Tatkala Anak Lahir Tidak Sempurna

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T503A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Kasus anak berkebutuhan khusus memerlukan perawatan dan pendekatan yang khusus pula. Walau demikian ada prinsip-prinsip umum yang musti kita pegang dalam hal ini: mengerti problem yang dihadapi si anak sehingga bisa mengusahakan perawatan yang tepat, menerima si anak tanpa syarat dan sepenuh hati, serta mendukung anak tanpa memisahkan diri dari realitas.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Setiap anak yang lahir harus menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tidak ada yang kurang pada dirinya. Masalahnya adalah, kadang ada yang kurang pada dirinya. Mungkin terlihat pada saat itu tetapi mungkin pula, tidak. Adakalanya masalah baru terlihat setelah anak mencapai usia tertentu. Ada yang menderita cacat tubuh, ada yang menderita keterbelakangan mental, ada yang menderita autisme, ada yang lahir dengan Down Syndrome dan sebagainya. Apakah yang mesti kita perbuat bila itu terjadi pada anak kita? Sudah tentu setiap problem membutuhkan pendekatan dan perawatan yang khusus; namun, ada beberapa prinsip umum yang dapat kita timba.

  1. Kita harus mengerti problem yang diderita anak sehingga dapat mengusahakan pilihan perawatan dan perlakuan yang tepat. Sebagai contoh, tidak semua anak yang menderita autisme memunyai masalah IQ. Sudah tentu karena kemampuan bersosialisasi yang minim, anak autistik mengalami kesulitan bersosialisasi. Sebagai akibatnya kemampuannya untuk mengerti perasaan dan menempatkan diri dalam pergaulan sangat terbatas. Namun, jika ia memunyai IQ yang memadai, kita dapat memasukkannya ke sekolah reguler. Bersekolah di sekolah luar biasa bisa membuatnya bertambah stres dan bertingkah lebih bermasalah. Sama dengan itu, tidak semua penderita Down Syndrome bertubuh lemah sehingga kita harus melindunginya secara ketat agar tidak sakit atau jatuh. Kelebihan kromosom pada dirinya memang membuatnya rentan terhadap kelemahan tubuh tertentu tetapi itu tidak berarti ia harus diperlakukan khusus supaya tidak terkena penyakit. Juga, tidak semua penderita Down Syndrome memiliki keterbatasan IQ. Ada yang memunyai IQ mendekati rata-rata sehingga bisa bersekolah bahkan sampai ke tingkat Perguruan Tinggi. Singkat kata kita harus mengetahui kondisi dan kebutuhan anak secara tepat supaya kita tidak menuntutnya di luar kemampuan atau sebaliknya, menumpulkannya di bawah kemampuannya. Bawalah anak kepada ahli dan jangan sungkan untuk meminta opini kedua. Juga, carilah informasi dari situs-situs kesehatan supaya kita dapat mengikuti perkembangan perawatannya. Dan, berbagilah cerita dengan yang sepenanggungan agar kita dapat saling menguatkan.

  2. Terimalah kondisi anak tanpa syarat dan dengan sepenuh hati. Kadang kita menerima anak dengan syarat dan setengah hati; kita terus berharap bahwa ia tidak seperti itu. Alhasil kadang tercetuslah kata-kata yang tidak membangun tetapi malah menjatuhkan anak, seperti, "Bodoh!" "Tidak Berguna!" atau "Jadi beban orangtua!" Saya mengerti kita lelah dan frustrasi tetapi kita pun harus ingat bahwa ia pun tidak memilih menjadi seperti ini. Jika memungkinkan, pastilah ia pun ingin menjadi pribadi yang "normal" seperti yang lainnya. Jadi, berhati-hatilah. Saya pernah bertemu dengan seorang anak yang telah dewasa, yang sampai saat itu, tidak dapat hidup mandiri. Dalam pembicaraan dengannya saya temukan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai keterbatasan IQ. Namun, karena keterbatasan fisik, sejak kecil ia selalu terkucil dari lingkungan sehingga ia merasa tertolak dan menjadi minder. Perasaan-perasaan yang menyiksanya inilah yang membuatnya sukar berkonsentrasi dalam kelas dan akhirnya tidak dapat mengikuti pelajaran. Alhasil ia sering gagal dan kegagalan demi kegagalan membuatnya tambah terpuruk. Makin ia terpuruk, makin sering ia menerima label yang menjatuhkan sehingga akhirnya ia benar-benar tidak berani berinisiatif, apalagi mencari pekerjaan. Inilah contoh bagaimana perlakuan yang tidak tepat memperburuk masalah. Itu sebab sebagai orangtua kita harus mengkomunikasikan penerimaan kepada anak.

  3. Dukunglah anak tetapi jangan memisahkan anak dari realitas. Sebagai contoh, penderita Down Syndrome memiliki penampakan wajah yang khas, seperti mulut dan mata yang kecil. Sudah tentu penampilan ini akan mengundang perhatian orang dan karena ia sepenuhnya sadar akan hal ini, perhatian seperti ini berpotensi membuatnya merasa aneh dan malu. Sebagai akibatnya mungkin ia enggan bertemu orang dan lebih suka mengurung diri di rumah. Sebagai orangtua, kita tidak mengatakan kepada anak bahwa wajahnya sama seperti anak lain atau bahwa sesungguhnya ia cantik atau tampan. Kita tahu—dan ia pun tahu—bahwa itu tidak benar. Sebaiknya kita mengatakan kepadanya bahwa benar, ia berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang, tetapi itu tidak membuatnya aneh. Yang membuat seseorang aneh adalah perilaku yang tidak lazim; yang membuat seseorang (seharusnya) malu adalah watak dan perbuatan yang tidak baik; bukan penampilan wajah.

  4. Jangan ragu untuk berseru kepada Tuhan tetapi jangan lupa untuk berserah kepada Tuhan. Tidak mudah mengurus dan membesarkan anak dengan permasalahan yang permanen seperti ini. Kadang kita merasa tidak lagi sanggup; di saat itulah kita datang dan berseru kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya. Adakalanya kita pun cemas memikirkan masa depannya; kita bertanya, siapakah yang akan mengurusnya setelah kita meninggalkan dunia ini. Di saat seperti itulah kita datang dan berserah kepada Tuhan. Kita percayakan hari depan anak yang diberikan-Nya kembali kepada-Nya. Jika kita tidak lagi sanggup, jangan merasa malu untuk meminta bantuan sesama atau menyerahkan anak untuk dirawat di luar rumah. Sebagai contoh, anak yang autistik yang juga menderita ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder), cenderung agresif secara fisik. Di dalam ketidakmampuannya mengendalikan emosi dan tangan-kakinya, ia dapat melukai kita atau orang lain di sekitar. Kendati kita masih ingin merawatnya, mungkin kita harus mempertimbangkan alternatif lain. Kita harus percaya bahwa Tuhan bersamanya.

Mazmur 139:16 mengingatkan, "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun padanya." Tuhan menciptakan dan memberikan anak pada kita dan Ia sudah menulis semua hari kehidupannya.