Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 9:27am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Tanpa kita sadari karya anak menunjukkan apa yang mereka alami dan apa yang mereka harapkan. Bagaimana kita bisa mengetahui atau membaca karya itu? Sebagai orang tua apa yang harus kita lakukan untuk lebih dekat dengan anak? Di sini akan dibahas, dan kita bisa belajar dari Ibu Vivian.
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu yaitu tentang "Mengenal Anak Melalui Karyanya". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Bu Vivian terima kasih, kembali kita bisa berbincang-bincang dengan Ibu. Ibu sudah menyediakan waktu, sekarang ini kita mau membicarakan tentang mengenal anak melalui karyanya. Beberapa waktu yang lalu kita berbincang-bincang tentang terapi bermain dan kadang-kadang kita sering menyepelekan apa yang dibuat oleh anak baik itu gambar, patung-patung atau yang lainnya padahal dari sana kita bisa mengenal anak lebih banyak. Dan sebetulnya bagaimana kita bisa mengenal anak melalui gambar yang dia buat atau lukisan sederhana yang dia buat, Bu ?
VA : Gambar yang dibuat oleh anak ini, kita bukan mau menilai menurut nilai artistik, sebagaimana kita orang dewasa ini. Tapi apa yang dia gambarkan itu menunjukkan isi hatinya. Jadi seandainyakita mengatakan, "Coba kamu gambarkan tentang dirimu sendiri," kemudian dia menggambarkan dirinya sendiri, bentuk muka yang sederhana tapi dia mencorat-coret mukanya, itu menunjukkan kalau dia sedang marah dengan dirinya, begitu sedih dengan dirinya, harga dirinya tidak ada.
GS : Memang kadang-kadang saya pernah melihat gambar yang dibuat anak itu baik tapi kemudian dicoret-coret, disilang-silang berarti itu menunjukkan kemarahan yang tadi Ibu katakan.
VA : Mungkin itu salah satu yang menunjukkan kemarahan di dalam dirinya.
GS : Apa ada ciri yang lain di dalam gambar anak?
VA : Mungkin ada gambar yang semuanya menggunakan warna merah, itu juga menunjukkan kalau dia marah. Mungkin juga menggunakan warna hitam. Ada anak kecil yang disuruh menggambar tentang ayahnya ayahnya digambar seperti memakai topengnya iblis, karena begitu marahnya dia kepada papanya, papanya suka memukuli dia, menyakiti dia.
Jadi dia gambarkan seperti itu, papanya seperti membawa garpu yang besar, garpu itu yang akan menusuk orang lain.
GS : Pada perbincangan yang lalu, ibu juga pernah menyampaikan ada seorang anak yang menggambar ibunya itu, besar sekali seperti raksasa sedangkan anggota keluarga yang lain itu kecil-kecil saja.
VA : Betul. Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat menguasai hatinya yaitu ibu yang seperti raksasa itu, bahkan dibuat matanya melotot karena itulah yang ada di dalam pikirannya, ibunya elalu marah dengan mata yang melotot, padahal anggota tubuh yang lainnya kecil-kecil, itu yang tidak mengganggu dalam pikirannya.
GS : Ada anak yang menggambar dirinya tidak diberi tangan padahal sebenarnya dia tahu bahwa dia punya tangan, itu kenapa ?
VA : Ada anak yang beberapa anggota tubuhnya dihilangkan, bukan hanya tangan mungkin bagian tubuhnya juga tidak ada, dan anak yang seperti itu adalah anak karena korban kekerasan seksual. Jadi agian itu adalah bagian yang dia tidak mau hadapi, bagian yang menyakitkan hatinya.
Secara tidak sadar dia mau membuang.
GS : Dalam hal menggambar, apakah anak harus menggambar untuk mengetahui perasaannya dan apakah harus menggambar objek manusia ?
VA : Tidak. Dia juga bisa menggambar tentang pohon, tentang rumah di mana dia tinggal. Biasanya "Coba gambarkan keadaan keluargamu" dia bisa menggambar keluarga sedang berbuat apa, saya pernah enyuruh seorang anak menggambar sesuatu di keluargamu.
Dia bisa menggambar sedang duduk di situ, di lantai menonton TV, mamanya tidak ada dan dia sendirian, saya bertanya, "Apa maksudmu di sini ?" Kemudian dia langsung menceritakan, dia selalu merasa sendirian saat berada di rumah karena mamanya sibuk dengan berbagai hal dan papanya tidak ada. Lalu saya tanyakan, "Apa yang kamu inginkan ?" Dia menginginkan gambar di sebelahnya ada papanya, nonton TV bersama dia. Dari gambaran itu mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya.
GS : Jadi sebenarnya melalui gambaran sederhana itu, kita tidak memperhatikan nilai seninya tapi maknanya, maka ada banyak hal yang bisa mengungkapkan perasaan anak.
GS : Kalau pohon itu tidak secara langsung memproyeksikan diri anak. Kalau pohon kita bisa menerjemahkannya seperti apa, Bu ?
VA : Kalau pohon, umpamakanlah dirimu seperti ada buahnya dan bagi anak mungkin pohon yang tidak ada apa-apanya, jadi pohonnya kosong menunjukkan tidak ada apa-apanya tapi kalau dia bisa mengunkapkan pohon yang ada banyak buahnya, itu mengungkapkan bahwa ada banyak hal yang ada di dalam dirinya yang bisa diberikan kepada orang.
GS : Selain menggambar, memang tidak semua anak mempunyai bakat menggambar atau senang menggambar. Selain menggambar, karya apa yang sebenarnya bisa kita harapkan untuk anak itu mengungkapkan perasaannya ?
VA : Yang bisa mengungkapkan perasaannya, bisa menggunakan malam(lilin) atau pledo. Jadi dia bisa membentuk sesuatu dan itu mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya dalam bentuk-bentuk itu.
GS : Kalau gambar hanya dua dimensi, tapi kalau pledo atau sejenis malam atau tepung yang sudah diolah dan sebagainya, apa yang bisa kita harapkan dari ini ?
VA : Jadi dia bisa membentuk dan bentuk itu tidak harus berbentuk apa. Jadi buatlah sesuatu, seandainya anak ini tukang marah, bentuklah sesuatu yang menunjukkan dia marah, jadi dia bisa membenuk "inilah marah" , lalu buatlah satu bentuk orang yang membuat dia marah, yang dia anggap selalu mengganggu dia.
Jadi apa itu dan tidak selalu berbentuk orang, itu menunjukkan emosinya, menunjukkan apa yang ada di dalam dirinya melalui karya-karya itu.
GS : Dalam hal itu kita juga tidak melihat nilai seninya seperti menggambar tadi.
VA : Tidak, mungkin hanya berbentuk gumpalan.
GS : jadi hanya bentuk-bentuk yang menurut dia sudah mengungkapkan hal itu. Dan kita tanyakan kepada dia apa maksudnya ?
VS : Betul. Apa maksudnya ? Mungkin ini menunjukkan kemarahannya, ini monsternya.
GS : Bagaimana memperkenalkan kepada anak bahwa melalui pledo ini anak bisa mengungkapkan perasaan hatinya ?
VA : Dengan sendirinya, buatlah bentuk dirimu sendiri waktu bayi, seandainya anak ini sudah berumur 10 tahun tapi dia selalu merasa ditolak oleh orang tuanya, buatlah dirimu seperti bayi. Dia aan membentuk-bentuk dirinya kecil, lalu kita tanya apa yang terjadi dengan bayi ini, mungkin dia akan menceritakan kalau bayi ini tidak ada yang menyayangi, tidak ada yang mau, lalu bentuklah dirimu sendiri tentang sesuatu yang lain, apa yang mengganggu dia.
GS : Ada anak yang setelah membentuk bayi, lalu dirusakkan lagi.
VA : Ini menunjukkan sesuatu bahwa dia ini sebetulnya merasa gemas, marah dan ini ditunjukkan di situ.
GS : Jadi anak juga boleh membanting-banting pledonya itu.
VA : Dan itu tidak apa-apa, mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya.
GS : Tadi kita sudah perbincangkan melalui gambar atau melalui pledo yang berbentuk itu, apakah ada karya anak dalam bentuk-bentuk yang lain yang bisa mengungkapkan perasaan isi hati anak itu ?
VA : Juga bisa menggunakan lambang-lambang, seperti orang dewasa ada lambang salib ada lambang-lambang tentang Tuhan Yesus, dia juga bisa melambangkan apa itu salib, dia menggunakan lambang tenang sesuatu, mungkin dengan binatang yang menakutkan.
GS : Untuk itu, apakah kita yang menyediakan atau anak yang mencari sendiri ?
VA : Kita sudah sediakan di situ dan kita menyuruh mereka memilih dan suruh meletakkan di mana.
GS : Maksudnya meletakkan ini bagaimana ?
VA : Jadi kita menyuruhnya misalnya anak mengalami trauma karena orang tua berpisah dan dia sekarang baru pindah rumah bersama mamanya dan papanya di rumah yang lain. Coba letakkan ini lambang umah, rumahmu yang baru dan lambang siapa yang tinggal di sana mungkin itu orang-orang kecil.
Lalu lambang tentang papanya yang berkunjung, jadi lambang itu menunjukkan pergumulan di dalam hatinya.
GS : Jadi bukan dalam bentuk yang nyata tapi lewat lambang-lambang tapi itu mencerminkan siapa yang dilambangkan.
VA : Ya, siapa yang dilambangkan dan pergumulan dia juga kelihatan di sana.
GS : Biasanya kalau terjadi perpisahan orang tua, apa yang dilambangkan oleh anak ?
VA : Mungkin papa yang tidak hadir di situ, dan untuk Papa tetap dilambangkan dengan orang tapi mungkin untuk tempat tinggal papa dia menggunakan batu saja. Jadi sesuatu yang tidak bisa dia kunungi dan tidak bisa dia tinggali.
GS : Dan biasanya dengan permainan lambang-lambang ini, ibu bisa menangkap maksud anak itu ?
VA : Jadi dari sana kita bisa melihat apa yang terjadi dan kita tanyai, "Apa yang terjadi di sini ?" dan dia menginginkan papanya kembali tapi di satu pihak tidak bisa sehingga terjadi perpisahn.
Dan itu menceritakan.
GS : Kemudian kita selalu bertanya apa yang diharapkan ?
VA : Ya, apa yang kamu pikirkan, apa yang terjadi di sini yang dilambangkan, apa intinya. Kita sendiri tidak bisa mengartikan dan si anak harus mengartikan sendiri.
GS : Ya benar. Karena kadang-kadang yang dipilih anak adalah benda-benda yang kering seperti ranting, daun kering lalu batu yang keras dan itu mencerminkan sesuatu.
VA : Jadi kita harus tanya dia, "Apa itu artinya ?" Seperti sekarang ini dia menggunakan lambang gunting, apa itu artinya ? Dia mengatakan, kalau dia melakukan sesuatu, orang tuanya selalu mengunting semua usahanya dan rasanya dia kehilangan semangat karena usahanya digunting terus, dia menggunakan lambang itu.
GS : Selain itu apakah ada bentuk permainan yang lain, Bu ?
VA : Ada permainan yang lainnya misalkan menggunakan games.
GS : Apa yang dimaksud games ?
VA : Games itu seperti menggunakan kartu, kartu apa saja. Jadi sambil bermain kartu anak itu ditanya-tanyai, sehingga dia nanti akan bercerita. Jadi anak itu tidak bisa langsung untuk menceritaan keadaannya karena anak tidak bisa langsung diajak berdiskusi seperti ini.
Pikirannya itu dengan bermain games.
GS : Bentuk kartu seperti apa yang biasa digunakan ?
VA : Macam-macam. Kartu yang juga biasa kita gunakan forty-one, atau ada kartu yang kuno, akan lebih baik kalau kita menggunakan kartu-kartu yang tidak ada menang atau kalahnya.
GS : Karena memang dalam permainan kartu ini tidak dicari menang atau kalahnya, hanya mengungkapkan perasaan saja.
VA : Betul. Ada juga kartu-kartu perasaan yang dipakai, jadi ada kartu-kartu yang menggambarkan perasaan-perasaan, jadi kita bisa mengatakan, "Pilihlah perasaanmu hari ini" dan dia menunjukkan perasaan menangis, kemudian kita bertanya, "Kenapa kamu mengambil perasaan yang menangis ini ?"
GS : Dan memang yang diungkapkan adalah perasaannya. Melalui kartu-kartu itu dia menunjukkan isi hatinya. Tentang perasaan orang tuanya terhadap dia seperti apa.
VA : Biasanya saya mengatakan, "Pilihlah kartu yang menunjukkan perasaanmu hari ini". Dan dia akan memilihnya.
GS : Kalau tadi Ibu katakan menggunakan kartu forty-one, bagaimana kita bisa menggunakannya karena kartu ini sudah banyak di Indonesia.
VA : Kartu itu saya gunakan untuk anak yang sudah agak besar, jadi maksudnya sambil kita bermain, kita juga bercerita. Dengan kata lain dia konsentrasinya bukan pada cerita untuk mengungkapkan erasaan hatinya, tapi bermain.
Sehingga sepertinya dibelokkan supaya tidak langsung seperti wawancara.
GS : Jadi kita sebagai orang dewasa mesti tahu bahwa tujuan bermain ini bukan untuk menang, sehingga kita juga perlu mengalah supaya anak senang dan mau terus bermain, karena biasanya kalau dia kalah dia tidak mau bermain lagi.
GS : Ada anak yang aktif sekali. Jadi di dalam ruangan, dia suka menendang-nendang dan bermain bola, apakah itu kita perkenankan ?
VA : Kalau di ruang konseling yang banyak kacanya itu tidak mungkin, jadi kita tidak berlakukan itu.
GS : Tapi kalau sekadar lompat-lompat tidak apa-apa, asal tidak merusakkan barang-barang ?
GS : Betul, itu juga bentuk menyalurkan energi dia.
VA : Tapi harus ada batasannya.
GS : Jadi ada pengawasan. Sekarang Ibu sebagai Ibu kandung dari anak-anak Ibu, pengalaman Ibu dengan anak-anak bagaimana ?
VA : Anak-anak saya suka membaca jadi saya menggunakan buku-buku. Dulu saya suka mengumpulkan buku untuk menceritakan kepada anak, apa yang ingin saya ajarkan kepada mereka lalu mereka bisa meneritakan diri mereka sendiri melalui karakter-karakter dalam buku itu.
GS : Sekaligus menimbulkan minat baca anak.
GS : Apakah tanggapan mereka cukup positif ?
VA : Mereka sangat senang sekali dengan buku-buku itu. Sehingga buku untuk anak-anak menjadi banyak sekali dan tidak bosan-bosan.
GS : Tapi itu bisa disimpan. Jadi semacam perpustakaan kecil buat anak-anak sendiri. Apakah Ibu yang bercerita ?
VA : Saya yang bercerita untuk mengajarkan sesuatu dan mereka sendiri juga suka untuk membaca buku, dan mereka juga bisa bermain-main yaitu bermain dengan menggunakan lambang-lambang dan di sitlah mereka bermain.
Jadi lambang juga saya gunakan.
GS : Ada anak yang bermain menggunakan balok-balok jadi membentuk rumah-rumahan atau bangunan tertentu, apakah ini bisa mengungkapkan perasaannya juga ?
VA : Mungkin bisa dengan balok-balok tertentu, kalau seandainya dia membuat "tower" (menara) seperti yang terjadi pada 11 September , lalu menaranya ini diruntuhkan. Itu menunjukkan traumanya sat melihat di TV bahwa ada 2 menara yang runtuh, mungkin dia akan membangun menara dan meruntuhkannya.
Membangun menara lalu diruntuhkan lagi. Apa yang dia buat itu menunjukkan traumanya.
GS : Atau membuat mobil-mobilan lalu ditabrakkan.
VA : Itu juga bisa, dia trauma melihat tabrakan, atau dia juga pernah mengalami, itu juga bisa seperti itu .
GS : Kembali ke soal bercerita, kalau bercerita dengan anak sebaiknya memakai buku atau langsung kita bercerita kepada anak ?
VA : Kalau kita langsung menceritakan sesuatu kepada anak maka orang tua harus pandai bercerita. Tapi kalau ada buku, paling tidak gambarnya itu akan membuat anak menarik. Dan dalam bercerita, alau orang tua pandai bercerita, sebaiknya bercerita tentang masalah yang dihadapi oleh anak dan itu dibuat sebuah cerita.
Misalkan masalah tentang anak yang merasa tidak dicintai karena adik datang. Mungkin orang tua bisa bercerita dengan menggunakan binatang, ada binatang kecil datang tapi mamanya masih mencintai binatang yang besar dan juga masih mencintai binatang yang kecil. Jadi dengan cerita itu menampilkan bahwa mama masih mengasihi yang besar dan juga yang kecil. Jadi cerita yang dibuat khusus untuk anak itu.
GS : Menggambarkan sesuatu tapi tidak secara langsung.
GS : Melalui cerita apakah kita bisa mengajarkan anak berdisiplin terhadap sesuatu. Secara konkretnya seperti ini, ada anak kalau malam suka mengompol, dia selalu ngompol dan sering ngompol. Lalu ibunya ingin mengajari anaknya supaya bisa ke kamar kecil. Untuk hal ini apakah bisa menggunakan cerita ?
VA : Mungkin untuk hal itu bisa menggunakan cara yang lain. Seperti menggunakan permainan yang mengatakan bahwa, "Ayo kita mendisiplinkan" bukan anak itu tapi menggunakan simbol sebagai si ngopol.
Jadi bukan anak. Dan itu dibuat bermain, ini ada latihannya, "Ayo kita melatih si ngompol ini, supaya tidak ngompol." Agar tidak mengompol, itu harus ada ritualnya, "Bagaimana supaya tidak terjadi," dan kalau akhirnya tidak ngompol ada "chart"nya mendapat bintang-bintang. Jadi akhirnya bermain, sambil bermain sambil melatih.
GS : Karena ibunya berkata, "Kalau dimarahi maka dia semakin mengompol dan malah sering mengompol."
GS : Iya. Jadi lewat permainan ya, Bu ?
VA : Lewat permainan "Ayo kita melatih si ngompol" jadi si ngompol dibuat nama yang menarik.
GS : Dan yang penting ada penghargaan, yang Ibu katakan tadi ada chart yang bisa ditandai, jadi kalau dia tidak ngompol maka dia diberikan sesuatu.
VA : Ya menggunakan bintang-bintang. Kalau dalam satu minggu hanya menghasilkan satu, kita sudah bersyukur karena nanti akan bertambah lagi dan bertambah lagi.
GS : Mungkin tuntutannya tidak terlalu berat.
VA : Harus dimulai dengan hal-hal yang kecil. Jadi mulai dengan satu saja sudah bagus.
GS : Juga untuk mendisiplin yang lain, misalnya makan dan sebagainya itu juga bisa dilakukan begitu ?
VA : Bisa dilakukan. Jadi menggunakan permainan yang ada nama-namanya. Juga untuk anak yang tukang marah, kita bisa menggunakan gambaran monster yang sedang marah dan sebagainya dan mungkin dibri nama si marah.
Jadi sewaktu malam kita memasukkan si marah ini ke dalam dos, sebelum tidur si marah dimasukkan ke situ lalu ditutup, berarti marah itu bisa dikendalikan. Kalau dia mau marah, permainan ini ditunjukkan lagi, jadi seperti lampu merah, hati-hati ini marahnya mau keluar dan dimasuk-masukkan lagi.
GS : Karena biasanya marahnya itu terjadi pada siang hari, pulang sekolah atau mau berangkat ke sekolah lalu anak marah-marah terus, Bu. Kalau malam menjelang tidur biasanya jarang ia marah-marah.
VA : Ada jamnya, diberitahu kepada si marahnya, kalau pada jam tertentu tidak boleh keluar, waktu itu harus ditentukan yang disetujui oleh orang tua dan anak. Jadi dilatih, mungkin si marah kelarnya malam saja, yang biasanya tidak marah, malah disuruh marah, dan kalau siang hari si marah keluar, tapi dilatih untuk tidak keluar.
Sehingga kemarahannya dikendalikan, jadi ada waktu untuk marah dan ada waktu untuk tidak marah. Akhirnya anak belajar ternyata kemarahannya itu bisa dikendalikan, bukannya keluar dengan sendirinya tapi bisa dikendalikan, ada waktu untuk marah ada waktu tidak marah, akhirnya dia bisa belajar tidak marah.
GS : Jadi mendidik anak untuk mengendalikan emosinya, tidak perlu kemarahannya meledak-ledak, karena anak ini agak keras suka memukul, suka membanting. Jadi orang tuanya agak sulit dan mungkin dengan cerita rasanya juga kurang berhasil. Mungkin dengan perbincangan ini orang tua akan sedikit tertolong dan mengajarkan anak untuk mendisiplin atau menguasai emosinya.
GS : Ada anak yang juga suka bermain di pasir. Jadi dia menggunakan pasir, kalau diajak ke pantai atau di rumahnya ada tumpukan pasir bekas bangunan, dia selalu bermain di sana.
VA : Itu baik sekali karena dengan pasir, dia bisa membentuk banyak hal. Di situ dia bisa membuat bukit, di situ dia bisa membuat rumah-rumahan dan apa saja. Di situ ada lambang-lambang dan diabisa taruh di sana.
Pasir sangat berguna sekali untuk terapi anak.
GS : Tapi yang penting orang tua juga harus memberikan perhatian, tentang apa yang telah dibuat oleh anak.
VA : Maka dari itu orang tua perlu mendampingi dan melihat apa yang anak lakukan, setelah itu kita tanya, "Apa yang ada di sini, saya melihat kamu meletakkan benda ini di sini dan kamu menyembuyikan sesuatu di sini," mungkin sesuatu yang dia takuti itu yang dia sembunyikan, sesuatu yang dia tidak mau hadapi itulah yang dia sembunyikan.
GS : Jadi sebenarnya ada banyak karya anak yang mencerminkan diri anak itu sendiri, Bu ?
VA : Betul. Dengan permainan itu menunjukkan siapa dirinya.
GS : Hanya kadang-kadang kita sebagai orang tua itu tidak peka dan kurang tanggap terhadap apa yang anak dilakukan anak ini.
GS : Bahkan kecenderungannya kita mengatakan, "Mengapa gambarnya seperti itu, mengapa patungnya juga seperti itu." Sehingga anak menjadi malas untuk mengerjakannya.
VA : Ya. Jadi ini bukan karya seni seperti biasanya tapi karya untuk menunjukkan siapa dirinya.
GS : Tuhan Yesus sendiri juga sering bercerita kalau kita baca di dalam kitab Injil, Ia menggunakan cerita-cerita untuk menyampaikan ajaran-ajaranNya. Apakah pola seperti itu bisa kita gunakan ?
VA : Sangat bagus sekali kalau kita menggunakan cerita, bahkan kalau zaman dahulu belum ada permainan seperti sekarang. Kalau kita lihat di dalam Alkitab, orang tua zaman dahulu selalu menggunaan cerita untuk menyampaikan sesuatu.
GS : Jadi cerita dari generasi ke generasi yang terus-menerus dilakukan.
GS : Itu bisa memberikan kesan yang dalam di dalam diri anak ?
VA : Betul. Jadi anak akan mengingat cerita itu.
GS : Kita sebagai orang dewasa perlu belajar bercerita. Kita terlalu sering mendengarkan cerita tapi kurang mau bercerita kepada anak.
GS Ibu, sebelum mengakhiri perbincangan ini, apakah ada ayat Firman Tuhan yang Ibu ingin sampaikan ?
VA : Saya baca di dalam Markus 10:14, "Sabda Tuhan Yesus, 'Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan llah'."
GS : Maksudnya bagaimana ?
VA : Maksudnya adalah bahwa Yesus ini sangat senang kalau anak-anak datang kepada Yesus dan kalau anak-anak datang kepada Yesus itu bukan sesuatu yang merepotkan. Karena orang yang seperti, ana-anak itulah yang empunya kerajaan Allah.
Jadi bukan orang yang seperti anak-anak atau kekanak-kanakan tapi ketulusannya seperti anak dan hatinya terbuka seperti anak-anak, itulah yang Tuhan mau.
GS : Kadang-kadang kita terlalu sibuk untuk melayani anak-anak, untuk mengetahui keluh kesah mereka dan perasaan mereka. Dan Tuhan Yesus sudah sangat sibuk sekali dan di tengah-tengah kesibukanNya masih menyempatkan diri, membiarkan diriNya didatangi oleh anak-anak.
VA : Dan waktu itu murid-murid Yesus berkata, "Jangan" tapi Tuhan Yesus menjawab, "Biarkanlah, karena anak-anak itu sangat berharga," Tuhan Yesus menyayangi anak-anak juga.
GS : Terima kasih, Ibu Vivian untuk perbincangan kali ini, saya percaya dengan perbincangan kita ini, kita akan lebih memberikan perhatian kepada anak-anak kita. Pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengenal Anak Melalui Karyanya". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ternyata melalui karya yang telah dibuat oleh anak, kita lebih bisa mengenal anak. Mungkin untuk kita hal itu sangat aneh, karena seringkali anak membuat sesuatu tanpa dia memikirkan atau asal-asalan saja. Bagaimana kita bisa memahami hal ini?
Apa yang bisa kita ketahui dari gambar yang dibuat anak ?
Kita tidak melihat gambar yang dibuat oleh anak ini, menurut nilai artistik, sebagaimana kita orang dewasa. Tapi apa yang dia gambarkan itu menunjukkan isi hatinya. Jadi seandainya kita mengatakan, "Coba kamu gambarkan tentang dirimu sendiri," kemudian dia menggambarkan dirinya sendiri, misalkan :
Bentuk muka yang sederhana tapi dia mencorat-coret mukanya, itu menunjukkan kalau dia sedang marah dengan dirinya, begitu sedih dengan dirinya, harga dirinya tidak ada.
Atau warna yang dipakainya, misalkan warna merah atau hitam semua, itu menunjukkan kemarahannya.
Bentuk gambar, misalkan dia menggambar ibunya yang suka melotot maka dia akan menggambar sesuatu yang matanya besar dan bentuk tubuh yang lain kecil, itu menunjukkan bahwa mata yang melotot itu yang paling dia ingat.
Tidak semua anak suka menggambar, maka kita bisa menggunakan alat-alat seperti :
Malam atau pledo. Dalam menggunakan pledo ini seringkali anak hanya membentuk gumpalan, tapi sekali lagi kita jangan melihat bentuk artistiknya namun apa artinya itu, dan kita tanya kepada anak, apa artinya?
Lambang-lambang dan kita menyuruh meletakkan lambang-lambang itu. Misalnya anak mengalami trauma karena orang tua berpisah dan dia sekarang baru pindah rumah bersama mamanya dan papanya di rumah yang lain. Coba letakkan lambang rumah, rumahmu yang baru dan lambang siapa yang tinggal di sana mungkin itu orang-orang kecil. Lalu lambang tentang papanya yang berkunjung, jadi lambang itu menunjukkan pergumulan di dalam hatinya.
Kartu. Kartu bisa bermacam-macam seperti forty-one atau kartu tentang perasaan. Kita bisa bertanya "Bagaimana perasaanmu hari ini?" dan dia bisa memilih salah satu kartu perasaan itu yang menunjukkan perasaan itu. Dan dari situ kita bisa berkomunikasi dengan dia.
Gunting. Ada anak yang mengambil gunting karena apa pun yang dia perbuat, orang tuanya selalu menggunting. Dan itu sangat membekas kepada anak.
Jadi kita harus selalu bertanya "Apa artinya itu?" kita tidak bisa mengetahui isi hati anak, sehingga anaklah yang harus mengungkapkan isi hatinya dan dari situlah kita tahu apa yang sedang anak rasakan. Maka kita harus lebih aktif bertanya.
Tuhan Yesus sering menggunakan cerita sebagai sarana untuk menyampaikan ajaranNya. Kita juga bisa menggunakan cerita untuk mendekatkan diri dengan anak. Oleh sebab itu orang tua perlu belajar bercerita. Seringkali kita beranggapan bahwa kita orang tua sulit untuk bercerita karena tidak mempunyai pengalaman bercerita. Maka kita bisa menggunakan buku penuntun karena dengan menggunakan buku, anak-anak akan lebih bisa mengingatnya karena di dalam buku itu ada gambar-gambar yang bisa dilihatnya. Kalau orang tua tidak menggunakan buku, maka orang tua harus lebih lebih kreatif dalam menyampaikan cerita.
Firman Tuhan :
Markus 10:14, "Sabda Tuhan Yesus, 'Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah'."
Maksudnya adalah bahwa Yesus ini sangat senang kalau anak-anak datang kepada Yesus dan kalau anak-anak datang kepada Yesus itu bukan sesuatu yang merepotkan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 9:17am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Kita tahu anak-anak menyukai permainan, dan hampir semua permainan disukai oleh anak-anak. Tapi sangat asing bagi kita kalau permainan, bisa digunakan sebagai terapi. Dengan terapi bermain itu, kita bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh anak, karena anak tidak bisa mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata seperti orang dewasa. Bagaimana caranya dan apa saja bentuk permainannya? Di sini akan dibahas secara tuntas
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo dalam acara Telaga ini. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Terapi Bermain". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Bu Vivian, terima kasih Ibu berkenan untuk melakukan perbincangan dalam acara Telaga kali ini dan kita mau membicarakan tentang terapi bermain. Kita tahu anak-anak menyukai permainan, tapi permainan itu bisa digunakan sebagai terapi, bagi kami itu sesuatu yang sangat asing. Mungkin Ibu bisa jelaskan apa sebenarnya terapi bermain itu ?
VA : Terapi bermain adalah suatu permainan digunakan sebagai alat untuk berdialog atau bertukar pikiran dengan anak-anak. Kalau dengan orang dewasa, kita berbicara menggunakan kata-kata tapi degan anak-anak kita menggunakan permainan sebagai alat untuk berbicara.
Jadi permainan adalah bahasa anak.
GS : Kalau kita mau berdialog dengan anak dimana ada masalah tertentu dengan diri anak itu, Bu, dalam hal ini sebenarnya apa yang ingin kita capai ?
VA : Yang kita ingin capai dari terapi bermain adalah dengan menggunakan permainan itu, kita lebih mengenal anak. Lebih mengerti apa yang ada di dalam diri anak, karena anak sulit untuk mengutaakan sebetulnya ada sesuatu yang tidak suka di dalam dirinya, atau dia tidak bisa menceritakan sesuatu yang mengganggu dirinya.
Maka dengan permainan itu si anak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya.
GS : Seringkali yang ibu hadapi, masalah-masalah apa yang dialami oleh anak ?
VA : Bermacam-macam misalnya anak ini tidak mau ke sekolah, biasanya ke sekolah dan tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dan orang tua bertanya, "Kenapa tidak mau sekolah?" jawabnya adalah "Pokokna tidak mau sekolah," dan hanya menangis, itu salah satu masalah.
Dengan permainan bisa diketahui ternyata dia tidak mau sekolah karena ada teman yang mengganggu atau ada guru yang bersikap keras terhadap dia, dia di rumah tidak pernah dipukul dan sekarang di kelas dipukul. Jadi dengan permainan itu akhirnya bisa diungkapkan sesuatu yang sulit dia ekspresikan.
GS : Apakah anak-anak juga mengalami krisis seperti orang dewasa ?
VA : Betul. Jadi anak-anak bisa mengalami krisis bermacam-macam mungkin karena dia punya adik baru, itu juga bisa menjadi sebuah krisis. Mungkin dengan sakit juga mengalami krisis atau orang tunya yang sakit juga mengalami krisis, atau dia mulai sekolah dahulunya belum sekolah dan akhirnya memulai sekolah dan itu membuat krisis karena berarti dia itu pisah dengan orang tuanya.
Dia merasa takut dan krisis juga bisa bermacam-macam mungkin ada kematian di dalam keluarganya atau binatang kesayangannya meninggal atau kehilangan sesuatu itu menyebabkan krisis.
GS : Tapi anak sulit untuk mengungkapkan itu dengan bahasanya, begitu ?
VA : Betul, dia sulit untuk mengungkapkan. Kelihatannya dia riang gembira, bermain-main tapi sebetulnya ada sesuatu yang mengganggu dia.
GS : Berarti yang tahu lebih dulu itu seharusnya orang tua bahwa anak ini memerlukan suatu terapi.
VA : Tapi kadang-kadang orang tua tidak tahu dan dari permainan anak, sebetulnya anak itu mengungkapkan sesuatu. Seandainya dia kehilangan kakek yang dia sayangi, mungkin dia bisa menggunakan prmainan dengan menggunakan boneka.
Ini menunjukkan boneka yang hidup kemudian bonekanya tidur, dengan permainan itu sebetulnya menunjukkan bahwa orang yang dia kasihi sudah tidak ada lagi.
GS : Kalau kita bicara tentang anak, permainan ini cocok untuk anak-anak sekitar usia berapa ?
VA : Anak-anak di bawah usia 12 tahun.
GS : Kalau anak di usia lebih dari 12 tahun, dia sudah bisa mengungkapkan lewat pembicaraan.
VA : Di atas 12 tahun adalah usia remaja. Jadi mereka lebih bisa mengungkapkan diri lebih baik.
GS : Apakah semua jenis permainan itu bisa digunakan untuk terapi ?
VA : Tidak semua jenis permainan. Jadi yang cocok untuk anak itu, kalau ada anak yang terlalu kecil, permainannya tidak cocok karena dia belum bisa berimajinasi. Jadi ada jenis tertentu itu untk anak yang berumur 7 tahun ke atas bisa digunakan, ada pula untuk anak yang lebih kecil.
GS : Kira-kira permainan jenis apa yang ibu gunakan untuk melakukan terapi ini ?
VA : Biasanya sering menggunakan seni, anak-anak kecil suka dengan menggambar, juga menggunakan permainan binatang-binatang kecil karena anak suka dengan binatang-binatang, mungkin dengan malam(lilin) atau sesuatu yang anak sukai, seperti buku cerita, itu juga disukai anak-anak.
GS : Kadang-kadang anak laki-laki dengan anak perempuan itu jenis permainannya berbeda. Kalau anak perempuan itu lebih senang dengan boneka dan kalau anak laki kurang senang dengan boneka. Itu bagaimana, Bu?
VA : Ini harus dibedakan, permainan ini bukan permainan yang biasa dilakukan oleh anak tapi permainan ini adalah alat untuk mengungkapkan isi hati anak. Lain dengan permainan seperti nintendo dn sebagainya, tapi ini adalah alat supaya dia mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya.
GS : Jadi itu sudah dipersiapkan lebih dahulu.
VA : Ya, jadi yang bisa cocok untuk anak itu.
GS : Misalnya kalau kita mau bermain-main dengan boneka, boneka apa yang biasa digunakan ?
VS : Boneka yang digunakan adalah "puppets", yang biasa digunakan untuk panggung boneka dan boneka itulah yang berbicara. Jadi kalau anak itu tidak mau berbicara maka bonekanya ini yang berbicaa sehingga akhirnya anak ini berbicara juga.
GS : Tapi yang mengungkapkan itu anak ? Jadi yang memainkan "puppets" seperti sarung tangan yang dimainkan lalu ada bonekanya itu tadi, itu si anak yang berbicara ?
VA : Ya, kalau dia mau bicara. Tapi kalau tidak mau bicara maka orang dewasanya yang bicara sendiri. Kadang berperan menjadi orang dewasa tapi kadang juga menjadi anak-anak, jadi dia berdialog ntar satu boneka sebentar sebagai anak, sebentar sebagai orang dewasa.
Tapi anaknya kalau mau bicara juga baik sehingga bisa terjadi dialog.
GS : Kalau tidak sesuai dengan pikiran anak, maka anak akan menyanggahnya ? Apakah maksud ibu seperti itu ?
VA : Bukan begitu. Sebetulnya ini hanya untuk mengungkapkan isi hatinya, misalnya dia tidak mau bicara karena mungkin dia takut, dia tidak kenal tapi karena menggunakan cara itu maka anak bisa enghilangkan rasa takutnya, dia bisa bercerita.
GS : Yang penting dia bisa mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang lebih dewasa supaya kita yang lebih dewasa ini tahu sebetulnya masalahnya apa ?
GS : Dan apa kesulitan yang ibu hadapi jika ada anak yang sulit untuk berbicara seperti itu ?
VA : Memang semua anak sulit kalau ditanya, "Kenapa kamu tidak mau sekolah, kenapa kamu takut," mereka tidak mengerti bagaimana mengungkapkan, oleh sebab itu menggunakan permainan ini akhirnya ia bisa menceritakan.
Seperti ada satu anak yang penakut dan ternyata dengan salah satu permainan yang saya gunakan yaitu dengan menggambar, kemudian dia bertanya, "Apa yang harus saya gambar ?" Saya jawab, "Gambarlah keluargamu," dia menggambarkan mamanya seperti raksasa padahal bentuk tubuh mamanya kecil. Ternyata setelah digali-gali dia bercerita ternyata mamanya sering memarahi dia mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, jadi sepanjang hari, apa yang dia lakukan selalu dicacat cela. Akhirnya anak ini takut melakukan segala sesuatu, dari permainan ini menunjukkan dia mempunyai rasa takut bukan karena dia itu takut tapi karena selalu dimarahi, selalu dicacat cela dan dia menjadi orang penakut.
GS : Jadi pada waktu dia menggambar, ibunya digambar dengan sosok yang besar itu sebenarnya dia menyadari betul, Bu ?
VA : Tidak. Dia tidak sadar. Jadi secara tidak sadar dia menggambarkan seperti itu karena ibunya sendiri kecil. Maka dengan permainan itu menyatakan apa yang ada di dalam dirinya, ibunya sepert raksasa yang selalu mengendalikan, mengontrolnya terlalu keras.
GS : Kalau anak tidak bisa menggambar, ibu biasanya menggunakan apa ?
VA : Bisa permainan. Jadi seperti anak yang sudah saya katakan yang tidak mau sekolah, saya katakan, "Mari kita bermain binatang-binatang ini yang mau pergi ke sekolah" jadi dengan binatang-bintang itu kita menggambarkan situasi sekolah.
Ada binatang yang berperan sebagai dia dan temannya, ada binatang yang berperan sebagai gurunya, ternyata dia menceritakan bahwa "Guru ini suka memukul" barulah dia bercerita kalau dia dipukuli oleh gurunya. Dan hal itu tidak bisa dia ceritakan kepada orangtuanya pada saat orang tuanya bertanya, "Kenapa tidak mau sekolah" dia tidak bisa menjelaskan, tapi dia bisa menjelaskan lewat binatang-binatang itu, secara tidak sadar dia keluarkan. Kita baru tahu kalau dia tidak mau sekolah karena dipukuli oleh gurunya padahal anak ini di rumah tidak pernah dipukuli.
GS : Apakah binatang-binatang itu yang bisa kita temui di toko-toko, yang kecil-kecil dan terbuat dari plastik itu ?
VA : Ya, binatang kecil-kecil dari plastik itu jadi berbagai macam binatang.
GS : Binatang-binatang itu memproyeksikan diri anak, begitu ?
VA : Memproyeksikan apa yang dia rasakan di dalam dirinya.
GS : Misalkan dia memilih seekor singa, lalu apa yang dilakukan ?
VA : Singa itu bisa dia proyeksikan sebagai karakter dari orang yang dia pilih itu. Untuk anak yang tidak mau sekolah ini saya ingat, dia memilih kingkong, dan itu karakter gurunya menurut pandngan dia, karakternya seperti kingkong yang menakutkan.
Biasanya seperti itu.
GS : Bagaimana cara ibu menanyakan kepada anak, merangsang anak supaya dia bisa memilih binatang itu secara tepat, paling tidak mendekati tepat.
VA : Biasanya saya katakan, pilihlah binatang yang kamu sukai, yang paling menyerupai dirimu yang mana ? Yang paling menyerupai gurumu yang mana ? Dia memilih sendiri, bukan yang menyerupai muknya tapi karakternya itu.
GS : Jadi anak sedikit banyak butuh pengetahuan tentang karakter-karakter binatang-binatang itu.
VA : Betul. Tapi dari gambaran sesungguhnya, dari binatang itu sudah kelihatan bahwa kingkong itu menakutkan.
GS : Apakah itu bisa berlangsung cukup lama ?
VA : Waktu itu kita bermain 20 menit dan dia cukup senang bermain-main. Itu menceritakan semua yang ada di dalam dirinya.
GS : Biasanya setelah anak menceritakan segala sesuatunya baik lewat gambar atau lewat boneka-boneka tadi, lalu apa yang ibu lakukan ?
VA : Setelah dia menceritakan seperti itu tadi, akhirnya saya berbicara kepada orang tuanya, karena bagaimana pun anak masih perlu bimbingan orang tua, jadi saya tunjukkan kepada orang tuanya aa yang sedang terjadi.
Seperti satu anak tadi itu apa yang sedang terjadi, ternyata anak itu terlalu sering dimarahi orang tua. Orang tuanya saya ajak bicara ternyata tahu bahwa anak ini memang di tolak. Jadi orang tua harus mengubah supaya anak ini diterima kembali akhirnya anak itu diterima apa adanya, dan anak ini berubah. Demikian juga anak yang mengambil binatang kingkong tadi, akhirnya tahu, "Oh, kamu ini ternyata diperlakukan demikian", sehingga orang tuanya mengambil keputusan untuk berbicara dengan pihak sekolah, sekolahnya akhirnya tidak mau berubah karena sekolah ini muridnya banyak, jadi harus dengan kekerasan. Akhirnya mereka pilih pindah sekolah lain dimana anak tidak takut. Jadi kita harus bekerjasama dengan orang tua.
GS : Untuk menolong anak ini rupanya keterlibatan orang tua, pendidik dan sebagainya itu cukup besar.
VA : Ya, harus kerjasama.
GS : Dan oleh konselor semuanya dilibatkan.
VA : Betul, harus kerjasama kalau tidak ada kerjasama maka tidak akan bisa dilakukan.
GS : Dan biasanya anak pergi ke konselor itu bukan maunya sendiri.
GS : Dan dapat dari mana biasanya ?
VA : Biasanya orang tua yang membawa dan bertanya, "Kenapa anak saya yang satu ini tidak mau sekolah, biasanya mau sekolah tapi kenapa sekarang tidak mau sekolah selalu menolak dan menangis." Jdi orang tuanya sudah sekian lama mencoba akhirnya mereka mencari jalan keluar pergi ke konselor, apa yang terjadi, ternyata ketahuan.
Ibunya bertanya, "Kenapa kamu ditanya mama tidak mau cerita ?" Itulah yang sulit bagi anak untuk mengutarakan isi hatinya dan melalui permainan itu akhirnya bisa.
GS : Mungkin ibu bisa memberikan tips kepada para orangtua karena sesuai pengamatan itu, berbicara dengan anak itu tidak mudah, kalau kita mau memakai bahasa mereka juga sulit dan ini hal-hal apa yang harus kita perhatikan ketika kita berbicara dengan seorang anak.
VA : Yang harus kita perhatikan bicara dengan anak, kita harus melihat bahwa anak itu bukanlah orang dewasa yang kecil, mereka itu adalah seorang anak. Jadi kita harus memahami anak, dunia anakini menggunakan permainan, anak tidak bisa diajak berwawancara seperti saya dengan Pak Gunawan begini, tidak bisa.
Maka kita harus bermain, dengan permainan itu kita tahu.
GS : Kadang-kadang anak juga takut bicara dengan orang asing, dengan orang yang belum dia kenal dan ini bagaimana ibu melakukan pendekatan ?
VA : Dengan permainan itulah mereka menjadi tidak takut lagi. Jadi dengan permainan itu akhirnya mereka lupa bahwa ini berbicara dengan orang asing, kita perlu ramah dengan mereka.
GS : Berarti tidak bisa langsung ditanya permasalahan mereka apa ?
VA : Jadi yang bisa kita lakukan adalah bermain dahulu. "Ayo kita main", kalau sudah main mereka lupa dengan apa yang dia hadapi, apakah itu orang asing.
GS : Dan makin akrab. Seandainya dia bosan dengan permainan boneka tadi atau menggambar juga bosan, kalau mau ganti permainan apakah ibu perkenankan?
VA : Boleh. Tentunya ganti dengan permainan yang lainnya. Jadi mainan mana yang dia sukai dan cocok. Tapi permainan itu selalu ada tujuannya yaitu untuk menggali sesuatu di dalam diri anak. Jad mungkin anak ini tidak cocok dengan permainan ini dan anak itu juga bisa membaca dan menulis, mungkin dengan permainan kata-kata jadi dengan kata-kata itu dia mulai menyelesaikan kalimat.
Jadi misalnya, "Saya merasa ....", dia harus meneruskan. "Menurut saya papa bagaimana, mama bagaimana ?" Kemudian dia bisa menceritakan apa yang dia harapkan dan dia bisa tuliskan itu.
GS : Ibu sebagai pendeta apakah pernah mengalami hal-hal seperti itu dalam jemaat yang Ibu layani, jadi jemaat anak-anak ini apakah ibu pernah melakukan konseling dengan mereka atau bagaimana ?
VA : Kalau dengan jemaat sendiri, biasanya saya bicara-bicara dengan mereka dan tidak langsung terapi seperti ini, tapi berteman dengan mereka lalu berbicara dan mereka bercerita.
GS : Tapi jemaat anak-anak juga punya persoalan juga ?
VA : Tentu saja. Seperti satu jemaat yang saya layani, orangtuanya bertengkar terus, bapaknya memperlakukan istrinya dengan sangat kasar sekali, bahkan dipukuli dan pakai pistol mau dibunuh, akirnya anaknya ketakutan menangis terus.
Jadi saat itulah saya membantu anak itu, memberikan rasa aman sehingga ketakutannya itu bisa diceritakan.
GS : Kadang-kadang gereja hanya menangani masalah orang dewasa dan perkara anak-anak kurang diperhatikan, padahal ini seringkali menjadi masalah juga di dalam jemaat.
VA : Betul. Karena anak-anak ini sebetulnya mereka mengalami krisis, kalau tidak diperhatikan nanti lain kali kalau masalah ini belum dibereskan, nanti setelah dewasa akan mengganggu dia.
GS : Menurut pengalaman Ibu,terapi bermain ini membutuhkan waktu berapa lama ?
VA : Biasanya kurang lebih dengan anak, 30 menit.
GS : Setiap kali pertemuan ?
VA : Tapi biasanya 10 menit sebelumnya dengan orang tua dulu, bicara sebentar, kemudian 30 menit dengan anak dan nanti akan diakhiri dengan orang tua lagi.
GS : Dengan terapi bermain ini biasanya yang ibu tangani adalah yang menyangkut kejiwaan anak-anak, Bu ?
VA : Sebenarnya menyangkut segala sesuatu yang mengganggu, misalnya emosinya terganggu. Anak yang menjadi penakut atau menangis terus atau ada anak yang terlalu pendiam, itu sesuatu yang lain.
GS : Biasanya yang dialami anak adalah kesedihan karena ditinggal orang tuanya entah karena perceraian atau karena kematian dan ini bagaimana menanganinya, Ibu ?
VA : Untuk anak semacam itu, kita harus memberitahu orang tuanya. Anak yang mengalami kesedihan itu sesuatu yang normal dan orang dewasa pun juga mengalami hal seperti itu. Sehingga kita harus embantu anak mengungkapkan isi hatinya, apa yang menjadi kesedihannya dan dia kehilangan apa.
Kalau orang dewasa bisa mengungkapkan akan menjadi lega, demikian juga dengan anak-anak tapi caranya anak mungkin dengan gambar-menggambar.
GS : Atau permainan tadi ya Bu, sehingga menjadi sesuatu yang hilang di dalam permainan itu. Dan yang memang sulit adalah memahami apa yang dimaksud oleh anak, apakah ibu sebagai konselor yang menerjemahkan atau anak yang menceritakan ?
VA : Anak yang menceritakan. Jadi kalau tidak jelas maka saya bertanya, "Maksud kamu apa?"
GS : Dan biasanya mereka tahu dengan kita bertanya, "Apa?" karena sudah dibantu tadi.
VA : Ya. Dan kalau dia mengatakan satu kata maka kita sudah harus menangkap apa yang dia katakan itu.
GS : Ibu melakukan hal seperti itu secara massal atau sendiri-sendiri ?
VA : Biasanya sendiri-sendiri, atau kalau anaknya takut biasanya bila dia kakak beradik, saya menyuruh kakak beradik bersama-sama supaya dia merasa lebih aman. Kalau sendirian dia mungkin takut.
GS : Jadi yang penting menciptakan rasa aman ini untuk mengungkapkan isi hatinya.
GS : Dan itu biasanya anak bisa bertahan, bisa terus-menerus melakukan permainan walaupun itu harus berganti jenis permainan.
VA : Biasanya anak senang sekali. Jadi kalau dia merasa aman malah biasanya dia mengatakan, "Lho kok cepat sekali selesai," malah ada beberapa anak tidak mau selesai, mereka main terus.
GS : Berarti Ibu membatasi waktunya. Jadi kalau sudah waktunya berhenti maka harus dikatakan berhenti.
VA : Karena biasanya waktu untuk berbicara dengan anak itu 30 menit.
GS : Tapi lain kali dia diminta datang lagi ?
GS : Kalau ada kasus-kasus yang khusus, biasanya bagaimana ibu menangani, ternyata anak ini bukan saja hanya mengalami trauma atau krisis tapi ada suatu kelainan di dalam dirinya. Ini bagaimana ?
VA : Kalau memangnya ada kelainan, maka kelainan apa ? Berarti perlu ahli yang lainnya. Jadi mungkin dia perlu untuk ke ahli psikologi, biasanya di test untuk kekurangan atau dia perlu diperikskan ke dokter.
Jadi lain dan kami konselor bukan untuk itu.
GS : Dan memang untuk melakukan terapi bermain ini harus dilakukan oleh seorang ahli seperti yang ibu lakukan terhadap anak tetapi untuk orang tua, apakah orang tua bisa mengakrabkan diri dengan anak lewat bermain ini ?
VA : Saya kira bisa orang tua melakukan dengan terapi bermain. Jadi maksudnya bermain dengan anak untuk mencari tahu apa yang dipikirkan oleh anak asal orang tuanya mau sabar dan belajar bersam-sama dengan anak-anaknya.
GS : Supaya anak juga mulai berani mengungkapkan perasaannya kepada anak-anaknya.
VA : Ya, jadi bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya yang biasanya diungkapkan oleh anak melalui bahasa non verbal. Bahkan dengan permainan pun misalkan anak dengan sangat ketakutan mlihat terorisme, kalau dia anak laki-laki mungkin dia bisa menggunakan seperti pistol-pistolan, pedang-pedangan, sesuatu seperti ada bom, dia bisa mempermainkan itu.
GS : Tapi apa pun bentuk permainan itu, harus kita percaya bahwa permainan itu aman buat anak seperti pedang-pedangan itu.
VA : Itu semua dari plastik.
GS : Memang dipilih sesuatu yang aman bagi anak.
VA : Itu semua menunjukkan kurang lebih ketakutan dia. Saya masih ingat sekali dulu anak saya sangat takut sekali dengan suara keras dan dia sendiri sering sekali bermain dengan sesuatu yang besuara keras.
Jadi dengan sirene ternyata itu sesuatu yang dia takuti. Itu yang dia ulang-ulang. Apa yang dia takuti itulah yang dia ulang-ulang.
GS : Untuk pengalaman ibu yang terakhir ini menangani anak yang macam apa di dalam terapi bermain ?
VA : Yang terakhir adalah anak yang orangtuanya "single parent". Jadi ibu ini tidak bisa menangani anaknya sendiri karena ibu ini stres, akhirnya anak ini terlalu sering diberikan ke orang tua suh.
Anak ini mengalami ketakutan, "Saya ini mau diberikan kepada orang tua asuh", anak ini sering menangis di rumah. Padahal dia membutuhkan ibu. Dan ibu yang melihat anak ini terus menangis akhirnya malah tidak mau anak itu. Dengan permainan dia menceritakan kalau dia tidak mau dikeluarkan dari rumah ini, diberikan kepada orang tua asuh. Tapi ibunya malah mau mengirim karena anak ini selalu menangis. Ibunya tidak mengerti pergumulan dalam diri anak itu.
GS : Jadi lewat terapi bermain ini muncul perasaan yang sebenarnya dalam diri anak itu.
VA : Dengan begitu ketakutan.
GS : Kalau melihat hal ini, dengan biaya yang tidak terlalu besar, sebenarnya dengan permainan sederhana itu, kita bisa memperoleh sesuatu yang sangat berharga dari dalam diri anak. Hanya sangat dibutuhkan waktu, ketelatenan, kreativitas untuk bisa mendekatkan diri dengan anak.
VA : Betul. Sebetulnya biayanya tidak besar tapi yang dibutuhkan adalah waktu dan mau mendengarkan anak melalui bahasa non verbalnya anak.
GS : Saya percaya banyak orang tua sangat tertolong dengan perbincangan kita kali ini. Dimana mereka akan mencoba mendekatkan diri dengan anak, kalau tidak jarak akan makin jauh dan makin sulit mengerti anak ini.
VA : Saya kira begitu. Orang tua berperan sekali untuk membantu anak-anaknya. Kalau konselor sendiri tidak bisa dan juga butuh orang tua.
GS : Ibu, Sebelum kita mengakhiri perbincangan kali ini mungkin ada ayat firman Tuhan atau teladan yang Tuhan Yesus tinggalkan bagi kita berkenaan dengan hubungan orang tua dan anak ini ?
VA : Baik. Ini akan diambil dari Markus 9:36-37, "Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 'Baangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.
Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'."
GS : Ini secara singkat, maknanya seperti apa, Ibu Vivian ?
VA : Menurut saya Yesus menerima anak. Jadi Yesus menempatkan anak-anak di tengah mereka menunjukkan bahwa anak ini ada di tempat yang khusus dan di tengah-tengah itu adalah tempat yang pentingdan memeluk menunjukkan bahwa Tuhan menerima dan mengasihi.
Disini ditunjukkan bahwa siapa yang bisa menerima anak adalah menerima Tuhan, siapa yang menyambut anak maka menyambut Tuhan juga dan juga menyambut Allah. Dengan kata lain anak itu penting sekali dan berharga.
GS : Kalau di hadapan Tuhan Yesus saja anak-anak ini begitu berharga seyogianya kita juga memberikan perhatian yang khusus kepada anak-anak.
GS : Terima kasih Ibu Vivian untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Terapi Bermain". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita tahu anak-anak menyukai permainan dan hampir semua permainan disukai oleh anak-anak. Tapi sangat asing bagi kita kalau permainan, digunakan sebagai terapi. Sebelum kita belajar lebih lanjut tentang terapi bermain ini, sebenarnya apa yang dimaksud dengan terapi bermain ?Terapi bermain adalah suatu permainan yang digunakan sebagai alat untuk berdialog atau bertukar pikiran dengan anak-anak.
Terapi bermain ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak karena terapi bermain adalah bahasa anak-anak. Kita tahu kalau orang dewasa, berbicara menggunakan kata-kata tapi kalau dengan anak-anak kita menggunakan permainan sebagai alat untuk berbicara.
Contoh menggunakan terapi bermain dalam kasus anak yang tidak mau sekolah : Kita dengan anak itu sangat asing, sehingga anak akan merasa canggung kepada kita. Maka kita bisa mengajak anak itu dengan berkata "Mari Bermain" dan kita mengajak dia bermaian. Dengan permainan itu, anak akan merasa nyaman dengan kita dan kita juga harus ramah kepada anak itu. Kita bisa menggunakan permainan binatang-binatang kecil yang terbuat dari plastik dan kita tanya-tanya dia "Kenapa tidak mau sekolah?". Mungkin dia tidak bisa menjawab. Maka saya akan katakan "Pilihlah binatang yang kamu sukai, yang paling menyerupai dirimu yang mana? Yang paling menyerupai gurumu yang mana?" Dia memilih sendiri, bukan menyerupai mukanya tapi karakternya. Dan saya ingat anak itu memilih kingkong. Dan kemudian kita tanya-tanya kepada anak itu "Mengapa kamu memilih binatang itu?" maka si anak akan lebih mudah untuk menjelaskan kepada kita. Jadi dengan permainan sepertinya kita mengalihkan perhatian dia.
Dan setelah saya mengetahui permasalahan anak lewat permainan itu, kemudian saya memberitahu kepada orang tua apa yang sedang terjadi kepada anaknya.
Bentuk-bentuk dari terapi bermain ini bermacam-macam dan sederhana sekali, juga tidak memerlukan biaya yang mahal namun memerlukan kreativitas. Tapi kita bukan menggunakan video games sebagai permainan tapi menggunakan alat-alat yang nantinya akan menghasilkan sesuatu. Dan dari hasil itu, kita tidak melihat nilai seninya namun kita melihat hasil dari apa yang dibuatnya dan biasanya hasil itu menunjukkan dirinya atau perasaannya.
Alat-alat permainan yang biasa digunakan antara lain boneka ("puppet"), menggambar, binatang-binatang kecil dari plastik, pedang-pedangan dari plastik, kartu forty-one, pasir, malam atau pledo, dan lain-lain. Dalam melakukan terapi bermain ini kita membutuhkan waktu + 30 menit
Firman Tuhan : "Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." Markus 9:36,37
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Pola pendidikan anak di tengah-tengah keluarga tidak cukup hanya dengan perkataan atau ucapan tetapi orangtua harus terlebih dahulu memberikan teladan kepada putra-putrinya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini dihadiri oleh Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo, mereka adalah para pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pola pendidikan terhadap anak khususnya di dalam keluarga Kristen. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Ibu Vivian, kami senang sekali Ibu bersama-sama dengan kami pada malam hari ini dan kita akan bersama-sama membicarakan tentang pola pendidikan anak di dalam keluarga Kristen. Saya teringat dengan satu ayat yang menarik di dalam Ulangan 11:19 dan Ibu Ida akan membacakannya untuk kita.
IR : "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."
(1) GS : Sebenarnya ayat itu cukup jelas sekali mengajarkan pada kita bagaimana kita mendidik anak. Tetapi masalah yang sering dihadapi dan juga seringkali menghadapi itu terhadap anak-anak, kalau kita menerapkan ayat firman Tuhan ini secara harafiah ya, mereka itu malah cenderung bosan mendengar "Berkali-kali Papa ini ngomong mesti ada ngutip ayat dan sebagainya itu, itu sebenarnya tanggapan yang seperti itu bagaimana, Bu Vivian?
VS : Saya mempunyai pandangan mendidik anak seharusnya bukan hanya dengan banyak bicara tetapi kalau dalam mendidik anak sebagai orang tua kita banyak meneladani/memberi teladan kepada anak. Jai seandainya kita mengajarkan Firman Tuhan dengan orang tua melakukan sendiri dan memberikan contoh kepada anak dan nanti kalau anak sudah melihat contoh orang tua, lebih mudah orang tua itu mengajarkan kepada anak.
Lalu firman Tuhan diajarkan jadi anak tidak pernah bosan karena melihat contohnya dan teladannya ini berguna.
PG : Jadi maksud Bu Vivian teladan orang tua itu adalah prasyarat sebelum pengajaran bisa disampaikan dengan efektif. Kira-kira maksudnya apa ayat yang telah kita baca tadi Bu Vivian?
VS : Kalau menurut kami yang saya baca di Ulangan 6:4-8,9 di sana kita memang harus mengajarkan anak berulang-ulang dengan apa yang kita katakan dan berulang-ulang mengajarkan, tidk bosan-bosan karena anak tidak akan mengerti satu kali.
Tetapi kalau dari Ulangan ini terjemahan yang lain saya lihat, sebelum orang tua mengajarkan harus ada teladan dulu. Jadi kalau saya melihat firman Tuhan mencantumkan itu sebagai prasyarat.
IR : Jadi bisa dikatakan orang tua jangan bersaksi tapi menyaksikan teladan ya Bu Vivian?
VS : Bersaksi dalam kehidupan ya, setelah itu baru kita bisa ngomong. Kalau tanpa ada kesaksian kehidupan bagaimana apa yang kita katakan anak tidak akan mau mendengarkan.
GS : Mungkin contoh konkret ya Bu Vivian, kalau kita mau mengajarkan anak supaya menurut kata-kata orang tua, bagaimana contoh yang tadi Bu Vivian katakan lewat teladan itu?
VS : Mungkin contohnya bisa katakan firman Tuhan mengajarkan kita sebagai anak Tuhan kita harus hidup suci, jadi kita menurut perintah Tuhan, kita berusaha hidup suci kita berusaha, kalau orangya sudah menikah tidak selingkuh, kita berusaha hidup benar.
Kita taat perintah Tuhan jadi mungkin ada macam-macam godaan tapi kita berusaha untuk menjaga diri. Setelah itu kita bisa mengajarkan anak-anak untuk hidup suci juga.
GS : Maksud saya bagaimana anak itu bisa mengerti atau sampai usia berapa anak itu bisa tanggap terhadap teladan yang kita berikan kepadanya itu.
VS : Saya kira mulai umur kecil itu, mulai sekecil-kecilpun, mulai anak kecil kita ajarkan mereka senantiasa berdoa. Nah kalau anak itu tidak pernah melihat orang tua berdoa anaknya bertanya: &uot;Lho, Papa Mama sendiri tidak berdoa kok menyuruh saya berdoa.'
Jadi mulai kecilpun mereka sudah tahu.
PG : Saya ada satu pertanyaan ini Bu Vivian, saya mencoba menceritakan kisah-kisah Alkitab kepada anak-anak saya dan ada kecenderungan kalau saya mulai berkata sekarang Papa hari ini menceritakn tentang Yusuf.
Reaksi pertama mereka adalah "Sudah tahu, bosan" Saya juga terus terang agak frustrasi juga sebab di pihak yang satu saya menyadari bahwa memang mereka sudah cukup sering mendengar kisah-kisah Alkitab ini. Di pihak lain kita ingin juga mengajarkan tentang firman Tuhan, apakah Ibu juga mengalami masalah yang saya alami itu?
VS : Ya kalau mengajarkan cerita-cerita, mereka mungkin kalau sudah tahap tertentu mereka sudah mengerti, tapi biasanya kalau sudah umurnya lebih besar saya mengajarkan mereka tentang kesaksianhidup.
Jadi kesaksian hidup yang bagaimana yang kita jalankan sesuai firman Tuhan. Misalnya beginilah orang yang dipimpin Tuhan, beginilah orang yang hidup dalam Tuhan. Jadi saya lebih mengajarkan tentang mengaitkan dengan firman Tuhan tapi berhubungan dengan kehidupan yang sebenarnya.
IR : Tapi seringkali anak-anak itu justru melawan Bu Vivian, apa yang kita ajarkan baik itu seringkali tidak mendapat tanggapan, apa karena kedagingan anak-anak itu ya Bu Vivian sehingga seringkali sulit sekali Bu Vivian?
VS : Betul, oleh sebab itu firman Tuhan tadi sudah mengatakan ajarkanlah berulang-ulang.
(2) GS : Di dalam kita mengajarkan berulang-ulang itu timbul kita sendiri yang menyampaikan mungkin juga bosan ya Bu Vivian karena tidak ditanggapi dengan positif. Masalahnya selain tadi Bu Vivian katakan kita harus berikan suatu teladan nyata lewat kehidupan sehari-hari, apakah ada cara lain Bu Vivian, karena terus terang saja mungkin bagian yang paling sulit adalah bagian yang memberikan teladan, kita lebih gampang ngomong daripada meneladani itu dalam bentuk yang konkret, apakah ada cara lain Bu Vivian untuk mengajarkan firman Tuhan berulang-ulang itu?
VS : Cara lainnya yang mengajarkan firman Tuhan berulang-ulang mungkin dalam ibadah keluarga bersama-sama membacakan firman Tuhan. Dan mungkin kalau firman Tuhan mengatakan mengajarkan bukan haya dalam rumah tapi juga di luar rumah.
Jadi kalau kita mungkin dalam perjalanan sambil melihat ciptaan Tuhan kita menceritakan. Kalau dalam perjalanan melihat sesuatu kita juga menghubungkan dengan firman Tuhan jadi saya mengatakan dengan kehidupan nyata begitu mengajarkan firman Tuhan.
IR : Juga mungkin dalam menghadapi pergumulan ya.
GS : Ada keluarga yang mengatakan itu 'kan urusannya guru-guru Sekolah Minggu atau guru agama di sekolah, bagaimana tanggapan Bu Vivian dengan pandangan seperti itu?
VS : OK! Saya sering kali menghadapi orang tua yang mengatakan mengajarkan anak firman Tuhan melalui guru Sekolah Minggu, melalui gereja. Tapi selalu saya menanyakan kepada mereka, anak berada i gereja itu berapa kali seminggu.
Seringkali kalau orang-orang biasa ya seminggu sekali. Berapa waktu yang dia ada di dalam rumah, kalau dalam seminggu sekali berapa jam di gereja, lalu berapa waktu yang bersama orang tua di dalam rumah tangga. Jadi kalau kita melihat porsinya yang terbesar seharusnya tanggung jawabnya di mana, di rumah atau di gereja. Karena waktu yang diberikan Tuhan itu yang porsi terbesar di mana.
(3) GS : Ya tapi masalahnya mungkin timbul karena orang tua merasa tidak mampu untuk mengajarkan itu, daripada dia ngajarnya keliru lalu diserahkan ke guru Sekolah Minggu yang memang ada waktu persiapan untuk cerita dan sebagainya. Tapi saya kembali lagi hendak mengatakan bahwa yang paling sulit memang mengajarkan dalam bentuk teladan. Bagaimana orang tua itu harus melatih dirinya?
VS : Orang tua melatih diri dengan menaati firman Tuhan misalnya kemarahan, nah ini saya selalu mengajarkannya kepada anak saya karena dia mengalami kesulitan dalam hal mengendalikan kemarahan nak saya.
Jadi kalau saya mengajarkan dia supaya tidak suka marah, saya sendiri harus menjaga supaya tidak suka marah. Kita harus memaksa diri kita menaati firman Tuhan.
PG : Saya kira, Pak Gunawan dan Ibu Ida, salah satu sumber permasalahannya adalah terletak pada kita-kita ini sebagai hamba Tuhan ya Bu Vivian, yaitu kita cenderung memang memberikan pengajaranmelalui mimbar.
Jadi kita ini sebetulnya di gereja pun tidaklah memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan jemaat dan menjadi contoh konkret buat mereka, akhirnya yang kita lakukan adalah memberikan pengajaran-pengajaran tersebut. Nah, orang tua mendapat contoh tersebut di gereja yaitu bahwa mereka belajar tentang Tuhan melalui pengajaran-pengajaran, akhirnya metode itulah yang mereka ketahui. Pada waktu di rumah, mereka seperti menjadi wakil kita, duta besar kita di rumah ya mereka menjadi pengkhotbah-pengkhotbah buat anak-anak. Sebab mereka memang tidak tahu cara yang tepat atau apakah ada cara lain yang lebih efektif untuk menyampaikan kebenaran Tuhan karena yang mereka kenal hanyalah satu cara itu. Yaitu cara khotbah atau cara pengajaran formal, akhirnya itulah yang mereka lakukan di rumah. Waktu kita misalnya mendorong jemaat untuk mengadakan ibadah keluarga, yang mereka lakukan akhirnya adalah sama seperti di mimbar. Mereka juga menjadikan meja sebagai mimbar mereka dan berkhotbah kepada anak-anak. Jadi mungkin waktu tadi Pak Gunawan bertanya kepada Ibu Vivian, saya berpikir mungkin memang kami ini sebagai hamba Tuhan di gereja perlu memberikan pelatihan-pelatihan yang lebih spesifik kepada orang tua. Jadi orang tua tahu cara-cara kreatif yang mereka dapat gunakan dalam menyampaikan firman Tuhan kepada anak-anak mereka, bagaimana pandangan Ibu?
VS : Ya saya kira betul seperti itu, mungkin ada cara lain kalau tadi bagaimana menyampaikan firman Tuhan. Kalau saya seringnya berbicara secara pribadi, jadi bukannya secara berkhotbah. Jadi ertanya kepada mereka lalu saya menyampaikan firman Tuhan dengan pendekatan pribadi.
GS : Dan itu kelihatan hasilnya Bu?
VS : Ya, ada hasilnya dan demikian juga mereka juga lebih erat dengan orang tua (GS : Lebih akrab dengan kita, berani mengungkapkan isi hatinya dan sebagainya).
GS : Tetapi masalahnya kita itu sebagai orang tua tidak selalu bisa mengontrol diri di hadapan anak. Tadi Ibu katakan mau mengajarkan anak untuk tidak marah. Tetapi terkadang namanya orang itu bisa lepas kendali justru waktu di depan anak. Kalau sampai itu terjadi, apa yang harus kita lakukan terhadap anak kita yang melihat dengan nyata, "Lho ibu atau ayah ini bisa marah ternyata" begitu kalau seandainya itu anak melihat dengan tidak sengaja?
VS : Kita harus mengoreksi diri kita sendiri kalau kemarahan itu dasarnya apa, masalahnya apa. Kalau memang anak yang salah kita boleh memarahi, tetapi kalau memang kita yang salah maka kita hrus mengoreksi diri dan minta maaf pada anak dan kita berusaha untuk lain kali memperbaiki diri.
GS : Ya tapi bukankah itu bisa terjadi berulang-ulang (VS : Ya betul) sehingga anak mulai mengenali akan sifat diri kita. Papa ini ternyata kalau karena sesuatu hal ini, marahnya itu sampai meledak-ledak. Ya memang sudah berusaha untuk tidak begitu, tapi kalau sudah salah satu sifat marah itu seringkali terjadi lalu anak menilai kita seperti itu, jadi negatif penilaiannya.
VS : Jadi orang tua bertobat dululah.
IR : Jadi selalu kembali pada firman ya?
GS : Kembali di dalam pola pendidikan anak ya Bu itu 'kan bukan cuma dari satu sisi, ayah saja walaupun yang kita baca di dalam Perjanjian Lama khususnya itu ditujukan kepada ayah yang lebih terutama. Tapi justru yang kita lihat sekarang ini di dalam kehidupan sekitar kita adalah justru ibu yang pegang peranan di dalam pendidikan anak, bagaimana menurut pandangan Bu Vivian?
VS : Pendidikan anak harus dilakukan kedua belah pihak, ayah dan ibu. Tuhan menciptakan anak ini lahir dari kedua orang tua, jadi maksudnya keduanya harus ikut campur. Memang firman Tuhan mengaakan ayah karena di sini adalah kepala keluarga yang harus bertanggung jawab tetapi yang melaksanakanharus keduanya.
PG : Secara praktisnya ya Bu Vivian misalkan keluarga Ibu sendiri ya, peranan apa yang Ibu lakukan dan peranan apa yang Pak Daud lakukan dalam menyampaikan kepada anak-anak. Tadi Ibu berkata memang dua-dua mempunyai andil yang sama ya?
VS : Mungkin kalau saya lakukan ini hal yang lebih mendetail karena sebagai seorang ibu yang lebih sering bersama anak jadi saya mendetail yang kecil-kecil lebih banyak saya memperhatikan. Kala Pak Daud lebih ke hal yang menyeluruh begitu.
GS : Jadi bukan pembagian tugas yang satu sari uang yang lainnya membina anak seperti itu ya Bu?
VS : Tidak, bersama-sama.
GS : Jadi tetap harus dilakukan bersama-sama.
VS : Ya, kalau sesuatu hal yang saya kurang jelas, saya ragu-ragu saya akan tanya Pak Daud sehingga kita dapat bersama-sama.
GS : Yang seringkali kita hadapi dalam rumah tangga adalah kadang-kadang tidak sepahamnya antara si suami dan istri itu sehingga anak jadi bingung begitu ya Ibu, itu juga untuk hal-hal yang rohani saya katakan. Misalnya Ibu menghendaki anak itu pergi ke Sekolah Minggu atau ke gereja tapi ayahnya bilang: "Tidak apa-apalah sekali-sekali tidak datang," kalau terjadi itu bagaimana Bu?
VS : Itu harus disepakati bersama, keduanya harus sepakat dan harus bicarakan bersama-sama. Seperti kalau seandainya Sekolah Minggu itu untuk keluarga kami itu pasti harus pergi. Satu kali sayaingat tentang anak ini ingin pergi nonton dengan teman-temannya, nonton di bioskop, waktu itu saya berkata" Tidak apa-apa sekali saja Pa, melihat."
Waktu saya mengatakan sekali boleh tapi ayahnya tidak setuju, jadi saya katakan ini terakhir kali, pertama dan terakhir nanti lain kali tidak boleh lagi. Jadi saya mengatakan apa yang ayahnya mau dan kami sepakat.
GS : Tapi 'kan tetap itu berhasil untuk sekali dan yang terakhir.
VS : Ya untuk sekali jadi hanya ingin lihat seperti apa sih gedung itu, jadi diperbolehkan.
GS : Itu kalau sekali dan terakhir Bu. Mungkin bisa dimengerti tetapi yang seringkali yang terjadi kalau ada yang pertama lalu ada yang kedua, ketiga dan seterusnya lalu jadi bingung anak itu.
VS : Kalau berkali-kali anak tanya lagi: "Ma boleh tidak?"; "Dulu apa yang dikatakan Papa, sekali dan terakhir." Jadi kami selalu tegas dan tidak akan mengulangnya lagi.
(4) GS : Khususnya untuk anak-anak yang masih balita yang usianya di bawah 5 tahun, nilai-nilai iman Kristen apa yang perlu ditanamkan kepada mereka?
VS : Untuk anak yang balita mungkin nilai Kristen kasih ya, kasih itu yang penting dan itu tentunya harus orang tua meneladani dulu bagaimana memberikan kasih, mereka tidak akan mengerti tentan kasih kalau tanpa ada dari orang tua mengasihi dulu.
PG : Kalau saya boleh tambahkan kasih dalam wujud membagi ya Bu Vivian, sebab anak-anak terutama yang balita mempunyai sikap egosentrik yang sangat kuat yaitu segalanya berpusat kembali pada diinya.
Apa yang dia inginkan dia harus dapatkan, kalau tidak dia akan marah dan sebagainya. Jadi saya kira kasih Kristiani yang kita ingin tanamkan pada anak akhirnya berwujud dalam kemampuan si anak ya membagi makanan, membagi mainan, sikap seperti itulah yang harus kita tumbuhkan pada diri si anak. Kira-kira begitu ya Bu Vivian (VS : Ya betul).
GS : Tadi kembali lagi didalam pola pendidikan anak balita yang masih di bawah 5 tahun, seringkali yang kita lihat sekarang di gereja itu ada Sekolah Minggu untuk kelompok bermain. Anak-anak yang masih kecil-kecil sudah diikutsertakan. Sebenarnya seberapa efektif itu Bu Vivian di dalam pendidikan menanamkan nilai-nilai iman di dalam diri anak yang masih balita ini?
VS : Saya kira dari orang tua yang saya ajak bicara mereka malah mengatakan mendapatkan banyak berkat anaknya diikutkan Sekolah Minggu meskipun masih kecil. Yang mereka pelajari bukan apa yang ikatakan guru tetapi seringkali melalui nyanyian karena anaknya masih kecil.
Jadi sampai rumah mereka bisa bernyanyi dan memberitakan kesukaannya tentang apa yang mereka terima dari firman Tuhan itu melalui nyanyian dan gambar-gambar, jadi bukan dari apa yang mereka dengarkan.
GS : Itu karena keterbatasan orang tua tidak bisa mengajarkan itu mungkin Bu Vivian, seperti tadi kembali ke pertanyaan saya semula apa tidak orang tua mengambil mudahnya dengan mengikutkan anaknya ke Sekolah Minggu. Karena banyak orang tua berkata tidak ada waktu, tidak punya alat peraga, tidak bisa cerita dengan baik, tidak bisa mengajarkan menyanyi.
VS : Saya kira tetap orang tua harus menggunakan peranan yang penting (GS : Jadi kalau perlu orang tua membeli alat-alat peraga begitu Bu Vivian?) betul, di rumah buku-buku cerita yang bergamba banyak, (GS : Alkitab bergambar) ya, karena tiap hari anak bersama orang tua jadi kalau di rumah anak-anak tiap hari bisa membaca Firman Tuhan dari Alkitab bergambar itu.
GS : Itu mungkin lebih mudah dimengerti. Kalau sekarang anak itu sudah menginjak usia remaja ya Bu Vivian, apakah pola pendidikan itu harus diubah?
VS : Di usia remaja memang lebih sulit, jadi memang kalau menurut kami di usia remaja lebih banyak pendekatan pribadi. Kalau ada masalah khusus kami berbicara, masalah yang dihadapi di luar, kai bicara.
Contoh-contoh yang ini baik, contoh-contoh ini tidak baik. Biasanya pendekatannya seperti itu, saya lebih menghubungkannya pada firman Tuhan.
GS : Tapi kegiatan mereka itu makin banyak juga ya Bu Vivian sehingga komunikasi kita juga seringkali menjadi berkurang, beda kalau masih usia balita kita bisa bawa ke mana kita pergi. Tapi begitu remaja mereka mempunyai acara sendiri-sendiri, mau bertemu saja sulit.
VS : Orang tua yang harus berkorban waktunya, kita harus menyesuaikan dengan jadwal anak. Jadi saya selalu mencari jadwal anak ini kapan pulang dan saya ini selalu berada di sampingnya, misal wktu makan saya berusaha bersama.
PG : Kadang saya mendapatkan keluhan bahwa anak-anak sewaktu menginjak usia remaja cenderung tidak terlalu tertarik lagi pada gereja, pada kebaktian. Akhirnya meskipun mereka datang tetapi datag karena disuruh oleh kita.
Apakah Ibu Vivian juga mendapatkan pengamatan yang sama, bahwa pada waktu anak menginjak remaja minat-minat terhadap hal-hal yang rohani yang dahulu kita tanamkan tiba-tiba sepertinya mulai bergoyang?
VS : Betul, saya kira mereka lebih senang dengan aktifitas yang lain, yang lebih menyenangkan daripada di gereja misalnya (IR : Lebih senang duniawi ya) karaoke, olah raga.
GS : Itu antara lain yang membuat orang tua Kristen jadi frustrasi Bu Vivian, karena sejak kecil sebenarnya sudah ditanamkan/diajarkan dan diharapkan anak itu nurut seperti dulu waktu masih anak-anak. Lalu tiba-tiba berubah anak ini dan kita sebagai orang tua kurang siap menghadapi perubahan itu. Karena merasa usahanya yang sekian tahun sampai 10 atau 11 tahun itu kelihatannya sia-sia dia berhenti, tidak lagi mengajarkan, menanamkan nilai-nilai iman karena merasa hasilnya sama aja dengan mereka yang dulu kecilnya dilepas, bagaimana Bu Vivian?
VS : Kalau menurut saya justru saat yang terpenting untuk mendidik anak itu adalah waktu balita dan waktu remaja. Jadi itu justru kita harus memberikan banyak waktu dengan anak-anak.
IR : Tapi sering anak-anak itu punya acara sendiri.
VS : Itulah kita harus mencari waktu kalau dia ada waktu di rumah langsung kita menyediakan diri.
(5) GS : Untuk ngomong-ngomong dengan dia, untuk bicara tentang firman Tuhan dan sebagainya. Bu Vivian tadi sudah singgung sedikit oleh Pak Paul tentang 'family altar' atau kebaktian di dalam rumah tangga. Menurut Bu Vivian apakah itu harus diadakan secara rutin di tempat yang tepat dengan satu liturgi sederhana yang dilakukan terus-menerus seperti itu Bu Vivian?
VS : Family altar memangnya seharusnya dilakukan tiap hari tapi kalau mungkin dari keluarga yang saya tanya sulit karena teori dengan prakteknya sulit.
GS : Ya pada kenyataan memang sulit, lalu bagaimana mengisi kekosongan itu ?
VS : Kalau memangnya diadakan saya kira bukannya dalam bentuk yang harus, yang mati ya, kita cari bentuk-bentuk pokoknya firman Tuhan itu dinyatakan. Jadi tidak harus seperti liturgi di gereja nak-anak mungkin tidak mau, mungkin waktu berdoa bersama, mendengarkan dari kaset, orang tua yang membacakan, anak yang membacakan ganti-ganti.
Entah bagaimana, Pak Paul?
PG : Jadi memang ada 3 prinsip yang kita bisa ingat untuk mengadakan ibadah keluarga. Yang pertama yang tadi Ibu sudah singgung yaitu kreatifitas, jadi ibadah yang kreatif itu lebih bisa diteria oleh anak-anak.
Dan yang kedua adalah menyenangkan kalau serius dan menjadi ajang tegur-menegur, penyampaian nasihat-nasihat anak-anak cenderung akhirnya tidak begitu menikmati lagi, jadi harus menyenangkan. Dan yang ketiga kalau memungkinkan singkat ya, apalagi waktu anak usia masih lebih kecil singkat jangan bertele-tele atau panjang. Yang saya amati adakalanya ibadah keluarga menjadi ajang orang tua memberikan nasihat-nasihatnya kepada si anak. Akhirnya si anak akan melihat ini sama saja dengan tadi saya dimarahi oleh Mama atau Papa. Jadi akhirnya mereka tidak lagi menantikan untuk ikut dalam ibadah keluarga.
GS : Di dalam melakukan ibadah keluarga tadi Pak Paul, yang kita tahu itu sesuatu yang penting yang tadi saya katakan memang sulit itu ternyata Bu Vivian juga berpendapat sama sulit untuk dilakukan secara rutin, tetapi kita lakukannya menggunakan kesempatan semaksimal mungkin kapan bisa dan mereka berminat dan sebagainya itu, apakah itu juga bisa dilakukan misalnya pada saat kita bepergian ke luar kota dan sebagainya.
VS : Justru kalau untuk keluarga kami ke luar kota itu lebih bisa dilakukan karena kegiatan yang rutin itu tidak ada, justru kami bersama-sama hanya untuk keluarga dan kita bacakan, dan mereka ebih senang.
GS : Karena kadang-kadang acara rekreasi itu bisa mengekspresikan bahwa mereka juga masing-masing punya kegiatan lagi, ayahnya mancing, ibunya masak di dapur, anak-anaknya main di pantai sehingga malam sudah lelah dan bukankah itu tidak ketemu lagi Bu?
VS : Tapi justru tidak ada rutinitas yang lain, karena itulah kita harus mencari waktu (GS : Butuh pengorbanan orang tua) ya.
GS : Dan itu pasti, saya pikir memang seperti ibadah keluarga segala itu perlu dirancang, memang perlu dipersiapkan dari rumah oleh orang tua khususnya bahwa nanti di sana akan ada acara seperti itu. Walaupun anak tidak mengetahuinya lebih dulu sehingga semacam surprise buat mereka tapi lebih mengena begitu Bu? (VS :Betul).
IR : Dan yang mengambil inisiatif untuk memulai itu sebaiknya siapa kira-kira (VS:Orang tua), ya orang tua itu kadang-kadang yang saya sering ketahui itu si ibu ya.
VS : Keluarga kami, bagaimana Pak Paul?
PG : Kebanyakan yang mengadakan ibadah keluarga istri saya, bukannya apa-apa karena memang adakalanya orang telepon saya, saya lagi telepon anak-anak sudah siap untuk tidur jadi istri saya yangmengajak mereka berdoa bersama, tapi harus saya akui istri saya yang berperan besar sekali.
IR : Apa karena suami itu selalu memikirkan pekerjaan karena saya ketahui itu rata-rata si istri yang lebih berperan.
PG : Betul, betul jadi memang seharusnya suami lebih berperan tapi dalam kenyataannya akhirnya istri, mungkin karena soal waktu.
GS : Ya jadi perbincangan ini semakin menarik saja, sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih kepada Bu Vivian yang berkenan untuk bergabung bersama kami pada acara rekaman Telaga kali ini. Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar pendidikan anak khususnya di dalam menanamkan nilai-nilai iman Kristen bersama Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ulangan 11:19 , "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."
Mengajarkan Firman Tuhan kepada anak perlu dilakukan secara berulang-ulang, tidak bosan-bosan karena ini akan memudahkan anak untuk mengerti apa yang kita ajarkan.
Di dalam mendidik anak seharusnya bukan hanya banyak bicara tetapi sebagai orangtua lebih banyak meneladani atau memberikan teladan kepada anak. Jadi seandainya kita mengajarkan Firman Tuhan, orangtua harus melakukan terlebih dahulu dan memberikan contoh kepada anak dan ini akan lebih memudahkan dalam mengajarkan kepada anak.
Anak sejak kecil sudah bisa mengerti atau tanggap terhadap teladan yang diberikan orangtua, misalnya diajarkan berdoa. Namun ketika anak sudah mulai lebih besar saya mengajarkan tentang kesaksian hidup, hidup yang dipimpin Tuhan, hidup di dalam Tuhan dan juga mengajarkan tentang melakukan Firman Tuhan di dalam kehidupan yang sebenarnya.
Mengajarkan Firman Tuhan secara berulang-ulang juga bisa dilakukan dalam ibadah keluarga yaitu dengan bersama-sama membaca Firman Tuhan. Selain di dalam rumah, Firman Tuhan juga dapat diajarkan di luar rumah, misalnya pada saat di perjalanan sambil melihat ciptaan Tuhan orangtua mengajarkan atau menceritakan Firman Tuhan, menghubungkan Firman Tuhan dengan kehidupan nyata.
Dalam pendidikan anak pun tidak hanya dilakukan oleh salah satu pihak, ibu saja atau ayah saja, akan tetapi kedua belah pihak, baik ayah maupun ibu. Meskipun Firman Tuhan mengatakan ayah yang mendidik anak, karena memang ayahlah yang menjadi kepala keluarga yang harus bertanggung jawab, tetapi pelaksanaannya adalah dua-duanya.
Pola pendidikan bagi anak balita yaitu usia di bawah 5 tahun, yang dapat dilakukan kita sebagai orangtua adalah menanamkan nilai iman Kristen melalui kasih. Dan tentunya orangtualah yang harus memberikan teladan bagaimana menyatakan kasih, mereka nggak akan mengerti tentang kasih kalau tanpa ada teladan dari orangtua untuk menyatakan kasih.
Untuk anak usia remaja memang lebih sulit, namun kita dapat melakukan lebih banyak pendekatan pribadi dengan bicara mengenai masalah khusus atau masalah yang dihadapi di luar. Contoh-contoh yang baik dan yang tidak yang perlu diketahui oleh anak remaja.
Ada 3 prinsip yang perlu kita perhatikan di dalam melakukan ibadah keluarga:
Kreatifitas, ibadah yang kreatif lebih bisa diterima oleh anak-anak.
Menyenangkan, ibadah keluarga bukan sebagai tempat untuk tegur-menegur atau penyampaian nasihat-nasihat, anak cenderung nggak begitu menikmati.
Singkat.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Orang yang sudah dilukai itu cenderung sulit untuk mengampuni. Ada juga orang yang tidak mau mengampuni orang yang telah melukainya karena dia telah dilukai hingga cacat. Ternyata dalam mengampuni orang lain dibutuhkan tahapan-tahapan. Saat kita bisa mengampuni orang lain, kita akan mendapatkan banyak manfaat.
Transkrip Isi:
Pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahya M.Psi, kami akan berbincang-bincang dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sulitnya Mengampuni Orang Lain". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Ibu Vivian, kami mengucapkan banyak terima kasih karena ibu bersama-sama dengan kami saat ini. Dan kita akan bersama-sama berbincang-bincang tentang sulitnya mengampuni orang lain. Sebagai konselor apakah ibu pernah menghadapi orang yang mengalami kesulitan mengampuni orang lain ?
VS : Terima kasih diberikan kesempatan untuk berbicara saat ini, sebagai seorang konselor saya mendapatkan banyak orang yang memang sulit mengampuni orang lain. Itu adalah pergumulan karena banak orang mempunyai pandangan yang salah tentang pengampunan.
GS : Biasanya kesulitannya dimana?
VS : Kesulitannya yaitu karena mereka memandang mengampuni itu merasa dirugikan dan orang lain yang mendapat untung.
GS : Mungkin ada salah satu kasus yang Ibu bisa ceritakan kepada kami sekalian.
VS : Kasus yang sangat saya ingat adalah orang yang dianiaya oleh suaminya sampai tidak berdaya menjadi orang yang invalid, dulunya orang yang sehat akhirnya dia invalid. Bagaimana dia bisa menampuni suami yang membuat dia tidak bisa apa-apa lagi.
Padahal dulu dia sangat menyukai olah raga, sekarang tidak bisa apa-apa dan ini membuatnya sulit untuk mengampuni.
ET : Tadi dikatakan merasa dirugikan, memang kenyataannya dia dirugikan. Secara manusia memang agak mustahil untuk mengampuni orang yang sudah membuatnya cacat.
VS : Betul, karena perbuatan suaminya dia menjadi cacat sehingga dia marah-marah luar biasa. Inilah yang saya katakan pandangan yang salah, karena ada rasa membenci dan membuat dia balas dendam Tapi bagi dia, dia mengalami banyak gejolak selama dia tidak bisa mengampuni.
Kurang lebih satu tahun saya mengkonseling dia, dia selalu marah dan akhirnya yang rugi dia sendiri karena suaminya terus mendekam di penjara. Karena keadaannya tidak akan berubah tapi yang kita masalahkan adalah menghadapi ke depan, ke depannya bagaimana? Mau marah-marah dan berakibat dia menjadi sesak nafas, tidak bisa bekerja apa-apa. Dia bisa damai kalau dia bisa mengampuni.
GS : Jadi kesulitannya itu pada pengertian yang keliru tentang pengampunan.
VS : Pengertiannya tentang pengampunan yang tidak menyeluruh bukannya keliru. Memang dapat dikatakan merugikan dan dia mempunyai pandangan sebagian tetapi tidak menyeluruh.
ET : Jadi kalau misalnya dia mengatakan bahwa dia mau mengampuni asalkan... Kadang-kadang orang mau mengampuni dengan syarat, apakah ini termasuk pengertian dari tidak menyeluruh itu tadi.
VS : Bagi dia ingin mengampuni tapi sepertinya dia tidak mungkin karena tubuhnya sudah rusak. Bagi orang lain, saya mau mengampuni kalau orang itu mau meminta maaf. Tetapi orang lain pun yang mnyalahkan kita tidak mau minta maaf.
ET : Jadi kalau kita tunggu tidak akan terjadi.
VS : Yang kita hadapi itu sekarang dan masa depan, karena masa lalu tidak bisa diubah lagi. Itulah kita sebagai orang yang hidup bukannya lagi melihat ke belakang tetapi melihat ke depan. Makana kita perlu mengampuni untuk melihat ke depan.
ET : Selain perhitungan yang tadi apakah ada contoh-contoh pandangan yang tidak menyeluruh tentang mengampuni.
VS : Bagi orang mengampuni mereka merasa dirugikan, tapi sebetulnya itu menguntungkan bagi dia karena hidupnya damai. Setelah mengampuni terasa bahwa beban yang berat itu hilang. Ada hal lain yng tidak menyeluruh, orang menganggap mengampuni adalah orang yang menyusahkan dia ini tidak bertanggungjawab lagi.
Maksudnya dia dibebaskan dari tanggungjawab padahal pengampunan bukan berarti membebaskan tanggungjawab orang itu. Contohnya Paus Yohanes Paulus waktu ia mengunjungi orang yang dahulu mencoba membunuhnya, di penjara dan mengatakan "Saya mengampuni kamu". Tetapi dia tidak menyuruh orang itu keluar dari penjara karena orang itu harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Jadi pengampunan tidak berarti orang itu disingkirkan dari tanggungjawabnya. Kalau orang tidak mengerti tentang hal ini berarti jika ia mengampuni maka orang itu bisa lepas dari tanggungjawab tetapi arti pengampunan bukan itu.
GS : Selain itu apakah ada faktor-faktor lain yang membuat seseorang itu sulit untuk mengampuni orang lain.
VS : Faktor lain mengenai orang sulit mengampuni yaitu mungkin bisa dilihat dari masa kecilnya sulit belajar tentang memaafkan orang. Mungkin dari kecil kita bisa mengajarkan anak kalau bersala kita harus minta maaf , ada juga anak yang mulai kecil pun sulit untuk mengampuni.
Ada juga orang yang karena perkembangannya mulai dari kecil perkembangan kejiwaannya belum menyeluruh, belum berkembang dengan baik sehingga dia belum bisa mempercayai orang. Jadi kepercayaan terhadap orang itu sulit, dan orang-orang seperti itu sulit untuk mengampuni orang lain.
GS : Ada orang yang mengatakan saya sudah mengampuni dia, tetapi saya tidak bisa melupakan dia.
VS : Itu adalah salah satu pandangan yang salah. Orang menganggap mengampuni itu adalah melupakan, padahal itu salah. Orang mengampuni itu harus mengingat kembali apa yang terjadi, yang menyusakan itu diingat lalu dihadapi dan diampuni.
Hal yang terjadi itu tidak akan dilupakan, tetapi bukan menjadi beban lagi, bukan menjadi sesuatu yang menggores kehidupannya lagi tetapi sudah sembuh. Seperti kalau kita terluka di tubuh kita, tetap luka itu akan kita ingat tetapi sekarang sudah tidak perih lagi dan pengampunan menyembuhkan itu.
GS : Kesulitannya itu mengingat-ingat itu lagi dan dia merasa itu sudah masa lalu dan kalau diminta mengingat-ingat lagi, dia jadi sakit lagi.
VS : Itu karena hati yang terluka itu belum disembuhkan. Kalau hati itu disembuhkan, mengingat kembali tidak menyedihkan tetapi mengingat kembali adalah sesuatu yang menang.
ET : Hati yang disembuhkan ini dengan cara pengampunan.
VS : Kunci untuk menyembuhkan hati yang terluka, salah satunya adalah pengampunan.
ET : Kadang-kadang ada orang yang mengatakan "Saya sudah mengampuni", tapi kenyataannya kalau dilukainya berdampak begitu parah dan suatu saat marah lagi. Bagaimana dengan hal ini, apakah kamu belum mengampuni atau pengampunannya belum selesai?
VS : Pengampunan itu dimulai dengan keputusan, kemauan "Aku mau mengampuni orang itu", karena dilihat ini memang yang terbaik untuk saya dan saya mau mengampuni orang itu. Keputusan utuk mengampuni itu adalah langkah pertama.
Pengampunan ada dua, yaitu keputusan mengampuni dan mengampuni secara emosional. Keputusan mengampuni ini diambil setelah orang bergumul memang sungguh-sungguh saya mau mengampuni supaya hidupku lebih nyaman. Untuk emosional ini membutuhkan waktu. Keputusan ini sangat sulit dan emosional ini lebih sulit lagi. Bagi orang-orang tertentu mungkin membutuhkan berbulan-bulan untuk selesai dengan pengampunan secara emosional. Ada orang-orang tertentu sampai bertahun-tahun, bahkan ada juga yang mungkin sampai seumur hidup.
ET : Kadang-kadang belum pulih sudah dilukai lagi.
VS : Salah satu langkah yang harus kita ambil supaya kita tidak dilukai lagi ialah kita harus belajar memberi, itu namanya "boundary" yaitu suatu batasan. Bagaimana kita bisa membatas supaya tidak dilukai lagi.
ET : Misalnya seperti tadi ibu contohkan pasangan suami istri yang istrinya dilukai oleh suaminya dan tadi dikatakan suaminya di penjara. Tapi kadang-kadang ada pasangan suami istri yang penuh engan kekerasan seperti itu tetapi tetap satu rumah.
Istri mau berusaha mengampuni tetapi setiap kali mau mengampuni suaminya memukuli lagi, jadi lukanya masih berkelanjutan terus.
VS : Kasus yang seperti itu lain, jadi pengampunan yang ingin dilakukannya sulit karena yang satu pihak terus melukai. Pengampunan seperti itu harus disertai dengan tindakan yang lain, mungkin engan konseling sehingga suaminya mau berubah juga.
GS : Ada orang yang sejak kecil sudah diberitahu oleh orangtuanya jangan mau mengalah, dan memang keluarganya mendukung atau kelompoknya itu mendukung "Jangan mau mengalah, kamu dibodoh-bodohi kalau mengalah itu". Orang mengidentikan bahwa mengampuni orang lain dengan mengalah dia tidak mau ramai-ramai, tidak mau bertengkar, tidak mau konflik dan akhirnya dia mengalah terus, tapi dia mengatakan dia mengampuni, ini bagaimana?
VS : Ini adalah pandangan tentang pengampunan itu mengalah tetapi sebetulnya pengampunan itu adalah suatu kemenangan. Maksudnya orang mau mengampuni itu pergumulan yang luar biasa dan akhirnya ia bisa mengampuni itu suatu kemenangan.
Orang membenci orang lain itu merasa dirinya kuat, saya bisa terus seumur hidupku aku membenci dia tetapi itu membawa dampak yang luar biasa yang menyakitkan untuk dirinya. Dia tidak bisa nyaman, setiap kali bertemu orang itu benci, kelihatan sesuatu itu memuakkan, hidupnya tidak senang dan akhirnya dia bisa mengampuni itu suatu kemenangan, karena saat itu sungguh-sungguh hatinya lega dan hidupnya senang.
GS : Ibu tadi menyinggung tentang pengampunan secara emosional dan itu bagaimana konkretnya ?
VS : Secara emosional misalnya hari ini saya mengampuni berarti secara emosi aku tidak membenci dia lagi, tidak lagi marah kepada dia, tidak lagi ingin membalas dendam. Jadi secara emosi saya mu mengasihi dengan kasih Tuhan.
GS : Berarti ada tahapan-tahapan yang harus dilewati oleh seseorang untuk mengampuni orang lain dengan betul.
VS : Ya, tahapan-tahapannya ialah pertama-tama ia harus tahu bahwa hal yang mengganggu dia ini memang suatu masalah dan ini perlu saya bereskan. Tahap yang kedua sebagai masalahnya ialah dia haus tahu bahwa apa yang mengganggu di dalam hatinya.
Jadi perasaan-perasaan hatinya karena biasanya orang yang sakit hati itu banyak kemarahan, kesedihan karena selalu disakiti orang juga banyak ketakutan biasanya orang yang berbuat jahat itu menakutkan, mungkin juga merasa malu karena telah direndahkan. Dia bisa mengidentifikasikan semua perasaannya lalu dia bisa mengeluarkan semuanya. Dikeluarkan mungkin melalui konselor semua kemarahannya, semua kebenciannya dikeluarkan seperti kita mengeluarkan racun dalam tubuh kita. Mungkin melalui tulisan, doa setelah dikeluarkan melalui itu baru kita bisa mengampuni. Kalau selama ada hal-hal itu seperti racun, kita tidak bisa mengampuni tetapi itu langkah-langkahnya. Setelah dikeluarkan baru kita bisa membuat satu batasan aku tidak mau lagi diperlakukan seperti ini, lalu saya bisa mengampuni dengan kasih Tuhan Yesus.
GS : Apakah orang yang mau mengampuni orang lain itu harus memberitahukan kepada orang yang menyakitinya bahwa dia sudah mengampuni.
VS : Tidak perlu, karena seringkali orang yang kita ampuni itu masih belum berubah atau orang yang kita ampuni itu mungkin sudah meninggal atau orang yang kita ampuni sudah jauh dari kita sehinga kita tidak bisa lagi menghubunginya.
Walaupun masih mengganjal di hati kita, kita tidak perlu memberitahu, yang penting kita sudah mengampuni dia, jadi satu pihak.
GS : Itu seringkali dikatakan dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajarkan ampuni kesalahan kami seperti kami ini mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Dan orang seringkali bilang kalau saya sudah sampai doa itu saya tidak berani bicara karena saya belum bisa mengampuni orang itu. Bagaimana tentang hal ini?
VS : Perjalanan pengampunan itu perlu dilalui dan dihadapi. Selama dia mengetahui hal ini masih mengganjal di hatinya maka sebaiknya dia menghadapinya. Mungkin butuh bantuan seorang konselor atu teman yang bisa membantu dia.
ET : Saya tertarik dengan tadi yang ibu Vivian katakan, mengampuni seseorang yang mungkin sudah meninggal. Dan yang pernah saya temui, kadang-kadang kalau kita harus mengeluarkan kemarahan kepaa orang yang sudah meninggal sepertinya ini adalah hal yang tabu.
Orangnya sudah meninggal kenapa saya keluarkan lagi semua kemarahan, kebencian dan sebagainya. Jadi tahapan ini harus dilompati, apakah memungkinkan jika tahapan ini dilompati ?
VS : Kalau dilompati itu berarti, tubuh kita ini masih ada racun, masih ada nanah dari luka kita dan tidak dikeluarkan tapi langsung ditutup berarti tidak sembuh total. Meskipun orang itu sudahmeninggal, kita harus tetap mengeluarkannya supaya racun didalam hati kita itu dikeluarkan.
Mengeluarkan maksudnya untuk menyembuhkan.
ET : Dan kesulitannya adalah mengampuni orang yang kita benci tetapi masih ada sisi sayangnya. Seperti mengampuni orangtua yang memang punya kesalahan, mungkin yang membekas kepada anaknya tetai di sisi lain secara logika dia mengatakan "Tapi saya tahu orangtua masih mengasihi saya", bisa dikatakan peperangan rasa bersalah dan kadang-kadang hal ini mempersulit.
VS : Kita sebagai anak harus menghormati orangtua. Jadi sulit bagi kita untuk menyalahkan orangtua, tapi ini adalah suatu kenyataan bahwa hati kita memang terluka, sakit hati. Kita perlu menyatkan kemarahan, tapi tidak langsung kepada orangtua mungkin kepada konselor.
Bisa melalui cerita, menulis surat kepada konselor tetapi tidak kepada orangtua.
GS : Berarti kalau kita mengampuni orang lain sebenarnya ada banyak hal yang menguntungkan diri kita.
VS : Betul. Banyak sekali manfaatnya, melalui hasil riset selama 10 tahun terakhir riset yang dilakukan secara besar-besaran oleh John Templeton Foundation di Amerika menyatakan pengampunan itubanyak untungnya.
Untungnya adalah orang lebih sehat, jantungnya lebih sehat, tekanan darahnya lebih rendah, hidupnya lebih bahagia, hubungan suami istri lebih baik, hubungan dengan anak-anak lebih baik, hubungan dengan Tuhan lebih baik, bahkan penjual di toko-toko itu banyak untungnya karena dia menjadi orang yang lebih ramah. Banyak sekali manfaatnya sehingga dia sendiri menjadi orang yang bahagia karena bebannya hilang.
GS : Kita mengetahui begitu banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari pengampunan. Tetapi masalah tersulit bagi kita ialah melalui proses, untuk bisa mengampuni orang yang sudah menyakiti hati kita.
VS : Betul, tapi ini adalah proses untuk menyembuhkan bukan proses untuk tetap sakit. Kalau kita melihat proses penyembuhan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan, jadi lebih baik dilalui saja Dari pada kalau tidak mau mengampuni nantinya perjalanan hidup kita menjadi susah.
Tapi proses mengampuni butuh waktu beberapa minggu atau beberapa bulan dan kita harus terus bergumul dengan pengampunan. Dan pada akhirnya kita memperoleh kemenangan dan kelepasan .
GS : Seringkali kita lebih sulit untuk mengampuni orang-orang yang dekat dengan kita dibandingkan dengan orang yang agak jauh dengan kita. Sebenarnya kalau lebih dekat maka komunikasi itu lebih mudah tetapi menjadi lebih sulit, dan ini bagaimana?
VS : Karena kita mengharapkan orang yang lebih dekat dengan kita adalah orang yang lebih mengasihi kita. Tapi mengapa justru orang yang mengasihi kita itu menyakitkan kita. Karena kalau kita diakiti hal yang sama dari orang yang kurang dekat, maka kita lebih cepat mengampuni.
Tetapi kita selalu mengharapkan yang lebih dekat seharusnya melindungi saya, seharusnya mengasihi saya dan itulah kesulitannya.
GS : Kalau kita mengampuni seseorang misalnya orangtua atau
kandung, apakah kita harus menjalin hubungan seperti dulu ketika kita belum disakiti atau bagaimana ?
VS : Pengampunan itu tidak sama dengan rekonsiliasi. Rekonsiliasi artinya berhubungan baik kembali dan menjalin hubungan baik itu. Ini tergantung dari masalahnya, contohnya orangtua menyakiti aak dengan berbagai macam kekerasan.
Ada seorang bapak menganiaya, melakukan kekerasan secara seksual kepada anaknya. Bagi dia pengampunan yang diberikan dengan cara mengampuni tetapi dia harus menjaga jarak dengan bapaknya untuk melindungi dirinya sendiri. Jadi bukan dengan rekonsiliasi, tetapi dengan tetap menjaga jarak untuk keamanannya sendiri.
GS : Tapi ada orang yang berkata "Katanya kamu sudah mengampuni tetapi mengapa kamu tidak mau berteman lagi, tidak mau bekerjasama lagi" dan itu membuat dia menjadi bingung.
VS : Itulah sebabnya kalau memungkinkan pengampunan satu arah, saya mengampuni meskipun orang itu tidak mengampuni apapun yang terjadi saya tetap mengampuni pihak yang menyakiti saya. Tapi rekosiliasi ada dua arah, jadi jika kita mau berbuat mengasihi tapi kalau orang itu tidak bisa berbuat hal yang sama maka tidak bisa terjadi.
GS : Berarti mengampuni tidak harus menunggu orang itu datang kepada kita untuk minta ampun atau menyesali kesalahannya.
VS : Tidak perlu, karena mungkin tidak akan terjadi orang itu datang dan meminta maaf. Seringkali orang yang menyakiti kita tidak minta maaf, tapi demi saya sendiri saya mau mengampuni supaya hdup saya bahagia, supaya hidup saya bebas dan bukan demi orang itu.
GS : Apakah orang yang sudah mengampuni suatu saat bisa teringat lalu hatinya menjadi sakit lagi.
VS : Bisa, karena pengaruh emosinya. Pengampunan secara emosi itu membutuhkan perjalanan atau suatu proses. Tetapi kalau dia sudah mengambil keputusan dan pada suatu hari kelak dia sakit hati lgi, maka dia akan ingat kalau saya sudah mengampuni.
Ini membutuhkan proses.
GS : Ada orang yang sengaja membuat catatan yang mengatakan bahwa pada tanggal ini saya sudah mengampuni si A atau si B, apakah itu dapat menolong?
VS : Hal itu menolong, jadi kalau dia ragu-ragu maka dia bisa melihat catatannya bahwa dia sudah mengampuni. Berarti ini hanya emosi saya dan membutuhkan waktu. Orang yang lebih dilukai maka di lebih lama untuk sembuh dari emosinya.
GS : Biasanya keluhannya adalah "Setiap kali saya lihat dia, di gereja atau di tempat lain maka timbul lagi perasaan itu".
VS : Itulah perlunya kita belajar dari Tuhan Yesus yang mengajarkan kita bagaimana kita bisa mendoakan musuh kita. Kita sulit mengampuni orang yang menyakiti kita tapi kalau dengan kasih Yesus ita belajar berempat,i mencoba berdoa untuk orang itu juga.
Maka Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kalau kita bertemu orang itu kita tidak lagi membenci.
GS : Sehubungan dengan pembicaraan ini, apakah ada ayat firman Tuhan yang ibu Vivian ingin bacakan atau ibu ingin bagikan kepada kita semua ?
VS : Ini ada satu ayat Alkitab dari Efesus 4:32 demikian firman Tuhan "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu".
GS : Itu suatu himbauan, atau suatu perintah atau bagaimana?
VS : Ini adalah pengampunan, sesuatu hal yang Tuhan Yesus sudah ajarkan, Rasul Paulus ajarkan. Tadi di dalam doa Bapa Kami diajarkan juga harus saling mengampuni, itu adalah suatu perintah dar Tuhan.
Kalau kita mau mengampuni orang lain, maka Tuhan Allah juga akan mengampuni kita.
GS : Bahkan di atas kayu salib sendiri Tuhan Yesus masih mengatakan "Bapa ampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat".
GS : Jadi tanggung jawab kita adalah memberikan teladan kepada generasi setelah kita anak-anak kita, cucu-cucu kita tentang bagaimana memberikan pengampunan secara benar. Terima kasih banyak Ibu Vivian dan Ibu Ester untuk kesempatan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sulitnya Mengampuni Orang Lain". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id , kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Orang yang sudah dilukai itu cenderung sulit untuk mengampuni. Hal itu disebabkan karena pandangan yang tidak menyeluruh tentang pengampunan. Mereka merasa mengampuni itu merugikan diri sendiri, tetapi sebetulnya pengampunan itu menguntungkan karena hatinya damai.
Faktor-faktor yang menyebabkan orang sulit untuk mengampuni :
Telah dilukai hingga cacat.
Masa kecilnya sulit untuk memaafkan orang lain, jadi terbawa hingga dewasa.
Mulai dari kecil perkembangan kejiwaannya belum menyeluruh, belum berkembang dengan baik sehingga dia belum bisa mempercayai orang dan ini membuat dia sulit untuk mengampuni orang lain.
Untuk bisa mengampuni orang lain, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui :
Ia harus tahu bahwa apa yang mengganggu adalah suatu masalah dan harus diselesaikan.
Dia bisa mengidentifikasikan semua perasaannya dan mengeluarkan semuanya.
Membuat satu batasan agar tidak lagi diperlakukan seperti ini.
Setelah itu mengampuni dengan kasih Tuhan Yesus.
Manfaat dari mengampuni orang lain yaitu orang lebih sehat, jantungnya lebih sehat, tekanan darahnya lebih rendah, hidupnya lebih bahagia, hubungan suami istri lebih baik, hubungan dengan anak-anak lebih baik, hubungan dengan Tuhan lebih baik, bahkan penjual di toko-toko itu banyak untungnya karena dia menjadi orang yang lebih ramah. Dia menjadi bahagia karena bebannya hilang.
Pengampunan itu tidak sama dengan rekonsiliasi, Rekonsiliasi artinya berhubungan baik kembali dan menjalin hubungan baik. Rekonsiliasi terjadi dua arah, jadi antara kita dan orang lain harus ada unsur pengampunan, sedangkan mengampuni itu tidak harus dua arah.
Pada umumnya, kecenderungan kita berkata sudah mengampuni tetapi saat bertemu dengan orang itu kita menjadi sakit hati lagi. Untuk menghadapi hal ini kita perlu belajar kepada Tuhan Yesus yaitu kita bisa mendoakan musuh kita, belajar berempati. Maka Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita, sehingga saat kita bertemu orang itu kita tidak lagi membenci.
Firman Tuhan :
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”. (Efesus 4:32)
Bahkan di atas kayu salib, Tuhan Yesus masih mengatakan, “Bapa ampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Beberapa hal yang mendorong seseorang untuk melakukan tindak kekerasan yaitu: Kecemburuannya, tidak takut akan Tuhan, tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Transkrip Isi:
pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahya M.Psi., kami akan berbincang-bincang dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pelaku Tindak Kekerasan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Bu Vivian, kita bisa membaca didalam Alkitab khususnya di Perjanjian Lama tentang kisah Kain yang memukul Habel sampai meninggal. Itu adalah salah satu bentuk kekerasan yang bisa kita temukan di Alkitab dan ada banyak contoh-contoh yang lain. Tetapi apa sebenarnya yang bisa mendorong seseorang bahkan terhadapnya sendiri melakukan tindak kekerasan.
VS : Sebetulnya ada banyak hal yang menyebabkan orang melakukan tindak kekerasan. Kita sudah ketahui Kain dan Habel karena kecemburuannya terhadapnya maka akhirnya dia marah lalu membunuh. Kala kita melihat orang melakukan tindak kekerasan pada dasarnya ialah orang itu tidak takut akan Tuhan lalu dia melakukan sesuatu untuk menyakiti orang lain.
Kita juga melihat tindak kekerasan bisa terjadi karena orang tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Jadi emosi marahnya, cemburu, takut, balas dendam dsb tidak bisa dikendalikan sehingga dilampiaskan kepada orang lain.
GS : Korbannya bisa siapa saja termasuk keluarga dekatnya?
VS : Betul. Kalau orang sudah gelap mata tidak bisa mengendalikan diri, siapa saja bisa diterjang.
GS : Tapi seringkali orang tidak mau mengakui apa yang terjadi didalam dirinya seperti tadi Ibu Vivian katakan tidak bisa mengendalikan diri. Orang lebih gampang menyalahkan lingkungan sekitarnya, mungkin itu tekanan politik, tekanan ekonomi, budaya dan sebagainya.
VS : Masalah di sekeliling membuat kita menjadi stress. Meskipun kita menjadi stress oleh karena masalah di sekeliling kita, kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena dirinya tidak mau bertnggung jawab mengendalikan diri sendiri.
ET : Dulu saya berpikir kalau orang sampai melakukan tindak kekerasan, biasanya itu karena emosinya memang sepertinya sudah memuncak. Tapi kalau kita melihat berita-berita kriminal, adakalanya ntuk hal sepele pun orang bisa sampai melakukan tindak kekerasan.
Dan rasanya semakin banyak tindak kekerasan seperti ini misalnya hanya karena tidak diberikan pinjaman uang atau barang, orang bisa membunuh atau menyakiti. Kecenderungan ini sebenarnya bagaimana Bu?
VS : Itu seringkali karena ada sesuatu hal yang mengganggu didalam diri orang itu yang telah sekian lama dipendam tidak dikeluarkan dan tidak dibenahi. Akhirnya suatu yang kelihatan sepele itu enjadi pemicu, akhirnya dia tidak terkendali.
Mungkin melukai orang lain, seringkali yang Pak Gunawan tanya kenapa bisa sendiri, tapi seringkali yang menjadi korban justru orang dekatnya karena dia begitu dekat dengan sekelilingnya, maka orang itu yang menjadi korban kekerasannya karena dia paling gampang melakukan dengan orang yang dekat.
GS : Dan kenal kelemahan-kelemahannya mungkin itu, Bu?
VS : Dan mungkin kalau pada orang lain ada sungkannya, karena pada orang terdekat gampang melakukan apa saja.
ET : Mudah terpicu dan mudah melampiaskannya, Bu?
GS : Tapi akhir-akhir ini kita melihat bahwa tindak kekerasan itu selain makin banyak dilakukan tetapi mutu atau kwalitasnya macam-macam, makin lama makin bertambah termasuk anak-anak pun berani melakukan tindak kekerasan. Beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan tentang anak-anak yang melihat "smackdown" lalu terhadap temannya sendiri dia berani memukul, dan bagaimana pengaruhnya?
VS : Kalau anak-anak kecil itu memang meneladani apa yang ada disekitarnya, anak-anak berani melakukan tindak kekerasan mungkin dia bisa melihat di keluarganya orang tuanya melakukan tindak kekrasan dengan anggota keluarganya atau melihat acara di televisi.
Jadi dia mau meneladani sesuatu yang jelek yaitu tindak kekerasan di televisi.
GS : Jadi dia belum bisa membedakan antara yang membahayakan orang lain atau tidak?
VS : Seharusnya anak tahu ini sesuatu yang salah atau benar, tetapi karena dia melihat ini sudah sering dilakukan mungkin diperbolehkan.
ET : Melalui contoh, mungkin melihat ayahnya tidak mendapatkan yang dia inginkan kemudian memukul orangtuanya. Jadi seperti pesan yang diterima dengan begitu mudah menyakiti orang lain. Tapi kalau kita lihat ada orang-orang tertentu yang rasanya baru berani melakukan tindak kekerasan kalau ramai-ramai, kalau sendirian dia tidak berani, ini bagaimana?
VS : Orang yang suka ramai-ramai itu rupanya supaya tanggungjawabnya dipikul bersama, tidak sendirian kalau dihukum juga bersama-sama. Ada juga orang yang berpandangan kalau ramai-ramai mungkintidak ada orang yang berani melawannya karena bergerombol jadi lebih berani.
ET : Atau sebenarnya ada juga yang beranggapan bahwa keramaian tidak untuk melakukan kekerasan tetapi karena melihat bahwa kalau ramai-ramai itu seru.
VS : Betul, bisa juga ramai-ramai untuk menyenangkan hati.
ET : Sebenarnya tanpa ada kemarahan.
VS : Ada tapi tidak sampai memuncak, jadi asal ramai-ramai berbuat sesuatu yang menyenangkan hati tetapi sebetulnya sesuatu yang salah.
GS : Dan memang biasanya kalau ramai-ramai itu mesti ada yang memicu jadi ada yang memulai lebih dulu baru yang lain ikut-ikutan. Seperti membakar toko, kerusuhan di lapangan sepak bola dan sebagainya, sebetulnya ada yang memulai.
VS : Sebetulnya ada yang memulai dan yang lain ikut-ikutan supaya menyenangkan hati teman-temannya dan ada juga hanya untuk keramaian.
ET : Jadi ikut tanpa tahu penyebabnya.
VS : Kadang-kadang mereka melakukan itu supaya diterima oleh kelompok yang ramai-ramai itu.
GS : Daripada diasingkan maka lebih baik ikut-ikutan saja ramai-ramai itu. Tetapi ada juga orang melakukan tindak kekerasan dengan berdarah dingin yang seolah-olah tanpa emosi melakukan tindak kekerasan dan itu bagaimana?
VS : Karena itu sudah sering dia lakukan, jadi tidak merasakan apa-apa. Jadi emosinya mati karena dia sudah sering melihat, memikirkannya dan tidak merasa bersalah karena sudah terlalu lama sehngga hati nuraninya tidak berbicara lagi.
Atau mungkin hati nuraninya berbicara tetapi dia pendam dan dia matikan.
GS : Mungkin seringkali yang dia pendam, hati nuraninya berkata apa pun tetapi tidak dianggap.
VS : Akhirnya mati maka tidak berbicara lagi.
GS : Sehingga dia bisa memukul atau melukai orang lain rasanya dia tidak bersalah.
VS : Atau dulu dia sering melihat hal yang sama tetapi tidak bermasalah sehingga dia melakukan kembali dan tidak apa-apa.
GS : Apakah itu ada latar belakang dari pelaku tindak kekerasan yang bisa mempengaruhi sikapnya saat ini.
VS : Bisa juga, mungkin waktu kecil dia mengalami tindak kekerasan. Mungkin keluarganya atau orang lain yang melukai hatinya dan belum dipulihkan, sehingga dia mempunyai kecenderungan seperti iu.
GS : Dari pengalaman ibu apakah ada bentuk-bentuk tindak kekerasan yang sering ibu jumpai?
VS : Yang pertama adalah tindak kekerasan secara fisik yaitu apa saja yang melukai diri seseorang didalam fisiknya dari kepala sampai ke kaki. Bisa berbentuk pukulan dengan barang-barang tumpuldan sebagainya yang secara fisik.
Dan yang kedua yang sering orang lakukan adalah tindak kekerasan secara emosi yaitu apa saja yang melukai orang bukan melalui fisiknya tetapi secara emosinya dengan cara caci-maki yang sangat keras, dimarah-marahi, dihina dan apa saja yang melukai hatinya. Dan yang ketiga adalah tindak kekerasan secara seksual jadi apa saja yang berbau seksual itu merupakan tindak kekerasan. Yang keempat tindak kekerasan secara penelantaran yaitu tidak diperhatikan, diremehkan.
GS : Itu akibatnya bisa lama atau cepat hilang atau bagaimana?
VS : Biasanya akibatnya itu tergantung, seberapa jauh tindak kekerasan yang dilakukan dan seberapa lama dilakukan. Dan kalau itu sudah sekian lama dan begitu keras atau begitu dahsyat dilakukantindak kekerasan itu maka akan lebih lama sembuhnya.
GS : Mungkin banyak orang tidak menyadari yang tadi Ibu katakan penelantaran juga termasuk tindak kekerasan. Karena merasa tindak kekerasan itu sesuatu yang dilakukan dan penelantaran ini sesuatu yang tidak dilakukan namun itu ternyata tergolong kekerasan juga.
VS : Karena merugikan orang lain ini adalah bentuk penelantaran. Contohnya tentang penelantaran anak, anak seharusnya mendapatkan perhatian orangtua, harus mendapatkan pendidikan yang layak danjuga mendapatkan kebutuhan untuk hidup.
Tetapi kalau anak yang ditelantarkan dengan tidak diperhatikan, maka secara emosi anak akan kekurangan sehingga tidak berkembang dengan baik. Kalau anak tidak diperhatikan didalam hal kesehatan sehingga anak menjadi sakit dan dibiarkan maka anak akan menderita, sehingga secara fisik dan emosi tidak berkembang. Ditelantarkan dalam hal pendidikan, maka untuk hari depannya anak tidak bisa berkembang dengan baik. Jadi penelantaran itu juga merupakan tindak kekerasan.
ET : Saya tertarik dengan tadi Ibu katakan kekerasan secara emosi, kadang-kadang ada budaya yang memicu seseorang dengan cara yang negatif. Misalnya supaya anak mau belajar kemudian dikatakan bdoh dan sebagainya dengan tujuan mendorong.
Dan orangtua mengatakan, "Kalau tidak dibegitukan nanti anak tidak mau belajar dan tidak menjadi pintar". Apakah ini suatu bentuk kekerasan secara emosi, secara verbal.
VS : Betul. Jadi itu adalah tindak kekerasan karena mencaci orang yaitu bodoh. Seringkali itu adalah kutukan yang akhirnya adalah nubuatan yang akan dipenuhi dan digenapi oleh anak itu. Sebetulya orangtuanya tidak bermaksud seperti itu tetapi bisa membuat nubuatan yang digenapi.
ET : Berarti ada orang yang melakukan tindak kekerasan tanpa menyadarinya.
GS : Karena dipikir ini sesuatu yang baik untuk anaknya, jadi dia memaksa anaknya belajar sampai larut malam, lalu mengerjakan tugas-tugas yang terlalu banyak. Tetapi saya lihat itu merupakan suatu tindak kekerasan karena anak tidak bisa menikmati. Pada saat dia membutuhkan waktu bermain dia justru dipaksa oleh orangtuanya mengikuti les sampai dia tidak bisa menyalurkan keinginan pribadinya.
VS : Di satu pihak kita mengerti para orangtua mempunyai maksud yang baik supaya anaknya berkembang tetapi kalau keterlaluan hingga anaknya sama sekali tidak mempunyai waktu untuk dirinya sendii, bersosialisasi, untuk bermain.
Itu juga merupakan sesuatu tindak kekerasan. Tetapi itu bukan tindak kekerasan yang seperti fisik, emosi, seksual dan ketelantaran, melainkan merupakan kurang perhatian sehingga anak ini tidak bisa berkembang secara baik. Itu adalah tindak kekerasan yang ringan.
GS : Kadang-kadang ada orang yang menghalalkan segala cara untuk mengorek informasi dari seseorang. Seperti interogasi, itu biasanya sering dilakukan tindak kekerasan dan itu bagaimana?
VS : Itu tindak kekerasan supaya orang mau berbicara tetapi sebenarnya orang mau menghalalkan itu juga sesuatu yang salah. Tidak boleh ada tindak kekerasan apa pun juga karena itu merupakan sesatu yang kriminal, suatu tindakan kekerasan.
GS : Tadi Ibu pisahkan antara jasmani dan rohani, kalau orang disakiti secara jasmani itu apakah tidak secara otomatis lalu emosinya juga terganggu atau tersiksa.
VS : Tentu, kalau jasmaninya terganggu maka emosinya menjadi tersiksa. Itu termasuk perkembangannya tidak berkembang dengan baik, baik secara jasmani atau emosi.
GS : Dari contoh-contoh yang tadi ibu sebutkan, dampak yang paling lama itu yang mana?
GS : Jadi tidak bisa cepat dilupakan.
GS : Kalau fisik, setiap kali melihat lukanya orang itu menjadi selalu ingat tapi kalau emosi seolah-olah tidak kelihatan bekasnya.
VS : Tapi di dalam sangat menderita. Seperti tindak kekerasan seksual dan penelantaran ini membutuhkan penyembuhan yang lama.
ET : Apakah setiap bentuk ancaman juga bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan, Bu Vivian?
VS : Betul. Ancaman tentunya tindak kekerasan secara emosi.
ET : Misalnya seperti kadang-kadang ada pesan yang disampaikan orangtua kepada anak, kalau kamu baik akan disayang tapi kalau tidak baik tidak disayang. Ini sebetulnya ancaman bagi anak untuk brbuat baik di depan orangtuanya.
VS : Jadi anak itu sebetulnya harus diterima apa adanya. Tentu semua orangtua tidak ingin anaknya menjadi tidak baik. Jadi bagaimana memberitahukan kepada anak kalau anak ini diterima tanpa syaat .
Diterima dan dikasihi.
ET : Kalau membawa-bawa sisi rohani misalnya mengatakan kepada anak, "Kalau kamu melakukan sesuatu maka Tuhan akan membalas", ini bagaimana Bu?
VS : Ada tindak kekerasan yang dinamakan tindak kekerasan secara rohani, sepertinya orang itu menggunakan legalisme . Jadi akhirnya anak ini mengalami legalisme. Orang seperti ini diberi sebuta oleh semua orang adalah bukan orang biasa tetapi malaikat atau Tuhan, jadi tidak diberikan kesempatan untuk menjadi manusia.
Kalau menjadi manusia ada kesempatan untuk bersalah bukannya kita mau berdosa tetapi setiap orang bisa bersalah dan ini merupakan tindak kekerasan kalau orang ini selalu dituntut sempurna. Kita tidak mungkin selalu sempurna tetapi bukannya kita mau hidup sembarangan namun penuntutan ini menuntut orang untuk menjadi sempurna dan selalu rohani. Kalau tidak maka akan dihukum Tuhan dan itu adalah tindak kekerasan secara rohani.
ET : Tidak terlalu jelas sepertinya terselubung tetapi bentuk kekerasan juga. Apakah ada lagi bentuk-bentuk yang terselubung selain secara rohani ini.
VS : Bentuk kekerasan secara rohani lainnya ialah mungkin orang disuruh banyak pelayanan sehingga tidak ada waktu untuk keluarganya. Pelayanan memang baik tetapi kalau anaknya menjadi "yatm piatu" itu adalah tindak kekerasan secara rohani.
Ada juga tindak kekerasan ringan yang lain yaitu kita terlalu menyayangi anak sehingga anak tidak diberikan kesempatan untuk mengalami kesakitan apa pun juga padahal di dunia yang akan kita hadapi nantinya kita akan terbentur sana sini. Itu pun terlalu memproteksi seseorang, itu juga merupakan tindak kekerasan karena dia tidak mungkin bisa hidup seperti ini. Ada lagi yaitu selalu menyalahkan anak, itu juga merupakan tindak kekerasan yang terselubung, anak selalu dijadikan kambing hitam dan itu suatu tindak kekerasan.
GS : Kalau orangtua bisa melakukan tindak kekerasan secara terselubung kepada anak apakah bisa terjadi sebaliknya, yaitu anak yang melakukan penyiksaan terhadap orang tuanya.
VS : Itu bisa terjadi, di zaman yang modern ini waktu untuk diri sendiri begitu banyak sehingga tidak ada waktu lagi untuk orangtua. Anak bisa melakukan tindak kekerasan terhadap orangtuanya degan cara tidak memperhatikan orangtua padahal itu salah satu perintah Tuhan, kita harus memperhatikan orangtua, orang tua sudah membesarkan kita.
Seringkali lupa, kita hanya mengirim uang saja tetapi biarlah orang lain yang mengurusi padahal kita harus ikut campur kecuali kalau tempat tinggal kita jauh, tetapi kalau tidak maka kita harus memperhatikan orangtua.
GS : Jadi itu penelantaran terhadap orangtua oleh anak.
GS : Atau orangtua "dipaksa" oleh anak harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhannya, bisa terjadi seperti itu?
VS : Ada, itu juga termasuk tindak kekerasan. Saya lihat orangtua dipaksakan untuk bekerja supaya dia bisa hidup sendiri. Saya ada teman yang seperti itu, orangnya ini sudah tua dan anaknya hana satu tapi akhirnya anak ini menikah dan sudah punya rumah tangga sendiri.
Kemudian orangtua ini dipaksakan harus tetap mencari uang sendiri, padahal dia sudah sangat tua.
GS : Jadi tindak kekerasan yang terselubung ini, saya rasa lebih berbahaya. Karena masyarakat di sekelilingnya tidak bisa mengontrol dan menganggap itu tidak apa-apa, itu urusan keluarga sendiri. Kalau kelihatan seperti penganiayaan dan sebagainya, masyarakat bisa ramai-ramai membawa dia dan melaporkannya ke polisi. Tapi kalau yang terselubung itu sulit.
VS : Betul. Meskipun sulit tapi dampaknya juga melukai seseorang jadi harus diperhatikan supaya tidak terjadi.
ET : Jadi apa yang mungkin bisa kita lakukan untuk mencegah atau pun mengurangi tindak kekerasan di sekitar kita, minimal di keluarga kita.
VS : Mungkin perlu ada suatu pengertian yang harus kita lakukan hari ini supaya orang mengerti hal-hal apa yang bisa merupakan tindak kekerasan. Juga ada hal-hal yang bisa dilakukan ialah kita erusaha untuk mengerti kalau dirinya sendiri itu dahulu kecilnya memang mengalami tindak kekerasan.
Jangan didiamkan tetapi perlu kita hadapi, perlu kita sembuhkan, dipulihkan karena seringkali kalau belum pulih secara tidak sadar maka dia bisa melakukan tindak kekerasan kepada orang lain lagi. Hal yang lain yang perlu kita perhatikan ialah supaya kita mau mementingkan kepentingan orang lain dan bukan kepentingan diri sendiri.
GS : Saya rasa korban itu harus berani memberitahukan bahwa dia itu menjadi korban tindak kekerasan supaya orang lain tahu dan menghukum pelakunya.
VS : Sebetulnya harus begitu, tetapi banyak orang tidak mau lapor karena takut dengan pelakunya, "Kalau nanti saya lapor maka saya akan semakin disakiti lagi" dan seringkali seperti iu.
Ada juga orang tidak mau lapor karena kalau dia lapor belum tentu dia dilindungi secara hukum, belum tentu dipercayai. Jadi untuk keselamatannya dan kepentingannya, apakah saya lebih ditolong atau malah tambah celaka ?
GS : Tadi ibu katakan butuh suatu pendidikan tapi kadang-kadang di sekolah sendiri juga sering terjadi tindak kekerasan antara guru terhadap muridnya dan sebagainya.
VS : Ada yang seperti itu, jadi memang guru yang menganiaya muridnya tetapi di negara Barat yang dilindungi oleh hukum malah jadi guru tidak bisa bertindak apa-apa karena murid yang melakukan tndak kekerasan kepada guru.
Murid terlalu dilindungi oleh hukum jadi ekstremnya sampai ke tempat yang lain.
GS : Memang selalu menjadi dua masalah yang berbeda yang bisa timbul karena yang satu mencegah tapi terlanjur dan yang lain tidak bisa bertindak apa-apa. Seandainya sekarang ada pelaku tindak kekerasan yang menyadari kesalahannya lalu dia menyesal bertobat, apa yang bisa kita lakukan?
VS : Kalau orangnya sudah menyesali dan mau bertobat kita harus mendukung dia supaya dia bisa tetap menjaga dan mengendalikan diri, mengendalikan emosinya, mengendalikan tindakannya, bagaimana ia berbicara, demikian juga di dalam hal rohani dia bisa bertumbuh, maka kita bisa dukung dia dalam konseling.
Maksudnya kalau pun dia tidak mau konseling kita bisa membantu menasehati kalau saat dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan sebelum menyakiti orang lain, mungkin bisa telepon kepada temannya dan mengatakan "Saya tidak bisa mengendalikan diri saya". Jadi dia perlu tahu gejala-gejalanya, tanda-tandanya dan kalau hampir klimaksnya, itu harus bagaimana. Jadi sebelum meledak dia cepat-cepat cari teman atau siapa saja yang bisa diberitahu sehingga dia bisa mengendalikan diri sendiri. Tentunya kita juga mendukung di dalam hal doa.
GS : Biasanya diawali dengan kemarahan, kalau dia sudah mulai marah sebenarnya sudah butuh ditolong sebelum melakukan tindak kekerasan.
ET : Perlukah kita mendorong dia untuk bertanggungjawab atas kerusakan yang mungkin sudah terjadi?
VS : Betul. Tentunya orang yang melakukan tindak kekerasan harus bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Memang bukan disebabkan hal lingkungan atau orang lain, tetapi dirinya sendiri arus bertanggungjawab terhadap apa yang dia lakukan.
Jadi dia bertanggungjawab mengendalikan dirinya sendiri.
GS : Ada hal-hal tertentu yang membuat seseorang itu sadar bahwa dia melakukan kesalahan dengan melakukan tindak kekerasan.
VS : Hal-hal tertentu misalnya bagaimana ?
GS : Yang membuat orang itu sadar. Tidak mungkin orang bisa sadar dengan sendirinya. Seperti apa yang bisa membuat seseorang itu sadar bahwa dia itu keliru?
VS : Yang pertama dia harus merendahkan diri dan dia mau tahu bahwa perbuatannya itu salah dengan melihat orang yang menderita. Kalau melihat orang menderita maka dia akan sadar bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan sesuatu yang tidak betul.
Sehingga dia mau mencoba mengerti, kalau orang berbicara tolong di dengar, orang lain menangis tentu ada artinya apa yang menyebabkan. Sehingga dia mau membuka diri kepada orang lain entah itu terhadap perbincangan seperti ini atau terhadap bacaan tentang tindak kekerasan dan ini membuat dia sadar.
GS : Karena ada suami yang habis memukuli istrinya kemudian istrinya nangis-nangis dan pada saat itu dia lalu minta maaf kepada istrinya. Tapi lain kali dia melakukan itu lagi.
VS : Itu namanya siklus yang berulang-ulang. Dia harus bisa mematahkan siklus itu kalau dia gagal, maka dia bisa minta tolong pada orang lain. Dia belum sungguh-sungguh berubah karena dia sadartapi dia melakukan hal itu lagi.
GS : Tetapi apakah ada harapan bagi pelaku tindak kekerasan untuk berubah, tidak melakukan tindak kekerasan lagi.
VS : Bukan harapan tapi keputusan yaitu keputusan untuk tidak melakukan lagi. Jadi sebelum dia melakukan tindak kekerasan kalau sudah ada tanda-tandanya entah dia mulai merasa dongkol, maka diaharus mencegah supaya tidak terjadi.
GS : Memang itu keputusan karena seringkali kalau diperhadap-mukakan maka dia cuma bilang, "Saya harap saya tidak melakukan itu lagi, tetapi kalau melakukan lagi maka minta maaf lagi" dan itu tidak ada habisnya.
VS : Jadi harus ada keputusan tidak mau mengulangi lagi dan kekerasan merupakan suatu dosa. Tuhan tidak menghendaki hal seperti itu.
GS : Mungkin ada ayat firman Tuhan yang ingin ibu sampaikan.
VS : Ini dari Mazmur 11:5B, "Tuhan membenci orang yang mencintai kekerasan". Jadi Tuhan bukan mencintai tetapi membenci orang yang mencintai kekerasan, Tuhan tidak senang dengan orang yang melakukan kekerasan.
GS : Berarti ada resiko hukuman Tuhan kalau dia tetap pada sikapnya untuk melakukan tindak kekerasan terus.
VS : Saya kira dia harus bertanggungjawab kepada Tuhan.
GS : Terima kasih banyak Ibu Vivian dan Ibu Ester untuk kesempatan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pelaku Tindak Kekerasan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita bisa membaca di dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Lama tentang kisah Kain yang memukul Habel sampai meninggal, ini adalah contoh tindak kekerasan. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, banyak kita jumpai tindak kekerasan di sekitar kita.
Ada hal-hal yang mendorong seseorang untuk melakukan tindak kekerasan yaitu :
Kecemburuannya
Tidak takut akan Tuhan
Tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri
Saat ini tindak kekerasan semakin banyak dijumpai hingga anak kecil pun sudah bisa melakukan tindak kekerasan. Hal itu disebabkan karena mereka meneladani apa yang ada di sekelilingnya dan melihat apa yang ada di sekitarnya seperti televisi dsb.
Ada juga di sekitar kita yang melakukan tindak kekerasan secara beramai-ramai karena dengan beramai-ramai semua tanggungjawab dipikul bersama dan mungkin tidak ada yang berani melawannya. Ramai-ramai untuk menyenangkan hati, supaya diterima oleh kelompok yang beramai-ramai itu.
Tindak kekerasan yang sering kita jumpai ialah :
Tindak kekerasan secara fisik seperti pukulan dan sebagainya,
Tindak kekerasan secara emosi seperti caci maki dan sebagainya,
Tindak kekerasan secara seksual seperti pemerkosaan dan sebagainya,
Tindak kekerasan secara penelantaran seperti tidak diperhatikan dan sebagainya.
Semua pelaku tindak kekerasan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk disembuhkan, berapa lama waktu itu tergantung dari seberapa dahsyat tindak kekerasan yang dia lakukan.
Ternyata ada tindak kekerasan yang lain yang tidak kelihatan secara jelas / terselubung, misalnya :
Orang tua terlalu memaksakan keinginannya kepada anak, penelantaran terhadap anak.
Tindak kekerasan secara rohani, contohnya orang dituntut untuk sempurna, orang dituntut untuk pelayanan sehingga tidak ada waktu untuk keluarga.
Hal-hal yang dapat mengurangi atau mencegah tindak kekerasan di sekitar kita:
Perlu ada suatu pengertian dari apa yang akan kita lakukan hari ini,
Perlu dihadapi dan jangan didiamkan, karena perlu disembuhkan.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menolong pelaku tindak kekerasan yang sudah sadar dan bertobat :
Mendukung dia untuk tetap menjaga dan mengendalikan diri.
Memberi nasehat, jadi saat dia mau ‘meledak’, dia bisa menelepon teman dan sharing kepada temannya.
Mendukung didalam doa.
Firman Tuhan : “Tuhan membenci orang yang mencintai kekerasan”. (Mazmur 11:5B)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Dalam materi ini kita diajak untuk mengetahui, mengerti dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan sebelum kita benar-benar masuk dalam pernikahan. Di antaranya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri untuk dapat hidup bersama dengan harmonis.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi, mereka adalah para pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang persiapan pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Ibu Vivian, kami mengenal Ibu sebagai seorang pakar di bidang konseling khususnya konseling pranikah. Dalam kesempatan berharga ini kami ingin tahu lebih banyak bagaimana sebenarnya persiapan pernikahan yang dibutuhkan oleh calon pasangan suami istri itu?
VS : Persiapan pernikahan bagi mereka ialah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena selama ini mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan dan sekarang akan hdup bersama-sama.
Jadi kita mempersiapkan bagaimana mereka nanti bisa secara harmonis hidup bersama-sama.
GS : Tapi pola itu sebenarnya dahulu tidak pernah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, mungkin 20 atau 30 tahun yang lalu. Tetapi sekarang kita mulai melihat ada kebutuhan itu, kalau ditanyakan kepada pasangan-pasangan mereka katakan itu perlu dan baik sekali, mengapa terjadi perubahan seperti itu?
VS : Kalau dilihat dahulu orang itu lebih menerima apa yang terjadi dalam keluarga, mereka terima apa adanya sekarang orang lebih kritis. Jadi kalau terjadi sesuatu mereka cenderung lebih beran berkonfrontasi dengan pasangannya sehingga lebih cepat terjadi perselisihan dan akhirnya terjadi banyak perceraian.
Oleh sebab itu kalau saya melihat keluarga, dahulu saya ingin berkecimpung dalam pranikah karena saya melihat banyak pasangan yang menikah beberapa tahun langsung nanti bercerai. (GS :Itu keluarga Kristen yang Ibu maksudkan, pasangan-pasangan kristen?) ya keluarga Kristen.
IR : Bagaimana sebaiknya diselenggarakan, apakah secara berkelompok atau berpasangan?
VS : Berpasangan, kalau secara kelompok itu kalau kita hanya mau memberikan informasi yang umum tentang apa dalam pernikahan itu, tetapi ada secara pribadi sepasang demi sepasang. Dan juga kala memang ada masalah yang tidak bisa diselesaikan pribadi lepas pribadi, satu orang-satu orang nanti bersama-sama lagi.
(2) GS : Berdasarkan pengalaman Ibu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh calon mempelai itu untuk bimbingan pranikah?
VS : Kalau bimbingan pranikah paling sedikit kalau menurut saya adalah ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan. Pertama kali adalah secara pribadi, pribadi maksudnya per-pasang lalu 5 kali secra kelompok, lalu 2 kali lagi secara pasangan.
Dan itu dilihat kalau memang masalahnya lebih banyak kita akan yang berpasang ini ditambah lagi.
GS : Tapi yang sering kali terjadi di gereja-gereja yang saya alami adalah orang kalau sudah memastikan tanggal pernikahannya, buru-buru ikut bimbingan pranikah, seolah-olah itu semacam katekisasi sebelum baptisan atau prasyarat sebelum mereka itu diteguhkan pernikahannya. Bagaimana kalau ada pandangan seperti itu?
VS : Oleh sebab itu di gereja seharusnya diberi pengumuman jauh sebelumnya. Siapa yang akan menikah, paling tidak 3 bulan sebelumnya sudah harus memberi tahu atau 4 bulan atau ½ tahun sebelumny, sehingga ada persiapan.
GS : Apakah bimbingan pranikah itu harus dilakukan oleh gereja?
VS : Saya kira kalau memang mau diteguhkan di gereja, gereja harus (GS : Harus melakukan itu ya) ya.
GS : Tetapi apakah badan-badan lain seperti Lembaga Bina Keluarga Kristen ini bisa melakukan?
VS : Bisa kalau ada tenaga yang kompeten, tapi paling tidak pendetanya tahu ini gereja apa yang diajarkan jadi mungkin pendetanya menambahkan sedikit-sedikit saja.
GS : Kalau membutuhkan waktu 1 tahun saya rasa memang agak sulit sekarang ini mempelai atau calon mempelai itu menentukan hari H-nya itu untuk menikah. Mereka biasanya memang agak dekat, kurang ½ tahun atau apa baru melakukan itu. Ada juga bimbingan pranikah yang diberikan kepada mereka yang bahkan berpacaran saja belum. jadi seberapa perlu gereja mengajarkan itu? misalnya saja pendidikan seks dan sebagainya.
VS : Kalau itu saya tidak mengatakan sebagai bimbingan pranikah itu adalah kita mengajarkan pergaulan, memang kita ajarkan mulai dari remaja sebelum mereka berpacaran supaya nanti tahu memilih acar yang cocok,.
Tapi bimbingan pranikah ini untuk orang yang akan menikah.
IR : Adakah keterkaitan masalah-masalah sebelum dan sesudah menikah Bu Vivian?
VS : Sebelum dan sesudah menikah biasanya kalau masalah belum diselesaikan sebelum menikah akan terbawa setelah menikah.
GS : Tetapi pandangan umum khususnya calon mempelai itu masalah yang belum terselesaikan pada waktu mereka berpacaran akan bisa diselesaikan setelah mereka menikah.
VS : Itu adalah pandangan yang salah, jadi bukannya tambah selesai tetapi tambah rumit.
GS : Misalnya sudah tahu pacarnya ini seorang yang pemarah atau pemabuk bahkan mungkin dikatakan nanti kalau sudah menikah sama saya, saya akan mencoba merubah dia. Apa betul begitu pengalaman Ibu?
VS : Kalau tidak diselesaikan bagaimana bisa berubah saya kira tidak, harus dibereskan sebelumnya.
GS : Jadi itu dilakukan sebelum mereka betul-betul memutuskan untuk menikah.
IR : Apakah perlu bagi pasangan yang masih baru menikah dapat bimbingan?
VS : Yang baru menikah, evaluasi biasanya ada. Jadi setelah menikah misalnya kalau saya, saya membimbing pasangan-pasangan ini mungkin setahun kemudian saya bertemu mereka kembali secara pribad, bagaimana apa yang terjadi, jadi evaluasi.
GS : Menurut pengalaman Pak Paul bagaimana menghadapi calon-calon mempelai yang sejak awal itu sudah bermasalah, tapi mereka tetap bertekad mau melangsungkan pernikahan? Bahkan mungkin permasalahan itu tidak disetujui orang tua dan sebagainya, konkret saja tidak disetujui misalnya?
PG : Kalau masalahnya hanyalah tidak disetujui orang tua dan tidak langsung berkaitan dengan hubungan mereka berdua, mungkin masih bisa tertangani dengan baik Pak Gunawan. Yang saya lebih cemasan adalah kalau memang mereka mempunyai masalah yang tidak terselesaikan dan terus muncul dalam masa pranikah.
Kemudian mereka menikah, kecenderungannya adalah sama seperti tadi yang disinggung Bu Vivian, masalah itu akan muncul lagi. Dan biasanya waktu muncul pada masa pernikahan muncul dalam intensitas yang lebih karena ada beberapa penyebab. Yang pertama adalah kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali. Sudah tentu akan timbul rasa bosan dan akhirnya berubah menjadi rasa muak dan lama-lama menjadi rasa masa bodoh, "Ya engkau memang tidak bisa diubah lagi, aku sudah membicarakan hal ini yang ke 10 kalinya dan engkau tetap mau melakukan apa yang engkau lakukan ya sudah, engkau mau berbuat apa aku tidak peduli lagi." Jadi biasanya kalau muncul di masa pernikahan dan sudah pernah ada di masa sebelum menikah, kecenderungannya memang muncul dalam intensitas yang lebih besar atau lebih serius. Kadang kala tadi Pak Gunawan juga sudah singgung, ada kalanya orang yang berpacaran mempunyai suatu harapan mujizat akan terjadi, yaitu setelah menikah tiba-tiba masalah akan terselesaikan. Kadang kala saya bertanya seperti ini kepada pasangan yang sedang menjalani konseling pranikah, mereka tidak cocok dan saya sudah tekankan itu kepada mereka tapi tetap mereka mau menikah. Saya suka menggunakan suatu ilustrasi. Saya suka katakan "Bayangkan engkau sekarang sudah menikah," saya ambil suatu kertas saya berkata: "Bayangkan ini adalah surat nikah engkau, sekarang saya tanya apa yang berubah dalam hubungan kamu berdua?" Dua-dua diam, sebab memang pernikahan adalah seperti itu sebetulnya, yaitu suatu hubungan yang sekarang disahkan tapi hubungan itu sendiri tetap sama, tidak ada yang berubah sebetulnya. Kalau sebelumnya tidak cocok, mempunyai masalah dengan kecemburuan misalnya itu akan menjadi masalah yang menyertai mereka. Tapi adakalanya memang muncul suatu harapan-harapan gaib, seolah-olah semua akan terselesaikan ya tidak. Dengan adanya kertas surat nikah ini apakah ada yang berubah dalam hubungan engkau berdua? Tidak ada persis sama, jadi itu yang saya kira kita ini sebagai orang yang lebih tua atau sebagai konselor pranikah perlu tekankan pada pasangan muda bahwa pernikahan tidak mempunyai atau mengandung solusi yang gaib, yang bisa menyelesaikan problem mereka.
GS : Tadi saya ambil contoh tidak disetujui orang tua karena masih banyak yang terjadi seperti itu dan setelah mereka menikah apalagi setelah mempunyai anak, lalu orang tuanya itu luluh hatinya mungkin sudah menerima. Karena itu yang saya katakan tadi ada masalah sebelum pernikahan kemudian setelah menikah selesai ternyata pernikahan seperti itu. Kalau kasusnya tidak disetujui orang tua, jadi bisa terjadi seperti itu Bu Vivian?
VS : Ya kalau tadi katakan setelah anak lahir lalu disetujui. Itu karena masalah tidak disetujui, tapi kalau masalah yang pribadi, masalah interaksi saya kira tidak akan selesai.
GS : Bahkan mungkin bisa lebih parah karena tidak cocok. Masalahnya sekarang pada saat pacaran tadi yang sebenarnya digunakan untuk saling mengenal. Menurut saran atau pendapat Bu Vivian, yang bisa digunakan oleh remaja kita itu atau pemuda kita yang akan menikah itu bagaimana menggunakan saat-saat pacaran itu?
VS : Saat pacaran adalah saat terbaik untuk mengenal calon pasangannya ini, jadi mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Jadi saat yang terbaik adalah mengenal orang ini pakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup.
GS : Contoh konkretnya dengan cara seperti apa Bu?
VS : Lebih banyak berkomunikasi.
GS : Ya kalau ngomong-ngomong masih pacaran bisa sampai lama, tapi masalahnya apa yang mereka omong kita tidak tahu.
VS : Biasanya omong-omong bukan untuk mengenal (GS :Membicarakan sesuatu di luar hubungan mereka) betul.
IR : Tapi sulitnya kalau mereka sudah tahu kalau mereka tidak cocok, tapi tetap pada pendiriannya untuk terus melanjutkan sampai ke pernikahan, apakah ada saran-saran untuk memberikan bekal bagi mereka yang tidak cocok?
VS : Biasanya dengan konseling pranikah. Jadi mereka itu diajak untuk membuka pandangannya mereka, membuka matanya.
GS : Memang sekarang yang banyak terjadi di dalam pembinaan pranikah itu adalah sifat pengajaran, sifat menambah ilmu pengetahuan mereka tentang persiapan-persiapan pernikahan. Tetapi latihan seperti latihan mendengarkan, latihan merasakan perasaan orang lain dan sebagainya itu jarang sekali dilakukan, Bu?
VS : Ya pengajaran memang perlu juga, tapi latihan dalam kelompok kami juga ada. Yang terpenting adalah penyesuaiannya orang dua ini, jadi apa yang selama ini saya selalu tekankan, selama ini ang jadi masalah kalian berdua itu apa? Dan biasanya kelihatan ini orang yang berdua ini duduk ini mereka kelihatan duduk ini dengan damai atau duduk dengan ada masalah bisa kelihatan.
Biasanya saya tanya masalah apa yang tidak beres dari kalian. Jadi itu yang dibereskan sebelum menikah.
GS : Apakah mungkin Ibu punya suatu contoh konkret dari satu calon pasangan suami istri yang tadinya itu memang tidak sepaham atau tidak cocok, lalu melalui bimbingan pranikah ini mereka bisa ditolong untuk menemukan masalahnya Bu?
VS : Ya ada (GS : Misalnya Bu) misalnya ada satu pasangan yang saya bimbing ini mereka kelihatannya tidak cocok karena yang perempuan ini memangnya pendidikannya lebih tinggi dan memang umurnyalebih tua dan dia ini memangnya lebih cepat mengambil keputusan.
Yang laki memangnya lebih lambat mengambil keputusan jadi mereka ini selalu bertengkar karena yang laki dia mengatakan meskipun saya ini umurnya lebih muda, saya ini saya harus jadi kepala keluarga, tetapi dalam kenyataan tidak bisa. Oleh sebab itu mereka bertengkar terus. Setelah konseling pranikah beberapa kali mereka memutuskan menunda dan membereskan, jadi yang perempuan belajar mengungkapkan pendapatnya yang baik itu bukan dengan mendikte suaminya, calon suaminya selalu dia dikte, ini yang membuat calon suaminya marah. Kita belajar bagaimana mengungkapkan pendapat dengan tidak mendikte akhirnya dia berubah, cara berkomunikasinya ini juga berubah menjadi bagaimana bisa menjadi kepala keluarga akhirnya setelah bisa selesai, mereka berubah.
GS : Bimbingan seperti itu tidak bisa dilakukan dalam bentuk kelas Bu?
VS : Itu yang pribadi (GS : harus pribadi ya) ya, jadi saya katakan kelas penting ada diskusi kelompok tetapi juga harus ada untuk pasangan secara pribadi, orang per orang, sepasang dan juga seara kelompok.
GS : Sekarang ini banyak sarana untuk saling mempertemukan seperti biro jodoh, menurut pandangan Ibu Vivian bagaimana kalau orang mengatakan menemukan jodohnya lewat kesempatan-kesempatan yang ada seperti itu. Jadi mereka biasanya tidak ada tindak lanjutnya, bagaimana menurut Ibu?
VS : Kalau itu adalah sesuatu yang tidak mudah, tahu orangnya lewat tulisan, gambaran tetapi menentukan pernikahan dengan cara itu, saya kira kurang bijaksana. Sebaiknya kita harus ketemu orangya, mengenal orangnya dulu.
GS : Tidak ada sistem kilat-kilatan?
(3) IR : Apakah ada Bu Vivian, faktor-faktor yang memperkuat pernikahan?
VS : Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan kalau saya melihat, mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut pada Tuhan, karena orang yang takut pada Tuhan bagaimanapun juga akan beusaha untuk memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan.
Itu fondasi yang terutama.
PG : Dalam pengalaman Bu Vivian, apakah ada problem-problem tertentu yang Ibu temukan pada masa konseling pranikah. Yang dapat Ibu gunakan sebagai indikator, apakah pernikahan ini akan berjalan baik atau tidak, apakah ada isu-isu atau masalah-masalah yang sangat krusial yang mereka harus bisa selesaikan dengan baik?
VS : Terutama masalah komunikasi, kalau dalam kelompok biasanya waktu pengajaran, saya biasanya mulai dengan pengajaran itu kalau yang bicara hanya dari dua orang, ini entah laki saja yang perepuan diam saja.
Ini saya kira sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu problemlah di komunikasinya. Atau yang perempuan bicara terus yang suaminya diam saja, itu saya melihat bahwa mereka tidak ada kebersamaan.
GS : Kalau memang yang laki pendiam misalnya, jadi sejak dari awalnya pendiam.
VS : Biasanya memang kalau kami diskusi tetapi saya selalu tanyakan satu kelompok lalu satu pasang. Pandangan kalian berdua apa, selalu yang menjawab ini perempuan saja atau yang laki saja. Inisesuatu yang tidak beres.
(GS: Indikasi yang perlu diwaspadai itu) ya itu harus diwaspadai. Dan juga mungkin dalam cara menjawab itu kelihatan ada kemarahan, satu pasang yang sekarang saya bimbing ini waktu menjawab kelihatan ada kemarahan, ini apa ini, tapi karena waktu itu kelompok saya tidak membicarakan apa-apa setelah kelompok selesai saya panggil. Saya melihat beberapa minggu ini ada kemarahan, ternyata ada yang terpendam lama sekali yaitu kemarahan karena cemburu pada calon istrinya ini.
GS : Bu Vivian, tadi Ibu katakan bisa dalam bentuk kelas jadi bersama-sama dan kelompok diajarkan, mungkin kami boleh tahu materi-materi apa yang biasanya disampaikan dalam bentuk kelas itu?
VS : Yang saya sampaikan itu materi terutama yaitu tentang pernikahan dari sudut pandang Kristen, itu mereka sebagai fondasinya (GS: Harus tahu itu) harus tahu tanggung jawabnya sebagai suami itri dari pandangan firman Tuhan.
Lalu yang saya tekankan juga tentang mereka mengenal diri mereka sendiri, jadi siapakah saya ini dan saya mau menikah ini adalah menurut pandangan Kristen seumur hidup, jadi saya harus hubungan dengan orang, pengenalan pribadi satu dengan yang lainnya. Lalu juga tentang komunikasi bagaimana berkomunikasi dengan baik, lalu juga materi yang lain adalah tentang kemarahan, bagaimanapun juga kita hidup bersama-sama ini tentu ada kemarahan lalu bagaimana menangani kemarahan. Hal yang lain adalah tentang komitmen apa mereka mau komitmen seumur hidup, yang lain lagi adalah tentang pendidikan seksual, anak, harapan-harapan dalam pernikahan karena biasanya waktu pacaran harapannya tinggi-tinggi, kenyataannya tidak tahu, kira-kira seperti itu.
GS : Di samping itu ada latihan-latihan yang tadi Ibu katakan dilakukan sepasang-sepasang atau sendiri-sendiri (VS :Betul). Kalau seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama ya Bu?
VS : Ya, saya katakan paling sedikit 6, 7 kali dan setiap kali itu ada 2 jam.
GS : Biasanya kalau dalam kelompok, pengalaman Ibu, apakah jumlahnya makin lama makin menyusut. Jadi misalnya saat pertama itu bisa sampai 10 pasang, sampai pada pelajaran terakhir tinggal 3 pasang, apa tidak terjadi seperti itu?
VS : Ada yang terjadi seperti itu memangnya kadang-kadang tidak datang. Tapi saya mengatakan kalau kamu tidak datang harus ditambah (GS: Mengikuti yang lain ya) mengikuti yang lain, jadi harus iselesaikan.
GS : Mungkin juga faktor dorongan dari orang tua itu penting untuk menganjurkan mereka ikut.
VS : Ya tapi mereka sendiri kalau saya evaluasi, mereka sendiri mengatakan banyak manfaatnya dan minta ditambah waktunya.
GS : Sebelum mereka memutuskan, mungkin dari bimbingan itu kelihatan bahwa mereka itu ternyata tidak cocok sehingga mereka harus memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih lanjut yaitu pernikahan.
VS : Selama ini saya belum pernah seperti itu, yang saya pernah mengalami yaitu yang tidak cocok tapi bisa ditunda sampai 3 kali. Dan waktu mereka ketiga kali ini apa saya harus tunda sekali lai, ditunda sekali lagi harus batal tetapi ternyata kami bersama-sama membereskan ternyata bisa selesai.
Apa ada pengalaman yang bisa disampaikan Pak Paul?
PG : Memang akhirnya ada 3 rekomendasi yang bisa kita berikan, yang pertama menyetujui silakan menikah seperti yang telah dibicarakan tanggalnya, yang kedua adalah menunda kalau kita rasakan meang mereka belum siap dan yang ketiga adalah meminta dibatalkan, itu mungkin sekali.
Ada pasangan yang sangat jelas memperlihatkan ketidakcocokan dan kalau diteruskan tidak akan bisa cocok, jadi tidak sehat sama sekali hubungan seperti ini. Adakalanya harus langsung kami katakan, "Kalian berdua sama sekali tidak cocok, jadi sebaiknya dibatalkan daripada ditunda 10 tahun, lebih baik bilang terus terang dibatalkan sekarang saja."
GS : Itu menyakitkan sekali Pak Paul, tapi masih lebih baik daripada kalau mereka melanjutkan pernikahan lalu putus di tengah jalan. Sehubungan dengan persiapan pernikahan ini, mungkin Pak Paul ada ayat firman Tuhan atau yang menegaskan bahwa bimbingan pranikah itu sesuatu yang perlu untuk mempersiapkan pasangan karena yang tadi kita lihat ini 'kan menjadi suatu perkembangan baru, yang dulu tidak dirasakan sebagai kebutuhan, sekarang dirasakan sebagai kebutuhan apakah memang seperti itu Pak Paul?
PG : Saya kira memang demikian Pak Gunawan, masyarakat atau kita semua makin hari makin menjadi masyarakat yang berpusat pada kenikmatan pribadi. Kita menikah supaya kita senang, bahagia. Suatukonsep bahwa pernikahan itu tidak selalu membawa kebahagiaan karena itu kita harus memikul beban satu sama lain.
Konsep ini perlu ditanamkan juga pada pasangan-pasangan yang mau menikah. Firman Tuhan yang langsung muncul dalam benak saya adalah Galatia 6:2 "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Jadi saya kira setiap orang yang ingin menikah, harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban, tapi pasangannya membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikul. Sebab dia tidak akan mendapatkan semua yang dia inginkan dan pasangannya itu tidak berkemampuan, tidak harus menyediakan semua kebahagiaan untuknya. Akan ada masalah yang dimiliki pasangannya yang mungkin sebelumnya tidak disadari. Dia harus siap semua itu dan memikulnya sebagai bebannya pula. Jadi konsep terhadap pernikahan dan harapan-harapan yang tersembunyi itu harus dimunculkan dalam konseling pranikah sehingga keduanya bisa menyadari apa yang sebetulnya diharapkan secara tersembunyi. Dan banyak di antara kita mengharapkan kebahagiaan itu, tapi kita yang sudah menikah bisa berkata pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan ada beban yang harus kita pikul.
GS : Ya memang saya rasa ayat itu tepat sekali dan kita perlu belajar dari ayat firman Tuhan tadi. Bu Vivian kalau seseorang itu sudah menjalani persiapan pranikah, apakah ada suatu jaminan bahwa pernikahan mereka itu tidak cocok atau bagaimana?
VS : Konseling pranikah ini hanya membekali mereka tetapi mereka harus bekerja keras untuk melaksanakan dalam pernikahan (GS : Dalam kondisi saling menolong Bu ya) ya jadi harus bekerja keras sumur hidupnya, ini hanya bekal saja.
GS : Tapi itu jauh lebih baik daripada mereka menjalani hidup pernikahan tanpa bekal. Jadi saya rasa khususnya bagi para pendengar yang belum memasuki jenjang pernikahan, apa yang kita bicarakan pada kesempatan ini sangat berguna dan Anda dapat menghubungi baik gereja maupun lembaga-lembaga lain yang bisa dipersiapkan sebelum memasuki dunia pernikahan.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar persiapan kehidupan pernikahan bersama Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Persiapan pernikahan yang diperlukan adalah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan, sekarang akan hidup bersama-sama. Bimbingan pranikah sangat diperlukan bagi pasangan muda untuk saat ini dan pelaksanaannya ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan.
Persoalan yang tidak terselesaikan dengan tuntas akan muncul lagi pada masa pernikahan, dan kecenderungannya persoalan itu muncul dalam intensitas yang lebih besar, bukan makin berkurang.
Hal ini disebabkan oleh:
Kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali.
Pacaran yang tepat yang perlu dilakukan oleh remaja atau pemuda kita adalah:
Saat pacaran yang terbaik adalah untuk mengenal calon pasangannya ini. Yaitu mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Apakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup?
Hal ini dapat dilakukan dengan banyak berkomunikasi.
Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan adalah:
Mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut kepada Tuhan, karena orang yang takut akan Tuhan bagaimanapun juga akan memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, itu fondasi yang terutama.
Materi yang biasa diberikan pada masa pranikah adalah:
Pernikahan dipandang dari sudut pandang Kristen.
Mengenali diri sendiri, siapakah saya ini. Saya mau tidak hubungan dengan orang lain, pengenalan pribadi satu dengan yang lain.
Komunikasi, bagaimana berkomunikasi dengan baik.
Kemarahan, tentang bagaimana menangani kemarahan.
Komitmen, apakah mereka mau komitmen untuk seumur hidup
Pendidikan seksual, juga tentang anak dan harapan-harapan dalam pernikahan.
Yang biasa dianjurkan atu rekomendasi yang diberikan setelah konseling pranikah adalah:
Menyetujui silakan menikah
Menunda, kalau memang mereka belum siap
Meminta dibatalkan, hal ini dilakukan kalau pasangan tersebut dengan jelas-jelas memperlihatkan ketidakcocokan yang sangat parah dan kalau diteruskan tidak akan cocok, bisa jadi tidak sehat sama sekali hubungan mereka itu.
Galatia 6:2 , "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."
Jadi setiap orang yang ingin menikah harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban dan pasangannya pun membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikulnya.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Ada pernyataan bahwa mengampuni diri sendiri itu lebih susah dari pada mengampuni orang lain, tetapi ternyata itu tergantung dari orangnya. Ada orang yang mudah mengampuni orang lain, tetapi susah mengampuni dirinya sendiri. Ada juga orang yang bisa mengampuni diri sendiri tetapi susah mengampuni orang lain. Dan ada juga orang sulit mengampuni diri sendiri dan juga orang lain. Yang membedakan semuanya adalah cara pandang masing-masing orang.
Transkrip Isi:
Pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahya M.Psi., kami akan berbincang-bincang dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sulitnya Mengampuni Diri Sendiri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Beberapa waktu yang lalu kita berbicara tentang sulitnya mengampuni orang lain. Tetapi kalau kita bandingkan, diri kita sendiri juga pernah berbuat salah dan perlu diampuni. Tapi benarkan mengampuni orang lain lebih mudah dari pada mengampuni diri kita sendiri?
VS : Itu tergantung, ada orang tertentu memang lebih mudah mengampuni orang lain, tetapi susah mengampuni dirinya sendiri. Ada juga orang yang bisa mengampuni diri sendiri tetapi susah mengampui orang lain.
Dan ada juga orang sulit mengampuni diri sendiri dan juga sulit mengampuni orang lain.
GS : Apa yang membedakan semua itu, kepribadiannya ataukah yang lain?
VS : Cara pandang dia. Yang saya lihat, orang sulit mengampuni diri sendiri biasanya karena menganggap dirinya itu harus sempurna, dirinya harus yang paling betul. Mempunyai tuntutan yang besarpada diri sendiri, saya tidak boleh berbuat kesalahan, saya tidak boleh menyakiti orang lain.
Kalau saya mengampuni orang lain maka itu adalah perbuatan baik saya terhadap orang lain tetapi terhadap diri sendiri tidak boleh.
GS : Dalam praktek ibu sebagai konselor apakah ibu pernah menemui orang lain yang memang sulit mengampuni diri sendiri?
VS : Ini ada seorang ibu yang saya konseling. Dia mempunyai dua orang anak dan dia mempunyai banyak masalah. Setelah kami berbicara ternyata dia seringkali tidak bisa mengampuni diri sendiri da mengatakan "Seumur hidupku saya tidak bisa mengampuni diriku sendiri atas kesalahan yang saya perbuat".
ET : Apakah itu memang suatu kesalahan yang fatal atau memang terhadap hal-hal yang kecil pun dia sulit untuk mengampuni dirinya.
VS : Dari kecil sampai hal yang besar. Karena tadi yang saya katakan dia orang yang perfeksionis, dia menganggap dirinya tidak boleh melukai orang lain. Sebagai seorang ibu, dia tidak boleh menakiti anaknya, dia tidak boleh melakukan suatu kesalahan, jadi ada tuntutan yang besar dalam dirinya.
ET : Apakah juga termasuk seperti tindakan-tindakan menghukum. Jadi tidak hanya mengampuni tetapi juga menghukum dirinya.
VS : Yang dia hukum dirinya sendiri yaitu tidak bisa menerima dirinya sendiri. Jadi akhirnya hidupnya penuh dengan ketidakbahagiaan karena tidak bisa menerima dirinya sendiri.
GS : Ada ibu yang tidak bisa mengampuni dirinya sendiri akibat kelalaiannya. Jadi waktu dia pergi ke pasar, dia lupa bahwa kompor di rumah masih menyala kemudian kompor tersebut meledak sehingga anak yang ada di dalam rumah itu meninggal. Saat dia pulang dan diberitahu bahwa anaknya meninggal, dia merasa bersalah dan sampai sekarang pun dia sulit mengampuni diri sendiri dan dia berkata "Itu salahku". Dan ini bagaimana?
VS : Itu memang kesalahan yang telah ia perbuat dan dia memang harus mengakui bahwa dia salah. Kesalahannya ialah dia lupa atas kelalaiannya tetapi mengampuni diri sendiri berarti harus melakuan tanggungjawab dengan benar dan harus menanggung kesalahannya.
Dan bukan berarti seumur hidup dia harus menanggung beban seperti itu. Dia harus berusaha mengampuni dirinya karena itu sudah terjadi di masa lampau. Dia harus minta maaf kepada Tuhan, minta maaf kepada anaknya yang meninggal dan kepada keluarga yang lain dan dia harus mengampuni dirinya sendiri untuk hidup di kemudian hari.
GS : Itu bisa dikatakan kelalaian, tapi bagaimana kalau ada orangtua yang memperkosa anaknya atau anak tirinya dan itu dilakukan dengan sadar. Tetapi di kemudian hari dia menyadari bahwa itu salah dan itu membuat dia sulit mengampuni dirinya.
VS : Kalau seperti itu maka dia harus minta maaf kepada anak yang dia perkosa. Dulu dia seperti itu tapi sekarang dia sudah berubah dan yang penting dia menunjukkan perubahan.
GS : Apakah ada tanda-tanda orang sulit mengampuni kesalahannya sendiri?
VS : Orang yang belum bisa mengampuni dirinya sendiri adalah orang yang masih penuh dengan kemarahan pada dirinya sendiri. Jadi termasuk yang tadi saya katakan tidak bisa menerima dirinya sendii.
Kalau orang tidak bisa menerima dirinya sendiri berarti dia adalah orang yang tidak bahagia. Apapun yang ia lihat selalu dengan negatif, jadi akhirnya hidupnya menjadi sesuatu yang negatif.
ET : Apapun yang orang lain perlakukan kepadanya kadang-kadang dinilai memang saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu.
VS : Kalau pun dia melihat dirinya adalah orang yang begitu rusak dan begitu bejat tapi apakah dia akan terus seperti itu. Kalau dia berubah dan bertobat maka dia bisa melihat bahwa Tuhan sudahmengampuni dia dan dia juga bisa belajar mengampuni dirinya sendiri.
ET : Tapi kadang-kadang ada orang yang mengatakan "Saya tahu bahwa saya sudah diampuni oleh orang yang saya lukai dan Tuhan sudah mengampuni saya, tetapi tetap saya tidak bisa mengampuni dri saya sendiri".
VS : Dalam keadaan seperti itu, yang perlu dipikirkan adalah kalau Tuhan sudah mengampuni dan sudah minta maaf kepada orang yang dia lukai semoga orang itu bisa mengampuninya. Untuk bisa mengamuni diri sendiri yaitu dengan kompensasi, mungkin dia bisa berbuat lebih baik dengan orang itu, membalas sesuatu kebaikan atas kejahatan yang telah dia perbuat.
Mungkin seperti kasus ayah memperkosa anaknya, sekarang dia bisa melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan. Orang yang saya lihat seperti itu akhirnya bisa mengampuni diri sendiri dengan berbuat seperti demikian.
GS : Bisanya justru yang diambil jalan yang dianggap paling gampang. Orang seperti ini lalu berkata "Saya mau bunuh diri saja", karena dia tidak sanggup untuk terus menanggungnya. Setiap kali berbicara dia berkata ingin bunuh diri dan ini bagaimana?
VS : Ini berarti dia tidak melihat bahwa pengampunan yang dia terima dari Allah tidak nyata dalam kehidupannya. Kalau Allah yang mengampuni maka dia harus belajar mengampuni diri sendiri, merenahkan diri di hadapan Allah.
Rasul Paulus pun adalah orang yang termasuk pernah membunuh orang lain sebelum dia bertobat, akhirnya karena kasih karunia Allah dia bisa bertobat. Dia bisa mengatakan "Dahulu aku adalah orang yang paling berdosa tapi akhirnya aku bertobat". Dia bisa merendahkan diri untuk menerima pengampunan Allah dan pengampunan dirinya sendiri.
GS : Berarti langkah-langkah apa yang bisa diambil untuk menolong orang yang sulit mengampuni dirinya sendiri.
VS : Langkah-langkah yang bisa diambil adalah membantu dia melihat bahwa apa yang sudah terjadi itu sesuatu yang sudah lewat, dia harus tahu apa yang dia perbuat itu sesuatu yang sungguh-sunggu terjadi dan dia mau bertanggung jawab "Aku telah berbuat seperti itu".
Pertanggungjawaban ini juga harus dia selesaikan dengan baik, kalau dia harus menjalani hukuman maka dia harus menjalani dan bukan lari dari tanggungjawabnya. Kalau dia harus bayar kompensasi maka dia harus bayar kompensasinya itu. Setelah itu dia harus mengeluarkan segala macam kepedihan, rasa dukacitanya, rasa malu. Kalau perlu dia bisa menulis surat meminta maaf kepada orang yang dia sakiti dan minta ampun kepada Tuhan. Setelah dia bisa mengeluarkan semuanya maka dia bisa minta maaf kepada orang yang dia lukai dan mengampuni dirinya sendiri.
ET : Apakah ada perbedaan langkah-langkah dengan orang yang perfeksionis yang bisa menyalahkan diri dan sulit mengampuni diri untuk masalah apa pun ?
VS : Saya kira orang yang perfeksionis itu standardnya terlalu tinggi. Untuk orang yang perfeksionis dia harus menyadari bahwa dirinya sendiri adalah manusia dan dia perlu merendahkan diri.
ET : Soalnya dengan orang yang perfeksionis ini untuk kita lakukan langkah pertama yaitu merumuskan kesalahannya dia dimana, masalahnya dimana, itu sulit karena dia merasa yang ada pada dirinyasemuanya salah.
VS : Itu berarti orang yang perfeksionis pun dia harus tahu bahwa dia tidak bisa perfek, semasa kita hidup di dunia ini tidak mungkin sempurna. Kita harus sadar bahwa manusia ini tidak sempurnameskipun dia sudah membuat standard yang tinggi untuk dirinya tetapi tidak akan bisa dengan kekuatan sendiri, dan kadang-kadang jatuh maka membutuhkan kerendahan hati.
ET : Berarti pemahaman ini yang perlu mendahului pengampunan terhadap diri sendiri?
GS : Kalau seseorang itu bisa mengampuni dirinya, maka keuntungan apa yang dia dapatkan?
VS : Keuntungannya adalah kelegaan, beban yang berat sudah terlepas, akhirnya dia bisa berhubungan yang normal dengan orang lain. Dengan kelegaan itu maka dengan sendirinya tubuhnya menjadi seht.
GS : Biasanya orang yang tidak bisa mengampuni dirinya sendiri itu tampak dari penampilannya yang kusut, asal-asalan. Padahal sebenarnya dia tampan dan cantik tetapi dia tidak mau merawat dirinya sendiri. Apakah itu juga salah satu tanda?
VS : Orang yang mendapatkan kelegaan berarti dia lebih segar dalam penampilannya, tubuhnya lebih sehat karena sudah menyenangi dirinya sendiri. Orang yang senang dirinya sendiri dengan sendirina dia mau dandan, berpakaian rapi membuat dirinya sendiri menarik.
GS : Seringkali juga orang tidak mau bekerja, kalau dia merasa bersalah untuk berkarya pun dia menjadi malas. Akhirnya timbul kemalasan yang luar biasa padahal tadinya tidak seperti itu.
VS : Itu berarti lebih banyak menghukum dirinya sendiri, juga menghukum keluarganya. Jadi butuh kelepasan dari itu.
ET : Bahkan ada yang pernah saya ketahui melukai dirinya, sebagai bentuk penghukuman diri sendiri.
VS : Apakah menghukum dirinya sendiri itu kelepasan, apakah ada gunanya. Sama sekali tidak ada faedahnya.
ET : Bahkan menyusahkan keluarga. Sebenarnya itu menghukum keluarga yang tidak bersalah.
GS : Seringkali sakit hati terhadap diri sendiri itu yang juga sulit hilang didalam dirinya. Jadi setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan dia dengan kesalahannya itu membuat dia down lagi, menyesali dirinya lagi.
VS : Kalau dia seperti itu, maka dia termasuk orang yang bisa sembuh jika sudah minta maaf kepada orang yang dia lukai, jika dia sudah berbuat apa yang dia bisa untuk mengganti rugi dan juga mita ampun kepada Tuhan.
Dia harus percaya bahwa kuasa Allah atau darah Tuhan sudah bisa untuk mengampuni dia. Dia harus menerima dengan sukacita tidak lagi susah.
GS : Apakah orang yang tidak bisa mengampuni dirinya sendiri itu bisa membawa dampak terhadap kesehatan tubuhnya.
VS : Tentu. Dia tidak sehat lagi karena terlalu banyak pikiran dan kalau orang banyak pikiran berakibat tidak bisa tidur, makan tidak enak, kerja juga tidak enak. Akhirnya dia mengalami banyak asalah dalam kesehatan, tekanan darah tinggi membuat sakit jantung, stress terhadap banyak hal, membuat kesehatan tubuhnya menjadi banyak terganggu.
GS : Itu sebenarnya salah satu pola dia untuk membunuh dirinya sendiri secara tidak terang-terangan. Kalau dia sakit-sakitan dan tidak mau berobat maka lama-lama dia akan mati.
VS : Tapi apakah dia mau seperti itu. Dan tadi Ibu Ester katakan menyusahkan keluarganya dan akhirnya menghukum keluarganya juga.
GS : Kalau begitu faktor keluarga sebenarnya bisa mendukung dia dalam proses penyembuhan.
VS : Nah keluarganya bisa mengatakan kalau sudah mengampuni maka terimalah kami. Kami ini sudah mengampuni kamu, untuk bersyukur cobalah dalam kehidupanmu kamu mau menghargai kami.
GS : Berarti keluarga tidak boleh terus menerus menyalahkan masalah ini.
VS : Berarti dia dianjurkan untuk menerima keluarga yang sudah menerima dia.
ET : Jadi memang dua lapisan yang Ibu Vivian katakan beberapa waktu yang lalu tentang mengampuni orang lain berlaku juga kepada diri sendiri yang mengampuni secara keputusan dan secara emosi.
VS : Betul. Jadi keputusan mengampuni diri sendiri akhirnya tergantung emosinya dan ini membutuhkan waktu.
GS : Dan biasanya proses penyembuhan seperti itu bisa memakan waktu yang lama atau tidak?
VS : Nah itu tergantung berapa dalamnya luka yang bisa terjadi dan tergantung juga betapa dekat dengan orang yang dilukai itu, dan berapa besarnya kesalahan yang dia perbuat.
GS : Biasanya kasus-kasus besar macam apa yang membuat seseorang sulit mengampuni dirinya sendiri?
VS : Kasus-kasus besar yang tadi dicontohkan, sampai akhirnya anaknya meninggal. Kerugian materi yang luar biasa tapi materi bisa dicari lagi dan yang terbesar adalah nyawa orangnya, itu yang mmbuat sulit mengampuni diri sendiri.
Ada salah seorang klien saya tapi bukan masalah besar seperti itu, hanya sesuatu yang tidak beres dalam keluarganya, tidak beres mengatur anaknya dan yang tidak beres itu pun sudah tidak menyenangkan. Tergantung berapa ‘perfect’ seseorang.
GS : Ada orang yang merasa menghabiskan harta keluarga tapi juga tidak merasa bersalah. Sehingga dia tenang saja tetapi orang lain merasa itu salahmu, berarti itu tergantung kepekaan orang itu terhadap apa yang dia perbuat. Ada orang yang memperkosa anaknya sendiri merasa tidak apa-apa dan tidak punya rasa bersalah sama sekali. Ada orang yang sulit mengampuni tetapi ada sebaliknya orang yang tidak merasa bersalah padahal orang lain melihat itu adalah sesuatu kesalahan yang besar.
VS : Kalau orang yang memperkosa anaknya sendiri merasa tidak bersalah berarti orang itu dipenuhi dengan nafsu birahi. Waktu dipenuhi nafsu birahi dia lupa daratan, dia lupa apa yang dia lakuka, lupa kalau itu anaknya sendiri.
Berarti rasionya tidak berjalan, yang berjalan hanya nafsunya saja.
GS : Tapi setelah itu pun dia tidak sadar bahwa itu suatu kesalahan. Dia tidak menyadari itu suatu kesalahan maka dia tidak merasa harus mengampuni dirinya sendiri.
VS : Saya kira dia sadar tapi kalau binatang maka tidak sadar, dan manusia diberi Tuhan rasio.
GS : Hati nurani terus akan berbicara bahwa itu suatu kesalahan tetapi dia menyangkali itu suatu kesalahan.
VS : Saya kira manusia tahu tapi kalau binatang anjing tidak tahu. Karena anjing tidak mengerti, tapi manusia mengerti kalau dia mau jujur dengan diri sendiri.
GS : Mungkin pointnya jujur terhadap diri sendiri. Apa yang harus kita lakukan kalau dia tidak peka dan tidak jujur terhadap dirinya sendiri padahal orang sekelilingnya mengerti?
VS : Yang kita bisa lakukan yaitu menyelamatkan anaknya kalau bisa anaknya keluar dari lingkungan itu. Bukannya putus hubungan, tetapi untuk menyelamatkan anak itu. Bagaimana kita bisa bicara dngan ibunya agar anak ini bisa diselamatkan di tempat yang lain.
GS : Dan kesadaran itu baru timbul setelah misalnya dia dipenjarakan. Akhirnya dia menyadari juga kalau itu suatu kesalahan tetapi setelah dia di penjara.
VS : Penjara adalah tempat yang layak untuk hukumannya.
GS : Keluarganya melaporkan setelah tadi ibu katakan anaknya diamankan, dipindahkan di tempat lain tapi juga dilaporkan supaya orang ini juga sadar bahwa itu suatu kesalahan. Dan didalam hal mengampuni diri sendiri ini apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin ibu sampaikan.
VS : Coba kita lihat di Matius 22:39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Jadi kita perlu mengasihi diri sendiri seerti kita juga mau mengampuni orang lain.
GS : Jadi itu suatu hukum kasih yang juga harus diterapkan pada diri kita sendiri. Terima kasih banyak Ibu Vivian dan Ibu Ester untuk kesempatan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sulitnya Mengampuni Diri Sendiri". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada pertanyaan bahwa mengampuni diri sendiri itu lebih susah dari pada mengampuni orang lain, tetapi ternyata itu tergantung dari orangnya. Ada orang yang mudah mengampuni orang lain, tetapi susah mengampuni dirinya sendiri. Ada juga orang yang bisa mengampuni diri sendiri tetapi susah mengampuni orang lain. Dan ada juga orang sulit mengampuni diri sendiri dan juga orang lain. Yang membedakan semuanya adalah cara pandang masing-masing orang.
Beberapa penyebab yang membuat seseorang merasa bersalah terhadap dirinya sendiri :
Menganggap dirinya harus sempurna (Perfeksionis), dirinya harus yang paling betul.
Mempunyai tuntutan yang besar pada diri sendiri, saya tidak boleh berbuat kesalahan, saya tidak boleh menyakiti orang lain. Jadi saat dia menyakiti orang lain baik secara sengaja atau pun tidak, maka dia akan sulit untuk mengampuni diri sendiri.
Orang yang tidak bisa mengampuni diri sendiri ditandai dengan penuh kemarahan pada dirinya, selalu mempunyai pandangan yang negatif dan merasa dia pantas untuk mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain; tidak menyenangi dirinya sehingga hidup awut-awutan.
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengampuni diri sendiri :
Kalau Allah sudah mengampuni, maka dia harus belajar mengampuni diri sendiri.
Merendahkan diri di hadapan Allah.
Melihat bahwa apa yang telah terjadi itu sudah lewat, dia harus tahu apa yang dia perbuat itu sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi dan dia mau bertanggungjawab.
Mengeluarkan segala macam kepedihan, rasa dukacita dan rasa malu.
Untuk orang yang perfeksionis, dia harus menyadari bahwa dirinya sendiri adalah manusia dan dia perlu merendahkan diri.
Dampak bila kita tidak mau mengampuni diri sendiri :
Menjadi sakit-sakitan
Hidupnya tertekan
Mukanya kusut
Pemalas
Dan menghukum keluarganya.
Jika ada sesuatu yang mengingatkan dia akan kesalahannya, maka dia harus minta maaf kepada orang yang dia lukai dan berbuat apa yang dia bisa untuk mengganti rugi dan juga minta ampun kepada Tuhan.
Firman Tuhan :
“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. (Matius 22:39)
Jadi kita perlu mengasihi diri sendiri seperti kita juga mau mengampuni orang lain.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Nara Sumber:
Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Abstrak:
Penderitaan yang dialami oleh korban tindak kekerasan, adalah pada batin atau hatinya. Untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Ada 3 langkah yang dapat dilakukan korban agar tidak terjadi untuk yang kedua kalinya yaitu (1) membuat batasan dengan pelaku atau menjaga jarak. (2) mengenali kelemahan diri supaya tidak diperalat oleh orang lain. Dan (3) memutus hubungan, jika penderitaan yang dialami sudah begitu dahsyat.
Transkrip Isi:
Pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahya M.Psi. kami akan berbincang-bincang dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Korban Tindak Kekerasan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Ibu Vivian, pada kesempatan yang lalu kita bicara mengenai pelaku tindak kekerasan dan kali ini kita akan berbicara tentang korbannya. Sebagai korban tindak kekerasan, penderitaan macam apa yang biasanya dialami oleh korban tindak kekerasan itu sendiri.
VS : Penderitaan yang dialami sebetulnya penderitaan yang cukup dahsyat yaitu seringkali hatinya atau batinnya yang terluka, dan ini membutuhkan waktu yang lama untuk dipulihkan. Batin yang teruka itu menyebabkan seseorang bisa merasa harga dirinya rendah, rasa takut yang berlebihan, menjadi orang yang cepat marah, tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak bisa berkembang dengan normal secara jasmani, rohani, emosi, mengalami kesulitan berelasi dengan orang lain, menjadi orang yang cemburuan, menjadi orang yang ragu-ragu dan saat malam hari tidak bisa tidur dengan nyenyak karena selalu mimpi buruk mengenai tindak kekerasan yang dia alami dan dia mimpikan pada malam harinya, jantungnya berdebar-debar, sesak napas, keringat dingin, tidak mempunyai percaya diri.
GS : Kalau orang itu merasa dilukai karena korban tindak kekerasan apakah mungkin suatu saat dia menjadi pelaku tindak kekerasan?
VS : Seringkali terjadi seperti itu. Bukan dikatakan 100% tetapi kecenderungannya seperti itu. Kalau dia belum dipulihkan, seringkali dia melakukannya lagi. Dampaknya dia sering melakukan kemarhan yang tidak terkendali kepada orang lain karena kemarahan terhadap orang yang melakukan tindak kekerasan yang lalu belum terlampiaskan.
GS : Tapi kalau tindak kekerasan akibat perbuatan seksual, biasanya korbannya menutup diri dan menjadi orang yang pemalu tidak mau bergaul dan sebagainya.
VS : Ada korban tindak kekerasan secara seksual, dia menjadi orang yang menyendiri dan tidak mau berbuat apa-apa. Dan ada juga korban tindak kekerasan seksual yang saya tahu, dia malah menjadi rang yang berani sekali dan membuat orang lain jatuh didalam hal seksual.
Jadi bisa dua hal.
GS : Memang ada yang menjadi pelacur dan seringkali merugikan banyak orang, tetapi kalau diurutkan masalahnya, sebenarnya dia pernah diperlakukan seperti itu, diperkosa dan sebagainya.
ET : Tapi adakalanya orang bisa menyimpan sampai sekian lama dan tidak kelihatan mungkin dengan dia tetap berprestasi, menunjukkan keberhasilan. Jadi benar-benar dilampiaskan secara positif, teapi sebenarnya lukanya sangat mendalam dan disimpan dengan baik.
VS : Memang bisa disimpan dengan baik dengan cara tetap berprestasi tetapi seringkali yang menderita adalah dalam hubungan relasi. Kalau dia sudah dekat berhubungan relasi dengan seseorang, kadng-kadang dia menjadi orang yang gampang tersinggung, gampang cemburu dan sebagainya.
Ternyata kalau di telusuri dia adalah korban dari tindak kekerasan yang belum dibereskan.
ET : Mungkin baik dari luar tetapi ketika menjalin relasi yang mendalam baru kelihatan luka-luka ini. Memang dari luar tampaknya baik dan bagaimana kita bisa mendeteksi, kalau ternyata orang disekitar kita menyimpan luka.
Apakah salah satu tanda yang cukup besar ini adalah masalah emosi yang seperti Ibu katakan tadi?
VS : Ya, biasanya emosi adalah salah satu tanda yang memperlihatkan orang ini tiba-tiba meledak, tidak bisa mengendalikan diri. Mungkin kita bisa bertanya, "Apa yang terjadi dalam dirimu&qot;.
Dan dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa" dan biasanya dia langsung meledak. Dan akhirnya kita perlu berbicara kepadanya, "Pernahkah kamu mengalami sesuatu yang melukai hatimu".
GS : Seperti tadi yang ibu katakan tidak bisa tidur semalaman, ada orang yang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya sehingga timbul mimpi-mimpi buruk dalam kehidupannya.
VS : Mungkin karena dia pernah mengalami sesuatu yang mengerikan.
GS : Ada korban yang merasa karena kesalahannya sendiri, lalu dia menjadi korban tindak kekerasan. Misalnya dia menyalahkan kenapa saya pakai baju itu lalu diperkosa orang atau dia berjalan di jalan yang sepi atau memakai perhiasan sehingga dilukai orang dan itu bagaimana?
VS : Sebetulnya tindak kekerasan itu adalah tindakan kriminal dan pelakunya itu yang bersalah. Dialah yang melakukan tindakan kekerasan dan orang lain adalah korbannya. Orang lain mungkin dikatkan sebagai pemicu, karena dia berpakaian yang terlalu menyolok sehingga mengundang perhatian orang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa yang bertanggungjawab adalah orang yang melakukan tindak kekerasan.
Memangnya hal itu bisa mengundang sesuatu terjadi tetapi tetap tanggungjawab adalah pada pelaku.
GS : Mungkin karena tidak mau memperpanjang masalah kemudian bilang, "Itu memang salah saya sehingga saya jadi korbannya". Kalau kita kecurian seringkali kita berkata kita kurang hati-hati.
VS : Memang ada hal tertentu yang merupakan kesalahan kita, kalau rumah tidak di kunci kemudian orang datang dan mencuri. Itu memang kesalahan kita dan mengundang hal-hal tertentu.
GS : Adakalanya kita sudah berhati-hati tetapi tetap menjadi korban. Lalu kecenderungannya kita mengatakan ini memang kehendak Tuhan, ini bagaimana?
VS : Kehendak Tuhan adalah orang itu bukannya dilukai tetapi dikasihi. Mementingkan diri dan tidak bisa mengendalikan diri itu bukan kehendak Tuhan.
GS : Jadi sebenarnya korban perlu menyadari bahwa yang harus bertanggungjawab adalah pelakunya.
ET : Kadang-kadang kalau korban tidak bisa menyalahkan pelakunya dia merasa ini bukan kehendak Tuhan dan menyalahkan Tuhan. Dan dia merasa kenapa Tuhan tidak mencegah hal itu terjadi, kenapa Tuan membiarkannya dan tidak menolongnya saat tindak kekerasan itu berlangsung.
VS : Kita tidak tahu kenapa Tuhan tidak berbuat sesuatu waktu terjadi tindak kekerasan, tetapi yang kita perlu tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia untuk menyakiti orang lain itu adalah satu dosa.
Mengapa Tuhan tidak melindungi kita, kita juga tidak tahu. Tetapi yang kita tahu Tuhan itu mengasihi manusia dan Tuhan ingin manusia saling mengasihi dan memperhatikan, bukannya saling menyakiti.
GS : Kalau korban tindak kekerasan itu orang banyak misalnya kerusuhan masal yang pernah terjadi, dan terang-terangan orang mengaku. Tetapi yang jelas mereka itu adalah korban kekerasan, apakah dampaknya lebih ringan daripada kalau orang itu sendirian menjadi korban tindak kekerasan?
VS : Kalau menurut saya, dan apa yang telah saya baca, korban tindak kekerasan meskipun korbannya secara masal tetapi lukanya sama saja. Karena tiap pribadi itu mendapatkan perlakuan buruk yangsemestinya bukan dilakukan terhadap dia.
GS : Bahkan bukan dia sendiri yang mengalami luka hatinya tetapi juga keluarganya seringkali menjadi korban tindak kekerasan.
VS : Kalau kita ini dalam satu keluarga yang saling memperhatikan, mendukung dan mengasihi tentu kalau anggota keluarga kita disakiti maka semua orang terpengaruh. Demikian juga tindak kekerasa yang dilakukan terhadap salah seorang dari anggota yang kita kasihi, tentu yang lainnya sangat terluka.
ET : Ada juga anggota keluarga yang kemudian menyalahkan diri, seharusnya saya bisa melindungi anggota keluarga yang menjadi korban ini.
VS : Itu adalah rasa bersalah, karena kita tidak bisa melindungi, tetapi ada hal lain karena pelakunya yang bobrok yang tidak benar, pelakunya itu tidak takut pada Tuhan dan itu adalah tindakanyang berdosa, tindakan yang kriminal.
ET : Jadi luka yang dialami oleh korban ini pun sebenarnya kurang lebih sama dampaknya secara emosi dan juga hal-hal yang lain pada keluarga dari korban ini.
VS : Ya semuanya menjadi ikut terganggu, tetapi yang paling besar yaitu korban itu sendiri. Semuanya memang terkena dampaknya tetapi korban yang paling besar.
GS : Padahal korban ini membutuhkan dukungan dari keluarga untuk bisa cepat sembuh, kalau keluarganya juga terkena imbasnya, apa yang bisa dilakukan oleh keluarga itu?
VS : Yang dapat dilakukan keluarganya adalah harus menjadi kuat untuk si korban ini. Keluarga harus bersama-sama bisa berdiri mencari bantuan demi anggota keluarganya ini. Kalau tidak bisa mencri bantuan kepada sesama orang beriman, cari bantuan kepada konselor atau teman baiknya dan siapa saja yang mau membantu, supaya bisa berdiri lagi dan mampu menghadapi masalah ini.
GS : Sebenarnya bisa ditolong untuk pulih kembali walaupun seberapa parahnya yang dialami oleh tindak kekerasan itu.
VS : Bisa ditolong untuk pulih kembali dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
GS : Dan kemauan yang kuat dari korban untuk pulih.
VS : Betul dan itu membutuhkan kesabaran, tidak hanya sekali datang ke tempat konseling kemudian bisa sembuh tetapi membutuhkan waktu.
GS : Berdasarkan pengalaman ibu sebagai konselor, kalau ada orang yang mengalami tindak kekerasan seperti ini, apa yang Ibu lakukan?
VS : Pertama-tama kita mau mendengar ceritanya, mempercayai apa yang telah terjadi. Terutama korban tindak kekerasan seksual seperti anak kecil, dia cerita kepada orangtuanya tetapi orangtuanyatidak percaya dan hal itu menambah sakit hatinya.
Jadi kita mempercayai apa yang dia katakan dan kita mau mendampingi orang itu didalam pemulihannya. Sehingga dia tahu masalahnya jadi bisa mengidentifikasikan masalahnya, setelah itu dia tahu perasaan-perasaan apa yang dia alami. Perasaan marah yang berkecamuk di dalam hatinya, perasaan takut dan rasa bersalah, malu . Apalagi tindak kekerasan secara seksual, hal-hal itu harus dikeluarkan dan setelah dikeluarkan dia harus punya keputusan bahwa dia mau sembuh. Kalau dia mau sembuh dia harus punya jalan untuk mengampuni orang lain yang menyakitinya, dan dia harus punya batasan bagaimana melindungi dirinya sendiri dan ini membutuhkan waktu yang lama.
GS : Dan biasanya Ibu tidak mungkin mendampingi orang itu terus-menerus, bagaimana interaksi Ibu dengan korban itu?
VS : Biasanya orang itu datang 1 atau 2 minggu sekali atau sebulan sekali tergantung waktunya. Selama kami tidak berjumpa maka dia diberi PR, bagaimana dia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Da bisa menulis jurnal, menceritakan kembali apa yang terjadi dan itu bisa membantu meringankan bebannya dengan menulis di buku harian.
Kalau orang yang suka menggambar atau melukis, saat dia merasa marah, perasaannya bisa diungkapkan dalam hal lukisan atau menulis puisi buku cerita dan doa yang bisa diutarakan kepada Tuhan.
ET : Adakalanya kalau luka itu sudah terlalu dalam atau mungkin terjadi ketika usia yang lebih dini kadang-kadang sepertinya untuk yang bersangkutan ini sudah terlupakan seperti sudah mau dibuag.
Bagaimana bisa menolongnya, mungkin secara emosi memang mereka menyadari bahwa dia pemarah tetapi mau mengingat peristiwanya itu rasanya sudah seperti samar-samar?
VS : Untuk menolong orang yang mau sembuh dari hati yang terluka ini, dia harus mengingat kembali apa yang terjadi, bukannya melupakan. Dia harus berdoa minta tolong kepada Tuhan supaya mengingt kembali apa yang telah terjadi, bukan untuk mendendam tetapi untuk menghadapi dan membereskan.
ET : Kalau misalnya sudah terlalu lama bagaimana ?
VS : Mungkin butuh waktu, kalau dia mau, berdoa kepada Tuhan maka akan mengingat kembali.
ET : Dan memang dalam beberapa kasus, seperti Tuhan benar-benar membukakan sampai begitu jelas hal yang belum pernah terbayangkan.
VS : Betul, akhirnya dia sendiri ingat di waktu itu, di tempat itu, dan dia akan ingat secara betul lalu dihadapi. Memang menyakitkan tetapi dihadapi untuk kesembuhan.
GS : Apakah orang yang menjadi korban tindak kekerasan yang begitu hebat, menampakkan tanda-tanda yang nyata sehingga kita tahu orang ini sudah mulai sembuh. Kalau luka badan bisa kita lihat, tetapi kalau luka hati itu sulit untuk melihatnya.
VS : Tanda-tandanya memang tidak terlihat secara fisik, tetapi kita bisa melihat bahwa beban orang ini sudah terlepas. Dia merasa orang yang sudah tidak tertekan lagi, dan saat dia menghadapi ssuatu hal tidak cepat tersinggung.
Jadi dia adalah orang yang sudah bisa menghadapi masa lalunya dan menghadapi masa depan dengan lebih tenang, terutama hatinya damai.
GS : Berarti kalau dia terus memikirkan untuk membalas dendam dan kalau ada kesempatan saya mau membalas dendam, berarti dia itu belum sembuh betul?
VS : Belum, kalau orang yang sudah sembuh dari luka hatinya maka dia tidak akan memikirkan untuk membalas dendam. Dia sudah tidak ada kemarahannya lagi tetapi dia bisa mengampuni. Jadi menghadai masalahnya tidak dengan marah-marah tetapi dengan pengampunan.
GS : Tetapi biasanya orang yang menjadi korban, menjadi lebih berhati-hati didalam kehidupannya supaya tidak menjadi korban untuk yang kedua kalinya.
VS : Dia akan hati-hati dan waspada.
GS : Langkah apa yang biasanya ditempuh oleh seseorang yang menjadi korban, supaya dia tidak menjadi korban lagi?
VS : Tentunya dia harus menjaga jarak dengan pelakunya jadi dia membuat batasan, supaya dia tidak dilukai oleh pelaku itu lagi. Batasannya adalah bukannya membenci dia, tetapi jaraknya tidak telalu dekat dengan orang itu lagi.
Dan hal yang lain ialah dia harus tahu kelemahan diri sendiri, apa yang dapat dia lakukan dan mana yang tidak dapat dia lakukan, supaya tidak diperalat oleh orang lain.
GS : Tetapi ada teman yang saya tahu pernah menjadi korban tindak kekerasan dan pelakunya adalah orang yang brewok dan sampai sekarang kalau ada orang brewok itu dia langsung menjauh. Padahal tidak semua orang brewok itu jahat tetapi karena terkesan dengan orang brewok yang pernah menyakiti dia, sampai sekarang dia tidak berani dekat-dekat dengan orang yang brewok.
VS : Itu adalah trauma dengan apa yang dia hadapi. Jadi apa yang dilihat itu kilas balik dari apa yang terjadi sehingga dia menjadi takut lagi.
GS : Sebenarnya dia sudah sembuh atau belum dari luka hatinya?
VS : Kita tidak tahu orangnya, jadi kita harus mengerti. Tapi bagi dia itu adalah salah satu dari batasan bagi dia. Itu salah satu gejala dari orang yang mengalami tindak kekerasan itu, dia teralu was-was.
GS : Dia bilang sudah tidak apa-apa tetapi kalau ditanya khawatir saja, berarti itu trauma?
GS : Dan itu bisa terjadi pada siapa saja yang pernah mengalami tindak kekerasan.
VS : Betul, jadi dia akan was-was.
ET : Tapi kadang-kadang ada orang rasanya ingin lompat dalam proses ini maksudnya ingin cepat-cepat sembuh dan rasanya ingin sesegera mungkin bisa pulih seperti sediakala. Untuk menghadapi korban seperti ini bagaimana kita bisa menolongnya?
VS : Jalan untuk penyembuhan tidak bisa melalui jalan pintas tetapi melalui proses yang panjang dan proses yang memerdekakan bukan proses yang membuat orang itu jatuh. Jadi sebaik mungkin dihadpi dan sabar.
ET : Walaupun untuk waktu yang kadang-kadang panjang.
VS : Tetapi untuk memerdekakan, jadi lebih baik dilakukan daripada tidak.
GS : Tadi Ibu katakan selang waktu konseling itu diberi PR, ada juga orang yang melakukan pekerjaan yang positif. Jadi misalnya dia menjahit, memasak dan sebagainya, apakah itu dapat menolongnya untuk melupakan peristiwa yang menyakitkan?
VS : Bukan melupakan tetapi mengalihkan perhatiannya pada hal itu. Memang orang yang mengalami tindak kekerasan tidak boleh berdiam diri tetapi dia harus mengingat kembali, bukan dikendalikan oeh peristiwa itu.
Tapi dia bisa melakukan hal-hal yang lain, salah satu tanda orang sembuh dari tindak kekerasan adalah dia tidak dikendalikan lagi oleh masa lampau, dia bisa bebas.
ET : Mungkin perlu juga keseharian itu tetap berjalan, tidak harus selalu seperti diisolasikan dalam masa penyembuhan. Jadi kehidupan rutin tetap berjalan dan proses penyembuhan pun sambil berjlan.
VS : Justru yang rutin-rutin itu baik, supaya dia tidak berdiam diri. Kalau orang berdiam diri maka semua pikiran-pikiran yang jahat atau negatif datang kembali.
GS : Sebenarnya peran komunitas misalnya anggota sebuah gereja atau organisasi lainnya itu akan sangat membantu proses kesembuhannya?
VS : Tentu, komunitas yang mendukung akan membantu dia untuk cepat sembuh. Komunitas yang mengerti, komunitas yang memperhatikan, komunitas yang mengasihi tentu akan membantu dia pulih lebih ceat.
ET : Kadang-kadang kalau peristiwa itu terlalu memalukan, untuk membagikannya pun juga malu. Misalnya masalah diperkosa kemudian berbagi kepada seiman di gereja dan itu rasanya seperti sebuah ab.
Kadang-kadang ini menjadi hambatan untuk mendapatkan dukungan dari komunitas.
VS : Kita tidak harus sembarangan mencari orang pendukung, kita harus mencari pendukung yang sungguh-sungguh dapat dipercayai, orang-orang yang dewasa yang bisa membantu, ada satu atau dua oran saja itu sudah bagus.
GS : Kadang-kadang khawatir disalah mengertikan, dia cerita dia pernah diperkosa, orangnya bukan mau mengerti tetapi salah mengerti terhadap dia.
VS : Maka tadi yang saya katakan carilah orang yang dewasa dan juga orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
GS : Kalau dia sharing dengan sesama korban, yang hampir sama kasusnya apakah itu dapat menolong?
VS : Tentu bisa, jadi itu merupakan suatu grup sendiri. Bahkan itu di negara-negara tertentu kalau korban kekerasan seperti itu akan ada grup. Mereka bertemu dan saling mendukung itu namanya grp terapi.
GS : Kalau anak yang menjadi korban kekerasan orangtuanya, seringkali anak enggan untuk menceritakan kepada orang lain. Misalnya dia baru dipukuli secara keras oleh orangtuanya, ini bagaimana?
VS : Anak yang mengalami korban kekerasan biasanya takut bercerita kepada orang lain. Nanti kalau saya cerita, nanti malah dimarahi oleh orangtua. Oleh sebab itu perlu juga ada orang dewasa yan bisa dia percayai, dia bisa mendapatkan perlindungan dan dia bisa menceritakan.
GS : Mungkin karena ketakukan, banyak istri yang membiarkan dirinya dipukuli oleh suaminya secara berulang-ulang karena takut untuk diceraikan atau takut disiksa yang lebih berat lagi, lalu dia tidak mau bicara.
VS : Banyak istri yang ketakutan, bukan hanya disiksa tetapi ketakutan hal ekonomi. Nanti bagaimana kehidupannya terutama untuk anak-anaknya. Jadi akhirnya dia tidak mau berbicara, tapi saya ajurkan dia buka mulut kepada orang yang bisa membantu seperti pada konselor yang bisa dimintai bantuan.
Disitulah dia bisa mendapatkan dukungan supaya dia bisa terlepas dari itu semua.
GS : Selain membuat batasan, apakah ada cara lain yang bisa digunakan oleh seorang korban kekerasan, supaya tidak terulang lagi menjadi korban?
VS : Klien saya yang pernah disiksa begitu dahsyat sehingga kepalanya gegar otak, bukan hanya gegar otak tetapi harus masuk rumah sakit karena kepalanya dan bagian tubuhnya yang retak sehingga eumur hidupnya harus di kursi roda.
Karena begitu dahsyatnya tindak kekerasan itu dan dia tidak mau menghadapi lagi, yaitu dengan keluar dari hubungan pernikahan itu.
GS : Salah satu cara memutus mata rantai itu.
VS : Ya, karena terlalu dahsyat.
GS : Orang-orang atau tentara yang terlibat di dalam peperangan apakah itu bisa menjadi korban tindak kekerasan?
VS : Bisa, karena dia mengalami trauma dari apa yang dia lihat dan lakukan didalam peperangan, dia bisa menjadi pelaku tindak kekerasan juga. Oleh sebab itu perlu penyembuhan karena banyak traua yang dialami oleh orang-orang veteran perang.
GS : Dan itu butuh waktu yang lama juga?
GS : Berdasarkan pengalaman Ibu kira-kira butuh waktu berapa lama?
VS : Itu relatif, tidak ada berapa lamanya. Itu tergantung berapa lamanya dia mengalami dan sejauh mana dia mengalami tindak kekerasan, dan itu menentukan berapa lamanya.
GS : Kerjasamanya dengan Ibu, jadi bagaimana dia bisa berperan aktif untuk menyembuhkan diri?
GS : Sehubungan dengan pembicaraan kita kali ini apakah ada ayat firman Tuhan yang Ibu ingin sampaikan?
VS : Surat Paulus kepada jemaatnya di Roma 12:17 dikatakan, "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan ; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!". Jadi memang ada orang bertindk kejahatan tetapi janganlah kita membalas kejahatan dengan kejahatan.
GS : Karena itu bukan penyelesaian.
VS : Pengampunan itulah penyelesaiannya.
GS : Beberapa waktu yang lalu yang sudah kita perbincangkan dalam acara Telaga ini tentang pengampunan. Ini sesuatu yang penting dan ini merupakan sesuatu mata rantai yang perlu diperhatikan. Terima kasih banyak Ibu Vivian dan Ibu Ester untuk kesempatan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Korban Tindak Kekerasan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Penderitaan yang dialami oleh korban tindak kekerasan, adalah pada batin atau hatinya. Untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ada salah seorang korban yang menyalahkan diri sendiri, sehingga dia menjadi korban dari tindak kekerasan. Sebenarnya yang bersalah itu tetap pada pelakunya dan korban hanya sebagai pemicu dari tindak kekerasan.
Seringkali kita menyalahkan Tuhan seolah-olah Tuhan tidak menolong kita saat terjadi tindak kekerasan. Padahal sebenarnya Tuhan itu mengasihi manusia dan Tuhan ingin manusia saling mengasihi dan memperhatikan, bukannya saling menyakiti. Kalau itu diijinkan oleh Tuhan, maka Tuhan punya rencana sendiri.
Keluarga korban juga ikut menanggung derita akibat tindak kekerasan, tetapi keluarga harus menolong korban. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menolong si korban :
Keluarganya harus lebih kuat dari korban, untuk melindungi.
Keluarga harus bangkit mencari bantuan kepada sesama orang beriman, konselor dsb.
Korban mempunyai kemauan yang keras untuk sembuh.
Tindakan pertolongan yang bisa dilakukan oleh orang lain atau konselor :
Mendengarkan ceritanya.
Mempercayai apa yang telah terjadi.
Mendampingi orang itu didalam pemulihannya.
Mendorong dia untuk bisa mengampuni pelaku tindak kekerasan.
Tanda-tanda dari korban tindak kekerasan yang sudah pulih, memang tidak kelihatan secara fisik, tetapi bisa kelihatan bahwa bebannya sudah terlepas, tidak tertekan lagi dan saat menghadapi sesuatu tidak mudah tersinggung, tidak menyimpan dendam karena hatinya sudah damai.
Langkah-langkah yang dilakukan korban agar tidak terjadi untuk yang kedua kalinya :
Membuat batasan dengan pelaku atau menjaga jarak.
Mengenali kelemahan diri supaya tidak diperalat oleh orang lain.
Memutus hubungan, jika penderitaan yang dialami sudah begitu dahsyat.
Firman Tuhan :
“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan ; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Roma 12:17)
Jadi penyelesaiannya adalah “ Pengampunan”.