Artikel ini menceritakan pengalaman seorang guru Sekolah Minggu kelas khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) bernama Lidanial, yang mengamati dampak mendalam dari pengorbanan Kristus dalam kehidupan seorang anak bernama Andi. Andi, tanpa pengawasan, terjun ke kolam renang dan hampir tenggelam, namun akhirnya diselamatkan. Pengalaman ini, diiringi lagu “Pimpin ke Kalvari,” menimbulkan kesadaran mendalam tentang kasih Tuhan yang tak terhingga dan penderitaan Kristus yang rela menanggung semua kesalahan manusia. Kisah ini kemudian dihubungkan dengan kesaksian tentang pergumulan seorang rekan yang menemukan kekuatan dalam lukisan Kristus yang tersalib, mengingatkan akan cinta ilahi yang rela mengorbankan diri demi keselamatan manusia. Artikel ini menekankan pentingnya selalu mengingat dan menghargai kasih Tuhan yang agung dan tak terhingga, serta menginspirasi pembaca untuk terus mencari dan merasakan kedalaman cinta Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
- Kristus
- Pengorbanan
- Kasih Tuhan
- Kalvari
- ABK
- Pengalaman Andi yang hampir tenggelam di kolam renang, diselamatkan oleh Tuhan melalui kasih Kristus.
- Penggunaan lagu “Pimpin ke Kalvari” sebagai pengingat tentang pengorbanan Kristus dan dampaknya.
- Hubungan antara pengalaman Andi dengan kesaksian seorang rekan tentang pergumulan dan menemukan kekuatan dalam lukisan Kristus.
- Penekanan pada pentingnya terus mengingat dan menghargai kasih Tuhan yang agung dan tak terhingga.

Judul artikel di atas merupakan penggalan dari lagu "Pimpin ke Kalvari." Sebuah lagu yang mengingatkan kita tentang karya salib Kristus di Kalvari, yang membuktikan keajaiban dan keagungan cinta-Nya bagi kita semua sebagai manusia berdosa. Ketika lagu ini, khususnya penggalan kalimat di atas, dinyanyikan oleh paduan suara dalam ibadah Jumat Agung yang saya hadiri beberapa hari yang lalu, dalam pikiran saya terlintas kejadian yang terus berulang di Sekolah Minggu kelas khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dimana saya melayani. Selama sekitar tiga bulan terakhir, setiap minggu saya selalu mengajak anak-anak menyanyi sebuah lagu berjudul "Ingat Yesus," yang melodinya diadaptasi dari lagu "Kalau Kau Senang Hati, Tepuk Tangan" seperti yang terlihat pada gambar di bawah. Semua ABK yang mengikuti kelas khusus tersebut belum mampu membaca karena kondisi disabilitas mereka. Karena itu, selain mengajarkannya berulang-ulang, saya menggunakan gambar-gambar agar mereka dapat lebih mudah memahami dan mengingat lagu yang diajarkan.

Sebulan yang lalu, ketika kami menyanyi lagu "Ingat Yesus," Andi (7 tahun, bukan nama sebenarnya), tanpa ada yang mengarahkan, beranjak dari posisi duduk di dekat neneknya yang selalu mendampingi setiap ke Sekolah Minggu, mendekat ke saya dan dengan intonasi serta tempo suaranya yang khas, dengan pengucapan yang tidak terlalu jelas, tetapi dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu bersemangat berkata, "Laoshi, Andi tenggelam … Tuhan Yesus tolong." Mendengar komentar ini, setelah lagu tersebut selesai dinyanyikan, saya bertanya kepada Andi, "Oh, Andi tenggelam di mana?" Pertanyaan saya langsung direspons oleh nenek Andi yang menjelaskan bahwa beberapa hari sebelumnya Andi diajak oleh ayahnya ke kolam renang yang ketinggian airnya beberapa sentimeter melampaui tinggi badan Andi. Pada waktu itu nenek Andi juga ikut menemani. Andi biasanya selalu ditemani oleh ayahnya ketika akan turun ke kolam. Tetapi kali itu, ketika sampai di kolam renang, setelah membuka baju, Andi segera terjun ke kolam renang tanpa sepengetahuan ayahnya.
Melihat Andi yang sudah berada di dalam kolam dan berupaya keras menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, nenek Andi sangat khawatir dan meminta ayah Andi untuk segera turun dan mendampinginya. Tetapi ayah Andi tidak langsung turun ke kolam dan membantu anaknya. Karena dia tahu dan yakin bahwa walaupun Andi belum terlalu menguasai gaya berenang tertentu, Andi cukup mampu menggerak-gerakkan tangan d