Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are herePeran Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja

Peran Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T048B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Jati diri di dalam anak tidak terjadi sewaktu anak menginjak usia remaja, tetapi itu harus terjadi sewaktu anak mulai usia dini. Jadi orangtualah yang harus berperan aktif baik sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, sebagai cermin maupun sebagai pihak yang memberikan pengarahan pada anak.

MP3: 
3.75 MB
Ringkasan
Isi: 

Jati diri adalah suatu pengetahuan tentang siapa kita ini. Pengetahuan seperti ini sangat penting sekali dan perlu dimiliki oleh remaja. Sebab anak-anak remaja yang memasuki kancah usia remaja tanpa memiliki bekal sama sekali tentang siapa dia, dan yang tidak berdaya untuk mengevaluasi masukan atau bujukan teman-temannya, akan cenderung mengikuti saja yang dikatakan temannya.

Supaya anak remaja memiliki konsep diri yang jelas, diperlukan masukan yang terutama dari pihak orang tua sendiri atau dari keluarga. Ini tidak bisa otomatis terjadi sewaktu anak sudah menginjak usia remaja, melainkan harus terjadi mulai dari usia yang paling dini. Contoh, sewaktu anak pada masa bayi digendong oleh orang tua, orang tua berkata aduh senyummu bagus, atau aduh ketawanya kok lucu. Nah ini adalah masukan, si bayi belum tahu apa yang dikatakan oleh orang tuanya tapi ia bisa merasakan bahwa yang dikatakan orang tuanya itu sesuatu yang baik dan menyenangkan. Karena meskipun bayi itu belum bisa memahami perkataan, dia sudah bisa merasakan ungkapan perasaan, jadi perasaan yang baik yang disalurkan kepada si bayi membuat si bayi juga merasa tenang. Sejak bayi dia harus mulai mendapatkan suatu perasaan bahwa orang tua menerimanya.

Beberapa hal yang bisa dan seharusnya dimasukkan oleh orang tua ke dalam diri anak:

  1. Orang tua perlu menanamkan kepada anak bahwa anak adalah seseorang yang mereka kasihi, yang bukan saja mereka sambut tapi sangat mereka kasihi. Dengan kata lain, mereka ini adalah anak-anak yang berharga di mata orang tua. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka itu penting dan berharga.

  2. Orang tua juga perlu mengarahkan anak ke mana dia harus pergi, dengan siapa dia harus bergaul, bagaimana dia harus bertindak, hidup seperti apa yang baik. Kita perlu mengkomunikasikan pada anak, engkau ini sebetulnya siapa dan engkau seharusnya menjadi seperti apa. Yang menarik untuk diperhatikan adalah, ada anak yang pada waktu memasuki usia remaja mempunyai 2 sisi yang berbeda. Di rumah dia kelihatan manis sehingga menyukakan hati orang tua, tapi kemudian orang tua mendapat laporan yang bertolak belakang dari gurunya atau teman-teman mereka.
    Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini:

    1. Kemungkinan pertama adalah dia kebetulan berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai gaya atau nilai hidup yang sangat berbeda dengan yang dianut oleh orang tuanya.

    2. Anak-anak remaja memang sedang memasuki usia di mana dia mulai berpikir sendiri.

  • Orang tua perlu memberitahukan pada anak-anak bahwa mereka mempunyai kemampuan atau keunikan tertentu. Di sinilah orang tua berfungsi sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, atau sebagai cermin yang bisa memberitahukan anak: "Inilah yang seharusnya kamu miliki dan inilah keadaanmu sekarang." Anak-anak perlu mengetahui apa kesanggupan, kebiasaan, keunikan, dan kekhususan yang dimilikinya.

  • Amsal 1:8-9 mengatakan: "Hai anak-Ku dengarlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu." Tuhan meminta anak-anak untuk mendengarkan didikan orang tua, ibaratnya seperti karangan bunga atau kalung bagi leher si anak yang akan menghiasinya. Tugas dari Tuhan untuk orang tua sudah pasti, yaitu tidak berhenti memberi didikan dan ajaran kepada anak-anak.