You are hereHeman Elia, M.Psi
Heman Elia, M.Psi
Heman Elia, M.Psi
Anak Bertanggung Jawab Siapa yang Punya?
Tanto dalam usianya yang ke delapan seharusnya sudah dapat melakukan banyak tugas sehari-hari. Nyatanya ia masih memerlukan banyak bantuan dari orang-orang di sekelilingnya. Untuk tugas yang ringan pun ia enggan mengerjakannya sendiri. Tanto bahkan tidak mau bergerak untuk sikat gigi, mandi, memakai sepatu, sebelum disuruh. Bahkan cukup sering ia minta bantuan pembantu di rumahnya untuk melakukan apa yang harus ia lakukan sendiri.
Menelusuri apa yang menjadi latar belakang Tanto, mungkin kita akan maklum dengan perilaku Tanto saat ini. Sejak kecil Tanto jarang mengerjakan sendiri apa yang seharusnya dapat ia lakukan. Ia dengan mudah memperoleh apapun yang diinginkannya dengan berteriak atau menangis. Sang Ibu segera akan datang melayani dan melakukan apa saja untuk menenangkan Tando. Ketika sang Ibu tidak sempat menghampiri Tanto, Ibu akan berteriak meminta bantuan pembantu. Dengan begitu segala usaha Tanto untuk mandiri terpasung oleh pertolingan berlebihan dari orang dewasa di sekitarnya. Tanpa disengaja, Tanto kehilangan rasa percaya diri bahwa ia cukup mampu melakukan berbagai hal secara mandiri.
Ibadah Keluarga yang Menyenangkan
Mendengar kata ibadah, kebanyak orang menghubungkannya dengan ritual formal yang kaku, membosankan, dan tidak menarik. Karena itu, banyak keluarga yang sekalipun menyebut dirinya keluarga Kristen, jarang atau bahkan tidak pernah melakukan persekutuan dalam keluarganya sendiri. Padahal ibadah keluarga dapat menjadi saat-saat yang menyenangkan dan paling dinantikan oleh anak-anak kita.
Keluarga adalah sesuatu yang berharga bagi Allah.
Makna Ayah bagi Anaknya
Suatu hari Ami yang berusia lima tahun bertanya kepada ibunya, Leni, "Kenapa sih mama harus punya papa? Mama kan bisa kerja sendiri dan melahirkan anak?" Pertanyaan Ami yang tampaknya kekanak-kanakan namun bermaksa sangat mendalam ini menyentak Leni dan membuatnya tercenung agak lama. Leni sama sekali tidak menyangka Ami yang masih belia dapat mengajukan pertanyaan tajam semacam ini.
Kurang lebih sang ibu tahu apa yang ada dalam benak Ami. Ya, kenapa harus ada papa? Selama ini toh Ami dan mama dapat hidup berdikari tanpa ayah. Ayah bagi Ami tidak lebih dari sekadar seorang tamu yang kadang-kadang justru mengganggu keintiman relasi Ami dengan ibunya.
Membantu Anak Memahami Makna Kematian
Betapa paniknya Atik dan adiknya Edo menyaksikan marmut mereka mati. Setiap pagi ibu mereka menjemur sejenak marmut kesayangan ini bersama kandanya di taman berumput agar makin sehat. Hari itu, ketika keluar rumah, sang ibu rupanya lupa memasukkan marmut ini ke tempat yang lebih teduh. Akibatnya, marmut kepanasan dan akhirnya mati.
Atik dan Edo pun berdebat mengenai apa yang harus mereka lakukan atas marmut yang sudah tidak bergerak dengan tubuh kaku itu. Mereka membawa bangkai marmut ke sana ke mari dan akhirnya memaksa ibu membawa serta marmut ke dokter. Ketika ibu berusaha membuang bangkai marmut, Atik dan Edo menjerit dan menangis. Mereka tidak habis mengerti mengapa marmut yang lucu itu harus dibuang. Mereka sangat sedih ketika mereka harus berpisah dengan sang marmut. Kejengkelan mereka terbangkit karena ibu seolah tidak berbuat banyak untuk membuat sang marmut bergerak kembali.
Agar Anak Bermoral Baik
Kita barang kali sangat terkejut ketika untuk pertama kali mendapati anak kita yang masih belia berani melontarkan kata-kata kotor kepada guru atau orang tuanya sendiri. Mungkin pula anak yang tadinya manis dan baik tiba-tiba mencuri uang dalam jumlah besar, memeras teman sekelas, nyontek, belajar merokok, memfitnah teman, atau membaca buku porno. Apakah hal demikian normal?
Meskipun saat ini semakin banyak anak terlibat kasus yang menyangkut moral, kita tidak boleh beranggapan bahwa hal ini wajar.





