Mengendalikan Emosi

Versi printer-friendly
Januari

Berita Telaga Edisi No. 110 /Tahun X/ Januari 2014


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645 Email: telagatelaga.org Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Dewi K. Megawati Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon




Mengendalikan Emosi

Salah satu keunikan yang dimiliki wanita adalah kehidupan emosi yang dinamis. Tanpa kehidupan emosi yang dinamis, hidup terasa kering dan membosankan. Namun kalau tidak berhati-hati, keunikan ini dapat pula menjadi kelemahan yang berpotensi menciptakan masalah.

Salah satu hal yang kerap mengejutkan suami adalah betapa cepatnya istri mengeluarkan reaksi emosional. Sudah tentu suami tidak akan berkeberatan dengan reaksi spontan dan cepat yang bersifat positif. Namun bila reaksi ini bersifat negatif, pada umumnya suami bersikap takut dan defensif. Kecenderungan pria menghadapi hal ini biasanya adalah menjauh atau berusaha meredam. Itu sebabnya penting bagi istri untuk belajar mengendalikan reaksi yang bermuatan emosi kuat.

Berikut akan dipaparkan beberapa saran untuk mengendalikan lonjakan emosi :

  • KUNCI PERTAMA DALAM PENGENDALIAN EMOSI ADALAH PENGENDALIAN PIKIRAN.

    Salah satu penyebab mengapa emosi mudah keluar tak terkendali adalah dikarenakan berkembangnya pemikiran secara ekstrem. Sebagai contoh, istri melihat suami berbicara secara akrab dengan seorang wanita. Begitu melihat, istri tanpa sadar dan dengan cepat membayangkan skenario terburuk yaitu bahwa si suami sebenarnya menyukai perempuan itu, bahwa si suami tidak lagi menyukainya (si istri), bahwa si wanita juga menyukai si suami, dan bahwa si suami akan dan pasti meninggalkannya bila pertemanan ini berlanjut.

    Ketika pemikiran liar muncul, ia mesti berdialog dengan diri sendiri. Sebagai contoh, ia harus mengajukan bukti terlebih dahulu, sebelum memberi kesimpulan sejauh itu. Ia mesti menimbang apa yang dilihatnya dari konteks yang lebih menyeluruh dan tidak hanya menyoroti dari satu sudut saja.

  • KEDUA, UNTUK DAPAT MENGEN-DALIKAN EMOSI DIPERLUKAN TINDAKAN ANTISIPATIF ATAU PERENCANAAN.

    Kebanyakan reaksi emosional keluar tanpa kendali oleh karena kita merasa bahwa situasi telah lepas kendali. Itu sebabnya sebelum menghadapi sesuatu penting bagi kita untuk mengantisipasi situasi yang akan dihadapi itu. Sebagai contoh, ibu hendak mengajak anak pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu. Nah, si ibu harus mengan-tisipasi situasi tersebut sebelum pergi. Jika ada toko mainan, kira-kira apakah yang akan dilakukan anak. Atau, jika ada arena bermain, apakah yang akan dilakukan anak. Bila waktu tersedia, mungkin ada baiknya bagi si ibu untuk merencanakan, memberi kesempatan kepada anak untuk bermain sejenak. Bila memang sudah waktunya bagi anak untuk membeli mainan, pikirkan mainan apakah yang dapat dibelikan. Semua perencanaan ini memudahkan si ibu untuk bereaksi ketika anak meminta untuk dibelikan mainan atau untuk bermain.

  • KETIGA, ISTRI PERLU MENUNJUKKAN SIKAP SEDIA UNTUK DIKOREKSI ATAU BERUBAH.

    Mungkin istri masih memerlukan waktu yang lama untuk berubah. Mungkin ia tumbuh besar dalam keluarga yang kerap konflik atau lingkungan yang keras sehingga emosi mudah tersulut dan lidah sukar terkendali. Jika itu situasinya, jangan ragu untuk menyampaikan kepada suami bahwa ia sadar akan kelemahannya dan bahwa ia menerima teguran suaminya. Namun ia perlu waktu untuk berubah. Jadi, kendati sedikit, usahakanlah perubahan. Sewaktu suami melihat perubahan pada istri, ia pun terdorong untuk menerima istri dengan kelemahannya. Terlebih penting lagi, ia merasa bahwa perkataannya telah didengarkan oleh si istri. Sebaliknya, bila suami merasa bahwa istri tidak menggubris tegurannya dan terus berkelakuan seenaknya tatkala marah, pada akhirnya suami putus asa dan tidak lagi mau menyampaikan teguran. Komunikasi terganggu dan relasi pun retak.

  • TERAKHIR, SEBELUM MENGELUAR-KAN PERKATAAN APA PUN, SEDAPATNYA PIKIRKAN DAMPAK-NYA: PANJANG ATAU PENDEK.

    Dengan kata lain, selalu pikirkan tujuan mengapa kita mengatakannya. Jangan mengeluarkan perkataan hanya untuk memuaskan hasrat di hati. Adakalanya istri mengeluarkan perkataan yang melukai hati suami sehingga akhirnya suami menjadi tawar hati. Atau, memarahi anak sampai-sampai anak terus memendam luka di usia dewasa. Ingat, perkataan dapat membangun dan menghancurkan jiwa seseorang. Firman Tuhan mengingatkan, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." (Amsal 15:1)

Oleh : Pdt.Dr. Paul Gunadi

Audio dan transkrip secara lengkap bisa didapatkan melalui situs TELAGA dengan kode T335 B




Mengenal Lebih Dekat

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus karena pada awal tahun 2014, Tuhan membuka kesempatan untuk Telaga bisa bekerjasama dengan satu radio di Surabaya, yakni Radio Suzana FM. Radio Suzana ini masih satu group dengan Radio Merdeka FM di Surabaya. Radio Suzana FM mengudara pada frekuensi 91,3 MHz. Serta menjangkau kota Surabaya dan sekitarnya. Jika Anda atau saudara tinggal di Surabaya dan ingin mendengarkan program Telaga, silakan dengarkan pada hari Selasa pk. 18.00 WIB.


Doakanlah...

  1. Bersyukur untuk sumbangan yang diterima dari NN di Malang sebesar Rp 2.500.000,-.

  2. Bersyukur di awal tahun 2014 ada 1 radio yang bersedia mengudarakan program Telaga di Surabaya, yaitu radio Suzana FM.

  3. Bersyukur karena Ev. Sindunata K. dan Bp. Hendra telah berhasil menyelesaikan 4 judul rekaman dalam bulan ini.

  4. Doakan apabila Tuhan berkenan, Telaga bisa bekerjasama dengan 1 radio di Sentani, yaitu radio Suara Kasih Papua FM.

  5. Doakan untuk tim rekaman bersama Pdt. Paul Gunadi sebagai nara sumber akan mengadakan rekaman selama bulan Pebruari 2014.

  6. Doakan untuk staf YLSA yang menangani beberapa perubahan sehubungan dengan 53 judul rekaman yang disinkronkan.

  7. Doakan untuk Sdri. Betty T.S. yang mendapat kesulitan untuk mendapat ijin kerja sebagai sukarelawan, dalam bulan depan akan mencoba aplikasi baru untuk opsi ijin melayani sebagai “pengkhotbah” agar dia dapat melanjutkan studi menempuh Ph.D. disamping pelayanan di Belanda.

  8. Doakan untuk Bp. Andrew A. Setiawan dan Ibu Lortha yang akan menggarap artikel seputar pekerjaan untuk diterbitkan oleh P.T. Visi Anugerah Indonesia.

  9. Bersyukur untuk penerimaan dana dari donatur tetap dalam bulan ini, yaitu dari :

          001 – Rp 100.000,-
          004 – Rp 100.000,-
          015 – Rp 1.500.000,- untuk 3 bulan



Telaga Menjawab

Tanya?

Saya pendengar setia Radio Immanuel di Surakarta. Dan pada hari minggu saya mendengarkan acara TELAGA, kebetulan berjudul tentang “Perceraian”.

Saya berumahtangga dengan seorang pria yang dulunya bukan Kristen dan sekarang sudah Kristen. Kami dikaruniai 3 putra, begitu lahir anak pertama dan baru berumur 2 bulan, rumah tangga kami sering bertengkar mulut. Sering suami saya main tangan dan semenjak jadi istrinya saya tidak pernah diberi nafkah sehingga rumah sederhana dengan segala isinya adalah hasil tabungan saya. Bahkan saat saya baru membuat rumah sampai saya tempati, suami saya punya hobi main kartu.

Begitu menempati rumah sendiri, rumah tangga kami agak damai meskipun sering diwarnai dengan pertengkaran juga. Setiap kali saya pulang agak terlambat karena belanja atau mungkin ada acara mendadak di kantor, sampai di rumah saya pasti kena marah.

Pernah juga suami mau mencekik saya. Untungnya saya dapat mele-paskan diri. Sebelum mencekik, suami menghina saya dengan kata-kata yang menyakitkan antara lain :
  • Saya dapat membelikan motor anak yang pertama dan suami bilang : “Nak, ibumu dibelikan kendaraan pacarnya” padahal sebelumnya anak saya tahu saya punya tabungan di bank.

  • Suami bilang : “Saya mendapatkan kamu itu dari sisanya orang banyak”. Saya sebagai istri menjawab, “Kalau saya ini sudah dijamah orang banyak, mungkin saya sudah hamil dengan pria lain”. Sebab begitu menikah bulan berikutnya saya langsung hamil.

  • Waktu saya pertama kali naik jabatan di Kroya. Suami saya bilang: “Saya mendapat kamu itu sisanya Pak Kepala di Kroya”. Saya jawab “Kalau kamu pria berwatak ksatria, harus berani bertanya kepada Pak Kepala di Kroya karena sekarang beliau masih hidup.

Sejak saya dicekik, sampai saat ini saya pulang ke rumah ibu. Bagi saya semua penderitaan batin, siksaan badan, penghinaan dan banyak lagi masalah yang membuat saya selalu sakit, sampai-sampai saya pernah mengaju-kan cerai kepada suami.

Perlu bapak pengasuh Telaga ketahui bahwa sejak ribut-ribut yang pertama, suami saya selalu mengucapkan kata-kata cerai kepada istri. Berhubung pihak suami sudah berkali-kali mengucapkan kata cerai, saat ini saya turuti omongan- nya.

Adapun pertanyaan saya selaku istri kepada pengasuh TELAGA adalah sebagai berikut :

  1. Bolehkah keluarga Kristen melakukan cerai ? Sebab bagi saya sebagai istri penderitaan yang muncul sejak awal sampai sekarang, saya sudah tidak dapat menanggung lagi.

  2. Berhubung dia sebagai suami sudah sangat sering mengucapkan kata-kata cerai, bolehkah saya sebagai istri mengajukan cerai juga ?

  3. Apakah jalan keluar terbaik bagi saya untuk mengatasi masalah rumah tangga ini ? Saya sebagai istri sudah tidak sanggup lagi menyatu dengan suami.

Jawab!!!

Setelah kami membaca surat ibu, terus terang kami merasa sangat prihatin dan memahami masalah yang sedang Ibu hadapi dalam rumah tangga. Pernikahan Ibu diwarnai dengan kejadian yang kelabu, sehingga Ibu tidak sempat mengenal pribadi atau watak suami. Namun jika pernikahan sudah dilandasi dengan iman Kristen maka Tuhan berkenan akan pernikahan tersebut, lebih-lebih Tuhan telah mengarunikan anak-anak kepada Ibu.

Yang menjadi masalah, sejak pernikahan tersebut rupanya kurang berkomunikasi secara terbuka sehingga menimbulkan kecurigaan. Komunikasi dari hati ke hati sangat penting dan tidak ada sesuatu yang harus ditutupi di antara kedua belah pihak sehingga setiap permasalahan bisa dipecahkan bersama. Jika ada kesulitan, Ibu bisa meminta bantuan hamba Tuhan atau terutama gembala jemaat, misalnya tentang mengapa suami selalu mencurigai Ibu sebagai “bekas orang lain”. Di sini ibu bisa membicarakannnya dengan baik, misalnya dalam pembelian sepeda motor, Ibu bisa berunding dulu, menunjukkan buku tabungan dan membeli bersama-sama sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

Walaupun saat ini kondisi suami Ibu dalam keadaan yang kacau, cobalah Ibu mencari apa sebenarnya yang ada dalam hatinya, ini bisa dilakukan dengan sikap hormat dan keterbukaan dan didukung dengan doa dan pimpinan Tuhan. Setiap masalah yang timbul, biasanya itu hanya di permukaan saja, dibalik itu ada banyak hal yang belum terungkap. Karena itu usahakanlah untuk mendekati suami dengan kasih Tuhan yang tidak terbatas itu dan dengan tulus di hadapan Tuhan, Ibu membuka seluruh isi hati, agar suami pun bisa membuka hatinya, jika ada kesulitan mintalah bantuan hamba Tuhan.

Perceraian dalam kekristenan merupakan jalan paling akhir yang terpaksa ditempuh sebab apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:4-6). Maka jika sekali lagi Ibu mendekati suami dengan kasih yang tulus dengan kasih dari Tuhan dan didukung dengan doa. Jika suami tetap berkeras hati dan tidak ada lagi jalan keluar, yang boleh mengusulkan gugat cerai adalah pihak suami; jika ia berani melanggar Firman Tuhan maka walaupun ia Kristen, ia dianggap sebagai orang yang tidak beriman. Dengan demikian Ibu tidak bersalah di hadapan Tuhan.