Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMasalah-Masalah dan Penyelesaiannya dalam Hubungan Suami Istri

Masalah-Masalah dan Penyelesaiannya dalam Hubungan Suami Istri


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T019A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Masalah-masalah yang sama seringkali muncul dalam hubungan suami istri. Namun cara apa atau bagaimana kita mengatasinya? Materi ini akan memberikan jawaban buat kita semua.

MP3: 
3.63 MB
Ringkasan
Isi: 

Dalam hubungan suami istri tidak luput dari permasalahan-permasalahan. Dan itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali tetapi berulang-ulang dan dalam permasalahan yang sama. Yang seringkali menjadi persoalan adalah apa yang dulu pernah dipeributkan pada saat sebelum menikah itu akan muncul kembali pada saat sudah menikah. Hal ini disebabkan kemungkinan belum adanya penyelesaian dengan sungguh-sungguh atau tuntas terhadap permasalahan tersebut. Hal tersebut juga bisa disebabkan oleh karakter seseorang yang berbeda satu dengan yang lain.

Karakter berunsur/bersumber dari beberapa faktor yaitu:

  1. Fisik
  2. Tipe kepribadian
  3. Pengaruh lingkungan

Dan semua itu menjadi satu dalam hidup kita dan begitu menyatu dengan kita sehingga untuk kita mengubah diri atau cara itu tidaklah terlalu mudah. Yang seharusnya dilakukan untuk tidak terjadi hal seperti ini adalah secara teoritis atau idealisnya keduanya atau suami-istri itu saling menyesuaikan diri. Mayoritas problem antara kita dan pasangan kita bukanlah masalah benar salah tapi masalah perbedaan, perbedaan cara hidup, cara pikir, itu yang harus disesuaikan. Kecenderungan kita adalah berpikir bahwa kita betul dan untuk kita mengubah diri berarti kita melakukan yang salah. Kita perlu juga membatasi problem seperti apa yang kita izinkan untuk timbul lagi misalnya ada problem yang memang kita tidak boleh toleransi untuk timbul kembali. Misalkan kasus perselingkuhan atau hubungan dengan orang ketiga di luar pernikahan, di situ kita harus tegas bahwa, "Tidak, tidak akan saya toleransi, engkau tidak boleh melanjutkan hubungan dengan dia." Atau misalnya lagi pemukulan, penyiksaan, penganiayaan terhadap pasangan hidup atau anak-anak, itu juga tidak boleh ditoleransi.

Namun dalam kasus yang lain, yang masih bisa ditoleransi yang harus kita lakukan adalah:

  1. Kita mesti siap menerima kenyataan bahwa problem ini kemungkinan besar akan muncul lagi.

  2. Kita mesti menunjukkan usaha, kalau kita tahu bahwa pasangan kita telah berusaha, kita lebih bisa menerima meski dia tidak berhasil melakukan yang kita inginkan. Di sini diperlukan kesamaan visi atau kesamaan pandangan barulah di sini mulai ada perubahan.

Ada kasus suami yang ringan tangan terhadap istrinya, artinya suka memukul istrinya. Meski dia menyesal dan berjanji tidak melakukannya lagi tapi pada kesempatan berikutnya dia tetap melakukan pemukulan terhadap istri. Dalam kasus seperti ini diperlukan pihak ketiga untuk menolongnya di mana dia harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Kita ini manusia, kalau kita tahu bahwa tindakan kita akan membuahkan konsekuensi yang berat kita cenderung memikir ulang sebelum bertindak. Tapi kalau kita tahu bahwa tindakan kita ini tidak akan membuahkan konsekuensi/tidak ada akibatnya kita cenderung semena-mena. Nah dianjurkan mereka berdua harus bertemu dengan orang ketiga misalnya pendeta atau seorang konselor di mana istri bisa berkata: "Kalau saya dipukul saya akan beritahu pendeta saya," sehingga akhirnya suami berpikir ulang sebelum melakukan tindakan yang sama.

Mazmur 103:13, "Seperti Bapa sayang kepada anak-anakNya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Salah satu kunci penyelesaian konflik dalam urusan rumah tangga adalah rasa takut akan Tuhan.