Pdt. Dr. Paul Gunadi
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 10:18am.
Abstrak:
Kita menyadari bahwa doa adalah bagian penting dalam kehidupan rohani namun tidak selalu kita setia melakukannya. Ada saja halangan untuk berdoa dan kerinduan itu tidak selalu muncul. Yang menyebabkan hal itu terjadi ialah karena kita orang berdosa, kita merupakan target serangan iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan, kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik, seringkali kita kehilangan keseimbangan hidup dan kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kenapa Susah Berdoa ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pada kesempatan yang lalu, Pak Paul mengatakan bahwa doa itu adalah suatu hak, suatu kehormatan tapi nyatanya ada banyak orang yang susah sekali untuk berdoa, dia tidak tahu mau bicara apa dan susah untuk berdisiplin pada jam-jam doanya. Ini sebenarnya bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang kita harus memunyai relasi terlebih dahulu dengan Tuhan, karena doa itu sebuah percakapan dan percakapan hanya dimungkinkan kalau ada relasi di antara orang yang bercakap-cakap, maka kalau kita mau bisa berdoa kita mesti memunyai relasi. Artinya apa? Kita mesti sungguh-sungguh percaya pada Tuhan kita Yesus Kristus. Kita percaya Dia menyayangi kita, Dia adalah Tuhan yang telah mengorbankan nyawa-Nya untuk kita. Kita mesti percaya Dia ingin mendengarkan doa-doa kita dan Dia ingin membimbing kita. Dalam konteks relasi seperti itulah kita berdoa. Kalau sampai seseorang berkata, "Saya tidak tahu harus berdoa apa?" Mulailah dengan berterima kasih karena memang kita berutang terlalu banyak kepada Tuhan. Jadi ingatlah hal-hal yang telah kita miliki, telah kita terima, telah kita nikmati, jadikanlah sebagai bahan untuk mengatakan kepada Tuhan, "Terima kasih atas ini, atas itu". Jadi mulai dengan mengucapkan terima kasih.
GS : Lazimnya orang berdoa justru minta, jika dibandingkan lebih banyak meminta dari pada berterima kasihnya Pak Paul.
PG : Saya mengerti sudah tentu ada waktu kita meminta dan Tuhan meminta kita membawa petisi-petisi kepada-Nya, syafaat kita kepada-Nya. Namun karena ini sebuah relasi, jangan hanya datang kepada Tuhan membawa permintaan, namun kita juga mesti datang kepada Tuhan dengan rasa syukur, mengucapkan terima kasih kita kepada-Nya atas segala yang telah Dia lakukan dan berikan kepada kita.
GS : Tapi itu pun masih banyak hambatan yang kita hadapi, Pak Paul. Menurut pengalaman Pak Paul hal-hal apa yang seringkali menghambat kita dalam berdoa ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang pertama adalah mengapa kita sulit berdoa karena kita orang berdosa. Maksud saya begini, oleh karena kita orang berdosa secara alamiah kita tidak tertarik untuk berdoa. Kita mesti camkan dan menerima fakta ini, jadi sekali lagi karena kita orang berdosa secara alamiah kita tidak tertarik untuk berdoa. Kita jauh lebih tertarik melakukan hal-hal lain dan melakukan hal-hal yang bermuatan dosa daripada berdoa. Kondisi ini terlihat jelas sekali tatkala kita tengah hidup dalam dosa, bukankah tatkala kita sedang hidup dalam dosa kita makin sukar berdoa? Dengan kata lain kita mesti menyadari bahwa dosa dan doa itu sangat berlawanan. Dimana ada dosa, doa hilang. Sebaliknya dimana ada doa, dosa pun lenyap. Itu sebabnya kita mesti memelihara kehidupan yang suci di hadapan Tuhan. Hidup yang suci makin mendorong kita ingin bersekutu dengan Tuhan dan makin membuat kita menikmati kehadiran-Nya, sebaliknya kalau kita hidup dalam dosa kita tidak akan mau hidup dekat Tuhan berdoa kepada-Nya, karena apa? Kita tidak mau berhadapan dengan Dia yang adalah suci, tapi sebaliknya kalau kita tahu kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, kita berusaha hidup kudus di hadapan-Nya, kita akan menikmati kebersamaan dengan Dia.
GS : Tetapi kita setiap hari hidup dalam dosa, Pak Paul, tetap melakukan dosa walaupun kita sudah berusaha tidak melakukan dosa. Kita nyatanya melakukan dosa lagi. Di dalam hal ini apakah di dalam kita berdoa kita perlu mengakui dosa-dosa kita terlebih dahulu ?
PG : Sangat-sangat perlu, Pak Gunawan. Jadi kalau kita berada dalam dosa pertama-tama kita mesti akui dulu. Akui artinya apa? Menyebut perbuatan yang berdosa itu di hadapan Tuhan, apa pun itu yang telah kita lakukan, yang kita tahu itu adalah dosa kita mesti menyebutnya di hadapan Tuhan. Itulah makna dari pengakuan.
GS : Tapi kalau orang karena berdosa lalu menghindar dari Tuhan, bukankah masalahnya tidak akan terselesaikan ?
PG : Inilah yang selalu ditiupkan oleh iblis, Pak Gunawan. Karena ia tidak mau kita datang kepada Tuhan, maka ia akan terus berkata kepada kita, "Kamu orang berdosa, kamu tidak layak datang kepada Tuhan". Di satu pihak kita juga mesti menjadi orang yang tahu diri, kalau kita berdosa janganlah kita seenaknya meremehkan kesucian Tuhan, datang ke hadirat Tuhan seolah-olah itu tidak ada apa-apa. Namun Itu juga salah kalau karena kita berdosa kita berkata, kita tidak mau datang lagi kepada Tuhan, sebab tujuannya bukanlah supaya kita tidak datang lagi kepada Tuhan. Tujuannya supaya kita menghilangkan dosa itu dari hidup kita dan datang kepada Tuhan. Jadi kita mesti berhati-hati dengan dorongan atau bisikan-bisikan iblis yang berniat untuk menjauhkan kita dari Tuhan.
GS : Bukankah hal itu yang terjadi dengan Adam dan Hawa ketika mereka berdosa mereka langsung menyembunyikan diri dari hadapan Tuhan, Pak Paul ?
PG : Betul dan mereka makin menjauhkan diri dan makin jauh dari Tuhan, tapi yang kita lihat dalam kasus Adam dan Hawa, Tuhan mencari mereka. Inilah yang terjadi ketika kita mau berlari, bersembunyi, Tuhan mencari kita. Tuhan tidak membiarkan kita lari dan makin hari makin tersesat. Ia akan mencari kita, Ia akan berbisik, Ia akan menyuruh kita kembali kepada-Nya. Jadi kalau kita telah berdosa, jangan lari dari Tuhan, justru datanglah kepada Dia.
GS : Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita walaupun kita telah berdosa untuk tidak datang kepada Tuhan karena Tuhan yang mencari kita, Pak Paul ?
PG : Saya setuju, jadi memang begitu, Pak Gunawan.
GS : Hambatan yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Penyebab kedua mengapa kita sulit berdoa, karena kita merupakan target serangan iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan. Kita mesti ingat tidak ada yang lebih dirindukan iblis selain melihat kita jauh dari Tuhan dan kasih-Nya. Iblis tahu bahwa di dalam doa kita berada dalam hadirat Allah secara nyata dan inilah yang tidak diinginkannya. Itu sebabnya tatkala kita ingin berdoa ia selalu menghadirkan kepentingan lain yang mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Ia berusaha meyakinkan kita bahwa doa dapat menunggu sedangkan kepentingan lain tidak dapat menunggu. Jadi dengan kata lain, ia mencoba membuat kita terkecoh sehingga akhirnya luput berdoa. Hari ini tidak berdoa, besok tidak berdoa lama-lama makin hari makin jarang kita berdoa. Jadi waktu kita terseret arus kita akhirnya jatuh ke tangan atau pengaruh iblis.
GS : Di situ memang dibutuhkan disiplin di mana kita perlu menetapkan suatu jam doa dan kita mentaati jam doa itu, Pak Paul.
PG : Saya setuju Pak Gunawan, jadi dengan cara itulah kita bisa mengingat bahwa inilah waktunya kita datang bersekutu dengan Tuhan. Jadi kita mesti menyediakan waktu tersebut.
GS : Karena seringkali justru pada saat kita mau berdoa, kita mau membaca kitab Suci, ada saja kesibukan yang datang dengan tiba-tiba, Pak Paul.
PG : Seringkali begitu, sudah tentu akan ada hal-hal yang perlu kita lakukan dengan segera, saya tidak menutup pintu itu namun kalau dipikir-pikir sebetulnya banyak hal yang seharusnya tidak kita lakukan saat itu juga, bisa menunggu dan kita bisa duduk dan berdoa serta membaca Firman Tuhan, tapi kita mesti mengakui Pak Gunawan, karena kita ini manusia berdosa dan ada serangan-serangan dari iblis maka untuk duduk atau untuk sujud berdoa, seringkali itu menjadi suatu pergumulan tersendiri, sedangkan kalau kita ingin nonton film, melihat televisi tidak ada pergumulan sama sekali. Tidak ada yang namanya bimbang, ragu, pusing dan kita langsung menyalakan, duduk, nonton, enak, tapi waktu mau berdoa rasanya ada saja yang menghalangi. Karena itu kita mesti menyadari selain dari kodrat kita yang berdosa, memang ada interes dari iblis untuk selalu menjauhkan kita dari Tuhan.
GS : Itulah yang membuktikan mengapa para murid ketika diminta oleh Tuhan Yesus untuk mendoakan Tuhan Yesus di Taman Getsemani justru tertidur, Pak Paul.
PG : Betul sekali di situ kita melihat meskipun mereka memunyai keinginan untuk berdoa waktu Tuhan memintanya tapi akhirnya mereka tidak mendisiplinkan diri untuk duduk berdoa. Tuhan berkata dalam konteks itu bahwa "Roh memang penurut tapi daging lemah", maka akibatnya kita tidak berdoa.
GS : Mungkin lebih baik juga kita bisa berdoa bersama orang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan, entah itu suami, entah itu istri atau anak-anak kita, Pak Paul.
PG : Boleh saja Pak Gunawan, jadi ada waktu-waktu dimana kita berdoa bersama dengan keluarga kita atau dengan orang lain, namun ada juga waktu kita berdoa secara pribadi. Karena waktu kita berdoa secara pribadi kita benar-benar dapat mengekspresikan diri kita dengan bebas di hadapan Tuhan. Sekali lagi kita bukan datang kepada Tuhan yang beringasan, bukan. Kita datang kepada Tuhan yang penuh kasih, kita datang kepada Allah Bapa kita sendiri yang memanggil kita anak-anak-Nya. Jadi dengan kata lain, datanglah dengan bebas datanglah dengan apa adanya ke hadapan Allah Bapa kita.
GS : Hambatan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Penyebab ketiga mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik. Adakalanya kita sukar berdoa karena kita tidak bijaksana dalam mengatur waktu, akhirnya waktu untuk berdoa tersisihkan dan tergantikan dengan hal lain yang memang harus dikerjakan. Saya mengerti hidup berisikan tuntutan dan tugas yang kadang harus dikerjakan dengan segera. Kita tidak boleh meninggalkan tanggungjawab kita atas nama doa, misalnya ibu muda dengan anak balita seringkali menemukan kesulitan berdoa karena tuntutan mengurus anak memang tinggi, itu sebabnya kita harus menyisihkan waktu. Dengan kata lain, doa harus menjadi aktifitas yang terjadwal. Jika kita memerlakukan doa ala kadarnya yaitu kalau ada waktu berdoa, kalau tidak ada waktu ya tidak usah berdoa, maka perlahan namun pasti doa akan terhilang dari kehidupan kita. Masalahnya adalah sewaktu doa hilang akan hilang pulalah kedekatan dengan Tuhan.
GS : Banyak yang beralasan bahwa kalau pun kita berdoa tidak perlu lama-lama ? Tuhan pun mengerti isi hati kita atau ada pula yang mengatakan kita berdoa tidak harus tutup mata, berlutut atau duduk, bukankah sambil berjalan-jalan kita masih bisa berdoa kepada Tuhan dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya pikir kita mesti mengingat bahwa justru nilai dari doa terletak pada sikap kita. Bagaimanakah kita memperlakukan doa, kalau kita memunyai konsep yang benar waktu kita doa kita datang kepada Tuhan yang kudus, Raja dari segala raja Pencipta alam semesta ini, seyogianya kita tidak datang kepada Tuhan dengan sembarangan. Jadi dalam kebebasan kita apa adanya datang kepada Tuhan juga ada unsur takut kepada-Nya, menghormati-Nya. Tidak berani bersikap sembarangan kepada-Nya. Sebaiknyalah pada waktu kita berdoa kita menunjukkan sikap yang menghormati Dia sebab bagaimana pun juga sikap tubuh kita sewaktu kita berdoa mencerminkan berapa tinggi atau rendahnya penghormatan kita kepada Tuhan.
GS : Waktu yang terjadwal memang menolong kita untuk ingat kapan kita harus berdoa, tapi itu juga menggoda kita, membuat kita menjadikan doa itu suatu hal yang rutin, tiap hari yang kita lakukan begitu-begitu saja tanpa kita menyadari bahwa doa itu adalah suatu momen yang sangat penting, begitu Pak Paul.
PG : Segala sesuatu yang kita lakukan hari lepas sehari, terus-menerus akan menjadi rutin dan akan ada waktu hilanglah maknanya, namun kita harus tetap melakukannya meskipun itu rutin sebab sekali lagi di dalam kerutinan kita berdoa, kita menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita menghormati-Nya. Kita tetap mau datang, kita tetap menyisihkan waktu dan kita jadwalkan, kalau kita tidak jadwalkan kita sembarangan, hampir bisa dipastikan pada akhirnya doa akan hilang dari hidup kita, Pak Gunawan. Mungkin kita akan ingat waktu kita menyetir mobil kita berdoa, itu bukanlah doa pokok menurut saya, itu sekali-sekali kita berdoa waktu kita menyetir mobil dan sebagainya. Itu baik, itu hal yang indah namun saya pikir itu tidak boleh menggantikan waktu khusus yang kita jadwalkan untuk datang kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya.
GS : Yang bisa menolong kita bukan hanya waktu yang khusus tapi tempat yang khusus begitu Pak Paul, itu akan membantu kita membawa diri kita ke dalam suasana doa itu sendiri.
PG : Betul, Pak Gunawan. Ada orang yang memang nyaman pada malam hari atau nyaman dengan pagi hari, terserah tapi jadikanlah itu sebagai suatu pertemuan dengan Tuhan yang khusus, yang sakral, yang kudus. Gunakanlah waktu itu, jadwalkanlah dengan terencana supaya kita bisa bertemu dengan Tuhan.
GS : Masih ada hambatan yang lain, Pak Paul tentang berdoa ini ?
PG : Yang keempat ini, Pak Gunawan mengapa kita sulit berdoa, karena seringkali kita kehilangan keseimbangan hidup yaitu kita sudah menjadi terlalu sibuk sehingga pikiran kita terisi dengan tugas yang menunggu untuk dikerjakan. Adakalanya kita beranggapan tidak apalah saya tidak berdoa secara formal, bukankah saya dapat berdoa di dalam hati. Sudah tentu kita dapat berdoa dalam hati sebab Tuhan adalah Roh dan dapat mendengar doa yang kita panjatkan di hati. Sungguh pun demikian kita tetap harus menyediakan waktu untuk berdoa secara khusus, sebab di sinilah terletak nilai kekhususannya. Bagaimana bayangkan jika kita sedang berbicara dengan seseorang tapi dia tidak menoleh kepada kita, dia terus berjalan bukankah kita akan berkata ia tidak menghormati kita atau setidaknya ia tidak memunyai waktu untuk kita. Demikian pun pada Tuhan, masalahnya bukan pada berdoa di dalam hati, masalahnya adalah kita tidak punya waktu berdoa karena hidup kita tidak lagi seimbang.
GS : Jadi yang Pak Paul maksudkan dengan keseimbangan hidup di sini apa, Pak Paul ?
PG : Artinya begini, Pak Gunawan. Kalau kita sudah terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk berdoa berarti hidup kita sudah kehilangan keseimbangannya. Kalau kita tidak bisa lagi menyisihkan waktu untuk berdoa, bersekutu dengan Tuhan, membaca Firman-Nya secara pribadi itu berarti kita telah kehilangan keseimbangan hidup. Itu tidak baik, hidup perlu seimbang. Hidup perlu ada waktu untuk Tuhan, ada waktu untuk pekerjaan kita, ada waktu untuk keluarga kita tapi masing-masing mesti ada porsinya. Waktu kita mulai memotong-motong porsi yang lain dan mendahulukan porsi yang satu, berarti kita telah kehilangan keseimbangan hidup dan kalau kita kehilangan keseimbangan hidup, dampak yang terberat adalah kita makin melemah. Secara rohaniah kita makin melemah, makin melemah berarti makin mudah jatuh dalam pencobaan, makin tidak lagi menghadirkan Tuhan dalam hidup kita, makin tidak begitu peduli dengan kehendak dan perintah Tuhan, makin kita hidup sembarangan. Makin mau bereksperimen atau mencoba-coba melakukan dosa, jadi sekali lagi itu semua diawali oleh kehilangan kesempatan untuk bersekutu dan berdoa dengan Tuhan.
GS : Jadi yang dimaksud dengan keseimbangan di sini termasuk kesibukan kita dalam melayani Tuhan itu, Pak Paul ?
PG : Bisa, karena kita terlalu sibuk melayani kita tidak ada waktu juga berdoa, kalau sampai itu yang terjadi yakinlah bahwa itu sudah melewati takaran berarti kita telah kehilangan keseimbangan hidup dan itu tidak baik.
GS : Apakah hal itu bisa digantikan dengan misalnya saya tidak berdoa tetapi istri saya berdoa untuk saya, begitu Pak Paul ?
PG : Tidak bisa, Pak Gunawan karena ini merupakan relasi pribadi yang tidak tergantikan antara kita dengan Allah. Tuhan ingin mendengar suara kita bukan suara istri kita atau suara anak kita. Saya tahu ada orang yang begitu, Pak Gunawan. Ada orang yang tidak mau berdoa dan berkata, "Biarlah anak saya yang berdoa, biarlah suami saya yang berdoa, biarlah orang tua saya yang berdoa, biarlah istri saya yang berdoa untuk saya." Bukan, kita mesti berdoa sebab Tuhan ingin mendengar suara kita, Tuhan ingin mendengar suara anak-Nya berseru kepada-Nya, menyapa-Nya dan mengajak-Nya untuk terlibat dalam hidup kita.
GS : Masih ada hambatan yang lain, mengenai sulitnya orang berdoa ini ?
PG : Yang kelima mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung. Berdoa berarti menunggu kehendak Tuhan dan bagi orang yang kurang sabar, berdoa sama dengan membuang waktu. Jadi adakalanya kita terjebak dalam perangkap ketidaksabaran atau langsung ingin melakukan sesuatu tanpa mendoakannya terlebih dahulu. Bila kita sering melakukan hal ini, dapat dipastikan kita sering pula melakukan kesalahan. Satu hal yang mesti kita ingat adalah sesungguhnya kita hanyalah alat semata, Tuhan mengerjakan dan menggenapi rencana-Nya, kita hanyalah alat di tangan-Nya. Jadi sudah seyogianya kita menunggu dan meminta kehendak Tuhan.
GS : Ini menjadi sangat pelik bagi seseorang yang berdoa, termasuk kita. Kalau kita berdoa harapannya tentu Tuhan menjawabnya secara langsung, Pak Paul, sehingga kita tahu Tuhan mengabulkan atau tidak mengabulkan, tetapi untuk menunggu jawaban Tuhan ini membutuhkan ketekunan yang luar biasa, Pak Paul.
PG : Betul, tapi ini adalah justru merupakan bentuk : (1) menghormati Tuhan, (2) menyadari keterbatasan kita. Ada orang yang memang tidak suka berdoa, benar-benar menganggap doa itu buang waktu. Pokoknya langsung kerjakan, ada rencana apa langsung kerjakan, nanti setelah menabrak atau tersandung baru mengatakan, "Tuhan tolong saya", tapi sebelumnya tidak berdoa, tidak mencari kehendak Tuhan dulu. Penting kita benar-benar menunggu, dalam doalah kita menunggu kehendak Tuhan. Dalam doalah kita melihat Tuhan, bukan situasi, bukan kebutuhan, bukan kesempatan tapi sungguh-sungguh melihat Tuhan, sehingga kita jelas memahami apakah ini kehendak-Nya.
GS : Jadi sebenarnya tatkala kita berdoa, proses jawaban itu tetap berjalan, Pak Paul.
PG : Betul sekali, dan kita tidak perlu takut kita akan ketinggalan kereta atau ditinggalkan kereta, tidak! Dalam waktu Tuhan semua tergenapi, jadi kita tidak usah takut ketinggalan kereta sehingga semuanya terburu-buru. Kalau kita perhatikan di Firman Tuhan, tidak ada yang namanya terburu-buru, justru yang ada adalah waktu yang lama. Misalnya kita tahu Saul seorang raja yang tidak berkenan kepada Tuhan, sudah tentu idealnya Saul cepat-cepat disingkirkan, tidak! Dia justru memerintah 43 tahun, lebih lama daripada raja Daud. Tuhan tidak pernah tergopoh-gopoh.
GS : Tapi kadang-kadang karena kita terpaku pada waktu yang ada di dunia ini dan konsep kita tentang waktu itu, kita menjadi tidak sabar menunggu, lalu kita meminta orang lain berdoa untuk kita. Seolah-olah kita merasa kalau saya yang berdoa Tuhan tidak mau mendengarkan tetapi kalau orang lain yang berdoa, Tuhan mau mendengarkan begitu, Pak Paul.
PG : Ini konsep yang keliru sebab Tuhan mendengarkan hati kita, kesungguhan kita dan juga kesediaan kita merendah dan itulah yang nanti akan Tuhan perhatikan. Bahwa orang lain lebih sering didengarkan doanya, itu antara Tuhan dengan dia, Tuhan memunyai rencana-Nya tersendiri atas hidup dia, tapi Tuhan pun memunyai rencana atas hidup kita. Jadi jangan merasa kita ini warga kelas 2 dalam Kerajaan Tuhan.
GS : Tapi ada juga orang yang bangga dan mengatakan bahwa dia memunyai karunia doa, kalau kamu mau berdoa harus lewat saya. Ini bagaimana, Pak Paul?
PG : Sudah tentu ada orang-orang yang memang dikaruniakan Tuhan untuk berdoa. Orang-orang ini bisa berdoa untuk waktu yang sangat lama dan itu adalah sebuah karunia dan biarlah dipakai untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, tapi jangan sampai orang itu beranggapan hanya lewat dialah doanya dapat dikabulkan. Tuhan dapat mengabulkan doa lewat doa-doa orang lain pula.
GS : Sebenarnya Tuhan Yesus juga memberikan contoh doa yang bisa dipakai oleh para murid ketika para murid meminta Tuhan Yesus mengajar berdoa, Tuhan Yesus mengajarkan "Doa Bapa Kami", Pak Paul. Apakah pola itu bisa kita gunakan ?
PG : Bisa, Pak Gunawan jadi itu sebuah pola, sudah tentu kita tidak usah mengucapkannya persis sama, tapi intinya adalah sebuah contoh bagaimana seharusnya seorang anak berdoa kepada Bapa di Sorga.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang Pak Paul ingin sampaikan ?
PG : Ini berkenaan dengan point yang terakhir tadi, Pak Gunawan, kadang kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung. Di I Samuel 15:22 Firman Tuhan mengatakan, "Apakah Tuhan berkenan pada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan ? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan. Memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan". Jadi dengan kata lain, yang Tuhan pentingkan adalah ketaatan bukan korban-korban, atau persembahan-persembahan. Kita lihat ini adalah contoh kejatuhan Saul. Saul adalah orang yang mementingkan tindakan langsung, akibatnya apa? Ia membuat begitu banyak kesalahan, karena ia tidak sabar menunggu Tuhan, akhirnya ia lebih sering mendengarkan suara orang dan suaranya sendiri ketimbang suara Tuhan. Maka akhirnya Samuel, nabi Tuhan itu diutus menegur Saul dengan perkataan yang baru saja kita dengar. Bila kita sering berdoa kita akan sering mendengar suara Tuhan, bila kita jarang berdoa maka kita akan lebih sering mendengar suara orang dan suara diri sendiri.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan saya percaya ini akan lebih memotivasi kita untuk lebih tekun berdoa kepada Tuhan. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kenapa Susah Berdoa ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita menyadari bahwa doa adalah bagian penting dalam kehidupan rohani namun tidak selalu kita setia melakukannya. Ada saja halangan untuk berdoa dan kerinduan itu tidak selalu muncul. Berikut akan dijelaskan penyebab mengapa sulit berdoa dan beberapa saran untuk kembali berdoa.
Penyebab pertama mengapa sulit berdoa adalah karena kita orang berdosa. Oleh karena kita orang berdosa, secara alamiah kita tidak tertarik untuk berdoa. Bukankah tatkala kita sedang hidup dalam dosa, kita makin sukar berdoa? Singkat kata, dosa dan doa saling berlawanan. Di mana ada dosa, doa hilang. Itu sebabnya kita mesti memelihara kehidupan yang suci di hadapan Tuhan. Kesucian hidup makin mendorong kita bersekutu dengan Tuhan dan membuat kita makin ingin menikmati kehadiran-Nya.
Penyebab kedua mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita merupakan target serangan Iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan. Tidak ada yang lebih dirindukan Iblis selain melihat kita jauh dari Tuhan dan kasih-Nya. Iblis tahu bahwa di dalam doa kita berada dalam hadirat Allah secara nyata dan inilah yang tidak diinginkannya. Itu sebabnya tatkala kita ingin berdoa, ia selalu menghadirkan kepentingan lain yang mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Ia berusaha meyakinkan kita bahwa doa dapat menunggu sedangkan kepentingan lain tidak dapat menunggu.
Penyebab ketiga mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik. Adakalanya kita sukar berdoa karena memang kita tidak bijaksana dalam mengatur waktu. Akhirnya waktu untuk berdoa tersisihkan dan tergantikan oleh hal lain yang memang harus dikerjakan. Saya mengerti bahwa hidup berisikan tuntutan dan tugas yang kadang harus dikerjakan dengan segera. Kita tidak boleh meninggalkan tanggung jawab kita atas nama doa. Dengan kata lain, doa harus menjadi aktivitas yang terjadwal. Jika kita memperlakukan doa ala kadarnya-kalau ada waktu berdoa, kalau tidak ada waktu, ya tidak usah berdoa-maka perlahan namun pasti doa akan terhilang dari kehidupan kita. Masalahnya adalah sewaktu doa hilang, akan hilang pulalah kedekatan dengan Tuhan.
Penyebab keempat mengapa kita sulit berdoa adalah karena sering kali kita kehilangan keseimbangan hidup: kita sudah menjadi terlalu sibuk sehingga pikiran kita terus terisi dengan tugas yang menunggu untuk dikerjakan. Adakalanya kita beranggapan, "Ah tidak apa saya tidak berdoa secara formal, bukankah saya dapat berdoa di dalam hati?" Sudah tentu kita dapat berdoa di dalam hati , namun kita juga tetap harus menyediakan waktu untuk berdoa secara khusus sebab di sinilah letak nilai kekhususannya. Bayangkan bagaimana perasaan kita bila kita berbicara dengan seseorang yang tidak menoleh dan terus berjalan? Bukankah kita akan berkata bahwa ia tidak menghormati kita atau setidaknya, ia tidak punya waktu untuk kita? Demikian pula dengan Tuhan.
Penyebab kelima mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung. Berdoa berarti menunggu kehendak Tuhan dan bagi orang yang kurang sabar, berdoa sama dengan membuang waktu. Kadang kita terjebak ke dalam perangkap ketidaksabaran dan langsung melakukan sesuatu tanpa mendoakannya terlebih dahulu. Satu hal yang mesti kita ingat adalah bahwa sesungguhnya kita adalah alat semata. Tuhan mengerjakan dan menggenapi rencana-Nya sedangkan kita hanyalah alat di tangan-Nya. Jadi, sudah seyogianya kita menunggu dan meminta kehendak-Nya.
Firman Tuhan: "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih dari baik daripada lemak domba-domba jantan." (1 Samuel 15:22)
Bila kita sering berdoa, kita akan sering mendengar suara Tuhan. Bila kita jarang berdoa, kita akan lebih sering mendengar suara orang dan suara diri sendiri.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:57am.
Abstrak:
Salah satu hak terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita anak-anak-Nya adalah hak untuk berdoa. Ternyata lebih dari sekadar bercakap-cakap dengan Tuhan, doa memunyai begitu banyak makna dan tujuan antara lain ketika berdoa kita diarahkan kembali kepada Tuhan, ketika berdoa kita memeroleh kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk dapat melakukan kehendak Allah, ketika berdoa kita membawa kehadiran Allah di dalam hidup kita, ketika berdoa bagi orang lain; kita akan lebih menyadari kebutuhan orang lain, ketika kita berdoa untuk pelayanan yang kita lakukan; kita mengundang berkat Tuhan untuk turun atas pekerjaan-Nya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Berdoa ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Rasanya semua agama mengajarkan kita untuk berdoa, Pak Paul. Kita seringkali melakukan doa itu sebegitu rutinnya sehingga seolah-olah menjadi suatu kebiasaan. Kadang-kadang kita sendiri kehilangan maknanya berdoa itu, karena begitu rutinnya, mau makan ya berdoa, mau tidur berdoa sehingga makna doa itu sendiri kadang-kadang terasa hambar sampai-sampai kita lupa, "Apakah tadi sudah berdoa atau belum?" dan kemudian kita berdoa lagi sebelum makan itu, karena menjadi kebiasaan. Sebenarnya bagaimana ini, Pak Paul ?
PG : Memang berdoa adalah sebuah sarana yang Tuhan anugerahkan kepada kita untuk dapat berkomunikasi dengan Dia. Ini sebetulnya adalah sebuah kehormatan besar bayangkan Tuhan Pencipta alam semesta, Raja segala raja dan adalah Juruselamat yang telah mengasihi dan berkorban bagi kita, berkenan membuka diri-Nya untuk kita bisa datang kepada-Nya, menyampaikan isi hati kita. Ini adalah sebuah kehormatan besar, namun mesti kita juga akui bahwa karena terlalu sering kita melakukannya, akhirnya doa itu menjadi kehilangan maknanya. Dengan kata lain, kita mulai tidak begitu memerhatikan tujuan dari doa itu sendiri.
GS : Tadi Pak Paul mengatakan bahwa doa itu suatu hak. Ada banyak orang yang malah merasakan bahwa ini suatu kewajiban dan bukan hak lagi.
PG : Sayangnya ada yang menganggap ini kewajiban, saya harus berdoa, tapi bukankah bila kita tempatkan orang tua kita dalam hidup kita, waktu kita berbicara dengan orang tua kita, ini bukanlah kewajiban tetapi sebuah kehormatan, sebuah hak yang mulia diberikan kepada kita. Tuhan juga menginginkan kita agar melihat doa dari sudut pandang itu, bahwa ini adalah hak yang penuh dengan kehormatan, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
GS : Sebenarnya apa saja makna doa itu bagi kita, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah waktu kita berdoa sesungguhnya kita tengah diarahkan kembali kepada kehendak Tuhan. Saya teringat akan sebuah kisah di Perjanjian Lama sewaktu bangsa Israel bersiap memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan. Mereka mengirimkan 12 orang pengintai, sekembalinya 12 pengintai ini ternyata 10 pengintai mengecilkan hati umat Israel. Mereka berkata, "Jangan ke sana, banyak raksasa, banyak bahayanya, kita pasti kalah di sana" tetapi ada 2 pengintai yaitu Kaleb dan Yoshua yang justru membesarkan hati mereka. Sebab mereka melihat Tuhan, dan bukan problemnya sedangkan 10 pengintai yang lain melihat problem dan tidak melihat Tuhan. Di Bilangan 14:8-9, Yoshua dan Kaleb berkata, "Jika Tuhan berkenan kepada kita maka Dia akan membawa kita masuk ke negeri itu. Tuhan menyertai kita, janganlah takut kepada mereka". Jadi benar-benar kita bisa melihat, kita perlu berdoa supaya bisa melihat dari kacamata Tuhan dan sekaligus melihat Tuhan di dalam situasi kehidupan kita. Jika kita tidak berdoa, kita hanya melihat manusia dan situasi dan problem sebaliknya ketika kita berdoa, kita melihat Tuhan dan waktu kita melihat Tuhan kita pun melihat situasi dari kacamata Tuhan. Sewaktu kita berdoa sesungguhnya kita tengah menyediakan diri untuk mendengarkan Tuhan. Itu sebabnya lewat doa seringkali Tuhan membelokkan kembali langkah hidup kita agar seturut dengan kehendak-Nya.
GS : Biasanya kita berdoa tatkala kita menghadapi problem, Pak Paul. Setelah tidak menemukan jalan untuk kita bisa mengatasinya sendiri, kemudian kita berdoa. Seolah-olah ini pilihan yang terakhir. Sikap yang seperti ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira sikap ini tidak tepat sebab dari awal sebelum bahkan kita merencanakan atau bertindak, kita seharusnyalah sudah berdoa, meminta pimpinan Tuhan. Dan waktu kita berdoa meminta pimpinan Tuhan, kita mesti meyakini bahwa Dia mendengarkan doa kita dan mulai memimpin kita waktu sampai ke tempat tujuan yaitu sampai kepada kehendak-Nya. Tadi contoh yang saya berikan memerlihatkan kalau kita tidak berdoa, kita luput melihat Tuhan sehingga dalam hidup itu kita menjadi orang yang sangat mudah terombang-ambingkan oleh situasi. Tapi orang yang berdoa orang yang melihat Tuhan berarti melihat Tuhan yang kokoh, Tuhan yang menguasai mengendalikan semuanya. Tuhan yang memunyai kehendak dan tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Tuhan. Jadi waktu kita berdoa kita kembali diingatkan bahwa ada Tuhan dan kita kembali diarahkan untuk kembali melihat dan melakukan segalanya seturut dengan kehendak Dia.
GS : Jadi di sini erat sekali kaitannya antara doa dengan iman orang itu kepada Tuhan, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi kalau kita sering berdoa, kita sering melihat Tuhan berarti kita juga akan bertumbuh dalam iman. Kita tahu bahwa Tuhan itu layak dipercaya, bahwa Tuhan itu akan sanggup melakukan apa yang kita minta. Dengan doalah iman kepada Kristus makin hari makin bertambah kuat.
GS : Makna yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Ketika kita berdoa, kita juga memeroleh kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk dapat melakukan kehendak Tuhan. Jadi yang saya akan tekankan di sini adalah memeroleh kekuatan dan hikmat lewat doa. Saya berikan sekali lagi contoh dari kehidupan Musa. Adakalanya Musa menjadi terlalu letih memimpin bangsanya yang tegar tengkuk itu. Misalnya kita bisa melihat keluhannya di Bilangan 11:14, "Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggungjawab atas seluruh bangsa ini sebab terlalu berat bagiku", ini keluhan Musa kepada Tuhan. Setelah berdoa, setelah mengeluhkan itu kepada Tuhan, Tuhan menjawab, Tuhan menyediakan jalan keluar bagi Musa, yakni memintanya, mengangkat 70 tua-tua untuk membantunya dan menyediakan daging sesuai dengan permintaan mereka. Dengan kata lain sebelum Musa datang kepada Tuhan, Musa buntu tidak punya hikmat tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia hanya tahu terlalu letih mengurus bangsa ini. Kemudian Tuhan memberi dia hikmat, meminta dia mengangkat 70 tua-tua dan Tuhan juga menyediakan kebutuhannya, jadi kita selalu mesti menyadari bahwa pergumulan kita bukan hanya melawan keletihan jasmaniah tetapi juga keletihan rohaniah. Melalui doa Tuhan memberi kita kekuatan untuk kembali melangkah dan melalui doa kita akan dibukakan matanya sehingga kita bisa melihat kehendak Tuhan dengan lebih jelas dan kita memeroleh hikmat bagaimana menerapkan atau melakukan kehendak-Nya.
GS : Pertolongan ini memang bisa datang dari orang lain yang digerakkan oleh Tuhan untuk menolong kita memeroleh kekuatan dan hikmat yang baru lagi, Pak Paul.
PG : Betul sekali, jadi Tuhan akan menggunakan berbagai cara untuk menolong kita setelah kita berdoa kepada-Nya, salah satunya adalah lewat orang-orang dan Musa memang perlu bantuan dan Tuhan menyediakan 70 tua-tua, 70 pemimpin yang dapat mengurangi beban Musa. Jadi sekali lagi waktu kita berdoa, kita memeroleh hikmat dari Tuhan sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan, cara apa yang paling baik dan lewat doa juga Tuhan menyediakan jawaban-Nya. Dalam kasus Musa orang-orang Israel mengeluhkan tidak ada daging kemudian Tuhan menyediakan daging.
GS : Memang selama kita bisa mengatasi sendiri, rasanya kita tidak membawa persoalan ini kepada Tuhan, biasanya mencoba untuk diatasi sendiri, begitu Pak Paul.
PG : Sudah tentu saya tidak berkata untuk setiap hal, sekecil dan serutin apa pun kita berdoa, sebab Tuhan juga sudah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk berpikir, untuk memecahkan masalah, untuk mencari jalan keluar. Sudah tentu ada tanggungjawab kita juga untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas kita, namun terutama untuk hal-hal yang kita tahu menyangkut hajat lebih banyak orang, menyangkut kepentingan orang, berkaitan dengan rencana Tuhan. Untuk hal-hal seperti itu kita mesti benar-benar datang kepada Tuhan, apalagi kalau kita tengah menghadapi problem, mesti datang kepada Dia sehingga kita memeroleh hikmat dari-Nya, apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti itu.
GS : Tujuan dan makna yang ketiga, apa Pak Paul ?
PG : Ketika kita berdoa, kita membawa kehadiran Allah di dalam hidup kita. Dalam doa kita dibawa masuk ke dalam hadirat Allah. Itu sebabnya bila kita menjadi anak Tuhan yang senantiasa berdoa, kita pun akan senantiasa berada dalam hadirat Allah. Benar-benar doa adalah sesuatu yang misterius, Pak Gunawan, karena waktu kita berdoa kita sedang bercakap-cakap dengan Tuhan yang memang tidak bisa kita lihat, tapi Dia hadir. Jadi waktu kita berdoa kita membawa kehadiran Tuhan dan waktu kita berdoa pun kita dibawa ke dalam kehadiran Tuhan. Saya masih ingat sebuah contoh yang pernah saya ungkapkan juga di kesempatan yang lain, waktu anak saya masih kecil dia berbohong dan saya masih ingat saya menghampirinya, dia tetap berbohong kepada saya. Waktu itu dia berusia sekitar 8 atau 9 tahun, saya kemudian berpikir apa yang harus saya lakukan? Saya bisa menegurnya, memaksanya mengaku tapi Tuhan memberi hikmat kepada saya "Tidak perlu." Jadi saya berkata kepadanya, "Itu yang terjadi, ya?" Dia berkata, "Ya". "OK kalau begitu sekarang kita berdoa, saya meminta agar kamu berkata kepada Tuhan bahwa Tuhan Yesus, itulah yang terjadi". Waktu saya mengajak dia berdoa, dia tidak berdoa, dia diam. Saya membuka mata dan saya melihat dia sedang menangis, kenapa dia menangis? Dia tidak bisa berdusta, melawan kepada Tuhan. Dia bisa berbohong kepada orang tua tapi dia tidak bisa berbohong kepada Tuhan. Kenapa? Waktu kita berdoa kita membawa kehadiran Tuhan di tengah kita dan kita pun masuk ke dalam hadirat Tuhan.
GS : Sering kali kita merasakan berdoa ini bukan bercakap-cakap, Pak Paul, tapi suatu monolog dimana saya yang berbicara kepada Tuhan dan kita tidak mendengarkan suara Tuhan, Pak Paul.
PG : Memang kita tidak mendengar suara Tuhan secara nyata di telinga kita namun yang penting adalah kita tahu waktu kita sedang berkata-kata kepada-Nya, Dia tengah mendengarkan kita dan Dia berada di sini bersama-sama dengan kita. Memang di zaman sekarang ini tidak sering Tuhan bercakap-cakap secara langsung, tapi kita tahu itulah yang dilakukan Tuhan di masa yang lampau sebelum Firman Tuhan akhirnya dibukukan dalam Alkitab. Misalkan kita tahu Musa di Keluaran 34:29 dicatat, "Ketika Musa turun dari gurun Sinai, tidaklah ia tahu bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan". Waktu Musa berbicara dengan Tuhan, sinar kemuliaan Tuhan itu turun atasnya pula. Benar-benar di situ kita melihat dengan nyata bahwa waktu Musa bercakap-cakap dengan Tuhan, Tuhan ada di situ, Tuhan benar-benar ada di situ, sehingga waktu Musa turun dari Bukit Sinai wajahnya bisa memancarkan sinar. Jadi lewat doa kita tahu bahwa kita tengah bertatap muka dengan Tuhan. Tidak heran bila kita banyak berdoa kuasa dan kemuliaan Tuhan pun menyertai kita. Orang yang berdoa memang memunyai sebuah wibawa rohani, karena apa? Kita benar-benar melihat Tuhan hadir dalam hidupnya.
GS : Jadi seseorang yang berdoa itu sebenarnya bisa dikenali oleh orang lain, bahwa Tuhan menyertai dia.
PG : Saya percaya begitu, Pak Gunawan, jadi kehadiran Tuhan benar-benar tampak jelas dalam kehidupannya.
GS : Tujuan dan makna yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Ketika kita berdoa bagi orang lain kita akan lebih menyadari kebutuhan mereka. Kita tahu Tuhan tidak mau menjadikan kita orang egois, maka Tuhan juga meminta kita berdoa untuk orang lain. Sewaktu kita berdoa untuk orang lain, kita sedang diingatkan akan kebutuhan mereka. Saya ingat juga Musa waktu dia berada di atas gunung, orang Israel membuat patung anak lembu emas untuk disembah dan Tuhan marah, Tuhan langsung ingin memusnahkan mereka, tapi Musa menghalanginya dan kemudian Musa berpaling menghadapi umat-Nya dan Musa berkata di Keluaran 32:30,"Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan mungkin aku dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu". Kita melihat Pak Gunawan, Musa selalu memohon belas kasihan Tuhan atas kesalahan bangsanya, mengapa Musa bisa begitu sabar? Selalu memohon agar Tuhan mengampuni dosa bangsanya, saya kita alasannya satu sebab Musa menyadari kelemahan mereka. Musa tahu bahwa bangsanya telah hidup dalam penindasan, perbudakan selama 400 tahun, oleh karena itulah mereka menjadi manusia yang sarat dengan kelemahan akhlak, mudah marah, mudah menuduh, mudah menyalahkan, mudah memberontak, mudah meninggalkan tidak setia. Ini adalah kelemahan akhlak akibat penindasan dan perbudakan yang mereka harus lalui selama 400 tahun. Jadi Musa tahu mereka oleh karena itu Musa mengingat kebutuhannya, kebutuhan orang-orang Israel. Demikian juga dengan kita, bila kita berdoa bagi seseorang kita akan diingatkan akan kebutuhannya. Tatkala kita mengingat kebutuhannya, kita pun akan memikirkan dan memedulikan. Itu sebabnya orang yang berdoa akan lebih memerhatikan sesamanya.
GS : Apakah ini yang disebut doa syafaat itu, Pak Paul ?
PG : Betul, doa syafaat adalah doa yang membawa petisi-petisi kepada Tuhan. Sudah tentu petisi ini sering kali berkaitan dengan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, tapi bisa juga petisi ini atau syafaat ini berisikan doa-doa yang lain. Namun intinya Tuhan meminta kita tidak hanya mengedepankan diri atau kepentingan kita tapi memikirkan orang. Waktu kita mengingat si A, si B, si C kita doakan, kita diingatkan akan kebutuhannya dan mendorong kita lagi untuk memerhatikan dia. Mungkin kita jadi meneleponnya, menanyakan kabarnya, itu semua adalah hasil dari kita mengingat mereka dalam doa.
GS : Seringkali memang kita mengingat orang-orang dalam doa, tapi mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kita, jadi istri, suami, anak-anak, orang tua, begitu Pak Paul. Apakah itu cukup ?
PG : Saya kira itu juga baik tapi kalau bisa ditambah Pak Gunawan, kita juga bersedia mendoakan orang-orang lain, misalkan kita bisa mendoakan orang-orang yang bekerja dengan kita atau orang-orang yang bekerja untuk kita, kita bisa doakan keluarga mereka. Kita bisa doakan misalkan kalau kita menjadi pengajar, murid-murid kita apalagi kalau kita tahu ada murid-murid yang memunyai kebutuhan khusus, ada keunikan atau masalahnya. Kita sengaja harus ambil waktu mendoakan mereka, kita bisa doakan juga Pemerintah, orang-orang yang mengatur negara dan bangsa kita, sebab mereka pun adalah orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membawa kesejahteraan bagi hidup kita. Mereka juga perlu doa kita, jadi sekali lagi waktu kita mendoakan orang lain kita disadarkan bahwa mereka manusia, mereka punya kebutuhan dan mereka juga membutuhkan dukungan-dukungan kita.
GS : Tapi itu berarti melibatkan kita dalam masalah orang lain, Pak Paul, apalagi kalau orang itu sengaja meminta tolong kita mendoakan untuk hal ini, berarti kita terlibat dalam permasalahannya mereka ?
PG : Kadang kita harus menyingsingkan lengan baju kita membantu mereka secara konkret, kadang-kadang orang meminta kita mendoakan dan itu pun sudah cukup, kadang saya bertanya kepada orang, "Apa yang bisa saya lakukan, apa yang bisa saya bantu?" ada orang-orang yang berkata, "Tolong doakan saja" sebab doa itu sudah sangat lebih dari cukup. Jadi kita bisa bertanya langsung juga kepada orang, "Apa yang bisa saya bantu?", sehingga orang tidak hanya mendengar kita berkata, "Pokoknya saya doakanlah", tapi tidak memunyai tawaran-tawaran yang lebih konkret. Bahkan Yakobus juga mengatakan dalam suratnya kalau ada orang datang meminta pertolongan jangan berkata, "Pulanglah dalam damai sejahtera". Atau dalam istilah kita sekarang, "Ok-lah saya doakan kamu", bukankah orang waktu datang kepada kita mungkin saja dia benar-benar mengharapkan kita berbuat lebih daripada mendoakannya tapi juga menolongnya.
GS : Abraham juga pernah mendoa syafaatkan kota Sodom dan Gomora yang akan dihancurkan oleh Tuhan, Pak Paul.
PG : Betul dan dia benar-benar mau mengasihi, benar-benar mau menjaga sanak keluarganya, yaitu Lot dan keluarganya, agar jangan sampai turut dimusnahkan. Jadi sekali lagi kita melihat di sini, Abraham memerhatikan orang lain, dia tidak memikirkan dirinya sendiri meskipun Lot itu melakukan hal-hal yang juga melukai hatinya. Waktu Abraham sampai di tanah kemudian dia bertanya kepada Lot "Kamu ingin mengambil yang mana?" Lot ambil yang paling subur, Abraham harus ambil yang tidak subur, tapi Abraham tidak mendendam. Jadi ia tidak menyimpan itu di hatinya, maka waktu Tuhan ingin menjatuhkan hukuman atas kedua kota itu, dia benar-benar memohon agar Tuhan tidak memusnahkan keluarga Lot.
GS : Di dalam doa syafaat ini, apakah kita perlu menanyakan perkembangan yang terjadi pada orang yang kita doakan ?
PG : Sebaiknya ya, supaya orang tahu kita tidak basa-basi, kita sungguh-sungguh mendoakan dan memerhatikannya. Dengan kita bertanya, apakah ada kemajuan atau apa, jadi orang tahu bahwa kita sungguh-sungguh memerhatikan mereka.
GS : Tujuan dan makna yang lainnya, apa Pak Paul ?
PG : Ketika kita berdoa untuk pelayanan yang kita lakukan, kita mengundang berkat Tuhan untuk turun atas pekerjaan-Nya. Artinya apa ini ? Kita waktu melakukan pelayanan, kita tahu kita tidak bisa melakukan kehendak dan pekerjaan Tuhan tanpa Tuhan menolong dan memberkati pekerjaan-Nya, maka kita harus berdoa untuk pelayanan kita. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh untuk berdoa, kendati Ia Putra Allah namun sebagai manusia biasa Ia pun memerlukan berkat Allah Bapa atas pekerjaan-Nya. Maka kita tahu Tuhan juga mengasingkan diri 40 hari di gurun pasir sebelum memulai pelayanan-Nya. Dia juga membiasakan diri di malam hari untuk pergi ke taman untuk berdoa. Jadi sekali lagi kita melihat Tuhan Yesus sendiri, Putra Allah berdoa dan Dia memberikan contoh bahwa kita semua perlu berdoa, karena apa? Pelayanan Tuhan mesti dikerjakan dengan kuasa Tuhan, dalam waktu Tuhan, dengan cara Tuhan, maka kita senantiasa harus berdoa supaya jangan kita salah langkah dalam melakukan pelayanan untuk Tuhan.
GS : Jadi berdoa ini merupakan perintah Tuhan dan Tuhan sendiri memberikan teladan-Nya kepada kita, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Memang Tuhan memberikan contoh itu kepada kita. Kita mesti ingat ini, satu hal yang penting, bahwa sebetulnya waktu kita melayani Tuhan mengerjakan pekerjaan Tuhan, sesungguhnya yang tengah mengerjakannya adalah Tuhan sendiri. Kita hanyalah alat yang tengah melakukan karya-Nya. Kita bisa melihat Firman Tuhan di antara Musa dan Tuhan Allah. Tuhan Allah berjanji kepada hamba-Nya Musa di Keluaran 33:12, "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu". Sebelum Musa melangkah jauh sebelum menyelesaikan tugasnya, Musa telah mendapat kepastian berkat Tuhan atas pekerjaan yang diembannya. Itu di awal-awal pelayanan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Pak Gunawan. Tuhan sudah menjanjikan, "Aku sendiri membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu". Dengan kata lain, waktu kita melakukan pelayanan untuk Tuhan, kita mesti tahu, yakin Tuhan berada di situ. Tuhan yang akan membimbing kita dan Dia akan menuntun kita sampai kita selesai.
GS : Padahal ada banyak orang yang begitu sibuk dengan pelayanan sehingga waktu untuk berdoa itu menjadi sedikit sekali, Pak Paul.
PG : Memang ini menjadi pergumulan kita untuk berdoa, namun kita harus selalu ingat bahwa buat apa kita mengurus ini mengurus itu, melakukan ini melakukan itu kalau Tuhan tidak memberkati? Bukankah wajah Tuhan yang pertama harus kita cari terlebih dahulu. Tuhan berniat, Tuhan berkepentingan membimbing kita untuk melakukan dan menggenapi pekerjaan-Nya. Dan setelah itu selesai, Tuhan berjanji kepada Musa, Dia akan memberinya ketenteraman. Dalam terjemahan yang lain, "Tuhan akan memberinya istirahat". Jadi saya kira orang yang telah melayani Tuhan dalam doa terus meminta Tuhan memimpin dan memberkati pelayanannya adalah orang yang bisa sampai kepada peristirahatan itu. Benar-benar dia teduh dan tahu benar bahwa Tuhan telah membimbingnya.
GS : Dalam hal ini kita meminta bantuan doa kepada orang lain itu sesuatu yang penting juga, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan sebab sekali lagi kita tidak dapat melakukan pekerjaan Tuhan sendirian. Kita butuh bantuan orang-orang lain baik bantuan secara langsung maupun bantuan lewat doa mereka.
GS : Pak Paul, mengucapkan doa yang itu-itu saja apakah tidak menjemukan Tuhan, Pak Paul ?
PG : Karena Tuhan mendengarkan hati yang berbicara, Pak Gunawan. Benar-benar kata-kata tidaklah sepenting isi hati kita. Selama kita dari hati melakukannya, mengucapkannya, itulah yang akan Tuhan dengar, tapi seelok apa pun perkataan kita namun tidak keluar dari hati, itu tidak didengarkan Tuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Berdoa ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu hak terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita anak-anak-Nya adalah hak untuk berdoa. Ternyata lebih dari sekadar bercakap-cakap dengan Tuhan, doa memunyai begitu banyak makna dan tujuan lainnya. Berikut akan dipaparkan beberapa di antaranya.
Ketika berdoa, kita diarahkan kembali kepada kehendak Tuhan. Sewaktu bangsa Israel bersiap memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan, mereka mengirimkan 12 pengintai. Sepuluh pengintai mengecilkan hati seluruh umat tetapi Kaleb dan Yosua justru membesarkan hati mereka. Mereka melihat Tuhan, bukan problem. Dengarlah perkataan mereka, "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu . . . . Tuhan menyertai kita, janganlah takut kepada mereka." (Bilangan 14:8-9) Jika kita tidak berdoa, kita hanya melihat manusia dan situasi, tetapi ketika berdoa, kita melihat Tuhan. Itu sebabnya lewat doa, sering kali Tuhan membelokkan kembali langkah hidup kita agar seturut dengan kehendak-Nya.
Ketika berdoa, kita memeroleh kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk dapat melakukan kehendak Tuhan. Adakalanya Musa menjadi terlalu letih memimpin bangsanya yang memang tegar tengkuk itu. Dengarkanlah keluhannya, "Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini sebab terlalu berat bagiku." (Bilangan 11:14) Setelah berdoa, Tuhan menjawab dan menyediakan jalan keluar bagi Musa yakni memintanya mengangkat 70 tua-tua untuk membantunya dan menyediakan daging sesuai dengan permintaan mereka. Kita mesti menyadari bahwa pergumulan kita bukan hanya melawan keletihan jasmaniah tetapi juga keletihan rohaniah. Melalui doa Tuhan memberi kita kekuatan untuk kembali melangkah dan melalui doa Ia kerap membukakan mata kita, sehingga kita dapat melihat kehendak-Nya dengan lebih jelas.
Ketika berdoa, kita membawa kehadiran Allah di dalam hidup kita. Melalui doa kita dibawa masuk ke dalam hadirat Allah; itu sebabnya bila kita menjadi anak Tuhan yang senantiasa berdoa, kita pun akan senantiasa berada dalam hadirat Allah. Sewaktu Musa berbicara dengan Tuhan, sinar kemuliaan Tuhan turun atasnya pula, sebagaimana dicatat di Keluaran 34:29, "Ketika Musa turun dari gunung Sinai . . . tidaklah ia tahu bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan." Lewat doa, kita bertatapan muka dengan Tuhan. Tidak heran bila kita banyak berdoa, kuasa dan kemuliaan Tuhan pun menyertai kita.
Ketika kita berdoa bagi orang lain, kita akan lebih menyadari kebutuhan mereka. Sewaktu Musa berada di atas gunung, orang Israel membuat patung anak lembu emas untuk disembah. Tuhan marah dan ingin memusnahkan mereka tetapi Musa menghalangi niat Tuhan. Kepada bangsanya, Musa berkata, "Kamu ini telah berbuat dosa besar tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu." (Keluaran 32:30) Musa selalu memohon belas kasihan Tuhan atas kesalahan bangsanya sebab ia menyadari kelemahan mereka. Bila kita berdoa bagi seseorang, kita akan diingatkan akan kebutuhannya. Tatkala kita mengingat kebutuhannya, kita pun akan memikirkan dan memedulikannya.
Ketika kita berdoa untuk pelayanan yang kita lakukan, kita mengundang berkat Tuhan untuk turun atas pekerjaan-Nya. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh untuk berdoa. Kendati Ia Putra Allah, namun sebagai manusia biasa Ia memerlukan berkat Allah Bapa atas pekerjaan-Nya. Kita berdoa sebab kita tahu bahwa kita hanyalah alat di tangan Tuhan. Sesungguhnya Ia sendirilah yang tengah melakukan karya-Nya. Di dalam salah satu percakapan antara Tuhan dan Musa, Ia berjanji kepada hamba-Nya, "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." (Keluaran 33:14) Jauh sebelum Musa menyelesaikan tugasnya, ia telah mendapat kepastian berkat Tuhan atas pekerjaan yang diembannya. Tuhan akan membimbingnya dan memberinya istirahat. Semua akan terlaksana dan selesai!
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:54am.
Abstrak:
Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat ‘on-line’, melalui alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya adalah, bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tetapi juga gambar organ tubuh sendiri. Dampak dari perilaku ini sangat buruk, ada yang menyimpan gambar-gambar ini kemudian menyebarluaskannya di kalangan teman dan luar teman. Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan untuk berfantasi seksual dan masturbasi. Dampak terberat adalah terjadinya hubungan seksual yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Apakah yang harus dilakukan orang tua dalam menyikapi masalah yang tengah menggejala ini?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Remaja dan Pergaulannya. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Sudah menjadi ciri dari remaja yaitu bergaul dan kelihatan aneh kalau ada remaja yang tidak bisa bergaul. Tetapi pergaulan sendiri bisa membawa dampak yang positif dan juga bisa membawa dampak yang negatif dalam kondisi yang sekarang ini. Menurut pengamatan Pak Paul, hal apa yang membahayakan dalam pergaulan remaja ini ?
PG : Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat 'online', melalui alat-alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tapi juga gambar porno dari organ tubuh sendiri. Jadi dirinya sendiri yang menjadi pelaku dari gambar-gambar itu. Seperti yang dapat kita duga, pelaku utamanya adalah para remaja yang memang sedang berada dalam kondisi seksual yang prima. Mungkin Pak Gunawan juga mengingat beberapa hari yang lalu masuk ke dalam surat kabar Jawapos tentang beredarnya gambar porno seorang remaja putri yang adalah siswi di sebuah SMA di suatu kota di Jawa Timur dan gambar itu sudah meluas ke mana-mana. Benar-benar ini menjadi sebuah tren, kita tahu hal ini yang tertangkap belum lagi yang tidak tertangkap. Dan di Amerika sendiri hal ini telah menjadi masalah yang luar biasa besar. Bahkan ketika remaja itu diwawancara, mereka mengatakan bahwa mereka melakukannya untuk kesenangan dan tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memaksa dan memang mereka ingin melakukannya, jadi memfoto diri sendiri melakukan adegan seksual kemudian mengirimkannya kepada teman-teman, bahkan ada yang mengirimkan itu secara umum. Jadi benar-benar kita melihat ini adalah sebuah badai yang sedang menerpa, dan bagi anak-anak kita, kalau mereka tidak kita bekali maka mereka ini benar-benar bisa tersapu oleh badai ini sebab teman-teman akan mengirimkan gambar-gambar ini kepada mereka dan mereka akan mulai melihatnya. Jadi benar-benar penyebaran pornografi melalui alat-alat komunikasi dan komputer akan menjadi masalah yang berat.
GS : Sebenarnya apa yang melandasi seseorang mengirimkan gambar-gambar porno, bahkan gambar porno dari bagian tubuhnya sendiri dibagikan kepada orang lain, Pak Paul ?
PG : Yang menarik adalah tidak ada jawabannya selain untuk senang-senang saja. Jadi waktu saya membaca tentang hal ini dan para remaja ini diwawancara, mereka berkata hanya untuk senang-senang. Waktu ditanya, "Apakah tidak malu?" mereka menjawab, "Untuk apa malu, ini tubuh saya sendiri dan saya bangga dengan tubuh saya kalau orang mau melihat, silakan." Jadi benar-benar remaja ini tidak memikirkan dampaknya, bagaimana kalau nanti dia menjadi mangsa bahkan nanti akan ada orang yang mencari tahu di mana dia tinggal dan tergoda untuk melakukan hal yang lebih buruk kepadanya. Belum lagi kita harus menyadari bahwa gambar-gambar ini akan digunakan oleh orang untuk berfantasi seksual, untuk bermasturbasi. Jadi benar-benar kerugian yang sangat besar, belum lagi kalau orang-orang ini nanti menjadi seorang ibu rumah tangga, menjadi bapak, menjadi orang yang lumayan terhormat. Bagaimana kalau nanti ada orang yang menyimpan gambar-gambar ini? Bagaimana kalau nanti dia diperhadapkan dengan gambar-gambar ini setelah dia menjadi mama. Dan anaknya nanti yang akan berhadapan dengan gambar ini, yaitu mamanya atau papanya yang sedang beradegan porno dan direkam dan masih ada orang yang menyimpannya, bagaimana kalau nanti mereka bertobat, bagaimana kalau nanti mereka menjadi anak Tuhan dan melayani Tuhan, kemudian tiba-tiba ada orang yang berkata, "Saya memunyai gambarmu, waktu kamu sedang seperti ini dan seperti itu." Banyak anak remaja tidak memikirkan hari depan dan hanya memikirkan hari ini, yang penting hari ini senang-senang. Jadi hal ini sangat berbahaya dan sudah menjadi hal yang dianggap normal bagi banyak anak-anak remaja, sehingga banyak yang melakukan seperti ini, ada yang mengajak pacarnya untuk melakukan adegan porno sendiri dan mengirimkannya kepada dia, saling tukar menukar. Begitu banyak hal yang menyimpang yang sedang terjadi. Jadi sudah selayaknyalah kita orang tua mengetahuinya.
GS : Jadi sebenarnya dampak negatif mana yang lebih besar, Pak Paul ? Terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang yang melihat gambar-gambar itu?
PG : Pada akhirnya dirinya sendiri, Pak Gunawan, karena yang tadi sudah saya singgung. Bagaimana kalau nanti 10 tahun berlalu dan dia sudah menjadi seorang ibu rumah tangga, dia telah bertobat dan dia telah menjadi orang terhormat dan masih ada orang yang menyimpan gambar-gambar ini. Bagaimana nanti kalau ada orang yang mengenali dia dari gambar ini, dan waktu dia sedang berjalan ada orang yang mengenali dia maka orang akan mengingat gambar-gambar dia dalam adegan porno itu. Jadi ada dampak-dampak berat yang harus ditanggungnya. Salah satu dampak berat yang kita juga harus pikirkan adalah terjadinya hubungan seksual akibat tingginya tingkat rangsangan yang ditimbulkan yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Jadi mula-mula saling mengirimkan adegan porno yang dilakukan sendiri, karena sering dikirim lewat HP dan sebagainya akhirnya waktu mereka berjumpa, dari awal mereka sudah begitu terangsang dan kemudian setelah bertemu mereka langsung melakukan hubungan seksual dan akhirnya terjadilah kehamilan di luar nikah. Jadi benar-benar masalah ini terus berkembang dan orang tua tidak bisa menutup mata.
GS : Dan mereka yang melakukan hal-hal yang seperti ini, sebetulnya masih di dalam pengawasan orang tua, Pak Paul. Jadi sebenarnya apa yang orang tua harus lakukan ?
PG : Yang kita harus lakukan, yang pertama adalah kita harus memantau anak-anak dengan dekat. Dewasa ini Pak Gunawan, ada orang tua yang berpuas diri dan mengatakan bahwa dia terus memantau keberadaan anaknya tapi hanya lewat telepon genggam, dia bisa SMS, telepon dan menanyakan di mana anaknya sekarang, sebab orang tuanya sendiri juga entah dimana, entah itu di klub malam atau mungkin sedang di kafe, pulang tengah malam. Jadi mereka sendiri tidak bisa mengawasi anak, hanya mengawasi anak lewat telepon genggam. Menghubungi anak dan menanyakan keberadaannya lewat telepon tidak sama dengan memantaunya secara langsung. Pada kenyataannya anak yang tahu bahwa dia diawasi, akan lebih takut untuk melakukan perbuatan terlarang, dibanding dengan anak yang tahu bahwa ia tidak diawasi. Jadi semua anak remaja Pak Gunawan, mesti tahu kalau dia diawasi. Begitu dia tahu kalau dia tidak diawasi, maka hilanglah pagar untuk melakukan perilaku yang menyimpang itu. Bukankah anak-anak yang melakukan hal-hal yang seperti ini hampir dapat dipastikan lepas dari pengawasan orang tuanya. Bisa memang orang tuanya mengabaikan secara tidak langsung karena pekerjaannya, tapi bisa juga diabaikan secara langsung akibat rumah tangga yang tidak harmonis. Jadi dengan kata lain, kemungkinan hal ini dilakukan oleh anak yang mendapatkan pengawasan yang ketat dari orang tuanya itu kecil, namun jika orang tuanya tidak mengawasi secara ketat maka kemungkinan ini jauh lebih besar.
GS : Kalau orang tua itu mengawasi anak terus menerus, itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan, Pak Paul, karena anak sudah keluar dari rumah dan banyak temannya di luar rumah, bagaimana orang tua bisa mengawasi terus menerus? Lagi pula kalau anak hanya menurut kepada orang tua, tidak melakukan hal itu selama dia diawasi kemudian di belakang kita dia melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan itu, ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu harus ada relasi yang akrab antara kita dan anak. Kita mesti mendapatkan kepercayaannya bahwa kita itu menyayanginya dan bahwa kita itu berpikir atau memikirkan kepentingannya. Di dalam relasi yang baik antara kita dengan anak, anak akan berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal yang dia tahu akan dapat memengaruhi reputasi orang tuanya atau melukai hati orang tuanya. Jadi anak yang tahu bahwa dia disayangi akan jauh lebih sulit melakukan hal-hal yang dapat mengecewakan orang tuanya. Tapi anak yang tidak tahu bahwa dia disayangi atau tidak peduli apakah dia disayangi atau tidak oleh orang tuanya, otomatis juga tidak akan begitu peduli apakah tindakannya akan berdampak pada orang tua atau tidak. Jadi saya tahu kita harus memberi ruangan kepada anak, kita harus memberi kepercayaan kepada anak dengan meningkatnya usia namun itu tidak berarti kita melepaskan pengawasan secara penuh. Kita tetap harus menanyakan kemana dia pergi, jam berapa dia kembali, dengan siapa dia pergi, apa yang dilakukannya dan kenapa dia terlambat pulang. Hal-hal seperti itu tetap harus kita tanyakan kepada anak-anak remaja kita sebab semua pertanyaan ini memerlihatkan bahwa kita mengawasinya. Kendati dia tidak suka namun pengawasan ini perlu, kita pun mesti menanyakan tentang penggunaan komputer dan telepon genggamnya. Jangan takut menanyakan hal-hal seperti ini. Dan jangan takut menyinggung perasaannya. Kalau misalkan anak bertanya kepada kita maka katakan dengan jujur, "Saya takut, oleh sebab itu saya ingin tetap memantau kamu" sebab saya tahu kalau anak dipantau, kemungkinan dia berbuat akan lebih kecil. Jadi kita katakan terus terang kepada anak-anak. Kalau anak-anak berkata, "Saya masih tetap bisa melakukannya meskipun papa dan mama mengawasi saya," maka kita menjawab, "Itu betul, tapi karena kamu tahu kalau kami mengawasi maka nantinya kamu akan lebih berhati-hati dan nanti kamu juga akan lebih merasa bersalah kalau kamu melakukannya karena kamu tidak mau kalau nanti ketahuan. Tapi kalau kami tidak mengawasi sama sekali, bukankah kamu lebih dapat tergoda, bukankah kamu nanti lebih dapat berkata tidak mungkin ketahuan." Jadi faktor tidak diketahui itu menjadi faktor yang besar yang mendorong anak untuk melakukan perilaku yang menyimpang ini.
GS : Tapi sebenarnya relasi antara orang tua dan anak, itu yang menjadi lebih penting dari pada kita bisa mengawasi anak karena kita sangat terbatas sekali. Apalagi kalau anak ini sudah di luar kota, sulit bagi kita untuk memeriksa HP atau komputernya, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi bukan saja kita harus menjaga relasi dengan anak tapi kita juga harus menjaga atau mengawasi perkembangan rohani karena anak yang tidak memiliki minat rohani, tidak peduli dengan kehendak Allah, otomatis juga tidak peduli dengan "Apakah tindakannya ini berdosa atau tidak." Jadi kita mesti menjaga relasi dengan baik dan juga mendorong dia untuk menjaga relasi dengan Tuhan dengan baik. Jangan sampai kita berpikir karena anak kita baik, maka tidak mungkin dia melakukan hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah kendati dia anak yang baik, namun dia telah berkenalan dengan anak yang tidak begitu baik dan anak yang tidak begitu baik ini menyuruh atau memengaruhinya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya karena keluguannya ia telah menjadi mangsa anak yang tidak baik itu. Jadi sekali lagi meskipun anak kita baik, namun tetap kita mesti menjaganya karena kita tidak tahu dengan siapa saja dia bergaul. Maka jalanilah komunikasi sehingga kita tahu dengan siapa dia bergaul itu penting sekali, juga memastikan dia memunyai hubungan dengan Tuhan dengan baik, itu pun juga penting karena kalau dia tahu bahwa Tuhan juga mengawasi maka dia juga akan lebih takut untuk berdosa. Kalau dia tidak peduli bahwa Tuhan mengawasi atau tidak, sudah tentu dia akan lebih mudah jatuh ke dalam dosa pula.
GS : Sekarang ini banyak anak-anak yang oleh orang tuanya, kalau tinggal di luar kota bukan di-kost-kan namun disewakan atau dibelikan apartemen di mana pengawasan itu menjadi sangat longgar. Kalau di-kost-kan atau diasramakan, kita masih bisa menghubungi kepala asrama atau ibu kost atau orang tua asuhnya dan meminta tolong agar dia diawasi, tapi kalau sudah di apartemen, hal itu bisa menjadi kendala juga, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi banyak sekali orang tua yang bersikap menggampangkan hal-hal seperti ini "Tidak mengapa beli apartemen dari pada menyewa atau kost," kalau kita tidak bisa memastikan perilaku si anak maka lebih baik jangan dan lebih baik di-kost-kan supaya ada yang mengawasi, namun kita pun juga mesti berhati-hati dengan tempat-tempat kost karena ada pemilik kost yang mengawasi tapi ada juga yang tidak, sebab mereka akan berkata bahwa ini bukanlah tugas kami dan ini adalah tugas orang tua mengawasi anaknya dan kami hanya menyediakan tempat, kami tidak menyediakan pengawasan atas perilakunya. Itu sebabnya kita juga tahu bahwa di tempat-tempat kost hal-hal seperti ini terjadi dan sering terjadi. Betapa banyak sekarang mahasiswa dan mahasiswi yang sudah berhubungan seksual di tempat kost. Jadi kita tidak bisa menyalahkan tempat kost atau orang tua kost karena itu memang adalah anak kita. Jadi pemilik kost hanya menyediakan tempat untuk tinggal, dan tugas kitalah sebagai orang tua untuk memelihara hubungan yang dekat dengan anak dan memastikan mereka pun memelihara hubungan yang dekat dengan Tuhan.
GS : Apakah kita bisa melihat gejala-gejala yang nampak dalam diri anak kita kalau anak ini mulai terpengaruh oleh pergaulan yang kurang sehat, Pak Paul?
PG : Saya kira bisa. Misalkan kita ini memerhatikan kehidupan rohani anak, jika kita melihat dia mulai enggan ke gereja atau berdoa dan kita melihat ketika bangun tidur dia langsung pergi, malam mau tidur dia langsung tidur, kita tidak lagi melihat dia membaca Firman Tuhan. Silakan kita tanyakan kepada si anak apakah yang sedang terjadi dalam dirinya, bila ia tidak lagi bergaul akrab dengan Tuhan, ini adalah pertanda yang tidak baik, jangan-jangan sekarang dia mulai terlibat dosa sehingga dia tidak begitu nyaman hidup dengan Tuhan, atau dia sudah kehilangan minat hidup dengan Tuhan, dia menganggap dulu ketika dia masih kecil ke gereja karena disuruh oleh orang tua dan sekarang saya sudah dewasa, saya tidak perlu lagi mengikuti kehendak orang tua saya dan saya mau memilih sendiri. Kita sebagai orang tua tetap harus mengawasi dan terus mengingatkan dia untuk hidup akrab dengan Tuhan. Atau ada juga yang seperti ini, ada anak yang tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya yang lama, yang kita kenal baik-baik dan sekarang sudah mulai bergaul dengan teman-teman yang lain. Kalau kita tanya dia tidak mau menceritakannya kepada kita, maka ini berarti ada sesuatu yang terjadi, biasanya anak tidak mau menceritakannya tentang teman-temannya, karena dia tahu kalau orang tuanya pasti tidak setuju bahwa teman-temannya itu adalah teman-teman yang baik. Jadi kalau dia tidak mau cerita dan sepertinya menghindar maka kita harus mulai curiga. Atau misalkan tanda yang lainnya, seorang anak sering mengurung diri di kamar dan sering terlihat kaget ketika kita memasuki kamarnya, maka tanyakan ada apa, dan mulai curigalah apa yang sedang dia kerjakan. Kadang-kadang orang tua masuk ke kamar, kemudian mereka kaget, dia mau menutup komputernya dan memencet sesuatu sehingga gambar yang keluar adalah misalkan permainan atau games padahal sebelum itu yang dia sudah mulai lihat mungkin gambar-gambar porno. Jadi kita mesti menanyakan dan jangan takut bertanya. Misalkan dia terus memegangi telepon genggamnya atau langsung memasukkan 'password' sehingga tidak ada yang bisa membuka telepon genggamnya, dia takut sekali kalau kita melihat isinya. Kita patut curiga kenapa kita tidak boleh memeriksa apa yang ada di 'handphone'nya itu. Jangan kita takut dan berkata, "Nanti menyinggung perasaannya," kadang orang tua zaman sekarang ini takut menyinggung perasaan anak dan ini yang mesti kita camkan baik-baik bahwa waktu kita hendak mendisiplin anak, maka kita pasti menyinggung perasaannya tapi demi kepentingannya. Maka kita tidak mau dihentikan karena ketakutan menyinggung perasaannya. Sudah tentu kita tidak sembarangan menyinggung-nyinggung perasaan, tidak sembarangan mau melecehkannya, menghinanya dan sebagainya, tapi untuk hal-hal yang penting kalau pun menyinggung perasaannya maka tidak apa-apa. Semua perubahan atau tanda-tanda yang tadi saya sebut biasanya memunyai penyebab, dan tugas kitalah untuk memastikan bahwa penyebabnya bukanlah masalah yang serius.
GS : Sulit memang bagi kita sebagai orang tua membedakan, kita mau mendisiplin anak dengan cara-cara seperti itu, tapi kita juga mau menghargai 'privacy' anak itu sendiri dengan tujuan mengajar si anak supaya menghargai 'privacy' kita. Dalam hal ini supaya seimbang bagaimana, Pak Paul ?
PG : Kadangkala kita harus berterus terang kepada anak dengan mengatakan bahwa "Saya selalu menghargai 'privacy' kamu, saya tidak sembarangan memasuki kamar kamu dan kamu tahu itu, selama ini papa atau mama berusaha menjaga hal itu namun akhir-akhir ini papa dan mama punya kecurigaan dan untuk memastikan kecurigaan kami tidak benar, kami ingin menanyakan dan melihat langsung". Jadi lebih baik berterus terang seperti itu dari pada secara diam-diam buka ini dan itu, mencari ini dan itu tentang anak-anak kita, lebih baik kita langsung bicara dengan dia. Tadi yang sudah saya singgung adalah banyak orang tua sekarang takut melakukan hal itu kepada anak. Jangan menghormati anak lebih dari menyayangi jiwanya. Kita harus menyayangi jiwa anak dan jangan sampai jiwanya rusak, jangan sampai masa depannya hancur, saya akan korbankan menghormati perasaan anak sebab ada hal yang jauh lebih penting lagi.
GS : Disamping sebagian orang tua takut melakukan hal itu, kadang-kadang mereka juga tidak tahu caranya. Bagaimana caranya supaya saya bisa masuk mendekati anak dan menanyakan kepada si anak tanpa menimbulkan ketersinggungan atau bahkan menimbulkan jarak yang lebih jauh antara kita dengan anak?
PG : Jadi saya tadi sudah sarankan agar kita langsung berterus terang berkata kepada anak, "Kami curiga dan karena kami curiga maka kami mencari tahu." Misalkan semuanya dia memakai 'password', maka kita katakan, "Kalau begitu saya akan mengambil komputermu," dan kita katakan, "Saya akan membawa ke ahli komputer yang bisa memecahkan 'password'nya, supaya isinya bisa dilihat." Dan lihat reaksinya, kalau reaksinya begitu marah dan ketakutan maka kita tahu kalau ada sesuatu dan kita katakan, "Pilihanmu hanya dua, buka sekarang dan saya melihat semuanya atau saya akan ambil kemudian akan saya bawa ke tempat lain biar orang lain juga melihatnya." Jadi inilah yang harus dilakukan karena begitu banyak bahaya, dan sudah sering korban berjatuhan dan kita hendak menghentikannya.
GS : Tapi perlu diberitahukan kepada anak akan resiko apa yang dia lakukan pada saat ini, bahwa resikonya terlalu besar dan dampaknya begitu luas untuk masa yang akan datang.
PG : Betul sekali. Maka sekali lagi ini juga bergantung pada relasi orang tua dan anak, kalau relasi orang tua dan anak itu begitu renggang, tidak ada kedekatan jadi orang tua jarang memberitahukan anak akan apa yang baik dan sebagainya, anak-anak akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal itu.
GS : Kalau mengenai hubungan rohani anak, biasanya kita bisa menanyakan misalnya tadi khotbahnya tentang apa dan ayat bacaan dari Kitab Suci apa. Hal ini bisa kita komunikasikan dengan anak tapi untuk hal-hal yang tertutup ini, kita harus hati-hati, tapi juga berani melangkah. Pak Paul, apakah ada hal-hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Yang terakhir adalah kita mesti berhati-hati dengan tipe teman pemangsa. Maksud saya, ada anak yang dibesarkan dalam lingkungan buruk karena sejak kecil anak ini telah dikondisikan untuk menjadi pemangsa anak lainnya. Misalnya ada anak yang mengalami penganiayaan, dipukuli dengan luar biasa kerasnya oleh orang tua sehingga dia akhirnya menjadi penganiaya pula. Jika keinginannya tidak terturuti, dia akan marah, dia akan mengancam serta melakukan hal-hal yang buruk, bila anak kita jatuh ke tangannya sudah pasti dia akan menjadi objek manipulasi dan ancamannya. Atau contoh lainnya ada anak yang tidak terawasi dengan baik oleh orang tuanya sehingga dia bebas melakukan apa saja termasuk menonton film porno, belum lagi kalau anak itu bisa mendapatkan film-film porno di rumah, dalam keluarga yang bermasalah dimana ada ayah atau ibu yang juga bermasalah yang memunyai akhlak yang buruk. Mereka juga mungkin pengkonsumsi film-film porno, sehingga anak-anak sejak kecil memunyai akses terhadap film-film porno itu, bila anak-anak kita berkenalan dengan anak yang seperti ini, yang dibesarkan dalam rumah seperti itu, dengan berbagai cara anak itu akan membuat anak kita tunduk kepadanya dan bahkan bersedia bersetubuh atau melakukan adegan seksual lainnya. Jadi awasilah teman anak-anak, bila ia tampak sangat ketakutan atau begitu tunduk dengan seorang temannya, maka berhati-hatilah.
GS : Rupanya tipe teman pemangsa ini tambah hari tambah banyak, mengelilingi anak atau anak-anak kita, Pak Paul?
PG : Betul. Karena makin banyak keluarga yang bermasalah dan makin banyak orang tua yang kawin cerai dan hidupnya itu juga tidak karuan, sudah bisa dipastikan anak-anak mereka pun juga tidak karuan dan akan ada sebagian yang memangsa anak-anak yang baik. Anak-anak kita yang baik mungkin sekali lugu dan tidak begitu mengerti kejahatan orang lain. Maka kita mesti melindungi dia. Saya harus mengingatkan orang tua, mesti berbuat sedapat-dapatnya melindungi anak-anak dari tipe-tipe teman yang berakhlak buruk seperti ini.
GS : Dan keteladanan orang tua ini sangat dibutuhkan oleh para remaja atau para pemuda kita saat ini karena mereka ingin melihat contohnya dari orang tuanya langsung.
PG : Betul, sebab kalau hidup kita sendiri tidak karuan kemudian kita menyuruh anak kita hidup lebih tertib maka anak kita akan berkata, "Papa sendiri hidup seperti ini, mama sendiri hidupnya seperti ini maka janganlah menyuruh kami hidup tertib." Jadi semua memang harus kembali kepada bagaimanakah kita hidup.
GS : Apakah ada ayat-ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 22:3 berkata, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka." Remaja berada pada tahap di mana dia beranggapan bahwa dia tahu semua dan tidak membutuhkan pengawasan orang tua, menurut Firman Tuhan ibaratnya dia orang yang tak berpengalaman namun percaya diri terus berjalan. Firman Tuhan berkata, "Orang yang seperti ini akan kena celaka," maka sebagai orang tua kita harus terus memerhatikan kehidupannya agar dia tidak kena celaka.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja dan Pergaulannya" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat on-line melalui alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya adalah, bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tetapi juga gambar organ tubuh sendiri. Seperti dapat kita duga, pelaku utamanya adalah para remaja yang memang sedang berada dalam kondisi seksual yang prima. Dampak dari perilaku ini sangat buruk: Ada yang menyimpan gambar-gambar ini kemudian menyebarluaskannya di kalangan teman dan luar teman. Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan untuk berfantasi seksual dan masturbasi. Dampak terberat adalah terjadinya hubungan seksual akibat tingginya tingkat rangsangan yang ditimbulkan yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Apakah yang harus dilakukan orang tua dalam menyikapi masalah yang tengah menggejala ini?
* Kita harus memantau anak-anak dari dekat. Dewasa ini ada orang tua yang berpuas diri mengatakan bahwa ia terus memantau keberadaan anaknya lewat . . . telepon genggam! Menghubungi anak dan menanyakan keberadaannya lewat telepon tidaklah sama dengan memantaunya secara langsung. Pada kenyataannya, anak yang tahu bahwa ia DIAWASI akan lebih takut untuk melakukan perbuatan terlarang dibanding dengan anak yang tahu bahwa ia TIDAK DIAWASI.
Memang kita mesti menambah kepercayaan pada anak dengan meningkatnya usia namun itu tidak berarti kita melepaskan pengawasan secara penuh. Kita harus tetap menanyakan ke mana ia pergi, jam berapa ia kembali, dengan siapa ia pergi, apa yang dilakukannya, dan kenapa ia terlambat pulang. Semua pertanyaan ini memerlihatkan bahwa kita mengawasinya. Kendati ia tidak suka, tetapi pengawasan ini perlu.
Mungkin kita berpikir tidak mungkin anak kita akan melakukan hal-hal seperti ini sebab pada dasarnya ia anak yang baik. Masalahnya adalah, kendati ia anak yang baik namun mungkin saja ia telah berkenalan dengan anak yang tidak begitu baik. Dan anak yang tidak begitu baik ini menyuruh dan memengaruhinya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya, ia telah menjadi mangsa anak yang tidak baik itu.
* Kita harus menggunakan pelbagai barometer untuk mengenali gejala yang tidak sehat ini. Misalkan, kita mesti memerhatikan kehidupan rohani anak. Jika ia mulai enggan ke gereja atau berdoa, tanyakanlah apa yang tengah terjadi pada dirinya. Bila ia tidak lagi bergaul dengan teman-temannya, tanyakanlah apa yang terjadi. Sewaktu ia sering mengurung diri di kamar dan terlihat kaget ketika kita memasuki kamarnya, tanyakanlah kenapa dan mulai curigalah. Jika ia terus memegangi telepon genggamnya dan sangat takut kita melihat isinya, curigalah dan paksalah untuk melihat. Semua perubahan memunyai penyebab dan adalah tugas kita untuk memastikan bahwa penyebabnya bukanlah masalah yang serius.
* Berhati-hatilah dengan tipe teman yang pemangsa. Ada anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang buruk sehingga sejak kecil, ia telah dikondisikan untuk menjadi pemangsa anak lainnya. Misalnya ada anak yang tidak terawasi dengan baik oleh orang tuanya sehingga ia bebas melakukan apa saja, termasuk menonton film porno. Bila anak kita berkenalan dengannya, dengan pelbagai cara ia akan membuat anak kita tunduk kepadanya dan bersedia bersetubuh atau melakukan adegan seksual lainnya. Jadi, awasilah teman-teman anak. Bila ia tampak sangat ketakutan atau begitu tunduk pada seorang temannya, berhati-hatilah.
Firman Tuhan: "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka." (Amsal 22:3) Remaja berada pada tahap di mana ia beranggapan bahwa ia tahu semua dan tidak membutuhkan pengawasan orang tua. Sebagai orang tua kita harus terus memerhatikan kehidupannya agar ia tidak kena celaka.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:51am.
Abstrak:
Salah satu masalah yang sering dihadapi anak-anak Tuhan dewasa ini adalah keterbatasan pilihan pasangan hidup. Pada umumnya mencari orang seiman dan sepadan tidaklah mudah. Kadang kita menemukan yang seiman namun tidak sepadan; atau, kadang menemukan yang sepadan tetapi tidak seiman. Apakah yang mesti dilakukan dalam kondisi seperti ini? Karena seringkali keterbatasan pasangan hidup membuat kita mengkompromikan hal-hal yang di luar Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Berpacaran dengan Siapa ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Kalau kita memikirkan tentang para remaja dan pemuda yang mau berpacaran, untuk menentukan itu menjadi masalah yang cukup besar, Pak Paul, karena mereka tahu bahwa ini adalah pilihan sekali untuk seumur hidup. Ini merupakan suatu gejala yang umum atau pada tempat-tempat tertentu saja, Pak Paul ?
PG : Memang kita harus menerima fakta bahwa dewasa ini agak sedikit sulit bagi orang itu bertemu dengan orang yang seiman karena bukankah kita sekarang tahu kalau pergaulan itu sangat meluas, misalkan di tempat kuliah kita bertemu dengan banyak orang, kemudian sekarang lewat 'internet chatting', kita juga bisa bertemu dengan banyak orang atau melalui facebook dan sebagainya. Jadi dengan kata lain terjadi perubahan secara sosiologis, kelompok-kelompok dimana kita bertemu dengan teman-teman. Jadi makin banyak kesempatan kita bertemu dengan orang-orang di luar sehingga akhirnya kemungkinan-kemungkinan kita tidak memilih yang di dalam gereja itu juga besar. Maka bagi sebagian orang yang menghabiskan waktunya dalam konteks gerejawi, kadang-kadang mereka kesulitan untuk menemukan pasangan hidup. Dan adakalanya kita juga menemukan fakta bahwa di dalam gereja misalkan lebih banyak wanita daripada pria, sehingga akhirnya para wanita itu mengalami kesulitan karena adanya batas dan tidak banyak anak-anak muda pria yang masih bergereja.
GS : Jadi masalah ini lebih banyak menjadi persoalan bagi remaja putri atau pemudi, begitu Pak Paul?
PG : Saya kira ya. Jadi lebih banyak masalah ini ditemukan oleh para wanita yang lajang apalagi waktu usia mereka mulai meningkat dan akan lebih kesulitan lagi mendapatkan pasangan karena kebanyakan pria seumur mereka sudah menikah namun dia di gereja masih tetap lajang. Akhirnya ada godaan untuk mengkompromikan nilai-nilai dan akhirnya asal terima saja dan yang penting menyandang status nikah, ini yang nanti harus kita waspadai.
GS : Sebenarnya dalam hal apa Pak Paul, mereka harus punya pedoman atau suatu norma atau ukuran pasangan hidup seperti apa yang layak menjadi pasangannya ?
PG : Kita memang harus setia pada panduan atau pedoman yang benar dan yang Tuhan juga tetapkan, misalkan yang pertama adalah kita tidak boleh berkompomi dalam hal yang penting yakni mencari pasangan yang seiman dan jangan sampai kita itu mengkompromikan dengan berkata, "Saya sepadan, cocok, tapi tidak seiman. Mungkin hal seperti ini tidak apa-apa dan nanti kita bisa bersama-sama ke gereja." Tapi Firman Tuhan dengan jelas mengatakan di 1 Korintus 7:39, "Ia bebas kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang percaya." Dalam konteks percaya di sini adalah percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus, juga di 2 Korintus 6:14, Firman Tuhan menegaskan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." Sudah tentu Rasul Paulus di sini merujuk pada orang yang tak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Jadi meskipun kondisi mendesak, pilihan terbatas namun jangan kompromi dalam hal yang paling penting ini sebab ini adalah perintah Tuhan untuk anak-anak-Nya.
GS : Dalam hal ini sebenarnya gereja berpeluang atau memunyai panggilan untuk memertemukan para pemuda dan pemudinya. Jadi membuat suatu program yang bisa memertemukan mereka.
PG : Sayangnya kita harus akui, program seperti itu sangat langka. Jadi tidak terlalu banyak gereja yang memunyai program khusus untuk memertemukan para pria lajang dengan wanita lajang. Dan adakalanya gereja pun memunyai kesulitan untuk melakukan ini sebab kita tidak bisa memaksa-maksa orang untuk datang kalau orang itu tidak mau datang. Jadi intinya adalah seringkali ini menjadi masalah yang berat dalam gereja karena saya tahu bahwa bagi kebanyakan orang pernikahan menjadi sangat penting. Jadi mereka berusaha sedapat-dapatnya untuk menikah dan seringkali akhirnya mereka berkompromi dalam hal yang paling penting yaitu mereka akhirnya tidak menikah dengan yang seiman.
GS : Dengan alasan, beberapa orang yang mengatakan, "Nanti kalau kami sudah menikah, kami akan mengajak dia ke gereja dan sebagainya."
PG : Memang ada yang berkata seperti itu, namun kita mesti mengingat bahwa begitu kita memutuskan menikah dengan orang yang tidak seiman, sebetulnya kita telah mendukakan hati Tuhan yang memberikan perintah-perintah ini. Tuhan memberikan perintah untuk ditaati dan bukan hanya untuk dibaca. Waktu Tuhan memberikan perintah, Dia memikirkan kepentingan kita. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan menyusahkan kita dengan perintah-perintah-Nya tapi sesungguhnya perintah Tuhan adalah untuk kebaikan kita. Bukankah akan jauh lebih indah jika kita hidup bersama seorang suami atau seorang istri yang seiman, yang sama-sama mengasihi Tuhan dan Juruselamat kita. Memang ada orang yang berkata bahwa, "Ini bukanlah hal yang besar, kami berbeda juga tidak mengapa," tapi seringkali saya harus berkata, "Yesus Tuhan adalah Bapa kita, Dia adalah Juruselamat yang telah mati untuk kita dan Dia telah mengadopsi kita sebagai anak-anak-Nya, jadi Dia adalah Bapa kita dan mana mungkin saya akan menikah dengan orang yang tidak mau mengakui Bapa saya, yang tidak mau bercakap-cakap dengan Bapa saya." Jadi masalahnya seperti itu, bagi saya penting sekali kita menikah dengan yang seiman yang dapat memanggil Bapa surgawi kita, yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita."
GS : Seringkali yang dipakai alasan adalah pasangan yang sama-sama Kristen seringkali menemui banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangganya sedangkan mereka yang tidak seiman masih kelihatan lebih baik.
PG : Ini memang salah satu dalih atau rasionalisasi yang dikemukakan oleh orang untuk mengizinkan dirinya menikah dengan yang tidak seiman dan ini membawa kita kepada panduan yang berikutnya. Setelah kita tekankan jangan berkompromi dalam hal yang paling penting yakni menikahlah dengan yang seiman, kita juga harus mendengarkan panduan yang kedua yaitu kita tidak boleh berkompromi dengan hal yang paling penting lainnya yakni mencari pasangan yang sepadan. Artinya kalau kita bertemu dengan yang seiman namun tidak sepadan maka jangan teruskan dan jangan kita berkata, "Yang penting seiman karena kita berdua sudah sama-sama Kristen jadi tidak ada masalah meskipun banyak ketidakcocokan." Ingat bahwa pernikahan tidak dibangun di atas kesamaan iman saja, tapi juga di atas kecocokan atau kesepadanan. Jadi janganlah menggampangkan dengan berkata bahwa selama seiman maka segala macam masalah akan bisa diselesaikan. Secara teoritis hal itu betul, tapi kita ini bukanlah orang yang selalu super rohani. Jadi kalau kita memulai pernikahan dengan perbedaan-perbedaan, dengan ketidakcocokan yang begitu besar maka jurang ini akan memisahkan kita meskipun kita seiman. Jadi mesti kita camkan baik-baik walaupun kita dapat menyelesaikan satu dua hal, namun kalau kesepadanan begitu banyak, nanti akan menyulitkan kita dalam fase penyesuaian.
GS : Ketidaksepadanan itu juga dalam bidang kerohanian, jadi walaupun seiman tapi kalau di dalam pertumbuhan iman mereka itu tidak sepadan, maka itu akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga mereka.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi misalkan ada orang yang berkata, "Hidup ini adalah untuk Tuhan, uang adalah uangnya Tuhan, yang penting kita mengelolanya dengan bertanggung-jawab," orang ini kadang-kadang akan tergerak untuk memberikan lebih dari apa yang biasanya dia beri, sebab dia merasakan bahwa Tuhan menggerakkan dia untuk memberikan persembahan ekstra kali ini. Pasangan yang tidak memiliki persamaan pertumbuhan rohani mungkin sekali akan marah dan berkata, "Kenapa kamu memberikan lebih, untuk apa? Itu tidak perlu." Bagaimanakah kita menjelaskan kepada dia bahwa pada saat itu entah mengapa itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Tapi bagi orang yang tidak mengalami hal-hal seperti ini sulit untuk dia menerimanya. Pak Gunawan benar mengemukakan bahwa kita mesti menemukan yang sepadan juga dalam hal pertumbuhan rohaninya, dan yang sepadan dalam hal kepribadian. Jangan sampai kita menikah dengan orang yang kepribadiannya terlalu bertolak belakang dengan kita dan kita mesti ingat prinsip bahwa semakin berbeda maka semakin keras kerja atau usaha yang nanti harus kita keluarkan untuk menyesuaikan diri. Jadi dari awal pilihlan seseorang yang memang memunyai banyak kesamaan baik dalam hal nilai hidup, kebiasaan, dalam hal sifat-sifat. Makin sepadan maka makin memudahkan kita untuk menyesuaikan diri.
GS : Kesepadanan ini saya rasa juga penting dalam hal tujuan hidup. Jadi perlu ada kesamaan tujuan hidup kalau yang satu ke Utara dan yang lain ke Selatan, maka akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga itu.
PG : Betul. Jadi misalkan tujuan hidupnya adalah kita hidup untuk Kristus artinya kita akan mendahulukan kepentingan Kristus dan bukan kepentingan kita. Tapi ada orang yang memunyai tujuan hidup hanyalah untuk mengumpulkan harta supaya nanti bisa diwariskan kepada anak-anak dan cucu kita sehingga tujuan mereka adalah membesarkan anak maka semua yang dihasilkan, sedapatnya disimpan untuk keperluan anak-anaknya. Atau ada orang yang memunyai tujuan hidup mengumpulkan harta atau melebarkan karier usahanya sebesar besarnya dan tidak sama sekali memikirkan kepentingan Tuhan. Sudah tentu jika itu yang terjadi yakni adanya perbedaan-perbeaan itu, tidak bisa tidak akan menimbulkan masalah.
GS : Dua syarat itu saja sudah membuat orang sulit untuk mendapatkan pasangan hidup, kemudian bagaimana dengan yang lainnya, Pak Paul ?
PG : Kalau dua syarat ini dipenuhi dan kita mendapatkan orang yang sepadan dan seiman, faktor lainnya dapat dikompromikan misalkan kriteria 'seberapa cantik dan tampannya pasangan kita.' Hal itu mungkin masih bisa kita kompromikan. Atau tingkat pendidikan, asal tidak terlalu jauh berbeda maka kita masih bisa kompromikan, misalkan lagi tentang suku, ada orang yang memunyai target menikah dengan orang yang sesuku dan kadang-kadang hal ini tidak dapat kita lakukan, dan kita masih bisa terima asalkan kita menyadari perbedaan latar belakang yang ditimbulkan oleh perbedaan suku itu. Kemudian kita juga masih bisa mengkompromikan kemapanan ekonomi, ada orang yang tadinya memiliki prinsip akan menikah dengan orang yang sudah mapan, mapan artinya sudah punya rumah dan sebagainya. Sudahlah kita terima bahwa dia memang belum punya rumah, tapi nanti masih bisa kontrak rumah, yang penting dia sudah memunyai pekerjaan. Atau hal lain seperti warna kulit dan penampilan fisik lainnya. Semua ini adalah faktor yang terbuka untuk dipertimbangkan ulang, namun tetap satu pertanyaan yang mesti diajukan adalah dapatkah saya tinggal bersamanya dan terus menghormati serta mencintainya seumur hidup. Pada akhirnya kita harus bertanya apakah kita dapat hidup bersamanya tanpa kriteria-kriteria yang kita dambakan itu. Jadi kalau kita berkata, "Kalau tingkat pendidikan tidak sama maka saya sulit untuk menghormatinya, kalau kemapanan ekonominya belum maka saya juga sulit menghormatinya," itu berarti jangan, sebab pertanyaan tadi harus kita jawab secara positif, "Ya, saya dapat tinggal bersamanya, saya dapat terus menghormatinya serta mencintainya seumur hidup meskipun hal-hal yang tadinya saya dambakan tidak ada." Jadi bila kita memutuskan untuk menikah dengannya walaupun salah satu faktor idaman tidak ada dalam dirinya, kita mesti menetapkan hati menerima dirinya apa adanya. Jadi saya meminta kepada para pendengar kita, sekali kita menerimanya maka kita tidak boleh lagi membangkitkan faktor-faktor yang tidak ada dalam dirinya itu. Ada orang yang tidak suka kalau pasangannya itu makin gemuk, waktu menikah dengan dia pun sebetulnya orangnya tidak terlalu kurus dan sekarang tambah gemuk dan tambah gemuk. Dia memang telah berusaha menjaga makan tapi bawaannya sejak lahir memang sudah gemuk, maka janganlah kita membangkit-bangkitkan dan jangan malah menambah luka di hati orang dengan terus mengkritik tentang kegemukannya. Ingat bahwa menerima berarti tidak menuntutnya.
GS : Kesulitannya ini muncul tatkala masih dalam pacaran apalagi seperti yang kita sudah bicarakan, orang cenderung memilih, "Tidak mengapa kalau ini kita kompromikan." Tapi sejak awalnya memang sudah diragukan apakah dia bisa hidup terus dengan orang yang seperti ini. Kalau pun mereka memutuskan untuk menikah apakah nanti tidak merupakan suatu benih yang nantinya menjadi sumber permasalahan ?
PG : Sudah pasti, Pak Gunawan. Jadi ini sebetulnya terjadi. Ada orang-orang yang menggampangkan, "Tidak mengapalah", tapi dalam hitungan beberapa tahun dan bukan hitungan puluhan tahun, sudah terjadi beberapa masalah dan akhirnya hendak bercerai. Karena mengharapkan menuntut pasangan menjadi seseorang yang bukanlah dia. Tapi persoalannya adalah dari awal dia sudah tahu namun tetap menerima dan setelah menikah menuntut pasangannya harus menjadi seperti itu. Ini benar-benar sesuatu yang tidak realistis, kalau kita sudah tahu kita tidak bisa menerimanya, maka jangan dilakukan dan kalau kita memang menerimanya maka kita harus diam dan jangan menuntut lagi.
GS : Di sini faktor keluarga juga penting dalam menentukan hal-hal yang bisa dikompromikan. Kadang-kadang pasangan itu sendiri kemungkinan besar bisa mengkompromikan itu tapi dari pihak keluarga itu keberatan, misalnya dalam hal suku, tingkat pendidikan, kemapanan ekonomi, di sini peran keluarga sangat kuat, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi kadang-kadang kita harus menimbang banyak faktor dan tidak ada jalan yang paling mudah yang bisa kita lalui. Kita harus berbicara dengan orang tua kita, menjelaskan, meyakinkan dan pada akhirnya kalau memang adanya keterbatasan pilihan dan ini adalah yang terbaik maka terimalah dan jangan persoalkan lagi.
GS : Selanjutnya apa, Pak Paul ?
PG : Panduan yang lain adalah boleh melihat, namun sebaiknya jangan mencari-cari pasangan hidup. Maksud saya seperti ini, silakan membuka mata dan diri untuk berkenalan namun jangan sampai kita pergi ke sana ke sini untuk mendapatkan jodoh, ini yang saya maksud dengan jangan mencari-cari pasangan hidup. Ada orang-orang yang sangat membutuhkan pasangan hidup sehingga ke sana ke sini tujuannya hanya satu, yakni mencari pasangan hidup. Jadi saya lebih menganjurkan, silakan bergabung dengan kelompok lajang agar dapat berkenalan namun jangan sampai kita terlalu menggebu-gebu dalam mencari pasangan hidup. Pada umumnya saya kira kita ini tidak suka dengan orang yang terlihat jelas tengah mencari-cari jodoh. Pada dasarnya kita tidak menyukainya oleh karena kita tidak ingin diperlakukan sebagai objek semata, objek untuk dinikahinya dan kita tidak mau diperlakukan seperti itu tapi kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang utuh dan bernilai, kita menuntut orang untuk berkenalan dan menyukai kita atas dasar keberadaan diri kita bukan atas dasar kebutuhannya mencari pasangan hidup.
GS : Seringkali yang menjadi masalah adalah bagi pribadinya itu sendiri, tidak menjadi masalah dan dia tetap tenang menghadapi semua ini tapi lingkungan sekitar dia yang menjodoh-jodohkan dia, mendorong-dorong dia sehingga dia merasa terusik, Pak Paul.
PG : Kadang-kadang lingkungan yang terlalu bersemangat menolong kita, dan mungkin kita juga harus berhati-hati jangan sampai terlalu bersemangat sehingga membuat orang juga merasa tidak nyaman, namun kita sendiri kalau sedang menanti-nantikan pasangan hidup, jangan sampai kita ini terlalu agresif sebab pada umumnya baik laki-laki maupun perempuan yang terlalu agresif, biasanya membuat orang lain itu tidak suka dan bahkan menjauhkan diri dari mereka.
GS : Zaman sekarang, kalau kita ingin menghubungi seseorang itu mudah sekali seperti yang Pak Paul tadi katakan yaitu lewat 'online' dan macam-macam sarana yang tersedia. Menurut pandangan Pak Paul ini bagaimana ?
PG : Sekarang ini ada banyak layanan-layanan 'online' untuk mendapatkan jodoh, berkenalan lewat 'online', dan ada juga yang lewat 'Facebook' dan 'Chatting' dikenalkan lewat teman dan sebagainya. Maka berhati-hatilah sebab kita bisa menaruh apa saja di layar dan kita bisa mengetikkan siapa kita, dari mana, gelar kita apa, saya berpendidikan apa, kita bisa menaruh itu di layar Facebook, 'Chatting lewat Online', tapi kita tidak tahu siapa yang akan mengecek. Bagi saya ini adalah membuka kesempatan untuk orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dan orang-orang yang jahat untuk bisa memangsa kita-kita ini yang tulus mencari pasangan hidup. Jadi saya mau mengingatkan bahwa mencari pasangan hidup tidaklah sama dengan dengan mencari buku lewat Online. Bahkan dalam membeli buku pun kalau kita membelinya Online, salah satu kerugian terbesarnya adalah kita tidak tahu isinya dan sebaliknya bila kita membeli buku di toko buku, maka kita akan dapat membaca dan mengetahui isinya, demikianlah dengan mencari pasangan hidup, perkenalan lewat Online menurut saya tidak sama dengan perkenalan lewat interaksi langsung. Perkenalan yang langsung dan melewati rentang waktu yang panjang pun tetap menuntut penyesuaian. Apalagi bila kita berkenalan lewat Online. Jadi ini kesimpulannya, untuk urusan sepenting pernikahan lakukanlah dengan cara yang tradisional namun terbukti ampuh yakni perkenalan langsung, kalau memungkinkan kenalilah juga keluarganya, kenali juga komunitasnya, lingkungannya dan ini akan menolong kita mengenal siapa pasangan kita, jangan tergopoh-gopoh mengiyakan lewat Online. Saya tahu memang ada yang berhasil tapi saya tahu juga ada yang kurang berhasil, karena bisa saja terjadi kebohongan.
GS : Tapi kalau itu dipakai sebagai langkah awal saya rasa masih dimungkinkan, Pak Paul, jadi hanya tahap perkenalan kemudian mereka saling bertemu, saling pendekatan dan sebagainya, apakah itu masih dimungkinkan, Pak Paul?
PG : Betul. Jadi kalau dalam masa perkenalan yang normal, itu masih tidak mengapa jadi Online itu adalah tahap pertama berkenalan dengan seseorang, tapi setelah itu gunakan cara-cara yang tradisional namun yang terbukti ampuh yakni berkenalanlah dengan langsung.
GS : Sebagai kesimpulan dari pembicaraan ini, Pak Paul, apakah yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Kita harus mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari pernikahan dan kita pun tidak hidup hanya untuk menikah. Dan ini penting, Firman Tuhan mengingatkan di 2 Korintus 5:15, "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." Kita hidup untuk Kristus sebagaimana Firman Tuhan katakan, oleh karena itu terpenting adalah melakukan pekerjaan-Nya selama kita hidup. Adakalanya kita terkecoh dan kita menyangka bahwa tujuan hidup adalah untuk menikah, itu salah! Kita hidup bukanlah untuk menikah melainkan untuk Kristus, kita hidup bukan untuk menyenangkan hati sendiri tapi hati Kristus. Setelah kita menyenangkan hati Kristus, biarlah kita menyerahkan hidup kepada-Nya termasuk hal perjodohan ini.
GS : Ada semacam pendapat yang kurang tepat yang menganggap menikah itu adalah perintah dari Tuhan seperti kita mengasihi sesama, kalau kita mengasihi sesama, perintah itu jelas. Dan bagaimana dengan menikah, Pak Paul ?
PG : Saya senang Pak Gunawan mengangkat hal itu sebab itu adalah sebuah kekeliruan bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk menikah. Coba cari di sepuluh Hukum Tuhan, apakah ada perintah untuk menikah? Tidak ada. Perintah yang Tuhan intisarikan dari semua perintah-perintah Tuhan di dalam Matius 22:37-39, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Tidak ada sebutan tentang harus menikah, tapi perintah untuk hidup kudus, perintah untuk menyenangkan hati Tuhan, perintah untuk hidup bagi Kristus, semua ada namun kalau untuk menikah tidak ada. Dan hati-hati dengan kesalahpahaman yang kedua yaitu orang yang berkata, "Kalau tidak menikah berarti tidak normal, ada yang keliru, ada yang tidak benar dengan dirinya," itu salah! Ini adalah sebuah panggilan yang Tuhan berikan kepada sebagian anak-anak-Nya dan kita harus terima itu, tidak ada yang keliru dan tidak ada yang salah, tidak ada yang tidak normal dengan diri kita kalau kita memutuskan untuk tidak menikah.
GS : Hanya lingkungan sosial saja yang menganggap bahwa kalau tidak menikah itu menjadi tidak normal karena sebagian besar orang menikah.
PG : Betul sekali. Jadi konsep inilah yang mesti kita waspadai sehingga kita tidak termakan olehnya. Sekali lagi kita harus selalu menguji apakah hal-hal ini seturut dengan Firman Tuhan atau tidak, kalau tidak seturut maka jangan kita menerimanya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Berpacaran dengan Siapa ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu masalah yang sering dihadapi anak-anak Tuhan dewasa ini adalah keterbatasan pilihan pasangan hidup. Pada umumnya mencari orang seiman dan sepadan tidaklah mudah. Kadang kita menemukan yang seiman namun tidak sepadan; atau kadang menemukan yang sepadan tetapi tidak seiman. Apakah yang mesti dilakukan dalam kondisi seperti ini? Berikut akan dipaparkan beberapa masukan sebagai panduan menghadapi masalah ini.
Kita tidak boleh berkompromi dalam hal yang paling penting yakni mencari yang pasangan seiman. Kita mungkin sepadan alias cocok namun bila tidak seiman, pernikahan kita tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan di 1 Korintus 7:39 dengan jelas mengatakan, ". . . ia bebas menikah dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya." Juga 2 Korintus 6:14 menegaskan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya."
Kita tidak boleh berkompromi dalam hal yang paling penting lainnya yakni mencari pasangan yang sepadan. Ingat, pernikahan tidak dibangun di atas kesamaan iman saja tetapi juga di atas kecocokan atau kesepadanan. Janganlah menggampangkan dengan berkata bahwa selama seiman, maka segala masalah akan dapat diselesaikan. Mungkin saja akan dapat diselesaikan namun ketidaksepadanan tetap akan menyulitkan penyesuaian.
Bila dua prasyarat ini terpenuhi, faktor lainnya dapat dikompromikan. Misalkan, kriteria seberapa cantik dan tampan, tingkat pendidikan, suku, kemapanan ekonomi, warna kulit dan penampilan fisik lainnya, semua ini adalah faktor yang terbuka untuk dipertimbangkan ulang. Meskipun semua ini dapat dipertimbangkan ulang, tetap satu pertanyaan yang mesti diajukan kepada diri sendiri adalah, "Dapatkah saya tinggal bersamanya dan terus menghormati serta mencintainya seumur hidup?" Dengan kata lain, sekali kita menerimanya, kita tidak boleh lagi membangkit-bangkitkan faktor yang tidak ada pada dirinya itu. Ingat, menerima berarti tidak menuntutnya lagi.
Boleh melihat namun sebaiknya jangan mencari-cari pasangan hidup. Silakan bergabung dengan kelompok lajang agar dapat berkenalan namun janganlah sampai kita terlalu bergebu-gebu dalam mencari pasangan hidup. Pada umumnya kita tidak suka dengan orang yang terlihat jelas tengah mencari-cari jodoh. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang utuh dan bernilai; kita menuntut orang untuk berkenalan dan menyukai kita atas dasar keberadaan diri kita, bukan atas dasar kebutuhannya mencari pasangan hidup.
Sebaiknya jangan mencari-cari pasangan lewat on-line. Dewasa ini ada biro jasa perjodohan yang mencoba memasangkan orang secara on-line. Masalahnya adalah mencari pasangan hidup tidaklah sama dengan mencari buku lewat on-line. Bahkan dalam membeli buku pun, kalau kita membelinya on-line, salah satu kerugian terbesarnya adalah kita tidak tahu isinya. Demikian pulalah dengan mencari pasangan hidup. Perkenalan lewat on-line tidaklah sama dengan perkenalan lewat interaksi langsung. Untuk urusan sepenting pernikahan, lakukanlah dengan cara yang tradisional namun terbukti ampuh yakni perkenalan langsung.
Kita mesti mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari pernikahan dan kita pun tidak hidup hanya untuk menikah. Firman Tuhan mengingatkan, "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15) Kita hidup untuk Kristus; oleh karena itu yang terpenting adalah melakukan pekerjaan-Nya selama kita hidup. Setelah kita menyenangkan hati Kristus, biarlah kita menyerahkan hidup kepada-Nya, termasuk hal perjodohan ini.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:47am.
Abstrak:
Orang tua adalah manusia yang tidak sempurna dan sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka dapat berbuat salah. Sudah tentu masuk penjara adalah konsekuensi yang menyesakkan dan membuat kita sebagai anak merasa malu. Selain malu kita pun juga menghadapi kebinggungan tatkala orang lain menanyakan keberadaan orang tua kita. Apa yang mesti kita lakukan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bila Orang Tua Masuk Penjara". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang sesuatu hal yang tidak bisa diduga dan tidak diharapkan, tapi bisa menjadi kenyataan, pada suatu saat di keluarga tertentu orang tuanya harus berurusan dengan hukum dan ditahan bahkan dipenjara sebagai pihak yang bersalah. Ini tentu saja membawa dampak yang sangat buruk terhadap keluarganya, tetapi bagaimana sikap seorang anak bila berhadapan dengan masalah seperti ini, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan, Pak Gunawan. Yang pertama kepada anak, saya berkata jangan tergesa-gesa menguburkan rasa marah kepada orang tua yang telah berbuat salah. Maksud saya, biarkanlah kemarahan itu muncul janganlah kita langsung meredamnya, menguburnya dan berkata, "Saya tidak boleh marah, seharusnya saya mendukung, seharusnya saya mengampuni" dan sebagainya. Kemarahan seperti ini justru adalah kemarahan yang wajar, jangan terburu-buru memutihkannya. Pengampunan akan datang dan mesti diberikan namun sekali lagi kemarahan pun adalah bagian yang nyata dan normal. Tanpa pengakuan akan kemarahan dan rasa malu, pengampunan hanyalah menjadi selimut penutup, tidak menyelesaikan malah menjauhkan hubungan kita dengan orang tua yang bersangkutan karena kita masih menyimpan rasa malu dan marah itu tapi kita merasa berkewajiban memutihkannya dengan pengampunan, akhirnya hubungan itu tidak bisa lagi dekat. Jauh lebih sehat jika kita akui kemarahan ini, jika memungkinkan sampaikanlah kepada beliau bahwa kita kecewa karena perbuatannya. Akui juga bahwa kita malu dan marah kepadanya, selain dari ini adalah bagian dari proses yang wajar, ini juga peringatan kepada orang tua untuk tidak mengulang perbuatan yang sama, dengan kita menyampaikan perasaan yang sesungguhnya, kita memberitahukan bahwa sungguh perbuatannya berdampak menyakitkan pada kita sebagai anak-anaknya.
GS : Di dalam hal ini tentu saja anak-anak ini sudah cukup dewasa untuk bisa mengerti masalah itu, Pak Paul. Kalau anak-anak masih terlalu kecil tentu tidak akan punya sikap yang seperti itu.
PG : Betul sekali, biasanya ini hanya bisa dilakukan oleh anak-anak yang sudah remaja. Kalau masih terlalu kecil biasanya ia juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan orang tuanya.
GS : Tetapi seringkali teman-temannya entah karena informasi dari orang tua mereka, lalu anak-anak yang masih belum mengerti ini menjadi bahan ejekan, bahwa ayahnya atau ibunya itu dipenjarakan.
PG : Betul jadi kadang-kadang anak-anak yang masih kecil itu tahu dari orang lain atau tahu dari orang tua temannya. Jadi ia harus bisa menerima ejekan-ejakan dari temannya dan dia harus pulang dan dia akan menanyakan kepada ibunya dan ibunya dalam hal ini harus berkata terus-terang kalau itu yang dikatakan oleh teman-temannya, bahwa memang ayahmu sedang dalam penjara, sedang menerima hukuman sebab berbuat salah. Ibunya dapat menjelaskan, "Kamu juga kadang-kadang menerima hukuman karena berbuat salah, dan sekarang ayah juga sedang mendapat hukuman karena berbuat salah". Tapi kita harus menjelaskan kepada si anak itu, "Kamu waktu berbuat salah, dihukum, tapi setelah dihukum, kita kembali berdekatan". Kita baikan lagi dan nanti juga setelah papa pulang, kita akan baikan lagi, kita tidak akan memusuhi papa, sama seperti kami juga tidak memusuhi kamu.
GS : Tapi yang seringkali terjadi di pihak yang terhukum itu, pihak yang dipenjarakan itu tidak mau menyadari dan tidak mau mengakui kalau dia bersalah dan mempersulit hubungan antara orang tua dengan anak itu sendiri, Pak Paul.
PG : Jadi bila orang tua menolak untuk mengambil tanggungjawab atau malah balik marah menyalahkan kita, maka kita mesti mundur dengan teratur. Jangan paksakan dan mencoba membuatnya berubah, ternyata beliau memang belum bertobat atau terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya. Jadi saran saya kepada anak yang orang tuanya seperti ini maka sudah biarkan. Berdoalah untuknya agar ia mengalami pertobatan yang sesungguhnya, tapi tidak perlu si anak memaksa atau meminta orang tua mengakui kesalahannya, meminta dia untuk bertobat dan sebagainya. Hal itu tidak perlu karena kalau orang tua belum siap, masih menyalahkan sana sini, tidak mau mengambil tanggungjawab, maka kita tidak dapat berbuat banyak.
GS : Apakah ada bedanya kalau orang tua itu masih dalam status tahanan atau sebagai narapidana yang sudah divonis bersalah ?
PG : Memang ini tergantung pada orang yang bersangkutan, Pak Gunawan. Ada orang yang sebelum masuk penjara pun sudah sangat hancur, sudah sangat menyadari ia bersalah, ia berdosa dan ia menyesali perbuatannya tapi ada juga orang yang sampai dilepaskan dari penjara pun tidak merasa bersalah, malah menyalahkan orang lain. Jadi tergantung pada orang itu sendiri.
GS : Kemarahan ini sering dilakukan oleh orang yang kehilangan kebebasan karena dipenjara, jadi kalau kita balik marah akan mengakibatkan konflik yang lebih tajam, tapi kalau kita tidak marah maka kemarahan ini mau kita lampiaskan ke mana, padahal jelas-jelas kita mengetahui bahwa yang salah adalah orang tua kita sendiri ?
PG : Kita bisa melakukannya langsung kepada orang tua yang bersangkutan sebelum dia masuk penjara atau setelah dalam penjara waktu kita berkunjung namun kita lihat suasananya apakah memungkinkan. Tetap kita juga harus berdoa meminta waktu Tuhan yang tepat, tapi point saya adalah jangan kita tergesa-gesa menguburkan rasa marah dan rasa malu itu. Justru kita angkat kita akui, itu jauh lebih sehat sebab dari titik berangkat itulah nanti kita bisa mengampuni orang tua dengan sepenuhnya.
GS : Hal yang lain yang perlu diperhatikan kalau orang tuanya dipenjarakan, apa Pak Paul ?
PG : Relasi dengan orang tua yang ditinggal di rumah akan sangat bergantung dari tanggapannya terhadap masalah ini. Jadi misalkan ibu yang di rumah, ibu diamuk kemarahan dan kepahitan, sudah tentu kita hanya dapat menghiburnya dan memberinya waktu untuk pulih. Bila ibu malah balik menyalahkan orang dan secara membabi buta, membela ayah yang dipenjarakan, sudah tentu reaksi ini akan memadamkan keinginan kita untuk dekat dengannya. Jika sebaiknya kita mundur teratur dan membiarkannya mencerna apa yang terjadi. Jika pada akhirnya ia siap menerima kenyataan, berbicaralah kepadanya dan hiburlah hatinya, namun bila ia tetap bersikeras untuk hidup dalam dunia penyangkalan maka biarkanlah. Kita tidak bisa memaksa orang untuk bertobat.
GS : Jadi dalam hal ini kita menghadapi pihak pasangan yang ada di rumah, jadi bukan yang dipenjarakan ?
PG : Betul dalam hal ini jadi misalkan ibu yang di rumah, kita harus bijaksana bagaimana berelasi dengan ibu. Tadi saya sudah singgung ada ibu yang dewasa, yang terbuka dan berkata, "Ya, ayahmu salah." Tapi ada ibu yang membela mati-matian suaminya, membabi buta menyalahkan orang lain atau waktu kita berkata, "Tapi ayah pun salah," dia marah kepada kita. Memang ini menyulitkan si anak, sudah tentu si anak sebetulnya ingin ada tempat di mana dia bisa menumpahkan rasa sedihnya, tapi kalau si ibu bereaksi seperti itu sudah tentu si anak susah untuk dekat dengannya. Apabila si anak mau bercerita misalnya, "Tadi di sekolah teman-teman mengejeknya" tapi dia tidak berani, dia takut nanti ibunya marah, mengamuk dan berkata, "Kamu lawan balik, kamu jangan terima dan sebagainya". Penting sekali orang tua yang ditinggal di rumah bersikap bijaksana dan matang sebab ini akan membuka pintu dialog dengan anak. Kita sebagai orang tua justru memberikan kekuatan kepada anak-anak, tetapi kalau kita tidak dewasa seolah-olah kita menutup pintu untuk anak-anak masuk dan berbagi rasa dengan kita.
GS : Tapi disamping itu si anak ini juga harus hati-hati ketika berbicara dengan ibunya, karena ibu juga dalam kondisi sangat sedih, sangat peka terhadap perkataan orang lain, Pak Paul.
PG : Betul jadi si anak selalu harus berhati-hati menggunakan kata-kata yang tidak menyudutkan tapi mesti jujur juga dengan perasaannya. Sekali lagi saya ingatkan, sebagai anak dia harus bisa menilai apakah ibunya siap atau tidak siap untuk diajak bicara. Apakah ibunya bisa melihat masalah dengan objektif atau tidak. Kalau ibu tidak objektif, sangat membela suami dengan membabi buta, itu akan menyusahkan anak untuk bisa berbagi rasa dengan dia.
GS : Biasanya memang memunyai kecenderungan seperti itu, Pak Paul, karena ini pasangannya dan untuk menutupi supaya jangan sampai timbul kesan yang negatif dari anak kepada ayahnya.
PG : Atau kebalikannya juga bisa terjadi, Pak Gunawan. Ada ibu yang karena marah kepada suaminya yang telah menyusahkannya pada masa lampau, sekarang menyusahkannya lagi dengan masuk ke penjara, ia mengamuk dan marah sekali, penuh dengan kebencian dan kepahitan. Sudah tentu ini juga akan menutup pintu komunikasi dengan anak. Anak yang sudah melihat ibunya penuh dengan kepahitan akhirnya tidak mau bicara. Sekali lagi saya katakan, relasi kita dengan orang tua yang ditinggalkan di rumah sangat bergantung dari reaksi orang tua itu sendiri. Kalau orang tua itu bersikap dewasa, hal itu akan menolong si anak, tapi kalau orang tua tidak bersikap dewasa membabi buta membela pasangan atau sebaliknya terus menyalahkan pasangan dan penuh dengan kebencian serta kepahitan. Dua reaksi itu akan menutup pintu komunikasi dengan anak yang sebetulnya sangat membutuhkan tempat untuk berbagi rasa.
GS : Itu baru hubungan orang tua dengan anak, belum lagi anak dengan saudara-saudara kandungnya, Pak Paul? Tentu punya pandangan yang berbeda-beda pula tentang ayah yang dipenjarakan ini.
PG : Itu sebabnya, tidak bisa tidak harus kita simpulkan bahwa pemenjaraan orang tua sering kali membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga, di antara kakak dan adik serta antara orang tua dan anak juga. Ada misalkan yang bereaksi marah dan malu, kemudian menyalurkannya secara keliru misalkan dengan menimbulkan pemberontakan atau perilaku menyimpang lainnya. Anak yang menunjukkan perilaku memberontak atau menyimpang itu otomatis akan dijauhkan atau berjauhan dengan anggota keluarga yang lain atau ada yang tidak mau membicarakan hal ini sama sekali dan memilih untuk menyembunyikan semua perasaan di dalam hatinya. Selain menutup diri mungkin ia pun mengucilkan diri dari pergaulan, akhirnya tidak ada komunikasi dengan kakak atau adiknya atau orang tuanya. Ada pula yang berusaha membela orang tua dan bersikap defensif terhadap siapa pun yang berbicara buruk tentang orang tua. Sudah tentu ada anak yang tidak setuju, ada anak yang berkata, "Ayah salah, kamu jangan membelanya secara membabi buta". Yang membela membabi buta pasti marah mendengar kata-kata seperti ini. Jadi sekali lagi intinya, pemenjaraan orang tua membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga. Semua reaksi yang berbeda ini menciptakan sekat antara anggota keluarga dan kondisi ini sangat menyedihkan dan kadangkala tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya. Di sini kita bisa melihat dosa bersifat menghancurkan, tidak ada yang baik dari dosa itu. Reaksi terbaik dalam kondisi seperti ini adalah membiarkan waktu berjalan, prinsip terpenting yang perlu diterapkan adalah jangan memaksakan apa pun. Setiap orang memerlukan waktu untuk mencerna apa yang terjadi dan setiap kita memberi respons yang tidak sama terhadap masalah yang berat ini.
GS : Tentu ini menjadi tugas yang berat bagi pihak yang ada di rumah, Pak Paul, sementara misalnya suaminya di penjara maka ibu ini memunyai tanggungjawab ganda, menjadi ibu dan ayah sekaligus serta membuat agar keluarga ini tidak terpecah-belah lagi.
PG : Betul sekali. Maka tugas yang sangat berat itu harus dipikul oleh satu orang, maka kita yang terlibat harus belajar jangan sampai mengulang perbuatan yang salah itu, karena efeknya berat untuk satu keluarga. Betul yang tadi Pak Gunawan katakan, biasanya ibu itu akan hidup dalam ketertekanan yang berat. Misalnya ketertekanan menyambung kehidupan dan bekerja di luar untuk bisa menyokong kehidupan keluarga, belum lagi ia harus menerima keluhan dari anak, belum lagi tudingan dari orang di sekeliling, belum lagi menyatukan keluarga karena adanya perpecahan ini. Yang satu marah, yang satu tidak mau bicara jadi dia harus mengurus semuanya dan memang berat sekali.
GS : Dalam hal ini, sebenarnya apa yang dapat dilakukan oleh si ibu ?
PG : Dalam hal ini sudah tentu ia harus mendapatkan kekuatan khusus, supernatural dari Tuhan. Dia mesti tiap hari duduk bersama dengan Tuhan, berdoa membaca Firman-Nya karena Tuhan ingin menolongnya. Tuhan tidak ingin justru ia menghadapi semua ini sendirian. Jadi akan ada kekuatan ekstra yang Tuhan berikan kepadanya dan akan ada hikmat dari surga yang Tuhan akan berikan kepadanya, sehingga ia tahu bersikap baik kepada orang-orang di luar maupun kepada anak-anaknya sendiri. Langkah konkretnya misalnya, ia mengajak anak-anaknya berdoa setiap malam, dia mengajak anak-anaknya untuk bercerita, untuk saling membagikan. Tapi kalau ada anak yang diam yang tidak mau berbicara jangan dipaksakan, biarkan mungkin pada waktu yang tepat secara pribadi si ibu dapat mendekati si anak dan berkata, "Mama melihat kamu sendiri saja, kamu tidak bicara dengan siapa-siapa, mama jadi khawatir, tapi mama mengerti kamu mungkin tidak nyaman berbicara. Kalau memang kamu tidak siap tidak apa-apa. Tapi ketika kamu siap, mama di sini mau mendengarkannya". Atau kadang-kadang si mama tetap mengajak anak-anaknya melakukan aktifitas bersama, pergi ke sana ke sini atau menikmati liburan sehingga sedapat-dapatnya memutar roda kehidupan senormal mungkin.
GS : Jadi sebenarnya kalau anak-anak memahami berapa tertekannya ibunya pada saat itu, mereka tentu bisa memberikan dukungan kepada ibunya agar tetap bisa bertahan dalam kondisi yang sulit ini, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi seyogianya itu yang terjadi dalam keluarga.
GS : Seringkali juga anak-anak menjadi liar, melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah dan sebagainya yang sulit sekali dikontrol oleh ibunya.
PG : Ini merupakan bentuk dari pelampiasan kemarahan, Pak Gunawan. Jadi si anak itu frustrasi ayahnya masuk ke penjara, membuat dia malu. Kadang-kadang si anak mau melakukan apa pun untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi adakalanya ini juga yang terjadi, Pak Gunawan. Kita ini manusia berdosa dan di dalam keberdosaan kita ingin melakukan hal-hal yang salah, namun karena orang tua menjadi benteng pertahanan moral, kita jadi dikuatkan untuk tidak melanggar, tidak melakukan dosa karena adanya orang tua yang tetap menjaga nilai moral dalam keluarga kita. Begitu orang tua masuk ke penjara seolah-olah benteng itu runtuh, seolah-olah kita diberi ijin untuk berbuat apa pun. Ayah pun masuk ke penjara, ayah pun hidupnya berengsek seperti itu, berarti saya juga bebas mau melakukan apa saja. Kadang-kadang perbuatan memberontak dan menyimpang keluar sewaktu seseorang masuk ke penjara.
GS : Katakan kita punya saudara yang sepaham dengan kita, kalau kita terlalu dekat dengan dia ini menjadi satu kelompok tersendiri yang seolah-olah menentang pihak-pihak lain yang tidak sepaham dengan kita, Pak Paul.
PG : Betul Pak Gunawan, itu sebabnya kita mesti menghindari kedekatan dengan anggota keluarga, misalnya jangan karena dia sepaham dengan kita, maka dia menjadi ekstra dekat dengan kita sedangkan dengan yang lain-lainnya kita tidak dekat, sebab kalau itu yang terjadi maka yang namanya bibit perpecahan lama kelamaan menjadi buah perpecahan. Benar-benar nantinya setelah masalah ini lewat dan orang tua kita pulang kembali, dia merasa tersisihkan oleh kita, menyimpan rasa sakit hati. Dia akan berkata, "Dulu kamu selalu dengan adik, selalu bicara dengan adik, tidak pernah bicara dengan saya. Ada apa-apa kamu tidak pernah cerita dengan saya, tidak pernah tanya pendapat saya, selalu hanya tanya pendapat adik". Kalau pun nanti masalah selesai, ayah pun pulang dari penjara, sakit hati itu ada, tersisa, alangkah baiknya kalau kita tidak hanya merasa lebih dekat dengan kakak atau adik yang sepaham dengan kita tapi sebaiknya kita juga dekat dengan semuanya. Dengan cara itu kita bisa tetap menjaga keutuhan keluarga kita.
GS : Bagaimana kalau kita begitu dekat dengan ibu sementara ayah di penjara, apakah dampaknya juga sama ?
PG : Saya kira anak-anak yang lainnya akan merasa lebih tidak suka terhadap ibu, karena ibu lebih mau bicara dengan kita bukan dengan yang lain-lainnya. Mengapa ibu membedakan? Mungkin sekali itu menimbulkan rasa sakit hati dari anak-anak yang lain terhadap ibunya.
GS : Padahal maksud kita dekat dengan ibu itu untuk memberikan penghiburan, kekuatan, begitu Pak Paul. Tapi bisa disalah mengerti seperti itu ?
PG : Bisa, kecuali anak-anak yang lain secara langsung atau tidak langsung menyatakan bahwa mereka memang tidak dekat dengan ibu dan merasa lebih baik kitalah yang menghibur ibu. Kalau ada kesepakatan seperti itu, saya kira silakan kita langsung lebih dekat dengan ibu dan menolongnya. Jadi intinya kita harus melihat dampak perbuatan kita pada keluarga secara keseluruhan.
GS : Kalau kita pas sebagai anak sulung biasanya mencoba berperan untuk menggantikan posisi ayah yang sedang dipenjarakan.
PG : Besar kemungkinan kalau kita anak sulung, hal itu lebih dapat diterima karena secara otomatis adik-adik akan melihat tugas kitalah sebagai anak yang sulung untuk membantu ibu dan mengatur adik-adik yang lainnya. Tapi kalau kita bukan anak sulung coba kita melihat keadaan, apakah memang bijaksana untuk menjadi sangat dekat dengan ibu memberinya penghiburan. Sebelumnya kita melakukan hal itu sebaiknya kita berembuk di antara kakak adik, siapa yang bisa bicara dengan ibu.
GS : Hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan dalam hal ini ?
PG : Kita tidak boleh berbohong kepada orang, tapi kita pun tidak harus memberi penjelasan mendetail tentang keberadaan orang tua. Jadi jika ada orang bertanya, silakan mengatakan bahwa orang tua tengah pergi untuk waktu yang lama. Jika ditanyakan kemana, maka kita dapat dengan santun menjawab bahwa hal itu tidak dapat kita kemukakan. Singkat kata, ceritakanlah peristiwa sebenarnya hanya kepada orang yang memang dekat dengan kita dan sungguh peduli dengan keadaan kita. Kepada orang seperti inilah kita bercerita untuk mendapat dukungan sekaligus doanya. Sebaliknya bila orang sudah mendengar perihal pemenjaraan orang tua dan jika ia bertanya, maka katakan "Ya" jangan menyangkal. Tentang berapa mendetail kita akan bercerita, sekali lagi itu bergantung pada berapa dekat dan pedulinya ia dengan kita. Jadi prinsip yang kita gunakan dalam hal informasi adalah jelas dan tepat, artinya kita tidak memberi informasi yang berlainan dari fakta, namun kita pun hanya akan menyampaikan detailnya kepada orang yang tepat, tidak kepada sembarang orang.
GS : Seringkali justru pada saat-saat seperti ini banyak orang yang ingin mengorek-ngorek keterangan dari kita dan itu memberikan keterangan yang bukan mengenakkan kita, sesuatu yang menyakitkan hati kita, Pak Paul. Kalau kita jawab dengan pendek mereka akan tetap mengejar kita, tapi kalau kita memberikan penjelasan yang cukup panjang, salah-salah bisa keliru penjelasan itu.
PG : Maka kalau kita tidak nyaman, jangan merasa bahwa kita harus menceritakan detailnya. Kita bisa langsung berkata, ya sudah sampai di situ saja atau "Maaf saya tidak bisa mengatakan lebih dari ini". Jadi tidak apa-apa menolak untuk memberitahukan detailnya. Yang penting harus jelas, artinya faktanya apa sudah kita katakan, "Ayah kita masuk penjara". Dan kita tidak harus menceritakan detail-detailnya. Kita katakan, "Ayah saya masuk penjara", kalau orang bertanya, "Kenapa?" dan sebagainya, kita bisa berkata, "Maaf saya tidak bisa cerita detailnya, tapi memang benar ayah masuk penjara".
GS : Dari pihak kita mungkin kita tidak menceritakan, lalu bagaimana dari pihak saudara-saudara kandung kita atau bahkan mungkin ibu kita? Kalau mereka sampai menceritakan itu, kita tidak bisa melarang mereka untuk cerita.
PG : Betul, kalau sampai orang di rumah memutuskan untuk bercerita, adik atau kakak atau bahkan ibu bercerita kepada orang lain maka tidak mengapa karena itu hak mereka. Kita tidak bisa mengontrol arus informasi dari mulut-mulut yang lainnya. Idealnya kita berembuk dalam keluarga, yaitu seberapa banyak informasi yang akan kita berikan. Tadi saya berikan prinsip, jelas dan tepat, tidak berlainan dari fakta tapi harus tepat orang, jangan sembarangan orang. Kepada orang yang tidak begitu dekat dan yang tidak menunjukkan mereka sungguh-sungguh peduli dengan kita, tidak usah mendetail. Jadi kalau ada kesepakatan itu dalam rumah, itu akan lebih baik lagi.
GS : Jadi sangat dibutuhkan kekompakan dalam keluarga yang tinggal dalam rumah ini, Pak Paul ?
PG : Betul.
GS : Ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Ini yang terakhir Pak Gunawan. Kita mesti melihat semua yang terjadi dari kacamata Tuhan. Kita mesti melihat pemenjaraan orang tua sebagai bagian dari keadilan Tuhan, kita tidak menyukainya namun bila orang tua bersalah, mendekam di penjara adalah bagian keadilan Tuhan yang mesti ditegakkan. Janganlah sampai kita kehilangan perspektif dan menyalahkan pihak lain. Terimalah ini sebagai bagian keadilan Tuhan, namun kita juga mesti mengingat bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih karunia, Dia menghukum, betul tapi Ia akan memulihkan. Pemenjaraan bukanlah akhir melainkan justru permulaan hidup dalam Tuhan. Dia akan membuka lembaran baru dalam hidup kita dan terakhir kita harus mengingat kasih setia Tuhan yang memelihara hidup kita. Kendati akan ada banyak kesulitan tapi Tuhan pasti akan memelihara, Dia tidak akan meninggalkan kita. Pemenjaraan orang tua akan memberi kesempatan kita beriman dan mengenal Tuhan dengan lebih mendalam.
GS : Kadang-kadang menghadapi kasus seperti ini kita justru menjauh dari Tuhan atau malah menyalahkan Tuhan, Pak Paul.
PG : Sayangnya itu yang kadang-kadang kita lakukan, tapi justru sebaliknya kita harus mendekat kepada Tuhan. Kita mesti melihat ini dari kacamata Tuhan. Keadilan mesti ditegakkan dan kita tidak boleh berkata, "Biarlah keadilan ditegakkan pada orang lain dan bukan pada keluarga kita sendiri". Tidak seperti itu juga, kalau keluarga kita memang salah maka keadilan harus ditegakkan pula.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Mazmur 121 : 5 dan 8 berkata, "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah Naunganmu di sebelah kananmu, Tuhan akan menjaga keluar masukmu dari sekarang sampai selama-lamanya". Kita mesti berdoa dan yakin, Tuhan akan menjaga orang tua kita, mulai dari masuk ke penjara sampai keluar dari penjara dan Tuhan pun akan menjaga serta menaungi kita yang ditinggalkan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan dan penghiburan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bila Orang Tua Masuk Penjara". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Orangtua adalah manusia yang tidak sempurna dan sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka dapat berbuat salah. Sudah tentu masuk penjara adalah konsekuensi yang menyesakkan dan membuat kita sebagai anak merasa malu. Berikut akan dipaparkan beberapa masukan untuk menghadapi hal seperti ini.
Jangan tergesa untuk menguburkan rasa marah kepada orang tua yang telah berbuat salah. Kemarahan seperti ini adalah kemarahan yang wajar. Jangan terburu-buru memutihkannya dengan berkata, "Saya ampuni!" sebab itu tidak menyelesaikan, malah menjauhkan hubungan kita dengan orang tua yang bersangkutan. Jika memungkinkan sampaikanlah kepada beliau bahwa kita kecewa, malu dan marah atas perbuatannya. Dengan kita menyampaikan perasaan yang sesungguhnya, kita memberitahukannya bahwa perbuatannya sungguh berdampak menyakitkan pada kita, anaknya.
Apabila orang tua menolak untuk mengambil tanggung jawab dan malah balik marah menyalahkan kita, mundurlah dengan teratur. Jangan paksakan dan mencoba membuatnya berubah. Ternyata beliau belum bertobat atau memang terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya. Biarkanlah dan berdoalah untuknya agar ia sungguh mengalami pertobatan yang sesungguhnya.
Relasi dengan orang tua yang ditinggal di rumah akan sangat bergantung pada tanggapannya terhadap masalah ini. Bila beliau diamuk kemarahan dan kepahitan, sudah tentu kita hanya dapat menghiburnya dan memberinya waktu untuk pulih.
Tidak bisa tidak, pemenjaraan orang tua membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga. Ada yang bereaksi marah dan malu kemudian menyalurkannya secara keliru misalkan dengan menimbulkan pemberontakan atau perilaku menyimpang lainnya. Ada yang memilih untuk menyembunyikan semua perasaan ini di hati bahkan sampai mengucilkan diri dari pergaulan. Prinsip terpenting yang perlu diterapkan adalah jangan memaksakan apa pun. Setiap orang memerlukan waktu untuk mencerna apa yang terjadi dan setiap kita memberi respons yang tidak sama terhadap masalah yang berat ini.
Jagalah diri agar tidak terlalu dekat dengan seseorang di dalam keluarga. Kita akan merasa dekat dan ingin berbagi duka dengan orang yang paling mengerti isi hati kita. Bahayanya adalah, setelah masalah ini berlalu, bibit perpecahan pada akhirnya menimbulkan buah perpecahan yang riil dan permanen. Anggota keluarga yang merasa tersisihkan, mungkin tidak akan lagi bersedia dekat dengan kita. Ia sudah merasa dipinggirkan dan menyimpan sakit hati yang dalam.
Kita tidak boleh berbohong kepada orang tetapi kita tidak harus memberi penjelasan mendetail tentang keberadaan orang tua. Jadi, jika ada orang bertanya, silakan mengatakan bahwa orang tua tengah pergi untuk waktu yang lama, kemana? Kita dapat dengan santun menjawab bahwa hal itu tidak dapat kita kemukakan. Sebaliknya, bila orang sudah mendengar perihal pemenjaraan orang tua, jika ia bertanya, katakanlah, ya. Singkat kata, hanya ceritakan peristiwa sebenarnya kepada orang yang memang dekat dengan kita dan sungguh peduli dengan keadaan kita. Kepada orang seperti inilah kita bercerita untuk mendapatkan dukungan sekaligus doa.
Kita mesti melihat semua yang terjadi dari kacamata Tuhan. Kita melihat pemenjaraan orang tua sebagai bagian dari keadilan Tuhan. Janganlah sampai kita kehilangan perspektif dan menyalahkan pihak lain. Ia menghukum tetapi Ia akan memulihkan. Dan kita harus mengingat kasih setia Tuhan memelihara hidup kita. Kendati akan ada banyak kesulitan, Tuhan pasti memelihara. Ia tidak akan meninggalkan kita.
Firman Tuhan: "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu, di sebelah kananmu . . . Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:5, 8)
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:42am.
Abstrak:
Salah satu pergumulan pemuda yang tidak sering dibicarakan adalah pergumulan menjaga batas dalam masa berpacaran. Kita tahu batas yang seharusnya dijaga namun kita tidak selalu berhasil menjaganya. Akhirnya banyak di antara kita yang berhenti bergumul dan malah menyerah pada godaan. Tidak jarang, sebagai akibat dari perbuatan kita itu, kehamilan terjadi. Kita pun menjadi takut dan merasa malu dan kadang terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Di sini akan di paparkan beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam mengambil keputusan
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hamil Di Luar Nikah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, rupanya seperti tren saja bahwa kehamilan di luar nikah itu makin lama makin sering terjadi dan orang rasanya bisa menerima tidak seperti beberapa waktu yang lalu di mana itu menjadi suatu berita yang sangat menghebohkan. Bagaimana pandangan Pak Paul ?
PG : Saya setuju, Pak Gunawan, bahwa masalah ini makin hari makin sering terjadi dan itu sebabnya kita perlu mengangkat hal ini meskipun toleransi kita bertambah dan toleransi tidak selalu harus bersifat buruk, menurunkan standar dan sebagainya. Tapi kita tetap memunyai standar yang kita tahu adalah kehendak Tuhan, tapi kita juga mesti mengerti bahwa ini adalah dosa. Yang berbuat juga pasti menyesali dan sudah menjadi tugas kitalah sebagai anak-anak Tuhan merangkul dan menolong mereka agar mereka tidak terperosok makin dalam ke dalam dosa. Saya kira ada baiknyalah kita mengangkat topik ini dengan lebih seksama kita membahasnya dan mudah-mudahan kalau sampai ada yang bermasalah dengan hal ini, hamil di luar nikah, mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan.
GS : Kehamilan ini bisa terjadi karena mereka diperkosa atau karena suka dengan suka, ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita akan membedakan yang terjadi karena pemerkosaan dan yang terjadi karena suka dengan suka. Yang akan kita fokuskan kali ini adalah kehamilan akibat suka sama suka, jadi dalam konteks berpacaran akhirnya melakukan hubungan seksual sehingga si wanita mengandung.
GS : Banyak juga karena si wanita atau pria ini kurang mengerti, bahwa kalau mereka berhubungan hanya sekali tidak akan terjadi kehamilan, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Ada orang yang beranggapan kalau sekali tidak apa-apa, jadi kesalahpahaman ini adalah salah satu alasan mengapa terjadi kehamilan, namun intinya makin banyak pemuda-pemudi yang mengalami kesulitan mengendalikan dirinya dan juga tidak bisa kita sangkali terjadinya kemerosotan nilai-nilai moral di tengah-tengah kita, sehingga menganggap berhubungan seksual sebelum menikah sebagai sesuatu yang lazim.
GS : Bukan hanya kedua remaja itu yang bingung setelah menyadari bahwa remaja putri ini hamil, orang tuanya sendiri pun bingung. Langkah apa yang sebenarnya perlu kita ambil kalau sampai hal yang buruk itu terjadi ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan, yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah kita mesti bertekad tidak berdosa apa pun itu keputusan yang akan diambil. Dengan kata lain, kalau ini memang terjadi pada kita bahwa kita mengandung, kita harus berkomitmen untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan. Jadi buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan, itu adalah sebuah dosa. Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan, sebaliknya menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Saya kutipkan Firman Tuhan di Mazmur 139:13, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku". Dengan kata lain dalam Firman Tuhan ini jelas terlihat bahwa Tuhanlah yang menciptakan anak dari awal hingga lahirnya dan tangan Tuhanlah yang menenun dia, yang membentuk dia, jadi kalau kita mengakhiri hidupnya maka kita mengakhiri hidup seorang manusia yang telah Tuhan ciptakan dalam tubuh kita.
GS : Dalam hal ini seringkali banyak orang berpikir kalau masih 1 bulan, 2 bulan usia kandungan itu, tidak apa-apa dilakukan aborsi, pengguguran. Dalam hal ini apakah ada dampak bagi si remaja putri ini khususnya ?
PG : Sudah tentu akan ada, Pak Gunawan. Seorang remaja putri yang karena bingung dan mendapat masukan-masukan yang tidak tepat, memutuskan untuk menggugurkan kandungan acapkali mengalami rasa bersalah. Sampai nanti pun kalau dia mengingat, dia merasa bersalah. Kadang-kadang kalau sudah lewat beberapa tahun dia akan kembali terkenang bahwa kalau ada anak itu, anak itu sudah berusia berapa, sebab kita tidak bisa meyakinkan diri kita bahwa menggugurkan kandungan sama dengan membuang kutil di tangan kita. Misalnya kita bisa berkata "Ini hanya daging sama seperti kutil di tangan kita yang dibuang," tapi orang yang melakukannya itu tahu dan dokter yang melakukannya pun tahu bahwa tidak sama, kalau kita beranggapan seperti itu seharusnya dampaknya sama seperti kalau kita operasi kutil. Semua orang pasti akan berkata kalau itu tidak sama, menggugurkan janin dan membuang kutil di tangan adalah dua hal yang berbeda. Jadi kita tidak bisa mengatakan, itu hanya seonggok daging yang belum ada kehidupan dan sebagainya. Itu salah sebab dari awal itu adalah tangan Tuhan yang telah menciptakannya.
GS : Memang dengan kemajuan ilmu kedokteran, aborsi ini bisa dilakukan dengan relatif lebih mudah, lebih murah dan banyak dilakukan di kota-kota besar, Pak Paul.
PG : Memang itulah yang terjadi, di negara-negara Barat pun hal ini kerap dilakukan dengan legal. Salah satu tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa si ibu karena kalau dilarang para ibu muda ini akan melakukannya dengan prosedur medis yang tidak sehat, tapi tetap intinya adalah perbuatan salah tidak berkenan di mata Tuhan, ini adalah sebuah dosa. Jadi prinsip pertama waktu kita hamil di luar nikah, kita mesti bertekad untuk tidak berdosa, jangan menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan.
GS : Selain hal itu apakah ada yang lain, Pak Paul ?
PG : Kita tetap mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu waktu kita berkata, "Tuhan menggunakan pelbagai cara" itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. Tuhan membawa anak lahir ke dalam dunia lewat pemerkosaan, ini memang contoh yang ekstrem sekali, kita tahu pemerkosaan adalah dosa dan tidak diperkenankan Tuhan, namun anak yang dihasilkan dari pemerkosaan berada dalam kehendak Allah yang sempurna. Artinya, Tuhan menghendaki keberadaannya di dunia, walaupun Tuhan tidak menghendaki terjadinya pemerkosaan itu sendiri. Demikian pula dengan anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan seksual di luar nikah itu sendiri adalah dosa, namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan antara hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna, Firman Tuhan berkata, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah", dengan kata lain, Tuhan tak terbatasi, Tuhan dapat memakai segala sesuatu bahkan segala sesuatu yang salah, yang cacat, yang berdosa di dalam kedaulatan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, Dia dapat menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Sudah tentu ini tidak berarti Tuhan menyetujui dan berkenan terhadap dosa, sama sekali tidak. Namun sekali lagi saya tekankan, anak yang dikandung itu adalah dalam rencana Tuhan.
GS : Kesulitannya adalah melihat peristiwa ini dari perspektif Allah, Pak Paul. Biasanya dalam keadaan kalut seperti itu, kita justru cenderung mencari jalan pintasnya. Seringkali orang malah mengatakan bahwa anak yang lahir di luar nikah ini, anak haram dan sebagainya dan ini memberikan beban psikologis tertentu kepada si remaja putri itu.
PG : Ada sebuah konsep yang keliru yang sudah berkembang di masyarakat, bahkan di dunia bukan hanya di Indonesia yaitu adanya konsep anak haram. Pada kenyataannya tidak ada anak haram, Pak Gunawan. Yang ada adalah relasi haram, relasi yang tidak diperkenankan Tuhan. Hubungan seksual antara orang yang tidak menikah adalah hubungan yang haram atau hubungan yang tidak diperkenankan Tuhan, tapi anak itu sendiri tidak salah, anak itu sendiri tidak memilih lahir dengan cara seperti itu. Jadi anak itu tidak haram, anak itu tidak dimusuhi oleh Tuhan, justru kalau kita lihat dari rencana Allah kita harus berkata anak itu ada di dunia karena Tuhan menghendakinya. Kita juga bisa melihat betapa banyak orang tua yang tidak bisa memunyai anak, mau memunyai anak, berusaha memunyai anak tapi tidak memunyai anak. Jadi benar-benar dalam hal kelahiran anak kita harus mengakui bahwa ini sepenuhnya berada di tangan Allah.
GS : Jadi sebenarnya sangat dibutuhkan seorang pembimbing untuk menolong, baik remaja putri maupun pihak-pihak keluarga yang lain untuk melihat peristiwa ini dalam perspektif Allah itu sendiri, Pak Paul.
PG : Betul sekali, sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang-orang Kristen kita tidak lagi menilai segala sesuatu dari kacamata kita sebagai manusia, dari kacamata budaya atau latar belakang kita, kita mesti mengadopsi nilai-nilai Tuhan dan memandang masalah dari mata-Nya.
GS : Hal yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga adalah kalau kita hamil di luar nikah, kita harus selalu memertimbangkan dampak jangka panjangnya. Secara langsung saya ingin mengingatkan, janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena kita hamil bila kita memang belum siap menikah. Pernikahan yang tidak dikehendaki yaitu pernikahan yang terpaksa dilakukan karena kehamilan hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Ini saya temukan berkali-kali dalam konseling dan ini pun tertera di banyak buku-buku konseling keluarga yaitu ketika kita diminta untuk mencari data-data, mengumpulkan data-data latar belakang pasangan nikah itu, hampir selalu kita temukan kalau mereka menikah karena terpaksa, bukannya kemauan mereka tapi terpaksa akibat kehamilan, hampir dapat dipastikan mereka nantinya menuai masalah dalam pernikahannya. Jadi nasihat saya, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru. Seolah-olah dengan kita menikah maka masalah selesai, rasa malu karena kehamilan tertutupi, tapi bukankah seringkali kita sedang menabur benih-benih masalah yang kelak nanti harus dituai.
GS : Justru biasanya pernikahan itu dianggap jalan keluar yang paling ampuh atau jalan satu-satunya. Pihak orang tua pun seringkali mendorong supaya kedua remaja ini segera menikah, supaya jangan terlihat aib yang lebih besar lagi, Pak Paul.
PG : Inilah kecenderungan kita, Pak Gunawan. Untuk menutupi aib akhirnya kita bersedia melakukan apa saja, kita tidak berpikir panjang "Kita lihat besok saja, sebab belum tentu masalah terjadi." Tapi kita sudah tahu bahwa terlalu banyak pernikahan akhirnya bermasalah karena pada awalnya mereka tidak siap menikah. Jadi kesiapan menikah itu sangat penting. Kecocokannya apakah sudah bisa matang terjadi, apakah sudah ada saling pengertian yang kuat, apakah cinta juga sudah mencapai puncaknya. Jadi pernikahan itu sama seperti buah yang harus matang secara alamiah di pohon, baru benar-benar menjadi buah yang ranum untuk kita makan. Pernikahan pun seperti itu harus menjalani proses sampai waktunya tiba untuk kedua orang tersebut menikah. Kalau dipaksakan di depan akhirnya buah itu tidak matang dan manis dan malahan menjadi sangat masam sekali.
GS : Biasanya masalah yang timbul seringkali apa, Pak Paul ?
PG : Seringkali begini, Pak Gunawam, kalau seorang suami dan istri itu belum memunyai cinta maksudnya belum memunyai daya tahan yang kuat tapi kemudian sudah terlibat hubungan seksual, benar-benar nafsu menjadi bagian yang dominan dalam relasi itu, berarti apa? Waktu mereka harus menikah modal cinta mereka itu masih sangat terbatas. Dalam waktu yang tidak lama seks tidak lagi memunyai daya tariknya. Karena apa? Begitu seks dibolehkan dalam pernikahan tiba-tiba daya tarik itu langsung luntur kalau tidak ada cinta. Kalau ada cinta hubungan seksual masih terus bisa bertumbuh, tapi kalau tidak ada lagi cinta maka susah sekali untuk bisa memertahankan hubungan seksual dan cinta itu sendiri. Jadi akhirnya karena modal cinta minim maka rontoklah pernikahan itu, mudah marah belum lagi ada orang yang merasa dijebak "Kamu tahu bahwa saya belum siap untuk menikah, kenapa kamu tidak menjaga dan sebagainya." Akhirnya menyalahkan pasangan, merasa dijebak padahal dia melakukannya dengan sukarela, tapi dia mudah saja melemparkan tanggungjawab itu kepada pasangannya. Jadi banyak hal yang mudah terjadi, Pak Gunawan, kalau kita belum siap untuk menikah.
GS : Jadi sebagian besar masalah-masalah itu timbul karena hubungan emosional dan hubungan sosial ini, Pak Paul. Karena yang dikuatirkan orang tua kadang-kadang masalah keuangan dan mereka bilang, "Kami akan mencukupi kebutuhan itu, tapi masalahnya lebih besar dari itu".
PG : Jauh lebih kompleks, Pak Gunawan, uang hanyalah sebagian, bukan satu-satunya masalah yang harus dipecahkan. Misalkan satu hal lain lagi adalah karena mereka belum siap, mereka belum cukup waktu menyesuaikan diri, Pak Gunawan. Benar-benar belum melihat ketidakcocokannya, perbedaan-perbedaannya dengan jelas, tapi karena sudah terlanjur hamil langsung menikah, setelah menikahlah mereka menemukan betapa berbedanya pasangan dari yang dipikirkan sebelumnya. Penyesuaiannya menjadi sangat susah sekali, belum lagi ada orang yang merasa marah misalkan ia memunyai karier, kariernya terhenti gara-gara hamil di luar nikah sehingga harus menikah dan tidak bisa melanjutkan karier, harus menjaga anaknya, dia merasa hidupnya itu terbuang, meskipun awalnya dia berpartisipasi secara sukarela, tapi tidak bisa tidak kalau dia melihat ke belakang bertahun-tahun hidupnya itu terbuang. Jalurnya yang sudah dia rancang sekarang berbelok dengan begitu drastis. Dia benci, marah sekali, akhirnya kebencian itu dilampiaskan kepada pasangannya dan sering kali kepada anak itu sendiri.
GS : Hal yang keempat yang ingin Pak Paul sampaikan, apa ?
PG : Yang keempat, jika kita belum siap untuk menikah, putuskanlah untuk mengandung dan memunyai anak di luar pernikahan. Dalam hal ini silakan mencari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi, kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah atau pilihan terakhir adalah kita sendiri merawat dan membesarkan anak itu. Saya mengerti semua pilihan ini memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita mengetahui bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan. Sekali lagi ini sebuah konsep yang mungkin baru sebab tadi Pak Gunawan sudah angkat juga, kenyataan di lapangan orang berpikir kalau sudah hamil langsung menikah. Itu jalan keluarnya, ternyata tidak! Ada jalan lain yang mungkin jauh lebih bijaksana untuk jangka panjangnya. Jangan berpikir kalau tidak menikah dan membesarkan anak itu sendiri, berarti kita berdosa. Hubungan itulah hubungan berdosa dan apa yang kita lakukan terhadap anak nantinya yang akan menimbulkan berdosa atau tidak berdosa. Kalau kita memutuskan memelihara anak itu dan kita merasa kita belum siap menikah dengan orang tersebut, silakan tidak perlu menikah dengan orang tersebut, serahkan anak itu untuk diadopsi atau nanti kita sendiri yang akan membesarkan anak tersebut. Itu tidak berdosa, itu bertanggungjawab memelihara anak yang Tuhan sudah titipkan kepada kita.
GS : Tapi itu sebuah keputusan yang dilematis, Pak Paul. Kalau bayi itu diserahkan kepada orang lain untuk diadopsi, sang ibu juga merasa bersalah tapi kalau dia mau memelihara sendiri, membesarkan sendiri, dia belum memunyai kemampuan yang cukup untuk membesarkan anaknya.
PG : Betul, saya pikir hampir semua ibu waktu menyerahkan anaknya untuk diadopsi akan merasa bersalah, tapi penghiburan buat dia adalah bahwa anak itu nanti dirawat oleh orang yang mengasihinya, oleh orang yang sudah menanti-nantikan anak, jadi mereka akan menyambut anak itu, melimpahkannya dengan kasih sayang. Sedangkan kalau kita yang merawatnya besar kemungkinan kita belum dalam posisi bisa merawatnya seperti itu. Jadi waktu kita serahkan kita mesti mengingat bahwa yang pertama anak itu tetap berada dalam tangan Tuhan sampai kapan pun, yang kedua anak itu juga berada di tangan orang yang memang menyambut dan menginginkan kehadirannya.
GS : Mungkin bisa pula dititipkan pada orang, Pak Paul, selama ibu ini masih belum siap. Sambil memersiapkan diri, anak ini dibesarkan oleh orang atau neneknya atau siapa sampai ibu ini siap untuk menerima anak itu kembali.
PG : Bisa juga. Jadi ada orang yang memutuskan menyerahkan anak itu untuk dirawat oleh orang tuanya sendiri, sehingga akhirnya anak itu diberi kesempatan untuk bertumbuh dalam rumah yang stabil dan nanti waktu si ibu sudah siap untuk mengambilnya kembali, dia bisa mengambilnya. Itu pun bisa dilakukan meskipun cara itu juga ada masalahnya, karena kalau nanti anak itu kembali ke si ibu misalkan setelah 10 tahun berarti ia 10 tahun tidak mengenal ibunya dengan baik dan penyesuaian tinggal dengan ibu kandungnya juga menjadi masalah. Tidak begitu gampang juga.
GS : Belum lagi kalau nanti sang ibu siap untuk menikah betul-betul, Pak Paul. Ini akan mempersulit anak yang lahir di luar nikah tadi itu ?
PG : Betul dan belum tentu si suami juga siap menerima adanya anak. Jadi banyak hal yang mesti dipertimbangkan dengan bijaksana.
GS : Di dalam memutuskan hal seperti itu, apakah pihak si remaja putra tadi perlu dilibatkan atau tidak ?
PG : Perlu, memang dua-duanya perlu dilibatkan sehingga dua-duanya memunyai suara apa yang mereka inginkan, sebab bagaimana pun juga anak ini adalah anak mereka.
GS : Jadi setelah peristiwa itu terjadi, apa yang harus dilakukan oleh kedua remaja ini, baik yang putra maupun yang putri.
PG : Mereka sebetulnya harus mengevaluasi kembali relasinya dengan si pacar. Maksud saya begini, tidak jarang melalui kehamilan kita mendapat pengertian yang lebih mendalam dan tepat tentang siapakah pacar kita itu. Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif atau pun negatif. Misalnya, ada pacar yang tidak mau bertanggungjawab, lepas tangan, menyuruh aborsi, tidak mau tahu langsung menjauh, tidak lagi menghubungi, tidak lagi menelepon dan sebagainya. Kalau ini yang terjadi, sudah tentu ini memberi kepada kita informasi dan pengertian, "Ternyata inilah pacar saya, dalam kondisi seperti ini barulah saya lihat 'warna aslinya' ". Sudah tentu ini menjadi bahan yang kita gunakan untuk memertimbangkan. Sekali lagi saya ingatkan, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang, ingatlah tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia. Jadi bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu, jangan perpanjang. Jangan merasa berkeharusan bersama dengan dia karena sudah ada anak. Kalau ini hubungan yang tidak cocok, nantinya akan menuai masalah, kita mesti bijaksana untuk menyikapinya.
GS : Tapi itu berarti memberi kesempatan pada si remaja pria untuk tidak bertanggungjawab, Pak Paul ?
PG : Dalam pengertian dia tidak merawat si anak itu, memang betul. Kita melepaskan dia dari tanggungjawab itu, sebab kita mau memikirkan dampak panjang yang lebih luas. Dia sebagai ayah, kalau tingkah lakunya tidak bertanggungjawab sekarang, nanti dia lebih merugikan perkembangan si anak itu sendiri dan nanti akan memberikan beban tambahan kepada si ibu atau istrinya. Kita mau memikirkan bagaimana menyelamatkan sehingga tidak menambahkan masalah di atas masalah yang sudah terjadi. Anak itu sendiri harus diapakan? Sudah tentu orang tuanya harus memberikan kepadanya disiplin. Malangnya adalah dalam kasus yang seperti itu, anak itu tidak bertanggungjawab dan sebagainya, seringkali yang kita jumpai orang tuanya pun bermasalah, tidak memunyai hubungan yang harmonis, sudah lepas kendali, tidak lagi tahu bagaimana mengatasi anak. Sering kali itulah gambar keluarga di mana anak itu dibesarkan. Jadi susah untuk kita mau menjatuhkan sanksi atau meminta orang tuanya mendisiplin anak itu.
GS : Tapi ada pihak lain, orang tua yang memaksa mereka untuk menikah, Pak Paul.
Dari pihak yang pria atau yang wanita.
PG : Maka saya berharap masukan-masukan kita ini dapat didengarkan oleh mereka, sehingga mereka dapat memutuskan bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek tapi melihat jangka panjang dan dampak luasnya.
GS : Hal lain yang mau Pak Paul sampaikan, apa Pak ?
PG : Masukan keenam adalah, oleh karena kita telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. Jangan takut akan masa depan, jika Ia berkehendak kita menikah kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. Sebaliknya bila Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai seorang lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Ia memberikan kita kesempatan kedua. Firman Tuhan di Mazmur 107:1-2 berkata, "Bersyukurlah pada Tuhan sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya". Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jadi Firman Tuhan jelas mengatakan, "Tuhan yang telah menebus kita dari kuasa yang menyesakkan akan terus menunjukkan kasih setia-Nya kepada kita".
GS : Jadi berarti kita harus percaya pada janji-janji Tuhan dan pimpinan Tuhan dan Tuhan selalu berkata, "Jangan berbuat dosa lagi", begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali.
GS : Tapi ada juga remaja yang setelah melakukan dosa seperti ini mengulangi lagi kesalahan yang sama, Pak Paul.
PG : Memang ada orang yang cepat belajar, ada orang yang lambat belajar. Mudah-mudahanlah mereka tidak lagi mengulangnya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan tentunya perbincangan ini akan sangat bermanfaat bagi para pendengar kita sekalian. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hamil Di Luar Nikah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu pergumulan pemuda yang tidak sering dibicarakan adalah pergumulan menjaga batas dalam masa berpacaran. Kita tahu batas yang seharusnya dijaga namun kita tidak selalu berhasil menjaganya. Kita merasa bersalah namun kita sukar menghentikannya. Seharusnya dalam menghadapi pergumulan ini kita berbagi beban dan meminta bantuan pembimbing rohani namun itulah yang jarang dilakukan. Pada umumnya kita takut membicarakannya karena malu. Akhirnya banyak di antara kita yang berhenti bergumul dan malah menyerah pada godaan. Tidak jarang, sebagai akibat dari perbuatan kita itu, kehamilan terjadi. Kita pun menjadi takut dan merasa malu dan kadang terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Berikut akan dipaparkan beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Pertama, kita mesti bertekad untuk tidak berdosa-apa pun itu keputusan yang akan diambil. Dengan kata lain, kita harus berkomitmen untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan. Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menciptakan anak-dari awal hingga lahir.
Kedua, kita mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu, sewaktu kita berkata, Tuhan menggunakan pelbagai cara, itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. Tidak! Seperti anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan itu sendiri adalah dosa namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna.
Ketiga, kita harus selalu memertimbangkan dampak jangka panjangnya. Janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena kita hamil bila kita memang belum siap menikah. Pernikahan yang tidak dikehendaki-terpaksa menikah karena kehamilan-hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Jadi, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru.
Keempat, jika memang kita belum siap menikah, putuskanlah untuk mengandung dan melahirkan anak-di luar pernikahan. Dalam hal ini silakan cari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi. Kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah. Atau, pilihan akhir adalah kita merawat dan membesarkan anak itu sendiri. Semua pilihan ini memang memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita tahu bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan.
Kelima, evaluasi ulang relasi kita dengan pacar. Tidak jarang lewat kehamilan kita memperoleh pengertian yang lebih mendalam dan tepat akan siapakah dia. Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif ataupun negatif. Sekali lagi, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang. Ingat, tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia; jadi, bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia memang bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu.
Keenam, oleh karena kita telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. Jangan takut akan masa depan. Jika memang Ia berkehendak kita menikah, kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. Sebaliknya, bila memang Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Tuhan memberi kita kesempatan kedua.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:40am.
Abstrak:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Ada 7 prioritas yang mesti kita adopsi dari Alkitab, yaitu : karakter di atas kemampuan, keutuhan diri si pelayan di atas kegiatan si pelayan, ketaatan di atas keefesienan, mengedepankan yang kecil di atas yang besar, mengedepankan memberi di atas menerima, prioritaskan proses di atas produk dan utamakan Tuhan di atas segalanya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Prioritas Hidup" bagian yang kedua. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita membicarakan tentang prioritas hidup dan Pak Paul katakan setidaknya ada 7 hal yang perlu diprioritaskan dalam kehidupan ini, tapi pada waktu yang lalu kita baru sempat membahas 3 dari ketujuh itu. Sebelum kita melangkah pada prioritas yang keempat, supaya para pendengar kita memunyai gambaran yang terdahulu atau mengingatkan yang terdahulu, mungkin Pak Paul secara sekilas bisa kembali mengulang membahasnya.
PG : Kita ini berangkat dari sebuah pengamatan bahwa hidup berisikan sederet pilihan, bagaimana kita memilih dan apa yang kita pilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Karena itu kita harus belajar memilih dan kita mau kembali kepada Firman Tuhan, sehingga mengerti apa yang diutamakan Tuhan, sehingga kita bisa memilih sesuai dengan sistem prioritas Tuhan sendiri. Kita telah belajar bahwa yang pertama Tuhan itu mengedepankan karakter di atas kemampuan, meskipun kemampuan penting namun kita mesti tambah dan pertajamkan tapi jangan lupa nilai siapa kita ini dilandasi atas karakter kita. Yang membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah karakter kita. Kedua, kita belajar bahwa Tuhan mengedepankan keutuhan hidup atau keutuhan diri kita sebagai pelayan Tuhan di atas kegiatan-kegiatan kita sebagai seorang pelayan Tuhan. Tuhan lebih berminat melihat kehidupan yang berimbang, kehidupan yang tertata, jangan sampai kita melakukan banyak hal untuk Tuhan, tapi hidup kita tidak beres, keluarga kita berantakan, emosi kita tidak terkendali, jiwa kita tidak stabil. Tuhan tidak mau melihat itu dan yang ketiga adalah Tuhan mengedepankan ketaatan di atas keefisienan. Kita belajar bahwa dewasa ini efisien itu telah menjadi ilah yang baru, segala sesuatu harus efisien sudah tentu itu benar, itu baik tidak salah, tapi jangan lupa yang diutamakan Tuhan adalah ketaatan. Kita melihat contoh perempuan yang membuka buli-buli dan menuangkannya di atas Tuhan, minyak narwastu itu mahal sekali tetapi bagi Tuhan pemborosan itu dinomorduakan, yang dinomorsatukan adalah hati si wanita itu yang mengasihi Tuhan. Dia merasa Tuhan mengetuk hatinya untuk memberi persembahan dan dia langsung berikan. Jadi itulah yang Tuhan kedepankan, ketaatan di atas keefisienan.
GS : Sekarang kita memasuki prioritas yang keempat, yang harus kita perhatikan tentang apa, Pak Paul ?
PG : Yang keempat adalah Tuhan mengedepankan yang kecil di atas yang besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua bahkan dalam pelayanan sekali pun kita merindukan menjadi besar. Sudah tentu kita menamakannya, menjadi besar buat Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan menginginkan semua pekerjaan-Nya menjadi besar sebagaimana kita mendefinisikan besar, dalam bentuk biasanya kuantitas. Di dalam kitab Hakim-Hakim 7 dicatat tentang karya penyelamatan Tuhan melalui hamba-Nya Gideon. Pada awalnya Gideon membawa 30.000 pasukan untuk melawan bangsa Midian namun Tuhan terus mengurangi jumlahnya hingga mencapai 300 orang, 1/100 dari jumlah awal, namun sebagaimana kita tahu mereka berhasil memenangkan pertempuran, karena Tuhanlah yang menyelamatkan mereka. Dari situ ternyata ukuran besar, tidak berarti buat Tuhan. Tuhan memilih 300 orang saja, 1/100 dari jumlah pasukan, supaya apa? Tuhan dibesarkan. Jadi kita akan melihat pola ini mengalir di Alkitab dari depan sampai belakang. Tuhan tidak mementingkan jumlah di mata manusia, Tuhan tahu bahwa apa yang bisa dilakukan-Nya, itu pasti berhasil.
GS : Jadi tepat sekali seperti Yohanes Pembaptis yang mengatakan, "Biarlah aku makin berkurang dan Engkau makin bertambah", begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali, justru itu adalah prinsip yang kita sering lupakan, Pak Gunawan. Ada satu hal yang mesti kita camkan, Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya, bukan sebaliknya. Kalau tidak hati-hati kita malah memakai Tuhan untuk menggenapi rencana kita! Ini bahayanya, orang yang ingin besar dan ingin melakukan karya besar mudah jatuh ke dalam perangkap memakai Tuhan menggenapi rencana kita sendiri. Rencana yang besar terlalu penting untuk diabaikan, sehingga akhirnya itulah yang menjadi kekuatan dan pendorong pelayanannya. Jadi kita mesti berhati-hati, seperti Yohanes Pembaptis berkata bahwa aku harus makin kecil, Ia harus makin besar. Justru ia menekankan hal itu jangan sampai ia menjadi penghalang bagi pekerjaan Tuhan.
GS : Tapi beberapa ada orang yang dipakai Tuhan untuk melakukan karya-karya yang besar, karya-karya yang mengubah dunia ini juga.
PG : Betul sekali, namun kalau kita perhatikan dari awalnya mereka tidak memikirkan melakukan perkara besar, mereka hanyalah menaati Tuhan, bersedia melakukan apa yang Tuhan berikan kepada mereka namun pada akhirnya itulah yang Tuhan lakukan. Kenapa Tuhan seolah-olah tidak begitu senang kita mengejar perkara besar? Karena begini, Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Dia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan, Pak Gunawan. Di Yakobus 4:6 Firman Tuhan berkata, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati". Tidak mudah bagi kita yang mengejar perkara besar untuk tetap rendah hati, itulah sebabnya Tuhan meminta kita untuk tidak mengarahkan mata pada perkara besar, Ia meminta kita memandang dan mengutamakan perkara kecil. Dalam pelaksanaannya ada kalanya Ia melakukan perkara besar, melalui kita yang tengah mengerjakan perkara kecil, begitu Pak Gunawan.
GS : Dari perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus yang sering kita lihat Tuhan mengambil contoh yang kecil-kecil, seperti burung pipit, anak kecil, domba yang hilang satu saja, itu sesuatu yang sederhana tetapi punya makna yang besar sekali.
PG : Dan kedatangan Tuhan ke dunia ini sangat-sangat merupakan simbol dari prioritas itu. "O betlehem yang kecil" sebab memang kota itu kecil, kota yang besar adalah Yerusalem. Dan juda Nasaret, Tuhan Yesus pernah mengungsi dan tinggal di sebelah Utara, di Nasaret. Karena itu waktu Natanael bertemu ia bertanya tentang Tuhan, "Apa ada hal yang baik yang keluar dari Nasaret?" Kenapa? Karena memang tidak ada yang tahu tempat itu, terlalu terpelosok. Akhirnya itulah yang kita lihat, raja Israel yang pertama, Saul, dari suku Benyamin, suku terkecil. Jadi sekali lagi kita melihat Tuhan mau kita fokus pada yang kecil. Dalam pelaksanaannya Ia berkati kita, embankan kita dan mampukan kita melakukan perkara yang besar, itu kehendak-Nya tapi kita sendiri tidak boleh mengejar-ngejar yang besar-besar itu. Banyak orang, yang berlomba untuk menjadi besar, ada yang ingin cepat kaya, ada yang ingin berpengaruh besar, ada yang ingin bersumbangsih besar, ada yang ingin berpengikut besar dan seterusnya. Inilah bukti prioritas yang keliru. Kita pun terlalu cepat mengagumi orang yang besar dan menelantarkan orang yang kecil, orang yang bisa mengembangkan baik itu pekerjaannya, atau pengaruhnya atau pelayanannya menjadi besar, sering kita kagumi. Orang yang ingin besar hanya melihat yang besar dan mereka luput melihat yang kecil, yakni orang-orang yang kecil dan perkara-perkara kecil. Jadi sekali lagi fokus kita haruslah pada yang kecil.
GS : Bagaimana hubungan kita dengan keluarga, terkait dengan ini ?
PG : Sudah tentu kalau kita memerhatikan anak-anak kita, suami kita, istri kita dan melihat hal-hal yang kecil, yang sederhana justru itulah yang mereka butuhkan, diperhatikan secara mendetail, diutamakan, dihargai oleh kita karena apa yang mereka bisa berikan, bukan karena mereka bisa memenuhi sekehendak kita. Kita lihat Tuhan Yesus sendiri pun memberikan contoh itu, Pak Gunawan, misalnya dalam hal anak-anak kecil, anak kecil seringkali menjadi perkara kecil, tidak dianggap. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan. Tatkala Ia sedang mengajar tentang kerendahan hati Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuannya. Dia berkata di Matius 18:10, "Ingatlah jangan anggap rendah seorang seperti anak-anak kecil ini". Jadi sekali lagi Tuhan meminta kita melihat yang kecil. Tuhan melihat anak kecil, mereka tidak melihatnya. Salah satu bahayanya bila kita terus fokus pada yang besar adalah pada akhirnya kita menyamakan mulia dengan mewah, Pak Gunawan. Kita ingin melakukan pekerjaan Tuhan yang mulia, namun akhirnya mulia berganti menjadi mewah. Akhirnya kita terbiasa melakukan semua yang mewah dan tidak lagi bersedia melakukan pekerjaan yang tidak mewah. Pada akhirnya kita pun merendahkan yang kecil dan yang tidak mewah. Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita itu. Itu sebabnya dari awal Ia meminta kita mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
GS : Prioritas yang kelima yang perlu kita perhatikan apa, Pak Paul ?
PG : Mengedepankan memberi di atas menerima. Saya kira konsep ini kita kenal, masalahnya adalah tidak banyak orang yang bersedia memberi, Pak Gunawan. Apa itu maksudnya memberi? Tanpa menerima imbalan, yang penting kita terus memberi. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus memberi tanpa pamrih tapi ada orang yang hanya ingin menerima. Di antara memberi dan menerima ada satu di tengah-tengahnya yaitu membayar, masalahnya dalam hal membayar tidak semua orang rela melakukannya. Ada banyak orang yang menghindar dari kewajiban membayar. Memberi adalah satu langkah di depan membayar dalam pengertian pada waktu kita membayar ialah kita tidak menerima apa pun. Itulah memberi dan itulah yang seharusnya kita kedepankan.
GS : Memang ini perlu dilatihkan sedini mungkin, karena kita terbiasa menerima dari pada memberi, bahkan mencari sesuatu yang gratis daripada harus membayar. Kalau ada yang gratis mengapa kita harus membayar, begitu Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Memang itulah yang terjadi, kita dikondisikan untuk mencari-cari yang gratis, menerima yang kita inginkan tanpa harus membayarnya. Jadi inilah prioritas kita sebagai manusia, kalau membayar saja susah, apalagi memberi, tapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Di Matius 20:28 Tuhan berkata, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang". Kita tahu melayani adalah memberi, baik itu jasa atau barang, tapi Tuhan memberi nyawa-Nya, ini adalah sebuah pemberian yang termahal.
GS : Padahal, sebenarnya dengan memberi itu membuktikan bahwa kita kaya, Pak Paul. Punya sesuatu yang lebih yang kita bisa berikan kepada orang lain. Kalau kita menerima terus menunjukkan kemiskinan kita atau kebutuhan kita yang tidak terpenuhi.
PG : Sebetulnya begitu, Pak Gunawan, jadi dengan kita memberi kita menunjukkan iman, bahwa kita punya dan nanti kita akan diberikan oleh Tuhan dengan cukup sehingga waktu kita memberi kita tidak akan mengalami kekurangan. Ini seringkali kita identikkan dengan memberi, dianggap kalau kita memberi kita akan kehilangan, akan rugi karena pada dasarnya kita tidak mau rugi, kita hanya mau untung. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus selalu menolak untuk menerima apa pun dari siapa pun, bukan itu yang saya maksud. Saya hanya mengingatkan bahwa oleh karena Tuhan mementingkan memberi daripada menerima, maka kita pun harus mengutamakan memberi ketimbang menerima. Singkat kata, dalam hidup kita harus mencari kesempatan untuk memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika kita butuh, jangan sungkan menerima, sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang. Namun sekali lagi jangan mencari-cari kesempatan untuk menerima, sebaliknya carilah kesempatan untuk memberi, tanpa mengharapkan imbalan.
GS : Masalahnya kita tidak bisa memberi kalau kita tidak menerima terlebih dahulu, Pak Paul.
PG : Betul, kalau kita terbuka, kita tahu bahwa kadang-kadang kita butuh dan Tuhan mengutus orang untuk menolong kita, sudah kita terima dan kita tahu bahwa nantinya pun kita bisa memberikan lagi. Selama kita fokuskan terus bagaimana kita bisa memberi dan memberi lagi, saya kira itu yang Tuhan inginkan ada pada diri kita, bukan mentalitas sebaliknya bagaimana supaya kita bisa menerima dan menerima dan menerima lagi. Tidak seperti itu, berkat Tuhan dikucurkan pada orang yang terus mencari kesempatan untuk memberi dan memberi lagi.
GS : Prioritas yang lain yang perlu mendapat perhatian kita, apa Pak Paul ?
PG : Ini adalah yang keenam yaitu kita harus prioritaskan proses di atas produk. Makin hari kita makin menjadi masyarakat yang tidak sabar Pak Gunawan, kita ingin melihat hasil atau produk. Bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan, Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Sebagai contoh, Tuhan terus bersabar membentuk Petrus sebab Ia tahu perubahan memerlukan proses, coba kita simak salah satu percakapan Tuhan dengan Petrus dan peristiwa penyangkalannya yang dicatat di Matius 26. Petrus menjawab, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak". Yesus berkata kepadanya, "Aku berkata kepadamu sesungguhnya malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali...". Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah, "Aku tidak kenal Orang itu" pada saat itu berkokoklah ayam, maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya, "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali". Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya."
GS : Memang proses yang dialami oleh Petrus berbeda dengan proses yang dialami oleh Yohanes atau pun murid-murid yang lain, memang semua menjalani proses itu, Pak Paul. Ini yang seringkali membuat kita ketika memasuki proses itu merasakan mengapa begitu lama proses itu terjadi pada saya sedangkan orang itu bisa begitu cepat melewati proses itu ?
PG : Betul, Pak Gunawan, memang kita sebagai manusia tidak bisa tidak akan membanding-bandingkan "Dalam proses ini saya lama sekali, mengapa Tuhan tidak menyelesaikan? Mengapa saya masih merangkak, orang itu lebih cepat." Maka kita mesti sabar dengan orang lain. Kita sebagai seorang ayah atau seorang ibu, kadang-kadang kita ingin melihat proses itu berjalan lebih cepat, kita ingin melihat hasilnya langsung pada anak-anak kita, tapi pada faktanya tidaklah demikian. Kita mesti mengingatkan diri bahwa Tuhan akan terus membentuk anak kita, memprosesnya tapi tentu akan makan waktu. Misalnya dalam hal Petrus, Tuhan tahu bahwa Petrus akan menyangkal mengenal-Nya dan Ia pun telah memeringati murid-Nya itu. Sayangnya Petrus terlalu percaya diri sehingga lalai menjaga diri, akhirnya dia jatuh, tapi Tuhan tidak memarahinya. Kita tahu di Alkitab tertulis jelas bahwa Tuhan hanya memandangnya dan itu sudah cukup. Petrus keluar dan menangis, perubahan pun terjadi. Dalam hidup kita mesti sabar menantikan hasil atau produk, fokus perhatian justru harus lebih diarahkan kepada prosesnya. Memberi kesempatan kepada seseorang, memeringatinya, mengajarkannya dan menunggu hasilnya. Inilah yang susah tapi inilah yang harus kita lakukan, menunggu hasilnya. Inilah yang menjadi prioritas Tuhan dan seyogianyalah ini pun menjadi prioritas kita pula.
GS : Kalau kita coba-coba ikut serta "membantu" Tuhan mempercepat proses ini pun malah hasilnya tidak menjadi baik, Pak Paul ?
PG : Betul sebab seringkali yang kita lakukan yang namanya membantu lebih banyak memberikan tuntutan-tuntutan dan kadang-kadang emosi kita juga turut bermain, kita marah-marah dan sebagainya. Jadi ada waktunya kita memberi peringatan, ada waktunya kita juga bisa marah, tapi ada waktunya untuk menunggu dan memberi kesempatan kepada Roh Kudus bekerja dalam hidup seseorang, sehingga pada akhirnya orang itu akan mengalami perubahan.
GS : Jadi dibutuhkan kesabaran yang luar biasa dan itu pun cara Tuhan memproses kita memunyai karakter yang baik. Itu yang pernah kita bicarakan, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Sebagai akhir dari prioritas ini, puncaknya apa, Pak Paul ?
PG : Yang ketujuh adalah kita mesti mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Sebetulnya jika kita jujur Pak Gunawan, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya. Apa itu keduanya? Dunia dan surga, kita ingin mendapatkan surga yang kekal tapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Kita menginjak dua perahu sebab kita menginginkan yang terbaik dari keduanya, sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Coba kita dengar perkataan Tuhan kepada seorang pemuda yang kaya raya, yang tercatat di Markus 10:21, "Hanya satu lagi kekuranganmu, pergilah dan juallah apa yang engkau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin maka engkau akan beroleh harta di surga kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku". Tuhan memintanya untuk menjual semua hartanya, sebab Tuhan tahu bahwa harta telah menjadi penghalang antara dirinya dan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu mencintai keduanya, harta dan Tuhan. Ia menginjak kedua perahu, dunia dan surga, Tuhan ingin dan Tuhan menuntut kita untuk menempatkan-Nya di takhta kehidupan bukan di kursi menteri semata.
GS : Dalam hal ini, Pak Paul, apakah tidak ada hal-hal yang bisa dikompromikan, misalnya antara karakter dan kemampuan, efisiensi dan ketaatan. Menurut kita sebenarnya hal ini bisa berjalan bersama-sama, Pak Paul.
PG : Sudah tentu dalam hal-hal yang tadi Pak Gunawan singgung, tidak salah kita juga belajar supaya bisa memajukan ketrampilan dan kemampuan kita. Tidak salah juga kita belajar mengefisienkan pekerjaan kita. Ada hikmatnya dalam mengefisienkan pekerjaan namun intinya adalah tetap, ketaatan kepada Tuhan di atas dari keefisienan. Kadang-kadang waktu Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, meski kita melihat tidak efisien, tapi kalau kita meyakini ini dari Tuhan, kita mesti menaatinya, lakukanlah. Contoh yang klasik adalah ini, Pak Gunawan, bukankah banyak orang-orang yang bersekolah, yang memunyai pendidikan yang baik, memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan, mungkin keluarganya bisa mengatakan, "Aduh pemborosan sudah disekolahkan 4 tahun atau 6 tahun, akhirnya meninggalkan ini semua dan menjadi hamba Tuhan". Sekali lagi di dalam konsep sebagian orang, ini pemborosan tetapi yang dikedepankan haruslah tetap, ketaatan kepada Tuhan.
GS : Seperti Tuhan Yesus yang menyuruh pemuda tadi untuk menjual harta bendanya, itu tidak diberlakukan kepada semua orang yang mengikut Dia, Pak Paul.
PG : Betul sekali, tidak semuanya Tuhan tuntut, tapi dalam kasus tadi harta itu telah menghalangi orang tersebut mencintai Tuhan sepenuhnya. Jadi konkretnya, praktisnya dalam penerapannya, apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus selalu bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" dan setelah bertanya kita harus menaatinya. Buat apa kita bertanya kalau kita tidak berniat menaatinya? Misalnya ada orang yang tinggal bersama kekasihnya, artinya kumpul kebo, sewaktu ditanya ia selalu memberi jawab, "Bukankah Tuhan menginginkan saya hidup senang?" Inilah contoh orang yang tidak bertanya kepada Tuhan, sebaliknya ia hanya bertanya kepada dirinya sendiri. Waktu dia berkata begitu, "Bukankah Tuhan menginginkan saya hidup senang", sebetulnya dia hanya bertanya kepada dirinya sendiri, "Saya mau hidup senang, boleh atau tidak?" Sudah tentu karena dia bertanya kepada dirinya sendiri, ia jugalah yang memberi jawab kepada dirinya sendiri.
GS : Jadi dalam hal ini rupanya Tuhan mau kita taat secara mutlak kepada-Nya, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita, itu sebabnya Ia menuntut kuasa mutlak atas diri kita maka respons kita kepada-Nya hanya satu yaitu tunduk. Itu sebabnya dalam hidup tidak boleh ada yang lebih penting dan lebih besar daripada Tuhan, Dia adalah segalanya. Di dalam perahu hanya boleh ada Tuhan dan hanya boleh ada satu perahu, itulah syarat yang tidak boleh ditawar.
GS : Saya rasa ini jelas sekali, Pak Paul dan terima kasih untuk perbincangan bersama Pak Paul saat ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Prioritas Hidup" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Untuk itu kita perlu kembali ke Alkitab dan belajar menetapkan prioritas. Berikut adalah tujuh prioritas yang mesti kita adopsi.
Karakter di atas Kemampuan. Hidup perlu kemampuan. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan berusaha menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan yaitu kasih. Di samping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang. Janganlah sampai kita terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
Firman Tuhan di 1 Korintus 1:26 berkata, "Ingat saja , saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat, kita lupa akan keberadaan diri kita. Pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati; sebaliknya, orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata.
Inilah prioritas yang mesti kita terapkan di keluarga. Janganlah sampai kita meninggikan kemampuan di atas karakter. Hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya. Begitu pun terhadap suami dan istri. Janganlah sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti obyek yang tengah dimanfaatkan-hanya bernilai kalau masih berguna.
Keutuhan Diri Si Pelayan di atas Kegiatan Si Pelayan. Sebagai anak Tuhan sering kali kita terlibat dalam pelayanan-baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini baik. Namun adakalanya kita menjadi terlalu sibuk; kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiyakan tugas pelayanan yang diembankan. Pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yakni menjaga kehidupan yang utuh. Itu sebabnya kalau tidak berhati-hati, kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga. Alhasil, baik kehidupan keluarga ataupun pribadi menjadi kacau dan berantakan.
Pendeta Bill Hybels menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat.
Ketaatan di atas Keefisienan. Kadang ketika membaca Firman Tuhan terlintas seutas pikiran, "Betapa banyaknya perintah Tuhan!" Pada kenyataannya hanya satu yang dituntut Tuhan-ketaatan. Suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang bernama, Simon, penderita kusta. Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang-termasuk murid Tuhan-tindakan ini merupakan pemborosan uang alias tidak efisien. Namun dengarlah perkataan Tuhan, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku." (Markus 14:6)
Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan efisiensi bukanlah segalanya. Ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi. Jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan. Dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
Kecil di atas Besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua. Bahkan dalam pelayanan sekalipun, kita merindukan menjadi besar. Ada satu hal yang mesti kita camkan: Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya. Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Ia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan. Dengarlah Firman Tuhan lewat Yakobus 4:6, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Anak kecil sering kali menjadi perkara kecil. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus. Tatkala Ia tengah mengajar tentang kerendahan hati, Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuan-Nya, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Matius 18:10). Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita. Itu sebabnya Ia meminta kita untuk mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
Memberi di atas Menerima. Tidak banyak orang yang bersedia memberi-tanpa menerima apa pun. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu-baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus berusaha untuk memberi tanpa pamrih, tetapi ada orang yang memang hanya ingin menerima. Di antara menerima dan memberi ada "membayar." Kalau membayar saja susah, apalagi memberi? Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Dengarlah seruan-Nya yang dicatat di Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Melayani adalah memberi-baik itu jasa atau barang-namun Tuhan memberi nyawa-Nya-pemberian termahal.
Dalam hidup kita mesti berusaha untuk mencari kesempatan memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika memang kita butuh, jangan sungkan menerima sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang.
Proses di atas Produk. Makin hari makin kita menjadi masyarakat yang tidak sabar. Kita ingin melihat hasil atau produk; bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua upaya yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan. Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Jadi fokuskan perhatian justru pada prosesnya-memberi kesempatan, memeringati, mengajarkan, dan menunggu.
Tuhan di atas Segalanya. Sebetulnya, jika kita jujur, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya-dunia dan surga. Kita ingin mendapatkan surga yang kekal, tetapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" Dan, setelah bertanya, kita harus menaati-Nya. Sebab Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita. Itu sebabnya dalam hidup, tidak ada yang boleh lebih penting dan lebih besar dari Tuhan. Ia adalah segalanya.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:31am.
Abstrak:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Ada 7 prioritas yang mesti kita adopsi dari Alkitab, yaitu : karakter di atas kemampuan, keutuhan diri si pelayan di atas kegiatan si pelayan, ketaatan di atas keefesienan, mengedepankan yang kecil di atas yang besar, mengedepankan memberi di atas menerima, prioritaskan proses di atas produk dan utamakan Tuhan di atas segalanya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Prioritas Hidup". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang hidup ini berisi dengan berbagai macam peristiwa, niat dan macam-macam, sehingga mau tidak mau kita harus memprioritaskan, walaupun dalam hati keinginannya semua bisa terjangkau tetapi nyatanya tidak mungkin seperti itu, Pak Paul. Tapi bagaimana kita bisa memprioritaskan dan apa sebenarnya yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu, Pak Paul ?
PG : Pengamatan Pak Gunawan benar. Hidup itu sebetulnya merupakan sederet pilihan, jadi bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih akhirnya tersangkut pada pilihan-pilihan yang keliru. Kita harus belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup.
GS : Pilihan memang banyak Pak Paul. Misalnya untuk memilih baju saja sudah sulit, memilih makanan kadang-kadang sulit, apalagi ini sesuatu yang sangat menentukan untuk masa depan kehidupan kita, Pak Paul. Apa saran Pak Paul dan apa yang harus kita pilih sebenarnya ?
PG : Saya akan mengajak kita semua kembali ke Alkitab, ke Firman Tuhan dan belajar menetapkan prioritas nanti kita akan bahas sekurangnya ada 7, Pak Gunawan, prioritas yang mesti kita adopsi. Pertama adalah kita mesti memprioritaskan karakter di atas kemampuan, saya mengerti bahwa hidup perlu kemampuan, itu betul. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik dan tanpa kemampuan pun kita akan sulit mendapatkan penghargaan dari orang, itu sebabnya tidak salah bila kita berupaya mempertajam kemampuan. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Saya tahu ada sebagian orang yang terus mengejar-ngejar kemampuan, tapi saya ingin mengatakan bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Ternyata Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan mengusahakan menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan, yaitu kasih. Disamping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang, artinya janganlah kita sampai terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
GS : Yang Pak Paul maksud dengan karakter dalam hal ini seperti apa ?
PG : Jadi dengan kata lain saya rangkumkan, saya sarikan : memiliki kasih, karakter yang merupakan puncak dan sari dari semua karakter Kristus. Itulah yang seharusnya kita miliki.
GS : Padahal itu semua datangnya dari Tuhan, baik karakter maupun kemampuan dan kenapa karakter harus lebih diprioritaskan dari pada kemampuan, Pak Paul?
PG : Pak Gunawan, sebetulnya kemampuan itu pemberian Tuhan karena itu kita tidak boleh bermegah, menepuk dada dan memegahkan diri sebab kemampuan adalah pemberian Tuhan. Sebetulnya karakter tidaklah pemberian Tuhan semata, karakter adalah sebuah proyek kerjasama antara Tuhan dan kita manusia. Kita pun mesti berusaha sedapat mungkin untuk bersedia diubahkan Tuhan, bersedia menaati Tuhan sehingga karakter kita makin hari makin dipoles menjadi serupa dengan karakter Kristus yaitu kasih. Kenapa Tuhan lebih mengutamakan hal itu sebab Tuhan tidak memberikan kemampuan yang sama kepada setiap orang, Tuhan memberikannya berbeda-beda sesuai dengan rencana Tuhan atas diri kita masing-masing. Itu sebabnya kita mengetahui bahwa ini pemberian Tuhan maka kita tidak boleh bermegah hati, tetapi karakter itu sesuatu yang merupakan kerjasama antara Tuhan dan kita. Kita bekerja keras menumbuhkan, oleh karena itu Tuhan memberi penghargaan, karena seolah-olah karakter itu persembahan kita kepada Tuhan. Kasih, kemurahan, kelemah-lembutan dan sebagainya adalah persembahan kita kepada Tuhan dan itulah yang dihargai. Dan yang memuliakan Tuhan bukanlah kemampuan kita, yang memuliakan Tuhan adalah karakter kita. Orang melihat Tuhan di dalam hidup kita dalam pengertian orang melihat karakter kita, mirip dengan karakter Kristus barulah orang memuji Tuhan, memuliakan Tuhan karena melihat itu dalam diri kita.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang terkait dengan itu, Pak Paul ?
PG : Saya bacakan di I Korintus 1:26, Firman Tuhan berkata, "Ingat saja saudara-saudara bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil, menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh dan tidak banyak orang yang terpandang". Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat kita lupa akan keberadaan diri kita, pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati, sebaliknya orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata. Adakalanya ketika kita bertemu dengan orang berkarakter tidak baik namun berkemampuan tinggi, kita berdalih "Biarlah" sebab setidaknya ia berkemampuan tinggi. Ini menunjukkan sistem prioritas kita telah terbalik. Prioritas yang benar dan sesuai standard Tuhan adalah menghormati orang yang berkarakter baik. Seberapa tingginya kemampuan seseorang bila ia berkarakter buruk, ia tidak layak dihormati.
GS : Pak Paul, bila tadi dikatakan bahwa karakter adalah proyek kerjasama Tuhan dengan manusia, apa yang harus kita lakukan supaya kita memunyai karakter yang baik ?
PG : Nomor satu kita harus sering-sering membaca Firman sehingga kita mengetahui apa yang Tuhan tuntut, apa yang Tuhan inginkan dari kita. Setelah itu kita mesti sering-sering berdoa, mengakui kelemahan dan keterbatasan kita dan memohon Tuhan untuk terus menolong kita memunculkan karakter seperti yang Dia inginkan itu. Dan yang ketiga ini kuncinya, memang hanya satu saja yang bisa merangkumkan semuanya yaitu ketaatan. Apa yang Tuhan minta kita lakukan, itu kita kerjakan. Ia meminta kita untuk meminta maaf, kita meminta maaf, Ia meminta kita untuk merendahkan diri, kita rendahkan diri. Pokoknya ikuti dan taati saja yang Tuhan inginkan, maka akhirnya karakter itu akan terbentuk. Dampaknya sangat luas, kalau kita bisa mengutamakan karakter di atas kemampuan, bukan saja akan memengaruhi relasi kita dan orang lain tapi juga relasi kita dengan anggota keluarga kita. Jangan sampai kita dalam keluarga sendiri pun meninggikan kemampuan di atas karakter. Kepada anak misalnya, hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya, begitu pun terhadap suami dan istri jangan sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti objek yang tengah dimanfaatkan, hanya bernilai kalau masih berguna. Kalau masih bisa membantu kita, masih bisa menghasilkan uang dan sebagainya, kita hargai. Begitu tidak bisa memberikan sumbangsih, kita sudah uring-uringan, marah-marah kepadanya, dengan cara itu kita mengkomunikasikan kepada pasangan dan anak-anak kita, kamu masih berguna kalau kamu masih memunyai fungsi. Kalau tidak ada lagi fungsi dalam hidup saya, kamu sudah tidak ada lagi gunanya dan tidak ada lagi nilainya.
GS : Tapi karakter seseorang itu bisa berubah-ubah, Pak Paul? Pada waktu karakternya masih baik kita bisa memprioritaskan dia, menghargai dia berdasarkan karakternya, tapi kemudian pada suatu saat karena suatu sebab karakternya menjadi buruk sekali. Bagaimana kita menghadapi orang seperti ini?
PG : Sudah tentu kalau orang itu dekat dengan kita atau dia anggota keluarga kita, kita mesti sering-sering mengingatkan dia bahwa kita melihat perubahan-perubahan dalam dirinya, sehingga yang tadinya begitu indah penuh dengan kasih sayang, sekarang makin hari makin hilang kasih sayang itu dan digantikan justru dengan kejudesan, kemarahan, tidak murahhati, semua itu hal-hal yang perlu kita kemukakan kepada orang tersebut supaya ia bisa kembali diingatkan bahwa "Benar ya, telah terjadi perubahan besar dalam hidup saya dan saya mesti kembali lagi kepada karakter Tuhan yang Tuhan inginkan itu".
GS : Hal lain yang perlu diprioritaskan, apa Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah kita mesti memprioritaskan keutuhan diri si pelayan atau diri kita di atas kegiatan si pelayan. Coba saya jelaskan, sebagai anak Tuhan seringkali kita terlibat dalam pelayanan, baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini semua baik, namun ada kalanya kita menjadi terlalu sibuk. Kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiakan tugas pelayanan yang diembankan, pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yaitu menjaga kehidupan yang utuh, tidak bisa tidak kegiatan pelayanan akan menyita waktu dan tenaga. Itu sebabnya bila tidak berhati-hati kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga kita, akhirnya baik kehidupan keluarga maupun kehidupan pribadi menjadi kacau dan berantakan.
GS : Apa yang maksudkan dengan keutuhan diri di sini ?
PG : Jadi keutuhan diri adalah sebuah diri yang tertata, yang tidak berat di sini, ringan di sini tapi memunyai keseimbangan. Dalam contoh praktisnya, orang yang memunyai keutuhan, orang yang bijaksana, orang yang bisa bersikap dengan tepat. Orang yang bisa menghadapi masalah dengan bijaksana, orang yang tahu bagaimana menghadapi orang dan tuntutannya. Tidak mudah meletup, tidak mudah ambruk, tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai kehidupan, dengan kata lain adanya sebuah kestabilan, sehingga ia bisa membagi waktu dan hidupnya itu dengan bijaksana kepada orang-orang di sekitarnya.
GS : Termasuk di dalam keluarganya, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kalau tidak hati-hati kita akan justru mengorbankan orang-orang dalam keluarga kita, terlalu banyak suami, istri dan anak yang harus menderita karena kita tidak lagi sanggup memberi waktu dan tenaga untuk mereka. Alhasil semua kocar-kacir dan merana termasuk diri kita sendiri. Saya ingin mengutip perkataan dari Pdt. Bill Hybel, beliau menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya, tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Pengamatannya ini memang benar, beliau mengamati pemimpin yang akhirnya jatuh, yang hidupnya berantakan, yang keluarganya berantakan. Dia berkata, "Orang-orang itu tidak bisa menata organisasi atau pelayanannya" dan dia pun melihat orang-orang yang gagal dalam pelayanannya seringkali diawali oleh kegagalannya menata dirinya sendiri. Jadi benar-benar beliau menekankan pentingnya mulai menata diri pribadi, sebelum nanti menata yang di luar, maka kalau kita sebagai anak Tuhan terlalu mementingkan kegiatan pelayanan dan mengabaikan diri kita, keutuhan diri kita sebagai seorang pribadi maka tinggal tunggu waktu akhirnya kita jatuh terjerembab.
GS : Apakah ada contoh yang konkret dari Alkitab, Pak Paul ?
PG : Saya teringat Musa, Pak Gunawan. Musa itu harus mengalami perombakan hidup terlebih dahulu sebelum Tuhan memakainya, selama 40 tahun ia hidup dalam pengasingan di gurun Midian jauh dari kegiatan yang bermakna namun di situlah terletak maknanya, Musa harus diutuhkan terlebih dahulu sebelum ia terjun ke dalam kegiatan pelayanan yang maha berat itu. 40 tahun sebelumnya Musa penuh energi dan percaya diri, ia terobsesi memerdekakan bangsanya dari belenggu bangsa Mesir. 40 tahun kemudian Musa tidak berenergi dan tidak percaya diri, ia pun kehilangan obsesi memerdekakan bangsanya, itu sebabnya waktu Tuhan panggil ia menolak, tidak bersedia namun itulah saat yang ditunggu Tuhan. Sekarang di mata Tuhan Musa siap dipandu dan dipakai Tuhan, ia telah menjadi pribadi yang jauh lebih utuh dibanding sebelumnya.
GS : Seringkali kita mengagungkan tokoh Musa ini padahal perjalanan hidupnya bukan suatu perjalanan yang gampang, tapi bagaimana pun juga ini suatu panutan bagi kita yang mau melayani Tuhan, Pak Paul? Apa dampaknya langsung kepada kita yang mau melayani Tuhan ?
PG : Begini, Pak Gunawan. Sebagai pelayan Tuhan kita harus senantiasa peka melihat dampak kegiatan pelayanan pada diri dan keluarga kita. Bila hidup kita mulai kocar-kacir dan keluarga mulai tercerai-berai, itulah pertanda kegiatan pelayanan telah menindih kita, itulah waktunya bagi kita menimbang ulang prioritas hidup. Sayangnya Pak Gunawan, ada banyak orang yang tidak memedulikan hal ini, mereka terus berjalan dengan cepat, mereka menuntut misalnya pasangan untuk mengambil alih tanggungjawab atau malah menuntut anak untuk tidak mengganggunya, kalau dimintai tolong dia tidak suka atau dia marah. Itu semua menandakan prioritas yang sudah mulai terbalik, kita terlalu menekankan pada kegiatan pelayanan itu sendiri dan mengabaikan keutuhan hidup kita pribadi.
GS : Tapi dalam hal ini Musa sendiri pernah diingatkan oleh mertuanya, Yitro, karena dia terlalu sibuk melayani orang lain sehingga banyak hal yang terbengkalai, begitu Pak Paul.
PG : Betul meskipun Musa telah menjalani pelatihan, pembinaan, pembentukan selama 40 tahun, tetap sebagai manusia dia gagal, dia bisa saja akhirnya khilaf, dia lupa, dia tidak bisa mengurus semua orang, semua masalah di bangsa Israel, maka Tuhan memakai mertuanya untuk memberitahukan Musa, "Kamu harus mendelegasikan", sebab intinya kita selalu harus ingat bahwa Tuhan mementingkan diri si pelayan di atas kegiatannya. Tuhan lebih mencintai kita dibanding kegiatan-kegiatan pelayanan kita. Itu sebabnya Tuhan tidak tergesa-gesa memakai Musa, Tuhan menunggu, membentuk Musa sampai utuh sebelum mengutusnya ke dalam pelayanan. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat. Jadi dalam pelayanan kita harus menerapkan sistem prioritas yang benar. Kadang kita justru menuntut rekan pelayanan untuk berani membayar harga, padahal itu bukanlah harga yang semestinya dibayar. Roda pelayanan yang diputar di atas kegiatan dan bukan di atas keutuhan hidup si pelayan akhirnya menuai masalah. Bukankah terlalu sering kita menyaksikan pelayanan hancur oleh karena masalah pribadi si pelayan, bukan karena kegiatan pelayanan itu sendiri. Kita harus belajar dari kesalahan di masa lampau dan membangun prioritas yang benar.
GS : Kalau begitu apa prioritas yang ketiga yang perlu kita perhatikan, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga kita mesti memprioritaskan ketaatan di atas keefisienan. Kadang ketika kita membaca Firman Tuhan mungkin terlintas pikiran betapa banyaknya perintah Tuhan. Pada kenyataannya, Pak Gunawan, hanya satu yang dituntut Tuhan yaitu ketaatan. Raja Saul adalah contoh ketidaktaatan yang menyedihkan, berkali-kali ia tidak menaati Tuhan dan sewaktu ditegur ia selalu berdalih. Itu sebabnya Samuel, hamba Allah, mengingatkan Saul yang tercatat di I Samuel 15:22, "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan".
GS : Wujud ketaatan yang Tuhan kehendaki dari kita itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu pada akhirnya yang pertama kita harus jelas secara spesifik, apa yang Tuhan inginkan dari kita, apa itu yang merupakan sabda-Nya kepada kita? Bisa kita melihat dari Firman Tuhan atau kadang-kadang Ia akan langsung membisikkannya kepada kita. Itulah yang akan kita taati, dalam kasusnya Saul, ia selalu tidak mentaati Tuhan karena Ia selalu memunyai pertimbangannya sendiri. Pertimbangannya selalu dianggap lebih efisien daripada perintah Tuhan. Misalnya, pernah Samuel memintanya untuk menunggu kedatangannya sebelum mempersembahkan korban. Saul tidak sabar, langsung mempersembahkan korban dengan alasan guna mencegah serdadunya meninggalkan dia sekaligus memohon restu Tuhan atas mereka dalam peperangan melawan bangsa Filistin. Memang kita bisa mengatakan, "OK pertimbangannya itu efisien, tapi justru menunjukkan ketidakberimanan Saul dan ini menunjukkan juga ia tidak mengerti isi hati Tuhan". Jadi benar-benar intinya kita harus mendengarkan Tuhan, itu adalah yang dimaksud dengan menaati Tuhan.
GS : Karena hampir setiap hari kita dituntut untuk hidup efisien khususnya pada saat-saat seperti ini, ini berimbas juga pada bagaimana kita berhadapan dengan Tuhan walaupun itu ternyata tidak benar.
PG : Tidak selalu, sudah tentu adakalanya efisien itu baik dan itulah yang dikehendaki Tuhan, namun kita mesti selalu mengedepankan ketaatan ketimbang keefisienan. Saya ada contoh lain, Pak Gunawan, tentang perempuan yang datang ke Tuhan Yesus. Pada suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang yang bernama Simon, seorang penderita kusta. Tiba-tiba datang seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang termasuk murid Tuhan, tindakan ini termasuk pemborosan uang alias tidak efisien, namun dengarlah perkataan Tuhan di Markus 14:6 , "Biarkanlah dia, mengapa kamu menyusahkan dia. Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku". Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan, efisiensi bukanlah segalanya, ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Perempuan itu ingin menaati panggilan Tuhan di hatinya, yaitu melakukan sesuatu yang baik buat Tuhan. Baginya tidak ada jalan atau cara lain yang dapat diperbuatnya untuk menunjukkan kasihnya kepada Tuhan, selain mempersembahkan minyak narwastu itu. Tuhan melihat isi hatinya dan menerima perbuatannya.
GS : Jadi efisien yang dikehendaki Tuhan itu sejalan dengan apa yang Tuhan rencanakan untuk kehidupan kita, tapi efisien yang kita rencanakan sendiri, yang kita buat sendiri itu bisa bertentangan dengan kehendak Tuhan.
PG : Betul sebab akhirnya bila efisiensi itu tidak didasari atas pengenalan akan isi hati Tuhan, tidak dilandasi oleh kasih, tidak dilandasi atas keinginan memuliakan Tuhan, efisiensi itu hanyalah memaksimalkan tanpa benar-benar mengerti untuk apakah kita memaksimalkan. Akhirnya saya perhatikan, kita terlalu terpaku pada efisiensi dan menjadikannya ilah baru. Segala sesuatu yang tidak efisien mesti dihilangkan dan dipastikanlah bukan berasal dari Tuhan. Ini keliru! Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi, misalnya Musa harus dibenahi Tuhan 40 tahun sebelum dipakai-Nya. Tidak efisien menurut standar kita sebab terlalu lama. Dan bukankah usia 40 jauh lebih baik daripada 80 untuk melayani Tuhan. Namun itulah yang Tuhan lakukan dan Tuhan berhasil. Tuhan Yesus misalnya hanya memilih 12 murid, tidak efisien, bagaimana mungkin menyebarkan Kabar Baik pengampunan Allah hanya lewat 12 manusia? Kenyataannya Nama Kristus didengar dan dikenal oleh bermilyaran manusia sekarang. Jadi jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan, Pak Gunawan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan, dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
GS : Jadi yang penting di sini adalah mencapai pekerjaan dan kehendak Tuhan itu dengan cara yang Tuhan kehendaki, karena bagi Tuhan soal waktu, soal uang, soal jumlahnya orang itu tidak terlalu bermasalah yang seringkali kita permasalahkan.
PG : Tepat sekali, justru itulah yang menjadi fokus kita, tapi Tuhan mau berkata, "Taatilah dulu Aku, jangan khawatir dengan yang lain-lain, Aku akan bereskan yang lain-lainnya".
GS : Tadi Pak Paul katakan ada 7 hal yang perlu kita prioritaskan dalam hidup ini, tapi rupanya kita baru sempat membahasnya 3 saja, dan tentu saja perbincangan ini kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Terima kasih sekali untuk hal-hal yang Pak Paul sudah sampaikan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Prioritas Hidup" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Untuk itu kita perlu kembali ke Alkitab dan belajar menetapkan prioritas. Berikut adalah tujuh prioritas yang mesti kita adopsi.
Karakter di atas Kemampuan. Hidup perlu kemampuan. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan berusaha menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan yaitu kasih. Di samping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang. Janganlah sampai kita terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
Firman Tuhan di 1 Korintus 1:26 berkata, "Ingat saja , saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat, kita lupa akan keberadaan diri kita. Pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati; sebaliknya, orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata.
Inilah prioritas yang mesti kita terapkan di keluarga. Janganlah sampai kita meninggikan kemampuan di atas karakter. Hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya. Begitu pun terhadap suami dan istri. Janganlah sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti obyek yang tengah dimanfaatkan-hanya bernilai kalau masih berguna.
Keutuhan Diri Si Pelayan di atas Kegiatan Si Pelayan. Sebagai anak Tuhan sering kali kita terlibat dalam pelayanan-baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini baik. Namun adakalanya kita menjadi terlalu sibuk; kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiyakan tugas pelayanan yang diembankan. Pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yakni menjaga kehidupan yang utuh. Itu sebabnya kalau tidak berhati-hati, kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga. Alhasil, baik kehidupan keluarga ataupun pribadi menjadi kacau dan berantakan.
Pendeta Bill Hybels menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat.
Ketaatan di atas Keefisienan. Kadang ketika membaca Firman Tuhan terlintas seutas pikiran, "Betapa banyaknya perintah Tuhan!" Pada kenyataannya hanya satu yang dituntut Tuhan-ketaatan. Suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang bernama, Simon, penderita kusta. Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang-termasuk murid Tuhan-tindakan ini merupakan pemborosan uang alias tidak efisien. Namun dengarlah perkataan Tuhan, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku." (Markus 14:6)
Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan efisiensi bukanlah segalanya. Ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi. Jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan. Dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
Kecil di atas Besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua. Bahkan dalam pelayanan sekalipun, kita merindukan menjadi besar. Ada satu hal yang mesti kita camkan: Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya. Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Ia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan. Dengarlah Firman Tuhan lewat Yakobus 4:6, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Anak kecil sering kali menjadi perkara kecil. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus. Tatkala Ia tengah mengajar tentang kerendahan hati, Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuan-Nya, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Matius 18:10). Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita. Itu sebabnya Ia meminta kita untuk mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
Memberi di atas Menerima. Tidak banyak orang yang bersedia memberi-tanpa menerima apa pun. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu-baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus berusaha untuk memberi tanpa pamrih, tetapi ada orang yang memang hanya ingin menerima. Di antara menerima dan memberi ada "membayar." Kalau membayar saja susah, apalagi memberi? Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Dengarlah seruan-Nya yang dicatat di Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Melayani adalah memberi-baik itu jasa atau barang-namun Tuhan memberi nyawa-Nya-pemberian termahal.
Dalam hidup kita mesti berusaha untuk mencari kesempatan memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika memang kita butuh, jangan sungkan menerima sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang.
Proses di atas Produk. Makin hari makin kita menjadi masyarakat yang tidak sabar. Kita ingin melihat hasil atau produk; bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua upaya yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan. Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Jadi fokuskan perhatian justru pada prosesnya-memberi kesempatan, memeringati, mengajarkan, dan menunggu.
Tuhan di atas Segalanya. Sebetulnya, jika kita jujur, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya-dunia dan surga. Kita ingin mendapatkan surga yang kekal, tetapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" Dan, setelah bertanya, kita harus menaati-Nya. Sebab Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita. Itu sebabnya dalam hidup, tidak ada yang boleh lebih penting dan lebih besar dari Tuhan. Ia adalah segalanya.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:29am.
Abstrak:
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Namun bagaimana jika ada seorang pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua? Perbedaan usia berdampak pada cara berpikir, menyikapi hidup dll. Sebaiknya kita menikah dengan orang yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Pria maksimal 10 tahun lebih tua dari wanita dan wanita jangan sampai 5 tahun lebih tua dari pasangannya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dampak Usia". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, perbincangan ini menyangkut kehidupan rumah tangga, faktor usia itu bisa memberi dampak pada pasangan suami istri. Sejauh mana faktor usia itu memengaruhi hubungan suami istri, Pak Paul ?
PG : Memang ini topik yang cukup hangat Pak Gunawan, jadi ada bermacam-macam pandangan orang tentang dampak usia pada pernikahan, ada yang sangat mementingkan masalah perbedaan usia, malah ada yang sampai takhayul menentukan jarak usia berapa yang ideal, berapa yang sangat tidak ideal dan sebagainya. Sudah tentu kita mau membahas hal ini terutama untuk mereka yang belum menikah, kalau sudah menikah mungkin sudah lewat waktunya dan harus menerima. Tapi bagi mereka yang masih belum menikah dan masih menimbang-nimbang, kita berharap bahwa yang kita bicarakan ini bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan mereka dalam memilih pasangan hidup.
GS : Faktor-faktor apa yang memengaruhi di dalam dampak usia ini untuk pernikahan ?
PG : Banyak orang yang berkata bahwa seyogianyalah seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Coba kita lihat konsep ini secara lebih teliti. Saya kira salah satu alasan mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau lebih dewasa daripada pria. Coba kita teliti konsep ini. Saya kira sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya, namun satu hal yang hampir pasti adalah pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Yang saya maksud dengan tuntutan sudah tentu adalah hal-hal tertentu yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat membangun rumah tangga.
GS : Hal-hal apa itu, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah yang kita kenal dengan kata keterikatan. Saya kira lebih banyak pria yang memunyai masalah dengan keterikatan dibanding wanita. Karena banyak pria yang setelah menikah masih terus menginginkan kehidupan lajang, masih senang bepergian dengan teman-temannya, masih terus ingin menjalin relasi dengan teman perempuannya. Sudah tentu dalam batas-batas yang wajar semua ini dapat dilakukan, tapi tidak dapat disangkal cukup banyak pria yang menginginkan kebebasan tanpa batas. Sebaliknya wanita memang jauh lebih siap untuk meninggalkan peran dan gaya hidup lajang demi suaminya. Singkat kata, jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, dia mungkin takut bahwa suaminya ini masih tetap ingin hidup lajang, susah terikat, masih mau menjalin relasi dengan banyak orang di luar rumah. Tapi jika ia menikah dengan pria yang lebih tua dari dirinya, dia berharap si suami akan lebih siap untuk terikat.
GS : Apakah karena dulu terpengaruh ketika masih di rumahnya sendiri, bersama orang tuanya sendiri, Pak Paul ?
PG : Saya kira pengaruh-pengaruh itu sudah pasti ada, bahwa apa pun yang telah kita terima dari lingkungan, dari keluarga kita akan memengaruhi kita, tapi secara alamiah pria itu lebih susah untuk terikat. Kecenderungannya pria adalah untuk bebas. Untuk dia mengikatkan diri pada istri, pada rumah tangganya lebih perlu perjuangan.
GS : Sebaliknya juga dengan kemajuan pendidikan sekarang ini, wanita pun memunyai kebebasan yang lebih besar daripada beberapa puluh tahun yang lalu.
PG : Betul, lebih banyak kesempatan yang terbuka bagi wanita, tapi tetap saya kira secara alamiah wanita itu lebih siap untuk melepaskan lingkup sosialnya, membatasinya dan memberikan lebih banyak waktunya untuk anak dan suaminya.
GS : Ada pasangan yang saling berjanji untuk tidak saling mengikat, jadi bila pihak yang pria mau berteman maka dipersilakan, saya juga tolong beri kebebasan pada saya untuk tetap berteman dengan teman-teman saya terdahulu.
PG : Tadi sudah saya singgung, sudah tentu berteman tidak salah Pak Gunawan, namun setelah kita menikah berapa dalam kita berteman dan berapa banyak waktu kita berikan kepada teman sudah tentu itu semuanya harus dikaji ulang dan harus diturunkan kadarnya, karena tidak bisa tidak kekhususan itu harus diberikan kepada pasangan kita. Dalam hal mengkhususkan pasangan inilah saya kira pria lebih banyak memunyai masalah, itu sebabnya ada orang berkata maka janganlah menikah dengan pria yang lebih muda atau yang seusia karena nanti masalah ini akan lebih banyak.
GS : Dengan wanita berkarier di luar rumah, sebenarnya ada kebebasan yang lebih besar daripada kalau wanita itu setelah menikah tinggal di rumah.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi kalau wanita itu sebelum menikah berkarier di luar rumah sudah tentu dia lebih mudah untuk memertahankan gaya hidupnya itu, namun dalam hal ini perempuan cenderung lebih mampu untuk mementingkan keluarganya. Saya kira inilah faktor yang berikut yang acapkali diasosiasikan dengan kedewasaan atau kematangan. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya, dia ingin memajukan usahanya, dia ingin menanjak dalam kariernya. Sudah tentu hal ini berdampak positif pada keluarganya juga. Karier yang menanjak pada umumnya diikuti dengan peningkatan penghasilan yang pada akhirnya akan menambah kesejahteraan keluarga. Tapi selain dari itu pengembangan karier pria sebenarnya sangat terkait dengan pemantapan identitas dan penilaian dirinya. Jadi bagi pria makin berkibar kariernya, makin kokoh jati dirinya, itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Karena dia tersedot di luar rumah, kecenderungannya dalam pengambilan keputusan dia lebih menitikberatkan pada karier atau pada yang di luarnya dan kurang mementingkan keluarganya. Ini adalah perbedaan besar antara pria dan wanita. Wanita akan jauh lebih siap memertimbangkan dan mengutamakan kepentingan keluarganya. Inilah yang seringkali diidentikkan dengan kematangan, Pak Gunawan. Jadi akhirnya orang berkata, wanita itu lebih matang daripada pria. Saya kira lebih matang dengan pengertian dua hal itu. Harus kita akui wanita lebih siap memenuhi tuntutan berumah tangga.
GS : Tapi dalam hal seperti itu, katakan si pria lebih tua atau lebih muda dari si wanitanya, tetap ia dalam usia-usia dini ini ia akan tetap banyak ke luar rumah karena mengejar karier itu, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi sebetulnya dalam hal ini kalau ia menikah dengan orang yang hanya berbeda usia beberapa tahun akan kebanyakan sama sebab pria baru menoleh ke dalam, lebih memerhatikan ke dalam secara alamiah di usia paro baya dan mungkin lewat dari paro baya barulah ia mementingkan hal-hal yang di dalam rumahnya. Di awal-awal itu mungkin 25 tahun pertama dia akan lebih fokus pada yang di luar rumah. Harus kita akui dalam berumah tangga tuntutan-tuntutan itu lebih dapat dipenuhi wanita daripada pria.
GS : Berarti kalau ada wanita yang lebih tua menikah dengan pasangannya yang lebih muda berarti dia harus siap untuk sering-sering ditinggalkan oleh pasangannya, Pak Paul ?
PG : Seringkali itu yang terjadi, Pak Gunawan. Jadi dengan kata lain pria itu lebih didorong untuk memajukan kariernya, ini hal yang sering kita lihat di sekeliling kita, orang-orang yang menikah kemudian istri-istri mengeluh suaminya jarang di rumah dan kurang memberi perhatian kepada dirinya, yang akhirnya nantinya menimbulkan keretakan dalam keluarga.
GS : Apakah mungkin ada alasan yang lain mengapa lebih baik prianya lebih tua dari pada istrinya.
PG : Memang saya mau mengangkat hal ini sudah tentu bukan dengan suatu perintah bahwa sebaiknyalah pria itu lebih tua daripada wanita, tapi saya mau mengangkat hal ini sebab inilah konsep yang berlaku di masyarakat. Dan kita mau mengajak pendengar kita untuk menelitinya. Ada orang yang berkata, pria seharusnya menikah dengan yang lebih muda, kenapa? Secara fisik wanita lebih cepat memerlihatkan penuaan. Pada kenyataannya kita semua baik pria dan wanita mengalami proses penuaan. Kulit akan menampakkan bercak dan mulai mengkerut, otot mulai mengendur mengakibatkan munculnya kantong-kantong kulit, baik di wajah, leher atau bagian tubuh lainnya. Rambut mulai menipis dan memutih dan gigi pun mulai tanggal. Saya kira semua orang mengalami proses penuaan ini, namun ada dua alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria. Yang pertama adalah karena kecantikan fisik lebih merupakan jati diri wanita ketimbang pria. Itu sebabnya perubahan penampilan pada wanita akibat penuaan akan lebih mudah ditangkap mata. Kita melihat wanita itu cantik dan berpenampilan menarik, dan karena yang disoroti adalah kecantikan secara fisik waktu mengalami penuaan maka perubahan itu pun jadi lebih nyata, karena itulah yang umumnya menjadi sorotan. Tapi sebaliknya kematangan berpikir dan kemapanan ekonomi lebih merupakan identitas pria, sehingga sampai batas tertentu justru proses penuaan bagi pria lebih merupakan nilai tambah karena dengan bertambahnya usia maka dia bertambah matang, dianggap lebih menarik.
GS : Dalam hal merawat tubuh, bukankah wanita lebih teliti sehingga walaupun usianya lebih tua ia bisa tampak lebih muda dari usia aslinya, sedangkan pria kurang memerhatikan perawatan tubuhnya sehingga walaupun usianya masih muda seringkali cenderung kelihatan tua, Pak Paul.
PG : Ini point yang bagus. Jadi tidak serta merta karena wanita selalu dianggap lebih cepat tua. Ada banyak wanita yang dapat menjaga tubuh dengan baik sehingga dia tetap bisa memertahankan kemudaannya dan kecantikannya. Sebaliknya ada pria yang tidak menggubris kesehatannya, tidak menjaga tubuhnya dengan baik sehingga akhirnya lebih cepat mengalami proses penuaan pula. Namun karena bagi pria penuaan atau usia tua itu dikaitkan dengan kematangan dan kematangan menjadi nilai tambah pria, tetap orang pada umumnya tidak begitu memerhatikan. Tapi begitu melihat kerat-kerut pada wajah wanita, melihat kantung-kantung kulit di bawah mata pada diri wanita, orang cepat mengaitkannya "Dia sudah tua". Sebetulnya kantong kulit pada mata, itu ada pada pria dan wanita, bercak-bercak pada kulit juda ada pada wanita dan pria, namun sekali lagi karena kita tidak terlalu memerhatikannya pada pria tapi lebih memerhatikannya pada wanita. Jadi saya kira itulah yang membuat seolah-olah wanita lebih cepat menua.
GS : Apa yang Pak Paul maksudkan bahwa penuaan bagi pria itu merupakan nilai tambah ?
PG : Karena orang cenderung melihat dengan bertambahnya usia bertambah matangnya dia, bertambah berhikmatnya dia, bertambah pengalamannya dia dan itulah yang menjadi daya tarik pria, dia dianggap matang, bisa mengayomi orang dan wanita merasa aman di dekatnya.
GS : Secara fisik, hal lain apa lagi yang perlu diperhatikan, Pak Paul ?
PG : Memang tadi sudah saya singgung mengapa orang berpandangan wanita lebih cepat menunjukkan ciri penuaan. Saya kira faktor kedua mengapa kita melihatnya seperti itu adalah karena wanita harus mengandung dan melahirkan anak. Perubahan drastik secara fisik terjadi pada wanita tatkala mengandung, melahirkan dan mengurus anak. Pada umumnya terjadi penambahan berat badan yang relatif harus dipertahankan sampai sekurangnya setahun setelah melahirkan, oleh karena kebutuhan gizi anak yang disusuinya dan kita juga harus mengerti betapa sulitnya menguruskan badan pada saat aktifitas mulai menurun, tidak seperti diwaktu kita remaja. Jadi sebagai akibatnya banyak wanita yang harus bergumul dengan masalah berat badan dan sudah tentu semua ini berdampak pada penampilannya pula yang nantinya diasosiasikan dengan penuaan. Memang terjadi banyak perubahan pada tubuhnya itu.
GS : Apakah karena alasan itu banyak wanita menunda melahirkan anak atau bahkan sama sekali tidak mau melahirkan anak, Pak Paul ?
PG : Memang ada wanita yang sudah berkata dari awal, "Saya tidak mau melahirkan anak". Jadi kalau mau punya anak, kita akan mengadopsi anak saja, misalkan seperti itu. Karena ada sebagian dari mereka yang begitu mementingkan keindahan tubuhnya dan ini kita lihat pada beberapa bintang film di luar negeri. Di Amerika Serikat misalnya, yang sudah berumur 30-an lebih pun memilih untuk tidak memunyai anak. Karena mereka mementingkan tubuhnya itu. Mereka tahu ketika nanti mereka melahirkan anak, mengurus anak, tubuhnya akan mengalami perubahan drastik dan mengembalikannya seperti semula hampir mustahil.
GS : Dan itu juga menjadi ancaman hubungan dia dengan suaminya, Pak Paul ?
PG : Dia takut kalau nanti tubuhnya tidak lagi menarik, nanti suaminya pun tidak akan tertarik kepadanya dan nantinya akan timbul masalah. Jadi sekali lagi ini menjadi hal yang ditakuti oleh sebagian wanita.
GS : Apakah ada hal lain yang berkaitan dengan fisik ini, Pak Paul ?
PG : Yang lainnya, kita harus mengakui bahwa wanita itu lebih mudah untuk terlihat ciri-ciri tuanya karena adanya mati haid. Wanita mengalami mati haid, artinya apa? Hormon progesteronnya dan estrogennya mengalami penyusutan. Mengalami penurunan dan akhirnya lenyapnya hormon ini pada tubuh wanita seringkali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula. Singkat kata, satu hal yang mesti diakui adalah agar wanita tetap dapat memertahankan kondisi fisiknya diperlukan perjuangan yang jauh lebih berat dibanding pria.
GS : Tapi sekarang sudah ada kemampuan dari ilmu kedokteran untuk menambahkan hormon supaya menopause itu mundur, begitu Pak Paul.
PG : Memang ini kadang-kadang menjadi perdebatan medis, Pak Gunawan. Sudah tentu ada yang mengatakan "Tidak apa-apa asal terjaga atau terpantau, kita pertahankan hormon progesteron dan estrogennya", tapi juga ada yang mengatakan, "Jangan sebab ada resikonya" sebab kalau tetap ada, misalkan resiko terkena kanker, seperti kanker payudara akan bertambah. Memang selalu ada perdebatan-perdebatan, namun tetap ada wanita yang tetap ingin menambahkan hormon-hormon ini karena ia tidak mau melihat tubuhnya mengalami perubahan-perubahan yang terlalu drastik. Ia ingin tetap melihat tubuhnya relatif sama dan kalau pun harus mengalami penurunan itu terjadi lebih mulus dan bertahap.
GS : Menjadi masalah besar ketika si wanita sudah tidak memunyai gairah seksual lagi sementara yang pria sedang pada puncaknya, begitu Pak Paul.
PG : Ini salah satu penyebab mengapa orang-orang berkata, "Lebih baik kalau pria menikah, menikahlah dengan wanita yang lebih muda". Salah satunya memang karena itu, Pak Gunawan. Kalau seumur atau wanitanya lebih muda, nanti wanitanya waktu mengalami penurunan gairah seksual, bukankah ini menimbulkan masalah. Tapi kalau prianya lebih tua, berarti pada saat itu pun si pria lebih tua sehingga gairah seksualnya tidak lagi sebesar sewaktu dia lebih muda.
GS : Apakah ada alasan yang lain mengapa pria seyogianya lebih tua daripada wanita ?
PG : Yang berikut adalah wanita itu sendiri membutuhkan figur pengayom seperti seorang bapak kepada anak. Tidak usah disuruh pun memang wanita lebih mudah tertarik dengan pria yang mencerminkan figur pengayom itu dan biasanya ini adalah pria yang lebih tua darinya. Secara naluriah wanita tidak terlalu mudah tertarik dengan pria yang tidak dewasa, jadi sangatlah lazim bagi wanita untuk akhirnya terpikat dengan pria yang lebih tua. Jadi dalam hal ini perempuan tidak usah disuruh pun ada kecenderungan memilih laki-laki yang lebih tua darinya.
GS : Tapi ada laki-laki walaupun usianya lebih muda tetapi ia dapat mengayomi, bisa memberikan rasa aman kepada wanita yang lebih tua dari dia, Pak Paul.
PG : Betul sekali, maka pada akhirnya kita harus juga akui bahwa dampak usia tidaklah sebesar dampak psikologis atau dampak emosional itu sendiri, karena yang penting adalah dampak psikologis dan emosional itu, bukanlah usia itu sendiri. Tapi kita tidak bisa menyangkal bahwa usia sedikit banyak memberi pengaruh pada kematangan psikologis dan kemampuan untuk berbagi emosi. Kalau orang berkata sebaiknyalah menikah dengan pria yang lebih tua darimu, itu memang ada benarnya. Namun sekaligus juga saya ingin menekankan bahwa tetap yang penting adalah isinya, jangan hanya kulitnya saja asal lebih tua, tapi yang penting isinya.
GS : Ada pria-pria tertentu yang mengidolakan figur ibunya dalam pernikahan, sehingga ia selalu mencari pasangan yang jauh lebih tua daripada dia, Pak Paul.
PG : Ada yang begitu, Pak Gunawan, kalau memang kebutuhan-kebutuhan kita itu terlalu besar, seringkali itu sedikit banyak membuat kita sedikit kurang objektif dalam memilih pasangan. Sudah tentu tidak apa-apa memilih pasangan hidup yang seperti mamanya, dapat mengibukan dia, masalahnya adalah kalau ia orang yang tidak bertanggungjawab karena yang tidak bertanggungjawab memang senang sekali mendapatkan wanita yang lebih tua yang dapat mengayominya. Kalau tidak hati-hati wanita merasa, "Memang inilah yang dibutuhkannya, dia perlu seorang mama dan saya bisa menjadi mama yang dibutuhkannya, tidak menjadi masalah dengan dia". Masalahnya si wanita nantinya akan memelihara dan menyuburkan rasa kurang bertanggungjawab pada si suaminya ini karena semua diurus, ditanggung oleh si istri, sehingga si suami makin hari makin tidak bertanggungjawab.
GS : Menurut pengamatan Pak Paul sendiri, idealnya berapa tahun perbedaan antara pria dan wanita ini, Pak Paul ?
PG : Pada dasarnya yang penting jangan terlalu jauh, Pak Gunawan. Saya tidak anti dengan wanita yang menikah dengan pria yang lebih muda darinya, asalkan jangan terlalu jauh. Bahkan jika memilih pria yang lebih tua pun jangan terlalu jauh, jadi misalkan ada orang menikah bedanya 15 tahun atau 20 tahun, si prianya lebih tua. Tetap itu akan menjadi masalah, karena terjadilah perbedaan-perbedaan cara berpikir, menyikapi hidup dan lain sebagainya yang nantinya menuntut penyesuaian. Sebaiknya kita menikah dengan yang umurnya tidak terlalu jauh berbeda dengan kita, misalkan berbeda antara beberapa tahun sampai maksimal 10 tahun kalau wanitanya lebih muda. Kalau wanitanya harus lebih tua, harapan saya juga tidak terlalu jauh berbeda, jangan sampai misalnya lebih dari 5 tahun, karena nanti perbedaan itu akan menimbulkan masalah.
GS : Apa ada kesimpulan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Hal ini Pak Gunawan, bahwa semua hal ini yang tadi telah kita bicarakan, perlu menjadi bahan pertimbangan bagi kita dalam memilih pasangan hidup. Sudah tentu yang tadi kita bicarakan tidak mesti terjadi dalam setiap kasus, namun setidaknya semua hal yang telah kita bicarakan ini lebih sering terjadi. Satu hal yang patut dicamkan, janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh akan menciptakan dua dunia yang berbeda dan menyatukannya akan jauh lebih susah.
GS : Tapi perbedaan ini bukan hanya menyangkut usia, Pak Paul, juga bisa menyangkut misalnya pendidikannya, kalau beda terlalu jauh juga akan sulit bagi mereka untuk menyatu dengan baik, Pak Paul ?
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi salah satu prinsip yang bisa kita gunakan dalam memilih pasangan hidup adalah carilah yang lebih banyak kesamaannya dengan kita. Justru ada orang yang mengatakan, "Tidak apa-apa carilah orang yang paling berbeda dari kita sehingga bisa saling melengkapi", tapi pada kenyataannya yang menyatukan kita adalah kesamaan bukan perbedaan, jadi makin sama makin lebih mudah nanti menyatukannya.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 4:18 firman Tuhan berkata, "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". Hidup benar atau jalan orang yang hidupnya benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat jadi ada dua. Saya kira memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Dalam memilih pasangan hidup kita mesti takut akan Tuhan, sehingga tidak mau memilih yang tidak berkenan kepada Tuhan dan yang kedua kita mesti hidup berhikmat. Inilah jalan hidup orang yang benar. Apa itu hidup berhikmat dalam hal ini? Memilih pasangan lewat pertimbangan yang matang, jangan sembrono dan jangan langsung mengiyakan. Benar-benar lihat kecocokan dan ketidakcocokan, barulah nanti kita berkata "Ya".
GS : Dan untuk mendapat pertimbangan, kita bisa mendapatkan dari orang-orang di sekeliling kita yang memunyai kemampuan untuk memberikan masukan itu, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dampak Usia". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Berikut akan dibahas dampak perbedaan usia pada pernikahan agar dalam memilih pasangan faktor ini pun dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau dewasa daripada pria. Sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya. Namun satu hal yang hampir pasti adalah bahwa pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Setidaknya ada dua tuntutan berumah tangga yang lebih sering menjadi problem bagi pria dibanding wanita:
Keterikatan. Jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, ada kemungkinan bahwa suaminya masih tetap ingin menjalin relasi dengan orang di luar rumah sedangkan bila ia menikah dengan pria yang lebih tua daripadanya, besar kemungkinan si suami akan lebih siap untuk terikat. Kendati semua kemungkinan ini benar namun pada faktanya tidak selalu seperti itu. Pernikahan menuntut keterikatan dan pembatasan sebab di dalam keterikatan barulah akan bertunas benih keintiman dan kepercayaan.
Mementingkan keluarga. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya. Itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Tidak bisa tidak, dalam pengambilan keputusan pun, pria cenderung lebih memerhatikan kepentingan kariernya dan kurang mementingkan keluarganya. Sebaliknya, wanita akan jauh lebih siap untuk memertimbangkan kepentingan keluarganya. Hal inilah yang kerap kali diasosiasikan dengan kematangan dan memang dalam hal ini, wanita jauh lebih matang daripada pria.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah secara fisik wanita lebih cepat memperlihatkan ciri penuaan. Pada kenyataannya kita semua-pria dan wanita-mengalami proses penuaan. Ada alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria:
Kecantikan fisik lebih merupakan identitas wanita ketimbang pria.
Wanita harus mengandung dan melahirkan anak.
Wanita mengalami mati haid. Tatkala wanita mengalami mati haid, hormon progesteron dan estrogen juga mengalami penyusutan sehingga sering kali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah wanita itu sendiri memang membutuhkan figur pengayom bak seorang bapak kepada anak. Secara naluriah wanita cenderung tertarik dengan pria yang matang dan kurang tertarik dengan pria yang dianggapnya tidak dewasa
Firman Tuhan: "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". (Amsal 4:18) Hidup benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat. Memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Namun satu hal yang perlu dicamkan adalah sebaiknya janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh memisahkan dua dunia yang berbeda pula.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:26am.
Abstrak:
Pemilihan pasangan hidup adalah sebuah proses yang rumit dan kadang sulit dicerna. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak memilih pasangan secara acak atau kebetulan. Kita memilih orang yang memunyai kriteria yang kita idamkan. Dua kriteria yaitu NYAMAN dan AMAN yang kerap menjadi penentu orang yang akan mendampingi kita. Namun dari dua kriteria itu seringkali terjadi masalah yang dapat membutakan mata kita dalam pemilihan pasangan hidup ini.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Kita Memilih Dia?" Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, memilih bukan suatu pekerjaan yang gampang, apalagi memilih pasangan hidup yang untuk selamanya. Tetapi apa sebenarnya yang melandasi seseorang untuk memilih orang lain sebagai pasangan hidupnya.
PG : Pada dasarnya, kita tidak memilih pribadi. Sebetulnya kita memilih orang yang memiliki kriteria yang kita idamkan. Dengan kata lain, sebelum kita bertemu dengan seseorang, sesungguhnya kita telah memunyai kriteria seperti apakah pasangan hidup yang kita dambakan. Waktu kita bertemu dengan orang tersebut, kita menjumpai kriteria itu pada dirinya, itulah yang membuat kita tertarik kepada dia.
GS : Walaupun kita sudah tentukan kriteria itu, karena kita tidak menemukannya, lalu kita mengubah kriteria itu. Itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira pada akhirnya kita juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan, adakalanya kriteria yang kita inginkan tidak dapat kita temukan, kita mesti memilah-milah manakah yang pokok yang tidak bisa dikompromikan dan manakah yang masih bisa dikompromikan. Misalkan, kita tidak mengkompromikan menikah dengan yang seiman, yang di dalam Kristus karena itulah perintah Tuhan, ini tidak bisa ditawar-tawar. Ini adalah bagian dari kehendak Tuhan. Kita menikah juga dengan yang cocok, yang bisa menjadi penolong buat kita saling terlibat dalam upaya untuk menumbuhkan diri. Ini juga kriteria yang penting. Jangan sampai kita menikah dengan orang yang kita tahu sangat tidak cocok dengan kita. Setelah dua hal ini kita penuhi mungkin yang lain-lainnya bisa kita kompromikan.
GS : Berarti menentukan kriteria itu cukup menentukan, Pak Paul? Siapakah pasangan hidup kita. Tapi bagaimana bila kita kesulitan dalam menentukan kriteria itu ?
PG : Walaupun kita tidak menyadari, sesungguhnya dalam diri kita sudah ada kriteria itu. Memang ada orang yang secara sadar menetapkan kriteria itu, misalnya saya hanya mau menikah dengan orang yang berpendidikan sarjana. Di luar itu sebetulnya ada sekurang-kurangnya dua kriteria dasar yang kita bawa ke mana pun dan ini ada pada diri kita semua. Orang yang dapat memenuhi dua kriteria itulah yang akhirnya menjadi orang kepadanyalah kita tertarik.
GS : Apakah kedua kriteria itu, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah sebetulnya kita mencari orang yang membuat kita merasa nyaman. Apa itu yang saya maksud dengan rasa nyaman? Nyaman di sini ialah terpenuhinya semua kebutuhan dan pengharapan yang penting, yang ada dalam diri kita. Dengan kata lain, kita akan memilih orang yang dapat memenuhi kebutuhan dan pengharapan kita, misalnya ada di antara kita yang membutuhkan kasih sayang. Nah waktu kita bertemu dengan seseorang dan orang ini begitu penuh kasih sayang, dengan sendirinya kita tertarik kepadanya. Atau kita mengharapkan seorang pribadi yang matang atau bijak, waktu kita bertemu dengan pribadi yang seperti itu dengan sendirinya kita pun tertarik. Mengapa kita tertarik kepada mereka? Sebab di dalam diri kita adanya keinginan atau kebutuhan untuk merasa nyaman dan orang-orang ini memang sanggup membuat kita nyaman, karena kebutuhan yang kita miliki dapat dipenuhinya.
GS : Tapi itu cukup sulit untuk kita ketahui secara cepat, butuh waktu yang cukup lama. Dan bagaimana caranya kita tahu bahwa pasangan kita ini dapat memberikan rasa nyaman pada kita ?
PG : Memang hal ini harus melalui proses waktu dan kebersamaan. Waktu kita bersama dia, apakah kita mendapatkan yang kita butuhkan itu? Waktu pada saat tertentu akhirnya kita menyadari yang kita butuhkan tidak dapat diberikannya. Itulah saat di mana kita mulai menimbang ulang, apakah kita mau terus dengan pasangan kita ini. Memang sebaiknya dan seharusnya ini dilakukan selama kita berpacaran. Kita harus melalui proses waktu dan jangan terlalu pendek agar kita benar-benar dapat melihat kecocokan kita dan apakah pasangan kita itu dapat memenuhi kebutuhan kita. Jadi tanpa disadari sebenarnya motor yang membawa kita pada orang tertentu adalah motor rasa nyaman. Kalau ada orang yang sanggup membawa kepada kita rasa nyaman, memenuhi kebutuhan kita, maka kita cenderung tertarik pada orang itu.
GS : Kriteria yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah rasa aman. Kalau yang pertama rasa nyaman, yang kedua rasa aman. Di sini artinya adalah kepastian bahwa dia menerima diri kita apa adanya. Kita cenderung memilih orang yang tidak mengancam keberadaan diri kita. Kita memilih orang yang makin meneguhkan keberadaan diri kita. Misalnya, kita bisa melihat kalau bertemu dengan orang yang cenderung mencederai diri kita, melukai kita maka kita akan bereaksi menjauhi dia. Itu sebabnya kita akhirnya tidak mau dekat-dekat dengan orang yang menghina kita, melecehkan atau merendahkan kita. Sebaliknya kalau kita bertemu dengan orang yang mengagumi apa yang ada pada diri kita, maka kita merasa diri kita aman. Mengapa kita merasa aman dengan orang yang mengagumi kita? Sebab kekaguman pada dasarnya meneguhkan keberadaan diri kita. Singkat kata, kita mencari orang yang akan dapat meneguhkan keberadaan diri kita. Makin kita dikokohkan atau diteguhkan, makin kita merasa aman. Sebaliknya makin orang itu menghina, tidak menerima kita, menolak, mengkritisi kita maka kita merasa tidak aman dan kita akan menjauh dari orang seperti itu. Sebagai kesimpulan, Pak Gunawan, dua kriteria umum yang kita gunakan dalam memilih pasangan hidup sebetulnya dua hal yang sangat sederhana, rasa nyaman dan rasa aman. Kalau kita bertemu dengan orang yang membuat kita rasa nyaman dan rasa aman, dengan mudah kita tertarik kepadanya.
GS : Di dalam hal rasa aman tadi itu Pak Paul, apakah juga termasuk rasa aman secara finansial? Artinya kita bisa melihat bahwa memang dia dapat mengelola harta atau uang yang kita dapatkan.
PG : Tepat sekali jadi memang meneguhkan keberadaan diri kita itu menyangkut banyak aspek, Pak Gunawan. Salah satunya aspek finansial, karena kalau kita membayangkan masa depan kita akan suram, kita mungkin akan melarat dan kelaparan, berarti itu akan mengancam keberadaan diri kita. Jadi ada kecenderungan kita mau bersama orang yang kita bayangkan akan dapat memberi sumbangsih meneguhkan keberadaan diri kita bahkan juga secara ekonomi.
GS : Tapi ternyata Pak Paul, dasar pemilihan ini tidak hanya sekadar punya rasa nyaman dan aman, rupanya kompleks sekali. Apakah hal itu memang demikian?
PG : Memang betul, Pak Gunawan. Justru kita mesti berhati-hati. Saya memunculkan kedua faktor tersebut dengan tujuan agar kita menyadarinya sekaligus memahami bahaya yang bisa muncul dari kedua faktor ini. Karena ada kalanya kita tertangkap, tertelan oleh dua kebutuhan ini, sehingga kita bisa memilih pasangan yang keliru. Untuk itulah kita ingin memberi sedikit waktu membahas bahaya-bahaya yang terkait dengan kedua faktor tersebut.
GS : Bahaya apa saja itu, Pak Paul ?
PG : Sekurangnya ada empat yang bisa saya bagikan.
Yang pertama, oleh karena pasangan terlalu mengidolakan kita pada akhirnya kita terbuai dan gagal melihat area di mana kita harus bertumbuh. Tadi sudah saya singgung, kita tertarik pada orang yang memberi rasa aman pada diri kita. Bagaimanakah orang memberi rasa aman pada diri kita, salah satunya memberikan afirmasi akan diri kita, meneguhkan siapa kita, kebisaan kita, kebaikan kita, kelebihan-kelebihan kita dan mengagumi kita. Itu memang aspek-aspek yang meneguhkan kita, tapi ada orang yang mengidolakan kita. Dia sangat-sangat mengidolakan kita, sudah tentu meneguhkan kita oleh pengidolaannya. Tapi masalahnya kalau kita akhirnya masuk ke dalam relasi berpacaran apalagi nanti menikah dengan dia tanpa menyadari dan mengoreksi hal ini, saya kira kita akan terlibat dalam relasi yang tidak sehat dan ini yang penting yaitu kita tidak bertumbuh. Saya jelaskan, relasi yang sehat mesti didasari atas penerimaan dan penghargaan, saya kira semua tahu hal itu. Namun tetap memberi ruang untuk pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya terjadi tatkala kita berani terbuka untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap pasangan. Sebaliknya pengidolaan mematikan pertumbuhan, kenapa? Sebab kalau kita terlalu mengidolakan seseorang, kita tidak berani mengemukakan apa yang menjadi ketidakpuasan kita, apa yang menjadi kekurangan dirinya, apa yang dalam dirinya kita rasakan perlu bertumbuh namun kita tidak berani mengemukakan hal-hal itu, karena apa? Terlalu terpukau dan mengidolakan dia, akhirnya relasi itu mati tidak lagi bertumbuh dan kalau kita yang menjadi obyek pengidolaan itu akhirnya kita menganggap diri kita sempurna. Tidak ada lagi yang perlu dikoreksi akhirnya karena kita merasa begitu diteguhkan oleh orang ini, kita mengiyakan mau menikah dengan dia, karena kita merasa sangat-sangat enak, sangat aman, tidak ada lagi yang mengancam, tidak pernah dikritik, tidak pernah dicela, semua tentang diri kita adalah baik, dia selalu meneguhkan kita, masalahnya adalah yang pertama tidak baik buat kita. Karena kita akhirnya menganggap kita sempurna. Nanti setelah kita menikah kemudian dia mulai melontarkan kata-kata yang tidak kita senangi maka kita marah. Atau orang lain di luar pernikahan kita yang ingin menolong kita, memberikan masukan, kritikan kepada kita, bukan hanya kita merasa tersinggung tapi pasangan kita yang mengidolakan kita juga tersinggung, sehingga kita berdua menjadi pasukan yang saling melengkapi saling membela, tapi buta terhadap satu sama lain. Memang ada masalah, memang ada hal yang perlu diubah dalam diri kita dan salah satu bahayanya yang sering kali terjadi dan ada satu lagi yang sangat penting kalau kita masuk dalam relasi dimana kita yang diidolakan, kita berdua akhirnya tidak bertumbuh. Tidak bertumbuh karena yang satu terus menutup-nutupi ketidakpuasannya terhadap kita.
GS : Jadi di situ dibutuhkan kejujuran penilaian dari pasangan kita terhadap kita, tapi sering kali juga ada orang yang minta diidolakan secara berlebihan dan itu mematikan komunikasi, Pak Paul ?
PG : Ada orang yang seperti itu, Pak Gunawan. Dia terbiasa diidolakan, disanjung-sanjung sejak kecil, dia dianggap anak yang paling pandai, paling baik, paling cantik, paling tampan dan sebagainya, sehingga dia juga menuntut orang untuk mengidolakan dia. Jadi dia menganggap bahwa dirinya seperti itu dan selayaknyalah orang memberikan peneguhan-peneguhan seperti itu kepada dirinya. Masalahnya, yang seringkali terjadi ialah ketidakcocokan, namun karena kita sudah terlalu tersanjung, diidolakan padahal terbentang jurang di antara kita dalam hal lainnya. Ini yang sering terjadi, dalam banyak kasus orang yang terlalu mengidolakan dalam pernikahan, yang satu merasa beruntung mendapat pasangan yang begitu menyanjung-nyanjung saya, tapi di balik itu ada segudang perbedaan, ketidakcocokan yang tidak pernah diangkat. Setelah menikah bertahun-tahun barulah muncul, yang satu yang biasa diidolakan cepat marah, "Mengapa sekarang kamu menyerang saya, saya tidak bisa terima waktu ditegur", yang satu mengatakan, "Saya sudah lama simpan-simpan ketidakpuasan ini. Kita tidak cocok di sini, kita tidak cocok di sana". Nah akhirnya berantakan. Jadi meskipun rasa aman itu adalah motor yang mendorong kita dekat dengan seseorang, mesti kita waspadai jangan sampai kita buta.
GS : Yang dikuatirkan pengidolaan itu hanya semu, Pak Paul. Hanya untuk mencapai tujuannya dia, karena tahu bahwa pasangannya ini senang diidolakan. Setelah menikah, setelah ia mendapatkan pasangannya, kondisinya sangat berbalik, Pak Paul.
PG : Hal itu pun terjadi. Ada kalanya karena ingin mendapatkan seseorang, dia akan melakukan segala upaya supaya yang diidamkan bisa didapatkannya termasuk salah satunya adalah yang bermulut gombal, mengidolakan pasangannya sehingga akhirnya termakanlah dia oleh pengidolaannya dan bersedia menikah, tapi setelah menikah barulah kelihatan taring-taringnya. Dia akan kuasai pasangannya, dia akan injak-injak haknya dan akhirnya pernikahan itu berantakan.
GS : Apakah ada bahaya yang lain, Pak Paul ?
PG : Bahaya yang berikut adakalanya kebutuhan yang kita miliki sangat besar sehingga pasangan mengalami kesukaran untuk memenuhinya. Tadi sudah saya sebut bahwa kita didorong oleh rasa nyaman, kalau kita bertemu dengan orang yang dapat memenuhi kebutuhan kita, kita merasa nyaman. Nah kita tertarik pada orang yang membuat kita merasa nyaman, tapi adakalanya kebutuhan kita sangat besar, akhirnya kita menjadi sangat sukar didekati oleh siapa pun. Misalnya kita lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, besar kemungkinan kita pun membawa kebutuhan dan pengharapan yang terlalu tinggi. Sudah tentu kondisi ini akan menyulitkan orang untuk mau dan dapat bersama kita. Kita merasa tidak cocok dengan si A, tidak cocok dengan si B, rasa tidak pas dengan si C. Mengapa tidak jadi-jadi setelah berpacaran berkali-kali, sebenarnya masalahnya karena kita tidak pernah merasa nyaman. Mengapa tidak pernah merasa nyaman, karena kebutuhan-kebutuhan kita tidak terpenuhi dan mungkin sekali kita tidak menyadari malah menyalahkan pacar-pacar kita itu yang tidak bisa memenuhinya, padahal masalah terletak pada diri kita. Kebutuhan kita yang terlalu besar, kita menuntut pasangan untuk dia bisa selalu memenuhinya atau pengharapan dia akan orang yang terlalu tinggi dan tidak realistis, sehingga dia pun tidak sanggup menjadi orang yang kita idamkan. Kalau terus-menerus kita putus dengan pacar, mungkin perlu kita evaluasi ulang, mungkin masalahnya ada pada diri kita yaitu kebutuhan kita terlalu besar sehingga kita tidak pernah merasa nyaman dengan seorang pun.
GS : Itu berarti kita harus menurunkan tuntutan-tuntutan kita atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sebaiknya kalau itu yang terjadi, kita mesti membereskannya, Pak Gunawan. Saya mendorong kita-kita ini untuk menjalani konseling pribadi lewat bantuan seorang hamba Tuhan atau seorang konselor sehingga kita bisa menggali apa yang menjadi penyebab, mengapa kebutuhan kita untuk dihargai begitu tinggi? Kebutuhan kita untuk merasa penting begitu tinggi, kebutuhan kita untuk dilibatkan dalam kehidupan orang begitu besar, kebutuhan kita untuk bisa bersumbangsih, untuk bisa dikasihi begitu besar. Kalau kita sadari ternyata ada cerita di belakang ini, kenapa saya mengembangkan kebutuhan yang begitu besar atau saya mengidealkan orang harus begini, harus sabar, tidak boleh marah, orang harus selalu bisa menerima kita tanpa harus menghakimi kita, karena dulu kita kenyang dihakimi atau selalu ditolak, sehingga kita butuh orang selalu menerima kita. Kita harus membereskan itu terlebih dahulu sebelum kita memulai relasi dengan seseorang.
GS : Apakah ada bahaya yang lain, Pak Paul ?
PG : Bahaya yang lain adalah kadang kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan memang lemah, artinya kita susah untuk membuat orang merasa nyaman. Tadi sudah saya definisikan nyaman adalah terpenuhinya kebutuhan kita. Adakalanya kita memunyai masalah dalam hal ini sehingga kita tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasangan sekecil apa pun. Diminta sedikit rasanya berat buat kita, kita tidak siap memberi dan ada juga di antara kita yang tidak tahu bagaimana memberi. Tidak tahu memberikan kasih sayang, tidak tahu bagaimana bisa mementingkan perasaan orang, akhirnya apa yang terjadi? Kita susah memenuhi kebutuhan orang alias kita susah membuat orang nyaman, akhirnya orang susah dekat dengan kita dan kita akhirnya tidak pernah bisa bersama dengan orang. Karena bagaimana pun juga orang memunyai kebutuhan dan dia mau merasa nyaman dekat kita.
GS : Kalau kelemahan kita saat ini tidak bisa memenuhi kebutuhan itu tapi nanti setelah menikah kita yakin kita bisa, itu bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kalau kita memunyai keyakinan seperti itu, selayaknyalah sejak masih berpacaranlah kita mencoba untuk menerapkannya, untuk melakukannya. Jangan kita berkata "Nanti pasti bisalah." Sudah tentu pihak yang satunya, dia pun mesti melihat bukti. Bisakah kita memenuhi kebutuhannya? Jadi pentingnya waktu bersama dalam berpacaran agar kita juga bisa menimbang, apakah kita bisa atau tidak memenuhi kebutuhan pasangan kita. Hal ini baik untuk kita ketahui sebelum kita menikah. Kalau kita bertemu dengan orang yang bagi kita kebutuhannya terlalu besar dan kita tidak mampu memenuhinya, maka kita harus berterus terang dan kita berkata tidak sanggup kalau harus dituntut seperti ini oleh kamu. Mungkin tuntutan kamu tidak setinggi apa, tapi maaf saya tidak bisa, tinggal kita tanya apakah mau terus, apakah bisa ada penyesuaian atau tidak. Kalau memang tidak, sebaiknyalah pada masa berpacaran kita akhirnya berkata "Kita berhenti di sini." Kita mesti realistis dengan apa yang bisa atau tidak bisa kita lakukan.
GS : Repotnya ada orang yang terlalu optimis merasa bisa, tapi kenyataannya sulit sekali untuk dia bisa memenuhi kebutuhan pasangannya, Pak Paul.
PG : Betul, kuncinya di sini adalah bisa melihat diri dengan tepat dan realistis.
GS : Bahaya yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang keempat atau yang terakhir adalah oleh karena kita begitu terfokus pada pemenuhan kebutuhan tertentu, kita pun akhirnya luput melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak ketidakcocokan di antara kita. Kembali lagi kepada faktor nyaman, kita merasa nyaman karena ada satu kebutuhan kita yang dapat dipenuhi oleh pasangan kita. Misalnya kita mau diayomi, si pria dapat memberi kita pengayoman tersebut. Kita langsung dengan cepat mengatakan "Ya" kepadanya untuk menikah dengannya. Masalahnya kita luput melihat bahwa di luar kebutuhan ini banyak ketidakcocokan dalam diri kita, nilai-nilai moralnya tidak cocok, cara dia melihat dan memecahkan masalah juga tidak cocok, cara dia membesarkan anak juga tidak cocok. Begitu banyak perbedaan tapi semua itu luput diangkat pada masa berpacaran karena kita menganggap sudah pasti cocok, sudah pasti cocok karena satu-satunya kebutuhan penting kita dipenuhi olehnya. Jadi jangan sampai rasa nyaman karena satu kebutuhan dipenuhi, membutakan mata kita melihat perbedaan yang ada di antara kita.
GS : Kadang-kadang kita menghibur diri sendiri dan mengatakan bahwa sulit kedua faktor itu dipenuhi yaitu nyaman dan aman. Seringkali orang bisa merasa nyaman tapi tidak aman atau sebaliknya merasa aman tapi tidak nyaman, bagaimana Pak Paul ?
PG : Saya kira pada akhirnya kebanyakan kita tetap akan berusaha mendapatkan keduanya, kita mau ada rasa nyaman karena kebutuhan kita dipenuhi, kita mau rasa aman karena kita tahu dia akan meneguhkan dan menerima keberadaan kita. Saya kita itu lumrah dan tidak apa-apa tapi yang tadi sudah kita bicarakan bahaya-bahayanya, jadi kita mesti waspadai Pak Gunawan.
GS : Maksudnya kita tidak terfokus pada satu aspek saja, itu caranya bagaimana, Pak Paul ?
PG : Supaya kita tidak terjebak pada satu kebutuhan saja, kita mesti terbuka mendengarkan penilaian orang. Kadang-kadang teman baik kita atau orang tua kita akan berkata, "Rasanya ada ketidakcocokan, kamu orangnya begini dia orangnya begitu. Apakah kamu yakin dia bisa cocok dengan kamu?" Atau ada orang yang sudah lama mengenal kita dan berkata, "Dari dulu kamu susah untuk dekat dengan orang yang memunyai kriteria seperti ini, mengapa sekarang tiba-tiba kamu bisa sama dia? Kenapa, apa yang terjadi?" Dengarkan, terbukalah dan mintalah pendapat. Konsultasilah dengan orang, terbukalah, kita mau benar-benar melibatkan lebih banyak orang dalam pengambilan keputusan yang penting ini.
GS : Tapi pada masa pacaran biasanya kita tidak bisa seobjektif itu, Pak Paul. Balum lagi ada tekanan-tekanan yang lain entah itu dari faktor usia atau faktor-faktor lain yang mendesak.
PG : Nomor satu kita mesti berdoa, Pak Gunawan. Sebelum berpacaran atau selagi berpacaran kita mesti berdoa meminta Tuhan menuntun kita, memberikan tanda-tanda yang jelas supaya kita tahu apakah ini kehendak-Nya atau tidak. Dengan cara itulah kita bisa dibawa Tuhan kepada jalan atau kehendak-Nya.
GS : Pak Paul apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Di Amsal 3:7 berkata, "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan". Jadi kita mesti melibatkan Tuhan dalam proses pemilihan pasangan hidup, jangan menganggap diri kita bijak, kita tahu ini yang paling cocok, yang paling benar. Minta Tuhan menolong, memimpin kita, minta pendapat orang yang lebih matang dan lebih rohani daripada kita, supaya kita bisa mengetahui bahwa dia orang yang tepat untuk kita dan kita pun orang yang tepat untuk dia.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Kita Memilih Dia". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pemilihan pasangan hidup adalah sebuah proses yang rumit dan kadang sulit dicerna. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak memilih pasangan secara acak atau kebetulan. Kita memilih orang yang memunyai kriteria yang kita idamkan. Itulah sebabnya kita dapat menyukai sejumlah pribadi dan bukan hanya satu karena pada intinya selama orang memiliki kriteria yang kita dambakan, ia akan menjadi sasaran ketertarikan kita. Berikut akan dipaparkan dua kriteria yang kerap menjadi penentu siapakah yang akan mendampingi kita.
NYAMAN yaitu terpenuhinya kebutuhan dan pengharapan. Kita memilih orang yang dapat memenuhi kebutuhan dan pengharapan kita. Misalkan ada yang membutuhkan kasih sayang. Ia pun akan cepat tertarik dengan pribadi yang dianggapnya dapat memenuhi kebutuhannya itu.
AMAN yakni kepastian bahwa ia menerima diri kita apa adanya. Kita cenderung memilih seseorang yang tidak mengancam keberadaan diri kita; kita memilih orang yang makin meneguhkan keberadaan diri kita. Itu sebabnya kita menyukai orang yang mengagumi apa yang ada pada diri kita sebab kekaguman meneguhkan keberadaan diri kita.
Pemilihan pasangan menuntut kejelian untuk melihat relasi secara menyeluruh. Kendati kedua faktor ini penting namun kita pun harus memerhatikan kecocokan dalam hal lainnya. Berikut akan dipaparkan beberapa masalah yang terkait dengan rasa nyaman dan aman yang kadang membutakan mata kita dalam melihat pasangan dengan tepat.
Oleh karena pasangan terlalu mengidolakan kita, pada akhirnya kita terbuai dan gagal melihat area di mana kita mesti bertumbuh. Kita pun terlibat dalam relasi yang tidak sehat dan tidak bertumbuh. Relasi yang sehat mesti didasari atas penerimaan dan penghargaan namun tetap memberi ruang untuk pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya terjadi tatkala kita berani terbuka untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap pasangan. Sebaliknya, pengidolaan mematikan pertumbuhan.
Adakalanya kebutuhan yang kita miliki sangat besar sehingga pasangan mengalami kesukaran untuk memenuhinya. Bila kita lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, besar kemungkinan kita membawa kebutuhan dan pengharapan yang terlalu tinggi. Kondisi ini sudah tentu akan menyulitkan orang untuk mau bersama kita. Sudah tentu bila ini yang terjadi, kita tidak merasa terpenuhi dan di pihak pasangan, ia merasa letih bersama kita. Jika inilah masalahnya, seyogianyalah kita membereskan masalah kita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam pernikahan.
Kadang kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan memang lemah, sehingga tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasangan-sekecil apa pun. Ada pribadi yang tidak siap untuk memberi dan ada pribadi yang tidak tahu bagaimana memberi. Keduanya membuat seseorang sukar untuk memenuhi kebutuhan pasangannya. Tidak bisa tidak, kita akan mengalami kesukaran mendapatkan pasangan sebab bagaimana pun pasangan memunyai kebutuhan yang perlu dipenuhi.
Oleh karena kita begitu terfokus pada pemenuhan kebutuhan tertentu, kita pun luput melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak ketidakcocokan di antara kita. Kita menjadi terlalu senang karena apa yang kita cari sekarang telah kita temukan. Masalahnya adalah, di luar pemenuhan kebutuhan tersebut ada banyak ketidakcocokan di antara kita. Alhasil, kita pun terjerumus ke dalam pemilihan pasangan yang tidak tepat.
Firman Tuhan: "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan". (Amsal 3:7) Libatkanlah Tuhan dalam proses pemilihan pasangan hidup; Tuhan ingin memimpin kita kepada anak-Nya. Terbukalah terhadap penilaian orang lain dan senantiasa berdoa agar kita melihat jelas apakah ia orang yang tepat untuk kita dan kita adalah orang yang tepat untuknya.