Selamat Datang |
Follow us on :

You are hereBlogs / Betty Tjipta Sari's blog / Bertemu Mantan Pacar, Bagaimanakah?

Bertemu Mantan Pacar, Bagaimanakah?


By Betty Tjipta Sari - Posted on 22 January 2009

Printer-friendly version

Hari ini saya mendapat pengalaman menarik tentang membuat batas.

Siang tadi seorang teman mengajak saya makan siang. Alasannya adalah karena orang yang mengajaknya makan siang adalah mantan pacarnya. Dia ingin mengajak suaminya, namun karena sebuah alasan suaminya tidak dapat menemaninya. Akhirnya dia mengajak saya.

Yang menarik buat saya adalah bahwa teman saya ini memang dengan jelas ingin menunjukkan bahwa 'pertemuan ini adalah pertemuan teman lama biasa'. Inilah yang disebut sebagai membuat batas (boundary) dalam hubungan.

Saya sangat setuju dengan dia. Karena setelah bercakap-cakap, saya juga melihat bahwa pria yang kami temui tampaknya menghindari percakapan yang berhubungan dengan pernikahannya atau keluarganya. Padahal bukankah membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga adalah hal yang paling biasa menjadi bahan basa-basi pembicaraan?! Jadi, ini membuat kami curiga. Kami kesulitan menemukan topik pembicaraan yang tepat. Berbicara soal karier sulit karena profesi kami jauh berbeda. Berbicara soal masa lalu, saya jadi pendengar yang tampak tulalit. Jadi kami kelihatan agak bingung membuat pembicaraan yang melibatkan tiga orang, dan bukan hanya dua orang. Untunglah kami akhirnya menemukan topik yang kami semua mengerti, yaitu gempa di Yogyakarta.

Bagi teman saya, ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan tapi membuatnya yakin terhadap sesuatu. Yaitu batas yang dia buat memang harus dibuat dengan tegas.

Kesimpulannya, setidak enak apa pun perasaan kita, membuat batas sangatlah penting!!!

Quote : @ Betty Tjipta Sari "Kesimpulannya, setidak enak apa pun perasaan kita, membuat batas sangatlah penting!!!" Batasan itu dibuat dengan sebuah ketegasan dalam diri kita dan menyadari mana yang lebih penting dari rasa membuat orang lain "senang". Tapi memang benar apa yang ditertulis dalam blog ini. Thanks untuk blognya... memberi saya pandangan yang lebih tepat.
sebenarnya kenapa pertemuan itu harus terjadi? kalau si teman itu tidak nyaman, pasti ada sesuatu yang buat dia tidak nyaman? kalau si pria menganggap pertemuan itu adalah tanda bahwa dia berhasil bertemu dan akan berusaha lagi gimana?
Sebenarnya si pria tersebut sudah berulang kali mencoba mengajak bertemu, dan selalu ditolak. Teman saya mau bertemu, jika sifatnya pertemuan antara 2 keluarga atau 2 pasangan sekedar untuk saling mengenal. Lalu si pria itu mengajukan waktu untuk bertemu, jadi kami bertemu. Namun ternyata, si pria tadi memilih untuk datang sendiri (tidak membawa istri atau anak-anak). Teman saya tidak nyaman, karena mencurigai ada motif lain dari pada sekedar berkenalan seperti yang diungkapkan. Ketidaknyamanan ini juga disebabkan sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan pria tersebut, karena sudah mencurigai motif tersembunyi, namun tidak dapat membuktikannya untuk dengan tegas menjawab tidak. Sekarang dia dapat lebih yakin dengan ketegasannya untuk tidak pernah lagi mengiyakan permintaan bertemu. Sms pun dijawab pendek secukupnya dengan "ya" atau "tidak".
katakan "ya" atau "tidak"...jangan ragu-ragu..sikap skeptis akan membuatmu menjadi seperti orang yang tidak memiliki prinsip dalam hidup...