Esther Tjahja, S.Psi. & Pdt.Dr. Netty Lintang
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Esther Tjahja, S.Psi. & Pdt.Dr. Netty Lintang
Abstrak:
Kehidupan lajang adalah bagian hidup yang Tuhan berikan, porsi yang Tuhan telah tetapkan, yang di dalamnya mempunyai minus dan plusnya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Kehidupan lajang dari perspektif wanita. Hadir bersama kami pada saat ini Ibu Esther Tjahja Sarjana Psikologi dari Universitas Gajah Mada, yang kini sebagai staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang dan juga hadir bersama kami Ibu Pdt. Dr. Netty Lintang seorang gembala sidang Santapan Rohani Indonesia dan juga dosen STT Iman Jakarta. Kami percaya acara kali ini yang berjudul kehidupan lajang dari prespektif wanita akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) PG : Selamat datang kepada Ibu Esther dan Ibu Netty dan memang sekarang ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan mengenai wanita lajang. Saya tidak tahu bagaimana kesan atau anggapan para ibu, tapi waktu saya misalkan ke kota di pulau Jawa maupun di pulau-pulau lain, mengunjungi gereja-gereja saya cukup prihatin melihat banyaknya wanita yang lajang terutama di gereja.
Hal-hal ini saya kira adalah hal yang perlu diperhatikan oleh gereja, sebab bagaimanapun mereka adalah bagian dari gereja yang mempunyai kebutuhan tersendiri pula. Nah, mungkin pada hari ini kita bisa membicarakan topik ini dengan lebih tuntas. Yang pertama yang saya ingin tanyakan kepada Ibu Netty maupun Ibu Esther adalah kira-kira apa alasannya wanita itu hidup lajang?
NL : Ya ada sebagian karena mereka tidak mendapatkan jodoh yang cocok, tidak sesuai dengan selera mereka, standar level yang mereka sudah tentukan. Ada juga karena kekurangan pria terutama yng berkerohanian baik, karena pada umumnya wanita menginginkan seperti Alkitab mengajarkan, sang suamilah, prialah yang menjadi kepala rumah tangga yang memimpin, sebagai imam di dalam rumah tangga.
Jadi mereka menginginkan sekali apabila mereka menikah, mereka mendapat seorang pria yang sungguh-sungguh bisa memimpin mereka di dalam hal kerohanian.
GS : Ibu Esther mungkin?
ET : Kalau saya lihat mungkin di kota-kota besar belakangan ini kebanyakan kaum wanita sudah berpendidikan lebih tinggi, merasa sudah sekolah berkeinginan untuk diterapkan di bidang pekerjaan. Sehingga kadang-kadang memang tidak sedikit juga ada beberapa rekan saya yang begitu mementingkan karier, pekerjaan sampai akhirnya mungkin lupa sudah lewat usia tertentu baru menyadari dia sudah terlambat untuk menikah. Tapi kalau saya mau lihat lebih jauh lagi tidak menutup kemungkinan juga kalau memang ada orang yang memang merasa terpanggil, panggilan Tuhan secara spesifik dalam kehidupannya itu untuk melajang, walaupun rasanya sedikit, kadang-kadang bisa menjadi kabur ya. Karena memang ada juga wanita yang mungkin punya pengalaman pahit, sampai usia sudah cukup matang hubungannya harus berakhir dan kurang enak, akhirnya memutuskan untuk tidak menikah. Nah, jadi kadang-kadang itu bisa menjadi sebuah keputusan karena pengalaman yang tidak enak, tapi mungkin juga karena memang panggilan Tuhan secara khusus buat wanita-wanita tertentu.
GS : Tapi yang saya tahu, Ibu Esther, juga karena kakaknya yang paling tua belum menikah, lalu adik-adiknya ini tidak berani mendahului kakaknya. Pada usia si kakak ini tambah lanjut terus, nah si adik ini juga tambah lanjut terus, nah ini pengaruh apa ya?
ET : Saya rasa memang budaya, budaya yang begitu kental. Memang ada beberapa teman-teman yang saya kenal juga begitu, sudah berpacaran sampai sekian tahun, tetapi akhirnya harus berakhir begtu saja karena sang pria tidak sabar menunggu dia karena setiap kali diajak menikah saya harus tunggu kakak dulu, ada yang belum menikah dan memang secara budaya dilarang, tabu untuk melangkahi kakaknya.
(2 ) PG : Menurut Bu Netty dan Bu Esther, sebenarnya wanita itu merencanakan apa tidak untuk tidak menikah atau untuk hidup lajang?
NL : Kalau saya rasa yang memutuskan untuk hidup berlajang saya tidak berani bilang tidak ada, cuma tidak terlalu banyak. Pada umumnya wanita ingin menikah untuk mempunyai satu keluarga, memina keluarga yang manis, yang baik saya kira pada umumnya begitu.
GS : Ada juga faktor karena orang tuanya mungkin tinggal sendiri karena pasangannya sudah meninggal. Lalu si anak tidak berani memutuskan untuk menikah, bahkan ibunya ini yang saya tahu itu agak berusaha menghalang-halangi si anak untuk menikah, karena si ibu akan merasa kehilangan.
NL : Ya ada juga sih, tapi cuma sebagian. Ada sebagian orang tua justru menginginkan supaya anaknya bisa menikah, mendapat menantu seorang pria untuk menjaga, melindungi. Bahkan ada yang menajukan dengan satu syarat bahwa kalau mau menikah dengan anak saya kamu harus masuk rumah, tidak boleh dibawa.
PG : Kalau ada orang berkata begini, Bu Netty dan Ibu Esther, bahwa karier itu adalah musuh dari kawin, bagaimana setuju atau tidak?
ET : Tidak selalu ya, walaupun ada memang seseorang yang mungkin karena tuntutan tanggung jawab juga bisa, maksudnya karena adik-adiknya masih kecil, jadi harus dibiayai sekolahnya, orang tu sudah meninggal.
Itu karena merasa lebih bertanggung jawab akhirnya bekerja terus mementingkan kariernya sampai akhirnya memang lupa, jadi memang bermusuhan dengan kawin itu sendiri. Tetapi kalau mau diakui secara jujur saya yakin pasti keinginan yang seperti Ibu Netty katakan itu ada, walaupun dia berkarier sedemikian rupa, keinginan untuk membangun sebuah rumah tangga pasti ada di dalam hatinya.
PG : Kalau Bu Netty bagaimana sebagai hamba Tuhan?
NL : Karier saya pikir di satu sisi mungkin dikatakan "musuh dari pernikahan" ya, cuma pasti kita lihat juga karier apa. Misalnya kalau karier-karier yang biasa-biasa saja mungkin tidak terllu, tapi kalau makin seorang wanita mempunyai karier yang tinggi misalnya sudah naik sampai ke pimpinan, nah itu menurut saya semakin susah.
PG : Saya melihat, Ibu Netty dan Ibu Esther, bahwa karier kalau melekat pada wanita seringkali menjadi sesuatu yang tidak terlalu pas atau nyaman. Tidak se-pas dan senyaman kalau kita kataka pria itu berkarier, maksud saya begini, pria tidak pernah ada masalah yang kalau dia mempunyai karier yang tinggi dan sebagainya.
Tapi saya kira wanita menghadapi karier dengan suatu perasaan yang sedikit 'ambivalen', perasaan yang sedikit tidak tahu pasti maju atau mundur. Tadi yang Ibu katakan waktu dia menanjak dalam kariernya, seolah-olah dia mungkin makin menjadi jauh dari kemungkinan dijangkau oleh pria. Atau misalkan dia akhirnya menikah, kariernya juga seringkali menjadi sesuatu yang membuat dia merasa kurang pas atau sedikit bersalah kalau misalnya si suami tidak mempunyai kedudukan sebaik dia. Penghasilannya tidak sebesar dia atau nanti kalau dia mempunyai karier terus dia mempunyai anak, dia merasa dialah yang dituntut untuk berkorban, tidak pernah si suami merasa dia yang harus mengurangi kariernya, kebanyakan wanita yang diminta untuk mengurangi kariernya. Jadi saya mengamati karier itu sebagai sesuatu yang mempunyai 2 mata pedang, wanita menikmati karier tapi seolah-olah dia juga akan terjebak perasaan bersalah kalau terlalu menikmati karier.
ET : Ya itu memang dilema ya, saya bisa memahami sekali karena saya pernah juga mengalami. Maksudnya siapa yang tidak ingin bekerja seperti yang saya katakan tadi sudah sekolah, sudah punya lmu rasanya juga orang tua yang sekarang pasti berharap sudah mengeluarkan biaya untuk anak-anaknya bahkan mereka tidak rela sesudah anaknya selesai, lulus kuliah, menikah lalu tidak bekerja.
Saya banyak mendengar orang tua mengeluh,"Wah, anak saya sudah sekolah tinggi-tinggi akhirnya tidak bekerja." Jadi terlepas dari dirinya sendiri, pasti orang tua yang membiayai punya harapan untuk anak berkarier, tapi memang sampai titik tertentu itu bisa menjadi masalah.
GS : Ya mungkin masalahnya bertambah kompleks karena kita tidak hidup sendiri di tengah-tengah masyarakat, mungkin Ibu Netty bisa memberikan pandangan khususnya di dalam jemaat ya Bu, kalau ada salah seorang jemaatnya yang tidak menikah-menikah itu biasanya terjadi rumor?
NL : Kalau dulu mungkin bisa jadi rumor, tapi saya melihat sekarang sekalipun di masyarakat Indonesia sudah makin lama makin biasa, karena banyak wanita karier yang terus terang mereka sukselah.
Jadi mungkin ada, tapi tidak terlalu jadi masalah kalau saya lihat sekarang.
GS : Mungkin masalahnya justru di keluarga ya Bu, kalau masyarakat umum atau jemaat Ibu tidak melihat itu.
NL : Tidak terlalu melihat itu.
GS : Nah, bagaimana wanita itu sendiri menghadapi sikap masyarakat atau keluarga yang kadang-kadang curiga, mencemooh atau menganggap aneh, Bu Esther?
ET : Sikapnya bisa lain-lain, maksudnya ada orang-orang yang rasanya bergembira saja, dia begitu menikmati dengan status lajangnya karena rasanya tidak perlu pusing dalam pengambilan keputusn untuk mau melakukan apa saja, bekerja di bidang apa, mau pergi ke mana itu rasanya tidak perlu banyak masalah dibanding orang-orang yang sudah menikah.
Sebentar-sebentar harus telepon ke rumah mengecek apa anaknya sudah minum susu atau belum. Tetapi di kalangan lain cukup banyak yang akhirnya stress juga dengan tuntutan orang tua atau keluarga, akhirnya memang cenderung menghindari pertemuan-pertemuan keluarga karena setiap kali berkumpul ada yang menikah. Ada yang ulang tahun, keluarga pasti bertanya kapan menyusul, lalu mana calonnya, itu memang hal yang sangat membuat stress ya.
PG : Jadi sebetulnya yang keluarga harus lakukan adalah tidak terlalu mempertanyakan kapan menikah, di mana calonnya, mungkin kalau bertanya sekali-sekali ya tapi jangan terlalu sering, seba kalau terlalu sering akhirnya memberi tekanan pada si wanita itu sendiri.
ET : Tapi kadang-kadang tidak dalam bentuk pertanyaan juga, Pak Paul, kadang-kadang dalam bentuk pernyataan sepertinya empati tapi tetap menyebalkan. Misalnya kita tenang-tenang, tapi terus ereka berkata sudah jangan khawatir nanti Tuhan pasti sediakan, jadinya yang khawatir siapa, kita sendiri tidak apa-apa.
PG : Apakah Ibu Netty juga mengalami hal seperti itu dari keluarga dulu?
NL : Ya, tapi saya pikir untuk menghadapi mungkin pandangan orang kadang-kadang dari perkataan, mata, pandangan yang sinis. Saya pikir kita atau orang yang bersangkutan harus siap mental. Jai kita jangan melihat diri kita sendiri aneh-aneh atau kekurangan sesuatu, kalau kita melihat diri kita demikian, kita salah tingkah terus.
Tapi kalau kita sudah siap, tahu apa yang harus kita hadapi, apapun pandangan mereka ya tenang-tenang saja, saya pikir tergantung sikap kita bagaimana melihat kelajangan kita.
ET : Semakin kita berpikir mengapa orang lain menikah sedangkan saya tidak, itu makin dilihat, ditanyakan, pertanyaan seperti itu memang akhirnya akan lebih membuat pusing.
PG : Jadi kuncinya adalah jangan sampai kita menunjukkan bahwa kita melihat diri kita ada yang salah. Kalau kita memperlakukan diri kita seolah-olah ada yang salah, kemungkinan besar orang aan memperlakukan seperti itu pula, bahwa ada yang tidak benar.
Tapi kalau kita bisa berhadapan dengan orang, dengan perasaan yang nyaman dalam diri kita tidak ada yang salah, bahwa kita tidak menikah tidak apa-apa, orangpun juga akan menghormati kita dan tidak merasa sinis.
NL : Ya bukan saja kita jangan menunjukkan, maksud saya terimalah sebagaimana adanya. Kalau kita mempunyai sikap yang demikian otomatis kita bisa menunjukkan, bukan maksud saya ditutup-tutup, terima sebagaimana saya, inilah saya memang pimpinanNya Tuhan sampai sejauh ini begini.
PG : Saya ingin bertanya yang lebih konkret misalkan orang bertanya kepada Ibu Esther, kepada Ibu Netty berapa anaknya, di mana suaminya, bagaimana perasaan Ibu dan bagaimana untuk menjawabnya?
ET : Susah ya, kadang-kadang saya suka membalikkan lagi kalau yang bertanya itu orang yang memang tidak tahu apa-apa, misalnya teman lama kemudian kita bertemu lagi dan bertanya sudah punya nak berapa.
Kalau rasanya situasinya tidak terlalu dibuat secara jelas, saya kadang-kadang suka mengatakan, "O.... anak saya banyak di mana-mana". Karena saya banyak membimbing anak-anak atau anak-anak saya di sekolah minggu. Tapi kalau memungkinkan saya katakan memang saya belum menikah, maksudnya dia memerlukan jawaban seperti itu, bukan pertanyaan yang basa-basi. Saya katakan saja memang saya belum menikah.
GS : Bagaimana Bu Netty?
NL : Ya saya juga lihat situasi, kadang-kadang mungkin saya bisa katakan, "Suami saja belum ada bagaimana bisa punya anak," atau kadang-kadang saya katakan, "O..... belum punya", dia tanya "erapa anak", "O.....
belum punya". Kecuali kalau dia tanya terus, kalau tidak ya sampai di situ saja. Lihat-lihat keadaannya bagaimana.
GS : Saya pernah punya pengalaman dengan atasan yang kebetulan wanita lajang, kami yang menikah khususnya pria kadang-kadang melihat dia kalau memberikan suatu perintah atau permintaan agak berlebihan dibandingkan dengan yang sederajat dengan dia tapi menikah. Kesimpulan kami sementara adalah dia tidak punya anak, enak saja kerja sampai jam 07.00, jam 08.00 malam. Dia menuntutnya seperti itu ya tidak apa-apa, tapi kalau kita mempunyai keluarga. Jadi kami menganggap dia semena-mena, karena dia tidak menikah, lalu tidak memahami perasaan kami yang menikah. Nah pendapat seperti itu bagaimana, Bu Netty?
NL : Semena-mena ini saya pikir dia mungkin tidak sadar karena kalau sampai saat ini dia belum menikah itu berarti begitu fokus, begitu konsentrasi di dalam karier. Di satu sisi mungkin bagiperusahaan senang mendapat atasan yang bisa mengatur anak buahnya.
Ya mungkin ada sebagian yang semena-mena, tapi mungkin ada sebagian yang mungkin dia tidak sadar, kesemena-menaan itu tidak disadari, saya rasa ada yang bisa begitu.
GS : Ya mungkin yang kedua itu yang lebih tepat, jadi tidak menyadari bahwa orang lain mempunyai tanggung jawab yang lain. Masalahnya sekarang bagaimana wanita lajang yang punya kedudukan yang tinggi itu bersikap di tengah-tengah keluarga mereka khususnya, biasanya kalau mereka punya pendapatan yang jauh lebih baik daripada yang lain, nah bagaimana seharusnya wanita lajang ini bersikap?
ET : Saya rasa memang intinya bukan hanya wanita lajang, sama seperti semua orang perlu belajar memahami posisi orang lain. Wanita lajang inipun memang perlu untuk selalu mengingat bahwa orag lain mungkin bisa ada hambatan dalam arti tidak bisa seproduktif dia, orang lain bisa mempunyai kesulitan karena harus membagi waktu dengan keluarganya.
Jadi kalau memang punya satu sikap yang seperti itu seharusnya ia bisa menjadi orang yang menyenangkan juga.
GS : Memang ada problem juga kadang-kadang wanita lajang ini makin lama makin sulit mendekati pria yang lain. Dia merasa kedudukannya sudah tambah tinggi otomatis pendapatannya lebih baik, lalu dia sulit untuk bergaul dan sebagainya itu, nah sikap seperti ini sebenarnya bagaimana harus diatasi ?
NL : Ya saya pikir dia harus menyadari status kelajangannya, jangan merasa superiorlah. Kalau semasa dia sadar saya pikir itu Ok! Ok! Kalau dia tidak sadar bisa tidak seimbang.
PG : Mungkin Bu Netty dan Bu Esther pernah mendengar aksioma atau pernyataan di luar bahwa kalau wanita atau pria sama tidak menikah itu bisa jadi aneh. Saya percaya Ibu Esther dan Ibu Nettytidak merencanakan menjadi aneh, tidak melihat keanehan sampai saat ini.
Yang ingin saya tanyakan adalah pertama-tama apakah memang merupakan kebenaran dari aksioma tersebut, yang kedua adalah apa yang harus dilakukan para wanita lajang agar jangan sampai menjadi aneh?
ET : Memang pandangan itu ada benarnya juga, maksudnya dalam arti kita mungkin cukup sering menemukan orang-orang yang akhirnya dihubung-hubungkan. Saya juga punya pengalaman guru-guru di seolah dulu, kepala sekolah yang kalau sudah menyebalkan walaupun mungkin menikah pun menyebalkan, tetapi karena dia tidak menikah akhirnya orang-orang menghubungkan, memang perawan tua atau orang yang tidak menikah seperti itu.
Jadi memang yang menyebalkan terbukti juga ada. Tapi saya rasa itu mungkin lebih kepada faktor sulit menerima keadaan, itu bisa mempengaruhinya, bahwa dia sendiri belum sebegitu siap untuk menerima kondisi kelajangannya sehingga begitu mudah untuk secara emosi mudah terusik kalau mungkin orang-orang sudah mulai menyinggung statusnya. Atau sekalipun orang tidak menyinggung statusnya secara langsung, tetapi dengan cara melihat seperti tadi yang dikatakan sudah mulai yakin pasti orang membicarakan saya, sehingga akhirnya memang secara emosi mudah untuk tersentuh dan akhirnya memang jadi tidak menyenangkan di hadapan orang-orang sekitarnya.
NL : Ya saya juga sependapat, adakalanya mungkin orang itu sendiri andaikata dia menikah juga bisa ada keanehan. Tapi memang biasanya kalau orang hidup sendiri, apa-apa dia sendiri, ambil keutusan sendiri.
Memang kesendirian ada kemungkinan membuat seseorang yang hidup lajang itu bisa sedikit aneh, mungkin kalau orang melihat terus terang saja karena dia sendiri tidak berpikir orang harus bagaimana, bisa menimbulkan hal-hal yang demikian saya pikir.
PG : Jadi mungkin Ibu Netty dan Ibu Esther ada saran bagi para wanita lajang yang mendengarkan kita di sini, apa yang bisa mereka lakukan untuk mengisi kebutuhan emosional. Sebab kesendirian itu adalah sesuatu yang menjadi bagian hidup yang sangat-sangat riil ya?
ET : Tetap menjalin relasi ya, saya pikir memang kadang-kadang sulit, kalau dulu pernah bersahabat akrab lalu teman akrabnya sudah menikah kadang-kadang mau tidak mau berubah karena dia haru mengurus suami dan keluarganya, sementara dia tetap sendiri.
Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia tetap bisa menjalin relasi dengan orang-orang lain juga, jadi misalnya tetap terlibatlah di dalam kehidupan sosial mungkin pelayanan, persekutuan, hal-hal yang memang bisa membuat dia bisa mengaktualisasikan dirinya dan menjalin kehidupan sosialnya, jangan justru malah menyendiri takut dibicarakan orang atau takut dipandang remeh.
NL : Atau mungkin juga dia banyak keponakan, sayangilah mereka, ajak mereka pergi. Saya pikir ia bisa juga menikmati hidup kekeluargaan, ada kehangatan. Di samping dia memberikan kehangatan ada orang, dari sisi yang lain dia juga mendapatkan kehangatan dari orang.
PG : Kalau secara sosial bagaimana Bu Netty dan Ibu Esther, maksudnya yang tadi Bu Esther singgung misalnya menikah, kita datang sendirian, orang lain datang dengan suaminya. Bagaimana cara-cara atau mungkin ada kiat-kiat untuk menghadapi hal seperti itu?
ET : Kalau memang berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan saya sendiri, saya rasa sebenarnya tidak apa-apa. Datang sendiri tidak ada yang salah, sama saja seperti orang yang mungkin punyasuami tapi suaminya tidak bisa datang ke pesta.
Jadi sebenarnya situasinya sama karena saya datang sendiri.
PG : Jadi jangan justru dihindari, memang ada kemungkinan agak enggan sehingga menghindari untuk datang, kalau Bu Netty bagaimana ?
NL : Ya adakalanya saya pergi seorang diri, adakalanya saya bisa ajak teman saya untuk menemani ke undangan.
ET : Tidak harus sendiri ya?
GS : Ya memang masalah ini muncul, dipertanyakan oleh salah seorang pendengar kami yang setia. Saya rasa dengan mengikuti pembicaraan ini, pasti akan sangat bermanfaat khususnya bagi ibu yang bertanya kepada kami. Namun sebelum kita mengakhiri perbincangan ini mungkin Pak Paul akan menyampaikan suatu kesimpulan.
PG : Saya akan bacakan dari Filipi 4:11-12 , "Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan, dalam seala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku.
Bersambung di Filipi 4:13 , "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Yang bisa saya simpulkan dari yang Ibu Esther dan Ibu Netty katakan adalah kita perlu menerima keadaan kita, itu yang pertama. Jangan sampai kita merasa ada masalah dengan status lajang kita. Tidak apa-apa lajang, ini adalah bagian hidup yang Tuhan berikan kepada kita sampai saat ini, tidak tahu nantinya bagaimana, yang penting sampai saat ini inilah porsi yang Tuhan telah tetapkan, terimalah tanpa harus ada merasa bersalah. Dan yang kedua adalah kita harus belajar mencukupi sebab memang kehidupan lajang mempunyai juga minus dan plusnya, waktu lebih banyak, tenaga lebih banyak bisa dicurahkan tapi minusnya juga ada yang kita telah bahas. Tugas kita adalah belajar untuk mencukupinya, tidak bersungut-sungut menyalahkan siapa-siapa, atau menyalahkan Tuhan tapi belajarlah mencukupi yang kurang itu. Dan yang tadi yang telah Ibu Netty dan Ibu Esther katakan, saya kira sangatlah bermanfaat untuk kita semuanya. Saya harap semua wanita lajang yang mendengarkan kita bisa menimba manfaat dan saran-saran dari Ibu Netty dan Ibu Esther. Terima kasih atas kedatangan Ibu Netty dan Ibu Esther, Tuhan memberkati !
GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan Ibu Esther Tjahja dan Ibu Pdt. Dr. Netty Lintang tentang kehidupan lajang dari prespektif wanita. Kalau pun Anda masih punya masalah dan pertanyaan-pertanyaan kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Yang menjadi alasan bagi wanita untuk memilih kehidupan lajang :
Karena mereka tidak mendapatkan jodoh yang cocok, tidak sesuai dengan selera atau standar, level yang mereka tentukan.
Bisa juga karena kekurangan pria yang memiliki kerohanian yang baik, wanita menginginkan seperti yang Alkitab pun mengajarkan prialah yang menjadi kepala keluarga, yang memimpin, sebagai imam di rumah tangga jadi mereka menginginkan sekali mereka menikah dengan seorang pria yang sungguh-sungguh bisa memimpin mereka dalam hal kerohanian.
Lebih mementingkan karier.
Kemungkinan juga karena ada yang memang merasa terpanggil untuk melajang.
Ada juga karena akibat dari pengalaman pahit (hubungan yang berakhir) dan akhirnya memutuskan untuk tidak menikah.
Ada juga dikarenakan kakanya yang paling tua belum menikah.
Sikap yang biasanya muncul pada diri wanita lajang ketika harus menghadapi sikap masyarakat atau keluarga, memang bermacam-macam.
Ada sebagian orang yang happy-happy saja, dia bisa begitu menikmati dengan status lajangnya karena rasanya tidak perlu pusing dalam pengambilan keputusan dia mau melakukan apa, bekerja di bidang apa, mau pergi ke mana itu rasanya tidak perlu banyak urusan dibanding orang-orang yang sudah menikah.
Cukup banyak juga yang akhirnya memang stres dengan tuntutan orangtua atau keluarga yang akhirnya berakibat pada seringnya menghindari pertemuan-pertemuan keluarga.
Memang untuk menghadapi tanggapan-tanggapan dari keluarga atau masyarakat yang mungkin juga kadang-kadang membuat kita merasa tidak enak adalah kita siap mental, jangan sampai kita menunjukkan bahwa kita melihat diri kita ada yang salah. Kalau kita memperlakukan diri kita seolah-olah ada yang salah kemungkinan besar orang akan memperlakukan seperti itu pula bahwa ada yang tidak benar. Tapi kalau kita bisa berhadapan dengan orang, dengan perasaan yang nyaman dengan diri kita tidak ada yang salah bahwa kita tidak menikah ya tidak apa-apa, orangpun juga akan respek kepada kita, dan tidak sinis atau apa.
Yang bisa dilakukan untuk mengisi kebutuhan emosionalnya adalah
Tetap menjalin relasi dengan orang-orang lain, misalnya tetap terlibat di dalam kehidupan sosial, mungkin pelayanan, persekutuan. Hal-hal yang memang bisa membuat dia bisa mengaktualisasikan dirinya dan menjalin kehidupan sosialnya, jangan justru malah menyendiri takut diomongin orang atau takut dipandang remeh.
Bagi yang punya keponakan, sayangilah mereka, ajak mereka pergi supaya bisa menikmati hidup kekeluargaan, di samping memberikan kehangatan kepada orang dari sisi yang lain dia juga mendapatkan kehangatan dari orang lain pula.
Filipi 4:11-12 , "Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan, dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku." Ayat 13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
Jadi kita perlu menerima keadaan kita :
Yang pertama , jangan sampai kita merasa ada masalah dengan status lajang kita, tidak apa-apa lajang ini adalah bagian hidup yang Tuhan berikan kepada kita sampai saat ini, inilah porsi yang Tuhan telah tetapkan terimalah tanpa harus ada merasa bersalah.
Yang kedua , adalah kita mesti belajar mencukupi, sebab memang kehidupan lajang mempunyai minus dan plusnya, tidak bersungut-sungut menyalahkan siapa-siapa, atau menyalahkan Tuhan tapi belajarlah mencukupi yang kurang itu.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Esther Tjahja, S.Psi. & Pdt.Dr. Netty Lintang
Abstrak:
Dalam topik ini kita akan mengetahui bagaimana peran wanita di dalam pelayanan, ternyata tidak hanya kaum pria saja yang berhak duduk di dalam pelayanan gereja dan sebagainya. Wanita pun diperlukan di sana, Tuhan begitu spesial memperhatikan wanita yang dianggap lemah, khususnya saat pelayanan Tuhan Yesus waktu itu.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Kali ini kami akan mengangkat topik peran wanita dalam pelayanan. Hadir bersama kami pada saat ini adalah Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dari Universitas Gajah Mada, yang kini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang dan juga hadir bersama kami Ibu Pdt. Dr. Netty Lintang seorang gembala sidang Santapan Rohani Indonesia dan juga dosen STT Iman Jakarta. Ibu Esther dan Ibu Netty kami senang sekali bergabung dengan ibu-ibu sekalian dan tentu apa yang Ibu sampaikan pasti bermanfaat bagi para pendengar setia.
Lengkap
PG : Selamat datang kepada Ibu Netty dan Ibu Esther, saya kira kalau membicarakan pelayanan wanita ini saya mempunyai kesan kalau keliru tolong dibenarkan. Yaitu wanita seolah-olah tidak mendaptkan kesempatan yang sama dengan pria di pelayanan.
Apakah Ibu Netty dan Ibu Esther mempunyai pandangan yang serupa atau mempunyai komentar mengenai hal ini?
NL : Misalnya pelayanan apa?
PG : Maksud saya misalkan tidak semua gereja terbuka untuk mentahbis wanita, seperti melawat. Kalau pria melawat siapapun pada segala usia, segala jenis kelamin seolah-olah masih dibolehkan, tai kalau misalnya wanita sebagai seksi pelawatan, melawat pria, hal itu harus dijaga, harus lebih hati-hati sehingga mungkin lapangan itu agak tertutup bagi wanita, misalnya seperti itu, Ibu Netty.
NL : Justru saya lihat team pelawatan terdiri dari pada wanita, cuma usia mereka bukan yang muda. Mereka lebih banyak kesempatan untuk bergerak di dalam pelawatan.
PG : Yang saya maksud memang sepertinya ke arah yang lebih muda dan misalkan pelawat itu tidak banyak, katakan satu orang. Kalau pria sebagai seorang hamba Tuhan, dia melawat jemaatnya yang maih muda dan dia juga penginjil yang muda, biasanya tidak menjadi masalah, tapi kalau dia penginjil wanita dan masih muda, saya rasa sedikit banyak ada rasa enggan untuk melawat seorang pria yang sama-sama mudanya dengan dia.
GS : Bagaimana pandangan atau pengamatan Pak Paul, apa itu ada betulnya, Ibu Netty?
NL : Saya rasa ada betulnya karena mungkin di dalam pandangan orang dan faktanya hamba Tuhan kebanyakan yang pria. Sekarang makin lama makin banyak hamba Tuhan yang wanita, dulu kebanyakan hamb Tuhan itu pendeta biasanya pria.
Jadi waktu mereka pergi sendiri, mereka memang kelihatannya lebih bebas, daripada penginjil wanita pergi sendiri. Itu memang karena dari kebiasaan saja saya pikir.
(1) GS : Dari segi pelayanan ke masyarakat, Bu Esther, peran wanita dan pria itu apakah masih terasa dibedakan, sampai saat ini maksud saya?
ET : Kalau kemasyarakatan secara umum saya lihat justru makin terbuka, dalam arti tidak lagi dipandang dari segi jenis kelamin. Misalnya seperti bidang-bidang sosial, bahkan yang dulu dipegang leh kaum pria sekarang juga sudah banyak wanita yang bisa masuk seperti penyuluh-penyuluh.
Dulu kalau di desa-desa rasanya susah untuk wanita bisa mendengarkan. Tapi rasanya sekarang, saya justru banyak melihat organisasi sosial yang para sukarelawannya justru wanita yang terjun dan sudah bisa diterima.
GS : Kenapa sebenarnya gereja-gereja masih ada masalah untuk menempatkan atau memberikan kesempatan kepada para wanita untuk terjun di dalam bidang pelayanan yang sama itu. Ada beberapa gereja, apakah latar belakang tradisi dari gereja itu atau apa yang menyebabkan?
NL : Ya, saya kira dari latar belakang tradisi gereja tersebut, tapi sekarang yang saya lihat makin lama makin banyak gereja terbuka untuk wanita.
GS : Atau mungkin memang di Akitab sering kali yang menonjol tokoh prianya. Apa mungkin seperti itu, ya Bu?
PG : Ibu Esther rupanya sedang berpikir ingin menjawab, tidak setuju.
ET : Yang menonjol tokoh pria, tidak juga karena kalau kita mau lihat banyak juga tokoh-tokoh wanita yang memegang peranan yang sangat besar di dalam Alkitab, bahkan di dalam deretan hakim-haki tetap ada wanita yang memimpin menjadi hakim juga.
GS : Tetapi kalau kita lihat Tuhan Yesus sendiri memilih murid-muridnya, para rasul itu semua pria.
ET : Rasanya kalau itu tidak bisa dilepaskan dari unsur budaya.
NL : Budaya dan waktu pada zaman itu, karena kalau mau mengajak wanita keluar tidak mudah, pria lebih mudah.
PG : Dengan perkataan lain, karena Tuhan Yesus sendiri waktu mengambil tubuh manusia, dia mengambil tubuh jasmani pria lebih memudahkan dia memanggil murid-murid yang juga pria. Kalau misalkan aat itu Tuhan memilih untuk mengambil tubuh jasmani wanita, kemungkinan besar muridnya semua adalah wanita, sebab akan sangat canggung sekali Dia memanggil pria-pria menjadi muridnya dan pergi ke mana-mana dengan Dia.
ET : Tetapi walaupun muridnya pria-pria, kalau kita mau melihat juga banyak pelayanan yang Yesus lakukan bersama murid-muridnya yang juga ditopang oleh pelayanan para wanita, walaupun memang tiak resmi termasuk dalam daftar 12 murid itu.
PG : Betul, mari kita lihat secara spesifik ya Ibu Esther dan Ibu Netty tentang beberapa tokoh Alkitab. Yang pertama misalkan yang bisa saya ingat tokoh Maryam yaitu kakak wanita dari Musa, mungkin Ibu Netty bisa memberikan komentar tentang siapa Maryam itu dan apa kepentingannya dalam kehidupan Musa?
NL : Ya dia memainkan peranan yang sangat penting karena waktu Musa ditaruh di sungai diawasi oleh Maryam, dia melihat siapa yang mengambil adiknya. Sedangkan pada waktu itu Maryam juga masih kcil, tapi dia begitu cerdas dan tangkas, begitu adiknya diambil oleh putri Firaun, langsung dia begitu pintar mendekati, memberikan usul, proposal kalau pembicaraan sekarang.
Mau tidak saya carikan baby sitternya begitu, saya pikir dia cerdik sekali, jadi kesuksesan Musa itu saya pikir karena andil Maryam sangat besar.
PG : Dengan perkataan lain, kalau tidak ada Maryam saat itu seolah-olah kalau kita tidak menghitung kuasa Tuhan barangkali dan pasti Tuhan berkuasa, Musa mungkin hanyut di sungai. Karena ada Maryam, Musa hanyut masuk ke dalam istana Firaun, ya Bu Netty?
GS : Bagaimana dengan tokoh lain yang kita kenal, anak saya, saya beri nama juga Debora.
ET : Ya itu yang tadi sempat saya singgung, masuk dalam barisan hakim-hakim. Saya salut dengan tokoh ini karena memang dari sini kelihatan bahwa memang Tuhan tidak melihat jenis kelamin untuk mnjadikan seorang pemimpin, padahal budayanya mungkin pada waktu itu juga masih pria yang memegang peranan.
Tetapi Tuhan pakai Debora untuk menjadi seorang hakim dan nabiah. Yang paling saya salut lagi adalah ketika dia mengambil alih kepemimpinan Barak dan memimpin perang. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan situasi pada waktu seorang hakim wanita seperti itu.
PG : Yang menarik sebetulnya Debora memberi hak pertama itu kepada Barak untuk memimpin perang dan yang sangat lucu Barak tidak berani. Barak bahkan berkata aku hanya akan maju berperang jika egkau turut maju berperang denganku, kalau engkau tidak maju berperang aku pun tidak mau berperang.
Jadi kita melihat Barak sangat cemas sekali dan Tuhan akhirnya memberikan nubuat kepada Debora, dan Debora langsung mengatakan kepada Barak bahwa yang mendapat kehormatan membunuh Sisera bukanlah engkau tapi seorang wanita, jadi perang itu dipimpin oleh seorang wanita, musuhnya yaitu Sisera juga dibunuh oleh seorang wanita. Apa kesimpulan Ibu Netty setelah melihat fenomena itu?
NL : Ya sangat menarik sekali, jadi saya kaitkan dengan pelayanan di gereja. Kadang-kadang pemimpin di satu gereja itu adalah wanita, wanita yang lebih banyak aktifitasnya. Kenapa bisa seperti tu? Saya pikir-pikir prianya tidak mau keluar, entah dia itu takut, entah dia tidak mau bayar harga, pokoknya pria tidak mau keluar, wanita yang keluar.
GS : Alasan klasiknya adalah kesibukan karena pekerjaan.
NL : Ya mungkin bermacam-macam alasan, jadi akhirnya kepemimpinan itu jatuh di tangan wanita.
PG : Dan saya cenderung berpikir, Bu Netty, bahwa Debora menjadi hakim, memang sudah tentu ditunjuk Tuhan. Tapi secara naturalnya, secara alamiahnya saya kira seseorang hanya bisa menjadi seorag pemimpin, atau hakim jikalau kepemimpinannya diakui.
Dan saya kira secara alamiahnya masyarakat pada saat itu atau umat Yahudi saat itu melihat bahwa memang Debora memiliki kepemimpinan tersebut, kualitas yang sangat-sangat mencengangkan sehingga mereka mengakuinya dan percuma kalau Tuhan tetapkan Debora sebagai hakim kalau tidak diakui sama sekali. Dia tidak mungkin membawa bani Naftali dan Zebulon untuk berperang saat itu. Jadi kita melihat bahwa ada sesuatu yang sangat alamiah terjadi di situ, bahwa masyarakat mengakui kepemimpinan Debora tanpa mempertanyakan sama sekali dan menganggap itu sebagai suatu yang dikehendaki dan disetujui oleh Tuhan dan Barak pun pada waktu saya membacanya, tidak ada kesan bahwa Barak malu atau minder, bahwa dia harus dipimpin oleh Debora. Tapi dia mengajukan permintaan yang sangat polos, yang sangat tulus, apa adanya, bahwa saya tidak berani dan engkau yang lebih mempunyai nyali. Jadi dia akhirnya dengan senang hati memberikan hak itu kepada Debora dan tidak berebut kekuasaan di sini, saya melihat betapa indahnya hubungan pria dan wanita yang seperti ini.
GS : Ada satu tokoh yang menarik sampai namanya dipakai di dalam buku di Alkitab yang sekarang dipakai juga oleh Ibu Esther. Tentu kita bertanya kepada Ibu Esther, kenapa Ibu begitu kagum dengan tokoh ini atau orang tua Ibu mungkin, atau ada sesuatu harapan, saya tidak tahu, silahkan Bu.
ET : Saya pikir itu mungkin harapan orang tua, tapi saya senang.
PG : Maksudnya harapan agar Ibu Esther jadi permaisuri.
ET : Ya, sayangnya pemerintah di Indonesia bukan kerajaan sehingga saya tidak bisa menjadi seorang permaisuri. Tetapi kembali lagi terlihat jelas di sini kalau memang wanita bisa memegang perann yang begitu penting juga, sekalipun mungkin bukan dalam bentuk frontal seperti Debora yang jelas-jelas memimpin dan kelihatan adalah pemimpin.
Tetapi Tuhan juga bisa memakai wanita khususnya ratu Ester ini. Bagaimana dia bisa menjadi alat/saluran untuk bisa menghubungi suaminya atau sang raja untuk kemudian bisa mengubah berbagai peristiwa yang tadinya direncanakan dengan jahat oleh Haman, tapi akhirnya dengan keberanian Ester dan dukungan dari Tuhan, dia bisa melakukan hal tersebut.
GS : Memang ada segi kelemahlembutan dari wanita yang seringkali digunakan untuk bisa menaklukkan pria, bagaimana menurut Bu Netty?
NL : Saya percaya memang di dalam diri Ester ada kelemahlembutan tetapi saya juga melihat memang dibalik itu ada dukungan Tuhan, sehingga begitu dia tampil di hadapan raja ia diterima, disambutbegitu hangat.
PG : Dan seperti tadi yang disinggung oleh Ibu Esther bahwa peranan Ester sangat penting sekali hingga satu bangsa diselamatkan. Kalau Ester tidak bertindak memang kemungkinan besar keadaan bansa Israel pada saat itu sangat-sangat terancam bahkan bisa punah.
Yang lainnya lagi, Ibu Netty, yang sekarang sedang saya pikirkan adalah peranan dari wanita-wanita seperti Maria Magdalena, Susana, Yohana dalam pelayanan Tuhan Yesus. Yang menarik buat saya adalah mereka begitu setia melayani Tuhan Yesus, memberikan dukungan keuangan dan sebagainya. Bahkan di kayu salib yang dicatat dalam Alkitab adalah mereka para wanita tersebut dan kita tahu juga yang pertama menjenguk kubur Tuhan Yesus adalah para wanita ini. Dan yang menarik lagi seolah-olah semua orang pertama yang melihat Tuhan Yesus bangkit adalah Maria Magdalena dan para wanita lainnya. Apa kesimpulan yang bisa Ibu Netty tarik dari semuanya ini?
NL : Saya hanya bisa berkata bahwa rupa-rupanya Tuhan begitu spesial memperhatikan wanita yang dianggap lemah, tidak ada apa-apanya khususnya pada zaman itu tapi diangkat posisinya begitu tingg, begitu dihargai, begitu dikenang oleh Tuhan sendiri, saya merasakan itu cuma anugerah saja.
PG : Memang dikatakan bahwa Injil Lukas adalah Injil yang sangat memperhatikan wanita, Bu Netty dan memang banyak sekali kisah-kisah tentang wanita yang dicatat oleh dokter Lukas, salah satunyajuga yang dicatat adalah tentang nabi Hana yang turut bersyukur, berdoa kepada Tuhan sewaktu dia melihat bayi Yesus.
Dan dikatakan di Alkitab bahwa dia hanya menikah 7 tahun kemudian sampai umur 80-an hidup menjanda dan yang dia lakukan adalah berdoa dan berpuasa di Bait Allah. Di sini kita melihat sekali peranan wanita yang sangat besar meskipun seolah-olah di belakang layar, tapi dialah yang seolah-olah menjadi pendoa bagi umat Israel yang sedang menantikan Mesias. Mungkin banyak orang di situ yang bekerja hari lepas hari tidak pernah memikirkan tentang hal ini, tapi tiba-tiba ada seorang wanita yang berpuluhan tahun di belakang layar menjadi seorang pendoa bagi umat Israel dan sebetulnya bagi umat manusia datangnya seorang Mesias. Di sini mungkin sekali lagi menegaskan yang Ibu Netty katakan bahwa Tuhan melihat wanita secara spesial karena kita harus akui mereka adalah makhluk atau kaum yang seringkali tersingkirkan malahan tertekan oleh masyarakat pada umumnya. Dan Tuhan memang adalah Tuhan yang penuh belas kasihan.
GS : Di bidang pelayanan Ibu Netty banyak berkecimpung di bidang jemaat, memang banyak aktifitas yang Ibu Netty katakan dihadiri oleh kaum Ibu, tapi kadang-kadang mereka merasa tidak terbekali untuk menjadi seorang pemimpin dalam jemaat. Sehingga yang dipilih adalah seksi konsumsi lalu menghias ruangan tetapi kalau begitu ditempatkan menjadi ketua panitia dia menjadi ragu, bagaimana Ibu memberikan semangat atau dorongan pada ibu-ibu ini?
NL : Ya saya pikir itu mungkin ada kaitan dengan gembala sidangnya. Jadi kalau gembala sidangnya bisa mengangkat dan memberikan kesempatan pembinaan-pembinaan pada kaum wanita, saya pikir merek bisa dibekali, dilengkapi sehingga mereka lebih kompeten lagi dan lebih mampu.
Dan saya lihat zaman sekarang ini banyak gereja sudah mulai memperhatikan pembinaan untuk pekerja wanita.
(2) GS : Ibu Esther, pengaruhnya bagaimana kalau ibu-ibu ini sudah berkeluarga. Maksud saya pelayanan itu menyita banyak waktu. Banyak suami atau anak yang mengeluh istrinya terlalu lama di gereja daripada di rumah. Kalau Ibu Esther, bagaimana pandangannya?
ET : Sebenarnya itu sisi ekstrimnya ya, tetapi kalau saya melihat justru sekarang sebenarnya di gereja-gereja banyak kepemimpinan wanitanya yang menonjol, ya Ibu Netty. Seperti pernah di satu greja, ketua remajanya wanita, ketua pemudanya wanita dan kegiatan kaum ibunya begitu bersemangat.
Jadi ibu-ibu itu begitu luar biasa antusiasnya untuk mengadakan berbagai aktifitas dan nyatanya bisa. Jadi saya pikir mungkin asal setiap wanita kembali lagi, khususnya yang telah mendapat peran tambahan menjadi seorang istri atau ibu, memperlihatkan keseimbangan juga ya kalau memang terlalu sibuk di gereja. Tetapi kembali terlepas dari itu sebenarnya dukungan dari keluarga juga dibutuhkan, kalau memang keluarga mendukung untuk seorang ibu bisa terlibat. Nyatanya banyak juga yang bisa berhasil dalam pelayanannya dan keluarganya pun baik-baik pula.
GS : Ya atau mungkin si suami memang merasa terkalahkan secara psikologis, dipimpin istrinya berdiri di mimbar atau berdiri memimpin, nah ini ada kecanggungan dari pihak si suami atau tidak, Ibu Esther?
ET : Tapi ada juga suami-suami yang justru bangga melihat istrinya yang memimpin liturgi, bisa dikatakan pada teman-temannya di sebelahnya itu istri saya, ada juga yang tidak.
PG : Menurut Ibu Esther dan Ibu Netty, apakah memang perlu ada pembatasan dalam pelayanan untuk wanita. Ataukah Ibu Netty dan Ibu Esther berprinsip tidak ada pembatasan pokoknya didasari atas krelaan untuk berkorban, kesanggupan untuk melakukannya, ya sudah.
NL : Saya pikir ini juga tidak terlepas dari tradisi dan kebudayaan, biasanya kalau kepemimpinan yang katakan top secara manusia itu jarang misalnya ketua majelis wanita. Setahu saya jarang, saa pernah dengar memang satu, dua tapi jarang sekali.
Jadi entah apakah berada di bawah alam sadar manusia, tidak ditentukan tapi sudah menentukan begitu. Ini sesuatu yang tidak adil juga karena sebetulnya dia mampu, tapi rasanya tidak tahu bagaimana di dalam hati manusia sudah ada garis-garis tersendiri begitu.
PG : Kadang-kadang yang saya lihat terus terang sedikit mengusik, misalkan dalam rapat, menetapkan jabatan atau tugas, tidak bisa tidak kalau misalnya membicarakan sekretaris mata semua melirikke wanita.
Sebetulnya kita tahu ada orang-orang yang berjenis kelamin pria yang sangat terampil dalam hal-hal sekretaris, karena karunianya karunia untuk mencatat dengan teliti, administrasi dan kebetulan si wanitanya kacau berantakan, jadi saya ingin mendapatkan tanggapan juga dari Ibu Esther. Apakah seharusnya dilakukan pembatasan, memang budaya mengatakan begitu, tapi apakah Alkitab mengajarkan begitu, Bu Netty dan Bu Esther?
ET : Kalau mau bicara soal kemampuan, kompetisi bakat kepemimpinan seperti itu sebenarnya batasannya tidak perlu. Sampai seperti itu lagi begitu tegas, tapi memang orang-orang susah untuk melepskan stereotip, pokoknya begitu sekretaris, bendahara kadang-kadang bapak-bapak, mengatakan sudah ibu-ibu saja.
Atau mungkin satu lagi konsumsi pokoknya pasti wanita. Tapi kadang-kadang memang bukan salahnya, sudah bentukan juga kadang-kadang kaum wanita sudah meletakkan dirinya, jadi tidak dibatasi. Tapi memang sudah sepertinya saya pada posisi yang memang biasanya untuk wanita saja. Jadi memang tidak mudah juga untuk kita katakan tidak perlu lagi dibuat pembatasan, karena mau tidak mau pembentukannya juga sudah seperti itu.
PG : Bu Netty, waktu kita melihat 1 Korintus 12 Tuhan menjabarkan fungsi karunia, Tuhan menempatkan karunia dan semuanya Tuhan panggil adalah anggota tubuh Kristus. Saya tidak meliat ada satu karuniapun yang dikaitkan dengan jenis kelamin atau pemberiannya itu sama sekali tidak didasari atas jenis kelamin.
Tuhan membicarakan itu benar-benar dalam konteks netral, baik kepada wanita maupun kepada pria Tuhan akan memberikan karunia-karunia itu. Tapi sayangnya, akhirnya budaya dan tata krama kita ini yang membatasi menurut saya, tubuh Kristus karena budaya dan tata krama, kita yang membatasi sumbang sih wanita, setuju ya Ibu Netty?
NL : Setuju, kalau melihat kasus dari Debora ini saya pikir seharusnya tidak perlu dibatas-batasi, siapa yang jadi pemimpin itu dengan sendirinya muncul dan diakui begitu.
GS : Saya rasa pengakuan itu makin lama akan makin jelas karena memang zamannya menuntut seperti itu. Itu yang saya lihat cuma di sisi lain khususnya gereja, gereja tidak harus mempersiapkan jemaatnya yang pria atau yang wanita. Atau menerima kenyataan ini kadang-kadang kita kalah cepat dengan pergerakan yang ada di luar gereja itu.
ET : Tapi saya optimis kalau ke depannya nanti akan semakin membaik. Dalam arti peran wanita juga akan lebih besar lagi dan juga tidak akan kalah dengan apa yang selama ini dilakukan oleh kaum ria.
(3) PG : Saya ingin tanya kepada Ibu Esther dan Ibu Netty, apakah yang ibu-ibu lakukan sebagai kaum yang memang terdesak ya, yang dibatasi meskipun seharusnya tidak seperti itu. Apa yang ibu-ibu lakukan menghadapi hal ini?
NL : Saya pikir pakailah kesempatan yang memang sudah ada, dipakai semaksimal mungkin dan juga bukan saja pasif tapi juga lebih aktif untuk menciptakan kesempatan, memakai kesempatan dan mencipakan kesempatan.
Jadi bukan mengada-ada tapi tunjukkanlah bahwa apa yang Tuhan berikan, apa yang Tuhan bebankan dalam hati para wanita dan direalisasikan menurut apa yang Tuhan berikan bersandar kekuatan dari Tuhan dan juga tunjukkan kesetiaan kita di dalam pelayanan sehingga orang dapat melihat bahwa inilah wanita, mereka dapat melayani dengan bagus dan dengan konsisten.
GS : Bagaimana Ibu Esther?
ET : Ya, saya setuju dengan kesempatan itu, sebenarnya kadang-kadang ada kesempatan tetapi wanitanya yang membatasi diri. Sebenarnya tidak perlu seperti itu, kalau memang kesempatan itu ada ata menciptakan kesempatan, saya setuju dengan Ibu Netty karena itu sudah mengarah pada keterbukaan, tapi kalau wanitanya tidak siap maka hilanglah, lewatlah kesempatan itu.
GS : Jadi memang mungkin suatu saat akan tercapai keseimbangan antara peran wanita dan pria, sehingga kita tidak bicara lagi soal gender di dalam pelayanan maupun di dalam masyarakat. Pak Paul, bagaimana menanggapi hal ini?
PG : Saya akan membacakan dari Filipi 3:17 , Firman Tuhan berkata: "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladamu."
Paulus sangat mendasari integritas keabsahan dan keefektifan pelayanan atas dasar suri teladannya, kehidupannya. Saya kira itu yang bisa saya simpulkan dan yang tadi Ibu Netty dan Ibu Esther sudah uraikan, sebagai wanita kita perlu memberikan suri teladan yang indah sehingga orang di luar akan melihat kesaksian hidup kita, kesetiaan kita, kesanggupan kita dan mereka akhirnya mau tidak mau harus mengakui sumbangsih yang telah diberikan oleh para wanita dalam pelayanan. Nah mudah-mudahan setelah itu langkah selanjutnya adalah membukakan pintu yang lebih baik kepada para wanita untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Saya kira tujuan akhirnya bukan siapa yang harus menang, pria - wanita siapa yang harus di atas, tapi agar Tuhan Yesus dipermuliakan dan tubuh Kristus bekerja dengan sangat efektif dan sehat. Saya kira itulah kesimpulan yang bisa kita tarik pada hari ini, Pak Gunawan.
PG : Terima kasih, Pak Paul, jadi demikianlah tadi saudara yang kami kasihi Anda telah mengikuti perbincangan dengan Ibu Esther dan Ibu Pdt. Netty Lintang dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang peran wanita dalam pelayanan. Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Dan kepada Ibu Esther Tjahja serta Ibu Pdt. Dr. Netty Lintang kami mengucapkan banyak terima kasih untuk kesempatan bincang-bincang kali ini dan para pendengar akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Murid Tuhan Yesus semua pria, namun sebenarnya banyak pelayanan yang Ia lakukan bersama murid-muridnya ditopang oleh pelayanan para wanita.
Mari kita lihat secara spesifik beberapa tokoh Alkitab.
Miriam yang adalah kakak wanita dari Musa.
Miriam memainkan peranan yang sangat penting, kesuksesan Musa karena andil Miriam yang sangat besar. Seandainya kita tidak menghitung kuasa Tuhan, barangkali kalau tidak ada Miriam, Musa sudah hanyut di sungai. Namun gara-gara ada Miriam Musa hanyut masuk ke dalam istana Firaun.
Debora yang masuk dalam barisan Hakim-hakim.
Melalui tokoh ini sangat kelihatan bahwa Tuhan tidak melihat jenis kelamin untuk mencari seorang pemimpin. Padahal budaya pada waktu itu mengutamakan pria untuk memegang peranan, tetapi Tuhan pakai Debora untuk menjadi seorang hakim dan nabiah.
Ester yang menjadi ratu.
Dia bisa menjadi alat atau saluran untuk bisa menghubungi suaminyaitu sang raja, untuk kemudian bisa mengubah berbagai peristiwa yang tadinya direncanakan dengan jahat oleh Haman. Akhirnya karena keberanian Ester ditambah dengan dukungan dari rakyatnya, dia bisa melakukan hal tersebut. Peranan Ester sangat penting sekali hingga satu bangsa terselamatkan. Kalau Ester tidak bertindak kemungkinan besar keadaan bangsa Israel pada saat itu sangat-sangat terancam bahkan bisa punah.
Yang lainnya lagi adalah peranan wanita-wanita seperti Maria Magdalena, Susana, dan Yohana dalam pelayanan Tuhan Yesus.
Yang menarik buat saya adalah mereka begitu setia melayani Tuhan Yesus, memberikan dukungan keuangan dan sebagainya. Bahkan yang dicatat dalam Alkitab, waktu Tuhan Yesus di kayu salib yang bersama dengan-Nya adalah para wanita tersebut. Yang pertama menjenguk kubur Tuhan Yesus juga adalah mereka para wanita ini. Dan orang pertama yang melihat Tuhan Yesus bangkit adalah Maria Magdalena dan para wanita lainnya. Di sini menunjukkan bahwa Tuhan begitu spesial memperhatikan wanita yang dianggap lemah, yang dianggap tidak ada apa-apanya, khususnya pada zaman itu. Mereka diangkat ke posisi yang begitu tinggi, begitu dihargai, begitu dikenang oleh Tuhan sendiri, saya merasakan itu adalah anugerah semata.
Sebagai kaum wanita yang memang terdesak dan dibatasi (meskipun seharusnya tidak seperti itu), yang perlu dilakukan untuk menghadapi hal ini adalah:
Pakailah kesempatan yang memang sudah ada dengan semaksimal mungkin.
Jangan pasif tapi harus lebih aktif menciptakan kesempatan dan memakai kesempatan.
Jadi bukan mengada-ada tapi tunjukkanlah bahwa apa yang Tuhan berikan dan apa yang Tuhan bebankan dalam hati para wanita direalisasikan menurut kehendakNya.
Bersandarlah pada kekuatan dari Tuhan dan tunjukkan kesetiaan kita di dalam pelayanan, sehingga orang dapat melihat bahwa inilah wanita, mereka dapat melayani dengan bagus dan dengan konsisten.
Dalam Filipi 3:17 , Rasul Paulus berkata: "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu." Sebagai wanita kita perlu memberikan suri tauladan yang indah sehingga orang di luar akan melihat kesaksian hidup kita, kesetiaan kita, kesanggupan kita dan mereka akhirnya mau tidak mau harus mengakui sumbangsih yang telah diberikan oleh para wanita dalam pelayanan.