuk menjangkau narkoba dan mengkonsumsinya. Tetapi secara nyata saya tidak terasa, setelah saya menjalani kehidupan di STT Salem saya merenungkan dan saya membandingkan bagaimana reaksi anak-anak yang kena putauw, yang lagi sakau, yang lagi stres, yang menjerit-jerit, yang memukul orang, yang biarpun tidak ada masalah asal orang berbunyi suara apapun langsung pukul itu reaksi semua yang dulu saya pernah lakukan dan saya pernah rasakan. Dan tidak bisa mengerjakan apapun, sekalipun hanya mencuci piring atau menyapu lantai ukuran 3x4, 4x4 itu tidak akan bisa saya lakukan. Tapi setelah saya membaca Firman Tuhan, mengikuti pelajaran-pelajaran tentang Firman Tuhan, mendekatkan diri dengan Tuhan, saat teduh setiap pagi, saya benar-benar merasakan inilah karya Tuhan kepada saya, saya tidak merasakan seperti yang dulu lagi, saya tidak sakau. Kalau saya melihat TV ada acara tentang sakau, tentang apa di koran tentang orang-orang narkoba yang sakau, yang paranoid atau apa itu semua sudah tidak ada lagi pada saya.
PG : Itu sebabnya Pak James selalu menekankan kuasa Tuhan, ya Pak James?
RJ : Ya dan itu memang nyata, nyata sekali saya juga sudah konsultasi dengan beberapa orang yang berkompeten seperti tenaga-tenaga medis itu bagaimana Pak tentang saya dan mereka juga jarang bia menerangkannya.
Karena memang reaksinya sebetulnya minimal itu di dalam emosional kita ada, tetapi dalam hidup saya, saya tidak pernah merasakan itu. Memang sebelum saya bertobat, seperti yang saya terangkan tadi saya pernah juga tidak memakai obat tapi reaksinya seperti yang saya terangkan itu, saya akan meletup-letup, saya akan memukul orang sembarangan, hidup saya akan kacau dan tidak bisa mengerjakan apa-apa. Dan fokus hidup saya hanya untuk satu masalah bagaimana saya bisa dapat, bagaimana caranya saya bisa menikmati.
PG : Mungkin saja Pak James di antara yang mendengarkan kita sekarang ini adalah orang yang sedang bergumul dengan narkoba. Orang yang seperti Pak James dulu, yakni ingin lepas tapi tak bisa lepas, tidak tahu jalan keluarnya apa nasihat Pak James bagi mereka?
RJ : Ya seperti saya katakan tadi bahwa saya juga mengalami seperti yang Pak Paul katakan tidak tahu jalan keluarnya, memang kita ini manusia selalu cenderung mengikuti keinginan kita. Saya tidk tahu jalan keluarnya bagaimana sampai Tuhan sendiri menunjukkan kepada kita.
Saya sudah mengatakan hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Jadi dengan perkataan saya, hanya Tuhan yang bisa menolong kita, kalau memang saudara-saudara yang kebetulan memang masih terbelenggu, saya pikir memang tidak ada jalan selain ke Tuhan. Mari kita menghadap kepada Tuhan, kita berdoa dengan sungguh-sungguh, kita mencari kehendakNya melalui FirmanNya karena Tuhan selalu menunjukkan jalanNya kepada kita melalui FirmanNya itu saya yakinkan dalam diri saya, saya aminkan. Saya selama ini berhubungan dengan Tuhan selain dengan doa, saya selalu membaca Firman Tuhan dari situ saya tahu kehendak Tuhan, apa yang Tuhan mau kita lakukan. Nah di sini juga kalau saudara-saudaraku yang masih terbelenggu di dalam belenggu narkoba, kalau saudara-saudara betul-betul sungguh-sungguh mempunyai kerinduan untuk dibebaskan dan untuk hidup normal, untuk hidup berguna bagi Tuhan, bagi bangsa dan bagi sekeliling saudara-saudara, saudara boleh memulainya dengan berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati menyerahkan diri dengan segala kerendahan hati dan saudara harus komitmen di dalam diri saudara, saudara mau menuruti apa yang Tuhan perintahkan bagi saudara, saudara boleh membuka Kitab Suci, saudara boleh mencari kehendak Tuhan apa yang Tuhan mau saudara lakukan di dalam hidup saudara selanjutnya.
GS : Saya rasa himbauan atau seruan yang disampaikan oleh Pak James ini sangat-sangat penting Pak Paul, karena saya percaya banyak orang yang terbelenggu seperti itu, nah Pak Paul masalahnya adalah bagaimana dampak yang diakibatkan oleh narkoba itu dalam diri seseorang untuk jangka panjang?
PG : Saya melihat dampaknya mempunyai beberapa dimensi. Yang pertama adalah narkoba akan menguasai jiwanya, sehingga dalam diri orang tersebut tidak ada lagi hal yang penting selain narkoba. Tuuan hidupnya hanyalah satu yakni memperoleh narkoba, narkoba menjadi jawaban hidupnya, problemnya.
Narkoba menjadi makna atau arti hidupnya dan di luar narkoba benar-benar tidak ada lagi kebahagiaan atau makna hidup yang dicarinya. Sampai sebegitu besarnya kuasa narkoba dalam jiwa seseorang. Ini berarti kalau dia mempunyai keluarga, keluarganya tidak akan lagi menempati posisi yang penting dalam kehidupannya. Kalau dia mempunyai anak, anak itu tidak akan menjadi orang yang disayangi atau penting bagi dirinya, semua adalah nomor 2, narkoba adalah nomor 1. Yang berikutnya secara sosial dia akan bergaul dengan orang, tapi dia akan sulit sekali mengembangkan suatu persahabatan yang dalam, yang tulus, yang sehat dengan orang lain. Persahabatan-persahabatan yang dijalinnya merupakan persahabatan dalam rangka memperoleh narkoba supaya supply narkoba tetap bisa terjamin dalam kehidupannya. Sehingga persahabatan itu tidak lagi di dapatinya, yang ada adalah suatu korporasi suatu usaha bersama untuk saling mensupply kebutuhan akan narkoba tersebut. Secara fisik, otak kita yang dimasuki oleh obat, tubuh kita yang dimasuki oleh obat dan obat-obat itu sendiripun bukanlah obat yang murni. Memang beberapa jenis obat yang kita tadi sudah dengarkan berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya seperti ganja ya adalah dari tumbuhan kanabis, seperti hases itu juga dari tumbuhan, seperti kokain juga dari tumbuhan, memang itu sebagian adalah tumbuh-tumbuhan. Obat-obatan, tranquilizer yang digunakan juga merupakan obat-obat yang berasal dari unsur-unsur kimia. Tapi dalam penggunaan obat yang kita tahu digunakan oleh para pemakai narkoba sebetulnya obat-obat tersebut sudah tercampur dengan unsur-unsur yang kita tidak tahu lagi apa isinya, bisa-bisa itu adalah unsur-unsur yang kotor yang sudah tercemar, yang tidak lagi steril dan itu semua memasuki tubuh seseorang, merusakkan sistem tubuhnya, mempengaruhi senyawa kimiawi di otaknya, itu sebabnya kadangkala muncullah reaksi-reaksi yang benar-benar menakutkan. Misalnya sebagai pengguna sabu-sabu yang begitu parah, seseorang bisa membayangkan, berhalusinasi, melihat hal-hal yang tidak dilihat, merasakan ancaman yang besar terhadap dirinya, dia harus membela dirinya dengan senjata tajam dan sebagainya supaya bayangan akan ancaman tersebut bisa hilang. Jadi benar-benar dia menjadi seseorang yang tidak lagi sehat secara tubuh, secara jasmani karena obat-obat tersebut sudah merusak tubuhnya. Dan secara keuangan, narkoba itu akan menguras keuangan seseorang, memang awalnya memakai yang murah-murah, tetapi seperti Pak James sudah tekankan lama-kelamaan terbentuklah yang disebut toleransi. Artinya sedikit tidak cukup harus lebih, dan harus lebih lagi dan harus lebih lagi guna mendapatkan efek yang pertama-tama diperolehnya. Dan itu berarti kwantitasnya bertambah, kwalitas juga harus bertambah, dari jenis yang ringan ke jenis-jenis yang lebih berat dan akhirnya uang harus lebih banyak dikeluarkan, itu sebabnya para pengguna narkoba akhirnya suka terjebak dalam pembelian dan penjualan narkoba. Supaya bisa mengongkosi kebiasaan memakai narkoba itu sendiri dan akhirnya makin meracuni lebih banyak orang, Karena mereka harus mencari pangsa yang lebih luas lagi karena masing-masing itu perlu pangsa untuk mengongkosi kebiasaan memakai obatnya. Pangsa diperluas berarti lebih banyak saudara kita, teman kita, sahabat kita yang akan juga dirasuk oleh narkoba karena akan lebih banyak orang yang ingin memasarkan narkoba-narkoba ini. Jadi memang dampaknya begitu luas sekali. Dan yang terakhir adalah dampak secara rohani, tidak ada lagi keinginan mau dekat dengan Tuhan, karena tahu ini salah Tuhan tidak menyetujui perbuatan ini, nah akhirnya makin jauh dari Tuhan dan waktu orang makin jauh dari Tuhan, dia makin dekat dengan yang kita sebut hasrat atau nafsu. Dengan perkataan lain yang mengatur hidupnya bukan lagi Tuhan, bukan lagi hati nurani, bukan lagi hukum dari Tuhan, tapi kehendak pribadi. Apa yang diri sendiri pikirkan baik itu yang akan dia lakukan, jadi benar-benar kita melihat begitu besar dampak narkoba yang bisa ditimbulkan.
GS : Nah, Pak Paul daripada seseorang itu terlanjur dikuasai oleh narkoba, apa yang Pak Paul ingin sampaikan kepada para pendengar kita yang belum, artinya keinginan untuk coba-coba itu ada, Pak Paul?
PG : Saya harus kembali ke pokok yang pertama yaitu pokok keluarga, Pak Gunawan. Sebagaimana telah disaksikan oleh saudara kita, Pak James, ternyata memang dalam keluarga yang tidak memberikan erhatian dan pengawasan yang cukup kepada anak, anak-anak lebih berpeluang untuk akhirnya melakukan eksperimentasi dengan narkoba.
Dalam keluarga yang lebih dekat memberikan perhatian yang lebih penuh terhadap anak-anak, pengawasan akan lebih terjamin sehingga perilaku yang akhirnya menyimpang tersebut bisa lebih dideteksi lebih awal, itu yang pertama. Yang kedua adalah keluarga yang erat yang penuh kasih sayang akan lebih menanamkan penghargaan diri yang sehat pada anak sehingga dia tidak perlu merasa tidak aman, dia tidak perlu merasa harus lari kepada orang lain guna mencari keamanan, dia bisa kembali kepada keluarga sendiri, kepada orang tua mendapatkan keamanan tersebut jadi itu faktor yang berikutnya. Selanjutnya adalah anak-anak memang pada masa remaja terutama menginginkan lingkungan yang bisa menerimanya, nah di sini orang tua penting sekali memberikan pengawasan yang ketat dengan siapakah anak-anaknya bergaul, jangan sampai si anak bergaul dengan orang-orang yang salah. Kalau mulai bergaul dengan orang-orang yang salah dan orang tua tahu, orang tua bisa langsung mencegahnya. Nah si anak perlu diberitahu kenapa teman yang seperti ini jangan menjadi temannya, bahayanya apa itu harus dijelaskan dan diberikan pengawasan. Dari kesaksian Pak James kita juga bisa ketahui bahwa dalam pertumbuhan Pak James memang Pak James hidup dalam lingkungan yang keras. Nah, bagaimanakah bisa keluar dari lingkungan yang keras itu, tidak bisa tidak memang Pak James harus misalkan waktu ke gereja terlibat dalam pelayanan di gereja, harus terlibat dalam lingkungan yang lain, tidak bisa kembali pada lingkungan yang sama. Pergaulan itu harus di luar dari lingkungan hidup yang keras dan memang penuh penyimpangan tersebut. Dengan cara itulah Pak James bisa atau kita semuanya bisa membangun kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita di dalam lingkungan itu. Nah mudah-mudahan dengan lingkungan yang baru, yang lebih sehat itulah kita bisa lebih membangun diri yang positif. Nah, kalau misalkan sudah terlibat sudah akhirnya susah melepaskan diri, langkah yang tadi sudah dikatakan Pak James adalah harus mengambil suatu sikap, meskipun sudah pernah gagal, meskipun sudah pernah bertobat tetapi kemudian jatuh kembali, jangan putus asa. Pak James bersaksi Pak James pernah berkali-kali bertobat minta ampun kepada Tuhan mau berubah, tapi kembali lagi, kembali lagi. Mungkin sekali belum cukup, mungkin dua kali belum cukup tapi bisa jadi yang ke tiga kali sudah cukup dan akan bertobat, jadi jangan putus asa terus kembali kepada Tuhan meminta pengampunan dan kekuatanNya.
GS : Tadi kita mendengar langsung dari Pak James bagaimana kuasa Firman Tuhan mengubah kehidupan seseorang, nah tentunya hal yang sama itu juga yang dibutuhkan oleh para pendengar kita, mungkin Pak Paul mau menyampaikan sesuatu dari Firman Tuhan.
PG : Kehidupan Pak James dan kehidupan orang yang telah dibelenggu oleh dosa narkoba ataupun dosa yang lainnya dapat diibaratkan Lazarus; Lazarus yang sudah mati, sudah dikuburkan, tetapi Yesusmempunyai kuasa yang bisa membangkitkan orang yang mati.
Dan di sini dikatakan oleh Firman Tuhan "Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." Bagi para pengguna narkoba mungkin menganggap diri mereka sudah mati, tetapi Yesus berkata: Akulah kebangkitan dan hidup, dia akan hidup walaupun sudah mati, ini pengharapan kita dan pengharapan kita pada Tuhan Yesus tidak sia-sia.
GS : Terima kasih, Pak Paul. Jadi demikian tadi saudara-saudara pendengar kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan Bp. Rudi J. Simanjuntak dari STT Salem dan Bp. Pdt. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami telah berbincang-bincang tentang bahaya narkoba. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.