Keluarga yang Kokoh

Versi printer-friendly
Oktober

Berita Telaga
Edisi No. 25 /Tahun III/ Oktober 2006/


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl. Cimanuk 58 Malang 65122 Telp./Fax.:0341-493645 Email: telaga@indo.net.id
Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Lilik Suharmini
Account : BCA.KCP Blimbing no. 331-0311277


KELUARGA YANG KOKOH

Ada pasangan yang makin lama menikah, makin serasi dan bahagia. Apakah yang menjadi kiat keberhasilan pasangan ini? Berikut ini akan dipaparkan beberapa kuncinya.

  1. Mereka berjalan di atas kekuatan, bukan kelemahan masing-masing. Mereka tidak buta terhadap kelemahan pasangan namun itu bukanlah fokus utamanya. Mereka sadar bahwa penekanan pada kelemahan tidak berfaedah banyak; mereka maklum bahwa perubahan terjadi justru sewaktu mereka berhenti menyoroti kelemahan pasangan dan mulai memberi pengakuan pada kekuatannya.
  2. Mereka rajin menunaikan kewajiban masing-masing. Mereka menyadari bahwa pernikahan dibangun di atas alas kerajinan dan kerelaan untuk melakukan tanggung jawab masing-masing. Mereka tahu bahwa kemalasan akan merusak pernikahan sebab kemalasan adalah awal hilangnya respek. Mereka pun maklum bahwa hidup tidak mudah dan penuh tuntutan dan bahwa hanya dengan bekerjalah kita dapat memenuhi kebutuhan hidup. Itu sebabnya mereka berusaha keras untuk menunaikan peran dan tanggung jawab baik itu sebagai suami-istri maupun ayah-ibu.
  3. Mereka memfokuskan pada pertumbuhan. Mereka tidak lepas dari konflik atau krisis namun mereka menggunakan konflik sebagai titik balik pertumbuhan. Dengan kata lain mereka belajar dari konflik dan bertekad untuk tidak menyalahkan satu sama lain. Mereka memandang konflik lebih sebagai perbedaan, bukan masalah pada pribadi masing-masing. Pada faktanya memang kebanyakan konflik timbul dari perbedaan, bukan masalah pada kepribadian. Terpenting bagi mereka adalah mereka berhasil belajar untuk tidak mengulang konflik yang sama dan bertumbuh selangkah lebih dewasa sebelum konflik terjadi.
  4. Mereka mengutamakan kebersamaan. Bilamana memungkinkan mereka mencoba untuk menghabiskan waktu bersama dan melakukan kegiatan bersama-sama. Ingat, kebersamaan menciptakan persamaan. Mereka pun dapat membatasi diri dalam pergaulan ataupun pekerjaan dan pelayanan sehingga tetap dapat menjaga kebersamaan. Dengan kata lain mereka memprioritaskan kebersamaan dan berhasil menjaganya dengan baik.
  5. Mereka mendasari pernikahannya di atas fondasi yang kuat yakni Tuhan. Ada tiga hal yang termaktub dalam kategori ini.
    • Pertama, apa pun yang mereka rasakan atau pikirkan, mereka tetap tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, mereka takut akan Tuhan dan takut untuk berdosa. Jadi, kendati mereka bersitegang, mereka tetap patuh pada Tuhan dan berusaha keras untuk tidak melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak diperkenankan Tuhan.
    • Kedua, mereka mempercayai pimpinan Tuhan, bukan pertimbangan manusia belaka. Dalam membuat perencanaan hidup, mereka melibatkan Tuhan dan mencari kehendak-Nya, bukan selera pribadi. Jadi, mereka tidak terpaku pada apa yang baik bagi diri sendiri melainkan apa yang baik bagi Tuhan.
    • Ketiga, mereka melihat pernikahan sebagai bagian dari rencana Tuhan yang lebih luas. Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan ingin memakai mereka sebagai saluran berkat-Nya dan untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Firman Tuhan: Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan. (Amsal 12:11)
Oleh. Pdt. Paul Gunadi


MENGENAL LEBIH DEKAT

Radio ANTARIKSA AM di Surabaya yang mengudara pada frekwensi 774 adalah salah satu dari 5 radio yang bekerjasama dengan Telaga sejak tahun 1998. Radio ini berada di bawah Pengurus FKKI (Forum Komunikasi Kristiani Indonesia) yang ketika itu diketuai oleh Dr.med. Paul Tahalele DSB/T. Mulai tahun 2005 Radio Antariksa mengudara pada frekuensi 1278 AM dengan jangkauan siaran meliputi daerah Probolinggo, Tuban, Madura dan Pasuruan. Kini sudah bukan FKKI lagi yang menjadi Pengurus radio ini, tetapi Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) di Surabaya. TELAGA disiarkan setiap hari Senin pk.05.30.


KEUANGAN

Pemasukan Telaga bulan ini
Sumbangan dari Sdr. Andre sebesar Rp. 24.500,00
Hasil penjualan kaset, CD dan booklet Rp. 242.000,00
Total pemasukan sebesar Rp. 266.500,00
Pengeluaran TELAGA bulan ini Rp.4.854.129,00

DOAKANLAH

  1. Bersyukur 7 booklet telah dicetak dan diterbitkan oleh Metanoia Publishing. Bagi yang berminat bisa memperolehnya di Toko Buku Metanoia. Selanjutnya Perjanjian Penerbitan untuk 12 booklet akan ditandatangani dalam waktu dekat ini

  2. Tim rekaman yang akan menyelesaikan 3 kaset (6 judul) dalam bulan Nopember 2006 ini. Doakan untuk Bp. Heman Elia, Bp. Gunawan Santoso dan Bp. Jusuf N.T. selaku operator.

  3. Untuk peralatan yang masih belum lancar, sehingga pelayanan Telaga khususnya yang berhubungan dengan email atau internet masih kadang-kadang terhambat.

  4. Bersyukur untuk satu radio di Madiun yaitu Radio Sahabat Kehidupan FM, sebagai radio yang ke - 30 yang mau bekerja sama untuk menyiarkan acara Telaga.

  5. Bersyukur Sdri. Dewi Kunti Megawati telah bersedia untuk menggantikan posisi Ibu Lilik Suharmini yang akan pindah ke Flores pada akhir tahun ini.


JUDUL KASET/CD TERBARU

T205 Bencana Alam (I & II)
T206 Pertolongan Bagi Korban Bencana
Bimbingan Rohani Bagi Korban Bencana
T207 Mengapa Anak Bersikap Negatif (I & II)
T208 Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai?
Komitmen Pernikahan
T209 Masalah Anak Belajar di Sekolah
Anak Lari Dari Kenyataan
T210 Iri Hati Melawan Kebosanan
T211 Kebohongan Dalam Keluarga
Ketika Pasangan Tidak Setia
T212 Memahami Autisme
Menangani ADHD (Attention Defisit Hyperactive Disorder)
T213 Menangani Anak Sulit Belajar
Tatkala Anak Sukar Mengingat
T214 Membangun Kepercayaan Dalam Pernikahan
Membangun Respek Dalam Pernikahan
T215 Manusia Baru
Bayang-bayang Masa Lalu
T216 Menolong Penderita Depresi
Menolong Penderita Stroke

JUDUL BOOKLET TERBARU

  1. Pernak-Pernik Perjodohan
  2. Mencintai dan Berpacaran
  3. Membentuk Anak Perem-puan Menjadi Wanita Dewasa
  4. Pertengkaran: Bumbu atau Racun dalam Keluarga ?
  5. Membentengi Pernikahan
  6. Tertawa dan Menangis Bersama Anak
  7. Kasih Sejati

TELAGA MENJAWAB

Tanya:

Saya sudah berkeluarga, dikaruniai seorang anak perempuan. Suami saya seorang sopir, dan sekarang saya di Singapura sebagai TKI. Saya merasa bersalah dan tidak adil dengan anak saya, sebab di saat dia rindu kasih sayang seorang ibu, saya tidak ada di dekatnya.

Apakah salah posisi saya sekarang, karena meninggalkan anak? Anak saya tinggal dengan mertua, yang juga sibuk dengan urusan mereka. Tahun 2000 yang lalu, anak saya umur 3 tahun, saya pergi ke Malaysia, ketika saya pulang, anak saya sudah umur 6 tahun, dan dia tidak mengenal saya. Sampai dia umur 9 tahun saya kerja lagi di Singapura.

Kadang saya merasa takut kalau anak saya nanti tidak mempedulikan saya. Pertanyaan saya:

  1. Apakah saya salah, sekarang meninggalkan anak saya lagi?
  2. Apakah saya perlu mengakhiri kontrak saya di Singapura?
  3. Apakah Tuhan juga akan menghukum saya, karena telah mengabaikan anak saya?
  4. Bagaimanakah dengan rumah tangga saya, yang terpisah dengan suami dan anak?

Jawab

Berdasarkan keefektifan pengasuhan orangtua terhadap pendidik-an dan pembentukan anak, masa yang paling besar pengaruh orangtua adalah pada saat anak berusia 0-5 tahun, sesudah anak masuk sekolah, biasanya mulai ada pengaruh guru dan teman. Kira-kira sampai usia 10-12 tahun anak mulai memasuki usia praremaja dan remaja, figur yang menjadi peran utama dalam hidup mereka adalah teman; sedangkan orangtua lebih sebagai figur yang dianggap "musuh" atau kontra dengan anak remaja. Orangtua yang sebelumnya memiliki hubungan yang baik dengan anak, istilahnya sudah menginves-tasikan waktu, kasih sayang, dan pendi-dikan; biasanya sudah memiliki landasan hubungan yang cukup kokoh. Itu pun seringkali tetap mengalami kesulitan dalam hubungan orangtua-anak pada masa remaja. Bisa dibayangkan, lebih sulitnya orangtua yang tidak memiliki hubungan yang baik sebelumnya dengan anak.

Berdasarkan pemahaman ini, kami melihat ibu kehilangan kesempatan-kesempatan emas ibu untuk mendidik dan mengasuh anak ibu sendiri, dan menginvestasikan hal-hal berharga dalam diri ibu kepada anak pada masa ia lebih mudah untuk menerima dan dibentuk. Jika ketakutan itu, bahwa anak ibu nanti tidak akan mempedulikan ibu, mungkin saja terjadi, karena ikatan emosi dan investasi ibu dalam hidupnya sangatlah minim.

Ada beberapa ayat tentang mendidik anak: Amsal 22:6; 29:17, Ulangan 6:6-7. Apakah Tuhan akan menghukum ibu karena mengabaikan anak? Ini adalah soal tanggung jawab dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada ibu, sebagai wakil Allah di dunia ini untuk membesar-kan dan mendidik anak ibu. Kami tidak tahu apakah Tuhan akan menghukum ibu. Namun, menurut hukum tabur tuai, berlaku apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Jadi, untuk segala sesuatu yang kita lakukan ada konsekuensi logis yang harus kita tanggung. Artinya, akan menjadi seperti apa anak ibu nanti, sangat tergantung pada peran ibu sebagai orangtuanya.

Soal berpisah dengan suami, menurut Kejadian 2:24; dimana seorang laki-laki akan bersatu dengan istrinya. Ini dalam arti menyatu dalam persetubuhan suami-istri, dan bagi kami juga ada pengertian tinggal bersama di satu atap, ini baru dapat dinamakan keluarga yang sehat. Selain itu, mengingat kebutuhan seksual laki-laki umumnya lebih tinggi dari wanita. Dan biasanya alasan pria menikah sejujurnya adalah karena kebutuhan seksualitas. Jadi, jika tinggal terpisah terlalu lama, itu dapat mendatangkan pencobaan bagi suami ibu atau pun bagi ibu sendiri.

Dari pertimbangan yang sudah kami jabarkan, kami berharap ibu dapat bergumul dengan lebih serius untuk kelanjutan pekerjaan ibu di Singapura. Doakan dan taati kehendak Tuhan, jika sudah tahu jelas kehendak Tuhan, melangkahlah dalam iman. Jangan khawatirkan banyak hal, karena Tuhan akan memelihara hidup ibu dan keluarga saat ibu berserah kepada Tuhan, dan melakukan bagian ibu dengan setia. (Matius 6:33).

Seperti bapa sayang anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada
Mazmur 103:13