Esther Tjahja, S.Psi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Takut sekolah bukan hanya terjadi pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin sudah satu minggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan tiba-tiba takut sekolah. Dan dalam hal ini orangtua sangat perlu memperhatikan kira-kira apa yang menjadi dasar penyebabnya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Pada hari ini kami bersama dengan Ibu Esther Tjahja seorang sarjana psikologi alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang saat ini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga sebagaimana biasanya juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi bersama-sama dengan kami akan berbincang-bincang mengenai suatu topik yaitu membantu anak yang takut sekolah. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak orang tua yang menjadi pendengar dari TELAGA ini yang sudah mempunyai anak dan sudah waktunya harus masuk sekolah. Tetapi mereka kesulitan karena anaknya merasa takut atau enggan pergi ke sekolah. Di zaman seperti ini di mana anak-anak disediakan sarana sekolah pada usia sedini mungkin, sebenarnya kita sebagai orang tua bisa mengenali secara dini anak yang enggan atau takut masuk sekolah.
PG : Yang Pak Gunawan tadi ungkapkan adalah memang kenyataan, Pak Gunawan, jadi di tempat kami ada beberapa orang tua yang datang membawa anak-anak mereka dan rupanya anak-anak itu mengeluh,bukan saja keluhan-keluhan yang bersifat emosional tapi keluhan yang bersifat fisik pula.
Kebetulan di klinik kami yang menangani masalah ini adalah staf psikologi yang bernama Ibu Esther Tjahja. Jadi kami sangat bersenang hati pada hari ini dapat mengundang beliau untuk hadir bersama kita, Pak Gunawan. Nah mungkin secara langsung kita bisa bertanya kepada Ibu Esther Tjahja, bagaimana ciri anak-anak yang takut sekolah?
ET : Memang ada beberapa ciri-ciri yang cukup jelas pada anak-anak tertentu. Tapi sebelum saya katakan ciri-ciri itu, saya ingin jelaskan terlebih dahulu bahwa takut sekolah itu bukan hanya erjadi pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah.
Tetapi ada anak-anak yang mungkin seminggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan pertama sekolah baik-baik saja, sampai pada suatu titik tiba-tiba jadi takut sekolah. Nah ciri-cirinya seperti yang dikatakan Pak Paul tadi, mungkin nyata dari fisik, kadang-kadang mau berangkat sekolah mungkin baru dibangunkan pagi-pagi oleh orang tua sudah mulai mengeluh, baik sakit perut, pusing, rasanya ingin ke belakang ya. Kadang-kadang begitu masuk pagar sekolah, juga ada yang mengatakan mau muntah dan sakit perut, itu kira-kira ciri fisiknya. Dan kalau mau dianggap main-main, ya sebenarnya kalau diamati memang sungguh-sungguh anak itu sakit, kadang-kadang ada yang sampai pucat dan berkeringat dingin untuk masuk ke sekolah. Selain itu juga ada ciri-ciri yang nampak yaitu biasanya menangis tidak mau berpisah dengan orang tuanya, kalau yang ikut antar jemput mungkin untuk naik ke mobil jemputan juga sudah mulai ketakutan dan menangis, belum sampai sekolah, baru mau masuk ke mobil antar jemput sudah menangis. Beberapa anak TK juga mungkin memperlihatkan pada malam hari yang tadinya sudah tidak ngompol tiba-tiba jadi mengompol. Lalu kalau yang tadi saya katakan sudah sekolah, lalu tiba-tiba takut sekolah, biasanya salah satu nilainya mulai merosot, kira-kira itu ciri-ciri yang menandakan anak-anak ini punya masalah dengan sekolah.
PG : Apakah biasanya mereka dengan teman-temannya bisa bergaul dengan baik, Bu Esther?
ET : Nah tergantung juga Pak Paul, penyebabnya apa.
PG : Jadi apakah ada misalnya yang di sekolah jadinya tidak bergaul, tapi di rumah bergaul biasa dengan adik dan kakaknya. Atau karena masalah ini, di rumah pun jadinya menarik diri tidak ma bergaul dengan kakak dan adiknya.
ET : Kalau kebanyakan kasus yang saya lihat rasanya memang orang tua punya kesan anak-anak ini sepertinya "jago kandang". Mungkin di rumah nakal, malah kadang-kadang mengekspresikan ketakutanya di sekolah, sepertinya nakal di rumah tetapi di sekolah dia jadi penakut.
Jadi cenderung menarik diri jadi penonton tidak mau bergaul dengan teman-temannya.
IR : Dan apakah anak yang ketakutan itu bisa terus terang dengan orang tuanya?
ET : Ada yang mengatakan memang keluhan-keluhan tertentu, mungkin kepada gurunya atau teman-temannya. Tetapi ada anak-anak yang langsung begitu saja mau ke sekolah dengan tanda-tanda sepertiyang saya katakan tadi, tapi dia tidak bisa mengatakan takut kepada apa dan kepada siapa.
PG : Bisa apa tidak Ibu Esther memberikan kepada kami gambaran penyebabnya secara umum?
ET : Kalau untuk anak-anak yang pertama kali sekolah, misal pertama kali masuk play group atau TK rasanya memang pengalaman berpisah cukup lama dengan orang tua. Ini yang menjadi hal yang tiak enak buat anak-anak tersebut, karena selama ini sebelumnya selalu ada di rumah dekat dengan orang tua, di dalam keluarga yang aman, tetapi sekarang mereka harus masuk ke sebuah lingkungan baru yang belum diketahui sama sekali, teman-temannya baru, gurunya baru, ruangannya baru.
Jadi itu menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak itu. Selain itu kalau yang sudah sekolah bisa juga karena pengalaman menghadapi guru yang galak, dimarahi atau ditegur guru. Atau terus ada teman yang cenderung agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu atau mungkin ada anak-anak yang takut dengan pelajaran tertentu misalnya pelajaran matematika, atau terhadap guru tertentu guru olah raga, itu juga bisa menjadi pemicu dari ketakutan anak-anak.
GS : Bagaimana dengan anak yang pada dasarnya penakut, jadi artinya memang sukar untuk bergaul dengan teman-temannya. Kalau dia pertama kali dibawa ke sekolah dengan langsung menemukan lingkungannya yang dia bisa cocok berarti tidak ada masalah, tapi anak ini memang dasarnya di rumah itu sendirian, tidak punya saudara dan sebagainya, apakah itu bisa menjadi penyebab anak enggan ke sekolah?
ET : Ya, itu bisa menjadi penyebab karena kalau kita lihat cukup banyak anak-anak lain yang rasanya mempunyai guru galak atau mungkin diancam oleh teman atau pelajaran-pelajaran tertentu sult tapi tetap bisa survive, tetap bisa bertahan mengikuti sekolah.
Tetapi ada anak-anak tertentu yang memang dasarnya juga mungkin istilahnya nyalinya kecil, begitu ketemu kesulitan langsung mengkerut. Memang anak-anak yang seperti ini mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menghadapi masalah ketakutan di sekolah.
GS : Ada juga pengalaman orang tua yang anaknya pertama kali bisa masuk sekolah dengan mudah, kemudian setelah satu minggu dia memutuskan tidak mau masuk sekolah karena dia merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dalam hal seragam. Seperti kita ketahui bahwa sejak di TK pun anak memakai seragam tiap hari. Anak ini kebetulan belum jadi seragamnya, Bu Esther, sehingga dia memutuskan tidak mau ke sekolah, nah pengalaman seperti itu bagaimana?
ET : Ya, saya pikir untuk anak-anak seperti itu hanya karena tidak mau berbeda dengan teman-temannya. Tapi mungkin kalau penyebabnya hanya itu, dengan diberikan seragam saja mungkin masalahna sudah selesai.
GS : Tapi awalnya tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tidak mau sekolah biasanya tiap hari mau, menemukan penyebabnya itu yang sulit.
ET : Betul, karena itu sebenarnya memang diharapkan adanya kerjasama antara orang tua dan pihak guru, juga pihak di sekolah, kira-kira hasil pengamatan di sekolah bagaimana. Dan juga kalau T biasanya masih ditunggu, ada orang tua atau ada yang mengantar yang bisa mengamati, mulai bisa menangkap gejalanya atau menerka-nerka kira-kira apa penyebabnya.
IR : Bagaimana sebaiknya orang tua mengatasi anak-anak yang seperti itu, Ibu Esther?
ET : Ya memang yang pertama-tama Pak Gunawan katakan tadi, ya susah-susah gampang, dicari dulu penyebabnya. Masalah penyebabnya ini yang kadang-kadang memang butuh waktu lama juga ya. Ada ank-anak yang kalau ditanya, "o...
tidak guru saya baik, teman-teman saya baik", tapi tetap takut sekolah. Ternyata memang setelah dilihat-lihat lagi ada unsur nyalinya kecil itu tadi, gurunya pernah memarahi anak-anak yang lain, ditanya tidak pernah kena tegur langsung, tapi melihat guru menegur atau menghukum teman-temannya sudah mengkerut juga hatinya. Jadi memang mencari penyebab ini yang tidak mudah, tapi itu sebenarnya nomor satu yang perlu kita ketahui penyebabnya.
GS : Nah Pak Paul dalam keadaan sekarang itu sering kali anak pergi ke sekolah, seperti tadi Ibu Esther juga katakan diantar jemput, di rumah sudah dilepas. Sampai di sekolah pun oleh pengemudinya dibiarkan turun sendiri atau yang agak lebih bagus diantarkan oleh baby sitternya atau pembantu rumah tangganya dan sebagainya. Tetapi orang tua tidak terlibat di sana. Padahal Bu Esther tadi katakan, kerja sama antara orang tua dan guru itu penting sekali, bagaimana pemecahannya menurut, Pak Paul?
PG : Saya kira orang tua memang perlu lebih terlibat. Kalau orang tua terlalu mendelegasikan tugas pada suster atau pembantu, dia akan kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal apa yang menjdi penyebab perilaku anaknya sekarang ini.
Jadi kedekatan itu penting sekali, kalau anak tidak merasa dekat dengan orang tua, dia mungkin juga enggan untuk mengatakan terus-terang apa yang membuat dia tidak mau ke sekolah. Jadi sekali lagi keterbukaan dan hubungan yang erat antara orang tua dan anak memang sesuatu yang mutlak, bukan suatu pilihan yang boleh ada atau boleh tidak ada. Saya ingin menambahkan satu hal juga, Pak Gunawan dan Ibu Ida, tadi kita membicarakan hal-hal yang bersumber dari sekolah yang membuat si anak itu takut ke sekolah. Ada kemungkinan pula yang terjadi kebalikannya, jadi anak-anak yang takut ke sekolah karena takut meninggalkan rumah. Nah pertanyaannya kenapa takut meninggalkan rumah? Ada anak yang tahu bahwa di rumah itu orang tua sering bertengkar, ada anak yang mengkhawatirkan misalnya ayahnya akan memukuli ibunya. Sehingga waktu dia ke sekolah dia mengkhawatirkan keadaan rumah, akibatnya waktu dia ke sekolah dia merasa cemas dan merasa tidak tenang. Yang terjadi selanjutnya adalah dia menjadi enggan ke sekolah, sebab dia merasa dia bertugas untuk ada di rumah. Seolah-olah dia mempunyai anggapan dengan dia ada di rumah, dia bisa melindungi misalnya adiknya atau mamanya yang berada di pihak yang lemah dari misalkan serangan ayahnya. Atau dia merasa anak yang bisa membuat ayahnya tidak marah dengan dia ada di rumah, dia bisa mencegah ayahnya untuk meledak dan sebagainya. Jadi hal-hal ini bisa membuat si anak akhirnya khawatir dan tidak mau ke sekolah. Mengapa anak tidak mau ke sekolah? Bisa muncul dari sekolah sebagai sumbernya atau bisa juga muncul dari rumah. Ada anak-anak yang terlalu sering mendengar orang tuanya bertengkar sehingga dia peka dengan amarah. Waktu dia bersekolah, dia mendengar gurunya marah kepada temannya dia takut sekali. Karena seolah-olah dia mengalami ketakutan yang sudah dia alami di rumah, akhirnya takut ke sekolah karena ada trauma tertentu yang dialaminya. Tapi bisa juga kebalikannya karena dia terbiasa mendengar orang tuanya bertengkar di rumah, waktu dia ke sekolah dia mendengar gurunya marah-marah, dia justru tidak merasa terganggu karena sudah kebal, apakah Ibu Esther juga pernah mengalami kasus yang serupa ?
ET : Ya, ya itu biasanya kondisinya lebih kompleks lagi dan biasanya memang lebih susah untuk kita temukan apa penyebab ketakutannya, yang pasti dia di sekolah tidak tenang, di rumah juga tiak tenang.
PG : Apakah Ibu Esther pernah menemukan bahwa anak-anak yang takut ke sekolah ternyata di rumah mempunyai problem tertentu, bukan dia yang bermasalah tapi antara orang tuanya juga ada masalh.
ET : Ya, saya pernah cuma ini bukan anaknya langsung, tapi cerita ketika dia lebih besar ya. Pengalaman dia ketika lebih mudanya. Jadi katakan ketika dia umur 5, 6 pada saat itu orang tuanyabercerai.
Lalu ada ketakutan karena pada waktu itu terjadi perebutan adiknya akan ikut siapa sebagai hasil perceraian itu. Akhirnya ia takut berangkat ke sekolah karena dia takut setibanya di rumah nanti adiknya sudah diambil oleh pihak ibunya, sehingga begitu berat meninggalkan rumah untuk bersekolah.
PG : OK. Memang masalah-masalah ini bisa kompleks sekali dan tugas kita adalah untuk mencari tahu penyebabnya, baru kita bisa menyelesaikan masalahnya. Kalau yang lainnya lagi, Bu Esther, ap yang bisa kita lakukan untuk membantu si anak yang mengalami ketakutan ini.
Apakah kita perlu memaksa dia untuk tetap ke sekolah, memarahi dia supaya dia lebih tegar lagi atau apakah ada cara yang terbaik?
ET : Soal memaksakan ke sekolah mungkin bukan istilah dipaksakan, tetapi sedapat mungkin anak dianjurkan ke sekolah. Kecuali memang keluhan fisiknya sudah demikian rupa beratnya, misalnya di harus buang air terus, atau dia sampai muntah-muntah, rasanya juga mungkin sulit orang tua untuk meninggalkannya di sekolah.
Tapi tanpa keluhan fisik yang seperti itu, sedapat mungkin orang tua jangan sampai membiarkan atau mengizinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah. Karena untuk anak-anak seperti ini begitu diijinkan untuk tidak ke sekolah, biasanya akan mengalami kemunduran ketika saatnya harus sekolah. Jadi waktu dia harus masuk lagi, biasanya justru gejala-gejalanya akan lebih macam-macam lagi, mungkin dia harus mulai dari nol. Usulan untuk tetap sekolah harus, tetapi pendampingan itu sangat diperlukan oleh si anak. Jadi pengakuan dari orang tua bahwa rasa takut itu adalah wajar, maksudnya sah-sah saja untuk kamu merasa takut, bahwa orang tua memahami kalau anak ketakutan sangat berarti buat si anak. Bukannya dia takut sendirian, kadang-kadang orang tua suka bicara tidak perlu takut, masa begitu saja takut! Atau pengecut! Atau makin diberikan label-label yang bukannya mendorong anak untuk berani malah semakin menciutkan hatinya, Pak Paul.
PG : Jadi penting sekali orang tua tidak menambah ketegangan anak, karena dengan orang tua memarahi anak sebetulnya akan menambah ketegangan anak. Dan ketegangan tidak meredakan ketakutan, mlah membuat ketakutan makin membesar.
ET : Tapi kalau dia diberi pendampingan, pengakuan, waktu untuk menyesuaikan diri mungkin dia bisa mengatasi penyebab-penyebab ketakutan, itu akan lebih menolong buat si anak.
PG : Jadi kita mau mengakui bahwa ketakutan itu adalah reaksi yang wajar, tidak ada yang harus malu dengan rasa takut dan ketakutan terhadap penyebab itu adalah hal yang wajar pula. Misalkantakut karena ada teman-teman yang suka mengganggunya, melecehkannya dan kebetulan teman-temannya itu jumlahnya lebih banyak atau tubuhnya lebih besar sehingga dia merasa takut.
Mungkin sebagai orang tua ada baiknya kita mengakui juga ketakutan terhadap hal seperti itu, karena itu adalah hal yang wajar.
ET : Jadi cukup realistis kalau mungkin papa atau mama menjadi seperti kamu, papa mama juga akan ketakutan, tetapi bagaimana cara kita untuk mengatasinya. Itu akan sangat menguatkan sekali bat si anak.
IR : Jadi paling tidak sebagai orang tua harus tega untuk anaknya, misalnya terpaksa ya harus dipaksa berpisah dengan orang tua selama di sekolah. Ini ada pengalaman dahulu, waktu anak saya juga takut sekolah. Ruangan kelasnya sudah ditutup, tetapi dia buka jendela lalu dia melompat. Akhirnya dipaksa oleh gurunya untuk masuk lagi. Kami sebagai orang tua sebenarnya juga tidak tega, bagaimana menurut, Bu Esther?
ET : Ada sekolah tertentu yang rasanya masih mengizinkan paling tidak orang tuanya ada di depan kelas untuk anak-anak kasus seperti itu, sehingga kalau dia buka jendela atau dia mengintip jedela dia lihat o..
ada mama, cuma memang tidak semua sekolah mengizinkan seperti itu, jadi memang harus tega.
PG : Sebetulnya yang lebih baik yang mana Bu Esther, membiarkan anak itu di sekolah sendirian atau untuk sementara orang tua menemani. Jadi orang tua berada di dalam gedung sekolah meskipun idak langsung di kelas, tapi ada di pekarangan.
Sehingga si anak tahu ibunya atau ayahnya berada di pekarangan sekolah, sebetulnya mana yang lebih baik?
ET : Kalau menurut saya, apalagi kalau anak itu punya masalah nyali seperti yang kita katakan tadi, ada baiknya pendampingan orang tua di dalam kompleks itu. Karena dari beberapa kasus yang aya hadapi dengan sekolah mengizinkan seperti itu, prosesnya juga ternyata lebih cepat.
Dalam waktu beberapa minggu anak sudah tidak keberatan untuk ditinggalkan orang tuanya, tetapi memang minggu-minggu pertama sangat berat. Pertama dia harus yakin orang tua harus ada di depan kelas, lama kelamaan yang penting dia tahu mama ada di pekarangan, lama-lama yang penting waktu istirahat saya bisa ketemu mama dan akhirnya sekarang ditinggal sudah tidak apa-apa. Jadi prosesnya malah lebih positif daripada dipaksa seperti itu, mungkin kalaupun bisa butuh waktu yang lebih panjang lagi bagi si anak.
IR : Akhirnya anak itu selama 3 bulan menangis terus di kelas.
ET : Lebih sulit, tapi mungkin ada cara lain juga dengan kalau memang sekolah tidak mengizinkan kita bisa menggunakan pendekatan teman-teman yaitu sebagai orang tua kita coba carikan teman yng mungkin rumahnya dekat cukup terjangkau, kenalan dengan orang tuanya.
Kemudian kalau memungkinkan diundang ke rumahnya atau mungkin anak ini dibawa main ke rumah teman-teman itu, supaya sedikit demi sedikit dia merasakan ada rasa aman, ada orang-orang yang dia cukup kenal di kelas begitu. Mungkin proses ini juga membantu mengurangi ketakutan kalau memang orang tua dilarang untuk menemani di dalam kelas.
GS : Sebenarnya ada baiknya juga kalau menurut saya, Bu Esther, ada masa-masa persiapan. Jadi sebelum tahun ajaran dimulai, anak sudah mulai dikenalkan dengan sekolah. Jadi artinya sering diajak lewat di depan sekolah atau kadang-kadang ada kesempatan masuk di dalam sekolah, diperkenalkan seperti tadi Pak Paul katakan, teman-temannya yang dekat rumahnya sudah sekolah di sana, itu juga akan sangat membantu saya rasa.
ET : #9;Ya, bisa tapi kalau memang ternyata ada pengalaman-pengalaman trauma tertentu nanti ketika dia sekolah tetap akan muncul.
GS : Itu sebagai upaya saja untuk mengurangi kecanggungan anak untuk masuk ke sekolah, cuma masalahnya memang agak jarang sekolah-sekolah khususnya TK yang memberikan hari-hari tertentunya itu bisa terbuka untuk umum, di mana beberapa anak khususnya calon murid diperbolehkan masuk. Juga ada teman-teman dari orang tuanya ini seolah-olah mengejek atau melecehkan si orang tua ini, kenapa anakmu itu penakut sekali dan sebagainya. Lalu orang tua menjadi jengkel sehingga anaknya yang jadi sasaran untuk dipukuli dan sebagainya, dipaksa untuk masuk sekolah tadi, bagaimana seharusnya, Pak?
PG : Karena si anak mempermalukan mereka ya? Saya kira orang tua sebagai manusia seperti kita semua tidak lepas dari tekanan perbandingan. Dalam perbandingan itu kita ingin anak-anak kita nomal-normal atau justru di atas dari yang normal, jadi waktu anak kita di bawah yang normal kita pasti merasa malu.
Namun penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap anak itu tidak sama. Tadi Ibu Esther sudah menekankan bahwa ada anak yang sejak lahir membawa karakteristik keras, kuat, ada anak yang sejak lahir membawa karakteristik agak lembut sehingga agak takut dan sebagainya. Orang tua harus menerima anak apa adanya, sehingga tidak tunduk pada tekanan-tekanan di luar harus seperti anak-anak yang lain. Ibu Esther, bagaimana secara rohani sebagai orang Kristen, apakah ada cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menolong anak-anak yang takut ke sekolah ini?
ET : Sebenarnya ini juga kalau memang keluarganya kuat dari segi rohani, juga bisa dijadikan seperti sebuah pokok doa di dalam keluarga, berdoa untuk yang namanya siapa agar bisa sekolah denan berani, misalnya.
Jadi kalau memang keluarga itu punya jam doa bersama, bisa dijadikan pokok doa yang rutin setiap malam atau ketika anak sebelum berangkat ke sekolah misalnya diajak baca satu ayat Alkitab yang katakan jangan takut atau yang menguatkan seperti itu dan diajak berdoa. Saya rasa dengan pendekatan seperti itu, anak juga merasa bahwa papa mama sangat memperhatikan dia, papa mama juga berdoa untuk dia. Selain itu sebenarnya Sekolah Minggu juga bisa menjadi wadah untuk membantu anak-anak yang secara karakternya lemah tadi. Jadi mereka sejak kecil sudah diperkenalkan dengan komunitas di luar keluarga, dengan membiasakan anak-anak ke Sekolah Minggu dari kecil. Saya pikir itu juga termasuk salah satu cara mempersiapkan anak untuk sekolah khususnya yang pra sekolah sampai dengan TK, SD. Pengalaman sekolah biasanya menolong buat mereka.
PG : Ya lain lagi, Bu Esther, kalau benar-benar memang ada orang atau teman yang jahat, nakal, apa yang harus dilakukan orang tua?
ET : Ya, ini memang tidak mudah karena itu anak orang lain, tidak bisa langsung kita marahi tapi paling tidak kita bisa mengajarkan, memberikan tips-tips tertentu kepada si anak bagaimana meghadapi teman-teman yang agresif.
Misalnya kalau memang anaknya bukan yang cukup berani, lebih baik menghindari teman-teman yang nakal misalnya. Atau kalau misalnya sampai diserang mungkin perlu dilatih juga untuk membela diri, maksudnya diberitahu kapan memang dia diserang dalam arti kalau sudah dipukul dan disakiti yang berbahaya, kapan memang dia harus bertindak, bukan hanya berdiam diri.
PG : Atau orang tua mungkin harus datang ke sekolah dan memberitahukan guru atau menegur langsung anak tersebut agar tidak mengganggu anaknya.
GS : Pak Paul, dalam hal ini tentunya para pendengar juga mengharapkan ada pegangan dari firman Tuhan. Pak Paul bisa bacakan ayat untuk itu ?
PG : Saya akan bacakan dari Galatia 6:1 "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang bear dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan".
Meskipun konteksnya di sini adalah dalam tubuh Kristus dan dosa, tapi kita bisa terapkan untuk hal-hal yang sudah kita bahas. Orang tua perlu memimpin anak ke jalan yang benar, tidak hidup dalam ketakutan tapi lakukanlah dalam roh lemah lembut. Jangan malah memarah-marahi anak.
GS : Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Ibu Esther Tjahja dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak yang takut sekolah. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Takut sekolah terjadi bukan hanya pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin seminggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan pertama sekolah tiba-tiba menjadi takut sekolah.
Ciri-ciri anak yang takut sekolah ini sbb:
Ciri-ciri secara fisik, kadang-kadang anak mau berangkat sekolah baru bangun, pagi-pagi sudah dibangunkan oleh orang tua, sudah mulai mengeluh baik sakit perut, pusing, rasanya ingin ke belakang. Kadang sudah sampai di sekolah begitu masuk pagar ada yang bilang mau muntah, sakit perut dsb.
Ciri yang lain menangis, nggak mau pisah dengan orang tuanya. Untuk yang ikut antar jemput mungkin untuk naik ke mobil jemputan juga sudah mulai ketakutan dan menangis.
Bisa juga yang tadinya tidak ngompol jadi ngompol
Nilainya juga mulai merosot.
Anak merasa takut sekolah biasanya disebabkan oleh:
Bagi anak-anak yang pertama kali sekolah misal masuk play group atau TK rasanya memang pengalaman berpisah cukup lama dengan orangtua, ini menjadi hal yang tidak enak buat anak-anak.
Masuk dalam sebuah lingkungan baru yang belum diketahui sama sekali, teman-temannya baru, guru-gurunya baru, ruangannya baru. Jadi itu menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak.
Bagi yang sudah sekolah mungkin pengalaman menghadapi guru yang galak, dimarahi atau ditegur guru.
Memiliki teman yang agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu.
Anak-anak yang takut dengan pelajaran tertentu misalnya matematika, atau terhadap guru tertentu guru olah raga.
Anak takut ke sekolah karena anak takut meninggalkan rumah. Ada anak yang tahu bahwa di rumah itu orangtua sering bertengkar, ada anak yang mengkhawatirkan misalnya ayahnya akan memukuli ibunya. Sehingga waktu dia ke sekolah dia merasa cemas, dia merasa tidak tenang, selanjutnya dia menjadi enggan ke sekolah sebab dia merasa dia bertugas untuk ada di rumah.
Hal-hal di atas bisa menjadi pemicu dari ketakutan anak-anak.
Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menolong anak yang takut ke sekolah tersebut:
Mencari penyebabnya. Sebagai orang tua kita sangat perlu terlibat untuk kita lebih bisa mengenal apa itu yang menjadi penyebab perilaku anaknya. Jadi kedekatan itu penting sekali, kalau anak tidak merasa dekat dengan orang tua, dia mungkin juga enggan untuk bilang terus-terang apa itu yang membuat dia tidak mau ke sekolah. Jadi sekali lagi keterbukaan dan hubungan yang erat antara orang tua anak memang sesuatu yang mutlak, bukan suatu pilihan yang boleh ada atau boleh tidak ada.
Anak tetap dianjurkan untuk ke sekolah, jangan sampai orangtua membiarkan atau mengizinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah kecuali memang keluhan fisik yang dialami demikian berat misalnya buang air terus, muntah-muntah dsb. Namun pendampingan amat sangat tetap diperlukan oleh anak.
Kita mau mengakui bahwa ketakutan itu adalah reaksi yang wajar, tidak ada yang harus malu dengan rasa takut ini dan ketakutan terhadap penyebab itu adalah hal yang wajar pula.
Secara rohani, mungkin orang tua bisa mengajak anak untuk berdoa bersama atau membaca satu atau dua ayat Alkitab sebelum berangkat ke sekolah, ini akan menolong si anak.
Galatia 6:1 , "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut." Orang tua perlu memimpin anak kembali ke jalan yang benar, tidak hidup dalam ketakutan tapi lakukanlah dalam roh lemah lembut, jangan malah memarah-marahi anak.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Seorang anak sangat membutuhkan penerimaan dari orangtua bahwa marah adalah bagian emosi manusia yang merupakan hal yang manusiawi. Dan hal yang bisa dimiliki oleh setiap orang.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. Beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti menarik dan bermanfaat. Ibu Esther Tjahja akan mengulas tentang bagaimana membantu anak mengelola kemarahan. Perbincangan ini tentu akan sangat berguna bagi kita sekalian khususnya Anda yang punya anak-anak kecil yang perlu bantuan dalam hal ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Ibu Esther, seorang anak pasti bisa marah tetapi bagaimana sebenarnya cara mereka mengungkapkan atau mengekspresikan kemarahannya itu?
ET : Sebenarnya bukan hanya anak-anak, semua manusia pasti bisa marah, baik anak-anak, orang dewasa sampai orang tua bahkan bayi juga. Dan kemarahan itu sebenarnya dapat diekspresikan secaraaktif.
Misalnya secara verbal yaitu dengan kata-kata memaki, menghina orang, mengumpat bahkan juga dengan berteriak atau kalau tidak secara verbal dengan misalnya membanting barang, memukul sesuatu bahkan menendang, biasanya yang sering menjadi objek kemarahan adalah binatang-binatang piaraan, anjing ditendang, mobil ditendang. Kemarahan juga dapat diekspresikan dengan pasif, biasanya ditandai dengan sikap menarik diri, tidak suka bersama-sama dengan orang lain, lebih baik menyendiri, berdiam diri, jadi memang dengan sengaja tidak mau bertemu orang lain, dengan sengaja tidak mau berbicara dan satu ciri yang lain dari kemarahan yang pasif dapat diungkapkan dalam bentuk menangis, jadi diekspresikannya dengan air mata.
GS : Nah apakah seorang anak yang biasanya mengekspresikan kemarahan secara pasif, dia akan selalu mengekspresikannya dengan cara seperti itu atau keluar juga yang aktif?
ET : Kalau saya melihat biasanya ada pola yang lebih, istilahnya lebih permanen, lebih sering dalam bentuk seperti itu, kalau orang yang cenderung aktif biasanya dia akan selalu seperti itu.Kalau orang yang memang pola kemarahannya pasif, biasanya disuruh marah dengan mengeluarkan perkataan seperti misalnya memaki itu susah, biasanya semarah-marahnya akhirnya menangis.
Tapi kadang-kadang bisa kalau dalam situasi tertentu dengan cara yang sebaliknya, cuma biasanya lebih mayornya ya itu.
PG : Atau kadang kala juga ada pengaruh kepada siapakah dia marah. Saya memperhatikan di rumah, istri saya dibandingkan dengan saya. Saya ini bertaring jadi anak-anak lebih takut dengan saya kalau tidak ada saya, istri saya sering berkata anak ini tadi marah kepada saya, berani begini begitu kepada saya, tapi begitu saya pulang dan bicara dengan dia, dia tidak berani begitu kepada saya.
Dan istri saya pun melihat perbedaannya dan itu sering kali menjengkelkan dia, "mengapa dengan saya dia berani dengan kamu tidak berani". Kita sadari kadang-kadang manusia akan memilih sasaran yang lebih empuk sebagai tempat pengekspresiannya.
ET : Selain itu juga obyeknya, misalnya seperti dimarahi oleh guru, dimarahi oleh orang tua biasanya lain, adakalanya dengan orang tua berani menjawab tapi kalau dengan guru paling-paling haya berdiam diri karena kalau membalas berarti tidak naik kelas.
GS : Yang penting mungkin dia bisa menyalurkan kemarahannya, entah itu secara pasif atau aktif.
ET : Intinya diekspresikan cuma dengan cara bagaimana, memang kalau secara aktif ya aktif tetapi yang tepat secara pasif. Jadi intinya kadang-kadang orang mempermasalahkan tentang ekspresi krena takut kebablasan, tapi di sisi lain juga kebanyakan jadi makan dalam, memang ada dua sisi di sini.
(2 ) GS : Tapi sebenarnya yang penting adalah mengetahui penyebab kemarahan anak, Bu ?
GS : Nah itu apa saja?
ET : Banyak hal yang bisa menyebabkan anak-anak marah, yang paling mendasar sering kali biasanya nampak pada anak-anak yang masih kecil, yang belum terlalu bisa mengkomunikasikan apa yang di mau.
Biasanya kalau mereka sedang sakit, badannya tidak enak juga tidak bisa mengatakan apa yang dia rasakan, bawaannya mau marah, rewel. Dan biasanya kalau anak sudah lebih besar dan ada rasa sakit juga bisa membuat seseorang marah, cuma biasanya kalau sudah lebih besar sakitnya bukan hanya sakit secara fisik, bisa jadi sakit hati, secara emosi terganggu dia bisa marah-marah, dan apa yang menyebabkan mereka bisa sakit hati atau secara emosi terganggu biasanya juga macam-macam seperti mungkin menghadapi orang tua yang tidak konsisten. Maksudnya, di satu hari dia melakukan sesuatu tidak diapa-apakan, keesokan harinya dia melakukan hal yang sama kena marah atau kadang-kadang dimarahinya hanya ditegur tetapi dengan kelakuan yang sama bisa dihukum dengan keras. Jadi orang tua yang seperti itu bisa membuat anak sakit hati.
PG : Berbicara tentang badan yang sakit Bu Esther, saya kira bukan hanya anak kecil saja kalau sedang sakit mau marah. Saya akui saya pun juga begitu (ET : Apalagi sakit gigi ya?) ya, tubuh tidak enak, kenapa emosi rasanya lebih mudah untuk meletup ya ?
ET : Jadi lebih sensitif rasanya, sepertinya syaraf-syaraf kita ini siap buat beraksi terhadap hal-hal yang tidak nyaman.
PG : Rasanya memang daya tahan kita menurun ya, sehingga kemampuan untuk mengontrol emosi menjadi lebih tipis, rupanya itu juga yang kita bawa dari kecil sampai sekarang.
ET : Apalagi kalau misalnya sakitnya juga tidak jelas di mana, biasanya membuat kita juga lebih emosional.
GS : Tadi pada awalnya Bu Esther sudah mengatakan bahwa semua orang bisa marah termasuk kita yang sudah dewasa dan menjadi orang tua. Nah anak-anak sering kali memperhatikan kalau kita marah, apakah itu berpengaruh pada pola kemarahan si anak?
ET : Ya itu bisa sekali, karena mereka melihat bagaimana orang tuanya, itu mempunyai kemungkinan yang besar untuk membuat anak meniru pola kemarahan orang tuanya. Jadi kalau misalnya anak seing dimaki-maki walaupun mungkin belum tentu balik memaki orang tuanya, tapi biasanya di luar dia juga akan lebih mudah memaki-maki.
Dan biasanya kata-kata makiannya mirip dengan yang dia dengar dari orang tuanya. Atau kalau misalnya orang tua yang melarang anak membuat marah, biasanya nanti juga akan merasa tidak nyaman dengan orang lain yang marah-marah.
GS : Dan itu sebenarnya berbahaya, mungkin buat orang dewasa tidak terlalu berbahaya mengekspresikan kemarahan seperti itu tapi buat anak kadang-kadang itu bisa berbahaya sekali, Bu Esther?
ET : Ya betul sekali, saya pernah mendengar ada satu orang tua menceritakan tentang suatu hari dia ditelepon oleh pembantu di rumah, jadi ibu ini sedang di kantor ditelepon oleh pembantunya.Dan pembantunya mengeluhkan bahwa anak ini sedang marah kepada adiknya sambil membawa-bawa pisau.
Jadi memang kadang-kadang tidak selalu dari orang tua tapi bisa juga meniru dari apa yang dia lihat dari TV, yang dia dengar. Nah pola-pola seperti itu juga bisa memberi ide pada si anak bagaimana mengekspresikan kemarahannya, kalau memang tidak pernah diarahkan dengan tepat.
GS : Atau mungkin kegagalan, apakah itu bisa menimbulkan kemarahan dalam diri seorang anak?
ET : Ya, kegagalan yang terus-menerus biasanya membuat seseorang frustrasi, perasaan frustrasi biasanya juga bisa membuat tidak tahu harus berbuat apa, tidak bisa keluar dari rasa kegagalan tau frustrasi itu biasanya berbuntut kepada kemarahan.
Misalnya seseorang yang merasa tidak mampu di satu bidang padahal itu dituntut terus-menerus misalnya anak yang memang matematikanya lemah tapi terus dituntut harus mendapat nilai 8, 9, 10 sementara jelas-jelas dia tidak bisa mendapat nilai seperti itu. Hal itu kalau tidak dipahami juga bisa menghasilkan kemarahan buat si anak.
GS : Saya pernah mengalami ada seorang anak yang marah karena dia merasa tidak bersalah tapi dituduh bersalah. Orang tuanya atau kakaknya memarahi dia padahal dia sendiri merasa tidak salah, lalu dia bereaksi dengan keras, nah apakah itu disebut ekspresi kemarahan atau membela diri atau bagaimana ?
ET : Kemarahan itu sendiri bisa campuran, biasanya karena merasa diperlakukan tidak adil, karena memang sepertinya jadi kambing hitam, itu juga bisa mengakibatkan kemarahan.
PG : Kalau yang lainnya Bu Esther, seorang anak yang membutuhkan perhatian dan tidak mendapatkannya, apakah ini bisa menjadi penyebab kemarahannya ?
ET : Ingin mendapatkan perhatian tetapi tidak dia dapatkan, bisa sekali mengakibatkan dia marah.
PG : Bisa sekali ya, jadi yang dia harapkan reaksi orangtuanya melihat dia berbuat ini itu tidak seperti yang dia bayangkan, jadi akhirnya mengkompensasikan diri, marah-marah supaya yang diabutuhkan itu bisa dia peroleh.
ET : Misalnya orang tua terlalu sibuk, jadi dia minta diperhatikan dengan cara baik-baik rasanya tidak didapatkan, setelah mencapai puncaknya dia mungkin bisa melampiaskan tapi tidak beranilangsung ke orang tuanya.
Misalnya terhadap mainannya, terhadap orang di sekitarnya intinya sebagai protes bagaimana memanfaatkan kemarahannya ini untuk mendapatkan yang dia butuhkan dari orang tua. Jadi biasanya hal ini dipelajari dari waktu kecil, pokoknya begitu dia minta sesuatu tidak didapatkan wah dia marah. Akhirnya pola ini yang dipelajari, semakin besar sepertinya cara itu yang digunakan sebagai senjata supaya dipenuhi keinginannya, dengan dia marah. Dan begitu marah orang tua biasanya kalah, akhirnya diberikanlah apa yang dia inginkan. Dan akhirnya itu terus yang menjadi senjata, senjata untuk mendapatkan hal-hal yang dia inginkan.
GS : Ya kadang-kadang ada yang sampai jongkok di depan toko atau sampai di lantai berguling-guling karena keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Nah masalahnya sekarang adalah setelah kita tadi mengungkapkan banyak hal ternyata yang bisa menyebabkan anak marah; apa reaksi orang tua dalam menghadapi anak-anak yang sedang marah ?
ET : Ya, kita akan membahas lebih dahulu cara-cara yang selama ini kurang tepat, yang sering kali dilakukan orang tua. Yang cukup sering terjadi adalah sempat saya singgung sedikit yaitu banak orang tua yang beranggapan marah itu dosa, jadi kemarahan itu identik dengan dosa sehingga orang tidak boleh marah.
Karena dia menerapkan hal itu pada dirinya dia akan mengatakan kepada anak juga tidak boleh marah. Jadi kalau anak sampai marah malah dihukum, sehingga itu justru membuat anak tidak bisa menyalurkan kemarahannya. Sudah sakit hati, mau mengungkapkan dengan marah justru dimarahi lagi tambah sakit lagi. Dan anak juga semakin tidak tahu seharusnya bagaimana, karena pada kenyataannya tidak bisa begitu saja memadamkan amarah yang ada di dalam hatinya.
PG : Seperti memencet/menekan balon ya, kita pencet atau kita tekan di sini akan melejit di sana. Jadi orang tua yang meredam kemarahan anaknya seolah-olah menghilangkan kemarahan, namun sesngguhnya hanyalah memindahkan sasaran kemarahan si anak.
Tadinya mungkin kemarahan tersebut harus dialamatkan kepada orang tuanya, tapi karena tidak boleh dan orang tuanya lebih besar, lebih berdaya, lebih bertaring terpaksa dia harus simpan. Dan akan dia lampiaskan misalkan kepada adiknya, kepada yang lain di luar rumah, jadi sama sekali bukan solusi yang baik, merantai anak untuk tidak boleh marah sama sekali.
ET : Ya apalagi tidak ada alternatif, tidak diberikan alternatif pokoknya jangan marah! Dengan kata jangan marah, anak tidak tahu mesti berbuat apa lagi.
GS : Nah ada juga orang tua yang justru membiarkan anaknya marah, bagaimana dengan hal seperti itu Bu Esther, kalau mau marah, marahlah begitu?
ET : Sampai dia bosan begitu ya, jadi orang tua membiarkan begitu saja berharap kemarahannya mereda. Tapi kalau ternyata penyebab kemarahan itu tidak tersentuh sebenarnya sama saja. Mungkin ada saat itu sepertinya dia merasa puas.
Puas dalam arti mengungkapkan kemarahannya pada saat itu, hanya sesaat, sepertinya reda tapi karena tujuannya belum tercapai, kebutuhannya belum terpenuhi, suatu saat bisa muncul lagi.
(3 ) GS : Bagaimana orang tua seharusnya bertindak, Bu Esther ?
ET : Memang yang kebalikan melarang anak untuk marah adalah anak sangat membutuhkan penerimaan dari orang tua bahwa marah itu adalah bagian dari emosi manusia yang merupakan hal yang manusiai.
Hal yang dimiliki setiap orang itulah emosi. Kalau orang bisa bahagia, orang bisa senang kenapa orang tidak bisa marah itulah bagian dari emosi yang Tuhan berikan juga buat manusia. Jadi memang yang pertama penerimaan, orang tua perlu menerima hal itu dan orang tua sendiri perlu mengenali ada atau tidak kemarahan-kemarahan dalam diri orang tua yang mungkin juga belum terselesaikan. Nah itu kadang-kadang bisa jadi penghambat, mungkin misalnya orang tua sendiri masih berjuang dengan perasaan-perasaan marahnya, jadi dia sendiri sedang merasa tidak suka maksudnya masih terus bergumul dengan perasaan marah, lalu melihat orang lain seperti itu jadi maunya tidak usah marah supaya jangan sampai menghalangi seperti apa yang dialami orang tua. Tapi kalau orang tua sendiri bisa memahami kemarahannya, dia dapat juga menerima emosi kemarahan anak.
GS : Memahami dalam hal ini apakah itu berarti mentolerir kemarahan anak?
ET : Mentolerir maksudnya bagaimana, Pak?
GS : Kita setuju dengan kemarahan itu walaupun berkali-kali dia marah atau sampai memecahkan barang dan sebagainya.
ET : Kita menerima bahwa anak itu bisa marah dan memang sedang marah, itu yang pertama, tapi tidak berarti kita membiarkan cara dia mengekspresikan dengan seenaknya. Kadang-kadang anak-anak ang kemarahannya sampai sekian derajat itu memang yang tidak pernah dipenuhi keinginannya, tidak pernah tahu cara mengekspresikan kemarahan dengan tepat biasanya akan menjadi destruktif, akan ada saja barang-barang yang rusak.
Kadang-kadang anak dengan sengaja melakukan hal tersebut misalnya mereka tahu ini barang kesukaan orang tua, sengaja dia rusakkan supaya bisa membalas dendam, bisa mendapatkan yang dia inginkan. Kalau hal-hal seperti itu tentu saja tidak dapat ditolerir, jadi memang kalau ekspresi kemarahannya arahnya sudah destruktif baik dalam diri sendiri ataupun ke orang lain tentunya orang tua perlu mengendalikan situasi tersebut dan tidak membiarkan ekspresi yang seperti itu. Tapi orang tua bisa membantu dengan mencoba mengajak anak mencari penyebabnya, sebenarnya apa yang membuat dia marah.
GS : Tetapi pada saat anak marah memang sulit mengajaknya untuk mencari penyebab kemarahan dan sebagainya, itu biasanya bisa dilakukan nanti setelah kemarahan si anak reda. Tetapi pada saat anak itu sedang marah-marahnya, apa biasanya atau sebaiknya apa yang perlu dilakukan oleh orang tua?
ET : Memang mungkin kita tidak berharap untuk dia menceritakan semuanya sekaligus pada saat itu, tetapi biasanya kalau anak-anak yang merasa orang tuanya bisa menerima kemarahannya, bisa memhami kemarahannya dan ini memang perlu latihan, anak perlu diajar untuk: "Memang kamu marah tidak apa-apa, tetapi kamu marah kepada siapa? Karena apa?" ini memang perlu dilatih kepada anak.
Kadang-kadang latihan ini tidak terjadi karena begitu anak marah, orang tua sudah ikut tegang atau pusing juga, anak marah orang tua ikut marah jadi saling marah berdua, mana lebih kuat akhirnya anak akan semakin marah karena merasa tidak dipahami. Sebaliknya ketika anak merasa papa atau mama atau orang tua atau orang-orang yang lebih dewasa mengerti kemarahannya, menerima kemarahannya, mereka biasanya akan lebih komunikatif, lebih-lebih kalau kemampuan tersebut sudah dilatih.
GS : Biasanya kemarahan itu akan menjadi-jadi kalau ditanggapi, lalu kemarahannya tambah berkobar-kobar tapi kalau didiamkan seolah-olah merasa tidak ditanggapi, tidak mendapat respon, kemudian kemarahan si anak itu reda sendiri.
ET : Ya memang ini tergantung dengan usia juga, kalau anak sudah lebih bisa diajak komunikasi, mungkin kalau memang dia sedang marah-marah, sekali dibiarkan dia akan menenangkan diri dulu suaya orang tua bisa tenang, anak juga bisa tenang, orang tua bisa berpikir juga langkah apa yang bisa diambil.
Dan ketika dia bisa lebih tenang, mungkin sudah bisa diajak komunikasi, apa yang menyebabkan dia marah.
GS : Apakah tanda-tanda kemarahan itu bisa dilihat sejak awal, misalnya pulang dari sekolah wajahnya merengut atau apa, lapar, kadang-kadang membuat dia cepat marah juga, apakah kita bisa kenali hal itu ?
ET : Anak-anak biasanya lumayan ekspresif, apalagi kalau anak-anak yang biasanya ceria suatu saat pulang dengan murung, ditanya tidak mau menjawab ataupun pulang bawaannya dibanting-banting,biasanya sudah bisa kita deteksi ada sesuatu yang terjadi pada anak.
Nah justru ketika kita sebagai orang tua sudah melihat hal ini, orang tua bisa membantu. Kadang-kadang tidak setiap anak bisa dengan spontan bercerita, aku marah atau apa yang dia rasakan. Tapi misalnya kalau memang orang tua bisa menanyakan: sepertinya sedang tidak enak, bertanya dengan cara yang memang memberikan kenyamanan, itu akan membuat anak lebih bisa mengaku, lebih bisa menceritakan, dari pada anak pulang dengan marah-marah terus orang tuanya juga "Kenapa pulang-pulang seperti itu !" Langsung disemprot wah bisa bertambah marah lagi.
GS : Mungkin pola kemarahan kita sebagai orang tua perlu dijaga Bu Esther, khususnya kalau kita marah ada anak-anak di depan kita. Kita menjadi tontonan mereka, kita mesti hati-hati rupanya.
ET : Karena mereka belajar dari apa yang mereka lihat juga. Sebenarnya bukan berarti sebaiknya anak tidak pernah melihat orang tua bertengkar, tidak juga, atau tidak pernah melihat orang tuaya marah itu juga tidak ada contohnya.
Tapi yang perlu adalah mereka melihat bagaimana orang tua mengekspresikan kemarahannya. Bukan berarti ada banyak orang tua yang merasa tidak boleh, kita tidak boleh marah, tidak boleh menunjukkan kejengkelan padahal anak ya tidak belajar. Dan sebaiknya memang anak perlu dibantu untuk bisa mengungkapkan kemarahannya dan kenapa dia marah. Itu bisa dipelajari dari orang tuanya misalnya ibu marah karena kamu pulang terlambat, tidak minta izin, jadi anak juga bisa belajar seperti itu.
PG : Bu Esther, apakah bijaksana bagi orang tua memperlihatkan rapuhnya dia waktu si anak marah, misalnya waktu si anak marah dia ikut menangis, dia memelas pada si anak untuk jangan marah, apakah tindakan itu baik?
ET : Rasanya kalau memang itu menjadi satu cara yang dipakai orang tua supaya anak reda marahnya tidak baik ya. Karena sebaliknya itu orang tua yang memanipulasi anak kalau tadi anak yang meanipulasi orang tua untuk mendapatkan keinginannya; ini orang tua yang sepertinya memanipulasi anak untuk mendapatkan kepentingannya, dalam arti orang tua merasa tidak nyaman dengan kemarahan anak.
Jadi seperti itu tapi kalau misalnya peristiwanya adalah peristiwa yang sangat besar dalam arti memang sungguh-sungguh menyakitkan misalnya anak mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan orang tua mungkin memang tidak apa-apa dalam situasi tertentu orang tua memperlihatkan bahwa orang tua sakit atau sedih. Mungkin dalam situasi-situasi tertentu tapi bukan menjadi pola.
PG : Jadi kita tetap harus mempertahankan wibawa sebagai orang tua, jangan sampai kita ini tunduk pada kemarahan anak. Sebab itu adalah awal dari berkuasanya anak atas orang tua.
ET : Jadi posisinya terbalik, saya setuju karena ada beberapa anak yang akhirnya justru tidak menunjukkan rasa hormat ketika orang tua merasa ini adalah cara pendekatan yang sepertinya mau mngajak anak memikirkan perasaan papa, mama tapi kalau itu terjadi terus-menerus akhirnya anak tidak hormat lagi kepada orang tuanya.
GS : Tapi walaupun anak-anak itu mudah marah, rupanya marahnya lebih cepat reda juga dibandingkan kita yang dewasa. Mengapa seperti itu? Kadang-kadang marah dengan temannya sampai ramai, tetapi mereka cepat bermain lagi. Nah kita sulit untuk seperti itu.
ET : Kalau saya melihat mungkin lebih kepada unsur asam garam ya, maksudnya anak-anak yang seperti itu adalah anak-anak yang memang di rumahnya juga cukup nyaman. Jadi untuk memaafkan juga lbih mudah, sementara kalau kita sudah terlalu banyak pengalaman-pengalaman tidak enak.
Dibohongi, disakiti sehingga lebih susah untuk mengampuni.
GS : Nah Pak Paul, sehubungan dengan ini yang tentunya suatu pembicaraan yang cukup penting bagi kita yang sudah dewasa, apa firman Tuhan yang bisa kita temukan?
PG : Saya membacakan dari Amsal 14:29 "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." Saya kira sekali lagi yang ditekankan Ibu Esther disini adalah bahwa tidak apa-apa marah, yang harus kita ajarkan kepada anak adalah bukan tidak boleh marah, tapi cara marah yang tepat.
Nah ini yang orang tua harus selalu tekankan, orang tua tidak melarang anak marah, orang tua melarang anak marah-marah dengan cara yang tidak sehat misalnya membanting barang atau apa. Tapi marah dalam pengertian menaikkan suara, menunjukkan sikap marah dan misalnya sedikit melawan orang tua itu adalah hal yang memang ekspresi normal dari kemarahan. Nah jadi kita bisa tekankan pada anak, marah tidak apa-apa asal jangan melewati batas, dalam pengertian membuat keributan dan sebagainya. Dan yang kedua adalah kita perlu setelah itu berbicara pada anak, kenapa dia marah dan apakah ada cara lain yang bisa dia gunakan selain tadi menunjukkan kemarahannya. Dengan cara itu anak diajarkan untuk belajar bersabar, nah anak yang diajarkan belajar bersabar, Firman Tuhan berkata akan memperlebar pengertiannya atau hikmatnya atau kebijaksanaannya. Dengan perkataan lain, orang tua yang tidak memberikan waktu mengajar anak untuk bersabar sama juga menyempitkan ruangan untuk dia menjadi bijaksana.
GS : Terima kasih Pak Paul, saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak mengelola kemarahannya. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pengekspresian kemarahan ada dua:
Secara aktif misalnya dengan memakai komunikasi verbal. Yaitu dengan kata-kata memaki, menghina orang, mengumpat bahkan juga dengan berteriak. Atau kalau tidak dengan verbal biasanya dilakukan dengan tindakan, misalnya membanting barang, memukul sesuatu, bahkan menendang sesuatu.
Diekspresikan dengan pasif, biasanya ditandai dengan sikap menarik diri, berdiam diri, dengan sengaja tidak mau bertemu dengan orang lain, tidak mau berbicara, atau juga diekspresikan dalam bentuk menangis.
Hal yang menyebabkan anak marah adalah:
Yang paling mendasar sering kali nampak pada anak-anak yang masih kecil, yang belum terlalu bisa mengkomunikasikan apa yang dia mau. Biasanya kalau mereka lagi sakit, badannya tidak enak, mereka tidak bisa bilang apa yang dia rasakan, bawaannya rewel, bawaannya marah.
Kegagalan kadang-kadang juga bisa menimbulkan kemarahan dalam diri seorang anak. Kegagalan yang terus-menerus biasanya membuat seseorang frustrasi, perasaan frustrasi biasanya juga terus tidak tahu harus berbuat apa, tidak bisa keluar dari rasa kegagalan atau frustrasi itu biasanya berbuntut kepada kemarahan.
Mungkin juga ada seorang anak itu membutuhkan perhatian dan tidak mendapatkannya, ini bisa menjadi penyebab kemarahan dalam dirinya. Reaksi orang tuanya melihat dia berbuat ini itu tidak seperti yang dia bayangkan, akhirnya mengkompensasikan diri, marah-marah supaya yang dia butuhkan itu bisa dia peroleh.
Banyak hal yang bisa menyebabkan anak marah, namun orang tua pun bisa memberikan tanggapan atau reaksi yang kurang tepat pada anak di antaranya:
Yang cukup sering terjadi adalah banyak orang tua yang beranggapan marah itu dosa, jadi kemarahan itu identik dengan dosa, jadi orang tidak boleh marah.
Ada juga orang tua yang malah membiarkan anaknya marah, kalau mau marah, marah sana sampai kamu bosan. Jadi orang tua merasa dan berharap dengan dia biarkan begitu saja kemarahan anak mereda.
Orang tua seharusnya bertindak dengan bijaksana. Anak sangat membutuhkan penerimaan dari orang tua bahwa marah itu adalah bagian dari emosi manusia yang manusiawi.
Jadi penerimaan itu penting, orang tua perlu menerima hal itu dan orang tua sendiri perlu mengenali ada tidak kemarahan-kemarahan dalam diri orang tua yang mungkin juga belum terselesaikan. Orang tua bisa membantu dengan mencoba mengajak anak mencari apa sebenarnya yang membuat dia marah. Pada saat anak marah memang sulit mengajak dia untuk mencari penyebab kemarahannya, biasanya itu bisa dilakukan setelah kemarahan si anak itu reda. Tetapi pada saat anak itu sedang marah-marahnya sebaiknya yang dilakukan orang tua adalah dengan tenang dan sabar menghadapinya. Mungkin kita tidak berharap dia akan menceritakan semuanya sekaligus pada saat itu. Tetapi biasanya kalau anak-anak merasa orang tuanya bisa menerima kemarahannya, ia akan mudah diajak kerja sama. Dan sebaiknya juga anak dibantu untuk bisa mengungkapkan kemarahannya dan kenapa dia marah. Itu bisa dipelajari dari orang tuanya, misalnya ibu menceritakan saya marah karena kamu pulang terlambat, tidak minta izin, jadi anak juga bisa belajar.
Amsal 14:29 , "Orang yang sabar besar pengertiannya tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." Yang ditekankan di sini adalah bahwa tidak apa-apa marah, yang harus kita ajarkan kepada anak adalah bukannya tidak boleh marah, tapi cara marah yang tepat.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Setiap anak memerlukan seorang sahabat, terlebih bersahabat dengan orangtuanya. Dalam topik ini dikupas tentang bagaimana orangtua dapat menjadi sahabat buat anak.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Pada hari ini kami bersama dengan Ibu Esther Tjahja seorang sarjana psikologi alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang saat ini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga sebagaimana biasanya juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi bersama-sama dengan kami akan berbincang-bincang mengenai suatu topik yaitu menjadi sahabat buat anak. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Ibu Esther, sebagai anak sering kali membutuhkan sahabat dan sering kali kita juga orang tua tidak bisa atau tidak terbiasa mungkin ya, menjadi sahabat bagi anak kita sendiri. Kita lebih mudah bersahabat dengan orang yang sebaya dengan kita, tetapi anak yang di rumah dan begitu dekat dengan kita kehilangan atau tidak mempunyai seorang sahabat. Tentunya akan lebih baik kalau orang tua bisa menjadi sahabat buat anak-anaknya. Tetapi masalahnya bagaimana atau dari mana kita itu sebagai orang tua memulainya, Bu Esther?
ET : Memulai untuk menjadi sahabat, yang pertama saya pikir sebagai orang tua tentunya orang tua harus terlebih dahulu mempunyai sikap yang benar terhadap anaknya. Siapa anak saya ini sesungguhya, maksudnya apakah anak itu hanya sebagai pelanjut keturunan atau marga saja supaya tidak sampai hilang.
Apalagi kalau itu hanya misalnya anak laki satu-satunya, atau justru ada sesuatu yang lebih dari sekadar penyambung keturunan.
PG : Nah saya berprinsip, Pak Gunawan, bahwa anak itu bukan penyambung keturunan semata, sebab misalkan kalau kita baca dari kitab Ulangan 11:18,19 dikatakan di sini: "Tetapi amu harus menaruh perkataan-Ku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu.
Kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Jadi di sini kita melihat Tuhan meminta kita untuk mewariskan iman kita kepada anak, jadi anak adalah pewaris iman kita. Seharusnya itu adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang tua. Jangan sampai melihat anak hanya penyambung keturunan belaka dan juga penting supaya kita menyadari bahwa anak itu bukanlah beban. Karena adakalanya anak itu dilihat sebagai beban yang menyebabkan pengeluaran bertambah besar. Misalnya karena ada anak saya tidak bisa melanjutkan sekolah, karena ada anak saya harus berhenti bekerja, karena ada anak saya tidak bisa lagi pergi ke kafe, pergi dengan istri ke kafe karena harus bersama dengan anak pada malam hari. Nah adakalanya sebagian dari kita melihat anak justru sebagai beban, itu keliru sekali, sebab bisa kita baca juga di kitab Ulangan 7:12-13 dikatakan di sini "Dan akan terjadi karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia maka terhadap engkau Tuhan Allahmu akan memegang perjanjian dan kasihnya yang diikrarkan dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Dia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak, dia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu dan sebagainya." Jadi Tuhan berkata kalau kita mendengarkan firman Tuhan, menaati perintahNya, Dia akan memberkati buah kandungan kita dan ini jelas berkat untuk anak-anak kita. Jadi justru mempunyai anak merupakan berkat buat orang Israel saat itu, justru Tuhan memberikan anak sebagai tanda Dia memberkati anak-anaknya, Dia memberkati kita sebagai orang tua. Jadi sikap yang benar adalah sebagaimana yang disinggung oleh Ibu Ester tadi, yaitu menghargai anak sebagai pemberian Tuhan, pewaris iman kita dan berkat yang Tuhan berikan kepada kita.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, sering kali orang tua menjaga jarak, justru dengan anaknya supaya bisa melakukan amanat tadi. Dia tidak mau anaknya kurang ajar kepada dia, ada kekhawatiran seperti itu sebenarnya, bagaimana sikap seperti itu Pak Paul?
PG : Adakalanya orang tua memang takut kalau-kalau saya ini tidak dihormati oleh anak, jadi menjaga jarak atau justru bersikap lebih otoriter kepada anak, saya kira sikap-sikap seperti itu tida perlu.
Wibawa orang tua diperoleh bukan dari sikap menjauhkan diri dari anak, justru anak yang merasakan orang tuanya dekat dengan dia akan lebih bisa menghormati orang tuanya. Justru orang tua yang terlalu jauh menjadi orang tua yang mungkin sekali ditakuti, tapi belum tentu dihormati sebab anak menghormati orang tua yang dekat dengan dia dan yang akrab dengan dia.
GS : Sebenarnya apakah memang ada kebutuhan untuk mempunyai sahabat dalam diri seorang anak, Pak Paul?
PG : Saya kira seorang anak mempunyai kerinduan untuk dekat dengan orang tua dan mau sekali orang tua itu menjadi sahabatnya. Saya masih ingat waktu saya masih SMP, SMA, saya mempunyai teman, tdak banyak.
Ada teman saya yang cerita bahwa mereka itu dengan orang tuanya sangat akrab dan dekat sekali, misalnya bisa bergurau dan sebagainya. Saya kira itu adalah suatu kebanggaan tersendiri karena bisa bermain bersama-sama. Kebetulan saya juga cukup akrab dengan orang tua, misalnya bisa bergurau dengan ayah saya. Beliau kebetulan dulu tubuhnya cukup gemuk, jadi kadang-kadang saya suka bergurau memegang perutnya dan sebagainya. Jadi hal-hal seperti itu membuahkan rasa dekat dan menghormatinya, justru kalau dia terlalu berjaga-jaga saya kira reaksi saya tidak hormat kepadanya.
IR : Jadi kita perlu masuk dalam dunia anak ya Pak Paul, menerima kesukaannya atau kelemahannya?
PG : Betul sekali, jadi memang untuk menjadi sahabat anak saya kira perlu sekali seseorang itu memasuki dunia anak. Nah mungkin di sini Bu Esther, bisa memberikan masukan kepada kita, karena measuki dunia anak terutama anak-anak yang kecil, saya kira cukup susah.
Mungkin sedikit lebih mudah dengan yang beranjak dewasa atau remaja, Ibu Esther bisa memberikan masukan kepada kita semua.
ET : Saya rasa pertama kita harus pahami tahap perkembangannya dulu, dengan kita tahu dia usia berapa dan kemampuan berpikir seperti apa, baru bisa kita masuk begitu. Masalahnya kadang-kadang kta sebagai orang tua suka lupa bahwa kita ini sudah sekian langkah di depan anak kita.
Kadang-kadang kita menuntut dia untuk sepertinya berjalan sejajar dengan kita. Kalau kita punya pola pikir yang seperti itu, artinya kita tidak masuk ke dalam dunianya. Pernah ada orang tua yang mengeluh seperti ini "aduh Bu, anak saya ini sama sekali tidak bertanggung jawab, tidak bisa disiplin" dan keluhan-keluhan seperti itu langsung saya tanya ya "anaknya usia berapa tahun Bu?" 3½ tahun. Jadi saya langsung berpikir kenapa ibu ini tidak berpikir, masa anak kecil sudah mengerti yang namanya tanggung jawab. Kadang-kadang kita ini mempunyai label yang sama, tuntutan yang sama seperti kita. Jadi yang pertama-tama untuk masuk ke dunianya ini adalah kita pahami tahapan perkembangannya dan pola pemikirannya. Kalau memang anak masih tahunya yang konkret, lalu kita menyuruh dia memberikan ilustrasi atau kita menjelaskan kepada dia sesuatu dengan cara yang abstrak seperti "Nak, papa mama ingin jadi sahabatmu", sahabat itu apa, jadi mereka belum mengerti. Jadi dengan kita memahami pola pemikirannya, kita juga bisa menggunakan bahasa yang memang dipahami oleh anak-anak seusianya.
GS : Dan memahami pola pikirnya itu tentu saja kita harus banyak terlibat dengan dia, karena tidak mungkin kalau waktu kita sangat singkat bisa langsung mengerti pola pikirnya.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi memang memberikan bukan saja pengertian kita namun waktu adalah hal yang penting. Satu hal lagi yang kadang-kadang kita juga lupakan ya, tadi sudah disinggun oleh Ibu Esther.
Karena kita ini sudah cukup melangkah lebih dulu dan kita lupa tentang masa kecil kita, akhirnya kita mengabaikan sudut pandangnya, perasaannya, dan situasinya yang membuat dia bereaksi seperti itu. Misalkan bagi anak-anak tidak diajak main adalah hal yang sangat mengganggu, menyedihkan, membuat dia terbuang. Ya untuk kita sekarang tidak ada yang main memang tidak merasakan seperti itu. Tapi bukankah sama kalau misalnya kita ini di tempat kerja merasa bahwa teman-teman itu membuat klik dan kita itu tidak dimasukkan dalam klik mereka, ada yang main basket, ada pertandingan apa, semua main kita tidak diundang. Ada pesta semua diundang tapi kita tidak diundang, bukankah kita juga merasa disisihkan, nah anak-anak juga mempunyai perasaan yang sama, perasaan yang namanya tersisihkan, terbuang. Anak-anak akan bereaksi terhadap situasi-situasi seperti itu, jangan sampai kita sebagai orang tua berkata kepada anak-anak kita masak begitu saja kamu sudah marah, sedih, cengeng. Tidak apa-apa teman-teman kamu tidak ada yang mengajak kamu bermain, kamu bisa main sendiri, jangan hiraukan teman-teman yang tidak mengajak kamu main, kamu bisa ciptakan permainan sendiri. Bagi saya itu adalah kalimat atau perkataan yang tidak realistik, sebab kitapun dalam keadaan kita sekarang kalau tersisihkan akan merasa sedih, terbuang, nah anak memang situasinya berbeda tapi perasaannya tetap sama. Jadi saya mau mengingatkan kita semua sebagai orang tua untuk berbuat kepada anak seperti yang kita kehendaki orang berbuat kepada kita pula, ini yang disebut atau prinsip hukum emas yang terambil dari Matius 7:12 yang kalau saya boleh bacakan berbunyi "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi hukum taurat dan kitab para nabi." Jadi mengertilah bahwa anak-anak mempunyai perasaan-perasaan seperti kita, meskipun situasinya berbeda dan komunikasikan pengertian kita itu kepada mereka.
GS : Di ayat tadi yang Pak Paul bacakan itu, penekanannya adalah perbuatan dari orang dan juga kita melakukan apa yang orang mau lakukan pada kita. Nah perbuatan apa yang seharusnya cocok atau yang tepat kita lakukan terhadap anak itu?
PG : Saya kira kalau kita dalam situasi seperti itu, kita tidak mau orang malah memarahi atau mempermalukan kita atau melecehkan kita. Misalkan kita diajak ke pesta oleh teman-teman, tetapi tidk diajak pertandingan basket.
Kita pasti merasa sedih dan kita tidak ingin orang menyudutkan kita. Masak begitu saja kamu sedih, kamu ciptakan permainan sendiri, kita pasti tidak mau orang begitu kepada kita. Kita mau orang berbuat kepada kita seperti apa? Menerima kita, mengerti perasaan kita yang tersisihkan. Nah perbuatlah hal yang sama kepada anak-anak kita. Yang mereka butuhkan adalah pengertian bukan penyudutan atau pelecehan.
IR : Kalau kita sebagai orang tua, Pak Paul, peran apa yang harus kita berikan pada anak-anak kita ?
PG : Saya kira yang pertama seperti yang Ibu Ida sudah singgung yaitu kita perlu menerima kelemahan anak kita sendiri. Anak mempunyai kelemahannya, tidak semua yang dia miliki adalah kekuatanny, artinya jangan kita ini melecehkannya karena kelemahannya, justru kalau kita melecehkannya dia tidak merasakan kita sahabatnya, sebab kita pun tidak mau bersahabat dengan orang yang melecehkan kelemahan kita.
Misalkan sebagai anak remaja dia memang kurang begitu bisa bergaul, agak sedikit malu, nah yang penting adalah kita memberitahukan anak kita engkau perlu berusaha dan kalau dia sudah berusaha dan memang sifatnya pendiam kita harus menerima itu juga. Jangan malahan mencerca dia, mengata-ngatai dia karena dia di rumah, tidak pergi. Jadi boleh dorong dia, tapi jangan mencecar dan menghina kelemahannya, anak akan merasa ditolak oleh orang tua yang justru seolah-olah melecehkan kelemahannya. Mungkin dalam hal ini, Ibu Esther, juga bisa memberi masukan ya, apa yang bisa orang tua lakukan dalam hal menerima kelemahan anak yang lebih kecil?
ET : Yang pasti orang tua harus bisa melihat dari sisi anak. Saya jadi teringat pada sebuah ilustrasi tentang seorang anak yang mengatakan dia sedang menggambar mama, tapi ketika dilihat yang trlukis dalam gambar adalah kaki yang panjang dengan rok saja.
Lalu orang yang lain memprotesnya, kamu bilang menggambar mama ini cuma kakinya, lalu dia katakan memang hanya segitu yang dia lihat. Memang jarak pandangannya hanya segitu, jadi itulah yang dia gambar. Kita sebagai orang tua memang perlu tahu bahwa memang cara dia melihat hanya seperti itu. Jadi untuk bisa melihat kelemahan, kita juga perlu lihat juga kelemahan itu apakah memang sungguh-sungguh kelemahan si anak dalam arti memang dia belum bisa atau kelemahan dalam arti orang tua yang berambisi, anak saya untuk melakukan ini tetapi kenapa belum bisa begitu.
GS : Memang untuk anak-anak saya rasa yang penting itu adalah peragaan dari tindakan kita yang mereka bisa terima. Jadi kalau kita cuma bicara itu rasanya akan sulit mereka itu menjadi sahabat kita, karena persahabatan adalah sesuatu yang abstrak sekali Pak Paul, tapi tindakan-tindakan nyata apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?
PG : Yang bisa dilakukan orang tua adalah kita ini bersama dia menikmati kesukaannya. Kadangkala orang tua merasa canggung untuk bermain bersama dengan anak dan menikmati kesukaan anak, tapi unuk menjadi sahabat anak kita harus belajar menikmati kesukaannya.
Sebagai contoh, kalau misalkan setiap kali anak kita mendengar lagu-lagu modern yang dinyanyikan oleh misalnya Backstreet boys atau Bon Jovi atau yang sekarang lagi populer adalah Westlife, kita berkata lagu macam apa ini, kita marahi dia, nah sulit bagi anak merasa bahwa kita ini sahabatnya. Jadi saya kira orang tua tidak begitu memahami hal ini, sering orang tua berkata saya ingin menjadi sahabat anak saya, sering mengeluhkan kenapa anak-anak tidak mau dekat dengan saya, tidak mau terbuka cerita apa adanya kepada saya. Tapi di pihak yang lain orang tua tidak membangun jembatan, malah membakar jembatan-jembatan itu dengan mencela-cela, memarah-marahi misalnya selera si anak. Nah saya kira kita perlu menikmatinya bersama dia, kita bisa berkata lagu ini nadanya enak atau kata-katanya bagus, sehingga waktu satu kali kita mendengar lagunya yang kurang bagus dan kita berkomentar si anak bisa menerima. Sebaliknya kalau semua lagunya kita cela kebetulan ada yang kurang bagus dan kita akhirnya mau mengoreksinya, dia juga terlanjur membangun persepsi bahwa orang tuanya memang tidak suka pada semua lagu saya, dan dia pasti tidak akan lagi mengindahkan koreksi kita. Nah mungkin pada usia lebih kecil, Ibu Esther juga bisa memberikan masukan di mana orang tua juga bisa turut menikmati kesukaan anak.
ET : Saya sering mendengar banyak orang tua mengatakan, "aduh saya sudah tidak bisa main dengan anak saya karena memang menghabiskan waktu", tetapi mereka tidak menyadari bahwa sebenanya justru dengan berusaha bermain dengan anak umur segitu itulah mereka benar-benar menjadi sahabat dan selain menjadi sahabat sebenarnya itu membantu di dalam proses belajar mereka.
Jadi kadang-kadang orang tua enggan untuk berfantasi, main masak-masakan, main boneka, sementara memang buat anak-anak itulah teman-teman yang memang dunianya. Tapi kalau orang tua bisa meluangkan sedikit waktu untuk bisa bermain bersama mereka, ikut terjun di dalam fantasinya itu akan sangat berarti buat anak, juga sampai dalam tahap berikutnya.
GS : Saya rasa justru dalam pendekatan-pendekatan seperti itu, kita tahu kapan dia sangat membutuhkan kita, Pak Paul dan justru pada saat-saat dia membutuhkan kita ada di sana, persahabatan itu akan terjalin.
PG : Betul sekali Pak Gunawan jadi persahabatan tidak dibentuk pada usia misalkan anak itu sudah berusia 11 tahun, tidak. Persahabatan itu dibentuk melewati proses waktu dan harus dimulainya dai bawah.
Dari umur sedini mungkin dan waktu kita berhasil membangunnya tahap demi tahap, kita mulai memetik hasil atau buahnya nanti di kemudian hari pada waktu anak-anak remaja. Jadi orang tua yang berpikiran mau menjadi sahabat anak setelah anak itu berusia 16 tahun sering kali tidak mendapatkannya, karena memang sudah lewat waktunya. Satu hal Pak Gunawan, yang ingin saya tekankan untuk menjadi sahabat anak, kita harus memainkan 2 peran. Di satu pihak kita memang sahabat, seolah-olah selevel, di pihak yang lain kita jangan sampai melupakan status kita sebagai orang tua, jadi itupun kita harus pertahankan. Nah maksudnya apa, jadilah orang tua dalam pengertian yang pertama kita harus memberikan cinta kasih kepada anak, kita tidak boleh melupakan bahwa tugas kita adalah mengasihi mereka, memperhatikan dan mengkomunikasikan cinta kita kepada mereka. Kita juga jangan melupakan tugas kita mendisiplin mereka, kadang-kadang ada orang tua yang merasa, saya dekat dengan anak, bersahabat dengan anak sampai tidak mendisiplin anak sewaktu anak berbuat salah. Saya kira ini kesalahan, jadi penting orang tua berfungsi sebagai orang tua yang mendisiplin anak-anak. Kenyataannya adalah anak yang tidak menerima disiplin dari orang tua justru makin kurang respek pada orang tua, orang tua yang dihormati anak adalah orang tua yang mengasihi anak dan juga mendisiplin anak. Nah sudah tentu tadi Pak Gunawan sudah singgung, orang tua perlu menjadi contoh yang hidup, panutan yang baik, teladan yang bisa dicontoh oleh anak-anak. Kalau orang tua hanya bisa memberikan instruksi, tapi tidak bisa menyatakan kebenaran itu dalam kehidupannya, dia juga kehilangan wibawa dan akhirnya anak tidak bisa lagi menghormati mereka. Sewaktu anak tidak lagi menghormati orang tua, dia tidak bisa membuat orang tua sebagai sahabatnya. Anak-anak perlu menghormati orang tua baru bisa menjadikan orang tua itu sahabatnya. Saya mungkin bisa mendapatkan masukan dari Bu Esther tentang hal ini.
ET : Banyak orang tua suka mengeluh begini, "aduh anak saya itu keras kepala, kalau sudah melakukan kesalahan disuruh mengaku atau disuruh minta maaf itu susah sekali". Terus ketika dselidiki, ditanya, kita bicara lebih jauh, memang orang tua tidak pernah memberikan contoh seperti itu.
Kadang-kadang orang tua menganggap masa orang tua harus meminta maaf kepada anak, tapi sebenarnya itu adalah nilai yang begitu tinggi yang dapat diajarkan pada anak. Kita bisa berbuat salah dan perlu meminta maaf sekalipun orang tua kepada anak dan juga dalam hal yang tidak sebenarnya kadang-kadang. Kalau di kota besar seperti di Jakarta banyak orang yang menggunakan kalimat yang penting kwalitas daripada kwantitas, jadi walaupun jumlah pertemuan saya dengan anak sedikit yang penting mutunya. Tapi kalau kita mau melihat lebih jauh, itu suatu yang mustahil. Mana mungkin ada kwalitas waktu yang baik tanpa adanya jumlah waktu yang dihabiskan bersama dengan anak, terlebih kalau kita memang mau menunjukkan cinta kasih, disiplin dan contoh kehidupan itu tadi.
GS : Memang seperti Ibu Esther katakan, seperti dikatakan orang yang penting kwalitasnya bukan kwantitasnya. Tapi nyatanya orang yang berkata begitu justru memberi makanan anaknya cukup banyak, Pak Paul, tidak pernah cuma diberikan makanan pokok yang bergizi cuma satu sendok begitu, ternyata agak dualisme orang itu. Tetapi kalau kita betul-betul berpegang pada prinsip yang tadi Pak Paul dan Ibu Esther sudah katakan, ternyata tidak perlu orang tua itu merasa takut untuk dekat atau bahkan menjadi sahabat anaknya lalu dikurangajari oleh anaknya. Buktinya Tuhan Yesus sendiri tidak segan-segan berkata kepada muridNya: "Kamu adalah sahabatku, kamu bukan hamba tapi sahabat", itu sesuatu yang luar biasa, Pak Paul.
PG : Saya kira Tuhan Yesus melambangkan keakraban sekaligus wibawa. Keakraban, Dia dekat hidup bersama dengan muridNya. Wibawa karena dia tidak segan-segan menegur pada waktu murid-muridNya beruat hal yang salah.
Nah, selain dari Dia bisa menegur Dia juga hidup sesuai dengan teguran itu, sehingga Dia itu mewakili atau melambangkan integritasnya yang sempurna. Jadi orang tua yang bisa menegur, tetapi tidak hidup sesuai dengan tegurannya, dia justru akan kehilangan wibawa. Jadi sekali lagi kalau kita boleh simpulkan, orang tua yang menjadi sahabat anak adalah orang tua yang dekat dengan anak namun sekaligus juga bisa menegur dan mendisiplin anak serta hidup sesuai dengan tegurannya itu. Sebagai penutup Pak Gunawan, saya ingat ceritanya Dr. James Dobson, dia sangat menghormati ayahnya dan dia menganggap ayahnya adalah sahabatnya. Nah kenapa dia menganggap ayahnya sebagai sahabatnya, ayahnya itu berbuat banyak untuknya, ayahnya adalah penasihatnya buat dia, kalau ada masalah atau apa dia harus menelpon ayahnya dan bertukar pikiran. Jadi unsur orang tua berbuat untuk anak itu hal yang penting. Di zaman sekarang saya kira ini tantangan buat kita, karena orang tua sering kali mendelegasikan tugas kepada orang lain untuk mengurus anak. Sehingga waktu anak besar anak kehilangan memori ingatan kapan orang tua berbuat sesuatu untuknya, berbuat hal yang baik untuknya. Kapan dia bisa mengenang Ibu memasak buat saya, kapan dia bisa mengenang ayah mengantar saya untuk pergi ke sekolah atau yang lain-lainnya. Nah memori ini adalah memori yang akan membentuk perasaan-perasaan yang positif dari anak terhadap orang tua, sehingga dapat menjadikan orang tua mereka sebagai sahabat.
GS : Kalau kita sebagai orang tua tidak menghendaki anak kita bersahabat dengan orang yang tidak kita senangi sebenarnya peran orang tua besar sekali, Pak Paul untuk bisa menjadi sahabat buat mereka.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Ibu Esther Tjahja dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang menjadi sahabat buat anak. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.END_DATA
Ringkasan Isi:
Untuk mengawali agar orang tua bisa bersahabat dengan anak:
Sebagai orangtua harus terlebih dahulu mempunyai sikap yang benar terhadap anaknya. Siapa sih anak saya sesungguhnya, maksudnya apakah hanya sebatas pelanjut keturunan atau marga saja supaya tidak sampai hilang, atau lebih dari sekadar penyambung keturunan. Ulangan 11 : 18, 19, "Tetapi kamu harus menaruh perkataan-Ku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu. Kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Jadi di sini Tuhan meminta kita untuk mewariskan iman kita kepada anak, jadi anak adalah pewaris iman kita, itu adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang tua. Jangan sampai melihat anak hanya penyambung keturunan belaka dan juga penting supaya kita menyadari bahwa anak itu bukanlah beban.
Perlu sekali bagi orang tua untuk memasuki dunia anak. Dalam hal ini pertama-tama kita mesti pahami tahap perkembangan anak dulu dan pola pemikirannya. Dengan kita tahu dia usia berapa dia mampu berpikir seperti apa baru kita bisa masuk dan dengan tahu pola pemikirannya kita juga bisa menggunakan bahasa-bahasa yang memang dipahami oleh anak-anak seusianya. Matius 7 : 12, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi hukum taurat dan kitab para nabi." Jadi mengertilah anak-anak mempunyai perasaan-perasaan seperti kita meskipun situasinya berbeda dan komunikasikan pengertian kita itu kepada mereka.
Sebagai orang tua peran yang harus kita berikan kepada anak adalah:
Kita perlu menerima kelemahan anak kita sendiri. Artinya jangan kita itu melecehkannya karena kelemahannya, justru kalau kita melecehkannya dia tidak merasakan kita sahabatnya sebab kita pun tidak mau bersahabat dengan orang yang melecehkan kelemahan kita.
Kita bersama dia menikmati kesukaannya. Contoh kesukaan anak akan lagu-lagu modern. Hal lainnya lagi kita bisa bermain bersama anak, misalnya berfantasi, main masak-masakan, main boneka dsb.
Jadi persahabatan tidak dibentuk pada usia anak sudah berusia 11 tahun, persahabatan itu dibentuk melewati proses waktu dan harus dimulainya dari bawah. Dari umur sedini mungkin dan waktu kita berhasil membangunnya tahap demi tahap, kita mulai memetik hasil atau buahnya nanti di kemudian hari pada anak-anak remaja.
Untuk menjadi sahabat anak, kita mesti memainkan dua peran yaitu:
Di satu pihak kita memang sahabat, seolah-olah selevel
Di pihak lain kita jangan sampai melupakan status kita sebagai orang tua jadi itupun kita harus pertahankan.
Maksudnya apa? Jadilah orang tua dalam pengertian pertama, kita mesti memberikan cinta kasih kepada anak, kita tidak boleh melupakan bahwa tugas kita adalah mengasihi mereka, memperhatikan dan mendisiplin mereka. Kadang-kadang ada orang tua yang merasa saya dekat dengan anak, bersahabat dengan anak, tapi sampai tidak mendisiplin anak waktu anak berbuat salah. Saya kira ini kesalahan, jadi penting orang tua berfungsi sebagai orang tua yang mendisiplin anak-anak.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Setiap orangtua perlu membantu anak menggali asetnya sebenarnya keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan apa yang mereka miliki, apa yang bisa mereka kembangkan itulah yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi., beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti menarik dan bermanfaat. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang membantu anak yang cemburu dan Ibu Esther Tjahja akan menguraikan hal-hal yang penting dalam topik bahasan kali ini. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Ibu Esther, anak pasti mempunyai perasaan cemburu, iri dan sebagainya. Apakah ada hal-hal tertentu yang sering kali menyebabkan seorang anak bisa menjadi cemburu.
ET : Perasaan cemburu ini biasanya muncul karena adanya perasaan pada seorang anak bahwa dia tidak cukup baik atau tidak cukup dikasihi atau juga merasa tidak yakin apakah saya akan diterimaatau akan disayang atau bahkan yang mungkin paling intinya curiga.
Nanti kalau saya begini curiga tidak diterima atau ditolak oleh orang lain, jadi intinya merasa tidak aman seperti ini bisa membuat orang menjadi cemburu atau iri hati.
GS : Biasanya ini yang sering kali terjadi, rasa cemburu muncul dalam diri anak ketika seorang anak mendapatkan adik. Jadi ketika ada adik yang baru muncul, mahkluk yang mungil, dulunya setiap orang kalau datang ke rumah mungkin dia yang menjadi pusat perhatian, sekarang kalau ada tamu datang ke rumah, yang dicari adik kecilnya ini dan mendapat kado banyak. Sehingga ini akan membuat orang merasa jangan-jangan kalau begini terus saya tidak akan diterima begitu. Atau misalnya nanti ternyata si adik lebih lucu berarti saya tidak lagi selucu dulu, jadi akhirnya akan memicu rasa cemburu pada anak.
PG : Rasa cemburu di sini, Bu Esther, boleh kita katakan sebagai perasaan yang alamiah ya, sebab bukankah secara manusiawi kita ingin menjadi pusat perhatian dan kalau kita sudah menjadi pust perhatian, menjadi orang yang disayangi tiba-tiba harus membagi rasa sayang dengan adik kita, kita sedikit banyak tidak rela begitu.
ET : Apalagi kalau ternyata bukan hanya kemunculannya, mungkin muncul saja sudah menjadi ancaman, ternyata kemunculannya langsung wah....lebih hebat begitu, jelas akan menghasilkan cemburu.
PG : Dulu kita memanggil, Mama langsung datang, dulu kita berteriak Papa langsung datang sekarang kita panggil 4, 5 kali belum datang-datang. (ET: Sementara si adik sekali menangis.... langsng dicari) ya betul jadi reaksi itu memang diharapkan dalam pengertian wajar dan seyogyanya orang tua tidak harus terlalu kaget melihat reaksi si anak yang seperti itu.
Biasanya reaksi seperti apa itu, Bu Esther?
ET : Bisa macam-macam, kalau misalnya mula-mula mungkin bisa seperti rasa tidak suka dengan kehadiran kalau memang konteksnya dengan adik baru. Mungkin tidak suka dengan adiknya, tidak mau dkat-dekat, yang makin parah lagi adiknya mulai diganggu atau dilukai, disakiti, mungkin hal yang lain biasanya dengan hal-hal yang dulunya dia sudah biasa lakukan sendiri sekarang dia tidak mau melakukan atau tidak bisa melakukan lagi.
Dulu sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi sendiri, buang air sendiri, sekarang tidak mau, mungkin malah ngompol, tidur minta ditemani. Lalu juga karena, sebelum ini kita juga pernah membahas tentang anak yang marah, anak yang mengalami cemburu dan tidak ditanggapi dengan tepat oleh orang tua juga bisa menghasilkan anak yang marah kepada orang-orang di sekitarnya.
GS : Kalau cemburu seorang anak terhadap kakaknya biasanya karena apa? Tadi terhadap adiknya yang baru lahir, kalau dengan kakaknya biasanya karena apa?
ET : Kalau dengan kakak biasanya karena kesempatan-kesempatan yang lebih banyak dimiliki si kakak. Karena sudah lebih besar, lebih dipercaya, boleh melakukan ini itu sementara dia karena mash kecil biasanya orang tua akan lebih menahan ya, jangan dulu, biasanya itu akan menghasilkan kecemburuan.
Atau karena kakak sudah lebih besar tentunya juga pengalaman hidupnya lebih banyak, sehingga lebih mahir melakukan beberapa hal sementara dia belum bisa, itu juga bisa. Kalau dia tidak menerima keadaannya atau selalu dibandingkan bisa menjadi cemburu.
PG : Bisa atau tidak karena pujian-pujian yang diberikan orang tua kepada kakaknya bahwa dia bisa begini, dia bisa begitu, sedangkan si adik ini belum membuktikan dirinya apakah itu juga membuat si anak atau si adik itu juga cemburu kepada kakaknya ?
ET : Intinya setiap pembandingan buat kita orang dewasa juga tidak nyaman, kita dibandingkan dengan orang lain. Anak-anak sebenarnya juga sudah merasakan hal tersebut dibandingkan dengan siaa pun tidak akan suka.
Jadi ketika pembandingan itu terjadi, biasanya sudah bisa menjadi bibit rasa cemburu pada anak.
PG : Apakah mungkin juga begini Bu Esther, ada orang tua tanpa disadari menyenangi anak yang satu lebih daripada anak yang lainnya.
GS : Meng-anakemas-kan begitu, ya?
ET : Memang ada beberapa orang tua juga dengan terbuka, dengan jujur pernah mengakui memang di antara dua atau tiga anaknya, ada satu anak yang sejak lahir itu sudah lebih sayang, ada perasan yang lebih kuat kepada anak ini.
Jadi waktu anaknya menjadi lebih besar tetap terbawa, memang mereka sendiri mengatakan tidak tahu apa sebabnya tiba-tiba sudah begitu, rasanya lebih senang. Yang pasti dengan sistem atau cara berpikir seperti ini dari orang tua, kecenderungan-kecenderungan ini juga disadari atau tidak disadari oleh orang tua dapat dirasakan oleh anak.
GS : Dan makin anak itu menjadi lebih besar dia tidak lagi di dalam rumah, tetapi sudah mulai keluar rumah entah ke sekolah, entah bergaul itu juga menampakkan kadang-kadang rasa cemburunya terhadap teman-temannya yang lain, bisa seperti itu, Bu Esther?
ET : Ya bisa, misalnya menemukan bahwa orang lain lebih populer dari dia atau orang lain lebih bisa dari dia, itu juga bisa menghasilkan perasaan cemburu. Dan yang paling nyata biasanya kala anak sudah mulai keluar dari rumah, ia juga mulai bisa merasakan yang namanya kecemburuan sosial.
Mulai bisa membanding-bandingkan dulu mungkin di rumah sudah bisa menerima, tetapi ketika keluar dia melihat teman mempunyai mainan lebih baik, teman mempunyai sepatu/barang-barang yang lebih baik, yang lebih mahal sementara orang tuanya tidak bisa memberikan, itu juga bisa menimbulkan perasaan cemburu atau iri hati.
(2 ) GS : Dan bagaimana halnya dengan anak tunggal yang tidak mempunyai kakak, tidak mempunyai adik, dia sendiri tidak ada alasan sebenarnya untuk cemburu.
ET : Sama saja bahwa intinya secara natural dia ingin menjadi pusat perhatian, jadi ketika anak tunggal ini mempunyai saingan lain, bisa jadi saudara sepupu atau teman yang tampak lebih daridia juga bisa, walaupun tidak kepada kakak atau adik tapi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Biasanya ini juga yang terjadi, anak-anak tidak mau datang ke pesta ulang tahun temannya, karena temannya bisa dipestakan seperti itu namun dia tidak. Perasaan-perasaan seperti ini juga muncul, dia juga mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Atau ada yang mereka miliki yang saya tidak miliki, kesempatan apa yang mereka dapatkan saya tidak dapatkan.
(3 ) GS : Nah itu kalau terbawa terus sampai anak ini remaja bahkan pemuda atau dewasa akan sangat merugikan, baik buat si anak maupun lingkungannya. Nah kita sebagai orang tua apa seharusnya yang kita perbuat, Bu Esther ?
ET : Ya, pertama mungkin orang tua itu sendiri, seperti yang Pak Paul katakan tadi tentang kemungkinan orang tua untuk lebih sayang kepada satu anak dibanding anak yang lain, tentunya kita sbagai orang tua mesti melihat dahulu benar atau tidak, ada atau tidak pada diri kita.
Kalau memang benar ada, kepada yang mana, rasanya mau tidak mau orang tua harus sadar dulu, kenali dulu dan mengakui kalau memang ada. Lalu kalau misalnya ada seperti itu, apa kita rela untuk membiarkan dampaknya nanti pada anak-anak, kalau kita ingat contoh di Alkitab terlepas dari campur tangan Allah yaitu kejadiannya Ishak dengan Ribka terhadap anak-anaknya Esau dan Yakub, mungkin juga ada favoritisme pada orang tua yang akhirnya membuat mereka sepertinya ingin bersaing, Yakub ingin mendapatkan haknya Ishak. Jadi kecemburuan itu juga terjadi karena dari orang tua sudah memilih anak mana yang lebih dikasihi.
PG : Jadi waktu anak menuduh orang tua dalam kemarahan: "Papa lebih sayang kepada adik, mama lebih sayang kepada dia daripada saya." Nah daripada orang tua memberikan jawaban klasik: "Tidak,kami semua sayang dengan kalian.
Secara rata tidak ada yang kami bedakan," mungkin yang Ibu Esther katakan adalah ada baiknya orang tua memeriksa diri juga. Sebab mungkin yang mereka lihat tanpa disadari oleh orang tua itu adalah benar.
ET : Karena anak sudah bisa membaca sendiri walaupun kita mati-matian mengatakan seperti itu dan juga nyatanya tidak pernah memperbaiki sikap itu, anak bisa merasakan dan biasanya akan lebihsakit hati lagi.
Dan ini sering kali yang lebih berat terjadi, kalau pada keluarga dengan dua anak misalnya, satu disayangi Papa, satu disayangi Mama rasanya masih tidak apa-apa, kamu anak Papa, saya anak Mama. Tapi biasanya kalau sudah lebih dari dua yang satu biasanya mempertanyakan saya disayang siapa, itu biasanya lebih menyakitkan buat si anak.
GS : Dan itu bisa menimbulkan kebencian di antara anggota keluarga yang lain, seperti Yusuf dan saudara-saudaranya, karena Yusuf itu dijadikan anak emas ayahnya. Tentu kita sebagai orang tua mencoba belajar untuk mengasihi mereka sama rata supaya sama-sama tidak timbul masalah ini, tetapi seperti yang Ibu Esther tadi juga sudah singgung bahwa sejak kecilpun kadang-kadang kita merasa lebih dekat dengan si anak sulung daripada si anak bungsu, nah ini bagaimana mengatasinya, Bu Esther ?
ET : Ya kalau misalnya memang hal itu sudah diakui oleh orang tua, kalau memang mempunyai perasaan-perasaan seperti itu. Ya kadang-kadang tidak bisa disalahkan juga itu natural terjadi begit saja.
Cuma pertanyaan berikutnya adalah apakah dia memang rela kalau nanti anak-anaknya yang kurang dikasihi ini akan merasa cemburu akhirnya malah seperti kisah Yusuf, dicemburui oleh saudara-saudaranya, akhirnya hubungan mereka tidak baik lagi. Jadi tentunya orang tua perlu belajar, memang di dalam hal ini untuk langsung mungkin juga susah tapi belajar untuk bisa memperlakukan sama, belajar untuk menerima keunikan setiap anak. Saya pernah membaca cerita tentang orang tua yang pada dasarnya kurang mengasihi anak, jadi setiap kesalahannya, setiap kelemahannya itu akan tampak lebih menonjol. Misalnya karena secara fisik dia kurang menyenangkan, hidungnya mungkin tidak seperti hidung si Mama karena hidungnya pesek, lalu mata, jadi penampilan fisiknya tidak seperti yang diharapkan oleh orang tua, jadi itu yang terus menonjol. Tapi kelebihan-kelebihan yang lainnya tidak pernah diakui, tidak pernah dipuji, selalu yang dilihat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak itu. Tentunya kalau sudah seperti itu bawaannya ke sana, mana lebih disayang, mana kurang disayang, yang lebih disayang setiap kelebihan akan diangkat, yang kurang disayang setiap kelebihan diabaikan. Jadi kalau memang mau menyamaratakan ya berusaha untuk melihat kelebihan, juga keunikan pada setiap anak.
PG : Ada orang tua yang berkata begini, Bu Esther, kami hanya mau memotivasi anak kami, jadi caranya adalah misalnya si orang tua ini menonjolkan kelebihannya si sulung dengan harapan supayasi bungsu lebih termotivasi.
Jadi apakah itu cara yang baik, Bu Esther ?
ET : Ya kalau kebetulan memang sisi kekuatannya sama ya, maksudnya memang orang tua jelas-jelas menyadari dalam hal tertentu sama-sama punya bakat, cuma si kakak lebih rajin latihan, si adikkurang rajin, mungkin itu maksudnya pembandingan yang nyata.
"Ayo ... kamu rajin latihan". Yang fatal akibatnya kalau ternyata berbeda, memang kelebihan yang dimiliki si kakak ini tidak dimiliki oleh si adik. Dia sampai kapanpun tidak akan bisa mengejar kemampuan kakak, ini akan mengakibatkan anak selain cemburu juga frustrasi dan akhirnya penghargaan terhadap dirinya juga kurang karena dia akan selalu merasa kurang, padahal belum tentu. Bisa jadi di aspek lain dia mempunyai banyak kelebihan yang si kakak tidak miliki, tapi juga tidak dilihat oleh orang tua. Karena kelebihan yang dimiliki si kakak itu lebih menghasilkan satu kebanggaan buat orang tua.
PG : Dan kadang masalahnya adalah orang tua yang tidak mau menerima hal itu, jadi orang tua tetap mengharapkan bahwa anaknya yang lain-lain juga akan mewarisi yang bagus itu, yang dimiliki oeh si kakak.
Misalnya si kakak bisa main musik, nah orang tua mengharapkan adiknya pun bisa main musik seperti kakaknya, tidak mau menerima fakta bahwa bakat musik tidaklah dimiliki oleh setiap anak.
ET : Jadi kalaupun misalnya orang tua nekat ya, nekat dalam arti tetap memaksa semua anaknya belajar musik ya nanti sampai akhirnya tetap saja orang tua akan frustrasi, sama-sama frustrasi krena tidak pernah ketemu dengan yang menjadi harapannya.
GS : Nah kita semua tentu menghindari kondisi seperti itu sampai terjadi di tengah-tengah keluarga kita Bu Esther, tapi faktanya biasanya anak-anak yang bisa mengerti kita, anak-anak yang bisa mengambil hati kita entah membantu di rumah dan sebagainya itu mau tidak mau menyebabkan kita terbawa atau lebih memprioritaskan dia, lebih memperhatikan dia. Tanpa kita sengaja menimbulkan kecemburuan pada anak yang lain, hanya karena kedekatan saja. Mungkin yang bungsu atau yang sulung itu lebih dekat dengan kita.
ET : Biasanya juga ada orang tua yang mempunyai alasan-alasan khusus misalnya karena anak yang lebih dikasihi itu mungkin secara fisik lebih lemah, dari kecil sakit-sakitan. Punya kekurangankekurangan tertentu, yang akhirnya kasih sayangnya lebih dicurahkan, itu juga biasanya mengakibatkan kecemburuan bagi saudara yang lainnya.
GS : Ya tapi kalau sakit mungkin, yang saya tahu itu dalam satu keluarga anak yang terakhir, anak yang bungsu itu sering sakit dan mendapatkan perhatian khusus. Tapi kakak-kakaknya bisa menerima itu, kakak-kakaknya masih bisa menerima, melihat memang si bungsu ini sering sakit dan badannya kurus dan sebagainya, kakak-kakaknya masih bisa mengerti.
ET : Ya biasanya penerimaan itu akan lebih mudah ditunjukkan oleh saudara-saudara yang lain ketika memang kebutuhan mereka pun tercukupi, terpenuhi. Kalau sampai sama sekali tidak, benar-benr hanya diasuh oleh pembantu, biasanya sekalipun mereka secara rasio mengatakan bisa menerima, maksudnya secara pikirannya mereka bisa mengatakan ya, memang Papa Mama lebih sayang karena dia sakit.
Mungkin mereka bisa berbicara seperti itu tetapi rasa kehilangan, rasa cemburu itu pasti sebenarnya ada di dalam hati mereka, cuma mungkin tidak setiap anak bisa mengemukakan hal itu.
GS : Kalau kita tahu o.... anak kita ini sedang cemburu dengan saudaranya, apa yang bisa kita lakukan terhadap anak ini ?
ET : Kalau memang dia cemburu dalam hal kemampuan ya anak bisa dibantu dengan mencari apa kemampuannya sendiri. Jadi kembali lagi kepada keunikan setiap anak, "OK! mungkin si kakak unggul, bik dalam hal ini, kamu mungkin tidak baik tetapi ayo kita cari mana kelebihan kamu mungkin dalam bidang yang lain."
Kalau memang anak dibantu seperti ini anak juga akan lebih percaya diri kalau memang kita tahu sisi-sisi di mana dia kurang dan kita bantu di situ. Anak yang kalah populer juga kita ajarkan dia sebenarnya bagaimana cara berkomunikasi menjalin hubungan dengan orang lain yang baik, supaya kamu lebih diterima. Dan juga tidak harus anak ini sepopuler kakaknya, karena kadang-kadang kalau anak-anak yang introvert seperti itu ya memang tidak selalu menonjol di kalangan orang-orang, tapi tidak berarti dia kalah baik dibandingkan dengan si kakak.
GS : Memang ada yang mengatakan, anak yang cemburu itu diekspresikan dengan kata-kata langsung kepada ibunya waktu itu, lalu ibunya mengatakan makanya kamu jadilah seperti itu. Lalu anak itu terdiam tidak bisa menjawab, nah apakah itu menyelesaikan masalah atau menambah masalah sebenarnya?
ET : Itu diam sambil hatinya pasti luka, karena kembali lagi dibandingkan.
GS : Tapi yang memicu itu dia sendiri, dia mengemukakan itu kepada orang tuanya.
ET : Karena memang ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama bisa jadi karena kecemburuan yang tidak riil dalam arti sama, kita mempunyai sifat dosa yang sebenarnya sama yaitu iri, "bukakah rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri."
Lalu kalau memang seperti itu tidak perlu selalu ditanggapi, dalam arti dia perlu belajar bahwa ada sifat-sifat dosa, iri hati ini perlu diatasi. Tetapi kalau memang pernyataan itu dalam arti setelah orang tua mengevaluasi diri memang ada kekurangan waktu kita berbicara, sebenarnya 'menembak' anak juga, dia sudah mengemukakan yang sebenarnya, tetapi kita katakan "kamu jangan protes", padahal sebenarnya ada kebenaran dibalik protesnya si anak.
GS : Ya tapi tadi seperti yang Pak Paul katakan sebenarnya ibu ini di dalam keterbatasannya ingin memacu anak supaya lebih termotivasi lagi. Cuma mungkin salah pengekspresiannya atau bagaimana?
ET : Jadi memang ada baiknya setiap orang tua membantu anak menggali asetnya mereka, sebenarnya apa yang mereka miliki, keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan mereka, apa yang bisa mereka kebangkan yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain karena dia sendiri juga mempunyai, orang lain tidak mempunyai; orang lain punya dia tidak punya.
Jadi artinya setiap orang bertumbuh di dalam keunikannya masing-masing.
PG : Misalkan Ibu Esther, ada seorang ibu datang kepada Ibu Esther menceritakan mengenai dua anaknya, dua-dua wanita. Si kakak misalkan sangat cantik, langsing, luar biasa sosialnya, populersekali di mana-mana dikenal, anak laki datang ke rumahnya menelepon dia dan sebagainya.
Si adik sejak kecil gemuk, lari susah, olah raga tidak pernah bisa baik, akhirnya di sekolah dikenal sebagai si gemuk, anak laki tidak ada yang menelepon dia, hanya berteman dengan satu, dua orang saja sehingga si anak kecil ini selalu merasa sangat terpojok dengan kakaknya yang begitu populer. Apa yang bisa orang tua lakukan melihat kasus seperti ini, Bu Esther ?
ET : Memang secara tampak luar fisiknya dan jumlah teman-teman yang dimiliki jelas-jelas sepertinya si adik ini kalah, banyak sekali ketertinggalannya, tapi sekali lagi saya tetap meyakini trlepas dari masalah fisiknya sang adik ini, pasti ada sisi-sisi lain yang menjadi aset dirinya yang masih bisa kita bantu untuk ditemukan.
Walaupun mungkin secara fisik dia gemuk, tapi pasti ada kelebihannya yang lain, misalnya mungkin bukan selalu dalam hal yang menonjol dengan teman-teman mungkin lebih di belakang layar. Misalnya dia mempunyai kelebihan dalam menulis atau dia mempunyai kelebihan dalam keterampilan-keterampilan yang lainnya yang perlu kita bantu untuk mengenalinya supaya dia tidak selalu bertanding dengan si kakak dalam hal itu, sudah jelas si adik kita ajak untuk melihat dirinya yang lain yang memang itu adalah dirinya.
PG : Selain daripada menemukan aset, apakah orang tua juga perlu misalnya mendorong si adik untuk mengikuti program diet. Kalau kamu mau ya kamu harus diet seperti kakakmu, jangan makan terllu banyak dan sebagainya.
Apakah orang tua seharusnyalah memberikan kata-kata seperti itu kepada si anak yang sedang bermasalah dengan kegemukannya ini?
ET : Susah juga ya, karena kalau selama perkataan: kamu mau seperti si kakak, artinya kita masih terus (GS: Membandingkan) ya, masih di dalam arena lomba, sepertinya dilombakan siapa yang meang, siapa yang kalah.
Tapi kalau orang tua mendorong anak untuk diet dalam arti demi kebaikanmu sendiri, ya saya setuju tapi kalau mendorong untuk diet supaya menyamai si kakak, kembali ke pembandingan itu lagi dan ya kalau berhasil, kalau tidak berhasil dia tidak lagi (GS: membuat dia kurang percaya diri lagi), tidak berhasil dalam upaya menemukan dirinya.
(4 ) GS : Nah apakah rasa cemburu ini selalu negatif atau bisa berdampak positif, Bu Esther ?
ET : Pada anak-anak tertentu, biasanya orang mengatakan itu sindrom anak kedua, anak kedua yang cemburu dengan keberhasilan si kakak lalu dia berusaha untuk juga menyamai dalam arti memang da mempunyai kemampuan itu, itu biasanya bisa menjadi sebuah pemicu semangat buat menemukan kelebihan-kelebihannya.
Tapi kalau memang tidak bisa, ya rasanya kebanyakan cemburu memang tetap hal yang negatif.
GS : Tapi justru di situ peran orangtua untuk meyakinkan anak yang kedua ini bahwa memang orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, seperti tadi yang Bu Esther katakan.
ET : Ya kalau memang ternyata tidak bisa dalam banyak hal, kadang ada anak-anak yang memang punya kemiripan dalam bidang-bidang tertentu, ada kesamaan dengan adanya rasa itu membuat mereka brsaing secara sehat, sama-sama bertumbuh sama-sama belajar, itu juga ada cemburu tetapi bisa ditambah dengan penerimaan tentunya ya, membuat dia bisa memicu dirinya juga.
Tapi kalau ada rasa cemburu dan dibanding-bandingkan lagi, biasanya semakin terpuruk.
GS : Jadi sebenarnya peran orangtua di sini adalah mengawasi sampai sejauh mana kecemburuan itu bisa berdampak positif dalam diri anak-anak mereka. Karena menghilangkan sama sekali kecemburuan itu saya rasa tidak mungkin, pasti ada rasa kecemburuan itu. Jadi kita mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin seperti itu maka yang kita lakukan adalah mengelolanya saja, mendampingi mereka supaya jangan termakan sendiri, kecemburuan yang merugikan dirinya sendiri.
ET : Ya akhirnya membuat dia merasa cemburu tapi tidak melakukan apa-apa, ya.
GS : Malah merugikan. Nah Pak Paul, dalam mengatasi atau mengelola kecemburuan pada diri anak ini apakah yang firmanTuhan katakan kepada kita...?
PG : Saya akan bacakan dari Amsal 15:13 "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." Saya kira intinya adalah kita harus mempunyai hti yang gembira baru bisa menjadi anak atau menjadi orang yang merdeka dan bebas.
Nah, anak-anak juga harus mempunyai hati yang gembira, nah untuk mempunyai hati yang gembira anak-anak mesti menyenangi dirinya kalau tidak menyenangi dirinya tidak mungkin dia mempunyai hati yang gembira. Nah, bagaimanakah anak memulai menyenangi dirinya, tidak ada jalan lain yang pertama adalah orangtualah yang perlu untuk menyenangi anak itu, mengkomunikasikan rasa sayang itu kepada si anak. Anak yang disayangi akan belajar mulai menyayangi dirinya, anak yang disenangi orangtua akan belajar juga untuk menyenangi dirinya, jadi itu awalnya.
GS : Ya di awal Alkitab itu, ada kisahnya Kain dan Habel, dikatakan Kain itu cemburu terhadap Habel, sebenarnya apa yang dicemburui Kain terhadap Habel itu Pak...?
PG : Yang dicemburui adalah Habel memberikan yang terbaik kepada Tuhan sedangkan Kain memberikan yang sembarangan kepada Tuhan. Dan kemudian Tuhan dengan jelas menerima persembahan Habel dantidak menerima persembahan Kain.
Jadi yang menjadikan Kain marah adalah kenapa Tuhan tidak menerima persembahannya. Dia gagal melihat apa andilnya, apa tindakannya yang membuat Tuhan menolak persembahannya. Jadi memang setiap anak atau setiap orang perlu berkaca kembali untuk melihat apa andilnya sehingga perlakuan orang terhadapnya seperti itu, demikian juga anak-anak kita tidak bisa menciptakan rumah tangga yang bebas dari perbandingan 100% karena di luar sana juga akan ada perbandingan. Yang penting memang di rumah itu kita juga melimpahi anak-anak dengan cinta kasih dan penerimaan.
GS : Saya rasa itu sesuatu yang sangat penting buat kita semua dan demikianlah tadi saudara-saudara pendengar Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Esther Tjahja dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak yang cemburu. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Perasaan cemburu biasanya muncul dari adanya perasaan pada seorang anak bahwa dia tidak cukup baik, tidak cukup dikasihi, atau juga merasa tidak yakin apakah dia akan diterima atau akan disayang.
Pada umumnya rasa cemburu yang cukup kuat seringkali terjadi pada seorang anak ketika ia mendapatkan adik. Jadi ketika si adik baru muncul, anak ini merasa ia yang dulunya menjadi pusat perhatian setiap orang kalau datang ke rumah sekarang tidak lagi diperhatikan.
Reaksi anak yang cemburu bisa macam-macam:
Kalau konteksnya dengan adik baru, awal-awalnya mungkin bisa muncul rasa tidak suka dengan kehadiran si adik. Karena tidak suka dengan adiknya, tidak mau dekat-dekat. Yang makin parah adalah kemungkinan kalau nanti adiknya ini mulai diisengin, disakiti atau dilukai.
Atau mungkin hal-hal yang dulunya dan biasanya sudah biasa dia lakukan sendiri sekarang jadinya tidak mau dilakukan atau tidak bisa lakukan lagi. Dulu sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi sendiri, buang air sendiri, sekarang tidak mau, mungkin tidur minta ditemani atau malah ngompol.
Anak yang mengalami cemburu dan tidak ditanggapi dengan tepat oleh orang tua juga bisa menjadi anak yang marah kepada orang-orang di sekitarnya.
Cemburu seorang anak terhadap kakaknya bisa juga terjadi, biasanya ini disebabkan karena kakak lebih memiliki kesempatan-kesempatan tertentu. Karena sudah lebih besar juga lebih dipercaya boleh melakukan ini itu, tapi dia karena masih kecil biasanya orang tua akan lebih menahan, jangan dulu, akan menghasilkan kecemburuan. Banyaknya pujian-pujian yang diberikan orang tua kepada kakaknya itu juga bisa membuat si adik cemburu kepada kakaknya.
Intinya, setiap pembandingan bisa membuat anak cemburu. Kita orang dewasa juga merasa tidak nyaman kalau kita dibandingkan dengan orang lain. Anak-anak sebenarnya juga sudah merasakan hal tersebut dibandingkan dengan siapapun tidak akan suka. Jadi setiap orang tua harus sadar bahwa ketika pembandingan itu terjadi, biasanya sudah bisa jadi bibit rasa cemburu pada anak.
Sebagai orang tua kita seharusnya sadar dan berusaha, jangan sampai kita bersikap lebih sayang kepada satu anak dibanding anak yang lain. Kita sebagai orang tua harus introspeksi diri, apakah sikap menganakemaskan itu ada pada diri kita. kalau memang benar ada, orang tua harus sadar mengenali dan mengakuinya.
Kalau kita tahu anak ini sedang cemburu dengan saudaranya dalam hal kemampuan, kita bisa bantu dengan mencari kemampuan dirinya. Jadi kembali lagi ke keunikan setiap anak.
Jadi memang ada baiknya setiap orang tua membantu anak menggali asetnya sebenarnya keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan apa yang mereka miliki, apa yang bisa mereka kembangkan itulah yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain.
Amsal 15:13
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."
Saya kira intinya adalah setiap orang harus mempunyai hati yang gembira, baru bisa menjadi anak atau menjadi orang yang merdeka dan bebas. Anak-anak juga harus mempunyai hati yang gembira, dan untuk mempunyai hati yang gembira anak-anak mesti menyenangi dirinya. Agar anak memulai menyenangi dirinya, tidak ada jalan lain yang pertama adalah orang tualah yang perlu untuk menyenangi anak itu, mengkomunikasikan rasa sayang itu kepada si anak. Anak yang disayangi akan belajar mulai menyayangi dirinya, anak yang disenangi orang tua akan belajar juga untuk menyenangi dirinya, jadi itu awalnya.