Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMembangun Kepercayaan Dalam Pernikahan

Membangun Kepercayaan Dalam Pernikahan


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T214A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Pernikahan didirikan di atas kepercayaan; tanpa kepercayaan, pernikahan bukanlah sebuah relasi yang intim dan saling mengikat. Kepercayaan juga perlu dibangun diatas 3 aspek yang dibahas dalam bagian ini.

MP3: 
3.62 MB
Ringkasan
Isi: 

T 214 A "Membangun Kepercayaan dalam Pernikahan" oleh Pdt. Paul Gunadi

Pernikahan didirikan di atas kepercayaan; tanpa kepercayaan, pernikahan bukanlah sebuah relasi yang intim dan saling mengikat. Bagaimanakah caranya membangun kepercayaan di dalam pernikahan?

Pertama, berkaitan dengan kepercayaan, kita dapat mengkategorikan adanya tiga kelompok orang.

q Orang yang memasuki pernikahan dengan rasa percaya yang tinggi namun dengan berjalannya waktu, rasa percaya mulai menurun. Biasanya rasa percaya melorot turun akibat perbuatan pasangan yang merusak rasa percaya.

q Orang yang memasuki pernikahan dengan rasa percaya yang rendah namun dengan berjalannya waktu, rasa percaya terus menanjak. Mungkin rasa percaya rendah akibat masa berpacaran yang bergelombang namun setelah menikah relasi ternyata membaik dan kepercayaan pun meningkat.

q Orang yang memasuki pernikahan dengan rasa percaya terbatas dan terus mempertahankan sikap berjaga-jaga selama menikah. Orang ini memang memilih untuk tidak mempercayai siapa pun sepenuhnya; mungkin pengalaman masa lalunya membuktikan bahwa mempercayai sama dengan mengundang luka akibat kekecewaan. Itu sebabnya tatkala menikah pun, ia tidak bersedia memberi dirinya sepenuhnya.

Kedua, kepercayaan dibangun di atas

  1. kompetensi dan
  2. karakter.
Kompetensi dibutuhkan untuk membangun kepercayaan sebab kita hanya akan mempercayai seseorang bila ia membuktikan dirinya mampu melakukan tugas dan kewajibannya. Dengan kata lain, makin rendah tingkat kemampuan, makin sulit kita mempercayainya. Itu sebabnya dalam pernikahan, masing-masing pihak haruslah dengan rajin dan penuh tanggung jawab mengerjakan bagiannya. Ketidakbisaan akan melemahkan kepercayaan.

Ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kompetensi.

Pertama, kita harus membangun satu sama lain lewat pujian dan penguatan sebab itulah yang mendorong pertumbuhan. Kritikan biasanya malah menjatuhkan semangat orang untuk berbenah diri.

Kedua, bagi pihak yang membutuhkan bantuan, akuilah kelemahan dan mintalah bantuan pasangan. Saya kira kita akan lebih siap menolong bila pasangan mengakui keterbatasannya. Sebaliknya, sikap yang enggan mengakui kelemahan, makin menjauhkan kita darinya.

Kepercayaan juga dibangun di atas karakter. Makin baik karakter seseorang, makin kita mempercayainya. Sebaliknya, makin kita melihat kelemahan pada karakternya, makin sukar kita mempercayainya. Itu sebabnya masing-masing pihak harus terus memperbaiki diri dan bersedia diperbaharui. Sikap tidak mau berubah merupakan tanda karakter yang bermasalah.

Galatia 5:22-23 menjabarkan buah Roh Kudus yang seyogianya ada pada diri setiap orang Kristen, "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." Rasa percaya niscaya bertumbuh tatkala kita melihat suami sebagai suami yang penuh kasih dan kesabaran, dan istri sebagai istri yang penuh sukacita dan penguasaan diri, dan sebagainya.

Pernikahan dibangun di atas kepercayaan; pernikahan dihancurkan dengan ketidakpercayaan.